Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Belanda, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda (Lakpesdam PCI NU Belanda) menyelenggarakan diskusi dengan tema Money and Identity Politics on Electoral Democracy in Indonesia di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, Selasa (4/7).

Koordinator Penyelenggara Yance Arizona mengemukakan, diskusi publik ini diselenggarakan dalam rangka melakukan telaah akademik terkait fenomena penyelenggaraan Pemilu di Indonesia saat ini yang menunjukkan semakin masifnya politik uang dan penggunaan identitas sebagai alat untuk memenangkan pemilihan.

Hadir sebagai narasumber antara lain; Fritz Edward Siregar (Komisioner Bawaslu bidang Hukum), Prof. ? Gerry van Klinken (Guru Besar bidang Sejarah Universitas Amsterdam) Ward Berenschot ? (Peneliti di KITLV), serta Awaludin Marwan (Lakspesdam PCINU Belanda, Univeristas Utrecht).

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Fritz yang baru saja menjabat sebagai komisioner Bawaslu menyampaikan bahwa masih banyak problem regulasi dalam menangani permasalahan politik uang. Misalkan adanya unsur ‘mempengaruhi pemilih’ dalam pemberian uang atau barang kepada pemilih oleh tim sukses kandidat dalam pemilu dan pilkada. Unsur ini cukup sulit dibuktikan sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda di dalam praktiknya antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Selain itu, waktu penanganan yang singkat juga menjadi kendala untuk mengatasi hal ini.

Persoalan lain yang juga butuh perhatian adalah praktik menjual barang (Sembako) dengan harga murah. Model bazar murah ini sudah banyak terjadi, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Belum tegas aturan yang dapat mengkualifikasikan bazar sebagai politik uang, misalkan dengan diskon berapa persen dari harga pasar dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Apakah menjual dengan harga 70%, 50% atau 30% dapat dikategorikan sebagai politik uang?

Dalam kaitannya dengan politik identitas, Bawaslu telah melakukan penelitian di enam provinsi dan menemukan bahwa politik identitas mempengaruhi hasil pemilihan kepala daerah. Politik identitas menekankan perbedaan sebagai preferensi untuk memilih pemimpin. Secara faktual, politik yang menekankan identitas bagi sebagian kalangan dipandang wajar karena karakteristik masyarakat Indonesia yang plural berdasarkan agama, suku, dan berbagai latarbelakang lainnya. Namun ia jadi masalah ketika menjurus kepada tindakan diskriminasi kepada sebagian kelompok tertentu. Bawaslu belum punya peraturan yang detail untuk menentukan kapan dan dimana suatu tindakan dapat dikualifikasikan pelanggaran karena menggunakan identitas untuk mempengaruhi pemilih.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Guru besar sejarah Universitas Amsterdam, Gerry van Klinken, menjelaskan salah satu akar dari politik identitas yang menguat hari ini dengan istilah Ethnic Bossism, yaitu semacam relasi patron-client yang telah berkembang dalam sejarah masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan berbagai peta yang menunjukan perbedaan kolonisasi dan pewargenagaraan paska kolonial antara Jawa-Sumatra dan daerah lain di Indonesia. Penjelasan ini berguna untuk memahami mengapa politik identitas sangat kental di luar Jawa dan sedikit di Jawa, dengan beberapa pengecualian. Termasuk pula peta kekerasan komunal berbasis etnik yang terjadi pada tahun 1999-2002 yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Kerjasama antara penguasa kolonial dengan sultan dan raja-raja sejak masa kolonial menyuburkan Ethnic Bossism yang sekarang semakin meluas paska Orde Baru. Misalkan dengan mekanisme yang memberikan keistimewaan bagi putra asli daerah untuk posisi-posisi di pemerintahan daerah dan proyek pembangunan di daerah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut, Gerry menyampaikan bahwa Ethnic Bossism berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Lawan dari Ethnic Bossism adalah democratic accountability yang menekankan inklusivitas dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ada dua pendekatan yang perlu dipertimbangkan kedepan untuk mengatasi situasi keterjebakan pada sistem oligarkis patron-client ini yaitu suatu pemerintahan pusat yang kuat dan demokratis sehingga bisa memberdayakan warga negara. Pendekatan lain adalah membangun aliansi lintas daerah dari gerakan partisipasi warga dan pemimpin yang baik, terutama antara kelompok urban di Jawa dengan rural di luar Jawa.?

Ward Berenschot menyampaikan presentasi dengan judul Why is Money Politics so Pervasive in Indonesia: An economy analysis. Dia memaparkan hasil risetnya di 38 daerah dengan wawancara terhadap ahli di daerah untuk menyusun Indek Persepsi Klientisme (Clientism Perception Index). Studi ini penting untuk melihat bagaimana relasi patron-client antara masyarakat dan tuannya baik berdasarkan identitas suku dan identitas lainnya juga mempengaruhi politik uang. Studi itu menemukan bahwa semakin ke daerah, maka politik uang semakin massif. Semakin ke nasional, misalkan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kecenderungan politik uang semakin berkurang.

Dalam kaitannya dengan politik identitas, studi yang dilakukan oleh Ward melengkapi apa yang telah dilakukan oleh Gerry van Klinken, terutama untuk melihat perbedaan antara Jawa dan luar Jawa. Hal lain yang menarik dari studi ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hal lain yang menarik dari survey ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ekonomi dalam kota-kota ini cenderung sangat tergantung kepada uang dari negara, karena tidak banyak ditemukan industri di sana.

Ward menganjurkan perlunya mengutamakan politik berdasarkan program dari pada politik berdasarkan relasi klientisme dalam pemilu. Lebih lanjut, Ward mengusulkan perlu adanya waktu khusus bagi Bawaslu sebelum hari pemungutan suara untuk melaporkan kepada publik mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kandidat dalam pemilu sehingga menjadi preferensi bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. Di satu sisi memang dibutuhkan perubahan peraturan mengatasi politik uang dan politik identitas, namun menurut Ward juga diperlukan perubahan dalam praktiknya. Misalkan dengan memberikan perlindungan yang cukup bagi pelapor pelanggaran dan anggota Bawaslu yang menangani pelanggaran pemilu. Sering pelanggaran tidak bisa diatasi karena aktor-aktor lapangan khawatir akan keselamatan dan statusnya di daerah.

Awaludin Marwan menyampaikan beberapa warisan hukum yang diskriminatif yang pernah berlaku di Indonesia. Umumnya yang menjadi korban dari diskriminasi struktural itu adalah etnis Tionghoa. Dalam kaitannya dengan itu, Awaludin melihat bahwa apa yang terjadi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dijerat pidana penodaan agama adalah kelanjutan dari proses diskriminasi yang telah berlangsung lama. Besarnya demonstrasi yang menghendaki agar Ahok dihukum meskipun tidak langsung, tetapi sangat mempengaruhi posisi Ahok dalam pilkada. Lebih lanjut, Awaludin menilai bahwa peraturan perundang-undangan mengenai kepemiluan saat ini belum dapat mengatasi politik SARA yang diskriminatif. Sehingga, pembaruan hukum kedepan harus diarahkan kepada hal tersebut. Salah satunya dengan mengadopsi prinsip-prinsip penting dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik ke dalam sistem hukum pemilu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar

Judul: ? Pengakuan-Pengakuan Syaikh Siti Jenar

Penulis : Argawi Kandito

Penerbit/Distributor: Pustaka Pesantren

Pencetak: PT LKiS Printing Cemerlang

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Histori dan Metode Pemikiran Syaikh Siti Jenar

Terbitan: I, 2011

Tebal: 200 Halaman 12 x 18 cm

Peresensi: Junaidi*

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena metode “berlayar di permukaan” itu mereka menikamku di depan santri-santriku”. Itu segelintir ucapan Syaikh Siti Jenar. Sedangkan para wali yang lainnya memakai metode “menyelam di dalam laut”. Sehingga pemahaman masyarakat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nama kecil Syaikh Siti Jenar adalah Abdul Hasan bin Abdul Ibrahim bin Ismail (Hal. 18). Sosok Siti Jenar menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Jawa, bahkan misteri kematian dan pemikirannya dikenal di berbagai penjuru di negeri ini. Ada yang mengatakan bahwa ajaran Siti Jenar menyesatkan bagi kehidupan masyarakat Jawa, sehingga beliau dibunuh oleh para wali yang lainnya. Misteri kematian Syaikh Siti Jenar tidak kunjung selesai sampai pada dari mulut ke mulut masyarakat Jawa saja. Akan tetapi meluas di lingkungan keagamaan di nusantara ini.

Pada umumnya masyarakat mengenal Syaikh Siti Jenar berkaitan dengan tiga hal; wali yang sakti, wali yang mengaku sebagai Tuhan, dan wali yang berasal dari cacing merah. Dari ketiga hal ini, cerita yang ketiga (yang berasal dari cacing merah) paling bersifat kontradiktif. Sebab, apa mungkin gen cacing merah bisa menjadi sosok manusia hanya karena sabda seorang wali?

Bahkan dari nama syaikh Siti Jenar ada dua versi: Pertama, nama itu karena disesuaikan dengan pakaian yang sering dipakai dalam kesehariannya yaitu gamis warna mirah tanah. Syaikh Maulana Maghribi menyapa Abdul Hasan dengan sebutan Si Lemah Bang (sesuai dengan pakaian merah tanah yang digunakannya). Karena pada waktu itu Abdul Hasan juga memakai Iqal yang mayoritas digunakan oleh para wali, maka sebutan tadi pun mengembang dengan sebutan “Syaikh” di depannya. Menjadi terkenallah Abdul Hasan dengan sebutan “Syaikh Lemah Bang”. Kemudian Raden Pati Unus yang hadir di perkumpulan wali itu memperhalus sebutan “Syaikh Lemah Bang” dengan boso kromo menjadi “Syaikh Siti Jenar”. Mulai saat itu, sebutan Syaikh Siti Jenar mulai terkenal (Hal. 42).

Kedua, konon katanya ada seorang wali yang sedang melakukan wejangan pada seorang santrinya di atas perahu. Ketika itu, mereka mengetahui bahwa ada lubang di perahunya sehingga ada rembesan air ayng masuk ke dalam perahunya. Kemudian mereka menambal dengan tanah lumpur, dengan tidak disadari oleh mereka, di lumpur tadi ada cacing merah yang menempel. Mereka melanjutkan wejangannya setelah dirasa aman. Tiba-tiba sang wali terhenyak karena merasa ada gangguan, seperti ada orang yang datang. Namun, dalam pandangan mata mereka tidak ada orang selain mereka berdua. Setelah melakukan pencarian melalui pengaktifan mata batin, sang wali menemukan sumber gangguan itu berasal dari cacing merah yang menempel di lumpur tadi.

Cacing tadi diminta oleh sang wali untuk menampakkan diri dalam wujud manusia. Maka cacing itu menampakkan diri dalam wujud manusia. Setelah itu sang wali bertanya kepada tentang apa yang diketahui dari pertemuan sang wali dengan santrinya. Ia mengaku tahu apa yang dilakukan oleh mereka berdua di atas perhunya. Mendengar ucapan manusia jelmaan cacing tadi sang wali lantas mengaku sebagai mruidnya yang tingkatannya sama dengan santrinya tadi. Sang wali kemudian memberinya nama dengan sebutan Siti Jenar, artinya manusia yang berasal dari cacing merah (Hal. 83).

Begitulah kisah tentang keberadaan Syaikh Siti Jenar. Namun, Argawi tidak hanya mengulas akan hal itu saja. Akan tetapi berbagai pemikiran keislaman Syaikh Siti Jenar yang ada kontroversi dengan para wali yang lain juga dipaparkan dengan lugas dan jelas. Sehingga kita sebagai pembaca mudah untuk memahami histori Syaikh Siti Jenar yang menjadi perbincangan masyarakat secara turun temurun.

Buku ini ditulis berdasarkan kontak langsung antara Argawi Kandito (penulis) dengan Syaikh Siti Jenar di alamnya sekarang. Dia mengklarifikasi apa pun yang dilakukannya selama hidup di dunia. Beberapa informasi awal yang dipahami masyarakat dijadikan kata kunci untuk melakukan klarafikasi olehnya. Hasil dari klarafikasi itulah yang ditulis oleh Argawi Kandito.

Secara garis besar buku ini mengisahkan masa kecil syaikh Siti Jenar, masa remajanya, masa menuntut ilmu, bagaimana ia meramu ajarannya, pokok-pokok ajaran dan pemikrannya, kendala-kendala yang dihadapi dalam kehidupannya hingga kematiannya. Data klarafikasi yang berasal dari pengakuan-pengakuannya kemudian dideskripsikan olehnya agar mudah dipahami oleh para pembaca.

Gaya penulisan buku ini sedikit berbeda denga buku-buku yang lainnya. Dalam buku ini pembahasannya berbentuk deskriptif. Meskipun demikian, teknik pengambilan data sama saja yakni melalui perjumpaan dengan nara sumber di alamnya secara kontak batin. Demikian pula, dan tujuannya pun sama yakni ingin berbagi informasi dari perjalanan spiritual yang dilakukan oleh penulis.

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab sekaligus jurnalis pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, Senin (10/8) dalam jumpa pers di kantornya menuturkan, bahwa pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah mempunyai peran yang sangat signifikan. Karena pengajaran agama tersebut turut menanamkan karakter kepada diri siswa.

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

“Bayangkan jika sekitar 50 juta siswa yang sedang belajar di madrasah dan sekolah ini pendidikan agamanya bersifat radikal, tentu negara ini akan mengalami kekacauan,” ujarnya di ruang jumpa pers, Kantor Kemenag lantai 7 Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Oleh sebab itu, menurutnya, pengajaran dan pendidikan Islam di sekolah harus dikemas semenarik mungkin agar peserta didik termotivasi untuk mendalami agama Islam yang baik dan benar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamaruddin menambahkan, bahwa salah satu instrumen untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik terhadap agama Islam, yaitu dengan menyelenggarakan Pentas PAI. Pentas ini tidak hanya mengakomodasi keterampilan seni siswa, tetapi juga mengolah pemahaman mereka selama di sekolah dengan lomba seperti cerdas cermat, pidato, debat, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dari kegiatan tersebut , nanti akan terlihat seperti apa pemahaman agama yang dimiliki oleh peserta didik. Media ini juga sebagai sarana peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dari sisi seni pendidikan Islam, seperti lomba kaligrafi, nasyid, tahfidz Qur’an, lomba kreasi busana, dan lain-lain,” paparnya.

Lebih jauh, Kamaruddin menjelaskan, potensi radikalisme di setiap sekolah pasti ada. Sebab itu, pendidikan dan pengajaran agama Islam yang menarik menjadi upaya yang penting untuk menanamkan pemahaman Islam yang damai.?

“Pendidikan Islam damai harus terus menerus kita ajarkan dan tanamkan kepada peserta didik, yaitu Islam yang berusaha menghargai dan menyadarkan kita sebagai warga negara,” terangnya.

Lomba Pentas PAI Nasional VII yang akan berlangsung 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi.

Adapun jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB).

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Dr Amin Haedari menyatakan, bahwa kepada para siswa yang juara pada kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah yang sangat menarik. “Kepada para juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III, Kemenag telah menyiapkan hadiah dan pengahargaan yang diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan mereka di bidang agama Islam,” ucap Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama mengintruksikan kepada pengurus Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang Pergunu untuk melakukan shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi yang meninggal Sabtu (11/3) dini hari.

berikut intruksi tersebut:

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Pimpinan Pusat Pergunu menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. (Wakil Ketua PP Pergunu. Berkaitan dengan wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. tersebut, PP Pergunu mengintruksikan kepada Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Anak Cabang Pergunu se-Indonesia agar menyelenggarakan shalat Ghaib dan Tahlil ditujukan untuk almarhum.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Surat dengan intruksi bernomor 109/PP Pergunu/3/2017, dikeluarkan 11 Maret 2017 tersebut ditandatangani Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim dan sekretaris Umum H. Gatot Sujono.

H. Akhsan Ustadhi wafat Sabtu dini hari (11/3). Menurut keterangan keluarganya yang dishare di media sosial, ia kecapekan beraktivitas. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 43 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anak. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Sholawat, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang penutupan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-9 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Bali yang mengagendakan 10 butir yang harus disepakati, ? tampaknya akan mengalami kebuntuan ketika berbicara tentang cadangan pangan atau tepatnya besaran subsidi dan masa keberlakuan yang disepakati.

Dalam kasus ini, hebat sekali sikap pembelaan India dalam pembelaan kepentingan rakyat miskinnya sekaligus mengatasnamakan negara berkembang.?

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya

Dalam kesempatan itu, draft awal yang ditawarkan oleh negara-negara maju adalah angka 10 persen dengan acuan harga 2008.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada sisi lain, India menancapkan sikapnya dengan nilai subsidi 15 persen dan masa berlaku tidak terbatas. Sikap India ini ditegaskan oleh Anand Sharma di KTM-9 tersebut dengan menegaskan bahwa cadangan pangan tidak bisa dinegosiasikan karena menyangkut kepentingan negara dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawaran kompromi Amerika Serikat yang menawarkan dengan angka 15 persen dan masa berlaku empat tahun, ditolak mentah-mentah oleh India yang berprinsip bahwa urusan itu tidak untuk dinegosiasikan. Keteguhan ini menunjukkan betapa konsisten dan kuatnya pemihakan Pemimpin India terhadap rakyatnya. Ini mengingatkan sikap Kamal Nath yg membuat Doha Round ini jalan buntu beberapa tahun lalu karena pernyataannya: “Im not risking for the livelihood of millions of farmers,” saya tidak mau ambil resiko dengan kesejahteraan jutaan petani.

Sebagai ormas keagamaan yang paling besar anggota petaninya di Indonesia, PBNU sungguh menghargai sikap pembelaan India yang sangat gigih.?

“Itulah harus seorang pemimpin dalam menjamin kemaslahatan jamaahnya,” kata ketua PBNU Prof Dr Maksum Mahfudh kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jum’at.?

PBNU sungguh menyayangkan sikap utusan tuan rumah, Pemerintah RI yang dalam hal ini dipimpin oleh Menteri Perdagangan, yang justru melawan sikap India karena harus melakukan negosiasi, melunakkan sikap India yang gigih melakukan perlindungan petani dan kedaulatan pangan bangsanya.

Sikap RI ini sungguh pantas dipertanyakan nasionalismenya karena jelas sekali kontra produktif terhadap amanat kedaulatan UU 18/2012 tentang Pangan, ? dan amanat perlindungan petani UU 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

“Dengan kasus KTM ke-9 ini, bisakah kita menyebut Pemerintah RI ini ternyata anti kedaulatan pangan dan anti perlindungan petani? Naudzu billah.”(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Petri Tuk Babon, Wujud Syukur Air Melimpah

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Di Masyarakat Lereng Merbabu, tepatnya di Desa Selo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten  Boyolali, Jawa Tengah, dikenal tradisi Petri Tuk Babon. Tradisi ini digelar sebagai wujud syukur warga setempat atas karunia sumber mata air, dan juga harapan agar tetap diberi air yang melimpah dan berkah.

Tuk berasal dari bahasa Jawa yang bermakna sumber mata air. Sedangkan Tuk Babon dapat dimaknai sebagai sumber utama. Dan memang pada kenyatannya, Tuk Babon ini menjadi sumber penghidupan yang selama ini digunakan oleh warga di empat desa, yaitu Selo, Desa Samiran, Lencoh, Suroteleng, dan sebagian Desa Genting Kecamatan Cepogo.

Petri Tuk Babon, Wujud Syukur Air Melimpah (Sumber Gambar : Nu Online)
Petri Tuk Babon, Wujud Syukur Air Melimpah (Sumber Gambar : Nu Online)

Petri Tuk Babon, Wujud Syukur Air Melimpah

Ketua adat setempat, Kasno Samiaji, menjelaskan tradisi juga erat kaitannya dengan Sejarah Keraton Surakarta, yakni legenda Goa Raja serta cerita tentang Paku Buwono VI yang mengalirkan air ke Pesanggrahan Ngendromarto dengan cara ditalang dengan kayu jati yang diambil dari Donoloyo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jangan sampai generasi muda di sini tidak tahu asal usul Tuk Babon, yang merupakan sumber penghidupan kita semua,” kata Samiaji, saat digelar prosesi Petri Tuk Babon, Kamis (19/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Upacara Tuk Babon dimulai dengan keliling desa yang di lakukan para pemuda desa setempat. Mereka membawa gunungan yang berisi hasil bumi seperti jagung, ketela dan aneka sayuran dan buah. Setelah keliling kampung, gunungan ini diarak menuju tuk babon yang terletak sekitar 1,5 kilometer di atas pemukiman warga.

Setelah sampai di lokasi, warga memanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang tokoh. Di akhir acara, warga mengadakan kegiatan makan bersama, di mana gunungan dan aneka jajanan yang dibawa kemudian dinikmati bersama. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Karanganyar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar menggelar syukuran harlah ke-62 IPNU dan ke-61 IPPNU. Syukuran sederhana dengan doa bersama dan dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng simbolis di kantor PCNU Karanganyar Jl. Gatot Subroto Karanganyar, Ahad (28/2).

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Ketua IPNU Karanganyar Muhammad Ilham Subkhan mengungkapkan peringatan harlah merupakan upaya untuk mengingat perjuangan dan mendoakan para pendiri IPNU-IPPNU.

?

"Kami selenggarakan acara harlah ini dengan sederhana, yang terpenting esensinya tercapai, yaitu mendoakan para pendiri IPNU dan semangat juangnya," ungkap Ilham.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga berharap semoga harlah ini sebagai momentum kebangkitan pelajar NU di Karanganyar sehingga keberadaanya semakin diperhitungkan.

Selanjutnya Ketua PCNU Karanganyar H Khuzaini Hasan dalam tausiyahnya meminta kepada pelajar NU untuk terus belajar, tapi belajar dengan guru yang jelas sanadnya.

"Putra-putriku yang ada di jajaran pengurus harus terus belajar, tapi belajar kepada guru yang jelas gurunya," jelas Khuzaini.

"Kalau belajar tanpa guru atau guru yang tidak jelas, itu bisa berbahaya dan kita bisa tersesat," tambahnya.

Selain itu, ia berpesan kepada pengurus IPNU-IPPNU untuk berani menyuarakan paham Aswaja an-Nahdiyyah di daerah Karanganyar, karena sebagian dari masyarakat Karanganyar belum mengenal NU. (Ahmad Rosyidi/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Panitia memastikan pelaksanaan Konferensi PWNU DKI Jakarta tidak berkaitan dengan Pilgub DKI Jakarta yang mulai ramai dibicarakan publik. Konferensi ini diarahkan lebih kepada pembaruan program dan penyegaran kepengurusan PWNU DKI Jakarta.

Demikian dikatakan Ketua Panitia Konferensi PWNU DKI Jakarta Mastur Anwar kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Kamis (17/3).

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub

“Tidak bisa disalahkan kalau orang memberikan analisa seperti itu. NU besar dan ada potensi ke sana. Tapi sebagai pihak yang punya tanggung jawab, tidak akan pembicaraan Pilgub DKI,” tambah Mastur.

Konferwil PWNU DKI Jakarta akan berlangsung 25-27 Maret 2016. Pembukaan konferensi bertempat di Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Sebanyak 300 orang diperkirakan akan hadir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Adapun pelaksanaan sidang-sidang diagendakan bertempat di Gedung Museum Listrik dan Energi Baru, TMII. Konferensi ini akan dihadari oleh enam PCNU di mana masing-masing cabang mengirimkan tujuh perwakilannya.

Konferensi ini diadakan dengan beberapa agenda di antaranya laporan pertanggungjawaban PWNU DKI Jakarta periode 2011-2016, memilih kepengurusan baru, dan juga akan membahas program kerja lima tahun mendatang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mastur menuturkan, salah satu program kerja yang akan ditekankan adalah penguatan konsolidasi organisasi, keagamaan, dan kemasyarakatan. Hal ini merupakan prioritas NU di Jakarta karena terkait dengan upaya menjaga nilai-nilai ahlusunah wal jama’ah.

Penguatan organisasi juga akan memperkuat NU di masyarakat DKI Jakarta. Mastur kurang sependapat bila ada anggapan bahwa PWNU DKI Jakarta kurang aktif. Ia meyakini tidak ada stagnasi internal di PWNU DKI Jakarta.

Ditanya bagaimana PWNU DKI Jakarta menghadapi tantangan-tantangan yang berkembang terutama dari kelompok-kelompok yang berbeda dengan NU, Mastur menjawab apa pun yang ada di Jakarta rata-rata orang NU tidak terpengaruh dengan organisasi lain. Jadi warga tidak melibatkan diri ke ormas lain karena mereka kuat menjaga ke-NU-annya. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ahamduillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jum’at berjama’ah. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. semoga ketaqwaan itu bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surga.

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahawat (hal-hal yang menyenangkan manusia).”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. yang menganugerahkan keamanan dan? keselamatan atas bangsa Indonesia ini, tepatnya setelah melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada 15 Februari yang lalu. Sebagai bangsa yang hidup berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keamanan dan? keharmonisan ini haruslah disykuri bersama-sama dengan cara terus menjaga dan meningkatkan rasa kepekaan sosial antar sesama, karena inilah saha satu hal penting yang terbukti mampu melahirkan kebersamaan dan keamanan di tengah perbedaan. Inilah sukses kita semua, sukses bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam

Para hadirin jamaah jumah rahimakumullah,



Sukses besar bangsa ini dalam melaksanakan hajatan demokrasi menunjukkan kepada dunia bahwa jalinan kemanusiaan, ukhuwah insaniyah atau humanisme dalam jiwa bangsa Indonesia adalah sesuatu yang nyata bukan sekadar wacana. Sesuatu yang telah terjadi dalam realitas kehidupan sosial (al-madhahir al-ijtimaiyyah), bukan sekedar teori di dalam tumpukan buku. Hal ini membuktikn bahwa ajaran tentang kemanusiaan dalam diri umat Islam di Indonesia telah lebih dulu hadir sebelum kata humanisme itu sendiri. Sehingga Indonesia dengan umat Islamnya yang bersuku-suku dan berbeda-beda bahasa, patut menjadi contoh bagi negra-negara lain yang sedang mencari jati dirinya.

Di sisi lain, kenyataan ini menunjukkan kepada kita akan kebesaran muslim Indonesia yang memiliki kemampuan merubah segala konsep dan pemikiran yang datang dari luar untuk disesuaikan dengan realitas keindonesiaan yang ada di sekitar. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan ijtihad para ulama dan cendekiawan muslim yang selalu berusaha meramu berbagai pemikrian dan ideologi yang menyerbu bangsa ini. Para ulama dan cendekiawan muslim itu adalah penjaga (the guardian) yang menginginkan bangsanya tetap berkarakter. Dengan pengetahuan keislaman yang membumi, para ulama itu memeras segala yang datang dari Dunia Barat untuk diambil sari kebaikannya dan membuang remah-remah keliberalan yang tak sesuai nilainya dengan karakter ketimuran. Demikian pula dalam menghadapai pemikiran yang datang dari Dunia Arab, para ulama Indonesia? hanya memilah konsep-konsep yang dapat menyempurnakan keislaman di Indonesia dan menghalau unsur-unsur fundamentalis yang tidak sesuai dengan nilai keislaman di Indonesia.

Jamaah jumah yang dirahmati Allah,

Demikianlah sungguh besar karunia Allah terhadap bangsa Indonesia ini. Begitu besarnya karunia itu sehingga seringkali menutupi mata batin kita untuk bersyukur kepada-Nya. Bahkan besarnya karunia itu menjadi sumber kesombongan diri dengan menyatakan sebagai pihak yang paling memiliki andil paling banyak dalam keamanan dan ketertiban. Tentunya kita sebagai umat muslim yang sadar diri hendaknya menghindar dari sifat-sifat buruk yang demikian. Karena sifat-sifat buruk itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan merugikan sesama umat muslim lainnya.

Sebagai sebuah sistem pemilihan pemimpin, pilkada yang telah lalu akan menghasilkan para pemimpin masa depan. Sebentar lagi akan diikhbarkan kepada kita semua, siapakah yang berhak menjadi pemimpin dan siapa pula yang terbukti mendapat amanah lebih banyak dari masyarakatnya. Pastilah akan banyak kekecewaan, karena tidak mungkin yang terpilih mengantongi 100 persen suara pemilih. Olah karena itu, bagi para pemilih yang kecewa, harus yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana tersendiri. Rencana Agung untuk kemajuan bangsa. Rencana terbaik untuk bangsa yang mayoritas penduduknya adalah hamba-hambanya yang taat dan beriman semuanya. Selaku kelompok yang tersisih tidak seharusnya putus asa. Sebagaimana Usaha Nabi Musa melawan Firaun yang mencapai kesuksesannya setelah empat puluh tahun berusaha dan berdoa.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak putus asa setelah gagal memasuki kota Makkah pada tahun 6 Hijriyah setelah di tahan dan diusir kembali bersama 1500 umat Islam Madinah. Sebuah kejadian yang dramatis menimpa Rasulullah yang telah merindukan kampung halamannya, dan segenap umat muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Walaupun hal itu telah diinformasikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpinya. Ternyata semua rencana tidak dikabulkan Allah SWT, karena Allah SWT telah memeiliki rencana lain yang jauh lebih dahsyat, tentang Fathu Makkah.? Begitulah kegagalan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 27.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

Hadirin Jamaah jumah yang dimuliakan Allah

Seringkali Allah SWT menunda keberhasilan dari hamba-Nya, karena telah menyiapkan rencana lain yang lebih agung nilainya. Meskipun seringkali penundaan itu sangat menyakitkan. Sebagaimana yang dirasakan sahabat Umar dalam mengomentari kegagalan Umat Islam memasuki kota Makkah yang diungkapkan kepada Rasulullah SAW? "Ya Rasullah bukankah Engkau telah memberi kabar bahwa kita akan memasuki kota Makkah?" Demikian kekecewaan itu adalah manusiawi. Kemudian Rasulullah SAW menjawab "apakah aku mengatakanmu pada tahun ini?" Umar berkata "tidak". Lalu Rasulullah SAW berwasiat "sungguh engkau akan memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf di sana, maka eratkan tanganmu (kekuatan keyakinanmu) wahai saudaraku, untuk membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu, perbaiki prasangkamu pada Allah dan para kekasih-Nya terutama pada gurumu, hindarilah perasaan bohong dan ragu-ragu dengan nabimu agar tidak menjadi cacat di mata hatimu dan tidak menjadi sebab kebutaan mata hatimu dan juga tidak memadamkan cahaya rahasia bathinmu.

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terhadap Sayyidina Umar ra. Sebenarnya adalah satu fragmen yang menggambarkan betapa manusia seringkali berharap kepada Allah SWT dan seringkali harapan itu tidak mendatkan balasannya, sehingga kecewa dan merasa putus asa. Sebagaimana lumrahnya sebuah doa yang lama sekali tidak terkabulkan. Inilah yang dibicarakan dalam Al-Baqarah 216:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Demikianlah khotbah singkat ini semoga dapat memberi inspirasi untuk diri khatib khususnya, dan semua jamaah pada umumnya.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Ulil Hadrawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.

Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tegal, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nasional, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekitar 40 hafidz dan hafidzah nampak berkumpul di Pendopo Pringsewu mengadakan semaan Al-Qur’an bil ghoib. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong datangnya tahun baru Hijriyah 1437 H yang jatuh pada Rabu (14/10/15) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu.

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut 1 Suro, Pemda Pringsewu Adakan Semaan Qur’an

Kegiatan ini juga merupakan kerjasama Pemda Pringsewu dengan Jamiyyatul Quro wal Huffadz NU (JQH NU) Kabupaten Pringsewu yang merupakan Badan Otonom Nahdlatul Ulama yang menaungi para penghafal Qur’an di Kabupaten Pringsewu.

Menurut Ketua JQH NU Kabupaten Pringsewu Jumangin, kegiatan ini merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan rutin oleh JQH.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami sangat mengapresiasi Pemda Pringsewu yang telah menyelenggarakan acara positif ini," Kata Jumangin disela sela kegiatan, Selasa ( 13/10/15 ).

Dalam kesempatan tersebut, nampak warga masyarakat umum mendengarkan dan menyimak lantunan bacaan Qur’an dari para khafidzoh. Selain masyarakat umum, beberapa pegawai negeri di lingkungan Pemkab Pringsewu juga ikut serta menyimak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah semaan Qur’an dilaksanakan, pada malam harinya diadakan istighotsah kubro yang akan berdoa bersama dengan mendatangkan para kiai dan tokoh agama dan masyarakat di Pendopo Pringsewu. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Tegal, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nabi Muhammad SAW bersabda tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Hadits ini disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri saat menjadi Khotib Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (27/10).

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini memang pendek tapi memiliki arti yang cukup luas. Pentingnya persatuan dan kesatuan bagi hidup berbangsa dan bernegara. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Berdamaian satu sama lain harus terus dilakukan. 

"Itu semua tidak akan teralisasi kalau tidak ada rasa kecintaan kepada seksama, ini yang pertama," tegas Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Kedua, keimanan tidak akan kokoh kecuali menghindari rasa dendam, rasa iri dan rasa dengki. Tapi dia harus memikirkan untuk orang lain dan mencintai orang lain. Ketiga, keimanan akan sempurna apabila kalian peduli terhadap sesama manusia, mencintai manusia kepada siapapun termasuk non-muslim.

Keempat berlombalah dalam mendapatkan kebaikan. "Ini adalah bagian kesempurnaan dari iman, sikap seperti ini merupakan bukti keimanan sesorang," terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelima, masyarakat harus memiliki hati yang bersih dan berwibawa. Hendaklah sesama muslim mendorong agar senantiasa berusaha membantu orang lain. kehidupan ini ibaratkan tubuh manusia, jika ada anggota tubuh yang sakit, niscaya anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan kesakitan.

"Ini bukti kesempurnaan dan mampu menciptakan manusia yang harmonis," ungkapnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banda Aceh memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan santunan anak yatim yang dilaksanakan di Rumah Budaya.

Menurut Ketua PC PMII Kota Banda Aceh Akmaluddin, acara yang berlangsung , Ahad (12/2) tersebut diadakan untuk menunjukkan kepedulian PMII terhadap tradisi islami yang mesti dipertahankan dan dipelihara secara berkesinambungan.

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Pada peringatan tersebut, kata dia, PMII dapat memetik teladan Rasulullah dengan menjadi generasi yang hebat, yaitu generasi pecinta Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam kesempatan ini PMII Kota Banda Aceh dalam acara silaturahim baik kader, senior dan alumni juga menghadirkan anak yatim piatu dengan memberikan sedikit sumbangan dari PMII Kota Banda Aceh," ungkap Akmal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Kota Banda Aceh, Tgk.Asnawi M.Amin mengaharapkan kegiatan yang mulia ini harus selalu dilakukan. Hal itu? bukti jiwa pecinta Rasulullah SAW dalam menegakkan pergerakan bagi para kader PMII.

Acara bertema "Generasi Hebat, Generasi Cinta Rasulullah SAW" dihadiri KNPI Kota Banda Aceh, OKP se-Kota Banda Aceh, BEM Universitas se-Kota Banda Aceh dan juga Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriyah PCNU Kota Banda Aceh Tgk. H. Muhibban H.M.Hajat. (Fauzan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Tegal, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kebendaharaan dan Kesekretetariatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan rapat koordinasi penerapan manajemen satu pintu. Acara berlangsung di Lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat Jumat (27/5) sore dihadiri perwakilan pengurus pusat badan otonom (banom) dan lembaga NU.

Wakil Bendahara PBNU Umar Syah HS mengatakan kebendaharaan dan kesekretariatan adalah dua elemen penting untuk NU dan struktur yang berada di bawahnya. Kedua elemen ini menjadi motor penggerak organisasi.

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga

Agar organisasi berfungsi secara optimal, lanjut Umar, diperlukan ketentuan atau tatanan yang jelas yang tidak? hanya dipahami oleh elemen kebendaharaan dan kesekjenan, tetapi juga oleh semua pihak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aturan itu juga harus dipahami semua pihak dan baru berjalan ketika dituangkan dalam Standar Operasional (SOP) dan Peraturan Organisasi (OP) yang perlu disosialisasikan. Target sosialisasi ini adalah pemahaman dan semangat serta kemauan banom untuk menjalankannya. Bila diterapkan oleh semua pihak, maka roda organisasi akan berjalan dengan baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejauh ini, SOP sudah diberlakukan dan bisa menjadi Peraturan PBNU setelah dilakukan pembahasan dan diputuskan dalam konferensi besar PBNU.

Manajemen satu pintu bagi banom NU melalui kesekretariatan dan kebendaharaan. Dalam hal administrasi dalam kaitan antara internal dan eksternal banom, seluruh surat menyurat harus melalui Kesekjenanan.

Demikian juga dalam keuangan atau penggalian dana harus melalui bendahara. Uang masuk harus melalui bendahara, uang keluar juga melalui bendahara sehingga terkontrol dengan baik.

Manajemen satu pintu hendaknya tidak disalahartikan, karena kebijakan tersebut bukan berarti seluruh banom dikuasai oleh Kesekjenan dan Kebendaharaan. Pemberlakukan manajemen satu pintu bermakna bahwa secara manajemen semua harus masuk di dalam sistem.

Senada dengan hal di atas, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ir Suwadi D. Pranoto mengungkapkan salah satu agenda penting dalam rapat koordinasi ini adalah sosialiasi kaderisasi masing-masing lembaga agar tidak ada materi yang overlap atau belum ada, supaya dari sisi pembiayaan dan waktu tidak tumpang tindih. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 12 November 2017

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Magelang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sinar Mentari pagi yang cerah menyambut ribuan guru yang mulai berdatangan ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Magelang, Sabtu 19 September 2015. Mereka menggunakan kaos putih berlengan hijau bertuliskan "Saatnya Maarifku bangkit" ini hendak mengikuti jalan sehat yang digelar pengurus Cabang LP Maarif NU Kabupaten Magelang dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-56 Lembaga Maarif NU.?

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Kegiatan dengan melibatkan ribuan pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan NU tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan sikap perjuangan dan pengorbanan untuk Nahdlatul Ulama, menyehatkan badan juga ? mengingatkan masyarakat tentang hari lahir Lembaga Maarif yang notabene mengurusi bidang pendidikan Nahdlatul Ulama.

Bambang Ardiansyah, ketua Maarif NU Magelang mengatakan kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Lembaga Maarif siap menerima amanah membantu mencerdaskan anak bangsa dalam bingkai Islam Ahlusunnah wal Jamaah sehingga ? diharapkan warga NU menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah maupun madrasah di bawah naungan Lembaga Maarif agar terhindar dari doktrinasi paham dan aliran sesat yang dalam beberapa tahun ini meluas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak para guru bersemangat mengajar agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ribuan guru ? sejak pukul 07.00 WIB sudah mulai berdatangan, dan memenuhi parkiran kantor PCNU dan sekitarnya. Acara sendiri dimulai jam 08.00 WIB dengan start dan finish di halaman kantor tersebut.

Jalan sehat yang dilepas oleh Wakil Bupati Magelang tersebut mengambil rute mengelilingi desa Bojong kecamatan Mungkid kurang lebih sejauh 3 km. Diakhir acara panitia membagikan ratusan doorprize dan sebagai hadiah utama berupa TV LED, sepeda, kompor gas dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah sidang itsbat, alunan takbir menggema bersama iringan terbangan hingga jam 10 malam di halaman sekretariat PCINU Sudan. Kumandang takbir sebanyak 112 warga NU di Sudan menjadi penanda bahagia mereka menyambut Hari Raya Idul Fithri 1436 H.

Jum’at (17/7) pagi, hari kemenangan pun tiba. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di hari yang fitrah itu. Mereka berkumpul di aula wisma PCINU Sudan. Acara open house lalu dibuka setelah pelaksanaan shalat sunah Idul Fithri di wisma duta besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea.

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Menurut H Lian Fuad, organisasi yang paling tampak, aktif, dan ramai dari dulu sampai sekarang di Sudan tidak lain dan tidak bukan hanya PCINU Sudan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini merupakan nilai plus. Saya harap hal ini masih tetap bertahan seterusnya,” kata Dubes RI untuk Sudan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selama Ramadhan, PCINU cukup aktif mengadakan pelbagai kegiatan. Mereka membuka pengajian Risalah Ahlussunnah di sekretariat PCINU Sudan. Mereka juga menyelenggarakan tadarus Al-Qur’an setiap usai shalat Tarawih.

Mereka mengakhiri Ramadhan dengan khataman akbar Al-Quran sesaat sebelum berbuka di malam hari raya Idul Fithri 1436 H. Mereka lalu menutup Ramadhan dengan buka puasa bersama. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Daerah, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Pariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus didorong untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan yang dapat meningkatkan penguatan nilai-nilai Islam moderat yang berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Penguatan ini semakin penting dirasakan mengingat makin kuatnya tantangan yang dihadapi kader PMII di tengah pergulatan pemikiran global.

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Ketua Umum PKC PMII Sumatera Barat Afriendi mengungkapkan hal itu pada puncak Harlah PMII ke-54 di PC PMII Kota Pariaman yang berlangsung, Kamis (17/4/2014) malam di sekretariat PCNU Kota Pariaman, Desa Simpang , Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Hadir Sekretaris Tanfizdiyah PCNU Kota Pariaman Muhammad Nur, MA, Bendahara PW GP Ansor Sumbar Armaidi Tanjung, Ketua Umum PC PMII Kota Pariaman Satria Effendi, Ketua PC PMII Kabupaten Padangpariaman Rodi, Mabincab PMII Kota Pariaman Ory Sativa Sakban, mantan Ketua Umum PMII Kota Pariaman Hendri dan Idris.

Menurut Afriendi, upaya yang harus dilakukan kader PMII dalam meningkatkan penguatan nilai-nilai Aswaja adalah melakukan kegiatan lebih banyak di pondok pesantren. Artinya, kader PMII harus lebih dekat dengan para ulama yang menjadi panutan di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kader PMII ke depan yang diharapkan adalah yang memiliki kekuatan Aswaja dan kepemimpinan. Kekuatan Aswaja ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan di pondok pesantren, selain melalui pengkajian, diskusi dan pendalaman nilai dasar perjuangan (NDP). Sedangkan kekuatan kepemimpinan dibentuk melalui kekuatan organisasi. Dimana kader berproses di PMII ini,” kata Afriendi yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat ini.

Afriendi juga menambahkan, sudah saatnya kader PMII memperbanyak zikir. Jangan hanya aksi di lapangan seperti demo, bakti sosial dan sebagainya. “PMII harus memiliki karakter tersendiri. Kehadiran PMII hendaknya sesuai dengan misi kelahiran PMII 54 tahun lalu,” kata Afriendi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terkait dengan pelaksanaan Pemilu 9 April lalu, Afriendi menilai masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan masih banyaknya masalah yang ditemui saat pelaksanaan pemunggutan suara. Diantara masalah yang ditemui, adanya kertas suara yang tertukar satu daerah pemilihan dengan daerah pemilihan lain, pencoblosan ramai-ramai oleh pihak tertentu, dan banyaknya indikasi money politik (politik uang) yang dilakukan caleg.  

PMII yang tergabung dalam Kelompok Cipayung, turut mendukung pelaksanaan Pemilu 9 April yang bersih, jujur, aman dan mendorong tingkat partisipasi pemilik. Namun upaya yang dilakukan baru sebatas himbauan dan ajakan di media massa agar semua pihak dapat menjalankan peran masing-masing sehingga pelaksanaan Pemilu 9 April berjalan lancar, aman, tertib dan sesuai dengan undang-undang.

PMII sangat prihatin adanya gejolak pasca Pemilu 9 April. Baik protes tim sukses caleg yang berujung dengan tindakan kekerasan, pembakaran kantor penyelenggara Pemilu karena tidak menerima kekalahan sebagai caleg,  sampai adanya caleg yang mengalami gangguan jiwa hingga masuk rumah sakit jiwa, kata Afriendi.

Dikatakan Afriendi, agenda Pemilu 2014 yang di depan mata adalah pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres). Pada Mei 2014 sudah mulai pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Kader PMII di semua tingkatan diminta untuk turut mengawal pelaksanaan pilpres sehingga dapat berjalan lancer. Kader PMII harus berperan aktif menyukseskan Pilpres tersebut,” kata Afriendi. (Armaidi Tanjung/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Ulama, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko

Kerajaan Maroko atau dikenal dalam bahasa Arab? “Mamlakah Maghribiyah” merupakan salah satu negara berpenduduk mayoritas Muslim. Seorang panglima pada kekhalifahan Bani Umayah bernama Uqbah bin Nafi’ membawa Islam ke tanah ini pada 680 M.

Negara yang terletak di sebelah barat Afrika yang memiliki garis pantai panjang dari Selat Giblartar hingga Laut Tengah ini memiliki tradisi dan budaya yang sedikit berbeda dari Indonesia, termasuk kala Ramadhan seperti sekarang ini.

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko

Selain kebanyakan penduduknya yang menganut madzhab Maliki, penetapan 1 Ramadhan warga di sana selalu menunggu keputusan dari Raja sehingga perbedaan waktu memulai puasa pun tidak terjadi. Raja atau amirul mukminin juga menyerukan kepada semua warganya untuk mengikuti satu madzhab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lama puasa di Maghrib (Maroko) kurang lebih 16 jam,? dimulai dari pukul? 04.00 sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat. Artinya, durasi tersebut dua jam lebih lama dibandingkan puasa di Indonesia. Tahun ini penduduk Muslim negara yang terkenal dengan negeri seribu benteng ini menjalani puasa bertepatan dengan musim panas.

Menu berbuka puasa yang disajikan juga tak kalah menarik. Saat berbuka mereka biasanya menghidangkan satapan khusus harirah, sup khas Maroko yang selalu disajikan dalam keadaan hangat.

Harirah biasanya ditambah dengan telur, tepung, roti, daging, atau sayuran dengan variasi berlimpah ruah. Disusul dengan halawiyat (makanan manis-manis) seperti kurma, baghir (pancake Maroko), syabbakia (wafer yang dilapisi madu dan mentega), dan diakhiri dengan macam-macam minuman, seperti susu, kopi, atau teh mint khas Maroko.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seperti umat Islam di Indonesia, setelah shalat isya mereka bergegas meninggalkan santapannya dan menunaikan shalat tarawih, mereka berbondong-bondong dengan menggunakan jallaba (pakaian khas) Maroko. Di Maghrib kita tidak akan menemukan seseorang mengenakan sarung ataupun mukena ketika shalat.

Hal lain yang membedakan secara umum adalah bacaan dalam shalat. Imam di sana membaca bacaan surat lebih panjang sekitar 1 juz. Imam Masjid di Maroko wajib seorang hafidz (penghafal al-Qur’an) dan telah mendapatkan SK (Surat Keputusan) dari Raja.

Shalat tarawih mereka berlangsung dalam dua putaran, yaitu 8 rakaat setelah shalat isya dan dilanjutkan menjelang adzan subuh. Karena setelah shalat tarawih kebanyakan dari mereka melanjutkan santapan buka puasa dengan menu-menu khas Maghrib yang lainnya.

Penduduk Maghrib sangat menghormati Bulan Ramadhan karena selama bulan suci ini jam kerja hanya dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 12.00 dan dibuka kembali seusai shalat tarawih hingga pukul 00.00.

Kita juga akan menemukan sedikit restoran, toko atau supermarket? yang buka selama bulan Ramadhan. Hal yang unik pun terjadi ketika menjelang buka puasa sampai seusai shalat maghrib. kita tidak akan menemukan kendaraan apapun, sekalipun angkutan umum yang beroperasi. Jadi, pada waktu itu seluruh jalan diselimuti dengan ketenangan.

Pengirim:

Ummu Samhah Mufarrihah, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; sedang mengenyam pendidikan bahasa arab secara intensif selama 3 bulan di Qolam Wa Lawh, Rabat, Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 07 Oktober 2017

Kiai Sahal: Menipu yang Dimodernisasi

Dalam sebuah acara di Bangil, tahun 1990-an, Kiai Sahal Mahfudh bicara tipu-tipu, ngapusi dalam bahasa Jawa, Bohong bahasa lainnya. "Saya harapkan, jangan mau ditipu-tipu," kata Kiai Sahal.

Ia mengingatkan, ngapusi atau bohong jaman sekarang macam-macam caranya. "Ada yang dengan cara moderen ada yang secara halus," Kiai Sahal mencoba memetakan jenis ngapusi.

Kiai Sahal: Menipu yang Dimodernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Menipu yang Dimodernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Menipu yang Dimodernisasi

"Kita harus hati-hati, terutama menipu yang dimodernisasi," Nasehat Kiai Sahal. Hehe.. Ada-ada saja Pak Kiai ini, masa urusan tipu-menipu kok modernisasi, kaya mesin ketik saja?

Tapi mungkin benar juga, karena banyak penipu berbaju safari, banyak koruptor bersekolah tinggi. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock