Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Upaya LAZIS NU untuk mengembangkan sumber pendanaannya dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) telah menuai hasil. Kerjasama dengan Group Nutrifood melalui program Hi Low Sholeha selama 6 bulan telah menghasilkan dana sekitar 100 juta rupiah.



LAZIS  NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS NU Terima Dana 100 juta dari Program Hi Low Sholeha

Secara simbolik, dana tersebut diserahkan kepada Ketua LAZIS NU Fathurrahman Rauf oleh Customer Relation Manager PT Nutrifood Indonesia May Pratisto di gedung PBNU, Rabu (6/8).

Fathurrahman menyatakan kegembiraannya atas kerjasama ini sebagai wujud kesadaran dari para muzakki (para pembayar zakat) untuk memenuhi kewajibannya. Ia sepakat dengan pendapat disatu sisi, minat orang beribadah berhaji sangat tinggi sampai-sampai harus antri selama beberapa tahun, namun ketika diminta untuk berzakat, kesadarannya masih rendah, yang antri adalah para mustadafien (orang yang membutuhkan) yang berharap memperoleh sumbangan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris LAZISNU Mabroer MS menjelaskan dana yang diperoleh dari Nutrifood dengan motto “Penuhi Panggilanmu, Berbagi Bersamamu” ini akan difokuskan untuk pelayanan masyarakat dalam bidang kesehatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa program pelayanan kesehatan yang akan dilakukan adalah pengobatan gratis di Banten dan Tuban, sunatan massal di Tegal dan Kerawang dan untuk membiayai pembuatan klinik kesehatan bagi mustahik (penerima zakat) di Purwakarta.

”Meskipun ada Gakin, LAZIS masih kewalahan melayani orang yang meminta biaya pengobatan. Di kantor Lazis, kami selalu kedatangan orang yang meminta bantuan kesehatan dan kita tidak bisa menolak. Prinsip kita, menyumbang tidak akan membuat kita miskin. Semaksimal mungkin kita beri, tidak ada yang kita tolak,” tandasnya.

Kebutuhan lain yang sering disampaikan oleh masyarakat kepada LAZISNU adalah mahalnya biasa pendidikan, meskipun saat ini SPP dikatakan sudah gratis, tetapi fakta di lapangan masyarakat masih mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan.

”Dukungan dari Nutrifood ini merupakan sebuah amal kebajikan, semoga amal ini bisa meningkatkan kinerja perusahaan,” terangnya.

Perusahaan lain yang sudah bekerjasama dengan LAZIS NU adalah Telkomsel dengan membangun masjid di Nias dan saat ini pemberian mobil pengumpul zakat, dengan koran Seputar Indonesia untuk pemberian beasiswa untuk korban gempa di Bengkulu dan Padang serta dengan sebuah perusahaan kopi, yang menyisihkan 500 perak per sachet-nya untuk kaum mustadafien.

Setiap bulan Ramadhan, LAZIS NU juga membagikan 40.000 paket zakat. Tahun 2007 lalu, zakat tersebut dibagi melalui jaringan NU dari Bali sampai Bengkulu. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Rabu, 14 Februari 2018

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Magelang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Hari kedua, Selasa (19/8), peserta Perkemahan Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional (Perwimanas) II mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai daerah dan terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pada outbond ini, para peserta diharuskan melewati berbagai tantangan yang sudah disiapkan oleh panitia.

Ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di tempat Outbond, Merisya Endora, yang memandu para peserta menjelaskan berbagai tantangan yang harus dilalui para peserta.

“Jadi kegiatan outbond pagi ini ada lima pos ya. Tantangan yang harus dilewati para peserta Pertama ada merayap jembatan dengan satu tali. Lalu merayap jembatan dua tali, setelah itu harus menaksir tinggi pohon dan menaksir lebar sungai,” jelas Merisya yang merupakan anggota Dewan Kerja Cabang Pramuka Temanggung.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tujuan yang bisa diambil dari outbond pagi ini, kata Merisya, para peserta dilatih untuk belajar kekompakan dan melatih mental setiap peserta.

“Mental mereka dilatih untuk bisa melewati setiap tantangan yang kita siapkan, selain itu biar antar peserta yang berasal dari berbagai daerah akrab dengan satu dan lainnya,” tambah Merisya.

Sementara itu, Rohmatul Fauzi peserta outbond dari SMK Ma’arif 2 Temon Yogyakarta megungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

"Senang karena bisa menambah wawasan dan pengalaman. Selain itu bisa mendapat pelajaran banyak. Harapan saya, mudahan-mudahan generasi muda lulusan Ma’arif  dan lainnya bisa meneruskan cita-cita pendiri bangsa ini,” tegas Rohmatul Fauzi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal senada juga diungkapkan oleh Eka Melia Putri, Nur Hasanah dan Rani Suwardi peserta dari MA Muslimat NU Kalimantan.

“Banyak sekali pelajaran yang bisa kami dapatkan, seperti kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan dengan peserta dari daerah lain,” ujar Eka Melia Putri.

“Kami juga bisa belajar kebudayaan dari daerah lain. Jarang kami melihatnya langsung,” ungkap Rani Suwardi.

“Kami berharap bisa mengajarkan pelajaran yang kami dapatkan dari sini kepada teman-temann pramuka di sekolah kami di Kalimandan,” tegas Nur Hasanah.

Pada acara Perwimanas II kali ini, selain outbond para peserta diharuskan mengikuti berbagai kegiatan seperti giat wisata, giat bakti, dan giat wawasan. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga bisa menikmati pemandangan pusat Kota Bandung dari ketinggian sekitar 87 meter melalui Menara Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat memasuki libur Lebaran 2016.

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Penjaga tiket Menara Masjid Raya Bandung Yayat Ruhiyat, Jumat, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan selama libur Lebaran ini yakni mencapai 1.000 orang per harinya.

"Kalau libur hari biasa paling banyak itu 400 orang, tapi satu hari setelah Lebaran kemarin jumlah pengunjungnya naik drastis yakni bisa 1.000 orang," kata Yayat sambil melayani pembelian tiket.

Untuk bisa naik ke Menara Masjid Raya Bandung, pengunjung harus antre dan kapasitas lift untuk menuju menara bisa menampung hingga 10 orang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Satu lift menampung sampai 10 orang, dari lantai dasar sampai ke puncak menara dibutuhkan waktu sekitar satu menitan," kata Yayat.

Selama libur Lebaran ini, harga tiket untuk menikmati pemandangan Kota Bandung dari Menara Masjid Raya Bandung adalah Rp5.000 per orang.

"Cuma selama libur Lebaran saja harga tiketnya menjadi Rp5.000. Tapi kalau hari bisa harga tiket untuk dewasa itu Rp4.000 dan anak kecil Rp3.000 ribu," kata dia.

Salah seorang warga yakni Asep Arif mengatakan ia sengaja naik menara tersebut karena ketika di atas menara dirinya bisa melihat pemandangan Kota Bandung secara keseluruhan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini saya datang sama sembilan anggota keluarga lainnya. Ada anak dan istri saya, mertua, orang tua saya sama adik saya. Sebenarnya sudah beberapa kali saya ke tempat menara ini dan kalau sudah sampai k puncaknya. Subhanallah lah pokoknya. Pemandangan Bandung dari atas indah pisan pokoknya," kata Asep. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebagai organisasi ekstra kampus (Omek), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus berupaya menjadi wadah pembelajaran di luar kampus. Sehingga sebelum mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dimasa khidmah 2015-2016, PMII Bojonegoro mengadakan diskusi di sekretariatnya, jalan Pondok Pinang 02 Bojonegoro, Ahad (24/1)

Dalam diskusi tersebut, selain diikuti puluhan kader dari mahasiswa kampus di Kota Ledre, juga menghadirkan narasumber, diantaranya ketua Majlis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Bojonegoro, Ahmad Sunjani Zaid dan juga ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib), Hasan Bisri.

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengaku, pengurus cabang periode 2015-2016 benar-benar serius dalam mengemban amanah satu tahun kedepan. Sehingga sebelum melaksanakan Rakercab nanti, sudah ada bekal matang yang akan dibahas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Diskusi ini untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan, baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader," jelasnya.

Sehingga Pra Rakercab ini sangat penting untuk menjaring gagasan dari berbagai aspek, baik dari kader, alumni dan juga perguruan tinggi. "Setahun kedepan, berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu PMII, harapanya, bisa bersinergis dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan religiusme mahasiswa. "Namun tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah," harapnya.

Sementara itu, ketua Mabincab, Ahmad Sunjadi Zaid meminta, kepada pengurus cabang PMII Bojonegoro agar sinergitas program internal PMII kedepan, harus produktif dan berkualitas. "PMII harus mampu menjawab problematika yang ada. Harus mampu mencetak ilmuan atau cendekiawan yang hebat, petarung jalanan, analisator wacana dan anggaran, jurnalis serta optimalisasi gerakan kembali ke kampus," terangnya yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Bojonegoro.

Sedangkan ketua Aspertib, Hasan Bisri berpesan kepada PMII perlunya sinergitas organ PMII dengan pihak kampus. "Sebenarnya PMII adalah aset kampus dan negera Indonesia. Jadi harus berjalan selaras dan harmonis, yakni mampu menjadi promotor kampus dalam berbagai kegiatan mahasiswa," tandasnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari kader PMII. Ketua Komisariat IKIP PGRI Bojonegoro, Nuzulul Furqon mengapresiasi betul langkah pengurus baru dengan mengadakan diskusi, untuk mempersiapkan bekal sebelum melaksanakan Rakercab nanti. Sehingga nanti mampu menjadi pijakan pengurus setahun kedepan.

"Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memperbaiki organisasi," pungkasnya.[M. Yazid/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Pati, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Madrasah Aliyah NU Luthful Ulum Wonokerto Pasucen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah bekerja sama dengan Perpustakaan Mutamakkin Kajen menggelar bedah novel Kuntul Nucuk Bulan. Bedah novel tersebut mendaulat Farid Abbad sebagai narasumber.

Farid, pada bedah novel Selasa (26/1), ini menjelaskan, kuntul adalah burung yang selalu terbang menjelajah ke berbagai tempat untuk mencari pengalaman dan ilmu baru. Burung itu tidak puas dengan apa yang diperoleh. Cita-citanya tidak bisa dibatasi karena sangat tingginya sehingga dikejar sepanjang hidup.

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Novel ini, kata aktivis Lakpesdam NU Pati, ini mengisahkan seorang santri yang mempunyai cita-cita tinggi yang tidak patah semangat oleh berbagai kendala dan rintangan yang menghadang. Santri tersebut terus belajar dan berkarya untuk mencapai cita-citanya yang tinggi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para pelajar sebagai generasi masa depan bangsa, lanjut Farid, harus menjadi sosok yang pantang menyerah. Pemuda harus terbang tinggi untuk meraih mimpi yang dicanangkan. Cita-cita tinggi inilah yang mendorong seorang pemuda untuk belajar secara rajin dan membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Farid, alumnus Global University Libia, ini menjelaskan, salah satu keterampilan hidup adalah jurnalistik, kemampuan tulis menulis. “Untuk menjadi penulis hebat dibutuhkan ketekunan dan latihan terus menerus. Orang-orang besar, seperti Buya Hamka dan Pramodya,? mampu menghasilkan karya-karya besar di balik jeruji penjara. Begitu juga KH. MA. Sahal Mahfudh yang mampu menghasilkan karya yang menjadi karya internasional yang wajib dipelajari di Universitas Al-Ahqaf,” jelasnya.

Ia menganjurkan untuk penulis pemula agar menulis diary setiap hari. Misalnya setelah shubuh, waktu istirahat sekolah, dan lain-lain. Menulis ini? harus menjadi kebiasaan harian, sehingga lama-lama akan menjadi dokumen yang sangat berharga. Kebiasaan ini akan memperlancar kemampuan menulis. Menulis seperti mengalir deras tanpa ada ujungnya, karena ide-ide besar terus bermunculan tanpa henti.

Dalam rangka meningkatkan tradisi jurnalistik ini, MA NU Luthful Ulum selalu menerbitkan buku setiap tahunnya, seperti Mengibarkan Prestasi tahun 2014 dan Sayap-Sayap Rindu & Setitik Embun di Ujung Subuh tahun 2015.

Dalam tahun 2016 ini, madrasah berbasis pesantren ini mengadakan lomba cerpen internal untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswi di bidang jurnalistik. Dengan menciptakan iklim kompetisi yang ilmiah, siswa-siswi akan mengeluarkan kemampuan terbaik untuk mengasah kemampuannya terus menerus untuk menggapai cita-cita yang tinggi.

Nur Alimah, selaku Waka Kesiswaan MA NU Luthful Ulum menjelaskan, kegiatan ilmiah, seperti bedah buku dan seminar remaja terus diadakan MA NU Luthful Ulum supaya siswa-siswi termotivasi mengejar cita-cita yang tinggi dengan usaha maksimal. (Jamal Mamur/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Humor Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Banyuwangi,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada takmir masjid dan pengurus mushalla. Isin surat itu meminta pengeras suara digunakan tadarus dimatikan mulai pukul 22.00.

“Kita semua mencintai tadarrus dan semua ingin mengagungkan bulan puasa, tapi alangkah bijaknya kalau kita tadarrus tidak menggunakan pengeras suara setelah pukul 22.00. Sebab, di jam itu umat Islam mulai istirahat setelah seharian puasa,”? ujar Ketua II MUI Banyuwangi, Nur Chozin di kediamannya, Selasa (1/7).

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00 (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Banyuwangi Imbau Pengeras Suara Dimatikan Pukul 22.00

Ia menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan warga yang menggelar tadarrus hingga dini hari, tidak gampang. Sebab, mereka beralasan ingin mencari pahala dan mengagungkan malam Ramadhan, sehingga mereka cukup sensitif terhadap segala bentuk? larangan dalam tadarrus. “Bisa-bisa mereka menuding kita macam-macam. Padahal, yang kita larang cuma pengeras suaranya, bukan tadarrusnya,” tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain soal tadarrus, surat edaran MUI itu juga mengimbau semua rumah makan dan restoran yang beroperasi di siang hari memasang penutup selama Ramadhan. Itu untuk menghormati orang yang tengah berpuasa.

Ia menambahkan, sedangkan tempat hiburan malam diimbau untuk menghentikan aktivitasnya selama bulan suci Ramadhan. “Semua itu demi kebaikan kita semua dan menjaga kesucian bulan Ramadhan itu sendiri,” jelasnya. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso menggelar tasyakuran kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 Tahun dengan mengadakan Pelatihan Ekonomi Kreatif.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan para mahasiswa Universitas Jember yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balai Desa Pejaten, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (19/8). Pada kesempatan itu diselipkan pelantikan Pengurus Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk desa Pejaten.

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso Mustakim mengatakan bahwa pelatihan ekonomi kreatif ini semata-mata ingin berupaya memberikan hal yang menjadi urusan keseharian anggota, yaitu bidang prekonomian.

Ia berjanji kepada para perserta pelatihan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan terus diadakan untuk meningkatkan ekonomi di desa itu.

Senada dengan Mustakim, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan, kegiatan semacam itu juga akan ditingkatkan Pimpinan Cabang dengan memfasilitasinya. Untuk tujuan itu, PC CP Ansor akan bersinergi dengan pemerintah melalui dinas terkait, baik dari Dinas Ketenagakerjaan maupun Diskoperindag.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Inssyaallah akhir bulan ini atau bulan depan Gerakan Pemuda Ansor akan melaksanakan palatihan ternak unggas yang akan dilaksanakan di balai latihan kerja kabupaten Bondowoso," terangnya.

Kegiatan semacam itu, menurut dia, adalah upaya Gerakan Pemuda Ansor berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.?

Edi Susanto yang mewakili Kepala Dinas Diskoperindag meminta GP Ansor untuk terus meningkatkan ekonomi anggota dan masyarakat secara umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami dari Diskoperindag selalu mendukung kegiatan-kegiatan Pemuda Ansor yang sesuai dengan tupoksi-tupoksi bagi kita," jelasnya pada kegiatan yang dihadiri Polsek Kota, Kades Pejaten, dan MWCNU Kota itu. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... kabar duka bagi warga NU karena salah seorang panutannya, KH Abdul Basith wafat di Dubai, Uni Emirat Arab pada Rabu (15/3) sekitar pukul 11.30 waktu setempat.

Ia adalah Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug, dan Ketua Majelis Silaturahim Pondok Pesantren dan Majelis Talim Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Menurut Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi Daden Sukendar, Ajengan Basith sedang menjalankan ibadah umrah bersama Bupati Kabupaten Sukabumi H. Marwan Hamami dan 18 orang lain. Sebelum ke Arab Saudi, rombongan berziarah ke Yordania. Kemudian transit di Dubai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketika di Dubai tersebut, lanjut dia, yang mendapat informasi dari salah seorang rombongan, Ajengan Basith meninggal karena serangan jantung. Ia sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit, tapi jiwanya tidak tertolong. (Abdullah Alawi)

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Baca juga:? Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat ini, semangat umat Muslim di Indonesia untuk ? menjalankan ibadah umrah semakin tinggi. Untuk mendukung semangat tersebut, PT AL ANSHAR ASBIHU TAMA SEJAHTERA atau ASBIHU Tour and Travel, menyediakan minimal empat kelompok keberangkatan setiap bulannya.?

Seperti pada Kamis (2/3) lalu, operator Asosisi Bimbingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) tersebut memberangkatkan 40 jamaah umrah asal Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Sebelum mengikuti penerbangan ke tanah suci, keempatpuluh jamaah melakukan silaturahim ke Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Mereka berkesempatan mendengarkan tausiyah pembekalan dari Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi.?

Kiai Mujib mengatakan ibadah haji atau umrah merupakan panggilan dari Allah yang tidak semua orang dapat dengan mudah melaksanakannya. Orang yang dapat mengerjakan ibadah umrah adalah orang-orang pilihan.

“Ada orang yang mampu ekonominya, atau lebih pandai dan lebih banyak ilmu agamanya, tetapi tidak kunjung berangkat umrah. Bapak dan Ibu mungkin ilmu dan hartanya pas-pasan. Tetapi karena dipilih Allah, dapat melaksanakan ibadah umrah,” ujar Kiai Mujib.

Oleh karenanya, lanjut Kiai Mujib, ibadah umrah harus sungguh-sungguh diniatkan karena Allah. Salah satu implementasinya yakni dengan mengikuti peraturan, diantaranya jangan berbicara yang tidak perlu seperti berdebat, mengeluh atau bicara kotor; berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebaliknya jamaah harus memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Karena nilai pahala dari ibadah selama di Madinah dan Makkah akan dilipatgandakan oleh Allah Swt.

Kiai Mujib juga menyebutkan tanda-tanda umrah yang diterima Allah, adalah orang yang telah berumrah masuk surga ketika meninggal dunia. Bagi jamaah yang masih hidup di dunia, sepulang umrah atau haji, akan menjadi orang yang senang memberikan kedamain kepada orang lain; dan suka membantu orang lain yang memerlukan. (Kendi Setiawan/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur,? Jumat (2/5) pagi, mendadak dihebohkan oleh kedatangan puluhan polisi, pramugari, sinden, guru, pilot, dokter, suster. Ada pula puluhan atlet, mulai dari jago silat hingga pemain sepakbola.

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi

“Saya kaget, kok di MINU banyak polisi, perawat, polwan. Mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng pula,” kata Sri Wahyuni, salah satu walisiswa taman kanak-kanak yang pagi itu mengantarkan putranya bersekolah.

Ternyata yang berpakaian aneka macam profesi tersebut adalah siswa-siswi MINU Walisongo yang merepresentasikan masa depan mereka. Dalam rangka hari pendidikan nasional (Hardiknas) 2014 seluruh siswa-siswi MINU Walisongo memang disarankan mengenakan busana cita-cita mereka ketika kelak dewasa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka tidak heran suasana pagi di lembaga yang satu atap dengan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo tersebut riuh oleh suara anak-anak yang akan berpawai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya senang sekali memakai busana tentara ini, jadi gagah seperti ayah,” kelakar Rafli siswa kelas 1 Unggulan (kelas Bonang).

Semua berebut mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan madrasah yang berlokasi di Desa Sumuragung tersebut. Banyak juga pengguna jalan serta bapak-ibu walisiswa menyempatkan diri untuk sekedar bersalaman atau foto bersama para bocah mungil itu.

Selain upacara bendera dan “narsisme” busana, peringatan Hardiknas di MINU Walisongo juga diisi dengan lomba merangkai puisi kepada dewan guru. Kegiatan dilanjutkan dengan pawai ta’aruf. Hal ini diadakan guna mengingatkan masyarakat akan pentingnya peran serta pendidikan bagi generasi mendatang.

“Kami masih banyak menemui anak usia sekolah namun sudah bekerja. Semoga orang-orang yang memperkerjakannya dengan menyaksikan pawai pendidikan kami ini tergugah, bahwa masa depan anak-anak itu jauh lebih penting daripada laba yang mereka dapat,” pinta Mariyanto, kepala madrasah di bawah naulang LP Ma’arif NU Bojonegoro ini yang juga anggota PPK Sumberrejo tersebut. (Satria Amilina/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Sejarah, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba

Bulukumba, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang melantik Pengurus Muslimat NU Kabupaten Bulukumba masa khidmah 2016-2021 yang diketuai oleh Hj Kustigawati di Aula Kemenag Bulukumba, Sabtu (19/1). Kegiatan ini dirangkai dengan deklarasi laskar antinarkoba yang diikuti seluruh kader Muslimat NU, kader IPNU Takalar, kader IPPNU, dan badan otonom NU lainnya.

Ketua PCNU Bulukumba Tjamiruddin mengucapkan selamat kepada pengurus Muslimat NU Bulukumba.

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik Muslimat NU Bulukumba, Majdah Serukan Bahaya Narkoba

"Kami juga mengingatkan pengurus Muslimat NU untuk senantiasa menyebarkan nilai-nilai Islam Ahusunnah wal Jamaah Annahdliah dan tetap menjadi partner pemerintah dalam melaksanakan program-program pemerintah,” kata Tjamiruddin.

Kepala Kemenag Bulukumba Muh Rasbi mengapresiasi program-program Muslimat NU khususnya dalam rangka memerangi narkoba.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ke depan kami harap Muslimat NU tetap bersinergi dengan Kemenag Bulukumba dan bersama-sama menyebarkan nilai-nilai Islam Rahmatan lil Alamin," tambahnya.

Ketua Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Numang mengatakan, "Kita harus bersatu memerangi narkoba karena saat ini narkoba merupakan salah satu sarana untuk menghancurkan sebuah bangsa dan negara, tidak lagi melalui senjata, tetapi menghancurkan generasinya."

Tampak hadir Ketua MUI Bulukumba, Dandim Bulukumba, Polres Bulukumba, Ketua DPRD Bulukumba, Para Kepala KUA sekabupaten Bulukumba, pengurus pimpinan anak cabang/ranting, dan ketua badan otonom NU Bulukumba. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Yenny Wahid Apresiasi Film Tokoh Pesantren

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kendati belum menonton film Sang Kiai, Putri Gus Dur Yenny Wahid tetap mengapresiasi film yang mengisahkan tokoh kiai maupun kehidupan pesantren. 

Yenny Wahid Apresiasi Film Tokoh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Apresiasi Film Tokoh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Apresiasi Film Tokoh Pesantren

Menurutnya, film demikian mampu meyakinkan publik bahwa kehadiran kiai pesantren sangat berguna bagi masyarakat.

“Saya belum bisa komentar tentang film Sang Kiai, karena saya baru pulang dari Amerika. Yang jelas film tokoh pesantren sangat berguna untuk publik,” katanya pendek kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal usai berceramah dalam acara Muwaddaah MA/SMKNU Hasyim Asy’ari 2 karangmalang Kudus, Selasa (21/5) kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam ceramah sebelumnya, Yenny wahid menceritakan kegiatannya di Amerika. Disana,  dirinya mengadakan tatap muka dengan masyarakat setempat untuk mensyiarkan agama Islam.

Dikatakan, masyarakat internasional memandang Islam sebagai agama yang mengedepankan terorisme karena terdapat aksi bom di sejumlah tempat. Kepada masyarakat Amerika, Yenny menunjukkan bahwa masyarakat Islam itu cinta damai dan tidak suka kekerasan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya tegaskan ummat Islam ingin hidup damai dengan semua penduduk dunia. Alhamdulillah mereka menerima dengan baik,” tutur Yenny Wahid di depan siswa dan wali murid Madrasah Hasyim Asy’ari 2 Kudus.

Kepada siswa yang usai tamat studinya, Yenny berharap memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak patah semangat menghadapi tantangan ke depan.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sejarah Ilmu Nahwu

Oleh Syafiq Hasyim

Sejarahwan dan sosiolog Muslim, Ibn Khaldun pernah berkata, “Dengan ilmu nahwu dasar-dasar syariah menjadi tampak jelas. Diketahuilah beda antara f?il dari maf?l dan mubtada? dari khabarnya. Jika nahwu itu tidak ada maka maka gelaplah maksud syariah.”

Minggu lalu saya ungkapkan tentang urgensi penguasaan ilmu Nahwu untuk meningkatkan kualitas diskursus keberagamaan Islam kita di ruang publik. Kali ini saya akan mulai berbicara tentang ilmu itu sendiri, yaitu dimulai dengan pembahasan atas pertanyaan, “Kapan sesungguhnya ilmu nahwu ini bermula dan bagaimana hubungannya dengan tradisi awal Islam?”

Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ilmu Nahwu

Sejarah awal ilmu nahwu dapat dilacak melalui istilah Arab al-la?n, kebiasaan orang Arab berbicara salah secara tata bahasa (grammatical). Lalu pertanyaannya, mungkinkah seorang penutur bahasa asli (native) melakukan kesalahan tata bahasa atas bahasanya sendiri? Sangat mungkin dan itu terjadi sejak zaman dulu. Ab? ?ayyib pernah mensinyalir jika kesalahan gramatik biasa terjadi pada orang Arab pedalaman, kalangan pekerja kelas bawah (budak sahaya) dan orang yang terarabkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sahabat Abu Bakar pernah berkata jika dia lebih senang mendengar orang membaca meskipun salah daripada orang yang melakukan kesalahan gramatikal. Tidak hanya Abu Bakar, sahabat Umar bin Kha?b juga sering menjumpai orang-orang di sekitar dia yang berbahasa Arab dengan tata bahasa yang salah dan terkadang membuatnya marah. Misalnya, Umar suatu saat pernah berkata, “Sungguh demi Allah, kesalahan kalian dalam berbahasa lebih berbahaya bagiku daripada kesalahn kalian dalam memanah, Wall?hi lakha?a’ukum fi lis?nikum ashaddu ?alayya min kha?a?ikum fi ramyikum.” Ibn Qutaybah pernah mendengar orang pedalaman Arab azan dimana dia membaca nasab (fathah) pada lafal “ras?la,”dari kalimat komplit, “ashhadu anna muhammadar ras?lall?h.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal di atas adalah sekadar contoh dari sekian banyak riwayat-riwayat lain yang menceritakan mengapa tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) itu sudah menjadi perhatian sejak zaman Rasulullah masih hidup. Dunia Arab sebelum al-Qur’an turun sudah mencapai kemajuannya dalam bidang sastra. Karenanya, al-la?n di sini tidak identik dengan kemajuan sastrawi itu, tapi dengan keharusan berbahasa Arab secara benar, berdasarkan hukum-hukum dasar bahasa yang disepakati. Para sahabat Nabi merasa prihatin dengan al-la?n ini karena dampaknya bisa merusak ajaran Islam.

***

Dengan demikian, ilmu nahwu berdasarkan riwayat-riwayat yang diungkapkan di atas gejalanya sudah muncul pada masa awal-awal sejarah Islam. Iraq adalah kawasan dimana ilmu nahwu mulai menemukan identitasnya yang agak jelas. Dari Iraq kemudian berkembang ke kawasan lain sesuai dengan perkembangan Islam sebagai agama baru pada saat itu.

Lalu bagaimana kongkritnya tema-tema nahwu itu disusun?

Pendapat tentang hal ini di kalangan sejarahwan Nahwu terbelah ke dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang berpandangan jika tema-tema nahwu itu dibentuk dari peristiwa-peristiwa kesalahan gramatika masyarakat Arab sendiri. Dari peristiwa-peristiwa al-la?n ini kemudian berkembang pada tema-tema bahasan lain. Pendapat demikian adalah yang dipegang oleh kalangan mayoritas ulama nahwu.

Kedua, mereka yang berpandangan jika tema-tema awal nahwu itu dibangun atas dasar pemikiran (istinb?t), bukan atas dasar kesalahan gramatik yang terjadi di lapangan. Bahan dasarnya adalah prinsip-prinsip umum berbahasa untuk menolak terjadinya kesalahan gramatik di kalangan masyarakat Arab saat itu. Meskipun golongan kedua ini agak siantifik, namun tidak kuat riwayatnya.

Berdasarkan dua hal ini maka sejarah pembentukan ilmu Nahwu berasal dari kawasan Arab. Hal ini sekaligus juga untuk membantah beberapa pendapat para pemikir Eropa yang menyatakan jika ilmu nahwu terbentuk setelah ada persentuhan dengan tradisi Syiriac (Suryani) dan Yunani. Para pemikir Eropa berpendapat demikian karena Iraq adalah dimana Islam bertemu dengan peradaban lain.

Namun demikian, adakah mungkin sebuah ilmu muncul tanpa keterpengaruhan atau proses interaksi dengan tradisi lain?

Di sinilah kemudian muncul pendapat tengah yang menyatakan jika benar sejarah nahwu mulai dari Iraq, murni dari kalangan Islam, namun kemudian berdealektika dengan tradisi lain. Disusun di Iraq, lalu dikembangkan definisi-definisi, lalu bersentuhan dengan budaya bahasa negara lain. Ketika pada masa orang-orang Islam belum mengenai tradisi lain di luar Islam, maka yang muncul dalam ilmu Nahwu awal adalah sangat murni Arab.

Namun keadaan mulai menjadi lain ketika para filosof Islam belajar filsafat Yunani melalui karya-karya terjemahan dalam bahasa Suryani. Perlu diketahui bahwa terjemahan filsafat Yunani dalam bahasa Suryani sangat melimpah di Iraq pada masa itu dan bahasa inilah yang menjembatani para filosof Islam belajar tentang Yunani.

Lalu siapa peletak dasarnya?

Masalah ini menjadi bahasan yang panjang lebar di kalangan para sejarahwan Nahwu seperti Ibn ?al?m dalam ?abaq?t al-shu?ara’, Ibn Qutaybah dalam al-Ma?rif, al-Zuj?j? dalam al-Am?l?, Ab? ?ayyib al-Lughaw? dalam Mar?tib al-na?wiyyin, al-Sayraf? dalam al-Akhb?r al-na?wiyyin al-ba?riyyin, al-Zabid? dalam al-?abaq?t, Ibn Nad?m dalam al-Fahrasat, al-Anb?r? dalam Nuzhat al-alb? dan al-Qaf? dalam Inb? al-ruwwa.

Mereka semua berpendapat jika peletak dasar pertama ilmu ini adalah Imam Ali karamma l-l?hu wajhahu dan Ab? al-Aswad ad-Du’al?. Peneguhan Imam Ali sebagai pelatak dasar ilmu Nahwu justru berasal dari riwayat Ab? Aswad al-Du’al? dimana menurutnya Imam Ali memberikan kata kunci pertama tentang ilmu Nahwu misalnya yang terakit dengan riwayat Imam Ali yang menyatakan jika kalam itu ada tiga isim, fi?il dan huruf. Ad-Dua’l? juga bercerita bahwa Sayyidina Ali lah yang membagi kata benda (nama) menjadi tiga; kata benda lahir (?hir), kata benda tidak lahir (?mir) dan kata benda yang bukan keduanya. Selain Ali, ada juga yang berpandangan jika ilmu Nahwu ditemukan oleh ?Abdur  Ra?m?n b. Hurmuz al-A?raj dan Na?r b. ?im.

Namun menurut mayoritas sejarahwan pendapat ini dipandang lemah. Sejarah yang benar adalah setelah Imam Ali, Nahwi dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Du’al?. Al-Anb?r? dan az-Zuj?z? meneguhkan ad-Du?ali sebagai pelatak dasar ilmu ini setelah Imam Ali karena dialah yang mentransmisikan hal ini dari Imam Ali. Sudah menjadi kesepakatan di kalangan ulama Nahwu jika ad-Du’al? lah yang pertama memberikan harakat pada mushaf al-Qur’an. Kebenaran ini hampir tidak bisa kita pungkiri sebab hampir semua generasi salaf dan juga khalaf tidak mempermasalahkannya.

Namun demikian, ilmu baru diberikan dengan nama sebagai ilmu Nahwu justru sepeninggal ad-Du’al?. Pada masa dia, nama ilmu Nahwu adalah al-?Arabiyya. Ibn ?ajar dalam kitabnya al-I?bah menyatakan, “awwalu man ?aba?a al-mu?haf wa wa?a?a al-?arabiyyata Ab? al-Aswad,” pertama kali orang yang memberi harakat pada mushaf dan yang meletakkan al-?arabiyya adalah Ab? al-Aswad. Setelah adl-Du’al? mangkat, maka nama untuk al-?arabiyyata digantikan dengan Nahwu. Namun demikian, istilah Nahwu diambil dari pernyataan Ab? al-Aswad di depan Imam Ali.

***

Jika kita bicara ilmu Nahwu, maka sama saja kita membicarakan suatu aliran pemikiran yang sangat penting dalam ini ini yaitu madzhab Ba?rah. Berbicara tentang madzhab Ba?rah sama dengan berbicara tentang upaya pengharakatan al-Qur’an untuk yang pertama kalinya. Ilmu Nahwu yang sekarang ini banyak dipelajari dan dibaca di seluruh dunia termasuk pesantren-pesantren di Indonesia adalah lahir dan berkembang di Ba?rah. Para ahli sepakat bahwa kemunculan cabang ilmu ini adalah untuk melindungi al-Qur’an dari cara pembacaan yang salah. Ingat bahwa al-Qur’an pada awal-awal bukan seperti al-Qur’an yang kita nikmati sekarang, ada harakatnya lengkap. Al-Qur’an pada masa itu adalah gundul, tak bertanda baca.

Bagi para t?bi?n (secara bahasa pengikut sahabat) dan t?bi?it t?bi?n (secara bahasa berarti pengikutnya tabi?n) yang sudah ?mil al-Qur’?n (hafal al-Qur’an) tiadanya tanda baca dalam al-Qur’an tidak masalah, namun bagi mereka yang tidak hafal, maka tanda baca sangat diperlukan di sini. Ab? As?ad adl-Dual? adalah pembangun awal ilmu yang disebut nahwu ini. Ad-Du?al? mengambil inspirasi dari Sayyida Ali (r.a). Ad-Du?al? berkata, “Jika engkau benar-benar telah melihat mulutkan membaca fathah, maka kasihlah tanda baca fat?ah di atasnya, jika mulutku sudah membaca ?ammah, maka kasihlah tanda baca ?ammah di atasnya, jika mulutku membaca kasrah, maka kasihlah tanda baca kasrah di bawahnya (Dikutip dari Ibn al-Na?m, al-Fahrasat, h. 59).

Dalam perkembangannya, menurut Prof. Abduh al-Rajihi dalam kitabnya, Dur?s f?l-Madh?hib al-Nahwiyyah, dikatakan bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh ad-Du’al? tidak hanya berguna untuk menjaga al-Qur’an dari “kesalahan gramatik” dari para pembaca dan penghafalnya, namun memiliki implikasi yang lebih jauh, yakni untuk mencapai prinsip-prinsip Islam yang paling mendalam (h. 10). Jika halnya yang demikian, mari kita mengingat kembali ilmu ini dan menggunakannya untuk membaca Islam –al-Qur’an, Sunnah dan turast. Sebagaimana yang disebutkan tentang peran Abu al-Awad ad-Du’al?; dimana ilmu Nahwu sudah berkembang tidak hanya menjaga kebenaran cara membaca al-Qur’an, kemudian ilmu ini tumbuh untuk memahami al-Qur’an. Bersambung...

 

Bahasan ilmu nahwu ini merupakan bagian kedua. Bagian pertama bisa dilihat di sini. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Khalifah Umar Memandikan Unta dan Masuk Islamnya Penasihat Kaisar Byzantium

Maulana Jalaluddin Rumi dalam masterpricenya, al-Matsnawi, mengisahkan, bahwa pada suatu ketika seorang penasihat kekaisaran Byzantium dari Constantinople datang untuk menghadap khalifah Umar di Madinah.?

Penasihat itu adalah seorang filsuf, cendikiawan, dan negarawan terkemuka. Setelah memasuki Madinah, utusan dari Byzantium itu merasa heran karena tidak melihat adanya istana kekhalifahan. Ia lalu bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah.

Khalifah Umar Memandikan Unta dan Masuk Islamnya Penasihat Kaisar Byzantium (Sumber Gambar : Nu Online)
Khalifah Umar Memandikan Unta dan Masuk Islamnya Penasihat Kaisar Byzantium (Sumber Gambar : Nu Online)

Khalifah Umar Memandikan Unta dan Masuk Islamnya Penasihat Kaisar Byzantium

“Dimanakah istana raja kalian?”tanya sang utusan. Orang yang ditanya oleh ksatria Byzantium itu hanya tersenyum, dan dijawabnya: “Raja kami tidak memiliki istana megah, karena istana termegahnya adalah hati dan ruhnya sendiri yang senantiasa diterangi oleh cahaya takwa.”

Utusan kekaisaran Byzantium itu merasa heran. Ia lalu kembali bertanya. “Lalu dimanakah raja kalian yang namanya kini tersohor itu, penakluk dua benua, penakluk dua imperium, Persia dan Byzantium itu?” tanya sang utusan.

“Tidakkah tadi engkau sadar, di bawah pohon kurma yang baru saja kau lewati itu, seorang lelaki tengah memandikan dan memberikan makan kepada seekor unta?” kata seorang penduduk Madinah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Mengapa memang?” tanya sang utusan semakin penasaran.

“Itulah sang khalifah dambaan kami, Umar ibn Khaththab. Ia tengah memberi makan dan memandikan unta milik baitul mal, milik anak-anak yatim dan para janda.”

Utusan itu kemudian tergetar. Ia benar-benar telah melihat sesosok raja besar yang sangat bersahaja.?

“Beritahu aku lebih jauh lagi perihal orang mulia itu,” kata sang utusan Romawi.

“Bersihkanlah dahulu hatimu dari kotoran-kotoran duniawi, terangi ia dengan cahaya lentera ketaatan, barulah kau bisa mengenalnya dengan baik, dan akan melihat kemegahan istana sang khalifah kami yang berupa ketakwaan, dan kau pun bisa memasuki istana itu bersamanya,”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Utusan itu kemudian mendekati Umar, dan bertanya mengapa ia melakukan pekerjaan kotor ini, memandikan unta dan memberinya makan. Tidakkah hal tersebut bisa dilakukan oleh bawahannya?

Umar berkata: “Ini adalah tanggung jawabku, tuan. Unta ini adalah milik anak-anak yatim dan para janda, milik rakyatku yang sepenuhnya menjadi tanggungan dan tanggung jawabku. Aku takut jika kelak Allah akan menanyakan kepadaku sejauh mana aku memimpin rakyat-rakyatku, apakah mereka menderita dan merasa diterlantarkan dan tak diurus olehku ...”

Sang utusan pun kian terguncang. Ia melihat sosok negarawan ideal yang selama ini digambarkan dalam kitab Republik Plato itu benar-benar ada di hadapannya.? Tak lama kemudian, sang utusan Byzantium itu pun bersyahadat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan Umar. (Fathoni)

Diolah dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berbarengan dengan kegiatan Perkemahan Maarif Cabang III Kabupaten Pringsewu, Pimpinan Satuan Komunitas (Pinsako) Pramuka Maarif NU Provinsi Lampung dilantik oleh Kepala Kwartir Daerah (Kakwarda) Lampung Idrus Effendi.

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019

Pelantikan tersebut dilaksanakan di halaman Kantor PCNU Pringsewu dan dihadiri oleh Ketua Sako Pramuka Ma’arif Pusat Arifin Junaidi.

Dalam sambutannya, Kakwarda mengharapkan agar Sako Ma’arif NU Lampung dapat ambil bagian dan aktif dalam kegiatan kepramukaan yang diselenggarakan di Provinsi Lampung.

"Pinsako Ma’arif NU adalah Sako ketiga yang dilantik setelah Sako Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang dibina oleh Jaringan SIT serta Sako Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SPN) yang dibina oleh LDII," jelasnya, Jumat (20/10).

Sementara itu Ketua Sako Ma’arif Pusat H. Arifin Junaidi menilai Sako Pramuka Ma’arif Lampung merupakan pramuka yang aktif dan konsisten dalam berkiprah membina para generasi muda melalui kepramukaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keaktifan inilah yang menjadikan Lampung ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) III yang akan dilaksanakan pada 2019.

Perwimanas II berlangsung September kemarin di Magelang dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Sebanyak 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan perkemahan tingkat nasional itu. Peserta tersebut terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Maarif NU dari seluruh Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sako Ma’arif NU Lampung saat ini diketuai? Dr. M. Afif Ansori dan didampingi oleh para pengurus Pramuka yang berasal dari kader-kader NU di Provinsi Lampung.

Hadir juga dalam pelantikan tersebut Ketua PWNU Lampung KH. Sholeh Bajuri, Bupati Pringsewu KH. Sujadi dan Pengurus Kwarcab Pringsewu. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Kyai, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

Subang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap bulan Agustus masyarakat Indonesia biasanya merayakan peringatan kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan. Di antara kegiatan tersebut adalah aneka perlombaan yang diperuntukan bagi anak-anak hingga masyarakat dewasa.

Mengenai kegiatan perlombaan ini, Ketua PCNU Subang meminta kepada masyarakat yang akan mengadakan kegiatan lomba pada peringatan hari kemerdekaan agar diisi dengan perlombaan yang memiliki nilai-nilai positif dan edukatif serta tetap menjaga akhlakul karimah.

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

"Di grup WA sudah beredar video lomba yang tidak senonoh antara laki-laki dan perempuan, video tersebut dikhawatirkan dijadikan sebagai inspirasi dalam membuat perlombaan pada Agustusan besok," ungkap KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang, Jawa Barat dalam rapat reboan di Kantor PCNU, Rabu (9/8).

Dikatakannya, sudah beredar video lomba tidak senonoh yang diikuti oleh beberapa perempuan yakni perlombaan memakan pisang di bagian tubuh lelaki, sebalikna ada video yang mempertunjukan perlombaan yang diikuti oleh para lelaki berupa lomba memecahkan balon yang ditempelkan di belakang tubuh perempuan.

"Perlombaan tersebut tidak layak dilombakan karena hanya mengundang tawa para penonton saja dan bisa merusak tatanan akhlakul karimah apalagi jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur, ini sudah masuk pornoaksi," papar pengasuh Pesantren Attawazun itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengingatkan agar dalam kegiatan peringatan kemerdekaan jangan sampai melupakan jasa para pahlawan bangsa yang telah berkorban harta, jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

"Jangan sampai lupa untuk mendoakan para pahlawan dan kita sebagai generasi penerus bangsa sebisa mungkin terus berjuang mengharumkan nama Indonesia serta melawan paham yang ingin menghancurkan NKRI ini," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Humor Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14

Majalengka,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais ‘Aam Idarah ‘Aaliyah Jamiyyah Ahlith Thoriqoh NU An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, pada Muktamar di Malang, menintruksikan memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat.

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14 (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14 (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman Syu’biyah Majalengka Gelar Safari Manaqib Ke-14

Untuk melaksakan intruksi itu, Pengurus Idarah Syu’biyyah Majalengka menggelar Rangkaian Safari Manaqib Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah di tiap kecamatan. Kegiatan tersebut digelar Selasa malam terakhir bulan kedua.

Safari manaqib ke-14 digelar di PondokPesantren Asasul Huda, Ranji Wetan, kecamatan Kasokandel, Selasa malam (21/10). Kegiatan tersebut disertakan dengan menyambut tahun baru 1436 Hijriyah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, Shalawat Thariqah, hadharah, taushiyah, dan di akhir dengan pembacaan manaqib dan istightsah serta doa.

Hadlarah dan taushiah dipimpin dan disampaikan DR. KH. Ahmad Syarkosi Subki. Ia adalah Pengasuh Pesantren Mansya’ul Huda sekaligus Rois Jatman Idarh Wustho Jawa Barat dan anggota Majelis Ifta Jatman Idarah ‘Aaliyah. Sedangkan manaqib dan istighotsah dipimpin oleh Mudir Al-Mukarom KH Abdul Rosyid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam taushiahnya, Kiai Sarkosi menjelaskan akan pentingnya berthariqah, khususnya bagi nahdliyyin dan umat Islam pada umumnya.

Karena berthariqah, menurutnya, adalah mengamalkan ilmu, wirid, shalawat, dan zikir sesuai dengan tuntunan dan tata cara yang diajakarkan oleh Rasululullah Saw, para sahabat, tabi’in, dan para ulama dengan sanad dan ijazah yang jelas.

Ia menjelaskan, orang yang berthariqah tidak bisa sembarangan mengamalakan ilmunya, wirid dan sebagainya tanpa ada tuntunan dan bimbingan dari seorang guru atau mursyid.

Acara yang dimulai jam 20.00 wib dan berakhir jam 23.30 ini diikuti selain diikuti jamaah juga dihadiri para ulama, Pengurus Idarah Syu’biyah Jatman Majalengka, PCNU, Banom, dan Muspida Majalengka serta Muspika kecamatan Kasokandel.

Dalam acara tersebut juga dilangsungkan pelantikan dan baiat Pengurus Ghusniah (Pengurus Kecamatan) Jatman kecamatan Kasokandel. (Atep ZM/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap pekan sejumlah pelajar NU meninggalkan kampusnya di Surabaya untuk menuju Jombang. Mereka di akhir pekan mengajar baca-tulis warga di sekitar utara Brantas, Jombang. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat itu untuk mengentaskan buta huruf yang diidap banyak warga setempat.

Ketua IPNU Ngusikan Jombang Hendra Setiawan salah satu dari relawan itu. Sudah 3 bulan lebih Hendra yang tengah kuliah jurusan PLS Unesa Surabaya ini, menjalani aktivitas tersebut.. Hal itu dilakukan untuk mengajar ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok buta aksara di dusun Munggut desa Ngusikan, Jombang.

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

"Kalau ngajar ibu-ibu setiap Selasa malam dan Jumat malam. Tetapi saya senang meski harus tiap minggu pulang dua hari," ujar Hendra.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Hendra, kader IPNU yang berstatus mahasiswa seperti Miftahul Ulum, Yusuf, dan Roziq juga tercatat sebagai tutor bagi 60 warga Cupak, Ngusikan, yang ikut pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

"Ada 6 kelompok di Cupak. 3 kelompok di dusun Munggut dan 3 kelompok di dusun Cupak. Setiap kelompok 10 orang. Mereka rata-rata berusia antara 40 hingga 60 tahun," imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia bersama kader-kader NU bertekad untuk membantu pemberantasan buta aksara. Untuk program KF, pembelajaran yang diajarkan mencakup pengenalan huruf, membaca, menulis hingga berhitung. Proses belajar dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini KF sudah rampung. Kini menginjak Keaksaraan Usaha Mandiri, membuat kerajinan sandal dan tikar dari pandan dan membuat kue," ujar Dahril Kamal (Gus Ariel) yang pernah menjadi Katib Syuriyah MWCNU Ngusikan.

Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), kata Gus Ariel, memanfaatkan potensi alam daerah yang berada di tengah hutan Ngusikan. Karena, desa Cupak berada di tengah hutan yang ditempuh dengan jalan terjal dan berliku, sekitar 11 km dari kecamatan Ngusikan. Banyak pepohonan pandan di samping jati.

"Untuk bahan kerajinan, warga tidak beli. Mereka kini menunggu peran pemerintah untuk ikut memasarkan hasil kerajinan warga peserta KUM," imbuhnya.

Sementara salah satu peserta KF Genah (67) ini rela menempuh jarak 6 km dari rumahnya bersama belasan perempuan untuk belajar bersama. Nenek asal dusun Munggut yang telah memiliki 7 cucu ini menumpak kendaraan terbuka. Genah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 sekolah dasar (dulu SR), masih bersemangat meski terlihat malu-malu.

"Dulu hanya sampai kelas 1, karena gurunya meninggal dunia, dan sekolahnya bubar," ujarnya dengan bahasa Jawa saat menjawab pertanyaan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab yang menjadi guru tamu dadakan. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock