Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Merauke,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Merauke, Papua di Rumah Kediaman memfasilitasi pembentukan Ikatan Muslim Marind (suku bangsa asli Merauke) di kediaman Maliha Arsyad Basik-Basik di Gudang Arang, Kelurahan Kamahe Doga.

Kegiatan yang berlangsung akhir Ramadhan atau 4 Juli lalu tersebut, secara aklamasi terpilih Burhanuddin Zein sebagai ketua dan Jumat Dambujai sebagai sekretaris.

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Burhanuddin Zein adalah pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Idonesia (PMII) di Kabupaten Merauke. Saat ini tercatat sebagai Ketua Majelis Pembina PMII dan Sekretaris Dewan Penasehat PC GP Ansor Kabupaten Merauke.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Marind untuk lebih meningkatkan dan mempersiapkan SDM Muslim Marind untuk mampu mengambil peran terdepan dalam pembangunan di tanah Marind, Merauke dan Papua Selatan. (Syahmuhar M Zein/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok Muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini.

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Hal ini, disampaikan Kiai Said, menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Wali Songo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Wali Songo, harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat Al-Quran dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Wali Songo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus.

Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Buku tentang sejarah NU Sumenep yang berjudul Dinamika NU Sumenep Dalam Lintasan Masa dibedah di aula Yayasan Al-Arief Jate, pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Ahad (17/4).?

Buku yang ditulis Ach Taufiqil Aziz itu membahas tentang proses masuknya NU ke Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur serta perkembangan NU dalam setiap masa di daerah ujung timur pulau garam tersebut.

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Alumni Yayasan Al-Arief (Ikayasrif) itu, penulis buku memaparkan pentingnya memahami perkembangan NU lokal.?

"Ini juga supaya kita mengetahui lebih detail ternyata peran kiai kampung sebenarnya sangat besar dalam mengembangkan NU di Sumenep," ujar Ach Taufiqil Aziz, penulis buku saat menjelaskan di depan puluhan hadirin.

Ia menambahkan, dalam buku yang ditulisnya itu, dirinya juga ingin membukukan perjalanan NU di daerahnya. "Karena buku ini, buku pertama yang mengupas sejarah NU Sumenep," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Sutarman, Pengasuh Pesantren Al-Arief mengatakan, buku tersebut akan sangat berguna bagi warga NU. "Kita harus tahu NU dengan baik, termasuk sejarahnya. Biar tidak hanya ikut-ikutan," katanya saat memberikan sambutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Romza, Ketua Ikayasrif mengaku ingin meleburkan tradisi literasi di daerahnya. "Bedah buku salah satu upaya kami menggerakkan tradisi itu (bedah buku, red)," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama telah mengalami penyempurnaan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1967. Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Muchlis M Hanafi mengatakan, Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama mengalami penyempurnaan pertama kali pada tahun 1989.

Sedangkan penyempurnaan terakhir dilakukan pada tahun 2002 dan sampai sekarang masih dipergunakan. “Penyempurnaan terjemah Al-Qur’an merupakan sebuah kebutuhan, untuk merespon perkembangan masyarakat, terutama terkait dengan pemahaman masyarakat,” ujar Muchlis M Hanafi pada Seminar Hasil Penelitian Penggunaan Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama di Masyarakat, Jakarta, Selasa (8/8) sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Alasan perlunya penyempurnaan terjemah Al-Qur’an, lanjut Muchlis, yaitu untuk merespon perkembangan dinamika di masyarakat dan berkembangnya Bahasa. “Jadi kita perlu menyesuaikan dari perkembangan tersebut. Maka dari itu, kita mengundang Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ikut serta mencermati terjemahan Al-Qur’an dari sisi tata bahasa,” katanya.

“Sejak tahun anggaran 2016, LPMQ telah memulai kegiatan penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama,” sambungnya.

Muchlis M Hanafi memperkirakan penyempurnaan terjemah ini akan selesai pada tahun 2019. Sebab, proses saat ini belum sampai setengah jalan. Di samping itu, masih ada satu mekanisme lagi yang ? tidak hanya selesai di tingkat tim penyempurna karena harus dilakukan ? uji publik. ? Proses itu akan dilakukan pada Forum Musyawarah Ulama Al-Qur’an yang mengundang ulama dan pakar Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dummi yang sudah disusun oleh tim akan diserahkan kepada para ulama pakar Al-Qur’an dan bila selesai baru disebarkan ke masyarakat. Hal ini perlu hati-hati dalam penerjemah Al-Qur’an,” ucap Muchlis M Hanafi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seminar ini dibuka Kepala Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Abd Rahman Mas’ud. Seminar ini dihadiri 75 peserta yang berasal dari berbagai unsur baik peneliti LPMQ, unsur masyarakat, perguruan tinggi, serta dari unit-unit Eselon 1 di Kementerian Agama.

Sebagai narasumber pada acara tersebut yaitu ? Prof Muljani A Nurhadi, M.Ed, M.S dan Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr.H. Muchlis M. Hanafi dan H. Abdul Aziz Sidqi,M.Ag (LPMQ), ? serta H. Jamaluddin M Marki,Lc, M.Si dari Bimas Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso menggelar tasyakuran kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 Tahun dengan mengadakan Pelatihan Ekonomi Kreatif.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan para mahasiswa Universitas Jember yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balai Desa Pejaten, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (19/8). Pada kesempatan itu diselipkan pelantikan Pengurus Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk desa Pejaten.

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso Mustakim mengatakan bahwa pelatihan ekonomi kreatif ini semata-mata ingin berupaya memberikan hal yang menjadi urusan keseharian anggota, yaitu bidang prekonomian.

Ia berjanji kepada para perserta pelatihan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan terus diadakan untuk meningkatkan ekonomi di desa itu.

Senada dengan Mustakim, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan, kegiatan semacam itu juga akan ditingkatkan Pimpinan Cabang dengan memfasilitasinya. Untuk tujuan itu, PC CP Ansor akan bersinergi dengan pemerintah melalui dinas terkait, baik dari Dinas Ketenagakerjaan maupun Diskoperindag.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Inssyaallah akhir bulan ini atau bulan depan Gerakan Pemuda Ansor akan melaksanakan palatihan ternak unggas yang akan dilaksanakan di balai latihan kerja kabupaten Bondowoso," terangnya.

Kegiatan semacam itu, menurut dia, adalah upaya Gerakan Pemuda Ansor berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.?

Edi Susanto yang mewakili Kepala Dinas Diskoperindag meminta GP Ansor untuk terus meningkatkan ekonomi anggota dan masyarakat secara umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami dari Diskoperindag selalu mendukung kegiatan-kegiatan Pemuda Ansor yang sesuai dengan tupoksi-tupoksi bagi kita," jelasnya pada kegiatan yang dihadiri Polsek Kota, Kades Pejaten, dan MWCNU Kota itu. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sejarah Ilmu Nahwu

Oleh Syafiq Hasyim

Sejarahwan dan sosiolog Muslim, Ibn Khaldun pernah berkata, “Dengan ilmu nahwu dasar-dasar syariah menjadi tampak jelas. Diketahuilah beda antara f?il dari maf?l dan mubtada? dari khabarnya. Jika nahwu itu tidak ada maka maka gelaplah maksud syariah.”

Minggu lalu saya ungkapkan tentang urgensi penguasaan ilmu Nahwu untuk meningkatkan kualitas diskursus keberagamaan Islam kita di ruang publik. Kali ini saya akan mulai berbicara tentang ilmu itu sendiri, yaitu dimulai dengan pembahasan atas pertanyaan, “Kapan sesungguhnya ilmu nahwu ini bermula dan bagaimana hubungannya dengan tradisi awal Islam?”

Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ilmu Nahwu

Sejarah awal ilmu nahwu dapat dilacak melalui istilah Arab al-la?n, kebiasaan orang Arab berbicara salah secara tata bahasa (grammatical). Lalu pertanyaannya, mungkinkah seorang penutur bahasa asli (native) melakukan kesalahan tata bahasa atas bahasanya sendiri? Sangat mungkin dan itu terjadi sejak zaman dulu. Ab? ?ayyib pernah mensinyalir jika kesalahan gramatik biasa terjadi pada orang Arab pedalaman, kalangan pekerja kelas bawah (budak sahaya) dan orang yang terarabkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sahabat Abu Bakar pernah berkata jika dia lebih senang mendengar orang membaca meskipun salah daripada orang yang melakukan kesalahan gramatikal. Tidak hanya Abu Bakar, sahabat Umar bin Kha?b juga sering menjumpai orang-orang di sekitar dia yang berbahasa Arab dengan tata bahasa yang salah dan terkadang membuatnya marah. Misalnya, Umar suatu saat pernah berkata, “Sungguh demi Allah, kesalahan kalian dalam berbahasa lebih berbahaya bagiku daripada kesalahn kalian dalam memanah, Wall?hi lakha?a’ukum fi lis?nikum ashaddu ?alayya min kha?a?ikum fi ramyikum.” Ibn Qutaybah pernah mendengar orang pedalaman Arab azan dimana dia membaca nasab (fathah) pada lafal “ras?la,”dari kalimat komplit, “ashhadu anna muhammadar ras?lall?h.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal di atas adalah sekadar contoh dari sekian banyak riwayat-riwayat lain yang menceritakan mengapa tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) itu sudah menjadi perhatian sejak zaman Rasulullah masih hidup. Dunia Arab sebelum al-Qur’an turun sudah mencapai kemajuannya dalam bidang sastra. Karenanya, al-la?n di sini tidak identik dengan kemajuan sastrawi itu, tapi dengan keharusan berbahasa Arab secara benar, berdasarkan hukum-hukum dasar bahasa yang disepakati. Para sahabat Nabi merasa prihatin dengan al-la?n ini karena dampaknya bisa merusak ajaran Islam.

***

Dengan demikian, ilmu nahwu berdasarkan riwayat-riwayat yang diungkapkan di atas gejalanya sudah muncul pada masa awal-awal sejarah Islam. Iraq adalah kawasan dimana ilmu nahwu mulai menemukan identitasnya yang agak jelas. Dari Iraq kemudian berkembang ke kawasan lain sesuai dengan perkembangan Islam sebagai agama baru pada saat itu.

Lalu bagaimana kongkritnya tema-tema nahwu itu disusun?

Pendapat tentang hal ini di kalangan sejarahwan Nahwu terbelah ke dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang berpandangan jika tema-tema nahwu itu dibentuk dari peristiwa-peristiwa kesalahan gramatika masyarakat Arab sendiri. Dari peristiwa-peristiwa al-la?n ini kemudian berkembang pada tema-tema bahasan lain. Pendapat demikian adalah yang dipegang oleh kalangan mayoritas ulama nahwu.

Kedua, mereka yang berpandangan jika tema-tema awal nahwu itu dibangun atas dasar pemikiran (istinb?t), bukan atas dasar kesalahan gramatik yang terjadi di lapangan. Bahan dasarnya adalah prinsip-prinsip umum berbahasa untuk menolak terjadinya kesalahan gramatik di kalangan masyarakat Arab saat itu. Meskipun golongan kedua ini agak siantifik, namun tidak kuat riwayatnya.

Berdasarkan dua hal ini maka sejarah pembentukan ilmu Nahwu berasal dari kawasan Arab. Hal ini sekaligus juga untuk membantah beberapa pendapat para pemikir Eropa yang menyatakan jika ilmu nahwu terbentuk setelah ada persentuhan dengan tradisi Syiriac (Suryani) dan Yunani. Para pemikir Eropa berpendapat demikian karena Iraq adalah dimana Islam bertemu dengan peradaban lain.

Namun demikian, adakah mungkin sebuah ilmu muncul tanpa keterpengaruhan atau proses interaksi dengan tradisi lain?

Di sinilah kemudian muncul pendapat tengah yang menyatakan jika benar sejarah nahwu mulai dari Iraq, murni dari kalangan Islam, namun kemudian berdealektika dengan tradisi lain. Disusun di Iraq, lalu dikembangkan definisi-definisi, lalu bersentuhan dengan budaya bahasa negara lain. Ketika pada masa orang-orang Islam belum mengenai tradisi lain di luar Islam, maka yang muncul dalam ilmu Nahwu awal adalah sangat murni Arab.

Namun keadaan mulai menjadi lain ketika para filosof Islam belajar filsafat Yunani melalui karya-karya terjemahan dalam bahasa Suryani. Perlu diketahui bahwa terjemahan filsafat Yunani dalam bahasa Suryani sangat melimpah di Iraq pada masa itu dan bahasa inilah yang menjembatani para filosof Islam belajar tentang Yunani.

Lalu siapa peletak dasarnya?

Masalah ini menjadi bahasan yang panjang lebar di kalangan para sejarahwan Nahwu seperti Ibn ?al?m dalam ?abaq?t al-shu?ara’, Ibn Qutaybah dalam al-Ma?rif, al-Zuj?j? dalam al-Am?l?, Ab? ?ayyib al-Lughaw? dalam Mar?tib al-na?wiyyin, al-Sayraf? dalam al-Akhb?r al-na?wiyyin al-ba?riyyin, al-Zabid? dalam al-?abaq?t, Ibn Nad?m dalam al-Fahrasat, al-Anb?r? dalam Nuzhat al-alb? dan al-Qaf? dalam Inb? al-ruwwa.

Mereka semua berpendapat jika peletak dasar pertama ilmu ini adalah Imam Ali karamma l-l?hu wajhahu dan Ab? al-Aswad ad-Du’al?. Peneguhan Imam Ali sebagai pelatak dasar ilmu Nahwu justru berasal dari riwayat Ab? Aswad al-Du’al? dimana menurutnya Imam Ali memberikan kata kunci pertama tentang ilmu Nahwu misalnya yang terakit dengan riwayat Imam Ali yang menyatakan jika kalam itu ada tiga isim, fi?il dan huruf. Ad-Dua’l? juga bercerita bahwa Sayyidina Ali lah yang membagi kata benda (nama) menjadi tiga; kata benda lahir (?hir), kata benda tidak lahir (?mir) dan kata benda yang bukan keduanya. Selain Ali, ada juga yang berpandangan jika ilmu Nahwu ditemukan oleh ?Abdur  Ra?m?n b. Hurmuz al-A?raj dan Na?r b. ?im.

Namun menurut mayoritas sejarahwan pendapat ini dipandang lemah. Sejarah yang benar adalah setelah Imam Ali, Nahwi dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Du’al?. Al-Anb?r? dan az-Zuj?z? meneguhkan ad-Du?ali sebagai pelatak dasar ilmu ini setelah Imam Ali karena dialah yang mentransmisikan hal ini dari Imam Ali. Sudah menjadi kesepakatan di kalangan ulama Nahwu jika ad-Du’al? lah yang pertama memberikan harakat pada mushaf al-Qur’an. Kebenaran ini hampir tidak bisa kita pungkiri sebab hampir semua generasi salaf dan juga khalaf tidak mempermasalahkannya.

Namun demikian, ilmu baru diberikan dengan nama sebagai ilmu Nahwu justru sepeninggal ad-Du’al?. Pada masa dia, nama ilmu Nahwu adalah al-?Arabiyya. Ibn ?ajar dalam kitabnya al-I?bah menyatakan, “awwalu man ?aba?a al-mu?haf wa wa?a?a al-?arabiyyata Ab? al-Aswad,” pertama kali orang yang memberi harakat pada mushaf dan yang meletakkan al-?arabiyya adalah Ab? al-Aswad. Setelah adl-Du’al? mangkat, maka nama untuk al-?arabiyyata digantikan dengan Nahwu. Namun demikian, istilah Nahwu diambil dari pernyataan Ab? al-Aswad di depan Imam Ali.

***

Jika kita bicara ilmu Nahwu, maka sama saja kita membicarakan suatu aliran pemikiran yang sangat penting dalam ini ini yaitu madzhab Ba?rah. Berbicara tentang madzhab Ba?rah sama dengan berbicara tentang upaya pengharakatan al-Qur’an untuk yang pertama kalinya. Ilmu Nahwu yang sekarang ini banyak dipelajari dan dibaca di seluruh dunia termasuk pesantren-pesantren di Indonesia adalah lahir dan berkembang di Ba?rah. Para ahli sepakat bahwa kemunculan cabang ilmu ini adalah untuk melindungi al-Qur’an dari cara pembacaan yang salah. Ingat bahwa al-Qur’an pada awal-awal bukan seperti al-Qur’an yang kita nikmati sekarang, ada harakatnya lengkap. Al-Qur’an pada masa itu adalah gundul, tak bertanda baca.

Bagi para t?bi?n (secara bahasa pengikut sahabat) dan t?bi?it t?bi?n (secara bahasa berarti pengikutnya tabi?n) yang sudah ?mil al-Qur’?n (hafal al-Qur’an) tiadanya tanda baca dalam al-Qur’an tidak masalah, namun bagi mereka yang tidak hafal, maka tanda baca sangat diperlukan di sini. Ab? As?ad adl-Dual? adalah pembangun awal ilmu yang disebut nahwu ini. Ad-Du?al? mengambil inspirasi dari Sayyida Ali (r.a). Ad-Du?al? berkata, “Jika engkau benar-benar telah melihat mulutkan membaca fathah, maka kasihlah tanda baca fat?ah di atasnya, jika mulutku sudah membaca ?ammah, maka kasihlah tanda baca ?ammah di atasnya, jika mulutku membaca kasrah, maka kasihlah tanda baca kasrah di bawahnya (Dikutip dari Ibn al-Na?m, al-Fahrasat, h. 59).

Dalam perkembangannya, menurut Prof. Abduh al-Rajihi dalam kitabnya, Dur?s f?l-Madh?hib al-Nahwiyyah, dikatakan bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh ad-Du’al? tidak hanya berguna untuk menjaga al-Qur’an dari “kesalahan gramatik” dari para pembaca dan penghafalnya, namun memiliki implikasi yang lebih jauh, yakni untuk mencapai prinsip-prinsip Islam yang paling mendalam (h. 10). Jika halnya yang demikian, mari kita mengingat kembali ilmu ini dan menggunakannya untuk membaca Islam –al-Qur’an, Sunnah dan turast. Sebagaimana yang disebutkan tentang peran Abu al-Awad ad-Du’al?; dimana ilmu Nahwu sudah berkembang tidak hanya menjaga kebenaran cara membaca al-Qur’an, kemudian ilmu ini tumbuh untuk memahami al-Qur’an. Bersambung...

 

Bahasan ilmu nahwu ini merupakan bagian kedua. Bagian pertama bisa dilihat di sini. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nabi Muhammad SAW bersabda tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Hadits ini disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri saat menjadi Khotib Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (27/10).

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini memang pendek tapi memiliki arti yang cukup luas. Pentingnya persatuan dan kesatuan bagi hidup berbangsa dan bernegara. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Berdamaian satu sama lain harus terus dilakukan. 

"Itu semua tidak akan teralisasi kalau tidak ada rasa kecintaan kepada seksama, ini yang pertama," tegas Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Kedua, keimanan tidak akan kokoh kecuali menghindari rasa dendam, rasa iri dan rasa dengki. Tapi dia harus memikirkan untuk orang lain dan mencintai orang lain. Ketiga, keimanan akan sempurna apabila kalian peduli terhadap sesama manusia, mencintai manusia kepada siapapun termasuk non-muslim.

Keempat berlombalah dalam mendapatkan kebaikan. "Ini adalah bagian kesempurnaan dari iman, sikap seperti ini merupakan bukti keimanan sesorang," terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelima, masyarakat harus memiliki hati yang bersih dan berwibawa. Hendaklah sesama muslim mendorong agar senantiasa berusaha membantu orang lain. kehidupan ini ibaratkan tubuh manusia, jika ada anggota tubuh yang sakit, niscaya anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan kesakitan.

"Ini bukti kesempurnaan dan mampu menciptakan manusia yang harmonis," ungkapnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

Semarang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang akan menggelar diskusi dan bedah buku Al-Quran Bukan Kitab Teror Membangun Perdamaian Berbasis Al-Quran,? karya Wakil Katib PWNU Jateng, KH Imam Taufiq. Buku terbitan Bentang Pustaka ini akan dikaji pada Rabu, (20/4) besok mulai pukul 08.30 Wib bertempat di aula 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang.?

Selain penulis, akan hadir sebagai pembanding Munirul Ikhwan (pakar tafsir alumni Al-Azhar Mesir, Leiden University dan Freie Universitat Jerman) dan Irfan Amali (Founder Gerakan Peace Generation Jakarta).

UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
UIN Walisongo Akan Bedah Al-Quran Bukan Kitab Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

UIN Walisongo Akan Bedah "Al-Quran Bukan Kitab Teror"

?

Diskusi ini merupakan agenda rutin yang diadakan FUHUM. Secara ringkas buku ini merupakan hasil karya ilmiah untuk meraih gelar doktor pada 2011. Terdapat pemangkasan disana-sini walaupun tak menghilangkan substansi. Hal ini untuk menyesuaikan pembaca agar mudah memahami buku ini.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Diskusi rutin ini biasanya untuk internal FUHUM, kali ini diperluas," ungkap wakil Dekan I, Ahmad Musyafiq.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tema buku ini diakui sesuai dengan kegelisahan bersama, yakni melawan faham radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Selain itu, diskusi ini juga sesuai dengan visi FUHUM untuk menjadi fakultas yang unggul dalam riset ilmu-ilmu pokok keislaman (ushuluddin) berbasis pada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban.

?

"Dengan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan peran FUHUM di tengah-tengah masyarakat," harap pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jateng ini.

?

Dalam kegiatan ini panitia menyediakan 100 eksemplar buku yang akan dibagikan secara gratis. (M. Zulfa/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Sidoarjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tim Kirab Resolusi Jihad NU di hari kedua tiba di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (14/10) malam. Tim diterima panitia lokal dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Kabupaten.

Begitu masuk ke halaman Pendopo, ribuan siswa dan mahasiswa, serta perwakilan banom dan lembaga di bawah PCNU Sidoarjo menyambut dengan wajah penuh suka cita. Lantunan solawat tak henti-hentinya mereka perdengarkan, hingga Tim akhirnya dibawa ke tempat atraksi pendekar Pagar Nusa Sidoarjo.

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tim pun terpukau saat anggota pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa meledakkan petasan dengan ledakan tinggi di atas tubuh mereka, namun para pendekar itu tidak cedera sedikit pun. Dalam waktu berdekatan, pendekar Pagar Nusa juga terbukti berhasil memutuskan rantai besi yang melilit tubuh mereka.

Selanjutnya, Tim segera masuk ke dalam pendopo untuk mengikuti upacara penyambutan. Ketua PBNU KH M. Salim Aljufri berkesempatan memberikan sambutan mewakili PBNU. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada jajaran Pemda Sidoarjo yang mendukung kegiatan kirab dengan mengizinkan Tim Kirab menyinggahi Sidoarjo, bahkan menjadikan Pendopo Kabupaten Sidoarjo sebagai tempat upacara penyanbutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, ia mengatakan terkait dengan pelaksanaan kirab yang merupakan salah satu agenda dalam dalam peringatan Hari Santri Nasional. Santri bukan sekadar orang-orang yang turut berada di Indonesia, tapi juga sebagai penentu Kemerdekaan RI.

Santri juga bukan sekadar pelajar, tetapi juga tulang punggung dan berada di ? garda terdepan dalam membentengi bangsa dari berbagai ? keruntuhan moral. Menurut Kiai Salim saat ini banyak terjadi kejahatan terorisme, penyalahgunaan narkoba, dan penyimpangan perilaku seksual. Semua keruntuhan moral itu harus dicegah dan dihadapi dengan iman. Dan santri harus berdiri paling depan dalam mengatasinya.

Kepada para peserta kirab, ia berpesan bahwa ajang kirab juga merupakan pendidikan politik. Peserta kirab dengan mengunjungi berbagai daerah, akan menemui masyarakat yang ternyata adalah warga NU. Artinya NU ikut menentukan jalannya bangsa ini.

Kiai Salim lalu mengingatkan bahwa peserta kirab yang merupakan generasi muda tak lain adalah pemimpin di masa mendatang, di mana tanggung jawab menjaga moral bangsa Indonesia berada di tangan mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Nahdlatul Ulama adalah pelopor dunia Islam. Saat ini kiblat dunia Islam adalah Indonesia, salah satunya karena kerukunan yang ditunjukkan warga Islam Indonesia. Jangan sampai dihancurkan apa yang sudah dijalin NU selama ini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf juga memberikan sambutan. Menurutnya NU dan NKRI tak bisa dipisahkan. Dibuktikan dengan di setiap acara NU selalu dinyanyikan dua lagu yakni Indonesia Raya dan Syubbanol Wathon. Lagu Syubbanol Wathon yang diciptakan Abdul Wahab Chasbullah, adalah lagu tentang cinta tanah air. Lagu itu diciptakan tahun 1934, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kepada peserta kirab, KH Abdi Manaf menitipkan pesan untuk PBNU. Bahwa NKRI adalah harga mati, sehingga apabila ada kelompok gerakan yang ingin merongrong NKRI, agar disampaikan kepada pemerintah bahwa melompok itu adalah bagian dari musuh NU.

“Tentu adalah hal yang tidak diinginkan bahwa akan ada Resolusi Jihad jilid 2. Tetapi bila itu terjadi NU harus siap bergerak,” cetusnya.

Dari pihak Pemkab Sidoarjo, sambutan diberikan oleh Wakil Bupati Nur Ahmad Saifuddin. Ia pun menyampaikan rasa bangga karena tim kirab berkenan singgah di Sidoarjo.

Sidoarjo, tutur Wabup, tidak asing lagi dengan NU karena mayoritas warganya juga NU. Pendopo Kabupaten juga tidak asing lagi dengan kegiatan ke-NU-an, seperti dengan dan tahlilan. Ke depan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) sangat mungkin berpentas di Pendopo Kabupaten.

Dalam peringatan Hari Santri 2016, Kabupaten Sidoarjo juga melakukan sejumlah kegiatan. Diantaranya Pameran Produk Santri dan Pameran Pesantren, Lomba baca kitab, pembacaan satu milyar shalawat Nariyah, pentas ketoprak santri dengan Lakon Resolusi Jihad. Juga pihak Pemda sedang berkoordinasi dengan pihak terkait berkenaan dengan pelepasan ribuan balon udara.

Kegiatan lainnya adalah Festival Munajat Seribu Santri, pembacaan puisi dan jalan sehat santri yang bekerjasama dengan LP Maarif NU. Diperkirakan akan melibatkan 18 ribu peserta.

Pemkab Sidoarjo dalam kegiatan tersebut bersinergi dengan NU melalui banom-banom yang ada di bawahnya. Kepada Tim Kirab Wabup berharap Kirab Resolusi Jihad dan peringatan Hari Santri Nasional akan menjadi ajang penguatan cinta tanah air. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Pendidikan, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Peristiwa di akhir Oktober hingga paruh awal November 1945, merupakan babak penting dalam sejarah pergolakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Bentrokan yang melibatkan massa dalam jumlah besar terjadi di Surabaya pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945.

Bentrokan terjadi antara pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan lain dengan pasukan Inggris dan pasukan sewaannya. Letusan terjadi karena upaya Belanda melalui pasukan Inggris, hendak mengambil alih kekuasaan Nusantara setelah pendudukan Jepang runtuh.

Saat Jakarta, Bandung, dan? Semarang sudah takluk, Surabaya menjadi kota yang penuh dinamika pergolakan. Bentrokan terus terjadi karena masyarakat Surabaya dan sekitarnya mempertahankan kota dari penyerbuan dengan kekuatan 6000 pasukan Inggris yang terus mencoba masuk ke Surabaya. Bentrokan massa bersenjata akhirnya memuncak pada tanggal 10 November 1945. Sedikitnya 2000 pasukan terlatih Inggris tewas berikut Brigjend AWS. Mallaby, Komandan Pasukan Inggris. Banyaknya korban di pihak Inggris sebagai pasukan terlatih, membuat Inggris kehilangan muka di kalangan militer internasional.

Hari dimana pertempuran sengit tersebut terjadi kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional RI. Peristiwa 10 November 1945, “tidak bisa dipisahkan dengan keputusan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang dikeluarkan NU,” kata Maulidah Zahro, Wakil Bendahara PP IPPNU, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Resolusi Jihad fi Sabilillah, sebuah putusan berisi sikap NU dalam mempertahankan NKRI yang baru dua bulan diproklamasikan dari penjajahan bangsa asing. Putusan Resolusi Jihad dirancang oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah 21 Oktober dan dibacakan oleh KH. Hasyim Asyari, Rois Akbar NU pada 22 Oktober 1945, hampir tiga minggu sebelum peristiwa Surabaya.

Isi putusan Resolusi Jihad antara lain berbunyi, “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Peristiwa bersejarah dalam bangsa ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah kejadian yang berdiri sendiri dan tiba-tiba. Ada beberapa rangkaian pergolakan sejarah yang mengantarkan Indonesia sampai pada peristiwa 10 November 1945 tersebut.

“Ada semangat yang mendukung bagaimana 10 November itu bisa hadir,” kata Maulidah.

Semangat pergerakan dan kepahlawanan melatarbelakangi peristiwa tersebut. Pembacaan terhadap peristiwa 10 November menggantung ketika mengesampingkan entitas PBNU yang pada saat itu berkantor di jalan Bubutan, Surabaya, dan semangat Resolusi Jihadnya.

Nama Bung Tomo sebagai propagandis yang sanggup mendidihkan semangat rakyat Jawa Timur dimana orasi agitatifnya diteruskan melalui radio-radio, memang melekat dengan peristiwa 10 November. Tetapi fakta sejarah bahwa KH. Hasyim Asyari kerap memenuhi permintaan nasihat Bung Tomo, tidak pernah hadir dalam sejarah umum.

Siapa berani menyingkirkan nama KH. Abdul Wahab Chasbullah yang merancang putusan Resolusi Jihad fi Sabilillah dari peristiwa 10 November? Putusan ini memiliki tenaga untuk mengalirkan santri-santri dan kiai dari daerah sekitar Surabaya ke dalam kota Surabaya. Karena, putusan tersebut menyatakan bahwa pertempuran demi mempertahankan wilayah negara bernilai sebagai perang suci.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Agak berat memisahkan Hari Pahlawan dengan NU, karena “NU memiliki andil besar dalam peristiwa yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan,” tambah Maulidah.

Belum lagi keterlibatan laskar Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Masykur dan laskar Hizbullah dengan KH. Zainul Arifin sebagai komandan tertinggi? Kedua kiai tersebut tidak lain adalah para pemimpin NU.

Hubungan Resolusi Jihad fi Sabilillah dan Peristiwa 10 November, tertanam kuat di dalam benak warga NU meski segelintir pihak mencoba untuk mengubur fakta tersebut.

“Kesadaran sejarah 10 November memang tidak ada di dalam materi kaderisasi IPPNU. Fakta-fakta ini sudah menjadi pengetahuan umum yang saya terima dari materi ke-NUan dalam kaderisasi. Itu pun hanya sedikit disinggung, dimasukkan.”

Maulidah, yang juga pengurus Rumah Pelajar IPPNU di Ciputat mengharapkan bahwa kaderisasi IPPNU ke depan akan menegaskan isu seputar Resolusi Jihad fi Sabilillah dalam konteks peristiwa 10 November yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

“Dengan penekanan seperti itu, pemuda-pemudi NU akan sadar bahwa NU memiliki andil besar terhadap pertahanan dan kelestarian Indonesia,” kata Maulidah, Senin (5/11) sore seusai rapat dengan Pemda Palembang untuk mempersiapkan kongres XVI IPPNU di Palembang 30 November-4 Desember 2012. (Alhafiz Kurniawan/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Dur Sudah Siapkan Banyak Kader NU Andal

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah lama wafat. Mantan Presiden RI dan Mantan Ketua PBNU tersebut selama hidupnya dikenal sangat besar jasanya dalam meleburkan spirit Islam Damai di Nusantara, bahkan di dunia.

Gus Dur Sudah Siapkan Banyak Kader NU Andal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Sudah Siapkan Banyak Kader NU Andal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Sudah Siapkan Banyak Kader NU Andal

Kendati Gus Dur telah meninggal dunia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap optimis semangat beragama yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah tetap tumbuh subur di Indonesia. Sebab, Gus Dur telah lama menyiapkan banyak kader andal.

Hal demikian ditegaskan Sekjen PBNU KH Abd Munim saat menjadi pemateri dalam workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk ulama muda di Jakarta, Selasa (16/6). Acara tersebut dihadiri perwakilan pesantren, pegiat website Islam, dan kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kader andal yang kami maksudkan salah satunya ialah antum sekalian. Mari kita tebar paham Aswaja ala NU lewat media secara massif dan istikamah," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, H Abd Munim mengungkapkan cerita Gus Dur tentang seorang kiai yang begitu sabar dalam melakukan dakwah Islam via dakwah kultural di Papua. Suatu waktu, ujarnya menirukan gaya bicara Gus Dur, tokoh Papua datang ke kiai tersebut untuk masuk Islam dan akan mengajak kaumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tokoh Papua tersebut tampak terkejut ketika tahu betapa mudahnya masuk Islam: cukup membaca kalimat Syahadat. Sang kiai juga mengajarkan cara shalat secara telaten. Ketika hendak shalat, tokoh Papua tadi berpakaian adat yang tidak menutup auratnya.

"Si kiai tersebut tidak menegur cara berpakaiannya. Beliau fokus pada penanaman spiritual keislaman secara bertahap," terang Abd Munim.

Suatu waktu, tokoh Papua tadi hendak berkurban. Dan yang dibawa adalah babi.

"Ada lelucon di Papua, betapa fanatiknya masyarakat setempat terhadap babi. Jika bareng anak kecilnya, orang Papua tetap memberlakukan istimewa pada babi. Si anak jalan kaki, sementara babinya digendong," kata Kiai Munim yang disambut gelak tawa hadirin. 

Nah, tambahnya, si kiai lagi-lagi tidak menegur perilaku tokoh Papua yang muallaf itu. Babi tetap disembelih, tetapi sebatas diberikan ke kaum tokoh Papua itu. Secara pelan-pelan, si kiai memberikan pemahaman keIslaman secara kaffah.

Hingga akhirnya, banyak masyarakat Papua yang memeluk Islam tanpa melewati jembatan kekerasan. Cukup melalui dakwah Islam yang damai. (Hairul Anam/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Khofifah: Gus Dur Energi Penggerak

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Gus Dur adalah sebuah energi penggerak emosi, pikiran, dan kekuatan, baik yang pro maupun yang kontra. Kepada yang pro, Gus Dur tidak memuji dan menganakemaskan. Kepada yang kontra, ia tidak menyakiti atau membenci.  

Khofifah mengungkapkan, kepada pihak yang memurtadkan dirinya pun, Gus Dur tak pernah sekalipun menyerang atau memurtadkan balik. Gus Dur memilih diam. “Suatu saat kebenaran akan terungkap,” kata Khofifah menirukan Gus Dur di Jakarta, Senin (30/12).

Khofifah: Gus Dur Energi Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Gus Dur Energi Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Gus Dur Energi Penggerak

Gus Dur sendiri, lanjut Khofifah, selalu berpesan agar selain menjadi diri sendiri tetapi kita juga perlu melakukan sesuatu yang terbaik buat publik. Artinya, Gus Dur ingin semua orang punya jati diri, bukan menjadi diri orang lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Termasuk tidak ingin kita menjadi seorang Gus Dur, karena itu memang tidak mungkin,” tegas Khofifah.

Bagi Gus Dur, Indonesia akan menjadi bangsa besar, mandiri, dan kuat, jika jati diri bangsa dijaga dan dikuatkan melalui kedaulatan politik, kedaulatan ekonomi, kedaulatan budaya, dan lebih terpenting lagi adalah kedaulatan pikiran, tambah “Ibu”, sapaan hangat Khofifah di kalangan Muslimat NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus, sebagai anak bangsa kami akan terus memperjuangkan cita-cita republik ini, sehingga bangsa ini menjadi bangsa besar seperti yang engkau pesankan,” pungkas Khofifah. (Ahmad Millah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010

Damaskus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sidang konfercab (konfrensi cabang) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Suriah-Lebanon pada tanggal 4 Oktober 2008 menghasilkan kepengurusan baru di bawah pimpinan Muhammmad Zainul Haq, Lc. (29th) sebagai rais syuriyah dan  Ahmad Fajar Inhadl (25th) sebagai ketua tanfidzyiah.

Muhammmad Zainul Haq, Lc (29) adalah lulusan Syaikh Ahmad Kaftaro College dan mahasiswa tingkat akhir Universitas Damaskus Fakultas Syariah sedangkan Ahmad Fajar Inhadl (25th) mahasiswa tingkat akhir Syaikh Ahmad Kaftaro College.

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010 (Sumber Gambar : Nu Online)
Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010 (Sumber Gambar : Nu Online)

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010

Kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di Suriah Nurul Maksumi melaporkan sidang konfercab juga menetapkan poin-poin rekomendasi eksternal yang akan ditujukan kepada PBNU. Diantara poin-poin tersebut antara lain supaya PBNU melalui jaringan ICIS-nya untuk semakin mengoptimalkan usaha-usaha untuk mewujudkan perdamaian dunia, mengupayakan pelurusan terhadap berbagai pemikiran yang menyimpang dari kaidah-kaidah asasi keislaman, dan memberi himbauan kepada para kiai dan tokoh-tokoh keislaman untuk lebih memperhatikan pembinaan masyarakat dan pesantren daripada berkecimpung  dalam kancah politik praktis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara ini dibuka resmi oleh Duta Besar RI untuk negara Suriah H. Muhammad Muzammil Basyuni pada pukul 15.50 waktu setempat. Dalam pidato sambutannya ia berpesan hendaknya PCI NU Suriah-Lebanon dapat menjadi tamu yang baik di Suriah dan Lebanon dengan mengedepankan Tawassuth, Tasamuh dan Tawazun.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Mustasyar PCI NU Suriah-Lebanon, H. Abdurahman Na’im menegasakan tentang sumbangsih jamiyah NU yang tak terhingga bagi bangsa Indonesia dari semenjak negara ini belum berdiri hingga sekarang.

Pemekaran Ditolak

Usulan pemekaran NU Suriah-Libanon akhirnya ditolak setelah melalui perdebatan sengit sehingga keberadaannya tetap PCI NU Suriah-Lebanon dengan alasan mempertimbangkan aspek ukhuwah di antara warga nahdliyyin, dan minimnya jumlah nahdliyyin di Lebanon. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kyai, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Aceh Samsul B Ibrahim mengecam pernyataan tak terpuji Perdana Menteri Australia Tony Abbot yang mengungkit bantuan kemanusiaan pascamusibah gempa dan tsunami pada 2004 silam. Samsul mendesak Tony Abbot meminta maaf secara langsung kepada seluruh masyarakat Aceh dengan mengunjungi Serambi Mekkah.

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Samsul? mengatakan, pihaknya menghargai Australia yang meminta pembatalan hukuman gantung terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran karena kasus Narkoba. Bahkan, sikap enam mantan PM Australia yakni Malcolm Fraser, Bob Hawke, Paul Keating, John Howard, Kevin Rudd, dan Julia Gillard yang menyerukan hal serupa, menurut Samsul merupakan sebuah langkah wajar yang dilakukan tokoh-tokoh Australia terhadap warganya.

“Namun mengungkit bantuan kemanusiaan seperti pernyataan Abbot adalah dosa besar sekaligus mencoreng wajah warga Australia yang mungkin ikhlas membantu Aceh. Dia harus datang ke Aceh untuk meminta maaf secara langsung,” katanya dalam siaran pers, Ahad (22/2).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Samsul menambahkan, hukuman mati terhadap pelaku kriminalitas tertentu bukanlah hal baru dalam konteks hukuman internasional. Praktik hukuman mati sudah diterapkan di berbagai negara baik itu Malaysia, Iran, China, Libya, Suriah, hingga Amerika Serikat.

“Dalam hal vonis hukuman mati yang diputuskan terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran di Indonesia, seharusnya Australia fokus mengumpulkan alat bukti tertentu yang mampu menghindari kesalahan vonis. Faktanya hingga vonis dijatuhkan, kesalahan pidana terkait peredaran Narkoba yang dialamatkan kepada Andrew Chan dan Myuran Sukumaran tak bisa terbantahkan,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu, Tony Abbot sebagai Perdana Menteri Australia harus menghargai putusan hukum tersebut. Kedaulatan hukum Indonesia merupakan komponen yang tak bisa diintervensi oleh siapapun. Lagipula, putusan hukum itu semata-mata dilakukan untuk memberikan peringatan keras terhadap peredaran Narkoba di Indonesia.

“Ini bicara soal hukum dan kedaulatan negara. Sebagai Pemuda Nahdliyin, apa yang diungkit oleh Abbot sungguh perilaku sangat tercela,” kecamnya.

Ancaman Investasi

Di lain hal, Samsul menyebutkan masyarakat Aceh sebenarnya merupakan masyarakat yang cukup bijak dalam menyambut warga manapun. Buktinya, selama ini perusahaan asal Australia sudah beroperasi di Aceh. Beberapa perusahaan asal Australia itu melakukan investasi di sektor energi, pertambangan, hingga perkebunan.

“Sejauh yang kami terlusuri demikian informasinya. Misalnya seperti Triangle Energy (Global) Limited yang mendapatkan hak pengelolaan blok minyak dan gas di Wilayah Pase. Tidak hanya itu, sekitar Desember 2014 lalu, GeRAK bahkan pernah membuat laporan tentang penjualan izin usaha pertambangan kepada perusahaan asing asal Australia baik di Aceh Selatan, maupun di Tamiang. Nah, gimana kalau hal itu kita lempar ke muka Abbot,” tegas Samsul.

Dia berharap, tokoh-tokoh dan seluruh warga Australia tidak membiarkan perilaku tercela Tony Abbot ini merusak hubungan diplomatis kedua negara. Apalagi selama ini, hubungan kedua negara ini selalu memberikan kontribusi yang terukur bagi kedua negara baik di sektor ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan hal-hal lainnya.

“Kami meminta tokoh-tokoh serta warga Australia untuk menyadarkan Tony Abbot. Mereka harus mendesak Abbot meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh di Aceh, bukan di Canberra. Dia harus berani meminta maaf. Kalau tidak, ini akan menjadi catatan sejarah betapa warga Australia rela dipimpin oleh sosok yang tidak bermoral seperti Abbot,” tutup Samsul. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Bahtsul Masail, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 12 Oktober 2017

Mau Sehat? Hadiri Baksos ATS Ansor Kedung Urang

Banyumas, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah anggota Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (KBNU) Kedung Urang, Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah siap menyembuhkan masyarakat yang menderita beragam penyakit dengan Aji Tapak Sesontengan (ATS) pada kegiatan bakti sosial penyembuhan alternatif diselenggarakan Ansor Ranting Kedung Urang.

Jumlah kader akan diturunkan pada kegiatan akan berlangsung, Ahad (8/10) mendatang di Grumbul Ciwera, Kedung Urang, mulai pukul 10.00 WIB tersebut lebih dari sepuluh orang.

Mau Sehat? Hadiri Baksos ATS Ansor Kedung Urang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Sehat? Hadiri Baksos ATS Ansor Kedung Urang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Sehat? Hadiri Baksos ATS Ansor Kedung Urang

"Delapan kader Banser, tujuh kader Ansor dan tiga kader Fatayat NU sudah menguasai ATS yang merupakan warisan jenius husada leluhur nusantara," ujar Sekretaris MWCNU Gumelar, Riswo Mulyadi di Banyumas, Rabu (4/10).

Mantan Kasatkoryon Banser Gumelar yang telah menerbitkan antologi puisi tunggal Gigir Bukit Sinawing itu menambahkan, setiap praktisi ATS dalam sehari mampu menangani 40-50 orang dengan beragam penyakit, sehingga jika peminat baksos tersebut tinggi, maka mereka bisa membantu kurang lebih 700 warga yang sakit kendati target penyembuhan tidak sampai sebanyak itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepala Satuan Unit Khusus Husada Satkornas Banser Yunianto Wahyudi mengaku puas dengan upaya kader pemuda NU disejumlah wilayah yang kontinu menggelar baksos penyembuhan alternatif bagi masyarakat membutuhkan dengan kemampuan husada dimiliki.

Pelayanan untuk masyarakat tersebut menunjukkan bahwa NU bersama banomnya terus berbuat dalam memberi manfaat.

"Kader-kader Ansor dan Banser yang memiliki ATS telah memberi manfaat dua arah, baik untuk masyarakat yang disembuhkan dan yang menyembuhkan karena minimal berlangsung silaturahim, tegur sapa yang dewasa ini direbut oleh gadget. Dan itulah bukti nyata sehatnya perilaku dan pikiran kader-kader kami," kata dia lagi.

Dengan dasar ilmiah DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika yang dapat diturunkan, ATS bisa dikuasai anak kecil hingga orang lanjut usia, praktis dan tidak banyak teori, tidak menjurus agama tertentu, tanpa klenik, sihir, jin dan hal negatif lain.

Fakta di lapangan, ATS yang ditemukan para penekun budaya dari Yayasan ATS Global Indonesia telah membantu masyarakat menderita beragam penyakit, seperti kanker kolorektal, pasca stroke, lemah syahwat, sakit gigi, asma, lemah jantung, wasir, maag,vertigo, migrain, diabetes, nyom (kista), kencing nanah, hernia, hipertensi, leher kaku, asam urat, tulang keropos dan beragam penyakit medis lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Teknik penyembuhan ATS juga sederhana, hanya dengan sentuhan lembut, menyembuhkan tanpa menyakiti dengan tempo sekali terapi hanya dalam hitungan menit.

"Banser Husada akan ikhtiar agar ATS dapat dikembangkan dan dibudayakan dalam lingkup NU khususnya Ansor dan Banser untuk membantu masyarakat sehat dengan teknik yang sederhana dan tidak membincang agama semacam itu," kata dia. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 07 Oktober 2017

Standar Pemilihan Pengurus NU Harus Berdasar Kualitas

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dulu, kehebatan NU dilihat dari kualitas pemimpinnya. Bukan semata megahnya tempat ibadah, lembaga pendidikan, maupun pesantren hingga layanan ekonomi, dan kesehatan. Momentum muktamar hendaknya mengembalikan seleksi kepengurusan kepada pribadi yang memiliki kualitas.

Standar Pemilihan Pengurus NU Harus Berdasar Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Standar Pemilihan Pengurus NU Harus Berdasar Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Standar Pemilihan Pengurus NU Harus Berdasar Kualitas

Demikian disampaikan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim Prof Dr KH Ali Maschan Moesa, Ahad, (15/3) di Surabaya.

“NU adalah ulama, yang mana titik tekannya pada kualitas ibadah dan keikhlasan yang berujung pada masing-masing personal,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Guru besar Universitas Islam Negeri Sunam Ampel Surabaya ini justru mengkhawatirkan kalau seleksi kepengurusan di NU ternyata tidak lagi mengindahkan kualitas. "Saya malah mengkhawatirkan hal ini justru akan menimbulkan kekeroposan di NU sendiri," ungkapnya.

Hal ini juga sama seperti ketika banyak takmir yang membanggakan biaya renovasi masjidnya dengan angka yang fantastis. "Tapi coba tanyakan, siapa saja yang istiqomah melaksanakan shalat jamaah lima waktu di masjid tersebut," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh NU adalah bagaimana bisa memperbaiki kualitas orangnya, dalam hal ini adalah para pengurus yang dipilih.

"Mungkin para pengurus tidak bisa mencontoh secara utuh sosok KH Hasyim Asyari yang demikian ikhlas," kata mantan Ketua PWNU Jatim dua periode ini. Demikian juga bagaimana sosok KH Abdul Wahab Chasbullah yang dengan uangnya sendiri mampu mendatangi sejumlah kiai di tanah air untuk diajak bergabung dengan NU.

Bayangkan, katanya, bagaimana orang NU tidak semata membanggakan kulit, namun substansinya ternyata keropos. "Soal banyaknya kampus NU yang diminati warga, itu adalah wadah," sergahnya. Namun dalam setiap pembicaraan, nyaris tidak ada yang mencoba membincang kualitas.

Bagi Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Husna Surabaya ini, sudah saatnya mulai didefinisikan secara jelas siapa warga dan pengurus NU  yang sebenarnya. Jangan sampai semua orang mengaku sebagai orang NU namun perilaku yang ditampilkan ternyata jauh dari kriteria sebagai ulama. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, IMNU, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 September 2017

Muslimat NU Resmikan Pabrik Tepung Kasava di Pati

Pati, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Langkah nyata dalam bidang ekonomi dilakukan Muslimat Nahdlatul Ulama. Organisasi perempuan terbesar di Indonesia itu meresmikan pabrik tepung kasava di Pati Jawa Tengah, Ahad (9/6).

Untuk mengoperasikan pabrik tersebut, Muslimat NU mendapat dukungan dari Balai Besar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian berupa alat produksi. Serah terima secara simbolis alat produksi itu digelar di Panti asuhan Daarul Hadhonah, Pati.

Muslimat NU Resmikan Pabrik Tepung Kasava di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Resmikan Pabrik Tepung Kasava di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Resmikan Pabrik Tepung Kasava di Pati

Mesin produksi tepung yang diterima Muslimat berupa alat penyawur/perajang, alat pengepres hidrolik, alat penepung dan alat pengayak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar Litbang pasca panen, Ir Rudi MT, mengatakan, ketahanan pangan nasional dimulai dari keluarga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Oleh karena itu, kerjasama dengan Muslimat NU, Organisasi Perempuan Muslimah, sangatlah strategis," katanya.

Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pendirian dan peresmian pabrik tersebut merupakan bagian dari program Muslimat mandiri pada 2026.

"Untuk ke depannya pendampingan yang serius sangat diperlukan agar ada nilai tambah dari produksi tepung kasava," kata menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur tersebut.

Ketua PC Muslimat NU Pati, Hj Maria Ulfa, mengucapkan terima kasih PP Muslimat NU atas beroperasinya pabrik tepung kasava tersebut. Ucapan terima kasih juga diungkapkannya kepada Balai Besar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.

"Kami berharap dapat digunakan secara optimal," katanya.

Peresmian pabrik tepung kasava tersebut dirangkai dengan pelatihan penggunaan tepung kasava menjadi aneka kue kering dan basah, serta pembuatan mie. Pelatihan yang digelar selama 2 hari tersebut diikuti oleh ibu-ibu Muslimat NU se-Karesidenan Pati.

Redaktur     : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Ahmad Millah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Ulama, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 12 Agustus 2017

PMII UM Gelar Aksi Berbagi dengan Pengemis dan Tukang Parkir

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Al-Biruni, Komisariat Sunan Kalijaga Universitas Negeri Malang (UM) mengisi bulan Ramadhan ini dengan aksi berbagi kepada mereka yang membutuhkan di sejumlah titik di sekitar kampus setempat, Malang, Jawa Timur, Jumat (18/7) sore.

PMII UM Gelar Aksi Berbagi dengan Pengemis dan Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UM Gelar Aksi Berbagi dengan Pengemis dan Tukang Parkir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UM Gelar Aksi Berbagi dengan Pengemis dan Tukang Parkir

Para mahasiswa ini membagi-bagikan santapan berbuka puasa kepada pengemis, tukang parkir, penyapu jalan, dan orang yang biasaya membantu para penyeberang jalan, antara lain di sekitar perempatan ITN, Jalan Bendungan Sutami dan sepanjang Jalan Veteran.

Mereka memulai aksinya mulai pukul 16.00 hingga 17.20 WIB. Para kader PMII ini mengaku melakukan kegiatan ini atas dasar kepedulian terhadap lingkungan sosial guna mempererat tali persaudaraan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Alhamdulillah sahabat-sahabati antusias dan tetap semangat membagikan makanan berbuka walau mereka juga sedang berpuasa. Mereka juga ingin menunjukkan wujud kepeduliaan terhadap saudara-saudara mereka yang terlantar di jalan dan kekurangan” kata Ketua Rayon Al-Biruni Ridwan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dengan kegiatan ini, kader PMII Al-Biruni berharap agar kader-kader yang lain juga melakukan aksi nyata untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan, tidak harus demo turun ke jalan,” tambahnya. (Ella Jayahuda Prasety/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 01 Juli 2017

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang bergerak dalam berbagai bidang seperti keagamaan, sosial, seni budaya, ekonomi, dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, NU giat dalam menggalakkan pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal itu terbukti dengan berdirinya 31 universitas Nahdlatul Ulama yang berdiri dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun terakhir.?

Selain itu, tentu masih ada banyak lagi kampus-kampus yang berafiliasi dengan NU atau didirikan oleh kader-kader NU, tapi tidak terdaftar pada struktural NU. Jumlahnya ratusan. Mulai dari sekolah tinggi hingga universitas. ?

Pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU adalah sekitar 48 ribu. Sedangkan untuk pondok pesantren, ada sekitar 23 ribu pesantren yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU).

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya

Muktamar ke-30 tahun 1999 yang diselenggarakan di Lirboyo Kediri bisa dibilang sebagai momentum penting dalam sejarah pengembangan pendidikan NU. Pada Muktamar ini, NU menegaskan untuk serius dalam memperkuat tata kelola pendidikannya. Lalu, tahun 2001 LP Ma’arif NU menggelar Rakernas. Di antara hasil Rakernas adalah membagi satuan pendidikan dalam tiga kategori sekolah atau madrasah, yaitu: Pertama, satuan pendidikan yang didirikan oleh LP Maarif.

Kedua, satuan pendidikan yang didirikan oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU bekerja sama dengan LP Maarif. Terakhir, yang didirikan dan dikelola secara mandiri oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana pendidikan NU bisa berkembang begitu pesatnya? Apa yang menyebabkannya? dan Apakah kuantitas yang begitu meruah dibarengi dengan kualitas yang memadahi?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk menjawab itu, Jurnalis Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal A Muchlishon Rochmat mewawancarai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI (Bidang Pendidikan) dan juga Ketua LP Ma’arif PBNU. Berikut hasil wawancaranya:





Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seperti apa pendidikan NU saat ini?

Secara kuantitas, saya kira pendidikan NU tidak ada tandingannya. NU adalah ormas yang memiliki lembaga pendidikan terbesar di Indonesia. Sampai sekarang pendidikan NU terus berkembang.





Faktor apa yang menyebabkan pendidikan NU begitu meruah?

Pendidikan NU bisa eksis dan bertahan bahkan semakin banyak karena mentalitas kader-kader NU di bidang pendidikan sangat kuat. Itu didasari oleh etos kerja mereka yang tumbuh dari ajaran agama.

Salah atu ajaran agama yang menjadi pegangan kader-kader NU dalam bidang pendidikan adalah bahwa menyelenggarakan pendidikan itu tanda dari ilmu yang bermanfaat. Di dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal amal ibadah yang pahalanya tidak putus-putus meski sudah meninggal.?

Dari ajaran agama itu, etos ini menjadi nilai yang hidup dan mengakar kuat di dalam diri Nahdliyin. Sehingga kalau kita tanya berapa jumlah sekolah, berapa jumlah madrasah, lembaga formal, informal, atau pun nonformal, pasti yang terbanyak orang NU.

?

Orientasi pendidikan NU itu seperti apa?

Ilmu pendidikan zaman modern selalu mengaitkan bahwa output dari orang yang belajar adalah akses kerja. Pada dasarnya pendidikan itu ada input, proses, dan output. Di dalam standar pendidikan nasional, ada delapan output. Ouput adalah salah satu standar kompetensi kelulusan. Kalau ada mahasiswa S1 di bidang musik, dia bisa apa dan bekerja dimana.

Kalau dulu tidak ada urusan yang seperti itu karena yang namanya bekerja itu adalah akibat dari proses hidup. Mereka bebas untuk hidup seperti apa, namun yang terpenting adalah mereka bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Sehingga orientasi pendidikan pada zaman itu betul-betul berorientasi pada proses.?

Kalau disebut-sebut bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia atau pendidikan karakter yaitu sebenarnya pendidikan NU. Pendidikan karakter orientasinya adalah pada keteladanan guru.?

Standar Nasional Pendidikan (SNP) itu ada delapan. Yang 3 tidak terkait dengan guru, yaitu standar pendanaan, manajemen, dan sarana-prasarana. Sedangkan yang 5 selalu berkaitan dengan guru. Oleh karena itu, guru itu betul-betul merupakan kunci perubahan.





Model pendidikan NU?

Model pendidikan NU itu adalah model pendidikan yang sangat bagus. Dalam artian, saat kita mendidik orang itu jangan terlalu disibukkan outpunya tetapi lebih menyibukkan dengan bagaimana proses dari pendidikan itu, yaitu bagaimana memanusiakan manusia.





Tujuannya?

Ilmu yang bermanfaat adalah merupakan salah satu tujuan daripada pendidikan yang ada di NU. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri, baru kemudian bermanfaat untuk orang lain. Makanya pendidikan di NU tidak pernah memikirkan tentang seperti apa sekolahnya akan dibangun.

Misalnya seperti pesantren-pesantren besar NU yang ada saat ini itu tidak pernah memikirkan bagaimana membangun gedung, tetapi bagaimana seorang guru -yang punya pengaruh besar di dalam proses pendidika itu- tumbuh sebagai guru laku dan guru yang memberikan keteladanan.

Oleh karena itu, jumlah pendidikan NU sangat banyak karena dua hal. Pertama, memegang teguh nilai ilmu yang bermanfaat dan yang kedua adalah berorientasi kepada proses penciptaan pendidikan karakter.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj selalu mengatakan bahwa kalau lahir dan sekolah di NU tidak akan ada yang menjadi teroris. Karena proses pendidikannya itu sangat menentukan bagaimana antara ilmu agama dihubungkan dengan adat istiadat setempat sebagai infrastruktur agama.?

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah bagaiaman kalau konsep itu dihadapkan dengan orientasi pendidikan saat itu yaitu akses kerja?

Kalau pola ini diterapkan sekarang, maka dianggap kurang berkualitas karena tidak pernah berfikir pada pasca proses. Pendidikan sekarang selalu dikaitkan dengan dunia kerja yang polanya terus berkembang sesuai dengan modernitas dan industri sehingga keahlian juga semakin tumbuh dan berkembang.

Pendidikan keahlian-keahlian itu yang harus disiapkan oleh sekolah. Sehingga ukuran pendidikan disebut berkualitas atau tidak itu selalu dihubungkan dengan akses kerja. Kalau anda sudah terdidik di sebuah sekolah dan kemudian lulus, anda bisa apa dan diterima dimana. Itu pola pendidikan saat ini.?

Lalu, bagaimana menghadapi itu?

Karena sekarang harus berurusan dengan kualitas atau mutu dan pendidikan dihubungkan dengan kerja maka mau tidak mau NU juga harus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Dan harus diakui bahwa dalam konteks ini NU agak tertinggal.?

Jadi untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tujuan pendidikan, NU itu agak lambat dalam arti bahwa NU masih tetap saja berorientasi kepada dua hal dia atas, yaitu ilmu yang bermanfaat dan proses.?

Bagaimana memperbaikinya?

Harus segera dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Banyak juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau madrasah NU, lembaga-lembaga pendidikan pesantren NU yang sudah melakukan penyesuaian-penyesuaian. Tetapi secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa belum sepenuhnya bisa karena begitu banyaknya jumlah lembaga pendidikan NU.?





Terus, bagaimana caranya melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut dan harus dimulai dari mana?

Pertama kita bicara peran negara. Ada empat tujuan daripada didirikannya negara ini, diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah tujuan utama dari bernegara dan ini kaitannya dengan pendidikan. Mencerdaskan itu bukan hanya pada aspek kognitif saja, kecerdasan itu kan mencerdaskan kehidupan. Artinya, implementasi dari ilmu pendidikan itu melahirkan kemudahan-kemudahan dan produktivitas-produktivitas dimana anak bangsa bisa dengan mudah menciptakan kesejahteraannya.?

Itu adalah kebijakan negara menciptakan kebijakan-kebijakan. Derivasi dari tujuan bernegara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, dirumuskan di dalam UUD 1945. Ada banyak pasal-pasal yang menjelaskan mengenai bagaimana cerdas dalam kehidupan. Intinya adalah pendidikan itu merupakan hak dasar bagi setiap warga negara yang harus disiapkan oleh negara.

Oleh karena itu, negara wajib menyelenggarakan dan tidak boleh ada diskriminasi. Diskriminasi itu masih terjadi dimana-mana. Misalnya, sarana antara madrasah dan sekolah negeri beda, perlakuan di Papua dan di Jawa beda. Ini tidak boleh terjadi.?

Kedua kita bicara internal. NU juga harus memperbaiki manajemen yang ada dan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru yang mengajar di sekolah-sekolah NU. ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Nahdlatul, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 24 Juni 2017

SSR Muslimat NU memperingati Hari TB Internasional

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pada Ahad, 24 Maret 2013 yang bertepatan dengan hari Tuberculosis Internasional, SSR Muslimat NU Sulsel memperingati hari TB dengan melaksanakan kegiatan Pelatihan Pengawas Menelan Obat (PMO). 

“Kegiatan ini bertujuan agar PMO terlatih dan memahami tugasnya dalam mendampingi pasien TB positif hingga sembuh,” ujar Koordinator Program SSR Muslimat NU Sulsel dr Arni Isnaeni Arfah.

SSR Muslimat NU memperingati Hari TB Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
SSR Muslimat NU memperingati Hari TB Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

SSR Muslimat NU memperingati Hari TB Internasional

Dalam sambutan Ketua PW Muslimat NU Sulsel, SSR Muslimat NU telah berproses sejak 2009 hingga saat ini, telah menemukan suspect sebanyak 2136, BTA positif 209 orang, dan 147 orang yang sudah sembuh serta yang lainnya sementara menjalani pengobatan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ini menunjukkan komitmen besar Muslimat NU Sulsel mendampingi masyarakat dalam hal penanggulangan penyakit Tubercolosis (TB).

Kegiatan ini dihadiri oleh 15 peserta dari 3 kecamatan sasaran yakni kec. Tallo, Tamalanrea, dan Mariso. Hadir pula selaku narasumber Sierly Nata (Wasor TB Dinkes Makassar) dan Sitti Aisyah Baska (Analis SSR Muslimat NU).  

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sitti Aisyah Baska, pendampingan pasien terhadap pasien TB sangatlah penting agar tidak menularkan ke orang lain dengan cara meminum obat dengan teratur selama 6 bulan. Sedangkan menurut Sierly Nata, suksesnya pengobatan TB bergantung pada pedampingan yang dilakukan oleh PMO yang menjadi ujung tombak untuk memutus mata rantai penularan. 

Keberhasilan memutuskan rantai penularan TB bergantung pada suksesnya PMO melaksanakan pengawasan pengobatan hingga dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock