Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Selasa, 20 Februari 2018

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika seseorang sudah berani maju berkompetisi menjadi pemimpin di negeri ini seyogianya ia tak menunjukkan kelemahannya dengan hanya menumpang tenar dan menjelekkan lawan. Mereka harus berani menunjukkan kehebatan diri.

Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan hal tersebut, Kamis (20/3), saat menerima kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi yang telah diumumkan sebagai calon presiden dari PDI-P.

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu menuturkan, selama dua jam berbicara bersama Jokowi, dirinya hanya berbicara seputar Indonesia dan tidak lebih dari pada itu. Pesan yang ia sampaikan juga berlaku untuk semua calon pemimpin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak ikut pemilu, tetapi warga NU yang menjadi peserta pemilu. Hakikatnya NU merupakan Organisasi kemasyarakatan yang netral. Namun demikian, tambah Gus Mus, banyak para peserta pemilu yang dianggap kurang percaya diri sehingga masih mengenakan atribut NU, guna menarik simpati masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulama yang juga merupakan sastrawan Indonesia ini menghimbau, Nahdliyin menggunakan hak suaranya dengan baik. Pasalnya, menurut Gus Mus, hak suara yang kita dapat merupakan amanah, yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ulama, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Zaman terus maju ke depan dan cara menghadapi perkembangan zaman juga harus berubah. Inovasi dalam menghadapi pergeseran tersebut pun mutlak harus dilakukan. Maka, kaidah “memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus” mesti terus diaktualisasikan.

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Prinsip itulah yang dipegang Aris Sofyan, santri alumni Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogjakarta. Berkat kegigihannya dalam berkarya, ia mampu masuk ke persaingan di era digital.

Aris membuat konsep aplikasi untuk telepon pintar yang saat ini hampir setiap orang mempunyainya. Dari kreativitasnya, Aris bersama tim nya berhasil memperoleh investasi sebesar 4,2 miliar untuk pengembangan konsep aplikasi yang telah dibuatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dunia bisnis memang sudah menjadi ketertarikannya sejak kecil meski selama ini ia belum menemukan bisnis yang tepat. “Makin ke sini karena saya juga punya hobi utak-atik komputer, baik itu coding-nya maupun mengikuti perkembangan teknologinya, saya baru tahu kalau startup (perusahaan rintisan) bidang IT itu bisa mendapatkan dana besar dari investor,” ungkap Aris di Jakarta, Sabtu (12/8).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari pemahaman itu, ia mencoba membuat konsep startup aplikasi dan kemudian menawarkan kerja sama ke perusahaan-perusahaan di bidang teknologi dan informasi untuk mengembangkan aplikasi tersebut.

Aplikasi yang dibuatnya itu diberi nama Kongkon. Kongkon adalah aplikasi berbasis android yang dibuat untuk melayani segala kebutuhan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Investor melihat bahwa konsep Kongkon ini menarik dan memiliki prospek positif. Dari situlah akhirnya pihak investor mau untuk membiayai pengembangan aplikasi ini.

“InsyaAllah dalam waktu dekat aplikasi layanan Kongkon sudah bisa dinikmati oleh masyarakat,” jelas pria yang sekarang menjadi CEO Kongkon ini.

Dari pengalaman keberhasilan merintis usaha tersebut, Aris yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum PP IPNU ini menginginkan agar semua santri berani bermimpi untuk mengejar apa yang mereka cita-citakan.

“Era sekarang membutuhkan orang yang bisa membaca keadaan dan inovatif. Santri yang terbiasa hidup sederhana dan terkenal sebagai orang yang ulet harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman,” terang Aris ?

Menurutnya santri harus melakukan inovsi-inovasi tersebut supaya santri tidak dianggap selalu ketinggalan zaman dan diremehkan orang yang bukan santri.

“Dan yang terpenting, kita harus memperbanyak silaturahmi sebagai budaya kita, karena silaturrahmi melancarkan rezeki,” pungkasnya. (Jefri Samodro/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Sejarah, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) NU akan dikukuhkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (23/9). Kegiatan yang berlangsung selepas Jumatan tersebut rencananya akan dibuka dengan pidato Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri.

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Pengukuhan bertema “Reposisi gerakaan Konfederasi Sarbumusi NU dalam politik perburuhan nasional dan internasional” tersebut akan mendaulat tokoh senior Sarbumusi untuk menyampaikan testimoni tentang organisasi tersebut di masa lalu, yaitu Nursyam Latif dari Surabaya dan OK Zainal Rosyidin dari Medan.

Menurut Ketua Panitia Pengukuhan Eka Fitri Rohmawati, pengukuhuan tersebut dilanjutkan dengan dialog denngan narasumber Dirjend PHI dan Jamsos Kemenaker RI, Council Industrian all Indonesia Saiful DP, dan ILO Jakarta Soeharjono. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemudian, lanjut dia, keeseokan harinya, akan dilanjutkan dengan Rapat Kerja DPP K-Sarbumusi untuk menyusun agenda-agenda ke depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rapat Kerja tersebut, tambahnya, sebagaimana tema pengukuhan adalah menyusun upaya-upaya membangkitkan kejayaan Sarbumusi yang pernah diraih di tingkat nasional dan tingkat internasional. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Olahraga, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Jangan Jadikan Pemimpin Seperti Es Krim

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Lampung Gatot Arifianto, di Blambangan Umpu, Ahad (18/12), mengajak pemuda setempat tidak takut memberi kritik terhadap pemimpin atau pemerintah yang salah. Namun demikian, ia meminta ketika memberikan kritik jangan lupa pula memberikan solusi dan jangan jadikan pemimpin sebagaimana es krim.

Berdiskusi dengan peserta kemah bhakti Pemuda Peduli Lingkungan dan Alam (Pemula) setempat, penggiat Gusdurian Lampung tersebut, meminta peserta terdiri dari sejumlah pelajar dari SMA sederajat di daerah itu untuk menceritakan pengalaman masing-masing mengenai es krim. Sebagian peserta mengungkapkan masalah rasa, harga, proses dari cair menjadi beku hingga setelah selesai dinikmati.

Jangan Jadikan Pemimpin Seperti Es Krim (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan Pemimpin Seperti Es Krim (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan Pemimpin Seperti Es Krim

"Setelah selesai pegangannya biasa di buang ketempat sampah. Saat jadi pemimpin dihormati, saat tidak lagi menjadi pemimpin tidak dipedulikan lagi," ujar Pina, peserta dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mengapresiasi jawaban itu, Gatot meminta peserta memberi tepuk tangan. "Ada gambaran ya antara pemimpin dan es krim? Kalau salah beri kritik dan juga solusi. Jadilah individu yang baik, jadilah rakyat yang baik yang tidak gemar menjilat pemimpinnya," kata Gatot lagi.

Motivator Peta Potensi di De Most itu kemudian mengajak peserta kemah bhakti menjadi "pemberontak kreatif". Jika tidak setuju atau tidak suka, kata Gatot melanjutkan, jangan memukul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Tapi lawan dengan sesuatu yang positif. Saya mendampingi pelajar SMA selama dua tahun. Banyak yang pintar, tapi tidak percaya diri. Kenapa? Saya curiga karena dari kecil kita biasa menerima hal negatif disampaikan orang tua kita. Naik jendela sedikit ditakut-takuti jatuh. Hal itu akhirnya mengakar di alam bawah sadar, mau melakukan sesuatu takut, mau begini takut, mau begitu takut. Jadi hal yang negatif harus dilawan dengan positif dan kreatif," ujar Gatot lagi.

Ia meyakinkan peserta mampu melakukan hal tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan jawaban-jawaban peserta saat mengikuti materi kepemimpinan yang ia sampaikan.

"Siapa yang mengajari jawaban mengenai pemimpin dan es krim tadi? Tidak ada. Itu terjadi karena sahabat-sahabat mau berpikir. Saya hanya memancing dan meyakinkan bahwa sahabat-sahabat adalah orang-orang hebat," pungkasnya. (Syuhud Tsaqafi/Abdullah Alawi)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Kiai Maruf: Islam Bersatu Bela Palestina

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Maruf Amin mengatakan, saat ini umat Islam sangat tersakiti keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Kiai Maruf: Islam Bersatu Bela Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf: Islam Bersatu Bela Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf: Islam Bersatu Bela Palestina

"Hari ini kita benar-benar tersakiti dengan ucapan Donald Trump," kata Kiai Maruf dalam Aksi Bela Palestina di Area Monas Jakarta, Ahad (17/12).

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menyerukan kepada dunia agar Trump mencabut keputusan sepihaknya tersebut. Sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yerusalem adalah ibukota Palestina, bukan Israel.

"Islam bersatu bela Palestina. Indonesia bersatu bela Palestina," ujar Kiai Maruf.

Sampai hari ini, imbuh Kiai Maruf, Donald Trump tidak bergeming dan menghiraukan berbagai penolakan atas keputusannya itu. Apakah Donald Trump tidak mendengar atau sudah tidak bisa mendengar berbagai penolakan keputusannya itu di berbagai belahan dunia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jangan-jangan Donald Trump sudah summun, bukmun, umyun (tuli, buta, dan bisu)," ucapnya disambut riuh peserta aksi.

Ia menyerukan untuk memboikot Amerika Serikat apabila Donald  tidak lekas mencabut keputusannya tersebut.

"Kalau Donald Trump tidak mau mencabut (keputusannya), boikot Amerika," seru Kiai Maruf.

Kiai Maruf menambahkan, bangsa dan umat Islam Indonesia wajib mendukung Palestina agar mendapatkan hak-haknya sebagaimana bangsa lainnya. Sejak dulu, Indonesia selalu menentang segala bentuk penjajahan dan memelopori kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita bebaskan Palestina," tukasnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Rondan Kampung NU, Wadah Obrolan Anak Muda NU Sedan Rembang

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Forum Rondan Kampung Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah merupakan wadah obrolan anak-anak muda NU tentang masalah yang sedang berkembang di masyarakat. Obrolan ini juga disajikan lewat siaran radio dan interaktif dengan para pendengarnya.

Rondan Kampung NU, Wadah Obrolan Anak Muda NU Sedan Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Rondan Kampung NU, Wadah Obrolan Anak Muda NU Sedan Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Rondan Kampung NU, Wadah Obrolan Anak Muda NU Sedan Rembang

Ketua Forum Rondan Kampung NU Zahid Abdurrohman mengatakan, wadah tersebut menjadi ajang mengkritik namun bukan mencaci. Ia menjelaskan forum ini melihat sesuatu secara objektif bukan subjektif. Ia menjadi sarana untuk menjawab kegelisahan yang selama ini terjadi pada masyarakat.

"Kita mencoba untuk mengusung ideologi-ideologi Gus Dur (KH Abdul Rahman Wahid). Kita tidak tahu bagaimana untuk menyalurkan dan menerapkannya di masyarakat. Salah satunya dengan Forum Rondan Kampung NU yang disebarluaskan oleh Radio Yespeace FM," terang Zahid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seminggu sekali forum ini melakukan kegiatan rutin obrolan terkait isu yang berkembang di masyarakat. Tema yang diambil setiap minggunya berbeda-berbeda. Adakalanya satu tema tidak selesai dalam satu minggu, maka akan dilanjutkan pada minggu depannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita mengambil tema yang paling panas di masyarakat, semisal Rembang ini jargonnya tidak ‘Bangkit’ lagi, tetapi mau diubah menjadi ‘Madani’. Kemudian soal tradisi dan budaya, kok sudah berubah dari dulu dan sekarang," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Sabtu (26/3) malam.

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat sangat baik. Dilihat dari rating pendengar dan interaksi para pemirsa juga sangat bagus. "Dilihat dari ratingnya, pendengar bisa mencapai 770 yang dijangkau," terangnya.

"Kita sajikan acaranya dengan guyonan, tapi guyonan yang berilmu. Masyarakat kita itu gak suka yang terlalu serius. Mereka sukanya yang santai, guyonan tapi berilmu," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Bangun Desa Produktif, STISNU Nusantara Tanam 1000 Pohon

Tangerang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Di sela sela kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama ? (STISNU) Nusantara Tangerang mengadakan kegiatan tanam 1000 pohon buah produktif di Desa Kiarapayung Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang.?

Mamun, ketua panitia pelaksana kegiatan tanam pohon menjelaskan program ini adalah rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) STISNU di desa Kiarapayung. "Kami bersama teman-teman menginginkan kehadiran kami memberikan manfaat untuk warga masyarakat, yang notabene warga Nahdlatul Ulama," jelas Mamun.?

Ketua STISNU Nusantara KH A. Baijuri Khotib menambahkan, kehadiran mahasiswa di Desa Kiarapayung memiliki tiga tugas, yaitu pengabdian, penelitian, dan pengembangan. Para peserta KKM mendatangi majelis-majelis taklim menjelas akidah ahlusunnah wal jamaah Nahdlatul Ulama, dan bahaya radikalisme ideologi atas nama agama di masyarakat yang digemborkan oleh organisasi transnasional, masyarakat diharapkan tidak tertipu dengan kedok agama padahal mereka sendiri yang merusak agama.?

Bangun Desa Produktif, STISNU Nusantara Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Desa Produktif, STISNU Nusantara Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Desa Produktif, STISNU Nusantara Tanam 1000 Pohon

"Mereka (mahasiswa) ditugaskan sebagai pion aswaja untuk NKRI ? di kampung kampung". Ujarnya?

Setelah menjelaskan tentang aswaja, mahasiswa ditugaskan melakukan penelitian, yaitu berupa penyebaran angket pascasosialisasi di majelis-majelis.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terkait pengabdian di masyarakat, mahasiswa menanam 1000 pohon buah produktif, mulai dari mangga, nangka, jambu batu, dan rambutan. Nantinya, setiap rumah akan diminta untuk menanam 10 pohon dengan varian yang berbeda.?

"warga sekitar sini, nantinya jika butuh buah buahan, semua ada di Desa Kiarapayung," ujarnya.?

"Harapannya, setidaknya ada usaha dari kampus Nahdlatul Ulama (STISNU) berkontribusi membangun perekonomian warga Nahdlatul Ulama," tambahnya.?

Wawan Setiawan, Kepala Desa Kiarapayung menyampaikan terima kasih kepada STISNU karena telah memilih Desa Kiarapayung sebagai wilayah KKM. "Nanti, warga akan saya kontrol untuk menanam yang bener dan dijaga, insyaallah program ini membantu masyarakat menjadi salah satu solusi persoalan sosial ekonomi warga di sini. Kalau bisa mah, STISNU bangun kampus NU juga di sini, biar kita dorong-dorong anak muda sini kuliah di NU, insyaallah selamat dunia akherat," ujarnya dalam sambutan yang diiring tawa dan tepuk tangan hadirin.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

HA. Baidowi anggota DPRD Kab Tangerang dalam sambutannya siap mendorong kegiatan yang membantu masyarakat berkaitan masalah sosial dan ekonomi. Ia pun menjelaskan sembari memperkenalkan diri sebagai alumni dari Kampus Nahdlatul Ulama Tangerang. Menurutnya harusnya ada sinergis dari semua stakeholder untuk sama berkontribusi membangun masyarakat. Penanaman pohon ini akan berharga dan dapat dinikmati manfaatnya dalam lima tahun ke depan.?

Acara ditutup dengan pengumuman pemberian beasiswa khusus bagi calon mahasiswa dari Desa Kiarapayung. Warga Desa Kiarapayung yang ingin kuliah di STISNU diberikan beasiswa awal studi sebesar Rp 2.250.000 dari total biaya awal studi sebesar Rp. 2.650.000.-. Warga desa Kiarapayung yang ingin kuliah di STISNU cukup membayar Rp. 400.000.- saja.?

Hadir pada kegiatan tersebut H. Muhamad Qustulani (Wakil Ketua Bid. Akademik STISNU), Bahruddin (Waka Bid. Kemahasiswaan), Muhayar (Ketua LSM FORUM PEKERJA SEJAHTERA KAB. TANGERANG), KH. M. Mahrusillah (pengasuh PP Al Hasaniyah), Mahfuz Fauzi (Pengasuh PP Darul Quran), Fahmi Irfani (Wakil Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Nusantara), staf Desa Kiarapayung dan mahasiswa STISNU Nusantara. (Qustulani Muhamad/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Aktivis muda NU Alissa Wahid berharap agar PBNU memformulasikan strategi gerakan sosial-keagamaan dan kebangsaan. "Formulasi gerakan ini penting agar NU dapat lebih kuat menjalankan peran sebagai tulang punggung Indonesia," tegasnya. 

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan

"Dengan tantangan ideologis yang deras bagi Indonesia, juga dengan proses globalisasi yang membawa banyak pengaruh dunia, NU-lah yang paling berkepentingan dan berpotensi untuk menjaga Indonesia," jelas Alissa yang juga wakil ketua LKK NU DIY melalui surat elektronik Rabu malam (12/9).

NU, kata Alissa, memerlukan kerja yang terarah dan komprehensif. "Munas ulama dan Konbes ini menjadi saat yang paling tepat untuk merumuskan arah dan strategi NU tersebut. Jangan disia-siakan hanya sebagai rutinitas organiasi."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih jauh da menjelaskan bahwa NU memiliki tiga dimensi yang harus segera dirumuskan secara nyata dan praktis. "Dimensi internal NU, dimensi praktik bernegara, dan dimensi NU & politik." 

"Dimensi internal NU terkait dengan isu aktual seperti terasanya jarak yang makin melebar antara struktural NU dengan jamaah. Saya banyak bertemu dengan Nahdliyin yang merasa tidak terlayani kebutuhan kehidupannya oleh NU setempat sebagai organisasi, justru terlayani oleh organisasi lain seperti oranisasi musholla setempat," jelas putri sulung almarhum KH Abdurrahman Wahid itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alissa juga mengusulkan agar peran Syuriyah harus lebih kuat dalam memberi arah dan pertimbangan, sehingga dapat menjadi panduan bagi PBNU dan pengurus2 daerah, untuk meminimalisir perbenturan pendapat dan kebijakan. 

"Syuriyah misalnya sangat strategis untuk menguatkan kembali prinsip Aswaja NU sebagai ruh kehidupan Nahdliyin maupun organisasi. Kalau NU bisa mempersoalkan kembalinya negara Indonesia kepada ruh dasar bangsa, NU juga harus melakukannya pada dirinya sendiri. Tanpa prinsip dasar ini, NU dan jamaahnya akan terombang-ambing," jelasnya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Madinah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebanyak 9 kiai dari Jawa Tengah dan jawa Timur yang dipimpin Rois Syuriyah pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Masruri Mughni dan KH Habib Ahmad bin Toha Al Munawar (Toha Putra Group), Ahad (6/5) kemarin menemui sejumlah ulama terkemuka di Madinah dan Makkah.

Demikian dikutip dari Harian Umum Suara Merdeka. Di Madinah para kiai menemui Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, Habib Muhammad bin Zein, Habib Muhsin Alatas, dan Habib Salim Al-Kaf.

Sedang di Makkah ulama yang ditemui antara lain Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani, Habib Ahmad bin Muhammad AlMaliki, Habib Salim bin Segaf AlJufri (Duta Besar RI untuk Arab Saudi), Habib Muhammad bin Ismail Al-Yamani dan Habib Rosyad Al-Baidi Jeddah. Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani adalah salah satu keturunan Syeh Abdul AQadir AlJaelani, sahibul manakib yang sangat popular di Indonesia.

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Selain bersilaturahim dengan para ulama, mereka berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW dan menunaikan ibadah di Masjid Nabawi.

Selanjutnya menjalankan ibadah Umrah mengambil miqat dari Bir Ali. Dijadwalkan setelah menemui para ulama di Madinah dan Makkah, Rabu mendatang rombongan bertolak ke Hadramaut Yaman mengikuti serangkaian kegiatan di negara bekas jajahan Inggris itu. Agenda kegiatan di Yaman, para kiai akan mengikuti haul Habib Ali bin Muhammad AlHabsyi, penyusun Kitab Maulid Simtud Dhuror, bertemu dengan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, pimpinan pesantren Daarul Mustofa, Tarim.

Ulama lain yang akan ditemui yaitu Habib Salim Satri, berziarah ke makam aulia antara lain Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyusun Ratib AlHaddad yang sangat terkenal di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sembilan kiai dalam rombongan tersebut yaitu KH Masruri Mughni, KH Habib Ahmad bin Toha AlMunawar, Dr Habib Abdurrahman bin Smith MA Kauman Semarang, KH Kharis Shodaqoh (pengasuh pondok Al-Itqon Bugen Kota Semarang), KH Sholeh bin Muhammad Bassalamah (pengasuh pesantren Daarussalam Jatibarang Brebes), KH Humam Suyuthi (pengasuh pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati), Prof Dr H Ahmad Rofiq MA (Sekretaris Umum MUI Jateng), KH Ikhya Ulumiddin (pengasuh pesantren Nurul Haromain, Pujon, Malang), Habib Shaleh bin Muhammad AlJufri (pengasuh pesantren Daarul Mustofa Solo).

"Kami mencoba membangun jaringan dengan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah terkemuka yang ada di Makkah-Madinah dan Yaman dalam rangka pengembangan pondok pesantren di Jawa Tengah dan menjalin hubungan silaturahim," kata Kiai Masruri.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, RMI NU, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Akankah kau minta aku kembali bergerak

Sementara kakiku masih mencari pijakan kokoh pada jejakmu.

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Belum selesai sedu-sedanku, namun kau begitu cepat berkilatan dan aku pun terengah-engah mengejarmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Pesonamu meruntuhkan tembok tebal yang ku bangun di jiwaku, dan bisikanmu menembus semuanya.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Bagaimana kalau kau kembali memelukku saja? Agar kutumpahkan air mata ini pada bahumu yang penuh berkah.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Aku mencintaimu. Sungguh. Oh Muhammadku. Bawa aku bersama langkahmu.

Kuala Lumpur, akhir Juli 2017

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seperti tahun lalu, PBNU melalui Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Ramadhan ini menggelar agenda “Mudik Bareng NU 1433 H”. Sedikitnya 99 masjid di sepajang Pulau Jawa disiapkan menjadi posko mudik. Kebijakan ini merangkap harapan, masjid sepatutnya turut membantu kehidupan masyarakat.

Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Rabu (31/7), mengatakan, langkah ini adalah  wujud pemberdayaan aset Nahdlatul Ulama agar memberi manfaat kepada umat. Seluruh Pengurus Cabang  dalam Rapimnas LTMNU telah sepakat akan membuka posko di lingkungan masjid untuk menyambut ribuan calon pemudik.

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

“Kita juga berharap, program ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen menyebutkan beberapa keunggulan posko mudik NU ini. Di masjid, selain melepas lelah dan mampir ke kamar mandi, para pemudik dapat menunaikan shalat dalam suasana yang lebih teduh dan nyaman. Fasilitas ini berbeda dengan posko-posko lain yang umumnya terbatas pada penyediaan kamar kecil dan tenda berukuran sempit.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan 99 pengurus cabang secara tak langsung telah memperkuat LTMNU secara struktural. “Dengan kegiatan ini kita akhirnya telah melakukan konsolidasi dengan PC-PC (pengurus cabang), dari Merak sampai Banyuwangi,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nasional, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Oleh Wasid Mansyur

Salah satu ritual dalam bulan Ramadan yang diyakini sangat penting bagi umat Islam adalah tadarus Al-Qur’an. Tidak salah bila kemudian, di berbagai masjid dan musholla ditemukan mereka meramaikannya dengan membaca Al-Qur’an setelah sholat Tarawih, bahkan ada sebagian yang mengadakannya diwaktu yang berbeda.?

Respon positif atas tradisi tadarus Al-Qur’an menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih memiliki kesadaran religius yang cukup tinggi, khususnya dalam membaca Al-Qur’an. Tapi, lebih dari itu perlu perenungan kembali, sejauh mana efek ritual ini dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi perlu dipahami dan diamalkan kandungannya.?

Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Secara kebahasaan, kata Tadarus berarti saling belajar dari kata dasar Darasa (belajar). Secara praktik, tadarus Al-Qur’an dimaknai dengan ritual membaca Al-Qur’an yang dilakukan minimal dua orang, yakni satu di antara keduanya membaca dan yang lain menyimak. Maka, tidak bisa dikatakan tadarus bila hanya dilakukan sendirian, tanpa kehadiran yang lain.

Dari ini, ada dua makna penting dari tradisi tadarus untuk direnungkan agar kemudian bermakna dalam konteks sosial dan berbangsa. Pertama, dilihat dari si-pembaca. Pembaca Al-Qur’an dalam ritual tadarus harus jeli dan teliti agar bacaannya tidak salah, sekaligus memiliki kerendahan hati kepada orang lain (penyimak) bila kemudian ada proses pembenaran terhadap bacaan yang kurat tepat.

Jeli dan teliti serta didukung oleh kerendahan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan yang lebih luas. Tapi, memang problem terkini dalam kehidupan beragama, khususnya, masih didominasi oleh sikap individu yang jeli dan teliti terhadap keyakinannya sendiri, tapi bersifat angkuh dan sombang dalam melihat keyakinan orang lain yang berbeda. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dilihat dari si-penyimak. Sebagaimana mafhum, ia bertugas mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karenanya, si-penyimak tidak boleh santai, bahkan harus siap siaga mengawal bacaan agar tetap sesuai dengan pakem-pakem yang ditentukan dalam membaca Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari sini, maka kesadaran pembaca dan penyimak itu penting, bahkan menentukan kualitas bacaan Al-Qur’an itu lebih bermakna. Secara sosiologis fenomena ini mengajarkan bahwa saling belajar antar sesama adalah keniscayaan hidup dalam sebuah bangsa, yakni belajar tentang bagaimana pentingnya menghormati dan menghargai posisinya masing-masing. ? ?

Tradisi tadarus mengajarkan tentang pentingnya harmoni dalam semua lini kehidupan sebab sangat mustahil bangsa ini akan besar, bila masih ada sebagian orang baik individu maupun kelompok lebih suka menebarkan teror kepada orang lain, sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tidak memastikan tepat bila hubungan si-pembaca dan si-penyimak tidak ada sikap saling mengingatkan, terlebih bila tidak harmoni antar keduanya.

Tadarus sebagai kritik

Konkretnya dalam ranah sosial, bisa dipahami bahwa upaya penggagalan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam (baca; FPI) baru-baru ini terhadap Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang mengadakan buka bersama lintas agama di Semarang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil memaknai kemuliaan ritual bertadarus, lebih-lebih menangkap dan mempraktikkan momentum kemuliaan bulan Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Ketidak-berhasilan menangkap dan mempraktikkan nilai-nilai hakiki dari Islam, khususnya dari ritual tadarus dan puasa Ramadhan, mendorong FPI terus terjebak pada formalitas beragama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya mengikuti perintah Allah secara formal, tapi perlu adanya kesanggupan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, yakni mempraktikkan keluhuran budi pekerti (akhlak al-karimah).

Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya Ayyuha al-Walad (wahai seorang anak), bahwa keluhuran budi pekerti bisa dibuktikan dengan tidak mendorong orang lain secara paksa mengikuti anda.Tapi, lebih dari itu anda harus terdorong mengikuti kemauan mereka sepanjang tidak bertentangan dengan shari’at. Jadi, apa yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari prinsip luhur akhlak al-karimah sebab cenderung memaksa dan menebarkan teror kepada orang lain. ?

Padahal apa yang dilakukan Ibu Shinta dengan bersahur dan berbuka bersama secara terbuka dengan masyarakat lintas agama bertujuan untuk mendidik publik akan pentingnya pertemuan antar iman. Dari sini diharapkan terajut secara terus menerus kerukunan antar beragama sebagaimana menjadi cita-cita mediang suaminya Gus Dur, termasuk dalam rangka merawat nilai ideologi Pancasila dan konstitusi berbangsa.

Akhirnya, semua pihak harus menangkap dan mempraktikkan makna tradisi bertadarus dalam konteks sosial dan berbangsa. Dari sini, diharapkan tercipta tatanan sosial penuh damai, tanpa teror. Dan aparat pemerintah harus hadir, tidak boleh absen dalam menjaga negara ini dari tindakan individu atau kelompok yang sengaja bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi berbangsa. Semoga.

Wasid Mansyur

Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pegiat Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Aswaja, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. PMII Sepuluh Nopember ITS Surabaya kembali mengadakan kaderisasi awal MAPABA. Sedikitnya 40 peserta siap menjadi kader Aswaja di kampus ITS Surabaya, Sabtu (7/3).

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Menurut panitia pelaksana Imam Syafiie Musthofa, Mapaba ini sengaja ditempatkan di pesantren dengan tujuan tabarruk. "Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar, dan kami mendapat dukungan pengasuh pondok untuk berjuang mengaswajakan kampus ITS," ujar kader PMII ITS ini, Ahad (8/3).

Kegitan yang berlangsung pada 6-8 Maret 2015 ini dibuka oleh Ketua PMII Surabaya Ahmad Zairuddin. "Kalian harus bangga bisa masuk di ITS. Kalian harus bangga bisa menjadi anggota PMII, organisasi terbesar di Nusantara," ujar Zairuddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus PMII berharap anggota baru terlibat aktif dalam kegiatan PMII yang dilaksanakan Komisariat Sepuluh Nopember maupun Cabang Surabaya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits, Budaya, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Dalam sejarah pergerakan nasional, sejumlah perjanjian dengan pihak kolonial telah ditempuh oleh Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara. Namun dalam praktiknya, sejumlah perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan pihak kolonial Belanda.

Seperti Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 antara Indonesia dan pihak Belanda di atas Kapal Renville Amerika Serikat. Salah satu isinya ialah, pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat atau RIS.

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)
Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Poin-poin dalam Perjanjian Renville dinilai lebih buruk ketimbang Perjanjian Linggarjati yang dilakukan sebelumnya, 11 November 1946 di Jawa Barat. Hasil perundingan Renville ditentang oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang tergabung dalam “Benteng Republik Indonesia”, terutama oleh golongan Islam. (Saifuddin Zuhri, 1979: 452)

Singkatnya, hasil perundingan Renville ini menjadi sebab jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin. Kabinet ini hanya berumur 6 bulan dan digantikan oleh Kabinet Hatta (Presidentil) yang dilantik oleh Presiden Soekarno pada 29 Januari 1948. Pada Kabinet Hatta, Bung Hatta selaku pembentuk kabinet ingin merangkul berbagai golongan, termasuk golongan Islam yang getol menolak Perjanjian Renville.

Kabinet Hatta yang salah satu program kabinetnya ialah melaksanakan hasil Perundingan Renville, menyebabkan umat Islam yang tergabung dalam Partai Masyumi menolak untuk bergabung. Namun demikian, Masyumi sebagai partai besar tetap mengadakan rapat untuk menentukan sikap persetujuan duduk tidaknya DPP Masyumi dalam Kabinet yang sedang disusun Bung Hatta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam rapat tersebut, hadir lengkap Anggota DPP Masyumi di antaranya, Dr Sukiman, Mr. Kasman Singodimedjo, Dr Abu Hanifah, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Muhamad Roem, M. Natsir, KH A. Wahid Hasyim, KH Masykur, Zainul Arifin, Farid Ma’ruf, KH Abdulkahar Muzzakir, Mr. Yusuf Wibisono, Prawoto mangkusasmito (Sekjen), dan lain-lain.

Dari unsur Majelis Syuro, hadir KH A. Wahab Chasbullah (yang telah dipilih menjadi ketua setelah Hadlatarussyekh Hasyim Asy’ari wafat), KH Ki Bagus Hadikusumo, KH Raden Hajid, KH Imam Ghozali, A. Hasan, dan lain-lain.

Malam pertama, rapat dipenuhi perdebatan yang cukup sengit sehingga belum bisa mengambil keputusan. Lalu, Sidang DPP Masyumi tersebut dilanjutkan di malam kedua. Di hari kedua sidang tersebut, Kiai Wahab mengusulkan untuk menerima tawaran Bung Hatta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya usulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta,” ujar Kiai Wahab dengan suara cukup lantang. “Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet itu atas nama pribadi sebagai warga negara yang loyal kepada negara. Jadi yang duduk di kabinet itu bukan Masyumi sebagai partai yang tegas-tegas menentang Persetujuan Renville dan Persetujuan Linggarjati!”

Pemikiran Kiai Wahab tersebut mendapat sambutan positif dari pengurus Masyumi. Sebab menurutnya, meskipun secara organisasi menolak Perundingan Renville, tetapi sebagai warga negara tentu tidak bijak ketika negara memanggil untuk melaksanakan tugas kenegaraan namun menolaknya. Tetapi, usulan Kiai Wahab mendapat respon sebaliknya dari Kiai Raden Hajid.

“Loh, alasannya apa kita duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan Renville padhal sejak semula kita menolak Renville? Apa ini tidak melakukan perbuatan munkar?” kata Kiai Raden Hajid tidak kalah lantangnya.

“Kita tidak hendak melaksanakan perkara munkar, bahkan sebaliknya, kita hendak melenyapkan munkar,” tutur Kiai Wahab merespon reaksi Kiai Raden Hajid.

Bagi Kiai Wahab, dulu Nabi Muhammad berupaya mengubah situasi munkar (untuk melenyapkannya) dengan perbuatan. Dengan duduk di kabinet, terbuka situasi dan kesempatan bagi ulama untuk melakasanakan misi tersebut. Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.

“Tetapi kenapa dulu kita menolak Renville, lalu kini hendak melaksanakannya?” ujar Kiai raden Hajid kembali mempertanyakan.

“Sejak pertama kita menentang Persetujuan Renville, sekarang dan seterusnya pun kita tetap menentangnya. Tapi cara penentangan kita dengan falyughoyyirhu biyadih dengan perbuatan jika kita bisa duduk dalam kabinet. Sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita. Setelah rumah terbakar, apakah kita cuma duduk berpangku tangan?” kata Kiai Wahab merumuskan sebuah qiyas.?

Akhirnya, Kiai Raden Hajid bisa menerima usulan dan pendapat Kiai Wahab dengan menyampaikan agar kelak anggota DPP Masyumi yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Hatta supaya mengikrarkan janji, tidak cukup hanya berniat dalam hati untuk terus berkomitmen menolak Perjanjian Renville.

Terkait niat ini, Kiai Wahab menjelaskan salah satu Hadits Nabi SAW yang menyebutkan, “Ista’inu ? ‘ala injaahil hawaiji bil kitmaan...” (HR Imam Thabrani dan Baihaqi). Artinya, mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya.

Baik Kiai Wahab dan Kiai Raden Hajid merupakan ulama besar. Usia mereka kala itu hampir sebaya, 60 tahun. Kedua kiai kharimatik yang mempunyai integritas keilmuan agama itu sama-sama mempunyai sifat tangkas dan cekatan terhadap berbagai persoalan kebangsaan dan keagamaan.?

Adapun isi Perjanjian Renville yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat (RIS).

2. Sebelum RIS terbentuk, Belanda memegang kedaulatan seluruh Indonesia.

3. Republik Indonesia merupakan satu negara bagian dari RIS.

4. Akan dibentuk Uni Indonesia Belanda yang dikepalai oleh Ratu Belanda.

5. Akan diadakan plebisit (pemungutan suara) untuk menentukan kedudukan politik rakyat Indonesia dalam RIS dan pemilihan umum untuk membentuk Dewan Konstituante RIS.?

(Fathoni Ahmad)

Kisah perdebatan ini disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam buku karyanya "Berangkat dari Pesantren".

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Humor Islam, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit!

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu hal yang membuat saya kukuh mengimani bahwa al-Quran itu bukan buatan manusia tapi merupakan pesan ilahi adalah kandungan ayatnya yang menembus batas kemanusiaan kita dan melintasi zaman. Lima belas abad lampau bahkan hingga kini masih banyak di antara kita yang tidak fair dan tidak adil bersikap hanya karena kita membenci suatu kelompok atau individu tertentu. Namun pesan al-Quran begitu dahsyat menembus stereotyping akan pihak lain: boleh tidak suka terhadap perbuatan mereka tapi tetap harus berlaku adil kepada mereka.

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit! (Sumber Gambar : Nu Online)
Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit! (Sumber Gambar : Nu Online)

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit!

Surat al-Maidah turun pada tahun kedelapan Hijriah setelah perjanjian Hudaibiyah yang berlangsung pada tahun keenam Hijriah. Dalam peristiwa Hudaibiyah, rombongan Rasul yang hendak pergi ke Baitullah dihalangi memasuki kota Mekkah. Singkat cerita, ada rasa dendam dan kebencian di kalangan sebagian pihak atas peristiwa itu: dulu mereka halangi kita, sekarang kita pun bisa menghalangi mereka, maka turunlah petikan surat al-Maidah:2

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka)"

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan kandungan petikan ayat ini:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidil Haram yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka. Lalu kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan permusuhan. Tetapi kalian harus tetap memutuskan apa yang di­perintahkan oleh Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam per­kara yang hak terhadap siapa pun."

Luar biasa bukan pesan ilahi ini? Bahkan kita harus berlaku adil terhadap mereka yang pernah menghalangi kita memasuki Baitullah. Tafsir al-Misbah menyebutkan riwayat lain dikisahkan bahwa larangan ini turun berkenaan dengan rencana merampas unta yang dibawa rombongan Yamamah di bawah pimpinan Syuraih bun Dhubaiah al-Hutham yang menuju Baitullah dengan alasan unta-unta itu dulu milik umat Islam yang dirampas mereka. Ayat di atas turun melarang umat Islam berbuat kezaliman yang sama.

Kata "Syana-an" dalam ayat di atas itu maknanya al-baghd al-syadid, yaitu kebencian yang telah mencapai puncaknya. Musuh yang sudah kita benci sampai ke ubun-ubun lantaran menghalangi pelaksanaan agama, masih harus kita perlakukan secara adil. Kita dilarang berbuat zalim kepada mereka. Ini pesan keadilan dari langit!

Ketentuan membolehkan kaum Musyrikin memasuki Baitullah itu kemudian dihapus pada tahun kesembilan Hijriah saat turun Surat al-Taubah ayat 28: "Jangan mereka (orang Musyrik) mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini". Namun demikian pesan ilahi untuk berbuat adil tetap abadi.

Ibn Katsir mengutip pernyatan sebagian ulama salaf:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?.

"Selama ka­mu memperlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap diri­mu dengan sikap berdasarkan taat kepada Allah dan selalu berlaku adil dalam menanganinya, niscaya langit dan bumi ini masih akan tetap tegak."

Pesan keadilan di atas begitu pentingnya sehingga ditegaskan kembali dalam surat yang sama yakni al-Maidah ayat 8:

"Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa"

Kebencian itu tidak menjadi alasan pembenar untuk bisa menzalimi pihak lain. Kita tidak boleh keluar dari aturan main dan tidak boleh membalas kezaliman di luar batas-batas keadilan dan hukum. Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menegaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Kekufuran orang kafir itu tidak menghalangi kita berbuat adil dalam berinteraksi dengan mereka. Dalam ayat perintah untuk berbuat adil dan taqwa ada petunjuk untuk membuat batasan dalam pertempuran, misalnya mereka membunuh para wanita kita dan anak-anak kita, maka kita tidak dibenarkan melakukan pembunuhan yang serupa".

Bahkan dalam pertempuran pun ada seperangkat etika dan aturan yang harus ditaati tentara Muslim. Kebencian tidak dibalas dengan kebencian. Kezaliman tidak dihapus dengan kezaliman lainnya. Dalam keadilan, bukan saja ada kasih sayang, tapi juga ada ketakwaan.

Majallat al-Ahkam al-Adillah, yang merupakan kitab undang-undang hukum perdata Islam pertama yang dikodifikasi pada tahun 1293 H/ 1876 M oleh pemerintah Turki Usmani, memuat ketentuan nomor 921 yang berdasarkan prinsip ayat di atas:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ; ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Tidak dibolehkan bagi orang yang dizhalimi untuk menzhalimi orang lain karena itu termasuk salah satu bentuk kezaliman. MIsalnya, jika Zaid merusak harta Amru, lalu Amru membalas merusak harta Zaid, maka keduanya dihukum untuk membayar ganti rugi. Begitupula jika ada yang ditipu dimana dagangannya dibayar dengan uang palsu, maka dia tidak boleh menggunakan uang palsu untuk transaksi dengan pihak lain."

Keadilan itu salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Meski kita dirugikan, dizhalimi dan dianiaya sehingga membuat kita sangat benci kepada orang tersebut --baik orang Islam maupun non-Muslim-- kita tidak boleh membalas kezaliman dengan kezaliman kepada orang tersebut ataupun kepada pihak ketiga. Kita tetap harus berbuat adil dan mengikuti proses hukum yang berlaku.

Kita boleh saja membenci perbuatan mereka, tapi kita jangan menzalimi pribadi mereka, keluarga mereka, harta dan kedudukan mereka. Ini pesan langit yang melintasi zaman, yang hanya bisa diterapkan oleh mereka yang diajarkan untuk menebar rahmat pada semesta. Saya, anda dan kita kah itu?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Lomba, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 06 November 2017

Wayang Kulit Meriahkan Peluncuran Muktamar di Surabaya

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Panitia Daerah Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama menggelar kegiatan “Launching Sukses Muktamar” di Surabaya, Sabtu (14/3) malam. Dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, kegiatan juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono.

Wayang Kulit Meriahkan Peluncuran Muktamar di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Kulit Meriahkan Peluncuran Muktamar di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Kulit Meriahkan Peluncuran Muktamar di Surabaya

Muktamar akan diselenggarakan di Jombang Jawa Timur pada 1-5 Agustus 2015 mendatang. Sementara kegiatan launching Sabtu malam lalu dilpusatkan di Parkir Utara ?PWNU Jatim yang dirangkai dengan peringatan hari lahir (harlah) ke-89 NU.

Ki Entus malam itu membawakan lakon Nurkala Kalidasa, yang menggambarkan perjuangan tokoh Nurkala Kalidasa dalam mewujudkan perdamaian dunia. Dalam kisah itu, Prabu Kresna meminta ?Prabu Yudhistira mewujudkan perdamaian dunia dengan cara menemui betara guru di khayangan. Prabu Yudhistira menyetujui dan menjelma menjadi raksasa bernama Nurkala Kalidasa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia kemudian menemui Betara Guru setelah mengalahkan para dewa di khayangan. Akhirnya, betara guru mengeluarkan titah dan memberi mandat kepada Nurkala Kalidasa untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Setidaknya lakon tersebut sejalan dengan keinginan NU dalam menegaskan Islam Nusantara dalam upaya men?jaga perdamaian dunia," urai Ki Enthus.

Hadir Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftakhul Akhyar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang juga Ketua Panitia Daerah Muktamar ke-33, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Anas Yusuf, Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Eko Wiratmoko, dan Pangarmatim Laksamana Muda TNI Darwanto, dan beberapa anggota DPRD Jatim.

Ketua Panitia Daerah Muktamarke-33, Saifullah Yusuf, mengatakan, Muktamar akan dilaksanakan di empat pesantren yakni Tambak Beras, Peterongan, Denanyar, dan Tebuireng. Sementara pembukaan dan rapat pleno akan dadakan di alun-alun kota Jombang

Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memperkirakan, selain para peserta muktamar (muktamirin) akan ada 50 ribuan warga NU yang hadir yang ikut meramaikan muktamar. “Semua akomodasi sudah siap, Pemprov Jatim, TNI dan Polri juga siap mendukung dan mengamankan muktamar," ujarnya.

Muktamar kali ini mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia”. “Mari kita alihkan kiblat peradaban dunia bukan dari Timur Tengah, tetapi dari Indonesia, wa bil khusus Nahdlatul Ulama," ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan kata sambutan. (Red: Anam)

?

Foto: Vivanews

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu KH Anwar Zuhdi mengatakan bahwa Manusia tidak akan masuk ke surga kecuali harus masuk ke neraka terlebih dahulu.

"Yang akan masuk langsung ke surga adalah seorang hamba bukan manusia. Man itu orang Nusia itu dilupakan. Makanya manusia sering lupa banyak dosa sehingga harus masuk neraka untuk dibersihkan setelah bersih manusia akan menjadi hamba dan kemudian masuk ke surga," jelasnya pada kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap pekan di Aula Gedung NU ini, Ahad (01/01).

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Keikhlasan Amal Ibadah Datangkan Kasih Sayang

Lebih lanjut Abah Anwar, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa prinsip seorang hamba sangat sulit sekali diraih. Hal ini karena hamba merupakan sosok yang ikhlas dalam beribadah tanpa pamrih dan tidak memperdulikan imbalan. "Mendapat pahala nggak mendapat pahala, seorang hamba tetap istiqomah beribadah," tegasnya.

Prinsip hidup seorang hamba dengan mengedepankan keikhlasan akan mendatangkan kasih sayang dari yang memiliki hidup. Ia mengibaratkan bila seorang pembantu rumah tangga bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh majikannya dan tidak peduli dengan pekerjaan lainnya maka Ia akan mendapatkan sebanyak yang Ia harapkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun sebaliknya, jika Ia bekerja dengan ikhlas, segala pekerjaan yang belum beres diselesaikan dengan baik tanpa menunggu perintah majikan maka terkadang Ia akan mendapatkan lebih dari yang biasa yang Ia terima.

"Kalau kita melakukan segala hal dengan ikhlas, maka kita akan di beri kasih sayang yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan," ujarnya.

Oleh karenanya, Abah Anwar menghimbau agar dalam mengawali dalam melakukan segala sesuatu hendaknya selalu menata hati dan niat dengan benar. "Menata hati itu susah. Namun kita harus terus berusaha agar amal ibadah kita tidak sia-sia dengan selalu mengedepankan keikhlasan dalam melakukannya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

PBNU Jalin Kerjasama dengan Indosat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjalin kerjasama dengan PT Indosat Tbk sepakat menjalin kerjasama yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak. Kesepakatan bersama ini ditandatangani oleh KH Said Aqil Siroj sebagai ketua umum PBNU dengan Alexander Rusli selaku direktur utama Indosat di Jakarta, Kamis malam (26/11).

PBNU Jalin Kerjasama dengan Indosat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Jalin Kerjasama dengan Indosat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Jalin Kerjasama dengan Indosat

Kerjasama yang dijalin kedua belah pihak ini dilakukan di tengah-tengah upaya Indosat melakukan digitalisasi Indonesia untuk mendorong kemajuan. Untuk itu Indosat merubah namanya menjadi Indosat Ooredoo. Terkait dengan kerjasama tersebut, terdapat tiga bidang yang dikerjasamakan, yaitu digitalisasi dokumen dan manuskrip NU; pelatihan media, aplikasi dan mobile content; dan fasilitasi pesantren berbasis IT.

Robikin Emhas, ketua PBNU yang membidani masalah hukum menjelaskan, tiga point kerjasama ini nantinya akan diperinci dalam pertemuan-pertemuan lanjutan diantara kedua belah pihak.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nasser Mohammed Maerafih, komisaris utama Indosat Ooredoo dalam peresmian nama baru menjelaskan apa yang dilakukan oleh Indosat ini merupakan upaya untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memperluas akses dunia digital kepada generasi muda. Secara khusus, dalam sambutannya, pengusaha asal Qatar tersebut menyebut nama KH Said Aqil Siroj sebagai penghormatan atasnya.

Salah satu program yang didukung Indosat adalah Indonesia Belajar dengan memberikan dukungan dengan layanan digital sehingga proses belajar mengajar bisa dijangkau dari mana saja dan oleh siapa saja.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ooredoo merupakan perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Qatar. Perusahaan ini merupakan pemegang saham mayoritas Indosat dengan nilai kepemilikan 65 persen. Pemerintah Indonesia kini hanya memegang 14.29 persen sedangkan sisanya dimiliki oleh publik. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 September 2017

Selamat, Bendahara NU Prancis Raih Doktor Geografi

Paris, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satu lagi pengurus NU di luar negeri berhasil menyelesaikan pendidikan S3-nya. Bendahara PCINU Prancis, Hayuning Anggrahita berhasil meraih gelar doktor di bidang geografi dan perencanaan wilayah (“Géographie et aménagement”) dari Université Paris IV Sorbonne.

Selamat, Bendahara NU Prancis Raih Doktor Geografi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat, Bendahara NU Prancis Raih Doktor Geografi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat, Bendahara NU Prancis Raih Doktor Geografi

Menurut siaran pers PCINU Prancis Sabtu (28/6), Hayuning Anggrahita berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Le Marketing Social est-il la solution au problème de la consommation d’eau à Jakarta?” (“Apakah Social Marketing dapat menjadi solusi bagi permasalahan konsumsi air di Jakarta?”) di hadapan lima penguji pada 26 Juni 2014.

Disertasi Hayuning mendapatkan predikat “très honorable avec félicitations du jury”, suatu predikat tertinggi yang diberikan kepada seorang doktor dalam sistem pendidikan Prancis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam disertasinya Hayuning meneliti permasalahan air di Jakarta, dengan melihat kesenjangan antara sumberdaya air yang melimpah di Jakarta dan akses terhadap air bersih yang tidak setara di antara warga Jakarta.

Berdasarkan pengamatan Hayuning, persepsi tentang air yang melimpah cenderung mendorong konsumsi air secara boros. Penelitiannya menemukan bahwa pendekatan “social marketing” dapat mendorong warga Jakarta untuk menghemat konsumsi air.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selama menempuh pendidikan S3, Hayuning mendapat dua penghargaan, Premier Prix concours de posters scientifiques yang diberikan École Doctorale de Géographie de Paris, Institut de géographie de Paris tahun 2012, dan Lauréate de Prix Mahar Schutzenberger Association Franco-indonésienne pour le Développement des Sciences (AFIDES) tahun 2013.

Keberhasilan Hayuning meraih gelar doktor memberi motivasi tersendiri bagi para mahasiswa NU yang sedang menempuh pendidikan mereka baik S2 maupun S3 di ibu kota Prancis tersebut. (Red: Abdullah Alawi)

      

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Internasional, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock