Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Kenapa Saya Ditolak?

Alkisah ada seorang Ustadz yang isi ceramahnya bermuatan provokatif sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Dampaknya, si Ustadz ditolak di mana pun dia hendak berceramah.

Dalam keheningan, si Ustadz merenung. Dia bertanya-tanya kenapa dirinya sampai ditolak oleh masyarakat. Padahal ia hanya bermaksud menyampaikan apa yang dipahaminya.

Dalam keheningan tersebut, si Ustadz bertemu dengan seorang bernama Kholid yang sedang melintas tepat di hadapannya. Ia memanggil Kholid untuk sekadar curhat tentang persoalan yang sedang menimpa dirinya.

Kenapa Saya Ditolak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Saya Ditolak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Saya Ditolak?

“Lid, kenapa yah masyarakat sampai hati menolak saya,” terang si Ustadz sambil menatap tajam Kholid penuh harap agar mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.

“Saya nggak menolak Pak Ustadz yang memanggil saya barusan,” kata Kholid diplomatis.

“Terus kenapa mereka menolak saya?” tanya si Ustadz penasaran akan jawaban Kholid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya lihat Pak Ustadz mengajak saya untuk mencari solusi permasalahan. Kira-kira seperti itulah hendaknya dalam berceramah. Mengajak untuk mencari jalan keluar sebuah masalah, bukan malah menimbulkan masalah,” tukas Kholid yang direspon si Ustadz dengan mata terbelalak.

“Kok jadi kamu yang menceramahi saya?” seloroh si Ustadz.

“Lah, terus kenapa Pak Ustadz menolak ceramah saya?” jawab Kholid dengan balik bertanya kepada si Ustadz.

Akhirnya, mereka ngeloyor pergi tanpa mendapat jawaban dari pertanyaan yang disampaikannya masing-masing. “Kenapa saya ditolak?” kata mereka terus bergumam dalam hati.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Oleh: Sahal Japara

Pemimpin yang adil merupakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan “tiket khusus” masuk ke dalam naungan Allah, hari di mana tiada naungan selain naungan-Nya. Ia layak mendapatkan jaminan tiket khusus naungan dari Allah, karena kemampuannya menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi semua rakyat. Semua merasakan keteduhan dan kesejahteraan, ketika bernaung di bawah kekuasaannya, lantaran tidak ada kedzaliman dan kelaliman.?

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Akar Keadilan Pemimpin Menurut Imam Al-Ghazali

Pemimpin adil adalah pribadi yang mampu mengemban amanah, menunaikan tugas dan kewajiban, memberikan hak-hak kepada orang-orang yang semestinya mendapatkan, memudahkan orang-orang yang sedang kesulitan dan kesusahan, serta menegakkan hukum sama rata tanpa pandang bulu kepada semua golongan. Sejarah membuktikan, banyak bangsa lestari disebabkan oleh karena sikap adil pemimpinnya. Sebaliknya, banyak bangsa menjadi hancur karena sikap dzalim pemimpinnya. Mengutip kata Imam Al-Ghazali: “Im?rat ad-duny? wa khar?buh? min al-mul?k”, bahwa kelestarian dan kehancuran dunia sangat ditentukan oleh para penguasa.?

Dalam kitab Tibr Masb?k fi Nash?hat al-Mul?k (Logam Emas yang Terpahat; Nasehat Bagi Para Raja), Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan sepuluh macam akar yang bisa menumbuhkan pohon dan membuahkan sikap adil bagi para pemimpin, yaitu:

1. Tahu Manfaat dan Bahaya Kekuasaan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akar pertama yang bisa mengantarkan seorang pemimpin menjadi adil adalah tahu secara mendalam tentang manfaat dan bahaya daripada kekuasaan. Pada dasarnya, kekuasaan merupakan anugerah dan karunia dari Allah yang diberikan kepada para pemimpin. Semua yang terpilih menjadi pemimpin semata-mata hanya atas izin dan kuasa-Nya. Kekuasaan yang dimiliki pemimpin adalah amanah yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Sebuah amanah yang, langit-langit, bumi, dan gunung-gemunung enggan untuk memikulnya. Amanah yang bisa menaikkan pengembannya ke derajat tertinggi, sekaligus mampu menjatuhkannya ke jurang kesengsaraan abadi. Pemimpin yang amanah akan bahagia dan selamat. Sebaliknya, jika khianat, tiada yang didapat kecuali sengsara dan laknat. Sebagaimana halnya sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil. Dan manusia yang paling dibencinya adalah pemimpin yang lalim.”?

Dengan mengetahui manfaat dan bahaya kekuasaan, seorang pemimpin akan memiliki sifat khauf (ketakutan) dan raja’ (harapan). Khauf, kalau-kalau ia menjadi pemimpin yang lalim. Khauf, kalau-kalau ia mendapatkan laknat. Khauf, kalau-kalau kelak di hari kiamat, Allah tidak berkenan melihatnya. Khauf, kalau-kalau ia dipersiapkan tempat duduk di neraka. Khauf, kalau-kalau Baginda Nabi SAW tidak berkenan memberikan syafa’at kepadanya.?

Dan raja’, agar senantiasa diberikan kekuatan menjadi pemimpin yang adil. Raja’, supaya Allah berkenan menurunkan rahmat. Raja’, supaya Allah selalu berkenan melihat dan membimbingnya. Raja’, supaya ia dipersiapkan tempat duduk di surga. Raja’, supaya Baginda Nabi SAW berkenan memberikan syafa’at kepadanya.

Pengetahuan mendalam tentang manfaat dan bahaya kekuasaan, yang dikuatkan dengan sikap khauf-raja’, akan mendorong seorang pemimpin menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi diri dan teliti dalam setiap perkataan, tindakan maupun kebijakan yang ia tetapkan. Sebab, ia tahu betul bahwa segala yang berkaitan dengannya, akan memberikan implikasi baik ataupun buruk terhadap rakyatnya. Oleh karena beratnya beban dan implikasi yang lahir dari segala sikap pemimpin, Baginda Nabi SAW memperingatkan, bahwa sesiapa yang memimpin sepuluh orang saja, kelak di hari kiamat akan datang dengan keadaan tangan terikat di leher. Jika ia beramal shaleh terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan terlepas satu. Dan jika ia beramal buruk terhadap satu orang yang dipimpinnya, maka ikatannya akan ditambah satu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. Selalu Rindu Nasehat Para Ulama

Akar kedua dari sepuluh akar yang bisa menumbuh-buahkan keadilan adalah selalu rindu nasihat para ulama. Yang dimaksud ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ikhlas, yang tidak berkata dan tidak bertindak kecuali hanya karena Allah SWT semata. Bukan ulama’ s?’, yang selalu mendekat dan memuji para penguasa hanya karena mengejar-ngejar dunia. Nasehat ulama yang suci hati dan bening fikirannya ini akan menuntun para pemimpin menjadi imam yang adil bagi rakyatnya.?

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Aziz, khalifah Bani Umayyah yang terkenal adil dan sederhana, seringkali meminta nasehat para ulama yang memiliki hati tulusa dan ikhlas. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz menghadap kepada Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi untuk meminta nasihat, seraya berkata: “Syekh, jelaskan kepada kami, apakah adil itu?” Kemudian Syekh Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi menjawab: “Siapa saja yang lebih tua darimu, jadilah anaknya. Siapa saja yang lebih muda darimu, jadilah ayahnya. Siapa saja yang sepadan umurnya denganmu, jadilah saudaranya. Hukumlah orang-orang yang bersalah setimpal dengan perbuatannya. Berhati-hatilah engkau! Jangan sampai engkau memukul orang karena rasa bencimu kepadanya, sebab hal itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api neraka.”

3. Tidak Terima dengan Segala Macam Bentuk Kedzaliman

Akar ketiga yang bisa membuahkan sikap adil adalah tidak terima dengan kedzaliman, bagaimanapun bentuknya. Seorang pemimpin harus memiliki sikap ini, dan menanamkannya kepada segenap bawahan, ajudan dan para pembantunya. Pemimpin harus mampu menjauhkan dirinya dan para pembantunya dari perilaku dzalim sekecil apa pun. Andaikata ia mampu berlaku adil dan menjauhi kedzaliman, namun ternyata para ajudan dan pembantunya justru bertindak dzalim dan sewenang-wenang, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban dan turut menanggung dosa atas perilaku dzalim pembantunya, manakala ia hanya mendiamkannya saja. Dalam kitab Taurat tertulis bahwa, sebuah perilaku dzalim yang dilakukan oleh seorang bawahan, yang diketahui dan didiamkan pemimpinnya, maka kedzaliman itu akan dinisbatkan kepada sang pemimpin, dan ia akan mendapatkan siksa karenanya.?

Di antara contoh seorang pemimpin yang senantiasa berusaha menjauhkan dirinya dan segenap pembantunya dari sikap dzalim adalah Khalifah Umar bin Khathth?b RA. Khalifah Umar RA merupakan teladan ideal seorang pemimpin yang tidak rela dengan perilaku dzalim sekecil apa pun. Beliau senantiasa mengingatkan para pembantunya agar berlaku adil dalam mengemban amanah sebagai pelayan rakyat, sebagaimana yang tercermin dalam sebuah kisah, bahwa suatu ketika, Khalifah Umar bin Khathth?b RA menulis surat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari RA, yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur di Bashrah dan Irak. Dalam suratnya, Khalifah Umar RA berkata: “Ingatlah, sesungguhnya pemimpin yang paling sejahtera adalah yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Berhati-hatilah dengan sikap menyepelekan sesuatu, sebab para pembantumu akan meniru perilakumu. Sesungguhnya engkau (yang sedang memegang kekuasaan) laksana hewan ternak yang melihat padang hijau, lalu memakan rumput hingga banyak dan menjadi gemuk. Gemuknya hewan ternak lah yang menyebabkannya menjadi binasa. Dan karena kegemukannya itu, hewan ternak disembelih dan dimakan.”

4. Tidak Sombong (Takabbur)

Akar keadilan yang keempat adalah tidak sombong atau takabbur. Pada umumnya, pemimpin seringkali terjangkiti penyakit sombong. Mereka mengira bahwa kekuasaan dan rakyat ada dalam genggamannya, padahal segala kekuasaan mutlak pemberian Sang Maha Kuasa Allah M?likul ‘?lam. Sikap sombong yang muncul dalam diri seseorang bisa mengaburkan akal sehat dalam dirinya. Dan keadilan tidak akan mungkin lahir dari pribadi-pribadi yang hatinya masih diliputi kesombongan. Alih-alih menjadi adil, pemimpin yang memendam bibit kesombongan dalam dirinya justru akan menjadi pemimpin lalim, mudah marah, dan boleh jadi akan sampai pada sikap kejam terhadap siapapun yang melawannya.

Pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat rendah hati dan berusaha menjauhkan diri dari kesombongan. Dengan kerendahan hati, seorang pemimpin tidak akan menjelma pribadi yang lemah. Malah, ia akan menjadi pribadi kuat dan pemberani, karena telah mampu menaklukkan nafsu dan amarahnya. Sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW tatkala diceritai tentang seorang yang dianggap kuat dan pemberani lantaran selalu mampu untuk membanting lawannya: “Orang yang kuat dan pemberani adalah orang yang telah menaklukkan nafsunya, bukan yang membanting lawannya.”

5. Empati Terhadap Rakyat

Akar keadilan yang kelima adalah berempati terhadap rakyat. Yang dimaksud dengan empati terhadap rakyat adalah benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Bukan hanya sekedar bersimpati. Pemimpin yang memiliki rasa empati tinggi akan memperlakukan rakyatnya, sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Ia mencintai rakyatnya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin suka melakukan tindakan yang melukai rakyatnya, sementara ia juga merasakan luka yang sama ketika diperlakukan seperti itu, menurut Imam Ghazali, pemimpin yang demikian termasuk kategori pemimpin khianat yang tertipu oleh kekuasaan.?

6. Tidak Pernah Meremehkan Kebutuhan Rakyat

Akar keadilan yang keenam adalah tidak pernah meremehkan kebutuhan rakyat, meskipun terlihat sepele di mata seorang pemimpin. Kekuasaan bisa menimbulkan sifat takabbur, yang akan melahirkan ketidakpedulian terhadap nasib dan kebutuhan rakyat kecil. Semua kepentingan rakyat, baik yang nampak remeh maupun terlihat berat, harus selalu didahulukan oleh seorang pemimpin. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, pemimpin tidak diperkenankan menyibukkan diri dengan ibadah sunnah sampai-sampai lalai pada tugasnya untuk melayani kebutuhan rakyat.?

Sebagai contoh, suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz tengah menjalankan tugas melayani kebutuhan rakyatnya. Saat dhuhur tiba, Umar bin Abdul Aziz merasa letih dan ingin beristirahat. Beliau pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Saat hendak merebahkan diri, tiba-tiba anaknya berkata: “Hal apakah yang membuat ayahanda aman dari maut yang bisa jadi datang saat ini, sementara di depan pintu rumah ayah banyak kebutuhan rakyat tidak terurus karena kelalaian ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Kau benar anakku!” Beliau seketika bangkit dan bergegas kembali menemui rakyatnya.

7. Hidup Sederhana

Akar keadilan yang ketujuh adalah hidup sederhana. Seorang pemimpin tidak diperkenankan hidup glamor, foya-foya dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sudah semestinya, pemimpin memiliki sifat qan?’ah, yakni menerima dengan lapang dada pemberian Sang Maha Kuasa serta tidak berlebih-lebihan dalam men-tasharruf-kannya. Menurut Imam Ghazali, keadilan tidak akan ada manakala seorang pemimpin ? tidak mempunyai sifat qan?’ah. Hidup sederhana yang didasari sifat qan?’ah sangat dianjurkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Betapa banyak kisah dan teladan kesederhanaan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW memilih untuk mengikat perutnya dengan lipatan kain yang berisi batu untuk menahan rasa lapar, sampai-sampai para sahabat menangis tersedu-sedu saat mengetahui beliau dalam keadaan seperti itu. Rasulullah SAW memilih hidup sederhana, sementara andaikata beliau berdoa, dunia seisinya pun bisa berada dalam genggamannya. Inilah teladan kesederhanaan yang bisa mengantarkan pada sikap adil. Orang yang hidupnya sederhana tidak akan tertarik kepada gemerlap dunia seisinya. Sifat qan?’ah dan hidup sederhana dapat menjauhkan seorang pemimpin dari kehancuran. Teramat banyak kisah-kisah pemimpin terdahulu, yang kekuasaannya hancur lebur karena gaya hidupnya yang glamor dan foya-foya, sehingga lalai dalam mengemban amanah untuk membangun bangsa dan melayani rakyatnya. ? ?

8. Lemah Lembut Kepada Siapa Saja

Akar kedelapan yang bisa membuahkan keadilan adalah sikap lemah lembut terhadap siapa saja. Seorang pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu bersikap lemah lembut terhadap rakyatnya, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun profesinya. Lemah lembut bukan berarti lembek atau tidak tegas terhadap penegakan hukum. Lemah lembut adalah mengasihi sesama dan berperilaku sopan-santun kepada siapa saja. Tidak kasar, tidak mudah marah, tidak mudah membentak ketika sedang menghadapi rakyatnya. Jika ia melihat kesalahan dan kekeliruan, ia tetap menegakkan hukum setimpal dengan perbuatan pelakunya. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan pelaku kejahatan adalah salah satu bentuk ungkapan kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sebab, ia telah berusaha untuk berlaku adil kepada rakyatnya, baik kepada korban maupun kepada pelaku kejahatan dengan tidak menghukum melebihi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.?

9. Membahagiakan Rakyat dengan Hal-Hal yang Diperbolehkan Aturan Agama

Akar keadilan yang kesembilan adalah senantiasa berusaha membuat rakyat bahagia dan sejahtera, dengan menjalankan peraturan atau kebijakan yang masih tetap berada dalam koridor aturan agama. Tujuan adanya pemimpin adalah untuk mengatur dan melayani kebutuhan rakyat, sehingga seorang pemimpin dituntut mampu membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Ketika ia mampu membuat rakyatnya sejahtera, tentu rakyat akan mencintainya. Saat pemimpin dan rakyat saling mencintai, maka di situlah turun rahmat dan ridha Ilahi. Mereka akan menjadi sebaik-baik kaum, karena pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling ridha karena Allah. Sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Baginda Nabi SAW kepada para sahabat: “Sebaik-baik umatku adalah sekelompok orang yang mencintai kalian dan kalian juga mencintainya. Dan seburuk-buruk umatku adalah sekelompok orang yang memusuhi kalian dan kalian juga memusuhi mereka, yang suka melaknat kalian dan kalian juga melaknat mereka.” ?

10.? Tidak Menjual Agama untuk Mendapatkan Simpati Rakyat

Akar keadilan yang kesepuluh adalah tidak menjual agama untuk mendapatkan simpati rakyat. Pemimpin sudah semestinya berjuang untuk rakyat, membangun serta membawa kemajuan bagi bangsanya. Namun ia tidak diperkenankan menerjang aturan agama hanya untuk membuat rakyatnya bahagia dan sejahtera. Jika pemimpin hanya mencari simpati manusia, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Ridhann?s gh?yatun l? tudrak! Setiap perkara, mengandung pro dan kontra. Pun juga sikap, gaya, maupun kebijakan yang lahir dari seorang pemimpin, takkan pernah lepas dari pro dan kontra. Ini sudah menjadi sunnatullah. Karena, likulli ra’sin ra’yun, setiap kepala tentu pendapatnya beda-beda.?

Rasulullah SAW, seorang pemimpin ideal yang mampu adil terhadap siapa pun saja, masih ada yang membenci. Apalagi sekedar manusia biasa? Sudah barang tentu ada yang memuji dan ada yang mencaci. Maka seorang pemimpin tidak perlu khawatir kehilangan simpati dari rakyatnya. Jika ada yang benci kepada sikap adilnya, maka kebenciannya itu tidak ada artinya sama sekali terhadap pemimpin. Baginda Nabi SAW bersabda: “Barang siapa mencari ridha Allah hingga orang-orang marah kepadanya, maka niscaya Allah akan meridhainya dan manusia pun akan ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia hingga Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan semua makhluk akan memurkainya.”?

Sepuluh akar keadilan yang telah disebutkan di atas, bisa dijalankan oleh pemimpin, siapapun! Bukan hanya terkhusus untuk kepala negara, kepala daerah maupun pejabat-pejabat lainnya. Setiap orang ---sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW--- adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka setiap kita harus memiliki sepuluh akar keadilan yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, supaya pohon keadilan senantiasa tumbuh-kembang dan kokoh menancap dalam diri.





Penulis adalah? Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Oleh Abdullah Aniq Nawawi

Akhir-akhir ini Indonesia kembali memanas karena politik di Jakarta. Di saat bersamaan kaum santri sibuk menyiapkan peringatan Hari Santri. Ini lebih tinggi dari sekadar politik praktis semacam Pilkada sebab peringatan tersebut adalah mengingat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945, sebuah resolusi untuk mengusir penjajah. Maka? memperingatinya, setali tiga uang dengan bersyukur atas anugerah terbesar untuk bangsa Indonesia. Kita menyebutnya kemerdekaan.

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Di sini kita tidak akan membahas kemerdekaan dan peranan santri di dalamnya. Adalah hal yang dharuriy (wajib) bagi seorang santri untuk menjunjung tinggi nasionalisme dan cinta tanah air. Tengok saja jargon hubbul wathan minal iman yang terkenal itu. Itu bukanlah hadits atau ayat suci. Tetapi santri meyakininya sepenuh hati. Lebih dari itu santri merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain itu bukanlah sesuatu yang nadzariy (sebatas teori) belaka. Itu adalah sesuatu yang tajribiy (telah dilaksanakan), dan sekali lagi Resolusi Jihad adalah contoh terbaiknya.

Apa yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad tentu lebih penting untuk diketengahkan di sini. Karena fikrah (pemikiran) apa sebenarnya yang membuat kita meyakini bahwa mencintai negara adalah bagian dari iman, dan berjihad membelayanya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi semuanya)? Bukankah tak ada hadits atau ayat suci yang secara eksplisit menerangkan itu? Tentu saja ada banyak jawaban. Mulai dari teori sederhana ushul fiqh yang menyebutkan al-wasilah laha hukmul ghayah. Yakni sebuah perantara sama hukumnya dengan hal yang dituju. Karena jika hifdz wa iqamat ad-din (menjaga dan mendirikan agama) adalah wajib, maka menjaga negara dengan tujuan itu tentu saja wajib.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tentu masih ada jawaban lainnya dari pertanyaan di atas. Tetapi hal yang paling menarik dari kasus ini adalah sikap NU (baca: santri) yang meyakini bahwa agama dan negara harus berjalan bergandengan. Sikap ini adalah semacam usaha mencari jalan tengah (tawassuthiyyah) di antara dua kutub yang terlalu berjauhan; yang satu adalah kutub kiri yang beranggapan bahwa nasionalisme adalah segalanya. Karena itu tak perlu mencampurkan agama di dalamanya. Dan kutub yang lainnya adalah kutub kanan yang menganggap bahwa agama adalah segalanya. Karena itu negara harus tunduk pada agama.

Di antara dua kutub ini NU mencoba hadir untuk memberikan jalan tengah. Bahwa agama dan negara tidak ada yang saling mengungguli dan keduanya harus berjalan beriringan. Sikap ini lahir dari prinsip penting yang dipegang NU. Prinsip itu disebut tawassuthiyyah (sikap mencari jalan tengah). Inilah yang membuat jargon hubbul wathan minal iman bukan hanya sekedar teori bagi Santri. Dan inilah yang –salah satunya- melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad yang terkenal itu. Inilah yang membuat kita bisa merasakan kemerdekaan sampai saat ini. Dan sesungguhnya perayaan 22 Oktober adalah perayaan atas prinsip tawassuth yang kita yakini selama ini.

Jika kita mundur ke belakang, sejak? pertama kali sejarah bermula, selalu ada dua kelompok ekstrem yang menghiasi roda perjalanannya. Dua kelompok ekstrem ini –ekstrem kanan dan ekstrem kiri- telah mewarnai berbagai macam ideologi yang ada, mulai dari politik, sampai keagamaan. Kitab suci setidaknya menulis bahwa ada dua kelompok yang terlalu kanan seperti malaikat, juga yang terlalu kiri seperti iblis yang pada akhirnya, kedua kelompok ini tidak dipilih Tuhan untuk menjadi khalifah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tuhan memilih manusia yang memang memiliki dua karakter di atas. Tuhan pada akhirnya lebih menyukai penengah dan penyambung dua kutub daripada mereka yang terlalu berlebihan. Ketika Nabi bersabda halaka al-mutanaththi’un (celakalah mereka yang terlalu berlebihan), sesungguhnya nabi sedang menekankan kepada kita bahwa sikap tawassuthiyyah sangatlah penting. Atau ketika beliau berkata kepada sayyidina Ali: “halaka fika itsnani, muhibbun ghalin wa mubghidhun ‘alin (celakalah mereka yang? mencintai atau membencimu secara berlebihan), ini sesungguhnya adalah penegasan bahwa mencari jalan tengah harus terus diupayakan.

Itu artinya memperingati 22 Oktober harus kita maknai sebagai memperingati anjuran ini. Perayaan Hari Santri lebih dari sekadar seremonial belaka, melainkan momentum di mana kita harus terus meyakinkan diri kita bahwa kita adalah pelaku utama dari sikap yang dianjurkan Islam, yaitu sikap yang membuat 22 Oktober layak dirayakan. Sekali lagi, itu adalah sikap tawassuth.

Tetapi sebagaimana tenaga ada habisnya, semangat itu pun terkadang ada redupnya. Dan sebagaimana makhluk tak pernah sempurna, selalu ada yang harus dibenahi bersama. Karena itu sangat perlu untuk terus mengingat, memperbarui, dan membenahi semangat ber-tawassuth kita. Itulah mengapa peringatan Hari Santri memiliki urgensi tersendiri untuk terus menjaga semangat ini tetap ada dan terwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya. Karena tugas utama dari setiap generasi adalah mempersiapkan generasi setelahnya.



Abdullah Aniq Nawawi, PCINU Maroko



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco mengajak hadirin lailatul ijtima’sekali sebulan untuk memandang nikmat hidup dari sisi lain. Gurutta Sanusi mengatakan bahwa banyak sekali nikmat selain kekayaan yang tidak disadari oleh manusia.

Demikian disampaikan Gurutta Sanusi pada lailatul ijtima’ di kediaman Mustasyar PWNU Sulsel Ir Agus Arifin Nu’mang jalan Yusuf Dg Ngawing, Makassar, Kamis (13/8).

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gurutta Sanusi: Nikmat Tidak Identik dengan Kekayaan

Di hadapan pengurus wilayah, cabang, dan beberapa pengurus lembaga serta badan otonom NU, Gurutta Sanusi mengungkapkan sesungguhnya nikmat tidak hanya identik dengan harta kekayaan, melainkan nikmat kesehatan adalah nikmat yang besar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kesehatan adalah mahkota. Tidak ada yang dapat melihat kecuali orang yang sakit,” kata Gurutta Sanusi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada kesempatan ini Gurutta juga menyinggung akhlak Nabi Muhammad terhadap keluarganya. Rasulullah SAW, kata Gurutta, tidak membawa jabatan dan kenabiannya ketika menemui istri, anak, dan cucunya. Sehingga, tidak ada yang membatasi sedikitpun dalam hubungan keluarganya.

Sementara istri Agus Arifin Nu’mang A Majdah M Zain atas nama keluarganya mengucapkan terima kasih atas pemilihan lokasi lailatul ijtima’ bulan ini di kediamannya.

"Selaku tuan rumah, kami berterima kasih atas ditunjuknya rumah kami untuk tempat berkumpul dalam momen lailatul ijtima ini, semoga membawa berkah," kata A Majdah. (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lebanon terbelah soal pengadilan terkait pembunuhan bekas Perdana Menteri Rafik Hariri yang dimulai Kamis (16/1) di Den Haag, Belanda.

Seorang akuntan di Beirut, Abu Marwan, 62, misalnya menilai pengadilan penting, agar "pelaku mengetahui bahwa mereka tidak akan lolos dari hukuman," katanya, seperti dilansir oleh laman deutsche welle.?

Sebaliknya pemilik supermarket, Ali Hamid menuding Israel dan Amerika Serikat sedang berkomplot menggerogoti kekuasaan kelompok Syiah, Hizbullah.?

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Panjang Lebanon Ungkap Pembunuhan Politik

"Hizbullah berperang melawan Israel dan mengusir tentara Israel dari selatan Lebanon. Karena itu mereka akan dihukum sekarang."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada 14 Februari 2005 konvoi kendaraan yang membawa Hariri meledak di jantung Beirut. Politisi Sunni berusia 61 tahun itu seketika tewas, bersama 22 orang lain. Komisi penyelidikan bentukan Dewan Keamanan PBB saat itu mengisyaratkan keterlibatan Suriah. Hasilnya, saat ini lima anggota Hizbullah didakwa secara in absentia. Kelompok Syiah itu menolak menyerahkan ke-lima terdakwa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Opini penduduk Lebanon terkait pengadilan Hariri mencerminkan afiliasi politik terhadap salah satu faksi. Abu Marwan yang bermadzhab Sunni adalah simpatisan "gerakan masa depan," yang didirikan oleh Rafik Hariri. Ali Hamid sebaliknya mendukung Hizbullah yang menolak pengadilan tersebut lantaran dinilai sebagai campur tangan barat terhadap politik dalam negeri Lebanon.

Konspirasi atau Balas Dendam

Lukman Slim adalah satu dari sedikit suara independen di Beirut. Menurutnya, pengadilan Hariri adalah sebuah terobosan dalam sejarah modern Lebanon. Terlepas dari dukungan politik, pengadilan itu menurut Slim membawa angin segar ke dalam budaya politik Lebanon, yakni prinsip tanggungjawab.?

"Saya bahagia bisa mengalami momentum semacam ini dan melihat bagaimana penduduk Lebanon bereaksi. Hal ini adalah sebuah ujian."?

Kendati begitu Slim pesimis, penduduk Lebanon bakal melihat pengadilan Hariri sebagai balas dendam, konspirasi atau instrumen politik yang akan memecah penduduk antara pelaku dan korban, Syiah atau Sunni.

Lukman Slim dan isterinya, Monika Borgman mengabdikan diri mengupas sejarah modern Lebanon. Situs "Memory at Work" adalah salah satu hasil kerja keduanya. Muatan terpanas berpusar pada pembunuhan beraroma politik di negeri cedar itu. Di dalamnya Slim dan Borgman membuat daftar pembunuhan selama satu dekade terakhir, Hariri adalah satu dari sekian banyak korban.

Sejak kemerdekaan hingga pembunuhan Hariri, Lebanon selalu berhasil menyingkirkan isu pembunuhan politik, kata Slim. Tapi dengan dimulainya pengadilan di Den Haag, pembunuhan politik tidak lagi bisa ditutupi.

Secercah Harapan

Pembunuhan Rafik Hariri mempengaruhi perkembangan politik di Lebanon. Awalnya demonstrasi spontan yang muncul usai kematiannya terkesan mampu memaksakan reformasi politik. Penduduk kala itu menuntut pembubaran sistem konvensional.

Lebanon menganut sistem pemerintahan unik karena undang-undang mengatur pembagian kekuasaan secara ketat. Cuma politisi Kristen saja yang misalnya bisa menjabat Presiden. Sementara jabatan perdana menteri dipegang oleh Islam Sunni dan ketua parlemen diserahkan kepada kelompok Syiah.

Aksi demonstrasi tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Revolusi Cedar

Lebanon kala itu tenggelam dalam debat panas soal legitimasi senjata Hizbullah pasca penarikan pasukan Israel dari Lebanon Selatan tahun 2000. Selain itu Beirut juga meributkan keberadaan tentara Suriah dan reformasi politik. Lukman Slim sendiri cendrung menyebut aksi protes itu sebagai "karnaval ala Lebanon."

Perseteruan dua Faksi Politik

Meskipun salah satu tuntutan demonstran, yakni penarikan mundur pasukan Suriah dari Lebanon, sudah terpenuhi, tapi sebagian besar kecewa. Pasalnya gerakan untuk mereformasi sistem politik dan pemilu mengalami kegagalan.

Rafik Hariri buat kebanyakan warga Lebanon adalah simbol pembangunan kembali pasca perang saudara (1975-90). Sebagai pengusaha dan politikus, ia mendorong pembangunan infrastruktur di Lebanon. Buat kaum Sunni, Hariri adalah pemimpin.

Hampir sembilan tahun setelah kematiannya, Lebanon masih menghadapi perpecahan antara Sunni dan Syiah. Di samping pengadilan Hariri di Den Haag, perang di negeri jiran Suriah juga menciptakan ketegangan di Beirut. Stabilitas politik tampaknya belum akan berjejak dalam waktu dekat. (mukafi niam)

Foto: CNN

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Akankah kau minta aku kembali bergerak

Sementara kakiku masih mencari pijakan kokoh pada jejakmu.

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Belum selesai sedu-sedanku, namun kau begitu cepat berkilatan dan aku pun terengah-engah mengejarmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Pesonamu meruntuhkan tembok tebal yang ku bangun di jiwaku, dan bisikanmu menembus semuanya.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Bagaimana kalau kau kembali memelukku saja? Agar kutumpahkan air mata ini pada bahumu yang penuh berkah.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Aku mencintaimu. Sungguh. Oh Muhammadku. Bawa aku bersama langkahmu.

Kuala Lumpur, akhir Juli 2017

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Malang menggelar Jagongan Nahdliyin, besok (21/08) di Aula Kantor NU Kota Malang. Kegiatan tersebut mengundang pembicara  Zuhairi Misrawi.

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Ada Jagongan Nahdliyin di Lakpesdam Malang

Kongkow bertajuk “Lini Gerakan Radikalisme Islam dan Peran Konstruktif NU Untuk Islam Indonesia” sengaja disuguhkan di tengah maraknya gerakan-gerakan radikal yang mulai santer merebak di Kota Malang.

“Kita sebagai Pemuda sekaligus pemikir NU perlu mengkaji hingga akarnya, dengan membincang bersama pakar yang satu ini, kami berharap substansinya mengena dan membuka ruang piker para Intelek kita untuk menangkis gerakan-gerakan brutal yang dapat merusak Islam Indonesia kita,” papar Mahphoer, pakar Psikolog sekaligus Dosen UIN Maliki Malang saat ditemui di Kantor NU, Jl. KH. Wahid Hasyim 21 Malang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak pelak, penggagas acara juga menyampaikan respon beberapa pemuda NU baik dari Pengurus Lakpesdam ataupun dari Aktivis IPPNU, PMII Kota Malang merespon apik. Beberapa diantaranya bahkan bersedia menjadi relawan demi suksesnya acara ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara Jagongan Nahdliyin akan dimulai pukul 18.00-selesai, “Semua sudah Ready, tinggal eksekusi besok” pungkas Mahphoer. (Diana Manzila/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor dan Fatayat NU Sumberejo menggelar beberapa perlombaan. Kegiatan untuk menyemarakkan pelantikan itu diselenggarakan di kompleks Lembaga Pendidikan Maarif NU MINU Walisongo Desa Sumuragung Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro, Ahad (18/9).

"Lomba ini diadakan dalam rangka pelantikan bersama PAC Ansor dan Fatayat pada 25 September," kata Sekretaris Panitia Ahsanul Amilin kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

Beberapa perlombaan yang diadakan diantaranya lomba paduan suara, dai atau daiah, baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dijelaskan, perlombaan dai atau daiah diikuti peserta se-Kabupaten Bojonegoro dengan dewan juri diambil dari profesional dan panitia, termasuk dewan juri lomba baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja. "Tetapi untuk lomba kreasi hijab syari ala aswaja, peserta membludak dari perkiraan. Yang diperkirakan hanya 50an peserta tapi bertambah sampai 90 peserta," jelasnya.

Sementara itu untuk lomba paduan suara atau mars Fatayat, hymne fatayat dan lagu wajib nasional terbaru Subhanul Wathonkarya KH Wahab Chasbulloh. Lomba tersebut melibatkan ratusan peserta karena diikuti semua Ranting Fatayat NU se-Kecamatam Sumberejo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Para peserta berdandan busana resmi Fatayat hijau-hijau. Masing-masing ranting berkelompok atau beregu, satu regu terdiri dari 10 sampai15 orang," ungkap Amilin sapaan akrabnya.

Ditambahkan, dari hasil tersebut untuk lomba dai juara satu diraih Hanum Faizah Rahma dari santri siaga pondok pesantren at tanwir, berikutnya Allayya Ayu Nikmatul F menjadi juara kedua dari Talun Sumberejo dan Lilik Nur Indah Sari dari Tulungagung Sumberejo sebagai juara ketiga. Sedangkan pemenang lomba puisi juara satu diraih Lilik Nur Indahsari dari Tulungrejo, juara kedua Benang Sari siswi SMK Semenpinggir Kapas dan juara ketiganya diraih Reza Ali Widiawati dari Kayulemah.

Sementara itu untuk pemenang lomba kreasi hijab, juara satu dimenangkan Ranting Pekuwon I, juara duanya Ranting Margoagung dan juara ketiganya dimenangkan santri siaga Pondok pesantren At Tanwir Talun. Untuk lomba kreasi hijab diikuti berkelompok terdiri dari tiga orang. "Hadiah lomba diserahkan saat pelantikan di balai kecamatan sumberejo," imbuhnya.

Saat pelantikan nanti akan dirangkai dengan dialog kepemudaan bertema Bangkit bersama Ansor dan fatayat NU Sumberrejo. Rencanaya akan dihadiri narasumber ketua DPRD Mitroatin, Wakil Ketua DPRD Sunjani dan mantan Ketua Ansor Khisbullah. (M. Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Pondok Pesantren, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

Akal Sehat Kreatif dan Akal Sehat Kolektif Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. “Vitalitas pesantren kalau disimpulkan adalah akal sehat kreatif dan akal sehat kolektif. Akal sehat kolektif menjadi penting juga setara dengan akal sehat kreatif. Seorang santri tidak hanya mementingkan diri sendiri. Jadi, ada kebersamaan,” tegas D Zawawi Imron dalam Pidato Kebudayaannya di Aula PBNU lt.8, Rabu (28/3).

Akal Sehat Kreatif dan Akal Sehat Kolektif Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Akal Sehat Kreatif dan Akal Sehat Kolektif Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Akal Sehat Kreatif dan Akal Sehat Kolektif Pesantren

Pidato Kebudayaan D Zawawi Imron, digelar dalam rangka merayakan setengah abad LESBUMI. Selain itu, pidato kebudayaan diadakan sebagai panggung apresiasi dan pengukuhan atas penganugerahan Sea Award 2012 diterimanya Februari lalu dari Kerajaan Thailand.

Akal sehat kreatif yang dimiliki pesantren akan melahirkan manusia-manusia unik. Keunikan manusia kreatif, turut membentuk dan mempengaruhi dunia dengan wajah kesenian nan indah di dalam koridor nilai pesantren.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ruang pidato kebudayaan, dibiarkan dalam keadaan gelap. Hanya 3 buah lampu yang berbeda warna, menyorot podium Celurit Emas, gelar bagi penyair D Zawawi Imron. Efek pencahayaan ini, menambah suasana artistik acara tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akal sehat kolektif gaya pesantren, membangkitkan kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama makhluk hidup. Nalar kolektif melahirkan tindakan positif terhadap manusia lingkungan sekitar. Nalar kolektif ini yang perlu digali lebih dalam.

Pidato kebudayaan berlangsung dengan penuh kejutan. Para hadirin kadang dikejutkan dengan khazanah humor khas Madura yang sangat kaya. Penyair, Celurit Emas kadang mengeluarkan kata-kata ampuh yang mengajak 300 lebih hadirin merenung.

“Kalau kecerdasan-kecerdasan pesantren dihidupkan kembali, insya Allah kita bangsa Indonesia akan bersemangat untuk hidup dan menghargai hidup sehingga hidup menjadi tak sia-sia,” ungkapnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 September 2017

Ketika Garuda Muda Tunjukkan Prestasi dan Kearifan Lokal di Prancis

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pemandangan tak biasa terjadi di Piala Dunia U-12 2016 yang diinisasi Danone Nations Cup (DNC) di Paris, Prancis. Garuda Muda Indonesia yang ikut bersaing dengan 400 anak dari 32 negara lainnya mampu menunjukkan prestasi dengan tetap menjujung tinggi kearifan lokal, yakni mencium tangan saat proses menyalami wasit di tiap pertandingan.

Foto yang memperlihatkan para punggawa Garuda Muda ketika mencium tangan wasit itu viral di media sosial. Hal ini berawal dari postingan akun twitter @awalsaptasaja bernama Awaluddin Saptarengg pada Sabtu (15/10) lalu. Postingan tersebut awalnya disebarkan melalui akun media sosial Path Awaluddin yang terkoneksi langsung dengan akun twitternya.

Ketika Garuda Muda Tunjukkan Prestasi dan Kearifan Lokal di Prancis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Garuda Muda Tunjukkan Prestasi dan Kearifan Lokal di Prancis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Garuda Muda Tunjukkan Prestasi dan Kearifan Lokal di Prancis

Sikap para punggawa Timnas U-12 memunculkan simpati dan kebanggaan tersendiri dari masyarakat Indonesia. Mereka memuji Garuda Muda yang tetap menunjukkan perilaku respect-nya kepada sang pengadil lapangan melalui cium tangan atau salim dalam istilah familiar masyarakat Indonesia.

Tak pelak perilaku para anak-anak Indonesia ini memunculkan beragam ekspresi dari wasit dan dua hakim garis ketika tangannya dicium. Hakim garis berambut agak pirang terlihat sumringah, wasit yang berada di posisi tengah terlihat tegak tanda penghormatan balik, sedangkan hakim garis yang satunya justru terlihat bingung melihat tingkah laku pasukan muda merah putih.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Tunas muda membanggakan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di ajang resmi FIFA tersebut, Tim asuhan Jacksen F. Tiago ini berada di Grup E bersama Italia, Korea Selatan, dan Afrika Selatan. Di babak penyisihan, Indonesia berhasil menjadi juara grup dengan mengalahkan Italia 2 gol tanpa balas, berbagi angka 2-2 melawan Korsel, dan menang tipis 1-0 dari Afrika Selatan.

Dengan kata lain, pasukan muda merah putih tak terkalahkan. Setelah menjuarai Grup E, Indonesia melanjutkan langkah ke Putaran 16 Besar (15/10/2016). Sayang ketika itu Indonesia kalah 0-1 dari Argentina. Kekalahan juga dialami Mulkan Hanif, dan kawan-kawan ketika menghadapi Meksiko dengan skor telak 5-0.?

Berbeda dengan turnamen sepak bola untuk usia dewasa, Piala Dunia Danone Nations Cup juga menggelar pertandingan untuk menentukan peringkat dari seluruh negara peserta. Pada pertandingan melawan Tunisia, Tim AQUADNC (Aqua Danone Nations Cup) Garuda Muda tampil lepas sehingga mampu mengungguli Tunisia 1-0.

Terkait kemenangan tersebut, Tim Garuda Muda bercokol di ranking 11 peringkat dunia Danone Nations Cup 2016. Peringkat Indonesia berada di atas negara-negara besar seperti Prancis (15), Uruguay (16), Portugal (19), Belanda (22), Inggris (24), dan juga Italia (31). Di Asia, Indonesia menjadi peringkat kedua terbaik setelah Jepang (2). Sementara perwakilan Asia lainnya berada dibawah Indonesia, Korea Selatan (20) dan Cina (27). Selamat Garuda Muda!

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 30 Juli 2017

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj

Lombok Timur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peringatan isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Pondok Pesantren Sirojul Ulum Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur, mendapat sambutan positif dari pemerintah kabupaten setempat. Wakil Bupati Lombok Timur H Khaerul Warisin mendorong warga terus melestarikan kegiatan serupa.

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj

Khaerul menyampaikan hal tersebut dalam acara Rajaban 1435 H di Pondok Pesantren Sirojul Ulum yang berada di Desa Mamben Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Kamis (29/5). “Kegiatan semacam ini merupakan tradisi keislaman yang harus dipertahankan sebagai ciri dari Islam Nusantara,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengaku memiliki perhatian besar terhadap pondok pesantren. Untuk tahun ini, katanya, telah dianggarkan sebesar Rp 11 miliar bagi pengembangan pondok pesantren se-Lombok Timur.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

H Ulumudin Akmal, salah seorang pengasuh Pesantren Sirojul Ulum menjelaskan, peringatan isra’ dan mi’raj menjadi agenda tahunan di Pesantren Sirojul Ulum setiap bulan Rajab. Kali ini kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan peringatan hari lahir Pesantren Sirojul Ulum yang ke-11 sekaligus haul sesepuh para pendiri Pesantren, almarhum Tuan Guru H Zainuddin Arsyad dan almarhum Tuan Guru Abdul Muin.

Selain Wakil Bupati Lombok Timur, hadir pula pada majelis ini Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lombok Timur H Imron Fauzi Haetami, serta para sesepuh NU Lombok Timur. Dalam kesempatan itu juga terdapat prosesi penyerahan Surat Keputusan Pengurus Besar NU nomor 353/A.II.04.d/04/2014 tentang Pengesahan PCNU Kabupaten Lombok Timur Masa Khidmah 2014-2019. (Darma Santosa/Mahbib)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Pondok Pesantren, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 12 Desember 2016

Doa Bersama, Pelajar NU Balen Refleksi Pendirian Nahdlatul Ulama

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Ke-90 Nahdlatul Ulama, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Balen memanjatkan doa secara bersama-sama di aula Majelis Wakil Cabang (MWCNU) Balen, Sabtu (30/1) malam. Di sini mereka merenungkan kembali pendirian NU hampir 1 abad lalu.

Kegiatan ini diikuti pengurus anak cabang dan ranting IPNU-IPPNU di tingkat desa. Tampak hadir beberapa alumni anak cabang IPNU-IPPNU Balen.

Doa Bersama, Pelajar NU Balen Refleksi Pendirian Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Bersama, Pelajar NU Balen Refleksi Pendirian Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Bersama, Pelajar NU Balen Refleksi Pendirian Nahdlatul Ulama

Mereka menggelar istighotsah dan shalawat nabi. Mereka juga berbincang-bincang perihal sejarah pendirian NU dan perjalanannya sampai sekarang ini. "NU didirikan oleh orang-orang pilihan, termasuk Mbah Hasyim Asyari," kata Pembina IPNU Balen Muhtarul Anam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Anam meminta seluruh kader NU, IPNU-IPPNU Balen untuk selalu mengadakan kegiatan. Pasalnya IPNU-IPPNU merupakan wadah kader sebagai penerus NU ke depan. "Kita semua ini nanti penerus NU, baik IPNU-IPPNU, maupun Ansor-Fatayat ke depannya menjadi penerus perjuangan NU," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Ketua IPNU Balen Irzami menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya mengadakan kegiatan ke depan. Termasuk mendirikan IPNU-IPPNU di seluruh ranting sebagai wadah kaderisasi NU di tingkat desa.

"IPNU-IPPNU tempat kita belajar bersama," jelasnya.

Tidak hanya di bidang keilmuan, tetapi keterampilan juga akan diajarkan. Sehingga kader-kader NU di Kecamatan Balen dapat terampil dan menjadi penerus NU yang amanah. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 20 November 2016

Kiai NU Kota Probolinggo, KH Romli Baqir Wafat

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus dan warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Probolinggo saat ini sedang berduka dan berkabung karena salah seorang panutannya, KH Romli Baqir, Jumat (6/1) dini hari pukul 00.30 WIB wafat pada usia 77 tahun. Kiai tersebut tercatat pernah menjadi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo.

Sejak kabar tersebut tersebar, rumah duka yang berada di Kelurahan Jrebeng Lor Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo banyak didatangi petakziah untuk menyampaikan ucapan belasungkawa sekaligus membacakan tahlil.

Kiai NU Kota Probolinggo, KH Romli Baqir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai NU Kota Probolinggo, KH Romli Baqir Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai NU Kota Probolinggo, KH Romli Baqir Wafat

Sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat serta pejabat Pemkab Probolinggo dan Pemkot Probolinggo turut hadir di kediaman almarhum yang juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI Kota Probolinggo tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari jajaran pengurus NU, hadir Rais PCNU Kota Probolinggo KH Azis Fadhol, Ketua PCNU Kota Probolinggo H. Muhammad serta sejumlah pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom se-Kota Probolinggo. Tidak ketinggalan pula sejumlah pengurus NU dari Kabupaten Probolinggo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan anggota DPRD Kota Probolinggo di masa Orde Baru ini lahir pada tahun 1940. Sebelum wafat, dia menderita sakit dan sempat dirujuk ke RSUD dr. Moch. Saleh Kota Probolinggo. “Kemarin (Kamis) beliau sempat dirujuk ke rumah sakit karena muntah-muntah,” ujar Abdul Hari, salah satu keponakan KH Romli Bakir.

Putra sulung KH Romli Bakir, Muhamad Izzul Islam saat ditemui di rumah duka terlihat sibuk menemui sejumlah petakziah yang datang ke kediaman almarhum. "Abah meninggal tadi malam. Terima kasih atas kedatangan dan doanya," katanya singkat.

Jenazah almarhum KH Romli Baqir akan dimakamkan di belakang Pondok Pesantren Raudlatul Hasaniah setelah shalat Jumat sekitar pukul 13.00 WIB.? (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Mei 2015

Islam Sebagai Sarana Character Building

Dalam membangun bangsa yang maju besar dan beradab, agama memiliki peran yang sangat besar. Sebagai organisasi sosial keagamaan, sejak dulu NU berperan sangat besar dalam mengayomi dan membangun masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. Hal itu tidak lain karena NU merupakan organisasi keagamaan yang dipimpin oleh para ulama, sementara tugas ulama selain liyatafaqqahu fiddin, mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas liyundziru qaumahum (membangun masyarakat) yakni membentuk kepribadian. 

Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, NU memiliki beberapa tugas pertama adalah pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat (character building) ini sangat penting agar lahir kader orang-orang  atau masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia dan terhadap bangsa dan Negara. Karena itu para ulama dan khususnya NU memiliki tugas kedua yaitu nation building (pembangunan bangsa). Dengan adanya pembantukan karakter (character building) itulah nation building (pembangunan bangsa) bisa dilaksanakan dan ini merupakan modal dasar bagi state building (membangun Negara). Dengan nation building ini maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani, karena memiliki kepribadian nasional yang kokoh, sehingga bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa beradab yang lain.

 

Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Sebagai Sarana Character Building (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Sebagai Sarana Character Building

Tugas ketiga adalah criticism buiding (membangun sikap kritis), ini sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana sering ditegaskan bahwa sikap NU terhadap negara taat mutlak bahwa negara harus dijaga dan dibela, tetapi terhadap pemerintah yang ada NU menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sementara dalam melakukan amar ma’ruf sendiri perlu menggunakan etika.

مَنْ كَانَ أَمْرُهُ مَعْرُوْفاً فَلْيَكُنْ بِمَعْرُوْفٍ

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Barangsiapa mengajak kebaikan maka dengan cara yang baik pula).

 

NU akan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang adil dan benar, tetapi NU akan mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang tidak benar dan tidak adil bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

 

Sikap kritis NU dalam mendukung atau mengkritik pemerintah ini didasari oleh pertimbangan etis, bukan oleh pertimbangan politis, karena itu akan dilakukan terus walaupun NU bukan partai politik tetapi organisasi keagamaan yang memang memiliki tugas moral atau etis.

 

Kembali pada upaya character building dan nation building, ini merupakan langkah yang sangat mendesak saat ini, karena ini merupakan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini ketika sekolah dan lembaga pendidikan lain termasuk lembaga kebudayaan yang ada tidak melakukan tugas ini. Sementara gelombang globalisasi yang begitu besar menghancurkan sendi-sendi bangsa ini di semua sektor kehidupan, sehingga terjadi kemerosotan moral dan lunturnya karakter. Sementara NU sebagai organisasi keagamaan justru tidak pernah berhenti melakukan character and nation building ini.

 

Penanaman rasa cinta tanah air dan bangga terhadap sejarah serta peradaban sendiri itu dilakukan karena berdasarkan pertimbangan bahwa:

مَنْ لَيْسَ لَهُ اْلأَرْضُ لَيْسَ لَهُ تَارِيخ، وَمَنْ لَيْسَ لَهُ التَّارِيْخُ لَيْسَ لَهُ ذَاكْرَة

(barang siapa tidak memiliki tanah air dan tidak mencintai tanah air, maka tidak memiliki sejarah, barang siapa tidak memiliki sejarah maka tidak memiliki memori dan karakter).

 

Bagi orang atau bangsa yang tidak memiliki memori maka dia akan menjadi bangsa tidak memiliki karakter, dan bangsa yang tidak memiliki karakter akan kehilangan segalanya. Politiknya akan hilang, peradabannya akan merosot dan aset ekonominya pun akan dijarah bangasa lain akhirnya akan menjadi bangsa yang miskin dan tidak terhormat. Inilah pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air, dan karena itu tidak henti-hentinya NU menanamkan rasa cinta tanah air. Penegasan pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI ini merupakan bentuk paling nyata dari rasa cinta tanah air tersebut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dalam pengertian itulah agama ditempatkan sebagai unsur mutlak dalam nation dan character building.

Jakarta,   6 Juni 2012. M

               16 Rajab 1433 H

 

 

Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 16 Juni 2014

Upaya Lembaga Dakwah NU Lahirkan Dai yang Mumpuni

Bogor, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) kembali mengukuhkan peserta Pelatihan Kader Dai (PKD) pada Sabtu (3/11) di Pesantren Al Hikmah Bogor. Jumlah peserta yang dikukuhkan pada periode ini adalah tujuh puluh orang. 

Sekretaris LD PBNU KH Bukhori Muslim menuturkan, LD PBNU akan terus melahirkan dai dengan wawasan keagamaan yang moderat, mendalam, dan respnosif terhadap persoalan yang tengah di hadapi umat.

"LD PBNU terus berupaya mencetak dai dai," kata Kiai Bukhori.

Upaya Lembaga Dakwah NU Lahirkan Dai yang Mumpuni (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Lembaga Dakwah NU Lahirkan Dai yang Mumpuni (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Lembaga Dakwah NU Lahirkan Dai yang Mumpuni

Kiai Bukhori menjelaskan, dai alumni PKD PBNU berdakwah di semua lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat perdesaan di daerah-daerah pedalaman dan perbatasan,  perkotaan, bahkan internasional. Ada juga yang dikontrak PT Pertamina untuk berdakwah keliling Indonesia.

"Juga sudah ada yang di televisi," ucap Dosen UIN Jakarta itu. 

Dia mengatakan, untuk mencetak dai dengan kualitas yang mumpuni dan memiliki wawasan yang moderat tidak lah mudah. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Walaupun tantangan dan rintangan masih sangat berat, kita mohon pertolongan kepada Allah," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PKD LD PBNU dimulai sejak 2011. Sampai saat ini, alumni PKD LD PBNU sudah lebih dari seribu orang. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 25 Agustus 2013

Dinginkan Suhu Politik, Masyarakat Mesti Teladani Akhlak Para Kiai

Bogor, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam beberapa tahun terakhir, standar moral masyarakat mengalami penurunan signifikan. Apalagi saat media sosial semakin booming, masyarakat semakin tercabut dari akar sosial dan nilai-nilai adiluhung (mulia) yang diwariskan oleh para leluhur bangsa. Kondisi demikian menuntut masyarakat perlu meneladani akhlak luhur para kiai.

Demikian diutarakan oleh Pengasuh Pesantren Hidayatul Muqorrobin, Desa Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, KH Cecep Hamzah kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Rabu (13/12).

Dinginkan Suhu Politik, Masyarakat Mesti Teladani Akhlak Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinginkan Suhu Politik, Masyarakat Mesti Teladani Akhlak Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinginkan Suhu Politik, Masyarakat Mesti Teladani Akhlak Para Kiai

“Para kiai mencontohkan sikap yang lembut, santun, dan bijak sana dalam bersikap. Kiai biasanya hidup sederhana dan memiki kepribadian yang kuat berkat bimbingan para wali dan kekasih Allah,” ujar Cecep Hamzah.

Kiai yang pernah diamanaih A’wan Syuriyah PWNU Provinsi Sumatera Selatan ini mengungkapkan bila masyarakat dapat meneladani para kiai, suhu panas yang menyelimuti jagat politik Indonesia dalam dua tahun terakhir dapat didinginkan dan distabilkan.

“Ujaran-ujaran kebencian yang banyak bertebaran di medis sosial, harus dihentikan, karena bukan sebagai budaya bangsa ini,” ujar tokoh Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) wilayah Bogor-Depok.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebagai upaya mendorong transformasi masyarakat, melalui wadah Lajnah Bahsul Masail (LBM) PCNU Kabupaten Bogor, Kiai Cecep berupaya menularkan dan menyalurkan nilai-nilai positif serta keteladanan yang ditunjukkan para kiai.

“Kami di LBM NU Kabupaten Bogor maupun Himasal wilayah Bogor-Depok berupaya mengedukasi warga Nahdliyin Bogor dan masyarakat umum, agar belajar dari perjalanan hidup para kiai, sebagai contoh dalam kehidupan berbangsa bernegara,” pungkasnya. (Ahmad Fahir/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, IMNU, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 09 Januari 2013

Minimalisir Dampak, LPBI NU Gelar Workshop SOP Kedaruratan Bencana di Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melaksanakan Workshop Penyusunan Mekanisme dan  Standar Operasional Prosedur (SOP) Kedaruratan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 12-14 Desember 2017.

Workshop yang bekerjasama dengan Department of Foreign Affair and Trade (DFAT) Australia, pada program Penguatan Pemerintah Daerah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan Menuju Kedaruratan Bencana yang Cepat, Tepat dan Efektif berlangsung di ruang pertemuan BPBD Kabupaten Kudus. Adapun peserta terdiri dari berbagai unsur, diantaranya: Kodim, Polres, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan unsur masyarakat lainnya.

Minimalisir Dampak, LPBI NU Gelar Workshop SOP Kedaruratan Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Minimalisir Dampak, LPBI NU Gelar Workshop SOP Kedaruratan Bencana di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Minimalisir Dampak, LPBI NU Gelar Workshop SOP Kedaruratan Bencana di Kudus

Nur Yasin, Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, menyampaikan penyusunan SOP Kedaruratan menjadi hal yang sangat penting.

"Mengingat Kudus sangat rawan bencana, sebagaimana yang pernah terjadi awal 2014, yang mengakibatkan Kudus mengalami bencana banjir yang besar, dan terganggunya akses di wilayah pantura," kata Yasin, Selasa (12/12).

Berpengalaman dari kejadian di atas, lanjut Yasin, pelaksanakan pembangunan infrastruktur, dan juga workshop ini diharapkan agar keterpaduan dalam penanganan bencana di Kudus dapat terimplementasikan dengan baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Sarwa Pramana, Kalak BPBD Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa Jawa Tengah merupakan daerah yang memiliki rawan bencana yang tinggi.

"Dari total 34 kabupaten/kota, 22 kabupaten/kota berisiko tinggi, dan yang rendah hanya 1 yaitu Magelang, sisanya berisiko sedang," ujar Sarwa.

Melihat keadaan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi LPBI NU yang telah menfasilitasi program ini di Jawa Tengah. 

Selain penyusunan SOP Kedaruratan di tingkat kabupaten, LPBI NU juga mendampingi penyusunan Rencana Kontinjensi Banjir tingkat desa di kabupaten Kudus. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Hikmah, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 28 Mei 2012

Keluarga Maslahah Jadi Fondasi Ketahanan Bangsa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka menegaskan komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI dan martabat bangsa, Pengurus Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama menyelenggarakan seminar kebangsaan dan workshop modul dakwah dengan tema Keluarga Maslahah sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa.?

Seminar ini diselenggarakan pada hari Sabtu 3 Desember 2016 dan dilanjutkan dengan Workshop penyusunan Modul Dakwah hingga Ahad 4 Desember 2016 di Hotel Gran City Jl. Palputih 197 Senen Jakarta Pusat.?

Keluarga Maslahah Jadi Fondasi Ketahanan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Maslahah Jadi Fondasi Ketahanan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Maslahah Jadi Fondasi Ketahanan Bangsa

Hadir dalam acara ini beberapa narasumber yaitu KH Maman Imanul Haq Anggota DPR RI/Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Hj Badriyah Fayumi Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina, Andi Intan dari BNPT, dan Anggia Ermarini Ketua Umum Fatayat NU. Bimas Islam Kementerian Agama juga menjadi narasumber seminar kebangsaan ini.

Seminar diikuti oleh kurang lebih 150 peserta yang merupakan utusan dari Pengurus Cabang Fatayat NU se Jabodetabek dan Banten. Sementara workshop akan menghadirkan peserta dari Pengurus Wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan beberapa Pengurus Pusat. Kegiatan Seminar ini terselenggara atas kerjasama PP Fatayat NU dengan MPR RI.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam release yang dikirimkan ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Modul yang dihasilkan dari workshop yang difasilitatori oleh Nur Rofi’ah ini diharapkan akan menjadi buku panduan dalam melakukan pelatihan bagi ? daiyah-daiyah Fatayat NU yang tergabung dalam Forum Daiyah Fatayat NU, Fordaf.?

Modul tersebut memuat tentang bagaimana agar para daiyah mampu mengedukasi masyarakat tentang upaya membangun keluarga maslahah, keluarga yang memegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tangguh dan memiliki ketahanan menghadapi berbagai masalah kekinian seperti penyalahgunaan narkoba, pornografi, kekerasan, penyimpangan dan pelecehan seksual, bahkan gempuran paham radikalisme.

Mengapa keluarga maslahah? karena ketahanan bangsa akan teraih jika ketahanan keluarga terbentuk. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama dalam mendidik generasi penerus bangsa. Keluarga yang rapuh akan melahirkan generasi lemah. Membangun bangsa harus dimulai dari membangun keharmonisan keluarga karena langkah besar adalah kumpulan dari langkah-langkah kecil. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Daerah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 26 Agustus 2009

Ini Pesan Politik PCNU Malang

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang, HM. Bibit Suprapto, mengimbau kepada seluruh warganya di daerah Kabupaten Malang untuk senantiasa menggunakan akhlaqul karimah dalam berpolitik. Serta menuruti peraturan yang ditetapkan pemerintah secara bersungguh-sungguh.

“Pesan kami, supaya para caleg senantiasa mengedepankan akhlaqul karimah dalam berpolitik. Menjaga persatuan, mengikuti aturan-aturan pemerintah yang ada dan menjauhi money politic,” katanya, saat ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di kediamannya pada Jumat, 31 Januari.

Ini Pesan Politik PCNU Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Politik PCNU Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Politik PCNU Malang

Kami tahu, kata dia, politik uang saat ini sangat banyak terjadi, dan sangat sulit untuk dihindari. “Tapi bagi para calon dari NU, berangkat dari partai apapun, hindarilah politik uang,” pesannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga menekankan para politikus NU untuk menjaga persatuan, menenamkan persaudaraan (ukhuwah) diantara para kader yang berpolitik. Baginya, rumusan prinsip persaudaraan NU (ukhuwah nahdliyah) yang dirumuskan KH Ahmad Siddiq tahun 1985 silam itu sangat ampuh untuk mewujudkan persatuan Islam, bangsa, dan perdamaian dunia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita punya prinsip yang kita sebut sebagai ukhuwah nahdliyah, yang isinya dalah  ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah,” katanya.

Kalau ini diamalkan, kata dia, kekacauan antar para calon dari partai yang berbeda, tidak akan terjadi. Apalagi calon sesama NU-nya. (Ahmad Nur Kholis/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock