Selasa, 14 Juli 2015

Puslitbang Kemenag: Tidak Ada Budaya Dilebur dan Tidak Ada Suku Dikalahkan

Manokwari, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang terdiri dari beratus-ratus suku dan kebudayaan. Bangsa Indonesia menganut kesetaraan antar suku-suku yang hidup. Tidak ada satu suku yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan suku yang lainnya.

Demikian dinyatakan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia A. Machasin dalam sambutan pembukaan Dialog/Diskusi Pengembangan Wawasan Multikultural Antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah di Kabupaten Manokwari, Kamis (12/7).

Puslitbang Kemenag: Tidak Ada Budaya Dilebur dan Tidak Ada Suku Dikalahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Kemenag: Tidak Ada Budaya Dilebur dan Tidak Ada Suku Dikalahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Kemenag: Tidak Ada Budaya Dilebur dan Tidak Ada Suku Dikalahkan

Menurutnya, kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda-beda harus saling bersinergi agar dapat berinovasi dan menciptakan peradaban-peradaban baru. Karena tidak ada satu pun kebudayaan di dunia yang maju tanpa adanya akulturasi dan bersinergi dengan kebudayaan-kebudayaan lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Manokwari adalah salah satu kawasan di Papua, khususnya Papua Barat yang memiliki keragaman budaya yang cukup lengkap. Sehingga harapan bersinerginya antar budaya sehingga tercipta keharmonisan dan kemajuan," tutur Machasin dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Peneliti Utama Abdul Azis selaku ketua rombongan.

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Bupati Manokwari Bastian Salabay dalam sambutannya menyatakan, meski terdiri dari berbagai unsur yang berbeda-beda, masyarakat Manokwari adalah masyarakt yang damai. Masyarakat Manokwari bersatu dalam persaudaraan, meski memiliki berbagai perbedaan.

"Kami di Manokwari selalu berusaha maksimal menjaga perdamaian dan persaudaraan. Rakyat Manokwari selalu bahu membahu untuk melestarikan kerukunan, meski selalu ada saja tantangan dari luar dan dari dalam Papua sendiri," tandas Bastian.

Lebih lanjut Bastian menyebutkan, tantangan kerukunan dan kedamaian dari luar  di bumi Papua terutama sekali disebabkan oleh konsumsi masyarakat atas berita-berita kasus sengketa antar umat beragama di luar Papua.

"Kita manyaksikan televisi, membaca koran dan mendengarkan radio. Di sana selalu ada berita-berita mengenai pertengkaran antar masyarakt yang berbeda agama. berita-berita semacam ini sangat rawan menimbulkan profokasi dan gejolak di Papua," paparnya.

Bastian berharap, kegiatan Dialog semacam ini dapat digelar dengan lebih intens dan membuahkan hasil yang baik, khususnya bagi masyarakat Papua dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puslitbang Kemenag: Tidak Ada Budaya Dilebur dan Tidak Ada Suku Dikalahkan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock