Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Banyuwangi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kesekian kalinya Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah (LAZIS) MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan hasil donasi kepada para korban banjir dan tanah longsor di Pacitan yang menelan banyak korban. Dikumpulkannya donasi tersebut melalui program Koin Bakti NU yang dijalankan sejak bulan Mei 2017.

Secara simbolis bantuan dana sebesar Rp 500 ribu dan pakaian layak diberikan oleh sekretaris MWCNU Kecamatan Banyuwangi Nano Hermawan kepada Sekretaris PCNU Kabupaten Banyuwangi Guntur Al-Badri di Kantor PCNU Banyuwangi, Senin (4/12) pagi.

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Koin Bakti NU, MWCNU Banyuwangi Berikan Bantuan Dana dan Pakaian

Nano berharap semoga dengan sedikit bantuan yang berhasil dikumpulkan ini dapat meringankan beban yang dihadapi oleh warga Pacitan.

"Kita hanya dapat berusaha semaksimal mungkin apa yang kami bisa. Sebagai rasa turut belasungkawa atas musibah di sana. Betapa saya turut rasakan kepedihan batin yang mendalam, ketika melihat mereka kehilangan keluarga, saudara, sampai harta benda," tutur Nano.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan, seketika pengurus berusaha semaksimal mungkin untuk penggalangan bantuan dana di kepengurusan setempat.

"Alhamdulillah saya mengucapkan banyak terima kasih dengan hadirnya program koin bakti NU yang digagas oleh LAZIS ini dapat dirasakan hasil pengabdiannya. Karena itu, saya apresiasi atas konsistensi dedikasi pengurus LAZIS sejauh ini. Semoga dengan berjalannya waktu, jumlah donatur dapat terus ditingkatkan untuk berdonasi setiap bulan," tutup Nano.

Guntur Al-Badri mengatakan, sejauh ini dari pengurus cabang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 13,67 juta beserta pakaian layak dan obat-obatan.

"Data bantuan ini berhasil dikumpulkan dari seluruh MWCNU se-Kabupaten Bayuwangi beserta badan otonomnya. Tentunya ini akan terus bertambah," jelas Guntur.

Deadline kami bantuan akan ditutup saat prosesi pemberangkatan di Pacitan tanggal 5 Desember 2017 esok. Semoga ini menjadi keberkahan dan dijauhkannya kita semua dari segala malapetaka, harap Guntur. (M Sholeh Kuriawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Fragmen, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sabtu (22/11), di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Salah satu pengurus LP Ma’arif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Ma’arif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Ma’arif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Ma’arif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Sekretaris PC LP Ma’arif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang pelaksanaan ibadah haji tahun 2014 ini, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Nahdlatul Ulama Sukoharjo menggelar acara pembukaan bimbingan manasik haji. Pembukaan bimbingan manasik ini dipusatkan di Madrasah Diniyah Sedahromo Kartasura, Sukoharjo, Rabu (14/5).

Seorang pengurus KBIH NU Sukoharjo Nur Hamid menerangkan, pada kesempatan ini KH Aminudin Ihsan dan KH Abdul Matin memberikan bimbingan kepada para calon jamaah haji sesuai tuntunan Aswaja NU.

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014

Nur Hamid menambahkan, saat ini bimbingan haji KBIH NU Sukoharjo diawali dari daerah Kartasura.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Bimbingan perdana ditujukan bagi jamaah calon haji di kecamatan Kartasura dengan jumlah jamaah satu rombongan 42 orang,” terang Nur Hamid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain bimbingan haji, kata Nur Hamid, KBIH NU Sukoharjo juga membuka bimbingan bagi warga NU yang berencana menunaikan ibadah umroh. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok Muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini.

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Hal ini, disampaikan Kiai Said, menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Wali Songo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Wali Songo, harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat Al-Quran dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Wali Songo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus.

Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan jika sesuatu yang negative itu dipastikan akan berdampak negative bagi masyarakat. Karena itu segala sesuatu yang negative, apalagi artis panas dari Amerika Serikat, seharusnya tidak didatangkan apalagi menjadi bintang film di Indonesia.

“Kita tidak ada toleransi terhadap hal-hal yang buruk. Itu kan sama dengan mendukung kemunkaran. Kami berharap produser film tidak hanya memikirkan keuntungan materi dalam film, melainkan pertimbangan moral anak bangsa yang harus menjadi prioritas. Sebab, anak-anak inilah yang akan menjadi pemimpin masa depan," tandas Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Selasa (19/10).

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas

Kini artis panas atau porno asal AS bernama Tera Patrick ini menjadi bintang utama dalam film Rintihan Kuntilanak Perawan. Ketiga film ini sempat diprotes, namun lembaga sensor film meloloskannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Komisi Fatwa MUI ini mengimbau agar moralitas dijadikan pegangan para sineas. Jangan sampai demi popularitas film dan materi, artis porno dipajang dalam tontonan layar lebar. "Wajah perfilman yang porno harus kita hindari, apalagi mendatangkannya. Jangan itu," ujarnya.

Menurut KH Maruf, seniman atau sineas Indonesia bisa bersama-sama membangun moralitas anak bangsa ini. Dan, itu bukan saja berdasarkan atas keyakinan satu lembaga keagamaan saja melainkan seluruh agama menolak pornografi maupun pornoaksi tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Moral harus dikedepankan, jangan hanya mencari keuntungan pragmatis materi, karena dampak madharatnya jauh lebih besar berbahayanya,"tutur KH Ma’ruf Amin khawatir.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Quote, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Koordinator Komisi Bahtsul Masail Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) KH Mujib Qulyubi mendukung terhadap inisiasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) tentang Rancangan Undang-Undang? Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren.

Demikian disampaikan Kiai Mujib pada acara Focus Group Discussion (FGD) RUU (LPKP) di lantai lima, gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (24/10).

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

Sebagai upaya dukungan terhadapa rencana RUU LPKP itu, Kiai Mujib pun menyatakan akan membawanya ke Musyawaroh Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul ulama (Munas-Konbes NU) di Lombok, Nusa Tenggara Barat bulan depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, ia berharap agar pertemuan tentang pembahsana RUU LPKP inibukan pertemuan terakhir supaya segera menjadi RUU yang matang dan dapat diputuskan.

Menurutnya, di antara alasan pentingnya RUU LPKP masuk ke dalam pembahasan, karena Hari Santri yang sudah ditetapkan presiden dan dijalankan selama tiga tahun terakhir ini hanya menjadi uforia semata. Sementara penghargaan yang akan datang untuk pesantren dan santri belum jelas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, pesantren, katanya, tidak bisa dipisahkan dari NU. NU adalah pesantren besar, pesantren adalah NU kecil.

“Jadi, NU dan pesantren adalah satu kesatuan. Tidak ada NU kalau tidak ada pesantren dan tidak langgeng pesantren kalau tidak ada NU,” jelasnya.

Hadir pada FGD ini Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H Robikin Emhas, Ketua PBNU H Umar Syah, anggota DPR FPKB Taufiq Abdullah, Pimpinan Komisi VIII DPR FPKB Malik Haramain, Ketua LP Ma’arif H Z Arifin Junaidi, perwakilan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Amalan, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang saya hormati, beberapa waktu lalu ada seorang teman lama datang ke rumah. Ia menanyakan kepada saya hukumnya mengucapkan “Selamat siang” sebagai pembuka pembicaraan. Karena ia pernah ditegur oleh temannya bahwa ucapan “Selamat siang” itu tidak boleh.

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan hukum Islam menyikapi hal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suryadi/Jakarta)

Jawaban

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam pada dasarnya menganjurkan umat Islam untuk mengucapkan salam sebagai pembuka perbincangan. Karena ucapan salam itu mengandung doa.

Lalu bagaimana hukumnya mengucapkan “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat sore”, atau “selamat pagi” sebagai bentuk kalimat untuk menyapa orang lain? Sejauh ini tidak ada larangan agama Islam untuk bentuk sapaan semacam itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat hadits juga pernah menyapa salah seorang sahabatnya dengan bentuk sapaan seperti ini. Tentunya Rasulullah SAW menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. Hal ini diangkat oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kumpulan fatwanya yang kami kutip sebagai berikut.

? ? ? .? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bab mengucap ‘Selamat Pagi dan Sore’. Imam At-Thabarani dengan sanad hasan meriwayatkan hadits dari Ibnu Amr bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada seorang sahabatnya, ‘Apa kabarmu pada ini pagi sahabat?’ ‘Alhamdulillah baik, masih bisa menemuimu ya Rasul,’ jawab sahabatnya. ‘Syukurlah, itu yang kuharapkan darimu,’ sambut Rasulullah SAW,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 82).

Keterangan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi  di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW juga menggunakan bentuk sapaan lain di luar ucapan salam. Dengan demikian penggunaan sapaan “selamat pagi”, “selamat siang”, “good morning”, “good night”, "shabahan nur" dan selanjutnya tidak masalah.

Simpulan kami, Islam tidak membatasi dan menentukan kalimat sapaan. Dan sangat terbuka kemungkinan ada bentuk sapaan lain di luar “selamat pagi” dan “selamat siang” seiring dengan perkembangan bahasa, perbedaan geografis, dan penggunaan di komunitas tertentu. Hanya saja, kami menyarankan agar kita menggunakan kata sapaan yang santun sesuai dengan norma yang berlaku.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah menilai penggunaan jilbab oleh anggota polwan di Indonesia sudah semestinya diberikan keleluasaan. Karena, anggota polwan sebagai warga negara memiliki hak untuk mengenakan jilbab.

Demikian dikatakan Farida Farichah menanggapi pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman di Mabes Polri, Selasa (19/11) yang mengizinkan anggotanya untuk mengenakan jilbab saat bertugas.

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab

“Meskipun belum ada aturan mengenai itu, kelonggaran yang diberikan Kapolri Sutarman patut diapresiasi,” kata Farida, Selasa (19/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kebijakan dari Kapolri perihal jilbab dinilai tepat. Karena, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim dan juga negara yang sangat demokratis. Dari kelonggaran itu, polwan yang ingin mengenakan jilbab bisa leluasa tanpa terganggu dengan masalah kedisiplinan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apalagi mengenakan jilbab, lanjut Farida, juga tidak menghalangi atau mengurangi kinerja polwan. Malah mungkin, kredibiltas atau integritas anggota polwan dengan mengenakan jilbab akan lebih meningkat.

Keleluasaan seperti itu, menurut Farida, menjadi langkah positif untuk mendorong dan memberikan kesempatan yang sama bagi muslimah di Indonesia untuk ikut terjun di dunia kepolisian.

Terlebih lagi tidak adanya peraturan kedisiplinan yang melarang anggota polwan mengenakan jilbab, pungkas Farida. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

NU Tidak Ikut Campur Jika Warganya Ikut Nyalon Kepala Daerah

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 



Ketua Panitia Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) 2017, Robikin Emhas menegaskan bahwa NU secara kelembagaan tidak akan mengurusi politik praktis di Pilkada serentak 2017. Hal itu ditegaskan pada jumpa pers yang digelar beberapa saat sebelum dibukanya Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Mataram, NTB, Kamis, 23 November 2017.

Robikin menjelaskan, pihaknya memandang, tidak pantas jika NU mengurusi Pilkada sebagai bagian dari penerapan politik praktis. “Urusan politik praktis itu bukan urusan NU,” ujarnya saat dimintai tanggapannya soal sikap NU terkait tampilnya sejumlah kader NU di Pilkada NTB.

NU Tidak Ikut Campur Jika Warganya Ikut Nyalon Kepala Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tidak Ikut Campur Jika Warganya Ikut Nyalon Kepala Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tidak Ikut Campur Jika Warganya Ikut Nyalon Kepala Daerah

Menurutnya, NU secara kelembagaan akan lebih fokus mengurusi aspek-aspek yang menyangkut perbaikan di ranah kebangsaan, perdamaian hingga ekonomi umat.

Kalaupun ada kader NU yang tampil di Pilkada dan ingin menjaring suara kalangan Nahdliyyin, Robikin menegaskan hal itu menjadi wilayah personal dari masing-masing pihak. Sebab, bagaimanapun juga, sebagai warga negara mereka memang memiliki hak politik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita serahkan (kepada sikap) mereka secara pribadi,” tegasnya sembari menambahkan bahwa persoalan ini juga nantinya akan diserahkan pada sikap para kiai NU.

Robikin juga menambahkan bahwa saat ini NU telah mendorong agar warganya terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital yang telah menjadi medan baru dalam syiar Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia meniai, saat ini, “perang” yang terjadi adalah perang media, yang berbasiskan teknologi digital. Karenanya, penguasaan aspek yang satu ini dipandang cukup urgen.

“Kita kembangkan sarana teknologi modern sebagai sarana dakwah. Intinya NU siap menyambut era digital,” ujarnya.

Agenda Munas Alim Ulama dan Konbes ini merupakan agenda yang digelar PBNU setiap dua tahun sekali. Dua agenda ini menempati posisi strategis karena menjadi mekanisme perumusan kebijakan tertinggi kedua setelah muktamar NU. 

Munas Alim Ulama akan membahas beragam isu keagamaan yang tengah mewarnai kehidupan umat dan bangsa. Hajatan tingkat nasional ini akan terangkai dalam sejumlah agenda, yaitu pembahasan masalah keislaman (bahtsul masail ad-diniyyah), meliputi masalah-masalah aktual (al-waqi’iyyah), tematik (al-maudhuiyyah) dan perundang-undangan (al-qanuniyyah). 

Sementara itu, materi Konbes NU akan membahas hal-hal yang menyangkut keorganisasian. Materi pertama Konbes NU akan fokus membicarakan program-program NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang berlandaskan faham ahlussunnah wal Jama’ah. Materi kedua lebih berfokus pada pembahasan PO (Peraturan Organisasi) yang penyebutan resminya diistilahkan dengan Peraturan Nahdlatul Ulama. Sedangkan materi ketiga adalah rekomendasi yang ditujukan kepada pemerintah sebagai panduan dalam pengambilan kebijakan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Umat Islam yang terkena musibah banjir diharapkan tetap menjaga kebersamaan. Jangan sampai merusak rasa persatuan dan ukhuwah yang sudah terbina sebelumnya. Bencana yang menimpa hendaknya dapat dijadikan evaluasi diri sehingga mampu meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang Yulter Ardi mengatakan hal itu ketika menyerahkan 70 paket bantuan kepada korban banjir di Kelurahan Mato Aia Kecamatan Padang Selatan, Sabtu (25/6) di halaman musalla Hasanah.

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Menurut Yulter, bencana banjir yang terjadi pada Senin (22/6/2016) lalu hendaknya dapat lebih meningkatkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Bencana tidak selalu harus kita ratapi. Tapi bagaimana kita mengambil hikmah. Kita jadikan momen mengevaluasi diri. Mungkin selama ini banyak kemungkaran yang sudah dilakukan dan lalai dari perintah Allah Swt," kata Yulter Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Yulter, paket yang diserahkan kepada 70 kepala keluarga, berisikan gula, minyak goreng, beras, selimut, mie? dan sirup. "Walaupun tidak banyak, kita berharap dapat meringankan beban masyarakat yang terkena banjir.? Karena keterbatasan, memang tidak semua warga yang terkena banjir yang dapat diberikan paket bantuan. Untuk itu, kepada warga yang tidak mendapatkan, kita harapkan bersabar. Mudah-mudahan ada rezeki dari yang lain," harap Yulter. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini menilai bahwa Narkoba merupakan salah satu ancaman nyata di depan mata yang mengancam generasi muda bangsa.

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

“Saya sangat miris membaca pemberitaan-pemberitaan yang di sana menyebutkan bahwa bandar Narkoba sudah melakuakan regenerasi untuk pecandu. Mereka menyasar anak-anak kecil seusia SD saat ini,” ujar Helmy, Senin (2/10) di Jakarta.

Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menjadikan pemberatasan Narkoba sebagai agenda penting yang mendesak. Jika genarasi muda rusak, maka negara dalam ancaman serius.

Dalam pandangan Helmy, setidaknya tiga elemen harus bersatu memerangi Narkoba. Pertama, lembaga pendidikan. Sekolah, misalnya, harus lebih bekerja keras untuk menanamkan karakter bagi generasi muda. Jika karakter sudah terbangun dengan baik, maka Insyaallah generasi muda kita akan selamat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Demikian juga untuk elemen kedua yakni keluarga. Keluarga memiliki peranan penting untuk memgarahkan anaknya agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat.

Ketiga, lanjut Helmy, pemerintah dalam hal ini melalui BNN. Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk menyusun langkah cerdas, utamanya yang bersifat preventif. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ketiga elemen itu jika bersatu, insyaAllah bangaa kita akan berhasil dalam perjuangan yang disebut sebagai "jihad melawan narkoba,” tandas Helmy. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

”Jangan takut untuk merintis pesantren yang sama sekali berbeda dengan pesantren yang sudah ada” – Gus Dur

Pesan Gus Dur itulah yang menguatkan Jadul Maula, pendiri dan pengasuh pesantren Kaliopak, sebuah pesantren yang menggunakan pendekatan seni dan budaya di daerah Yogyakarta. Ia sebelumnya mengalami kebimbangan untuk mewujudkan idenya tersebut. Persoalannya, ini bukan hanya sesuatu yang baru, tetapi harus merubah stigma masyarakat yang menganggap seni tradisi itu tidak islami.

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

Jadul yang kini juga salah satu wakil ketua Lesbumi NU, lembaga seniman dan budayawan di bawah Nahdlatul Ulama ini mengatakan, ulama dulu mengajarkan nilai agama, di samping melalui pengajaran juga melalui kesenian. Ia ingin melanjutkan tradisi tersebut yang terbukti mampu mendakwah Islam secara damai. Sayangnya, akar tradisi ini sudah ditinggalkan orang. Bahkan banyak tokoh agama menganggapnya seni sebagai perbuatan bid’ah atau sesat.?

“Ini ada ironi, paradoks bahwa dulu seni ini menjadi media dakwah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk memberi penegasan atau akar atas keberadaan pesantren ini, ia mendasarkan diri pada Sunan Kalijaga dan para muridnya yang dulu pernah berdakwah di daerah ini yang terbukti dengan ditemukannya sejumlah situs. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita niat saja, kita anggap Sunan Kalijaga leluhur kita, kita ini murid-muridnya,” tuturnya.?

Kemudian, bersama dengan timnya, ia menelusuri jejak dakwah Sunan Kalijaga. Kulminasinya berupa peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang diselenggarakan pada 2011. Tujuannya ingin menggali lagi ajaran spiritualitas para ulama dulu yang membentuk masyarakat yang etis karena bangsa Indonesia terkenal ramah dan punya etika.?

Ia kemudian melakukan kajian naskah dan berbagai kitab klasik. Misalnya wayang lakon Dewa Ruci yang isinya merupakan ajaran tasawuf. Ternyata naskah ini terkait dengan Suluk Linglung yang mengisahkan pertemuan antara Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidir.?

Upaya mengembangkan pesantren berbasis seni dan budaya bagi beberapa kalangan masih dianggap aneh, padahal dulu wayang merupakan tradisi pesantren. Ia mencontohkan keterkaitan wayang dengan pengajian adalah sampai sekarang orang nonton wayang pakai sarung dan kopiah karena dianggap sebagai mengaji atau mendengarkan wejangan.?

Jadul yang juga salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS) ini menjelaskan, berjaraknya kelompok santri dengan seni tradisi memuncak pada era 50-60an. Saat itu persaingan politik sangat kuat. Seni tradisi diambil oleh PNI dan PKI dengan Lekra sebagai lembaga seni budayanya. Seni dipakai untuk persaingan politik dengan menjelek-jelekkan kelompok lain. Akhirnya tokoh agama Islam menciptakan seni yang lebih kearab-araban. Versi lain dari terpisahnya agama dan seni terjadi karena kebijakan Belanda mengacak-acak agama dan adat.

Akibat adanya fase keterputusan, akhirnya seni tradisi digarap oleh kelompok lain dan mengalami sekulerisasi yang hanya bermakna sebagai wahana hiburan.

“Mereka harus dirangkul kembali, kalau misalnya pesantren atau kiai sering nunggoni dalang main. Paling tidak dalang tahu, akan terjadi proses dialog,” jelasnya.?

Upaya ini cukup berhasil, terbukti beberapa dalang mulai menyesuaikan diri dengan pesantren. Bahkan ada dalang di Jogja minta agar NU bikin organisasi khusus para dalang. “Nah kalau bisa dirangkul, ada dialog pembenahan. Kalau dilepas, jadi sekuler dan sekedar hiburan. Saya tidak anti eksperimen, tetapi saya yakin wayang dalam tradisi klasik perlu dijaga sebagai dakwah,” tegasnya.?

Tidak seperti pesantren konvensional, Pesantren Kaliopak saat ini belum memiliki santri yang mukim secara permanen. Lokasi pesantren menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas dari berbagai disiplin ilmu di universitas-universitas yang ada di Yogyakarta serta komunitas pelaku seni tradisi. Kegiatan rutin yang diselenggarakan berupa mujahadah, latihan shalawatan Jawa, diskusi dua minggu sekali tentang musik. Pernah pula pesantren menyelenggarakan belajar aksara Jawa karena aksara ini pernah digunakan para Wali untuk mengajarkan Islam dalam konteks budaya Jawa. Ada pula kajian rutin Islam Nusantara.?

Ia juga mengadakan eksperimen supaya seni tradisi digabungkan dengan seni modern, misalnya shalawat Jawa dengan orkestra Bethoven yang ? sempat tampilkan dalam Muktamar ke-33 NU.

Pesantren sudah pernah menggelar pameran seni rupa tingkat nasional yang sempat dibuka oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka sedangkan yang satunya oleh adiknya sultan gusti Yudhaningrat.

Lalu, ada pula forum dialog antara kiai dan dalang. KH Musthofa Bisri atau Gus Mus pernah menjadi salah satu narasumber.

Ia sendiri sebenarnya tidak ingin menjadi pengasuh atau kiai pesantren. Tetapi beberapa kiai muda prograsif yang diminta menjadi pengasuh tak bersedia sehingga mau tidak mau, ia memposisikan diri sebagai pengasuh. “Tak ada rotan, akar pun jadi,” paparnya.

Ke depan, ia berharap memiliki kurikulum resmi sebagai panduan para santri untuk belajar. Cita-citanya yang belum kesampaian adalah mengembangkan program Etika Sosial Islam yang saat ini masih kekosongan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Kajian, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kendati bukan pilihan utama, namun madrasah masih menjadi pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Madrasah Tsanawiyah Asy Syafi’iyyah Jatibarang, misalnya, masih jadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Demikian disampaikan Kepala MTs Asy Syafi’iyyah Jatibarang H Akhmad Rosyidi saat berbincang dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di ruang kerjanya, Kamis (26/1).

Terbukti, lanjut Rosyidi, di madrasah tersebut mampu menggaet 764 siswa dan siswi pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Bahkan sempat mencapai rekor jumlah 1004 murid tahun 2004. “Kami juga mewajibkan seluruh keluarga besar madrasah maupun yayasan wajib memasukan anak-anaknya ke madrasah ini,” tuturnya.?

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Madrasah yang terletak di Jalan Raya Timur no 10 Jatibarang, Brebes memiliki 44 guru dan 16 TU. Sebanyak 33 guru sudah bersertifikasi dan 16 guru juga sudah impassing. Dari perjuangan keras para pejuang pendidikan, telah membuktikan prestasi akademik dengan meraih NEM tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Brebes atas nama Syaiful Alami pada ujian nasional 2015/2016 lalu.

Madrasah yang berdiri sejak Juni 1974 tersebut, pada awalnya menempati MI Asy Asyafi’iyyah di Jatibarang Kidul selama tiga tahun. Kemudian pindah lagi ke MI Asy Syafiiyah 2 di Jatibarang Lor. Lima tahun kemudian, baru mampu membeli tanah berikut bangunan kelasnya. “Alhamdulillah, sekarang memiliki tanah seluas 20.000 meter persegi,” ungkapnya.

Sekolah dibawah naungan Yayasan Asy Syafi’iyyah Jatibarang memiliki 23 rombongan belajar (rombel) dengan rincian Kelas 7 sebanyak 6 rombel, kelas 8 sebanyak 9 rombel dan kelas 9 sebanyak 8 rombel.?

Madrasah ini juga memiliki keunggulan berupa muatan lokal Baca Tulis Quran (BTQ), life skill tambal ban, membuat telur asin, memasak dan wira usaha lainnya. “Sebelum memulai pelajaran, para siswa membaca Asmaul Husna, dan setiap Jumat ngaji baca Al-Quran bareng,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menyinggung persiapan Ujian Nasional, Rosyidi menjelaskan, kalau madrasahnya belum bisa mengikuti UNBK karena siswa belum bisa menyesuaikan akibat dihapusnya mata pelajaran TIK. “Anak-anak banyak yang mahir pegang ponsel, tapi untuk mengoperasikan laptop maupun komputer,” ucapnya beralasan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekabupaten Brebes, kata Rosyidi baru empat MTs yang ditunjuk untuk UNBK. “Tapi kami menyanggupi baru tahun 2019,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi, Usamah bin Muhammad mengadakan pertemuan, Selasa (14/11) di rumah Dinas Kedubes Arab Saudi Jakarta.

Komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mengembangkan Islam moderat ditindaklanjuti oleh Usamah dengan menggandeng Nahdlatul Ulama (NU).

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

(Baca: Saudi: Kami Akan Kembali ke Islam Moderat, Menjauh dari Wahabi)

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat dapat dimulai dengan menghormati dan memberikan jaminan Kebebasan bermadzhab kepada seluruh umat Islam dunia yang melaksanakan haji dan umrah di tanah haram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepada Kiai Said, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat. 

"Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerja sama mengembangkan Islam moderat," kata Usamah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Said mengatakan kepada Dubes Arab Saudi bahwa dirinya tidak mempersoalkan Pemerintah Arab Saudi.

“Yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Arab Saudi yang mensyirik-syirikkan, mengkafir-kafirkan, membidah-bidahkan Muslim Indonesia," tegas Kiai Said.

(Baca: Kejutan Saudi Arabia)



Salah seorang Ketua PBNU H Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, kira-kira tujuh tahun lalu Kiai Said memulai bersikap tegas dan kukuh menentang dan melawan keras Wahabi di Indonesia. 

“Selama itu pula PBNU menutup komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” jelas Sulton.

Hal itu, sambungnya, bermula dari peristiwa tokoh utama Wahabi berkata dan bersikap sombong dan congkak terhadap beberapa kiai saat acara resmi. Kiai Said tentu sangat geram namun masih bisa menahan diri.

“Kini ada indikator situasi di Arab Saudi membaik. Mereka bertekad mengembangkan Islam moderat. PBNU pun kembali membuka komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” terang Sulton. 

Islam moderat sudah lama dikembangkan oleh NU ke seluruh dunia untuk membangun perdamaian. Dalam hal ini, Kerajaan Arab Saudi mengakui reputasi NU sehingga perlu menggandengnya untuk mewujudkan misi tersebut secara global. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Lomba, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

Semarang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang akan menggelar diskusi dan bedah buku Al-Quran Bukan Kitab Teror Membangun Perdamaian Berbasis Al-Quran,? karya Wakil Katib PWNU Jateng, KH Imam Taufiq. Buku terbitan Bentang Pustaka ini akan dikaji pada Rabu, (20/4) besok mulai pukul 08.30 Wib bertempat di aula 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang.?

Selain penulis, akan hadir sebagai pembanding Munirul Ikhwan (pakar tafsir alumni Al-Azhar Mesir, Leiden University dan Freie Universitat Jerman) dan Irfan Amali (Founder Gerakan Peace Generation Jakarta).

UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

?

Diskusi ini merupakan agenda rutin yang diadakan FUHUM. Secara ringkas buku ini merupakan hasil karya ilmiah untuk meraih gelar doktor pada 2011. Terdapat pemangkasan disana-sini walaupun tak menghilangkan substansi. Hal ini untuk menyesuaikan pembaca agar mudah memahami buku ini.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Diskusi rutin ini biasanya untuk internal FUHUM, kali ini diperluas," ungkap wakil Dekan I, Ahmad Musyafiq.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tema buku ini diakui sesuai dengan kegelisahan bersama, yakni melawan faham radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Selain itu, diskusi ini juga sesuai dengan visi FUHUM untuk menjadi fakultas yang unggul dalam riset ilmu-ilmu pokok keislaman (ushuluddin) berbasis pada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban.

?

"Dengan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan peran FUHUM di tengah-tengah masyarakat," harap pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jateng ini.

?

Dalam kegiatan ini panitia menyediakan 100 eksemplar buku yang akan dibagikan secara gratis. (M. Zulfa/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kepastikan akan dilaksanakannya Muktamar NU tahun 2015 di Jombang Jawa Timur disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj pada acara Seminar Internasional dengan tema "Ahussunnah wal Jamaah Identitas Islam Nusantara" yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya (23/12).

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang

Kiai Said juga menegaskan waktu pelaksanaan forum permusyawarahan tertinggi di Nahdlatul Ulama ini adalah tanggal 1 hingga 5 Agustus. "Pelaksanaan Muktamar NU akan diselenggarakan di Jombang dan dilaksanakan tanggal 1 hingga 5 Agustus 2015," katanya.

Penegasan ini kian mengukuhkan keputusan rapat pleno PBNU beberapa waktu lalu yang menghasilkan keputusan tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said juga menandaskan bahwa banyak agenda yang dibahas baik di sidang pleno maupun komisi. "Termasuk sejumlah persoalan agama yang akan dibahas dalam forum Bahtsul Masail," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Soal model pemilihan calon pimpinan tertinggi di NU, menurutnya untuk jabatan Rais Aam akan dipilih dengan model ahlul halli wal aqdi. "Sedangkan untuk jabatan Ketua Umum PBNU masih tetap dipilih secara langsung oleh peserta Muktamar. Sementara, nama-nama kandidat Ketua Umum ditentukan oleh anggota ahlul halli wal aqdi," katanya.

Di hadapan peserta seminar yang merupakan utusan dari Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) se-Indonesia serta kontingen dari Malaysia, Kiai Said menjelaskan tentang Islam Ahlussunnnah wal Jamaah atau Aswaja menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dan dalam catatan sejarah, Aswaja sering menyelamatkan umat Islam dari konflik yang berkembang saat itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ketika banyak kalangan mengkafirkan kelompok lain, para ulama Aswaja tampil menyelamatkan umat Islam dari sejumlah perpecahan tersebut," kata peraih Guru Besar dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Menurutnya, karena NU, sejumlah konflik yang terjadi di masyarakat bisa diredam sehingga tidak bisa merembet ke kawasan lain. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi umat Islam di Timur Tengah yang konfliknya terus berkepanjangan dan tidak jelas kapan akan berakhir.

Kiai Said sangat mengapresiasi kerjasama antara Aswaja NU Center dengan sejumlah akademisi dan kampus di Malaysia untuk mensinergikan kerjasama dalam menjaga suasana kondusif dengan Islam yang rahmatan lilalamin ini.

Tampak hadir pada kegiatan pembukaan seminar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua MUI Jawa Timur, KH Abdusshomat Bukhori serta rombonngan dari UTHM Malaysia. Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan kerjasama antara PW Aswaja NU Center dengan kontingen dari Malaysia. [Syaifullah/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Kajian, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama menyelenggarakan Tasyakuran Harlah Fatayat NU Ke-67 di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta, Jumat (28/4) sore. Acara tersebut bertemakan Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan.?

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini menuturkan, ada berbagai rentetan kegiatan yang sudah dilakukan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Lahir organisasi perempuan NU tersebut.?

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Anggia menjelaskan, Fatayat sudah menyelenggarakan acara Ayo Bershalawat dan membentuk Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) NU pada 21 April lalu di Bandung. “Itu adalah bagian dari rangkaian Harlah kita,” ucapnya.

Adapun hari ini, lanjut Anggia, Fatayat menyelenggarakan berbagai macam agenda seperti pasar murah, lomba tumbeng Fatayat NU se-Jabodetabek, seminar, lomba mewarnai dan paduan suara untuk anak-anak sekolah tingkatan TK dan SD, dan lomba antar pengurus bidang PP Fatayat untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathon.?

“Dengan mengadakan lomba-lomba, kita kenalkan anak-anak sejak usia dini dengan lambang-lambang NU dan Fatayat. Kita kenalkan agar mereka mencintai NU dan Fatayat,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menceritakan, dari berbagai kegiatan itu yang paling seru adalah lomba antar pengurus bidang untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathan. Menurutnya, lomba ini bertujuan untuk memastikan agar mereka bisa menyanyikan mars Fatayat dan syubbanul wathon.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ada yang sampai menangis karena ada yang belum hafal,” jelasnya.

Anggia mengungkapkan, salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Fatayat NU adalah kegiatan menjual barang bekas yang masih bagus dengan harga yang murah. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk membangun kemandirian organisasi.

“Sahabat-sahabat yang memiliki barang-barang bekas yang masih layak dijual murah. Dan lumayan laris manis,” katanya.

Ia menyatakan, puncak dari Harlah Fatayat NU akan diselenggarakan berbarengan dengan Rakernas Fatayat pada 4 Mei di Palangkaraya.?

Di usianya yang ke-67 ini, Anggia berharap Fatayat NU bisa menjadi yang diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun di tingkat global.?

Saat ini, Fatayat NU memiliki 34 pengurus wilayah, 480 pengurus cabang, 2 ribu pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

Banyumas, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bulan suci ramadhan membawa keberkahah sendiri bagi para pedagang di Pasar Kalitapen. Pasar kecil yang beralamat di Jalan Raya Ajibarang-Purwojati KM 8 Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati, Kebupaten Banyumas, Jawa Tengah itu, sejak awal ? bulan ramadhan terlihat menjadi ramai ? pengunjung.?

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Pasar Kalitapen Banyumas di Bulan Ramadhan

"Jika dibandingkan bulan-bulan biasanya, bulan puasa yang lumayan ramai," kata Jasmin tukang parkir pasar.?

Meningkatnya jumlah pengunjung pasar tersebut, tentunya meningkat pula jumlah pendapatan para pedagang. Seperti diungkapkan Burhan, penjual ayam potong yang setiap hari menjajakan daganganya di Pasar Kalitapen. Burhah mengatakan, sejak memasuki bulan ramadan omset pejualanya meningkat.?

"Kalau hari-hari biasa menjual 10-15 kilogram ayam saja sudah alhamdulillah," kata Burhan.?

"Namun sejak memasuki bulan puasa, pagi ini saja sudah habis 15 kilo, sehari bisa sampe 27 kiloan yang saya jual," lanjut burhan ketika ditemui di lapaknya, Jumat (2/6) pagi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Burhan, hal senada juga dirasakan oleh Adi dan Dasilah sepasang suami istri penjual sayuran dan buah-buahan. Adi mengungkapkan, jika dihari-hari biasa paling banyak ? satu hari dapat 1 juta lebih. Namun sejak bulan puasa pendapatan satu hari bisa 2-3 jutahan. "Alhamdulilah, ini mungkin berkah di bulan ramadhan," kata Dasilah istri Adi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meningkatnya jumlah pengunjung di pasar Kalitapen rata-rata didominasi oleh kaum ibu-ibu. Mereka sengaja ke pasar untuk membeli bahan makanan dan lauk pauk untuk berbuka puasa.?

Para ibu-ibu berharap semoga harga sembako atau bahan makanan pokok tetap stabil dan tidak naik. Karena biasanya setiap mendekati lebaran, harga bahan kebutuhan pokok biasanya naik. ?

"Naik ya boleh asal jagan banyak-banyak," kata Bu Kasem pembeli di pasar. "Tapi lebih baik tidak naik," tandasnya. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

PMII Ya’qub Husein Jombang Rekrut Anggota Baru

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan PMII Ya’qub Husein membuka hari pertama kaderisasi bagi para mahasiswa STIT Urwatul Wutsqo Jombang, Jumat (12/9) pagi. Puluhan peserta kaderisasi yang terdiri atas mahasiswa baru dan mahasiswa lama ini, akan mengikuti rangkaian MAPABA selama tiga hari ke depan.

Menurut pengurus PMII Ya’qub Husein Ferriawan, pihaknya tidak membatasi peserta harus dari semester satu atau tiga. “Seluruh mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama bila ingin menjadi anggota,” kata Feri.

PMII Ya’qub Husein Jombang Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ya’qub Husein Jombang Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ya’qub Husein Jombang Rekrut Anggota Baru

Lebih lanjut Feri mengatakan, keberadaan PMII terbuka untuk semua orang, golongan, ras, suku.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua PMII Jombang Mahmudi dalam sambutan pembukaan mengucapkan, “Selamat datang di dunia pergerakan. Berproseslah dengan baik. Pahamilah nilai-nilai yang diajarkan PMII, serta beramal sholehlah sebagai generasi muda yang bermanfaat bagi semua orang.”

Panitia menempatkan MAPABA di Balai Desa Kwaron, Diwek, Jombang. “Sepekan sebelum acara kami sudah koordinasi dengan kepala desa. Bahkan fasilitas penginapan untuk kami juga disediakan oleh kades,” terang Ketua panitia Syafa. (Romza/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 10 November 2017

Peletakkan Batu Pertama Pendirian Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Di tengah menjamurnya hotel berbintang di ? Kabupaten Rembang, KH Ahmad Kurdi membangun pondok pesantren di Desa Ngampo Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada Kamis (21/7) merupakan peletakan batu pertama oleh sejumlah ulama diantaranya, KH Tamamuddin Munji, KH Abdul Rozak, dan KH Syarofudin.

Peletakkan Batu Pertama Pendirian Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Peletakkan Batu Pertama Pendirian Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Peletakkan Batu Pertama Pendirian Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang

KH Ahmad Kurdi menjelaskan, jika pondok pesantrennya nanti akan menggunakan sistem pendidikan yang mengutamakan kemandirian para santri. Selain itu, akan membekali santri dengan berbagai keterampilan, yang berupa ilmu pertanian, peternakan, menjahit bagi para santriwati dan masih banyak keterampilan yang dapat dipelajari untuk menciptakan kemandirian para santri.

"Nama pondok pesantren masih menjadi pemikiran kita, kemarin Mbah Musthofa memberikan nama Majlisul Musthofa. Dinilai kurang umum diubah lagi menjadi, Abnaulmusthofa. Pagi tadi, Kiai Musthofa mengirimkan surat melalui menantunya Wahyu Salfana namanya menjadi Muhibbul Musthofa,” kata KH Ahmad Kurdi.

Menurut Kiai Kurdi, santri hakikatnya lebih pengalaman dari yang lain. Kalau mengacu pada orang zaman dahulu, ilmu-ilmu orang Islam yang diambil oleh orang Yahudi. Selain itu, Kiai Kurdi berharap agar para santri langsung praktik setelah mendapatkan teori.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mengenai tujuan membangun pesantren, Kiai Kurdi sejak mondok di Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh Rembang, ia mengaku mendapat saran dari KH Cholil Bisri kakak kandung KH Ahmad Musthofa Bisri dan ayah Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas untuk membuat Aula.

Menurut Kiai Kurdi, Aula merupakan tempat yang dapat dimanfaatkan untuk apa saja, di antara, shalat berjamaah, mulang ngaji kalau ada santri, dibuat sekat untuk pondok, kalau tidak ada santri bisa untuk wadah Gabah (padi). (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock