Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PBNU Maulana Muhammad Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengungkapkan, selagi para ulama,TNI-Polri berkumpul, meskipun berbeda politik, berbeda pendapat, tidak menjadi persoalan, yang pasti bangsa Indonesia satu kesatuan dalam bingkai kebhinnekaan dan NKRI. 

Hal itu diungkapkan Habib Luthfi saat menghadiri acara silaturahmi dan safari ramadhan 1438/2017 M Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo bersama keluarga Besar TNI dan komponen masyarakat di Mako Brigif /IV Dewaratna Slawi, Rabu (14/6)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Menurut Rais Aam Jamiyah Ahlut Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) ini nilai Indonesia sangatlah tinggi setelah agama, dengan bersatunya TNI-Polri dan ulama tetap cinta NKRI.

Aplikasi rasa syukur manusia kepada Allah SWT terhadap bangsa Indonesia adalah selalu menjaga negeri ini dengan baik melalui acara-acara  seperti ini. "Dan saya terima kasih kepada TNI-Polri dan Pemda yang telah menyelenggarakan acara ini," ujar ulama kharismatik asal Pekalongan ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, Habib Luthfi mengajak seluruh masyarakat Indonesia jangan mau di pecah belah seperti negara Suriah. Karena hancurnya Suriah karena tidak percaya dengan ulama, tentara serta pemerintahan.

"Saya mengajak semua yang hadir di sini, ayo kita galang persatuan seluruh anak bangsa tunjukan bahwa bangsa Indonesia mengerti dan berterima kasih kepada para pejuang yang telah memerdekakan negeri ini," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, hadir pula Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Kapolda Jateng Irjend Pol Condro Kirono, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Habib Thohir Al Kaf, Bupati Tegal Enthus Susmono, Sejumlah ulama dan pejabat dan ribuan anak yatim. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

PMII Diharapkan Jadi Tonggak Aswaja di Kampus

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kentingan, Surakarta periode 2016, resmi dilantik, Ahad (6/3) lalu di Aula Pascasarjana FKIP UNS lantai 3. Momentum ini juga digunakan untuk melantik 2 Badan Semi Otonom (BSO) yang ada di PMII Komisariat Kentingan yaitu Danus dan Terkepal.?

Dengan mengambil tema ‘Sejukkan Dakwah Islami Melalui Rajutan Ukhuwah’ diharapkan pada periode satu tahun ke depan, PMII Komisariat Kentingan mampu mengawal dan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di dalam kampus.

PMII Diharapkan Jadi Tonggak Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Diharapkan Jadi Tonggak Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Diharapkan Jadi Tonggak Aswaja di Kampus

Serta memberikan pemahaman dan pemikiran mengenai Islam sesuai koridor Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang mengedepankan prinsip-prinsip yang ada di dalamnya, yaitu seperti tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuth (toleran).

Tsaniananda, Ketua PMII Komisariat Kentingan periode 2016 dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk satu tahun kedepan, di kepengurusannya akan mengusung visi berupa menjadikan PMII sebagai organisasi yang berlandaskan Aswaja yang professional dan mandiri. Serta akan mengusung kegiatan yang mengedepankan persaudaraan dan persatuan.

“Visi tersebut tentunya akan bisa diraih dengan merencanakan program-program yang nantinya menjadi misi dari kepengurusan tahun ini,” terang Mahasiswi program studi Sastra Arab UNS ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dipaparkan Ninda, Untuk kepengurusan periode ini, dalam struktur kepengurusan PMII Komisariat Kentingan berjumlah 23 orang yakni masing-masing terdiri dari 17 pengurus komisariat dan 6 pengurus badan semi otonom.

“Beberapa misi yang kita usung dalam kengurusan tahun ini antara lain adalah menambah kualitas diri dan mengembangkan anggota dan kader dimanapun mereka berada, sehingga diharapkan para kader PMII yang ada menjadi kader ulul albab,” tukasnya.

Pada kesempatan tersebut, Komisariat Kentingan mendeklarasikan pembentukan 3 rayon persiapan yakni masing-masing FKIP, FP dan FMIPA. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung memperingati hari lahir (harlah) ke 82 tahun pemuda Nahldatul Ulama (NU) atau Ansor dengan menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) V di Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif.

Ketua PAC Ansor Pakuan Ratu, Bakti Gozali di Blambangan Umpu, Ahad (16/4) menjelaskan, tema kegiatan berlangsung 22-24 April 2016 tersebut ialah "Semangat Persatuan Menuju Kader Ansor yang Kuat, Aktif, Interaktif, dan Senantiasa Komitmen Menjaga Keutuhan NU, Amaliyah NU dan Setia pada NKRI".?

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

"Insyaallah ada 86 calon kader Ansor dari Kecamatan Pakuan Ratu, Negeri Agung, Negara Batin dan Gunung Labuhan mengikuti PKD," ujar Bakti didampingi Kasatkoryon Eko Sugiyanto.

Ia melanjutkan, intruksi Pimpinan Cabang Ansor Way Kanan dipimpin Gatot Arifianto meminta kegiatan dilakukan untuk memperingati harlah ke-82 organisasi pemuda NU yang berdiri 24 April 1943 supaya tidak melulu seremonial.

Berbuat, merawat, mengembangkan organisasi lebih bermakna, maslahat dan jelas. Itulah hakikat berorganisasi dan pembuktian mencintai Ansor. Organisasi harus berjalan, menatap ke depan. Organisasi tidak memerlukan perkataan semata, namun juga perbuatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Gerakan Pemuda Ansor merespon semangat pemuda berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Way Kanan yang ingin bergabung dengan Ansor. Semangat tersebut kami sambut baik dengan menggelar PKD," kata Bakti lagi.

Penyelenggaran PKD V tersebut merupakan gagasan PAC Ansor Pakuan Ratu yang selaras dengan PC Ansor Way Kanan. Merupakan gerbang awal pemuda daerah itu untuk menjadi kader Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Selain itu guna membekali calon-calon generasi muda NU lebih kuat secara aqidah keislaman dan paham terhadap ke-Nahdlatul Ulamaan serta membekali kader dengan kreativitas dan kewirausahaan," demikian Bakti Gozali. Disisi Saidi Fatah. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Warta, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Masalah perubahan iklim dunia dan rusaknya lingkungan kini menjadi keprihatinan dunia. Upaya penyelamatan lingkungan telah menjadi agenda bersama yang dikoordinasikan secara global.



Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo Selamatkan Lingkungan dan Sumber Air

Meskipun luput dari hiruk pikuk membicarakan masalah ini, Pesantren Walisongo di Tuban Jawa Timur telah menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya agar tetap kondusif bagi kehidupan sejak lama.

KH Nur Nasroh, pengasuh pesantren dalam perbincangan dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal baru-baru ini menuturkan upaya penyelamatan lingkungan ini dilakukan sejak tahun 1977, jauh sebelum isu lingkungan ini bergulir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saat pesantren didirikan pada tahun 1977, saya langsung berfikir untuk menanm pohon. Saat itu hutannya masih rimbun, tapi saya sudah berfikir kalau pohonnya, yang waktu itu sudah berumur 60 tahun ke atas ditebang, kemudian tidak ada penanaman generasi baru, pasti akan gundul,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sampai saat ini sudah ada 440.6 hektar dengan 121.6 hektar milik pesantren dan 319 hektar di kawasan perhutani yang ditanami dengan pohon jati berkualitas super.

Ia menjelaskan satu pohon jati bisa dipanen antara umur 18-20 tahun, dan menghasilkan satu kubik kayu yang saat ini berharga 4 juta sehingga dalam 20 tahun, satu hektar yang berisi 416 bisa pohon menghasilkan uang sekitar 1.6 M rupiah.

Upaya penyelamatan mata air juga dilakukan bersama dengan pala Kesatuan Pemangku Hutan (KKPH) Parengan, Dandim setempat, pramuka, Perguruan Setia Hati, SMKN Kehutanan, juga CBP IPNU.

“Alhamdulillah sumber mata air yang asalnya tinggal 6 meningkat menjadi 14, namun, kita masih kehilangan tiga, tapi sangat mungkin yang tiga ini bisa kita pulihkan kembali di musim hujan ini,” terangnya.?

Pemulihan mata air memungkinkan masyarakat menanami lahannya sehingga masyarakat bisa bekerja dan tidak menjarah hutan.

“Andaikata beberapa ribu orang ini tidak bekerja, lalu masuk di hutan, kira-kira berapa ribu gibik akan habis. Dari 80 ribu orang penduduk disini kalau ngambil satu-satu sudah 80 ribu gibik. Ini adalah upaya kita bersama, dari NU, Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan (GNKL NU), dari Perum Perhutani, Administratur Perhutani Parengan sangat aktif dalam hal ini,” tandasnya.

Untuk saat ini, upaya yang sedang serius dikembangkan adalah pengembangan SMK Kehutanan sebagai upaya untuk melakukan kaderisasi sadar lingkungan sejak usia dini, yang nantinya diharapkan bisa mempengaruhi keluarganya dan lingkungannya.

Bekerjasama dengan KKPH Parengan, pesantren Walisongo juga aktif mensosialisasikan penanaman kembali ke sejumlah pesantren di Tuban dan sekitarnya. Sebanyak 20 ribu bibit pohon dikirimkan ke pulau Bawean untuk mencegah erosi.

Dalam setiap acara pesantren, termasuk temu alumni, upaya memelihara lingkungan ini terus disosialisasikan kepada sekitar 6000 alumni yang sebagian sudah memiliki pesantren yang sudah tersebar di Indonesia.

Atas kepeloporannya ini, KH Nur Nasroh yang juga pengurus PWNU Jawa Timur ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai petani hutan terbaik (1986), juara nasional untuk penghijauan (1998), juara terbaik Lingkungan Hidup (2002) dan juara perintis lingkungan di Jatim (2004).

Pohon jati yang ditanamnya tahun 1977 kini sudah dipanen dan sudah bisa untuk memberangkatkan haji para santri yang berbakti pada pesantren.

Salah satu potensi yang sedang berusaha dikembangkan adalah pengembangan pohon kepuh. “Kalau menanam Jarak, ini kan hanya dapat minyaknya saja, tapi kalau kepuh, dapat minyak dan pohonnya juga dapat dipergunakan untuk bahan bangunan atau untuk keperluan lainnya. Kita harapkan pemerintah juga berfikir ke sana,” ujarnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kegiatan turba (turun ke bawah) yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, Ahad (3/12) terasa dari biasanya. Pasalnya dalam turba ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Lumbang yang digelar di aula MI NU Al-Hidayah Desa Lumbang Kecamatan Lumbang ini juga dilakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan ini diikuti oleh semua pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo. Terdiri atas 10 orang dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, 11 orang Ketua PAC Muslimat NU, 11 orang Ketua Ranting Muslimat NU di Kecamatan Lumbang beserta 100 orang Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Ketua Muslimat NU Probolinggo Hj Nurhayati mengatakan, turba ini merupakan agenda kegiatan rutin pertemuan Muslimat NU Kabupaten Probolinggo sekaligus silaturahmi Muslimat NU terhadap anggota dari tingkat PAC sampai Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

“Kebetulan kali ini kami juga melaksanakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai wujud kebersamaan dan menghormati serta merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Nurhayati, agenda utama dalam turba ini adalah silaturahmi. Serta pembinaan terhadap anggota agar lebih semangat dan terus berjuang untuk kepentingan umat sebagai media syiar Islam melalui kegiatan Muslimatan NU .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Fokus dari turba ini adalah kebersamaan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, pemantapan pembinaan anggota serta memberikan sports dan motivasi dukungan agar anggota majelis taklim lebih semangat tulus dan ikhlas menggerakkan roda organisasi Muslimat NU sebagai amal makruf nahi mungkar. Agar bisa diterima amal keberadaan Muslimat NU di semua bidang pembangunan yang ada di lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Nurhayati menyampaikan dalam organisasi tidak ada kata berhenti, cuti, mengundurkan diri. Dalam berorganisasi berjuang membangun organisasi tidak harus kader Muslimat NU harus pintar, karena banyak pengurus pintar tapi tidak mau. Oleh karena itu membangun organisasi Muslimat NU itu mereka kader yang mau membangun dan peduli.

“Kunci persaudaraan dari Muslimat NU yang utama ta’aruf dan silaturahmi. Yang kedua ta’awun tolong menolong dan kepedulian. Yang ketiga tasamuh, persamaan derajat dan umat Islam NU  itu sama,” tegasnya.

Lebih lanjut Nurhayati menambahkan bahwa pengurus Muslimat NU harus mengaktifkan amal  infaq dan sedekah digerakkan untuk beramal lebih banyak, sadar dan peduli untuk meningkatkan amal maruf nahi mungkar. “Terpenting lagi, mengajak aktif rutin amal sedekah lewat majelis taklim Muslimat NU,” pungkasnya.

Ketua Muslimat NU Kecamatan Lumbang Sanipah Suparman menyampaikan bahwa turba ini bisa menjadi wadah dalam memberikan semangat anggota agar kegiatan yang ada di tiap ranting lebih dioptimalkan, lebih peduli dan merasa menjadikan nilai persaudaraan berjuang untuk kepentingan umat Islam.

“Lebih meningkatkan amal ibadah, amal jariyah, peduli lingkungan sekitar bagi mereka yang tidak mampu dan kemiskinan perbaikan akhlak. Yang utama sebagai modal majunya pembangunan,” katanya.

Ketua MWCNU Lumbang Ustadz Saiful Arif  menyampaikan hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta teladan yang harus dilakukan oleh umat Islam seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam kesempatan ini Hj Latifah dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo juga menyampaikan taushiyah Maulid Nabi Muhammad SAW dengan topik keteladanan Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah mempunyai 3 pegangan meliputi salam, senyum dan sapa. Teladan beliau menghadiri undangan tidak boleh memilih kaya dan miskin. Pemantapan ibadah, amal kebaikan, keikhlasan, harus tulus disampaikan permohonan terhadap Allah SWT. Ta’aruff kita kebaikan yang harus kita contoh, yang tidak baik kita abaikan agar menjadikan bekal iman kita lebih baik sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Quote, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Ibadah dengan Harta Haram

Keluar-masuk pakai aturan. Di sinilah pentingnya aturan. Tanpa kepatuhan terhadap aturan, seseorang dapat menggetok jidatnya sendiri. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menunjuk sumber kesalahan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Akan halnya dengan harta. Orang wajib menggunakan hartanya untuk kepentingan yang baik. Yang tentunya memberikan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi dirinya. Harta harus digunakan untuk menafkahi orang yang menjadi tanggungannya, kepentingan sosial, atau ibadah haji.

Ibadah dengan Harta Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah dengan Harta Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah dengan Harta Haram

Singkatnya, harta mesti dipakai untuk kepentingan yang baik. Untuk dinilai sebagai ibadah, tentu saja seseorang harus menyertakan kegiatan pengeluaran harta itu dengan niat tulus. Begitulah aturannya. Artinya ia sudah berada di jalan Allah.

Keluarnya harta di jalan Allah ini belum cukup. Seseorang juga harus mempertimbangkan jalan masuknya harta ke dalam kantongnya. Jalan masuk ini sama penting seperti jalan keluar. Ia harus memastikan kebersihan sumber perolehan hartanya. Karena, Syekh Ahmad bin Ruslan dalam kitab Zubad-nya yang terkenal berkata,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

وطاعة ممن حراما يأكل * مثل البناء فوق موج يجعل

“Ibadah dari orang yang memakan harta haram, seperti mereka yang membuat bangunan di atas ombak.”

Menerangkan syair di atas, Syekh Muhammad bin Ahmad Romli dalam kitab Ghayatul Bayan fi Syarhi Zubad Ibni Ruslan mengatakan,

إن فعل الطاعة من صلاة وصوم وحج وغير ذلك ممن يأكل أو يشرب أو يلبس حراما عالما به مثل واضع بناء فوق موج بحر عجاج بأن يجعله أساسا له ومعلوم أنه لايثبت عليه فقد روى من حديث ابن عمر رضى الله عنهما من لم يبال من أين اكتسب المال لم يبال الله من أين أدخله النار

“Perbuatan ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, dan ibadah lainnya dari orang yang memakan, minum, dan mengenakan pakaian haram–padahal ia mengerti keharaman sumbernya–seperti peletak bangunan di atas ombak ganas. Artinya ia meletakkan fondasinya. Terang saja, bangunan itu takkan tetap di atasnya. Sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar Ra, Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang tidak peduli kehalalan sumber perolehan hartanya, maka Allah juga tidak peduli dari pintu mana saja Ia akan menjebloskan orang itu ke neraka.’”

Karena itu, sesorang perlu memerhatikan pintu masuk hartanya seperti pintu keluar. Seseorang tidak bisa cuci tangan. Karena, pintu keluar yang benar tidak bisa menghapus kesalahan pintu masuk. Wallahu A’lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, PonPes, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Untuk yang kedua kalinya penghargaan Santripreneur Award digelar Rumah Enterprener Indonesia (REI). Di tahun yang kedua ini REI menggandeng Kemenkop dan UKM RI, serta memilih lokasi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaksanakan berbagai rangkaian acara Santripreneur Award.

“Alhamdulillah, di tahun 2016 ini REI, tidak hanya menyelenggarakan Santripreneur Award saja untuk yang kedua kalinya, namun berbagai acara atau event santripreneur. Di antara rangkaian acara ada Santripreneur Expo, Training Santripreneur, serta Santripreneur Award 2016,”jawaban singkat dari Direktur Utama REI M. Choirul Anam melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahad (11/9). Acara yang berlangsung di akhir bulan September 2016 ini akan dilaksanakan di Jogja Expo Center (JEC) dengan tema “Semarak Santripreneur Indonesia”.

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Menurutnya, santripreneur merupakan generasi baru yang lahir dari tingginya semangat berwirausaha di kalangan santri. Santri yang dimaksud disini merupakan santri yang mukim atau alumnipondok pesantren maupun warga negara Indonesia? yang mempunyai hubungan keislamandengan pondok pesantren atau kiai.

KH Ahmad Sugeng Utomo selaku Pembina REI mengatakan, sekarang ini santri harus bangkit dalam bidang ekonomi. Santri tidak melulu berkecimpung di ilmu agama saja untuk mengembangkan agama Allah. Penguasaan di ranah ekonomi juga perlu untuk ditaklukkan guna menjadi santri yang alim dalam agama, bermoral dalam perilaku, mapan dalam mentalitas, cakap dalam berbisnis, dan berdedikasi dalam karya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santri yang notabene adalah sebagai pemerkokoh dan penerus bangsa, lanjut dia, diharapkan bisa mengikuti santripreneur untuk mendapatkan pengetahuan lebih tentang dunia kewirausahaan, terlebih untuk santri yang sudah memiliki usaha bisa mengikuti acara santripreneur award dengan mendaftar di website resminya yaitu www.santripreneur.co.id.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santripreneur sebagai wadah berkumpulnya santri-santri yang berwirausaha diharapkan lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan mengikuti Training Santripreneur yang merupakan salah satu rangkaian acaraSantripreneur Award.

Training yang bertemakan “Pelatihan Wirausaha Pemula” pihak REI mendatangkan narasumber dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia dan beberapa pengusaha dari Yogyakarta maupun Nasional.

“Harapan kami acara Santripreneur Expo dan Training untuk santripreneur bisa mendatangkan manfaat bagi peserta khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya”, tambah KH Ahmad Sugeng Utomo.

Rangkaian acara “Semarak Santripreneur 2016”akan berlangsung selama 3 hari yaitu pada tanggal 27-29 September 2016. Untuk hari pertama akan ada Training Santripreneur, beberapa Talkshow (“Santri Belajar Sehat” dan “Polisi Bersama Santri”), dan kompetisi Stand Up Comedy“Santri untuk Negeri” untuk hiburan para pengunjung.

Hari kedua juga ada Talkshow yang salah satunya bertemakan “Satu Jam Bersama Menteri Ketanagakerjaan; Bincang UU Ketanagakerjaan” dan malamnya ada Santripreneur Fashion Show. Berlanjut di hari ke-tiga,akan ada Talkshow Inspiratif “Pengusaha Santri Mendunia: Menguak Dunia Bisnis Ekspor & Impor”dan malamnya yaitu acara puncak “Awarding” untuk santripreneur yang lolos seleksi.

Berdasarkan informasi dari panitia, untuk pendaftaran santripreneur expo dibuka mulai 1-20 September 2016 dengan persyaratan yang sudah tertera di web resminya santripreneur. Sedangkan peserta untuk acara Training Santripreneur bisa diikuti oleh santri, mahasiswa, pengusaha pemula, serta umum. Berbeda lagi untuk peserta Santripreneur Award, peserta harus memiliki usaha dan mendaftarkan usahanya di website resmi santripreneur dengan kategori usaha Industri, Perdagangan & Jasa, kategori Boga, dan kategori Kreatif.

Pendaftaran santripreneur award untuk tahun 2016 ini, akan berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 16 September 2016. Peserta yang lolos seleksi berkas akan ditindaklanjuti berupa verifikasi lapangan, dan penjurian akhir oleh dewan juri. Setelah proses tersebut peserta yang lolos akan mengikuti penyerahan hadiah dan pemberian tropy pada malam puncak penghargaan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII

Oleh : el-Asy’ari



Detik terus berjalan bagai aliran sungai

Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII

Tidak begitu deras, namun perlahan pasti

Gemericik airnya menghantarkan gelombang bunyi

Begitu nyaring merasuki rongga hati

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sesamabil memejamkan mata, penuh hikmat merefleksikan diri

Sungguh indah, sangat tenang sekali

Namun, terkadang ku buka mata sesekali

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tersenyum manis menyapa kanan kiri

Terlihat segerombolan kecil rumput menari-nari

Ada juga jangkrik-jangkrik kecil yang entah mungkin mereka sedang bernyanyi

Tak terasa senyumku bertambah lebar menghiasi

Terbawa arus suasana begitu alami

Hehehehe . . , kenapa menyenangkan sekali?

Entahlah, mungkin ini bahagia sederhana yang sedang ku nikmati

Sangat tenang, indah dan mendamaikan hati

Detik tetap berjalan dalam langkah kaki

Menyapa senja, sampai jumpa matahari

Tidak selamanya, hanya saja waktu mengharuskan berotasi

Kita akan bertemu lagi penuh senyuman di esok pagi

Gelappun semakin datang membersamai

Angin yang menari begitu halus menambah suasana semakin sunyi

Terlihat olehku sekelumit cahaya hari ini

Tidak setiap saat ada, tapi tidak asing bagi diri ini

Nampak lilin berjajar terhiaskan oleh sang api

Sepertinya hari ini ada yang merayakan hari jadi

Suasana kuning biru penuh menghiasi

Selamat Hari Lahir ke-57 Pergerakanku wahai PMII

Banyak sekali panjatan harapan dan do’a

Sebuah ketulusan yang ingin ku sampaikan dalam bentuk kata

Bukan sebuah pemaksaan atau permintaan yang mengada-ngada

Tapi memang benar dari hatiku untuk kebaikanmu semata

Aku ingin PMII tak hanya unggul dalam wacana saja

Tapi juga diikuti dengan realisasi nyata

Aku ingin PMII tak hanya fokus dalam diskusi bergadang malam saja

Tapi juga mengindahkan sholat shubuh beserta qobliyahnya yang banyak harta

Aku ? ingin PMII tak hanya memikirkan indonesia saja

Tapi juga meningkatkan ibadah wajib terutama

Aku ingin PMII memang benar salah satu tempatku berjuang kepada-Nya

Karena sudah banyak yang aku korbankan untuk bersanding denganmu wahai sahabat-sahabatiku yang berbahagia

Memutus sahabat lama

Memutus kepercayaan yang ada

Memutus karir di organisasi internal mahasiswa

Memutus hubungan dengan orang-orang hebat yang terikat kata sayang dan cinta

Bukan karena aku, tapi karena aku memilihmu sebagai bagian dari jiwa

Semua itu diluar dugaan cerita

Sungguh, tanganku ingin kembali meraihnya

Tapi semua itulah yang harus ku terima

Bukan untuk siapa-siapa

Tapi untuk bergandengan tangan dengan kalian dan dengan PMII semata

Dan sekarang kuning biru menjadi warna

Identitas diri yang bersandingkan nama

Mudah melangkah kaki di sini ku kira

Sejak sang bidadari melahirkanku telah lama ku kenal nama Aswaja

Tangga atas sudah ku capai dalam organisasi mahasiswa

Nyatanya adalah tak sesuai dengan praduga

Ideologis, adalah hal yang tak ku pahami

Buku, adalah pemikiran yang sulit ku megerti

Diskusi, adalah argumen tinggi yang pikiranku tak sampai

Wacana, adalah kesajaan yang terkadang tidak aku sukai

Otakku berputar memikirkan sesuatu yang entah mungkin itu solusi

Apa aku memang butiran debu di PMII?

Apa aku memang orang yang tak pandai?

Apa aku memang tak bisa memberikan apa-apa dari diri ini?

Atau apa mungkin memang bukan tempat disini?

Ya Allah Ya Rabbi . .

Pernah ku mengabdi pada kiai menjadi seorang santri

Pernah ku merasakan kejamnya profesionalitas organisasi

Pernah ku berjuang dalam medan tumpah darah merebut panji

Pernah ku tanpa pantang menyerah memanjat gunung yang tinggi

Dan aku juga pernah merasakan jalan berkerikil dengan telanjang kaki

Dari itu semua apa tidak ada yang bisa ku beri ?

Semua itu ku lakukan untuk meningkatkan kapabilitas diri dan mengabdi

Bukan untuk diri sendiri saja melainkan juga untuk orang-orang di sekitar yang aku sayangi

Aku memang bodoh akan ideologi, tapi aku suka berkarya memainkan seni

Aku memang tidak suka bergelut dengan buku pemikiran, tapi aku suka buku dengan narasi indah dan penuh motivasi

Aku memang tak jago dalam berdiskusi, tapi aku lihai tersenyum manis memberikan energi

Aku memang tidak suka berangan tinggi dalam wacana, tapi aku lincah memberikan kebaikan dalam eksekusi

Dan aku tidak suka bermulut besar saja, tapi aku akan sangat senang bila tangan kakiku memberikan sesuatu hal yang pasti

Wahai pergerakanku PMII

Ma’afkan butiran debu ini

Aku memang tak begitu memahami ideologi

Tapi aku yakin, ada suatu hal yang bisa aku berikan dari diri ini

Aku hanyalah anak desa yang mempunyai banyak mimpi

Aku adalah pemuda yang tak suka banyak bicara tapi penuh semangat melangkahkan kaki

Aku adalah Mahasiswa Farmasi yang ingin mengobati orang lain dalam mengabdi

Dan aku suka bidang psikologi untuk bisa membahagiakan dan menyemangati

Dalam lautan Kuning Biru sekarang aku berdiri

Untuk kesatuan dan kebaikan Merah Putih yang suci

Denganmu pergerakanku wahai PMII

Dalam kebimbangan, aku masih bersamamu disini

Surakarta, 17 April 2017

Penulis adalah aktivis PMII Komisariat Kentingan Cabang Kota Surakarta Mahasiswa Farmasi UNS angkatan 2014?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) yang paling dikenal yakni Nyai Hj. Mahmudah Mawardi. Dalam kurun waktu kepemimpinannya selama delapan periode lamanya (1950-1979, Muslimat NU tampil sebagai sebuah organisasi wanita yang cukup progresif. Muslimat berperan aktif di dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Mahmudah Mawardi ikut mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Lahir pada tanggal 12 Februari 1912, Mahmudah kecil dibesarkan di lingkup pesantren yang diasuh oleh ayahnya, Kiai Masjhud. Kiai Masjhud merupakan salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.

Mahmudah merupakan anak pertama dari lima saudari. Mereka adalah Mahmudah, Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah dan Mahmulah. Kelima putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama Kiai Masjhud. Setelah istri pertamanya wafat, Kiai Masjhud kemudian memperistri Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, H. Mustahal Ahmad.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejak kecil Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian ia belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan madrasah di daerah Keprabon Timur Solo. Letaknya sekitar 300 m ke arah utara dari rumah Mahmudah.

Seiring waktu berjalan, Mahmudah terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus keguruan. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Jamsaren Solo, di bawah asuhan KH Mohammad Idris. Kesemuanya ini menjadikan dirinya sebagai pribadi yang terpelajar nan alim.

Berdasarkan penuturan salah seorang keponakannya, Nashirul Umam, Mahmudah juga berhasil menjadi salah seorang penghafal Alquran atau hafidhah.



Kiprah Mahmudah


Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930. Bersama kaum perempuan muslim di Solo, ia kemudian mendirikan organisasi Nahdlatoel Moeslimat (NDM) di Kauman Surakarta pada bulan April 1931. Organisasi ini bergerak pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Dalam proses pendirian, Mahmudah menjadi ketua pendiri organisasi, hingga akhirnya membuka cabang di mana-mana.

Selama kurun waktu 1933-1945, Mahmudah menjadi kepala sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.

Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).

Sebagai tokoh pergerakan, kehidupan Mawardi banyak menginspirasi Mahmudah untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Mahmudah kemudian ikut aktif dalam organisasi kewanitaan. Hinggga pada tahun 1943, Mawardi meninggal. Sejak saat itu perjalanan panjang berkarir, berjuang dan membesarkan anak-anak, mesti dijalani sendiri oleh Mahmudah.

Tidak hanya itu, ketika pada tahun 1954 ayahnya wafat, ia diberi amanah untuk menggantikan sang ayah sebagai pengasuh pesantren yang kala itu terdapat 150 santri putri. Berbagai jalan kehidupan ini, semakin membentuk karakternya sebagai seorang wanita yang tangguh.

Pada masa ini, ia juga menjadi salah satu kunci terbentuknya IPPNU yang ketika awal berdiri berpusat di Solo. Hampir sebagian besar tokoh pendiri IPPNU, seperti Umroh Machfudzoh, Basyiroh Soimuri, Machmudah Nahrowi, Farida Mawardi dan lain-lain merupakan santriwati yang ikut mengaji di Pesantren Masjhudiyah.



Memimpin Muslimat


Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM. Di Muslimat NU, karirnya juga terus melesat hingga pada tahun 1946 ia mengemban dua amanah sekaligus, sebagai ketua pertama Pimpinan Cabang Muslimat NU Surakarta dan ketua organisasi Federasi Wanita Islam Indonesia di Solo. Sebagai catatan, Muslimat NU baru diresmikan pada tanggal 29 Maret 1946 dalam Muktamar NU ke-XVI di Purwokerto.

Selang empat tahun kemudian, 1950, ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU. Sejak saat itu, ia memimpin hingga delapan periode lamanya (1950-1979).

Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga banyak dipercaya untuk mengemban amanah di banyak hal. Di ranah politik, ia bahkan dijuluki sebagai ‘politisi wanita besi brilian dari NU’. karir politiknya diawali sejak 1946 ketika menjadi anggota DPRD Kota Besar Surakarta dari golongan wanita. Pada saat yang sama ia juga duduk sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi (waktu NU masih bergabung dengan Masyumi). Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959), kemudian sebagai Anggota DPR RI (1956-1971), Anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977), dan Anggota MPR RI dari PPP (1977-1982).

Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 ia dipercayai sebagai salah satu delegasi Indonesia.



Akhir Hayat


Begitu banyak jasa yang telah ia ukir, termasuk saat ia ikut aktif membantu perjuangan bangsa indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945 – 19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, ia mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.

Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH Ali Maksum dan Gus Dur termasuk diantaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada Rabu Wage, 26 Rabiul awal 1408 H/ 18 November 1987 pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo, usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

1. Wawancara kepada Nashirul Ulum (cucu KH Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 22 Juni 2014.

2. Sejarah Muslimat NU. PP Muslimat NU. Jakarta. 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, PonPes, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ulama se-Jawa Tengah sepakat menolak kebijakan 5 hari sekolah. Mereka menandatangani deklarasi pencabutan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah dalam acara Halaqah Alim Ulama se-Jawa Tengah di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Senin (31/7).

Dalam naskah deklarasi yang ditandatangani pada 31 Juli 2017 itu, ada lima poin sikap ulama se-Jawa Tengah. Mereka menolak dengan keras kebijakan lima hari sekolah (LHS). Mereka menuntut Mendikbud Muhadjir Effendi untuk membatalkan dan mencabut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang LHS yang menimbulkan keresahan sosial.

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Mereka meminta Mendikbud untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Para kiai ini juga mendesak Mendikbud tidak memberlakukan kebijakan LHS. Mereka menyarankan Mendikbud lebih berkonsentrasi menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial, yaitu merumuskan kurikulum anti-radikalisme, anti-korupsi, profesionalitas guru, dan masalah lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir sebagai deklarator Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (Mbah Bed), Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Jawa Tengah Hudallah Ridwan, Bupati Kabupaten Tegal Enthus Susmono, Ketua PCNU dan Rais Syuriyah PCNU Tegal, dan ratusan alim ulama dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Mbah Bed menyampaikan bahwa dengan diberlakukannya Permendikbud LHS ada banyak madrasah diniyah (madin) di Jawa Tengah yang kekurangan murid, bahkan hampir gulung tikar. Pasalnya, dengan sekolah 8 jam sehari, anak-anak tidak bisa mengikuti pendidikan agama di madin.

"Jika madrasah diniyah sudah tidak memiliki murid, ini berarti akan banyak anak-anak yang tidak bisa membaca Al-Quran, tidak tahu tatacara bersuci, beribadah, dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Karena selama ini kita tahu dan merasakan bersama, bahwa masyarakat tahu tentang semua itu dari madrasah diniyah," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mbah Bed menjelaskan bahwa sikapnya dalam menolak kebijakan LHS semata-mata karena memperjuangkan nasib dan eksistensi madrasah diniyah. Jika madrasah diniyah gulung tikar maka masyarakat tidak akan tahu lagi ajaran-ajaran Islam yang sudah sekian lama diajarkan para ulama.

"Saya sendiri tahu tentang wudlu, shalat, membaca kitab, dan yang lainnya dari guru-guru saya di madin. Karena itu, demi guru-guruku di madin, saya dengan tegas menolak sekolah lima hari sekolah," jelasnya.

Bupati Tegal Enthus Susmono mengatakan bahwa sejak ada wacana kebijakan lima hari sekolah, ia menjadi bupati pertama yang dengan tegas menolaknya. "Saya bupati pertama yang menolak full day school. Saya tidak setuju dengan kebijakan itu, apapun risikonya siap," tegasnya.

Di Kabupaten Tegal sendiri, Enthus telah menginstruksikan kepala dinas pendidikan untuk tetap mengadakan sekolah selama 6 hari supaya tidak mematikan madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Quran (TPQ), dan pondok pesantren.

"Saya sudah menyampaikan ke semuanya, saya menolak lima hari sekolah. Kepala dinas (pendidikan) itu berada di bawah bupati. Jadi, kalau bupatinya menolak, kepala dinas harus mengikuti," tukasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Oleh Ahmad Saifuddin

--Pemuda memiliki urgensitas yang tinggi dalam sejarah Indonesia. Setiap gerakan melawan kolonialisme, pemuda selalu ambil bagian. Sampai pada puncaknya, pemuda Nusantara bersatu dan mengikrarkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berisikan tiga sendi, menjunjung tinggi tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan dan bahasa Indonesia.

Tiga sendi itu yang kemudian melenyapkan sisi-sisi fanatisme golongan sehingga muncul kekuatan nasionalisme dan akhirnya mampu menjadi bahan bakar penggerak gerakan-gerakan melawan kolonialisme menuju gerbang kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tidak hanya sampai di situ saja. Gerakan pemuda masih saja berlanjut untuk menjunjung tinggi martabat Indonesia dalam pergerakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perlawan arek-arek Surabaya yang menjadi peperangan terbesar mempertahankan kemerdekaan Indonesia sehingga hari itu dinobatkan menjadi Hari Pahlawan (10 November).

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Bahkan, hampir di setiap fase pemerintah Indonesia, gerakan pemuda senantiasa menjadi balancer (penyeimbang) dengan menghadirkan sejumlah kritik terhadap pemerintah sehingga negara ini masih “sedikit” terselamatkan dari berbagai krisis di tingkat pemerintah.

Pemuda yang Terjajah

Meskipun kolonialisme bangsa asing berupa penjajahan ekspansi wilayah berakhir, namun penjajahan dalam bentuk lain justru semakin gencar terjadi. Kondisi yang kontras bisa dilihat antara pemuda era dahulu dengan era sekarang. Sekarang, tidak sedikit pemuda yang terkontaminasi virus kriminalitas dan penurunan moral. Tidak sedikit pemuda yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, tindak kriminal, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Banyak pemuda di era sekarang yang menjadi pemuja hedonisme, yang menyebabkannya menghabiskan waktu untuk kesenangan semu tanpa arah. Banyak pemuda yang egois dengan prinsip kebebasan dalam hidup sehingga merugikan orang lain. Pada akhirnya, banyak pemuda yang kehilangan masa depannya yang cerah dan hanya menjalani kehidupan seperti air yang mengalir ke bawah.

Di sisi lain, pemuda juga tercemar virus separatis dan radikalis. Tidak sedikit pemuda yang menjadi teroris, ikut serta dalam gerakan radikalis yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak hanya dibangun oleh founding fathers yang nasionalis, tetapi juga agamis. Melihat realita tersebut, jelas sangat memprihatinkan karena pemuda merupakan tulang punggung negara. Perlu adanya reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati irinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Reorientasi Pemuda untuk Sebuah Ge(b)rakan

Perlu adanya gerakan reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati dirinya. Meskipun banyak pemuda yang mengalami permasalahan kompleks, masih banyak pemuda yang memiliki spirit perubahan. Selain itu, penghayatan kembali atas sejarah kepemudaan sangat diperlukan agar nilai perjuangan dan nasionalisme serta semangat perubahan mampu tertanam kembali. Berbagai hal bisa dilakukan dalam rangka reorientasi pemuda tersebut.

Pertama, pemahaman psikologis dan pola pikir fase pemuda sangat penting. Dengan hal ini, pemuda akan mampu memahami karakteristik dirinya sendiri sehingga mampu melakukan self healing yang selanjutnya pemuda akan berperan dalam penyelesaian permasalahan yang menghinggapi bangsa dan negara.

Kedua, dalam dunia akademis, semangat menuntut ilmu harus diimbangi dengan semangat menginternalisasikan nilai dan moral. Sehingga, tidak hanya mengejar kuantitas dan kualitas ilmu, tetapi juga mengejar kuantitas dan kualitas akhlak dan moral. Terciptanya akademisi muda yang berintelektual dan bermoral. Mampu membangun peradaban dengan ilmu dan budaya luhur. Mampu menciptakan masyarakat cerdas dan berintelektual serta berbudi luhur.

Ketiga, menciptakan pemuda yang terampil, kreatif, dan inovatif menjadi hal penting di era modern sekarang. Seain itu, daya lenting yang tinggi harus dimiliki pemuda untuk menjadi pemuda yang tangguh dalam segala tantangan. Agar tetap senantiasa menjadi bagian negara yang maju dan kebal terhadap segala hambatan yang ada.

Keempat, penghayatan tentang konsep nasionalisme, cinta tanah air, dan demokrasi yang berlandaskan pada agama menjadi penting bagi pemuda, kaitannya sebagai upaya preventif agar pemuda tidak mudah menjadi target gerakan separatis dan radikalis. Hal ini perlu digencarkan karena gerakan radikalis dan separatis memilih pemuda yang secara psikologis mudah dipengaruhi dan secara pengetahuan belum terlalu mumpuni.

Kelima, menciptakan pemuda yang peka terhadap kondisi sosial menjadi penting juga agar pemuda tidak mudah terkontaminasi oleh permasalahan sosial. Namun, justru menjadi agen perubahan. Prinsip hidup harus membawa manfaat dan maslahat perlu diinternalisasikan agar pemuda menyadari akan perannya.

Keenam, penghayatan terhadap kisah faktual tokoh sebagai role model perlu ditanamkan dalam diri pemuda. Bagaimana menjadi pribadi yang kuat akan godaan termasuk godaan zina seperti Yusuf muda. Bagaimana menjadi pribadi yang cerdas memperjalankan spiritualitas dan logikanya untuk mencari kebenaran hakiki seperti Ibrahim muda. Bagaimana menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada orang tua seperti Ismail muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berakhlak mulia, jujur, dan amanah seperti Muhammad muda. Bagaimana menjadi pribadi yang selalu haus dalam menuntut ilmu seperti Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berani melindungi kebenaran layaknya ‘Ali ibn Abu Thalib muda yang menggantikan Nabi Muhammad SAW tidur di tempat tidurnya ketika dikepung kafir Quraisy sehingga nyawa ‘Ali ibn Abu Thalib menjadi taruhannya. Spirit kisah-kisah ini perlu dibangkitkan kembali di saat pemuda banyak terbius oleh cerita konyol akan cinta dan gaya hidupnya yang hedonis, pemuja kesenangan, kebebasan tanpa batas, dan kebrutalan.

Gerak dan Gebrak untuk Perubahan

Semangat sumpah pemuda ke-86 yang juga berdekatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 Hijriyah, diharapkan mampu menjadi titik kelanjutan estafet gerakan pemuda sebelumnya. Terlebih lagi, pemuda era sekarang sudah banyak mengalami berbagai permasalahan kompleks. Di sisi lain, peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih tetap dibutuhkan.

Semangat hijrah (berubah menuju perbaikan) hendaknya selalu menjadi jiwa dalam diri pemuda. Hijrah sangat penting, terutama dalam kehidupan ini perubahan adalah keniscayaan. Hijrah yang berarti berpindah dari suatu tempat menuju ke tempat lain dapat dimaknai secara kontekstual dengan perpindahan menuju hal yang lebih baik. Layaknya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah al Mukarramah menuju Yatsrib (Madinah al Munawwarah), agar dakwah dan Islam lebih berkembang. Terlebih lagi, prinsip beruntung dalam Islam adalah jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Dengan kata lain, modifikasi perilaku dan modifikasi lingkungan sangat diperlukan bagi pemuda sebagai teknik dan bekal membuat perubahan.

Tidak hanya bergerak, tetapi juga menggebrak. Hijrah dan bergerak untuk menuju perbaikan, menggebrak untuk melawan tantangan dan hambatan. Pemuda masa kini, pemimpin masa depan. Jayalah pemuda, jayalah Indonesia!

Ahmad Saifuddin, S.Psi., mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Wakil Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Klaten, dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Ilustrasi: Perjuangan pemuda di Surabaya 1945 dalam cover buku "Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad"

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, PonPes, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kelompok militan diduga meningkatkan serangan mereka di Mesir dengan serangkaian aksi ledakan di ibukota Kairo.

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekerasan di Mesir Semakin Ganas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas

Enam orang tewas dan sekitar 100 lainnya luka dengan serangan terbesar di luar markas polisi di kota itu, seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Serangan ini seolah menandai tiga tahun penggulingan presiden yang saat itu berkuasa, Hosni Mubarak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sepuluh korban lain dilaporkan tewas dalam bentrok antara aparat keamanan dengan kelompok pendukung Ikhwanul Muslimin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam ledakan di luar kantor polisi Kairo, empat orang tewas dan sedikitnya 76 lainnya cedera.

Beberapa jam kemudian muncul ledakan berikutnya di lokasi lain menewaskan dua orang dan juga melukai banyak lainnya.

Menurut media lokal sekelompok orang dalam aliran militan yang terilhami dari gerakan al-Qaeda, Ansar Beit al-Maqdis, mengatakan melakukan serangan ke markas polisi.

Kelompok ini sebelumnya mengklaim serangan bom dengan mobil pada sebuah bangunan pasukan keamanan di kota di utara Mesir, Mansoura pada Desember lalu yang menewaskan 16 jiwa dan melukai 100 lainnya.

Pemerintah menuding kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai dalang serangan tersebut - yang dibantah keras kelompok ini - dan mencap Ikhwanul sebagai kelompok teroris.

Sekelompok orang yang marah berkumpul di luar lokasi pemboman di kantor polisi menuding Ikhwanul sebagai dalang dibalik serangan hari Jumat (24/01) itu. Sebagian menyerukan "Mati untuk Ikhwanul Muslimin".

Tetapi kelompok ini sendiri mengutuk serangan itu sebagai "pemboman pengecut".

Penyerang juga memakai bom mobil berkekuatan besar dalam serangannya di Kairo.

Pendukung Ikhwanul dan pasukan keamanan bentrok di Kairo dan beberapa kota lain pada Jumat yang sama, dan akibatnya 10 orang dilaporkan tewas.

Sejak Hosni Mubarak dipaksa turun Mesir terus dilanda pertentangan dan krisis politik.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan menahan 111 orang, mengatakan bahwa mereka adalah "elemen kelompok Ikhwanul" yang "mencoba mengobarkan kerusuhan".?

Aparat kerap bentrok dengan pendukung Ikhwanul Muslimin memprotes penurunan Morsi.

Aksi protes secara rutin digelar kelompok ini sejak presiden yang terpilih secara demokratis dari kubu Ikhwanul, Mohammed Morsi, diturunkan paksa Juli lalu. (mukafi niam)

Foto: AFP

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 23 Agustus 2017

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mengaku tidak bangga menjadi Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN). Pasalnya, menyandang posisi itu sangat berat; tidak saja memimpin organisasi kumpulan tarekat yang mutabar saja, tetapi juga menjaga agar tarekat-tarekat di bawah naungan JATMAN tetap istiqomah dan lurus snadnya hingga Rasulullah.

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN

Bagi dirinya, menjadi pemimpin tidak saja bertaggung jawab pada organisasi setiap lima tahun sekali, tetapi lebih dari itu, bertanggung jawab dunia akhirat.

Hal tersebut diungkapkan Habib Luthfi di hadapan Muktamirin usai dinyatakan terpilih oleh anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) pada sidang komisi Majelis Ifta yang diumumkan pada Sidang Pleno penetapan hasil hasil sidang komisi yang dipimpin DR Masyhudi.

"Saya sungguh tidak bangga menjadi Rais ‘Aam, tugas berat mengemban amanat di JATMAN tidak saja menjaga tarekat di bawah naungan JATMAN agar tetap lurus, tetapi juga mempertanggungjawabkan di dunia dan akhirat," ujar Habib Luthfi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keputusan lain terkait dengan sidang Majelis Ahwa ialah menetapkan Wakil Rais ‘Aam dijabat KH Ali Masadi asal Mojokerto, Jawa Timur, Katib ‘Aam KH Zaini Mawardi Demak. Selanjutnya Mudir ‘Aam dijabat KH Wahfiudin Sakam asal DKI Jakarta dan Wakil Mudir ‘Aam Habib Umar Mutohar.

Sidang Pleno yang berlangsung Rabu malam (17/1) di Pendopo lama Kota Pekalongan juga menetapkan Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN)  Hamdani Muin, dosen UIN Walisongo Semarang untuk kedua kalinya.

Keputusan menunjuk Hamdani Muin, setelah pada Sidang Komisi Matan sepakat mengusulkan dua nama yakni Habib Husen bin Luthfi bin Yahya dan Hamdani Muin. Akan tetapi, setelah dua nama ini disodorkan ke Habib Luthfi selaku Rais ‘Aam terpilih, Habib Luthfi memilih Hamdani Muin dengan alasan anaknya belum saatnya menjadi orang pertama di Matan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, PonPes, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 23 Juli 2017

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekretaris Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU) mengecam rencana pemberian izin kepada 64 importir daging oleh Kementerian Perdagangan. Keputusan tersebut dinilai sebagai tindakan yang tidak pro rakyat. 

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging (Sumber Gambar : Nu Online)
LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging (Sumber Gambar : Nu Online)

LPNU Kecam Pemberian Izin 64 Importir Daging

LPNU siap mengambil langkah hukum melalui pengajuan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Demikian dinyatakan Sekretaris Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU) Mustolihin Madjid, di Jakarta, Jumat (21/12) sore. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mustolihin mengatakan keputusan pemberian izin kepada 64 importir dengan dalih mengamankan stok daging merupakan akal-akalan Pemerintah yang hingga saat ini memilih berpihak ke mafia daripada memperjuangkan nasib peternak kecil. Stok sapi untuk di Indonesia diakuinya masih lebih dari kata cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan daging nasional. 

"Kalau mau memotong sepuluh ribu sapi dalam seminggu saja sekarang ini sebenarnya masih bisa. Di NTT, NTB, Jawa Tengah, dan Lampung, sekarang sapi masih melimpah," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelangkaan daging yang saat ini terjadi, lanjut Mustolihin, bermula dari keengganan peternak menjual sapi akibat adanya oknum di Pemerintah yang berbuat curang. 

"Selama ini peternak diminta menjual sapinya melalui ke Pemerintah, tapi pembayarannya bermasalah. Kalaupun dijual ke pengepul harganya jauh dari yang diinginkan. Jadi kalau Pemerintah serius ingin mengatasi masalah ini, perbaiki harga jual sapi di tingkat peternak," jelas Mustolihin berapi-api. 

Mustolihin juga menegaskan pihaknya siap melakukan aksi protes atas pemberian izin kepada 64 importir daging. NU juga diakuinya akan mengajukan gugatan atas keputusan tersebut. "Kita akan gugat ke PTUN keputusan pemberian izin itu," tandasnya. 

Sementara Ketua PBNU Mochammad Maksum Mahfudz, menilai pemberian izin impor ini sebagai kebijakan jangka pendek yang dipilih Pemerintah. 

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menilai, keputusan tersebut juga menunjukkan ketidaksiapan Pemerintah dalam menangani permasalahan yang ada.

 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 07 Juli 2017

Kemenag Gelar Seleksi Petugas Kloter Haji Serentak di Seluruh Kanwil

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Musim haji menjelang. Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) terus melakukan persiapan, salah satunya melakukan rekrutmen petugas haji, baik petugas kelompok terbang (kloter) maupun non-kloter.

“Pada 12 Mei 2016 dilaksanakan tes petugas haji yang menyertai jemaah (kloter) di seluruh Indonesia secara serentak,” terang Kasubdit Pembinaan Petugas Khoirizi Dasir di Jakarta, Rabu (11/5) melalui rilis yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.?

Kemenag Gelar Seleksi Petugas Kloter Haji Serentak di Seluruh Kanwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Gelar Seleksi Petugas Kloter Haji Serentak di Seluruh Kanwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Gelar Seleksi Petugas Kloter Haji Serentak di Seluruh Kanwil

Menurut Khoirizi, seleksi petugas kloter ini akan diikuti oleh 2.188 peserta hasil seleksi di tingkat Kabupaten dan Kota yang dilaksanakan pada Rabu (27/4) lalu. Mereka terdiri dari unsur Kemenag Kabupaten/Kota, unsur masyarakat, pondok pesantren, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, dan instansi terkait.?

Seleksi ini akan memperebutkan 770 kuota petugas kloter yang terbagi dalam dalam dua kategori, yaitu: Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) ? dan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI). Proses seleksi akan dilakukan di Kanwil Kemenag Provinsi. Untuk wilayah DKI Jakarta, akan dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, dan dimulai pukul 08.00 WIB.

“Untuk menjaga kerahasiaan dokumen tes, maka seluruh berkas akan dibawa langsung oleh petugas Supervisi ke masing-masing provinsi,” kata Khoirizi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dokumen tersebut, lanjut Khoirizi, sudah disiapkan dan diserahkan langsung oleh Dirjen PHU Abdul Djamil kepada petugas Supervisi pada Senin (9/5) lalu di ruang sidang Dirjen PHU. “Pelaksanaan tes akan diawasi langsung oleh Tim Pengawas dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama,” tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Khoirizi berharap seleksi petugas kloter ini akan dapat menjaring para petugas haji yang profesional dan lebih mengutamakan pelaksanaan tugas pembinaan, pelayanan dan perlindungan jamaah saat bertugas nanti. Hal ini menurutnya sesuai dengan motto: “Saya ibadah untuk bertugas, bukan bertugas untuk ibadah.” (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Mei 2017

Mahasiswa STAINU Jakarta Diterima Rektor Universitas Zitounah Tunisia

Tunis, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Usai dilepas Ahad (26/1) lalu dari Jakarta, sepuluh mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAINU) Jakarta Program Kelas Internasional secara diterima Rektor Universitas Zitounah Tunis, Tunisia Prof Dr. Abdul Jalel Salem, Rabu (29/01).

Turut hadir dalam acara serah terima mahasiswa ini Wakil Rektor Prof Dr Hisyam Grisha, Dekan Fakultas Peradaban Prof Dr Uwainis Amir, Asisten Direktur II Pascasarjana M Ulinnuha Khusnan, dan Kasubdit Pesantren Kemenag RI, Imam Safe’i.

Mahasiswa STAINU Jakarta Diterima Rektor Universitas Zitounah Tunisia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Diterima Rektor Universitas Zitounah Tunisia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Diterima Rektor Universitas Zitounah Tunisia

Dalam sambutannya, Abdul Jalel Salem mengapresiasi program ini sebagai langkah positif untuk mempererat hubungan Indonesia dengan Tunisia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami menyambut baik program ini, selamat datang kepada para delegasi STAINU. Semoga program ini menjadi perekat hubungan antar Indonesia-Tunisia, khususnya Zitounah dengan STAINU (Jakarta),” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rektor yang pakar di bidang ilmu kalam dan filsafat ini juga menyampaikan kesiapan pihak Zitounah untuk menerima dan mengembangkan program-program lain dalam bidang pendidikan, seperti pertukaran dosen, penelitian, dosen tamu (guest lecturer) dan semacamnya.

“Sekarang ini kami sedang dalam proses pengembangan Zitounah, karena itu program-program penguatan dalam bidang riset, pertukaran pelajar dan dosen menjadi program prioritas,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan M Ulinnuha Khusnan. Dalam sambutannya, ia berterima kasih civitas Universitas Zitounah yagn menerima rombongannya dengan hangat. “Harapan kami semoga program ini terus berjalan dan semakin baik di masa-masa mendatang,” tuturnya.

Malam harinya, mahasiswa STAINU dan segenap masyarakat Indonesia di Tunis diundang jamuan makan malam oleh Dubes RI Tunis di Wisma Kedutaan RI yang terletak di Jl. Lac Malaren No. 15 Tunis.

“Saya bangga karena Anda semua yang diutus ke sini adalah para santri. Kita semua tahu bahwa santri dan pesantren adalah salah satu kekuatan yang memiliki andil besar dalam mengantarkan kemerdekaan bangsa Indonesia,” kata Dubes RI untuk Tunisia, H. E. Roony Prasetyo.

Ia berpesan, sebagai program pertama Program Kelas Internasional menjadi kunci sekaligus parameter bagi program-program kerjasama selanjutnya. “Karena itu, Anda harus sungguh-sungguh dalam mengikuti program ini. Jika Anda berhasil berarti Anda telah berkontribusi dalam mengukir nama harum bangsa kita di mata orang Tunisia, khususnya Universitas Zitounah,” pesannya kepada para mahasiswa.

Mahasiswa STAINU Program Kelas Internasional ini rencananya akan diikutkan dalam program tamhidi (prakuliah) secara intensif selama satu tahun. Saat ini pihak kampus sedang memproses berkas dan izin tinggal mereka dan diperkirakan awal Februari mereka sudah bisa mengikuti perkulihan. Di samping itu, mereka juga dibebaskan untuk mengikuti kelas regular sesuai minat dan bidang keilmuan masing-masing. (Ulin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, PonPes, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Mei 2017

Hukum Melihat Aurat Vital Istri atau Suami

Memperlihatkan aurat kepada lawan jenis dibolehkan selama keduanya sudah sah menjadi suami-istri. Apabila belum menikah, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan menutup aurat. Penutupan aurat ini bertujuan agar kehormatan manusia terjaga dan terlindungi dari gangguan tangan dan mata jahil.

Kendati dibolehkan melihat aurat istri ataupun suami, namun pertanyaannya apakah semua bagian tubuhnya boleh dilihat? Atau ada bagian-bagian tertentu yang tidak boleh dilihat, alat vital misalnya?

Hukum Melihat Aurat Vital Istri atau Suami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Melihat Aurat Vital Istri atau Suami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Melihat Aurat Vital Istri atau Suami

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Aisyah seumur hidup tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah SAW (HR Ibnu Majah). Hadits ini dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk memakruhkan melihat kemaluan pasangan, meskipun sudah menikah. Karenanya, pasangan suami-istri pada saat berhubungan intim dianjurkan mematikan lampu atau menggunakan selimut agar satu sama lain tidak melihat alat vital pasangannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun pendapat ini dibantah oleh ulama yang membolehkan. Di antara alasannya, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah ini masih diperdebatkan keabsahannya. Selain itu, terdapat hadits lain yang mengisyaratkan kebolehan melihat alat vital pasangan. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Dibolehkan bagi pasangan suami-istri melihat dan menyentuh semua bagi tubuh pasangannya, termasuk alat vitalnya. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Bahaz bin Hakim, bahwa kakeknya bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah SAW, mana aurat yang boleh kami buka dan mesti kami tutup?’ Rasul menjawab, ‘Tutup auratmu kecuali untuk istrimu dan budakmu.’ Menurut At-Tirmidzi, status kekuatan hadits ini adalah hasan. Mengapa diperbolehkan? Karena alat vital adalah tempat istimta’ (bersedap-sedapan) dan diperbolehkan melihat dan menyentuhnya, seperti anggota tubuh lainnya.”

Dalam Al-Qur’an, hubungan suami-istri ditamsilkan sebagai ladang garapan, (QS: Al-Baqarah 223). Berpijak pada keumuman ayat ini, gaya apapun diperbolehkan selama berhubungan intim selama tidak melalui dubur. Sebab itu, kebanyakan ulama memperbolehkan melihat alat vital suami atau istri bila memang dibutuhkan.

Seperti yang dikatakan Ibnu Qudamah, hukumnya disamakan dengan melihat anggota tubuh lainnya. Tidak hanya melihatnya yang diperbolehkan, tetapi juga menyentuhnya selagi ada hajat. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Pesantren, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 11 Oktober 2015

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Isu radikalisme masih terus berlangsung mengemuka di jagat Indonesia, khususnya di dunia pelajar. Begitupun narkoba yang marak disalahgunakan oleh pelajar Indonesia. Hal tersebut mendesak Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) untuk segera menyikapi dan melakukan langkah kongkrit bersama di seluruh tingkatan pimpinan.

“Ada sesuatu yang mendesak yang harus kita sikapi bersama berkaitan dengan isu-isu terkini yang berkaitan dengan dunia kepelajaran sebagaimana segmen garapan IPNU,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irfan Mujahid dalam sambutannya saat pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2017 IPNU di Grand Hotel Asrilia,  Bandung, Sabtu (18/11).

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita segera berkumpul mengkosolidir diri menyatukan gagasan bagaimana merespons berbagai hal tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyah menyampaikan, bahwa tujuan berkumpulnya perwakilan dari setiap wilayah dalam agenda Rapimnas tidak lain guna mempererteguh komitmen terhadap NKRI dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Memperkuat komitmen terhadap NKRI dan menjaga pengamalan agama Islam tetap pada haluannya,” katanya.

Sementara itu, Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh menyampaikan, bahwa selain dua isu di atas, ada yang lebih penting bagi IPNU, yakni penyiapan internal dan mental.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Tantangan bersifat luar, mulai kontestasi ideologi dan sejenisnya. Tetapi, pada saat yang lain ada tantangan yang membutuhkan penyiapan internal dan kesiapan mental kita,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, saat ini hal-hal yang bersifat ritus dan formal dalam organisasi dan pembelajaran tidak lagi menjadi hal yang terpenting. Lebih penting dari itu, menurutnya, melakukan hal-hal yang bersifat substansial.

“Tren sekarang tidak lagi mengedepankan prinsip-prinsip formalisme di dalam konsolidasi, termasuk juga dalam transmisi ilmu pengetahuan. Sampai kemudian brain washing terjadi itu tidak melalui ruang-ruang yang bersifat formal. Karenanya, sebagai kids zaman now, menjadi penting melakukan adaptasi di tengah perubahan sosial saat ini,” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia itu.

“Pendekatan substansialis jauh lebih penting daripada pendekatan formalisme semata,” lanjutnya.

Lebih jauh, pendekatan substansialis yang Mas Niam, begitu ia akrab disapa, sampaikan adalah tentang penyampaian empat prinsip dasar Nahdlatul Ulama bagaimana bisa diterima oleh pelajar.

“Bagaimana menerjemahkan tasamuh, tawazun, tawasuth, i’tidal tanpa tathorruf, tanpa perlu berlebihan” ungkapnya.

IPNU, menurutnya harus fokus pada hal-hal bersifatsubjektif kepelajaran. Tidak harus terbawa arus sehingga membuatnya tenggelam. “IPNU hadir untuk menjawab tantangan zamannya dengan target grup khusus,” tegas Katib Syuriah PBNU itu.

Rapimnas 2017 IPNU dibuka secara simbolis dengan memainkan angklung oleh Deputi II Kemenpora Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyah, dan Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, PonPes, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 16 Juli 2015

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Para peserta Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama tidak perlu khawatir terhadap keberadaan lokasi penginapan. Empat pesantren di Jombang yang dijadikan sebagai lokasi sidang komisi juga sekaligus menyiapkan penginapan yang layak.

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)
Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Hal ini disampaikan Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar, H Thoriqul Haq saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Rabu (18/2) petang. Gus Thoriq, sapaan akrabnya menandaskan seluruh peserta resmi utusan dari PWNU, PCNU se-Indonesia hingga PCINU sejumlah negara akan mendapatkan fasilitas dan perlakukan yang sama selama kegiatan Muktamar berlangsung.

"Untuk pembukaan muktamar dan sidang pleno hingga penutupan akan dilangsungkan di Alon-alon Jombang," tandas mantan Presiden BEM UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Sedangkan sidang komisi akan dilangsungkan di 4 pesantren besar yakni Pondok Pesantren Darul Ulum (Peterongan), Pesantren Tebuireng (Diwek), Mambaul Maarif (Denanyar), serta Bahrul Ulum (Tambakberas).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menandaskan bahwa pengecekan secara seksama telah dilakukan sebanyak dua kali dan akhirnya Panda memastikan sejumlah asrama dan sekolah yang akan digunakan untruk kepentingan siding-sidang selama muktamar berlangsung.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kunjungan itu kian memastikan mana saja lokasi yang akan dijadikan sebagai penginapan peserta dan tempat diselenggarakannya sidang komisi," tandas Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur ini.? ?

Ada sejumlah perubahan yang terjadi dari kunjungan tersebut. Di antaranya dijadikan Gedung Olah Raga (GOR) Jombang sebagai tempat registrasi peserta muktamar. "Karena GOR tempatnya luas baik dari sisi parkir kendaraan maupun daya tampung awal saat peserta mendaftar sekaligus menerima sejumlah penjelasan dan fasilitas muktamar," terangnya.

Sedangkan untuk sidang komisi di Pondok Pesantren Darul Ulum akan dilangsungkan di Islamic Center, dan penginapan peserta di SMPN 3 Rejoso. Sidang komisi di Pesantren Tebuireng akan menempati ruangan lantai tiga gedung KH Yusuf Hasyim, dan penginapan peserta menggunakan asrama yang ada pesantren tersebut.

Pesantren Mambaul Maarif menempatkan peserta sidang di ruangan MAN Denanyar serta halaman sekolah tersebut akan dijadikan lokasi sidang komisi. MAN Tambakberas atau MTsN Tambakberas masih akan diteliti lebih detail untuk menampung peserta muktamar dan mengikuti sidang komisi. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Juni 2015

Baca Masyarakat Selepas Baca Al-Quran dan Barzanji

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Semaan Al-Qur’an dan baca kitab al-Barzanji rutin digelar PCNU Sukoharjo saban Rabu malam. Kegiatan sudah berlangsung lama tersebut bukan sekadar memepertahankan tradisi, tetapi juga sebagai tempat silaturahim dan media informasi perkembangan kondisi Sukoharjo.?

Baca Masyarakat Selepas Baca Al-Quran dan Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
Baca Masyarakat Selepas Baca Al-Quran dan Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

Baca Masyarakat Selepas Baca Al-Quran dan Barzanji

Menurut Sekretaris PCNU Sukoharjo Lasimin, ada beberapa persoalan masyarakat yang menjadi perhatian jamaah selepas kegiatan rutin tersebut yang kebetulan bertempat di PAUD Al-Khoir, Rabu malam (18/9).?

Jamaah, kata dia, prihatin atas peristiwa dirusaknya makam cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VI Kyai Ageng Prawiro Poerbo di Pasarean Karang Kabolotan, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta dirusak sekelompok masa bercadar Senin (16/9).?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kasus ini bisa saja terjadi di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya, maka kita pun harus membangun komunikasi, waspada,” pesannya, menyimpulkan obrolan jamaah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, tambah dia, masa tahun politik 2014 para jamaah harus cerdas dalam menyikapi proses demokratisasi tahapan Pemilu legislatif maupun Pemilu presiden dan wakil presiden yang akan datang.?

“Ya pengajian kita kerap didatangi para caleg, kita persilakan membaur bersama jamaah. Mungkin juga jamaah kita sendiri yang jadi caleg,” katanya.

Ketiga, persoalan makin mahalnya harga-harga kebutuhan pokok terutama daging. Serta mangkraknya (terbengkalai, red.) pembangunan Pasar Tradisional Kota Sukoharjo. “Jamaah kita ini banyak yang jadi bakul (pedagang pasar), mereka mengeluh mahalnya harga daging,”ungkapnya.

Keluhan jamaah itu, kata Lasimin bagian dari kajian bersama, khususnya pengurus MWC dan PCNU Sukoharjo, untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat, apa yang harus di lakukan dan solusi lainnya. Agar NU betul-betul bermanfaat buat masyarakat.

Sekitar pukul 22.30, semaan dan baca al-Barjanzi itu berakhir dan jamaah sayonara. Sedangkan para pengurus masih berdiskusi memberbincangakn persoalan yang mengemuka di masyarakat. (Cecep Choirul Sholeh/Abdullah Alawi) ? ?

?

? ?

? ? ?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock