Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi menyesalkan kecerobohan Malaysia pada SEA Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu (19/8). Pasalnya, gambar bendera Indonesia terpampang dengan kondisi terbalik pada buku panduan pelaksanaan pesta olahraga negara-negara di Asia Tenggara itu.?

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

“Pembukaan #SEAgame2017 yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita....Merah Putih. Astaghfirullaah...,” ungkap Imam Nahrawi melalui akun Twitter pribadinya.

Pada twitt tersebut, menteri asal Madura, Jawa Timur itu juga menunjukkan gambar bendera Indonesia yang menjadi putih merah. Kesalah yang terletak di halaman 80 tersebut, hanya bendera Indonesia yang mengalaminya.?

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Khairy Jamaluddin, sebagaimana dilaporkan Okezone.com mengemukakan permintaan maaf atas kejadian memalukan pada pembukaan SEA Games itu.?

“Bapak Imam, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sesungguhnya tak ada niat jahat (terbaliknya bendera). Saya merasa kesal dengan kesalahan ini, mohon maaf,” tulis Khairy dalam akun Twitter miliknya, Sabtu (19/8). (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

Saling membantu sesama makhluk Allah sangat lazim dalam kehidupan di dunia ini. Pasalnya keberuntungan dan nasib orang berbeda-beda. Di sinilah letak pentingnya upaya manusia untuk saling menutupi dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Imam Al-Ghazali sendiri menulis tatakrama perihal ini. Hujjatul Islam ini menyebut sejumlah rincian yang sangat ramah terhadap mereka yang memerlukan bantuan. Dalam Al-Adab fid Din Imam Al-Ghazali menyebut akhlak seorang yang bersedekah.

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Seyogianya seorang yang ingin bersedekah mendonasikan hartanya sebelum diminta, diam-diam saat memberi, menutup-tutupi sedekahnya setelah memberi, ramah terhadap pengemis, jangan mengawali pembicaraan dengan jawaban penolakan, menolak permintaan dengan suara perlahan, mengusir godaan bakhil dari dalam hati, memberikan sesuatu sesuai permintaan atau menolaknya dengan cara yang baik. Apabila Iblis laknatullah berbisik, ‘Orang ini tidak berhak terima sedekah,’ maka jangan perhatikan nikmat yang anugerahkan pada si pengemis. Tetapi tegaskan di dalam hati bahwa orang tersebut layak menerima sedekah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejumlah rangkaian tatakrama bagi seorang yang berbagi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan ini sebenarnya dapat saja berbeda di zaman dan daerah tertentu. Hanya saja sejumlah tatakrama ini dibuat dengan tujuan agar mereka yang menerima bantuan tidak merasa terhina.

Demikian juga dengan pemberi. Semua etika ini diatur agar kedermawanan pemberi tidak kehilangan nilai di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika seseorang sudah berani maju berkompetisi menjadi pemimpin di negeri ini seyogianya ia tak menunjukkan kelemahannya dengan hanya menumpang tenar dan menjelekkan lawan. Mereka harus berani menunjukkan kehebatan diri.

Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan hal tersebut, Kamis (20/3), saat menerima kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi yang telah diumumkan sebagai calon presiden dari PDI-P.

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu menuturkan, selama dua jam berbicara bersama Jokowi, dirinya hanya berbicara seputar Indonesia dan tidak lebih dari pada itu. Pesan yang ia sampaikan juga berlaku untuk semua calon pemimpin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak ikut pemilu, tetapi warga NU yang menjadi peserta pemilu. Hakikatnya NU merupakan Organisasi kemasyarakatan yang netral. Namun demikian, tambah Gus Mus, banyak para peserta pemilu yang dianggap kurang percaya diri sehingga masih mengenakan atribut NU, guna menarik simpati masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulama yang juga merupakan sastrawan Indonesia ini menghimbau, Nahdliyin menggunakan hak suaranya dengan baik. Pasalnya, menurut Gus Mus, hak suara yang kita dapat merupakan amanah, yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ulama, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Staf Khusus kepresidenan Noer Fauzi menyebutkan, kejelasan status dan kepemilikan tanah masyarakat desa menjadi salah satu tantangan besar bagi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Marwan Jafar. Pasalnya, saat ini kepemilikan tanah di desa telah banyak beralih ke berbagai perusahaan dan masyarakat perkotaan.

"Bagaimana rakyat di pedesaan bisa maju kalau mereka tidak punya tanah. Kita tahu, bahwa satu perubahan penguasaan tanah di pedesaan telah banyak dikuasai oleh perusahaan luar dan orang kota," ungkapnya di Jakarta, Kamis (4/3).

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Fauzi mengungkapkan, data statistik pertanian tahun 2003 hingga tahun 2013 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun lebih dari 5 juta petani di desa beralih profesi. Sebagian besar di antaranya bermigrasi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Inilah sebagian mereka pergi ke kota sehingga kota menjadi penuh. Mereka ke kota, ada yang menjadi TKW, bahkan ada yang menganggur di desa. Banyak juga di antara mereka yang menjadi migrasi sekuler. Mereka ke kota untuk bekerja dan dalam waktu tertentu mereka kembali ke desa," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah mengemukan sebanyak 12,7 juta hektar hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat desa. Proses? bagaimana mendapatkan akses terhadap wilayah hutan tersebut, lanjut Fauzi, adalah sesuatu yang pasti akan menyejahterakan masyarakat desa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Begitu pula 9 juta hektar tanah negara yang akan didistribusikan ke desa. Ini bagaimana kita punya upaya memberdayakan orang yang tidak sanggup untuk memiliki tanah, dan mendapat kepastian tanah," ujarnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Aswaja, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Solo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Cara unik dilakukan oleh salah satu hotel di Kota Solo untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pihak pengelola hotel membuat miniatur masjid yang terbuat dari jajanan khas Kota Solo, intip.

Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)
Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Selain menggunakan panganan berbahan baku nasi tersebut, masjid berdimensi 2×1,5x 1 meter tersebut juga dibuat dari beberapa makanan ringan tradisional lainnya seperti

rengginang dan keripik pisang.

Executive Chef hotel tersebut, Topan Noer menjelaskan, untuk membangun miniatur masjid tersebut, menghabiskan 15 kilogram intip, 3-5 kilogram kurma, 2-3 kilogram kismis serta dark coklat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Miniatur masjid ini terinsipirasi bangunan masjid di Yordania yang terbuat dari bongkahan batu yang jika dilihat dari dekat pada dindingnya akan terlihat tekstur batu yang tidak beraturan,” terangnya, Jumat (27/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Topan memaparkan alasan penggunaan makanan tradisional untuk membuat miniatur masjid tersebut, yakni untuk melestarikan kuliner Indonesia dan juga mengenalkan panganan khas Solo.

“Apalagi, mayoritas tamu yang menginap di sini berasal dari luar kota. Karena itu, kita juga sediakan contoh makanan yang kita gunakan untuk bisa dicicip,” ungkap Topan.

(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi, Sleman, DI Yogyakarta, kembali menerbitkan jurnal ilmiah dengan mengusung tema “Pesantren, Ushul Fiqh dan Politik Hukum: Maqashid Sebagai Metode Pendekatan”.

Kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Muhammad Mustafid, selaku Pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara mengatakan empat hal yang melatarbelakangi munculnya tema tersebut dalam Jurnal Mlangi Edisi Ketiga ini, Rabu (08/01).

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Pertama, gerakan sosial yang pada akhirnya harus diukur dengan perubahan kebijakan. Karenanya, berbicara politik hukum nasional menjadi penting. Kedua, kekuatan asing saat ini, yang berkepentingan terhadap Indonesia memusatkan aktivitasnya pada rekonstruksi perundang-undangan sesuai dengan kepentingan mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hal ini sangat membahayakan kedaulatan nasional. Sistem hukum nasional saat ini mengalami kebuntuan dan kelumpuhan dalam menegakkan kedaulatan bangsa dan memenuhi hak-hak konstitusional warga Negara,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketiga, kalangan pesantren, karenanya juga harus memberikan kehirauan yang tinggi pada hal tersebut. Bahkan pesantren harus menata ulang NKRI yang telah terongrong sedemikian rupa konstruksi hukumnya oleh kepentingan modal asing.

“Pesantren, sesuai mandat sejarahnya, harus menatanya melalui kontekstualisasi maqashid syari’ah,” tegas mantan aktivis PMII Universitas Gajah Mada tersebut.

Keempat, untuk kebutuhan tersebut dibutuhkan tajaddud dan tajdid (pembaharuan) dalam pemikiran ushul fiqh, yang saat ini tidak banyak digunakan sebagai kerangka kontekstual pencarian solusi permasalahan kebangsaan, kemasyarakatan, dan keislaman.

“Dengan ini, maka semua pemikiran fiqh akan dikembalikan pada mashalihul anam, atau meminjam istilah Jasser Auda, pada dilalatul maslahat,” tambahnya.

Jurnal setebal 223 halaman ini menyediakan beberapa tulisan yang berkaitan dengan tema yang telah diusung. Riset utama membicarakan tentang menata ulang NKRI berbasis maqashid syari’ah, peta pemikiran ulama ushul fiqh tentang maqashid syari’ah, dan ushul fiqh dalam kaitannya dengan kontekstualisasi atau reformulasi.

Sedangkan artikel utama tentang perkembangan dan pergeseran hukum nasional Indonesia, permasalahan paradigma dalam ilmu hukum, dan syari’at dan hak asasi manusia: hukum internasional dan hubungan internasional.

Kolom menyinggung tentang fungsi ilmu sosial, juga tiga struktur nalar dalam tradisi Islam. Sedangkan artikel lepas mengusung perempuan menggugat (Kajian atas QS al-Mujadilah [58]: 1-6), dan esai budaya dan sastra tentang para aastrawan jahiliah.

Muslim Legal Thought in Modern Indonesia: Sebuah Catatan Kritis; dan Wacana Ushul Fiqh dalam Literatur Pesantren mengisi rubrik review buku-kitab. Panorama global berisi tentang geo-politik huru-hara Arab.

Adapun apresiasi tokoh kali ini berjudul "Membaca Perjuangan Kiai Abdul Wahab Chasbullah", dan "Hunain Ibn Ishaq: Penerjemah Ensiklopedis dan Dokter Klinik". Mlangisiana berbicara mengenai membaca ulang kehidupan kaum santri: refleksi dari Mlangi. Dan Aswaja Bergerak tentang Risalah Aswaja: Sebuah Pendekatan normatif Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Rencananya jurnal tersebut akan dibedah di UIN Sunan Kalijaga pada 18 Januari 2014, dan setelah itu di Universitas Gajah Mada. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa media sangat dibutuhkan oleh siapapun manusia yang hidup. Oleh karena itu bagaimana penyampai berita baik cetak maupun online serta radio mampu menulis informasi yang bukan konon katanya tapi jelas.

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin saat menghadiri buka bersama insan media dan radio komunitas yang digelar Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo di aula SMP Hati Billingual Boarding School (BBS) Kraksaan, Jum’at (16/6) sore.

“Hari ini siapapun yang mampu menyampaikan berita terhangat akan menjadi referensi pembenar bagi penerima berita. Sehingga berita media online dan radio menjadi pilihan untuk menerima sumber berita,” katanya.

Menurut Hasan, berita media online itu menjadi milik siapapun bagi yang memiliki media handphone. Sehingga media cetak akhirnya tidak dibaca bagi orang yang sibuk oleh aktvitasnya.

“Banyaknya aktivitas menjadi sulit membaca media cetak, Sehingga sulit menjadi pilihan untuk mendapatkan sebuah berita. Begitu keluar dari rumah naik kendaraan, setiap ingin berita sesuatu selain handphone saya putar radio. Ini sebuah potret zamannya bukan zaman saat saya masih kecil,” jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hasan menegaskan bahwa radio komunitas harus menyampaikan berita yang benar-benar akurat dan valid serta bukan berita hoax sebagai bagian dari perbuatan amar makruf nahi mungkar.

“Sampaikan satu berita asal benar dari pada banyak tapi tidak pasti. Profesi saudara profesional, otak dan hatinya berimplementasi dengan orang lain. Profesi ini mulia tatkala mampu memberikan manfaat kepada orang lain,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo H. Tutug Edi Utomo menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan dan mempererat tali silaturahim diantara media dan radio komunitas sehingga bisa menjadi mitra dari Pemerintah Daerah.

“Tentunya kita bersama-sama mempunyai tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjadikan masyarakat Kabupaten Probolinggo menjadi lebih cerdas dan mampu mengedukasi masyarakat dalam menyampaikan informasi yang baik dan benar,” katanya.

Kegiatan yang mengambil tema “Indahnya Kebersamaan Media dan Komunitas Radio” ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, sejumlah kepala OPD, insan media dan pengelola radio komunitas di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Santri Baru Pesantren Darussalam Sukolilo Dibekali Wawasan Aswaja

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pondok Pesantren Darussalam Keputih, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, menyambut kedatangan para santri  baru dengan kegiatan Orientasi Pengenalan Pondok Pesantren (OP3K) Darussalam. Kepada mereka, pesantren rintisan penggerak NU Surabaya KH Abdus Syakur ini memberikan bekal di antaranya pengetahuan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Santri Baru Pesantren Darussalam Sukolilo Dibekali Wawasan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Baru Pesantren Darussalam Sukolilo Dibekali Wawasan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Baru Pesantren Darussalam Sukolilo Dibekali Wawasan Aswaja

Selain santri baru, para santri lama pun juga antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung Sabtu, (5/8) itu. Ustadz M. Ma’ruf Khozin, salah satu anggota Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur, didaulat sebagai pemateri. Banyak santri yang bertanya kepada Ustadz Ma’ruf tentang penjelasan dalil amaliyah tertentu dan permasalahan keseharian lainnya.

Dalam pemaparannya, Ustadz M. Ma’ruf Khozin menjelaskan banyak hal, termasuk soal adanya kelompok yang mengaku paling islami, namun dari segi tingkah laku tidak mencerminkan apa yang mereka dengungkan itu. Menurutnya, kelompok seperti itu tidak punya sanad dalam hal yang mereka pelajari.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jika mempelajari suatu ilmu harus ada sanadnya agar apa yang kita pelajari nantinya akan sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh ulama maupun salafus shalih,” jelasnya kepada para santri.

Pesantren Darussalam sengaja memasukkan materi keaswajaan pada para santri baru sebagai sarana memperkokoh dan memperluas pengetahuan mereka seputar doktrin Aswaja yang moderat itu. “Untuk membentengi santri baru dengan akidah ahlussunnah wal Jama’ah,” kata Ustadz Sukamto, salah satu dewan pengarus Pondok Pesantren Darussalam Keputih. (Ahmad Hanan/Mahbib)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Sholawat, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid berharap kegaduhan yang ditimbulkan oleh elit-elit politik di parlemen dapat segera berakhir.

“Kita berharap munculnya sikap kenegarawanan dari elit-elit politik sehingga drama pengesahan UU Pilkada oleh DPRD, kericuhan dalam pemilihan pimpinan DPR dan lainnya tidak terjadi lagi dipanggung politik bangsa ini,“ katanya dalam pembukaan konferensi besar ke-19 di Jakarta.

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir

Demokrasi di Indonesia, yang memegang budaya Timur, seharusnya berjalan dengan santun dan kerendahhatian. Demokrasi tidak seharusnya menjadi alat untuk balas dendam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita sudah memiliki pengalaman panjang terhadap relasi eksekutif-legislatif dan sampai pada kesimpulan bahwa executive heavy atau legislative heavy sama-sama tidak baik bagi bangsa.“

Demokrasi, kata mantan ketua umum PB PMII ini, mensyaratkan adanya keseimbangan huubungan antar pilar-pilar demokrasi. “Tidak boleh ada tirani oleh salah satu pilar atas pilar demokrasi lainnya karena tirani akan menjadi bencana bangsa ini.“

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tirani legislatif akan berujung pada pemanfaatan DPR sebagai “the site of power struggle“ bagi segala kepentingan partai politik. Loyalitas anggota kepada pimpinan partai politik menjadi jauh lebih tinggi ketimbang loyalitas kepada konstituen.

Nusron yang merupakan anggota DPR RI dari partai Golkar ini merujuk pesan iklan tentang perilaku anggota parlemen yang berbunyi “Sudah duduk lupa berdiri, sesudah duduk lupa akan janji-janji.

Legislative heavy juga mengakibatkan hampir tidak adanya kebijakan eksekutif yang tidak dapat diintervensi oleh legislatif. Untuk menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya satu yang boleh memiliki kekuasaan dan kedaulatan penuh di negeri ini, yaitu rakyat.

“Sebagai elemen masyarakat sipil, Gerakan Pemuda Ansor berkomitmen untuk menjamin agar demokrasi berjalan dalam jalur yang benar, agar institusi demokrasi menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Masa depan bangsa Indonesia terlalu berharga untuk kita pertaruhkan,“ tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi, Usamah bin Muhammad mengadakan pertemuan, Selasa (14/11) di rumah Dinas Kedubes Arab Saudi Jakarta.

Komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mengembangkan Islam moderat ditindaklanjuti oleh Usamah dengan menggandeng Nahdlatul Ulama (NU).

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

(Baca: Saudi: Kami Akan Kembali ke Islam Moderat, Menjauh dari Wahabi)

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat dapat dimulai dengan menghormati dan memberikan jaminan Kebebasan bermadzhab kepada seluruh umat Islam dunia yang melaksanakan haji dan umrah di tanah haram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepada Kiai Said, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat. 

"Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerja sama mengembangkan Islam moderat," kata Usamah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Said mengatakan kepada Dubes Arab Saudi bahwa dirinya tidak mempersoalkan Pemerintah Arab Saudi.

“Yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Arab Saudi yang mensyirik-syirikkan, mengkafir-kafirkan, membidah-bidahkan Muslim Indonesia," tegas Kiai Said.

(Baca: Kejutan Saudi Arabia)



Salah seorang Ketua PBNU H Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, kira-kira tujuh tahun lalu Kiai Said memulai bersikap tegas dan kukuh menentang dan melawan keras Wahabi di Indonesia. 

“Selama itu pula PBNU menutup komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” jelas Sulton.

Hal itu, sambungnya, bermula dari peristiwa tokoh utama Wahabi berkata dan bersikap sombong dan congkak terhadap beberapa kiai saat acara resmi. Kiai Said tentu sangat geram namun masih bisa menahan diri.

“Kini ada indikator situasi di Arab Saudi membaik. Mereka bertekad mengembangkan Islam moderat. PBNU pun kembali membuka komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” terang Sulton. 

Islam moderat sudah lama dikembangkan oleh NU ke seluruh dunia untuk membangun perdamaian. Dalam hal ini, Kerajaan Arab Saudi mengakui reputasi NU sehingga perlu menggandengnya untuk mewujudkan misi tersebut secara global. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Lomba, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Oleh Wasid Mansyur

Salah satu ritual dalam bulan Ramadan yang diyakini sangat penting bagi umat Islam adalah tadarus Al-Qur’an. Tidak salah bila kemudian, di berbagai masjid dan musholla ditemukan mereka meramaikannya dengan membaca Al-Qur’an setelah sholat Tarawih, bahkan ada sebagian yang mengadakannya diwaktu yang berbeda.?

Respon positif atas tradisi tadarus Al-Qur’an menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih memiliki kesadaran religius yang cukup tinggi, khususnya dalam membaca Al-Qur’an. Tapi, lebih dari itu perlu perenungan kembali, sejauh mana efek ritual ini dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi perlu dipahami dan diamalkan kandungannya.?

Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Secara kebahasaan, kata Tadarus berarti saling belajar dari kata dasar Darasa (belajar). Secara praktik, tadarus Al-Qur’an dimaknai dengan ritual membaca Al-Qur’an yang dilakukan minimal dua orang, yakni satu di antara keduanya membaca dan yang lain menyimak. Maka, tidak bisa dikatakan tadarus bila hanya dilakukan sendirian, tanpa kehadiran yang lain.

Dari ini, ada dua makna penting dari tradisi tadarus untuk direnungkan agar kemudian bermakna dalam konteks sosial dan berbangsa. Pertama, dilihat dari si-pembaca. Pembaca Al-Qur’an dalam ritual tadarus harus jeli dan teliti agar bacaannya tidak salah, sekaligus memiliki kerendahan hati kepada orang lain (penyimak) bila kemudian ada proses pembenaran terhadap bacaan yang kurat tepat.

Jeli dan teliti serta didukung oleh kerendahan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan yang lebih luas. Tapi, memang problem terkini dalam kehidupan beragama, khususnya, masih didominasi oleh sikap individu yang jeli dan teliti terhadap keyakinannya sendiri, tapi bersifat angkuh dan sombang dalam melihat keyakinan orang lain yang berbeda. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dilihat dari si-penyimak. Sebagaimana mafhum, ia bertugas mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karenanya, si-penyimak tidak boleh santai, bahkan harus siap siaga mengawal bacaan agar tetap sesuai dengan pakem-pakem yang ditentukan dalam membaca Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari sini, maka kesadaran pembaca dan penyimak itu penting, bahkan menentukan kualitas bacaan Al-Qur’an itu lebih bermakna. Secara sosiologis fenomena ini mengajarkan bahwa saling belajar antar sesama adalah keniscayaan hidup dalam sebuah bangsa, yakni belajar tentang bagaimana pentingnya menghormati dan menghargai posisinya masing-masing. ? ?

Tradisi tadarus mengajarkan tentang pentingnya harmoni dalam semua lini kehidupan sebab sangat mustahil bangsa ini akan besar, bila masih ada sebagian orang baik individu maupun kelompok lebih suka menebarkan teror kepada orang lain, sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tidak memastikan tepat bila hubungan si-pembaca dan si-penyimak tidak ada sikap saling mengingatkan, terlebih bila tidak harmoni antar keduanya.

Tadarus sebagai kritik

Konkretnya dalam ranah sosial, bisa dipahami bahwa upaya penggagalan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam (baca; FPI) baru-baru ini terhadap Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang mengadakan buka bersama lintas agama di Semarang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil memaknai kemuliaan ritual bertadarus, lebih-lebih menangkap dan mempraktikkan momentum kemuliaan bulan Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Ketidak-berhasilan menangkap dan mempraktikkan nilai-nilai hakiki dari Islam, khususnya dari ritual tadarus dan puasa Ramadhan, mendorong FPI terus terjebak pada formalitas beragama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya mengikuti perintah Allah secara formal, tapi perlu adanya kesanggupan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, yakni mempraktikkan keluhuran budi pekerti (akhlak al-karimah).

Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya Ayyuha al-Walad (wahai seorang anak), bahwa keluhuran budi pekerti bisa dibuktikan dengan tidak mendorong orang lain secara paksa mengikuti anda.Tapi, lebih dari itu anda harus terdorong mengikuti kemauan mereka sepanjang tidak bertentangan dengan shari’at. Jadi, apa yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari prinsip luhur akhlak al-karimah sebab cenderung memaksa dan menebarkan teror kepada orang lain. ?

Padahal apa yang dilakukan Ibu Shinta dengan bersahur dan berbuka bersama secara terbuka dengan masyarakat lintas agama bertujuan untuk mendidik publik akan pentingnya pertemuan antar iman. Dari sini diharapkan terajut secara terus menerus kerukunan antar beragama sebagaimana menjadi cita-cita mediang suaminya Gus Dur, termasuk dalam rangka merawat nilai ideologi Pancasila dan konstitusi berbangsa.

Akhirnya, semua pihak harus menangkap dan mempraktikkan makna tradisi bertadarus dalam konteks sosial dan berbangsa. Dari sini, diharapkan tercipta tatanan sosial penuh damai, tanpa teror. Dan aparat pemerintah harus hadir, tidak boleh absen dalam menjaga negara ini dari tindakan individu atau kelompok yang sengaja bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi berbangsa. Semoga.

Wasid Mansyur

Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pegiat Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Aswaja, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal . Kehadiran? PBNU ke berbagai cabang yang berada di luar Pulau Jawa sangat dibutuhkan untuk mempercepat penguatan NU, baik di sisi pemahaman Islam Ahlussunah wal Jamaah maupun struktur organisasi. Selama ini, masih banyak pengurus cabang NU di daerah yang merasakan kurang mendapat sentuhan dari PBNU.

?

Hal itu diungkapkan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, H. Tarmidzi kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Ahad (2/8) malam, di sela-sela menunggu lanjutan sidang pleno pembahasan tata tertib Muktamar ke-33 NU, di alun-alun, Jombang, Jawa Timur.

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU

Menurut Tarmidzi, dengan seringnya pengurus PBNU turun ke cabang-cabang NU, selain memperkuat organisasi NU di tingkat cabang, juga menumbuhkan semangat ber-NU di tingkat MWC hingga ranting.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Siapa pun yang terpilih memimpin PBNU lima tahun ke depan, harus lebih sering turun ke bawah (cabang). Jika sering PBNU turun ke bawah, turut memperkuat pemahaman Ahlussunnah Waljamaah," kata Tarmidzi yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bengkulu Tengah.

?

Untuk itu, kata Tarmidzi, para muktamirin harus jeli memilih pemimpin PBNU periode 2015-2020. Jangan mau? hanya dengan kepentingan sesaat dan iming-iming tertentu, memilih pemimpin PBNU ke depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita berharap pemimpin PBNU terpilih makin sering berkunjung ke cabang-cabang. Terutama cabang-cabang yang minus kondisinya," kata Tarmidzi, tamatan Pesantren Denanyar, Jombang tahun 1977 ini.

?

Tarmidzi yang sudah tujuh tahun (dua periode) mengemban amanah sebagai Ketua PCNU di Bengkulu Tengah, belum pernah dikunjungi PBNU, kecuali hanya sampai di tingkat wilayah (provinsi). Tarmidzi mengakui, saat ini PCNU yang dipimpinnya terus berbenahi diri. Dari 10 kecamatan, sudah memiliki 9 MWC.

"Cabang yang dikunjungi PBNU pastilah senang dan dapat mendorong semangat ber-NU, baik di kalangan pengurus sendiri maupun warga nahdiyin," kata Tarmidzi yang? 22? tahun sebagai Kepala KUA di Propinsi Bengkulu ini. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Oleh Agus Muhammad

Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia.  Secara hirtoris, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial , budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subeki atau Mbah Subki yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (Gunung Agung, 1984), mantan Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman – yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.

Menurut Wahjoetomo dalam Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Gema Insani Press, 1997) seperti dikutip Asyuri (2004), masyarakat pesantren mengadakan aksi terhadap Belanda dengan tiga macam. Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangakauan kolonial. Maka tidak aneh bila pesantren mayoritas berada di desa-desa yang bebas dari polusi dan kontaminasi oleh budaya hedonisme, kepalsuan, dan keserakahan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji atau menelaah kitab kuning, para kyai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Bahkan saat itu para kyai melarang santrinya untuk memakai pakaian yang berbau Barat atau penjajah seperti santri dilarang memakai celana panjang, dasi, sepatu dan sebagainya.

Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perspektif sejarah, pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad, untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Seperti kita kenal nama Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura dan sebagainya. Beberapa pemberontakan yang dipelopori oleh kaum santri antara lain adalah pemberontakan kaum Padri di Sumatara Barat (1821-1828) yang  dipelopori kaum santri di bawah pimpinan tuanku Imam Bonjol;  pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1828-1830); Pemberontakan Banten yang merupakan respon umat Islam di daerah itu untuk melepaskan diri dari penindasan dalam wujud pemberlakuan tanam paksa pada tahun 1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888 yang dikenal dengan pemberontakan petani; dan pemberontakan di Aceh ( 1873-1903) yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro yang membuat Belanda kesulitan masuk ke Aceh.

Peristiwa 10 November

Pada awalnya kalangan pesantren melalui kiai dan para santrinya berjuang sendiri-sendiri dalam melawan penjajah. Perjuangan kalangan pesantren mulai terkoordinir melalui peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tidak semua negara di dunia mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Belanda dan sekutunya termasuk yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia.  Belum genap satu bulan sejak diproklamirkan, terdengar berita bahwa Indonesia sudah mulai diserang kembali oleh Belanda dan Sekutunya. Pada 10 Oktober 1945 Belanda dan Sekutunya telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Bandung setelah melalui pertempuran sengit.

Menghadapi kenyataan ini, kalangan kiai pesantren segera merencanakan pertemuan diantara para pimpinan pesantren. Sebagaimana diceritakan K.H. Saifuddin Zuhri dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Al-Ma’arif, Bandung 1981), KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura atau utusan cabang NU untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2. Namun pada 21 Oktober para kiai baru dapat berkumpul semua. Setelah semua kiai berkumpul, segera diadakan rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah. Pada 23 Oktober Mbah Hasyim atas nama HB. (Pengurus Besar) organisasi NU mendeklarasikan sebuah seruan Jihad fi Sabilillah yang belakangan terkenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim - tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio disertai dengan teriakan Allahu Akbar sehingga berhasil membangkitkan semangat juang kalangan santri untuk melawan penjajah.

Para kiai dan santrinya kemudian banyak yang bergabung ke pasukan nonreguler Sabilillah dan Hizbullah yang terbentuk sebagai respon langsung atas Resolusi Jihad tersebut. Kelompok ini kemudian banyak berperan penting dalam peristiwa 10 Nopember. Komandan tertinggi Sabilillah sendiri adalah K.H. Masykur dan Komandan Tertinggi Hizbullah adalah Zainul Arifin. Diperkuat juga oleh Barisan Mujahidin yang dipimpinan langsung oleh Kiai Wahab Hasbullah

Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando. Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada detik-detik ini pesantren-pesantren juga didatangi oleh para pejuang dari berbagai kalangan untuk minta kesakten kepada para kiai. Tanpa itu para pejuang merasa tidak akan mampu menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan senjata-senjata berat mereka.

Seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, Jakarta, 2005), seruan jihad itu berhasil menggugah dan membangkitkan semangat juang kaum santri. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah  mengalir ke Surabaya. Perang yang menewaskan Jenderal Mallaby itu dikenang sebagai salah satu momentum dari perjuangan kaum santri melawan penjajah.

Refleksi Keindonesiaan

Peran besar kalangan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan tentu patut menjadi refleksi bagi kita semua. Refleksi ini penting karena di tengah gegap gempita perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, kiprah pesantren bagi kemerdekaan Indonesia makin hari makin dilupakan orang, bahkan oleh kalangan pesantren sendiri. Ini tentu menyedihkan karena perjuangan kalangan pesantren terhadap eksistensi Negara Republik Indonesia tidak hanya berhenti setelah proklamasi, tetapi terus dilanjutkan di masa-masa kemudian.

Dalam pemberontakan DI/TII misalnya, kalangan pesantren tidak memberikan dukungan meskipun yang pemberontakan itu dilakukan oleh orang Islam dan ditujukan untuk mendirikan negara Islam. Pondok Pesantren Cipasung misalnya, yang didirikan tahun 1931 oleh KH Ruhiat, beberapa kali bentrok dengan kelompok DI/TII karena menolak mendukung dan bergabung dengan pemberontak tersebut. Padahal DI/TII lahir di wilayah yang sama dengan Pesantren Cipasung. Sebagai organisasi yang memayungi kalangan pesantren, NU juga dengan gigih menolak pemberontakan DI/TII, PRRI dan Permesta, karena NKRI sudah dianggap final.

Kesetiaan kalangan pesantren terhadap visi kebangsaan Indonesia mulai mendapat tantangan serius ketika muncul kalangan Islam garis keras yang mencoba menawarkan Islam sebagai solusi bagi penyelesaian berbagai krisis di Indonesia. Sebagian pesantren sudah mulai tergoda oleh gerakan yang antara membawa gagasan formalisasi syariat Islam. Ini menjadi persoalan karena kalangan pesantren sangat kental dengan ciri moderat, menghargai keberagaman, memandang wahyu dan akal sebagai acuan kebenaran yang saling membutuhkan serta menghagai nilai-nilai tradisi dan budaya lokal. Sementara Islam garis keras cenderung menolak prinsip-prinsip ini.

Pasca reformasi, eksistensi keindonesiaan memang menghadapi banyak tantangan serius. Dengan modal sejarah yang gemilang dalam memperjuangkan kemerdekaan, pesantren mestinya bisa berbuat banyak untuk turut membantu penyelesaian berbagai masalah kebangsaan. Sayangnya, para pemimpin pesantren yang belakangan marak terlibat dalam politik praktis tidak banyak yang memiliki visi kebangsaan seperti para pendahulu mereka. Kita berharap, pesantren melalui para kiai, santri dan alumninya di masa-masa mendatang dapat memainkan lagi peran kebangsaan seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.

Agus Muhammad, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, News, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Santri Pandanaran dan Keluarga Lepas Calhaj dengan Mujahadah

Sleman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Para santri dan segenap keluarga pesantren Sunan Pandanaran menggelar mujahadah pada acara walimatus safar yang berlangsung di halaman masjid utama kompleks huffadz pesantren Pandanaran, Ahad (30/8) pagi. Jamaah KBIH Sunan Pandanaran yang kurang lebih berjumlah 50 calon haji (Calhaj) berpamitan kepada segenap masyarakat, sanak famili, dan para santri serta keluarga Pesantren Pandanaran.

Santri Pandanaran dan Keluarga Lepas Calhaj dengan Mujahadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pandanaran dan Keluarga Lepas Calhaj dengan Mujahadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pandanaran dan Keluarga Lepas Calhaj dengan Mujahadah

Acara ini dibuka langsung oleh pengasuh pesantren Pandanaran KH Mutashim Billah. Mewakili KBIH Pandanaran, KH Mujiburrohman menyampaikan selamat jalan kepada para jamaah calon haji. Ia juga mengajak para calhaj untuk kembali menata niat sebelum berangkat.

"Ini bukanlah sekedar perjalanan biasa. Melainkan sebuah perjalanan spiritual, ibadah, dan rihlah muqodasah. Karenanya mari kita menata niat yang baik dalam perjalanan suci ini supaya mendapatkan ridha Allah SWT," kata Kiai Mujib.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, Kiai Mujib mengimbau para keluarga jamaah haji sekalian supaya cukup mengantar para calon haji sampai pesantren. Tujuannya agar mengurangi potensi kemacetan lantaran iring-iringan mobil para rombongan haji.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Karenanya kami telah menyiapkan dua kendaraan berupa bis untuk mengantar para jamaah haji menuju Masjid Agung,” kata Kiai Mujib.

Dalam kesempatan ini, para santri dan keluarga pesantren Pandanaran, serta jamaah yang hadir melakukan mujahadah bersama yang dipimpin oleh KH Arif Hakim untuk mendoakan para calon haji.

Acara ini ditutup dengan doa yang dipimpin KH Syarifuddin. Selanjutnya tim hadrah Pandanaran mengiringi prosesi para calon haji menuju bis yang telah disediakan. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab melakukan “blusukan” dengan ditemani ajudannya. Di tengah-tengah blusukan itu, Umar pun merasakan lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat.

Saat Khalifah dan ajudannya beristirahat, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya.

Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab (Sumber Gambar : Nu Online)
Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab (Sumber Gambar : Nu Online)

Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab

“Wahai anakku, oploslah susu yang kamu perah tadi dengan air,” perintah seorang ibu.

Lalu, si gadis menolak perintah ibunya dengan mengatakan, “Apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab kepada rakyatnya untuk tidak menjual susu yang dicampur air?”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Iya, Ibu pernah mendengar perintah tersebut,” jawab sang ibu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemudian ibunya berkilah, “Mana Khalifah? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku laksanakan perintah ibumu ini, kan cuma sedikit kok ngoplosnya!”

“Dia tidak melihat kita, tapi Rabb-nya melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan gadis dengan ibunya tersebut, Umar dan ajudannya langsung pulang. Sesampai di rumah, Umar bercerita tentang pengamalaman blusukan tadi malam dan meminta putranya, ‘Ashim bin Umar untuk menikahi gadis yang shalihah tersebut.

Dari pernikahan ‘Ashim dengan gadis tersebut, Umar dikaruniai cucu permpuan bernama Laila atau yang biasa disebut Ummu Ashim dan dari Ummu Ashim telahir Umar bin Abdul Aziz khalifah kelima yang terkenal sangat adil, zuhud, dan bijaksana. (Ahmad Rosyidi)

?

*) Dinukil dari Kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz, Kairo: Maktabah? Ash-Shofa 2001

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Anwar Zuhdi mengatakan bahwa Manusia tidak akan masuk ke surga kecuali harus masuk ke neraka terlebih dahulu.

"Yang akan masuk langsung ke surga adalah seorang hamba bukan manusia. Man itu orang Nusia itu dilupakan. Makanya manusia sering lupa banyak dosa sehingga harus masuk neraka untuk dibersihkan setelah bersih manusia akan menjadi hamba dan kemudian masuk ke surga," jelasnya pada kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap pekan di Aula Gedung NU ini, Ahad (01/01).

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Lebih lanjut Abah Anwar, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa prinsip seorang hamba sangat sulit sekali diraih. Hal ini karena hamba merupakan sosok yang ikhlas dalam beribadah tanpa pamrih dan tidak memperdulikan imbalan. "Mendapat pahala nggak mendapat pahala, seorang hamba tetap istiqomah beribadah," tegasnya.

Prinsip hidup seorang hamba dengan mengedepankan keikhlasan akan mendatangkan kasih sayang dari yang memiliki hidup. Ia mengibaratkan bila seorang pembantu rumah tangga bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh majikannya dan tidak peduli dengan pekerjaan lainnya maka Ia akan mendapatkan sebanyak yang Ia harapkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun sebaliknya, jika Ia bekerja dengan ikhlas, segala pekerjaan yang belum beres diselesaikan dengan baik tanpa menunggu perintah majikan maka terkadang Ia akan mendapatkan lebih dari yang biasa yang Ia terima.

"Kalau kita melakukan segala hal dengan ikhlas, maka kita akan di beri kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan," ujarnya.

Oleh karenanya, Abah Anwar menghimbau agar dalam mengawali dalam melakukan segala sesuatu hendaknya selalu menata hati dan niat dengan benar. "Menata hati itu susah. Namun kita harus terus berusaha agar amal ibadah kita tidak sia-sia dengan selalu mengedepankan keikhlasan dalam melakukannya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

Tahun Baru di Lampung, Tahlil dan Istighotsah Gantikan Pesta Kembang Api

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Keputusan Gubernur Lampung Ridho Ficardo dalam menyambut tahun baru 2016 berbeda dari putusan gubernur lainnya. Gubernur muda ini memutuskan untuk mengganti acara pesta kembang api yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya dengan tahlilan dan istighotsah.

Penyambutan tahun baru yang dibarengkan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW diadakan di Mahan Agung, Lampung, Kamis (31/12) siang.

Tahun Baru di Lampung, Tahlil dan Istighotsah Gantikan Pesta Kembang Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru di Lampung, Tahlil dan Istighotsah Gantikan Pesta Kembang Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru di Lampung, Tahlil dan Istighotsah Gantikan Pesta Kembang Api

Hal ini dilakukan karena menurutnya anggaran APBD lebih baik digunakan untuk pembangunan mental ketimbang perayaan. "Besok ada pengajian saja, istighotsah di rumah dinas, Mahan Agung, tidak ada acara," kata Ridho sebagaimana dikutip di tribun lampung.com, Rabu (30/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, Lampung saat ini tengah gencar melakukan pembangunan. Karena itu, anggaran APBD diprioritaskan untuk hal yang lebih penting.

"Posisi Lampung sekarang sedang membangun, saya pikir tidak baik melakukan acara yang menghamburkan uang rakyat, memang ada saatnya kita melakukan perayaan, seperti acara HUT Kemerdekaan, atau HUT Pemda, dan lainnya. Tetapi tidak perlu terlalu banyak perayaan, karena anggaran digunakan untuk pembangunan demi efisiensi anggaran," kata Ridho.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan bahwa malam pergantian tahun lebih baik dimanfaatkan untuk hal yang positif. Karenanya ia mengimbau masyarakat yang merayakan tahun baru tidak berlebihan.

"Jika ingin melakukan perayaan, lebih baik yang bermanfaat bagi orang banyak, jauh dari hura-hura. Mari di malam tahun baru nanti kita berdoa semoga Provinsi Lampung semakin maju dan sejahtera," pungkasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 September 2017

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

Serang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga NU Kota Serang dari turut memeriahkan pawai ta’aruf Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) keempat Kota Serang yang bertempat di Kecamatan Walantaka, Selasa (22/01) dimulai pukul 13.00 WIB.?

?

Menurut aktivis NU Kota Serang, Tubagus Qurtubi, warga NU yang mengikuti ta’aruf tersebut adalah ibu-ibu Muslimat, Ansor, dan, Banser.

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Meriahkan Pawai Taaruf MTQ

?

“Di samping itu, turut pula lurah-lurah, anggota KUA, Kapolsek, murid-murid dari dari SD, SMP, SLTA, guru-guru dan masyarakat umum dari 6 kecatamatan,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

?

Menurut Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Serang Dr. KH. Wawan Wahyudin, MTQ menjadi media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan Al-Quran.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dalam pengertian, mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Quran,” ucapnya sebagaimana dikutip kabar-banten.com.

?

Lebih penting lagi, kata dia, MTQ bertujuan untuk memasyarakatkan Al-Quran. Pasalnya, dewasa ini hidup dan kehidupan umat Islam banyak yang menyimpang dari tuntunan Al-Quran.

?

MTQ tersebut akan berlangsung selama tiga hari dan diikuti peserta dari 6 kecamatan. Beragam cabang dan jenis perlombaan yang diperlombakan dalam MTQ, antara lain, qiraah Al-Quran, fahmil Quran, syarhil Quran, hifz Quran, dan khath Al-Quran.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Aswaja, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 23 Agustus 2017

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mengaku tidak bangga menjadi Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN). Pasalnya, menyandang posisi itu sangat berat; tidak saja memimpin organisasi kumpulan tarekat yang mutabar saja, tetapi juga menjaga agar tarekat-tarekat di bawah naungan JATMAN tetap istiqomah dan lurus snadnya hingga Rasulullah.

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN

Bagi dirinya, menjadi pemimpin tidak saja bertaggung jawab pada organisasi setiap lima tahun sekali, tetapi lebih dari itu, bertanggung jawab dunia akhirat.

Hal tersebut diungkapkan Habib Luthfi di hadapan Muktamirin usai dinyatakan terpilih oleh anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) pada sidang komisi Majelis Ifta yang diumumkan pada Sidang Pleno penetapan hasil hasil sidang komisi yang dipimpin DR Masyhudi.

"Saya sungguh tidak bangga menjadi Rais ‘Aam, tugas berat mengemban amanat di JATMAN tidak saja menjaga tarekat di bawah naungan JATMAN agar tetap lurus, tetapi juga mempertanggungjawabkan di dunia dan akhirat," ujar Habib Luthfi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keputusan lain terkait dengan sidang Majelis Ahwa ialah menetapkan Wakil Rais ‘Aam dijabat KH Ali Masadi asal Mojokerto, Jawa Timur, Katib ‘Aam KH Zaini Mawardi Demak. Selanjutnya Mudir ‘Aam dijabat KH Wahfiudin Sakam asal DKI Jakarta dan Wakil Mudir ‘Aam Habib Umar Mutohar.

Sidang Pleno yang berlangsung Rabu malam (17/1) di Pendopo lama Kota Pekalongan juga menetapkan Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN)  Hamdani Muin, dosen UIN Walisongo Semarang untuk kedua kalinya.

Keputusan menunjuk Hamdani Muin, setelah pada Sidang Komisi Matan sepakat mengusulkan dua nama yakni Habib Husen bin Luthfi bin Yahya dan Hamdani Muin. Akan tetapi, setelah dua nama ini disodorkan ke Habib Luthfi selaku Rais ‘Aam terpilih, Habib Luthfi memilih Hamdani Muin dengan alasan anaknya belum saatnya menjadi orang pertama di Matan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, PonPes, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 17 April 2017

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Margoyoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah mahasiswa baru jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dibekali penguatan pemahaman tentang kaprodian dan prospek lulusan oleh ketua jurusan di auditorium kampus Staimafa, Senin (5/10).

Bekali Mahasiswa  Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Faiz Aminudin selaku ketua jurusan PMI menjelaskan bahwa mahasiswa baru perlu dibekali dengan penguatan, pemantapan, dan keyakinan dalam memilih kaprodian agar mahasiswa tidak salah dalam memilih jurusan. Dan meyakinkannya bahwa jurusan yang  telah dipilih sudah sesuai dengan niat pertama, terangnya.

Selain itu, menurutnya jurusan PMI terbilang sangat unik dan berbeda dengan jurusan lainnya. Karena semua mata kuliah jurusan PMI sudah disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat. dan lebih banyak dalam melakukan praktek di lapangan sehingga dengan dibekali praktek di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu melakukan pendamping dan pemberdayaan di masyarakat agar masyarakat bisa berdaya dan sejahtera.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia menambahkan bahwa ouput lulusan jurusan PMI adalah sebagai fasilitator, pengabdian di masyarakat, pekerja sosial serta bisa masuk dalam ranah dinas sosial untuk melakukan pendampingan dan program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti BUMdes, PNPM dan dana kesejahteraan sosial lainnya, tandasnya.

Lumatun Nadzifah, selaku ketua panitia pelaksanaan  menjelaskan bahwa kegiatan yang dikemas dalam forum saresehan dan  silaturrahim mahasiswa ini bertujuan untuk memantapkan dan meyakinkan mahasiswa dalam memilih jurusan dan untuk mengetahui output lulusan  mahasiswa, tambahnya. (Siswanto El Mafa/Mukafi  Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, AlaSantri, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock