Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Banyuwangi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kesekian kalinya Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZIS) MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan hasil donasi kepada para korban banjir dan tanah longsor di Pacitan yang menelan banyak korban. Dikumpulkannya donasi tersebut melalui program Koin Bakti NU yang dijalankan sejak bulan Mei 2017.

Secara simbolis bantuan dana sebesar Rp 500 ribu dan pakaian layak diberikan oleh sekretaris MWCNU Kecamatan Banyuwangi Nano Hermawan kepada Sekretaris PCNU Kabupaten Banyuwangi Guntur Al-Badri di Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (4/12) pagi.

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Nano berharap semoga dengan sedikit bantuan yang berhasil dikumpulkan ini dapat meringankan beban yang dihadapi oleh warga Pacitan.

"Kita hanya dapat berusaha semaksimal mungkin apa yang kami bisa. Sebagai rasa turut belasungkawa atas musibah di sana. Betapa saya turut rasakan kepedihan batin yang mendalam, ketika melihat mereka kehilangan keluarga, saudara, sampai harta benda," tutur Nano.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan, seketika pengurus berusaha semaksimal mungkin untuk penggalangan bantuan dana di kepengurusan setempat.

"Alhamdulillah saya mengucapkan banyak terima kasih dengan hadirnya program koin bakti NU yang digagas oleh LAZIS ini dapat dirasakan hasil pengabdiannya. Karena itu, saya apresiasi atas konsistensi dedikasi pengurus LAZIS sejauh ini. Semoga dengan berjalannya waktu, jumlah donatur dapat terus ditingkatkan untuk berdonasi setiap bulan," tutup Nano.

Guntur Al-Badri mengatakan, sejauh ini dari pengurus cabang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 13,67 juta beserta pakaian layak dan obat-obatan.

"Data bantuan ini berhasil dikumpulkan dari seluruh MWCNU se-Kabupaten Bayuwangi beserta badan otonomnya. Tentunya ini akan terus bertambah," jelas Guntur.

Deadline kami bantuan akan ditutup saat prosesi pemberangkatan di Pacitan tanggal 5 Desember 2017 esok. Semoga ini menjadi keberkahan dan dijauhkannya kita semua dari segala malapetaka, harap Guntur. (M Sholeh Kuriawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Fragmen, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun

? ? ? ? ? ?

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq. 

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim. 

Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.

 

Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? 

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

? ? ? ? ? ? ? 

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya. 

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

? ? ? ? ? ?

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)





Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang didampingi oleh ketua PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen dan Ketua PP Fatayat Anggia Ermarini melantik kepengurusan cabang istimewa NU Malaysia, Pagar Nusa dan Fatayat periode 2017-2020, Ahad (24/9) di Dewan Sulaiman Kuala Lumpur. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan KBRI untuk Malaysia dan warga NU yang ada di Malaysia.

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Ketua Pertubuhan Malaysia Ustadz Ahmad dalam sambutannya mengatakan, NU Malaysia berserta Banomnya merupakan organisasi yang telah sah di Malaysia karena telah didaftarkan secara resmi di Malaysia serta diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai organisasi pertubuhan NU Malaysia. 

 

Dalam kesempatan itu, Ketum PBNU memberikan ceramah sekaligus memberi arahan kepada pengurus NU dan Nadliyin untuk memahami sejarah NU serta mampu memberikan pemahaman maupun meningkatkan praktik amaliyah ibadah yang menjadi tradisi kuat di tubuh NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga menegaskan bahwa NU berkomitmen mempertahankan negara Indonesia sebagai darussalam (negara damai) bukan negara darul Islam. 

“Sebaiknya nanti tetap kembali ke Indonesia untuk membangun daerahnya masing-masing dan berbakti untuk bangsa,” pesan Kiai Said.  

Kepengurusan PCINU Malaysia yang digawangi oleh Ustadz Ihyaul Lazib, Ketua PCI Fatayat Rizki Makiyyah, dan Ketua PCI Pagar Nusa Malaysia Mohammad Zakki berserta jajaran kepengurusannya berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah serta tentunya menjadikan NU bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di Malaysia. (Wahyu Hidayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama mengintruksikan kepada pengurus Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang Pergunu untuk melakukan shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi yang meninggal Sabtu (11/3) dini hari.

berikut intruksi tersebut:

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Intruksikan PW, PC, dan PAC Shalat Ghaib untuk H. Akhsan Ustadhi

Pimpinan Pusat Pergunu menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. (Wakil Ketua PP Pergunu. Berkaitan dengan wafatnya Bapak H. Akhsan Ustadhi, SH, MA. tersebut, PP Pergunu mengintruksikan kepada Pimpinan Wilayah, Cabang, dan Anak Cabang Pergunu se-Indonesia agar menyelenggarakan shalat Ghaib dan Tahlil ditujukan untuk almarhum.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Surat dengan intruksi bernomor 109/PP Pergunu/3/2017, dikeluarkan 11 Maret 2017 tersebut ditandatangani Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim dan sekretaris Umum H. Gatot Sujono.

H. Akhsan Ustadhi wafat Sabtu dini hari (11/3). Menurut keterangan keluarganya yang dishare di media sosial, ia kecapekan beraktivitas. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 43 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anak. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Sholawat, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Probolinggo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri melakukan jalan santai bersama seribu perempuan Kota Probolinggo, Senin (27/7). Kegiatan dalam rangka pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Probolinggo itu dimulai dari Pesantren  Raudlatul Muta’allimin di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih.

Jalan santai dilepas Menteri M. Hanif Dhakiri didampingi istrinya Hj. Marifah Hanif Dhakiri sekitar pukul 06.00 WIB. Rencana awal, menempuh rute sekitar 2 kilometer dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin menuju GOR Mastrip dan finish kembali di pesantren yang sama, berubah haluan. Mereka memilih rute dengan start dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin ke utara menuju Pasar Sapi Jrebeng Kidul dan belok kanan menuju Jalan Ir. Sutami dan belok kanan di Pasar Wonoasih serta finish di tempat asal.

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

“Bapak Menteri menginginkan rute jalan santai bisa bertatap langsung dengan masyarakat sekaligus bisa blusukan,” ujar Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara itu, Menteri Hanif Dhakiri bersama istrinya yang didampingi Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana dan Sekretaris PP Fatayat NU Anggi Maharani terlihat antusias mengikuti jalan santai. Usai jalan santai, Menteri Hanif melakukan dialog dan sosialiasi penempatan tenaga kerja dalam negeri atau luar negeri kepada peserta jalan santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hanif menegaskan, pihaknya menyetop dan melarang pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Sebab, perlindungan dan gaji jadi TKI di Timur Tengah, sangat minim.

“Berbeda di Asia Pasifik, perlindungan dan gajinya cukup baik,” ujarnya didampingi Dirjen Binapentasker Hery Sudarmanto, Direktur PTKDN Wisnu Pramono, Direktur PTKLN Guntur Wicaksono dan Direktur PTKS Erna Novianti.

Meski begitu kata Hanif, tak semua TKI yang di Timur Tengah dilarang. Larangan ini khusus pembantu rumah tangga. Sedangkan, bila bekerja di mal atau rumah sakit, masih boleh. Katanya, ke depan pihaknya akan terus memperbaiki pelayanan TKI. “TKI harus dipersiapkan keterampilan dan skill-nya. Sehingga, performa kerjanya lebih baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam negeri, Hanif mengaku pihaknya mempunyai program Three in One. Yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Masyarakat yang belum bekerja bisa dilatih, setelah itu diberi sertifikat dan ditempatkan. Salah satu upayanya adalah melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Di samping itu, Menteri juga menghapus persyaratan minimal harus berijasah SMA bila hendak masuk BLK. Menurutnya, siapa pun yang ingin belajar bisa langsung ke BLK. Tak peduli yang lulus SD atau SMA. Semua harus diberi kesempatan. Langkah ini agar masyarakat yang tak punya ijazah, punya kesempatan untuk belajar. Sehingga, punya kompetensi.

“Sementara kami juga mendorong para pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) untuk menempatkan syarat lowongan bukan pada ijazah. Tapi, berdasar kompetensi yang dimiliki. Misalnya, pabrik garmen. Yang dicari, ya orang yang bisa menjahit, tidak berdasar lulusan SMA,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Makam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Internasional, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Surabaya,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tujuan diselenggarakannya kegiatan seminar internasional yang dilanjutkan dengan daurah nasional Aswaja murni demi meneguhkan akidah sebagai identitas Islam Nusantara. Tidak ada tujuan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan serta tujuan politis yang lain.

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Hal itu disampaikan Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis saat memberikan sambutan pada seminar Rabu (23/12) pada seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Seminar menghadirkan narasumber para ulama dan akademisi dari Malaysia dan Indonesia.

"Berdasarkan amanat Muktamar NU di Makassar serta rekomendasi dari Konferensi Wilayah NU Jawa Timur bahwa keberadaan Ahlus Sunnah wal Jamaah harus diteguhkan keberadaannya," kata dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Aalagu secara kasat mata telah banyak pendangkalan dan rongrongan bagi Aswaja di sejumlah kawasan, lanjutnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu keberadaan seminar internasional yang dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama dengan kontingen Malaysia, sebagai bagian dari implementasi dari amanah tersebut. Dan pada kegiatan selanjutnya yakni hingga Jumat (26/12) diselenggarakan daurah Aswaja tingkat nasional yang menghadirkan peserta dari seluruh PWNU se Indonesia.

"Jadi kegiatan yang diselenggarakan hari ini hingga Jumat mendatang adalah murni kaderisasi, bukan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan maupun tujuan politis yang lain," tandas Kiai Navis yang disambut aplaus hadirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bagi Wakil Ketua PWNU Jatim, kesadaran akan kian terdesaknya anak muda dengan berbagai aliran ekstrim kanan maupun kiri hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Dan langkah cepat harus segera dilakukan dengan melakukan berbagai pendalaman Aswaja seperti yang diselenggarakan kali ini.

"Kami berharap, usai kegiatan daurah nasional, maka para kontingen dapat menggagas terbentuknya Aswaja NU Center di masing-masing daerah," katanya. Dan bila hal ini telah dilakukan, maka pada Muktamar tahun depan Kiai Navis berharap keberadaan Aswaja NU Center bisa menjadi lembaga khusus di lingkungan NU.

"Ya semacam Densus 99 untuk meneguhkan Islam Aswaja di seluruh Nusantara," terangnya. Dan untuk bisa meraih hal ini, yang harus dilakukan adalah kerja keras dan lillahi taala, bukan tujuan jangka pendek apalagi dengan pamrih duniawi.

Seminar dan daurah Aswaja ini dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Rais PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah, juga KH Abdusshomad Bukhori, Ketua MUI Jatim.(Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU?

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan cukup berat di tengah maraknya cara berpikir dan perilaku ekstrem dari sejumlah kelompok agama. Nahdliyin perlu penguatan nilai-nilai ke-NU-an di samping menjaga diri dari reaksi ekstrem serupa.

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU?

Pandangan ini mencuat dalam forum Sekolah Aswaja yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Pusat, Kamis (19/3) petang, di aula kantor PBNU, Jakarta. Diskusi bertema “Bincang Islam Ramah: Darurat Vulgarisme Beragama” ini menghadirkan narasumber Kepala Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Wawan Junaidi dan aktivis muda NU Safi’ Alielha.

Safi’ menyoroti betapa gerakan Islam garis keras kini kian agresif dalam menyebarkan propagandanya, tak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Mereka bertindak mengatasnamakan bagian dari kelompok Islam tertentu, termasuk sebagai Sunni seperti yang dilakukan ISIS.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kondisi tersebut, katanya, tentu menjadi tantangan bagi NU sebagai sesama Sunni yang dalam praktiknya sangat kontras dengan apa yang dilakukan ISIS. “Menurut saya, NU itu lebih dari sekadar Sunni. Ia mempunyai kearifan tersendiri, seperti memegang nilai tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi),” tambah Pemimpin Redaksi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ini.

Melalui nilai-nilai ini para ulama Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia mampu mempengaruhi keberagamaan masyarakat tanpa menimbulkan gejolak berarti. Hal tersebut disebabkan pendekatan dakwah yang dilakukan bersifat toleran, menghormati lokalitas, dan menghargai proses.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang menjadi persoalan sekarang, lanjutnya, seberapa jauh generasi muda NU memahami prinsip-prinsip sosial itu. “Saya yakin kita yang ada di sini masih belum begitu paham pandangan tawasuth menurut Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Imam Maturidzi, Imam Syafi’i, Hanafi, dan lain-lain,” ujarnya di hadapan para aktivis PMII Jakarta Pusat.

Safi’ juga menyayangkan ada sebagian tokoh NU yang menilai ormas tertentu yang gemar melakukan kekerasan adalah bagian dari NU meskipun dengan atribusi “NU galak”. “NU kok galak, tidak ada ceritanya NU galak, apalagi terhadap sesama saudara sendiri,” paparnya.

Sementara Wawan menggarisbawahi bahwa perilaku merusak atau vandalisme dalam beragama  berakar dari cara berpikir yang sempit dan kolot. Mereka menganggap diri mereka paling benar sedangkan yang lain pasti salah.

Ia menekankan, dalam bingkai NKRI ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa) dalam rumusan ulama NU harus lebih diutamakan ketimbang ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Islam).

Mantan aktivis PMII ini juga mengingatkan agar NU, terutama Banser atau Pagar Nusa, tak terpancing ikut bertindak kekerasan, termasuk kepada kelompok yang berseberangan secara pemikiran.

Sekolah Aswaja PC PMII Jakarta Pusat berlangsung selama dua hari. Ketua PC PMII Jakpus Daud Azhari mengatakan, malam ini hingga besok, Jumat (20/3), kegiatan ini digelar di kantor Ikatan Alumni PMII (IKA-PMII), Tebet, Jakarta. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Meskipun sudah banyak korban berjatuhan gara-gara narkoba, namun jumlah itu kian menunjukkan peningkatan. Memberikan pemahaman sejak dini terhadap mudharat bahan berbahaya ini sangat penting.

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

Indikasi mereka yang terjerat bahan berbahaya itu diantaranya suka uring-uringan, tidak jujur dan cenderung anti sosial. 

Hal Ini salah satu pesan dari Dr. Bambang Eko Sunariyanto, Direktur RSJ Lawang yang mewakili Menteri Kesehatan di depan para peserta Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional atau Perwimanas (26/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saat ini pengguna narkoba di Indonesia sekitar 4 juta,” katanya. “Populasi pengguna narkoba yang cukup besar ini sedang mengepung anak-anak dan remaja Indonesia,” lanjutnya. 

Karena itu sudah saatnya memperhatikan dan mengawasi perilaku para generasi muda ini. “Jangan sampai salah satu dari pengguna itu adalah teman atau saudara adik-adik," pesan Bambang.

Pada kesempatan tersebut Bambang menghimbau kader pramuka Maarif NU agar mampu menjaga diri, keluarga dan orang-terdekat untuk terhindar dari narkotika dan obat-obatan terlarang. 

"Kenali perubahan-perubahan fisik maupun perilaku,” katanya. Hal yang kasat mata dapat dilihat adalah gejala suka meminta uang tanpa keperluan yang jelas atau mengada-ada, tidak suka makan, senang tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari. 

“Itu juga tanda-tanda awal seseorang yang mengalami ketergantungan narkoba,” tandasnya. 

Data yang dipaparkan Bambang, dari total pengguna narkoba di Indonesia sebagian besar adalah anak-anak usia remaja. Anak-anak usia SMA mencapai angka 48%, sementara usia Perguruan Tinggi (PT) berkisar di angka 28%. 

"Angka ini menunjukkan bahwa sasaran peredaran narkoba adalah kalangan remaja,” sergahnya. “Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya kelangsungan berbangsa dan bernegara bila keadaan ini tidak segera kita atasi bersama," terangnya.

Lebih lanjut Bambang menyatakan mayoritas kecanduan narkoba akibat dari pergaulan dan iseng mencoba-coba. "Dalam hal ini remaja sangat rentan karena ia berada pada fase pancaroba. Fase dimana seorang remaja dengan mudah terbawa oleh arus lingkungannya," ungkap Bambang yang juga berpraktek sebagai psikiater ini.

Dalam kesempatan tersebut Bambang juga memberikan tips agar terhindar dari pengaruh narkoba. "Jangan sekali-kali mencoba narkoba,” harapnya. “Katakan tidak kalau ditawari meskipun gratis. Dan kalau merasa tidak kuat, jangan bergaul dengan pengguna narkoba," pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Tentang Hukum Kepiting

Assalamu’alaikum wr wb. Punten, kalau memakan kepiting itu halal apa haram? Mohon jawabanya. Juddin.

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh.

Saudara Juddin yang kami hormati. Pada dasarnya mengisi perut dengan makanan halal dan baik adalah perintah Allah swt kepada semua manusia, bukan hanya ditujukan kepada umat Islam semata. Hal ini menunjukkan pentingnya umat manusia agar lebih selektif dalam memilah dan memilih serta menentukan makanan yang akan menjadikan peredaran darah dalam tubuhnya berjalan normal.

Tentang Hukum Kepiting (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Hukum Kepiting (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Hukum Kepiting

Perintah Allah ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 172. Makanan halal dan baik disini tentunya meliputi cara memperoleh dan mendapatkannya disamping juga yang tidak kalah penting adalah materi (jenis) dari makanan itu sendiri, sebagaimana pertanyaan yang disampaikan oleh saudara Juddin ini.

Adapun jawaban dari hukum memakan kepiting masih terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama’. Ada yang berpendapat bahwa memakan kepiting hukumnya haram sementara yang lain menyatakan halal. Perbedaan seperti ini sangat wajar dan sering terjadi di kalangan para ulama dalam menyikapi suatu masalah mengingat cara menganalisa dan pengambilan kesimpulan yang tidak sama.

Para ulama yang menyatakan bahwa kepiting tidak boleh dimakan (haram) berasumsi bahwa hewan ini bisa hidup di dua alam (laut dan darat). Sementara ulama yang berpendapat bahwa kepiting halal untuk dikonsumsi berhujjah bahwa hewan ini tidak dapat hidup di darat. Ia hanya bisa hidup di air (laut) saja.

Selain itu ada qaul dhaif yang bersumber dari al-Halimi sebagaimana diceritakan oleh al-Baghawi yang berpendapat bahwa hewan ini tetap dihukumi halal, meskipun bisa hidup di dua alam. Masing-masing dari kedua pendapat ini tentunya telah melalui uji materi serta lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Referensi yang kami jadikan rujukan adalah kitab al-Maj’mu’ Syarah al-Muhaddzab:

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: Dari bagian ini (hewan yang dapat hidup di dua tempat), asy-Syekh Abu Hamid dan imam al-Haramain memasukkan katak dan ketam (jenis kepiting). Dua hewan tersebut diharamkan menurut ketetapan madzhab yang shahih (benar). Mayoritas ulama juga mengacu pada pendapat ini. Ada pendapat dhaif yang diceritakan oleh al-Baghawi bersumber dari al-Halimi yang mengatakan bahwa kedua hewan ini halal.

Saudaran penanya yang dimuliakan Allah, Perbedaan pendapat diantara para ulama sebagaimana penjelasan diatas kiranya semakin menjadikan umat maupun masyarakat Islam Indonesia semakin dewasa dalam menghargai keanekaragaman yang ada, sehingga slogan Islam rahmatan li al-‘alamin benar-benar dapat membumi di negeri ini, bukan hanya semboyan yang hinggap di awan belaka. Wallahu a’lam. (Maftukhan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ulama se-Jawa Tengah sepakat menolak kebijakan 5 hari sekolah. Mereka menandatangani deklarasi pencabutan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah dalam acara Halaqah Alim Ulama se-Jawa Tengah di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Senin (31/7).

Dalam naskah deklarasi yang ditandatangani pada 31 Juli 2017 itu, ada lima poin sikap ulama se-Jawa Tengah. Mereka menolak dengan keras kebijakan lima hari sekolah (LHS). Mereka menuntut Mendikbud Muhadjir Effendi untuk membatalkan dan mencabut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang LHS yang menimbulkan keresahan sosial.

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Mereka meminta Mendikbud untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Para kiai ini juga mendesak Mendikbud tidak memberlakukan kebijakan LHS. Mereka menyarankan Mendikbud lebih berkonsentrasi menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial, yaitu merumuskan kurikulum anti-radikalisme, anti-korupsi, profesionalitas guru, dan masalah lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir sebagai deklarator Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (Mbah Bed), Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Jawa Tengah Hudallah Ridwan, Bupati Kabupaten Tegal Enthus Susmono, Ketua PCNU dan Rais Syuriyah PCNU Tegal, dan ratusan alim ulama dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Mbah Bed menyampaikan bahwa dengan diberlakukannya Permendikbud LHS ada banyak madrasah diniyah (madin) di Jawa Tengah yang kekurangan murid, bahkan hampir gulung tikar. Pasalnya, dengan sekolah 8 jam sehari, anak-anak tidak bisa mengikuti pendidikan agama di madin.

"Jika madrasah diniyah sudah tidak memiliki murid, ini berarti akan banyak anak-anak yang tidak bisa membaca Al-Quran, tidak tahu tatacara bersuci, beribadah, dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Karena selama ini kita tahu dan merasakan bersama, bahwa masyarakat tahu tentang semua itu dari madrasah diniyah," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mbah Bed menjelaskan bahwa sikapnya dalam menolak kebijakan LHS semata-mata karena memperjuangkan nasib dan eksistensi madrasah diniyah. Jika madrasah diniyah gulung tikar maka masyarakat tidak akan tahu lagi ajaran-ajaran Islam yang sudah sekian lama diajarkan para ulama.

"Saya sendiri tahu tentang wudlu, shalat, membaca kitab, dan yang lainnya dari guru-guru saya di madin. Karena itu, demi guru-guruku di madin, saya dengan tegas menolak sekolah lima hari sekolah," jelasnya.

Bupati Tegal Enthus Susmono mengatakan bahwa sejak ada wacana kebijakan lima hari sekolah, ia menjadi bupati pertama yang dengan tegas menolaknya. "Saya bupati pertama yang menolak full day school. Saya tidak setuju dengan kebijakan itu, apapun risikonya siap," tegasnya.

Di Kabupaten Tegal sendiri, Enthus telah menginstruksikan kepala dinas pendidikan untuk tetap mengadakan sekolah selama 6 hari supaya tidak mematikan madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Quran (TPQ), dan pondok pesantren.

"Saya sudah menyampaikan ke semuanya, saya menolak lima hari sekolah. Kepala dinas (pendidikan) itu berada di bawah bupati. Jadi, kalau bupatinya menolak, kepala dinas harus mengikuti," tukasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asyari, KH AsyAd Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asyari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asyari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asyari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. "Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asyari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim.

Tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak tahun 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan. Kini usia Ponpes Al-Hamdaniyah telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih. KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah, yakni silsilah ke-27.

“Dulu asalnya daerah ini rawa dan oleh beliau (KH Hamdani) berdoa minta kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawah bisa menjadi tanah,” ungkap Gus Hasyim Fahrur Rozi.

Pondok ini masih memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan bangunan para santrinya. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sudah memprihatinkan. Namun, Pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukura ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahrat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh Ponpes.

Namun sayang, keunikan pondok ini yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al Hamdaniyah ini dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH. Hamdani membangun Pondok, dia mendatangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan perahu besar/kapal. Namun ditengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi Allah Maha Besar, kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area Pondok.?

Di Pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, diantaranya adalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lain.?

Adapun urutan kepengurusan Pondok adalah sebagai berikut:

Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani) ?

Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin. ? ? ? ? ? ?

Periode ? V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.

Periode ? VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i . ?

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Oleh Rosidi



Miris, menyimak berita ada seorang ibu yang sudah tua di Kota Tangerang, harus berurusan dengan masalah hukum karena digugat oleh anak kandungnya sendiri. Selain gugatan materiil yang cukup besar, yakni Rp 1 miliar, Fatimah, sang ibu, juga dituntut pergi dari lahan yang menjadi tempat tinggalnya.

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Tak kalah miris, tersiarnya kabar pembunuhan terhadap satu keluarga Medan Deli. Korban terdiri atas Riyanto (40), Sri Ariyani (35), Sumarni (60), dan dua anaknya, Naya (13) dan Gilang (8). Hanya si bungsu, Kinara (4) yang selamat dalam tragedi itu. Hanya saja, Kirana kondisinya kritis.

Itu hanya dua contoh kasus yang mengiris hati dan perasaan. Banyak lagi kasus-kasus yang tidak beradab, terjadi. Pertanyaannya, bagaimana ada anak yang tega menggugat ibu kandungnya, yang telah mengasuh dan membesarkannya? Bagaimana pula seseorang bisa demikian liar, hingga tega membunuh tanpa perikemanusiaan?

Banyak faktor yang menjadikan seseorang kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga bisa melakukan tindak atau perilaku tidak terpuji. Lalu, bagaimana lembaga pendidikan mesti mengambil sikap dan berperan agar tindak (perilaku) tidak terpuji seperti itu bisa diminimalisasi, syukur tidak terulang lagi? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk itu, internalisasi (penanaman) nilai-nilai karakter harus dilakukan sedini mungkin. Dan lembaga pendidikan melalui para pendidiknya, juga mesti tidak kenal lelah menginternalisasikan nilai-nilai karakter (akhlak) setiap waktu, melalui beragam materi pembelajaran yang ada.

Salah satu materi yang tidak bisa dilupakan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak, adalah materi sastra, juga seni budaya. Sastrawan Ahmad Tohari, dalam salah satu kesempatan menyampaikan orasi budaya di Kabupaten Kudus, mengatakan, internalisasi pendidikan karakter terhadap anak, tidak bisa dipisahkan dari pengajaran sastra di sekolah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun fakta yang terjadi, menurutnya, hingga berganti-ganti kurikulum, sistem pendidikan nasional di tanah air, belum lagi memberi porsi yang cukup bagi pengajaran sastra. Dengan kata lain, pengajaran sastra masih dipandang sebelah mata.

Ironis. Pengajaran sastra mestinya diberi porsi yang cukup. Sebab, pengajaran sastra akan berdampak positif pada anak. Dengan membaca sastra, anak-anak tidak sekadar menjadi cerdas, melainkan juga lebih peka terhadap situasi sosial yang berkembang. (Ahmad Tohari, 2015).

Demikian pentingnya pengajaran sastra, sampai Ki Hajar Dewantara saat berbicara dalam Kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag pada 1916, mengemukakan, bahwa pendidikan kesenian (termasuk di dalamnya sastra-budaya-pen) merupakan pendidikan estetis. (Darsiti Soeratman, 1986)

Pendidikan estetis ini untuk melengkapi pendidikan etis (moral), yang bermaksud menghaluskan hidup kebatinan anak. Sehingga anak bisa mengembangkan berbagai jenis perasaan, baik itu perasaan religius, sosial, individual, dan lain sebagainya.

Perlu Porsi Cukup

Belum adanya porsi yang cukup terhadap pengajaran sastra-seni-budaya di sekolah (lembaga pendidikan) dalam kurikulum di pendidikan nasional, kiranya perlu mendapatkan perhatian serius. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perlu melihat secara langsung realitas pengajaran sastra di sekolah-sekolah.

Pengajaran sastra sebagai upaya internalisasi nilai-nilai karakter ini penting, karena hakikat pendidikan itu tidak sekadar agar anak cerdas secara kognitif an-sich, tetapi sebagaimana dikemukakan Ki Hajar Dewantara, adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.

Di luar itu, pendidikan anak dalam keluarga juga perlu mendapatkan perhatian. Orang tua, tidak bisa mengalihkan pendidikan anaknya secara penuh di sekolah, tanpa mendapatkan perhatian yang cukup.

Artinya, kendati sudah menempuh (mendapatkan) pendidikan di sekolah, anak tetap harus mendapatkan pengawasan dan teladan yang baik dari orang tuanya. Pendidikan berbasis keteladanan ini juga tidak boleh terlupa.

Menilik dari sini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Pertama; pemahaman orang tua terhadap pembelajaran di tengah keluarga.

Tak bisa dimungkiri, banyak orang tua beranggapan, bahwa dengan menyekolahkan anaknya, tanggung jawabnya mendidik anak sudah lepas. Padahal, pendidikan di sekolah hanyalah bagian kecil dari pendidikan dalam rangka menyiapkan kader bangsa yang cerdas, bertanggungjawab, dan berkarakter.

Kedua; maksimalisasi pengajaran sastra. Sekolah-sekolah mestinya memaksimalkan pembelajaran sastra, paling tidak bisa diwadahi melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra ini menjadi penting, karena ? banyak memuat nilai-nilai yang bisa memperteguh karakter anak.

Ketiga, komunikasi yang efektif antara guru di sekolah dan orang tua. Komunikasi ini untuk memantau perkembangan anak, sehingga proses pendidikan dan pengawasan tidak terputus, melainkan ada sinergitas antara di sekolah dan di tengah keluarga.

Terkait komunikasi antara pendidik dan orang tua dalam rangka memantau perkembangan anak, ini bisa belajar kepada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komunikasi antara pendidik PAUD dan orang tua peserta didik sangat baik, sehingga perkembangan anak terpantau dari dua sisi.

Di luar tiga hal di atas, perlu juga pengawasan terhadap anak dari tsunami informasi, baik melalui televisi maupun media lain, termasuk media sosial. Jaga anak dari program yang tidak mendidik. Jangan sampai, program-program televisi dan media lain memutilasi pendidikan yang didapat oleh anak, baik di sekolah maupun di keluarga.?

?

Penulis adalah pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Nadlatul Ulama (LTMNU) mengimbau, upaya paling baik menangkal ektremisme adalah dengan memperkuat kegiatan dari dalam. Memakmurkan masjid merupakan cara efektif merealisasikan usaha ini.

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen mengakui, masjid-masjid NU yang tersebar di beberapa tempat mulai diganggu oleh kelompok-kelompok berhaluan keras. Selain menjadi cermin tentang kelemahan pengurus masjid, persoalan ini menuntut penanganan secepat mungkin.

“Tidak ada jalan lain kecuali memakmurkan masjid,” ujarnya saat ditemui di Kantor PP LTMNU, Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan memperbanyak aktivitas ibadah di dalam masjid, jamaah tak hanya menuai maslahat dalam hal ibadah dan hubungan sosialnya, tapi juga menghambat proses masuknya paham kekerasan ke dalam masjid.

“Apalagi masjid jamaahnya yang jelas. Jadi perlu diperdayakan dalam hal-hal positif,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LTMNU juga menyarankan, Pengurus Cabang NU di setiap daerah untuk senantiasa memperhatikan kegiatan masjidnya. Mereka didorong untuk menggerakkan lembaga dan lajnah yang dimilikinya serentak memakmurkan masjid.

“Kan ada LDNU (Lembaga Dakwah NU) untuk mengisi dakwah, JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz) dalam hal mengaji, tarekat, dan lainnya,” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah warga NU, khususnya di kota Depok, mengeluh atas aksi pembubaran kegiatan ibadah yang dialami di masjid. Secara paksa, beberapa orang tak sepaham membubarkan aktivitas majelis taklim yang dianggap bidah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Fragmen, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 12 November 2017

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU

Pesawaran, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Saat hadir di Kabupaten Pesawaran, Lampung, Ketua PBNU yang juga Korwil Lampung Umarsyah HS mengatakan bahwa saat ini ada 5 Program Pokok yang sedang fokus dilaksanakan oleh PBNU. Program tersebut meliputi penguatan ideologi, struktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi.

Penguatan ideologi dan struktur kepengurusan, menurutnya, menjadi program yang sudah lama dilakukan secara intensif dengan berbagai jenis kegiatan.

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadir di Pesawaran, Umarsyah Paparkan 5 Program Pokok PBNU

"Saat ini sudah dilakukan Program Madrasah Kader yang diperuntukkan bagi seluruh kepengurusan NU untuk penguatan ideologi," katanya, Kamis (18/5), seraya menjelaskan bahwa ke depan syarat seseorang bisa menjadi pengurus NU adalah mereka yang sudah mengikuti program ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, lanjutnya, penguatan ideologi juga dilakukan dengan program Penggerak Masjid atau Muharrik Masjid. Program tersebut, lanjutnya, merupakan upaya maksimalisasi peran masjid untuk ibadah dan dakwah.

"Maksimalisasi masjid salah satunya adalah penguatan ekonomi masjid dengan program Gismas (Gerakan Infaq dan Shadaqah Masjid). Dari Gismas akan dimanfaatkan untuk kemakmuran masjid dan pemberdayaan ekonomi umat," katanya menjelaskan tentang Muharrik Masjid yang ditargetkan pada 2018 akan rampung ditingkat MWC atau Kecamatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara untuk bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan, PBNU sudah menjalin kerja sama dengan pihak terkait diantaranya dengan pemerintah dan swasta.

"Di bidang ekonomi, Pemerintah dan NU sudah menjalin kerja sama dalam bentuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan nilai triliunan rupiah. Di bidang kesehatan kerja sama dengan swasta dalam pembangunan Rumah Sakit. Dan di bidang pendidikan terus membangun Universitas NU di berbagai daerah," jelasnya.

Ia mengatakan juga bahwa saat ini banyak pihak yang melihat dan menggandeng Jamiyyah NU untuk bekerja sama di berbagai sektor. Oleh karenanya warga NU harus terbuka dan dapat memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki NU untuk menyukseskan program tersebut.

Hadir pada kunjungan yang dipusatkan di Masjid Islamic Center Ketua PCNU Pesawaran Salamus Sholihin, Ketua PCNU Pringsewu H. Taufiqurrohim, Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) Provinsi Lampung Hj. Malikhah Saadah dan Pengurus, Banom dan Lembaga NU di Kabupaten Pesawaran. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Fragmen, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 November 2017

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah mengingatkan pentingnya pendidikan agama Islam untuk generasi penerus. Karena itu PWNU mengimbau warga untuk tidak ragu menyekolahkan anak di pesantren.

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Hal tersebut disampaikannya dalam dalam acara wisuda pesantren Barokatul Hasan Desa Jangkang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Rabu (13/6).

Dikatakannya, bekal iman dan ilmu akan mengangkat derajat seorang manusia. Dengan belajar di pondok pesantren, anak akan mendapatkan pelajaran dan ilmu agama Islam lebih banyak jika di bandingkan dengan lembaga pendidikan umum. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau di lembaga pendidikan umum pendidikan agama Islam hanya sebagai tambahan nilai dan pelajaran. Tapi, jika di pondok pesantren ilmu pendidikan agama Islam sebagai bekal hidup,” tutur Kiai Mutawakkil Alallah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Tantri Hasan Aminuddin dalam kesempatan itu mengingatkan, agar warga membekali generasi penerus dengan iman dan ilmu. Pasalnya, hanya dengan bekal dua elemen tersebut akan memulyakan putra-putri kita. Pernyataan tersebut disampaikan oleh

Dalam sambutan singkatnya, Hj. Tantri menjelaskan hal-hal yang menjadi kewajiban bagi orang tua. Diantaranya, memberikan nama yang baik, memberikan bekal ilmu yang cukup dan menikahkan bila sudah cukup umur. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat desa Jangkang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo pada umumnya hendaknya membekali ilmu yang cukup terhadap putra-putrinya. 

“Warisan harta dan ladang tidak akan mengangkat derajat putra-putri kita. Tapi, hanya bekal iman dan ilmulah yang akan mengangkat derajat,” ujar Hj. Tantri.

Lebih lanjut, Hj. Tantri menjelaskan arti pendidikan guna menjawab tantangan zaman. Yang terpenting bagi para orang tua dalam menyekolahkan putra-putrinya adalah mendo’akan semoga ilmu yang di dapat tersebut nantinya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah.

Selain acara wisuda, pada kesempatan tersebut juga dilangsungkan acara pengobatan massal yang digelar halaman pesantren setempat. Warga sambut antusias acara pengobatan masal tersebut. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang datang berbondong-bondong membanjiri halaman pesantren tempat berlangsungnya kegiatan pengobatan gratis guna mendapatkan pelayanan pengobatan.

Pengasuh Pondok Pesantren Barokatul Hasan, Misnaji berharap para santrinya agar terus melanjutkan mencari ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Terlebih kepada para orang tua santri, Misnaji yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Probolinggo ini juga menekankan agar terus memotifasi putra-putrinya untuk mencukupkan ilmunya dan tidak terburu menikahkan putra-putrinya. “Jangan terburu mendaftarkan putra-putrinya ke KUA. Cukupkanlah ilmunya, minimal hingga jenjang SMA/MA,” harap Misnaji.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Fragmen, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 14 Oktober 2017

Gunakan PD/PRT IPNU-IPNU sebagai Pegangan Berorganisasi

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam menjalankan roda organisasi, pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) harus bersandar pada Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT). Dengan demikian, organisasi ke depan akan berlangsung tertib dan teratur.

Gunakan PD/PRT IPNU-IPNU sebagai Pegangan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunakan PD/PRT IPNU-IPNU sebagai Pegangan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunakan PD/PRT IPNU-IPNU sebagai Pegangan Berorganisasi

Demikian disampaikan mantan ketua Pimpinan Cabang IPPNU Kudus Siti Nafisatun pada acara orientasi pengurus harian PC IPNU-IPPNU Kudus di Pesantren Raudhotut Thalibin Bendan Kudus, Jawa Tengah, Senin (21/7).

Nafisatun menyatakan PD/PRT IPNU-IPPNU merupakan landasan dasar sebelum menentukan arah dan langkah-langkah perjuangan ke depan. Tanpa berpijak hal itu, perjalanan IPNU-IPPNU akan amburadul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ibaratnya, PD/PRT adalah ‘kitab suci’nya IPNU-IPPNU yang harus dijadikan pegangan setiap kader maupun pengurus,” katanya di hadapan pengurus harian PC IPNU-IPPNU Kudus lengkap.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengharapkan semua anggota  maupun pengurus wajib memiliki PD/PRT. “Jangan sampai tidak memiliki. apalagi tidak pernah membaca PD/PRT,” tandas Nafisatun yang juga guru MANU Banat Kudus.

Sementara Ketua PC IPNU Kudus Joni Prabowo mengatakan, kegiatan orientasi ini merupakan program awal pasca konferensi cabang IPNU-IPPNU (19/6). Tujuannnya, untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen semangat kebersamaan pengurus harian yang baru terbentuk.

“Kita berkomitmen bersama-sama memajukan IPNU-IPPNU serta menjaga kekompakan sehingga tercipta soliditas yang kuat baik antar pengurus maupun dengan pimpinan anak cabang dan pimpinan ranting,”ujarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 08 Oktober 2017

MA NU Banat Kudus Pamerkan Kreasi di Muktamar

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejak hari pertama NU menghelat Muktamar ke-33 di Jombang (1/8), sejak itu pula MA NU Banat telah memamerkan hasil kreatifitas anak didiknya. Berlokasi di arena bazar di Tebuireng, stand madrasah khusus putri ini lain dari yang lain.

Norma Hidayanti, salah satu guru yang bertugas menjaga stand tersebut mengatakan bahwa sebagian besar barang yang dipamerkan merupakan barang bekas yang sudah tersentuh tangan anak didiknya.

MA NU Banat Kudus Pamerkan Kreasi di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
MA NU Banat Kudus Pamerkan Kreasi di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

MA NU Banat Kudus Pamerkan Kreasi di Muktamar

"Di sini kami diutus untuk ikut serta berpartisipasi memeriahkan muktamar, memamerkan hasil karya peserta didik. Khususnya di bidang keterampilan wanita yang menghasilkan barang-barang bernilai daya jual tinggi, meskipun dari barang bekas," jelas guru yang terkenal bersikap sangat akrab kepada muridnya ini, Senin (3/8).

Kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ia memamerkan pelbagai produk unik yang dibawanya dari Kudus. "Di sini bisa dilihat, ada beberapa barang yang kami jual seperti jilbab sulam dari anak kelas sepuluh, kaligrafi dari kulit cankang telur yang dibuat kelas sebelas. Ada juga dari mereka yang melukis caping, hingga tong sampah. Beberapa sulaman juga ada, tudung saji dan taplak meja," lanjutnya di stand yang tidak jauh dari stand madrasah Qudsiyyah kerjasama dengan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus.

Tampak juga barang-barang yang ternyata hasil sulapan dari pemanfaatan barang bekas. Diantaranya kertas semen yang dibuat sandal unik, ? tas, ? dan bingkai lukisan. Ada gerjen atau sampah bekas kayu yang dipotong gergaji dan kertas kardus bekas yang dijadikan sebagai tempat wadah tisu cantik, kancing menjadi bros jilbab, kulit telur jadi kaligrafi, serta produk-produk lainnya seperti lampu meja.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dengan adanya pameran seperti ini bisa semakin menambah semangat kreatif peserta didik kami. Karena dengan ini murid bisa menuangkan bakat yang dimilikinya dengan pelbagai variasi bentuk produk. Di sini juga sudah banyak yang laku, ada lebih dari dua puluh jilbab terjual, dan caping lukis juga sudah ada yang terjual, begitu juga dengan sepatu lukis, serta tempat tisu yang dibalut dengan kain flanel. Ada juga lukisan kaligrafi yang terjual dengan harga di atas Rp. 200.000. Untuk ke depan, tekad kami akan meningkatkan hasil karya peserta didik pada program kreativitas anak di MA NU Banat Kudus," terangnya panjang.

Saat itu Norma ditemani satu guru lagi, Sukrisni Setyowati. Katanya, sengaja madrasah tidak mengutus muridnya ke Jombang karena menepati tahun ajaran baru. Dengan demikian, di luar daerah karya mereka dapat terpublikasi, dan di Kudus sendiri mereka tetap dapat fokus belajar.

Mereka pun berharap agar muktamar kali ini sukses dan NU sebagai organisasi semakin maju. (Istahiyyah/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, News, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 September 2017

Akper Hafshawaty Pesantren Zaha Genggong Optimis Raih Akreditasi B

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Akademi Keperawatan (Akper) Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (18-20/8) kedatangan tim assessor dari Lembaga Akreditasi Perguruan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes).

Kedatangan dua orang assessor LAM-PTKES itu untuk melakukan assesmen lapangan pada prodi Diploma Tiga (D3) di Akper Hafshawaty. Dua assessor itu adalah Erniyati, S.Kep.,MNS dari Universitas Sumatera Utara, Medan dan Ns. Reni Chairani, M.Kep.,Sp.Kom dari Poltekkes Kementerian Kesehatan Jakarta I.

Akper Hafshawaty Pesantren Zaha Genggong Optimis Raih Akreditasi B (Sumber Gambar : Nu Online)
Akper Hafshawaty Pesantren Zaha Genggong Optimis Raih Akreditasi B (Sumber Gambar : Nu Online)

Akper Hafshawaty Pesantren Zaha Genggong Optimis Raih Akreditasi B

Direktur Akper Hafshawaty Zaha Genggong DR. H. Nur Hamim, S.KM.,S.Kep.Ns.,M.Kes mengatakan, proses akreditasi prodi D3 Akper Hafshawaty Zaha Genggong telah memasuki tahap assesmen lapangan. Kegiatan assesmen itu, diawali dengan melakukan kunjungan dan kegiatan wawancara ke sejumlah wahana praktik Akper Hafshawaty. Di antaranya, RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Puskesmas Ranugedang Kecamatan Tiris hingga Desa Binaan di Desa Pesawahan Kecamatan Tiris.

“Selain melakukan pengecekan wahana praktek, tim assessor juga melakukan wawancara di sana. Seperti mewawancarai kepala bidang di RSUD Waluyo Jati dan Kepala Puskesmas serta pembimbing wahana prakteknya. Wawancaranya seputar kegiatan praktik mahasiswa akper. Bahkan, alumni dan mahasiswa sendiri juga diwawancarai oleh tim assessor,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hamim menjelaskan, dalam assesmen lapangan itu, tim assessor juga melakukan cek dokumen tridharma perguruan tinggi dengan yang ada di kampus Akper Hafshawaty Zaha Genggong. Pengecekan itu berupa cek fisik, meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. “Melihat hasil assesmen lapangan, kami optimis mendapat akreditasi B. Diperkirakan bulan September pengumumannya sudah keluar,” ungkapnya.

Optimisme itu menurutnya, berdasarkan dari kesesuaian dokumen dengan data yang ada di lapangan, seluruhnya tidak ada yang disangkal oleh tim assessor. Bahkan, tim assessor memberikan banyak pengakuan kepada Akper Hafshawaty Zaha Genggong. “Seluruh dokumen tidak ada yang disangkal oleh tim assesor. Yang ditulis di borang sesuai dengan yang ada dokumen di kampus. Bahkan, kami berharap dapat akreditasi A,” harapnya.

Sementara Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Hafshawaty Zaha Genggong Iin Aini Isnawati, S.Kep.Ns.,M.Kes menambahkan, raihan akreditasi B diawali oleh Prodi D IV di Stikes. Yakni berdasarkan SK Nomor 0135/LAM-PTKes/Akr/Dip/XI/2015. Kemudian disusul oleh Prodi D3 di Akbid Hafshawaty pada Agustus 2016 ini. Akreditasi itu berdasarkan SK Nomor? SK 0720/LAM-PTKes/Akr/Dip/VII/2016. Akreditasi B itu berlaku hingga lima tahun kedepan.

“Target kami akhir tahun ini, S1 Keperawatan dan NERS juga sudah terakreditasi B. Selain untuk meningkatkan mutu dan kualitas sebuah perguruan tinggi. Akreditasi ini juga untuk mendapatkan pengakuan dari tim independen. Sebab, indikator sebuah institusi itu bagus dan bermutu, pengakuannya bukan hanya dari masyarakat saja. Namun dibuktikan dengan pengakuan dari pihak luar, dalam hal ini LAM-PTKes,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, News, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 02 Agustus 2017

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU Jawa Barat, khususnya Cirebon, kehilangan salah seorang kiainya. Sesepuh Pesantren Benda Kerep, Cirebon KH Hasan Abu Bakar wafat pada Jumat 29 September 2017 pada pukul 08:20.

“Beliau kiai sufi, panutan kiai NU Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka. Kuningan),” ungkap Nasrullah Affandi, salah seorang Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu ketika dikonfirmasi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal tentang sosok Kiai Hasan.?

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sesepuh NU dan Pesantren Benda Kerep Wafat

Menurut dia, para tokoh nasional pernah bersilaturahim kepada Kiai Hasan, di antaranya Wakil Presiden JUsuf Kalla, dan pejabat lain seperti menteri dan gubernur.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock