Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sabtu (22/11), di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Salah satu pengurus LP Ma’arif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Ma’arif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Ma’arif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Ma’arif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Sekretaris PC LP Ma’arif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Bekasi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Maulid adalah isim zaman dan isim makan dari walada. Walada, kata kerja lampau, berari telah lahir. Sedangkan Maulid bermakna hari dilahirkan atau tempat kelahiran. Dalam tradisi Islam Nusantara, maulid memiliki tiga makna.

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Pertama, bulan. Bulan yang dimaksud adalah bulan dalam almanak Hijriyah, yakni Robi’ul Awal. Muslim Nusantara tidak menggunakan Robi’ul Awal, melainkan dengan sebutan Maulid, disebabkan karena bulan tersebut merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 Maulid. Penyebutan Maulid pun rasanya lebih muda ketimbangan Robi’ul Awal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang Jawa, orang Sunda, orang Banjarmasin, orang Jakarta, dan lain-lain menyebut bulan Robbi’ul Awal dengan Maulid atau Mulud.

Sementara orang Madura menyebut dengan Molod dan Molot. Orang Aceh menyebut dengan Moloed. Bulan ini sangat dihormati, bahkan disebut bulan suci. Bulan maulid dianggap suci, karena orang suci dilahirkan. Ramadlan dikenal dengan bulan suci, karena pada waktu itulah kitab suci diturunkan. Ada lagu yang masyhur tentang bulan Maulid karya Nasida Ria, “Bulan maulid bulan yang suci”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Makna kedua dari Maulid adalah hari pringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dalam kalender Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awal. Pada tanggal 12 Maulid itu, umat Islam Nusantara, terutama pemegang Madzhab Aswaja, berkumpul di tempat yang disepakati, di masjid atau surau, di pesantren atau tempat-tempat bersejarah seperti keraton, hingga alun-alun kota.

Di Yogyakarta, Keraton mengadakan Grebeg Maulid pada tanggal 12 Maulid. Di Keraton Kasepuhan, ada tradisi Malam Panjang Jimat, di tanggal hari kelahiran Nabi SAW. Di desa-desa Nusantara, tanggal 12 Maulid dirayakan dengan membaca sejarah Nabi SAW yang terdapat di kitab al-Barzanji, dan lain-lain.? Pada hari tersebut juga, perayaan identik dengan acara makan-makan bersama atau bancakan seusai acara inti. Di Yogyakarta, ada Gunungan yang terbuat dari aneka macam makanan, bahkan di Padang Pariaman, ketika Maulid ada makanan khas, yakni Lemang.

Ketiga, Maulid bermakna pengajian umum yang dikhususkan untuk mempringati kelahiran Nabi Muhammad. Penyelenggraan pengajian ini tidak terikat tanggal 12 Maulid. Ia bisa dilakukan ditanggal 1, 9, 23 Maulid dan seterusnya. Pengajian ini dikenal dengan sebutan Maulidan atau Muludan.

Di daerah-daerah yang tradisi Islamnya kental, pengajian Maulid dilakukan di luar bulan Maulid. Bahkan, di Pada Pariaman-Sumatara Barat, Maulid Nabi dilakukan selama tiga bulan, dengan makanan khasnya Malemang, yaitu Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Pengajian yang diselenggarakan di masjid, surau, berisi ceramah keagamaan, sholawat Nabi, dan lain-lain.

Tidak seperti beberapa tahun lampau, hari ini peringatan Maulid Nabi diadakan secara terbuka, makin semarak, di tempat-tempat modern, di kampus, sekolah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya, juga televisi-televisi. Penyelenggara Maulidan mulai dilakukan oleh pemuda, komunitas pekerja, ibu-ibu, organisasi masyarakat, hingga institusi negara.

Hari ini, tampaknya orang melupakan pertanyaan, ”Apa hukum Maulid?”, “Mana dalil Maulid Nabi?”

Mereka sudah berasyik-masuk dengan acara Maulid yang penuh kegembiraan, penuh ekspresi, dari mualai merayakan dengan seni sastra, suara, musik, hingga makanan-makanan yang khas, yang tidak ada kecuali pada perayaan Maulid Nabi.

Memang masih ada saja orang yang usil dengan agenda Maulid Nabi, tapi di Indonesia jumlah kelompok yang mengharamkan acara tersebut amat kecil. Tapi juga seringkali suka cari perhatian dengan melakukan aksi-aksi over acting, teriak-teriak di radio, menyebarkan fitnah lewat lembaran-lembaran kecil, bahkan mendatangi rumah-rumah. Sampai di sini saya teringat dengan almaghfurlah Ki Fuad Hasyim Buntet, ketika menjelaskan perbedaan antara Maulid dan Haul.

“Kenapa bukan maulidan yang diperingati?” tanya Ki Fuad kepada jamaah Haul Mbah Ali Maksum Krapyak, beberapa tahun lampau. Lalu ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan fasih dan lancar.

“Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi Muhammad sebagai Rasul Tuhan. Peringatan maulid hanya layak kita rayakan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan kabar gembira juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan mengembangkan peradaban dunia, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai sang rasul. Sedangkan kita, manusia biasa, tidak. Peringatan ulang tahun Muhammad diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya yang juga diwariskan kepada para pengikutnya.”

“Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat kita?” Kang Fuad bertanya lagi. Lalu ia menjawab sendiri dengan singkat tapi gamblang, “Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah atau harlah sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan kebiasaan (‘adah) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’ perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan penting dilontarkan lagi sesaat kemudian, “Bagaimana sikap kita kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara haulan ataupun maulidan?” kata mereka bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi Muhammad. Semua bid’ah itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu hanya dijelaskan saja oleh Kang Fuad, “Kita tidak usah menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti itu. Selagi tidak mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

Maulid Nabi bertujuan untuk mengagungkan, mengingat perjuangan serta meneladani Nabi Muhammad. Tradisi Maulid ini juga merupakan salah satu bentuk dakwah Islam Nusantara. Di dalam acara Maulid Nabi juga disyiarkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Melihat begitu semarak dan semangat perayaan Maulid yang juga dilakukan dengan tulus, sepertinya, Maulid Nabi tak akan pernah berhenti. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap pelajar putri NU berperan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Menurut Menpora, saat ini indikasi ingin memecah-belah negara ini makin sering terjadi. ?

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

"Selamatkan Indonesia dengan menyelamatkan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga NU di bumi Nusantara. Saat ini NU mendapatkan godaan yang semakin berat," katanya saat pidato di Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat (23/12) di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Untuk hal itu, menurutnya, IPPNU saat ini perlu memperkuat kaderisasi dari bawah.?

Sebagai kader IPPNU jangan malu menunjukkan identitas sebagai kader NU. Tebarkan paham-paham Aswaja melalui media sosial.?

"Kita buktikan bahwa Aswaja telah menyelamatkan dan memberikan perdamaian dunia," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat ada acara-acara kepemudaan di daerah, lanjutnya, kader IPPNU harus bepartisipasi. Bahkan, kalau ia hadir ke daerah, maka kader IPPNU di daerah itu wajib hadir, mau diundang atau tidak.

"Dampingi dan kawal saya atau Menteri yang lain berkunjung ke daerah," pesannya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader IPPNU konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth) meski tidak mudah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan.

Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus wilayah se-Indonesia. Turut hadir Staf Ahli Mendikbud Hari Budiman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU MargaretAliyatul Maimunah. (Ahmad Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam bukan untuk mendirikan negara Islam (darul-islam) namun Rasulullah memiliki konsep mulia yaitu mendirikan negara yang menjunjung tinggi keselamatan dan kemaslahatan bagi seluruh warganya (darussalam). Hal ini disampaikan Ustadz Ahmad Rifai saat menjadi pemateri pada program Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi).

"Islam menyebar keseluruh dunia untuk menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, budaya, dan tempat tinggal. Oleh sebab itu ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau tidak membentuk darul-islam atau Negara Islam namun mendirikan darussalam atau Negara Kedamaian," terangnya, Ahad(17/01/16) di Pringsewu, Lampung.

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Rifai menambahkan bahwa Islam bukanlah agama pemberontak, agama teroris, atau agama pembuat masalah. "Islam datang dengan kedamaian. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan teror dan sebagainya, hal tersebut hanyalah kebetulan saja karena oknum tersebut tidak bisa mengartikan makna Jihad," tegas Ketua LP Maarif Kabupaten Pringsewu ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, teror bersifat merusak sedangkan jihad bersifat memperbaiki. Oleh karena itu jika ada yang mengatasnamakan jihad namun merusak dan merugikan orang lain maka itu dikategorikan sebagai teror. "Kewajiban kita untuk memperbaiki dan membangun negara bukan malah merusaknya," tegasnya.

Rifai mengingatkan bahwa kemerdekaan tanah air Indonesia tidak diperoleh dengan gratis. "Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan negara kita sebagaimana resolusi jihad yang dikumandangkan oleh para ulama pejuang pendahulu kita," ingatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rifai juga menjelaskan bahwa Islam terlahir bukan hanya mengurusi masalah shalat, zakat dan permasalahan seputar ibadah saja. Namun Islam juga membahas dan membawa misi penting lainnya yaitu muamalah yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup bersama orang lain di dunia.

Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan kemaslahatan tersebut setiap muslim haruslah memiliki 3 prinsip dalam beragama. Prinsip-prinsip tersebut adalah ruhuddin (semangat beragama), ruhuddinul adabi wal hadoroh (semangat membangun agama yang beradab dan budaya), serta ruhul wathaniyyah (spirit kecintaan kepada tanah air). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, Senin (10/8) dalam jumpa pers di kantornya menuturkan, bahwa pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah mempunyai peran yang sangat signifikan. Karena pengajaran agama tersebut turut menanamkan karakter kepada diri siswa.

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

“Bayangkan jika sekitar 50 juta siswa yang sedang belajar di madrasah dan sekolah ini pendidikan agamanya bersifat radikal, tentu negara ini akan mengalami kekacauan,” ujarnya di ruang jumpa pers, Kantor Kemenag lantai 7 Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Oleh sebab itu, menurutnya, pengajaran dan pendidikan Islam di sekolah harus dikemas semenarik mungkin agar peserta didik termotivasi untuk mendalami agama Islam yang baik dan benar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamaruddin menambahkan, bahwa salah satu instrumen untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik terhadap agama Islam, yaitu dengan menyelenggarakan Pentas PAI. Pentas ini tidak hanya mengakomodasi keterampilan seni siswa, tetapi juga mengolah pemahaman mereka selama di sekolah dengan lomba seperti cerdas cermat, pidato, debat, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dari kegiatan tersebut , nanti akan terlihat seperti apa pemahaman agama yang dimiliki oleh peserta didik. Media ini juga sebagai sarana peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dari sisi seni pendidikan Islam, seperti lomba kaligrafi, nasyid, tahfidz Qur’an, lomba kreasi busana, dan lain-lain,” paparnya.

Lebih jauh, Kamaruddin menjelaskan, potensi radikalisme di setiap sekolah pasti ada. Sebab itu, pendidikan dan pengajaran agama Islam yang menarik menjadi upaya yang penting untuk menanamkan pemahaman Islam yang damai.?

“Pendidikan Islam damai harus terus menerus kita ajarkan dan tanamkan kepada peserta didik, yaitu Islam yang berusaha menghargai dan menyadarkan kita sebagai warga negara,” terangnya.

Lomba Pentas PAI Nasional VII yang akan berlangsung 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi.

Adapun jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB).

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Dr Amin Haedari menyatakan, bahwa kepada para siswa yang juara pada kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah yang sangat menarik. “Kepada para juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III, Kemenag telah menyiapkan hadiah dan pengahargaan yang diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan mereka di bidang agama Islam,” ucap Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menhimbau kepada pemerintah daerah untuk tidak memfasilitasi kelompok radikal.

“Contohnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat Kabupaten dan kota, tidak sedikit pengurusnya berasal dari kelompok Islam radikal. Bukan hanya itu, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah, juga berasal dari kleompok radikal,” papar Ketua PCNU Sukoharjo, M. Nagib Sutarno, saat memimpin rapat pleno PC NU Sukoharjo, Minggu malam (16/9).

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Terlibatnya kelompok Islam radikal di beberapa institusi keagamaan dan sosial itu, diduga ada beberapa penyebab. pertama Muspida (Bupati, Wakil Bupati, Kepolisian dan Kodim) belum memahami peta kondisi sosial keagamaan di masyarakat.  Contoh kasus, selama dua tahun belakangan ini  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sukoharjo mengisi pengajian penghantar buka puasa di radio siaran pemerintah daerah (RSPD). Setelah diprotes oleh NU, baru pihak pemerintah sadar bahwa, visi misi HTI bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa institusi lain seperti Masjid Agung, Masjid di IPHI, dan Masjid di lingkungan Kodim, dijadikan sebagai tempat dakwahnya kelompok Islam radikal, yang setiap harinya  menjelek-jelakan Republik Indonesia, Negara thogut, pemerintahan kafir, dengan berbagai semboyan, rakyat sejahtera bersama khilafah. “Tapi anehnya eksekutif diam,”tegas Sutarno.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, Muspida memahami kondisi sosial, tapi lemah dan kalah. ” Pemerintah daerah lemah dan kalah, bisa jadi karena beberapa factor diantaranya kepentingan politik.” Dikatakan Sutarno, pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah daerah, sekarang ini sudah banyak yang bergabung dalam komunitas Islam radikal. Bukan hanya itu, kata Tarno, pihak tentara juga sudah disusupi kelompok Islam radikal. 

Contohnya, Perpustakaan Kodim yang seharusnya berisikan buku-buku tentang empat pilar kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, tapi anehnya, papar Tarno buku-buku jihad, terorisme karya Imam samudra dkk, yang jelas-jelas bertentangan dengan NKRI mendapat tempat.

Keanehan Sutarno diamini oleh warga NU yang juga mantan anggota TNI, Mulyatno. Menurutnya, memang ada orang yang intervensi di tubuh tentara. ” Tentara kita sudah tidak sehat lagi, mudah diintervensi oleh pihak lain,” kata Mulyatno. 

Melihat persoalan tersebut pengurus MWC, Banom, Laznah dan lembaga NU Sukoharjo, mengharap kepada PC NU untuk melakukan silaturahmi dan dialog dengan Muspida. ”Kami berharap PC NU melakukan dialog dengan pihak eksekutif dan lembaga lainnya yang dianggap setrategis. Membicarakan tentang kondisi sosial kemasyarakatan Sukoharjo,” papar Kyai Ahmad Baidlowi.  

Acara rapat pleno juga, menunjuk H Shofwan Faisal Sifyan, selaku wakil ketua tanfizd, menggantikan sementara ketua PC NU Sukoharjo untuk waktu 50 hari, lantaran H Nagib Sutarno, menunaikan ibadah haji. Peserta rapat juga menunjuk Cecep Choirul Sholeh, sebagai ketua Tim Kartanu Kabupaten Sukoharjo. Tampak hadir diantaranya, KH Maksum Waladi, H Mustain Ahmad, dan perwakilan 12 MWC serta banom, laznah dan lembaga NU Sukoharjo.( Cecep Choirul Sholeh)

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Cecep Ainurrazaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Khatam Al-Qur’an, Santri TPQ Nurus Shibyan Ziarahi KH Arwani

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah khatam belajar Al-Qur’an, sebanyak 23 santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Nurus Shibyan Dusun Sudimoro Karangmalang Gebog Kudus berziarah ke makam ulama ahli Al-Qur’an KH Arwani Amin Sabtu (19/4).

Didampingi para guru, mereka tahlilan dan berdo’a bersama di atas makam yang berada satu Komplek Pondok Yanbu’ul Qur’an Kudus, Jawa Tengah.

Khatam Al-Qur’an, Santri TPQ Nurus Shibyan Ziarahi KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Khatam Al-Qur’an, Santri TPQ Nurus Shibyan Ziarahi KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Khatam Al-Qur’an, Santri TPQ Nurus Shibyan Ziarahi KH Arwani

Salah seorang guru yang mendampingi, Mahfudz Nahrowi, mengatakan kegiatan ziarah ini merupakan rangkaian acara peringatan Khatmil Qur’an TPQ Nurus Shibyan yang biasa diadakan setiap tahun sekali. Tujuannya, untuk mengenalkan lebih dekat KH Arwani, sosok ulama dan? guru Al-Qur’an yang sangat ikhlas dan tawadhu supaya dapat menginspirasi santri sebagai teladan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ziarah ini dikhususkan santri yang sudah khatam belajar Al-Qur’an. Apalagi kesehariannya belajar Al-Qur’an menggunakan kitab Yanbu’a karangan Pengasuh pesantren Yanbu’ul Qur’an sini sehingga kita juga untuk tabarrukan kepada beliau,” terangnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal usai ziarah.

?

Kegiatan ini, imbuh Nahrowi, sebagai upaya menanamkan amaliah aswaja sejak dini serta menambah semangat belajar menuntut ilmu dengan dorongan spiritual. “Dengan Demikian, santri TPQ ini akan terbiasa melakukan aktivitas ziarah karena sudah pernah mempraktikkannya,” ujarnya.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepada yang khatam, Nahrowi mengharapkan santri selalu tetap belajar Al-Qur’an dan tidak merasa cukup dengan ilmu yang diperoleh dari TPQ. “Lanjutkan belajar di Madrasah Diniyah maupun pesantren dan jangan lupa deres Qur’an setiap hari,” harapnya.

?

Peringatan khotmil Qur’an di TPQ Nurus Shibyan ini akan ditutup dengan pengajian khataman pada Sabtu malam (26/4) bersama pembicara KH Sunarto Abdurrahman dari Kudus. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo mengatakan Islam moderat di Tanah Air harus diperkuat untuk mencegah meluasnya pengaruh paham radikal.

"Penguatan pemahaman Islam yang moderat dan toleran menjadi salah satu senjata untuk mencegah masuknya paham kelompok radikal dan terorisme seperti ISIS," katanya di Jakarta, Jumat.

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Ia menilai langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan ISIS di berbagai kalangan sudah bagus, namun harus ditindaklanjuti dengan adanya penguatan pemahaman tentang Islam sesuai ajaran yang benar.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pemerintah dan Ormas Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkewajiban untuk memberikan pemahaman Islam kepada segenap anak bangsa.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan, cinta kasih, dan persaudaraan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam Islam tidak ada sama sekali ajaran untuk merusak, meneror, apalagi membunuh sesama manusia," katanya.

Menurutnya, Islam yang indah, lembut, dan damai itu selalu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bahkan saat terjadi perang, juga diajarkan untuk menghormati musuh dan tidak boleh menyakiti anak-anak, wanita, dan orang tua.?

Semua itu adalah cerminan bahwa cara-cara kekerasan itu bukan Islam, apalagi tindakan itu menimbulkan korban jiwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jadi tidak ada hubungannya antara Islam dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak paham makna sebenarnya dari Islam yang mengajarkan kelembutan, kedamaian dan rahmatan lil alamin. Itulah inti ajaran Islam," ujar Ahmad Satori.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk memperkuat pemahaman tentang makna Islam yang benar agar tidak terjebak dan terpengaruh propaganda paham radikal terorisme.?

Terkait jihad, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengatakan di alam kemerdekaan Indonesia saat ini, jihad tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan berbagai cara seperti menggunakan tenaga, harga, jiwa, dan lain-lain untuk kemaslahatan.

"Di zaman sekarang, perjuangan (jihad) kita bukan dengan angkat senjata, tapi dengan memerdekaan negeri ini dari pengaruh asing, kemiskinan, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, makmur, dan sejahtera," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Nusantara, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Sampang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sampang menggelar Pelatihan Kemimpinan Dasar (PKD) selama dua gari, Sabtu-Ahad, 2-3 Desember 2017 di Graha Wali Songo Kantor PCNU Sampang.

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Acara bertema Mencetak Kader Militan Berkarakter Ahlus Sunnah wal jamaah An Nahdliyyah itu dihadiri sedikitnya 85 orang delegasi dari setiap Pengurus Anak Cabang (PAC) yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Sampang.

Ketua PC Ansor Sampang, KHR.Khoiron Zainin menyatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengoptimalkan peran GP Ansor Sampang khususnya PAC dalam membumikan paham Aswaja an-Nahdliyah di kalangan masyarakat awam. 

Selain itu, lanjut dia, hal tersebut juga diharapkan dapat menggugah semangat peserta agar tetap istiqamah membentengi agama, ulama, dan NKRI.

“Saya harapkan di Sampang lahir kader yang memiliki karakter Nahdliyah yang agamis dan nasionalis juga militan,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak hanya itu, Lora Khoiron sapaan akrabnya, yang juga Ketua Umum Majelis Pemuda Bersholawat “At-Taufiq” itu mengingatkan kepada para peserta untuk dapat menangkal aliran radikal yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Zainal Alim, salah satu peserta delegasi dari PAC Jrengik merespons baik acara tersebut karena dianggap mampu merevitalisasi semangat juang pemuda yang selama ini  mulai memudar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Acara ini luar biasa dan sangat menggugah," ungkapnya penuh semangat. (Ainur Ridho/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Patut diapresiasi, sebagai wujud rasa kemanusiaan, untuk meringankan bencana banjir di Kecamatan Balen. Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWC NU) Balen membantu para korban banjir di wilayahnya.

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Ketua MWC NU Balen Mulazim menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas musibah tersebut. Ia juga meminta tetap sabar meskipun seluruh tanaman padi dan palawija warga musnah, serta terancam puso akibat bencana banjir Bengawan Solo.

"Meski demikian tetap saja semangat dalam beribadah, mengembangkn organisasi NU dan bekerja keras. Pasalnya semua musibah datangnya dari Allah, manusia hanya berusaha segala ketentuan dari-Nya. Semoga bantuan ? ini bisa sedikit meringankan beban korban banjir, terutama warga Nahdliyin," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bantuan yang diberikan diantaranya 15 dus mie instan untuk tiga desa diantaranya Desa Pilanggede, Kedungdowoo dan Sarirejo. Barang tersebut diserahkan langsung di depan rumah ketua Ranting NU Pilanggede, Bashiron oleh ketua MWC NU Balen, Mulazim. Setelah diterima, bantuan itu langsung disalurkan kepada warga korban banjir saat itu juga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat di Desa Sarirejo diberikan ketua Ranting NU Sultonil Adzim. Di Desa Kedungdowo diberikan koordinator Muzamil yang juga pengurus Ansor dan pengurus Fatayat Darwati.

Sementara itu, ketua LPBI NU Balen, M. Yasin mengungkap, ia menyamput dengan senang hati kepedulian MWC NU Balen.?

"Sebenarnya ingin semua warga menerima bantuan ini, namun karena jumlahnya tidak mencukupi maka minta maaf. mudah-mudahan masih akan ada lagi bantuan-bantuan yang sekiranya bisa mencukupi untuk semua korban," harapnya.

Selain itu bantuan 50 paket dari SER NU Jawa Timur melalui LPBI NU Cabang Bojonegoro diserahkan kepada korban banjir di Desa Pilanggede Kecamatan Balen. Serta dari Fatayat NU dan Muslimat NU Balen menyerahkan 1000 nasi bungkus kepada warga Pilanggede dan Sarirejo. Penyerahan bantuan langsung dilakukan ketua Fatayat NU Balen Halimatus Sadiyah.

Ketua LPBI NU Cabang Bojonegoro, Rakhmad Maulana mengapresiasi MWC Balen yang telah melakukan aksi solidaritas untuk membantu korban banjir. Pasalnya belum tentu di kecamatan lain yang terdampak banjir maupun tidak, mau membantu korban banjir terutama kepada warga Nahdiyin yang menjadi korban.

"MWC NU Balen agar dicontoh MWC lainnya, semoga kerukunan dan keakraban sesama pengurus ditingkatan atas sampai ke bawah dapat bersinergi," pungkasnya.(yazid/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Nusantara, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad

Di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat terdapat sebuah tempat bernama "The Hollywood Walk of Fame", yakni trotoar sepanjang 15 blok di Hollywood Boulevard dan 3 blok di Vine Street. Di trotoar ini tertulis nama-nama orang terkenal di bidang seni dan hiburan, seperti Jackie Chan, Celine Dion dan Walt Disney. Muhammad Ali pada awalnya menolak namanya tertulis di sini demi menghormati Nabi Muhammad SAW.

The Hollywood Walk of Fame menampilkan lebih dari 2.600 ubin keramik bergambar bintang dan bertuliskan nama-nama artis dan karakter fiksi sebagai bentuk penghargaan dari Kamar Dagang Hollywood atas sumbangsih mereka bagi industri hiburan. 

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad

Petinju Muhammad Ali baru menyetujui namanya tertulis di sana setelah terjadi pembicaraan alot mengenai di mana namanya akan dituliskan. Masalahnya, ia menolak jika namanya ditulis di atas lantai atau trotoar sebagaimana yang berlaku pada artis-artis lain karena nama Muhammad adalah nama Nabi Besar Muhammad SAW. 

Ia mengatakan, “I bear the name of our honorable Prophet Muhammad Peace be upon him, and it is impossible that I allow people to trample on his name (Saya mengemban nama Baginda Nabi Muhammad SAW, dan tidaklah mungkin saya membolehklan orang-orang menginjak-injak nama beliau).”

Muhammad Ali baru menyetujui namanya ditulis di situ setelah ada titik temu bahwa namanya akan ditulis di dinding dan bukan di lantai atau trotoar. Gagasan tersebut juga disetujui oleh Kamar Dagang Hollywood, dan pada tanggal 11 Januari 2002 nama Muhammad Ali secara resmi tertulis di The Hollywood Walk of Fame . 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan tertulisnya nama Muhammad Ali di tempat itu, maka hingga tahun 2017 petinju Muhammad Ali merupakan satu-satunya dari 2.600 orang terkernal di dunia seni dan hiburan yang namanya terukir di dinding dan bukan di lantai atau trotoar Hollywood. Hal ini memunculkan celetukan bahwa nama Muhammad Ali tidak tercantum di The Hollywood Walk of Fame (walk = tempat berjalan) tetapi di The Hollywood Wall of Fame (wall = dinding). Tempat yang disebut terakhir ini tidak dikenal. . 

Begitulah cara Muhammad Ali menghormati Nabi Muhammad SAW. Di Amerika Serikat sebetulnya sudah biasa nama-nama orang berjasa diabadikan di trotoar jalan, dan di sana bukan merupakan penghinaan ketika nama-nama itu diinjak orang-orang yang berjalan di atasnya. Tetapi adalah hak Muhammad Ali sebagai seorang Muslim ketika ia berpikir lain menyangkut Nabi Muhammad SAW. Bagaimamapun ini harus diapresiasi sebagai keberhasilan dakwahnya di Amerika tanpa kekerasan. Ia wafat dalam usia 74 tahun pada tanggal 3 Juni 2016. 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Nusantara, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Oleh Ahmad Saifuddin

--Pemuda memiliki urgensitas yang tinggi dalam sejarah Indonesia. Setiap gerakan melawan kolonialisme, pemuda selalu ambil bagian. Sampai pada puncaknya, pemuda Nusantara bersatu dan mengikrarkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berisikan tiga sendi, menjunjung tinggi tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan dan bahasa Indonesia.

Tiga sendi itu yang kemudian melenyapkan sisi-sisi fanatisme golongan sehingga muncul kekuatan nasionalisme dan akhirnya mampu menjadi bahan bakar penggerak gerakan-gerakan melawan kolonialisme menuju gerbang kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tidak hanya sampai di situ saja. Gerakan pemuda masih saja berlanjut untuk menjunjung tinggi martabat Indonesia dalam pergerakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perlawan arek-arek Surabaya yang menjadi peperangan terbesar mempertahankan kemerdekaan Indonesia sehingga hari itu dinobatkan menjadi Hari Pahlawan (10 November).

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Bahkan, hampir di setiap fase pemerintah Indonesia, gerakan pemuda senantiasa menjadi balancer (penyeimbang) dengan menghadirkan sejumlah kritik terhadap pemerintah sehingga negara ini masih “sedikit” terselamatkan dari berbagai krisis di tingkat pemerintah.

Pemuda yang Terjajah

Meskipun kolonialisme bangsa asing berupa penjajahan ekspansi wilayah berakhir, namun penjajahan dalam bentuk lain justru semakin gencar terjadi. Kondisi yang kontras bisa dilihat antara pemuda era dahulu dengan era sekarang. Sekarang, tidak sedikit pemuda yang terkontaminasi virus kriminalitas dan penurunan moral. Tidak sedikit pemuda yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, tindak kriminal, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Banyak pemuda di era sekarang yang menjadi pemuja hedonisme, yang menyebabkannya menghabiskan waktu untuk kesenangan semu tanpa arah. Banyak pemuda yang egois dengan prinsip kebebasan dalam hidup sehingga merugikan orang lain. Pada akhirnya, banyak pemuda yang kehilangan masa depannya yang cerah dan hanya menjalani kehidupan seperti air yang mengalir ke bawah.

Di sisi lain, pemuda juga tercemar virus separatis dan radikalis. Tidak sedikit pemuda yang menjadi teroris, ikut serta dalam gerakan radikalis yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak hanya dibangun oleh founding fathers yang nasionalis, tetapi juga agamis. Melihat realita tersebut, jelas sangat memprihatinkan karena pemuda merupakan tulang punggung negara. Perlu adanya reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati irinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Reorientasi Pemuda untuk Sebuah Ge(b)rakan

Perlu adanya gerakan reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati dirinya. Meskipun banyak pemuda yang mengalami permasalahan kompleks, masih banyak pemuda yang memiliki spirit perubahan. Selain itu, penghayatan kembali atas sejarah kepemudaan sangat diperlukan agar nilai perjuangan dan nasionalisme serta semangat perubahan mampu tertanam kembali. Berbagai hal bisa dilakukan dalam rangka reorientasi pemuda tersebut.

Pertama, pemahaman psikologis dan pola pikir fase pemuda sangat penting. Dengan hal ini, pemuda akan mampu memahami karakteristik dirinya sendiri sehingga mampu melakukan self healing yang selanjutnya pemuda akan berperan dalam penyelesaian permasalahan yang menghinggapi bangsa dan negara.

Kedua, dalam dunia akademis, semangat menuntut ilmu harus diimbangi dengan semangat menginternalisasikan nilai dan moral. Sehingga, tidak hanya mengejar kuantitas dan kualitas ilmu, tetapi juga mengejar kuantitas dan kualitas akhlak dan moral. Terciptanya akademisi muda yang berintelektual dan bermoral. Mampu membangun peradaban dengan ilmu dan budaya luhur. Mampu menciptakan masyarakat cerdas dan berintelektual serta berbudi luhur.

Ketiga, menciptakan pemuda yang terampil, kreatif, dan inovatif menjadi hal penting di era modern sekarang. Seain itu, daya lenting yang tinggi harus dimiliki pemuda untuk menjadi pemuda yang tangguh dalam segala tantangan. Agar tetap senantiasa menjadi bagian negara yang maju dan kebal terhadap segala hambatan yang ada.

Keempat, penghayatan tentang konsep nasionalisme, cinta tanah air, dan demokrasi yang berlandaskan pada agama menjadi penting bagi pemuda, kaitannya sebagai upaya preventif agar pemuda tidak mudah menjadi target gerakan separatis dan radikalis. Hal ini perlu digencarkan karena gerakan radikalis dan separatis memilih pemuda yang secara psikologis mudah dipengaruhi dan secara pengetahuan belum terlalu mumpuni.

Kelima, menciptakan pemuda yang peka terhadap kondisi sosial menjadi penting juga agar pemuda tidak mudah terkontaminasi oleh permasalahan sosial. Namun, justru menjadi agen perubahan. Prinsip hidup harus membawa manfaat dan maslahat perlu diinternalisasikan agar pemuda menyadari akan perannya.

Keenam, penghayatan terhadap kisah faktual tokoh sebagai role model perlu ditanamkan dalam diri pemuda. Bagaimana menjadi pribadi yang kuat akan godaan termasuk godaan zina seperti Yusuf muda. Bagaimana menjadi pribadi yang cerdas memperjalankan spiritualitas dan logikanya untuk mencari kebenaran hakiki seperti Ibrahim muda. Bagaimana menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada orang tua seperti Ismail muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berakhlak mulia, jujur, dan amanah seperti Muhammad muda. Bagaimana menjadi pribadi yang selalu haus dalam menuntut ilmu seperti Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berani melindungi kebenaran layaknya ‘Ali ibn Abu Thalib muda yang menggantikan Nabi Muhammad SAW tidur di tempat tidurnya ketika dikepung kafir Quraisy sehingga nyawa ‘Ali ibn Abu Thalib menjadi taruhannya. Spirit kisah-kisah ini perlu dibangkitkan kembali di saat pemuda banyak terbius oleh cerita konyol akan cinta dan gaya hidupnya yang hedonis, pemuja kesenangan, kebebasan tanpa batas, dan kebrutalan.

Gerak dan Gebrak untuk Perubahan

Semangat sumpah pemuda ke-86 yang juga berdekatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 Hijriyah, diharapkan mampu menjadi titik kelanjutan estafet gerakan pemuda sebelumnya. Terlebih lagi, pemuda era sekarang sudah banyak mengalami berbagai permasalahan kompleks. Di sisi lain, peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih tetap dibutuhkan.

Semangat hijrah (berubah menuju perbaikan) hendaknya selalu menjadi jiwa dalam diri pemuda. Hijrah sangat penting, terutama dalam kehidupan ini perubahan adalah keniscayaan. Hijrah yang berarti berpindah dari suatu tempat menuju ke tempat lain dapat dimaknai secara kontekstual dengan perpindahan menuju hal yang lebih baik. Layaknya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah al Mukarramah menuju Yatsrib (Madinah al Munawwarah), agar dakwah dan Islam lebih berkembang. Terlebih lagi, prinsip beruntung dalam Islam adalah jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Dengan kata lain, modifikasi perilaku dan modifikasi lingkungan sangat diperlukan bagi pemuda sebagai teknik dan bekal membuat perubahan.

Tidak hanya bergerak, tetapi juga menggebrak. Hijrah dan bergerak untuk menuju perbaikan, menggebrak untuk melawan tantangan dan hambatan. Pemuda masa kini, pemimpin masa depan. Jayalah pemuda, jayalah Indonesia!

Ahmad Saifuddin, S.Psi., mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Wakil Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Klaten, dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Ilustrasi: Perjuangan pemuda di Surabaya 1945 dalam cover buku "Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad"

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, PonPes, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dewan Pembina Pimpinan Pusat Pagar Nusa KH Fuad Anwar meminta agar mengurus organisasi pencak silat di NU itu dengan pengibaratan nasi tumpeng. Ia menyampaikan hal itu pada istighasah rutin Selasa Kliwon di masjid An-Nahdlah, lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (21/1).

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Menurut dia, nasi tumpeng itu pada bagian bawah terdapat beragam lauk-pauk, mulai daging ayam, kacang-kacangan, telor, lalapan, sambal, sampai urab. “Di tubuh Pagar Nusa itu pun seperti itu, di bagian bawah terdapat beragam anggota beraneka ragam,” katanya di hadapan puluhan pengurus.

Tapi, semakin ke atas dari nasi tumpeng itu semakin mengerucut. “Pada pucuk tumpeng itulah posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus memahami dan mengayomi keberagaman di bagian bawah organisasi,” jelasnya. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pola semacam itu, kata mantan Ketua Umum PP Pagar Nusa periode sebelumnya tersebut, organisasi silat yang didirkan 28 tahun lalu itu bisa beragam dalam satu kesatuan. Fuad sangat menekankan sekali tentang kemenyatuan ini .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemenyetuan itu, tegas dia, harus diorganisir dengan baik. Ia kemudian memperkuat pernyataannya dengan mengutip sebuah peribahasa Arab. “Islam tidak akan sempurna kalau tidak diorganisir. Pengorganisiran tidak akan berjalan kalau pengurusnya tidak mengurus,” tegasnya.

Kepengurusan pun, tambah dia, tidak akan bermanfaat kalau tidak bersatu dalam ketaaatan terhadap aturan organisasi.

Selain sebagai rutinan Selasa Kliwonan, potong tumpeng itu merupakan tasyakuran PP Pagar Nusa selepas sukses dua bedah buku di gedung PBNU, Selasa sore (21/1). Potong tumpeng dilakukan Sekretaris Jenderal PP Pagar Nusa M. Nabil Harun. Potongan tumpeng itu ia berikan kepada Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman dan KH Fuad Anwar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Jadwal Kajian, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan

Pasar, mal, atau pusat perbelanjaan lainnya menjadi salah satu lokasi paling ramai dalam keseharian manusia. Pasar menjadi sentra pergerakan ekonomi karena di tempat inilah para pedagang dan pembeli berjumpa lalu melakukan transaksi. Pedagang-pembeli saling menawar, antarpedagang saling bersaing harga dan berlomba menjajakan dagangan mereka.

Pasar dengan segenap keriuhan dan kesibukannya itu pernah disebut dalam sebuah riwayat sebagai tempat yang paling buruk. Tapi? bukan tempat yang haram, atau harus dihindari. Pernyataan tersebut bermakna bahwa pasar sebagai tempat persaingan dan aktivitas duniawi sangat potensial menjatuhkan seseorang untuk lalai dari Tuhannya, omong kosong, berlaku mubazir, dan berbuat curang demi kekayaan. Namun, justru di sinilah mengapa doa atau dzikir di pasar menjadi amat istimewa. Berikut adalah doa atau dzikir yang dibaca saat memasuki pasar:

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lâilâha illâLlâhu wahdahu lâ syarîkalahu, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa hayyun lâ yamûtu biyadihi-l-khair wahuwa ‘alâ kulli syai-in qadîr

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah. Maha Tunggal. Tiada sekutu bagi-Nya. Dialah pemilik kekuasaan dan segala pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan bacaan tersebut maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan dan menghapus untuknya satu juta keburukan serta meninggikan untuknya satu juta derajat. Hadits ini termaktub dalam riwayat at-Tirmidzi, dari Sayyidina Umat ibn Khattab.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah ketika memasuki pasar membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a‘ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a‘ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan



Dengan nama Allah, ya Allah, aku memohon kebaikan dari pasar ini dan kebaikan dari apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung dari keburukan pasar ini dan keburukan apa yang ada di dalamnya. Ya Allah, aku berlindung dari sumpah palsu dan transaksi yang merugikan. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, RMI NU, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak memperingati hari lahirnya yang ke-23 dengan menyelenggarakan jalan sehat. Kegiatan yang menjadi rangkaian sepekan peringatan harlah ini diikuti 3000 peserta dari berbagai kalangan se-Kabupaten Demak.

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Peserta Ikuti Jalan Sehat RSI NU Demak

Acara jalan sehat ini digelar, Ahad (23/3), dan berpusat di lapangan belakang RSI NU Demak. Direktur RSI NU Dema Dr H Abdul Azis di sela sela acara mengatakan, jalan sehat menjadi sarana silaturahmi antara pihak rumah sakit dan masyarakat.

Dia berharap, hadiah (doorprize) yang disediakan panitia juga bisa bermanfaat. Hadiah utama yang diberikan pada kesempatan tersebut adalah sepeda motor. “Kami berterima kasih atas kepercayaan semua pihak yang telah membantu rumah sakit. Semoga silaturahmi lewat jalan sehat bisa menambah kepercayaan demi kebesaran RSI NU,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain Ketua PCNU Demak yang juga Ketua Yayasan RSI NU Demak, H Musadad Syarif, sesaat sebelum memberikan hadiah utama menyosialisasikan kepada masyarakat tentang kelengkapan peralatan medis RSI NU Demak yang kian canggih.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Peserta jalan sehat semua kita kasih pamflet, brosur dan masukan tentang peralatan medis yang sudah kita miliki diantaranya, ICU, USG 4 Dimensi, CT Scan dan sebagainya, jadi mereka sekarang tahu” Imbuh Musadad.

Peserta jalan sehat terdiri dari para pengurus dari cabang hingga ranting di lingkungan PCNU Demak, serta Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, MWCNU, siswa sekolah di bawah naungan LP Maarif, santri pesantren sekitar Demak.

Ketua PCNU Demak H Musadad Syarif turut serta dalam acara jalan sehat bersama Sekretaris PCNU Khoirun Zain, Sekretaris Yayasan RSI NU Demak H Sa’dullah, dan masyarakat sekitar. Pemenang hadiah utama pada jalan sehat kali ini adalah seorang guru PAUD asal kelurahan Cabean Demak yang bernama Wilda. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial?

Banyuwangi memiliki peranan penting dalam proses perintisan Nahdlatul Ulama. Tercatat, semenjak pertama kali NU didirikan, Banyuwangi telah ikut serta. Melalui KH. Saleh Lateng, Banyuwangi ikut serta menghadirkan perwakilannya dalam rapat pembentukan Komite Hijaz sekaligus awal berdirinya NU di Bubutan, Surabaya, tahun 1926.

Kontribusi lain yang cukup penting dari Banyuwangi bagi NU adalah dengan menjadi tuan rumah Muktamar ke-9 NU pada 1934. Muktamar tersebut, menurut Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, merupakan Muktamar yang menjadi penanda NU dari fase pertumbuhan menuju fase perkembangan.

Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana NU Membiayai Muktamar di Zaman Kolonial?

Dalam surat kabar Indische Courant tertanggal 24 April 1934, melaporkan bahwa pembukaan yang digelar di halaman Madrasah Al-Chairiyah yang tak jauh dari Masjid Agung Baiturrahman tersebut, dihadiri oleh ribuan orang. Kursi undangan penuh dan ribuan orang lainnya berdesakan di halaman yang luas itu. Bahkan, hingga meluber di jalan-jalan.

Dalam konteks saat ini, mungkin tak terlalu sulit untuk bisa menyelenggarakan acara besar berskala nasional. Seperti halnya Muktamar ke-33 NU di Jombang pada tiga tahun silam. Untuk menggelar acara tersebut, PBNU mendapat bantuan Rp 10 M dari APBD Provinsi Jawa Timur dan Rp 1 M dari APBD Kabupaten Jombang. Tapi, untuk konteks tahun 1934 tentu mustahil mengharap bantuan dari pemerintah. Karena, sebagaimana kita ketahui, saat itu, Indonesia masih dalam kungkungan penjajah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jangankan meminta bantuan pada pemerintahan kolonial Hindia Belanda kala itu, meski diberinya secara cuma-cuma pun, NU tidak bakal menerimanya. Haram hukumnya menerima bantuan penjajah!

Lantas, yang menjadi pertanyaannya: dari manakah biaya penyelenggaraan muktamar saat itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menarik kiranya kita memeriksa laporan keuangan panitia Muktamar yang salah satu keputusan pentingnya mendirikan Anshoru Nahdlatul Ulama (Sekarang: GP Ansor) tersebut. Dalam Origineel 17 October 1934 Verantwording Congers Nahdlatoel Oelama jang ke-9 di Kotta Banjoewangi dilaporkan bahwa biaya penyelenggaraan mengumupulkan dana sebesar f. 1882,98 (f? adalah simbol rupiah di masa Hindia Belanda).

Dalam laporan yang ditandatangani oleh Machmoed (President), R. Tedjosoekarto (Secretaris), dan R.H. Hamdjah (Kassier) tersebut, tertulis lima jenis sumber pendanaannya. Pertama, berasal dari Oewang borg Tjabang Nahdlatoel Oelama Banjoewangi sebesar f. 222.50. Dana ini merupakan pemasukan dari kas PCNU Banyuwangi kala itu.

Kas tersebut dikumpulkan dari iuran lied (anggota) NU Banyuwangi. Dulu, untuk bisa menjadi anggota NU, seseorang harus membayar sebesar 10 sen. Kemudian, ada juga iuran bulanan yang besarannya separuh dari uang pendafataran. Sebagaimana diatur dalam Kitab Oemoem Atoeran Roemah Tangga Bagian Oemoem dan Bagian Harta Hobfstur Nahdlatoel Oelama 1926.

Namun, di NU Banyuwangi sebagaimana dilaporkan pada Muktamar ke-XI di Banjarmasin. Dalam laporan tersebut, setiap anggota NU ditarik kontribusi tidak 10 Sen sebagaimana aturan yang ditetapkan dari pusat. Tapi ditarik secara keseluruhan untuk seumur hidup sebesar f. 1- f. 1,5. Dari hasil iuran tersebut, tidak semuanya dipergunakan untuk operasional organisasi. Akan tetapi, sebagian dipergunakan untuk membeli kebun kelapa. Dari langkah ini, hasil iuran lied tersebut, dapat berkembang.

Pemasukan kedua, berasal Oewang derma lisjt dari Tjabang-Tjabang Nahdlatoel Oelama yang sebesar f. 883,12 (1/2). Memang, setiap penyelenggaraan Muktamar, Cabang-Cabang NU dari berbagai daerah dikenakan iuran. Dari pengamatan penulis, tidak ada ketentuan khusus harus membayar berapa. Karena dari laporan-laporan keuangan Muktamar, pembayaran dari masing-masing Cabang memiliki besaran yang berbeda-beda. Seperti pada saat Muktamar ke-VIII di Jakarta, NU Cabang Banyuwangi membayarkan derma sebesar f. 25 yang kala itu, dibawa oleh KH. Syamsuri Singonegaran.

Uang iuran Cabang-Cabang tersebut, bisa dari kas organisasi sebagaimana NU Banyuwangi, bisa pula dari iuran anggotanya. Kiai Muchit Muzadi dalam biografinya, Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit mengenang setiap menjelang pelaksanaan Muktamar, para anggota NU dikenakan iuran wajib sebesar 20 Sen, termasuk dirinya. Dalam buku tersebut, Mbah Muchit juga mengenang kisah Kiai Muthi yang berasal dari Ngawi. Untuk menuju ke Muktamar di Banyuwangi, guna menghemat biaya, ia rela naik sepeda gayung dari Ngawi hingga ke Banyuwangi. Kurang lebih sejauh 467 KM. Luar biasa!

Sumber pendanaan ketiga berasal Oewang derma lisjt Tjabang Nahdlatoel Oelama Banjoewangi. Dari derma ini, terkumpul dana sebesar f.? 16,45. Tak ada catatan tentang bagaimana bentuk pengumpulan dana dari sumber ini. Besar kemungkinan, ini berupa pembagian serkiler untuk diisi derma seikhlasnya. Atau bisa juga berupa list pembacaan doa untuk arwah sanak famili dengan menggantinya dengan sedekah sekian per namanya.

Yang keempat, dalam laporan keuangan tersebut, pemasukan berupa Derma makanan dari pendoedoekan Banjoewangi Matjem. Pihak panitia mengkalkulasi jumlah bahan makanan yang masuk, sebesar f. 55, 65 (1/2). Tak heran, jika sumbangan berupa makanan dari penduduk Banyuwangi memiliki sumbangsih cukup besar. Banyuwangi merupakan lumbung pangan ditengah anugerah alam yang amat subur.

Dalam penelitian penulis, Cabang Banyuwangi terkadang harus menyewa satu gerbong khusus untuk mengirim bahan makanan guna mendukung penyelenggaraan Muktamar. Seperti halnya Muktamar di Jakarta setelah perang kemerdekaan, NU Banyuwangi mengirim 100 kwintal beras untuk konsumsi Muktamar. Jumlahnya jauh jika dibandingkan dengan sumbangan dari Cabang-Cabang lainnya.

Sumber terakhir yang tercatat dalam laporan keuangan Muktamar ke-IX adalah Djoewal barang-barang jang telah dipake. Hasil penjualan dari barang bekas ini, hanya f. 5,25. Tak ada catatan, barang apa yang dijual. Mungkin, ini semacam lelang.

Dari fakta diatas, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Terutama bagi warga NU Banyuwangi. Dapat dikatakan, NU telah mampu mandiri dengan membiayai semua kebutuhan operasionalnya sendiri dengan cara dipikul bersama. Tanpa mengharap belas kasih pihak lain. Ini tentu tidak sekedar menumbuhkan kemandirian organisasi, tapi juga memunculkan kesolidan dan solidaritas yang kukuh disetiap anggota NU.

Di tengah keterbatasan zaman penjajahan, NU mampu berdikari. Para anggotanya dengan sukarela menyumbangkan sebagian rizki, bahkan bisa jadi bagian terbesar dari hartanya, untuk keberlangsungan NU. Ini merupakan tauladan penting. Jika para pendahulu itu dengan segala kesulitannya bisa melakukan, maka kita dengan segala kemudahan masa kini tentu lebih bisa melakukannya. Bukan begitu?

Salam Mandiri. Salam Sukses Koin Bakti NU!

Ayung Notonegoro, pemerhati sejarah NU Banyuwangi; dapat ditemui di akun facebooknya, “Ayunk Notonegoro”



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 Februari 2017

Hasyim: Kembali ke UUD 45 Harus Melalui Referendum

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Undang-undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia yang telah diamandemen oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 2002 lalu tidak bisa dikembalikan kepada UUD 1945, kecuali melalui referendum.

“Kalau kita menginginkan, forumnya tidak ada sekarang. Karena lembaga tertingginya tidak ada. Karena MPR-nya sudah bunuh diri. Sehingga siapa sekarang yang akan bicara tentang UUD karena forumnya dibubarkan oleh dia sendiri. Nah kemudaian, satu-satunya jalan adalah referendum,” kata Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di Jakarta, Senin (7/8).

Hasyim: Kembali ke UUD 45 Harus Melalui Referendum (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Kembali ke UUD 45 Harus Melalui Referendum (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Kembali ke UUD 45 Harus Melalui Referendum

Dikatakan Hasyim, secara sederhana referendum diumumkan oleh calon presiden saat kampanye. Seorang calon presiden punya program bahwa jika dirinya terpilih nanti kalau saya nanti UUD akan kembali ke UUD 45, maka siapa yang memilih berarti artinya setuju dengan refenrendum.

“Artinya forumnya rakyat. Nggak ada lembaga lain sekarang. Mestinnya MPR. Dia yang telah merubah tapi dengan menyatakan bahwa dirinya tidak berhak lagi. Ini aneh sekali, ada lembaga yang membubarkan diri sendiri,” kata Hasyim.

Menurutnya, kembali ke UUD 1945 melalui dekrit tidak akan berhasil dan inkonstitusional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dirinya meminta pihak DPR segera melakukan peninjauan ulang alias review atas amandemen UUD berikut UU terapannya yang diklaim telah menyebabkan kondisi Indonesia semakin tidak menentu.

“Tapi DPR tidak bisa memutuskan kembali ke UUD 45 atau tidak tapi menyodorkan sebuah solusi. Nah nanti kontitusionalnya dengan referendum itu karena MPR-nya sudah tidak difungsikan,” kata Hasyim. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Desember 2016

Bersyukur Sadarkan Bahwa Rezeki Bukan Matematika

Metro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kota Metro Lampung KH. Fachruddin Hudan mengatakan, rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan akan memunculkan sikap qanaah (menerima) atas apa yang ada. Dengan rasa syukur, kita akan memiliki kesadaran bahwa kita tidak akan hidup selamanya didunia.

"Silakan mencari harta sebanyak-banyaknya seolah-olah akan hidup selama-selamanya. Tapi kita harus ingat untuk menyiapkan bekal akhirat seolah-olah kita akan meninggalkan dunia esok," katanya, Ahad (29/10).

Bersyukur Sadarkan Bahwa Rezeki Bukan Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersyukur Sadarkan Bahwa Rezeki Bukan Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersyukur Sadarkan Bahwa Rezeki Bukan Matematika

Dengan rasa syukur, lanjutnya, kita juga akan menyadari bahwa rezeki kita di dunia sudah diatur oleh sang khaliq sehingga jiwa tidak akan terlalu terbebani dan ibadah pun akan lebih dirasakan.

"Tugas kita hidup didunia adalah untuk beribadah. Rezeki akan diberikan oleh Allah dari jalan yang tidak disangka-sangka jika kita benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT," terangnya mengutip ayat Al Quran.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mencontohkan beberapa amalan di dunia yang dapat mendatangkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, diantaranya adalah melalui silaturahmi dan berkomunikasi dengan orang lain.

"Dengan bersilaturahmi maka akan terjalin komunikasi dan dari komunikasi tersebut maka insyaallah akan muncul komitmen sehingga aktifitas dari silaturahmi tersebut akan memunculkan rezeki," jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kesadaran akan hal inilah yang saat ini mulai banyak ditinggalkana oleh manusia zaman modern. 

"Banyak saat ini orang berfikir rezeki seperti matematika. Dengan bekerja siang malam mereka akan mendapatkan harta yang banyak. Yang imbasnya jarang melakukan silaturahmi dengan saudara dan tetangga," katanya.

Padahal, lanjut Kiai Fachruddin, sering  kita temui seseorang yang terlihat tidak sibuk mencari harta dan santai dalam hidupnya, namun secara materi dianugerahi kecukupan dan terlihat melimpah.

"Inilah misteri dari rezeki. Siapa yang takwa dan yakin kepada Allah maka akan diberikan jalan keluar dan dibukakan pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Warta, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 27 September 2016

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Anak-anak muda NU perlu mengembangkan sastra, bukan hanya diabdikan untuk NU, tetapi juga kepada Indonesia. Bahkan bila dirasa perlu kepada dunia, kepada peradaban ini.

Demikian dikatakan sastrawan senior, Ahmad Tohari saat berbincang dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Sabtu (23/4) di Jakarta, sebelum bertolak ke Makasar untuk mengisi workshop ‘Pengembangan Softskill Karya Sastra Religi Siswa Madrasah Aliyah di Kawasan Indonesia Timur’ yang digagas Balai Litbang Agama Sulawesi Selatan.

Menurut penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini, sastra di Islam sebetulnya sudah lama berlangsung. Misalnya sastra-sastra yang mengajarkan hukum-hukum Islam, etika Islam, maupun adab-adab. Sedangkan di Indonesia, sastra Islam sudah ada sejak Sultan Ali Haji pada abad ke-18 dengan salah satu karyanya Gurindam 12.

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda

Selain itu, lanjut Tohari, suku-suku di Indonesia juga sudah akrab dengan bermacam-macam puji-pujian, misalnya di Jawa, Sunda, dan Madura. Puji-pujian itu termasuk sastra lisan yang semuanya mengajarkan nilai-nilai keislaman. Menurutnya sastra Islam adalah sastra yang disemangati oleh nilai-nilai keislaman. Di dalamnya tidak harus mengajarkan dalil-dalil agama Islam. Selama sastra itu mempertinggi keadaban manusia, maka itu disebut sastra Islam.

Penulis kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini mengingatkan kepada anak-anak muda NU untuk menyadari bahwa sastrawan NU yang masih ada saat ini, sudah berusia tua. Selain dirinya, ada penyair D Zawawi Imron, Gus Mus, dan Acep Zamzam Noor.

“Tapi saya tahu (penulis) yang muda-muda di kalangan NU juga mulai tumbuh dan mulai banyak,” kata Tohari yang dikukuhkan harian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sebagai salah satu dari 46 Tokoh Inspiratif Penakluk Dunia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tohari mengaku mengikuti perkembangan sastra di kalangan muda NU. Beberapa diantaranya seperti Binhad Nurahmat yang aktif dengan gerakan "NU Miring", Candra Malik, dan Abdullah Wong adalah sejumlah nama yang bisa disebut dalam jajaran penulis sastra dari kalangan anak muda NU saat ini.

“Dan masih banyak sekali anak-anak muda NU yang berusia di bawah 30 tahun sudah melahirkan karya-karya yang menurut saya menuju proses pematangan dan pendewasaan,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana agar penulis muda tidak cepat putus asa, Tohari mengatakan agar para penulis muda terus berproses. Karena siapa pun tidak serta merta menjadi penulis terkenal. Seorang menjadi penulis terkenal menjalani proses yang lama.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya sendiri kan mulai menerbitkan karya sastra pada tahun 1971. Kalau dihitung sampai sekarang itu sudah 45 tahun saya berkaryasastra. Jadi kalau katakanlah karya saya mendapatkan pengakuan, itu karena telah berproses lama sekali. Nah itu artinya apa? Anak-anak muda sekarang pun akan mencapai hal seperti itu apabila mereka terus berproses. Jangan berhenti berproses,” saran Tohari.?

Ia berpendapat tidak ada salahnya bila peminat sastra menjadikan berkarya sastra pada tahap awal sebagai hobi. Tetapi, hobi itu bukan berarti main-main. Karya sastra dari penulis baru biasanya sulit dijual, artinya orang yang baru-baru sulit untuk mendapatkan penghasilan dari karya sastra.?

“Boleh-boleh saja kok seorang sastrawan itu jadi wartawan, pedagang, dosen atau guru, ndak papa. Jadi boleh-boleh saja misalnya ada anak muda yang pedagang kemudian menulis karya sastra. Apalagi bila sastrawan tersebut sudah berkeluarga. Saya tidak setuju apabila sastrawan mengabaikan anak istrinya. Jadi silakan saja berdagang sambil berkarya sastra,” pungkas Tohari.(Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock