Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Banyuwangi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kesekian kalinya Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZIS) MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan hasil donasi kepada para korban banjir dan tanah longsor di Pacitan yang menelan banyak korban. Dikumpulkannya donasi tersebut melalui program Koin Bakti NU yang dijalankan sejak bulan Mei 2017.

Secara simbolis bantuan dana sebesar Rp 500 ribu dan pakaian layak diberikan oleh sekretaris MWCNU Kecamatan Banyuwangi Nano Hermawan kepada Sekretaris PCNU Kabupaten Banyuwangi Guntur Al-Badri di Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (4/12) pagi.

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Nano berharap semoga dengan sedikit bantuan yang berhasil dikumpulkan ini dapat meringankan beban yang dihadapi oleh warga Pacitan.

"Kita hanya dapat berusaha semaksimal mungkin apa yang kami bisa. Sebagai rasa turut belasungkawa atas musibah di sana. Betapa saya turut rasakan kepedihan batin yang mendalam, ketika melihat mereka kehilangan keluarga, saudara, sampai harta benda," tutur Nano.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan, seketika pengurus berusaha semaksimal mungkin untuk penggalangan bantuan dana di kepengurusan setempat.

"Alhamdulillah saya mengucapkan banyak terima kasih dengan hadirnya program koin bakti NU yang digagas oleh LAZIS ini dapat dirasakan hasil pengabdiannya. Karena itu, saya apresiasi atas konsistensi dedikasi pengurus LAZIS sejauh ini. Semoga dengan berjalannya waktu, jumlah donatur dapat terus ditingkatkan untuk berdonasi setiap bulan," tutup Nano.

Guntur Al-Badri mengatakan, sejauh ini dari pengurus cabang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 13,67 juta beserta pakaian layak dan obat-obatan.

"Data bantuan ini berhasil dikumpulkan dari seluruh MWCNU se-Kabupaten Bayuwangi beserta badan otonomnya. Tentunya ini akan terus bertambah," jelas Guntur.

Deadline kami bantuan akan ditutup saat prosesi pemberangkatan di Pacitan tanggal 5 Desember 2017 esok. Semoga ini menjadi keberkahan dan dijauhkannya kita semua dari segala malapetaka, harap Guntur. (M Sholeh Kuriawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Fragmen, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal -

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau PC IPNU Kota Surabaya terus mengintensifkan kunjungan ke kepengurusan di bawahnya. Sabtu (23/12) ini, mereka menyapa Pimpinan Anak Cabang (PAC) di kawasan Simokerto.

Kegiatan yang bertajuk Kader Care bertujuan mendiskusikan secara langsung kondisi kader IPNU yang ada di wilayah tersebut. Acara dilangsungkan di Aula Masjid Cungkup dan merupakan kegiatan kelima setelah acara serupa yang menyapa kawasan kampus serta PAC Gunung Anyar.

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Kota Surabaya Genjot Data Potensi Kader

Ketua IPNU Kota Surabaya, Achnaf al-Ashbahani mengemukakan aktifitas ini sebagai sarana melihat langsung kondisi terkini para kader yang ada di kecamatan. “Selanjutnya bisa didata secara langsung melalui database online yang telah dibuat,” katanya. 

Setelah ada kepastian terkait data anggota dan pengurus sekaligus potensi yang dimiliki, nantinya akan digunakan untuk berbagai kegiatan yang mendukung data tersebut. “Ketika ada kegiatan entah itu di tingkat provinsi atau nasional, kita punya bukti kongkrit,” katanya di hadapan peserta.

Pendapat lain disampaikan Amirul Mukminin sebagai penanggungjawab bidang kaderisasi. "Saya dipasrahi bidang pengembangan organisasi untuk juga membahas tentang kondisi organisaai,” katanya. Diharapkan nantinya semua kader IPNU bisa beraktivitas di masjid sehingga secara perlahan bisa menggaet kader dari para remaja di sana, lanjutnya.

Menurutnya, kondisi di kawasan ini sangat potensial untuk dimasuki kader dan nahdliyin. Hal tersebut sangat penting dalam upaya kian memperkokoh akidah Aswaja di kalangan aktifis dan keluarga besar masjid. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Ketua IPNU Kota Surabaya, Achnaf Al Ashbahani, Wakil Ketua II, Amirul Mukminin, bendahara yakni Abdul Mujib, serta wakil bendahara M Ichwanul Arifin. Selain itu hadir pula para kader PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Simokerto serta kader dari kepengurusan Ranting.

Kader care yang dimulai dengan pembacaan shalawat Nabi tersebut diakhiri diskusi dan perbincangan secara santai.  (Hisam Malik/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Istighothah bulanan yang diadakan oleh Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di halaman gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta Pusat, Rabu (25/6) tadi malam, dihadiri oleh Pimpinan Majelis Rasulullah SAW Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa.

Ratusan warga Nahdliyin dan jama’ah Majelis Rasulullah SAW secara khidmat membacakan shalawat ‘alan nabiy, memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan perantaraan Rasulullah SAW.

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW

KH Mustafa Agil Siradj, Wakil Ketua PP LDNU, menyampaikan taushiyahnya bahwa doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT tidak akan diterima tanpa menyebut Nama Muhammad SAW. “Saat menyembah Allah harus ada mahluq bernama Muhammad SAW,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada saat membaca tahiyat akhir dalam setiap shalat, umat Islam membaca, “assalamualika ayyuhan nabiy”, salam kepada Engkau wahai Nabi. Dijelaskan Kiai Mustafa, pada saat menyebut Nabi dalam shalat diharuskan memakai dlamir mukhatab atau kata ganti orang kedua, yang berarti bahwa pada saat itu Nabi dihadirkan dalam doa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Begitu pentingnya kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam setiap doa. Kiai Mustafa Aqil menyontohkan, dalam tradisi warga Nahdliyyin saat mengadakan ritual aqiqah atau acara syukuran untuk bayi yang baru dilahirkan, keluarga tidak akan mengeluarkan bayi sebelum sampai pada momen mahallul qiyam pada saat Nabi dihadirkan, yakni saat dibacakan, "Salam kepada Engkau wahai Nabi".

Cara itu disebut tawashul kepada Nabi, atau memanjatkan doa dengan perantaraan Rasulullah SAW. "Demikianlah apa yang telah diajarkan oleh para ulama pendahulu kita, dan amaliyah ini ditransformasikan kepada umat melalui organisasi Nahdlatul Ulama," kata Kiai Mustafa Agil.

Sementara itu Al-Habib Munzir dalam taushiyahnya juga memompa semangat para jamaah untuk mengikuti apapun yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan mengikuti apapun yang telah dikatakan, diperbuat atau diikrarkan oleh Nabi, maka umat Islam akan semakin dekat dengan Sang Pencinpta.

“Beliaulah yang akan memberikan syafaat kepada umat di hari kiamat. Meski 1000 tahun orang berada di neraka, asal tidak berbuat syirik, ia akan tetap mencium wanginya surga. Maka Allah tidak akan memerintahkan untuk memuliakan mahluk melebihi apa yang diperintahkan kepada kita untuk memuliakan Rasulullah SAW.” katanya.

Istighotsah dan pembacaan doa tadi malam dipimpin oleh KH Ahmad Sadid Djauhari, Dr. KH Abdullah Nur, Dr. KH Abu Na’im Khofifi, dan Ketua PP LDNU KH A Nuril Huda. Acara berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Pertandingan, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Meski film "Sang Kiai" diputar serentak 30 Mei kemarin, namun nahdliyin Kudus harus bersabar tidak bisa menonton seketika. Pasalnya, di Kudus tidak ada gedung bioskop. Warga kota kretek harus menonton ke Semarang dan harus berebut dengan warga di sana.

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas

Kader Ansor Desa Gribig Gebog Kudus Wahyudi merasa menyesal tidak bisa menonton pada pemutaran perdana 30 Mei ini. Yudi hanya bisa menunggu film yang disutradarai Rako Priyatno sudah beredar bebas di pasaran.

“Sebetulnya mau  menonton banget mas, tapi  disini tidak ada bioskop. Mau ke Semarang jauh,  jadi tertunda keinginan itu,” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Kamis (30/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia berharap ada pihak yang mau menjembatani memfasilitasi  pemutaran film ini di kota Kudus. “Kalau bisa nanti ada pemutaran dalam bentuk layar tancep  di ranting-ranting, karena film ini sangat memberi motivasi perjuangan bagi nahdliyin,” tambahnya.

Seorang pelajar Muhammad Nailul Falah meminta pengurus  IPNU-IPPNU membuat  rombongan menuju Semarang untuk menonton secara bersama.  “Selain untuk bisa segera mengetahui ceritanya, juga buat refresing ,” katanya singkat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembina PC IPNU Kudus M.Aflach mengusulkan kepada lembaga pendidikan Ma’arif di semua  tingkatan memobilisir siswa-siswi madrasah NU supaya menonton film yang dibintangi Ikranegara dan Cristine Hakim ini. 

“Dengan menonton film Sang Kiai,  pelajar Ma’arif nanti  bisa mengenal  sejarah perjuangan (pendiri) NU,” usulnya singkat yang ditulis di akun facebook milik kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Daerah, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pergantian tahun baru Hijriyah, diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan iman dan taqwa. Segenap kebaikan di tahun lalu, mesti diniatkan untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya.

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan

“Momen tahun baru, ayo ada peningkatan. Dari yang jelek menjadi baik. Semisal kita ubah kebiasaan membuang sampah sembarangan, ini juga berat,” kata Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada pengajian Akbar Dzikir dan Sholawat untuk memperingati Tahun Baru Hijriyah 1437 H di depan Balaikota Solo, Sabtu (31/10) malam.

Habib Syech juga menerangkan anjuran untuk selalu berbuat baik dan tidak mengambil hak orang lain. Karena itu, diharapkan selalu menyelesaikam kewajiban kepada sesama manusia, terutama dalam hal utang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Bahkan meski kepada orang non muslim pun kewajiban itu harus tetap harus dikembalikan,” tutur pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa itu.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara pengajian ini. “Solo kota sholawat. Semoga dapat menjadikan umat Islam bersatu, rukun,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Budi mewakili pihak Pemerintah Kota Solo ikut mendukung penuh kegiatan Solo Bersholawat. Bahkan agenda serupa sudah dijadwalkan kembali pada tahun depan, tepatnya pada 22 Oktober 2016.

“Kita butuh forum-forum pengajian seperti ini untuk meningkatkan religi masyarakat. Pemkot Solo sudah menetapkan tahun depan akan ada kegiatan serupa pada 22 Oktober yang bertepatan dengan Hari Santri,” ujar Budi.

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, acara pengajian tahunan ini dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, yang datang dari berbagai daerah. Jamaah memenuhi jalanan koridor Sudirman, mulai depan Balaikota hingga ke perempatan BI. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Hikmah, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Wonosobo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Study Club Generasi Unggulan (STUC General) Kabupaten Wonosobo mecoba membantu kader-kader NU yang potensial di Kabupaten Wonosobo supaya bisa lolos masuk perguruan tinggi negeri (PTN). 

Untuk kepentingan itu, Kelompok Bimbingan Belajar tersebut tengah mempersiapkan kegiatan Pasantren Kilat Sukses Masuk PTN 2013 atau Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS) di Asrama Pesantren Al Mansur Kauman, Kabupaten Wonosobo, Jum’at (10/5).

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Ketua Penyelengara KISS Stuc General Kabupaten Wonosobo Ubaidillah Faqih mengatakan bimbingan ini bertujuan untuk mendampingi pelajar atau kader-kader NU di Wonosobo yang pintar sehingga mampu masuk atau menembus pada perguruan tinggi negeri (PTN).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Secara akademik, pelajar yang lolos seleksi akan diberi kiat-kiat mengerjakan tes masuk dengan didampingi tutor yang mumpuni. Selain itu, kami juga bekali dengan pelatihan-pelatihan,” tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dijelaskan, kegiatan KISS ini juga membangun mental pelajar seraya memberikan wawasan ke-NU-an maupun Aswaja. Sehingga ketika diterima di PTN tidak mengalami kebingungan termasuk mengikuti organisasi ekstra kampus yang berbasis Nahdlatul Ulama. 

“Selain mendorong masuk PTN melalui program beasiswa Bidik Misi yang diprogramkan Mendikbud, pendampingannya dilakukan sampai pada Ospek hingga masuk di PTN nanti,” terang  Faqih.

Ia menjelaskan program kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 dengan nama pesantren kilat (Sanlat). Untuk sekarang berubah nama menjadi Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS).  

“Pada tahun 2013 ini pesertanya meningkat menjadi 20 yang tersebar di seluruh Kabupten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung,” jelasnya. 

Terkait peserta KISS, Faqih menerangkan sebagai pra syaratnya adalah pelajar atau kader-kader NU yang potensial. Sedang jumlah peserta targetnya menerima dua kelas atau maksimal 30 siswa. 

“Kita akan menyeleksi secara ketat, pelajar atau kader NU yang  pintar menjadi prioritas utama program ini,” imbuhnya. 

 

Redaktur  : Mukafi Niam

Kontriutor: Fathl Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur mengajak seluruh santrinya untuk mengikuti upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan RI ke-71. Upacara yang digelar di lapangan gedung Universitas Hasyim Asyari Rabu (17/8) diikuti ribuan santri putra-putri dan seluruh jajaran pengajar.

?

Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz saat menjadi inspektur upacara mengatakan, kalangan pesantren mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. "Para ulama pesantren dan pejuang terdahulu telah berhasil secara gemilang menggulung kolonialisme mengusir penjajah. Kini giliran kita untuk meneruskan kerja sejarah bangsa ini. Santri harus terus membuat dan mewarnai sejarah bangsa ini," ujarnya.

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

Kemerdekaan, lanjut kiai yang akrab disapa Gus Kikin, diperjuangkan bukan hanya untuk menggulung kolonialisme. Namun, untuk meraih kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain kunci pentingkemerdekaan, keterdidikan juga menjadi kunci penting untuk meraih kemajuan bangsa. "Dengan keterdidikan, kita bisa meraih kemajuan dan membuat bangsa kita lebih dari sekadar sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakannya, peringatan 71 tahun kemerdekaan ini adalah pengingat dan penanda bagi kita semua untuk bekerja semakin keras dalam mengisi kemerdekaan salah satunya adalah menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. "Tugas kita semua yang ada di pesantren sebagai pendidik, menyiapakan generasi emas. Maka didiklah dengan hati dan sepenuh hati, dengan keluhuran budi pekerti dan keteladanan serta keluasan pengetahuan agar bisa menginspirasi dan menjadi teladan bagi generasi yang akan datang," pintanya berpesan.

Kepada santri yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara ini, Gus Kikin, menambahkan, sebagai generasi bangsa, santri harus bisa mewujudkan cita cita para pendiri bangsa. "Kalian adalah pemilik masa depan. Belajarlah dengan keras, tuntas dan sepenuh hati. Jangan menunggu, tapi tempalah kepribadianmu dan kembangkan prestasimu. Jalin persahabatan dengan teman-temanmu, serta hormatilah orang tua dan gurumu. Jadikan mereka suluh hidupmu, " tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asyari ini meminta para santri nantinya bisa berkiprah di masayarakat dengan berbekal profesi masing masing. "Kami berharap kalian akan menjadi generasi penerus yang dapat membawa kejayaan bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang. Santri harus selalu membauat sejarah. Kalian bisa berkiprah sesuai profesi masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pesantren Tebuireng," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Semarang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga Banjardowo kecamatan Genuk, kota Semarang menggelar jalan sehat bersama sebagai puncak peringatan Hari Kemerdekaan Ke-69 RI di Banjardowo, Ahad (24/8) pagi. Ketua RW 6 kelurahan Banjardowo, Sutiman, menggunting pita yang menandai awal jalan sehat setelah sepekan sebelumnya mengadakan tirakatan dan tumpengan.

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Jalan sehat ini, kata Sutiman, bukan sekadar puncak kemeriahan, tetapi upaya membangun kebersamaan untuk saling memupuk rasa persaudaraan. Sementara Ketua RT 2 RW 6 Muslimin menambahkan, seluruh rangkaian peringatan ini menjadi bentuk rasa syukur warga demi menumbuhkan rasa keberpihakan kepada Tanah Air.

“Puncak peringatan semarak kemerdekaan ini semoga menguatkan tali silaturahmi dan mendekatkan antarwarga,” imbuh Muslimin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara para remajanya yang tergabung dalam Ikatan Remaja Telaga Muda melanjutkan kemeriahan Hari Kemerdekaan RI dengan menggelar perlombaan balap kelereng dan memasukkan pensil ke dalam botol khusus untuk anak-anak.

Peserta jalan sehat yang terdiri atas kalangan dewasa turut aktif memeriahkan perlombaan dengan mendampingi anak mereka. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Hikmah, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

PBNU Apresiasi Pemerintah dalam Tiga Hal

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Prosesi pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 berlangsung di kawasan Islamic Center Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram, Kamis (23/11) siang. Dalam acara yang dihadiri Presiden Joko Widodo itu, PBNU mengapresiasi terhadap pemerintah dalam tiga hal.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengapresiasi dan mendukung pengesahan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan sebagai ikhtiar mengatasi radikalisme.

PBNU Apresiasi Pemerintah dalam Tiga Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Apresiasi Pemerintah dalam Tiga Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Apresiasi Pemerintah dalam Tiga Hal

"Merupakan keberanian Bapak Presiden dalam menghentikan, menyetop, aliran radikal," ucap Kiai Said di hadapan hadirin.

Tetapi, menurutnya, upaya deradikalisasi harus berjalan seiring dengan ikhtiar Pemerintah meningkatkan kesejahteraan sosial melalui penyediaan lapangan kerja yang luas, menekan kesenjangan dan mendorong pemerataan, memperbanyak pelayanan dan fungsi jaminan sosial, serta menggalakkan program pembangunan ekonomi inklusif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, Ketum PBNU mengapresiasi Presiden Jokowi yang mengakui jasa dan saham santri dalam berdiri dan tegaknya NKRI dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Menurut Kiai Said, santri dan pesantren telah terbukti dan teruji dalam perjuangan nasional dengan mengusung slogan hubbul wathan minal iman (nasionalisme bagian dari iman). 

PBNU juga mengapresiasi Presiden Jokowi yang membatalkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur waktu sekolah 5 hari dalam seminggu atau 8 jam dalam sehari dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Upacara pembukaan Munas-Konbes NU dihadiri ribuan orang, termasuk peserta resmi forum ini yang terdiri dari jajaran pengurus PBNU, ratusan delegasi dari 34 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), serta 31 badan otonom dan lembaga NU. Turut diundang pula para petinggi lintas partai politik, pimpinan ormas Islam, pejabat tinggi negara, peneliti, dan duta besar negara-negara sahabat.

Forum tertinggi kedua di NU itu mengusung tema Menguatkan Nilai-nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga. Perhelatan akbar ini melibatkan lima pesantren yang tersebar di alamat berbeda antara Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 19 November 2017

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap pekan PC IPNU-IPPNU kabupaten Malang, Jawa Timur menyambung majelis taklim dengan kegaiatan positif bagi pelajar. Usai mengaji, sedikitnya 83 pelajar di Malang belajar membuat film di aula MWCNU Poncokusumo, Sabtu-Ahad (11-12/1).

“Hampir setiap pekan ada saja kegiatan yang tergelar,” ujar Ketua panitia belajar film M Bagus Mukmin, Ahad (12/1).

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Ngaji, 83 Pelajar di Malang Belajar Sinematografi

Peserta terdiri dari perwakilan sekolah dan pengurus pimpinan anak cabang IPNU-IPPNU di kabupaten Malang. Mereka dibekali pengetahuan terkait dunia pertelevisian selain praktik pembuatan film pariwisata yang dilaksanakan di Coban Pelangi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk memandu belajar pembuatan film, PC IPNU-IPPNU melibatkan Balai Pengembangan Media Televisi (BPMTV). Kegiatan ini didukung narasumber berkompeten mantan rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) M Hartanto dan pengajar multimedia di SMK Cendika Bangsa Kepanjen, Erik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Semoga pelatihan ini menerjunkan banyak pelajar NU dalam dunia perfilman ke depan,” harap M Bagus. (Ika Rosaria Fathony/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

Banyumas, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bulan suci ramadhan membawa keberkahah sendiri bagi para pedagang di Pasar Kalitapen. Pasar kecil yang beralamat di Jalan Raya Ajibarang-Purwojati KM 8 Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati, Kebupaten Banyumas, Jawa Tengah itu, sejak awal ? bulan ramadhan terlihat menjadi ramai ? pengunjung.?

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

"Jika dibandingkan bulan-bulan biasanya, bulan puasa yang lumayan ramai," kata Jasmin tukang parkir pasar.?

Meningkatnya jumlah pengunjung pasar tersebut, tentunya meningkat pula jumlah pendapatan para pedagang. Seperti diungkapkan Burhan, penjual ayam potong yang setiap hari menjajakan daganganya di Pasar Kalitapen. Burhah mengatakan, sejak memasuki bulan ramadan omset pejualanya meningkat.?

"Kalau hari-hari biasa menjual 10-15 kilogram ayam saja sudah alhamdulillah," kata Burhan.?

"Namun sejak memasuki bulan puasa, pagi ini saja sudah habis 15 kilo, sehari bisa sampe 27 kiloan yang saya jual," lanjut burhan ketika ditemui di lapaknya, Jumat (2/6) pagi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Burhan, hal senada juga dirasakan oleh Adi dan Dasilah sepasang suami istri penjual sayuran dan buah-buahan. Adi mengungkapkan, jika dihari-hari biasa paling banyak ? satu hari dapat 1 juta lebih. Namun sejak bulan puasa pendapatan satu hari bisa 2-3 jutahan. "Alhamdulilah, ini mungkin berkah di bulan ramadhan," kata Dasilah istri Adi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meningkatnya jumlah pengunjung di pasar Kalitapen rata-rata didominasi oleh kaum ibu-ibu. Mereka sengaja ke pasar untuk membeli bahan makanan dan lauk pauk untuk berbuka puasa.?

Para ibu-ibu berharap semoga harga sembako atau bahan makanan pokok tetap stabil dan tidak naik. Karena biasanya setiap mendekati lebaran, harga bahan kebutuhan pokok biasanya naik. ?

"Naik ya boleh asal jagan banyak-banyak," kata Bu Kasem pembeli di pasar. "Tapi lebih baik tidak naik," tandasnya. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah sidang itsbat, alunan takbir menggema bersama iringan terbangan hingga jam 10 malam di halaman sekretariat PCINU Sudan. Kumandang takbir sebanyak 112 warga NU di Sudan menjadi penanda bahagia mereka menyambut Hari Raya Idul Fithri 1436 H.

Jum’at (17/7) pagi, hari kemenangan pun tiba. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di hari yang fitrah itu. Mereka berkumpul di aula wisma PCINU Sudan. Acara open house lalu dibuka setelah pelaksanaan shalat sunah Idul Fithri di wisma duta besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea.

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Menurut H Lian Fuad, organisasi yang paling tampak, aktif, dan ramai dari dulu sampai sekarang di Sudan tidak lain dan tidak bukan hanya PCINU Sudan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini merupakan nilai plus. Saya harap hal ini masih tetap bertahan seterusnya,” kata Dubes RI untuk Sudan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selama Ramadhan, PCINU cukup aktif mengadakan pelbagai kegiatan. Mereka membuka pengajian Risalah Ahlussunnah di sekretariat PCINU Sudan. Mereka juga menyelenggarakan tadarus Al-Qur’an setiap usai shalat Tarawih.

Mereka mengakhiri Ramadhan dengan khataman akbar Al-Quran sesaat sebelum berbuka di malam hari raya Idul Fithri 1436 H. Mereka lalu menutup Ramadhan dengan buka puasa bersama. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Daerah, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Meriahkan Hari Kemerdekaan, Santri Al-Ghozali Gelar Lomba Jasmani dan Rohani

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Tidak mau ketinggalan dalam memeriahkan HUT Ke-72 RI, ratusan santri putra Pondok Pesantren Bahrul Ulum Ribath Al-Ghozali Tambakberas, Jombang mengadakan lomba olahraga antarkamar, Ahad (20/8). Perlombaan yang dipertandingkan antara lain takraw, memecahkan balon berisi air dengan mata tertutup, voli, kamar terbersih dan beberapa lomba hiburan lainnya. Jenis lomba ini biasa disebut dengan lomba jasmani.

Selain itu, di pesantren ini juga ada perlombaan yang diistilahkan dengan lomba rohani, sebab akan berkaitan langsung dengan rohani santri seperti kreasi nazham, baca kitab, cerdas cermat agama, pelatihan merawat jenazah. Hal ini dilakukan untuk merawat ciri khas pesantren.

Meriahkan Hari Kemerdekaan, Santri Al-Ghozali Gelar Lomba Jasmani dan Rohani (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahkan Hari Kemerdekaan, Santri Al-Ghozali Gelar Lomba Jasmani dan Rohani (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahkan Hari Kemerdekaan, Santri Al-Ghozali Gelar Lomba Jasmani dan Rohani

"Kebetulan teman-teman libur dan tidak pulang, maka kita isi dengan lomba olahraga biar sehat," kata pengurus Ribath, Choiru Rojikin (Oji).

Oji menjelaskan tradisi menggabungkan lomba jasmani dan rohani di pondoknya sudah menjadi hal biasa. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan keduanya karena untuk melestarikan budaya pesantren butuh fisik yang kuat, tubuh yang sehat diperoleh dengan olahraga yang rajin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Prinsip kami, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk kesuksesan lomba, seluruh santri dimintakan iuran seikhlasnya. Uang yang terkumpul digunakan untuk membeli hadiah, peralatan lomba dan snack bagi dewan juri. Setiap kamar harus mengirimkan minimal satu wakil pada setiap perlombaan.

"Lombanya sederhana, yang penting rasa kekeluargaan di antara para santri tambah subur," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seperti diberitakan sejumlah media, di Jawa Timur ada tradisi minta hujan dengan cara saling cambuk yang dikenal dengan istilah tiban. Kesenian tradisional meminta hujan ini berlaku di daerah Kediri, Blitar, Tulungagung, serta Trenggalek.

Tradisi yang masih bertahan ini memantik keprihatinan Wakil Ketua Pengurus Wilayah ? Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur H Farmadi Hasyim. "Masyarakat khususnya kaum muslimin hendaknya mengembalikan segala tradisi pada ketentuan agama," katanya, Senin (2/11).

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’

Penceramah di sejumlah radio dan televisi di Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam pandangan fikih, meminta hujan dikenal dengan cara sholat istisqa. "Dan alhamdulillah, di sejumlah kawasan bisa menyelenggarakan sholat ini dan tidak lama kemudian hujan turun," kata ustadz H Farmadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di beberapa kitab kuning telah diceritakan bahwa tradisi meminta hujan ini pernah dilakukan para nabi. "Bahkan pada zaman Nabi Musa juga pernah terjadi paceklik lantaran hujan tidak segera turun. Saat itu seluruh anggota masyarakat dikumpulkan untuk berdoa dan memohon agar segera diturunkan hujan," kata H Farmadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada zaman Harun Ar-Rasyid.

Ustadz H Farmadi juga mengingatkan bahwa Islam sangat menghargai kesehatan dan keselamatan manusia. "Dan tradisi tiban dengan menyiksa dan melukai tubuh para pelakunya adalah tindakan yang disayangkan," terangnya.

Dengan tetap bertahannya tradisi tiban ini, ia menyarankan agar terus dilakukan pendekatan dan pendampingan kepada masyarakat. "Ini tugas semua kalangan khususnya para kiai dan ulama serta fungsionaris NU di berbagai tingkatan," sergahnya.

Kemarau berkepanjangan selama ini hendaknya disikapi dengan pendekatan agama. "Kita harus memperbanyak istighfar seperti yang dipesankan dalam surat Nuh ayat 10 hingga 12," katanya. Dalam ayat tersebut, lanjutnya, kaum muslimin diharuskan untuk istighfar, sehingga Allah akan menurunkan hujan dari langit dan juga menumbuhkan pepohonan.

Di samping itu, kesalahan berupa pembakaran lahan, polusi udara, penebangan hutan dan segala perilaku merusak alam juga segera diakhiri. "Insya Allah bila semua dilakukan, kemarau akan segera berakhir dan negeri ini juga mendapatkan pertolongan Allah," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Mensos: Zakat dan dan Sedekah Dibalas dengan Hitungan Allah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Menteri Sosial Mensos Republik Indonesia (RI) Khofifah Indar Parawansa mengatakan, ketimpangan yang terjadi pada umat Islam itu disebabkan oleh umat Islam itu sendiri. Salah satunya adalah tidak berjalan efektifnya zakat.?

Mensos: Zakat dan dan Sedekah Dibalas dengan Hitungan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos: Zakat dan dan Sedekah Dibalas dengan Hitungan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos: Zakat dan dan Sedekah Dibalas dengan Hitungan Allah

Mengutip data dari Baznas, Khofifah mengungkapkan, potensi zakat dan sedekah umat Islam itu 217 triliun namun saat ini baru tergali tiga triliun.

“Baznas menyebutkan ada 217 triliun, tetapi baru tiga triliun yang tergali. Ini artinya yang membuat ketimpangan ya kita sendiri,” ucapnya saat acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 pada hari ketiga yang diselenggarakan atas kerja sama LD PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Rabu (31/5). ? ?

Ia menyangka, hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan umat Islam tentang manfaat bersedekah dan berzakat.?

“Mereka mungkin tidak tahu bahwa dalam berzakat atau bersedekah itu harus menggunakan hitungannya Allah, jangan menggunakan matematikanya manusia. Kalau bersedekah dan berzakat maka akan dilipatkagandakan harta kita menjadi tujuh ratus kali,” urainya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka dari itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu mengajak para dai untuk menyebarluaskan bahwa orang yang berzakat atau bersedah itu akan dilipatgandakan hartanya dan juga akan mendapatkan pengurangan pajak, bukan malah berkurang. ?

“Kita viralkan itu anbatat sab’a sanabil fi kulli sunbulatin mi’atu habbah. Orang yang berzakat bisa mengurangi pajaknya. Seseuai dengan UU zakat,” terangnya.

Setelah potensi zakat terkumpul dengan optimal, lanjut Khofifah, lalu harus ada rencana yang jelas dari pengelola zakat untuk mengelola dana tersebut agar manfaatnya bisa merata.

“Setelah itu, kemudian kita edukasi bagaimana 217 triliun itu bisa efektif dimanfaatkan,” ucapnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB

Tokoh-tokoh NU Nusa Tenggara Barat dalam cerita lisan menyebutkan bahwa Rais Syuriyah PWNU NTB pertama adalah Tuan Guru Shaleh Hambali (Tun Guru Bengkel). Dia memulai aktif pada 1953. Dengan demikian, NU di NTB ada jauh setelah NU berdiri.  

Jika melihat sejarah NU secara nasional, waktu itu adalah moment politis karena NU menjadi partai setelah Muktamar Palembang tahun 1952. 

Namun, ternyata, NU pada tahun 1953 adalah kelanjutan dari NU dari periode-periode sebelumnya. Karena pada tahun 1934 sudah ada anggota NU. Bahkan ada sebuah organisasi keulamaan Ahlussunah wal-Jama’ah yang bermigrasi menjadi pengurus-pengurus NU. 

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru Bengkel dan NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB

Untuk mengetahui hal itu, Abdullah Alawi mewawancarai Adi Fadli, berikut petikannya.

Kenapa beliau dikatakan Rais Syuriyah pertama, padahal NU di Lombok telah ada sejak tahun 1934-1935? 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ada dua buku tentang itu, yang ditulis Tuan Guru Taqi, yang kecil. Tuan Guru Taqi itu menyebut tahun 1935, di Sumbawa 1934, sementara tahun 1953 itu kelanjutan sejarah NU, itu yang besar. Tahun 1953 itu adalah momentum disahkannya sebagai Pengurus Wilayah NTB. Sebelumnya cabang NU Lombok, karena dulu (1935) Kiai Muhammad Dahlan yang diutus dari Jawa Timur untuk membuka cabang di Ampenan. 

Dulu, awal-awalnya PUIL (Persatuan Ulama Islam Lombok) ada juga yang bilang PIL (Persatuan Islam Lombok), itu konsul NU Lombok. Nah, kemudian berubah menjadi Cabang NU Lombok. Nah, setelah itu, tahun 1953, disahkan sebagai Pengurus Wilayah. Nah, wilayah itulah yang dianggap secara resminya itu, barulah Rais Syuriyahnya yang TGH Muhammad Shaleh Hambali. 

Nanti dibaca di buku saya, saya mengusahkan memperiodisasai dari tahun 1934, Rais Syuriyahnya Ahmad Al-Kaf, Mustofa Basri. Lalu tahun 1953 barulah TGH Shaleh dan Ahsid Muzhar, itu ada dasarnya SK-SK-nya. Itu berdasarkan kopian SK yang terarsif di sini. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari 1934 sampai sebelum 1953, kenapa Tuan Guru Bengkel belum masuk NU? 

Kalau kita hitung, dia pulang ke Lombok 1916 (setelah belajar di Mekkah), NU muncul setelah sepuluh tahun kemudian. Ada pergerakan Nahdlatul Wathan KH Wahab Hasbullah sebelum berdirinya NU. Pasti dia (Tuan Guru Bengkel) tahu. Tapi dia mungkin ke sininya itu belum sampai secara resmilah (mengikuti NU). Nah, pergerakan yang dekat dengan pelabuhan, dekat dengan pasar, sehingga di Ampenan (berkembang) pergerakannya, kampung Melayu, Arab di sini itu, saya tidak tahu dengan pasti. 

Pada 1953, hanya dia yang punya otoritas keulamaan bagi orang NU. Ketika resmi ini, tak ada perdebatan menetapkan dia (sebagai Rais Syuriyah) sampai akhir hayatnya, tahun 1968.

Kenapa dia mau ikut di organisasi NU?

Menurut penuturan Tuan Guru Bagu, TGH Turmudzi Badarudin, penuturannya itu, kalau kamu masuk NU, kamu bisa lewati laut. Itu sederhannya. 

Penjelasannya bagaimana? 

Jadi, pandangannya, wawasannya nanti lebih luas. Kalau masuk organisasi lokal, ya cuma di sini. 

Itu secara eksplisit, ada mana implisitnya? 

Kalau melewati laut akan memiliki cakrawala luas, karena NU itu besar, tidak lokal. Kamu masuk NU, kamu akan bermanfaat luas, di situlah kontribusi nasionalnya. Saya temukan banyak data tertulis misalkan seperti apa siapa dia ikuti muktamar NU, belum saya temukan, walaupun dalam tutur lisan, murid-muridnya katakan, dia ikut, wajib ikut, dan dari Tuan Guru Bagu, terutama, dia mengatakan, dia tetap ikut. 

Apakah ada, misalnya pertemuan fenomenal antara Tuan Guru Bengkel dengan tokoh NU nasional, misalnya dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari atau yang lainny?  

Kalau dengan Mbah Hasyim, tidak saya temukan. Tapi selain itu, banyak, malah mereka yang datang, KH Wahab Hasbullah, Saifuddin Zuhri, Idham Chalid, AH Nasution (tokoh tentara), mereka datang sendiri, dan bukan sehari mereka datang, nginep, mingguan. Itu penuturan dari Tuan Guru Bagu. KH Wahab Hasbullah seminggu di Bengkel. 

Bahkan, saya dengar Kiai Bisri Mustofa, ayahnya Gus Mus pernah sebulan di situ? 

Benar itu. Begitulah kekutannya. Cuma itu belum tertulis ya, masih secara lisan.

Salah seorang yang datang adalah Bung Karno dan Bung Hatta meski berbeda waktu. Khusus pertemuan dengan Bung Karno, mengapa Tuan Guru Bengkel  begitu yakin Bung Karno akan datang ke pesantrennya? 

Entahlah. Dia punya pengawal dlahir dan batin kan. Pengawal secara lahiriah manusia dan jin. Setahu saya dari manuskrip, jinnya itu, dia memerintahkan jinnya itu berkirim surat ke Jakarta, dan itu yang bawa itu jin, yang menyampaikannya ke sana. Di manuskripnya ada. Dari keyakinan itulah, dan dari basyirah dan karomahnya, dia yakin Soekarno akan mampir. Saya tidak tulis itu karena tidak ilmiah kan. Sehingga ketika datang, tertulis sepanduk, papan, gambar kedatangannya Bung Karno, di mobil Soekarno, sore waktunya datang. 

Apa betul, pengawalnya Bung Karno udah lewat 1 km? 

Betul itu. Atau mungkin juga setengah kilo. Berhenti langsung Soekarno. Mobilnya disuruh berhenti. Santri berjajar plus anak yatim. Dia tulis di plakatnya itu, waammal yatima fala taqhar, wa aammas saila fala tanhar, itu di plakat. Plakatnya masih ada, saya simpan. 

Apa betul dia punya sekretaris atau semacam tim penulis? 

Betul itu. 

Bagaimana dia bisa tercipta jadi penulis dan produktif? 

Dia punya kekuatan tradisi di Mekkah yang terbiasa mensyarah, menerjemahkan dari kitab-kitab kecil. Sehingga ketika dia melihat kondisi masyarakat masih buta sekali, masa penjajahan, dia ciptakanlah itu. Dan itu yang pertama kali kitab tahun 1935, itu yang pertama yang saya dapatkan, entah yang sebelumnnya, tidak tahu saya. Karena kekuatan di beliau itu ada katibnya yang menulis. Dan beliau menulis itu, biasanya malam. Suruh bangun sekretarisnya, santrinya, kemudian dia diktekan. Dan itu pasti setelah shalat dan dia berwudulu, termasuk katib, menggunakan tinta celup.

Pondok pesantren beliau, Darul Qur’an, saat ini masih berlangsung?

Iya, tapi formal saja. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 14 September 2017

Terorisme Tidak Bisa Dihilangkan, Beginilah Cara Mengatasinya

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Nuh menyatakan, kelompok ekstrim baik kiri ataupun kanan akan selalu ada dan itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Menurut dia, itu adalah sesuatu yang alami. Namun demikian, ia berpendapat kelompok ekstrim radikalis tersebut bisa diredam dengan memperkuat kelompok-kelompok yang moderat. 

“Kalau kelompok moderat menurun, maka kelompok ekstrim akan mengambil alih dan semakin membesar,” katanya di Pesantren Darul Qur’an Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11).

Terorisme Tidak Bisa Dihilangkan, Beginilah Cara Mengatasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Tidak Bisa Dihilangkan, Beginilah Cara Mengatasinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Tidak Bisa Dihilangkan, Beginilah Cara Mengatasinya

Ia berpendapat, jika kelompok moderat kuat terus maka ekstremisme tidak akan mendapatkan ruang untuk melakukan tindakan-tindakan terorisme. 

Untuk memperkuat kelompok moderat, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, memberikan perhatian. Kelompok moderat harus diberikan perhatian khusus agar tidak merasa berjuang sendirian dalam menghadapi kelompok-kelompok ekstrim.

“Kedua, memberikan penguatan. Baik penguatan organisasi ataupun penguatan keumatannya,” jelas penerima penghargaan The Order of The Rising Sun dari Pemerintah Jepang ini.

Ketiga, menariknya untuk migrasi ke masa depan. Kelompok moderat harus diajak untuk menatap masa depan. Kelompok-kelompok ekstremis radikalis sudah mulai mengader generasi alfa atau mereka yang lahir tahun 2009 ke atas yang ada di tingkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Oleh karena itu, kelompok moderat juga harus memikirkan dan mempersiapkan strategi-strategi untuk memperkuat diri di masa yang akan datang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Jumat lalu (24/11), Masjid Al-Rawdah di Bir al-Abed Sinai Mesir diserang kelompok teroris. Dilaporkan peristiwa ini menewaskan sedikitnya 235 orang dan melukai 109 lainnya. (Muchlishon Rochmat) 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ada Kajian Islam dan Bedah Buku Aswaja di Konferwil

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tidak semata menjadi media melakukan evaluasi dan sejumlah program kerja serta pemilihan kepengurusan NU Jawa Timur lima tahun mendatang, Konferwil juga menyediakan forum diskusi untuk memantapkan Aswaja.

Selama dua hari yakni hari Sabtu hingga Ahad (1-2/6), Aswaja NU Center PWNU Jatim menyediakan forum tersendiri bagi para warga dan peserta Konferwil untuk mengasah dan memperdalam pemahaman dan keyakinan terhadap Aswaja ala NU. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Aswaja NU Center dengan penerbit dan distributor buku ke-NU-an, Khalista Surabaya.

Ada Kajian Islam dan Bedah Buku Aswaja di Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Kajian Islam dan Bedah Buku Aswaja di Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Kajian Islam dan Bedah Buku Aswaja di Konferwil

KH Abdurrahman Navis selaku Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim secara rinci menyebutkan agenda kajian yang akan berlangsung tersebut. Untuk hari pertama yakni Sabtu jam 09.00 hingga 10.30 adalah sosialisasi Aswaja NU Center dan bedah buku Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Untuk hari dan kesempatan pertama, saya yang mengisi,” kata Kiai Navis, sapaan akrabnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal (30/5). Buku ini merupakan hasil kerja kolektif tim Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam rangka memberikan wawasan dan pendalaman bagi kebiasaan yang dilakukan warga NU dalam beribadah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Usai itu dilanjutkan dengan dua buku sekaligus karya Rais Syuriah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad dengan judul  Hujjah NU dan Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan Ramadhan. "Bila tidak ada perubahan, maka acara ini berlangsung mulai jam 10.30 hingga 12.00 WIB,” tandas Ma’ruf Asrori, Komisaris sekaligus Direktur Utama Khalista.

Usai shalat Dhuhur dan makan siang, peserta akan disuguhkan dengan buku yang paling baru berjudul Belajarlah kepada Lebah dan Lalat: Menuju Kokoh Spiritual, Mapan Intelektual karya Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Agoes Ali Masyhuri atau Gus Ali.

“Buku ini baru saja terbit menjelang Konferwil dan merupakan catatan ceramah dari Gus Ali yang disampaikan baik di TV maupun pengajian rutin di masjid pesantren,” kata Cak Ma’ruf, sapaan akrab Direktur Khalista.

Pada jam 14.00 hingga 16.30 WIB, para peserta akan mendapatkan materi seputar Firqah Aliran yang Menggerogoti NU. Pandangan dan ulasan ini disampaikan Ustadz Faris Khoirul Anam. Malamnya yakni jam 19.00 hingga 23.00 WIB akan tampil Ustadz Idrus Ramli memberikan materi Strategi Dakwah Aswaja di Tengah Persinggungan antar Aliran”.

Sedangkan pada hari Ahad, ada empat agenda acara yang akan digelar. Pertama, bedah buku dengan judul Bekal Aswaja Menghadapi Radikalisme Salafi Wahabi karya Ustadz Idrus Ramli, dilanjutkan dengan Tantangan Aswaja di Dunia Islam oleh Ustadz Arya Muhammad Ali, kemudian “Sosialisasi Hasil Bahtsul Masail LBM PWNU Jatim” oleh KH Romadlon Khotib dan dipungkasi oleh Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar yang akan memberikan pencerahan seputar “Aktualisasi Qanun Asasi NU”

Kiai Navis menandaskan bahwa acara ini sangat menarik dan penting karena diisi oleh para narasumber yang kompeten. Hal senada disampaikan Cak Ma’ruf. “Kegiatan ini sebagai upaya membentengi dan memberikan solusi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dalam hal ini warga NU,” terangnya

Alumnus Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel ini tidakmenutup mata dengan derasnya ancaman, terror bahkan intimidasi yang dilakukan Islam garis keras maupun Islam beraliran kiri terhadap eksistensi amaliah NU. 

“Berdasarkan pengalaman menyelengarakan acara di tempat lain, kegiatan ini banyak membantu memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap keyakinan dan amaliah yang selama ini diyakini dan dilakukan warga NU,” tandasnya.

Bahkan seluruh kegiatan nantinya akan didokumentasi sehingga bisa dilihat dalam bentuk CD dan atau DVD. “Ini permintaan dari banyak warga yang akan hadir pada kegiatan ini,” tandasnya sumringah. Dan Khalista bersama Aswaja NU Center siap menerima permintaan tersebut. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Amalan, Daerah, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 28 Juli 2017

10 Ribu Massa Akan Turun Jalan Tolak Sekolah Lima Hari

Semarang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) akan mengerahkan massa lebih dari 10 ribu orang untuk melakukan aksi damai menolak Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang 5 Hari Sekolah pada hari Jumat, 21 Juli 2017 pukul 13.00 WIB di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl Pahlawan No 9 Semarang.

?

"Aksi ini akan diawali dengan shalat Jumat di Masjid Baiturrahman Semarang, lalu long march menuju Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah," kata koordinator aksi, Hudallah Ridwan, Senin (17/7/17) melalui siaran pers.

10 Ribu Massa Akan Turun Jalan Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Ribu Massa Akan Turun Jalan Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Ribu Massa Akan Turun Jalan Tolak Sekolah Lima Hari

?

Hudallah menjelaskan, massa yang tergabung dalam KMPP merupakan elemen masyarakat yang tidak sepakat dengan penerapan Permendikbud No. 23 Tahun 2017. "Permen tentang 5 hari sekolah ini jelas membawa dampak buruk bagi masyarakat, tapi pemerintah tetap saja memaksa untuk diberlakukan. Karena itu, ketika kata-kata tak lagi bermakna, maka aksi adalah solusi," paparnya.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aksi damai menolak sekolah 5 hari ini akan terus berlanjut sampai dengan pemerintah mencabut Permendikbud No. 23 Tahun 2017.

?

"Jika pemerintah tidak membatalkan Permendikbud No. 23 Tahun 2017, aksi akan tetap berlanjut dengan massa yang lebih besar. Aksi ini kami terpaksa lakukan karena sepertinya pemerintah tidak mendengar tuntutan kami secara baik-baik," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

?

Hudallah meminta kepada semua masyarakat supaya aksi yang akan diikuti puluhan ribu massa itu bisa berjalan dengan baik dan damai. "Semua masyarakat di desa-desa banyak yang ingin berangkat, karena full day school salah satunya mengancam eksistensi madrasah diniyah yang biasanya dimulai sejak pukul 13.00 WIB. Kalau yang dari desa-desa di Jawa Tengah ikut berangkat, maka aksi ini bisa ratusan ribu, bahkan jutaan orang," katanya.

?

Pemberlakuan kebijakan itu ditinjau dari berbagai sisi lebih banyak mengandung madlarat (bahaya) daripada mashlahatnya (manfaatnya). Dari sisi kultural, mengancam pendidikan karakter yang selama ini diajarkan di dalam madrasah diniyah. Dari sisi sarana dan prasarana masih banyak sekolah, bahkan rata-rata, belum memadai.

?

"Selain itu, jika full day schooll bertujuan untuk melakukan pendidikan karakter, maka pendidikan karakter yang sesungguhnya di Indonesia sudah berlangsung lama sejak pra kemerdekaan melalui pondok pesantren dan madrasah. Pendidikan karakter di Indonesia sesungguhnya adalah pendidikan agama," paparnya. (Red: Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Daerah, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 07 Juli 2017

Sambangi PBNU, Laurent Booth Ceritakan Potensi Radikalisme di Dunia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Laurent Booth, aktivis perdamaian yang juga adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris, Toni Blair menyambangi kantor PBNU Jakarta, Jumat (16/10). Dalam kunjungannya tersebut, dia menceritakan berbagai potensi paham radikal di kalangan anak-anak, terutama di kawasan Timur Tengah.

Sambangi PBNU, Laurent Booth Ceritakan Potensi Radikalisme di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambangi PBNU, Laurent Booth Ceritakan Potensi Radikalisme di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambangi PBNU, Laurent Booth Ceritakan Potensi Radikalisme di Dunia

Booth yang didampingi suaminya dan seorang guidance, Ibrahim Conway diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj dan Sekjen PBNU, H Helmy Faishal Zaini.

Wanita yang saat ini aktif mengampanyekan Islam damai ini mengatakan, sebagian besar kelompok orang yang mempunyai paham radikal merupakan kelompok yang kurang teredukasi bagaimana Islam yang sesungguhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dari berbagai edukasi yang saya jalani, mayoritas anak muda gampang sekali dipengaruhi paham-paham Islam keras. Mereka adalah generasi yang kurang terdidik,” ujar Booth.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kita semua bisa melihat, kata Booth, tindak terorisme banyak dilakukan oleh anak-anak yang realtif muda. Para penyebar paham radikal sering memanas-manasi mereka dalam sebuah pidato yang berapi-api.?

“Tekanan kelompok radikal kepada anak-anak muda sangat keras sehingga masa depan mereka pun menjadi sangat mengkhawatirkan,” tuturnya dalam bahasa Inggris.

Terkait dengan pandangannya mengenai Nahdlatul Ulama, wanita yang telah menjadi mualaf sejak 5 tahun lalu ini mengatakan, bahwa dia sangat terkesan dengan dakwah NU yang senantiasa menyuarakan perdamaian di seluruh penjuru dunia.

“Secara umum, saya senang sekali bisa berkunjung ke Indonesia, masyarakatnya ramah meski kondisi jalanannya tidak nyaman karena macet,” jelas wanita yang sudah menyambangi sedikitnya 33 negara ini terkekeh.

Ketika baru pertama kali memeluk Islam, mantan wartawan BBC ini memang terkucil di negaranya. Namun demikian, keluarga Toni Blair sendiri menghargai pilihan Booth untuk menjadi seorang Islam.

“Saya tidak pernah memanfaatkan kekuasaan kakak ipar saya sebagai Perdana Menteri Inggris, saya hanya ingin berbagi kebaikan dengan anak-anak dan masyarakat di dunia tentang Islam yang sesungguhnya. Hal ini juga terinspirasi oleh berbagai pengalaman saya ketika dulu aktif menulis liputan di negara-negara konflik,” tandasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Daerah, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock