Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika seseorang sudah berani maju berkompetisi menjadi pemimpin di negeri ini seyogianya ia tak menunjukkan kelemahannya dengan hanya menumpang tenar dan menjelekkan lawan. Mereka harus berani menunjukkan kehebatan diri.

Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan hal tersebut, Kamis (20/3), saat menerima kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi yang telah diumumkan sebagai calon presiden dari PDI-P.

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu menuturkan, selama dua jam berbicara bersama Jokowi, dirinya hanya berbicara seputar Indonesia dan tidak lebih dari pada itu. Pesan yang ia sampaikan juga berlaku untuk semua calon pemimpin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak ikut pemilu, tetapi warga NU yang menjadi peserta pemilu. Hakikatnya NU merupakan Organisasi kemasyarakatan yang netral. Namun demikian, tambah Gus Mus, banyak para peserta pemilu yang dianggap kurang percaya diri sehingga masih mengenakan atribut NU, guna menarik simpati masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulama yang juga merupakan sastrawan Indonesia ini menghimbau, Nahdliyin menggunakan hak suaranya dengan baik. Pasalnya, menurut Gus Mus, hak suara yang kita dapat merupakan amanah, yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ulama, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Pekerjaan Besar Feri dan Ain, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Jawa Tengah

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Konferensi Wilayah IPNU XV dan IPPNU XIV Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan sejak 11-13 Desember 2016 di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Bulakamba, Brebes asuhan Rais Syuriyah PBNU KH Subhan Mamun. Forum tertinggi di tingkatan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se-Jawa Tengah ini dihadiri oleh 35 PC IPNU dan IPPNU.?

Dalam konferensi yang dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi ini telah menghasilkan estafet kepemimpinan baru yang diharapkan oleh para pelajar NU se-Jawa Tengah menjadi era perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Pekerjaan Besar Feri dan Ain, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerjaan Besar Feri dan Ain, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerjaan Besar Feri dan Ain, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Jawa Tengah

Sri Nur Ainingsih (Blora) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PW IPPNU Jawa Tengah menggantikan Umi Saadah pada sidang pemilihan yang dilaksanakan Selasa (13/12) pukul 02.00 WIB dini hari.?

Sementara itu, Sidang Pemilihan IPNU yang dilaksanakan Selasa siang hingga sore memilih Ferial Farkhan Ibnu Akhmad (Brebes) sebagai Ketua PW IPNU Jateng (2016-2019) menggantikan Amir Mustofa Zuhdi. Feri unggul atas perolehan suara dan visi misi tiga tahun kedepan atas Kholid (Kendal).

(Baca: Feri dan Ain Nahkodai Pelajar NU Jateng)?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Feri menahkodai PC IPNU Brebes bersama Ade Melly Seftiana (Ketua PC IPPNU Brebes). Kini dengan tanggung jawab barunya bersama Ain, ia mempunyai pekerjaan besar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kader pelajar NU di Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, tantangan perubahan sosial dan teknologi yang semakin pesat ? di kalangan pelajar juga menjadi persoalan krusial (mendesak) agar pelajar tetap beradab, teguh pada identitas bangsa, dan berwawasan global.

Eva Rosdiana Dewi, Sekretaris Umum PP IPPNU menyampaikan, terpilihnya Sri Nur Ainingsih dengan visi misi yang dibawanya untuk PW IPPNU Jawa tengah semoga dapat membawa IPPNU Jateng lebih baik lagi. Menjadi sosok pemimpin yang amanah, baik dalam keilmuan, gerakan kaderisasi, dan dapat menghasilkan program berkualitas serta bersinergi dengan lembaga-lembaga terkait.

Kedepannya, Ain dan Feri siap mengawal Pelajar NU Jawa Tengah untuk lebih meningkatkan kualitasnya, serta menjadikan mereka sebagai garda depan pengawal Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, benteng moral pelajar, dan menangkal segala bentuk radikalisme. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Nganjuk,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Usaha Yayasan Mataair Nganjuk, Jawa Timur membantu generasi muda Nahdliyin masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak sia-sia. Data terakhir sampai 14 juli 2016, sebanyak 40 dari 90 peserta pesantren kilat (sanlat) 2016 lolos PTN ternama.

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Ketua Yayasan Mataair Nganjuk Syamsul Hakim bersyukur atas capaian sanlat yang digelar bekerja sama dengan PCNU Nganjuk tersebut. "Kami memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena? siswa-siswi kami lolos di PTN Bidikmisi yang diinginkan. Peserta lolos di kampus UTM Madura, beberapa Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Gajah Mada,” jelasnya Rabu (13/7). ?

Menurut peserta sanlat tersebut, tidak akan dilepas begitu saja setelah duduk di bangku mahasiswa. Namun mereka akan selalu didampingi oleh Yayasan Mataair Nganjuk. Mereka diwajibkan untuk membawa misi Nahdalatul Ulama (NU) dalam mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunal wal-Jamaah di kampus masing-masing.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mereka, tambah dia, direkomendasikan untuk bergiat dan turut membesarkaan organisasi ekstra kampus yaitu PMII, KMNU, Matan (organisasi yang mengembangkan thoriqoh mutabar di), PKPT IPNU-IPPNU.“ Terserah pilih yang mana,” tuturnya.

Sementara Manajer Sanlat BPUN Nganjuk Atourrohman Syahroni mengatakan, siswa-siswi sanlat Nganjuk yang belum lolos PTN jalur SBMPTN masih didorong untuk menempuh jalur mandiri bidikmisi maupun reguler. “Kami tetap mendampingi untuk pendaftaran anak-anak mengikuti jalur mandiri,” katanya.

Dalam hal kualitas, kata dia, santri sanlat ternyata tidak bisa diremehkan. “Contohnya saja Ilham Malik, remaja lulusan SMA 2 Nganjuk? ini berhasil diterima di UGM pada Fakultas Kedokteran. Putri Indah Lestari remaja lulusan SMA 2 Nganjuk Lolos Pendidikan Bahasa Inggris? UB Malang. M Tamami MAN Nglawak lolos Sosislogi di Unej dan beberapa di UTM, UM dan UPN Jatim,” pungkasnya. (Anwar Muhammad/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kiai, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) NU akan dikukuhkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (23/9). Kegiatan yang berlangsung selepas Jumatan tersebut rencananya akan dibuka dengan pidato Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri.

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Pengukuhan bertema “Reposisi gerakaan Konfederasi Sarbumusi NU dalam politik perburuhan nasional dan internasional” tersebut akan mendaulat tokoh senior Sarbumusi untuk menyampaikan testimoni tentang organisasi tersebut di masa lalu, yaitu Nursyam Latif dari Surabaya dan OK Zainal Rosyidin dari Medan.

Menurut Ketua Panitia Pengukuhan Eka Fitri Rohmawati, pengukuhuan tersebut dilanjutkan dengan dialog denngan narasumber Dirjend PHI dan Jamsos Kemenaker RI, Council Industrian all Indonesia Saiful DP, dan ILO Jakarta Soeharjono. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemudian, lanjut dia, keeseokan harinya, akan dilanjutkan dengan Rapat Kerja DPP K-Sarbumusi untuk menyusun agenda-agenda ke depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rapat Kerja tersebut, tambahnya, sebagaimana tema pengukuhan adalah menyusun upaya-upaya membangkitkan kejayaan Sarbumusi yang pernah diraih di tingkat nasional dan tingkat internasional. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Olahraga, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Berlin, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman menyampaikan penolakan atas Rencana Kunjungan Kerja Anggota DPR RI ke Jerman. Karena banyak perbedaan signifikan antara Indonesia dan Jerman, diyakini kunjungan DPR RI tidak bermanfaat bagi kepentingan Indonesia.

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Pernyataan sikap disampaikan PCINU Jerman bersama PPI Berlin, dan Watch Indonesia di Berlin, tertanggal 16 November 2012.

Rencana kunjungan kerja DPR RI itu akan dilakukan oleh Panita Khusus Rancangan Undang-Undang Keinsinyuran. Mereka diperkirakan akan bertolak ke Jerman pada minggu-minggu ini, dari 17 sampai 23 November 2012. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami PCI NU Jerman, PPI Berlin dan Watch Indonesia menyatakan penolakan rencana kunjungan kerja tersebut,” demikian dalam rilis pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PCINU Jerman Suratno dalam rilis pers tersebut menyarankan agar DPR RI lebih fokus pada masalah-masalah di tanah air, terutama yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi DPR RI yang sedang mendapat sorotan dan kritikan tajam dari berbagai pihak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hendaknya mereka menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hal yang akan mereka studibandingkan dengan mengandalkan informasi-informasi serta kerjasama dengan lembaga-lembaga lokal,” katanya.

Menurutnya, ada perbedaan yang cukup kontras antara Indonesia dan Jerman dalam hal sistem dan tata kelola pemerintahan-kenegaraan , tata hukum, struktur sosial dan budaya. “Karenanya kami menilai kunjungan mereka seperti ini tidak bermanfaat bagi kepentingan kita di Indonesia.”.

PCINU Jerman juga menuntut adanya transparansi atas kunjungan kerja, berupa tujuan kunjungan kerja, biaya perjalanan, akomodasi selama kunjungan kerja, jadwal kunjungan kerja selama di luar negeri, materi-materi yang di bicarakan, dan partner kerja di tempat tujuan. Hal tersebut seharusnya dipublikasikan secara resmi yang bisa diakses oleh masyarakat secara luas dari jauh-jauh hari, minimal 1 bulan sebelum keberangkatan.

“Kami menuntut adanya publikasi hasil konkret dari kunjungan-kunjungan kerja keluar negeri yang selama ini dilakukan oleh DPR RI, terutama dalam konteks kunjungan ke Jerman pada April 2012 lalu, dimana hasil kunjungan kerja Komisi I DPR RI tersebut sampai saat ini belum dipublikasikan secara resmi,” demikian PCINU Jerman.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Quote, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Riuh canda seperti tak ada habisnya ketika dua orang berkebangsaan Jepang bertamu di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (6/1). Sore itu keduanya yang hendak menyatakan diri sebagai muallaf disambut hangat sejumlah pengurus harian PBNU.

Sebelum prosesi pembacaan dua kalimat syahadat, Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka, pria dan wanita berkebangsaan Jepang itu, berbincang dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Obrolan berlangsung santai dengan sesekali Kiai Said menyisipkan guyonan.

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kiai Said Aqil Islamkan Orang

“Arigatou sasamasu…” sapa Ketua PBNU Marsudi Syuhud yang baru datang sambil membungkukkan badan. Tatsunori Hoshi dan Ohnuma Yoka tertawa. Seharusnya, arigatou gozaimasu. Di Jepang, ungkapan ini juga tak lazim untuk menyapa orang karena artinya terima kasih. Kiai Said pun ikut tertawa.

Menjadi muallaf atau berpindah agama adalah keputusan besar, bahkan menegangkan bagi sebagian orang. Namun, Kiai Said dalam kesempatan itu seolah hendak menghilangkan ketegangan tersebut dengan gaya komunikasi yang sangat rileks dan cair.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gaya yang sama juga ditunjukkan Kiai Said ketika membimbing para muallaf lain, seperti Ketua DPD Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Kabupaten Belitung Fendi Haryono pada Juni 2016, atau dua pengusaha Jepang bernama Ogawa Hideo dan Suzuki Nobukazu pada Desember 2015, atau warga asal Jepang Terao Taketoshi pada Maret 2016, dan lain-lain.

(Baca juga: Kunjungi Jepang, Kiai Said Islamkan 12 Orang)

Pertama-tama Kiai Said biasanya bertanya kepada calon muallaf untuk memastikan bahwa pilihannya untuk masuk Islam bukan karena paksaan. Baru kemudian kiai asal Cirebon ini menjelaskan bahwa Islam membawa misi kasih sayang. Selain soal iman, Islam juga menekankan akhlak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu, semakin teguh keyakinan seseorang, semakin terbuka ia terhadap perbedaan. Musuh sejati umat Islam bukan perbedaan, melainkan kezaliman dan kebiadaban. “Jika ada orang melakukan teror, aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam, berarti ia tak paham dengan Islam,” tuturnya.

Umumnya pandangan seperti ini pula yang menarik perhatian para calon muallaf memilih NU sebagai pintu untuk memasuki Islam yang moderat dan menjunjung tinggi perdamaian. Seperti Terao Taketoshi yang mengaku tertarik kepada NU karena konsisten menegakkan Islam rahmatan lil alamin.

Usai yakin bahwa perpindahan agama lahir dari kesadaran sendiri, Kiai Said lantas menuntun calon muallaf membaca dua kalimat syahadat kata demi kata. Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat berlangsung khidmat meski ia tetap memberi toleransi jika calon muallaf tidak fasih dalam pelafalan rukun Islam pertama itu.

Soal nama baru sang muallaf, Kiai Said tak melakukan perubahan terhadap nama asli. Kalaupun ada perubahan, Kiai Said biasanya menambahkan nama Muhammad, Ahmad, Hasan, Ali, Sholehah, atau nama-nama lain yang akrab di lidah umat Islam kebanyakan.?

Selanjutnya, mereka berfoto bersama, makan, atau berbincang lagi. Tak ada pembahasan seputar tema-tema berat tentang konsep ketuhanan, kenabian, atau lainnya. Islam dibahas prinsip-prinsipnya saja dan ? yang sejauh diterima para pemeluk baru Islam. “Islam itu mudah. Yang paling penting adalah tidak berhenti belajar,” kata Kiai Said. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Terkait disanderanya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf, Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud mengatakan, peran organisasi masyarakat bisa turut menjebatani. Ia beralasan adanya kemungkinan itu mengingat Abu Sayyaf lari ke Filipina, tidak lain karena mempunyai jaringan di negara tersebut.?

Saat ini tenggat waktu yang diberikan para penyandera sudah habis. Marsudi berpendapat agar pemerintah mencoba membandingkan dengan penyanderaan terhadap kapal Sinar Kudus tahun 2011 lalu.

“Setahu saya dulu pemerintah melibatkan pihak-pihak yang dianggap bisa turut untuk mendekati para penyandera dan melobinya. Pendekatan yang soft aproach (pendekatan yang lembut) itu bisa disisir melalui NGO yang ada kaitan atau relasi antara organisasi di Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf. Itu harus dilakukan oleh pemerintah,” terang Marsudi kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal,? Senin, (11/4) malam.

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Ditanya apakah pemerintah Indonesia perlu memberikan uang tebusan kepada para penyandera, Marsudi mengatakan hal itu bisa terjawab setelah adanya komunikasi antara pemerintah dengan kelompok? Abu Sayyaf. Ia menegaskan langkah apa saja bisa ditempuh untuk keselamatan rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Marsudi mengatakan PBNU sejak era Gus Dur mempunyai hubungan khusus dengan organisasi di Filipina Selatan. Marsudi berkeyakinan, sampai saat ini masih ada peluang untuk mengatasi persoalan tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Pati, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Madrasah Aliyah NU Luthful Ulum Wonokerto Pasucen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah bekerja sama dengan Perpustakaan Mutamakkin Kajen menggelar bedah novel Kuntul Nucuk Bulan. Bedah novel tersebut mendaulat Farid Abbad sebagai narasumber.

Farid, pada bedah novel Selasa (26/1), ini menjelaskan, kuntul adalah burung yang selalu terbang menjelajah ke berbagai tempat untuk mencari pengalaman dan ilmu baru. Burung itu tidak puas dengan apa yang diperoleh. Cita-citanya tidak bisa dibatasi karena sangat tingginya sehingga dikejar sepanjang hidup.

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Ibarat Kuntul Penjelajah, Pencari Pengalaman

Novel ini, kata aktivis Lakpesdam NU Pati, ini mengisahkan seorang santri yang mempunyai cita-cita tinggi yang tidak patah semangat oleh berbagai kendala dan rintangan yang menghadang. Santri tersebut terus belajar dan berkarya untuk mencapai cita-citanya yang tinggi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para pelajar sebagai generasi masa depan bangsa, lanjut Farid, harus menjadi sosok yang pantang menyerah. Pemuda harus terbang tinggi untuk meraih mimpi yang dicanangkan. Cita-cita tinggi inilah yang mendorong seorang pemuda untuk belajar secara rajin dan membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Farid, alumnus Global University Libia, ini menjelaskan, salah satu keterampilan hidup adalah jurnalistik, kemampuan tulis menulis. “Untuk menjadi penulis hebat dibutuhkan ketekunan dan latihan terus menerus. Orang-orang besar, seperti Buya Hamka dan Pramodya,? mampu menghasilkan karya-karya besar di balik jeruji penjara. Begitu juga KH. MA. Sahal Mahfudh yang mampu menghasilkan karya yang menjadi karya internasional yang wajib dipelajari di Universitas Al-Ahqaf,” jelasnya.

Ia menganjurkan untuk penulis pemula agar menulis diary setiap hari. Misalnya setelah shubuh, waktu istirahat sekolah, dan lain-lain. Menulis ini? harus menjadi kebiasaan harian, sehingga lama-lama akan menjadi dokumen yang sangat berharga. Kebiasaan ini akan memperlancar kemampuan menulis. Menulis seperti mengalir deras tanpa ada ujungnya, karena ide-ide besar terus bermunculan tanpa henti.

Dalam rangka meningkatkan tradisi jurnalistik ini, MA NU Luthful Ulum selalu menerbitkan buku setiap tahunnya, seperti Mengibarkan Prestasi tahun 2014 dan Sayap-Sayap Rindu & Setitik Embun di Ujung Subuh tahun 2015.

Dalam tahun 2016 ini, madrasah berbasis pesantren ini mengadakan lomba cerpen internal untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswi di bidang jurnalistik. Dengan menciptakan iklim kompetisi yang ilmiah, siswa-siswi akan mengeluarkan kemampuan terbaik untuk mengasah kemampuannya terus menerus untuk menggapai cita-cita yang tinggi.

Nur Alimah, selaku Waka Kesiswaan MA NU Luthful Ulum menjelaskan, kegiatan ilmiah, seperti bedah buku dan seminar remaja terus diadakan MA NU Luthful Ulum supaya siswa-siswi termotivasi mengejar cita-cita yang tinggi dengan usaha maksimal. (Jamal Mamur/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Humor Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

PMII pun Harus Jaga Independensi Politik

Jember, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan yang mempunyai hubungan historis dan emosional dengan NU harus independen dari kepentingan politik. Sebab, independensi merupakan salah satu tolak ukur kemandirian organisasi.

PMII pun Harus Jaga Independensi Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII pun Harus Jaga Independensi Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII pun Harus Jaga Independensi Politik

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Cabang PMII Jember, Zainal Abidin saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus PMII Komisariat Universitas Jember (Unej) di gedung Bhayangkara, Selasa (19/3).

Menurut Zainal, sejak dulu sesunguhnya PMII dibangun dengan semangat kemandirian, sehingga harus tetap mandiri sampai kapanpun. “Termasuk mandiri dari pengaruh kekuatan partai politik,” tukasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Putra Bangkalan, Madura itu menambahkan, PMII harus tetap fokus dan istiqamah dengan garapannya, yaitu mengawal ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah, khususnya di kalangan mahasiswa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakannya, PMII sebagai kawah candradimukanya NU, juga mempunyai tugas untuk menggodok dan mencetak kader-kader NU yang militan. “Pasca PMII, jalur kiprah dan pengabdiannya ke NU. Itu biasanya,” jelas Zainal.

Zainal mengingatkan agar kader PMII menjaga netralitas sikap politiknya dalam menghadapi event-event politik ke depan. Sebab, keberpihakan kepada salah satu kekuatan partai politik akan menggerus tugas yang sesungguhnya, yaitu mengawal ajaran NU. “Makanya, kita harus cermat dan hati-hati menyikapi event politik,” ucapnya.

Dalam kepengurusan PMII Komisariat Unej periode 2013-2014 ini, Ahmad Wawan tercatat sebagai ketua, dibantu Nur Kisom Reza sebagai Sekretaris. Pelantikan itu sendiri dilakukan oleh Ketua PMII Cabang Jember, Zainal Abidin di hadapan sekitar ? 200 undangan.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Kalangan pesantren tidak henti-hentinya mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Pada era penjajahan Belanda selama ratusan tahun, para kiai beserta santrinya mampu mempertahankan martabat pribumi melalui perlawanan simbolik maupun substantif.

Bahkan segala cara dilakukan oleh Belanda untuk dapat menundukkan para kiai pesantren. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu.

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Pondok pesantren dengan komitmen cinta tanah airnya yang membuncah membuat Belanda tak berkutik. Begitu pun ketika bangsa Indonesia mulai dijajah oleh Jepang (Nippon) pada tahun 1942. Rakyat pribumi tak sedikit yang harus mengikuti peraturan Jepang karena konsekuensi pedih akan didapat jika melawan.

Namun tidak demikian dengan kalangan pesantren. Tidak ada sedikit pun rasa gentar dari para kiai dan santri ketika harus menghadapi fitnah dan propaganda Jepang untuk menundukkan pesantren. Termasuk yang menjadi target utama Jepang, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Mereka menuduh Kiai Hasyim sebagai dalang pemberontakan rakyat kepada Jepang di desa Cukir, sekitar Jombang, Jawa Timur. Padahal Kiai Hasyim tidak tahu menahu.

Bukan hanya Kiai Hasyim, tragedi pada tahun 1943 tersebut sejumlah kiai yang mengkomandoi Jam’iyah Nahdlatul Ulama juga ditangkap yaitu KH Mahfudz Shiddiq. Hal ini memantik perlawanan ribuan santri kepada Jepang untuk membebaskan Sang Kiai. Sedangkan KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Wahid Hasyim berupaya keras melakukan diplomasi dengan tujuan yang sama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meskipun Kiai Hasyim pada akhirnya bebas, namun tahun pertama dalam masa pendudukan tentara Nippon, Maret 1942-Maret 1943 ditandai oleh tumbuhnya kebencian rakyat kepada tingkah serdadu-serdadu Nippon dan rasa muak terhadap propaganda Nippon. KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengungkap sejumlah penyebab kebencian dan rasa muak rakyat Indonesia kepada Jepang sebagai berikut:

Pertama, terbukanya kebohongan propaganda Tokyo bahwa Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, mendirikan ketenteramana yang teguh atas dasar mempertahankan Asia Raya, tak lain dan tak bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan sekaligus sebagai daerah garis belakang (home front) sumber tenaga manusia dan bahan mentah serta gudang logistik bagi tentara Nippon di medan perang Pasifik dan Asia Tenggara.

Ketiga, kebencian rakyat adalah spontanitas akibat keserakahan Nippon merampas bahan makanan dan harta benda rakyat. Suatu slogan berbunyi: “padi untuk saya, untuk kami, dan untuk kita sekalian” membuka kedok keserakahan mereka.?

Nippon harus mendapat makan tiga kali. Pertama kali sebagai saya (Nippon), kedua sebagai kami (Nippon ikut mendapat bagian kedua), ketiga sebagai kita (Nippon ikut mendapat bagian yang ketiga). Sedangkan untuk engkau dan kamu (rakyat Indonesia) tidak dipikirkan.

Keempat, kerja paksa berupa romusha. Kendati dirayu dengan sebutan “prajurit ekonomi” pada hakikatnya adalah kuli paksa. Hal ini tak ubahnya pekerjaan rodi di zaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels pada 1762-1818, yang memaksa rakyat di Jawa membuat jalan raya sepanjang Anyer-Banyuwangi dengan pengawasan tangan besi, bahkan romusha lebih kejam lagi dibanding rodi.

Daendels hanya mengerahkan rakyat untuk proyek di Tanah Jawa. Tapi romusha adalah kuli-kuli paksa yang diperintahkan dengan tangan besi untuk mengerjakan proyek-proyek peperangan bukan hanya di Jawa dan di Indonesia, tetapi juga di Burma (Myanmar), Indochina, Malaya, Kepulauan Pasifik, dan tempat-tempat lain yang dirahasiakan.?

Tragedi ini memisahkan mereka dengan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tidak diketahui nasibnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia yang menjadi romusha juga banyak yang menetap di Thailand dan Burma serta menjadi warga negara tetap di sana.

Kelima, tenaga kerja perempuan yang dijanjikan Nippon untuk tugas palang merah, kenyataanya banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu serdau-serdadu Nippon di medan perang.

Terakhir keenam yaitu perkosaan lebih dahsyat lagi adalah dari segi akidah, keyakinan Islam. Karena saat itu rakyat Indonesia tanpa kecuali diwajibkan setiap pagi menghadap ke arah istana Kaisar Jepang di Tokyo untuk melakukan upacara saikeirei, menyembah kaisar Jepang yang disebut Tenno Heika. Menurut kepercayaan Jepang, Tenno Heika adalah keturunan dari Dewa Matahari, Amaterasu O. Mikami yang mahakuasa.

Saikeirei dilakukan dengan cara membungkukan badan 90 derajat, persis seperti rukuk di dalam sholat. Sedangkan membungkuk dengan tujuan menyembah tersebut di dalam Islam hukumnya kufur dan haram sehingga wajib ditentang. Hal ini juga terjadi ketika Kiai Hasyim Asy’ari meringkuk di penjara Jepang selama lima bulan. Setiap pagi seluruh tahanan harus melakukan saikeirei, namun Kiai Hasyim dengan tegas menolak. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Ramadhan, Kuliah Ashar setiap Masjid

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Ngaji bersama sehabis sholat ashar nampaknya tidak hanya menjadi tradisi namun menjadi lahan mencari pahala pada bulan Ramadhan ini, hampir di setiap masjid di kabupaten Tegal menggelar kegiatan tersebut seperti yang dilakukan oleh pengurus Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru.

Salah seorang pengurus Masjid Ustadz Sobri, ketika di temui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Rabu menuturkan, memang kuliah ashar ini kami sengaja laksanakan, disamping untuk menambah pahala di bulan Ramadhan juga sebagai pengisi waktu senggang menunggu waktu magrib.?

Ramadhan, Kuliah Ashar setiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Kuliah Ashar setiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Kuliah Ashar setiap Masjid

“Jadi kuliah ashar ini sudah rutin kami laksanakan selama bulan puasa, jamaahnya pun variasi dari mulai anak-anak, hingga orang dewasa,“ ? katanya.

Lebih lanjut Ustadz Sobri mengakui bahwa selain di bulan puasa tidak selamanya dilaksanakan?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ya seperlunya saja mas, apa sehabis Jum’at atau hari-hari dimana ada kegiatan yang dipusatkan di masjid, jadi pada bulan puasa ini kami betul-betul supaya masyarakat juga lebih cinta dengan ilmu agama daan pengamalannya,“ katanya.

Biasanya pengurus masjid menjadwal ustadz yang mengisi kegiatan kuliah ashar secara bergantian dan menyampaikan materi yang berbeda dengan ustadz yang lainnya, sehingga masyarakat yang mengikuti pengajian tidak mendapat informasi tidak hanya satu pintu dan atau materi.

Salah satu warga desa Kalisoka Torikin, menjelaskan sangat senang dengan program pengurus masjid karena dengaan adanya kuliah ashar bisa memanfaatkan luang waktu sambil beribadah, yang jelas tujuan dan niat baik menurut saya sudah menjadi bukti bahwa kami membutuhkan kegaiatan yang semacam ini, “Insyaallah manfaatnya lebih banyak, karena ilmu agama dapat kita peroleh dengan mengikuti kuliah ashar. Untuk itu masyarakat mestinya berduyun-duyun mengikuti pengajian tersebut,“ jelas Torikin yang juga pengurus GP Ansor Kecamatan Dukuhwaru.?

Dalam kesempatan tersebut, pengajian diisi oleh ustadz Lukman, dalam kuliahnya beliau menuturkan agar setiap hari menjaga puasa baik pahalanya atau hal-hal yang membatalkan puasa, sehingga amal yang dilakukan selalu dapat kita kontrol dengan baik, sehingga puasa tidak hanya mendapatkan, rasa lapar dan haus saja.?

“Jangan sampai sudah kita berpuasa namun ketika bertemu dengan teman kita malah, ngomong yang membuat orang itu menjadi sakit hati, jadi sikap dan perilaku kita itu harus betul-betul dijaga dengan baik, dengan harapan juga bisa dipraktikan setelah Ramadhan. Ramadhan bukan hanya percobaan tetapi Ramadhan merupakan kawah candradimuka atau lahan gemblengan mental spriritual kita untuk menuju manusia yang bertakwa disisi Allah Subhanahu wata’ala,“ tuturnya.

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal pengajian sehabis sholat Ashar atau kuliah Ashar ini, hampir dilakukan dimana-mana, dan hampir semua masjid di Kabupaten Tegal, apalagi di daerah pesantren, mereka hampir full melakukan itu dari pagi sampai malam atau yang sering disebut dengan pasaran.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sedikitnya 50 pelajar mengikuti Pelatihan Kader Muda (Lakmud) yang difasilitasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumatera Barat, Kamis (3/9). Kegiatan yang diawali dengan pelantikan pelajar NU Sumbar ini, diadakan untuk menghidupkan kembali gerakan pelajar NU di Sumbar.

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

“Kita ingin membentuk karakter pelajar yang bertakwa dan berjiwa kepemimpinan,” kata Ketua PW IPPNU Sumbar Leni Herfina kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal per telepon, Kamis (3/9) malam.

Kaderisasi yang diselenggarakan di Kantor PWNU Sumatera Barat ini, diikuti utusan dua cabang dari lima cabang IPPNU di Sumbar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita ingin mengadakan kaderisasi rutin per tiga bulan untuk lebih banyak mencetak kader,” kata Leni yang tengah bergerak menghidupkan IPPNU di Sumbar.

Menurutnya, kendala di lapangan lebih dikarenakan orientasi pelajar pada prestasi akademik. Pelajar di Sumbar umumnya kurang perhatian pada gerakan-gerakan pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Leni bersama rekanita lainnya kini tengah bergerak untuk menghidupkan cabang-cabang IPPNU di 15 kabupaten dan kota yang ada di Sumbar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Nasional, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat mudik seperti ini, salah satu yang kita nanti adalah ingin merasakan lezatnya masakan ibu di rumah. Sebagian besar di antara kita mengatakan, masakan ibu adalah masakan terlezat dan membuat kangen untuk terus pulang ke rumah.

Bahkan banyak yang berpendapat masakan ibunya paling lezat dibanding masakan siapapun termasuk masakan koki terkenal di hotel berbintang atau rumah makan yang pernah kita singgahi. Pertanyaannya mengapa anak berpendapat seperti itu?

Menurut ilmu neurologi, di dalam otak manusia ada tempat untuk memori kelezatan makanan (lobus parietalis dan nuclues acumban), rasa lezat yang dirasakan sejak kecil dari makanan yg disajikan ibu akan tersimpan di otak bagian ini sehingga terbentuk memori kelezatan makan permanen di otak kita.

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung

Walaupun kita sudah dewasa, memori itu masih ada dan ketika kita pulang ke rumah seperti saat mudik ini kemudian menyantap makanan masakan ibu, maka memori akan terstimulus lagi dengan cepat. Hal ini terjadi saat kita mulai mengunyah makan tersebut, itulah yang menerangkan kelezatan masakan ibu kita.?

Kedua, suasana hati yang tenang. Saat paling penting ketika bertemu ibu, bapak, saudara dan handai taulan tentunya pikiran kita senang dan tenang. Ketenangan itulah yg memberi kenikmatan saat makan masakan ibu tercinta. Apalagi makan sambil mengenang masa kecil di rumah akan berlipat ganda rasa nikmat masakan ibu di rumah.

Walaupun makanan lezat tapi bila hati tidak tenang rasanya hambar bahkan tidak bisa merasakan. Sebagai contoh ? makan di bandara saat pesawat sudah siap berangkat rasanya tidak nikmat walapun sebenarnya makanan itu lezat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketiga, ibu memasak dengan "resep kasih sayang". Bagi seorang ibu, memasakan untuk anak tercinta ? bukan hanya menggunakan ramuan tangan, tetapi resep masakan dengan "ramuan hati atau kasih sayang". Dan ini sulit dijabarkan secara ilmiah tetapi memang ada telepati kasih sayang ibu ke anaknya saat memasak dan menyajikan makanan untuk kita. Istilahnya ibu memasak dengan ? hati menggunakan resep kasih sayang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sudah berbakti?

Begitu besar kasih sayang ibu ke kita (bahkan lewat masakan yang lezat). Pertanyaannya adalah, sudahkah kita tunaikan kewajiban kita kepada orang tua? ?

Mumpung masih dalam momen mudik, kita masih bisa ketemu dan mengunjungi mereka berdua. Pastikan kita sudah menunaikan kewajiban kita karena belum tentu ada kesempatan di tahun depan mengingat semakin tuanya usia mereka, maka berikan yang terbaik untuk mereka. Semoga Allah senantiasa menyayangi dan memuliakan ibu dan bapak kita.

Ditulis oleh Badrul Munir, dokter spesialis saraf di RS Saiful Anwar Malang, pemuja masakan ibu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Ulama, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal? . Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Bandar Lampung menggelar Penyuluhan Perwakafan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Way Halim Bandar Lampung, Jum’at, (25/12). Kegiatan tersebut bertema “Optimalisasi Peran Fatayat Nahdlatul Ulama Dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Pemberdayaan Wakaf Produktif.”

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf

Penyuluhan yang dibuka Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Lampung Khalida tersebut diikuti 50 peserta. Mereka adalah kader PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung, PC Muslimat Bandar Lampung, dan IPPNU Kota Bandar Lampung. Acara ini juga dihadiri oleh Kementerian Agama Provinsi Lampung, Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, PC GP Ansor Kota Bandar Lampung.

Dalam penyuluhan itu menghadirkan 2 pemateri yaitu akademisi Fakultas Hukum dan Syari’ah IAIN Raden Intan Lampung KH Kahairuddin Tahmid. Ia fokus menyampaikan materi “Profesionalisme Nadzir Dalam Mengelola dan Mengembangkan Harta Benda Wakaf”. Narasmuber lainnya yaitu Kepala Kementerian Agama Kota Bandar Lampung H. Seraden. Ia menyampaikan materi “Kebijakan Pemerintah Tentang Wakaf”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung Ika Kartika mengatakan, PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung senantiasa berperan aktif didalam segala bidang pembangunan termasuk merespon program-program pemberdayaan ekonomi umat.?

“Pemberdayaan wakaf yang selama ini seolah-olah wakaf itu menjadi persoalan lelaki dan hanya dapat diselesaikan oleh kaum lelaki. Oleh karena itu Fatayat NU memberikan penyuluhan wakaf dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua PW Fatayat NU Lampung Khalida, SH dalam sambutannya mengatakan sebagai organisasi gerakan perempuan kita harus tahu dan mengerti persoalan perwakafan. Wakaf bukan saja persoalan ? lelaki, tapi juga perempuan.?

KH Khairuddin Tahmid dalam pemaparannya materinya mengatakan pengelolaan wakaf hendaknya memperhatikan asas kebermanfaatan yang baik dan benar untuk kesejahteraan dan kepentingan sosial. Oleh karena itu nadzir hendaknya memiliki ilmu pengetahuan dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, sehingga dapat memelihara, memperdayakan dan menginvestasikan wakaf.

Sementara H. Seraden, MH dalam pemaparan materinya wakaf merupakan potensi dan asset umat Islam yang cukup besar dan dapat didayagunakan bagi upaya penyelamatan nasib puluhan juta rakyat Indonesia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan.?

Ia menambahkan, ada poin terpenting dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah tentang wakaf yaitu regulasi, motivator, fasilitator. “Oleh karena itu dengan adanya payung hukum/regulasi yang jelas maka dapat memotivasi atau memberi pemahaman terhadap masyarakat dalam pengelolahan wakaf secara produktif akan memiliki arti strategis dalam rangka memperdayakan ekonomi umat dan meningkatkan kesejahteraan umat,” katanya. (Rudi Santoso/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Amalan, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka memperkuat misi kemanusiaan dan mitigasi bencana, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Pusat menggelar forum diskusi bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus. Mereka mengundang sejumlah pejabat SKPD setempat beserta relawan dalam acara yang bertempat di RM Saung Bambu Wulung Ngembal Rejo Kudus, Kamis (26/01).

Kepala BPBD Kabupaten Kudus, Bergas C. Penanggungan menyampaikan apresiasi kepada LPBI NU atas kepeduliannya terhadap persoalan bencana di Kudus. Hal ini tentu saja semakin mengukuhkan bahwa NU merupakan ormas Islam yang amat memperhatikan keselamatan umat.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada NU atas terlaksananya kegiatan ini. Artinya selama ini NU memang senantiasa care dengan masyarakat dan ini juga akan menjadi semangat lebih bagi kami," paparnya.

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Petakan Mitigasi Bencana di Kudus

Dalam penanggulangan bencana, imbuh Bergas, memerlukan jalinan kerjasama dengan banyak pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, sebagaimana dalam slogan, Ormas berfungsi sebagai pelopor penggerak para relawan untuk peduli dengan misi ini.

Sementara itu, Pengurus LPBI NU Pusat, Yayah Ruchyati mengemukakan kegiatan ini adalah langkah awal untuk menyiapkan segala hal terkait mitigasi bencana. Dalam forum ini membahas penyusunan metodologi kajian risiko bencana di Kabupaten Kudus ke depan.

"Agenda ini nantinya akan berlanjut pada sesi berikutnya yaitu pelatihan pengembangan risiko bencana," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ruchyati mengharapkan agenda kegiatan ini bisa tuntas sehingga mampu ? menghasilkan kajian dan peta penanggulangan bencana untuk Kabupaten Kudus. "Kerjasama ini akan terus ia jalin agar Kudus mempunyai peta bencana tersendiri. Semoga agenda ini lancar dan terlaksana dengan baik," harapnya.

Kegiatan ini juga didukung oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus. Fajar Nugroho menuturkan bahwa kegiatan mitigasi bencana termasuk dalam perintah Islam. Ia memaparkan dua tujuan hidup manusia yang terdiri dari ibadah dan menciptakan kemakmuran di bumi.?

"Termasuk menolong sesama manusia itu juga menciptakan kemakmuran," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bahkan, lanjut Fajar, Rasulullah Saw dalam peristiwa fathu makkah dan perang yang lain melarang pasukannya untuk menebang pohon. Dari peristiwa itu kita bisa belajar bahwa persoalan penanggulangan bencana ini menjadi amat penting.

"Kita diperintahkan untuk menjaga lingkungan dan menolong sesama sebagaimana seruan Rasul kala itu," pungkasnya. (Farid/Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar seminar tentang "Standarisasi Kurikulum Pondok Pesantren". Seminar hasil penelitian ini digelar di hotel Lor Inn Sentul Bogor, Senin (25/8).

Acara yang rencana dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa, 25-26 Agustus 2014 ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Prof Dr Machasin MA. Hadir dalam acara tersebut para peneliti di lingkungan Balitbang dan para pimpinan pesantren dari wilayah Jabodetabek.

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren

Dalam laporannya, Kepala Puslitbang Penda Prof Abdurrahman Masud PhD mengatakan seminar tersebut merupakan hasil riset para peneliti yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. "Hasil riset teman-teman peneliti menyebut bahwa sekarang terjadi cultural decline (kemunduran budaya)," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Abdurrahman menambahkan, penelitian tersebut memotret pandangan kiai yang meliputi tiga aspek: input, proses, dan output pendidikan pesantren. Oleh karenanya, untuk membedah ringkasan hasil survei tentang pandangan kiai terhadap peningkatan mutu kajian kitab kuning di pesantren ini Puslitbang mengundang tiga narasumber yang ahli di bidang pesantren.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mereka adalah Prof Iik Arifin Mansournoor (Guru Besar Brunei University), Dr A Moqsith Ghazali (Dosen UIN Jakarta), Mundzir Suparta (Kemenag), dan Dr Saiful Umam (lulusan Hawaii University)," ujar doktor jebolan University of California Los Angeles (UCLA) AS ini.

Pria kelahiran Kudus ini berharap, para pimpinan pesantren dan peserta untuk aktif dalam kegiatan seminar. "Saya harap para hadirin untuk aktif dalam diskusi kali ini. Lebih bagus lagi disiapkan pertanyaan dan atau pernyataan yang memperkaya dan inspiring," harapnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Dalam sejarah pergerakan nasional, sejumlah perjanjian dengan pihak kolonial telah ditempuh oleh Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara. Namun dalam praktiknya, sejumlah perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan pihak kolonial Belanda.

Seperti Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 antara Indonesia dan pihak Belanda di atas Kapal Renville Amerika Serikat. Salah satu isinya ialah, pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat atau RIS.

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)
Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Poin-poin dalam Perjanjian Renville dinilai lebih buruk ketimbang Perjanjian Linggarjati yang dilakukan sebelumnya, 11 November 1946 di Jawa Barat. Hasil perundingan Renville ditentang oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang tergabung dalam “Benteng Republik Indonesia”, terutama oleh golongan Islam. (Saifuddin Zuhri, 1979: 452)

Singkatnya, hasil perundingan Renville ini menjadi sebab jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin. Kabinet ini hanya berumur 6 bulan dan digantikan oleh Kabinet Hatta (Presidentil) yang dilantik oleh Presiden Soekarno pada 29 Januari 1948. Pada Kabinet Hatta, Bung Hatta selaku pembentuk kabinet ingin merangkul berbagai golongan, termasuk golongan Islam yang getol menolak Perjanjian Renville.

Kabinet Hatta yang salah satu program kabinetnya ialah melaksanakan hasil Perundingan Renville, menyebabkan umat Islam yang tergabung dalam Partai Masyumi menolak untuk bergabung. Namun demikian, Masyumi sebagai partai besar tetap mengadakan rapat untuk menentukan sikap persetujuan duduk tidaknya DPP Masyumi dalam Kabinet yang sedang disusun Bung Hatta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam rapat tersebut, hadir lengkap Anggota DPP Masyumi di antaranya, Dr Sukiman, Mr. Kasman Singodimedjo, Dr Abu Hanifah, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Muhamad Roem, M. Natsir, KH A. Wahid Hasyim, KH Masykur, Zainul Arifin, Farid Ma’ruf, KH Abdulkahar Muzzakir, Mr. Yusuf Wibisono, Prawoto mangkusasmito (Sekjen), dan lain-lain.

Dari unsur Majelis Syuro, hadir KH A. Wahab Chasbullah (yang telah dipilih menjadi ketua setelah Hadlatarussyekh Hasyim Asy’ari wafat), KH Ki Bagus Hadikusumo, KH Raden Hajid, KH Imam Ghozali, A. Hasan, dan lain-lain.

Malam pertama, rapat dipenuhi perdebatan yang cukup sengit sehingga belum bisa mengambil keputusan. Lalu, Sidang DPP Masyumi tersebut dilanjutkan di malam kedua. Di hari kedua sidang tersebut, Kiai Wahab mengusulkan untuk menerima tawaran Bung Hatta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya usulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta,” ujar Kiai Wahab dengan suara cukup lantang. “Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet itu atas nama pribadi sebagai warga negara yang loyal kepada negara. Jadi yang duduk di kabinet itu bukan Masyumi sebagai partai yang tegas-tegas menentang Persetujuan Renville dan Persetujuan Linggarjati!”

Pemikiran Kiai Wahab tersebut mendapat sambutan positif dari pengurus Masyumi. Sebab menurutnya, meskipun secara organisasi menolak Perundingan Renville, tetapi sebagai warga negara tentu tidak bijak ketika negara memanggil untuk melaksanakan tugas kenegaraan namun menolaknya. Tetapi, usulan Kiai Wahab mendapat respon sebaliknya dari Kiai Raden Hajid.

“Loh, alasannya apa kita duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan Renville padhal sejak semula kita menolak Renville? Apa ini tidak melakukan perbuatan munkar?” kata Kiai Raden Hajid tidak kalah lantangnya.

“Kita tidak hendak melaksanakan perkara munkar, bahkan sebaliknya, kita hendak melenyapkan munkar,” tutur Kiai Wahab merespon reaksi Kiai Raden Hajid.

Bagi Kiai Wahab, dulu Nabi Muhammad berupaya mengubah situasi munkar (untuk melenyapkannya) dengan perbuatan. Dengan duduk di kabinet, terbuka situasi dan kesempatan bagi ulama untuk melakasanakan misi tersebut. Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.

“Tetapi kenapa dulu kita menolak Renville, lalu kini hendak melaksanakannya?” ujar Kiai raden Hajid kembali mempertanyakan.

“Sejak pertama kita menentang Persetujuan Renville, sekarang dan seterusnya pun kita tetap menentangnya. Tapi cara penentangan kita dengan falyughoyyirhu biyadih dengan perbuatan jika kita bisa duduk dalam kabinet. Sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita. Setelah rumah terbakar, apakah kita cuma duduk berpangku tangan?” kata Kiai Wahab merumuskan sebuah qiyas.?

Akhirnya, Kiai Raden Hajid bisa menerima usulan dan pendapat Kiai Wahab dengan menyampaikan agar kelak anggota DPP Masyumi yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Hatta supaya mengikrarkan janji, tidak cukup hanya berniat dalam hati untuk terus berkomitmen menolak Perjanjian Renville.

Terkait niat ini, Kiai Wahab menjelaskan salah satu Hadits Nabi SAW yang menyebutkan, “Ista’inu ? ‘ala injaahil hawaiji bil kitmaan...” (HR Imam Thabrani dan Baihaqi). Artinya, mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya.

Baik Kiai Wahab dan Kiai Raden Hajid merupakan ulama besar. Usia mereka kala itu hampir sebaya, 60 tahun. Kedua kiai kharimatik yang mempunyai integritas keilmuan agama itu sama-sama mempunyai sifat tangkas dan cekatan terhadap berbagai persoalan kebangsaan dan keagamaan.?

Adapun isi Perjanjian Renville yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat (RIS).

2. Sebelum RIS terbentuk, Belanda memegang kedaulatan seluruh Indonesia.

3. Republik Indonesia merupakan satu negara bagian dari RIS.

4. Akan dibentuk Uni Indonesia Belanda yang dikepalai oleh Ratu Belanda.

5. Akan diadakan plebisit (pemungutan suara) untuk menentukan kedudukan politik rakyat Indonesia dalam RIS dan pemilihan umum untuk membentuk Dewan Konstituante RIS.?

(Fathoni Ahmad)

Kisah perdebatan ini disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam buku karyanya "Berangkat dari Pesantren".

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Humor Islam, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ketimpangan antara penduduk yang kaya dan miskin meningkat sejak diberlakukannya otonomi daerah. Ini berarti penerapan otonomi daerah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat belum tercapai.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Prof Dr Bustanul Arifin dalm Diskusi Ekonomi “Menyongsong Satu Abad Kebangkitan Ekonomi Umat dan Nahdlatul Tujar”, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Diskusi yang diselenggarakan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) ini sebagai persiapan Rapat Pleno PBNU yang akan dihelat akhir Juni.

(Baca: Pentingnya Indonesia Kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Bustanul mengatakan, ketimpangan tersebut ditandai dengan tingginya angka gini ratio (ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan secara keseluruhan) yang mencapai 0,41 antara tahun 2011-2015.

“Kalau sampai gini ratio mencapai 0,5 sangat mungkin menimbulkan kerusuhan rasial, seperti yang terjadi di beberapa negara. Jadi masalah ketimpangan ini menjadi serius,” kata Bustanul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Angka kemiskinan yang pada tahun 2015 juga meningkat menjadi 28,51 juta jiwa dari tahun sebelumnya yang hanya 27,73 juta jiwa. Kemiskinan di perdesaan yang pada tahun 2014 sebanyak 17,73 juta jiwa menjadi 17,89 juta jiwa di tahun 2015.

Perlu Pembenahan

Menurut Bustanul, permasalahan ekonomi Indonesia memerlukan pembenahan dari aspek hati masyarakat Indonesia. Bustanul memaparkan pentingnya keunggulan keberlanjutan, sebab langkah pemerintah untuk menstabilkan harga pangan seperti yang selama ini dijalankan tidaklah cukup.

Saat ini ekspolitasi sumber daya alam seperti batu bara juga tidak menjamin penyelesaian persoalan ekonomi. Misalnya di Kalimantan Timur yang mulai sadar untuk masuk ke sektor yang mengandalkan jasa. Selain itu juga penerapan agroindustri di bidang perikanan dan holikultura, akan membuat ekonomi Indonesia mampu bertahan.

Ekonomi kreatif juga menjadi pilihan yang baik. Ekonomi kreatif bisa dalam bentuknya yang benar-benar menggunakan pemikiran, tidak harus berbasis aplikasi. Misalnya berupa pengenalan kebudayaan Indonesia. Bustanul mencontohkan Korea berhasil menjual budaya pop-nya sehingga dikenal dunia.

Contoh lainnya adalah Isreal. Israel yang tidak mempunyai tanah (wilayah) dan tidak punya kekuatan, tetapi bisa menjadi negara super power yang mampu mengendalikan dunia.

Presiden Joko Widodo mencetuskan ekonomi kreatif ini juga, tetapi agaknya kurang aktif sehingga hasilnya belum maksimal. Bustanul mengkritisi selama ini NU tidak sekali pun menyentuh hal tersebut.

Ekonomi kreatif yang dapat diterapkan juga adalah turisme yang mengombinasikan beberapa hal misalnya kekhasan home stay berhubungan dengan masyarakat asli. Dan semuanya dijadikan paket wisata sehingga bisa menjual hotel dan kuliner.

Bustanul merekomendasikan selain isu ketimpangan, yang juga perlu dibahas dalam periode nanti adalah pengusaaan lahan pertanian yang semakin menurun, dan kreativitas. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Ulama, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

PBNU Dukung Interpelasi DPR Soal Iran

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung rencana DPR yang akan menggulirkan hak interpelasi menyusul kebijakan pemerintah Indonesia yang mendukung resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) mengenai sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya.

“Terserah saja. Karena itu hak DPR. Tapi NU posisinya pada wilayah moral,” kata Ketua Umum PBNU Dr KH Hasyim Muzadi kepada wartawan usai menghadiri rapat gabungan PBNU di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (28/3)

PBNU Dukung Interpelasi DPR Soal Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Interpelasi DPR Soal Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Interpelasi DPR Soal Iran

Namun demikian, Presiden World Conference on Religion for Peace itu menegaskan, meski mendukung, tetapi bukan berarti NU berupaya masuk dalam wilayah politik praktis yang pada dasarnya adalah wewenang DPR. Pihaknya hanya mengkritisi kebijakan pemerintah dalam dimensi moral saja.

“Arahannya sama, yaitu kebijakan pemerintah dalam hal dukungan terhadap sanksi itu. Tapi bedanya, NU mengkritisi kebijakan itu dalam dimensi moral. Kalau DPR kan wilayah politik praktisnya,” jelas Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

Kritik Hasyim di antaranya ditujukan pada alasan sikap dukungan pemerintah Indonesia atas Resolusi 1747 itu yang menyatakan bahwa sanksi tersebut dalam rangka menjaga keamanan di kawasan Timur Tengah (Timteng). Menurutnya, sanksi yang memaksa Iran untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya, tidak akan merubah keadaan di Timur Tengah, termasuk Iran.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kekacauan di wilayah Timteng, kata Doktor Kehormatan di bidang Peradaban Islam itu, selama ini karena ulah Amerika Serikat (AS) beserta negara sekutunya. Dengan demikian, imbuhnya, sanksi berat yang dikeluarkan DK PBB itu justru akan membuat Iran semakin menderita.

Hasyim mencontohkan keadaan bangsa Indonesia selama ini. Menurutnya, penderitaan yang dialami negeri ini, semuanya diakibatkan negara adidaya tersebut. “Kita (Indonesia, Red) ini menderita karena Amerika Serikat. Masa kita mau menularkan penderitaan ini pada teman kita sendiri (baca: Iran, Red),” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Cobalah dikalkulasi, sejak kita merdeka tahun 1945 sampai sekarang, apa yang diberikan Amerika Serikat pada kita. Coba dihitung, positifnya apa, negatifnya apa,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu menambahkan.

Meski keputusan Indonesia yang mendukung resolusi tersebut dinilai akan mempersulit Iran, namun Hasyim berharap agar hubungan Indonesia-Iran tidak terganggu. “Saya berharap baik-baik saja. Tapi, ya, cuma semoga saja. Saya tidak bisa berbuat banyak,” pungkasnya.

Lebih dari itu, mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur tersebut, mengkhawatirkan bakal ditinggalkannya Indonesia oleh negara-negara lain, terutama negara-negara Islam. Pasalnya, ia menilai, sikap Indonesia atas sanksi tersebut tidak membawa keuntungan apapun.

“Dari Amerika Serikat, kita (Indonesia, Red) mungkin hanya mendapat pujian saja. Lebih parah lagi kalau kita ditinggalkan oleh teman-teman kita (baca: negara-negara Islam),” tegas Hasyim menjawab pertanyaan wartawan mengenai perlu atau tidaknya Indonesia memberikan penjelasan pada Liga Arab. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 



Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Rabu (6/9) di Istana Negara Jakarta merupakan hasil dari perjuangan para kiai dan warga NU. Hanya NU yang secara terbuka melakukan penolakan di mana-mana dalam waktu yang cukup panjang.

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah

Tanpa mengurangi peran kiai dan pengurus NU yang lain, lebih khusus, Ishfah memuji Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tak bosan-bosannya berjuang keras dalam menolak Permendikbud 23 yang kemudian dibatalkan Perpres itu. Kiai Said mengkampanyekan menolak kebijakan yang mengandung muatan full day school (FDS) itu di mana-mana dalam setiap kesempatan.  

“Perpres yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo hari ini tak lepas atas usaha keras Kiai Said yang intens berjuang melalui komunikasi dan pertemuan intensif dengan Presiden,” katanya di gedung PBNU, Jakarta. 

Menurut Ishfah, Kiai Said bertemu presiden tidak kurang dari tiga kali dan sekali dengan Wapres untuk meminta Permendikbud dibatalkan. 

Upaya Kiai Said itu, lanjutnya, karena kecintaanya terhadap madrasah diniyah dan pesantren demi kaum Nahdliyin. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Bukan karena menterinya dari Muhammdiyah lantas NU menolak Permendikbud itu. Sekalipun menterinya dari NU, Kiai Said akan menolak jika kebijakan itu ngotot dilakukan,” jelasnya.

Apresiasi atas usaha PBNU itu disampaikan Pengurus Cabang NU di daerah-daerah. Hinggga sore tadi, Kiai Said menerima telpon dari Cirebon, Majalengka, Bogor (Jawa Barat), Demak, Jepara (Jawa Tengah), Kota Surabaya dan PW Jawa Timur. Mereka mengucapkan terima kasih kepadanya.

Berikut perbedaan Permendikbud 23/2017 dan Perpres 87/2017 soal peraturan hari sekolah:

Permendikbud 23/2017

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal





Pasal 2: 

(1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk waktu istirahat selama 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(3) Dalam hal diperlukan penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat menambah waktu istirahat melebihi dari 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(4) Penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk dalam perhitungan jam sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 

Perpres 87/2017

Pasal 9: 

(1) Penyelenggaraan PPK pada jalur Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilaksanakan selama 6 (enam) atau 5 (lima) hari sekolah dalam 1 (satu) Minggu.

(2) Ketentuan hari sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan bersama-sama dengan Komite Sekolah/Madrasah dan dilaporkan kepada Pemerintah Daerah atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama setempat sesuai dengan kewenangan masing-masing.

(3) Dalam menetapkan 5 (lima) hari sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), satuan pendidikan dan Komite/Sekolah Madrasah mempertimbangkan: 

a. kecukupan pendidik dan tenaga kependidikan; 

b. ketersediaan sarana dan prasarana; 

c. kearifan lokal; dan 

d. pendapat tokoh masyarakat dan/atau tokoh agama di luar Komite Sekolah/Madrasah. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock