Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Departemen Seni dan Budaya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Purworejo, Jawa Tengah, ikut ambil bagian dalam Festival Musik Akustik yang digelar dalam rangka memperingati HUT WR Supratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing dan monumen WR Soepratman di Kota Purworejo, .

Selain menampilkan lagu wajib, IPNU Band yang digawangi oleh Fikri Amrillah juga menyanyikan lagu karyanya sendiri berjudul "Purworejoku.

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Ketika lagu Purworejoku dinyanyikan, sorak-sorai penonton memecah suasana menjadi ramai. Tak terkecuali, Mantan Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, ikut standing uplaus atas lagu itu. Bahkan, di akhir acara menyempatkan menyambangi personil IPNU Band. "Saya minta liriknya ya, lagu tadi benar-benar bagus." katanya dilanjutkan kesiapan IPNU Band menyerakhannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sofyan Rizali Zain, keikutsertaan IPNU Band dalam event ini bertujuan mengenalkan lebih jauh dengan masyarakat. Selain itu, adalah memicu mental kader di berbagai pentas.

"Kita ingin kader memiliki mental bernyanyi yang mumpuni. Lagu yang dibuat rekan-rekan juga konstruktif, edukatif dan tidak cengeng seperti kebanyakan lagu band dewasa ini," ungkapnya. Meski tak dapat juara, imbuhnya, para personil tetap semangat untuk bermusik sebagai media ekspresi jiwa dan menyampaikan pesan positif kepada khalayak luas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tempat terpisah, Kasi Kerjasama dan Promosi Diskoperindagpar Purworejo Dyah Woro S mengatakan, event ini digelar untuk memeringati HUT WR Soepratman. Event pertama berupa lomba musik akustik akan diadakan pada 16 Maret di Somongari dan event kedua berupa resepsi peringatan HUT WR Soepratman di kawasan Monumen WR Soepratman pada 19 Maret.

"Untuk lomba musik akustik kami adakan di Somongari, di jalan masuk menuju rumah tempat lahir WR Soepratman. Hal ini kami lakukan sekalian untuk memromosikan obyek tersebut kepada masyarakat. Kami harapkan ini bisa menjadi semacam brand untuk memerkenalkan obyek bersejarah tersebut," jelas Woro.

Kepala Bidang Pariwisata Diskopperindagpar Purworejo, Lilos Anggorowati menambahkan, untuk event pada 19 Maret akan berfokus pada resepsi peringatan HUT Wr Soeprartman. Dalam kesempatan tersebut, selain penyerahan hadiah, para pimpinan daerah misalnya Bupati akan membacakan puisi mengenai WR Soepratman.

"Meski masih sederhana, namun kami harap event ini bisa kembali mengingatkan masyarakat akan jasa WR Soepratman yang juga putra daerah Purworejo," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Jadwal Kajian, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Padangpariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang.?

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur ? klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan ? menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan ? sopan santun, etika dan ? mengaplikasikan ibadah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam.?

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di ? dibidang ? keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid, ? dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan jika sesuatu yang negative itu dipastikan akan berdampak negative bagi masyarakat. Karena itu segala sesuatu yang negative, apalagi artis panas dari Amerika Serikat, seharusnya tidak didatangkan apalagi menjadi bintang film di Indonesia.

“Kita tidak ada toleransi terhadap hal-hal yang buruk. Itu kan sama dengan mendukung kemunkaran. Kami berharap produser film tidak hanya memikirkan keuntungan materi dalam film, melainkan pertimbangan moral anak bangsa yang harus menjadi prioritas. Sebab, anak-anak inilah yang akan menjadi pemimpin masa depan," tandas Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Selasa (19/10).

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Tidak Ada Toleransi untuk Artis Panas

Kini artis panas atau porno asal AS bernama Tera Patrick ini menjadi bintang utama dalam film Rintihan Kuntilanak Perawan. Ketiga film ini sempat diprotes, namun lembaga sensor film meloloskannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Komisi Fatwa MUI ini mengimbau agar moralitas dijadikan pegangan para sineas. Jangan sampai demi popularitas film dan materi, artis porno dipajang dalam tontonan layar lebar. "Wajah perfilman yang porno harus kita hindari, apalagi mendatangkannya. Jangan itu," ujarnya.

Menurut KH Maruf, seniman atau sineas Indonesia bisa bersama-sama membangun moralitas anak bangsa ini. Dan, itu bukan saja berdasarkan atas keyakinan satu lembaga keagamaan saja melainkan seluruh agama menolak pornografi maupun pornoaksi tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Moral harus dikedepankan, jangan hanya mencari keuntungan pragmatis materi, karena dampak madharatnya jauh lebih besar berbahayanya,"tutur KH Ma’ruf Amin khawatir.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Quote, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Dapatkan Gratis, Ensiklopedia NU Empat Jilid!

Jakarta,? Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka memeriahkan peringatan hari lahir ke-14, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal menyelenggarakan lomba menulis hasil liputan aktivitas, kiprah, atau prestasi kiai kampung.

Dapatkan Gratis, Ensiklopedia NU Empat Jilid! (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapatkan Gratis, Ensiklopedia NU Empat Jilid! (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapatkan Gratis, Ensiklopedia NU Empat Jilid!

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal menyediakan tiga set “Ensiklopedia Nahdlatul Ulama” untuk tiga karya terbaik menurut dewan juri. Tiap set "Ensiklopedia Nahdlatul Ulama" terdiri dari empat jilid. Ketentuan lomba meliputi hal-hal berikut:

- Terbuka untuk umum dan tak dipungut biaya

- Tulisan berbasis liputan dengan gaya penulisan feature

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

- Tema “Pengabdian Kiai Kampung”

- Tulisan dalam kisaran 600-700 kata

- Ditulis rapi dalam MicrosoftWord dengan font Times New Roman 12 spasi 1,5

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

- Kirim naskah disertai biodata lengkap ke email lomba@nu.or.id

- Tiga tulisan terbaik masing-masing berhak mendapat 1 set Ensiklopedia NU

- Batas pengiriman 31 Juli 2017

- Peserta lomba dapat mengirimkan lebih dari satu karya

- Pengumuman pemenang 10 Agustus 2017

- Hak publikasi naskah ada di pihak Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal merupakan situs resmi Nahdlatul Ulama yang berkantor di Lantai 5, Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal diluncurkan pada 11 Juli 2017 di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Quote, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Staf Khusus kepresidenan Noer Fauzi menyebutkan, kejelasan status dan kepemilikan tanah masyarakat desa menjadi salah satu tantangan besar bagi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Marwan Jafar. Pasalnya, saat ini kepemilikan tanah di desa telah banyak beralih ke berbagai perusahaan dan masyarakat perkotaan.

"Bagaimana rakyat di pedesaan bisa maju kalau mereka tidak punya tanah. Kita tahu, bahwa satu perubahan penguasaan tanah di pedesaan telah banyak dikuasai oleh perusahaan luar dan orang kota," ungkapnya di Jakarta, Kamis (4/3).

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Fauzi mengungkapkan, data statistik pertanian tahun 2003 hingga tahun 2013 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun lebih dari 5 juta petani di desa beralih profesi. Sebagian besar di antaranya bermigrasi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Inilah sebagian mereka pergi ke kota sehingga kota menjadi penuh. Mereka ke kota, ada yang menjadi TKW, bahkan ada yang menganggur di desa. Banyak juga di antara mereka yang menjadi migrasi sekuler. Mereka ke kota untuk bekerja dan dalam waktu tertentu mereka kembali ke desa," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah mengemukan sebanyak 12,7 juta hektar hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat desa. Proses? bagaimana mendapatkan akses terhadap wilayah hutan tersebut, lanjut Fauzi, adalah sesuatu yang pasti akan menyejahterakan masyarakat desa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Begitu pula 9 juta hektar tanah negara yang akan didistribusikan ke desa. Ini bagaimana kita punya upaya memberdayakan orang yang tidak sanggup untuk memiliki tanah, dan mendapat kepastian tanah," ujarnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Aswaja, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Berlin, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman menyampaikan penolakan atas Rencana Kunjungan Kerja Anggota DPR RI ke Jerman. Karena banyak perbedaan signifikan antara Indonesia dan Jerman, diyakini kunjungan DPR RI tidak bermanfaat bagi kepentingan Indonesia.

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Pernyataan sikap disampaikan PCINU Jerman bersama PPI Berlin, dan Watch Indonesia di Berlin, tertanggal 16 November 2012.

Rencana kunjungan kerja DPR RI itu akan dilakukan oleh Panita Khusus Rancangan Undang-Undang Keinsinyuran. Mereka diperkirakan akan bertolak ke Jerman pada minggu-minggu ini, dari 17 sampai 23 November 2012. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami PCI NU Jerman, PPI Berlin dan Watch Indonesia menyatakan penolakan rencana kunjungan kerja tersebut,” demikian dalam rilis pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PCINU Jerman Suratno dalam rilis pers tersebut menyarankan agar DPR RI lebih fokus pada masalah-masalah di tanah air, terutama yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi DPR RI yang sedang mendapat sorotan dan kritikan tajam dari berbagai pihak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hendaknya mereka menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hal yang akan mereka studibandingkan dengan mengandalkan informasi-informasi serta kerjasama dengan lembaga-lembaga lokal,” katanya.

Menurutnya, ada perbedaan yang cukup kontras antara Indonesia dan Jerman dalam hal sistem dan tata kelola pemerintahan-kenegaraan , tata hukum, struktur sosial dan budaya. “Karenanya kami menilai kunjungan mereka seperti ini tidak bermanfaat bagi kepentingan kita di Indonesia.”.

PCINU Jerman juga menuntut adanya transparansi atas kunjungan kerja, berupa tujuan kunjungan kerja, biaya perjalanan, akomodasi selama kunjungan kerja, jadwal kunjungan kerja selama di luar negeri, materi-materi yang di bicarakan, dan partner kerja di tempat tujuan. Hal tersebut seharusnya dipublikasikan secara resmi yang bisa diakses oleh masyarakat secara luas dari jauh-jauh hari, minimal 1 bulan sebelum keberangkatan.

“Kami menuntut adanya publikasi hasil konkret dari kunjungan-kunjungan kerja keluar negeri yang selama ini dilakukan oleh DPR RI, terutama dalam konteks kunjungan ke Jerman pada April 2012 lalu, dimana hasil kunjungan kerja Komisi I DPR RI tersebut sampai saat ini belum dipublikasikan secara resmi,” demikian PCINU Jerman.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Quote, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Harlah Ke-5 LKSB Dibarengi Peluncuran Buku Indonesia Rumah Kita

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) yang digawangi Abdul Ghopur menginjak usia 5 tahun. Peringatakan hari lahir tersebut dibarengi peluncuran buku Indonesia Rumah Kita karya Abdul Ghopur dan Rizky Afriono, Selasa (31/10) di Aula Gedung PBNU Jakarta.

Harlah Ke-5 LKSB Dibarengi Peluncuran Buku Indonesia Rumah Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-5 LKSB Dibarengi Peluncuran Buku Indonesia Rumah Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-5 LKSB Dibarengi Peluncuran Buku Indonesia Rumah Kita

Kegiatan yang menghadirkan sejumlah narasumber dan aktivis mahasiswa lintas pergerakan ini memotong tumpeng sebagai tanda syukur harlah ke-5 tahun. Kegiatan bertajuk Menggali Mitos, Membangun Etos ini juga sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Dalam sambuatannya, Ghopur yang juga intelektual muda NU mendorong para pemuda agar tidak berhenti menjaga dan merawat Indonesia. Hal ia sampaikan mengingat kondisi bangsa akhir-akhir tak lepas dari konflik yang tak jarang berpotensi memecah bela bangsa.

“Para pendiri bangsa termasuk para ulama sudah bekerja keras membangun negara ini sehingga tugas kita para pemuda untuk meneruskan,” ujar Ghopur.

Dia tidak menampik hingga sekarang masih ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan bangunan Pancasila. Padahal dasar negara ini telah terbukti menguatkan menyatukan Indonesia yang beragam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Bina Suhendra Bendahara Umum PBNU yang hadir dalam kesempatan tersebut meyakinkan kepada para pemuda agar memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan sehingga tidak gampang menyalahkan kelompok lain.

“Pemuda akan mengambil alih masa depan Indonesia. Jangan mudah menyalahkan orang lain. Apalagi menghadapi era internet seperti sekarang,” jelas Bina Suhendra.

Perkembangan digital juga tidak lepas dari perhatian pria berkaca mata ini. Ia memberi pesan agar para pemuda tidak terjebak perkembangan teknologi karena teknologi diciptakan manusia.

“Jadi judulnya family gathering, tapi setelah ketemu asyik dengan handphone masing-masing. Artinya kita harus tetap mengikuti perkembangan teknologi, tapi jangan mau dikendalikan teknologi,” terangnya.

Kegiatan ini juga di antaranya menghadirkan Ketua Umum Kopri PB PMII Septi Rahmawati, Ketua Umum Presidium GMNI Chrisman Damanik, dan sejumlah narasumber lain. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Pemkab dan Dinas Pendidikan Purworejo Keluarkan Edaran Tetap Enam Hari Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pemerintah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah beserta Dinas Pendidikannya dengan tegas menolak pemberlakukan kebijakan lima hari sekolah Mendikbud Muhadjir Effendy dan tetap memilih enam hari sekolah.

Sikap tersebut tertuang dalam Surat Edaran tertanggal 22 Agustus 2017 yang ditujukan kepada para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kecamatan se-Kabupaten Purworejo serta para Kepala Sekolah.

Pemkab dan Dinas Pendidikan Purworejo Keluarkan Edaran Tetap Enam Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab dan Dinas Pendidikan Purworejo Keluarkan Edaran Tetap Enam Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab dan Dinas Pendidikan Purworejo Keluarkan Edaran Tetap Enam Hari Sekolah

Dalam surat tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Purworejo Akhmad Kasinu menolak pemberlakuan lima hari sekolah karena memperhatikan berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat, khususnya berkaitan dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017.

Menurut Akhmad Kasinu, sikap tetap memberlakukan enam hari sekolah di Kabupaten Purworejo tersebut sambil menunggu diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) yang sedang digodok. Informasi dari pihak Kepresidenan, Perpres tersebut akan diterbitkan pada September 2017.

Berikut sikap Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Purworejo terkait Permendikbud 23 Tahun 2017:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

1. Dindikpora tidak mewajibkan sekolah untuk melaksanakan lima hari belajar/sekolah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Dindikpora lebih memilih enam hari sekolah, hal ini sesuai arahan Bapak Bupati pada tanggal 17 Agustus 2017.

3. Bagi sekolah yang telah melakukan uji coba lima ? hari sekolah segera melakukan evaluasi berkaitan dengan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.

4. Jika evaluasinya lebih jelek, segera kembali ke enam hari sekolah.

“Demikian untuk bisa dilaksanakan sebaik-baiknya, atas kerja samanya diucapkan terima kasih,” tutup Kasinu di akhir surat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa semester tiga, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengadakan kunjungan ke kantor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (10/11). Sekitar 40 mahasiswa ini disambut hangat oleh beberapa staff redaksi.

Dalam kunjungan singkat ini, para mahasiswa ini ingin mengenal lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama.

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Ketua rombongan, Eva Ena mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh para kiai pesantren dan yang terpenting organisasi ini sangat terbuka dengan umat beragama lain. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Tidak seperti beberapa ormas Islam yang terkesan arogan dan menyerang umat beragama lain,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Eva menanyakan tentang perbedaan rakaat shalat tarawih yang pernah ia alami ketika ada tugas lapangan di sebuah desa. Di lokasi tersebut, kepala desanya adalah orang Katolik sehingga ia juga merasa kebingungan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Apakah di dalam Islam ritual ibadah tidak diatur?” tanyanya.

Rizky Wijayanti, kru Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal menjelaskan bahwa tidak ada tafsir tunggal dalam pelaksanaan ibadah sehingga muncul beberapa perbedaan, salah satunya dalam pelaksanaan shalat tarawih. Karena itu, diantara umat Islam sendiri perlu saling menghormati perbedaan ritual ibadah yang dilakukan.

Rizki yang juga pengurus Muslimat NU ini mengatakan terkait dengan bilangan shalat tarawih antara 23 atau 11 rakaat, itu hanya bilangan saja dan Nabi Muhammad pernah melakukan dan dan tidak mengharamkan salah satunya. “Jadi kita tinggal pilih saja, mau yang mana?” imbuhnya. 

Selanjutnya Rizki menambahkan Nahdlatul Ulama mengenal prinsip tawasuth, maksudnya adalah tidak ekstrim kiri juga ektrim kanan sehingga dalam hidup bermasyarakat NU selalu menempatkan diri pada prinsip hidup menjunjung tinggi sikap moderat. 

“Menghindari segala bentuk pendekatan ekstrem,” katanya.

Di akhir kunjungan Alamsyah MJ dosen mata kuliah Islamologi STT Jakarta mengatakan bahwa kegiatan kali ini merupakan bagian dari pembelajaran di luar kelas. Mereka bisa secara langsung belajar dan bertanya terkait dengan subyek yang dihadapi. 

“Mereka senang sekali berkunjung ke kantor PBNU, ini terlihat dari antusiasnya mendengarkan beberapa paparan,” pungkasnya. 

Sebelumya rombongan ini mampir di ruang Pojok Gus Dur lantai dasar PBNU. (Faridurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Quote, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kegiatan turba (turun ke bawah) yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, Ahad (3/12) terasa dari biasanya. Pasalnya dalam turba ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Lumbang yang digelar di aula MI NU Al-Hidayah Desa Lumbang Kecamatan Lumbang ini juga dilakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan ini diikuti oleh semua pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo. Terdiri atas 10 orang dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, 11 orang Ketua PAC Muslimat NU, 11 orang Ketua Ranting Muslimat NU di Kecamatan Lumbang beserta 100 orang Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Ketua Muslimat NU Probolinggo Hj Nurhayati mengatakan, turba ini merupakan agenda kegiatan rutin pertemuan Muslimat NU Kabupaten Probolinggo sekaligus silaturahmi Muslimat NU terhadap anggota dari tingkat PAC sampai Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

“Kebetulan kali ini kami juga melaksanakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai wujud kebersamaan dan menghormati serta merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Nurhayati, agenda utama dalam turba ini adalah silaturahmi. Serta pembinaan terhadap anggota agar lebih semangat dan terus berjuang untuk kepentingan umat sebagai media syiar Islam melalui kegiatan Muslimatan NU .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Fokus dari turba ini adalah kebersamaan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, pemantapan pembinaan anggota serta memberikan sports dan motivasi dukungan agar anggota majelis taklim lebih semangat tulus dan ikhlas menggerakkan roda organisasi Muslimat NU sebagai amal makruf nahi mungkar. Agar bisa diterima amal keberadaan Muslimat NU di semua bidang pembangunan yang ada di lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Nurhayati menyampaikan dalam organisasi tidak ada kata berhenti, cuti, mengundurkan diri. Dalam berorganisasi berjuang membangun organisasi tidak harus kader Muslimat NU harus pintar, karena banyak pengurus pintar tapi tidak mau. Oleh karena itu membangun organisasi Muslimat NU itu mereka kader yang mau membangun dan peduli.

“Kunci persaudaraan dari Muslimat NU yang utama ta’aruf dan silaturahmi. Yang kedua ta’awun tolong menolong dan kepedulian. Yang ketiga tasamuh, persamaan derajat dan umat Islam NU  itu sama,” tegasnya.

Lebih lanjut Nurhayati menambahkan bahwa pengurus Muslimat NU harus mengaktifkan amal  infaq dan sedekah digerakkan untuk beramal lebih banyak, sadar dan peduli untuk meningkatkan amal maruf nahi mungkar. “Terpenting lagi, mengajak aktif rutin amal sedekah lewat majelis taklim Muslimat NU,” pungkasnya.

Ketua Muslimat NU Kecamatan Lumbang Sanipah Suparman menyampaikan bahwa turba ini bisa menjadi wadah dalam memberikan semangat anggota agar kegiatan yang ada di tiap ranting lebih dioptimalkan, lebih peduli dan merasa menjadikan nilai persaudaraan berjuang untuk kepentingan umat Islam.

“Lebih meningkatkan amal ibadah, amal jariyah, peduli lingkungan sekitar bagi mereka yang tidak mampu dan kemiskinan perbaikan akhlak. Yang utama sebagai modal majunya pembangunan,” katanya.

Ketua MWCNU Lumbang Ustadz Saiful Arif  menyampaikan hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta teladan yang harus dilakukan oleh umat Islam seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam kesempatan ini Hj Latifah dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo juga menyampaikan taushiyah Maulid Nabi Muhammad SAW dengan topik keteladanan Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah mempunyai 3 pegangan meliputi salam, senyum dan sapa. Teladan beliau menghadiri undangan tidak boleh memilih kaya dan miskin. Pemantapan ibadah, amal kebaikan, keikhlasan, harus tulus disampaikan permohonan terhadap Allah SWT. Ta’aruff kita kebaikan yang harus kita contoh, yang tidak baik kita abaikan agar menjadikan bekal iman kita lebih baik sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Quote, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Surabaya,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tujuan diselenggarakannya kegiatan seminar internasional yang dilanjutkan dengan daurah nasional Aswaja murni demi meneguhkan akidah sebagai identitas Islam Nusantara. Tidak ada tujuan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan serta tujuan politis yang lain.

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Navis: Daurah Aswaja Murni Kaderisasi, Bukan Politis

Hal itu disampaikan Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis saat memberikan sambutan pada seminar Rabu (23/12) pada seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Seminar menghadirkan narasumber para ulama dan akademisi dari Malaysia dan Indonesia.

"Berdasarkan amanat Muktamar NU di Makassar serta rekomendasi dari Konferensi Wilayah NU Jawa Timur bahwa keberadaan Ahlus Sunnah wal Jamaah harus diteguhkan keberadaannya," kata dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Aalagu secara kasat mata telah banyak pendangkalan dan rongrongan bagi Aswaja di sejumlah kawasan, lanjutnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu keberadaan seminar internasional yang dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama dengan kontingen Malaysia, sebagai bagian dari implementasi dari amanah tersebut. Dan pada kegiatan selanjutnya yakni hingga Jumat (26/12) diselenggarakan daurah Aswaja tingkat nasional yang menghadirkan peserta dari seluruh PWNU se Indonesia.

"Jadi kegiatan yang diselenggarakan hari ini hingga Jumat mendatang adalah murni kaderisasi, bukan penggalangan suara jelang Muktamar NU tahun depan maupun tujuan politis yang lain," tandas Kiai Navis yang disambut aplaus hadirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bagi Wakil Ketua PWNU Jatim, kesadaran akan kian terdesaknya anak muda dengan berbagai aliran ekstrim kanan maupun kiri hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Dan langkah cepat harus segera dilakukan dengan melakukan berbagai pendalaman Aswaja seperti yang diselenggarakan kali ini.

"Kami berharap, usai kegiatan daurah nasional, maka para kontingen dapat menggagas terbentuknya Aswaja NU Center di masing-masing daerah," katanya. Dan bila hal ini telah dilakukan, maka pada Muktamar tahun depan Kiai Navis berharap keberadaan Aswaja NU Center bisa menjadi lembaga khusus di lingkungan NU.

"Ya semacam Densus 99 untuk meneguhkan Islam Aswaja di seluruh Nusantara," terangnya. Dan untuk bisa meraih hal ini, yang harus dilakukan adalah kerja keras dan lillahi taala, bukan tujuan jangka pendek apalagi dengan pamrih duniawi.

Seminar dan daurah Aswaja ini dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Rais PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah, juga KH Abdusshomad Bukhori, Ketua MUI Jatim.(Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Jambore Pelajar-Santri Nusantara Lengkapi Pra-Kongres

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sedikitnya 500 pelajar dan santri akan berkumpul di Bumi Perkemahan Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (28/11). Mereka melaksanakan Jambore Pelajar-Santri Nusantara dan Apel Akbar Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU.

Jambore Pelajar-Santri Nusantara Lengkapi Pra-Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
Jambore Pelajar-Santri Nusantara Lengkapi Pra-Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

Jambore Pelajar-Santri Nusantara Lengkapi Pra-Kongres

Kegiatan ini termasuk rangkaian acara Pra-Kongres XVII Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) yang digelar di Palembang, 30 November hingga 4 Desember. Menurut Nurudin, ketua panitia, jumlah tersebut terdiri dari 350 anggota CBP IPNU dan sekitar 200 pelajar dan santri.

Dalam jambore atau perkemahan besar tingkat nasional ini, pelajar dan santri akan digembleng dengan sejumlah materi dan latihan-latihan tertentu. Sementara CBP IPNU, selain apel, mereka akan turut mengamankan keberlangsungan acara kongres.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Mereka semua nanti juga akan ada bakti sosial,” ujar Nurudin.

Sejak Mei lalu, Pra-Kongres IPNU dimulai dengan ToT dan Pembentukan Kader Antinarkoba di Bogor, dilanjutkan dengan Workshop Pra-Kongres XVII IPNU di Bandung, serta Pendidikan Latihan Khusus Nasional CBP IPNU di Mojokerto.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rencananya, acara Pra-Kongres IPNU akan ditutup dengan pengajian akbar bertema “Islam itu Indah” bersama Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ust M. Nur Maulana di Masjid Agung Palembang, Jumat (30/11).

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama Menteri Pemuda dan Olahraga RI Andi Mallarangeng dijadwalkan hadir membuka acara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang saya hormati, beberapa waktu ada seorang teman lama datang ke rumah. Kami mengobrol ke sana-ke sini. Di tengah obrolan teman saya membicarakan soal Indonesia sebagai tanah air kita bersama.

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Hukum Syariat Islam Bicara Cinta Tanah Air

Ia menyatakan bahwa cinta tanah air Indonesia tidak disyariatkan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ‘hubbul wathan minal iman’ (cinta tanah air sebagian dari iman) bukanlah hadits sehingga mencintai Indonesia sebagai tanah air itu bukan sesuatu yang masyru` atau disyariatkan karena tidak ada dalilnya.

Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mencintai Indonesia yang merupakan tanah air kita dan dihuni oleh mayoritas umat Islam adalah memang tidak disyariatkan? Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Agung/Brebes)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah SAW. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah SAW berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

Saran kami, cintailah negeri kita dengan terus merawat dan menjaganya dari setiap upaya yang dapat menghancurkannya.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Peringati Harlah ke-13, KMNU UNY Gelar Bakti Sosial

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Negeri Yogyakarta menggelar tasyakuran harlahnya ke-13. Dalam rangka itu, mereka menyalurkan bantuan berupa uang, alat tulis, dan pakaian layak pakai untuk 31 santri panti asuhan Nailunnajah Srimartini, Piyungan, Bantul, Ahad (6/4) siang.

Peringati Harlah ke-13, KMNU UNY Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah ke-13, KMNU UNY Gelar Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah ke-13, KMNU UNY Gelar Bakti Sosial

Tasyakuran ini diawali penampilan hadroh dari para santri panti asuhan berkolaborasi dengan grup hadroh El-Maqoshid, badan semi otonom KMNU UNY yang bergerak di bidang seni musik rebana. Sementara penyerahan simbolis bantuan dilakukan oleh Ketua KMNU UNY Miftahul Mujib kepada pengasuh panti asuhan KH Soleh Marchaban.

Sementara senior KMNU UNY Fathurrohman memimpin mujahadah yang ditutup dengan doa kelancaran dan keberkahan bagi para hadirin oleh Kiai Soleh. Menurut ketua panitia Ahmad Taufik, “Kegiatan ini mencerminkan perwujudan aksi sosial dan budaya KMNU UNY. Dengan cara seperti ini, silaturahmi KMNU UNY dan panti asuhan tetap terjaga.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senada dengan Taufik, Miftachul mengatakan, “Tasyakuran ini dapat menjadi wasilah kelancaran, kemajuan, dan daya guna KMNU UNY ke depan sesuai visi kepengurusan yang telah dicanangkan.” (Muslim Fidia A/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Pariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus didorong untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan yang dapat meningkatkan penguatan nilai-nilai Islam moderat yang berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Penguatan ini semakin penting dirasakan mengingat makin kuatnya tantangan yang dihadapi kader PMII di tengah pergulatan pemikiran global.

Ketua Umum PKC PMII Sumatera Barat Afriendi mengungkapkan hal itu pada puncak Harlah PMII ke-54 di PC PMII Kota Pariaman yang berlangsung, Kamis (17/4/2014) malam di sekretariat PCNU Kota Pariaman, Desa Simpang , Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Hadir Sekretaris Tanfizdiyah PCNU Kota Pariaman Muhammad Nur, MA, Bendahara PW GP Ansor Sumbar Armaidi Tanjung, Ketua Umum PC PMII Kota Pariaman Satria Effendi, Ketua PC PMII Kabupaten Padangpariaman Rodi, Mabincab PMII Kota Pariaman Ory Sativa Sakban, mantan Ketua Umum PMII Kota Pariaman Hendri dan Idris.

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Menurut Afriendi, upaya yang harus dilakukan kader PMII dalam meningkatkan penguatan nilai-nilai Aswaja adalah melakukan kegiatan lebih banyak di pondok pesantren. Artinya, kader PMII harus lebih dekat dengan para ulama yang menjadi panutan di tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kader PMII ke depan yang diharapkan adalah yang memiliki kekuatan Aswaja dan kepemimpinan. Kekuatan Aswaja ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan di pondok pesantren, selain melalui pengkajian, diskusi dan pendalaman nilai dasar perjuangan (NDP). Sedangkan kekuatan kepemimpinan dibentuk melalui kekuatan organisasi. Dimana kader berproses di PMII ini,” kata Afriendi yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat ini.

Afriendi juga menambahkan, sudah saatnya kader PMII memperbanyak zikir. Jangan hanya aksi di lapangan seperti demo, bakti sosial dan sebagainya. “PMII harus memiliki karakter tersendiri. Kehadiran PMII hendaknya sesuai dengan misi kelahiran PMII 54 tahun lalu,” kata Afriendi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terkait dengan pelaksanaan Pemilu 9 April lalu, Afriendi menilai masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan masih banyaknya masalah yang ditemui saat pelaksanaan pemunggutan suara. Diantara masalah yang ditemui, adanya kertas suara yang tertukar satu daerah pemilihan dengan daerah pemilihan lain, pencoblosan ramai-ramai oleh pihak tertentu, dan banyaknya indikasi money politik (politik uang) yang dilakukan caleg.  

PMII yang tergabung dalam Kelompok Cipayung, turut mendukung pelaksanaan Pemilu 9 April yang bersih, jujur, aman dan mendorong tingkat partisipasi pemilik. Namun upaya yang dilakukan baru sebatas himbauan dan ajakan di media massa agar semua pihak dapat menjalankan peran masing-masing sehingga pelaksanaan Pemilu 9 April berjalan lancar, aman, tertib dan sesuai dengan undang-undang.

PMII sangat prihatin adanya gejolak pasca Pemilu 9 April. Baik protes tim sukses caleg yang berujung dengan tindakan kekerasan, pembakaran kantor penyelenggara Pemilu karena tidak menerima kekalahan sebagai caleg,  sampai adanya caleg yang mengalami gangguan jiwa hingga masuk rumah sakit jiwa, kata Afriendi.

Dikatakan Afriendi, agenda Pemilu 2014 yang di depan mata adalah pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres). Pada Mei 2014 sudah mulai pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Kader PMII di semua tingkatan diminta untuk turut mengawal pelaksanaan pilpres sehingga dapat berjalan lancer. Kader PMII harus berperan aktif menyukseskan Pilpres tersebut,” kata Afriendi. (Armaidi Tanjung/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang akhir tahun 2014, IPNU – IPPNU se-Jombang menyelenggarakan Makesta (masa kesetiaan anggota) di empat kecamatan di Kabupaten Jombang yang meliputi Kecamatan Jogoroto, Diwek, Jombang Kota, dan Ngoro. Kegiatan ini merupakan tahap paling awal jenjang kaderisasi.

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Empat Kecamatan di Jombang Gelar Makesta

Dengan mengambil tema “Menuju Generasi Muda yang Mandiri, Loyal, dan Militan dalam Beraswaja & Berbangsa”, IPNU-IPPNU Kecamatan Jogoroto sukses melatih 90 anggota baru dari berbagai ranting dan pimpinan komisariat setempat pada Selasa-Kamis, 23-25 Desember 2014 di MTs. Al-Hikmah Janti Jogoroto. Selain materi-materi Makesta peserta juga diberikan wawasan tentang Kewirausahaan.?

“Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan kader IPNU-IPPNU dapat menjadi kader yang berjiwa militan dan loyal terhadap organisasi selain menjadikan mereka sebagai kader yang mandiri, berbekal pengetahuan dan pemahaman materi yang mereka dapatkan selama tiga hari ini,” ungkap ketua PAC IPPNU Jogoroto ketua Fathiyah Putri Ramadhani di sela acara.?

Lain halnya dengan Makesta gabungan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Diwek yang lebih fokus pada materi-materi dasar Makesta mulai Kamis-Jum’at, 26-27 Desember 2014. Bertempat di MI Miftahul Ulum Desa Jatipelem, puluhan kader IPNU-IPPNU se-Kec. Diwek khidmad mengikuti pelatihan kaderisasi yang mengambil tema “Menciptakan Kader Pelajar NU yang Berpegang Teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh PAC IPNU-IPPNU Ngoro pada 27-28 Desember 2014, menyusul PAC IPNU-IPPNU Jombang Kota pada 28-29 Desember 2014 dan PR IPNU-IPPNU Desa Gondek pada 3-4 Januari 2015 di tempat yang berbeda.?

Kegiatan lain yang akan berlangsung adalah Latihan kader muda (Lakmud) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU – IPPNU Mojoagung pada bulan pertama tahun mendatang. Lakmud merupakan jenjang kedua setelah Makesta. (aulia rohmah/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Quote, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ahamduillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jum’at berjama’ah. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. semoga ketaqwaan itu bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surga.

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahawat (hal-hal yang menyenangkan manusia).”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. yang menganugerahkan keamanan dan? keselamatan atas bangsa Indonesia ini, tepatnya setelah melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada 15 Februari yang lalu. Sebagai bangsa yang hidup berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keamanan dan? keharmonisan ini haruslah disykuri bersama-sama dengan cara terus menjaga dan meningkatkan rasa kepekaan sosial antar sesama, karena inilah saha satu hal penting yang terbukti mampu melahirkan kebersamaan dan keamanan di tengah perbedaan. Inilah sukses kita semua, sukses bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam

Para hadirin jamaah jumah rahimakumullah,



Sukses besar bangsa ini dalam melaksanakan hajatan demokrasi menunjukkan kepada dunia bahwa jalinan kemanusiaan, ukhuwah insaniyah atau humanisme dalam jiwa bangsa Indonesia adalah sesuatu yang nyata bukan sekadar wacana. Sesuatu yang telah terjadi dalam realitas kehidupan sosial (al-madhahir al-ijtimaiyyah), bukan sekedar teori di dalam tumpukan buku. Hal ini membuktikn bahwa ajaran tentang kemanusiaan dalam diri umat Islam di Indonesia telah lebih dulu hadir sebelum kata humanisme itu sendiri. Sehingga Indonesia dengan umat Islamnya yang bersuku-suku dan berbeda-beda bahasa, patut menjadi contoh bagi negra-negara lain yang sedang mencari jati dirinya.

Di sisi lain, kenyataan ini menunjukkan kepada kita akan kebesaran muslim Indonesia yang memiliki kemampuan merubah segala konsep dan pemikiran yang datang dari luar untuk disesuaikan dengan realitas keindonesiaan yang ada di sekitar. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan ijtihad para ulama dan cendekiawan muslim yang selalu berusaha meramu berbagai pemikrian dan ideologi yang menyerbu bangsa ini. Para ulama dan cendekiawan muslim itu adalah penjaga (the guardian) yang menginginkan bangsanya tetap berkarakter. Dengan pengetahuan keislaman yang membumi, para ulama itu memeras segala yang datang dari Dunia Barat untuk diambil sari kebaikannya dan membuang remah-remah keliberalan yang tak sesuai nilainya dengan karakter ketimuran. Demikian pula dalam menghadapai pemikiran yang datang dari Dunia Arab, para ulama Indonesia? hanya memilah konsep-konsep yang dapat menyempurnakan keislaman di Indonesia dan menghalau unsur-unsur fundamentalis yang tidak sesuai dengan nilai keislaman di Indonesia.

Jamaah jumah yang dirahmati Allah,

Demikianlah sungguh besar karunia Allah terhadap bangsa Indonesia ini. Begitu besarnya karunia itu sehingga seringkali menutupi mata batin kita untuk bersyukur kepada-Nya. Bahkan besarnya karunia itu menjadi sumber kesombongan diri dengan menyatakan sebagai pihak yang paling memiliki andil paling banyak dalam keamanan dan ketertiban. Tentunya kita sebagai umat muslim yang sadar diri hendaknya menghindar dari sifat-sifat buruk yang demikian. Karena sifat-sifat buruk itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan merugikan sesama umat muslim lainnya.

Sebagai sebuah sistem pemilihan pemimpin, pilkada yang telah lalu akan menghasilkan para pemimpin masa depan. Sebentar lagi akan diikhbarkan kepada kita semua, siapakah yang berhak menjadi pemimpin dan siapa pula yang terbukti mendapat amanah lebih banyak dari masyarakatnya. Pastilah akan banyak kekecewaan, karena tidak mungkin yang terpilih mengantongi 100 persen suara pemilih. Olah karena itu, bagi para pemilih yang kecewa, harus yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana tersendiri. Rencana Agung untuk kemajuan bangsa. Rencana terbaik untuk bangsa yang mayoritas penduduknya adalah hamba-hambanya yang taat dan beriman semuanya. Selaku kelompok yang tersisih tidak seharusnya putus asa. Sebagaimana Usaha Nabi Musa melawan Firaun yang mencapai kesuksesannya setelah empat puluh tahun berusaha dan berdoa.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak putus asa setelah gagal memasuki kota Makkah pada tahun 6 Hijriyah setelah di tahan dan diusir kembali bersama 1500 umat Islam Madinah. Sebuah kejadian yang dramatis menimpa Rasulullah yang telah merindukan kampung halamannya, dan segenap umat muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Walaupun hal itu telah diinformasikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpinya. Ternyata semua rencana tidak dikabulkan Allah SWT, karena Allah SWT telah memeiliki rencana lain yang jauh lebih dahsyat, tentang Fathu Makkah.? Begitulah kegagalan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 27.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

Hadirin Jamaah jumah yang dimuliakan Allah

Seringkali Allah SWT menunda keberhasilan dari hamba-Nya, karena telah menyiapkan rencana lain yang lebih agung nilainya. Meskipun seringkali penundaan itu sangat menyakitkan. Sebagaimana yang dirasakan sahabat Umar dalam mengomentari kegagalan Umat Islam memasuki kota Makkah yang diungkapkan kepada Rasulullah SAW? "Ya Rasullah bukankah Engkau telah memberi kabar bahwa kita akan memasuki kota Makkah?" Demikian kekecewaan itu adalah manusiawi. Kemudian Rasulullah SAW menjawab "apakah aku mengatakanmu pada tahun ini?" Umar berkata "tidak". Lalu Rasulullah SAW berwasiat "sungguh engkau akan memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf di sana, maka eratkan tanganmu (kekuatan keyakinanmu) wahai saudaraku, untuk membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu, perbaiki prasangkamu pada Allah dan para kekasih-Nya terutama pada gurumu, hindarilah perasaan bohong dan ragu-ragu dengan nabimu agar tidak menjadi cacat di mata hatimu dan tidak menjadi sebab kebutaan mata hatimu dan juga tidak memadamkan cahaya rahasia bathinmu.

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terhadap Sayyidina Umar ra. Sebenarnya adalah satu fragmen yang menggambarkan betapa manusia seringkali berharap kepada Allah SWT dan seringkali harapan itu tidak mendatkan balasannya, sehingga kecewa dan merasa putus asa. Sebagaimana lumrahnya sebuah doa yang lama sekali tidak terkabulkan. Inilah yang dibicarakan dalam Al-Baqarah 216:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Demikianlah khotbah singkat ini semoga dapat memberi inspirasi untuk diri khatib khususnya, dan semua jamaah pada umumnya.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Ulil Hadrawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Dalam struktur organisasi jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pernah dikenal adanya Majelis Konsol (baca: konsul). Berbeda dari model kepengurusan Pengurus Wilayah (PW) pada struktural NU saat ini yang diadakan pada sebuah provinsi, Majelis Konsul diadakan pada daerah yang dipandang perlu oleh Pengurus Besar NU untuk didirikan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (1985) mencatat Majelis Konsul mulai diadakan sejak Muktamar NU ke-12 di Malang tahun 1937: “Pada Muktamar Malang ini juga dibentuk 9 konsul. Kesembilan konsulat itu: Banyumas, Menes, Kudus, Cirebon, Malang, Magelang, Madura, Surabaya dan Pasuruan.”

Dalam AD/PRT (Anggaran Dasar dan? Peraturan Rumah Tangga) NU saat itu disebutkan, fungsi Majelis Konsul salah satunya untuk mempermudah komunikasi antara PB dengan cabang-cabang, baik intruksi dari PBNU ke cabang maupun suara-suara dari cabang yang hendak disampaikan ke PB.

Konsul ini juga bertanggung jawab terhadap perkembangan cabang-cabang yang dibawahinya.

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Sebagai gambaran mengenai Majelis Konsul ini, pada sekitar tahun 1939 menjelang pelaksanaan Muktamar NU? ke-14 di Magelang, terdapat kepengurusan Majelis Konsul NU Daerah Jawa Tengah bagian Selatan yang berkedudukan di Sokaraja, disingkat menjadi Konsul NU Daerah Banyumas.

Konsul NU Banyumas ini mengoordinasi “tjabang-tjabang” antara lain: 1. Banyumas (berkedudukan di Sokaraja), 2. Purwokerto, 3. Purbalingga (Kecamatan Kartanegara), 4. Cilacap (Kawedanan Kroya), 5. Banjarnegara (Kawedanan Mandiraja), 6. Temanggung (Parakan), 7. Purworejo, 8. Kebumen, 9. Wonosobo, 10. Yogyakarta, dan 11. Karanganyar (Kawedanan Pejagoan).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Majelis Konsul ini diisi oleh beberapa pengurus dan dipimpin oleh seorang konsul yang didamping sekretaris dan bendahara konsul. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Konsul ini juga dibantu oleh Komisaris Daerah yang berada di lingkup sebuah karesidenan.

Format struktur kedudukan Majelis Konsul ini sempat berubah di zaman pendudukan Jepang, ketika pemimpin saat itu, Saiko Shikikan? (panglima tertinggi), menetapkan Undang-Undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan? Syu? dan? Tokubetsu Syi.

Bentuk Pemerintahan? Syu? (setingkat Karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 Syu. Pergantian tata pemerintahan ini, juga membuat PBNU mengubah struktur Majelis Konsul, dari semula membawahi di atas tingkat karesidenan, menjadi setingkat karesidenan (Syu). (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait:

- Choirul, Anam. 1985. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Jatayu. Solo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

- Aboebakar, Atjeh. 2015. Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim. Pustaka Tebuireng. Jombang.

- Saifuddin, Zuhri. 2013. Berangkat dari Pesantren. LKiS. Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Quote, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Malang menggelar Jagongan Nahdliyin, besok (21/08) di Aula Kantor NU Kota Malang. Kegiatan tersebut mengundang pembicara  Zuhairi Misrawi.

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Kongkow bertajuk “Lini Gerakan Radikalisme Islam dan Peran Konstruktif NU Untuk Islam Indonesia” sengaja disuguhkan di tengah maraknya gerakan-gerakan radikal yang mulai santer merebak di Kota Malang.

“Kita sebagai Pemuda sekaligus pemikir NU perlu mengkaji hingga akarnya, dengan membincang bersama pakar yang satu ini, kami berharap substansinya mengena dan membuka ruang piker para Intelek kita untuk menangkis gerakan-gerakan brutal yang dapat merusak Islam Indonesia kita,” papar Mahphoer, pakar Psikolog sekaligus Dosen UIN Maliki Malang saat ditemui di Kantor NU, Jl. KH. Wahid Hasyim 21 Malang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak pelak, penggagas acara juga menyampaikan respon beberapa pemuda NU baik dari Pengurus Lakpesdam ataupun dari Aktivis IPPNU, PMII Kota Malang merespon apik. Beberapa diantaranya bahkan bersedia menjadi relawan demi suksesnya acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara Jagongan Nahdliyin akan dimulai pukul 18.00-selesai, “Semua sudah Ready, tinggal eksekusi besok” pungkas Mahphoer. (Diana Manzila/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



KH Abdul Hayyie Nai’m lahir di Cipete, Jakarta Selatan pada tahun 1940. Ia adalah putra ulama Betawi, KH Muhammad Na’im yang berasal dari Cipete, dan Hj Mardhiyah yang asal Mampang.?

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ia meneruskan ke Raudlatul Muta’alimin Mampang. Saat berusia 14 tahun, ia dikirim untuk menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur atas anjuran Kiai Razzaq, pengasuh Raudlatul Muta’alimin Mampang.

Di Tebuireng, Abdul Hayyie muda menjadi santri istimewa dan merupakan santri kesayangan Kiai Idris, gurunya. Dianggap sebagai anak, Abdul Hayyie muda pun dilarang terlalu sering pulang ke Jakarta.

Pada tahun 1960, Abdul Hayyie diizinkan pulang dari Tebuireng. Ayahnya beralasan akan memberangkatkan Kiai Abdul Hayyie menunaikan ibadah haji. Kiai Muhammad Na’im sangat menginginkan anaknya belajar di Makkah.?

Di Makkah, Abdul Hayyie belajar di Pesantren Darul Ulum, asuhan Syekh Yasin Al-Padangi, ulama besar Makkah kelahiran Minangkabau. Ia satu kelas dengan Kholil Bisri putra KH Bisri Musthofa Rembang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tahun 1965, bersama Hambali Maksum dan Mahfudzh Ridwan, ia hijrah ke Baghdad, Irak berbekal tiket yang dibeli dengan uang terakhir yang mereka miliki. Mereka mendaftar di Fakultas Sastra Baghdad University. Di Baghdad pula, Abdul Hayyie bertemu dan kemudian bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Abdul Hayyie meraih gelar Lc pada tahun 1970. Tetapi ia tidak segera pulang ke Indonesia. Ia lebih dulu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Yordania, Turki, dan Beirut sebelum akhirnya pulang ke Indonesia tiga tahun kemudian.

Di Cipete, ia segera terjun dalam aktivitas dakwah dan taklimnya. Ia mengasuh pengajian dan Madrasah An-Nur, peninggalan ayahnya, dan berbagai madrasah dan majelis taklim lain di Jakarta Selatan dan Depok.

Kiai Abdul Hayyie mengaku miris menyaksikan kekejian dan kesadisan yang dilakukan oleh sesama manusia. Menurutnya, Jakarta sekarang ini ibarat hutan belantara yang dihuni binatang buas.

Ia sangat mengkhawatirkan perkembangan masyarakat mendatang. Kepeduliannya terhadap remaja itu menggerakkan hatinya mendampingi Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengasuh Majelis Taklim Nurul Mustafa, yang sebagian besar jamaahnya adalah para remaja. Diolah dari berbagai sumber. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Santri, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock