Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji

Subang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ada banyak cara Allah mengundang hamba-Nya dalam menunaikan ibadah haji, di antaranya adalah sebagaimana kisah yang dialami oleh KH Endang Jamaludin sekitar tahun 2006 yang lalu. Sebelumnya, pengasuh Pesantren Uswatun Hasanah Empangsari, Purwadadi, Subang, Jawa Barat ini tak pernah terpikirkan bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu.

"Suatu hari Kang Endang ngisi pengajian di salah satu majelis talim asuhannya, dalam pengajian itu Kang Endang ngaji bab haji sangat detail sekali," ungkap salah seorang adik KH Endang Jamaludin, Totoh Bustanul Arifin di Pesantren Miftahul Fata, Panyingkiran, Purwadadi, Subang. Jumat (9/9)

Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Berangkat Haji Gratis, Berkah Ngaji Fiqih Haji

Usai pengajian, kata dia, salah seorang jamaah yang bernama Haji Ayat Hidayat sedikit penasaran. Tanpa pikir panjang kemudian ia menghampiri Kiai Endang dan keduanya berdialog seputar haji. Pertanyaan Haji Ayat yang dianggap cukup menohok oleh Kiai Endang adalah “Kiai Endang sudah berapa kali haji?”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Karena belum pernah haji, Kang Endang jawab apa adanya, ‘belum pernah sekali pun’," kata Kang Toto yang saat ini menjadi Ketua Pagarnusa Subang itu.

Ditambahkannya, Haji Ayat sedikit kaget karena belum pernah menunaikan ibadah haji tapi Kiai Endang mampu menjelaskan kegiatan ibadah haji dengan begitu detailnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Memangnya Kiai nggak mau berangkat haji?" Kata Kang Toto meniru pertanyaan Haji Ayat kepada Kiai Endang.

"Ya mau asal semuanya ditanggung Pak Haji Ayat," jawab Kiai Endang saat itu dengan nada bercanda.

Ternyata, tambah Kang Toto, Haji Ayat meresponnya dengan serius dan menjanjikan akan membiayai Kiai Endang untuk menunaikan ibadah haji berikut semua keperluan selama haji dengan catatan apabila tanah yang saat itu sedang dipromosikan laku di atas 300 juta.

Beberapa hari kemudian tanah milik Haji Ayat tersebut ternyata laku di atas 500 juta. Akhirnya Kiai Endang berangkat haji bersama delapan saudara Haji Ayat. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Amalan, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Pesantren Madinatul Ilmi Terima Hibah Buku dari Perpustakaan Nasional

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Kecamatan Pagelaran, Pringsewu, Lampung menerima Bantuan Hibah berupa Buku Bacaan dari Perpustakaan Nasional RI. Penyerahan bantuan buku tersebut dilakukan oleh Perwakilan Perpusnas RI dan diterima langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren tersebut KH Muhammad Nur Aziz, Senin (24/7).

Menurut Kiai Aziz, ada sekitar 500 judul buku yang dihibahkan kepada Pesantren yang saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat ini. "Berbagai judul buku bacaan Bantuan Hibah ini meliputi buku pendidikan formal, keagamaan, kesehatan, wirausaha dan sejenisnya," jelasnya.

Pesantren Madinatul Ilmi Terima Hibah Buku dari Perpustakaan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Madinatul Ilmi Terima Hibah Buku dari Perpustakaan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Madinatul Ilmi Terima Hibah Buku dari Perpustakaan Nasional

Ia menyampaikan ungkapan terimakasih dan rasa syukurnya atas hibah tersebut. Ia juga berharap bantuan tersebut dapat memberikan mafaat maksimal di Pesantren asuhannya tersebut.

"Mudah-mudahan dengan adanya berbagai macam buku ini dapat meningkatkan minat baca dikalangan santri," harap Wakil Katib Syuriyah PCNU Pringsewu ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan bahwa saat ini Pesantren Madinatul Ilmi terus mengembangkan berbagai fasilitas pendukung untuk terwujudnya sebuah perpustakaan Pesantren yang unggul. Kedepan Ia berharap akan memiliki Perpustakaan yang lengkap dan berbasis Komputer dan Internet.

Bantuan buku ini juga menjadi selaras dengan berbagai program peningkatan kualitas para santri selama ini. Saat ini lanutnya, selain mengembangkan Pondok Pesantren Salafiyyah dengan konsentrasi Kajian berbagai macam kitab kuning, Pesantren tersebut juga sudah memiliki Lembaga Pendidikan Formal.

Di pesantren tersebut saat ini sudah berdiri Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pendidikan Madinatul Ilmu atau SMK YAPEMI. Sebagian para santri Pondok Pesantren tersebut menjadi pelajar di Sekolah tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dengan keberadaan buku ini mudah-mudahan dapat menunjang peningkatan kualitas para siswa SMK YAPEMI yang masih satu lokasi dengan Pesantren ini," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menhimbau kepada pemerintah daerah untuk tidak memfasilitasi kelompok radikal.

“Contohnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat Kabupaten dan kota, tidak sedikit pengurusnya berasal dari kelompok Islam radikal. Bukan hanya itu, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah, juga berasal dari kleompok radikal,” papar Ketua PCNU Sukoharjo, M. Nagib Sutarno, saat memimpin rapat pleno PC NU Sukoharjo, Minggu malam (16/9).

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Imbau Pemerintah Daerah Tak Fasilitasi Kelompok Radikal

Terlibatnya kelompok Islam radikal di beberapa institusi keagamaan dan sosial itu, diduga ada beberapa penyebab. pertama Muspida (Bupati, Wakil Bupati, Kepolisian dan Kodim) belum memahami peta kondisi sosial keagamaan di masyarakat.  Contoh kasus, selama dua tahun belakangan ini  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sukoharjo mengisi pengajian penghantar buka puasa di radio siaran pemerintah daerah (RSPD). Setelah diprotes oleh NU, baru pihak pemerintah sadar bahwa, visi misi HTI bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa institusi lain seperti Masjid Agung, Masjid di IPHI, dan Masjid di lingkungan Kodim, dijadikan sebagai tempat dakwahnya kelompok Islam radikal, yang setiap harinya  menjelek-jelakan Republik Indonesia, Negara thogut, pemerintahan kafir, dengan berbagai semboyan, rakyat sejahtera bersama khilafah. “Tapi anehnya eksekutif diam,”tegas Sutarno.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, Muspida memahami kondisi sosial, tapi lemah dan kalah. ” Pemerintah daerah lemah dan kalah, bisa jadi karena beberapa factor diantaranya kepentingan politik.” Dikatakan Sutarno, pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah daerah, sekarang ini sudah banyak yang bergabung dalam komunitas Islam radikal. Bukan hanya itu, kata Tarno, pihak tentara juga sudah disusupi kelompok Islam radikal. 

Contohnya, Perpustakaan Kodim yang seharusnya berisikan buku-buku tentang empat pilar kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, tapi anehnya, papar Tarno buku-buku jihad, terorisme karya Imam samudra dkk, yang jelas-jelas bertentangan dengan NKRI mendapat tempat.

Keanehan Sutarno diamini oleh warga NU yang juga mantan anggota TNI, Mulyatno. Menurutnya, memang ada orang yang intervensi di tubuh tentara. ” Tentara kita sudah tidak sehat lagi, mudah diintervensi oleh pihak lain,” kata Mulyatno. 

Melihat persoalan tersebut pengurus MWC, Banom, Laznah dan lembaga NU Sukoharjo, mengharap kepada PC NU untuk melakukan silaturahmi dan dialog dengan Muspida. ”Kami berharap PC NU melakukan dialog dengan pihak eksekutif dan lembaga lainnya yang dianggap setrategis. Membicarakan tentang kondisi sosial kemasyarakatan Sukoharjo,” papar Kyai Ahmad Baidlowi.  

Acara rapat pleno juga, menunjuk H Shofwan Faisal Sifyan, selaku wakil ketua tanfizd, menggantikan sementara ketua PC NU Sukoharjo untuk waktu 50 hari, lantaran H Nagib Sutarno, menunaikan ibadah haji. Peserta rapat juga menunjuk Cecep Choirul Sholeh, sebagai ketua Tim Kartanu Kabupaten Sukoharjo. Tampak hadir diantaranya, KH Maksum Waladi, H Mustain Ahmad, dan perwakilan 12 MWC serta banom, laznah dan lembaga NU Sukoharjo.( Cecep Choirul Sholeh)

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Cecep Ainurrazaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Sebagai komitmen menumbuhkan kewirausahaan bagi kader, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Provinsi Lampung kembali menyalurkan satu set alat bekam (hijamah) bagi Pimpinan Anak Cabang Negeri Agung.

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

"Kami mengapresiasi pelaksanaan komitmen pimpinan cabang menyalurkan bantuan kemandirian bagi kader," ujar Ketua Ansor Negeri Agung Ahmad Nursalim di Blambangan Umpu, Rabu (15/3).

Peraturan Dasar (PD) Peraturan Rumah Tangga (PRT) Gerakan Pemuda Ansor berdasarkan Kongres GP Ansor XV di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, 2015 menegaskan bagaimana cara organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) ini mendapatkan pendapatan dengan cara mandiri. Usaha halal dan sah, yaitu usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syara dan atau hukum negara diperbolehkan dilakukan Pemuda Ansor.

PC GP Ansor Way Kanan memiliki program Halal (Hijamah/Bekam Sambil Beramal). Upaya itu diwujudkan dengan melatih kader hingga menyalurkan peralatan bekam bagi PAC Rebangtangkas, Pakuan Ratu, Negara Batin dan Negeri Agung.

Tidak hanya itu, rangkaian proses untuk mengelola input yang berasal dari supplier sehingga menghasilkan output agar customer puas atau biasa dikenal dengan istilah SIPOC juga diberikan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Alat tersebut nantinya akan kami serahkan bagi kader di Kampung Kalipapan. Pimpinan cabang meminta kami fokus di satu kampung," ujar Nursalim menjelaskan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penyerahan secara simbolis dilakukan Bendahara Ansor Way Kanan, Abdullah Candra Kurniawan kepada Sekretaris Ansor Negeri Agung, Jumadi. (Malikaisa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Sunnah, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Untuk yang kedua kalinya penghargaan Santripreneur Award digelar Rumah Enterprener Indonesia (REI). Di tahun yang kedua ini REI menggandeng Kemenkop dan UKM RI, serta memilih lokasi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaksanakan berbagai rangkaian acara Santripreneur Award.

“Alhamdulillah, di tahun 2016 ini REI, tidak hanya menyelenggarakan Santripreneur Award saja untuk yang kedua kalinya, namun berbagai acara atau event santripreneur. Di antara rangkaian acara ada Santripreneur Expo, Training Santripreneur, serta Santripreneur Award 2016,”jawaban singkat dari Direktur Utama REI M. Choirul Anam melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahad (11/9). Acara yang berlangsung di akhir bulan September 2016 ini akan dilaksanakan di Jogja Expo Center (JEC) dengan tema “Semarak Santripreneur Indonesia”.

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Menurutnya, santripreneur merupakan generasi baru yang lahir dari tingginya semangat berwirausaha di kalangan santri. Santri yang dimaksud disini merupakan santri yang mukim atau alumnipondok pesantren maupun warga negara Indonesia? yang mempunyai hubungan keislamandengan pondok pesantren atau kiai.

KH Ahmad Sugeng Utomo selaku Pembina REI mengatakan, sekarang ini santri harus bangkit dalam bidang ekonomi. Santri tidak melulu berkecimpung di ilmu agama saja untuk mengembangkan agama Allah. Penguasaan di ranah ekonomi juga perlu untuk ditaklukkan guna menjadi santri yang alim dalam agama, bermoral dalam perilaku, mapan dalam mentalitas, cakap dalam berbisnis, dan berdedikasi dalam karya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santri yang notabene adalah sebagai pemerkokoh dan penerus bangsa, lanjut dia, diharapkan bisa mengikuti santripreneur untuk mendapatkan pengetahuan lebih tentang dunia kewirausahaan, terlebih untuk santri yang sudah memiliki usaha bisa mengikuti acara santripreneur award dengan mendaftar di website resminya yaitu www.santripreneur.co.id.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santripreneur sebagai wadah berkumpulnya santri-santri yang berwirausaha diharapkan lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan mengikuti Training Santripreneur yang merupakan salah satu rangkaian acaraSantripreneur Award.

Training yang bertemakan “Pelatihan Wirausaha Pemula” pihak REI mendatangkan narasumber dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia dan beberapa pengusaha dari Yogyakarta maupun Nasional.

“Harapan kami acara Santripreneur Expo dan Training untuk santripreneur bisa mendatangkan manfaat bagi peserta khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya”, tambah KH Ahmad Sugeng Utomo.

Rangkaian acara “Semarak Santripreneur 2016”akan berlangsung selama 3 hari yaitu pada tanggal 27-29 September 2016. Untuk hari pertama akan ada Training Santripreneur, beberapa Talkshow (“Santri Belajar Sehat” dan “Polisi Bersama Santri”), dan kompetisi Stand Up Comedy“Santri untuk Negeri” untuk hiburan para pengunjung.

Hari kedua juga ada Talkshow yang salah satunya bertemakan “Satu Jam Bersama Menteri Ketanagakerjaan; Bincang UU Ketanagakerjaan” dan malamnya ada Santripreneur Fashion Show. Berlanjut di hari ke-tiga,akan ada Talkshow Inspiratif “Pengusaha Santri Mendunia: Menguak Dunia Bisnis Ekspor & Impor”dan malamnya yaitu acara puncak “Awarding” untuk santripreneur yang lolos seleksi.

Berdasarkan informasi dari panitia, untuk pendaftaran santripreneur expo dibuka mulai 1-20 September 2016 dengan persyaratan yang sudah tertera di web resminya santripreneur. Sedangkan peserta untuk acara Training Santripreneur bisa diikuti oleh santri, mahasiswa, pengusaha pemula, serta umum. Berbeda lagi untuk peserta Santripreneur Award, peserta harus memiliki usaha dan mendaftarkan usahanya di website resmi santripreneur dengan kategori usaha Industri, Perdagangan & Jasa, kategori Boga, dan kategori Kreatif.

Pendaftaran santripreneur award untuk tahun 2016 ini, akan berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 16 September 2016. Peserta yang lolos seleksi berkas akan ditindaklanjuti berupa verifikasi lapangan, dan penjurian akhir oleh dewan juri. Setelah proses tersebut peserta yang lolos akan mengikuti penyerahan hadiah dan pemberian tropy pada malam puncak penghargaan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Umat Islam yang terkena musibah banjir diharapkan tetap menjaga kebersamaan. Jangan sampai merusak rasa persatuan dan ukhuwah yang sudah terbina sebelumnya. Bencana yang menimpa hendaknya dapat dijadikan evaluasi diri sehingga mampu meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang Yulter Ardi mengatakan hal itu ketika menyerahkan 70 paket bantuan kepada korban banjir di Kelurahan Mato Aia Kecamatan Padang Selatan, Sabtu (25/6) di halaman musalla Hasanah.

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Menurut Yulter, bencana banjir yang terjadi pada Senin (22/6/2016) lalu hendaknya dapat lebih meningkatkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Bencana tidak selalu harus kita ratapi. Tapi bagaimana kita mengambil hikmah. Kita jadikan momen mengevaluasi diri. Mungkin selama ini banyak kemungkaran yang sudah dilakukan dan lalai dari perintah Allah Swt," kata Yulter Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Yulter, paket yang diserahkan kepada 70 kepala keluarga, berisikan gula, minyak goreng, beras, selimut, mie? dan sirup. "Walaupun tidak banyak, kita berharap dapat meringankan beban masyarakat yang terkena banjir.? Karena keterbatasan, memang tidak semua warga yang terkena banjir yang dapat diberikan paket bantuan. Untuk itu, kepada warga yang tidak mendapatkan, kita harapkan bersabar. Mudah-mudahan ada rezeki dari yang lain," harap Yulter. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini menilai bahwa Narkoba merupakan salah satu ancaman nyata di depan mata yang mengancam generasi muda bangsa.

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Elemen Harus Bersatu dalam Melawan Narkoba

“Saya sangat miris membaca pemberitaan-pemberitaan yang di sana menyebutkan bahwa bandar Narkoba sudah melakuakan regenerasi untuk pecandu. Mereka menyasar anak-anak kecil seusia SD saat ini,” ujar Helmy, Senin (2/10) di Jakarta.

Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menjadikan pemberatasan Narkoba sebagai agenda penting yang mendesak. Jika genarasi muda rusak, maka negara dalam ancaman serius.

Dalam pandangan Helmy, setidaknya tiga elemen harus bersatu memerangi Narkoba. Pertama, lembaga pendidikan. Sekolah, misalnya, harus lebih bekerja keras untuk menanamkan karakter bagi generasi muda. Jika karakter sudah terbangun dengan baik, maka Insyaallah generasi muda kita akan selamat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Demikian juga untuk elemen kedua yakni keluarga. Keluarga memiliki peranan penting untuk memgarahkan anaknya agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat.

Ketiga, lanjut Helmy, pemerintah dalam hal ini melalui BNN. Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk menyusun langkah cerdas, utamanya yang bersifat preventif. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ketiga elemen itu jika bersatu, insyaAllah bangaa kita akan berhasil dalam perjuangan yang disebut sebagai "jihad melawan narkoba,” tandas Helmy. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso menggelar tasyakuran kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 Tahun dengan mengadakan Pelatihan Ekonomi Kreatif.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan para mahasiswa Universitas Jember yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Balai Desa Pejaten, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (19/8). Pada kesempatan itu diselipkan pelantikan Pengurus Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk desa Pejaten.

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuri Kemerdekaan, GP Ansor Kota Bondowoso Gelar Pelatihan Ekonomi

Ketua PAC Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kota Bondowoso Mustakim mengatakan bahwa pelatihan ekonomi kreatif ini semata-mata ingin berupaya memberikan hal yang menjadi urusan keseharian anggota, yaitu bidang prekonomian.

Ia berjanji kepada para perserta pelatihan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan terus diadakan untuk meningkatkan ekonomi di desa itu.

Senada dengan Mustakim, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan, kegiatan semacam itu juga akan ditingkatkan Pimpinan Cabang dengan memfasilitasinya. Untuk tujuan itu, PC CP Ansor akan bersinergi dengan pemerintah melalui dinas terkait, baik dari Dinas Ketenagakerjaan maupun Diskoperindag.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Inssyaallah akhir bulan ini atau bulan depan Gerakan Pemuda Ansor akan melaksanakan palatihan ternak unggas yang akan dilaksanakan di balai latihan kerja kabupaten Bondowoso," terangnya.

Kegiatan semacam itu, menurut dia, adalah upaya Gerakan Pemuda Ansor berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.?

Edi Susanto yang mewakili Kepala Dinas Diskoperindag meminta GP Ansor untuk terus meningkatkan ekonomi anggota dan masyarakat secara umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami dari Diskoperindag selalu mendukung kegiatan-kegiatan Pemuda Ansor yang sesuai dengan tupoksi-tupoksi bagi kita," jelasnya pada kegiatan yang dihadiri Polsek Kota, Kades Pejaten, dan MWCNU Kota itu. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kendati bukan pilihan utama, namun madrasah masih menjadi pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Madrasah Tsanawiyah Asy Syafi’iyyah Jatibarang, misalnya, masih jadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Demikian disampaikan Kepala MTs Asy Syafi’iyyah Jatibarang H Akhmad Rosyidi saat berbincang dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di ruang kerjanya, Kamis (26/1).

Terbukti, lanjut Rosyidi, di madrasah tersebut mampu menggaet 764 siswa dan siswi pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Bahkan sempat mencapai rekor jumlah 1004 murid tahun 2004. “Kami juga mewajibkan seluruh keluarga besar madrasah maupun yayasan wajib memasukan anak-anaknya ke madrasah ini,” tuturnya.?

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Madrasah yang terletak di Jalan Raya Timur no 10 Jatibarang, Brebes memiliki 44 guru dan 16 TU. Sebanyak 33 guru sudah bersertifikasi dan 16 guru juga sudah impassing. Dari perjuangan keras para pejuang pendidikan, telah membuktikan prestasi akademik dengan meraih NEM tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Brebes atas nama Syaiful Alami pada ujian nasional 2015/2016 lalu.

Madrasah yang berdiri sejak Juni 1974 tersebut, pada awalnya menempati MI Asy Asyafi’iyyah di Jatibarang Kidul selama tiga tahun. Kemudian pindah lagi ke MI Asy Syafiiyah 2 di Jatibarang Lor. Lima tahun kemudian, baru mampu membeli tanah berikut bangunan kelasnya. “Alhamdulillah, sekarang memiliki tanah seluas 20.000 meter persegi,” ungkapnya.

Sekolah dibawah naungan Yayasan Asy Syafi’iyyah Jatibarang memiliki 23 rombongan belajar (rombel) dengan rincian Kelas 7 sebanyak 6 rombel, kelas 8 sebanyak 9 rombel dan kelas 9 sebanyak 8 rombel.?

Madrasah ini juga memiliki keunggulan berupa muatan lokal Baca Tulis Quran (BTQ), life skill tambal ban, membuat telur asin, memasak dan wira usaha lainnya. “Sebelum memulai pelajaran, para siswa membaca Asmaul Husna, dan setiap Jumat ngaji baca Al-Quran bareng,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menyinggung persiapan Ujian Nasional, Rosyidi menjelaskan, kalau madrasahnya belum bisa mengikuti UNBK karena siswa belum bisa menyesuaikan akibat dihapusnya mata pelajaran TIK. “Anak-anak banyak yang mahir pegang ponsel, tapi untuk mengoperasikan laptop maupun komputer,” ucapnya beralasan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekabupaten Brebes, kata Rosyidi baru empat MTs yang ditunjuk untuk UNBK. “Tapi kami menyanggupi baru tahun 2019,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Yayasan Turats Ulama Nusantara Galang Dana untuk Korban Gempa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Yayasan Turats Ulama Nusantara (TUN) turut serta melakukan penggalangan dana untuk korban gempa di Pidie Jaya, Aceh. Yayasan yang bergerak di bidang konservasi naskah karya ulama Nusantara ini melakukan penggalangan dana sejak Rabu (7/12). Yayasan ini rencananya akan melakukan penggalangan dana sampai Jum’at (16/12).

“Kami melakukan penggalangan dana sebagai wujud rasa solidaritas , dan berharap bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa bumi,” kata Koordinator Yayasan TUN Nanal Ainal Fauzi saat dihubungi via WA, Jumat (9/12).

Yayasan Turats Ulama Nusantara Galang Dana untuk Korban Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Turats Ulama Nusantara Galang Dana untuk Korban Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Turats Ulama Nusantara Galang Dana untuk Korban Gempa

Menurut Nanal, penggalangan dana dimotivasi oleh amanah hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk melapangkan kesusahan dunia dari seorang mukmin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Penggalangan dana untuk korban gempa dilakukan via medsos seperti Facebook dan What’s App. Alhamdulillah sampai hari ini Jumat (9/12) telah berhasil terkumpul dana sebesar 3.050.000,” kata pria berumur 21 tahun tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yayasan yang berpusat di Demak ini juga mengajak simpatisan TUN khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya agar menyisihkan rezekinya untuk membantu saudara-saudara korban gempa. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Pendidikan, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nabi Muhammad SAW bersabda tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Hadits ini disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri saat menjadi Khotib Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (27/10).

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Langkah Mempererat Keimanan Menurut Gus Ali

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ini memang pendek tapi memiliki arti yang cukup luas. Pentingnya persatuan dan kesatuan bagi hidup berbangsa dan bernegara. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Berdamaian satu sama lain harus terus dilakukan. 

"Itu semua tidak akan teralisasi kalau tidak ada rasa kecintaan kepada seksama, ini yang pertama," tegas Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Kedua, keimanan tidak akan kokoh kecuali menghindari rasa dendam, rasa iri dan rasa dengki. Tapi dia harus memikirkan untuk orang lain dan mencintai orang lain. Ketiga, keimanan akan sempurna apabila kalian peduli terhadap sesama manusia, mencintai manusia kepada siapapun termasuk non-muslim.

Keempat berlombalah dalam mendapatkan kebaikan. "Ini adalah bagian kesempurnaan dari iman, sikap seperti ini merupakan bukti keimanan sesorang," terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelima, masyarakat harus memiliki hati yang bersih dan berwibawa. Hendaklah sesama muslim mendorong agar senantiasa berusaha membantu orang lain. kehidupan ini ibaratkan tubuh manusia, jika ada anggota tubuh yang sakit, niscaya anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan kesakitan.

"Ini bukti kesempurnaan dan mampu menciptakan manusia yang harmonis," ungkapnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, Nahdlatul, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. LAZIS NU Wilayah Yogyakarta bekerjasama dengan PCNU dan MWCNU Kotagede melaksanakan santunan kepada anak yatim dan lansia serta masyarakat setempat yang membutuhkan bantuan di dua tempat sekaligus pada Ahad pagi (12/07). 

Acara dilaksanakan pada pukul 8 pagi di pesantren Nurul Ummah Kotagede dengan memberikan paket sembako dan sejumlah uang dan dilanjutkan santunan berikutnya di pondok pesantren Ulul Albab Balerejo. Hadir pada rangkaian acara ini Imam Priyono, selaku wakil walikota Yogyakarta sekaligus pembina Ansor Wilayah Provinsi DIY. Hadir pula Ketua PCNU kota Yogyakarta H A Yubaidi yang memimpin acara dengan diawali dzikir dan sholawat bersama.

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia

Yubaidi juga menyampaikan harapannya agar LAZIS NU kota Yogyakarta dapat menjadi lembaga yang memiliki integritas tinggi dalam pergerakannya di bidang zakat, infak, dan sedekah.

 

KH Munir Syafa’at selaku rais syuriyah PCNU kota Yogyakarta juga menuturkan bahwa LAZIS NU Kota Yogyakarta sangat dibutuhkan masyarakat untuk menyalurkan zakatnya maupun infak atau sedekah untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. (Failashuf/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 10 November 2017

Ulama Lampung Usung Islam Moderat dan Berkesimbangan

Bandarlampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung mengangkat gagasan Islam moderat, setara, dan berkeadilan? dalam forum Musyawarah Daerah Ke-IX di Komplek Islamic Center Bandarlampung. Selama dua hari Senin-Selasa (9-10/4) mereka membahas berbagai permasalahan yang muncul di tengah masyarakat khususnya perihal toleransi dan kesetaraan.

Tema ini diapresiasi oleh Wakil Sekretaris MUI Pusat Amirsyah Tambunan saat memberikan pengarahan di depan peserta yang terdiri atas unsur MUI Provinsi, MUI Kabupaten, ormas, utusan pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Ulama Lampung Usung Islam Moderat dan Berkesimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lampung Usung Islam Moderat dan Berkesimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lampung Usung Islam Moderat dan Berkesimbangan

Amirsyah mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh memiliki pemikiran ekstrem dan kaku. "Jangan ekstrem kiri atau ekstrem kanan. Tunjukkan sikap washatiyah yang diangkat pada Musda kali ini," harapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Salah satu peserta yang juga Ketua MUI Pringsewu KH Hambali berharap ke depan MUI mampu menjadi pengayom umat untuk beragama dengan baik.

"Sekarang ini banyak paham dan aliran sesat serta keras yang cenderung radikal. MUI harus hadir untuk melunakkan aliran yang keras ini," tegas Hambali yang juga Wakil Ketua NU Pringsewu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Paham transnasional yang cenderung kaku dan tidak toleran dalam beragama sudah mulai menggerogoti para pelajar dan generasi muda yang sangat labil dalam pemahaman agama.

"Dengan tema yang mengangkat sikap moderat kita harapkan Musda MUI ini dapat menjadi salah satu solusinya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, Hadits, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan

Diantara amal ibadah yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak shadaqah. Karena sesungguhnya shadaqah yang paling utama adalah shadaqah di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah saw.

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?

Dar Anas r.a, dikatakan: "wahai Rasulullah s.a.w, shadaqah apa yang nilainya paling utama?" Nabi s.a.w, menjawab: "Shadaqah di dalam bulan Ramadhan" (Hadit Shahih, riwayat al-Tirmidzi).

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan

Apalagi jika shadaqah itu berupa makanan yang ditasharufkan (dipergunakan) sebagai bahan berbuka puasa. Maka pahala seperti pahala orang yang berpuasa. Demikian keterangan rasulullah saw.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siapa yang memberi makanan orang yang sedang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut. (Hadits Shahih, riwayat al-Tirmidzi). (Red. Ulil Hadrawy)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pemurnian Aqidah, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat

Kecintaan Allahuyarham Mbah Muntaha sapaan akrab KH. Muntaha Al-Hafizh Kalibebeber Wonosobo terhadap Al-Qur’an tak dapat diragukan lagi. Hampir seluruh usianya dihabiskan untuk menyebarkan dan menghidupkan Al-Qur’an. 

Yang Paling monumental adalah gagasannya membuat mushaf Al-Qur’an Akbar (Al-Qur’an Raksasa) dengan tinggi 2 meter, lebar 3 meter dan berat 1 kuintal lebih. Sebuah karya mahaagung yang sempat dikala itu diusulkan masuk ke Guiness Book Of Record.

Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat

KH Muntaha al-Hafizh lahir di desa Kalibeber kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo dan wafat di RSU Tlogorejo Semarang, Rabu 29 Desember 2004 dalam usia 94 tahun. Ada beberapa keterangan berbeda tentang kapan tepatnya Mbah Muntaha Lahir. 

Pertama, ada yang mengatakan Kiai Muntaha lahir pada tahun 1908. Kedua, ada pula yang menyatakan bahwa Kiai Muntaha lahir pada tahun 1912. Hal ini didasarkan pada dokumentasi pada KTP / Paspor dan surat-surat keterangan lainnya, Mbah Muntaha lahir pada tanggal 9 Juli 1912.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ayahanda Kiai Muntaha adalah putra ketiga dari pasangan KH. Asy’ari dan Ny. Safinah. Sebelum Kiai Muntaha, telah lahir dua kakaknya, yakni Mustaqim dan Murtadho.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejak kecil hingga dewasa, Kiai Muntaha menimba banyak ilmu dari sejumlah Kiai Pesantren. Sebelum itu, Kiai Muntaha mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya, KH. Asy’ari dan Ny. Safinah. 

Lahir dalam keluarga Pesantren, Kiai Muntaha banyak memperoleh didikan berharga dari Ayah dan Ibundanya seperti membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman.   Kedua orang tuanya memang dikenal sangat telaten dan sabar dalam mendidikan putra-putrinya.

Selanjutnya dari Kalibeber, Kiai Muntaha memulai perjalanan menuntut ilmunya ke berbagai Pesantren di tanah air. Kiai Muntaha sebagaimana umunya santri dizaman itu berkenala untuk mencari ilmu dari Pesantren ke Pesantren berikutnya.

Ada satu hal sangat menarik berkaitdan dengan proses pencarian ilmu Kiai Muntaha saat masih muda. Ketika Kiai Muntaha berangkat menuntut ilmu ke Pesantren Kaliwungu, Pesantren Krapyak, dan Pesantren Termas, ia selalu menempuh perjalanan dengan cara berjalan kaki. Melakukan riyadhah demi mencari ilmu semacam itu dilakukan Kiai Muntaha dengan niatan ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu. 

Di setiap melakukan perjalanan menuju Pesantren, Kiai Mutaha selalu memanfaatkan waktu sambil mengkhatamkan Al-Qur’an saat beristirahat untuk melepas lelah. Kisah ini menunjukkan kemauan keras dan motivasi spiritual yang tinggi yang dimiliki Kiai Muntaha dalam mencari ilmu.

Setelah berkenalan dari berbagai Pesantren, Kiai Muntaha kembali ke Kalibeber pada tahun 1950. Ia kemudian meneruskan kepemimpinan ayahnya dalam mengembangkan Al- Asy’ariyyah di desa kelahirannya, Kalibeber, Wonosobo.Di bawah kepemimpinan Mbah Muntaha inilah, Al-Asy’ariyyah berkembang pesat. Berbagai kemajuan signifikan terjadi masa ini.

Dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, KH. Muntaha adalah pribadi yang bersahaja. Mbah Muntaha sangat sayang kepada keluarga, santri dan juga para tetangga, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat

Kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an sebenarnya berawal dari kecintaan ayahandanya , Kiai Asy’ari terhadap Al-Qur’an. Dalam usia relatif muda yakni 16 tahun, Kiai Muntaha telah menjadi hafizh Al-Qur’an. 

Hampir seluruh hidup Mbah Muntaha didedikasikan untuk mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada para santrinya dan juga pada masyarakat umumnya. 

Dalam kesehariannya, Mbah Muntaha selalu mengajar para santri yang menghafalkan Al-Qur’an. Para santri selalu tertib dan teratur satu per satu memberikan setoran hafalan kepada Kiai Muntaha. Mbah Muntaha  selalu berjuang untuk menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada santri-santrinya.

Sepanjang hidup Mbah Muntaha, Al Qur’an senantiasa menjadi pegangan utama dalam mengambil  berbagai keputusan, sekaligus menjadi media bermunajat kepada Allah Swt. Mbah Muntaha tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an. 

Sering Kiai Muntaha mebaca wirid atau membaca ulang hafalan Al-Qur’an di pagi hari seraya berjemur. Menurutnya, wirid dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Itulah sebabnya, Kiai Muntaha menasehati para santri untuk mengkhatamkan Al-Qur’an paling tidak seminggu sekali.

Kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an juga diwujudkan melalui pengkajian tafsir Al-Qur’an, dengan menulis tafsir maudhu’i atau tafsir tematik yang dikerjakan oleh sebuah tima yang diberi nama Tima Sembilan yang terdiri dari sembilan orang ustadz di Pesantren Al-Asy’ariyyah dan para dosen di Institut Ilmu Al-Qur’an (sekarang UNSIQ) Wonosobo. Gagasan Kiai Muntaha tentang penulisan tafsir ini mengandurng maksud untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada masyarakat luas.

Dan puncak realisasi kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an ditunjukkan dengan perealisasian idenya tentang penulisan Al-Qur’an dalam ukuran raksasa yang sering disebut dengan Al-Qur’an akbar utuh 30 juz.  

Al-Qur’an akbar itu ditulis oleh dua santri Al-Asy’ariyyah yang juga mahasiswa IIQ yaitu H. Hayatuddin dari Grobogan dan H. Abdul Malik dari Yogyakarta.  Ketika penulisan Al-Qur’an akbar yang kertasnya merupakan bantuan dari Menteri Penerangan (H. Harmoko di kala itu) itu selesai, Al-Qur’an itu pun diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia di istana negara.

Mungkin Kiai Muntaha melihat banyak orang Islam telah meninggalkan Al-Qur’an, atau bahkan sama sekali tidak mau membaca Al-Qur’an, sehingga Mbah Muntaha tidak henti-hentinya menasehati anggota Hufadz wa Dirasatal Qur’an (YJHQ) untuk terus memasyarakatkan Al-Qur’an. Dakwah serupa juga selalu Mbah Muntaha sampaikan saat Beliau berkunjung ke berbagai belahan dunia seperti Turki, Yordania, Mesir dan lain sebagainya.

Dari hal-hal yang sudah disebutkan, menjadi jelas bahwa sosok dan pribadi Kiai Muntaha al-Hafidz adalah sosok sosok yang sangat mencintai Al-Qur’an secara fisik maupu nbatin. Seluruh hidupnya diperuntukkan untuk berdakwah menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an ke masyarakat.

 

Redaktur : Syaifullah Amin

(Disarikan oleh Inam Al-fajar dari buku KH. Muntaha Al Hafidz,  Pecinta Al Qur’an Sepanjang Hayat oleh Samsul Munir Amin). Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rais Aam Jamiyah Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) PBNU Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menyerukan agar umat Islam menguatkan lita‘arafu (saling kenal mengenal) untuk menangkal gerakan radikal. Namun tidak hanya kenal mengenal dalam artian secara lahiriah tetapi juga suasana kebatinannya.?

Hal tersebut disampaikan Habib Luthfi pada peringatan Maulud Nabi dan Haul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-27 di Kelurahan Kaligangsa Kulon, Brebes, Kamis malam (11/2/2016).

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Menurut Habib, pelaku teror membabi buta karena tidak mengenal dari mana dia dilahirkan dan ? hidup di daerah mana serta manfaat apa yang bisa dicurahkan untuk kemaslahatan umat. Keinginan kuat untuk menguasai dunia dengan dalih agama menjadikan mereka kalaf dan tidak santun dalam melakukan ‘dakwah’ versi mereka.?

Berbeda jauh dengan misi yang diemban para Walisongo, mereka mampu mengislamkan rakyat tanah Jawa dengan saling kenal mengenal. Mengenal kebudayaan, mengenal tradisi dan kebiasaan orang orang jawa dengan mengakulturasikan pesan-pesan Islam ke dalamnya. Penokohan pewayangan misalnya, mengispirasi tentang jatidiri, sifat kebaikan, jiwa mandiri, ketegasan dan kepiawaian berdiplomasi.

Habib juga mengiritisi jajaran pemangku kebijakan yang masih kurang turun ke bawah. Berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat belum terakomodir dengan baik. Kekuatan fungsi intelegen juga belum dilakukan secara maksimal dalam merangkul rakyat dan memenuhi keinginanya. “Sehingga ana godong obah weruh (ada daun bergerak pun tahu),” ungkap Habib.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekda Brebes H Emastoni Ezam yang mewakili Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak kepada masyarakat untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Pengejawatan akhlak Kanjeng Nabi akan membawa perubahan lahir dan batin dalam pembangunan daerah. Di samping itu, diimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dengan berbagai ajakan yang menggiurkan sementara akan menimbulkan masalah di kemudian hari.?

“Seperti yang dilakukan oleh Gafatar, dengan balutan peningkatan ekonomi ternyata menyelipkan ajaran yang menyesatkan umat,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Panitia Letkol Inf Efdal Nazra menjelaskan, pengajian Maulid Nabi digelar sebagai upaya meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Selain itu, untuk menjalin silaturahmi antara ulama, umara dan umat dalam rangka membangun bangsa dan Negara. “Dengan kekuatan yang maksimal antara ulama, umara dan umat, NKRI akan tetap tegak berdiri,” ujar Efdal Nazra yang juga Dandim 0713/Brebes.?

Turut memberikan tausiyah Habib Ali Zaenal Abidin yang juga mantan Walikota Tegal. Selain ribuan pengunjung yang tumpah ruah memenuhi pelataran Masjid Al Munawar juga terlihat ratusan TNI, Polisi dan Banser dengan pakaian kebesaran mereka turut mengunjungi pengajian. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 04 Oktober 2017

Kiai Said: Melukis Manusia dan Binatang Tidak Haram

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebagian umat Islam menganggap bahwa melukis manusia atau binatang hukumnya haram. Pendapat semacam itu memang betul karena pada teks-teks klasik Islam menyatakan haram. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad.

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, melukis manusia dan binatang diharamkan ketika Islam sedang tumbuh di zaman masyarakat Arab menyembah berhala. Diharamkan demi menjaga akidah masyarakat yang baru masuk Islam dari ingatan dan kebiasaan masa sebelumnya yang menyembah berhala.

Kiai Said: Melukis Manusia dan Binatang Tidak Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Melukis Manusia dan Binatang Tidak Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Melukis Manusia dan Binatang Tidak Haram

Alhukmu yadduru ma’a illatihi, hukum itu ditentukan dengan faktor sebabnya. Mengapa lukisan manusia atau binatang haram? Karena orang Arab atau sahabat baru saja meninggalkan zaman penyembahan berhala,” jelas Kiai Said selepas membuka pameran tunggal Sang Kekasih karya pelukis Nabila Dewi Gayatri di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (8/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketika Kiai Said ditanya jika sebabnya itu telah hilang, apakah berarti saat ini melukis manusia dan binatang dibolehkan? “Ya, iya, iya,” jawabnya dengan tegas. “Hadits yang melarang lukisan itu memang ada, tapi konteksnya waktu itu, baru saja meninggalkan pengkultusan terhadap berhala. Nah, sekarang tidak ada lagi illat itu,” jelasnya. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut, pameran lukisan adalah bagian dari kegiatan kebudayaan. Dan budaya sangat penting untuk menunjang agama.

“Budaya harus dijadikan sebagai infrastruktur agama. Jangan dibalik agama untuk budaya, untuk ekonomi, untuk kepentingan politik. Budaya untuk agama itu yang benar. Makanya budaya perlu diperkuat,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta.

Pada Muktamar ke-33 NU di Jombang bertema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia, panitia menggelar pameran lukisan dari berbagai pelukis dari bermacam latar belakang di Jogjakarta Nasional Museum (JNM) Yogyakarta dengan tajuk “Matja”.

Di kalangan NU sendiri terdapat beberapa pelukis yang dikenal dengan kiai atau keluarga kiai. Misalnya Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri, KH D. Zawawi Imron, putra Rais ‘Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat, Acep Zamzam Noor, juga Nabila Dewi Gayatri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 September 2017

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit

Manusia adakalanya mengalami sakit. Ia mesti bersabar sambil berobat secara medis. Ia perlu meminta doa dari orang-orang saleh untuk kesembuhannya. Tetapi ia juga harus memohon kesembuhan dari Allah SWT. Ia sendiri juga dianjurkan untuk membaca doa berikut ini untuk tubuhnya yang sakit.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bismillâh, bismillâh, bismillâh. U‘îdzuka bi izzatillâhi wa qudratihi min syarri mâ ajidu wa uhâdziru (dibaca tujuh kali). As’alullâhal ‘adhîma rabbal ‘arsyil ‘adhim an yasyfiyaka (dibaca tujuh kali).

Artinya, “Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan (dibaca tujuh kali). Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkanmu (dibaca tujuh kali),”(Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Selain itu ia disunahkan membaca surat Al-Fatihah, Qulhu, Al-Falaq, An-Nas pada tubuh yang sakit. Itu semua merupakan ikhtiar manusiawi sebagai bentuk kefakiran manusia kepada pencipta-Nya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 26 Juli 2017

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Memasuki tahun baru hijriyah, kompleks pemakaman Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dipadati para peziarah. Bahkan mereka harus mengantre untuk sekadar berdoa di depan makam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan sesepuh lain di pemakaman tersebut.

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Hijriyah, Makam Tebuireng Banjir Peziarah

Menurut data yang dihimpun satpam penjaga gerbang makam, David, peziarah sudah mencapai 10.000 orang.? Lonjakan peziarah dimulai sejak Kamis (23/10) yang bertepatan dengan malam Jumat legi. “Jumat kemarin itu legian Mas, ditambah Suroan ini, jadi ya 10.000 itu wajar,” ujar David.

Para peziarah datang dari berbagai daerah di Jawa, seperti Mojokerto, Surabaya, Gresik, Kendal, Brebes, Pati, bahkan ada dari luar Jawa, seperti Bengkulu dan Lampung. “Kita dari (ziarah makam) Wali Songo nggak afdhol sebelum ke Gus Dur,” terang H Mansyur, pimpinan rombongan peziarah dari Brebes.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jalanan depan Tebuireng juga menjadi macet total. Bus-bus yang parkir di jalanan panjangnya mencapai sekitar 300 M, dari Perempatan Cukir sampai Pertigaan Seblak. “Itu belum ditambah dengan yang parkir di depan Masjid Ulil Albab dan yang masuk di Pondok,” ungkap Sodiq (40), tukang parkir Wisata Religi Makam Tebuireng. “Total sekitar 3000 mobil juga ada, kalau hitungannya sejak Kamis kemarin,” tambanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lonjakan tersebut juga berakibat positif bagi para tukang parkir, pedagang Pasar Gus Dur, dan para penyedia jasa kamar mandi dan pengisian baterai telepon genggam. “Ya, beberapa hari ini dagangan meningkat, untuk persennya kami masih belum bisa memastikan sekarang. Karena belum berakhir,” ungkap Ibrul, pedagang buku lorong makam Gus Dur. Diperkirakan peziarah akan terus bertambah sampai Ahad ini (26/10). (Abror/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Warta, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 16 Juli 2017

Madrasah NU Ajarkan Pentingnya Kebersamaan dalam Beragama

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 

Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo mengajarkan anak didik akan pentingnya menjaga kebersamaan antar umat beragama, khususnya di daerah Bojonegoro. Siswa-siswi madrasah itu diajak mengunjungi kantor Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro, Jawa Timur, pada Rabu siang (25/9).

Madrasah NU Ajarkan Pentingnya Kebersamaan dalam Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah NU Ajarkan Pentingnya Kebersamaan dalam Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah NU Ajarkan Pentingnya Kebersamaan dalam Beragama

Sekitar pukul 10.00 WIB anak-anak usia 8-9 tahun tiba di kantor FKUB di jalan Trunojoyo No 7 Bojonegoro. Mereka disambut Hasan Bisri yang siang itu mengenakan batik khas Jonegoroan. Dengan ramah ia mempersilakan anak-anak tersebut memasuki ruang tamu kantor yang berada diselatan alun-alun tersebut.

Tatanan kursi yang berderet rapi dalam aula kantor FKUB tersebut “diserbu” anak-anak mungil dengan ceria. Mereka antusias menerima pemaparan dan penjelasan pentingnya kerukunan dalam beragama di kota ledre ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Susanti, salah satu staff FKUB/Paguyuban Umat beragama (PUB) mewakili agama Kristen mengenalkan kebersamaan dan menjaga kemajemukan umat beragama di Indonesia. Menurut dia, mengajarkan kerukunan kepada anak-anak usia dini sangat penting. 

Karena, kata dia, merekalah calon-calon penerus dan penentu bangsa Ini, khusunya masa depan Bojonegoro. Selain itu, setiap orang yang beragama tidak seharusnya saling ejek-menghina satu sama lain karena dari sanalah muncul bibit perpecahan dalam kerukunan beragama 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Siapapun orangnya, berapapun umurnya hendaknya paham betul akan arti kebersamaan dalam beragama sehingga tercipta kerukunan dalam bermasyarakat,” timpal kak Doni perwakilan pemuda dari PUB.

Dengan mengunjungi kantor FKUB Bojonegoro banyak hal baru yang bisa didapat dan dijadikan sebagai referensi anak-anak didik dalam pembelajaran. Pembelajaran yang tidak mungkin didapat hanya melalui penjelasan/praktik dikelas. 

Setelah mendapatkan pemaparan dan banyak penjelasan dari staf-staf FKUB, anak-anak didik MINU yang siang itu mengenakan seragam Batik Maarif bisa mengerti akan pentingnya menjaga kebersamaan dan menghargai teman/orang lain. 

“Ternyata hadist Nabi benar lho yang menganjurkan kita saling menghormati umat lain sebagaimana dijelaskan oleh bapak-bapak tadi!” tutur Wanda yang siang itu paling antusias dengan tidak henti-hentinya mengacungkan tangan ketika ada sesion tanya jawab.

Di sela-sela kunjungan tersebut, dilakukan penyerahan cinderamata dari pihak MINU kepada para staff FKUB.”Ini merupakan pengikat dari kami bahwa kami juga bangga memiliki para pejuang kebersamaan yang sudah memparkan banyak hal kepada anak-anak calon penerus masa depan bangsa ini,” kata Muarifah, guru pendamping.

Kegiatan tersebut adalah rangkaian kunjungan studi karya MINU Sumberrejo. Kegiatan Ini diawali dari kantor Pos Indonesia, PMI, FKUB dan diakhri di gedung DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat daerah Bojonegoro). (Ahsanul Amilin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Nasional, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock