Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon menggelar kajian fiqih seputar haid di Pesantren Raudlatut Tholibin Desa Kalibuntu, Pabebdilan, Kamis (30/6). Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan Ikatan Alumni Pesantren Lirboyo Kecamatan Pangenan yang diikuti puluhan anggota IPNU dan IPPNU setempat.

Menurut Ketua IPPNU Pabedilan Sri Mahmudah, kegiatan seminar ini membahas perempuan khususnya haid, nifas, dan seluruh permasalahannya. Kajian ini menghadirkan narasumber Ustadz Harun Purhadi, alumni Pesantren Lirboyo.

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

"Intinya menuju perempuan salehah. Minimalnya tahu dan mengerti seluk-beluk haid. Tentang haid ini menurutku sangat penting juga dikaji baik oleh perempuan maupun laki-laki. Karena perempuan dan laki-laki sudah seharusnya mengerti persoalan haid dan permasalahannya,” jelas Mudah.

Sedangkan Ketua IPNU Pabedilan Ahmad Fahrurrijal mengatakan, kegiatan ini penting karena banyak para kader yang membutuhkan pengetahuan seputar haid dan thaharah agar lebih mantap dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Untuk laki-laki, agar kelak setelah berumah tangga paham tentang haid dan dapat menuntun istrinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alhamdulillah acara kami disambut dengan baik oleh kader. Setelah seminar acara kami lanjut dengan tadarus Al-Qur’an sambil ngabuburit dan buka bersama. Malamnya setelah Tarawih, kami isi dengan rapat koordinasi dengan seluruh ranting dan komisariat yang ada di Kecamatan Pabedilan,” jelas Rijal kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon. Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori dan Ketua IPPNU Cirebon Nur Aida Fajriyanti berharap ke depan seluruh anak cabang Pelajar NU selain gencar kaderisasi formal juga penting untuk memerhatikan keilmuan para pelajar baik dalam bentuk seminar, diskusi, maupun pelatihan. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang didampingi oleh ketua PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen dan Ketua PP Fatayat Anggia Ermarini melantik kepengurusan cabang istimewa NU Malaysia, Pagar Nusa dan Fatayat periode 2017-2020, Ahad (24/9) di Dewan Sulaiman Kuala Lumpur. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan KBRI untuk Malaysia dan warga NU yang ada di Malaysia.

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Ketua Pertubuhan Malaysia Ustadz Ahmad dalam sambutannya mengatakan, NU Malaysia berserta Banomnya merupakan organisasi yang telah sah di Malaysia karena telah didaftarkan secara resmi di Malaysia serta diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai organisasi pertubuhan NU Malaysia. 

 

Dalam kesempatan itu, Ketum PBNU memberikan ceramah sekaligus memberi arahan kepada pengurus NU dan Nadliyin untuk memahami sejarah NU serta mampu memberikan pemahaman maupun meningkatkan praktik amaliyah ibadah yang menjadi tradisi kuat di tubuh NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga menegaskan bahwa NU berkomitmen mempertahankan negara Indonesia sebagai darussalam (negara damai) bukan negara darul Islam. 

“Sebaiknya nanti tetap kembali ke Indonesia untuk membangun daerahnya masing-masing dan berbakti untuk bangsa,” pesan Kiai Said.  

Kepengurusan PCINU Malaysia yang digawangi oleh Ustadz Ihyaul Lazib, Ketua PCI Fatayat Rizki Makiyyah, dan Ketua PCI Pagar Nusa Malaysia Mohammad Zakki berserta jajaran kepengurusannya berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah serta tentunya menjadikan NU bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di Malaysia. (Wahyu Hidayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Karawang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berangkat dari rasa tanggung jawab organisasi untuk menciptakan kader  yang memiliki kapasitas intelektualitas serta menjadi kader penggerak, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) dan PW Ikatan Pelajar Putri Nahldatul Ulama (PW IPPNU) Jawa Barat melaksanakan Pendidikan Pengkaderan Latihan Intsruktur (Latin) dan Latihan Pelatih (Latpel). 

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Kedua kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Arrohmah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, 22-25 Desember 2017. 

Ketua Pelaksana Sahrul mengatakan kegiatan diikuti 150 peserta dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

“Kader yang hadir juga merupakan kader-kader terpilih dan terbaik yang diutus dan diseleksi dari masing-masing cabang, sehingga kegiatan tersebut dijadikan momentum silaturahim gagasan dan konsolidasi gerakan IPNU IPPNU se-Jawa Barat,” kata Sahrul, Jumat (22/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan banyak pembahasan yang menarik untuk merumuskan strategi gerakan ke depan.

“(Adanya) tugas dan tantangan, IPNU IPPNU dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan dan tren tanpa kehilangan jati diri sebagai IPNU dan IPPNU,” lanjut Sahrul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziad Ahmad mengatakan kegiatan ini sebagai wujud peneguhan dan keseriusan dalam menjalankan proses kaderisasi formal IPNU/IPPNU.

“Latihan Intruktur (Latin) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri (IPNU/IPPNU) sebagaimana kita pahami adalah fase pengkaderan instruktur untuk membangun dan memperkuat basis pengetahuan,” kata Ziad seraya menyebut tema kegiatan adalah Reaktualisasi Sistem Kaderisasi, sebagai Landasan untuk Mencetak Muharik Organisasi.

Menurut dia, alumni Latin diharapkan menjadi kader penggerak dengan indikator selalu siap mewakafkan dirinya untuk diterjunkan ke daerah-daerah.

“Serta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengawal organisasi, mampu mengembangkan kualitas kepemimpinan, merancang strategi gerakan jangka pendek dan jangka panjang, memilik kematangan dalam pengetahuan, sikap dan organisasi,” harap Ziad. (Dudi Rahman/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud mengungkapkan beberapa harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta yang melaksanakan konferensi wilayah (konferwil) pada 25-27 Maret 2016.

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Harapan PBNU terhadap PWNU DKI Jakarta

Pertama, PWNU DKI diimbau bisa menciptakan program-program yang realistis tentang ke-NU-an. DKI Jakarta, sebagai Ibu kota negara dengan jumlah penduduknya lebih banyak daripada daerah lain, pada siang hari ada sekitar 13 juta jiwa dan malam hari 9 juta jiwa. Karena itu, NU DKI sebagai jendela NU seluruh Indonesia, perlu melakukan program-program nyata.

Program-program nyata itu antara lain hidupnya kepengurusan NU dari wilayah sampai ranting dan anak ranting. Pada tingkat anak ranting kepengurusan bisa berbasis masjid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Syukur alhamdulillah kalau minimal di tingkat cabang mempunyai kantor permanen. Alhamdulillah kalau sampai MWC, minimal punya satu sekolah SMP atau Tsanawiyah. Di tingkat ranting ada SD atau TK. Atau kalau bukan sekolah ya rumah sakit. Kalau nggak rumah sakit ya adiknya rumah sakit (klinik-klinik, red) agar ada di kampung-kampung. Selain itu juga dilakukan amal sosial lainnya. Program ini harus diutamakan oleh siapa saja yang mencalonkan diri, untuk menghidupkan NU DKI,” papar Marsudi panjang lebar saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal pada Jumat (25/3).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, menurut Marsudi, adalah menghadirkan jaringan sosial kemasyarakatan. Di masjid-masjid agar diadakan lailatul ijtima atau tradisi pertemuan malam khas NU sebagai ajang konsolidasi dan pembahasan sejumlah persoalan. Di masjid-masjid NU hendaknya juga mencantumkan simbol NU. Ketiga, para dai atau ustadz-ustadz NU hendaknya menyampaikan materi ke-NU-an dalam ceramah mereka walaupun sedikit.

Mantan sekjen PBNU tersebut menambahkan, bila PWNU DKI Jakarta melakukan program-program tersebut, pasti akan sangat didukung.

Harapan tersebut agaknya sejalan dengan harapan banyak pihak. Dihubungi secara terpisah pada Selasa (22/3), ulama Betawi, KH Maulana Kamal Yusuf mengatakan, sudah semestinya di setiap ranting dan anak ranting ada plang NU.

Kiai yang juga termasuk anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Konferwil DKI Jakarta itu menjelaskan, adanya plang NU menandakan bahwa NU aktif dan berkiprah di mana-mana di DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satu per satu badan otonom PCINU Malaysia mengadakan acara buka bersama. Muslimat NU Malaysia yang dipimpin Mimin Mintarsih memilih acara buka puasa bersama bareng janda dan anak yatim. Lepas buka puasa, Muslimat NU menyerahkan bantuan berbentuk santunan untuk Tunjangan Hari Raya (THR).

“Alhamdulillah kami mampu mengadakan acara buka bersama ini, yang sejatinya dipersiapkan dalam tiga hari saja,” kata Mimin dalam sambutan buka bersama Muslimat, Kamis (9/7) petang.

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Malaysia Santuni Mustadh’afin Setempat

Santunan diberikan kepada sepuluh anak yatim dan enam janda. “Semoga apa yang sudah diberi oleh para dermawan ini tidak langsung dibawa mereka (penerima THR) ke Pasar Malam, tapi dibelanjakan untuk keperluan yang bermanfaat pada hari raya nanti,” pesan Mimin kepada penerima THR.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sepuluh anak yatim dan lima janda ini dipilih dari kalangan yang sangat tidak beruntung dan berdomisili di daerah yang menjadi basis Muslimat NU.

“Kami ingin agar keberadaan Muslimat di daerah-daerah basisnya seperti Sungai Cincin, Changkat, dan daerah lainnya punya arti, dan membekas di hati masyarakat,” tutur Wakil Ketua Muslimat NU Malaysia Rosmiati yang ikut dalam perencanaan acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seperti biasanya, pendanaan acara ini selain merupakan swadaya anggota Muslimat sendiri juga melibatkan Aura JPS Cargo.

“Kami juga sangat berterima kasih kepada pihak Aura JPS Cargo yang dalam acara ini, dan juga sebelumnya, sudah banyak membantu Muslimat NU,” tuturnya mengakhiri sambutan. (Aziz Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Masalah perubahan iklim dunia dan rusaknya lingkungan kini menjadi keprihatinan dunia. Upaya penyelamatan lingkungan telah menjadi agenda bersama yang dikoordinasikan secara global.



Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Meskipun luput dari hiruk pikuk membicarakan masalah ini, Pesantren Walisongo di Tuban Jawa Timur telah menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya agar tetap kondusif bagi kehidupan sejak lama.

KH Nur Nasroh, pengasuh pesantren dalam perbincangan dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal baru-baru ini menuturkan upaya penyelamatan lingkungan ini dilakukan sejak tahun 1977, jauh sebelum isu lingkungan ini bergulir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saat pesantren didirikan pada tahun 1977, saya langsung berfikir untuk menanm pohon. Saat itu hutannya masih rimbun, tapi saya sudah berfikir kalau pohonnya, yang waktu itu sudah berumur 60 tahun ke atas ditebang, kemudian tidak ada penanaman generasi baru, pasti akan gundul,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sampai saat ini sudah ada 440.6 hektar dengan 121.6 hektar milik pesantren dan 319 hektar di kawasan perhutani yang ditanami dengan pohon jati berkualitas super.

Ia menjelaskan satu pohon jati bisa dipanen antara umur 18-20 tahun, dan menghasilkan satu kubik kayu yang saat ini berharga 4 juta sehingga dalam 20 tahun, satu hektar yang berisi 416 bisa pohon menghasilkan uang sekitar 1.6 M rupiah.

Upaya penyelamatan mata air juga dilakukan bersama dengan pala Kesatuan Pemangku Hutan (KKPH) Parengan, Dandim setempat, pramuka, Perguruan Setia Hati, SMKN Kehutanan, juga CBP IPNU.

“Alhamdulillah sumber mata air yang asalnya tinggal 6 meningkat menjadi 14, namun, kita masih kehilangan tiga, tapi sangat mungkin yang tiga ini bisa kita pulihkan kembali di musim hujan ini,” terangnya.?

Pemulihan mata air memungkinkan masyarakat menanami lahannya sehingga masyarakat bisa bekerja dan tidak menjarah hutan.

“Andaikata beberapa ribu orang ini tidak bekerja, lalu masuk di hutan, kira-kira berapa ribu gibik akan habis. Dari 80 ribu orang penduduk disini kalau ngambil satu-satu sudah 80 ribu gibik. Ini adalah upaya kita bersama, dari NU, Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan (GNKL NU), dari Perum Perhutani, Administratur Perhutani Parengan sangat aktif dalam hal ini,” tandasnya.

Untuk saat ini, upaya yang sedang serius dikembangkan adalah pengembangan SMK Kehutanan sebagai upaya untuk melakukan kaderisasi sadar lingkungan sejak usia dini, yang nantinya diharapkan bisa mempengaruhi keluarganya dan lingkungannya.

Bekerjasama dengan KKPH Parengan, pesantren Walisongo juga aktif mensosialisasikan penanaman kembali ke sejumlah pesantren di Tuban dan sekitarnya. Sebanyak 20 ribu bibit pohon dikirimkan ke pulau Bawean untuk mencegah erosi.

Dalam setiap acara pesantren, termasuk temu alumni, upaya memelihara lingkungan ini terus disosialisasikan kepada sekitar 6000 alumni yang sebagian sudah memiliki pesantren yang sudah tersebar di Indonesia.

Atas kepeloporannya ini, KH Nur Nasroh yang juga pengurus PWNU Jawa Timur ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai petani hutan terbaik (1986), juara nasional untuk penghijauan (1998), juara terbaik Lingkungan Hidup (2002) dan juara perintis lingkungan di Jatim (2004).

Pohon jati yang ditanamnya tahun 1977 kini sudah dipanen dan sudah bisa untuk memberangkatkan haji para santri yang berbakti pada pesantren.

Salah satu potensi yang sedang berusaha dikembangkan adalah pengembangan pohon kepuh. “Kalau menanam Jarak, ini kan hanya dapat minyaknya saja, tapi kalau kepuh, dapat minyak dan pohonnya juga dapat dipergunakan untuk bahan bangunan atau untuk keperluan lainnya. Kita harapkan pemerintah juga berfikir ke sana,” ujarnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengimbau Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK). JK ingin BLK mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di dunia industri. 

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi

"Saya mengapresiasi pelatihan bergabung dengan produksi atau sebaliknya," ujar Wapres JK saat mengahdiiri forum silaturrahmi Pengurus dan mahasiswa Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) di Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/11).

Menurut Wapres JK kalangan mahasiswa maupun peserta pelatihan vokasi tidak boleh hanya dibekali teori. Tapi juga harus mampu mempraktekkan dan menjalankan proses produksi.

"Perkembangan teknologi dewasa ini sangar luar biasa. Pendidikan harus mendahului industri," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, setiap negara membutuhkan industri karena industri mampu menyediakan banyak lapangan kerja. Selain itu keterlibatan dunia industri dalam menggalakkan pendidikan dan pelatihan vokasi juga sangat penting.

"Apabila ingin mendidik, bukan hanya menggabungkan teori dan praktik, tapi dengan produksi juga," ungkap JK.

Forum Silaturrahmi Pengurus dan Mahasiswa ATMI tersebut juga dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, dan Menteri Perindusterian Airlangga Hartanto. 

"ATMI bisa menjadi contoh untuk memperbaiki kualitas BLK di daerah lain," imbuh JK.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menanggapi hal ini, Hanif mengungkapkan saat ini Kemnaker tengah menggenjot pelatihan vokasi di BLK dan terus membenahi sarana dan prasarana pelatihan. Kemnaker terus melakukan percepatan peningkatan daya saing dan kompetensi tenaga kerja melalui program Reorientasi, Revitalisasi, dan Rebranding (3R) BLK.

Melalui 3R, kurikulum BLK disusun melibatkan professional. Peralatan diperbaiki. Peserta mendapatkan sertifikasi keahlian. Dengan demikian, alumni BLK memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan industry.

“Untuk mempercepat peningkatan daya saing dan kompetensi tenaga kerja saya telah menetapkan 3 Balai Besar Pengembangan Pelatihan Kerja dalam program 3R tahap pertama yaitu BBPLK Bekasi, BBPLK Serang, dan BBPLK Bandung.” ungkap Menaker.

Selain itu, Kemnaker juga menjadikan program pemagangan nasional yang diselenggarakan di lingkungan industri sebagai salah satu program unggulan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Proses pemagangan yang dijalani peserta magangan mengacu kepada suatu jabatan tertentu di dunia kerja. 

Sehingga diharapkan setelah proses magang selesai alumni magang bisa langsung terserap pasar kerja karena kompetensi yang dimiliki sudah sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan di dunia industri. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Pertandingan, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Empat Prinsip Cara Berfikir NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. KH Makruf Amin menuturkan terdapat empat hal yang menjadi dasar dalam cara berfikir warga NU yang menjadi ruh ketika NU berdiri dan menentukan sampai ke depan bagaimana NU yang akan datang.



Empat Prinsip Cara Berfikir NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Prinsip Cara Berfikir NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Prinsip Cara Berfikir NU

Empat hal tersebut adalah yaitu pertama fikrah nahdiyyah atau cara berfikir NU, kedua NU bermazhab, ketiga NU menganut prinsip tatowwuriyah atau dinamis, keempat NU berprinsip islahiyyah atau melakukan perbaikan terus-menerus.

Hal ini disampaikan dalam diskusi Kamisan ( 14/10) Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang juga dihadiri oleh Prof Dr Machasin, direktur pendidikan Islam dan Muhammad Al Fayyat, anak muda NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

 

Kiai Makruf Amin menjelaskan fikrah nahdliyyah merupakan cara berfikir NU dalam memahami nash, mencari prinsip dari nash, mencari dasar hukum dari nash. Saat ini telah berkembang berbagai macam pemikiran, mulai dari radikal, tekstual, liberal dan lainnya yang semuanya menjadi tantangan bagi NU.

“Kalau aswaja menurut NU, selektif, sebab kita tidak mengikuti semua faham aswaja ini dan kita bermazhab. Saya menyebutnya tawassutiyah atau moderat. Kalau kelompok tekstualis ini tanpa penafsiran, kalau kelompok liberal kelewatan dalam penafsiran,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ciri kedua NU adalah bermazhab karena tanpa mazhab tidak ada frame. “Ini bidah yang paling berbahaya dalam menghancurkan Islam,” tandasnya.  

Mazhabnya pun dibatasi empat, tidak boleh lebih dari empat meskipun ada mazhab lainnya, karena yang lainseperti Sofyan Atsauri, Ibnu Uyainah, Al Auzai tidak memiliki metodologi berfikir yang jelas, hanya pendapat yang parsial.

Aspek ketiga NU adalah, tatowwuriyah atau dinamis. Artinya, kita sekalipun bermazhab, tidak kaku. Seperti diputuskan dalam Munas NU di Lampung tahun 1992 yang menetapkan cara bermazhabnya tak hanya koulan atau tekstual tetapi juga manhajan atau mengikuti metode berfikirnya para imam mazhab tersebut.

"Kebanyakan syariah keluar dari ijtihad. Ada yang sudah diselesaikan oleh ulama dahulu, ada yang belum sehingga harus berani melakukan ijtihad terhadap masalah yang belum dibahas, tetapi bisa juga masalahnya lama tetapi mengalami perubahan seperti yang terjadi pada masalah-masalah muamalah," paparnya.

Dijelaskannya, tradisi kalangan bermazhab juga begitu. Ada pendapat baru yang tidak sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh para pendiri mazhab, tetapi meskipun berbeda keputusannya, kalau dilihat dari cara berfikirnya, tak menyalahi metodologi sehingga tetap bisa dipakai sebagai rujukan.

“Mazhab empat sudah terlalu cukup, asal manhaji, bukan kouli atau mengikuti metode berfikirnya, bukan keputusan yang sudah ada. Semua bisa diselesaikan asal kita mau berfikir. Yang penting tidak statis dalam berfikir, tetapi tidak keluar dari frame. Ini cara berfikir,” jelasnya.

Aspek keempat adalah islahiyyah atau selalu melakukan selalu perbaikan. Melakukan pebaikan itu tak cukup hanya dengan wacana diawang-awang atau menulis buku saja, tetapi harus melalui tindakan kongkrit.

“Karena itu, disamping fikrah, ada harakah atau gerakan, yang kita sebut sebagai harakah islahiyyah, akidah yang tak betul dibetulkan, demikian pula perbaikan dalam bidang ibadah, akhlak, muamalah. ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik,” tandasnya.

Untuk masalah ekonomi, ia meminta dilakukan pemberdayaan dahulu pada masyarakat, baru pensyariahan. Tak mungkin dilakukan pensyariahan dahulu jika tak ada pemberdayaan karena masyarakat tak berdaya.

Upaya perbaikan juga harus dilakukan secara terus menerus, tak cukup hanya berjalan sebulan saja karena tak akan memiliki dampak jangka penjang. Selain itu, diharapkan mampu membuat perbaikan yang memiliki dampak tinggi. Ia mencontohkan nabi yang dalam 23 tahun mampu merubah masyarakata dari kaum jahiliyah menjadi khaira ummah karena apa yang dilakukan memiliki dampak yang tinggi.

Ketua Dewan Fatwa MUI ini menjelaskan, ia juga membidangi ekonomi syariah di MUI, disitu dilakukan sinergi antara ulama dengan pelaku ekonomi syariah dan regulator. Semua melakukan sinergi sehingga dihasilkan keputusan yang baik karena memperhitungkan semua aspek. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Tokoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nasional, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid berharap kegaduhan yang ditimbulkan oleh elit-elit politik di parlemen dapat segera berakhir.

“Kita berharap munculnya sikap kenegarawanan dari elit-elit politik sehingga drama pengesahan UU Pilkada oleh DPRD, kericuhan dalam pemilihan pimpinan DPR dan lainnya tidak terjadi lagi dipanggung politik bangsa ini,“ katanya dalam pembukaan konferensi besar ke-19 di Jakarta.

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Berharap Kegaduhan Politik Segera Berakhir

Demokrasi di Indonesia, yang memegang budaya Timur, seharusnya berjalan dengan santun dan kerendahhatian. Demokrasi tidak seharusnya menjadi alat untuk balas dendam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita sudah memiliki pengalaman panjang terhadap relasi eksekutif-legislatif dan sampai pada kesimpulan bahwa executive heavy atau legislative heavy sama-sama tidak baik bagi bangsa.“

Demokrasi, kata mantan ketua umum PB PMII ini, mensyaratkan adanya keseimbangan huubungan antar pilar-pilar demokrasi. “Tidak boleh ada tirani oleh salah satu pilar atas pilar demokrasi lainnya karena tirani akan menjadi bencana bangsa ini.“

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tirani legislatif akan berujung pada pemanfaatan DPR sebagai “the site of power struggle“ bagi segala kepentingan partai politik. Loyalitas anggota kepada pimpinan partai politik menjadi jauh lebih tinggi ketimbang loyalitas kepada konstituen.

Nusron yang merupakan anggota DPR RI dari partai Golkar ini merujuk pesan iklan tentang perilaku anggota parlemen yang berbunyi “Sudah duduk lupa berdiri, sesudah duduk lupa akan janji-janji.

Legislative heavy juga mengakibatkan hampir tidak adanya kebijakan eksekutif yang tidak dapat diintervensi oleh legislatif. Untuk menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya satu yang boleh memiliki kekuasaan dan kedaulatan penuh di negeri ini, yaitu rakyat.

“Sebagai elemen masyarakat sipil, Gerakan Pemuda Ansor berkomitmen untuk menjamin agar demokrasi berjalan dalam jalur yang benar, agar institusi demokrasi menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Masa depan bangsa Indonesia terlalu berharga untuk kita pertaruhkan,“ tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka memperkuat misi kemanusiaan dan mitigasi bencana, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pusat menggelar forum diskusi bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus. Mereka mengundang sejumlah pejabat SKPD setempat beserta relawan dalam acara yang bertempat di RM Saung Bambu Wulung Ngembal Rejo Kudus, Kamis (26/01).

Kepala BPBD Kabupaten Kudus, Bergas C. Penanggungan menyampaikan apresiasi kepada LPBI NU atas kepeduliannya terhadap persoalan bencana di Kudus. Hal ini tentu saja semakin mengukuhkan bahwa NU merupakan ormas Islam yang amat memperhatikan keselamatan umat.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada NU atas terlaksananya kegiatan ini. Artinya selama ini NU memang senantiasa care dengan masyarakat dan ini juga akan menjadi semangat lebih bagi kami," paparnya.

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus

Dalam penanggulangan bencana, imbuh Bergas, memerlukan jalinan kerjasama dengan banyak pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, sebagaimana dalam slogan, Ormas berfungsi sebagai pelopor penggerak para relawan untuk peduli dengan misi ini.

Sementara itu, Pengurus LPBI NU Pusat, Yayah Ruchyati mengemukakan kegiatan ini adalah langkah awal untuk menyiapkan segala hal terkait mitigasi bencana. Dalam forum ini membahas penyusunan metodologi kajian risiko bencana di Kabupaten Kudus ke depan.

"Agenda ini nantinya akan berlanjut pada sesi berikutnya yaitu pelatihan pengembangan risiko bencana," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ruchyati mengharapkan agenda kegiatan ini bisa tuntas sehingga mampu ? menghasilkan kajian dan peta penanggulangan bencana untuk Kabupaten Kudus. "Kerjasama ini akan terus ia jalin agar Kudus mempunyai peta bencana tersendiri. Semoga agenda ini lancar dan terlaksana dengan baik," harapnya.

Kegiatan ini juga didukung oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus. Fajar Nugroho menuturkan bahwa kegiatan mitigasi bencana termasuk dalam perintah Islam. Ia memaparkan dua tujuan hidup manusia yang terdiri dari ibadah dan menciptakan kemakmuran di bumi.?

"Termasuk menolong sesama manusia itu juga menciptakan kemakmuran," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bahkan, lanjut Fajar, Rasulullah Saw dalam peristiwa fathu makkah dan perang yang lain melarang pasukannya untuk menebang pohon. Dari peristiwa itu kita bisa belajar bahwa persoalan penanggulangan bencana ini menjadi amat penting.

"Kita diperintahkan untuk menjaga lingkungan dan menolong sesama sebagaimana seruan Rasul kala itu," pungkasnya. (Farid/Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Salah satu ulama pejuang perdamaian Afganistan, Fazal Ghani Kakar berpendapat bahwa tidak bermadzhab dalam beragama bukanlah pilihan yang tepat. Karena pada kenyataannya, siapa pun, termasuk yang mengaku anti-madzhab, tak bisa lepas dari bermadzhab.

Ketua Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) ini menambahan, sikap anti-madzhab sejatinya menyebabkan para penganutnya mengikuti banyak “madzhab” lantaran sumber rujukan menjadi tak terpusat.

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat

Hal ini berbeda bila umat Islam mengembalikan pendapat fiqihnya kepada ulama pemegang otoritas terbaik, yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Persatuan umat Islam justru relatif terbangun dengan mengacu pada empat madzhab itu.

“Said Hawa mengatakan, barangsiapa yang tidak menganut madzhab, sesunggunya ia memecah belah umat menuju banyak madzhab,” ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal selepas acara penutupan forum  International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta, Selasa pekan lalu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu ia pun menyebut kelompok anti-madzhab seperti Wahabi adalah ahli bid’ah karena sesunguhnya mereka bertaqlid kepada banyak ‘madzhab’, seperti kepada para pemuka kelompok atau orang lain yang tidak lebih otoritatif ketimbang empat imam madzhab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Di Afganistan, Wahabi ada tapi sedikit. Mereka umumnya para pelajar asal Afganistan yang pulang ke tanah air setelah belajar 3-4 tahun di Arab Saudi,” ujarnya.

Fazal Ghani Kakar menjelaskan, mayoritas Muslim Afganistan berhaluan Sunni yang menganut madzhab Hanafi di bidang fiqih. Sebagian mereka juga bergabung di beragam tarekat, seperti Naqsabandi, Chistiyah, Qadiriyah, dan lainnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Ahlussunnah, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak memperingati hari lahirnya yang ke-23 dengan menyelenggarakan jalan sehat. Kegiatan yang menjadi rangkaian sepekan peringatan harlah ini diikuti 3000 peserta dari berbagai kalangan se-Kabupaten Demak.

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Acara jalan sehat ini digelar, Ahad (23/3), dan berpusat di lapangan belakang RSI NU Demak. Direktur RSI NU Dema Dr H Abdul Azis di sela sela acara mengatakan, jalan sehat menjadi sarana silaturahmi antara pihak rumah sakit dan masyarakat.

Dia berharap, hadiah (doorprize) yang disediakan panitia juga bisa bermanfaat. Hadiah utama yang diberikan pada kesempatan tersebut adalah sepeda motor. “Kami berterima kasih atas kepercayaan semua pihak yang telah membantu rumah sakit. Semoga silaturahmi lewat jalan sehat bisa menambah kepercayaan demi kebesaran RSI NU,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain Ketua PCNU Demak yang juga Ketua Yayasan RSI NU Demak, H Musadad Syarif, sesaat sebelum memberikan hadiah utama menyosialisasikan kepada masyarakat tentang kelengkapan peralatan medis RSI NU Demak yang kian canggih.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Peserta jalan sehat semua kita kasih pamflet, brosur dan masukan tentang peralatan medis yang sudah kita miliki diantaranya, ICU, USG 4 Dimensi, CT Scan dan sebagainya, jadi mereka sekarang tahu” Imbuh Musadad.

Peserta jalan sehat terdiri dari para pengurus dari cabang hingga ranting di lingkungan PCNU Demak, serta Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, MWCNU, siswa sekolah di bawah naungan LP Maarif, santri pesantren sekitar Demak.

Ketua PCNU Demak H Musadad Syarif turut serta dalam acara jalan sehat bersama Sekretaris PCNU Khoirun Zain, Sekretaris Yayasan RSI NU Demak H Sa’dullah, dan masyarakat sekitar. Pemenang hadiah utama pada jalan sehat kali ini adalah seorang guru PAUD asal kelurahan Cabean Demak yang bernama Wilda. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Dur di Masa Kecilku

? Aku yakin nama kawanku itu tafaul pada sosok Gus Dur, sebab dari guruku inilah aku sering mendengar cerita perihal Abdurrahman Wahid. Bagi guruku dan tentu di angan-angan kami saat mendengar guruku bercerita, Gus Dur ini sosok yang begitu luar biasa.

Pernah dengan sungguh-sungguh kami mendengar guruku bercerita tentang ilmu laduni, mukjizat nabi-nabi, keutamaan Rasulullah, dan juga tentu tokoh legendaris Nabi Khidir, sampai ke Wali Songo.

Gus Dur di Masa Kecilku (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur di Masa Kecilku (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur di Masa Kecilku

Dan Gus Dur memiliki ciri-ciri itu yang membuatnya sedemikian luar biasa. Bahkan kadang dibumbui cerita-cerita yang membuat terpukau tentang asal muasal keluarganya, sampai ke Joko Tingkir. Tentang ilmu macam-macam, ilmu kebal, terbang, tameng wesi, rog-rog asem, dengan berbagai macam senjata-senjata pusaka seperti sabut inten, ontokusumo, dan lain-lain.

Tentu itu menjadi semakin luar biasa karena alam pikiran kami dibentuk juga dengan lingkungan kampung kami yang katakanlah hal-hal demikian itu nampak nyata di sekitar kami.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tahun-tahun 1990-an, di malam-malam tertentu sebelum Magrib di mulai, tak jarang berterbangan cahaya-cahaya secara horisontal melesat cepat beraneka warna melintas di atas kami. Kata orang-orang tua kami, itu bisa berupa bebatuan alam, keris, atau macam-macam hal yang sedang mencari tuan.

Di nuansa seperti inilah, Gus Dur bagi kami yang sering mendengar ustadz kami bercerita, merupakan sosok yang sedemikian jauh dapat kami bayangkan luar biasanya. Kalau ada kategori manusia di atas “malaikat”, ya itulah Gus Dur bagi kami pada masa kecil.

Guruku memang pengagum Gus Dur sendari ia muda dulu. Sejak dia memasuki masa pendidikan di pesantren, mengabdi di Sarang bertahun-tahun, ia bercerita mulai mengenal Gus Dur. Bahkan saat ia mendirikan partai yang notabene menjadi ‘penyaing’ partai guruku, tempat beliau berkhidmat sampai menjadi ketua ranting di kampung, guruku tetap terus menjadi pengagum Gus Dur hingga sekarang. Tak pernah sedikitpun guruku mencela pilihan dan partainya.Menurut guruku, itu semua sudah ada yang mengatur.

Saat Gus Dur mendirikan partai di era Reformasi inilah aku sedikit banyak memiliki gambaran yang lebih ‘manusiawi’ tentang tokoh satu ini. Sebagai sosok wali yang luar biasa Gus Dur tetap ada pada diriku, tetapi unsur-unsur lain tentangnya yang diceritakan agak berlebihan mulai sirna.

Sebelum melanjutkan, saya ingin cerita kakek terlebih dahulu. Almarhum kakekku, sedari muda, meski kecil orangnya, pernah disegani karena kemampuan silatnya yang cukup mumpuni, beliau pengagum Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari. Di masa mudanya gemar berpuasa, dan berguru untuk mengasah kemampuan beladiri, dan masuk GP Ansor. Aku pernah diajarinya ilmu toya dan silat olehnya, namun tak satu pun yang menerap.

Di masa transisi Orde Lama ke Orde Baru, kakekku ini bercerita di saat genting-gentingnya beliau harus naik ke genteng-genteng markas lawan politik, untuk tahu target dan hal apa yang akan dilakukan mereka, dan tentu pernah berduel dengan tokoh-tokoh lawan politik itu di kampungku. Hal yang sama sekali tak dapat aku kenali lagi dari sosok kakekku yang sudah cukup umur. Hanya saja, saat Gus Dur mendeklarasikan partainya inilah kemudian aku kembali melihat kakekku berapi-api mendukungnya. “Keturunan kiai besar tokoh satu ini,” katanya padaku.

Tiap kali ada event-event besar partai, yang biasa dalam bentuk istighosahan bersama di kota kabupaten, aku sering diajak kakekku. Dari kampanye-kampanye partai dan cerita kakekku inilah aku setiap hari mendengar sosok Gus Dur. Tapi setelah rangkaian-rangkaian politik krusial di awal tahun 2000-an sampai Gus Dur lengser, akhirnya aku harus meninggalkan wacana-wacana tentang Gus Dur, fokus pada kesibukan sekolahku, yang pagi di SMP seterusnya SMA, dan sorenya di Madrasah.

Barulah di tahun 2005, saat aku hijrah ke Jakarta, selepas SMA, jejak-jejak Gus Dur kembali hadir. Bagiku tahun-tahun ini menjadi sedemikian begitu luar biasa karena di lingkungan baruku, aku sedikit banyak mengikuti diskursus-diskursus penting tentang Islam, toleransi, Aswaja, kekerasan atas nama agama, krisis di Timur Tengah, ngaji Shahih Imam Bukhori, mengenal filsafat Barat, ngaji bukunya Karen Armstrong, Philip K. Hitti, tasawuf, filsafat Islam dan lain-lain.

Kudapati di tempatku ini beberapa peninggalan Gus Dur, kursi kantor yang kata teman seasramaku dulu dipakai Gus Dur, jurnal, buku, dan foto-foto, dan juga tentu perbincangan-perbincangan orang-orang di sekitarku tentangnya.

Di awal 2006, di acara halal bihalal di hotel Nikko, aku untuk pertama kalinya ketemu langsung dengan Gus Dur. Aku lupa persis dulu Gus Dur bersama siapa saja. Yang aku tahu, aku hanya berdiri terpaku di stand penerima tamu, berdiri mematung saja meski ingin ikut mengerumuni Gus Dur untuk mencium tangannya. (Khayun Ahmad Noor)

?

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.







Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap pekan sejumlah pelajar NU meninggalkan kampusnya di Surabaya untuk menuju Jombang. Mereka di akhir pekan mengajar baca-tulis warga di sekitar utara Brantas, Jombang. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat itu untuk mengentaskan buta huruf yang diidap banyak warga setempat.

Ketua IPNU Ngusikan Jombang Hendra Setiawan salah satu dari relawan itu. Sudah 3 bulan lebih Hendra yang tengah kuliah jurusan PLS Unesa Surabaya ini, menjalani aktivitas tersebut.. Hal itu dilakukan untuk mengajar ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok buta aksara di dusun Munggut desa Ngusikan, Jombang.

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

"Kalau ngajar ibu-ibu setiap Selasa malam dan Jumat malam. Tetapi saya senang meski harus tiap minggu pulang dua hari," ujar Hendra.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Hendra, kader IPNU yang berstatus mahasiswa seperti Miftahul Ulum, Yusuf, dan Roziq juga tercatat sebagai tutor bagi 60 warga Cupak, Ngusikan, yang ikut pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

"Ada 6 kelompok di Cupak. 3 kelompok di dusun Munggut dan 3 kelompok di dusun Cupak. Setiap kelompok 10 orang. Mereka rata-rata berusia antara 40 hingga 60 tahun," imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia bersama kader-kader NU bertekad untuk membantu pemberantasan buta aksara. Untuk program KF, pembelajaran yang diajarkan mencakup pengenalan huruf, membaca, menulis hingga berhitung. Proses belajar dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini KF sudah rampung. Kini menginjak Keaksaraan Usaha Mandiri, membuat kerajinan sandal dan tikar dari pandan dan membuat kue," ujar Dahril Kamal (Gus Ariel) yang pernah menjadi Katib Syuriyah MWCNU Ngusikan.

Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), kata Gus Ariel, memanfaatkan potensi alam daerah yang berada di tengah hutan Ngusikan. Karena, desa Cupak berada di tengah hutan yang ditempuh dengan jalan terjal dan berliku, sekitar 11 km dari kecamatan Ngusikan. Banyak pepohonan pandan di samping jati.

"Untuk bahan kerajinan, warga tidak beli. Mereka kini menunggu peran pemerintah untuk ikut memasarkan hasil kerajinan warga peserta KUM," imbuhnya.

Sementara salah satu peserta KF Genah (67) ini rela menempuh jarak 6 km dari rumahnya bersama belasan perempuan untuk belajar bersama. Nenek asal dusun Munggut yang telah memiliki 7 cucu ini menumpak kendaraan terbuka. Genah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 sekolah dasar (dulu SR), masih bersemangat meski terlihat malu-malu.

"Dulu hanya sampai kelas 1, karena gurunya meninggal dunia, dan sekolahnya bubar," ujarnya dengan bahasa Jawa saat menjawab pertanyaan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab yang menjadi guru tamu dadakan. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 20 November 2017

IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) menggelar kegiatan Safari Ramadhan di Masjid Desa Trengan, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Safari mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat setempat.

Tim safari yang dipimpin Syamsul Hadi selaku Ketua PW IPNU NTB dan Baiq Masisarah selaku Ketua PW IPPNU NTB ini disambut langsung oleh tokoh setempat TGH Mukhtar yang juga Mustasyar PCNU Lombok Utara didampingi Jalil, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lombok Utara.

IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU NTB Siap Kawal Pelajar dari Ekses Negatif Teknologi

Syamsul Hadi dalam kesempatan itu memperkenalkan rombongan dan menyatakan komitmennya sebagai organisasi NU beranggotakan pelajar untuk mengawal para pelajar di NTB. "IPNU-IPPNU adalah ‘anaknya’ NU yang paling kecil. Kami adalah adiknya Ansor," kata alumni Pendidikan Fisika IKIP Mataram ini, Rabu (22/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meski menjadi ‘anak bungsu’, IPNU-IPPNU NTB bertekad hadir memfasilitasi dan mendampingi para belajar pelajar. Pihaknya berjanji akan membentengi para remaja itu dari imbas negatif kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, teknologi memang memberikan dampak positif, misalnya kecepatan akses informasi dari mana saja. “Namun sisi negatif dengan kemajuan teknologi saat ini begitu mudahnya generasi khususnya pelajar mengakses konten-konten yang tidak prodoktif dan berdampak pada pergaulan yang tidak sehat,” ujar Hadi yang merupkan alumni Pondok Pesantren Al Mansuriah Bonder Lombok Tengah ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ustadz Azrai Gazali selaku penceramah dalam safari ini mendorong kepada masyarakat agar menjaga anak-anaknya dari hal-hal yang tidak baik. Orang tua, katanya, harus peka terhadap anaknya karena Lombok Utara adalah kawasan yang cantik dan menjadi sorotan dunia. Budaya-budaya luar akan mudah masuk dan mempengaruhi perilaku negatif para remaja.

Selain safari, pelajar NU NTB ini juga aktif menyemarakkan Ramadhan mulai dari shalat isya dan tarawih berjamaah di sekretariannya di Jalan P No 44 Perumahan Elit Lingkar Selatan Kota Mataram. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puluhan tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis, (5/2) sore. Pertemuan ini untuk menanggapi masalah yang mengemuka akhir-akhir ini terkait kemelut antara KPK dan Polri, dan mengenai ketegasan Presiden Jokowi dalam menyelsaikan kemelut tersebut.

“Pertemuan ini tidak terkait dengan politik, murni untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan kita saat ini,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memimpin penyampaian sikap di lantai 5 kantor PBNU.

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Hasil dari pertemuan ini, mereka menyampaikan hal-hal sebagai berikut,?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

1. Penegakan kebenaran dan keadilan adalah syarat mutlak keselamatan bangsa Indonesia.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Tugas Negara dan pemerintahan adalah menjaga nilai-nilai luhur agama dan memajukan kemashlahatan rakyatnya. ?

3. Pemimpin yang jujur, amanah dan adil akan membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan kesejahteraan.?

Dari tiga persamaan persepsi kebangsaan itu, mereka menyampaikan 7 butir seruan moral kepada presiden, KPK, dan Polri sebagai berikut, ?

1. Menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk tidak khawatir, was-was atau resah, serta tetap tenang dan menjalankan aktifitas sebagaimana biasa.?

2. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk terus secara sungguh-sungguh memimpin pemberantasan korupsi. ?

3. Mengetuk nurani Presiden Republik Indonesia untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah yang tegas, cepat dan tepat untuk mengakhiri dan menyelesaikan perselisihan dan kemelut antara KPK dan Polri sesuai konstitusi.

4. Menyerukan Presiden Republik Indonesia untuk mengangkat kepemimpinan Polri dengan mengutamakan moralitas, kredibilitas, berintegritas ? dan kapabel.

5. Mendukung KPK dan Polri untuk melakukan tugasnya menegakkan hukum dalam kerangka memberantas korupsi dan meningkatkan akuntabilitasnya.?

6. Mendorong semua pihak agar menghentikan kriminalisasi dan tidak menjadikan KPK dan Polri sebagai alat bagi kepentingan politik individu dan kelompok.?

7. Mengingatkan KPK untuk kembali ke fitrahnya dan betul-betul menjaga dan meningkatkan kredibilitasnya sebagai lembaga pemberantasan korupsi.

Hadir dalam pertemuan tersebut diantarnya Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekjend PBNU), Dr. H. Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute), Romo Ignatius Harianto SJ. (Sekjend ICRP/KWI), HS. Dillon (Intelektual dan Tokoh Agama Shikh), Pendeta Albertus Patti (PGI), Uung Sendana (Ketum Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), Piandi ? (Ketum Majlis Budayana Indonesia), Yanto Jaya (Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia), Suprih Suhartanto (Majlis Luhur Agama Nusantara), Ulil Ashar-Abdalla (ICRP), M. Imdadun Rahmat (Komisioner Komnas HAM), Zafrullah Pontoh (JAI), dan Syamsiah (ICRP). Hadir juga perwakilan dari Ahmadiyah, Agama Tao, dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bila kita berkunjung ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 154, Jakarta, tiap Rabu pada minggu keempat saban bulan, ratusan warga akan terlihat sedang duduk bersila di Masjid An-Nahdlah begitu sembahyang jamaah isya’ usai.

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Mereka yang sibuk merapalkan doa-doa, shalawat, dan ayat-ayat al-Qur’an itu datang dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian merupakan jamaah dari majelis taklim tertentu, ada yang dari pesantren, serta banyak pula warga umum yang memang senang mengikuti majelis dzikir dan pengajian.

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) memang memfasiltiasi kegiatan bertajuk “Istighotsah dan Pengajian Bulanan” ini sebagai forum silaturahim, penguatan rohani, juga sarana menimba ilmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selepas istighotsah, jamaah akan menyimak sekaligus bisa berdiskusi dengan para mubaligh yang dihadirkan. Beberapa ulama luar negeri pernah duduk lesehan bersama Nahdliyin dalam forum ini, di antaranya Syaikh Muhammad Utsman asal Palestina dan Syekh Khalil ad-Dabbagh dari Lebanon.

Menurut salah satu pengurus Pengurus Pusat LDNU, Bukhori Muslim, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak sepuluh tahun silam. “Sudah ada sejak era Gus Dur. Persisnya saat kepemimpinan Kiai Nuril Huda (mantan Ketua PP LDNU),” ungkapnya usai acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan, Rabu (25/3) malam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tiap istighotsah, lanjut Bukhori, masjid PBNU selalu penuh jamaah hingga meluber ke halaman. “Banyak kiai dan habaib datang turut menyemarakkan kegiatan bulanan itu,” ujarnya.

Selain segenap pengurus LDNU, hadir pula dalam acara Rabu tadi malam pengasuh Pondok Pesantren al-Mishbah Jakarta, KH Misbahul Munir. Dalam ceramahnya, Kiai Misbah menjelaskan tentang keutamaan berdoa dan dzikir bersama.

“Dalam kitab al-Tibyan, diceritakan ada sekelompok orang berdoa kemudian ada yang mengamini, itu sangat dianjurkan. Yustahabbu khudhuru majlisi khatmil Quran,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Kiai Misbah, Rasulullah SAW justru mengimbau orang-orang yang haid untuk turut serta dalam majlis itu, untuk mengharapkan berkah doa dari kaum muslimin. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 05 November 2017

KH Mas Subadar Tak Mendukung NU Tandingan

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Salah seorang kiai sepuh NU (ulama senior) KH Mas Subadar yang selama ini dikenal dekat dengan Gus Dur (mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid) menyatakan dirinya tidak mendukung NU tandingan, baik dalam muktamar maupun forum lain.

"Saya kira, warga NU harus bersatu dan menjadi satu, karena muktamar (muktamar ke-31 NU di Solo pada 28 Nopember-2 Desember 2004) merupakan forum tertinggi," kata pengasuh Pesantren Roudlotul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jatim itu di Surabaya, Senin.

Menurut kiai yang mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pemilihan presiden (pilpres) yang lalu itu, dirinya mendukung atau tidak bukan didasarkan person (orang), melainkan didasarkan pada kebenaran prosedur.

"Muktamar di Solo itu merupakan lembaga/forum tertinggi yang harus diterima, asalkan berjalan secara sah dan tak ada yang menyimpang dari AD/ART (aturan organisasi). Jadi, bukan saya mendukung Gus Dur atau Hasyim, tapi saya mendukung prosesnya sudah benar atau tidak, apa sudah sesuai AD/ART atau tidak," katanya.

Ditanya tentang dukungan pada keputusan kiai sepuh NU yang mendukung NU tandingan di muktamar yang juga mencantumkan namanya, ia mengaku dirinya tak pernah ikut pertemuan dan tak pernah ikut tandatangan.

"Saat itu, saya di hotel, jadi saya tak pernah ikut tandatangan, saya punya keputusan yang asli. Kalau dikatakan, saya juga ikut pertemuan di Buntet untuk pembentukan NU tandingan pada? 6 Desember juga tidak benar, karena saya tak mendapat undangan," katanya.(an/mkf)
? ? ?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Mas Subadar Tak Mendukung NU Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mas Subadar Tak Mendukung NU Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mas Subadar Tak Mendukung NU Tandingan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock