Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mulai aktif perkuliahaan perdana hari ini, Jumat (9/10). Sebanyak 90 mahasiswa baru S2 ini akan mengikuti berbagai mata kuliah terkait dengan metodologi Islam Nusantara, baik secara sosiologis, antropologis, etnografis, dan lain-lain.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Demikian disampaikan Asisten Direktur PPM STAINU Jakarta, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jumat (9/10) di Jakarta.

“Untuk semester perdana ini diasuh atau diampu oleh berbagai dosen dan praktisi yang mumpuni di bidangnya,” ujar Ulin, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulin menegaskan kepada mahasiswa baru, bahwa keseriusan dalam mengikuti perkuliahaan sangat penting untuk keseuksesan mahasiswa itu sendiri. Dia juga mengatakan, para mahsiswa juga diharap bisa memahami konsep Islam Nusantara dengan di PPM STAINU Jakarta.

“Hal ini saya sampaikan karena banyak informasi-informasi atau tulisan-tulisan tentang Islam Nusantara yang berkembang di media,” paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun demikian, kata Ulin, penting juga bagi mahasiswa untuk memahami konsep Islam Nusantara dari berbagai pandangan sehingga mampu mengidentifikasi distingsi atau perbedaan pendapat yang ada.

Proses perkuliahaan PPM STAINU Jakarta dilaksanakan dua hari, yakni setiap hari Jumat dan Sabtu. Hari Jumat dimulai dari pukul 14.00 WIB dan Sabtu dimulai sejak pukul 09.00 pagi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi

Riyadh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sehari sebelum deklarasi pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelpon Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud. Selama pembicaraan, mereka membicarakan soal hubungan bilateral kedua negara, juga sejumlah perkembangan terkini tentang isu regional dan internasional.

Seperti diketahui, Arab Saudi merupakan mitra kuat Amerika Serikat. Pada 20 Mei 2017 lalu keduanya menjalin kerja sama bidang pertahanan dan bisnis dengan nominal USD150 miliar atau setara dengan sekitar Rp1.999 triliun. Penandatanganan ini merupakan upaya diversifikasi ekonomi dalam menunjang Visi Arab Saudi 2030.

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi

Kabar tentang komunikasi Trump dan Raja Salman itu diungkap kantor berita Arab Saudi, SPA, Selasa (5/12).

Saat menyinggung rencana AS mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Raja Saudi mengingatkan tentang bahaya keputusan ini terhadap proses perundingan damai. Menurutnya, deklarasi tersebut akan meningkatkan ketegangan di wilayah itu.

Menurut Raja Salman, pengakuan sepihak atas Yerusalem dan relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem merupakan provokasi mencolok bagi umat Islam di seluruh dunia, mengingat posisinya yang spesial, misalnya karena keberadaan Masjid Al Aqsha dan secara historis jadi kiblat pertama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu (6/12), Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan pengakuan negaranya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memerintahkan kedutaan besarnya pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem. Kebijakan ini menimbulkan kecaman regional dan internasional. Trump dinilai gegabah, provokatif, bahkan melanggar hak asasi manusia (HAM) dan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa NU Maroko mengagendakan seminar internasional perihal tasawuf pada 20 Januari 2015. Sejumlah ulama dari pelbagai negara akan hadir dalam seminar internasional yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, ibu kota Maroko.

Rencana ini disepakati dalam kunjungan PCINU Maroko kepada Syeikh Dr Radhi Gennune, seorang dewan pakar tasawuf pengikut Tarekat Tijaniyah di kediamannya di Rabat, Senin (1/12). Hadir dalam pertemuan ini Ketua PCINU Maroko Kusnadi, Wakil Ketua PCINU Maroko Fakih Abdul Aziz, dan Nasrullah Afandi.

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Dalam kesempatan itu turut hadir Kiai NU asal Banjarmasin yang sedang berkunjung ke Maroko, KH Ahmad Anshori pengikut tarekat Tijaniyah. Ia sejak 1999 hingga sekarang sudah 34 kali berziarah ke zahwiyah atau maqbaroh Syeikh Tijani di kota Fes, Maroko.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buya Anshori mendukung langkah PCINU Maroko itu. "Hal ini penting untuk menanamkam nilai-nilai tasawuf yang merupakan salah satu ajaran NU, juga sekaligus menambah wawasan tasawuf para putra-putri NU yang sedang menempuh pendidikan di negeri para wali Maroko ini.”

Dari Indonesia juga dijadwalkan akan ada beberapa ulama lain yang menjadi pembicara. Sedangkan dari kalangan ulama Maroko, akan diundang sejumlah pemuka tarekat Tijaniyah termasuk Syeikh Zuber, cucu tertua Syekh Ahmad Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Syeikh Dr Radhi Gennun sendiri dijadwalkan kembali berangkat ke Indonesia pada 5 Desember 2014. Ia akan menemui jamaah tarekat Tijaniyah di beberapa daerah Indonesia di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kontingen Pesantren Al-Huda FC yang menjuarai Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII  Lampung beberapa waktu lalu dilepas secara resmi dan simbolis oleh Kapolda Provinsi Lampung Irjend Pol Suroso Hadi Siswoyo di Aula Mapolda Lampung setempat, Bandar Lampung, Jumat (20/10) Jumat.

Suroso Hadi Siswoyo dalam sambutan pelepasannya berpesan agar para santri tim Pesantren Al-Huda FC untuk sungguh-sungguh karena membawa nama besar Provinsi Lampung menuju laga seri nasional Liga Santri Nusantara yang akan digelar di Kota Bandung Jawa Barat pada 22-29 Oktober 2017, "Man jadda wajada", pekiknya.

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Lampung Lepas Kontingen LSN Region Sumatera VIII

"Saya yakin jika kalian berjuang sekuat tenaga, bersungguh-sungguh maka pasti akan memperoleh hasil yang terbaik, minimal masuk tiga besar, syukur mampu menjuarai Liga Santri Nusantara tahun 2017 ini," tutupnya.

Koordiantor LSN Region Sumatera VIII Lampung Munir A Haris memohon doa restu kepada seluruh keluarga besar nahdliyyin di Bumi Ruwa Jurai ini. Ia berharap tim kesebelasan Pesantren Al-Huda FC Kabupaten Lampung Selatan menorehkan sejarah dalam dunia persepakbolaan nasional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami yakin, santri selain telah menguasai kitab kuning juga mampu menorehkan prestasi dalam dunia olahraga, khususnya sepakbola, kepada Kapolda Lampung sekali lagi kami mengucapkan terima kasih telah berkenan melepas adik-adik santri," tutup alumnus Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga sekaligus mantan aktivis PMII Yogyakarta ini.

Hadir dalam agenda pelepasan tersebut, Ketua PWNU Provinsi Lampung KH RM Sholeh Bajuri, Pengasuh Pesantren Al-Huda Kabupaten Lampung Selatan KH Ahmad Habib, Koordiantor Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII  Lampung Munir A Haris, Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Commitee) Liga Santri Nusantara Region Sumatera VIII Lampung Sugirin Tjastoni, Manajer Pesantren Al-Huda FC Ustadz Budi, Pelatih Pesantren Al-Huda FC Andre Bantaeng, beserta 22 pemain Pesantren Al-Huda FC Kabupaten Lampung Selatan. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo mengatakan Islam moderat di Tanah Air harus diperkuat untuk mencegah meluasnya pengaruh paham radikal.

"Penguatan pemahaman Islam yang moderat dan toleran menjadi salah satu senjata untuk mencegah masuknya paham kelompok radikal dan terorisme seperti ISIS," katanya di Jakarta, Jumat.

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Ia menilai langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan ISIS di berbagai kalangan sudah bagus, namun harus ditindaklanjuti dengan adanya penguatan pemahaman tentang Islam sesuai ajaran yang benar.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pemerintah dan Ormas Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkewajiban untuk memberikan pemahaman Islam kepada segenap anak bangsa.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan, cinta kasih, dan persaudaraan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam Islam tidak ada sama sekali ajaran untuk merusak, meneror, apalagi membunuh sesama manusia," katanya.

Menurutnya, Islam yang indah, lembut, dan damai itu selalu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bahkan saat terjadi perang, juga diajarkan untuk menghormati musuh dan tidak boleh menyakiti anak-anak, wanita, dan orang tua.?

Semua itu adalah cerminan bahwa cara-cara kekerasan itu bukan Islam, apalagi tindakan itu menimbulkan korban jiwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jadi tidak ada hubungannya antara Islam dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak paham makna sebenarnya dari Islam yang mengajarkan kelembutan, kedamaian dan rahmatan lil alamin. Itulah inti ajaran Islam," ujar Ahmad Satori.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk memperkuat pemahaman tentang makna Islam yang benar agar tidak terjebak dan terpengaruh propaganda paham radikal terorisme.?

Terkait jihad, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengatakan di alam kemerdekaan Indonesia saat ini, jihad tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan berbagai cara seperti menggunakan tenaga, harga, jiwa, dan lain-lain untuk kemaslahatan.

"Di zaman sekarang, perjuangan (jihad) kita bukan dengan angkat senjata, tapi dengan memerdekaan negeri ini dari pengaruh asing, kemiskinan, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, makmur, dan sejahtera," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Nusantara, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berbagai upaya dilakukan oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait lima pasti umrah. Selain memberikan pemahaman kepada masyarakat, langkah ini ditempuh dalam rangka meminimalisir potensi terjadinya penipuan yang belakangan banyak dilakukan oleh travel nakal.

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Salah satu yang dilakukan adalah dengan sosialisasi di arena pameran. “Ditjen PHU melalui Subdit Pembinaan Umrah ikut serta dalam pameran ‘Makasar Tour and Holiday’, untuk mengedukasi masyarakat tentang program lima pasti umrah,” terang Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis usai meninjau stand pameran di Makassar, Jumat (4/3).

Makasar Tour and Holiday digelar di salah satu tempat perbelanjaan di kota Ujungpandang. Dibuka hari ini, pameran dijadwalkan akan berlangsung sampai Ahad (6/3) mendatang. Pameran ini diselenggarakan oleh pihak swasta dan diikuti oleh travel wisata dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sejak dibuka siang tadi hingga malam ini, pengunjung stan kita cukup ramai. Masyarakat sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang umrah. Mereka tidak mau tertipu,” kata Muhajirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Muhajirin,  pengunjung pameran  rata-rata awalnya hanya menanyakan soal biaya umrah. Ada sebagian dari mereka yang bahkan belum peduli dengan keberadaan travel umrah, apakah berizin atau tidak, tapi yang terpenting adalah biayanya murah. “Masyarakat seperti ini menjadi sasaran sosialisasi kita. Sebab, selama ini yang tertipu umumnya adalah program umrah dengan biaya relatif murah dan dijanjikan bisa segera berangkat,” tutur mantan Kakanwil Gorontalo ini.

Dalam rangka  mengedukasi masyarakat agar lebih hati-hati, Kementerian Agama terus mensosialisasikan lima pasti umrah. Masyarakat yang akan berumrah, harus memastikan apakah biro travelnya memiliki izin resmi atau tidak. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan maskapai penerbangan yang akan digunakan, akomodasi selama di Tanah Suci, serta  seluruh jadwal dan agenda perjalanan umrahnya, hari demi hari seperti apa. Tidak kalah penting juga adalah memastikan visa nya sudah ada ataukah belum.

“Semoga dengan pameran ini, sosislisasi tentang umrah akan semakin sampai kepada masyarakat,” harap Muhajirin. (Kemenag.go.id/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sebanyak 172 orang mengikuti Ziarah Religi di tiga negara bersama KH Achmad Chalwani, Wakil Syuriyah PWNU Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, 20 hingga 25 Oktober 2017. Ketiga negara itu antara lain Singapura, Malaysia dan Thailand.

Di tiga negara tersebut, rombongan berziarah ke makam habaib, wali dan ulama di tiga negara tersebut baik ulama asli dari sana maupun yang berasal dari Indonesia serta sejumlah tempat wisata. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nusantara Pesantren An-Nawawi.

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Kepala Pondok Pesantren An-Nawawi Arifuat Marzuki menjelaskan, peserta yang mengikuti ziarah religi tiga negara ini tidak hanya berasal dari wilayah Purworejo, tetapi tidak sedikit peserta yang berasal dari luar kota. Bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa, yakni Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kiai dan tokoh masyarakat yang tercatat mengikuti kegiatan tersebut antara lain KR Maulana Alwi Ketua Yayasan An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Nasrul Arif Pengasuh Pesantren  API ASRI Tegalrejo Magelang, KH Maemun Asnawi Pengasuh Pesantren Salamkanci Magelang, KH Ismail Ali Pengasuh Pesantren Nurul Ali Secang Magelang, KH Miftahudin Kasno Ketua JATMAN Sumsel KH Misbahul Munir dari Pangandaran, KH Sumarno Abdul Azis dari Magetan, dan beberapa Kiai dan tokoh masyarakat lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Melalui kegiatan ziarah makam auliya di tiga negara ini diharapkan peserta mendapat berkah serta mengambil pelajaran dari auliyaillah khususnya yang berasal dari Indonesia yang dimakamkan di sana. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian kegiatan tahunan Pondok Pesantren An-Nawawi selain umroh dan ziarah makam habaib, wali dan pejuang," terang Arifuat kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut dikatakannya, selain berziarah ke sejumlah makam ulama di tiga negara tersebut, jamaah juga berkesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di tiga negara. "Seluruh rangkaian perjalanan ziarah tiga negara ini digelar selama enam hari empat malam." tambahnya.

Menurutnya, salah satu ulama yang akan diziarahi adalah Syekh Siraj Rengit Johor, Malaysia. Ia lahir di Desa Buntit Gebang Purworejo. Ia juga murid KH Zarkasyi, pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.

Perjalanan dimulai dari kompleks Pesantren An-Nawawi Berjan menuju Singapura. Beberapa agenda yang akan dilakukan selama satu hari di Singapura adalah berziarah ke makam Habib Nuh, mengunjungi Merlion Park, China Town serta Universal Studio.

Pada hari kedua perjalanan dilanjutkan ke Malaysia dengan menziarahi beberapa ulama besar seperti, Syekh Siraj, Sultan Arifin, Syekh Ibrahim, Syekh Yusuf Shiddieq, Syekh Nur Kholidi, dan Syarifah Rodiyah. "Untuk di Malaysia, tempat wisata yang akan dikunjungi antara lain, KLCC, Genting Highlands, Dataran Merdeka serta Istana Merdeka," imbuhnya.

Ia menambahkan, setelah selesai di Malaysia perjalanan dilanjutkan ke Thailand pada hari ke empat. Di negara Gajah Putih itu, rombongan berkesempatan untuk mengunjungi kemegahan kompleks Masjid Hatyai. Di Thailand, peserta juga dapat menikmati Pasar Terapung serta menikmati tur Shongkhla. "Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke pondok pesantren dan makam ulama asal Indonesia, yakni Syekh Abdurrahman Al-Falimbani," tambahnya.

Sebelum kembali ke tanah air, peserta juga berkesempatan untuk menjajal jembatan Pulau Pinang sepanjang 11 kilometer serta berziarah di makam auliya yang berada di Pulau Pinang.

"Pada hari keenam, rombongan direncanakan sudah terbang kembali ke Purworejo. Kami meminta doa dari seluruh masyarakat Purworejo khususnya dan sekitarnya semoga diberi kelancaran dan keamanan selama kegiatan ini," pintanya. (Ahmad Naufa-Lukman Khakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, AlaNu, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang akhir tahun 2014, IPNU – IPPNU se-Jombang menyelenggarakan Makesta (masa kesetiaan anggota) di empat kecamatan di Kabupaten Jombang yang meliputi Kecamatan Jogoroto, Diwek, Jombang Kota, dan Ngoro. Kegiatan ini merupakan tahap paling awal jenjang kaderisasi.

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Dengan mengambil tema “Menuju Generasi Muda yang Mandiri, Loyal, dan Militan dalam Beraswaja & Berbangsa”, IPNU-IPPNU Kecamatan Jogoroto sukses melatih 90 anggota baru dari berbagai ranting dan pimpinan komisariat setempat pada Selasa-Kamis, 23-25 Desember 2014 di MTs. Al-Hikmah Janti Jogoroto. Selain materi-materi Makesta peserta juga diberikan wawasan tentang Kewirausahaan.?

“Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan kader IPNU-IPPNU dapat menjadi kader yang berjiwa militan dan loyal terhadap organisasi selain menjadikan mereka sebagai kader yang mandiri, berbekal pengetahuan dan pemahaman materi yang mereka dapatkan selama tiga hari ini,” ungkap ketua PAC IPPNU Jogoroto ketua Fathiyah Putri Ramadhani di sela acara.?

Lain halnya dengan Makesta gabungan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Diwek yang lebih fokus pada materi-materi dasar Makesta mulai Kamis-Jum’at, 26-27 Desember 2014. Bertempat di MI Miftahul Ulum Desa Jatipelem, puluhan kader IPNU-IPPNU se-Kec. Diwek khidmad mengikuti pelatihan kaderisasi yang mengambil tema “Menciptakan Kader Pelajar NU yang Berpegang Teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh PAC IPNU-IPPNU Ngoro pada 27-28 Desember 2014, menyusul PAC IPNU-IPPNU Jombang Kota pada 28-29 Desember 2014 dan PR IPNU-IPPNU Desa Gondek pada 3-4 Januari 2015 di tempat yang berbeda.?

Kegiatan lain yang akan berlangsung adalah Latihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU – IPPNU Mojoagung pada bulan pertama tahun mendatang. Lakmud merupakan jenjang kedua setelah Makesta. (aulia rohmah/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Quote, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Dalam struktur organisasi jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pernah dikenal adanya Majelis Konsol (baca: konsul). Berbeda dari model kepengurusan Pengurus Wilayah (PW) pada struktural NU saat ini yang diadakan pada sebuah provinsi, Majelis Konsul diadakan pada daerah yang dipandang perlu oleh Pengurus Besar NU untuk didirikan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (1985) mencatat Majelis Konsul mulai diadakan sejak Muktamar NU ke-12 di Malang tahun 1937: “Pada Muktamar Malang ini juga dibentuk 9 konsul. Kesembilan konsulat itu: Banyumas, Menes, Kudus, Cirebon, Malang, Magelang, Madura, Surabaya dan Pasuruan.”

Dalam AD/PRT (Anggaran Dasar dan? Peraturan Rumah Tangga) NU saat itu disebutkan, fungsi Majelis Konsul salah satunya untuk mempermudah komunikasi antara PB dengan cabang-cabang, baik intruksi dari PBNU ke cabang maupun suara-suara dari cabang yang hendak disampaikan ke PB.

Konsul ini juga bertanggung jawab terhadap perkembangan cabang-cabang yang dibawahinya.

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Sebagai gambaran mengenai Majelis Konsul ini, pada sekitar tahun 1939 menjelang pelaksanaan Muktamar NU? ke-14 di Magelang, terdapat kepengurusan Majelis Konsul NU Daerah Jawa Tengah bagian Selatan yang berkedudukan di Sokaraja, disingkat menjadi Konsul NU Daerah Banyumas.

Konsul NU Banyumas ini mengoordinasi “tjabang-tjabang” antara lain: 1. Banyumas (berkedudukan di Sokaraja), 2. Purwokerto, 3. Purbalingga (Kecamatan Kartanegara), 4. Cilacap (Kawedanan Kroya), 5. Banjarnegara (Kawedanan Mandiraja), 6. Temanggung (Parakan), 7. Purworejo, 8. Kebumen, 9. Wonosobo, 10. Yogyakarta, dan 11. Karanganyar (Kawedanan Pejagoan).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Majelis Konsul ini diisi oleh beberapa pengurus dan dipimpin oleh seorang konsul yang didamping sekretaris dan bendahara konsul. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Konsul ini juga dibantu oleh Komisaris Daerah yang berada di lingkup sebuah karesidenan.

Format struktur kedudukan Majelis Konsul ini sempat berubah di zaman pendudukan Jepang, ketika pemimpin saat itu, Saiko Shikikan? (panglima tertinggi), menetapkan Undang-Undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan? Syu? dan? Tokubetsu Syi.

Bentuk Pemerintahan? Syu? (setingkat Karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 Syu. Pergantian tata pemerintahan ini, juga membuat PBNU mengubah struktur Majelis Konsul, dari semula membawahi di atas tingkat karesidenan, menjadi setingkat karesidenan (Syu). (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait:

- Choirul, Anam. 1985. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Jatayu. Solo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

- Aboebakar, Atjeh. 2015. Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim. Pustaka Tebuireng. Jombang.

- Saifuddin, Zuhri. 2013. Berangkat dari Pesantren. LKiS. Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Quote, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengakui, pendidikan yang berbasis agama Islam akan memberikan pondasi yang kuat bagi kelangsungan hidup anak-anak menuju kehidupan yang lebih baik dan sukses.

“Tanpa pondasi agama, kehidupan manusia tidak terarah,” ujar Idza ketika memberikan sambutan pada halal bihalal keluarga besar Kementerian Agama, di Pendopo Brebes, sabtu (9/8) lalu.

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Untuk itu, Idza bertekad akan memperhatikan sepenuh hati keberadaan lembaga pendidikan agama maupun pengelolanya, seperti guru dan sarana prasarana pendidikan sesuai aturan yang berlaku. “Pemkab tidak menutup mata dengan sumbangsih guru agama maupun ulama dalam turut mencerdaskan anak-anak bangsa di Kabupaten Brebes,” terang Bupati.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Panitia Abdul Rosid menjelaskan, halal bihalal diikuti 283 orang yang terdiri dari kepala dan guru Raudlatul Athfal 81 orang, kepala dan Guru MI 116 orang dan guru Pendidikan Agama Islam sebanyak 86 orang. “Mereka menjadi sumber ilmu dalam pembelajaran agama di sekolah dan menjadi ulama di masyarakat,” terang Rosid.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Sukaryono dari Tegal menyampaikan tausiyah dengan gaya yang kocak. Ustadz yang pandai memainkan mulutnya dengan bunyi nada berbagai alat musik itu menjadikan hadirin segar dan kerap terbahak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia menjelaskan pentingnya menjaga silaturahmi diantara sesama karena bisa dilapangkan rejeki dan dipanjangkan umurnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes H Moh Aqso menjelaskan tentang keterlambatan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah. Keadaan tersebut tidak hanya menjadi masalah bagi Kabupaten Brebes saja, tetapi di seluruh Indonesia. Justru Kabupaten Brebes beruntung karena bisa merealisasikan dana tersebut pada triwulan 1.

Menurutnya, tertundanya bantuan itu karena erat kaitannya dengan kebijakan di Kementerian Keuangan yang menerapkan regulasi baru soal BOS. "Ini karena ada kebijakan Kemenkeu terkait BOS yang dulunya menggunakan akun 57 atau akun bantuan sosial. Sementara sekarang akun BOS itu adalah akun 52 atau untuk belanja barang," kata Aqso.

Dua akun itu, lanjutnya, memiliki perbedaan mendasar yaitu terkait mekanisme penyaluran dana. Akun 57 merupakan akun bansos yang tidak membolehkan penyaluran dana akun secara rutin. "Esensi bansos juga untuk bantuan sewaktu-waktu bukan untuk hal yang rutin," kata dia.

BOS, kata Aqso, disalurkan secara rutin ke sekolah, termasuk madrasah yang ada di bawah naungan Kemenag.

Dia mengatakan BOS lewat akun 52 membuat penyalurannya membutuhkan proses yang relatif lama. "Prosesnya penyalurannya tidak sederhana, tidak hanya terkait pembukuan, pencatatan tapi juga sumber daya manusianya, karena yang menindaklanjuti BOS itu harus PNS. Tidak semua madrasah punya PNS cukup," kata dia.

Menteri Agama, kata Aqso, tengah mengusahakan dan optimis dana BOS tetap dapat dicairkan secepatnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal . Konferensi? Cabang (Konfercab) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, digelar di Pondok Pesantren Al Fajar Babakan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, 25-27 Desember 2013. Konfecab kali ini merupakan yang ke-19 bagi IPNU dan ke-18 bagi IPPNU.

Forum tertinggi IPNU-IPPNU tingkat kabupaten ini diikuti 1.928 pelajar dari 241 pimpinan ranting dan pimpinan komisariat. Hadir pula dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Tegal terpilih Dra Umi Azizah, Rais Syuriah PCNU Kabupatan Tegal, KH Chambali Utsman, Anggota DPR RI Bahrudin Nasori dan Zainut Tauhid, dan perwakilan sejumlah badan otomon NU Kabupaten Tegal.

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar

Konfercab sendiri dibuka oleh Staf ahli Bupati Tegal bidang pemerintahan Drs Eko Jati Suntoro, Kamis (25/12). Dalam sambutanya, dia berharap IPNU-IPPNU sebagai generasi muda bisa memberikan teladan bagi yang lain. Pasalnya, IPNU dan IPPNU adalah garda depan penerus bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua PCNU Kabupaten Tegal KH Ahmad Wasy’ari saat memberi pengarahan menuturkan, sebagai pintu masuk awal pengaderan NU, IPNU-IPPNU harus mampu memanfaatkan proses kaderisasi dengan baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini saya yakin IPNU-IPPNU merupakan kader yang bersih dari proses hiruk pikuk pilitik, karena IPNU-IPPNU merupakan kader pelajar NU. Dalam forum ini saya juga titip pesan jagalah IPNU dengan baik? dan wibawa pelajar agar tercipta tatanan organisasi yang lebih baik pula,“ pesanya ?

Dalam forum yang sama Ketua PC IPNU Kabupaten Tegal Abdul Mughni berpesan agar konfercab tidak hanya fokus pada pemilihan ketua baru,? tetapi juga sidang penentuan rekomendasi organisasi dan program kerja.

“Setelah tahu program maka perlu mencari pemimpin yang pantas dan? sanggup menanggung beban program itu, jadi tidak asal-asalan. Siapapun yang jadi ketua atau pemimpin itu adalah pemimpin kita semua. Untuk itu semua harus berlapang dada,” katanya.

Mughni juga menyinggung hiruk pikuk tahun politik 2014. Diharapkan kader bisa bersikap netral dan tetap fokus pada bidang garapnya, yakni kaderisasi.

Pernyataan Muhgni juga diamini oleh Ketua PC IPPNU Tegal Lutfatun Nikhla. Dia berharap generasi IPNU-IPPNU ke depan sanggup mengemban amanat organisasi dengan maksimal.

Lutfah mengklaim selama dua tahun kepengurusannya, sudah banyak program yang diselesiakan dan berhasil. Ia mengatakan, hal ini tak lepas dari banyaknya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, terutama PCNU Kabupaten Tegal, para pembina? dan dukungan semua pengurus cabang dan anak cabang.

“Dalam kesempatan ini sekaigus saya berpamitan dan agar generasi penerus saya mudah-mudahan lebih baik,“ pintanya. (Abdul Muiz/Mahbib)

?

FOTO : Wakil Bupati Dra Umi Azizah didampingi staf ahli bupati menyematkan tanda peserta pada saat pembukaan Konfercab

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Baijuri mengajak segenap elemen jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk senantiasa meningkatkan koordinasi dan konsolidasi. Lebih khusus, konsolidasi tersebut menfokuskan kepada penguatan aqidah Alhlussunnah wal-Jamaah.

Hal tersebut disampaikannya saat Lailatul Ijtima sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PWNU Lampung Jl. Cut Mutia Bandarlampung, Ahad malam (18/12).

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah

Menurutnya, gerusan aqidah sekarang ini sangat kuat sekali dari berbagai macam aliran yang lebih menekankan kepada pemahaman agama Islam secara tekstual.?

"Waspadai aliran yang mengedepankan doktrin harfiyah. Aliran inilah yang menumbuhkan pemikiran radikal dan memunculkan terorisme yang sekarang marak terjadi," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini lanjutnya, merupakan tantangan besar bagi para pengurus khususnya dan warga NU pada umumnya untuk bersama-sama membendung dan menyadarkan umat dari pemahaman ini.

Senada dengan Kiai Sholeh, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Maron Purworejo Jawa Tengah KH Abdul Hakim Hamid yang hadir pada kesempatan tersebut, juga menekankan pentingnya mempertahankan aqidah dan amaliyah Aswaja melalui Jamiyyah NU.

Salah satu yang sering mendapatkan gempuran adalah tradisi maulid Nabi Muhammad yang sering dilakukan warga NU. Aliran baru yang banyak bermunculan sekarang sering menyatakan bahwa kesunnahan amaliyah maulid Nabi tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadits.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini menurut Gus Hakim, begitu Ia biasa disapa, malah jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk bersholawat, menghormati dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Ia malah menyatakan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sunnah akan tetapi wajib. Bukan saja pada bulan maulid, tapi setiap saat.

Di sinilah, menurutnya, pentingnya kehadiran ulama dan Jamiyyah NU untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam akan pemahaman Islam yang maksudkan oleh Nabi dan Allah SWT. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2)

Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Surat-surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu.

Dalam surat-surat Kartini beliau sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat. Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kiai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kala Kartini Berguru pada Kiai (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2)

Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kiai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. (Ajie Najmuddin/dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Asshidiqiyah Lawan At-Taufiq di Final LSN DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Liga Santri Nusantara DKI Jakarta telah memasuki babak final. Dua tim terbaik bertarung memperebutkan titel juara regional dan berhak untuk tiket ke babak 32 Besar Liga Santri Nusantara.

Adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Asshidiqiyah vs Ponpes At-Taufiq yang masing-masing pesantren berasal dari Jakarta Barat. Ponpes Assidiqiyah berhasil menang setalah mengkadaskan Ponpes At-Tsaqofah dengan skor 2-1.

Asshidiqiyah Lawan At-Taufiq di Final LSN DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Asshidiqiyah Lawan At-Taufiq di Final LSN DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Asshidiqiyah Lawan At-Taufiq di Final LSN DKI Jakarta

Sedangkan Ponpes At-Taufiq menang adu penalti dengan skor 3-1 saat melawan finalis LSN DKI Jakarta 2015 Hayatul Islam setelah dua babak seri 2-2.

Menurut Koordinator Regional LSN DKI Jakarta Sumarsono, pertandingan final akan digelar hari ini, Sabtu 27 Agustus 2016 di Stadion Soemantri Brodjonegoro Jakarta pukul 14.30 WIB.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Sebelum pertandingan final akan ada laga eksebisi antara Panpel LSN Pusat dengan Dinas Olahraga Provinsi DKI Jakarta," tambahnya.

Marsono melanjutkan, Final LSN DKI Jakarta akan memperebutkan Piala PWNU DKI Jakarta. "Pertandingan final besok akan dihadiri Ketua PP RMINU yang sekaligus Ketua LSN 2016 KH Abdul Ghaffar Rozin, Sekda DKI Jakarta yang juga jadi Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah, Sekretaris PWNU DKI Jakarta KH Muallif ZA, Kadisorda DKI Jakarta Drs Firmasnyah," tegasnya. (Red: Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Halaqoh, Pahlawan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Alkisah, ada seorang guru yang bernama Sayyid Ismail Fahmi Albadr, seorang dosen dan pengajar bantu di Pesantren Al-Asyariyyah Kalibeber dan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo (sekarang UNSIQ). Dia merupakan tenaga pengajar dari Universitas Al-Azhar Kairo yang selama dua tahun sekitar 1991-1992 menjadi tenaga pengajar bantu di kampus dan pesantren tersebut. ?

Sebagaimana dikisahkan kembali oleh Elis Suyono dan Samsul Munir Amin dalam buku biografinya KH Muntaha Alhafidz, Ustadz Fahmi (begitu ia kerap dipanggil) bercerita, suatu ketika dia diberi beras 10 kilogram dan gula satu kilogram oleh almaghfurlah KH Muntaha Alhafidz, pengasuh Pesantren Al-Asyariah dan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) waktu itu. Beras dan gula tersebut dibawa dan diberikan sendiri oleh Mbah Muntaha ke rumah Ustadz Fahmi yang letaknya tidak jauh dari kantor pondok.

Oleh istrinya, beras dan gula pemberian Mbah Muntaha itu digunakan sebagaimana kebutuhan biasanya. Beras itu dipakai untuk konsumsi keseharian keluarga Ustadz Fahmi yang jumlahnya lima orang beserta istri dan anak-anaknya. Begitu pula gula yang satu kilogram digunakan seperti biasanya untuk minim teh, susu, kopi dan kebutuhan lainnya. Tapi berbeda dengan biasanya, meski beras dan gula tersebut sudah dipakai dalam satu bulan, beras dan gula pemberian Mbah Mun itu belum habis juga.

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Geganjilan tersebut membuat Ustadz Fahmi pada suatu waktu bertanya kepada istrinya, "Apakah beras dan gula itu tak pernah digunakan sehingga selama satu bulan itu keluarganya tidak pernah membeli beras dan gula?” tanya Ustad Fahmi.

Namun di luar dugaan, istrinya menjawab, bahwa beras dan gula itu tetap digunakannya sebagaimana kebutuhan kesehariannya. Ustadz Fahmi tentu saja heran, soalnya biasanya keluarga yang semuanya berjumlah lima orang itu bisa menghabiskan beras sekitar 30 kg dan 3 kg gula untuk kebutuhan konsumsi selama satu bulan. Tatapi kelaziman tersebut tidak berlaku pada kasus satu bulan itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena merasa penasaran dengan keganjilan di atas, maka pada suatu kesempatan Ustadz Fahmi menanyakan langsung hal itu kepada Mbah Muntaha, mengapa beras dan gula pemberian beliau tidak habis-habis kendati tetap digunakan.

"Hadza min barokatil Quran," jawab Mbah Muntaha. (M Haromain)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Disarikan dari Elis Suyono dan Samsul Munir Amin, Biografi KH. Muntaha Alhafidz: Ulama Multidimensi, diterbitkan: UNSIQ Wonosobo dan Pesantren Al-Asyariah Kalibeber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, AlaNu, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Islam, Nasionalisme, dan Masa Depan Bangsa

Oleh Aswab Mahasin

Sejarah politik Indonesia akhir-akhir ini diramaikan oleh keputusan pemerintah membubarkan organisasi yang dianggap makar. Pembubaran itu ditandai dengan pencabutan SK badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan dinyatakan bubar sesuai dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2017Pasal 80A. Alasan dari dibubarkannya organisasi ini dianggap tidak melalukan peran positif, anti-pancasila, dan dikhawatirkan menimbulkan benturan dalam dinamika kehidupan masyarakat.

Saya beranggapan, dalam hal ini pemerintah telah melakukan tindakan yang tepat. Karena HTI sendiri pada arus bawahnya, seperti di media sosial sudah meresahkan. NKRI oleh anggota HTI diartikan sebagai “Negara Kafir Republik Indonesia”. Dan pada saat HTI melakukan pertemuan besar di Gelora Bung Karno, biasa disingkat GBK, oleh HTI singkatan itu berubah menjadi “Gerakan Besar Khilafah”.

Islam, Nasionalisme, dan Masa Depan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Nasionalisme, dan Masa Depan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Nasionalisme, dan Masa Depan Bangsa

Pada momen ini saya tidak akan menanggapi panjang lebar mengenai HTI, fokus kajian ini lebih kepada perjalanan panjang gerakan “Islam dan Nasionalisme”. Yang mana, dalam pembentukan dasar Negara Indonesia—banyak ide dan gagasan diperdebatkan, sampai pada terlahirnya Pancasila sebagai jelan tengah, dan Indonesia memilih menjadi negara bangsa (nation-state) untuk mayoritas mutlak umat Islam Indonesia, bukan negara Islam. 

Sejak dekrit Presiden 5 Juli 1959, gaung ideologi negara Islam mulai surut, dan jarang sekali tokoh Islam yang mengusung ideologi tersebut dalam pentas politik Nasional. Pada saat itu, politik Islam hanya menjadi jargon kampanye oleh partai-partai tertentu. Momen ini berlanjut pada masa-masa orde baru, dan dilanjutkan pula pasca reformasi hingga sekarang—dianggap tidak relevan lagi menggemakan ideologi negara Islam pada panggung politik Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana partai politik Islam yang ada pada saat ini, seperti; PKB, PPP, PKS, dan sebagainya. Tidak ada satu pun dari mereka menyerukan perubahan sistem dasar negara kita, menjadi negara Islam. 

Kalau pun ada, usulannya tidak sampai pada perubahan sistem, hanya sebatas “peraturan syariah” dan sejenisnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan demikian wajar saja jika pemerintah membubarkan HTI karena berbelot dari amanat Pancasila, Undang-undang, dan sejarah. Islam dan Nasionalisme dalam perjalanan sejarah Indonesia mempunyai pengaruh besar membentuk visi kebangsaan dan kebudayaan bangsa kita. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Banyak berdiri organisasi sosial-keagaman, seperti; Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjelman menjadi Sarekat Islam (SI) digawangi oleh H.O.S. Tjokroaminoto, Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, Nahdlatul Ulama didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, Perserikatan Ulama di Majalengka, Persis, Perti, Persatuan Muslim Indonesia, Partai Islam Indonesia (PPI), dan Masyumi, serta Majlis Islam A’laa Indonesia.Gerakan-gerakan Islam tersebut dibentuk tentunya untuk membangun karakter nasionalisme bangsa, walaupun masih sebatas pengertian etik. 

Dalam perkembangannya, tidak sedikit pertentangan yang terjadi diantara golongan Islam dan golongan Nasionalis. Seperti halnya pada tubuh Sarekat Islam yang diharapkan akan mampu melahirkan pemerintahan yang berdaulat—cita-cita itu terhambat oleh rentetan perpecahan ideologi. Singkatnya, Soekarno mencoba menjadi penengah, dan Soekarno memberikan solusi kepada para tokoh Islam, agar mereka masuk ke parlemen. Namun, Soekarno pada saat itu dihujani kritik oleh tokoh-tokoh Islam, salah satunya adalah M. Natsir. 

Tidak hanya itu, organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama pun mengkritik habis pernyataan Soekarno, transkipnya seperti ini, saya kutip dari buku Andree Feillard, “NU vis-a-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna”, “Jikalau Sokarno tidak bicara di atas awan ideal, dan hendak bicara di atas bumi kenyataan, ia kenyataan dan sekali lagi kenyataan hendaklah Soekarno memerhatikan sikap umat Islam. Di dalam kongres rakyat Indonesia tempo hari. Sekalipun Indonesia berisi 90% umat Islam, namun tidak ada satu wakil Islam yang menuntut supaya Parlemenyang dicita-citakan itu parlemen Islam. Bahkan dikala membicarakan bendera persatuan, tidak ada yang mengumumkan tuntutan supaya bendera itu bendera....Islam.”

Telah jelas, di lihat dari transkip tersebut. NU sangat menyadari model pemerintahan yang paling ideal untuk Indonesia adalah negara bangsa (nation-state). Karena jika Indonesia dipaksakan untuk berdiri pada ideologi Islam maka tidak menutup kemungkinan yang akan terjadi adalah perpecahan. Dalam pada itu, tokoh-tokoh Islam nampak bijak, lebih memikirkan persatuan bangsa Indonesia daripada harus memaksakan Syari’at Islam, yakni lebih mengutamakan “esensi” atau nilai-nilai keislaman itu sendiri. 

Piagam jakarta menjadi titik balik dari dirubahnya pancasila, pada sila pertama, awalnya berbunyi, “dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, kata itu dianggap tidak mengayomi seluruh elemen bangsa Indonesia yang berdiri di atas banyak agama, kepercayaan lokal, suku, budaya, dan kebiasaan. Pada tanggal 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama, akhirnya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan realitas sejarah menyatakan, bahwa NU menjadi salah satu corong yang ikut mengarahkan itu semua, untuk menjaga perdamaian dan persatuan bangsa. 

Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Bangsa

Setelah perang jawa pada tahun 1825-1830 (selama 5 tahun). Menjadi titik balik perjuangan Islam di Indonesia, perang ini menjadi perang yang melelahkan dan banyak memakan korban. Dan Belanda sendiri waktu itu sempat kocar-kacir melawan perlawanan dari gerakan Islam Jawa. Berhentinya perang ini ditandai dengan dibuangnya Pangeran Diponegoro. Inilah awal mula bermunculannya golongan “putihan” yang mempunyai tujuan meluruskan paham keislaman di Indonesia (karena dianggap menyimpang). 

Terjadi polarisasi menukik, antara abangan, putihan, dan priyayi. Seakan-akan Islam Jawa dan Islam Normatif tidak bisa disatukan. Singkat cerita, proses itu melahirkan banyak ide dan gagasan tentang keislaman, pada tahun 1912 berdiri sebuah organiasi yang mengusung jargon pembaharuan Islam, yakni Muhammadiyah—Tetapi, gerakan ini belum bisa merangkul seluruh elemen rakyat yang mempunyai perspektif berbeda dalam model penerjemahan ajaran Islam. Muhammadiyah gerakannya cukup masif dan dengan waktu yang cepet gerakan ini menyebar ke seantero Indonesia, dan Muhammadiyah menjadi salah satu model keisalaman Indonesia hingga sekarang.

Pada tahun 1926, organisasi Nahdlatul Ulama (NU) terlahir, selain bertujuan membendung paham radikalisme yang sudah mewabah, NU hadir untuk merangkul semua kalangan/semua lapisan masyarakat Indonesia. NU mengusung pendekatan ala Wali Songo, dengan tidak memojokan kelompok-kelompok tertentu, melainkan menjadi solusi keagamaan pada saat itu. 

NU beranggapan, tidak relevan harus menghilangkan seluruh ajaran yang sudah mengakar dalam tradisi keislaman di Indonesia, dianggap perlu untuk terus diamalkan—ajaran para ulama terdahulu masih relevan.

 

Selain itu dalam proses sejarahnya, NU juga tidak diam dalam usaha mengusir penjajahan, dengan gerakan cinta tanah air dan membela negara adalah sebuah kewajiban (Resolusi Jihad), NU menjadi gerakan keagamaan—bersatu padu, berjihad melawan diskriminasi penjajahan. KH. Hasyim Asy’ari pun tidak pernah bergeming atas gertakan Belanda/penjajah, setelah mengeluarkan “resolusi jihad”, ada isu yang berkembang Kiyai Hasyim mau ditangkap, dan Bung Tomo meminta agar beliau mengungsi, tapi beliau tetap bertahan menemani laskar Hizbullah dan Sabilillah melawan penjajah. 

Proses itu semua, oleh NU sebagai bentuk kecintaannya terhadap tanah air, bangsa, dan negara. Dan pada rentang yang cukup panjang, NU sama sekali tidak menghendaki adanya usulan agar Indonesia menjadi negara dengan ideologi dasar Islam. Karena NU meyakini masa depan bangsa ini akan jaya dan maju jika toleransi, kebersamaan, dan seluruh rakyat bisa hidup bersama serta berdampingan. 

Apalagi NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia memiliki kesempatan menjadi contoh dan teladan memengaruhi proses berpikir masyarakat dalam pengamalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Khsusunya bersungguh-sungguh mengisi Pancasila dengan nilai-nilai keagamaan (Islam), begitu juga mengoptimalkan nilai-nilai agama dalam penafsiran dan pengemalan UUD 1945. 

Dengan demikian, perspektif mengenai pemikiran Islam, khususnya masalah etika dan esensi nilai keislaman akan menuluar pada sistem pergaulan sosial masyarakat Indonesia, dan hal tersebut akan memengaruhi masa depan bangsa, dan akan dijadikan sebagai standar wawasan kebangsaan. Bagi saya, yang dibutuhkan Indonesia bukanlah simbolisme keagamaan, melainkan nilai-nilai keislaman yang universal, seperti dibawakan oleh panutan kita semua Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

Penulis adalah Dewan Pengasun Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, AlaNu, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

GP Ansor Minta Polda NTT Tingkatkan Penanganan Korupsi 2016

Kupang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta Kepolisian Daerah NTT terus meningkatkan penanganan kasus korupsi yang? dinilai menonjol pada tahun 2015.

Ketua PW GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, kasus korupsi harus menjadi perhatian khusus penegak hukum guna memberantas dan memerangi kejahatan terstruktur yang dapat mengganggu pembanggunan masa depan daerah ini.

GP Ansor Minta Polda NTT Tingkatkan Penanganan Korupsi 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Minta Polda NTT Tingkatkan Penanganan Korupsi 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Minta Polda NTT Tingkatkan Penanganan Korupsi 2016

Menurut Muis, sesuai hasil laporan akhir tahun Polda NTT melalui keterangan pers akhir tahun, penanganan perkara terbanyak di NTT adalah kasus korupsi. Dari Januari hingga Desember 2015, sebanyak 30 perkara kasus korupsi berhasil diselesaikan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sebagai pemuda yang mengawal kemajuan di NTT kami tetap memberikan support kepada Kepolisian dan Kejaksaan bekerja keras memberantas korupsi sebagai bagian dari tanggung jawab penegak hukum,” ujarnya, Kamis (31/12).

Masyarakat, tambah Muis, mesti turut mengawal gerak pelaksanaan pembangunan melalui kontrol sosial di lapangan. "Siapapun yang melanggar hukum tetap ditindak sesuai dengan ketentuan," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kapolda NTT? Brigjen Pol Endang Sunjaya dalam Jumpa Pers Akhir Tahun di Mapolda NTT mengatakan, ada dua kasus korupsi yang menonjol dari 30 perkara yang ditangani Polda NTT. Dua kasus itu ialah proyek pembangunan lanjutan Pasar Alok di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka pada 2006 lalu. Tersangka kasus ini ada dua orang, yakni HS dan BDC dengan kerugian negara mencapai Rp1,3 miliar.

Kemudian kasus korupsi pengadaan pakaian kerja lapangan (PDL Linmas) pada Badan Kesbang Politik dan Linmas Kabupaten Alor pada 2013 yang merugikan negara Rp309 juta. Tersangka dalam kasus ini adalah YMB, MRDJ, BPB, dan MTA.

Menurut Endang, tingkat penyelesaian perkara korupsi (P21) selama 2015 hanya mencapai 83 persen atau 30 perkara dari target semula 36 perkara. Dari 30 perkara tersebut, terdapat 32 tersangka dengan potensi kerugian mencapai Rp10,4 miliar lebih. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 September 2017

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

Jepara,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas dosen, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Jawa Tengah, mengundang Prof. Dr. Supriyadi Rustad. Pertemuan berlangsung di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Sabtu (8/3).

Menurut Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pihaknya siap membantu membesarkan Unisnu.

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikti Siap Bantu Tingkatkan Kualitas Unisnu

“Unisnu layak menjadi besar layaknya perguruan-perguruan tinggi besar lainnya di Indonesia,” katanya dalam Orientasi Akademik; Pembinaan dan Peningkatan Kualitas Dosen Unisnu Jepara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia memaparkan, pondasi pendidikan di Indonesia harus didukung dengan elemen-elemen yang saling bersinergi. Diantaranya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dibingkai dengan standar dan peraturan perundang-undangan serta pelaksanaannya tidak lepas dari kuliaas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya dosen.

Karena itu, pihaknya bersedia membantu mengirimkan dosen-dosen Unisnu untuk dikuliahkan Dikti ke luar negeri. Dikti lanjutnya juga menyediakan beasiswa S2 dan S3 untuk dosen Unisnu baik ke PT dalam maupun luar negeri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rektor Unisnu Jepara, Prof. Dr. H. Muhtarom, mengungkapkan kampus yang digawanginya perlu banyak berbenah dan butuh banyak bimbingan dari Dikti serta Kopertis. DYP Sugiarto, Ketua Kopertis Wilayah VI yang turut hadir mengamini komitmen Dikti yang hendak memajukan kampus NU tersebut. “Semoga harapan dari Dikti segera terwujud,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Quote, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 September 2017

Warga Berbondong Daftar Mudik Bareng PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sedikitnya 200 orang memadati lobi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Selasa (31/7) siang. Mereka datang untuk mendaftarkan diri sebagai peserta ‘Mudik Bersama 2012’ yang rutin digelar PBNU melalui Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU.

Untuk menjadi peserta ‘Mudik Bersama 2012’, mereka cukup membawa fotokopi KTP. Peserta mengisi lembaran formulir yang akan dibagikan panitia. Pengisian formulir ini akan memudahkan pendataan dan pendistribusian nomor bangku bus.

Warga Berbondong Daftar Mudik Bareng PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Berbondong Daftar Mudik Bareng PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Berbondong Daftar Mudik Bareng PBNU

Selasa ini adalah hari kedua pendaftaran peserta ‘Mudik Bersama 2012’. Hari pertama pendaftaran dibuka kemarin, Senin 30 Juli 2012. Kemarin, panitia menerima 500 pendaftar. Targetnya, “Panitia menyediakan 40 bus,” kata seorang petugas keamanan PBNU yang menemani para pendaftar. Jumlah itu kemungkinan bertambah/

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat menunggu kedatangan panitia, para calon peserta ‘Mudik Bersama 2012’ duduk di halaman masjid An-Nahdliyah. Tetapi tidak sedikit dari mereka, berdiri dan berjalan kian kemari untuk sekadar melepas rasa jemu. Bahkan ada yang bercakap-cakap dengan petugas keamanan. Ini bisa dimaklumi karena mereka umumnya datang sejak pukul 09.00 pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya datang dari jam setengah sepuluh,” kata Tugimin (41), seorang pekerja yang tinggal di bilangan Pulo Gadung kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal saat menunggu kedatangan panitia, Selasa (31/7) siang.

Selain fotokopi KTP, Tugimin memperlihatkan fotokopi Kartu Keluarga kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di sela antrean, tepat depan batu peresmian gedung PBNU yang ditandatangani KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden keempat RI. Ia akan mendaftarkan istri dan dua anaknya sekaligus.

NU memang harus mengabdi kepada rakyat kecil. Bayangkan saja? Kalau satu tiket bus 300 ribu rupiah, saya sekeluarga berempat punya duit darimana untuk empat tiket, tutup Tuguimin yang akan mengambil tujuan Sragen Jawa Tengah, sambil pamit kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal mengambil air sembahyang Dzuhur.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock