Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Adrian, anak umur 5 tahun pengidap Hepatitis B dan kanker hati, meninggal dunia Selasa (5/1). Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang turut menggalang dana untuk pengobatannya pun melakukan takziah ke kediaman keluarga Adrian di Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Pandeglang, Banten, Rabu (6/1).

Direktur Program dan Operasional Pengurus Pusat LAZISNU Nur Rohman bersama rombongan datang ke rumah duka sebagai bentuk ungkapan belasungkawa. Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda yang berhalangan hadir mengucapkan duka melalui sambungan telepon.

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Mereka disambut hangat ayah Adrian, Susanto, didampingi relawan dan mahasiswa Banten. Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU atas bantuan dan tali persaudaraan yang dijalin sebagai sama-sama keluarga besar NU. Dalam kesempatan itu LAZISNU menyerahkan dana santunan sebesar 5 juta rupiah hasil sumbangan dari masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rombongan dari LAZISNU menempuh perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju rumah duka. Medan yang sulit membuat waktu tempuh lebih lama dari yang diperkirakan. “Jalannya kayak kobangan kerbau di sawah,” kata Nur Rohman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah sudi membantu Adrian melalui rekening LAZISNU. Rohman berharap, bantuan menjadi amal ibadah yang membawa berkah bagi para dermawan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum meninggal dunia, Adrian sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia divonis dokter mengidap Hepatitis B dan kanker hati sehingga harus melakukan transplantasi hati dan karenanya membutuhkan biaya 1,2 miliar. Orang tuanya yang berpenghasilan 30 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani tak sanggup menanggung biaya itu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Sunnah, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dengan menenteng empat karung plastik berukuran besar, Roshid (25) warga Sumobito Jombang, berjalan mondar mandir di depan puluhan ribu jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan, Jombang, Jawa Timur, yang sedang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Bersama 10 tetangganya, lelaki lajang ini menjajakan makanan ringan berupa krupuk, kacang goreng, melinjo, dan jipang, Sabtu (31/1) itu. "Setiap ada kegiatan seperti ini saya selalu datang, bersama adik dan beberpa tetangga. Mereka juga sama berjualan seperti saya," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Dalam setiap acara pengajian tarekat semacam ini, Roshid mengaku bisa menjual hingga 20 bal jipang dan juga krupuk. Dan uang yang dikantongi bisa mencapai hingga Rp 500 ribu, " itu termasuk modal, sebesar Rp 300 ribu, keuntungan ini cukup membantu ekonomi keluarga," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lulusan Madrasah Ibtidiyah ini bercerita, ia menjadi pedagang asongan sejak kelas 6 madrasah ibtidaiyah. Kalau tidak ada kegiatan dirinya bersama beberapa tetangga berdagang di pasar dan kereta api. "Terkadang di sini (Rejoso Peterongan), kalau Senin sering ke Cukir, Diwek," bebernya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya Roshid, para pedagang dari luar Jombang juga memiliki minat yang sama. Seperti yang ada yang mengomando, mereka berdatangan tiap ada pengajian tarekat yang banyak digelar di pesantren-pesantren. "Saya hanya berjualan tas untuk ibu ibu, " ujar Susiadi (55), pedagang tas asal tanggulangin Sidoarjo.

Dengan harga antara Rp 15 ribu hingga 25 ribu, Susiadi mengatakan bisa menjual antara 20 bahkan lebih tas yang dibawanya. "Biasanya bisa Rp 400 ribu, kalau musim panen bisa lebih hingga Rp 500 ribu pendapatan," imbuhnya.

Dari pantauan di lokasi, puluhan pedagang tampak menjajakan dagangannya, mulai makanan ringan, tas, kipas bambu, hingga tikar plastik yang banyak diminati jamaah tarekat sebagai alas untuk mengikuti wirid dan doa. Mereka bersila di sepanjang jalan menuju kawasan masjid pesantren Darul Ulum Peterongan.

Puluhan pedagang makanan dadakan, atau pedagang kaki lima tidak kalah banyak. Puluhan pedagang makan siap saji ini terlihat memenuhi jalan, sehingga jalur menuju lokasi digelarnya kegiatan tarekat pimpinan KH Dhimyati Romly nyaris macet, dan harus ditempuh dengan merayap. "Putaran ekonomi di jamaah tarekat potensinya sangat besar, kalau dihitung bisa ratusan juga setiap ada kegiatan," ujar Agus Mahfudzin, salah satu Dosen Unipdu.

Hal ini lanjut dosen muda ini menambahkan, ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan luar Jatim dengan menggunakan kendaraan serta kebutuhan makanan? yang dibutuhkan. "Besarnya putaran eknomi bisa dilihat mulai dari sewan kendaraan oleh rombongan, belum makanan yang dibutuhkan saat mengikuti kegiatan serta peralatan seperti tikar sebagai alas dan lainnya," pungkas Agus yang juga sekretaris PC ISNU Jombang ini.

Seperti diketahui, jumlah jamaah atau pengikut Thariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang mencapai ratusan ribu. Mereka datang dari berbagai daerah. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Nasional, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, halaman 141, menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya sebagai berikut:

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)
Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek (Sumber Gambar : Nu Online)

Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek

? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?,  ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?".

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: “Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT’.”

Dari kutipan diatas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mendoakan jelek atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain agar tertimpa suatu bencana sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kedzaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama buruknya sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Doa yang sebaiknya diucapkan untuk  orang yang telah berbuat dzalim adalah doa yang baik saja, misalnya agar ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyadari kesalahannya dan bertobat.

Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain agar tertimpa bencana bisa sama saja dengan melaknat diri sendiri. Alasannya,  sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah  bisa saja pada saat kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada saat itu Allah sedang menghendaki  terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan karena tidak bersalah, misalnya.  Kutukan atau laknat seperti itu bisa berbalik kepada diri sendiri  sebagaimana dijelaskan  Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimany , atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa kutukan atau laknat memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena bencana jika memang menurut Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, jika ternyata Allah memandang lain, maka bencana itu akan menjadi bumerang  atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melakukan kutukan atau melaknat orang lain. 

Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh atau teladan yang baik ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT. Sebenarnya mengutuk atau melaknat orang lain hanya diperbolehklan kepada orang-orang tertentu saja yang telah di-nash oleh Allah sendiri sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. 

Artinya: “Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.”

Dari kutipan diatas semakin jelas bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu manusia maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir sekarang bisa saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya hingga akhir hayat  seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. 

Iblis juga boleh dilaknat karena rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah sampai kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).  Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz:  “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Wallahu alam. (Muhammad Ishom)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, masa khidmah 2015-2017 telah resmi dikukuhkan. Pengurus baru siap bergerak cepat melaksanakan program-program organisasi.

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

"Setelah agenda Pelantikan, PR IPNU-IPPNU Kriyan siap mengadakan upgrading untuk pengurus sekaligus membuat progam organisasi. Namun kami sudah merencanakan untuk bulan September ini, tepatnya malam idul adha akan mengadakan takbir keliling se-Desa Kriyan," ujar Eko Supriyanto, Ketua PR IPNU Kriyan.

Hal senada juga disampaikan Nur Laili Nimah. Ia menyatakan siap melanjutkan progam-progam IPPNU yang sudah terlaksana di periode sebelumnya, seperti kegiatan rutin Yasinan tiap malam Jumat, acara dua mingguan dzikir Ratibul Hadad, serta forum pertemuan pengurus PR IPNU-IPPNU Kriyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam periode saya, akan kami tambahkan progam kegiatan, yaitu rutin kajian kitab baik untuk pengurus maupun anggota IPNU IPPNU Kriyan. Ini penting karena untuk bekal dalam kehidupan kita," tambahnya.

Fathurrohman, Ketua PR IPNU periode sebelumnya berharap, agar kepengurusan yang sudah dilantik ini bisa solid, sehingga dapat menjalankan progam yang sudah diagendakan bersama. Ia juga mengharapkan kegiatan yang sudah berjalan baik di periode sebelumnya untuk dilanjutkan dan diperbaiki untuk menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelantikan berlangsung meriah pada Jumat (4/9) di Gedung NU Ranting Kriyan dan dipandu langsung oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara. (Miqdad Syaroni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU 03 Larangan, Kabupaten Brebes atas nama Nurul Isnaeni Putri berhasil meraih emas pada lomba Pidato Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni Islam (MAPSI) tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Nurul menumbangkan 35 peserta, utusan dari kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Pada lomba di kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang, pada Sabtu (23/1/16) lalu, medali perak diraih utusan Kabupaten Pemalang dan perunggu dari Kota Surakarta.

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Ma’arif NU 03 Larangan Raih Emas di MAPSI Jateng

“Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa saya, sehingga juara,” tutur Nurul ketika di temui di SMK Maarif NU 03 Larangan, Rabu (27/1).

Siswa kelas XII Akuntasi tersebut mengaku pada awalnya kurang percaya diri karena dirinya berasal dari dusun dan baru kali pertama mengikuti lomba tingkat Jawa Tengah. Namun dengan kemantapan hati yang kukuh dan dorongan dari Pembina Ahmad Rifai, akhirnya tampil memukau di hadapan dewan juri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dara manis kelahiran Brebes 21 Desember 1998 itu saat berpidato membawakan tema tentang shalat. Antara lain menguatkan tentang pentingnya shalat fardlu ain, sebagai alat komunikasi antara hamba dengan Sang Khaliq. Disamping itu, sholat menjadi tiang agama yang apabila shalatnya tidak diperkuat dengan jamaah, maka agama Islam akan runtuh.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk meraih juara, aktivis IPPNU ini sangat getol berlatih tanpa mengenal lelah. Teman-teman di kelasnya dijadikan penonton, hingga melebar di hadapan 905 siswa SMK favorit di Larangan tersebut. “Saya tidak lagi grogi setelah digladi terus menerus,” ucap penyuka bakso tersebut.

?

Selain pidato, Anak pasangan Bapak Sohirun dan Ibu Musriah ini juga mahir membaca puisi. Terbukti pernah menjadi juara 3 baca puisi tingkat Kabupaten Brebes. Di sekolahnya, juga pernah meraih juara 1 drama, baca puisi, fashion show.

Meski hidup dalam kesederhanaan, namun tidak menghalangi semangatnya untuk belajar dan selalu belajar. Nurul rutin setiap bada maghrib dan bada subuh di rumahnya jalan A Yani Dukuh Penjalin Banyu, Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Brebes membaca buku pelajaran dan bahan bacaan lainnya yang dipinjam di perpustakaan sekolahnya.

Baginya, segala halangan tidak masalah asalkan mau berusaha dengan sekuat tenaga dan tidak melupakan berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana motto hidupnya, kesuksesan berawal dari kemauan yang kuat. “Tidak bermaksud membusungkan dada, dengan ikhtiar yang kuat dan iringan doa segalanya bisa diraih dengan sukses,” pungkasnya bersyukur.

Menurut Kepala SMK Maarif NU 03 Larangan H Harun MAg menerangkan, Nurul tergolong siswi yang rajin dan penuh dedikasi yang tinggi. Sehingga di kelas maupun di sekolahnya selalu menorehkan prestasi baik akademik maupun nonakademik. Atas prestasi tersebut, dirinya berjanji akan memberikan reward sepantasnya, karena telah mengharumkan nama sekolah dan juga Kabupaten Brebes serta sekolah di bawah naungan MWCNU Larangan dan LP Maarif Brebes. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor sependapat bahwa tragedi kemanusiaan berupa kontak fisik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) 50 tahun silam tidak terulang kembali di masa mendatang. Namun peristiwa yang mengakibatkan jatuhnya banyak nyawa tersebut hendaknya dapat dilihat lebih arif dan cerdas.

Pandangan tersebut disampaikan H Zulfikar Damam Ikhwanto yang juga Ketua PC GP Ansor Jombang Jawa Timur, Kamis (1/10).  Dalam rilis yang diterima media ini, Gus Antok, sapaan akrabnya, juga menolak keras kalau kemudian Presiden RI harus meminta maaf terhadap PKI.

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jombang: Presiden Tak Harus Minta Maaf kepada PKI

"Ini sejarah kelam dan memprihatinkan yang tidak boleh terulang kembali," katanya. Soal politik harus dipahami dan dilakukan secara arif dan cerdas, tidak perlu sampai bunuh membunuh atau menciptakan konflik horisontal seperti masa lalu, lanjutnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam pandangannya, masyarakat sudah sangat mengerti tentang bahaya ideologi dan gerakan komunisme atau PKI, baik model lama dan model baru. Demikian juga upaya saling memaafkan di antara warga masyarakat sudah terjadi secara alamiah dan membudaya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Toh sampai hari ini, masyarakat, baik PKI dan bukan PKI, sudah tidak mampu lagi dibedakan," terangnya. Semua sudah membaur dan menyatu.

Ia justru mengkhawatirkan jika permintaan maaf kepada PKI secara resmi, apalagi dilakukan oleh Presiden sebagai pimpinan sebuah negara, akan membuka luka lama dan kekecewaan mendalam bagi pihak yang juga menjadi korban PKI di masa lalu.

"Harapan kami, soal perebutan kekuasaan atau politik, tidak semestinya membunuh akal sehat dan mengakibatkan pertumpahan darah serta perang saudara," ungkapnya. Semua pihak yang berkepentingan dan juga semua warga negara harus bisa saling menjaga dan mengawal proses berpolitik dan berdemokrasi ala Pancasila yang baik, lanjutnya.

Segala ideologi, apalagi sampai memunculkan gerakan yang melawan Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI tidak boleh ada dan tumbuh subur di bumi Indonesia tercinta ini. "Siapapun dan dalam bentuk apapun, jika bertentangan dengan Pancasila dan mengancam NKRI, maka hanya ada satu kata yang kita tolak," tegasnya.

PKI jelas-jelas bertentangan dan ingin menjatuhkan Pancasila. "Kalau kemudian presiden meminta maaf secara resmi, maka akan membuka cerita kelam," sergahnya.

Permintaan maaf secara terbuka juga dapat dianggap sengaja membiarkan Pancasila dikoyak serta akan mengancam keutuhan NKRI. "Dengan alasan apapun, permintaan maaf secara resmi itu tidak perlu dilakukan," katanya.

"Ansor Jombang menolak PKI dan ajaran komunis di negeri ini, demikian juga kami menolak permintaan maaf secara resmi yang dilakukan presiden kepada PKI," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Oleh : Ahmad Ali Adhim



Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdian nya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalu proses belajar di kampus beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” akhirnya Beliau juga mendapat gelar professor. 

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.





Penulis, mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Cirebon menyatakan sepakat pada mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU yang bermuara pada supremasi syuriyah NU. Pilihannya jatuh pada penerapan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai proses pemilihan Rais Aam PBNU oleh dewan kiai khos pada Muktamar ke-33 NU dan muktamar NU selanjutnya.

"KBNU Cirebon mendukung penuh dan siaga berada di garda terdepan untuk mengawal penerapan AHWA sebagai sistem pemilihan kepemimpinan NU mendatang, dimulai dari Muktamar ke-33, 1-5 Agustus 2015 besok di Jombang," kata KH Marzuki Wahid, perwakilan NU Cirebon kepada sejumlah awak media di Kantor PCNU Kota Cirebon, Senin (8/6).

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Cirebon: Ahlul Halli wal Aqdi itu Demokrasi Nahdliyah

Persiapan Muktamar ke-33 NU yang direncanakan digelar di Jombang pada Agustus 2015 ini, sudah memasuki pembahasan mekanisme pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mekanisme ini rencananya akan ditetapkan pada Musyawarah Nasional (Munas) NU pada 14-15 Juni 2015 di Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

AHWA, menurut Marzuki, merupakan mekanisme pemilihan yang dipandang lebih layak untuk diterapkan dalam Muktamar NU. Hal ini dapat menghilangkan potensi politis dan saling olok antarpendukung tokoh yang dicalonkan.

"AHWA bagi kami adalah demokrasi ala NU, demokrasi nahdliyyah, atau musyawarah mubarakah yang telah lama dipraktikkan oleh para kiai dan nyai-nyai NU dalam setiap Muktamar jauh sebelum diterapkan pemilihan langsung model demokrasi liberal, yang berprinsip one man one vote," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara mengenai apakah mekanisme AHWA bisa mengurangi hak politik warga NU atau tidak, Kiai Marzuki menjawab bahwa hak politik warga NU bisa dilibatkan dalam penentuan para tokoh kiai yang akan dijadikan sebagai anggota AHWA.

"Sebab, siapa yang berhak untuk menjadi anggota AHWA ditentukan oleh warga dan pengurus NU sesuai dengan tingkat kepengurusannya," kata Marzuki.

Sebelumnya, banyak beredar kabar bahwa sekelompok warga NU menolak pemberlakuan AHWA karena dianggap sebagai kemunduran nilai demokratis. Namun di sisi lain, AHWA merupakan tradisi pemilihan pengurus NU yang pernah diterapkan orang-orang shaleh. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan

Sedih. Mungkin itu yang dirasakan para perempuan taat yang tak bisa menjalani ibadah puasa Ramadhan secara penuh. Kodratnya sebagai perepuan dewasa yang pasti mengalami haid atau menstruasi tiap bulan menghalanaginya untuk menjalankan sejumlah ibadah tertentu.

Puasa, bahkan, secara otomatis batal ketika darah itu keluar meski si perempuan sudah menahan lapar seharian hingga menjelang maghrib tiba. Dan atas batalnya ini ia diharuskan mengganti (qadla’) di luar Ramadhan. Menjalani puasa dengan berbagai kesulitannya ini saja sesungguhnya termasuk ibadah tersendiri bagi perempuan. Butuh kesabaran dan keikhlasan melewatinya, yang belum tentu bisa dilakukan oleh setiap laki-laki.

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan

(Baca: Puasa, Perempuan, Menstruasi)?

Dalam kitab Taqrib dijelaskan, ada delapan jenis ibadah yang dilarang bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, yakni shalat, puasa, membaca Al-Quran, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid, thawaf, jima, dan bersenang-senang di sekitar organ kemaluan. Ulama berbeda pendapat dengan delapan larangan yang dianut mayoritas ulama Syafi’iyah ini. Misalnya, madzhab Maliki secara mutlak membolehkan membaca Al-Qur’an, dan madzhab Hanbali membolehkan i’tikaf di masjid.

Bulan Ramadhan menjadi momen melipatgandakan kebaikan. Perempuan yang sedang haid atau nifas memang mendapat batasan untuk menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Namun, ia bisa melakukan ibadah-ibadah lain yang jumlahnya lebih banyak. Ibadah-ibadah tersebut di antaranya:



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pertama, mencari ilmu.

Mencari ilmu menjadi pilihan bagus ibadah bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, baik dilakukan secara otodidak dengan membaca buku atau kitab, ataupun melalui bimbingan guru dengan mendatangi majelis-majelis ilmu. Mencari ilmu dalam Islam bersifat wajib (faridlah). Manfaatnya yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang lain membuat kegiatan tersebut masuk kategori ibadah, bahkan setara dengan jihad.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu kerana Allah adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (HR Ad-Dailami)





Kedua, berdzikir.?

Dzikir adalah perbuatan yang dianjurkan untuk siapa saja dan kapan saja. Dzikir adalah indikasi hidupnya hati. Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari bersabda: “Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati”.

Jenis dzikir sangat banyak, bisa berupa ucapa tasbih, tahmid, takbir, hauqalah, dan lain sebagainya. Aktif dalam majelis istighotsah, tahlilan, atau forum dzikir lainnya karena itu termasuk bernilai ibadah.

Dalam konteks Ramadhan, umat Islam dianugerahi kesempatan Lailatul Qadar yang disebut Al-Qur’an setara dengan serbu bulan. Meski banyak ulama yang meyakini momen itu jatuh pada sepuluh terakhir Ramadhan, sejatinya jadwal pastinya hanya Allah yang tahu. Perempuan haid/nifas, sebagaimana umat Islam pada umumnya, sangat dianjurkan menfaatkan hari demi hari, detik demi detik, sepanjang bulan suci ini untuk beribadah, termasuk berdzikir.

"Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab:

? ? ? ? ? ? ?

?

"Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku).” (HR Ibnu Majah)

Ketiga, berdoa.?

Doa juga menjadi pilihan ibadah yang mudah dan sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang haid atau nifas. dalam sebuah hadits doa disebut sebagai mukhkhul ‘ibâdah (otak dari ibadah). Doa bisa dilafalkan dengan bahasa apa saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, termasuk oleh perempuan yang sedang haid atau nifas.

Lebih dari sekadar meminta, doa yang berakar kata dari da‘â-yad‘û-du‘â ? juga berarti berseru atau memanggil. Doa mengandung ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah. Berdoa bisa juga disebut bermunajat.

Keempat, melakukan kegiatan sosial.?

Di samping ibadah-ibadah yang bersifat ritual, umat Islam juga diperintahkan untuk memperbanyak kegiatan positif yang bersifat sosial. Kegiatan sosial tersebut bisa berupa pergaulan secara baik, donor darah, menanam pohon, memberi makan kaum fakir, memudahkan urusan orang lain, mengajar, menyediakan buka puasa bagi anak-anak jalanan, dan lain sebagainya.?

Di bulan suci Ramadhan ibadah bernuansa sosial itu tercermin, misalnya, dalam perintah untuk menyuguhkan buka puasa walaupun hanya sebiji kurma. Artinya, aktivitas perempuan haid yang menghidangkan sajian berbuka untuk keluarga terhitung ibadah.?

Puasa sendiri adalah bentuk latihan seorang hamba untuk merasakan saudara-saudaranya yang sehari-hari didera rasa lapar dan haus karena tak mampu. Dengan demikian, kegiatan sosial sesungguhnya merupakan ibadah yang memang menjadi jati diri makna puasa itu sendiri.

Selain ketiga contoh di atas masih banyak bentuk-bentuk ibadah lain yang bisa dilakukan perempuan yang tengah menstruasi atau nifas. Aktivitas-aktivitas itu tak hanya yang berelasi khusus dengan Allah tapi juga bisa sekaligus dengan sesama manusia.?

Bagaimana dengan membaca Al-Qur’an? Seperti disebutkan di atas, ulama berbeda pendapat soal ini. Dalam Madzhab Syafi’i ulama sepakat bahwa perempuan haid/nifas tidak diperkenankan menyentuh atau membawa mushaf. Sebagian lain bahkan membolehkan membaca Al-Qur’an (tanpa menyentuhnya) dengan niat dzikir, doa, atau mempelajarinya.?

Mengenai hal ini Ianatuth Thalibin menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdoa, atau ngalap berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun (selama tidak berniat membaca al-Quran) maka (membaca Al-Quan bagi perempuan haid) tidak diharamkan. Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah Al-Quran kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Quran. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari Al-Quran semisal surat al-ikhlas.?

Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Nasional, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Noe Letto didaulat menjadi Duta Pagar Nusa. Selama ini, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau Noe Letto, dikenal sebagai musisi dan seniman yang peduli dengan gerakan keislaman, kebangsaan dan national security. Noe didaulat langsung sebagai Duta Pagar Nusa, oleh Ketum Pagar Nusa M Nabil Haroen di NU Center, Boyolali, Ahad (29/10).

Di hadapan ribuan pendekar Pagar Nusa, M Nabil Haroen menyematkan simbol Pagar Nusa kepada Noe Letto. Agenda ini berlangsung dalam rangkaian Pelantikan Pengurus Cabang Pagar Nusa Boyolal.

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

"Kami memberikan kehormatan kepada Noe Letto, sebagai Duta Pagar Nusa. Kami memberikan penghargaan sekaligus kesempatan sebagai Duta Pagar Nusa kepada orang-orang khusus, tidak sembarangan figur. Pimpinan Pagar Nusa melihat kiprah Noe Letto dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus pengabdian pada persatuan negeri ini. Ini selaras dengan visi Pagar Nusa," kata Nabil Haroen.

Nabil mengajak setiap pendekar dan kader Pagar Nusa untuk menjaga diri dan siap dengan amanah untuk mengabdi pada kiai serta menjaga Indonesia. "Peran Pagar Nusa semakin berat, tantangan yang menghadang di depan akan semakin besar. Negeri ini menghadapi berbagai gelombang ancaman, baik dari internal maupun dari luar. Pagar Nusa harus cerdas membaca geopolitik, sekaligus mempersiapkan diri. Silaturahmi sangat penting, untuk menguatkan barisan," jelas Nabil.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mendapat penghargaan sebagai Duta Pagar Nusa, Noe Letto ingin agar Pagar Nusa tidak hanya menjadi simbol. "Pagar Nusa ini kekuatan besar, yang tidak mudah dibaca oleh pihak lawan. Ini kekuatan kita, bagaimana pola-pola kaderisasi internal Pagar Nusa menjadi keistimewaan. Gerakan para pendekar Pagar Nusa yang solid, terkontrol, terkomando dan bergerak dalam senyap, menjadi kekuatan utama," kata Noe Letto.

Ia juga mengajak anak muda generasi milenial negeri ini untuk peduli pada bangsa Indonesia. "Lapisan baru anak muda, generasi milenial kita, harus peduli pada bangsa. Apalagi di era big data, era cyber war sekarang ini, isu national security sebagai kepedulian pada bangsa menjadi penting," jelas Noe.

Dalam kesempatan ini, Noe Letto mengajak generasi milenial bergabung dalam Pagar Nusa, untuk mengasah kekuatan mental, fisik dan spiritual. "Kepedulian pada bangsa menjadi sangat penting, apalagi di era sekarang ini. Pertahanan mental, fisik dan spiritual menjadi prasyarat penting untuk berkontribusi di era sekarang. Menjadi bagian dari Pagar Nusa, merupakan keistemewaan bagi generasi muda sekarang," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Pagar Nusa KH Athoillah Habib (Gus Atho) menegaskan bahwa pada masa depan Pagar Nusa harus siap dengan medan kompetisi baru. "Kita harus mampu berkontribusi di era cyber sekarang ini. Namun, pertahanan fisik dan spiritual masih sangat penting. Untuk itu, pencak silat masih sangat relevan. Kita bisa melihat, bagaimana negara China, Jepang dan beberapa negara lain, tetap menjaga warisan bela dirinya, di tengah perkembangan teknologi. Bahkan, keahlian bela diri dan kecerdasan mental-spiritual menjadi krusial untuk kehidupan masa sekarang," jelas Gus Atho.

Dalam beberapa tahun ini, Pagar Nusa telah melatih sekitar tiga juta pendekar dan kader yang tersebar di penjuru Indonesia dan beberapa negara, semisal Malaysia, Hongkong dan Taiwan. Para pelatih Pagar Nusa juga diundang ke beberapa negara Eropa dan Asia untuk menjalani program residensi bela diri dan pertemuan antarperguruan bela diri lintas Negara. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seorang manula berusia 80 tahun, imam di Saudi telah menjalankan ibadah haji sebanyak 60 kali, yang bisa mencatatkan namanya dalam daftar the Guinness World Record book.

“Tidak ada perbandingan antara haji saat ini dengan masa lalu ketika sarana dan prasarana masih kurang,” kata Sheikh Jabran Yahya Solaiman Al-Malki, kepada Saudi Gazette, Ahad, 13 October.

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali

Bagi Malki, yang merupakan seorang imam di masjid Hiraz di Al-Dair, di propinsi Jazan, Barat Daya Saudi, layanan haji telah berubah banyak sejak ia pertama kali berhaji bersama ayahnya pada 1954.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia mengatakan, perjalanan dari Jazan ke Makkah memerlukan waktu dua minggu.

Al-Malki menambahkan waktu itu, tidak ada jalan beraspal, mobilnya tua dan penuh asap, tidak tersedia cukup air, makanan atau toiler di area tempat suci.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jumlah jamaah haji sekitar 250.000,” katanya.

“Kami biasa tinggal di tenda…kami harus berjalan kaki yang jauh antara Mina, Arafat dan Muzdalifah.”

Ingatan pengalaman zaman susah tersebut tak akan dilupakannya. Dia sangat memuji pelayanan haji saat ini.

"Haji sekarang seperti piknik, terima kasih pada layanan baik yang disediakan pada para tamu Allah oleh pemerintah Saudi Arabia..,” katanya.

Al-Malki mengatakan, dia menjalankan ibadah haji untuk dirinya sendiri, menghajikan orang tua, saudara dan beberapa anaknya yang mati muda.

"Pada usia 80 tahun dengan 60 kali haji, imam tersebut dapat dicatatkan di rekor dunia,” kata koran tersebut. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja

Blitar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Prestasi membanggakan diukir oleh Nanda Uifi siswa Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif NU Kota Blitar, Jawa Tengah. Karena siswa Aliyah milik PCNU Blitar itu berhasil menyabet juara pertama kader kesehatan remaja se Kota Blitar 2016 tingkat ? SLTA yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar.

Untuk bisa meraih prestasi itu Nanda harus bersaing ? dengan ? ratusan pelajar SMA/SMK dan MA se Kota Blitar. Sementara dua siswa MTS ? Ma’arif ? NU Kota Blitar diajang yang sama juga menyabet ? gelar juara II dan III untuk tingkat ? SLTP se Kota Blitar.

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja

“Alhamdulillah anak-anak bisa berprestasi dibidang kader kesehatan," ujar Bahruddin ? salah satu guru di MA Ma’arif ? NU Blitar itu.

Menurut Bahruddin, lomba kader kesehatan ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar dalam rangka meningkatkan peran serta remaja dalam bidang ? kesehatan. Baik untul SLTP dan SLTA. Lomba untuk SLTP di selenggarakan pada tgl 27 September dan SLTA padatanggal 28 September 2016 kemarin.?

“Ada tiga siswa dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Siswa Aliyah meraih juara I tingkat SLTA dan dua siswa MTs meraih juara II dan III,” ungkap Bahruddin yang juga Wakil Ketua PCNU Kabupaten Blitar itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Untuk juara I akan mengikuti seleksi ditingkat Provinsi Jawa Timur. Doakan anak-anak bisa meraih prestasi maksimal,” tambah mantan wartawan Karya Darma Jawa Pos Grup itu. (Imam Kusnin Ahmad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Sumedang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tengah menyiapkan tiga bus bagi warga NU setempat untuk turut menghadiri Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015.

Rombongan terdiri dari para anggota dan pengurus lembaga, lajnah, dan badan otonom, dan pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat. Rencananya, bus akan berangkat pada 30 Juli 2015 dengan rute perjalanan yang didahului dengan ziarah ke makam-makam para wali.

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Sembari menuju ke lokasi Muktamar NU di Jombang, rombongan peziarah akan berdoa, antara lain, di makam Sunan Gunung Jati, Raden Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Giri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menjelang perhelatan akbar tersebut, PCNU Sumedang juga mengadakan konsolidasi dengan semua pengurus dan Nahdliyyin tentang calon ketua dan calon rais aam PBNU yang akan dilipih nanti waktu Muktamar.

Untuk menyikapi itu semua, Sadulloh selaku ketua PCNU Sumedang mengatakan bahwa sampai saat ini PCNU Sumedang belum menentukan pilihannya, baik untuk ketua umum dan rais aam PBNU.? Walaupun demikian PCNU Sumedang akan tetap mendukung siapapun yang terpilih nanti.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Mudah-mudahan waktu muktamar nanti akan tetap kondusif,” ujar Sa’dulloh. Dalam pemilihan rais aam, PCNU Sumedang mendukung penerapan sistem pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi atau mekanisme pemilihan tak langsung. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nahdlatul Ulama (NU) melalui organisasi tanggap bencana Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) membuka empat posko kemanusiaan di Aceh untuk membantu korban gempa.?

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh

Keempat posko kemanusiaan tersebut terdiri dari posko kemanusiaan di Kabupaten Pidie Jaya di Merdeu, di Kabupaten Bireuen dan di Kota Banda Aceh.

1. Posko utama PWNU NAD: Jl. Ir. Moh. Tahier No. 09 Bayu Lamcot, Komplek Dayah Thalibul Huda, Darul Imaroh, Aceh Besar. CP: Indra Kariadi; 085260167216?

2. Dayah Ummul Ayman: Tgk H. Nuruzzahri Yahya, Jl. Gampong Putoh, Samalanga, Bireuen. CP; Muhrizal: 085260656657 ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

3. Dayah Mudi Mesra; Tgk H. Syeikh Hasanoel Bahsry HG, Samalanga, Bireuen. CP; Muhrizal: 085260656657?

4. Kantor PCNU Pidie Jaya: Jl. Banda Aceh-Medan Simpang 3, Kec. Merdu, Kab. Pidie Jaya. CP: Tgk Marzuki Ali: 081269148657.

Ketua PPLPBI NU, M. Ali Yusuf mengatakan hari ini posko kemanusiaan sedang dipersiapkan, untuk merespon pemberian bantuan ke lokasi bencana.?

"NU melalui Pengurus Wilayah NU di Aceh sudah memberikan bantuan awal kepada masyarakat terdampak berupa makanan, LPBI NU mengerahkan Tim reaksi cepat untuk melakukan assesment lanjutan terkait dampak gempa dan kebutuhan masyarakat terdampak," kata Ali Yusuf.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, LPBINU segera mengerahkan timterapi patah tulang (sangkal putung) untuk membantu masyarakat terdampak gempa. NU selanjutnya akan terus melaksanakan kegiatan kemanusiaan di lokasi terdampak gempa di Pidie Jaya dan Bireuen sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan regulasi pemerintah. (Red: Fathoni) ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sedikitnya 50 pelajar mengikuti Pelatihan Kader Muda (Lakmud) yang difasilitasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumatera Barat, Kamis (3/9). Kegiatan yang diawali dengan pelantikan pelajar NU Sumbar ini, diadakan untuk menghidupkan kembali gerakan pelajar NU di Sumbar.

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

“Kita ingin membentuk karakter pelajar yang bertakwa dan berjiwa kepemimpinan,” kata Ketua PW IPPNU Sumbar Leni Herfina kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal per telepon, Kamis (3/9) malam.

Kaderisasi yang diselenggarakan di Kantor PWNU Sumatera Barat ini, diikuti utusan dua cabang dari lima cabang IPPNU di Sumbar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita ingin mengadakan kaderisasi rutin per tiga bulan untuk lebih banyak mencetak kader,” kata Leni yang tengah bergerak menghidupkan IPPNU di Sumbar.

Menurutnya, kendala di lapangan lebih dikarenakan orientasi pelajar pada prestasi akademik. Pelajar di Sumbar umumnya kurang perhatian pada gerakan-gerakan pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Leni bersama rekanita lainnya kini tengah bergerak untuk menghidupkan cabang-cabang IPPNU di 15 kabupaten dan kota yang ada di Sumbar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Nasional, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Emha Ainun Najib atau Cak Nun dan Sujiwo Tejo akan meramaikan acara peringatan hari lahir (Harlah) NU di halaman kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat pada 31 Januari dan 1 Februari 2013 nanti.

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU ini membidik “Atlas Wali Songo” satu karya besar sejarawan NU Agus Sunyoto yang diterbitkan LTN bersama penerbit Iman. Buku ini memaparkan perjalanan dan metode dakwah Wali Songo yang sedianya telah dan akan diteruskan oleh NU.

Cak Nun dengan rombongan Kiai Kanjeng-nya juga sudah positif akan meramaikan acara pada 31 Januari atau Kamis malamnya. Bahkan seperti biasanya, Cak Nun sudah memesan panitia untuk disiapkan sound system khusus dengan standar Kiai Kanjeng.

Menurut Ketua LTN PBNU Sulton Fathoni, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya akan membawakan tema "Fikih Dakwah Wali Songo". Selain Agus Sunyoto, Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan sejumlah pengurus NU juga akan hadir. Panitia juga mengundang sejumlah menteri, pejabat pemerintahan, pihak sponsor dan awak media untuk menyemarakkan harlah NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Jumat malam, 1 Februari malam Sujiwo Tejo akan mementaskan wayang dengan lakon "Sunan Kalijaga", salah satu tokoh Wali Songo yang paling populer dan menggunakan wayang sebagai metode dakwah.

Di tengah-tengah pentas wayang itu, juga ada bedah buku Atlas Wali Songo. KH Said Aqil Siroj, Agus Sunyoto dan narasumber lain memaparkan banyak hal mengenai Wali Songo, sementara Sujiwo Tejo si dalang edan itu juga akan aktif mengikuti bedah buku sembari ndalang. Bedah buku dan pementasan wayang akan bersahut-sahutan di halaman gedung PBNU yang akan disulap menjadi ruang pertunjukan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat ini, semangat umat Muslim di Indonesia untuk ? menjalankan ibadah umrah semakin tinggi. Untuk mendukung semangat tersebut, PT AL ANSHAR ASBIHU TAMA SEJAHTERA atau ASBIHU Tour and Travel, menyediakan minimal empat kelompok keberangkatan setiap bulannya.?

Seperti pada Kamis (2/3) lalu, operator Asosisi Bimbingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) tersebut memberangkatkan 40 jamaah umrah asal Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mujib: Jamaah Umrah adalah Orang-orang Pilihan

Sebelum mengikuti penerbangan ke tanah suci, keempatpuluh jamaah melakukan silaturahim ke Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Mereka berkesempatan mendengarkan tausiyah pembekalan dari Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi.?

Kiai Mujib mengatakan ibadah haji atau umrah merupakan panggilan dari Allah yang tidak semua orang dapat dengan mudah melaksanakannya. Orang yang dapat mengerjakan ibadah umrah adalah orang-orang pilihan.

“Ada orang yang mampu ekonominya, atau lebih pandai dan lebih banyak ilmu agamanya, tetapi tidak kunjung berangkat umrah. Bapak dan Ibu mungkin ilmu dan hartanya pas-pasan. Tetapi karena dipilih Allah, dapat melaksanakan ibadah umrah,” ujar Kiai Mujib.

Oleh karenanya, lanjut Kiai Mujib, ibadah umrah harus sungguh-sungguh diniatkan karena Allah. Salah satu implementasinya yakni dengan mengikuti peraturan, diantaranya jangan berbicara yang tidak perlu seperti berdebat, mengeluh atau bicara kotor; berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebaliknya jamaah harus memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya. Karena nilai pahala dari ibadah selama di Madinah dan Makkah akan dilipatgandakan oleh Allah Swt.

Kiai Mujib juga menyebutkan tanda-tanda umrah yang diterima Allah, adalah orang yang telah berumrah masuk surga ketika meninggal dunia. Bagi jamaah yang masih hidup di dunia, sepulang umrah atau haji, akan menjadi orang yang senang memberikan kedamain kepada orang lain; dan suka membantu orang lain yang memerlukan. (Kendi Setiawan/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nasional, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



KH Abdul Hayyie Nai’m lahir di Cipete, Jakarta Selatan pada tahun 1940. Ia adalah putra ulama Betawi, KH Muhammad Na’im yang berasal dari Cipete, dan Hj Mardhiyah yang asal Mampang.?

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ia meneruskan ke Raudlatul Muta’alimin Mampang. Saat berusia 14 tahun, ia dikirim untuk menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur atas anjuran Kiai Razzaq, pengasuh Raudlatul Muta’alimin Mampang.

Di Tebuireng, Abdul Hayyie muda menjadi santri istimewa dan merupakan santri kesayangan Kiai Idris, gurunya. Dianggap sebagai anak, Abdul Hayyie muda pun dilarang terlalu sering pulang ke Jakarta.

Pada tahun 1960, Abdul Hayyie diizinkan pulang dari Tebuireng. Ayahnya beralasan akan memberangkatkan Kiai Abdul Hayyie menunaikan ibadah haji. Kiai Muhammad Na’im sangat menginginkan anaknya belajar di Makkah.?

Di Makkah, Abdul Hayyie belajar di Pesantren Darul Ulum, asuhan Syekh Yasin Al-Padangi, ulama besar Makkah kelahiran Minangkabau. Ia satu kelas dengan Kholil Bisri putra KH Bisri Musthofa Rembang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tahun 1965, bersama Hambali Maksum dan Mahfudzh Ridwan, ia hijrah ke Baghdad, Irak berbekal tiket yang dibeli dengan uang terakhir yang mereka miliki. Mereka mendaftar di Fakultas Sastra Baghdad University. Di Baghdad pula, Abdul Hayyie bertemu dan kemudian bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Abdul Hayyie meraih gelar Lc pada tahun 1970. Tetapi ia tidak segera pulang ke Indonesia. Ia lebih dulu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Yordania, Turki, dan Beirut sebelum akhirnya pulang ke Indonesia tiga tahun kemudian.

Di Cipete, ia segera terjun dalam aktivitas dakwah dan taklimnya. Ia mengasuh pengajian dan Madrasah An-Nur, peninggalan ayahnya, dan berbagai madrasah dan majelis taklim lain di Jakarta Selatan dan Depok.

Kiai Abdul Hayyie mengaku miris menyaksikan kekejian dan kesadisan yang dilakukan oleh sesama manusia. Menurutnya, Jakarta sekarang ini ibarat hutan belantara yang dihuni binatang buas.

Ia sangat mengkhawatirkan perkembangan masyarakat mendatang. Kepeduliannya terhadap remaja itu menggerakkan hatinya mendampingi Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengasuh Majelis Taklim Nurul Mustafa, yang sebagian besar jamaahnya adalah para remaja. Diolah dari berbagai sumber. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Santri, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seperti tahun lalu, PBNU melalui Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Ramadhan ini menggelar agenda “Mudik Bareng NU 1433 H”. Sedikitnya 99 masjid di sepajang Pulau Jawa disiapkan menjadi posko mudik. Kebijakan ini merangkap harapan, masjid sepatutnya turut membantu kehidupan masyarakat.

Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Rabu (31/7), mengatakan, langkah ini adalah  wujud pemberdayaan aset Nahdlatul Ulama agar memberi manfaat kepada umat. Seluruh Pengurus Cabang  dalam Rapimnas LTMNU telah sepakat akan membuka posko di lingkungan masjid untuk menyambut ribuan calon pemudik.

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

“Kita juga berharap, program ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen menyebutkan beberapa keunggulan posko mudik NU ini. Di masjid, selain melepas lelah dan mampir ke kamar mandi, para pemudik dapat menunaikan shalat dalam suasana yang lebih teduh dan nyaman. Fasilitas ini berbeda dengan posko-posko lain yang umumnya terbatas pada penyediaan kamar kecil dan tenda berukuran sempit.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan 99 pengurus cabang secara tak langsung telah memperkuat LTMNU secara struktural. “Dengan kegiatan ini kita akhirnya telah melakukan konsolidasi dengan PC-PC (pengurus cabang), dari Merak sampai Banyuwangi,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nasional, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock