Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Zaman terus maju ke depan dan cara menghadapi perkembangan zaman juga harus berubah. Inovasi dalam menghadapi pergeseran tersebut pun mutlak harus dilakukan. Maka, kaidah “memelihara hal-hal lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus” mesti terus diaktualisasikan.

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kreatif Buat Aplikasi, Jebolan Pesantren Krapyak Ini Raih 4,2 Miliar

Prinsip itulah yang dipegang Aris Sofyan, santri alumni Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogjakarta. Berkat kegigihannya dalam berkarya, ia mampu masuk ke persaingan di era digital.

Aris membuat konsep aplikasi untuk telepon pintar yang saat ini hampir setiap orang mempunyainya. Dari kreativitasnya, Aris bersama tim nya berhasil memperoleh investasi sebesar 4,2 miliar untuk pengembangan konsep aplikasi yang telah dibuatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dunia bisnis memang sudah menjadi ketertarikannya sejak kecil meski selama ini ia belum menemukan bisnis yang tepat. “Makin ke sini karena saya juga punya hobi utak-atik komputer, baik itu coding-nya maupun mengikuti perkembangan teknologinya, saya baru tahu kalau startup (perusahaan rintisan) bidang IT itu bisa mendapatkan dana besar dari investor,” ungkap Aris di Jakarta, Sabtu (12/8).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari pemahaman itu, ia mencoba membuat konsep startup aplikasi dan kemudian menawarkan kerja sama ke perusahaan-perusahaan di bidang teknologi dan informasi untuk mengembangkan aplikasi tersebut.

Aplikasi yang dibuatnya itu diberi nama Kongkon. Kongkon adalah aplikasi berbasis android yang dibuat untuk melayani segala kebutuhan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Investor melihat bahwa konsep Kongkon ini menarik dan memiliki prospek positif. Dari situlah akhirnya pihak investor mau untuk membiayai pengembangan aplikasi ini.

“InsyaAllah dalam waktu dekat aplikasi layanan Kongkon sudah bisa dinikmati oleh masyarakat,” jelas pria yang sekarang menjadi CEO Kongkon ini.

Dari pengalaman keberhasilan merintis usaha tersebut, Aris yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum PP IPNU ini menginginkan agar semua santri berani bermimpi untuk mengejar apa yang mereka cita-citakan.

“Era sekarang membutuhkan orang yang bisa membaca keadaan dan inovatif. Santri yang terbiasa hidup sederhana dan terkenal sebagai orang yang ulet harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman,” terang Aris ?

Menurutnya santri harus melakukan inovsi-inovasi tersebut supaya santri tidak dianggap selalu ketinggalan zaman dan diremehkan orang yang bukan santri.

“Dan yang terpenting, kita harus memperbanyak silaturahmi sebagai budaya kita, karena silaturrahmi melancarkan rezeki,” pungkasnya. (Jefri Samodro/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Sejarah, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menilai pelaksanaan Miss Word di Bali hanyalah bentuk hura-hura, foya-foya dan menghamburkan uang. Ajang internasional ini tidak banyak mendatangkan manfaat untuk Indonesia.

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya

"Kalaupun ada manfaat itu kecil sekali. Kalau Miss World ini bisa menurunkan harga kedelai dan daging sapi, atau bisa mempekuat negara atau bisa mencicil utang Indonesia, kami akan dukung. Kami menilai Miss World ini lebih besar mudharatnya," kata Kang Said di kantor PBNU Jakarta, Rabu (4/8).

Kang Said menyampaikan pernyataan sikap yang dikeluargan oleh NU bersama 10 ormas Islam lainnya yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Umat Islam (LPUI). LPUI telah menggelar rapat pada 29 Agustus 2013 lalu terkait rencana digelarnya event Miss World ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LPUI terdiri dari 11 ormas Islam yakni NU, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tioghoa Indonesia (PITI), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Azzikr, Syarekat Islam Indonesia, Al-Washliyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Kang Said yang juga Ketua LPUI, 11 ormas Islam menyatakan menolak pelaksanaan Miss World di Indonesia. LPUI menilai, setiap event internasional harus dilihat sisin manfaat dan mudharatnya. Sementara Miss World dinilai lebih besar musharatnya dibanding manfaatnya.

Selain itu, LPUI menolak event ini karena tidak sesuai dengan adat ketimuran. "LPUI menolak adanya Miss World dengan alasan tidak sesuai dengan moral dan budaya bangsa serta bertentangan dengan Pancasila," demikian dalam pernyataan LPUI.

Dalam surat pernyataan itu juga ditegaskan, LPUI menolak pelaksanaan Miss World namun tetap menentang segala bentuk kekerasan terkait penolakan tersebut. LPUI tidak akan melakukan aksi pengerahan massa atau tindakan apapun terkait penolakan ini.

"Kami hanya menyampaikan suara umat Islam. Minimal warga kita tahu sikap kita," kata Kang Said didampingi para pimpinan ormas Islam yang tergabung dalam LPUI. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Padangpariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang.?

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur ? klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan ? menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan ? sopan santun, etika dan ? mengaplikasikan ibadah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam.?

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di ? dibidang ? keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid, ? dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Ansor Tanah Laut Buka Bersama di Nurul Hijrah Jorong

Tanah Laut, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Tanah Laut mengadakan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Nurul Hijrah Jorong Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Barat pada Selasa (23/7).

Ansor Tanah Laut Buka Bersama di Nurul Hijrah Jorong (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tanah Laut Buka Bersama di Nurul Hijrah Jorong (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tanah Laut Buka Bersama di Nurul Hijrah Jorong

Ketua GP Ansor Tanah Laut Alfian Nor menjelaskan, maksud diadakan kegiatan tersebut adalah peringatan hari lahir (harlah) ke-79 GP Ansor, sekaligus silaturahim bagi generasi muda NU. 

Ia menambahkan, kegiatan itu  untuk menumbuhkan kewaspadaan kepada pemuda dan santri agar bersikap kritis dalam menghadapi kemungkinan pemahaman menyimpang dan tidak terjebak dalam sebuah gerakan yang mengarah pada aksi terorisme, anarkisme hingga kriminalitas yang dilandaskan pada penyimpangan penafsiran agama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Juga  untuk menambah wawasan dan sharing informasi bagi kita semua,” katanya melalui pers rilis yang dikirim GP Ansor Tanah Laut melalui surat elektronik, Kamis (25/7).

Kegiatan tersebut dihadiri Pengurus GP Ansor, Muslimat NU, PMII, BKPRMI, Karyawan KUA Jorong, dewan guru madrasah dan sekolah umum, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta seluruh santriwan dan santriwati Nurul Hijrah Jorong.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buka puasa bertema Peran Pemuda dalam Menanggulangi Konflik Agama diisi taushiyah Pengasuh Ponpes Nurul Hijrah Jorong KH Mukeri Yunus. Kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan berupa sarung dan mukena.

Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Lakpesdam Kembangkan Konsep Kaderisasi Berbasis Ranting

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kaderisasi menjadi persoalan penting dalam sebuah organisasi massa. Jika kaderisasi mandek saat ini, pengaruhnya akan terasa sampai 30-40 tahun yang akan datang. Di lingkungan NU, Lembaga yang bertanggung jawab dalam proses pengkaderan adalah Lakpesdam NU.



Lakpesdam Kembangkan Konsep Kaderisasi Berbasis Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Kembangkan Konsep Kaderisasi Berbasis Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Kembangkan Konsep Kaderisasi Berbasis Ranting

Direktur Lakpesdam Abdul Waidl menuturkan, saat ini, konsep pengkaderan yang sedang dibuat adalah pengkaderan berbasis ranting. Konsep ini dibuat setelah melakukan penelitian pada sejumlah cabang, pengkaderan seperti apa yang mereka inginkan.

“Di beberapa cabang, mereka lebih senang kaderisasi di tingkat ranting karena punya massa langsung, ketemu dengan konstituen dan berhadapan langsung dengan permasalahan masyarakat,” katanya dalam diskusi Kamisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, 25 November.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terdapat tiga putaran dalam pola pengkaderan baru tersebut, pertama pengenalan tentang ke-NU-an, kedua, menjadikan pengurus ranting sebagai community organizer. “Ini semacam pelatihan advokasi, bagaimana mereka menjadi kader penggerak di setiap ranting,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketiga adalah pelatihan ketrampilan, yang terkait dengan persoalan peningkatan ekonomi, tetapi tidak menutup kemungkinan pemahaman di bidang politik, kebudayaan dan lainnya. Permasalahan nyata di masyarakat, problem ekonomi yang menjadi mengemuka di tingkat ummat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo mengatakan Islam moderat di Tanah Air harus diperkuat untuk mencegah meluasnya pengaruh paham radikal.

"Penguatan pemahaman Islam yang moderat dan toleran menjadi salah satu senjata untuk mencegah masuknya paham kelompok radikal dan terorisme seperti ISIS," katanya di Jakarta, Jumat.

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Ia menilai langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan ISIS di berbagai kalangan sudah bagus, namun harus ditindaklanjuti dengan adanya penguatan pemahaman tentang Islam sesuai ajaran yang benar.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pemerintah dan Ormas Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkewajiban untuk memberikan pemahaman Islam kepada segenap anak bangsa.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan, cinta kasih, dan persaudaraan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam Islam tidak ada sama sekali ajaran untuk merusak, meneror, apalagi membunuh sesama manusia," katanya.

Menurutnya, Islam yang indah, lembut, dan damai itu selalu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bahkan saat terjadi perang, juga diajarkan untuk menghormati musuh dan tidak boleh menyakiti anak-anak, wanita, dan orang tua.?

Semua itu adalah cerminan bahwa cara-cara kekerasan itu bukan Islam, apalagi tindakan itu menimbulkan korban jiwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jadi tidak ada hubungannya antara Islam dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak paham makna sebenarnya dari Islam yang mengajarkan kelembutan, kedamaian dan rahmatan lil alamin. Itulah inti ajaran Islam," ujar Ahmad Satori.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk memperkuat pemahaman tentang makna Islam yang benar agar tidak terjebak dan terpengaruh propaganda paham radikal terorisme.?

Terkait jihad, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengatakan di alam kemerdekaan Indonesia saat ini, jihad tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan berbagai cara seperti menggunakan tenaga, harga, jiwa, dan lain-lain untuk kemaslahatan.

"Di zaman sekarang, perjuangan (jihad) kita bukan dengan angkat senjata, tapi dengan memerdekaan negeri ini dari pengaruh asing, kemiskinan, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, makmur, dan sejahtera," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Nusantara, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Kabupaten Brebes Jawa Tengah akan menggelar pasar rakyat. Pasar rakyat HIPSI 2013 rencananya akan digelar pada 10 Oktober di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes.

“Pasar Rakyat ini tidak hanya menjual produk saja,” tegas Ketua PW HIPSI Jateng H Moh Imaduddin.

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Gelar Pasar Rakyat 2013

Tetapi, lanjutnya, juga ada pertemuan-pertemuan khusus dengan para pengusaha berkelas nasional maupun internasional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

HIPSI juga menggelar Seminar Wirausaha 1000 santri dan pelantikan pengurus baru HIPSI Brebes. Mereka yang akan dilantik antara lain Ketua H Moh Sodikin, Sekretaris Fatkhurojak dan Bendahara Nely Astuti.

Pembina HIPSI Brebes KH Solahudin Masruri (Gus Solah) menandaskan, kalau di Brebes banyak terdapat pesantren, lebih dari 120 pesantren aktif. Untuk jiwa wirausaha, para santri tidak diragukan lagi. Tetapi untuk permodalan memang masih perlu bapak angkat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dengan persatuan para anggota HIPSI, saya pandang persatuan ini bisa saling bergandeng tangan dan juga saling berbagi untuk eksistensi santri,” tambah Gus Sholah yang juga pengasuh Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes.

Audiensi anggota dan pengurus HIPSI diterima langsung Bupati Brebes Hj Idza Priyanti didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Asih Pambudi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Brebes Herman Ady, Kabag Kesra Setda Brebes Mabruri dan Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Doktor Angkatno.

Bupati menyambut baik rencana HIPSI Brebes yang akan menggelar pasar rakyat. Apalagi Kabupaten Brebes dalam salah satu pilar pembangunannya akan meningkatkan ekonomi kerakyatan antara lain dengan pengembangan UMKM.

“Saya yakin HIPSI bisa berperan serta dalam percepatan pembangunan di sektor ekonomi, sehingga bisa meningkatkan IPM Brebes,” harapnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengimbau Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK). JK ingin BLK mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di dunia industri. 

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK Minta Menaker Genjot Pelatihan Vokasi

"Saya mengapresiasi pelatihan bergabung dengan produksi atau sebaliknya," ujar Wapres JK saat mengahdiiri forum silaturrahmi Pengurus dan mahasiswa Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) di Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/11).

Menurut Wapres JK kalangan mahasiswa maupun peserta pelatihan vokasi tidak boleh hanya dibekali teori. Tapi juga harus mampu mempraktekkan dan menjalankan proses produksi.

"Perkembangan teknologi dewasa ini sangar luar biasa. Pendidikan harus mendahului industri," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, setiap negara membutuhkan industri karena industri mampu menyediakan banyak lapangan kerja. Selain itu keterlibatan dunia industri dalam menggalakkan pendidikan dan pelatihan vokasi juga sangat penting.

"Apabila ingin mendidik, bukan hanya menggabungkan teori dan praktik, tapi dengan produksi juga," ungkap JK.

Forum Silaturrahmi Pengurus dan Mahasiswa ATMI tersebut juga dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, dan Menteri Perindusterian Airlangga Hartanto. 

"ATMI bisa menjadi contoh untuk memperbaiki kualitas BLK di daerah lain," imbuh JK.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menanggapi hal ini, Hanif mengungkapkan saat ini Kemnaker tengah menggenjot pelatihan vokasi di BLK dan terus membenahi sarana dan prasarana pelatihan. Kemnaker terus melakukan percepatan peningkatan daya saing dan kompetensi tenaga kerja melalui program Reorientasi, Revitalisasi, dan Rebranding (3R) BLK.

Melalui 3R, kurikulum BLK disusun melibatkan professional. Peralatan diperbaiki. Peserta mendapatkan sertifikasi keahlian. Dengan demikian, alumni BLK memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan industry.

“Untuk mempercepat peningkatan daya saing dan kompetensi tenaga kerja saya telah menetapkan 3 Balai Besar Pengembangan Pelatihan Kerja dalam program 3R tahap pertama yaitu BBPLK Bekasi, BBPLK Serang, dan BBPLK Bandung.” ungkap Menaker.

Selain itu, Kemnaker juga menjadikan program pemagangan nasional yang diselenggarakan di lingkungan industri sebagai salah satu program unggulan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Proses pemagangan yang dijalani peserta magangan mengacu kepada suatu jabatan tertentu di dunia kerja. 

Sehingga diharapkan setelah proses magang selesai alumni magang bisa langsung terserap pasar kerja karena kompetensi yang dimiliki sudah sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan di dunia industri. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Pertandingan, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Doa ketika Angin Besar

Angin merupakan makhluk Allah Swt yang disebabkan oleh udara yang dingin secara signifikan akibat hujan. Setelah mencapai permukaan tanah, menyebar ke segala arah memproduksi angin kencang.

Angin terbagi menjadi dua, angin kencang kering yang mana angin ini dikaitkan dengan badai dengan hujan sangat sedikit. Sedangkan angin kencang basah diciptakan oleh badai dengan jumlah curah hujan yang tinggi.

Doa ketika Angin Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa ketika Angin Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa ketika Angin Besar

Kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama Islam tentu bersyukur memiliki dua angin tersebut, tetapi kadang angin yang kencang membawa bencana. Untuk itu Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar selalu berdoa ketika menghadapi angin kencang. Riwayat ini disebutkan dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawi halaman 152 sebagai berikut:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abu Hurairah RA berkata, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Angin adalah nikmat dari Allah SWT yang kadang mendatangkan rahmat? dan kadang mendatangkan ujian. Karena itu apabila kalian menyaksikan, maka jangan dicaci maki, tapi perbanyaklah meminta kepada Allah kebaikan dengan adanya angin dan memohon perlindungan kepada-Nya dari angin yang tidak baik."Pada riwayat lain dijelaskan bahwasannya Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi angin yang sangat kencang, berdoa sebagai berikut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ?

Allâhumma laqhan walâ aqaman

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ini sebagai angin ini membawa air (turun hujan) dan tidak membawa malapetaka" . Wallahu a‘lam. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Kajian Sunnah, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Komunikasi antara PBNU dengan seluruh berbagai lapisan masyarakat terus dilakukan, termasuk dengan para anggota DPR dan DPR yang memiliki latar belakang warga NU. Hadir sekitar 50 orang dari berbagai partai politik di Gd. PBNU pada Senin malam (26/9).

Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja menjelaskan bahwa komunikasi tersebut penting agar semua fihak dapat memberikan kontribusi dalam membangun NU, termasuk dari sektor politik. “Aspirasi atau perjuangan melalui kekuatan politik tetap dianggap penting, atau diperlukannya sayap politik dalam rangka memperjuangkan NU dan masyarakat,” tandasnya dalam pengantar pertemuan.

Dijelaskan oleh Bagdja bahwa PBNU juga ingin mendengarkan banyak masukan dari para anggota dewan seperti pelaksanaan MoU dengan GAM, kebijakan pemerintah yang akan menaikkan BBM dan lainnya. “Agar NU tidak tertinggal atau bisa memberikan kontribusi dalam pembikinan UU sehingga nilai-nilai keagamaan atau perspektif fikihnya dapat dituangkan dalam pembikinan UU,” paparnya.

Tegaskan tak Tak Ikut Politik Praktis

Sementara itu KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa PBNU setelah muktamar ke 31 NU di Boyolali menegaskan untuk tidak lagi ikut politik praktis kepartaian dan lebih berkonsentrasi untuk mengurusi politik keumatan. Ketika semua bermuara pada politik keislaman, semua menjadi bagian dari perjuangan NU.

“Misalnya soal rancangan UU kesehatan, UU pendidikan yang ada pengaruh ke ummat, komunikasi tak boleh putus. Ini yang menyangkut masalah keislaman. Kita dengan ada UU yang mau memperbolehkan aborsi, ada UU yang anti pornografi. Sangat tidak benar jika NU tidak turut berperan,” tegasnya.

Selanjutnya Hasyim mengharap ada koordinasi yang lebih baik termasuk perwakilan dari sector permasalahan, yaitu komisi DPR. Dengan demikian di PBNU ada informasi dini dari masalah yang digali. “Siapa tahu kalau ada yang bertentangan dengan syariat atau ada hal perlu diajukan, atau ada peluang pendidikan yang bisa diambil,” tegasnya.

Ditegaskannya NU harus kondusif untuk mengakses ke jurusan manapun. Bukan berarti NU tak memiliki pendirian, tetapi NU harus bisa bicara dengan fihak manapun untuk perjuangan ummat. “Jadi masalah positioning sekarang sedang ditata begitu rupa sehingga statemen-statemen yang keluar dari NU harus bersikap substansial,” imbuhnya.

Dalam acara yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, hadir para politisi senior seperti Slamet Effendy Yusuf (Golkar), Endin AJ Soefihara (PPP), Ali Masykur Musa (PKB), Hasib Wahab (PDIP), KH Sofyan Yahya (DPD) dan lainnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU

Senin, 11 Desember 2017

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Malang menggelar Jagongan Nahdliyin, besok (21/08) di Aula Kantor NU Kota Malang. Kegiatan tersebut mengundang pembicara  Zuhairi Misrawi.

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Kongkow bertajuk “Lini Gerakan Radikalisme Islam dan Peran Konstruktif NU Untuk Islam Indonesia” sengaja disuguhkan di tengah maraknya gerakan-gerakan radikal yang mulai santer merebak di Kota Malang.

“Kita sebagai Pemuda sekaligus pemikir NU perlu mengkaji hingga akarnya, dengan membincang bersama pakar yang satu ini, kami berharap substansinya mengena dan membuka ruang piker para Intelek kita untuk menangkis gerakan-gerakan brutal yang dapat merusak Islam Indonesia kita,” papar Mahphoer, pakar Psikolog sekaligus Dosen UIN Maliki Malang saat ditemui di Kantor NU, Jl. KH. Wahid Hasyim 21 Malang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak pelak, penggagas acara juga menyampaikan respon beberapa pemuda NU baik dari Pengurus Lakpesdam ataupun dari Aktivis IPPNU, PMII Kota Malang merespon apik. Beberapa diantaranya bahkan bersedia menjadi relawan demi suksesnya acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara Jagongan Nahdliyin akan dimulai pukul 18.00-selesai, “Semua sudah Ready, tinggal eksekusi besok” pungkas Mahphoer. (Diana Manzila/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google?

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Di era informasi tanpa batas seperti ini, kita perlu waspada, mawas diri, dan berhati hati terhadap berbagai macam informasi yang muncul di berbagai media baik cetak maupun elektronik, khususnya media elektronik yaitu internet. Pasalnya internet mengandung berbagai sisi baik positif maupun negatif.

Di satu sisi internet sangat bermanfaat bagi kita untuk pemenuhan kebutuhan akan informasi namun di sisi lain, dunia internet dapat membawa dan menjerumuskan kita kepada hal hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google?

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Pringsewu Muhammad Faizin saat diskusi tentang kewaspadaan terhadap perkembangan konten-konten internet khususnya media sosial saat ini yang cenderung sangat masif bertaburan, Jumat (4/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jika diibaratkan internet itu seperti hutan belantara. Jika kita hendak masuk dan menyusuri isinya kita harus menyiapkan diri dengan pengalaman dan bekal yang cukup supaya tidak tersesat di dalamnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan bahwa diinternet banyak sekali informasi yang menyesatkan, tidak bertanggung jawab, provokatif, tendensius yang disebarkan oleh orang atau kelompok tertentu dengan motif dan kepentingan diri dan kelompoknya.

"Tentunya ini akan sangat berbahaya bila kita dengan mentah-mentah menerima dan meyakininya. Kita mestinya harus lebih selektif dengan meneliti sumber berita atau darimana dan dari siapa informasi tersebut berasal," ingatnya.

Apalagi jika keterkaitannya dengan pemahaman-pemahaman agama Islam yang berkembang sekarang ini. Melalui situs pencari data di internet seperti google, yahoo, dan sejenisnya, banyak sekali kita menemukan beragam informasi, dalil, dasar yang disebarkan oleh kelompok tertentu dengan motif untuk memprovokasi, menyerang, dan menyalahkan yang lainnya.

"Tentunya, dengan penafsiran dan logika kita sendiri tanpa mencari guru sebagai sumber perbandingan dan penjelasan. Kita akan dapat terjerumus kepada pemahaman yang tidak benar tentang Islam. Bagi yang sudah memiliki dasar kuat dengan modal ilmu yang sudah dipelajari sejak kecil, pemahaman dan aliran yang muncul di tengah masyarakat sekarang ini mungkin tidak begitu berpengaruh," katanya.

Namun mereka yang tidak memiliki modal pengetahuan agama serta baru saja terketuk hatinya untuk belajar dan mendalami Islam, menurutnya, rentan sekali terpengaruh. Sebab itu ia mengimbau setiap orang untuk waspada dan mawas diri serta selalu bertanya kepada para alim ulama tentang pengetahuan Islam dan berbagai macam aliran yang muncul di zaman sekarang ini.

"Janganlah sampai kita belajar dan meyakini dasar-dasar Islam hanya dari proses pencarian lewat google atau internet saja tanpa mengkaji terlebih dahulu dengan para alim ulama yang sudah jelas silsilah keilmuannya," pungkasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak

Salah satu seniman yang ikut memeriahkan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-91 NU adalah Cak Lontong, Selasa (31/1) di Gedung PBNU Jakarta. Dia berhasil mengocok perut hadirin yang memadati tempat acara dengan sejumlah banyolan mutakhirnya.

“Setidaknya, saya dapat memetik dua poin utama dalam ceramah Kiai Ma’ruf. Pertama, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” celetuk Cak Lontong dibarengi ger-geran hadirin.?

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak

“Kedua, Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh...” celetuknya. Hadirin tambah ngakak.?

Cak Lontong juga mengapresiasi NU masih tetap mempunyai semangat yang sama dalam memperingati berdirinya organisasi.

“Kenapa saya menilai masih mempunyai semangat yang sama? Terbukti malam ini Harlah NU diperingati dengan cara berdiri,” ujarnya. Hadirin ngakak. Malam itu memang warga NU yang hadir mayoritas berdiri mengelilingi panggung hingga meluber ke dalam dan ke luar Gedung PBNU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia juga mengaku mempunyai ikatan emosional dengan NU. Bahkan Cak Lontong mengatakan dirinya NU sejak kecil.

“Saya NU sejak kecil. Jadi kalau anak lain Nakal, saya NUakal,” tukasnya disambut tawa hadirin yang makin terkocok perutnya oleh pria kelahiran Surabaya ini. Dialek Jawa Timuran memang sering menambahi huruf vokal “U” di tengah kata untuk menunjukkan penegasan.

Komedian yang mengisi berbagai sejumlah program comedian? show di beberapa televisi nasional ini juga bersyukur menjadi warga NU.?

“Kenapa saya merasa berterima kasih kepada PBNU? Karena Ormas yang ada Pengurus Besarnya hanya NU, yang lain biasanya hanya Pengurus Pusat. Ini Pengurus Besar, jadi saya yang besar ini merasa diurusi oleh NU,” Geerrrr, tawa hadirin memecah malam. Badan Cak Lontong memang tinggi dan besar.

Cak Lontong juga salut kepada NU yang merupakan Ormas Islam terbesar bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau dibandingkan dengan UN, United Nations, PBB saja, lebih hebat NU menurut saya. Kenapa? Karena kalau UN, itu hanya mengurusi perdamaian dunia, tapi NU mengurusi umatnya agar selamat dunia dan akhirat,” tukas Cak Lontong. Tawa gerrr hadirin tambah memecah kesunyian malam.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiroah ia tidak cuma ahli dalam Qiroah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiroah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Quran. Dari fan Ilmu Al-Quran Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Mutaakhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiroatil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam? pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

M. Hubab Nafi’ Nu’man, Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Juni 2017

Gusdurian Solo Kembali Gelar Aksi 2015

Klaten,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah beberapa waktu lalu menggelar kegiatan #Aksi2015, Gusdurian Solo kembali menggelar kegiatan serupa, kali ini dengan memanfaatkan momentum peringatan Harlah NU ke-89 di Klaten, Jawa Tengah.

Gusdurian Solo Kembali Gelar Aksi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Solo Kembali Gelar Aksi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Solo Kembali Gelar Aksi 2015

Puluhan ribu massa jalan sehat pada? Ahad (1/2), menjadi sasaran para relawan muda Gusdurian Solo untuk diberikan sebuah pertanyaan akan harapan dari rakyat untuk pemerintah.

"Pertanyaannya masih sama, yakni selain kesejahteraan ekonomi, apa hal penting yang harus diperhatikan pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya?" terang koordinator lapangan aksi, Ahmad Rodif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para relawan juga membagikan sejumlah pamflet yang menerangkan tentang kegiatan “15 Pesan Untuk Masa Depan Aksi/2015” ini.

Dalam kegiatan yang dihadiri Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid tersebut juga diramaikan dengan aksi damai yang disuarakan IPNU-IPPNU Klaten. Mereka memasang sejumlah poster bertuliskan “Save KPK, save Polri, save NKRI”. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Kajian Sunnah, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 Maret 2017

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan

Magetan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Magetan menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab), Sabtu (15/3). Konfercab dilaksanakan di gedung Pusat Pengkajian Islam (PPI) Jln. Jaksa Agung Suprapto Magetan.

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan

Konfercab dihadiri Ketua GP Ansor Jatim Rudi Tri Wahid serta pengurus GP Ansor Kabupaten Magetan, pengurus anak cabang, ranting dan anak ranting se-Kabupaten Magetan yang berjumlah sekitar 100 orang.

Dalam sambutannya Rudi mengutarakan bahwa konfercab merupakan giat rutin yang dilaksanakan setiap organisasi dan harus menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi GP Ansor Magetan dan masyarakat umumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Konfercab tersebut ada 3 kandidat yang muncul pada pemilihan ketua. Setelah dilakukan pemilihan, Nur Wakhid resmi memimpin GP Ansor Magetan periode 2014-2018. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Kajian Sunnah, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Agustus 2016

Doa Shalat Sunah Tasbih

Doa merupakan ibadah yang mengiringi di hampir seluruh jenis ibadah lainnya. Apalagi dengan sembahyang. Hubungan keduanya sulit dipisahkan. Demikian juga dengan sembahyang tasâbih atau lebih lazim disebut sembahyang tasbîh.

Berikut ini merupakan doa sembahyang tasbih. Selain membaca tasbih sebanyak 300 kali, kita juga dianjurkan membaca doa berikut ini.

Doa Shalat Sunah Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Shalat Sunah Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Shalat Sunah Tasbih

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Allâhumma innî as’aluka taufîqa ahlil hudâ, wa a‘mâla ahlil yaqîn, wa munâshahata ahlit taubah, wa ‘azma ahlis shabri, wa wajala ahlil khasyyah, wa thalaba ahlir raghbah, wa ta‘abbuda ahlil wara‘i, wa ‘irfâna ahlil ‘ilmi hattâ akhâfak.

Allâhumma innî as’aluka makhâfatan tahjizunî ‘an ma‘âshîka hattâ a‘mala bi thâ‘atika ‘amalan astahiqqu bihî ridhâka wa hattâ unâshihaka bit taubah, khaufan minka hattâ akhlusha lakan nashîhata hayâ’an minka wa hattâ atawakkala ‘alaika fil ’umûri kullihâ wa hattâ akûna ’uhsinuz zhanna bika, subhâna khâliqin nûr (lain riwayat khâliqin nâr).



Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu aku meminta petunjuk mereka yang terima hidayah, amal-amal orang yang yakin, ketulusan mereka yang bertobat, keteguhan hati mereka yang bersabar, kekhawatiran mereka yang takut (kepada-Mu), doa mereka yang berharap, ibadah mereka yang wara’, dan kebijaksanaan mereka yang berilmu agar aku menjadi takut kepada-Mu.

Ya Allah, masukkanlah rasa takut di kalbuku yang dapat menghalangi diri ini untuk mendurhakai-Mu. Dengan demikian aku dapat beramal saleh yang mengantarkanku pada ridha-Mu, dan aku bertobat setulusnya karena takut kepada-Mu. Dengan itu pula aku beribadah secara tulus karena malu kepada-Mu. Dengan rasa takut itu aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Karena itu juga aku dapat berbaik sangka selalu kepada-Mu. Mahasuci Engkau Pencipta cahaya (lain riwayat, Pencipta api).”

Doa ini dikutip dari kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Menurutnya, doa ini dibaca setelah tasyahhud akhir, tetapi sebelum salam. Semoga Allah mengangkat derajat kita semua dan menempatkan kita di jalan yang Dia restui. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 18 Juni 2016

Hasyim Muzadi: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

Jember, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Aparat penegak hukum diharapkan dapat bertindak adil dan seimbang antara fakta hukum dan motif kerusuhan dalam menangani kasus konflik Puger, Jember, yang melibatkan kelompok Sunni dan Syiah.

Hasyim Muzadi: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

Harapan tersebut disampaikan Rais Syuriyah PBNU, KH Hasyim Muzadi saat memberikan taushiyah di sela-sela acara tahlilan korban kerusuhan di Pugerkulon, Senin malam (16/9).

Menurut Kiai Hasyim, masyarakat sangat menunggu ketegasan polisi dalam menangani kasus Puger, sehingga apapun yang dilakukan polisi akan menjadi sorotan masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Karena itu saya berharap agar aparat adil dalam menangani kasus ini, dengan mempertimbangkan motif terjadinya kerusuhan,” tukasnya.

Kiai Hasyim juga berpesan agar masyarakat waspada dan hati-hati terhadap pancingan kerusuhan yang bisa jadi memang didesain secara nasional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakannya, pancingan kerusuhan sangat beragam bentuknya, sehingga kehati-hatian sangat perlu sebelum memutuskan sesuatu. “Yang penting, masyarakat jangan mudah terhasut,” ucapnya.

Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu juga meminta jajaran pengurus NU dan para kiai agar memperkuat ahlussunnah wal jamaah melalui jalur dakwah, baik dakwah dengan ilmu maupun dengan kebaikan terhadap masyarakat.

Kiai Hasyim datang ke Puger didampingi Ketua MUI Prof Halim Subahar, Sekretaris PCNU Jember KH Misbahussalam, dan beberapa pengurus NU Cabang Kencong. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 10 Agustus 2015

PBNU Apresiasi Terbitnya Perpres Penguatan Pendidikan Karakter

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengapresiasi terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), sebagaimana tercantum dalam lembaran negara nomor 195/2017 tanggal 6 September 2017, sebagai bagian dari upaya negara menjaga Pancasila dan NKRI.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai terbitnya Perpres PPK adalah untuk melahirkan putra-putra didik, generasi bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur bangsa, berakhlakul karimah, cinta tanah air, senantiasa mengedepankan tolong-menolong antarsesama, dan menghormati antara satu dengan yang lain dalam bingkai kebinekaan.

PBNU Apresiasi Terbitnya Perpres Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Apresiasi Terbitnya Perpres Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Apresiasi Terbitnya Perpres Penguatan Pendidikan Karakter

Menurutnya, di lingkungan NU model penguatan pendidikan karakter sudah berjalan lama bahkan sejak NKRI belum berdiri. “Yakni melalui pesantren dan sampai kini juga melalui model pendidikan madrasah diniyah (madin) dengan tiga tingkat pendidikan diniyah ula/awaliyah (dasar), wustha (menengah), dan ulya (atas),” katanya di Jakarta, Rabu (6/9).

Selama ini, kata kiai asal Cirebon ini, model pendidikan madin dilakukan sepenuhnya melalui swadaya masyarakat. NU mengapresiasi terbitnya Perpres PPK ini karena dengan demikian negara juga akan turut bertanggung jawab untuk penguatan madin baik melalui alokasi anggaran (APBN dan APBD) maupun berbagai regulasi untuk penguatannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“NU berharap agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat melaksankan dan menjalankan Perpres tentang PPK ini secara konsisten dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,” imbuhnya.

Sesuai dengan ketentuan Penutup Pasal 17 Perpres tentang PPK yang membatalkan peraturan perundangan tentang hari sekolah dan pendidikan karakter yang bertentangan dengan Perpres ini, Kiai Said mengimbau untuk mengakhiri perdebatan  Permendikbud Nomor 23/2017 tentang Hari Sekolah. Selanjutnya kita merujuk sepenuhnya kepada Perpres tentang PPK ini.

“Kepada seluruh jajaran dan tingkatan kepengurusan NU serta segenap warga NU saya serukan untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan Perpres tentang PPK ini sebagai bagian dari keikutsertaan kita di dalam membentuk nation buidling menuju masyakat adil makmur sejahtera lahir batin,” ujarnya.

Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter ditandatangani di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/9), dan dihadiri para pemangku kepentingan dari berbagai organisasi.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj hadir dalam kesempatan itu bersama sejumlah pengurus lainnya seperti Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin, Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU HZ Arifin Junaidi, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU Robikin Emhas. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 07 Juli 2014

Lapis Baru Pemikiran NU

Di dalam Nahdlatul Ulama (NU) kini muncul lapis baru pemikiran Islam. Lapis ini merupakan generasi ketiga setelah liberalisme Islam dan post-tradisionalisme Islam.

Menariknya, lapis ini mendasarkan diri pada pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) muda, yang menyeimbangkan tradisi-modernitas dalam kerangka rasionalitas Islam.



Lapis Baru Pemikiran NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lapis Baru Pemikiran NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lapis Baru Pemikiran NU

Seperti diketahui, sejak akhir dekade 1990 terjadi “bom intelektualisme” NU. Bom yang diramalkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) ini mengacu pada apa yang oleh Greg Barton sebut sebagai neo-modernisme Islam. Yakni corak pemikiran Islam yang menggerakkan modernisasi berbasis tradisi Islam. Dalam perkembangannya, neo-modernisme ini kemudian mengeras menjadi liberalisme Islam yang diusung oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Inilah lapis pertama pemikiran NU.

Sebagai lapis pemikiran, liberalisme Islam lahir dari dua konteks: internal dan eksternal. Konteks internal menunjukkan keberhasilan “pembaharuan Islam” yang dilakukan Gus Dur sejak dekade 1980, sehingga melahirkan para santri pesantren yang “melek modernitas”. Keranjingan anak muda NU dalam melahap pemikiran Barat membuahkan lompatan pemikiran yang oleh Cak Nur disebut “bom intelektual” itu. Karena “pembaruan Islam” Gus Dur mengarah pada pesantren, maka kritik liberalisme NU pun tertembak pada tradisionalisme (Islam) pesantren.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu konteks eksternal mendedahkan bangkitnya fundamentalisme Islam yang merebak pasca Reformasi 1998. Liberalisme Islam hadir sebagai penyeimbang atas “sayap kanan” ini dan menghadirkan benturan antar-umat Islam, tidak hanya pada ranah pemikiran tetapi juga aksi kekerasan. Pada titik ini musuh bersama liberalisme Islam menjadi dua: tradisionalisme Islam dan fundamentalisme Islam. Hal ini terkait dengan cita liberalisme itu sendiri, yakni kebebasan individu dari otoritas agama. Di kalangan tradisional, otoritas itu terdapat pada kitab kuning, kiai dan NU. Sedang di kalangan fundamentalis, otoritas Islam terletak pada dalil sub-ordinasi nash atas akal, serta cita “negara syariat” (hakimiyat).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka, selain mendapat tentangan dari fundamentalisme, Islam liberal mendapat tentangan dari jamaahnya sendiri, yakni NU. Pada titik ekstrim, tentangan ini melahirkan fatwa haram atas liberalisme Islam oleh Muktamar ke-31 NU di Solo (2004). Pada ranah diskursif, liberalisme Islam melahirkan anti-tesisnya, berupa post-tradisionalisme Islam (postra). Inilah lapis kedua pemikiran NU.

Secara definitif, post-tradisionalisme Islam adalah upaya anak muda NU untuk membela tradisi dari liberalisasi. Istilah post sendiri dimaknai melampaui, tetapi sekaligus berpijak. Pola pemikiran ini dirujukkan pada rasionalisasi tradisi ala Abid al-Jabiri dan Gus Dur. Menurut al-Jabiri, tradisi adalah napas kehidupan yang berhembus dari masa lalu dan menapasi kekinian. Maka, upaya rasionalisasi tradisi harus dalam rangka kontekstualisasi, bukan peminggiran tradisi atas nama modernitas. Oleh karenanya, Gus Dur bukanlah neo-modernis melainkan muslim tradisionalis yang membela tradisi dari gempuran modernisasi.

Sayangnya, karena sifat dasar postra adalah counter ideology atas liberalisme Islam; bangunan metodologinya tidak tergarap. Inilah kelemahan lapis pemikiran ini yang menyudutkannya dalam kutub ideologis vis a vis ideologi “liyan”. Kecenderungan ideologis ini membuahkan romantisme tradisi, di mana tradisi NU “dilap-lap” dan dibenturkan dengan Barat. Penolakan lapis ini atas teori-teori Barat dan juga khasanah pemikiran modernis menunjukkan sikap konservatif yang terlepas dari spirit rasionalisasi tradisi dari postra itu sendiri.

Kesatuan Islam

Benturan antar-ideologi ini terjadi sejak awal dekade 2000 dan telah menyisakan involusi pemikiran NU. Mengapa? Karena sifatnya ideologis, perang pemikiran (ghazw al-fikr) di atas tidak mewariskan “bangunan metodologis”. Involusi pemikiran NU terjadi di mana masing kubu tidak mengalami perkembangan (evolusi) di dalam pemikirannya. Artinya, kubu liberal tetap dengan asumsi, paradigma dan penentuan project yang mengerucut pada dua hal: anti-fundamentalisme dan perayaan pluralisme agama. Hal serupa pada postra yang “melap-lap tradisi” dan berkutat dengan tradisionalisme NU tanpa dialog dengan modernitas.

Menariknya, di tengah situasi involutif ini, muncul genre baru yang merupakan lapis ketiga pemikiran NU. Lapis ini merupakan generasi “pelaku” postra, ketika lapis kedua menjadi “proklamator” postra. Ibarat kelahiran, jika lapis kedua hanya memberikan nama dan menetapkan urgensi kelahiran “bayi postra”. Maka lapis ketiga ini adalah “bayi postra” yang telah lahir.

Sebagaimana postra, lapis baru ini merupakan gelombang anak muda NU yang menguasai turast dan bangga atasnya. Hanya berbeda dengan lapis kedua yang ideologis, lapis baru ini bersifat rasional-ilmiah. Artinya, ia ingin membangun “bangunan ilmiah NU”, seperti merumuskan fiqh siyasah NU, konsep negara menurut NU, kesinambungan kebudayaan NU dengan Islam Nusantara, modernitas NU, dsb. Tulisan H. As’ad Said Ali (Waketum PBNU), NU dan Kebangsaan (8/02) yang mendasarkan pemikiran kenegaraan NU dari prinsip kesatuan Islam dan politik misalnya, selaras dengan lapis ini. Tulisan ini merekomendasikan “bangunan ilmiah” kenegaraan NU perspektif “Islam politik”. Karena NU merupakan gerakan Islam, ia harus merumuskan “negara Islam” nya sendiri, yang berbeda dengan negara sekular dan “negara khilafah”.

Dalam kaitan ini, lapis baru mendasarkan epistemologinya pada kesatuan pemikiran Islam Gus Dur muda. Sebuah kesatuan Islam yang merujuk pada “hubungan struktural” antara universalisme Islam, kosmopolitanisme Islam dan pribumisasi Islam. Inilah kesatuan Islam yang Gus Dur gagas di era 1970-1980. Universalisme Islam adalah pemuliaan Islam atas kemanusiaan yang melahirkan perlindungan atas Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan cantik, perlindungan ini ditetapkan sebagai tujuan utama syariat (maqashid al-syari’ah).

Penegakan universalisme Islam ini membutuhkan Islam kosmopolitan. Yakni pertemuan Islam dengan modernitas. Mengapa? Karena perlindungan HAM di era modern hanya bisa dilakukan melalui pranata modern, seperti demokrasi, persamaan hukum dan keadilan sosial. Namun “yang universal” dan kosmopolitan ini tetap diakarkan pada kultur Islam Indonesia yang dibentuk oleh pribumisasi Islam. Jadi kesatuan Islam ini akhirnya membentuk “kesatuan segitiga”: tradisi Islam, peradaban modern dan kebudayaan Indonesia.

Berpijak pada kesatuan Islam ini, lapis baru pemikiran NU tidak akan terjebak pada liberalisme sebab ia mengarahkan modernisasi Islam demi penegakan universalisme Islam. Ia juga tidak terjebak pada ideologisasi tradisi, sebab pembangunan “bangunan ilmiah” NU dilakukan dengan “alat pengetahuan” Barat.

Pada titik inilah lapis baru merupakan sintesa yang “mengangkat ke atas” (Aufhebung) anti-tesis postra atas tesis liberalisme Islam. Inilah dialektika pemikiran NU yang merupakan proses pencarian, kritik, dan penyempurnaan anak muda NU demi pembangunan NU sebagai bagian dari peradaban Islam. ? (Syaful Arif,? Koordinator NU Studies, Jakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock