Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal -

Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor se-Solo Raya beserta Pimpinan Wilayah Jawa Tengah mengadakan kegiatan Napak Tilas “15 Syuhada” di Jagir, Dragan, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (24/3). Agenda ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Harlah GP Ansor ke-83.

Kegiatan napak tilas ini semula diselenggarakan oleh PC GP Ansor-Banser Boyolali, namun pada penyelenggaraan kali ini, diikuti para peserta dari PC GP Ansor-Banser se-Solo Raya.

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoiruddin Ahmad mengatakan acara Napak Tilas ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para tokoh NU dan Ansor di daerah tersebut, yang gugur dalam memperjuangkan Islam.

“Napak tilas serta haul di monumen Syuhada 15, semoga juga menambah semangat kita, walaupun sampai mempertaruhkan nyawa, seperti yang dialami para pemimpin Islam di Jagir Musuk ini,” kata dia.

Rute kegiatan Napak Tilas berakhir di kompleks Pemakaman Jagir, Desa Dragan, Kecamatan Musuk. Di tempat tersebut, dimakamkan beberapa tokoh NU, Ansor, Banser, dan pejuang Islam lainnya, yang gugur karena dibunuh oleh PKI pada tahun 1965.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain diadakan Napak Tilas, panitia juga menggelar acara peringatan haul yang diisi dengan pengajian dzikir dan shalawat, Sabtu (25/3) malam. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Maret 2018

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bersama Banser dan warga di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan sepanjang hari membersihkan rumah dari endapan lumpur berbaur sampah sisa banjir, Rabu (25/1). LPBI NU juga memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir berupa paket Cleaning Kits dan Family Kits untuk kurang lebih 500 warga.

Pemberian bantuan ini didasarkan pada assessment yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU selama di lokasi bencana.

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Distribusikan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Kuningan

Menurut Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU Asbit Panatagara, berdasarkan informasi dari masyarakat, kejadian banjir bandang di daerah Cibingbin disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi dan salah satu saluran air berupa transporter mengalami kerusakan. Untuk itu, pihaknya meminta masyarakat tetap waspada. Walaupun berdasarkan perkiraan cuaca, intensitas hujan hari ini ringan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PP LPBI NU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah, masyarakat, dan lembaga usaha di Kuningan khususnya di daerah terdampak banjir untuk melakukan kajian risiko bencana agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko, dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hasil kajian risiko bencana itu nantinya dapat dijadikan acuan semua pihak dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan mengintegrasikannya dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

Dengan begitu, Ali Yusuf berharap ke depan rencana dan tindakan konkret untuk penanggulangan bencana banjir dapat segera dirumuskan agar kejadian yang sangat merugikan itu tidak terulang lagi di masa mendatang.

Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan terendam banjir akibat luapan Sungai Jangkelok, Desa Cibingbin. Tujuh desa itu adalah Sindang Jawa, Cipondok, Sukaharja, Cibingbin, Citenjo, Ciangir, dan Dukuhbadag.

“Banjir ini disebabkan luapan air Sungai Jangkelok. Air sungai mulai meluap ke pemukiman warga sejak pukul 16.30 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Agus Mauludin, Ahad (22/1).

Banjir arus sungai berbaur lumpur dan sampah juga sempat menggenangi sejumlah kantor desa, sekolah, masjid, mushalla, serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Bahkan kantor kecamatan dan markas Koramil Cibingbin di Desa Sukaharja juga turut terkena banjir tersebut, dengan kedalaman bervariasi, mulai semata kaki hingga lebih dari satu meter. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Maret 2018

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Oleh Mohammad Subhan Zamzami

Situasi politik tanah air pasca Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu dinilai kurang kondusif. Tidak seperti Pilpres sebelumnya, Pilpres tahun 2014 seakan memecah rakyat Indonesia menjadi dua kubu. Perseteruan dua kubu ini sangat berbau SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan), yang kemudian memuncak pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, dan agaknya akan terus memanas hingga Pemilihan Presiden tahun 2019. Sayangnya, pihak yang berseteru ini tidak hanya memicu gesekan pemeluk antaragama, tapi juga menyulut kembali gesekan pemeluk seagama yang memiliki perbedaan pandangan keagamaan dan politik.

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Dalam konteks Islam, situasi seperti ini seakan menggiring kita melihat pra dan pasca fitnah kubra (tragedi politik besar) yang merenggut banyak korban jiwa, baik dari kubu ‘Ali ibn Abu Thalib maupun dari kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Imbas fitnah kubra ini masih sangat terasa hingga saat ini, seperti perbedaan pandangan keagamaan dan politik. Perbedaan pandangan keagamaan ini, misalnya, melahirkan aliran-aliran kalam di kalangan umat Islam. Sedangkan perbedaan pandangan politik di antara mereka setidaknya melahirkan empat kubu, yaitu kubu ‘Ali ibn Abu Thalib, kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, kubu Khawarij, dan kubu sebagian sahabat.

Kubu ‘Ali memainkan high politics dengan berusaha mempertahankan idealisme dan nilai luhur Islam dengan tidak terjebak pada politisasi agama, meski pada akhirnya mereka menyerah pada desakan sebagian pendukungnya yang kemudian membelot, sehingga mereka dikalahkan oleh kecerdikan ‘Amru ibn al-‘Ash, juru runding kubu Mu’awiyah. Kubu Mu’awiyah lihai memainkan isu-isu agama untuk melegitimasi kepentingan politiknya, sehingga mudah meraih simpati masyarakat dengan segudang prestasi dan kebobrokannya sekaligus.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kubu Khawarij memainkan politik Islam simbolis yang kaku, sehingga mereka akan selalu beroposisi melawan siapa pun penguasa yang tidak sesuai dengan pandangan keagamaan dan politik mereka. Kubu terakhir, kubu sebagian sahabat, lebih suka mengasingkan diri dengan tidak melibatkan diri berlarut-larut dalam pertikaian politik, karena bagi mereka sikap seperti ini lebih baik meski mereka juga sadar bahwa pada akhirnya mereka juga akan dianggap salah oleh kubu lain. Perbedaan pandangan keagamaan dan politik mayoritas umat Islam saat ini hanya representasi dari masa tersebut.

Salah satu tokoh besar pada masa itu adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar (w. 72/73 H), sahabat sekaligus putra ‘Umar ibn al-Khatthab. Ibn ‘Umar merupakan sahabat terkemuka periwayat hadis terbanyak kedua dengan jumlah periwayatan sebanyak 2630 hadis. Dalam Shahih al-Bukhari, al-Bukhari menulis dua hadis tentang pandangan keagamaan dan politik ‘Ibn ‘Abbas, yang mengindikasikan bahwa ia berada pada kubu terakhir yang lebih suka mengasingkan diri dengan tidak larut dalam perselisihan, yaitu hadis ke-4513 dan hadis ke-4515. Hadis ke-4513, misalnya, mengisahkan Ibn ‘Abbas tidak ikut serta dalam tragedi Ibn al-Zubair, sehingga ada dua orang datang menghadap kepadanya untuk mempertanyakan sikapnya tersebut.

Pada saat itu, ia berkata, “Saya tidak ikut karena sesungguhnya Allah mengharamkan pertumpahan darah atas saudaraku.” Mendengar jawaban tersebut, dua orang tadi menggunakan ayat Alquran wa qatiluhum hatta la takuna fitnah? (dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi) untuk menekannya. Tapi Ibn ‘Umar menyanggah mereka dengan berkata, “Kami berperang agar tidak terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk Allah, sedangkan kalian ingin berperang agar terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk selain Allah.”

Sedangkan hadis ke-4515 mengungkapkan pandangan politik Ibn ‘Umar. Dalam hadis tersebut, ada seorang laki-laki datang menghadapnya untuk mempertanyakan pandangannya tentang kepribadian ‘Utsman ibn ‘Affan dan ‘Ali ibn Abu Thalib. Sebagaimana diketahui, ‘Utsman mewakili Bani Umayah, sedangkan ‘Ali mewakili Bani Hasyim. Dua klan besar ini bertikai sejak sebelum masa Nabi Muhammad Saw. hingga beratus-ratus tahun setelahnya.

Mendapat pertanyaan tersebut, Ibn ‘Umar menjawab, “Allah telah mengampuni ‘Utsman, tapi kalian berat memaafkannya. Sedangkan ‘Ali adalah sepupu Rasulullah Saw.” Jawaban Ibn ‘Umar ini menunjukkan bahwa ia lebih suka mendamaikan pihak-pihak yang berseteru, bukan justru semakin memperkeruh keadaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ?

Penting diketahui bahwa al-Bukhari mencantumkan dua hadis tersebut untuk menafsirkan salah satu ayat perang atau jihad yang kerap disalahtafsirkan oleh kaum jihadis, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 193 Wa qatiluhum hatta la takuna fitnah wa yakuna al-din li Allah fa inintahau fa la ‘udwan illa ‘ala al-dzalimin (Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan [sehingga] ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti [dari memusuhi kalian], maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim), yang menunjukkan bahwa al-Bukhari sependapat dengan Ibn ‘Umar.

Nah, di tengah memanasnya situasi politik tanah air, moderasi Ibn ‘Umar dalam konflik menemukan relevansinya. Oleh karena itu, menggemakan kembali moderatisme Ibn ‘Umar dalam konflik sangat penting, sehingga sosok-sosok Ibn ‘Umar baru akan muncul untuk menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara kembali kondusif. Sebab salah satu faktor memanasnya situasi politik tersebut adalah penyalahgunaan simbol-simbol agama, baik karena disengaja untuk kepentingan politik maupun karena minimnya wawasan keislaman sebagian pihak yang selama ini selalu mengatasnamakan Islam untuk membenarkan aksi-aksinya.

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Bagaimana Membaca NU?

Oleh KH Abdurrahman Wahid

--Sejak kemerdekaan kita, perdebatan masalah-masalah kemasyarakatan kita senantiasa di dominasi oleh pertukar-pikiran antara kaum elitis melawan kaum populis. Memang ada suara-suara tentang Islam, seperti yang dikembangkan oleh Bung Karno dan lain-lain, tetapi itu semua hanyalah meramaikan situasi yang tidak menjadi isu utama.

Masalah pokok yang dihadapi adalah bagaimana selanjutnya Indonesia harus dibangun –yang dalam “bahasa agung” disebut “mengisi kemerdekaan”. Kalangan elitis, selalu menggunakan rasio/akal dan argumentasi mereka senantiasa bernada monopoli kebenaran. Mereka merasa sebagai yang paling tahu, rakyat hanyalah orang kebanyakan yang tidak mengerti persoalan sebenarnya.

Bagaimana Membaca NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Membaca NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Membaca NU?

Kalau rakyat mengikuti pendapat kaum elitis ini, tentu mereka akan pandai pada “waktunya kelak”. Sebaliknya, kaum populis senantiasa mengulangi semangat kebangsaan yang dibawakan para pemimpin, seperti Bung Karno, selalu mempertentangkan pendekatan empirik dengan “perjuangan ideologis”.

Tentu saja, cara berdialog semacam ini tidak memperhitungkan bagaimana kaum Muslim tradisionalis –seperti warga NU (Nahdlatul Ulama)-, menyusun pendapat dan pandangan dan mendasarkan hal itu pada asumsi yang tidak dimengerti, baik yang oleh golongan elitis maupun oleh golongan populis. Demikianlah, dengan alasan-alasaan keagamaan yang mereka susun sendiri, kaum Muslimin yang hadir dalam Muktamar NU di Banjarmasin (Borneo Selatan) tahun1935 memutuskan kawasan ini tidak memerlukan Negara Islam. Keputusan Muktamar NU ini menjadi dasar, mengapa kemudian para pemimpin berbagai gerakan di negeri ini kemudian mengeluarkan Piagam Jakarta dari Undang-Undang Dasar (UUD) kita. Jadilah negeri kita sebuah Negara Pancasila dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang tetap lestari hingga hari ini. Dan, kelihatannya tidak akan berubah seterusnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada tanggal 22 Oktober 1945, PBNU (hoofdbestuur NU), yang waktu itu berkedudukan di Surabaya mengeluarkan Resolusi Jihad, berisikan untuk mempertahankan dan memperjuangkan Republik Indonesia (RI) adalah kewajiban agama atau disebut sebagai ? jihad, walaupun NKRI bukanlah sebuah Negara Islam atau lebih tepatnya sebuah Negara agama. Di sini tampak, bahwa kaum muslimin trasidional dalam dua hal ini mengembangkan jalan pikiran sendiri, yang tidak turut serta dalam perdebatan antara kaum elitis dan populis. Namun, mereka tidak menguasai media khalayak (massa) dalam perdebatan di kalangan ilmuwan. Karena itulah, mereka dianggap tidak menyumbangkan sesuatu kepada debat publik tentang dasar-dasar negara kita.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

*****

Dalam sebuah harian (Kompas, Senin 8/9/2003), seorang sejarawan membantah tulisan penulis yang mengatakan Sekarmadji M. Kartosoewirjo adalah asisten/staf ahli Jenderal Besar Soedirman di bidang ? militer. Dengan keahliannya sebagai politisi bukankah lebih tepat kalau ia menjadi staf ahli beliau di bidang sosial-politik? Pengamat ? tersebut lupa bahwa ? asisten/staf ahli beliau saat itu dijabat oleh ayahanda penulis sendiri, KH. A. Wahid Hasjim, dan Kartosoewirjo sendiri memang berpangkat tentara/militer ? sebagai akibat dari integrasi Hizbullah ke dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia). Jenderal Besar Soedirman sendiri juga tidak pernah menjabat pangkat militer apapun sebelum bala tentara Jepang datang kemari dan menduduki kawasan yang kemudian disebut sebagai NKRI. Dari penjelasan di atas menjadi nyata bagi kita, bahwa layak-layak saja S.M. Kartosoewirjo menjadi asisten/staf ahli Panglima APRI di bidang militer. Bahwa ia kemudian mempergunakan DI/TII sebagai alat pemberontakan, adalah sesuatu yang lain?

sama sekali. Dan sang sejarawan lupa bahwa penulusuran sejarah tidak hanya harus didapat dalam sumber-sumber tertulis, tapi juga sumber-sumber lisan.?

Dari kasus NII dapat kita lihat, bahwa di masa lampau -pejabat-pejabat negara- juga ada yang membaca secara salah hal-hal yang ada di luar diri mereka dengan cara berpikir yang lain dari ketentuan dan kesepakatan berdirinya negara kita. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan cara memandang persoalan, apalagi yang berkenaan dengan ambisi politik pribadi atau karena pertimbangan-pertimbangan lain. Dalam hal ini, yang paling mencolok adalah jalan pikiran NU yang tidak memandang perlu adanya Negara Islam. Kalau ditinjau dari adanya peristiwa itu sendiri, jelas bahwa perbedaan pemahaman itu timbul dari cara berpikir keagamaan yang kita lakukan. Bagi NU, hukum agama timbul dari sumber-sumber tertulis otentik (adillah naqliyyah) yang diproyeksikan terhadap kebutuhan aktual masyarakat. Sedangkan gerakan-gerakan Islam lainnya langsung mengambil hukum tertulis itu dalam bentuk awal, yaitu berpegang secara letterlijk (harfiyah) dan tentu saja tidak akan sama hasilnya.

Bahkan, diantara para ulama NU sendiri sering terjadi perbedaan paham, karena anutan dalil masing-masing saling berbeda. Sebagai contoh dapat digambarkan bahwa hampir seluruh ulama NU menggunakan ru’yah (penglihatan bulan) untuk menetapkan permulaan hari Idul Fitri. Tetapi, alm. KH. Thuraikhan dari Kudus justru menggunakan hisab (perhitungan sesuai almanak) untuk hal yang sama. Sedangkan diantara para ahli ru’yah sendiri, terdapat perbedaan paham. Seperti antara alm. KH.M Hasjim Asj’ari –Ra’is Akbar NU dengan KH. M. Bisri Sjansuri, -wakil Khatib ‘Aam/wakil sekretaris Syuriyah PBNU-, yang bersama-sama melakukan ru’yah di Bukit Tunggorono, Jombang namun ternyata yang satu melihat dan yang lain tidak. Hasilnya, yang seorang menyatakan hari raya Idul Fitri keesokan harinya, sedangkan yang lain menyatakan hari berikutnya. Jadi, walaupun sama-sama mengikuti jalan pikiran ushul-fiqh (teori hukum Islam), namun dapat mencapai hasil yang saling berbeda. Karena Perbedaan pendapat memang diperkenankan dalam pandangan fiqh, yang tidak diperkenankan adalah terpecah-belah. Ayat al-qur’an jelas dalam hal ini; “Berpeganglah kalian pada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah” (Wa’tashimu bi Habli Allahi Jami’an wa la Tafarraqu).

*****

Nah, dalam soal-soal bertarap kebangsaan dan kenegaraan, -seperti penetapan orientasi bangsa,- jelas bahwa kita harus menerima perbedaan pandangan, karena semuanya di dasarkan oleh argumentasi masing-masing. Karena itu ketika ada pendirian berbeda antara pihak seperti NU dengan kaum muslimin lainnya, maka kata akhirnya bukanlah dari pihak yang mengemudikan negara (pemerintah), melainkan hasil pemilihan umum yang menjadi acuan. Kalau ini tidak dipahami dengan baik, tentu akan ada usulan-usulan yang ditolak atau ditunda oleh partai-partai, para aktifis, para wakil organisasi Islam di satu pihak dengan elemen bangsa lain yang tidak secara resmi mendukung atau menolak gagasan kenegaraan yang diajukan. Inilah yang senantiasa harus kita ingat setiap kali membahas “kesempitan pandangan” dari beberapa agama yang besar, seperti serunya perbedaan antara pihak yang mengharuskan dengan pihak yang tidak pernah melihat pentingnya “keterwakilan rakyat”.

Karena Partai Kebangkitan Bangsa –yang memiliki ikatan historis dengan NU- bukanlah sebuah partai Islam, maka tidak perlu terlalu mementingkan ajaran formal Islam dalam setiap penagambilan keputusan. Cukuplah kalau lembaga yang menetapkan Undang-Undang (UU) itu bergerak mengikuti prosedur kelembagaan yang ditopang oleh UU, pakar hukum agama dan segenap pemikiran masyarakat. Pendapat para pakar hukum agama ini menjadi pertimbangan pembuatan hukum bukan pelaksanaannya. Di sinilah diperlukan kearifan dunia hukum nasional kita, untuk juga memperhitungkan pendapat yang dilontarkan masyarakat dan berasal dari para pakar hukum agama.

Dengan demikian, kita sampai kepada hal-hal yang berkenaan dengan pandangan kaum Muslimin Sunni tradisional dalam kehidupan bangsa kita. Dalam hal-hal yang sifatnya fundamental bagi kehidupan agama di negeri kita, jelas hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama tidak dapat ditolerir, umpamanya saja, mengenai keyakinan akan ke-Esaan Tuhan (tauhid). Hal-hal semacam ini tidak dapat dibiarkan dan harus diperjuangkan sehabis daya oleh kaum Muslimin sendiri. Sebaliknya, hal-hal yang tidak bersifat fundamental bagi keyakinan agama ? seseorang, tentu saja masih diperlukan tela’ahan lebih jauh dan dapat ditolerir perubahan-perubahannya. Bukankah al-qur’an sendiri yang justru menyatakan “dan Ku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal “. Dari hal ini dapat diharapkan, di masa depan produk-produk hukum kita akan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pengetahuan kita.?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Koran Duta Masyarakat, 22 September 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, RMI NU, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

Temanggung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Jaringan GUSDURian Kabupaten Temanggung menyumbang belasan water torrent (tampungan air) jumbo untuk warga korban bencana kekeringan di Kabupaten Temanggung. Organisasi lintas agama ini juga menyumbang pompa air untuk masjid yang mengalami kerusakan pompa air untuk kebutuhan berwudlu.

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

Koordinator Jaringan GUSDURian Temanggung, Abaz Zahrotien, mengatakan bantuan water torrent dikirimkan ke Desa Tlogopucang dan Desa Wadas Kecamatan Kandangan dan Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran. Bantuan ini diberikan untuk wadah penampung dropping air dari pemerintah yang langsung disalurkan ke jerigen yang dibawa warga.?

"Kalau menggunakan jerigen langsung banyak air yang terbuang. Jadi kami berikan torrent dengan maksud untuk menampung air agar tertampung dengan baik," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan, bantuan tersebut diperoleh dari dana sumbangan para dermawan dari berbagai agama seperti Islam, Katolik, Budha, Hindu, Kristen dan Konghuchu. Dari dana yang terkumpul sebagian dibelikan water torrent dan sebagian lainnya dibelikan pompa air serta air bersih untuk digunakan warga.?

"Ini program tahunan kami dan semakin tahun ternyata donaturnya semakin besar. Kami berharap apa yang kami lakukan dapat mengurangi beban masyarakat," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Paroki Gereja Katholik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, Petrus Santoso, menjelaskan, setelah mendapatkan peta potensi kekeringan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, pihaknya langsung mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di wilayah penghasil tembakau ini. Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan akan melakukan aksi sosial secara kolektif membantu korban bencana kekeringan.?

"Dalam hal ini kami tidak lagi memandang saya Katolik, anda Islam dan sebagainya, tetapi ini melihat sisi kemanusiaannya," imbuhnya.

Kepala Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Tohirin, menambahkan, pihaknya merasa sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan komunitas lintas agama ini. Menurutnya, apa yang dilakukan organisasi ini merupakan langkah strategis untuk membantu warganya yang selama musim kemarau mengalami krisis air.?

"Disini ada 9 dusun dengan jumlah jiwa lebih dari 7.000 orang. 90 persen diantaranya mengalami krisis air dan untuk mendapatkan air paling dekat harus menempuh jarak 13 kilometer sampai 20 kilometer," terangnya.

Pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk memberikan solusi permanen atas bencana ini. Menurutnya, pemerintah harus membuat lebih banyak sumur bor dan atau saluran air dari mata air yang tersedia.?

"Kita bisa mengambil air dari mata air di Sumowono (Kabupaten Semarang) untuk mengatasi kekeringan secara permanen," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Pesantren, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Radikalisme Agama di Indonesia

Oleh Mohammad Sahlan



Pasca lengsernya Presiden Soeharto yang ditandai dengan berawalnya era reformasi Indonesia, rakyat Indonesia menghirup angin segar atas kebebasan berpendapat. Kabar baik ini dilegitimasikan oleh DPR dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum sekaligus menunjukkan komitmen negara sebagai penganut sistem demokrasi (Pancasila). Selain sebagai kabar baik, UU tersebut juga menjadi sebuah kabar buruk—ibarat dua belah mata pisau yang tajam ke depan dan belakang—bagi bangsa Indonesia, yakni terancam masuk dan berkembangnya ideologi non-Pancasila dalam masyarakat. Perkembangan ideologi non-Pancasila dalam konteks ini dianggap mengancam negara apabila dipahami secara radikal oleh penganutnya dan bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara.

Radikalisme Agama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Agama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Agama di Indonesia

Ancaman fundamentalisme agama tidak hanya sekedar ancaman “penyakit nalar” seseorang dalam melihat sesuatu, akan tetapi lebih jauh dari itu. Di Jakarta pada tahun 1998 misalnya didirikan organisasi Laskar Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Muhammad Rizieq Shihab dan aktivitas utamanya adalah melakukan serangan secara fisik ke “tempat-tempat maksiat” menurut kacamata ideologi mereka. Tindakan main hakim sendiri ini dapat dinilai bahwa mereka telah melakukan kekerasan tanpa dasar hukum negara atas penegakan syariat Islam. Terjadi peristiwa mengenaskan juga, beberapa bom bunuh diri yang didalangi oleh kelompok JI (Jamaah Islamiyah)—yang merupakan organisasi fundamentalisme Islam—pada malam Natal tahun 2000 di Bali dan 2002 di hotel Marriot Jakarta memakan korban yang semuanya adalah non muslim. Kasus Bom bunuh diri ini juga terjadi lagi di tahun berikutnya: Bom Bali II 2005, Bom Tentena 2005, Bom Solo 2011 dan 2012, dan Bom Sarinah 2016 silam.

Di tahun 1982 bersamaan masih jayanya Orde Baru dibentuklah organisasi cabang Hizbut Tahrir Indonesia—yang merupakan organisasi pengusung sebuah negara dan masyarakat Islam global atau kekhalifahan universal, di tingkat internasional bernama Hizbut Tahrir Internasional—namun karena menolak demokrasi, organisasi ini baru dapat beroperasi lebih leluasa pasca jatuhnya rezim Soeharto. Di tahun berikutnya (1998) didirikan juga oleh aktivis gerakan tarbiyah yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin Mesir sebuah partai politik baru yang bernama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan bertujuan untuk memperjuangkan syariah Islam dengan jalur demokrasi. Kemudian di beberapa tahun terakhir (2004) partai ini bersifat lebih sedikit pragmatis agar memperoleh suara dalam pemilu, namun tidak meninggalkan unsur “syariat Islam”nya.?

Data terkini terkait ideologi negara yang diinginkan mahasiswa pernah dihasilkan dari penelitian aktivis Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (GMPI) tahun 2006 yang dimuat dalam Koran Kompas 4 Maret 2008 halaman 2. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa 4,5% mahasiswa tetap sepakat bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa. Dilanjutkan 80% mahasiswa berikutnya lebih menyetujui syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara, dan 15,5 % sisanya memilih sosialisme sebagai acuan hidup. Responden penelitian diambil dari 11 kampus besar di Indonesia, UI, UGM, ITB, IPB, Unair, Unibraw, Unpad, Unhas, Unand, Unsri, dan Unsyiah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tahun 2016 lalu, Saidi dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga merilis hasil survey terhadap mahasiswa di kampus umum. Beberapa temuanya, 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan, sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru menyatakan setuju dengan penerapan syariat Islam. Sementara di tahun sebelumnya 4% penduduk Indonesia menyetujui negara ISIS, dan 5% diantaranya adalah mahasiswa. Beberapa organisasi yang disebut menyebarkan ideologi ini adalah KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Salafi, dan HTI, di mana mereka juga disebut sebagai penguasa perpolitikan mahasiswa saat ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain dalam tingkat mahasiswa, terdapat penelitian juga yang menyebutkan bahwa radikalisasi agama telah menjangkit masyarakat sejak dari siswa. Penelitian ini dilakukan oleh Rokhmad (2012) dengan menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, paham radikal telah merasuk ke siswa yang memiliki pengetahuan agama minim melalui guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah berideologi Islam radikal. Kedua, Kegiatan mabit dan daurah dalam organisasi ekstra Kerohanian Islam (rohis) di sekolah sangat rentan menjadi sasaran kegiatan ideologisasi Islam radikal khususnya di sekolah umum. Ketiga, dalam buku paket dan LKS bermunculan berbagai pernyataan yang mendorong siswa untuk membenci atau anti terhadap agama atau bangsa lain. Data-data di atas menunjukkan bagaimana penyebaran dan ancaman radikalisme di Indonesia saat ini.

Paham radikalisme agama di Indonesia sebenarnya sudah mulai nampak sebelum negara Indonesia terbentuk. Kebijakan politik etis Kolonial Belanda terhadap masyarakat Hindia Belanda (Nusantara) memberi kesempatan pada haji-haji pribumi untuk melakukan ibadah haji ke Makkah. Dengan intensitas yang awalnya minim, kemudian mendekati awal abad 20 menjadi semakin bertambah, banyak orang Nusantara yang juga belajar agama di Makkah. Pada saat itu kondisi politik di Arab juga sedang mengalami pergolakan, yakni banyak munculnya gerakan pembaharuan Islam yang ditokohi oleh Al Afghani, Rasyid Rida, dan Muhammad Abduh. Gerakan ini mengangkat kembali ide pemurnian Islam atau puritanisme—yang secara arti berdekatan dengan radikalisme Islam—namun konteksnya adalah untuk melawan penjajahan (Eropa) masa itu. Hasil dari pendidikan orang Nusantara tadi melahirkan tokoh seperti Ahmad Dahlan (Muhamadiyah), Hamka, Tahir Tamaluddin, Surkati (Persis) dan beberapa tokoh lainya, yang kemudian menjadi tokoh pembaharu Islam (modernisme Islam) yang berbeda dengan Islam tradisional.

Demikian juga konteks sejarah muncul wacana radikalisme/fundamentalisme Islam yang kemudian dicap teroris—selain dari runtuhnya Orde Baru jika di Indonesia— oleh Barat adalah pasca peristiwa ditabraknya WTC pada 11 September 2001 oleh milisi Taliban. Peristiwa ini memberikan sebuah pukulan besar bagi Amerika, karena menewaskan banyak warganya. Atas dasar ini, mereka mencap Islam sebagai teroris. Pelabelan ini, bahkan tidak hanya ditujukan pada kaum fundamental Islam, tetapi semua umat Islam di dunia. Ketegangan ini juga mengakibatkan wacana dunia internasional tentang radikalisme agama (Islam) dan terorisme menjadi perhatian utama di abad 21. Hubungan antara Amerika dengan fundamentalis Taliban awalnya terjadi karena misi penguasaan minyak di Asia Tengah oleh Amerika. Meskipun akhirnya Taliban membelot dan malah menyerang WTC. Peristiwa ini dapat dilihat bahwa berkembangnya paham radikal berkaitan erat juga dengan geopolitik-ekonomi dunia. Sehingga tidak menutup kemungkinan ? juga dengan di Indonesia, bahwa gerakan radikalisme Islam juga memiliki keterkaitan yang sama dengan ekonomi-politik yang ada di Indonesia sendiri maupun di dunia. (bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus IPNU-IPPNU Kota Tegal mengadakan latihan bagi calon fasilitator pertama di Gedung NU Kota Tegal jalan Wisanggeni, Tegal, Ahad (4/10). Peserta pelatihan dipersiapkan agar memiliki bekal yang cukup dalam pelbagai kegiatan kaderisasi di lingkungan pelajar NU.

Pembina IPNU Kota Tegal Imam Tantowi berharap peserta pelatihan dapat berbagi materi yang didapat pada pelatihan ini kepada para kader yang ada di Kota Tegal ini.

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Ketua IPNU Kota Tegal Zahrudin menegaskan bahwa dalam pelatihan ini bukan hanya kuantitas yang dikembangkan tetapi kualitas kader yang lebih dikedepankan. Ia yakin pelatihan ini akan mencetak kader fasilitator yang andal dan inovatif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua panitia pelatihan Nur Izzatul Millah menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk melatih para calon fasilitator dalam rangka menyukseskan program kaderisasi. Rencana ke depan IPNU dan IPPNU Tegal akan mengadakan kaderisas keliling.

Pengurus IPNU-IPPNU yang sudah menjadi fasilitator akan diterjunkan ke semua pimpinan ranting. Mereka akan membimbing setiap pekan selama dua bulan berturut–turut guna peningkatan kualitas kader di setiap ranting.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelatihan berlangsung selama dua hari ini mendapat bimbingan dari fasilitator IPNU-IPPNU Jawa Tengah. “Dari hasil roadshow pengaderan, masing-masing perwakilan akan diikutsertakan di Makesta Raya di tiap kecamatan, pada Desember mendatang,” pungkas Nur Izzatul Millah.

Hadir dalam kesempatan ini para pembina IPNU lainnya seperti Sofyan Efendi, Hasan Mustota, Aziz Putra, dan Rizki. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto menyatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran atau mazhab baru. Ia mengatkaan hal itu pada “Ngaji Sejarah” sesi tiga pdaa peringatan Harlah NU ke-91 di gedung PBNU, Selasa (31/1).

Kiai Agus mengatakan hal itu karena ada beberapa kalangan beranggapan bahwa Islam Nusantara merupakan ikon Islam-nya NU dan orang Jawa.?

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa

"Tidak benar jika Islam Nusantara hanya milik NU dan Jawa. NU adalah kelanjutan Wali Songo. Tokoh-tokoh Wali Songo banyak yang berasal dari Pasai, Aceh. Sosok Wali Songo mewakili Nusantara karena berasal dari berbagai daerah. Sunan Ampel dari Champa, Vietnam. Hanya saja, beliau dimakamkan di Jawa. Cuma yang memperkuat tradisi Wali Songo ya di Jawa," jelasnya.

Islam Nusantara, lanjutnya, sebagai pembendung arus globalisasi yang mengalir deras. Salah satunya dengan memperkokoh tradisi Nusantara seperti kenduri, slametan dan lain-lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Globalisasi telah menggerus budaya, etnis dan agama,” kata penulis “Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”.?

Ia mencontohkan saat ini nama anak-anak desa berubah dari generasi sebelum. Har ini mereka menggunakan nama tidak dari kebudayaannya sendiri, tap dari luar. Orang Jawa misalnya, tidak lagi mencerminkan kejawaannya.?

“Di sinilah, Islam Nusantara diposisikan ? sebagai proyek bersama untuk menghadapi dunia global,” pungkasnya. (Nor Elysa Rahmawati/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Tangerang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H, Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) melaksanakan program NUcare dengan pengobatan gratis di Kampung Encle Kabupaten Tangerang Banten pada Sabtu (7/6).

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Ketua LAZISNU KH Masyhuri Malik mengatakan, kegiatan yang dikerjasamakan dengan BPZIS Mandiri ini berupaya untuk membangkitkan semangat berbagi dan bersedekah kepada golongan yang berhak mendapatkan (mustahiq). “Kegiatan pengobatan gratis merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan lazisnu dalam menyambut bulan suci di tahun sekarang dengan tema “Bangkit Sedekah,” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Senin (9/7).

Kiai Masyhuri menjelaskan, Bangkit Sedekah adalah membangkitkan budaya bersedekah di kalangan umat Islam Indonesia, terutama warga NU untuk kemandirian umat. Bersedekah adalah budaya baik warisan para pendahulu, baik para kiai dan para ulama. “Dengan Bangkit Sedekah, LAZISNU akan menjadi motor penggerak bagi kebangkitan dan energi segar untuk menuju cita-cita kemakmuran masyarakat Indonesia,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Masyhuri melanjutkan, kemandirian dengan Bangkit Sedekah itu kita mulai dari LAZISNU. Lembaga zakat NU tersebut selalu memberikan semangat kepada para kadernya untuk bersama-sama dan bahu-membahu dalam menyiarkan kebangkitan kemandirian umat dengan Bangkit Sedekah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LAZISNU, tambah kiai Masyhuri, sadar instrumen kemandirian umat itu harus dimulai dari lembaga zakat. Karena lembaga zakat secara posisi menjadi garda terdepan dalam memberikan tarbiyah kepada para penerima hak (mustahiq). “Maka semua program distribusi LAZISNU (Nusmart , Nucare, Nupreneur, Nuskil) selalu bermuara dalam memberikan stimulan kepada mustahiq supaya mereka menjadi mandiri,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bulan Ramadhan merupakan bulan Sedekah penuh rahmah. Bulan berkah ini akan dijadikan momentum untuk Program Bangkit sedekah lazisnu sekaligus upaya pencapaian target LAZISNU di tahun 2014. “Program Bangkit Sedekah, Lazisnu mengajak ke semua masyarakat untuk bersedekah di LAZISNU sesuai dengan program Ramadhan 1435 H,” ajaknya.  

Kiai Masyhuri menyebutkan, program "berbagi berkah puasa", yaitu paket buka puasa untuk komunitas marginal Jabodetabek, anak jalanan, pemulung, pesisir. Sedekah untuk kegiatan tersebut adalah Rp 50.000,-/paket.

Sementara program "berbagi sahur tanda syukur" untuk kampung padat penduduk, pesisir dengan sedekah Rp 50.000,-/paket. Serta "bingkisan lebaran", untuk dhuafa, marbot, penjaga stasiun, supir bajaj dengan sedekah @300.000,-/paket. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Setoran Biaya Haji Tak Sesuai Syariah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Proses setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang berlangsung selama ini tidak sesuai dengan syara’. Karena, akad yang digunakan saat setoran tidak sesuai dengan maksud pemiliknya.

Setoran Biaya Haji Tak Sesuai Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Setoran Biaya Haji Tak Sesuai Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Setoran Biaya Haji Tak Sesuai Syariah

“Akadnya termasuk ijarah atau wadi‘ah fasidah,” kata Staf Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Sarmidi dalam sidang pleno.

Putusan itu merupakan hasil bahtsul masail nasional LBM PBNU di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, Selasa-Rabu (2-3/7).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Forum diikuti oleh Syuriyah PWNU se-Indonesia dan utusan dari sejumlah pesantren. Mereka menilai, pemilik dana BPIH sesudah disetor ke rekening Kemenag adalah calon jamaah haji. Sementara pemilik manfaat atau imbalan dari hasil pengelolaan dana BPIH yang telah disetor juga calon jamaah haji.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kalau calon jamaah haji pemilik dana BPIH, maka pengelolaan dana oleh Kemenag bersifat tasharruf fudluli. Tasharruf fudluli ialah praktik pengelolaan oleh pihak yang tidak berwenang.

Untuk itu, LBM PBNU mengusulkan akad wakalah antara calon jamaah haji dan Kemenag. Akad wakalah itu dituangkan dalam form dan dibaca oleh calon jamaah haji. Akad wakalah menyatakan pelimpahan wewenang calon jamaah kepada Kemenag untuk mengelola dan menggunakan dana BPIH untuk ibadah haji.

Usulan ini dimaksudkan agar penggunaan dana BPIH dan ibadah haji jamaah pengguna dana tersebut sesuai dengan syariah.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Dari Ranting ke Ranting, Kawal Pemuda Lewat Rijalul Ansor

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk lebih menggemakan kegiatan dzikir di kalangan pemuda, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menghidupkan kembali majelis dzikir melalui kegiatan shalawat Rijalul Ansor dari ranting ke ranting. Tidak hanya pengurus, kegiatan yang dipusatkan di masjid dan musholla di masing-masing ranting ini juga melibatkan pemuda setempat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua PC GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Syaba, Rabu (11/6) malam. Menurutnya, rijalul Ansor ini sangat penting dilakukan untuk membentengi para pemuda dari hal-hal yang negatif di tengah perkembangan zaman yang cukup pesat. “Kami memang mewajibkan para pengurus ranting untuk menggalakkan kegiatan Rijalul Ansor di lingkungannya masing-masing,” ungkapnya.

Dari Ranting ke Ranting, Kawal Pemuda Lewat Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ranting ke Ranting, Kawal Pemuda Lewat Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ranting ke Ranting, Kawal Pemuda Lewat Rijalul Ansor

Menurut Syaba, Rijalul Ansor tersebut diawali dengan istighotsah bersama-sama dan pembacaan shalawat burdah. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga terkadang diisi dengan kajian Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) yang dipimpin oleh para pengurus PC GP Ansor Kota Kraksaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Program rijalul Ansor ini merupakan gagasan dari PP GP Ansor agar para pengurusnya bisa menggemakan kembali shalawat dan dzikir bersama. Yang jelas, kami dari anak cabang secara rutin turun langsung ke tiap-tiap ranting secara bergantian,” jelasnya.

Dikatakan Syaba, kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk mengamalkan dan membentengi para kadernya Aswaja serta lebih dekat dengan masjid dan musholla. “Ini merupakan salah satu prasyarat keabsahan kepengurusan di masing-masing tingkatan jika ingin diakui dan memiliki hak suara dalam konferensi Ansor,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pergantian tahun baru Hijriyah, diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan iman dan taqwa. Segenap kebaikan di tahun lalu, mesti diniatkan untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya.

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Tahun Baru, Momen Peningkatan

“Momen tahun baru, ayo ada peningkatan. Dari yang jelek menjadi baik. Semisal kita ubah kebiasaan membuang sampah sembarangan, ini juga berat,” kata Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada pengajian Akbar Dzikir dan Sholawat untuk memperingati Tahun Baru Hijriyah 1437 H di depan Balaikota Solo, Sabtu (31/10) malam.

Habib Syech juga menerangkan anjuran untuk selalu berbuat baik dan tidak mengambil hak orang lain. Karena itu, diharapkan selalu menyelesaikam kewajiban kepada sesama manusia, terutama dalam hal utang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Bahkan meski kepada orang non muslim pun kewajiban itu harus tetap harus dikembalikan,” tutur pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa itu.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara pengajian ini. “Solo kota sholawat. Semoga dapat menjadikan umat Islam bersatu, rukun,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Budi mewakili pihak Pemerintah Kota Solo ikut mendukung penuh kegiatan Solo Bersholawat. Bahkan agenda serupa sudah dijadwalkan kembali pada tahun depan, tepatnya pada 22 Oktober 2016.

“Kita butuh forum-forum pengajian seperti ini untuk meningkatkan religi masyarakat. Pemkot Solo sudah menetapkan tahun depan akan ada kegiatan serupa pada 22 Oktober yang bertepatan dengan Hari Santri,” ujar Budi.

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, acara pengajian tahunan ini dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, yang datang dari berbagai daerah. Jamaah memenuhi jalanan koridor Sudirman, mulai depan Balaikota hingga ke perempatan BI. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Hikmah, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Iwan mengajak masyarakat untuk tetap memperhatikan keamanan lingkungan di kawasan Jakarta Selatan. Menurutnya, gegap gempita Pilkada Jakarta jangan sampai melalaikan warga dari penjagaan keamanan lingkungan.

Demikian disampaikan Kombes Pol Iwan dalam tasyakuran Harlah Ke-94 NU di aula Yayasan Darul Marfu, Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria, Jakarta Selatan, Ahad (9/4) malam.

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan

“Orang tua sibuk siapkan Pilkada. Tapi lupa jaga keamanan,” kata Kombes Pol Iwan di hadapan ratusan nahdliyin yang memadati aula.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Polda Metro Jaya dan Polres-Polres Metro Jaya terus melakukan evaluasi berkala terkait keamanan. Kategori keamanan di lingkungan Jakarta Selatan, kata Iwan, dalam evaluasi terakhir yang sebelumnya cukup baik, belakangan menurun.

“Jakarta Selatan tadinya putih. Sekarang naik tingkat menjadi waspada meski belum kategori bahaya. Artinya angka kejahatan di lingkungan Jakarta Selatan meningkat,” kata Kombes Pol Iwan.

Ia mengajak warga untuk berpartisipasi menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Menurutnya, partisipasi warga lebih efektif untuk mencegah kejahatan di lingkungan Jakarta Selatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau ada penjahat melihat seratus polisi, penjahat belum tentu takut. Tetapi melihat empat-lima warga berjaga di lingkungan masing-masing, penjahat akan mikir-mikir lagi untuk melancarkan aksinya.”

Peringatan Harlah NU ini diawali dengan khataman Al-Quran dan ditutup dengan istighotsah. Di sela acara pengurus harian PCNU Jakarta Selatan memberikan bantuan kepada puluhan anak-anak yatim dan dhuafa.

Dalam khataman dan istighotsah yang diselenggarakan PCNU Jakarta Selatan ini tampak hadir Direktorat Kamtibmas Polda Metro Jaya AKBP Anjar Gunadi, Kapolres Jaksel Kombes Pol Iwan, Dandim Jakarta Selatan, Walikota Jakarta Selatan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online?

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang kami hormati. Akhir-akhir ini bisnis angkutan online semakin marak dan tak terbendung lagi. Yang ingin kami tanyakan apakah bisnis angkutan online itu terkena kewajiban zakat? Atas penjelasanya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Andi/Jakarta)

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah bahwa salah satu harta yang wajib dizakati adalah adalah harta perniagaan atau yang dikenal dengan istilah ‘urudlut tijarah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?)

Artinya, “Adapun harta perniagaan (‘urudlut tijarah)—kata ‘urudh adalah jamak dari kata ‘ardl, dengan baca fathah pada huruf ‘ain dan sukun pada huruf ra’-nya, sedangkan maknanya adalah nama bagi setiap macam harta yang sebanding dengan emas dan perak—maka wajib dizakati,” (Lihat Muhammad Asy-Syarbini Al-Khathib, Al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’, Beirut, Darul Fikr, 1415 H, juz I, halaman 215).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan berarti. Penjelasan singkat ini setidaknya dapat membantu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Namun sebelum sampai pada jawaban yang diharapkan, maka terlebih dahulu diajukan pertanyaan sederhana yaitu apakah bisnis angkutan online termasuk kategori tijarah?

Dalam kitab Kifayatul Akhyar terdapat keterangan yang menyatakan bahwa seandainya seseorang menyewakan hartanya atau dirinya dengan maksud ketika memperoleh upah akan dijadikannya sebagai ‘ardlut tijarah, maka upah tersebut menjadi ‘ardlut tijarah (barang perniagaan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seandainya seseorang menyewakan harta atau dirinya dengan maksud ketika memperoleh upah akan dijadikannya barang dagangan, maka upah tersebut menjadi harta dagangan. Sebab akad sewa merupakan mu‘awadhah (pertukaran),” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Damaskus, Darul Khair, 1994 M, halaman 174).

Keterangan yang terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar tersebut tampak sangat jelas dan gamblang. Sebab itu, dengan berpijak atasnya dapat dikatakan bahwa bisnis angkutan online adalah termasuk tijarah yang mengandung arti tijarah.

Konsekuensi logis dari jawaban ini adalah ketentuan hukum wajib zakat bagi bisnis angkutan online sebagaimana ‘urudlut tijarah yang lainnya, sedangkan aturan zakatnya mengikuti ketentuan zakat ‘urudlut tijarah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Hikmah, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

Subang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap bulan Agustus masyarakat Indonesia biasanya merayakan peringatan kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan. Di antara kegiatan tersebut adalah aneka perlombaan yang diperuntukan bagi anak-anak hingga masyarakat dewasa.

Mengenai kegiatan perlombaan ini, Ketua PCNU Subang meminta kepada masyarakat yang akan mengadakan kegiatan lomba pada peringatan hari kemerdekaan agar diisi dengan perlombaan yang memiliki nilai-nilai positif dan edukatif serta tetap menjaga akhlakul karimah.

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

"Di grup WA sudah beredar video lomba yang tidak senonoh antara laki-laki dan perempuan, video tersebut dikhawatirkan dijadikan sebagai inspirasi dalam membuat perlombaan pada Agustusan besok," ungkap KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang, Jawa Barat dalam rapat reboan di Kantor PCNU, Rabu (9/8).

Dikatakannya, sudah beredar video lomba tidak senonoh yang diikuti oleh beberapa perempuan yakni perlombaan memakan pisang di bagian tubuh lelaki, sebalikna ada video yang mempertunjukan perlombaan yang diikuti oleh para lelaki berupa lomba memecahkan balon yang ditempelkan di belakang tubuh perempuan.

"Perlombaan tersebut tidak layak dilombakan karena hanya mengundang tawa para penonton saja dan bisa merusak tatanan akhlakul karimah apalagi jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur, ini sudah masuk pornoaksi," papar pengasuh Pesantren Attawazun itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengingatkan agar dalam kegiatan peringatan kemerdekaan jangan sampai melupakan jasa para pahlawan bangsa yang telah berkorban harta, jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

"Jangan sampai lupa untuk mendoakan para pahlawan dan kita sebagai generasi penerus bangsa sebisa mungkin terus berjuang mengharumkan nama Indonesia serta melawan paham yang ingin menghancurkan NKRI ini," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Humor Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banda Aceh memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan santunan anak yatim yang dilaksanakan di Rumah Budaya.

Menurut Ketua PC PMII Kota Banda Aceh Akmaluddin, acara yang berlangsung , Ahad (12/2) tersebut diadakan untuk menunjukkan kepedulian PMII terhadap tradisi islami yang mesti dipertahankan dan dipelihara secara berkesinambungan.

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Pada peringatan tersebut, kata dia, PMII dapat memetik teladan Rasulullah dengan menjadi generasi yang hebat, yaitu generasi pecinta Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam kesempatan ini PMII Kota Banda Aceh dalam acara silaturahim baik kader, senior dan alumni juga menghadirkan anak yatim piatu dengan memberikan sedikit sumbangan dari PMII Kota Banda Aceh," ungkap Akmal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Kota Banda Aceh, Tgk.Asnawi M.Amin mengaharapkan kegiatan yang mulia ini harus selalu dilakukan. Hal itu? bukti jiwa pecinta Rasulullah SAW dalam menegakkan pergerakan bagi para kader PMII.

Acara bertema "Generasi Hebat, Generasi Cinta Rasulullah SAW" dihadiri KNPI Kota Banda Aceh, OKP se-Kota Banda Aceh, BEM Universitas se-Kota Banda Aceh dan juga Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriyah PCNU Kota Banda Aceh Tgk. H. Muhibban H.M.Hajat. (Fauzan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Tegal, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur

Sampang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peringatan wafat (haul) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dihelat Pengurus Cabang Lakpesdam NU Kabuapten Sampang dengan membedah buku “Sunan Gus Dur; Akrobat Politik ala Nabi Khidir.” Kegiatan tersebut berlangsung di aula PCNU Ahad (29/12).

Bedah buku acara diawali dengan sambutan ketua Lakpesdam NU, Faishol Romdhoni. Ia mengungkapkan, digelarnya bedah buku tentang Gus Dur bertujuan untuk menghidupkan iklim intelektualitas kaum Nahdliyin di Sampang.

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur

“Ke depan kami (Lakpesdam NU) akan membuat dokumentasi tokoh NU lokal seperti KH. Hasib Siradj, KH. Sabrawi dan tokoh kiai yang lain,” ungkapnya.

Bupati Kabupaten Sampang, KA. Fannan Hasib menyambut positif kegiatan bedah buku tersebut. “Kami berharap melalui bedah buku ini, kader NU bisa memahami pemikiran Gus Dur yang tentunya akan membantu kemajuan Sampang,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bedah buku yang dipandu Yulis Juwaidi, penulis buku, Mas’ud Adnan bercerita banyak tentang pemikiran Gus Dur yang dianggap kontroversial kalangan umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus Dur adalah orang yang menganut faham Thomas Kelly, yaitu bangsa perlu seorang pahlawan yang memiliki keberanian individualitas. Apa yang dia yakini benar dia sampaikan. Dia bukan tipikal pemimpin yang mementingkan pencitraan,” jelasnya.

Penulis buku “Gus Dur Hanya Takut Dengan Orang Madura” tersebut sangat mengapresiasi ide Lakpesdam NU Sampang yang menggelar peringatan wafat Gus Dur dengan cara yang berbeda, yaitu mengulas ide dan pemikiran Gus Dur.

Dalam acara tersebut, juga dilakukan penyerahan buku tersebut dan jaket Lakpesdam NU Sampang secara simbolis kepada bupati oleh ketua Lakpesdam NU Faishol Romdhoni.

Hadir pada kesempatan tersebut Rais Syuriyah PCNU Sampang KH Syafiuddin Abd. Wahid, Sekkab Kabupaten Sampang, Puthut Budi Santoso, serta  250 peserta yang diundang terdiri dari Muspikab Sampang, pengurus PCNU, MWC, lajnah dan Banom serta organisasi pemuda dan mahasiswa. (Rato Ebhu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Hikmah, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Semarang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga Banjardowo kecamatan Genuk, kota Semarang menggelar jalan sehat bersama sebagai puncak peringatan Hari Kemerdekaan Ke-69 RI di Banjardowo, Ahad (24/8) pagi. Ketua RW 6 kelurahan Banjardowo, Sutiman, menggunting pita yang menandai awal jalan sehat setelah sepekan sebelumnya mengadakan tirakatan dan tumpengan.

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Jalan sehat ini, kata Sutiman, bukan sekadar puncak kemeriahan, tetapi upaya membangun kebersamaan untuk saling memupuk rasa persaudaraan. Sementara Ketua RT 2 RW 6 Muslimin menambahkan, seluruh rangkaian peringatan ini menjadi bentuk rasa syukur warga demi menumbuhkan rasa keberpihakan kepada Tanah Air.

“Puncak peringatan semarak kemerdekaan ini semoga menguatkan tali silaturahmi dan mendekatkan antarwarga,” imbuh Muslimin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara para remajanya yang tergabung dalam Ikatan Remaja Telaga Muda melanjutkan kemeriahan Hari Kemerdekaan RI dengan menggelar perlombaan balap kelereng dan memasukkan pensil ke dalam botol khusus untuk anak-anak.

Peserta jalan sehat yang terdiri atas kalangan dewasa turut aktif memeriahkan perlombaan dengan mendampingi anak mereka. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Hikmah, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia

Pontianak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Al-Quran merupakan kalam ilahi yang diturunkan 14 abad yang lalu kepada seorang Nabi terakhir, Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Al-Quran merupakan rahmat bukan hanya baagi orang Islam, tapi bagi semua umat manusia dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Demikian ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sambutan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional VII yang diselenggarakan Jam’iyyatul Qura’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) pada Selasa malam (3/7) di stadion sepak bola Sultan Syarif Abdurahman, Pontianak, Kalimantan Barat.?

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia

“Dalam ajaran Al-Quran, kita harus jadi umat yang tawasuth, moderat. Al-Quran berbunyi, wakadzalika ja’alnakum ummatan washathan. Umat Islam harus menjadi umat yang moderat. Tidak boleh ekstrem, radikal, apalagi sampai melakukan tindakan makar,” jelas kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, sambung Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini, ulama Nahdlatul Ulama ? sejak dulu hingga sekarang dan seterusnya akan bersikap tawasuth menentang kekerasan, ekstremisme, bahkan terorisme.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Terorisme harus kita jadikan musuh bersama. Gerakan-gerakan radikal harus kita hadapi bersaama karena bertentangan dengan ajaran Al-Quran,” tuturnya.

Yang kedua, sambung Kang Said, Al-Quran mengajarkan kita agar menjadi umat yang tawazun, seimbang. Kewajiban mengamalkan agama bukana hanya sebatas ritual, tetapi membangun pepradaaban budaya, sosial, ekonomi. ? Karena itu merupakan kewajiban agama juga.

“Oleh karena itu, bagi Nahdlatul Ulama, memperjuangankan agama sama dengan memperjuangkan tanah air. Memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sama wajibnya dengan mempertahankan agama Islam,” jelasnya.

Yang terakhir, Al-Quran mengajarkan kita untuk tasamuh, toleran. Andaikan Allah menghendaki umat manusia sama, pasti Allah bisa. Tapi itu tidak dilakukan. Karena itulah kita harus bersikap toleran, karena itu merupakan ajaran Islam.

Kemudian kiai asal Cirebon, Jawa Barat, yang pernah menimba ilmu di berbagai pesantren, dan belajar selama 13 tahun di Makkah ini, mengimbau masyararakat Kalimantan Barat untuk mempertahankan , toleransi dalam keragaman.

“Bukan Indonesia kalau tanpa agama Islam. Bukan Indonesia kalau tanpa agama Katolik. Bukan Indonesia kalau tanpa Kristen. Bukan indonesia kalau tanpa Hindu, Budha, Konghucu,” tegasnya.

Kang Said menambahkan, demikian pula, bukan Indonesia kalau tanpa Dayak, Sunda, Jawa, Batak, Bugis, Ambon, Papua, Banjar, Aceh, dan seterusnya. Itulah Indonesia. Itu harus dipertahankan illa yaumil qiyamah.

“Ini merupakan pandangan Nahdlatul Ulama sejak dulu hingga sekarang dan seterusnya,” pungkasnya.

MTQ VII JQH NU ini dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono. Hadir pada kesempatan itu beberapa pengurus PBNU, Menteri Perumahan Rakyat H. Djan Faridz, Wakil Menteri Agama Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Ketua Umum JQH NU KH Muhaimin Zen, dan Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis MH., peserta MTQ, official, serta masyarakat Kalimantan Barat.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Sejarah, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puluhan tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis, (5/2) sore. Pertemuan ini untuk menanggapi masalah yang mengemuka akhir-akhir ini terkait kemelut antara KPK dan Polri, dan mengenai ketegasan Presiden Jokowi dalam menyelsaikan kemelut tersebut.

“Pertemuan ini tidak terkait dengan politik, murni untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan kita saat ini,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memimpin penyampaian sikap di lantai 5 kantor PBNU.

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Hasil dari pertemuan ini, mereka menyampaikan hal-hal sebagai berikut,?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

1. Penegakan kebenaran dan keadilan adalah syarat mutlak keselamatan bangsa Indonesia.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Tugas Negara dan pemerintahan adalah menjaga nilai-nilai luhur agama dan memajukan kemashlahatan rakyatnya. ?

3. Pemimpin yang jujur, amanah dan adil akan membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan kesejahteraan.?

Dari tiga persamaan persepsi kebangsaan itu, mereka menyampaikan 7 butir seruan moral kepada presiden, KPK, dan Polri sebagai berikut, ?

1. Menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk tidak khawatir, was-was atau resah, serta tetap tenang dan menjalankan aktifitas sebagaimana biasa.?

2. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk terus secara sungguh-sungguh memimpin pemberantasan korupsi. ?

3. Mengetuk nurani Presiden Republik Indonesia untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah yang tegas, cepat dan tepat untuk mengakhiri dan menyelesaikan perselisihan dan kemelut antara KPK dan Polri sesuai konstitusi.

4. Menyerukan Presiden Republik Indonesia untuk mengangkat kepemimpinan Polri dengan mengutamakan moralitas, kredibilitas, berintegritas ? dan kapabel.

5. Mendukung KPK dan Polri untuk melakukan tugasnya menegakkan hukum dalam kerangka memberantas korupsi dan meningkatkan akuntabilitasnya.?

6. Mendorong semua pihak agar menghentikan kriminalisasi dan tidak menjadikan KPK dan Polri sebagai alat bagi kepentingan politik individu dan kelompok.?

7. Mengingatkan KPK untuk kembali ke fitrahnya dan betul-betul menjaga dan meningkatkan kredibilitasnya sebagai lembaga pemberantasan korupsi.

Hadir dalam pertemuan tersebut diantarnya Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekjend PBNU), Dr. H. Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute), Romo Ignatius Harianto SJ. (Sekjend ICRP/KWI), HS. Dillon (Intelektual dan Tokoh Agama Shikh), Pendeta Albertus Patti (PGI), Uung Sendana (Ketum Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), Piandi ? (Ketum Majlis Budayana Indonesia), Yanto Jaya (Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia), Suprih Suhartanto (Majlis Luhur Agama Nusantara), Ulil Ashar-Abdalla (ICRP), M. Imdadun Rahmat (Komisioner Komnas HAM), Zafrullah Pontoh (JAI), dan Syamsiah (ICRP). Hadir juga perwakilan dari Ahmadiyah, Agama Tao, dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock