Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

Gorontalo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa mengimbau setiap muslimat memberi keberkahan bagi lingkungannya, dan jangan sampai justru membuat masalah.

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

"Ada individu-individu yang kalau dia hadir menjadi trouble maker, mencari kesalahan orang, sehingga peran muslimat tidak membawa kebaikan bagi lingkungannya," ujarnya saat melantik Pengurus Wilayah Muslimat NU Provinsi Gorontalo Periode 2016-2021 di Asrama Haji Kota Gorontalo, Kamis.

Khofifah, yang juga Menteri Sosial RI, mengemukakan bahwa muslimat dalam melakukan kebaikan tidak perlu menunggu orang lain, namun memulai dari diri sendiri.

Dia mengungkapkan, masih banyak pekerjaan rumah yang menjadi tantangan Muslimat NU ke masa depan, misalnya memperkuat peran sosial kemasyarakatan dan membangun pola positif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Muslimat menjadi bagian kecil dari proses berinteraksi dalam kehidupan bernegara. Tapi, yang kecil ini jangan dianggap tidak ada. Adanya yang besar karena yang kecil-kecil ini ada," ujarnya.

Khofifah menyatakan, saat ini Muslimat NU memiliki 9.800 Taman Kanak-Kanak, 6.400 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 146 panti asuhan yang tersebar di berbagai daerah.

"Ini tidak diketahui banyak orang, sehingga mereka kaget bahwa muslimat besar. Itulah kenapa jangan sampai setelah dilantik seperti ini, besok tidak ada lagi," demikian Khofifah. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Bagaimana Membaca NU?

Oleh KH Abdurrahman Wahid

--Sejak kemerdekaan kita, perdebatan masalah-masalah kemasyarakatan kita senantiasa di dominasi oleh pertukar-pikiran antara kaum elitis melawan kaum populis. Memang ada suara-suara tentang Islam, seperti yang dikembangkan oleh Bung Karno dan lain-lain, tetapi itu semua hanyalah meramaikan situasi yang tidak menjadi isu utama.

Masalah pokok yang dihadapi adalah bagaimana selanjutnya Indonesia harus dibangun –yang dalam “bahasa agung” disebut “mengisi kemerdekaan”. Kalangan elitis, selalu menggunakan rasio/akal dan argumentasi mereka senantiasa bernada monopoli kebenaran. Mereka merasa sebagai yang paling tahu, rakyat hanyalah orang kebanyakan yang tidak mengerti persoalan sebenarnya.

Bagaimana Membaca NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Membaca NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Membaca NU?

Kalau rakyat mengikuti pendapat kaum elitis ini, tentu mereka akan pandai pada “waktunya kelak”. Sebaliknya, kaum populis senantiasa mengulangi semangat kebangsaan yang dibawakan para pemimpin, seperti Bung Karno, selalu mempertentangkan pendekatan empirik dengan “perjuangan ideologis”.

Tentu saja, cara berdialog semacam ini tidak memperhitungkan bagaimana kaum Muslim tradisionalis –seperti warga NU (Nahdlatul Ulama)-, menyusun pendapat dan pandangan dan mendasarkan hal itu pada asumsi yang tidak dimengerti, baik yang oleh golongan elitis maupun oleh golongan populis. Demikianlah, dengan alasan-alasaan keagamaan yang mereka susun sendiri, kaum Muslimin yang hadir dalam Muktamar NU di Banjarmasin (Borneo Selatan) tahun1935 memutuskan kawasan ini tidak memerlukan Negara Islam. Keputusan Muktamar NU ini menjadi dasar, mengapa kemudian para pemimpin berbagai gerakan di negeri ini kemudian mengeluarkan Piagam Jakarta dari Undang-Undang Dasar (UUD) kita. Jadilah negeri kita sebuah Negara Pancasila dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang tetap lestari hingga hari ini. Dan, kelihatannya tidak akan berubah seterusnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada tanggal 22 Oktober 1945, PBNU (hoofdbestuur NU), yang waktu itu berkedudukan di Surabaya mengeluarkan Resolusi Jihad, berisikan untuk mempertahankan dan memperjuangkan Republik Indonesia (RI) adalah kewajiban agama atau disebut sebagai ? jihad, walaupun NKRI bukanlah sebuah Negara Islam atau lebih tepatnya sebuah Negara agama. Di sini tampak, bahwa kaum muslimin trasidional dalam dua hal ini mengembangkan jalan pikiran sendiri, yang tidak turut serta dalam perdebatan antara kaum elitis dan populis. Namun, mereka tidak menguasai media khalayak (massa) dalam perdebatan di kalangan ilmuwan. Karena itulah, mereka dianggap tidak menyumbangkan sesuatu kepada debat publik tentang dasar-dasar negara kita.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

*****

Dalam sebuah harian (Kompas, Senin 8/9/2003), seorang sejarawan membantah tulisan penulis yang mengatakan Sekarmadji M. Kartosoewirjo adalah asisten/staf ahli Jenderal Besar Soedirman di bidang ? militer. Dengan keahliannya sebagai politisi bukankah lebih tepat kalau ia menjadi staf ahli beliau di bidang sosial-politik? Pengamat ? tersebut lupa bahwa ? asisten/staf ahli beliau saat itu dijabat oleh ayahanda penulis sendiri, KH. A. Wahid Hasjim, dan Kartosoewirjo sendiri memang berpangkat tentara/militer ? sebagai akibat dari integrasi Hizbullah ke dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia). Jenderal Besar Soedirman sendiri juga tidak pernah menjabat pangkat militer apapun sebelum bala tentara Jepang datang kemari dan menduduki kawasan yang kemudian disebut sebagai NKRI. Dari penjelasan di atas menjadi nyata bagi kita, bahwa layak-layak saja S.M. Kartosoewirjo menjadi asisten/staf ahli Panglima APRI di bidang militer. Bahwa ia kemudian mempergunakan DI/TII sebagai alat pemberontakan, adalah sesuatu yang lain?

sama sekali. Dan sang sejarawan lupa bahwa penulusuran sejarah tidak hanya harus didapat dalam sumber-sumber tertulis, tapi juga sumber-sumber lisan.?

Dari kasus NII dapat kita lihat, bahwa di masa lampau -pejabat-pejabat negara- juga ada yang membaca secara salah hal-hal yang ada di luar diri mereka dengan cara berpikir yang lain dari ketentuan dan kesepakatan berdirinya negara kita. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan cara memandang persoalan, apalagi yang berkenaan dengan ambisi politik pribadi atau karena pertimbangan-pertimbangan lain. Dalam hal ini, yang paling mencolok adalah jalan pikiran NU yang tidak memandang perlu adanya Negara Islam. Kalau ditinjau dari adanya peristiwa itu sendiri, jelas bahwa perbedaan pemahaman itu timbul dari cara berpikir keagamaan yang kita lakukan. Bagi NU, hukum agama timbul dari sumber-sumber tertulis otentik (adillah naqliyyah) yang diproyeksikan terhadap kebutuhan aktual masyarakat. Sedangkan gerakan-gerakan Islam lainnya langsung mengambil hukum tertulis itu dalam bentuk awal, yaitu berpegang secara letterlijk (harfiyah) dan tentu saja tidak akan sama hasilnya.

Bahkan, diantara para ulama NU sendiri sering terjadi perbedaan paham, karena anutan dalil masing-masing saling berbeda. Sebagai contoh dapat digambarkan bahwa hampir seluruh ulama NU menggunakan ru’yah (penglihatan bulan) untuk menetapkan permulaan hari Idul Fitri. Tetapi, alm. KH. Thuraikhan dari Kudus justru menggunakan hisab (perhitungan sesuai almanak) untuk hal yang sama. Sedangkan diantara para ahli ru’yah sendiri, terdapat perbedaan paham. Seperti antara alm. KH.M Hasjim Asj’ari –Ra’is Akbar NU dengan KH. M. Bisri Sjansuri, -wakil Khatib ‘Aam/wakil sekretaris Syuriyah PBNU-, yang bersama-sama melakukan ru’yah di Bukit Tunggorono, Jombang namun ternyata yang satu melihat dan yang lain tidak. Hasilnya, yang seorang menyatakan hari raya Idul Fitri keesokan harinya, sedangkan yang lain menyatakan hari berikutnya. Jadi, walaupun sama-sama mengikuti jalan pikiran ushul-fiqh (teori hukum Islam), namun dapat mencapai hasil yang saling berbeda. Karena Perbedaan pendapat memang diperkenankan dalam pandangan fiqh, yang tidak diperkenankan adalah terpecah-belah. Ayat al-qur’an jelas dalam hal ini; “Berpeganglah kalian pada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah” (Wa’tashimu bi Habli Allahi Jami’an wa la Tafarraqu).

*****

Nah, dalam soal-soal bertarap kebangsaan dan kenegaraan, -seperti penetapan orientasi bangsa,- jelas bahwa kita harus menerima perbedaan pandangan, karena semuanya di dasarkan oleh argumentasi masing-masing. Karena itu ketika ada pendirian berbeda antara pihak seperti NU dengan kaum muslimin lainnya, maka kata akhirnya bukanlah dari pihak yang mengemudikan negara (pemerintah), melainkan hasil pemilihan umum yang menjadi acuan. Kalau ini tidak dipahami dengan baik, tentu akan ada usulan-usulan yang ditolak atau ditunda oleh partai-partai, para aktifis, para wakil organisasi Islam di satu pihak dengan elemen bangsa lain yang tidak secara resmi mendukung atau menolak gagasan kenegaraan yang diajukan. Inilah yang senantiasa harus kita ingat setiap kali membahas “kesempitan pandangan” dari beberapa agama yang besar, seperti serunya perbedaan antara pihak yang mengharuskan dengan pihak yang tidak pernah melihat pentingnya “keterwakilan rakyat”.

Karena Partai Kebangkitan Bangsa –yang memiliki ikatan historis dengan NU- bukanlah sebuah partai Islam, maka tidak perlu terlalu mementingkan ajaran formal Islam dalam setiap penagambilan keputusan. Cukuplah kalau lembaga yang menetapkan Undang-Undang (UU) itu bergerak mengikuti prosedur kelembagaan yang ditopang oleh UU, pakar hukum agama dan segenap pemikiran masyarakat. Pendapat para pakar hukum agama ini menjadi pertimbangan pembuatan hukum bukan pelaksanaannya. Di sinilah diperlukan kearifan dunia hukum nasional kita, untuk juga memperhitungkan pendapat yang dilontarkan masyarakat dan berasal dari para pakar hukum agama.

Dengan demikian, kita sampai kepada hal-hal yang berkenaan dengan pandangan kaum Muslimin Sunni tradisional dalam kehidupan bangsa kita. Dalam hal-hal yang sifatnya fundamental bagi kehidupan agama di negeri kita, jelas hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama tidak dapat ditolerir, umpamanya saja, mengenai keyakinan akan ke-Esaan Tuhan (tauhid). Hal-hal semacam ini tidak dapat dibiarkan dan harus diperjuangkan sehabis daya oleh kaum Muslimin sendiri. Sebaliknya, hal-hal yang tidak bersifat fundamental bagi keyakinan agama ? seseorang, tentu saja masih diperlukan tela’ahan lebih jauh dan dapat ditolerir perubahan-perubahannya. Bukankah al-qur’an sendiri yang justru menyatakan “dan Ku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal “. Dari hal ini dapat diharapkan, di masa depan produk-produk hukum kita akan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pengetahuan kita.?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Koran Duta Masyarakat, 22 September 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, RMI NU, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan, sejumlah santri yang berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Kelurahan Triwung Lor Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo bermain olahraga sepakbola api. Rutininas selama bulan suci Ramadhan ini dilakukan usai shalat Tarawih.

Namun sebelum melakukan olahraga sepakbola api ini, para santri terlebih dahulu diberi wejangan dan ilmu kebal oleh kiai pengasuh supaya tubuh tidak merasakan sakit sedikitpun saat bermain sepakbola api.

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Olahraga sepak bola ini memang sangat berbeda dengan sepakbola pada umumnya. Selain bola terbuat dari kelapa yang kering direndam dalam minyak tanah, seluruh pemainnya tidak boleh mengenakan sepatu alias bertelanjang kaki saat menendang bola.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Uniknya, meskipun menendang bola api dengan kaki telanjang, para pemain ini tidak merasakan panas atau sakit sedikit pun saat menggiring dan menendang bola api. Bahkan yang mereka rasakan hanya seperti menggiring bola pada umumnya.

Para santri mengaku usai diberi ilmu kebal oleh kiai, mereka tidak merasakan sakit sedikitpun saat menendang bola api, yang mereka rasakan hanya capek berlarian mengejar bola untuk disarangkan ke gawang lawan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Ustadz Mukhlas mengatakan kegiatan semacam ini sudah rutin dilakukan di kalangan pesantren. Selain menguji ilmu kebal juga merupakan hiburan tersendiri dikalangan santri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kegiatan ini rutin dilakukan setiap malam selama bulan suci Ramadhan. Semua ini kami lakukan untuk menguji ilmu kebal yang diamalkan oleh para santri,” katanya, Ahad (19/6).

Setelah puas bermain dan melihat sepakbola api, para santri selanjutnya membersihkan diri dan melakukan tadarus Al Qur’an. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tokoh, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Padang Pariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua yayasan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan H Idarussalam memberikan gelar “Tuanku Imam Nahdliyin” untuk Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di pesantren Nurul Yaqin, Pakandangan, Padang Pariaman, Ahad (18/1). Pemberian gelar kehormatan ini merupakan kali pertama dilakukan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Pemberian gelar ini berlangsung saat tabligh akbar maulud Nabi Muhammad SAW. Kiai Hasyim sendiri hadir sebagai penyampai taushiyah pada tabligh akbar tersebut.

Menurut H Idarussalam, pemberian gelar merupakan kesepakatan pimpinan dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin. "Kami menilai kehadiran Kiai Hasyim ke pesantren Ringan-Ringan patut diberikan penghargaan. Walaupun banyak tokoh yang sudah pernah hadir di pesantren ini, namun kehadiran Kiai Hasyim mampu mengangkat harkat pesantren Nurul Yaqin," kata H Idarussalam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang lebih penting lagi, kata H Idarussalam, Kiai Hasyim merupakan tokoh kiai kaliber nasional yang memahami kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Ringan-Ringan. Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama, bukan sekadar ulama. Paham keagamaannya Aswaja seperti yang diajarkan di pesantren Nurul Yaqin ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Gelar Tuanku Imam Nahdliyin disematkan karena Kiai Hasyim memang imamnya orang NU yang disebutkan warga nahdliyin. Sebagai pesantren yang melahirkan ulama dengan gelar “Tuanku” dan diakui oleh Pemkab Padang Pariaman, kita patut memberikan gelar tersebut," kata H Idarussalam.

Pesantren Nurul Yaqin selama ini terbuka terhadap kultur masing-masing santri dalam memberikan sebuah gelar. Sehingga gelar dari tamatan pesantren Nurul Yaqin pun beragam. Ada yang berbau Padang Pariaman seperti Tuanku Sidi, Bagindo, Sutan. Ada pula yang berbau Arab, Indonesia, dan juga ada yang menyesuaikan dengan daerah masing-masing di luar Padang Pariaman.

"Kita serahkan kepada masing-masing keluarga santri siapa gelar “Tuanku” yang diberikan kepada anaknya," tambah H Idarussalam. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Belanda, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda (Lakpesdam PCI NU Belanda) menyelenggarakan diskusi dengan tema Money and Identity Politics on Electoral Democracy in Indonesia di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, Selasa (4/7).

Koordinator Penyelenggara Yance Arizona mengemukakan, diskusi publik ini diselenggarakan dalam rangka melakukan telaah akademik terkait fenomena penyelenggaraan Pemilu di Indonesia saat ini yang menunjukkan semakin masifnya politik uang dan penggunaan identitas sebagai alat untuk memenangkan pemilihan.

Hadir sebagai narasumber antara lain; Fritz Edward Siregar (Komisioner Bawaslu bidang Hukum), Prof. ? Gerry van Klinken (Guru Besar bidang Sejarah Universitas Amsterdam) Ward Berenschot ? (Peneliti di KITLV), serta Awaludin Marwan (Lakspesdam PCINU Belanda, Univeristas Utrecht).

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Fritz yang baru saja menjabat sebagai komisioner Bawaslu menyampaikan bahwa masih banyak problem regulasi dalam menangani permasalahan politik uang. Misalkan adanya unsur ‘mempengaruhi pemilih’ dalam pemberian uang atau barang kepada pemilih oleh tim sukses kandidat dalam pemilu dan pilkada. Unsur ini cukup sulit dibuktikan sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda di dalam praktiknya antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Selain itu, waktu penanganan yang singkat juga menjadi kendala untuk mengatasi hal ini.

Persoalan lain yang juga butuh perhatian adalah praktik menjual barang (Sembako) dengan harga murah. Model bazar murah ini sudah banyak terjadi, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Belum tegas aturan yang dapat mengkualifikasikan bazar sebagai politik uang, misalkan dengan diskon berapa persen dari harga pasar dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Apakah menjual dengan harga 70%, 50% atau 30% dapat dikategorikan sebagai politik uang?

Dalam kaitannya dengan politik identitas, Bawaslu telah melakukan penelitian di enam provinsi dan menemukan bahwa politik identitas mempengaruhi hasil pemilihan kepala daerah. Politik identitas menekankan perbedaan sebagai preferensi untuk memilih pemimpin. Secara faktual, politik yang menekankan identitas bagi sebagian kalangan dipandang wajar karena karakteristik masyarakat Indonesia yang plural berdasarkan agama, suku, dan berbagai latarbelakang lainnya. Namun ia jadi masalah ketika menjurus kepada tindakan diskriminasi kepada sebagian kelompok tertentu. Bawaslu belum punya peraturan yang detail untuk menentukan kapan dan dimana suatu tindakan dapat dikualifikasikan pelanggaran karena menggunakan identitas untuk mempengaruhi pemilih.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Guru besar sejarah Universitas Amsterdam, Gerry van Klinken, menjelaskan salah satu akar dari politik identitas yang menguat hari ini dengan istilah Ethnic Bossism, yaitu semacam relasi patron-client yang telah berkembang dalam sejarah masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan berbagai peta yang menunjukan perbedaan kolonisasi dan pewargenagaraan paska kolonial antara Jawa-Sumatra dan daerah lain di Indonesia. Penjelasan ini berguna untuk memahami mengapa politik identitas sangat kental di luar Jawa dan sedikit di Jawa, dengan beberapa pengecualian. Termasuk pula peta kekerasan komunal berbasis etnik yang terjadi pada tahun 1999-2002 yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Kerjasama antara penguasa kolonial dengan sultan dan raja-raja sejak masa kolonial menyuburkan Ethnic Bossism yang sekarang semakin meluas paska Orde Baru. Misalkan dengan mekanisme yang memberikan keistimewaan bagi putra asli daerah untuk posisi-posisi di pemerintahan daerah dan proyek pembangunan di daerah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut, Gerry menyampaikan bahwa Ethnic Bossism berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Lawan dari Ethnic Bossism adalah democratic accountability yang menekankan inklusivitas dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ada dua pendekatan yang perlu dipertimbangkan kedepan untuk mengatasi situasi keterjebakan pada sistem oligarkis patron-client ini yaitu suatu pemerintahan pusat yang kuat dan demokratis sehingga bisa memberdayakan warga negara. Pendekatan lain adalah membangun aliansi lintas daerah dari gerakan partisipasi warga dan pemimpin yang baik, terutama antara kelompok urban di Jawa dengan rural di luar Jawa.?

Ward Berenschot menyampaikan presentasi dengan judul Why is Money Politics so Pervasive in Indonesia: An economy analysis. Dia memaparkan hasil risetnya di 38 daerah dengan wawancara terhadap ahli di daerah untuk menyusun Indek Persepsi Klientisme (Clientism Perception Index). Studi ini penting untuk melihat bagaimana relasi patron-client antara masyarakat dan tuannya baik berdasarkan identitas suku dan identitas lainnya juga mempengaruhi politik uang. Studi itu menemukan bahwa semakin ke daerah, maka politik uang semakin massif. Semakin ke nasional, misalkan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kecenderungan politik uang semakin berkurang.

Dalam kaitannya dengan politik identitas, studi yang dilakukan oleh Ward melengkapi apa yang telah dilakukan oleh Gerry van Klinken, terutama untuk melihat perbedaan antara Jawa dan luar Jawa. Hal lain yang menarik dari studi ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hal lain yang menarik dari survey ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ekonomi dalam kota-kota ini cenderung sangat tergantung kepada uang dari negara, karena tidak banyak ditemukan industri di sana.

Ward menganjurkan perlunya mengutamakan politik berdasarkan program dari pada politik berdasarkan relasi klientisme dalam pemilu. Lebih lanjut, Ward mengusulkan perlu adanya waktu khusus bagi Bawaslu sebelum hari pemungutan suara untuk melaporkan kepada publik mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kandidat dalam pemilu sehingga menjadi preferensi bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. Di satu sisi memang dibutuhkan perubahan peraturan mengatasi politik uang dan politik identitas, namun menurut Ward juga diperlukan perubahan dalam praktiknya. Misalkan dengan memberikan perlindungan yang cukup bagi pelapor pelanggaran dan anggota Bawaslu yang menangani pelanggaran pemilu. Sering pelanggaran tidak bisa diatasi karena aktor-aktor lapangan khawatir akan keselamatan dan statusnya di daerah.

Awaludin Marwan menyampaikan beberapa warisan hukum yang diskriminatif yang pernah berlaku di Indonesia. Umumnya yang menjadi korban dari diskriminasi struktural itu adalah etnis Tionghoa. Dalam kaitannya dengan itu, Awaludin melihat bahwa apa yang terjadi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dijerat pidana penodaan agama adalah kelanjutan dari proses diskriminasi yang telah berlangsung lama. Besarnya demonstrasi yang menghendaki agar Ahok dihukum meskipun tidak langsung, tetapi sangat mempengaruhi posisi Ahok dalam pilkada. Lebih lanjut, Awaludin menilai bahwa peraturan perundang-undangan mengenai kepemiluan saat ini belum dapat mengatasi politik SARA yang diskriminatif. Sehingga, pembaruan hukum kedepan harus diarahkan kepada hal tersebut. Salah satunya dengan mengadopsi prinsip-prinsip penting dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik ke dalam sistem hukum pemilu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, RMI NU, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus IPNU-IPPNU Kota Tegal mengadakan latihan bagi calon fasilitator pertama di Gedung NU Kota Tegal jalan Wisanggeni, Tegal, Ahad (4/10). Peserta pelatihan dipersiapkan agar memiliki bekal yang cukup dalam pelbagai kegiatan kaderisasi di lingkungan pelajar NU.

Pembina IPNU Kota Tegal Imam Tantowi berharap peserta pelatihan dapat berbagi materi yang didapat pada pelatihan ini kepada para kader yang ada di Kota Tegal ini.

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Ketua IPNU Kota Tegal Zahrudin menegaskan bahwa dalam pelatihan ini bukan hanya kuantitas yang dikembangkan tetapi kualitas kader yang lebih dikedepankan. Ia yakin pelatihan ini akan mencetak kader fasilitator yang andal dan inovatif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua panitia pelatihan Nur Izzatul Millah menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk melatih para calon fasilitator dalam rangka menyukseskan program kaderisasi. Rencana ke depan IPNU dan IPPNU Tegal akan mengadakan kaderisas keliling.

Pengurus IPNU-IPPNU yang sudah menjadi fasilitator akan diterjunkan ke semua pimpinan ranting. Mereka akan membimbing setiap pekan selama dua bulan berturut–turut guna peningkatan kualitas kader di setiap ranting.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelatihan berlangsung selama dua hari ini mendapat bimbingan dari fasilitator IPNU-IPPNU Jawa Tengah. “Dari hasil roadshow pengaderan, masing-masing perwakilan akan diikutsertakan di Makesta Raya di tiap kecamatan, pada Desember mendatang,” pungkas Nur Izzatul Millah.

Hadir dalam kesempatan ini para pembina IPNU lainnya seperti Sofyan Efendi, Hasan Mustota, Aziz Putra, dan Rizki. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mengawali kegiatan masuk pelajaran semester genap Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo Bojonegoro mengadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama PAUD dan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo.

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Anak-anak diajak membaca riwayat Nabi dari kitab Barjanzi dan Dzibai Selasa (6/1) kemarin di Masjid Jami’ Walisongo Sumuragung Sumberrejo.

Sebagai bentuk ta’dzim kepada Nabi Muhammad SAW dan juga untuk memupuk karakter ahlussunnah wal jamaah, MINU Walisongo genap tujuh tahun ini melaksanakan peringatan hari besar umat Islam ini dengan membaca beragam riwayat Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menanamkan cinta kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Degredasi moral anak-anak sekarang lebih banyak terjadi karena kekurangan rasa hormat dan prilaku ketauladanan yang diberikan oleh stake holder lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang non formal. Maka lembaga yang berada dibawah naungan LP Ma’arif NU kecamatan Sumberrejo ini menggelorakan dan memberikan tauladan cara mencintai nabi Muhammad saw.

“Dengan membaca riwayat Nabi Muhammad dari masa balita sampai akhir riwayatnya beliau harapan kami anak-anak memiliki idola yang tiada tergantikan sepanjang hidupnya,” tutur Ahmad Taufik yang memandu acara pagi Mauludan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keiatan ini diikuti lebih dari 300 anak didik dan ditutup dengan pembagian sedekah bersama berupa nasi kuning dan ketan putih yang dibawa oleh anak didik dari rumah masing-masing. (Satria Amelina/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Sarbumusi Lebarkan Basis di Banom dan Lembaga NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Serikat Buruh NU Sarbumusi menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj. Mereka meminta Nahdlatul Ulama memfasilitasi Sarbumusi dalam penguatan posisi buruh dan tenaga kerja di sektor formal maupun informal terutama di lingkungan NU.

Di lingkungan NU sendiri banyak sekali pekerja dan buruh. “Kita ingin tenaga medis yang tergabung di bawah LKNU, guru-guru di Pergunu, atau tenaga-tenaga pendidikan di LP Ma’arif NU untuk berserikat bersama Sarbumusi,” kata Presiden Federasi Buruh NU Sarbumusi Saiful Bahri Ansori di tengah pertemuan dengan Kiai Said di Gedung PBNU, Rabu (24/9) sore.

Sarbumusi Lebarkan Basis di Banom dan Lembaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Lebarkan Basis di Banom dan Lembaga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Lebarkan Basis di Banom dan Lembaga NU

Sarbumusi, Saiful menyebutkan, memiliki 400 basis yang tersebar di 24 sektor di seluruh Indonesia. Semuanya dimasukkan ke dalam delapan federasi seperti pertambangan, elektronik, transportasi, keuangan, pertanian, dan rokok tembakau. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said sepenuhnya mendukung usulan Sarbumusi. PBNU, lanjut Kiai Said, akan menindaklanjuti usulan federasi buruh NU ini. ia berjanji akan melanjutkan usulan ini kepada pengurus lembaga dan banom NU terkait.

“Kita memang butuh penguatan dan pendampingan-pendampingan buruh. Negara sebesar apapun tidak akan ada artinya tanpa kekuatan civil society,” kata Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Sekretaris Sarbumusi Baitul Khoiri mengatakan, persatuan guru-guru di luar sana sudah bergabung dengan serikat buruh. Kita juga ingin Pergunu dan tenaga medis di NU berserikat dengan Sarbumusi. 

“Kita menggarap aspek keaswajaan buruh. Ini yang tidak digarap serikat pekerja lainnya. Kita menyayangkan sekarang banyak serikat buruh dimasuki kelompok ekstrem. Tentu saja kita juga mengadakan secara berkala pelatihan dan penguatan kesadaran posisi mereka,” ujar Baitul. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja

Blitar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Prestasi membanggakan diukir oleh Nanda Uifi siswa Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif NU Kota Blitar, Jawa Tengah. Karena siswa Aliyah milik PCNU Blitar itu berhasil menyabet juara pertama kader kesehatan remaja se Kota Blitar 2016 tingkat ? SLTA yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar.

Untuk bisa meraih prestasi itu Nanda harus bersaing ? dengan ? ratusan pelajar SMA/SMK dan MA se Kota Blitar. Sementara dua siswa MTS ? Ma’arif ? NU Kota Blitar diajang yang sama juga menyabet ? gelar juara II dan III untuk tingkat ? SLTP se Kota Blitar.

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA dan MTs Ma’arif NU Blitar Juarai Kader Kesehatan Remaja

“Alhamdulillah anak-anak bisa berprestasi dibidang kader kesehatan," ujar Bahruddin ? salah satu guru di MA Ma’arif ? NU Blitar itu.

Menurut Bahruddin, lomba kader kesehatan ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar dalam rangka meningkatkan peran serta remaja dalam bidang ? kesehatan. Baik untul SLTP dan SLTA. Lomba untuk SLTP di selenggarakan pada tgl 27 September dan SLTA padatanggal 28 September 2016 kemarin.?

“Ada tiga siswa dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Siswa Aliyah meraih juara I tingkat SLTA dan dua siswa MTs meraih juara II dan III,” ungkap Bahruddin yang juga Wakil Ketua PCNU Kabupaten Blitar itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Untuk juara I akan mengikuti seleksi ditingkat Provinsi Jawa Timur. Doakan anak-anak bisa meraih prestasi maksimal,” tambah mantan wartawan Karya Darma Jawa Pos Grup itu. (Imam Kusnin Ahmad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat ini ada empat rusunawa (rumah susun mahasiswa) yang telah terbangun di kabupaten Jombang Jawa Timur. Diantaranya di kampus Universitas Hasyim Asy’ari (dulunya Ikaha) yang telah dibangun pada 2007 (21M2/98 unit, 1TB,4 lantai). Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tahun 2012 (1TB,2 lantai). Pesantren Al-Hikmah, Tambakberas tahun 2013 (1TB, 3 lantai) dan pesantren Al-Urwatul Wutsqo tahun 2013 (1TB, 3 lantai). 

Demikian disampaikan oleh Hj Mundjidah Wahab saat mendampingi Menteri Perumahan Rakyat RI, H Djan Faridz dalam kunjungan kerjanya di Pesantren Tebuireng, sekaligus menutup rapat kerja dan koordinasi wilayah Pimpinan Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama Jawa Timur (29/12) siang.

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang saya menyampaikan ucapan terima kasih atas program yang digulirkan oleh Kemenpera di kabupaten Jombang, baik program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bedah rumah/MCK maupun rusunawa,” tutur Hj Mundjidah Wahab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Disampaikan oleh Menpera RI, H Djan Faridz bahwa tujuan pembangunan rusunawa adalah untuk turut mendukung program pengurangan kemiskinan melalui implementasi Mmaster Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) serta menyediakan prasarana pondokan yang layak huni untuk mendukung kegiatan pendidikan dan keagamaan di pesantren. Disamping mewujudkan lingkungan hunian secara terpadu menuju lingkungan hunian yang layak dan berkelanjutan.

“Seperti kita tahu bahwa kondisi umum hunian santri yang ada banyak yang tidak layak huni. Kondisinya sesak, kotor, fasilitas istirahat yang tidak sehat, seadanya, MCK terbatas dan sangat memprihatinkan”, tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan oleh Djan Faridz bahwa untuk tahun anggaran 2013 realisasinya sudah selesai. Dan Pada awal Januari 2014 akan segera dilakukan lelang untuk program rusunawa tidak hanya pesantren, tapi juga rusunawa untuk PNS, polisi dan perguruan tinggi, dan untuk jumlah rusunawa pesantren di Jatim paling tinggi realisasinya, yakni 124 TB.

Untuk pengajuan usulan bantuan pembangunan rusunawa pesantren kepada Kemenpera RI, usulan dalam bentuk proposal, selanjutnya akan dilakukan verifikasi administrasi dan teknis. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan usulan yang lolos verifikasi diusulkan ke Menteri Perumahan Rakyat melalui deputi bidang perumahan rakyat melalui deputi Bidang Perumahan Formal untuk ditetapkan. Selanjutnya penetapan penerima bantuan pembangunan rusunawa ponpes melalui SK Deputi bidang perumahan formal atas persetujuan Menpera.

Sedangkan kriterianya pesantren dalam bentuk yayasan yang izin operasionalnya telah dikeluarkan oleh Kemenag (diprioritaskan untuk pesantren yang pendanaannya kurang). Jumlah santri yang tidak tertampung pada asrama eksisting dalam jumlah yang banyak. Kondisi asrama eksisting tidak layak huni (kurang ventilasi dan pencahayaan, sanitasi tidak sehat, tingkat keselamatan bangunan rendah). Tanah yang disediakan untuk pembangunan rusunawa dengan luasan yang cukup dan dalam kondisi clean and clear.

KH Sholahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini jumlah pesantren yang terdata sebanyak 28 ribu. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling tua. Yang menjadi permasalahan dalam perumahan adalah lahan. “Harga lahan saat ini sangat ini melambung dan tidak terjangkau,” tuturnya.

Di akhir acara kunjungan kerja tersebut, rombongan Menpera RI dan staf, bersama Hj Mundjidah Wahab, KH. Nur Muhammad Iskandar, didampingi istri Gus Sholah melakukan ziarah ke makam Gus Dur. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Santri, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini menilai bahwa Narkoba merupakan salah satu ancaman nyata di depan mata yang mengancam generasi muda bangsa.

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

“Saya sangat miris membaca pemberitaan-pemberitaan yang di sana menyebutkan bahwa bandar Narkoba sudah melakuakan regenerasi untuk pecandu. Mereka menyasar anak-anak kecil seusia SD saat ini,” ujar Helmy, Senin (2/10) di Jakarta.

Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menjadikan pemberatasan Narkoba sebagai agenda penting yang mendesak. Jika genarasi muda rusak, maka negara dalam ancaman serius.

Dalam pandangan Helmy, setidaknya tiga elemen harus bersatu memerangi Narkoba. Pertama, lembaga pendidikan. Sekolah, misalnya, harus lebih bekerja keras untuk menanamkan karakter bagi generasi muda. Jika karakter sudah terbangun dengan baik, maka Insyaallah generasi muda kita akan selamat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Demikian juga untuk elemen kedua yakni keluarga. Keluarga memiliki peranan penting untuk memgarahkan anaknya agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat.

Ketiga, lanjut Helmy, pemerintah dalam hal ini melalui BNN. Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk menyusun langkah cerdas, utamanya yang bersifat preventif. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ketiga elemen itu jika bersatu, insyaAllah bangaa kita akan berhasil dalam perjuangan yang disebut sebagai "jihad melawan narkoba,” tandas Helmy. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Meski film "Sang Kiai" diputar serentak 30 Mei kemarin, namun nahdliyin Kudus harus bersabar tidak bisa menonton seketika. Pasalnya, di Kudus tidak ada gedung bioskop. Warga kota kretek harus menonton ke Semarang dan harus berebut dengan warga di sana.

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias Nonton “Sang Kiai” Tinggi, Gedung Bioskop Terbatas

Kader Ansor Desa Gribig Gebog Kudus Wahyudi merasa menyesal tidak bisa menonton pada pemutaran perdana 30 Mei ini. Yudi hanya bisa menunggu film yang disutradarai Rako Priyatno sudah beredar bebas di pasaran.

“Sebetulnya mau  menonton banget mas, tapi  disini tidak ada bioskop. Mau ke Semarang jauh,  jadi tertunda keinginan itu,” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Kamis (30/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia berharap ada pihak yang mau menjembatani memfasilitasi  pemutaran film ini di kota Kudus. “Kalau bisa nanti ada pemutaran dalam bentuk layar tancep  di ranting-ranting, karena film ini sangat memberi motivasi perjuangan bagi nahdliyin,” tambahnya.

Seorang pelajar Muhammad Nailul Falah meminta pengurus  IPNU-IPPNU membuat  rombongan menuju Semarang untuk menonton secara bersama.  “Selain untuk bisa segera mengetahui ceritanya, juga buat refresing ,” katanya singkat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembina PC IPNU Kudus M.Aflach mengusulkan kepada lembaga pendidikan Ma’arif di semua  tingkatan memobilisir siswa-siswi madrasah NU supaya menonton film yang dibintangi Ikranegara dan Cristine Hakim ini. 

“Dengan menonton film Sang Kiai,  pelajar Ma’arif nanti  bisa mengenal  sejarah perjuangan (pendiri) NU,” usulnya singkat yang ditulis di akun facebook milik kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Daerah, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Madinah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebanyak 9 kiai dari Jawa Tengah dan jawa Timur yang dipimpin Rois Syuriyah pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Masruri Mughni dan KH Habib Ahmad bin Toha Al Munawar (Toha Putra Group), Ahad (6/5) kemarin menemui sejumlah ulama terkemuka di Madinah dan Makkah.

Demikian dikutip dari Harian Umum Suara Merdeka. Di Madinah para kiai menemui Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, Habib Muhammad bin Zein, Habib Muhsin Alatas, dan Habib Salim Al-Kaf.

Sedang di Makkah ulama yang ditemui antara lain Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani, Habib Ahmad bin Muhammad AlMaliki, Habib Salim bin Segaf AlJufri (Duta Besar RI untuk Arab Saudi), Habib Muhammad bin Ismail Al-Yamani dan Habib Rosyad Al-Baidi Jeddah. Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani adalah salah satu keturunan Syeh Abdul AQadir AlJaelani, sahibul manakib yang sangat popular di Indonesia.

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Selain bersilaturahim dengan para ulama, mereka berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW dan menunaikan ibadah di Masjid Nabawi.

Selanjutnya menjalankan ibadah Umrah mengambil miqat dari Bir Ali. Dijadwalkan setelah menemui para ulama di Madinah dan Makkah, Rabu mendatang rombongan bertolak ke Hadramaut Yaman mengikuti serangkaian kegiatan di negara bekas jajahan Inggris itu. Agenda kegiatan di Yaman, para kiai akan mengikuti haul Habib Ali bin Muhammad AlHabsyi, penyusun Kitab Maulid Simtud Dhuror, bertemu dengan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, pimpinan pesantren Daarul Mustofa, Tarim.

Ulama lain yang akan ditemui yaitu Habib Salim Satri, berziarah ke makam aulia antara lain Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyusun Ratib AlHaddad yang sangat terkenal di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sembilan kiai dalam rombongan tersebut yaitu KH Masruri Mughni, KH Habib Ahmad bin Toha AlMunawar, Dr Habib Abdurrahman bin Smith MA Kauman Semarang, KH Kharis Shodaqoh (pengasuh pondok Al-Itqon Bugen Kota Semarang), KH Sholeh bin Muhammad Bassalamah (pengasuh pesantren Daarussalam Jatibarang Brebes), KH Humam Suyuthi (pengasuh pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati), Prof Dr H Ahmad Rofiq MA (Sekretaris Umum MUI Jateng), KH Ikhya Ulumiddin (pengasuh pesantren Nurul Haromain, Pujon, Malang), Habib Shaleh bin Muhammad AlJufri (pengasuh pesantren Daarul Mustofa Solo).

"Kami mencoba membangun jaringan dengan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah terkemuka yang ada di Makkah-Madinah dan Yaman dalam rangka pengembangan pondok pesantren di Jawa Tengah dan menjalin hubungan silaturahim," kata Kiai Masruri.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, RMI NU, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.

Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tegal, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Bersama Lakpesdam NU, Kemnaker Serahkan Bantuan untuk 400 Nelayan Batang

Batang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan bantuan untuk 400 orang nelayan di Kabupaten Batang, Jumat (12/2). Bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dan Lakpesdam NU Batang, Dinsosnakertrans menyerahkan bantuan berupa sarana dan peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Menurut Kepala Dinsosnakertrans Sugiyatmo, perhatian Kemnaker untuk masyarakat nelayan melalui sosialisasi dan pemberian bantuan peralatan K3 diharapkan memperkuat program-program pemberdayaan nelayan sehingga keinginan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dapat terwujud, terutama pada nelayan di Batang.

Bersama Lakpesdam NU, Kemnaker Serahkan Bantuan untuk 400 Nelayan Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Lakpesdam NU, Kemnaker Serahkan Bantuan untuk 400 Nelayan Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Lakpesdam NU, Kemnaker Serahkan Bantuan untuk 400 Nelayan Batang

Kepala Dislutkan Batang Taufiq menambhakan, untuk program-program pemberdayaan nelayan dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, nelayan perlu dilengkapi peralatan keselamatan kerja agar nelayan terus meningkatkan kesadaran budaya K3.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri sebagaimana disampaikan dalam sambutan Dirjen Bina Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja berharap, dengan bantuan peralatan K3 ini kesadaran akan budaya K3 di kalangan nelayan semakin baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada tahun 2015 lalu, Kemnaker juga membagikan lebih dari 10.000 peralatan keselamatan kerja untuk nelayan khusus di Cilacap dan memberikan fasilitas untuk 5.000 orang nelayan dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

Ketua Lakpesdam NU Batang M Arif Rahman Hakim berharap peran semua pihak dapat meningkatkan kerja sama, koordinasi dan membangun kolaborasi yang sinergis untuk mengatasi semua permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja khususnya bagi nelayan di Kabupaten Batang.

“Budaya K3 perlu dikembangkan secara terus-menerus karena telah terbukti bahwa tingkat penerapan K3 suatu negara sangat memengaruhi produktivitas dan daya saing nasional secara keseluruhan,” kata Arif. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Oleh Ahmad Saifuddin

--Pemuda memiliki urgensitas yang tinggi dalam sejarah Indonesia. Setiap gerakan melawan kolonialisme, pemuda selalu ambil bagian. Sampai pada puncaknya, pemuda Nusantara bersatu dan mengikrarkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berisikan tiga sendi, menjunjung tinggi tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan dan bahasa Indonesia.

Tiga sendi itu yang kemudian melenyapkan sisi-sisi fanatisme golongan sehingga muncul kekuatan nasionalisme dan akhirnya mampu menjadi bahan bakar penggerak gerakan-gerakan melawan kolonialisme menuju gerbang kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tidak hanya sampai di situ saja. Gerakan pemuda masih saja berlanjut untuk menjunjung tinggi martabat Indonesia dalam pergerakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perlawan arek-arek Surabaya yang menjadi peperangan terbesar mempertahankan kemerdekaan Indonesia sehingga hari itu dinobatkan menjadi Hari Pahlawan (10 November).

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ge(b)rakan Pemuda untuk Perubahan

Bahkan, hampir di setiap fase pemerintah Indonesia, gerakan pemuda senantiasa menjadi balancer (penyeimbang) dengan menghadirkan sejumlah kritik terhadap pemerintah sehingga negara ini masih “sedikit” terselamatkan dari berbagai krisis di tingkat pemerintah.

Pemuda yang Terjajah

Meskipun kolonialisme bangsa asing berupa penjajahan ekspansi wilayah berakhir, namun penjajahan dalam bentuk lain justru semakin gencar terjadi. Kondisi yang kontras bisa dilihat antara pemuda era dahulu dengan era sekarang. Sekarang, tidak sedikit pemuda yang terkontaminasi virus kriminalitas dan penurunan moral. Tidak sedikit pemuda yang terlibat pergaulan bebas, narkoba, tindak kriminal, pembunuhan, perkelahian, dan sebagainya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Banyak pemuda di era sekarang yang menjadi pemuja hedonisme, yang menyebabkannya menghabiskan waktu untuk kesenangan semu tanpa arah. Banyak pemuda yang egois dengan prinsip kebebasan dalam hidup sehingga merugikan orang lain. Pada akhirnya, banyak pemuda yang kehilangan masa depannya yang cerah dan hanya menjalani kehidupan seperti air yang mengalir ke bawah.

Di sisi lain, pemuda juga tercemar virus separatis dan radikalis. Tidak sedikit pemuda yang menjadi teroris, ikut serta dalam gerakan radikalis yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak hanya dibangun oleh founding fathers yang nasionalis, tetapi juga agamis. Melihat realita tersebut, jelas sangat memprihatinkan karena pemuda merupakan tulang punggung negara. Perlu adanya reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati irinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Reorientasi Pemuda untuk Sebuah Ge(b)rakan

Perlu adanya gerakan reorientasi pemuda agar pemuda kembali menemukan jati dirinya. Meskipun banyak pemuda yang mengalami permasalahan kompleks, masih banyak pemuda yang memiliki spirit perubahan. Selain itu, penghayatan kembali atas sejarah kepemudaan sangat diperlukan agar nilai perjuangan dan nasionalisme serta semangat perubahan mampu tertanam kembali. Berbagai hal bisa dilakukan dalam rangka reorientasi pemuda tersebut.

Pertama, pemahaman psikologis dan pola pikir fase pemuda sangat penting. Dengan hal ini, pemuda akan mampu memahami karakteristik dirinya sendiri sehingga mampu melakukan self healing yang selanjutnya pemuda akan berperan dalam penyelesaian permasalahan yang menghinggapi bangsa dan negara.

Kedua, dalam dunia akademis, semangat menuntut ilmu harus diimbangi dengan semangat menginternalisasikan nilai dan moral. Sehingga, tidak hanya mengejar kuantitas dan kualitas ilmu, tetapi juga mengejar kuantitas dan kualitas akhlak dan moral. Terciptanya akademisi muda yang berintelektual dan bermoral. Mampu membangun peradaban dengan ilmu dan budaya luhur. Mampu menciptakan masyarakat cerdas dan berintelektual serta berbudi luhur.

Ketiga, menciptakan pemuda yang terampil, kreatif, dan inovatif menjadi hal penting di era modern sekarang. Seain itu, daya lenting yang tinggi harus dimiliki pemuda untuk menjadi pemuda yang tangguh dalam segala tantangan. Agar tetap senantiasa menjadi bagian negara yang maju dan kebal terhadap segala hambatan yang ada.

Keempat, penghayatan tentang konsep nasionalisme, cinta tanah air, dan demokrasi yang berlandaskan pada agama menjadi penting bagi pemuda, kaitannya sebagai upaya preventif agar pemuda tidak mudah menjadi target gerakan separatis dan radikalis. Hal ini perlu digencarkan karena gerakan radikalis dan separatis memilih pemuda yang secara psikologis mudah dipengaruhi dan secara pengetahuan belum terlalu mumpuni.

Kelima, menciptakan pemuda yang peka terhadap kondisi sosial menjadi penting juga agar pemuda tidak mudah terkontaminasi oleh permasalahan sosial. Namun, justru menjadi agen perubahan. Prinsip hidup harus membawa manfaat dan maslahat perlu diinternalisasikan agar pemuda menyadari akan perannya.

Keenam, penghayatan terhadap kisah faktual tokoh sebagai role model perlu ditanamkan dalam diri pemuda. Bagaimana menjadi pribadi yang kuat akan godaan termasuk godaan zina seperti Yusuf muda. Bagaimana menjadi pribadi yang cerdas memperjalankan spiritualitas dan logikanya untuk mencari kebenaran hakiki seperti Ibrahim muda. Bagaimana menjadi pribadi yang taat dan patuh kepada orang tua seperti Ismail muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berakhlak mulia, jujur, dan amanah seperti Muhammad muda. Bagaimana menjadi pribadi yang selalu haus dalam menuntut ilmu seperti Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i muda. Bagaimana menjadi pribadi yang berani melindungi kebenaran layaknya ‘Ali ibn Abu Thalib muda yang menggantikan Nabi Muhammad SAW tidur di tempat tidurnya ketika dikepung kafir Quraisy sehingga nyawa ‘Ali ibn Abu Thalib menjadi taruhannya. Spirit kisah-kisah ini perlu dibangkitkan kembali di saat pemuda banyak terbius oleh cerita konyol akan cinta dan gaya hidupnya yang hedonis, pemuja kesenangan, kebebasan tanpa batas, dan kebrutalan.

Gerak dan Gebrak untuk Perubahan

Semangat sumpah pemuda ke-86 yang juga berdekatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1436 Hijriyah, diharapkan mampu menjadi titik kelanjutan estafet gerakan pemuda sebelumnya. Terlebih lagi, pemuda era sekarang sudah banyak mengalami berbagai permasalahan kompleks. Di sisi lain, peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih tetap dibutuhkan.

Semangat hijrah (berubah menuju perbaikan) hendaknya selalu menjadi jiwa dalam diri pemuda. Hijrah sangat penting, terutama dalam kehidupan ini perubahan adalah keniscayaan. Hijrah yang berarti berpindah dari suatu tempat menuju ke tempat lain dapat dimaknai secara kontekstual dengan perpindahan menuju hal yang lebih baik. Layaknya hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah al Mukarramah menuju Yatsrib (Madinah al Munawwarah), agar dakwah dan Islam lebih berkembang. Terlebih lagi, prinsip beruntung dalam Islam adalah jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Dengan kata lain, modifikasi perilaku dan modifikasi lingkungan sangat diperlukan bagi pemuda sebagai teknik dan bekal membuat perubahan.

Tidak hanya bergerak, tetapi juga menggebrak. Hijrah dan bergerak untuk menuju perbaikan, menggebrak untuk melawan tantangan dan hambatan. Pemuda masa kini, pemimpin masa depan. Jayalah pemuda, jayalah Indonesia!

Ahmad Saifuddin, S.Psi., mahasiswa Magister Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Wakil Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Klaten, dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Ilustrasi: Perjuangan pemuda di Surabaya 1945 dalam cover buku "Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad"

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, PonPes, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Rektor Universitas Kulliyatud Dawah Lebanon Syekh Abdun Nasser Jabri menyebut Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi segenap makhluk. Karenanya pemeluk Islam di belahan dunia mana pun mengemban tugas untuk mewujudkan misi tersebut dan mendorong upaya-upaya perbaikan untuk semesta alam.

“Islam adalah agama Allah. Islam bukan aliran politik, bukan paham kelompok. Islam hadir untuk membawa kemaslahatan bagi segenap umat manusia,” kata Syekh Naser Jabri kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di sela pertemuan forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Gedung Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (10/5) sore.

Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor Universitas Lebanon: Islam Bukan Agama Sektarian

Menurutnya, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap eksklusif apalagi mendorong umatnya untuk membentuk kelompok politik tertentu atau bersikap keras terhadap umat lain. Islam justru meminta pemeluknya untuk bergaul dengan komunitas pemeluk agama lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini sudah dicontohkan Rasulullah SAW ketika membangun masyarakat di Kota Madinah. Di sana Nabi Muhammad SAW merangkul komunitas pemeluk Yahudi dan Nasrani,” tegas Syekh Naser dalam Bahasa Arab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk itu gagasan Islam moderat dan toleran yang dikampanyekan Nahdlatul Ulama (NU) di forum ini layak untuk disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Di samping mengingatkan umat Islam, forum ini juga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa Islam mendorong dan mengupayakan perdamaian dunia, ujar peserta forum Isomil asal Libanon, Syekh Nasser Jabri dengan suara lembutnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

PMII harus Kembali ke Masjid

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi berharap agar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali ke masjid sebagai basis gerakannya. Masjid sebagai pusat kegiatan keummatan akan memberikan nilai spiritualitas yang tak akan diperoleh dari tempat lainnya.

“Mari kita kembali ke masjid,  bolehlah demo, tapi basisnya harus spiritualitas, visinya harus kerakyatan, tapi harus diikatkan dengan hablumminallah. Jangan tidak pernah ke masjid,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu.

Beralihnya pusat kegiatan PMII dari masjid dikatakannya bisa menghilangkan visi dan ideologi yang dimiliki oleh organisasi yang banyak melahirkan para pemimpin dari NU ini. “Berangkat demo dari jalan, kembali ke jalanan, akhirnya menjadi orang jalanan, ini lama-lama bisa kehilangan visi dan ideologinya, lama-lama bisa menjadi pendemo bayaran,” tandasnya

PMII harus Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII harus Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII harus Kembali ke Masjid

Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pesantren ini (P3M) ini menjelaskan bahwa pada masa rasulullah, masjid merupakan pusat peradaban yang mana segala kegiatan dilakukan disana, bukan sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah mahdhoh.

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita bisa diskusi di masjid, tentang Islam yang paling sosialitik pun, tapi dalam perspeksif agama, mendiskusikan Das Kapitas, Adam Smith, dha papa asal didialogkan dengan pesan-pesan etika dan keagamaan, ini baru seru, baru ada karakter,” tambahnya.

Pesan kembali ke masjid tersebut juga disampaikan kepada para kader GP Ansor. Saat selesai menjalankan aktifitas dunianya, masjid merupakan tempat kembali untuk menyelesaikan berbagai urusan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau semua urusan diselesaikan di situ, insyaallah lebih berkah. Dan kalau kita memutuskan segala sesuatu di masjid, spiritnya kan lain, nga mungkin memutuskan sesuatu di masjid dengan jotos-jotosan, sesuatu yang sekarang lazim,” imbuynya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Saat fatwa haram hormat bendera merah putih banyak dikeluarkan sejumlah orang, upacara memperingati kemerdekaan Indonesia justru semarak diselenggarakan di pesantren-pesantren. Tidak terkecuali Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang, Jawa Timur.

Pesantren yang sering akrab dengan sebutan Pesantren Mergosono asuhan KH M. Taqiyudin Alawy ini terletak di gang kecil Kelurahan Mergosono. Karena tak memiliki lapangan, upacara bendera pun digelar di atas atap, tepatnya di lantai empat gedung asrama pesantren. Dengan mengenakan sarung dan kopiah, sekitar 30-an santri melangsungkan upacara dengan khidmah.

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Selain bendera Sang Merah Putih, dikibarkan pula bendera Nahdlatul Ulama secara bersamaan. Kalau di tempat lain sesi mengenanang pahlawan diisi lagu Mengheningkan Cipta, di upacara Pesantren Mergosono ini sesi tersebut diisi dengan membacakan Surat al-Fatihah kepada para pahlawan pendahulu.

Para santri juga secara serentak membaca Ikrar Santri untuk NU dan NKRI. Ikrar tersebut berisi dua syahadat, ikrar setia terhadap NU, dan ikrar bela negara. Ikrar tersebut disusun dengan mengkombinasikan antara Panca Setia santri ala KH. Marzuki Mustamar dan Ikrar bela ala Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Inspektur upacara juga menyampaikan amanat kepada peserta upacara. Setelah itu menyanyikan dua lagu nasional, yakni Padamu Negeri dan 17 Agustus. Dan acara ditutup dengan doa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berikut Bunyi teks “Ikrar Santri Untuk NU dan NKRI” Pesantren Mergosono:

? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kami santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang;

1. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

2. Kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah

3. Kami berikrar bahwa NU selalu di hati

4. Kami berikrar bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman

5. Kami berikrar bahwa membela tanah air adalah wajib

6. Kami berikrar bahwa NKRI harga mati itu bukan basa-basi

(Indirijal Lutofa/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kyai, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock