Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - KH Ahmad Nadhif Mujib (Gus Nadlif) menyatakan keprihatinan atas konten Aswaja yang beredar di internet saat ini. Menurutnya, banyak kelompok garis keras yang mengatasnamakan Aswaja di internet.

Demikian disampaikan Gus Nadlif saat memberikan pengarahan kepada ratusan Banser yang mengikuti Apel Siaga Banser Jepara di Pesantren Hadziqiyah Desa Gemiring Lor Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Sabtu (13/5) siang.

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Menurut instruktur nasional PP GP Ansor ini, jika mengklik kata “Aswaja” di internet, maka yang ditemukan 80 persen yang muncul adalah Aswaja palsu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Aswaja ‘palsu’ berada di halaman pertama, sedangkan Aswaja ‘asli’ di halaman belakang,” tegas Gus Nadlif.

Kenapa demikian? Kiai muda asal Pati Jawa Tengah itu menjelaskan, lantaran aswaja “palsu” yang berada di internet dibantu dengan mesin, menggunakan situs berbayar dan ada biaya yang cukup memadai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sedangkan aswaja ‘asli’ milik nahdliyyin situsnya tidak berbayar hanya menggunakan blogspot. Misalnya mengetik NU Jepara hanya di urutan 1344,” kata Gus Nadlif.

Secara jamaah NU adalah mayoritas. Tetapi di internet Aswaja NU termasuk golongan minoritas. Sekarang ini sudah zaman pencitraan. Jika hanya mengandalkan ikhlas, NU akan habis.

Maka, sudah saatnya NU turut pada zaman pencitraan itu. Di buku sejarah banyak yang menyatakan pemuda Surabaya adalah orang yang merobek bendera biru milik Belanda dan menjadi bendera Indonesia.

“Padahal ia adalah kang Syafi’i seorang Banser. Tidak mungkin ada yang berani naik ke tiang bendera, sedangkan di belakangnya ratusan bedil kecuali Banser,” pujinya.

Ia menyampaikan, pihaknya masih memutar otak agar Aswaja yang “asli” tidak terus-menerus di halaman belakang google.

Tampak sebagai komandan upacara pada apel akbar yang diikuti oleh ratusan Banser se-Kabupaten Jepara adalah Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq (Mbah Yatun).

Dalam amanat apelnya Mbah Yatun menyampaikan lima poin. Di antara poin yang disampaikannya ialah penolakan keras aliran dalam bentuk apapun yang hendak memecah belah bangsa.

Apel semakin gayeng saat diisi dengan yel-yel dan demo senam lantas oleh GP Ansor Jepara. Demo senam lantas tersebut merupakan salah kontingen yang menetapkan GP Ansor Jepara sebagai juara umum Kemah Bakti GP Ansor Jawa Tengah di Batang beberapa waktu lalu. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Indonesia, Negara dengan Aliran Tarekat Terbanyak di Dunia

Jakarta Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang kerap disapa Kang Said menyatakan bahwa Indonesia menampung banyak aliran tarekat. Bahkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah terbanyak aliran tarekat di dunia.

Di Indonesia ada puluhan tarekat muktabarah, yaitu tarekat yang dianggap tidak menyimpang dari syariat, kata Kang Said di pesantren Ats-tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan. Jumat (13/12).

Indonesia, Negara dengan Aliran Tarekat Terbanyak di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia, Negara dengan Aliran Tarekat Terbanyak di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia, Negara dengan Aliran Tarekat Terbanyak di Dunia

"Indonesia ini negara luar biasa karena semua aliran tarekat ada di sini. Di Maroko cuma ada berapa seperti Tijaniyah, Syadziliyah. Di Mesir paling ada dua belas atau empat belas. Di Sudan dan Irak hanya ada beberapa,” terang Kang Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Indonesia agak lain, Kang Said. Orang dari Timur Tengah datang semua ke Indonesia. Sehingga, sedikitnya 45 aliran tarekat yang dinilai muktabarah oleh NU. Mereka ini tidak menyimpang dari syariat di luar muktabarah, ada juga tarekat yang dianggap menyimpang seperti akmaliyah yang wahdatul wujud.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Kang Said, tarekat sendiri adalah metode khusus yang dilakukan seorang sufi dalam naungan kelompok jamaah di bawah bimbingan seorang mursyid. Dengan lain kata, tarekat itu madrasahnya orang sufi.

Awalnya gerakan tasawuf dan tarekat, lanjut Kang Said, lahir pada abad ketiga Hijriyah. Sebelumnya tasawuf masih bersifat individual. Sufi besar di zaman sahabat misalnya Ibnu Umar RA dan Abu Dzar Alghifari RA. Di zaman tabiin ada Imam Hasan Bashri.

Setelah abad ketiga Hijriyah, di tahun dua ratus lebih Hijriyah tasawuf dilakukan oleh kelompok atau orang banyak. Dari situ disebutlah tarekat atau madrasah. Jadi tarekat itu madrasah. Madrasahnya kalangan sufi bernama tarekat, tutup Kang Said, pengasuh Pesantren Ats-tsaqafah. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Pertandingan, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang pelaksanaan ibadah haji tahun 2014 ini, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Nahdlatul Ulama Sukoharjo menggelar acara pembukaan bimbingan manasik haji. Pembukaan bimbingan manasik ini dipusatkan di Madrasah Diniyah Sedahromo Kartasura, Sukoharjo, Rabu (14/5).

Seorang pengurus KBIH NU Sukoharjo Nur Hamid menerangkan, pada kesempatan ini KH Aminudin Ihsan dan KH Abdul Matin memberikan bimbingan kepada para calon jamaah haji sesuai tuntunan Aswaja NU.

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH NU Sukoharjo Buka Bimbingan Manasik Haji 2014

Nur Hamid menambahkan, saat ini bimbingan haji KBIH NU Sukoharjo diawali dari daerah Kartasura.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Bimbingan perdana ditujukan bagi jamaah calon haji di kecamatan Kartasura dengan jumlah jamaah satu rombongan 42 orang,” terang Nur Hamid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain bimbingan haji, kata Nur Hamid, KBIH NU Sukoharjo juga membuka bimbingan bagi warga NU yang berencana menunaikan ibadah umroh. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Probolinggo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri melakukan jalan santai bersama seribu perempuan Kota Probolinggo, Senin (27/7). Kegiatan dalam rangka pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Probolinggo itu dimulai dari Pesantren  Raudlatul Muta’allimin di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih.

Jalan santai dilepas Menteri M. Hanif Dhakiri didampingi istrinya Hj. Marifah Hanif Dhakiri sekitar pukul 06.00 WIB. Rencana awal, menempuh rute sekitar 2 kilometer dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin menuju GOR Mastrip dan finish kembali di pesantren yang sama, berubah haluan. Mereka memilih rute dengan start dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin ke utara menuju Pasar Sapi Jrebeng Kidul dan belok kanan menuju Jalan Ir. Sutami dan belok kanan di Pasar Wonoasih serta finish di tempat asal.

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

“Bapak Menteri menginginkan rute jalan santai bisa bertatap langsung dengan masyarakat sekaligus bisa blusukan,” ujar Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara itu, Menteri Hanif Dhakiri bersama istrinya yang didampingi Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana dan Sekretaris PP Fatayat NU Anggi Maharani terlihat antusias mengikuti jalan santai. Usai jalan santai, Menteri Hanif melakukan dialog dan sosialiasi penempatan tenaga kerja dalam negeri atau luar negeri kepada peserta jalan santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hanif menegaskan, pihaknya menyetop dan melarang pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Sebab, perlindungan dan gaji jadi TKI di Timur Tengah, sangat minim.

“Berbeda di Asia Pasifik, perlindungan dan gajinya cukup baik,” ujarnya didampingi Dirjen Binapentasker Hery Sudarmanto, Direktur PTKDN Wisnu Pramono, Direktur PTKLN Guntur Wicaksono dan Direktur PTKS Erna Novianti.

Meski begitu kata Hanif, tak semua TKI yang di Timur Tengah dilarang. Larangan ini khusus pembantu rumah tangga. Sedangkan, bila bekerja di mal atau rumah sakit, masih boleh. Katanya, ke depan pihaknya akan terus memperbaiki pelayanan TKI. “TKI harus dipersiapkan keterampilan dan skill-nya. Sehingga, performa kerjanya lebih baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam negeri, Hanif mengaku pihaknya mempunyai program Three in One. Yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Masyarakat yang belum bekerja bisa dilatih, setelah itu diberi sertifikat dan ditempatkan. Salah satu upayanya adalah melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Di samping itu, Menteri juga menghapus persyaratan minimal harus berijasah SMA bila hendak masuk BLK. Menurutnya, siapa pun yang ingin belajar bisa langsung ke BLK. Tak peduli yang lulus SD atau SMA. Semua harus diberi kesempatan. Langkah ini agar masyarakat yang tak punya ijazah, punya kesempatan untuk belajar. Sehingga, punya kompetensi.

“Sementara kami juga mendorong para pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) untuk menempatkan syarat lowongan bukan pada ijazah. Tapi, berdasar kompetensi yang dimiliki. Misalnya, pabrik garmen. Yang dicari, ya orang yang bisa menjahit, tidak berdasar lulusan SMA,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Makam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mengawali kegiatan masuk pelajaran semester genap Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo Bojonegoro mengadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama PAUD dan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo.

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Anak-anak diajak membaca riwayat Nabi dari kitab Barjanzi dan Dzibai Selasa (6/1) kemarin di Masjid Jami’ Walisongo Sumuragung Sumberrejo.

Sebagai bentuk ta’dzim kepada Nabi Muhammad SAW dan juga untuk memupuk karakter ahlussunnah wal jamaah, MINU Walisongo genap tujuh tahun ini melaksanakan peringatan hari besar umat Islam ini dengan membaca beragam riwayat Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menanamkan cinta kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Degredasi moral anak-anak sekarang lebih banyak terjadi karena kekurangan rasa hormat dan prilaku ketauladanan yang diberikan oleh stake holder lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang non formal. Maka lembaga yang berada dibawah naungan LP Ma’arif NU kecamatan Sumberrejo ini menggelorakan dan memberikan tauladan cara mencintai nabi Muhammad saw.

“Dengan membaca riwayat Nabi Muhammad dari masa balita sampai akhir riwayatnya beliau harapan kami anak-anak memiliki idola yang tiada tergantikan sepanjang hidupnya,” tutur Ahmad Taufik yang memandu acara pagi Mauludan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keiatan ini diikuti lebih dari 300 anak didik dan ditutup dengan pembagian sedekah bersama berupa nasi kuning dan ketan putih yang dibawa oleh anak didik dari rumah masing-masing. (Satria Amelina/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam memperkuat kader Nahdlatul Ulama, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU IPPNU) Kecamatan Gebang menggelar Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) Raya yang diikuti oleh seluruh pelajar santri se-Kecamatan Gebang. Pembukaan kaderisasi ini digelar di Aula Desa Gebang Kulon, Cirebon, Sabtu (26/11).

Tampak hadir pengurus MWCNU, Muspika, GP Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, dan Irmas Kecamatan Gebang, Kuwu Gebang Kulon, dan Wakil DPRD Kabupaten Cirebon Hj Yuningsih yang memberi motivasi kepada para peserta makesta raya.

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Setelah pembukaan, peserta Makesta Raya menuju tempat penginapan di lingkungan Lembaga Pendidikan Yayasan An-Nahdliyyah Indonesia dan dimeriahkan oleh grup drumben SDIT Ar-Rahmah Gebang Kulon Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Pelaksana Ahmad Yusuf mengatakan pihaknya sangat merasa bangga karena? peserta yang mengikuti makesta raya sangat antusias. Terbukti peserta sampai melebihi target. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kegiatan ini sehingga bisa terlaksana secara maksimal. Ia berharap alumni makesta tahun ini siap untuk berkhidmah di NU secara istiqamah.

Ketua IPNU Gebang Hadi Riyanto mengajak semua kader NU khususnya di wilayah kecamatan Gebang harus melakukan pengkaderan mulai dari makesta sampai Latihan Kader Utama (LAKUT) supaya benar-benar menjadi kader yang loyal.

Ketua IPPNU Kecamatan Gebang Siti Maghfiroh mengatakan, kader IPNU-IPPNU harus mampu untuk merekrut kader-kader di sekolah dan pesantren. Ia berharap kepada peserta makesta raya untuk mengikuti dan menyimak materi secara seksama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori melalui sekretarisnya Abdul Bari menjelaskan, kader IPNU-IPPNU pada masa sekarang ini harus siap menghadapi tantangan di zaman globalisasi seperti ini karena pelajar zaman sekarang sudah banyak yang terjebak pada pergaulan bebas, dan sudah berani mengonsumsi barang-barang yang dilarang oleh agama.

Ia menganjurkan IPNU dan IPPNU untuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah dalam menyosialisasikan bahaya obat-obatan terlarang seperti narkoba dan lainnya.

“Harapan kami alumni makesta tidak berhenti dalam mengikuti pengkaderan. Makesta adalah pengkaderan tingkat awal teruslah mengikuti pengkaderan di tingkat selanjutnya sampai Lakut,” jelasnya. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Berita, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Fatayat NU Depok Gelar Baksos di Pinggir Kali Ciliwung

Depok, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, Fatayat NU Kota Depok menggelar bakti sosial. Dalam kesempatan tersebut organisasi ibu-ibu muda NU ini berbagi kebahagiaan bersama dhuafa, anak yatim di warga pinggir sungai Ciliwung, Kampung Gedong, Kemiri Muka. Tema baksos kali ini Indahnya Kebersamaan, Wujud Kepeduliaan bagi Sesama. ?

"Ini bagian dari kepedulian Fatayat NU Kota Depok pada warga pinggir kali Ciliwung. Semoga dengan berbagi kebahagiaan ini, mereka turut berbahagia dalam menyambut datangnya Lebaran," ujar Ketua Fatayat NU Kota Depok Hj. Yuminah (18/6).?

Fatayat NU Depok Gelar Baksos di Pinggir Kali Ciliwung (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Depok Gelar Baksos di Pinggir Kali Ciliwung (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Depok Gelar Baksos di Pinggir Kali Ciliwung

Agenda rutin di bulan suci Ramadhan kali ini difokuskan di daerah sekitar sungai Ciliwung. Pasalnya, banyak anggota masyarakatnya yang perlu mendapat perhatian khusus. Dalam proses baksos tersebut, pihaknya menyambangi warga langsung ke rumahnya masing-masing dengan memasuk gang-gang serta menyusuri ? pinggiran kali Ciliwung.

Ia menjelaskan, paket yang diberikan berupa 50 paket sembako, alat-alat sekolah, dan uang sekedarnya. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ternyata di tengah kemegahan kota Depok di Jalan Margonda, di belakangnya masih banyak daerah yang perlu sentuhan bersama. Masih kita jumpai rumah yang kurang layak dengan kondisi keluarga yang banyak membuat miris dan sedih melihatnya. Semoga dengan berbagi ini, bisa turut mewarnai kebahagiaan menjelang datangnya hari yang fitri," tandanya.?

Dikatakannya, baksos ini merupakan program yang telah dilakukan setiap bulan Ramadhan di wilayah kecamatan yang ? berbeda-beda setiap tahunnya. Ia mengungkapkan, wilayah yang sudah dilakukan bakti sosial di bulan Ramadhan sebelumnya seperti Kecamatan Sawangan, Cipayung, Pancoran Mas, Beji, dan Limo. Program tersebut sudah dimulai sejak 2009 lalu dengan cara bergilir dan blusukan langsung ke rumah warga.?

Hal ini bertujuan agar Fatayat NU Depok bisa langsung silaturrahim ke rumah-rumah warga tidak dan mampu sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Terlebih lagi, lanjutnya, bisa mngetahui kondisi warga secara langsung.?

Sesepuh RT setempat Edi (80) meski sudah usia lanjut namun tetap gigih dalam ? membantu dan mengayomi warganya. Ia menyampaikan apresiasi atas langkah yang dilakukan oleh Fatayat. "Semoga Fatayat NU Depok bisa banyak memberikan manfaat bagi ? umat, bangsa, dan negara," terangnya.(Aan Humaidi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sebanyak 172 orang mengikuti Ziarah Religi di tiga negara bersama KH Achmad Chalwani, Wakil Syuriyah PWNU Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, 20 hingga 25 Oktober 2017. Ketiga negara itu antara lain Singapura, Malaysia dan Thailand.

Di tiga negara tersebut, rombongan berziarah ke makam habaib, wali dan ulama di tiga negara tersebut baik ulama asli dari sana maupun yang berasal dari Indonesia serta sejumlah tempat wisata. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nusantara Pesantren An-Nawawi.

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Kepala Pondok Pesantren An-Nawawi Arifuat Marzuki menjelaskan, peserta yang mengikuti ziarah religi tiga negara ini tidak hanya berasal dari wilayah Purworejo, tetapi tidak sedikit peserta yang berasal dari luar kota. Bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa, yakni Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kiai dan tokoh masyarakat yang tercatat mengikuti kegiatan tersebut antara lain KR Maulana Alwi Ketua Yayasan An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Nasrul Arif Pengasuh Pesantren  API ASRI Tegalrejo Magelang, KH Maemun Asnawi Pengasuh Pesantren Salamkanci Magelang, KH Ismail Ali Pengasuh Pesantren Nurul Ali Secang Magelang, KH Miftahudin Kasno Ketua JATMAN Sumsel KH Misbahul Munir dari Pangandaran, KH Sumarno Abdul Azis dari Magetan, dan beberapa Kiai dan tokoh masyarakat lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Melalui kegiatan ziarah makam auliya di tiga negara ini diharapkan peserta mendapat berkah serta mengambil pelajaran dari auliyaillah khususnya yang berasal dari Indonesia yang dimakamkan di sana. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian kegiatan tahunan Pondok Pesantren An-Nawawi selain umroh dan ziarah makam habaib, wali dan pejuang," terang Arifuat kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut dikatakannya, selain berziarah ke sejumlah makam ulama di tiga negara tersebut, jamaah juga berkesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di tiga negara. "Seluruh rangkaian perjalanan ziarah tiga negara ini digelar selama enam hari empat malam." tambahnya.

Menurutnya, salah satu ulama yang akan diziarahi adalah Syekh Siraj Rengit Johor, Malaysia. Ia lahir di Desa Buntit Gebang Purworejo. Ia juga murid KH Zarkasyi, pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.

Perjalanan dimulai dari kompleks Pesantren An-Nawawi Berjan menuju Singapura. Beberapa agenda yang akan dilakukan selama satu hari di Singapura adalah berziarah ke makam Habib Nuh, mengunjungi Merlion Park, China Town serta Universal Studio.

Pada hari kedua perjalanan dilanjutkan ke Malaysia dengan menziarahi beberapa ulama besar seperti, Syekh Siraj, Sultan Arifin, Syekh Ibrahim, Syekh Yusuf Shiddieq, Syekh Nur Kholidi, dan Syarifah Rodiyah. "Untuk di Malaysia, tempat wisata yang akan dikunjungi antara lain, KLCC, Genting Highlands, Dataran Merdeka serta Istana Merdeka," imbuhnya.

Ia menambahkan, setelah selesai di Malaysia perjalanan dilanjutkan ke Thailand pada hari ke empat. Di negara Gajah Putih itu, rombongan berkesempatan untuk mengunjungi kemegahan kompleks Masjid Hatyai. Di Thailand, peserta juga dapat menikmati Pasar Terapung serta menikmati tur Shongkhla. "Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke pondok pesantren dan makam ulama asal Indonesia, yakni Syekh Abdurrahman Al-Falimbani," tambahnya.

Sebelum kembali ke tanah air, peserta juga berkesempatan untuk menjajal jembatan Pulau Pinang sepanjang 11 kilometer serta berziarah di makam auliya yang berada di Pulau Pinang.

"Pada hari keenam, rombongan direncanakan sudah terbang kembali ke Purworejo. Kami meminta doa dari seluruh masyarakat Purworejo khususnya dan sekitarnya semoga diberi kelancaran dan keamanan selama kegiatan ini," pintanya. (Ahmad Naufa-Lukman Khakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, AlaNu, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

”Jangan takut untuk merintis pesantren yang sama sekali berbeda dengan pesantren yang sudah ada” – Gus Dur

Pesan Gus Dur itulah yang menguatkan Jadul Maula, pendiri dan pengasuh pesantren Kaliopak, sebuah pesantren yang menggunakan pendekatan seni dan budaya di daerah Yogyakarta. Ia sebelumnya mengalami kebimbangan untuk mewujudkan idenya tersebut. Persoalannya, ini bukan hanya sesuatu yang baru, tetapi harus merubah stigma masyarakat yang menganggap seni tradisi itu tidak islami.

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

Jadul yang kini juga salah satu wakil ketua Lesbumi NU, lembaga seniman dan budayawan di bawah Nahdlatul Ulama ini mengatakan, ulama dulu mengajarkan nilai agama, di samping melalui pengajaran juga melalui kesenian. Ia ingin melanjutkan tradisi tersebut yang terbukti mampu mendakwah Islam secara damai. Sayangnya, akar tradisi ini sudah ditinggalkan orang. Bahkan banyak tokoh agama menganggapnya seni sebagai perbuatan bid’ah atau sesat.?

“Ini ada ironi, paradoks bahwa dulu seni ini menjadi media dakwah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk memberi penegasan atau akar atas keberadaan pesantren ini, ia mendasarkan diri pada Sunan Kalijaga dan para muridnya yang dulu pernah berdakwah di daerah ini yang terbukti dengan ditemukannya sejumlah situs. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita niat saja, kita anggap Sunan Kalijaga leluhur kita, kita ini murid-muridnya,” tuturnya.?

Kemudian, bersama dengan timnya, ia menelusuri jejak dakwah Sunan Kalijaga. Kulminasinya berupa peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang diselenggarakan pada 2011. Tujuannya ingin menggali lagi ajaran spiritualitas para ulama dulu yang membentuk masyarakat yang etis karena bangsa Indonesia terkenal ramah dan punya etika.?

Ia kemudian melakukan kajian naskah dan berbagai kitab klasik. Misalnya wayang lakon Dewa Ruci yang isinya merupakan ajaran tasawuf. Ternyata naskah ini terkait dengan Suluk Linglung yang mengisahkan pertemuan antara Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidir.?

Upaya mengembangkan pesantren berbasis seni dan budaya bagi beberapa kalangan masih dianggap aneh, padahal dulu wayang merupakan tradisi pesantren. Ia mencontohkan keterkaitan wayang dengan pengajian adalah sampai sekarang orang nonton wayang pakai sarung dan kopiah karena dianggap sebagai mengaji atau mendengarkan wejangan.?

Jadul yang juga salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS) ini menjelaskan, berjaraknya kelompok santri dengan seni tradisi memuncak pada era 50-60an. Saat itu persaingan politik sangat kuat. Seni tradisi diambil oleh PNI dan PKI dengan Lekra sebagai lembaga seni budayanya. Seni dipakai untuk persaingan politik dengan menjelek-jelekkan kelompok lain. Akhirnya tokoh agama Islam menciptakan seni yang lebih kearab-araban. Versi lain dari terpisahnya agama dan seni terjadi karena kebijakan Belanda mengacak-acak agama dan adat.

Akibat adanya fase keterputusan, akhirnya seni tradisi digarap oleh kelompok lain dan mengalami sekulerisasi yang hanya bermakna sebagai wahana hiburan.

“Mereka harus dirangkul kembali, kalau misalnya pesantren atau kiai sering nunggoni dalang main. Paling tidak dalang tahu, akan terjadi proses dialog,” jelasnya.?

Upaya ini cukup berhasil, terbukti beberapa dalang mulai menyesuaikan diri dengan pesantren. Bahkan ada dalang di Jogja minta agar NU bikin organisasi khusus para dalang. “Nah kalau bisa dirangkul, ada dialog pembenahan. Kalau dilepas, jadi sekuler dan sekedar hiburan. Saya tidak anti eksperimen, tetapi saya yakin wayang dalam tradisi klasik perlu dijaga sebagai dakwah,” tegasnya.?

Tidak seperti pesantren konvensional, Pesantren Kaliopak saat ini belum memiliki santri yang mukim secara permanen. Lokasi pesantren menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas dari berbagai disiplin ilmu di universitas-universitas yang ada di Yogyakarta serta komunitas pelaku seni tradisi. Kegiatan rutin yang diselenggarakan berupa mujahadah, latihan shalawatan Jawa, diskusi dua minggu sekali tentang musik. Pernah pula pesantren menyelenggarakan belajar aksara Jawa karena aksara ini pernah digunakan para Wali untuk mengajarkan Islam dalam konteks budaya Jawa. Ada pula kajian rutin Islam Nusantara.?

Ia juga mengadakan eksperimen supaya seni tradisi digabungkan dengan seni modern, misalnya shalawat Jawa dengan orkestra Bethoven yang ? sempat tampilkan dalam Muktamar ke-33 NU.

Pesantren sudah pernah menggelar pameran seni rupa tingkat nasional yang sempat dibuka oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka sedangkan yang satunya oleh adiknya sultan gusti Yudhaningrat.

Lalu, ada pula forum dialog antara kiai dan dalang. KH Musthofa Bisri atau Gus Mus pernah menjadi salah satu narasumber.

Ia sendiri sebenarnya tidak ingin menjadi pengasuh atau kiai pesantren. Tetapi beberapa kiai muda prograsif yang diminta menjadi pengasuh tak bersedia sehingga mau tidak mau, ia memposisikan diri sebagai pengasuh. “Tak ada rotan, akar pun jadi,” paparnya.

Ke depan, ia berharap memiliki kurikulum resmi sebagai panduan para santri untuk belajar. Cita-citanya yang belum kesampaian adalah mengembangkan program Etika Sosial Islam yang saat ini masih kekosongan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Kajian, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Wonosobo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Study Club Generasi Unggulan (STUC General) Kabupaten Wonosobo mecoba membantu kader-kader NU yang potensial di Kabupaten Wonosobo supaya bisa lolos masuk perguruan tinggi negeri (PTN). 

Untuk kepentingan itu, Kelompok Bimbingan Belajar tersebut tengah mempersiapkan kegiatan Pasantren Kilat Sukses Masuk PTN 2013 atau Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS) di Asrama Pesantren Al Mansur Kauman, Kabupaten Wonosobo, Jum’at (10/5).

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Ikuti Pesantren Kilat Siap Masuk PTN

Ketua Penyelengara KISS Stuc General Kabupaten Wonosobo Ubaidillah Faqih mengatakan bimbingan ini bertujuan untuk mendampingi pelajar atau kader-kader NU di Wonosobo yang pintar sehingga mampu masuk atau menembus pada perguruan tinggi negeri (PTN).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Secara akademik, pelajar yang lolos seleksi akan diberi kiat-kiat mengerjakan tes masuk dengan didampingi tutor yang mumpuni. Selain itu, kami juga bekali dengan pelatihan-pelatihan,” tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dijelaskan, kegiatan KISS ini juga membangun mental pelajar seraya memberikan wawasan ke-NU-an maupun Aswaja. Sehingga ketika diterima di PTN tidak mengalami kebingungan termasuk mengikuti organisasi ekstra kampus yang berbasis Nahdlatul Ulama. 

“Selain mendorong masuk PTN melalui program beasiswa Bidik Misi yang diprogramkan Mendikbud, pendampingannya dilakukan sampai pada Ospek hingga masuk di PTN nanti,” terang  Faqih.

Ia menjelaskan program kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 dengan nama pesantren kilat (Sanlat). Untuk sekarang berubah nama menjadi Karantina Intensive Sukses SBMPTN (KISS).  

“Pada tahun 2013 ini pesertanya meningkat menjadi 20 yang tersebar di seluruh Kabupten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung,” jelasnya. 

Terkait peserta KISS, Faqih menerangkan sebagai pra syaratnya adalah pelajar atau kader-kader NU yang potensial. Sedang jumlah peserta targetnya menerima dua kelas atau maksimal 30 siswa. 

“Kita akan menyeleksi secara ketat, pelajar atau kader NU yang  pintar menjadi prioritas utama program ini,” imbuhnya. 

 

Redaktur  : Mukafi Niam

Kontriutor: Fathl Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Daerah, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kepastikan akan dilaksanakannya Muktamar NU tahun 2015 di Jombang Jawa Timur disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj pada acara Seminar Internasional dengan tema "Ahussunnah wal Jamaah Identitas Islam Nusantara" yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya (23/12).

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Pastikan Muktamar Diselenggarakan di Jombang

Kiai Said juga menegaskan waktu pelaksanaan forum permusyawarahan tertinggi di Nahdlatul Ulama ini adalah tanggal 1 hingga 5 Agustus. "Pelaksanaan Muktamar NU akan diselenggarakan di Jombang dan dilaksanakan tanggal 1 hingga 5 Agustus 2015," katanya.

Penegasan ini kian mengukuhkan keputusan rapat pleno PBNU beberapa waktu lalu yang menghasilkan keputusan tersebut. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said juga menandaskan bahwa banyak agenda yang dibahas baik di sidang pleno maupun komisi. "Termasuk sejumlah persoalan agama yang akan dibahas dalam forum Bahtsul Masail," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Soal model pemilihan calon pimpinan tertinggi di NU, menurutnya untuk jabatan Rais Aam akan dipilih dengan model ahlul halli wal aqdi. "Sedangkan untuk jabatan Ketua Umum PBNU masih tetap dipilih secara langsung oleh peserta Muktamar. Sementara, nama-nama kandidat Ketua Umum ditentukan oleh anggota ahlul halli wal aqdi," katanya.

Di hadapan peserta seminar yang merupakan utusan dari Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) se-Indonesia serta kontingen dari Malaysia, Kiai Said menjelaskan tentang Islam Ahlussunnnah wal Jamaah atau Aswaja menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dan dalam catatan sejarah, Aswaja sering menyelamatkan umat Islam dari konflik yang berkembang saat itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ketika banyak kalangan mengkafirkan kelompok lain, para ulama Aswaja tampil menyelamatkan umat Islam dari sejumlah perpecahan tersebut," kata peraih Guru Besar dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Menurutnya, karena NU, sejumlah konflik yang terjadi di masyarakat bisa diredam sehingga tidak bisa merembet ke kawasan lain. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi umat Islam di Timur Tengah yang konfliknya terus berkepanjangan dan tidak jelas kapan akan berakhir.

Kiai Said sangat mengapresiasi kerjasama antara Aswaja NU Center dengan sejumlah akademisi dan kampus di Malaysia untuk mensinergikan kerjasama dalam menjaga suasana kondusif dengan Islam yang rahmatan lilalamin ini.

Tampak hadir pada kegiatan pembukaan seminar, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua MUI Jawa Timur, KH Abdusshomat Bukhori serta rombonngan dari UTHM Malaysia. Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan kerjasama antara PW Aswaja NU Center dengan kontingen dari Malaysia. [Syaifullah/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Kajian, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 21 November 2017

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengerus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh mengadakan kopdar Nusantara di Mizan Kupi, Lampineung Sabtu, 29 April 2017.

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Ketua Umum PMII Akmal mengatakan, dalam kopdar Nusantara ini adalah sebuah anugerah terbesar bisa berkumpul di tanah rencong dengan sahabat-sahabati PMII se-Nusantara walaupun tidak semuanya dikarenakan mempunyai kewajiban dalam tugas mewakili kampus.

Akmal juga berpesan silaturrahim ini harus tetap sampa bertemu dalam acara kongres yang sebentar lagi akan diselenggarakan.

"Kongres ini adalah kongres dengan seduhan aswaja dalam jiwa kita tanpa ada hal yang tidak kita inginkan," jelasnya?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Salah satu mewakili dari Kota Salatiga, Wasi menambahkan walaupun kita di Aceh tujuan awalnya adalah berkompetisi dalam Pionir ke VIII.

"Karena sahabat/i terikat dalam suatu ikatan yang sangat luar biasa yaitu PMII kita semua awalnya saling bersaing tapi malam ini kita bisa duduk bersama, ngopi bersama," ujarnya

Arif juga mengatakan suatu kebanggaan selaku kader PMII Cabang Kota Palopo Karena telah berkesempatan untuk duduk bareng dengan sahabat(i) se-Nusantara di Kota Banda Aceh.

"Sekali lagi terima kasih kepada PC. PMII Kota Banda Aceh yang telah memberikan wadah bagi kami untuk kumpul bareng sahabat(i) se-Nusantara di Banda Aceh. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Quote, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Nadlatul Ulama (LTMNU) mengimbau, upaya paling baik menangkal ektremisme adalah dengan memperkuat kegiatan dari dalam. Memakmurkan masjid merupakan cara efektif merealisasikan usaha ini.

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen mengakui, masjid-masjid NU yang tersebar di beberapa tempat mulai diganggu oleh kelompok-kelompok berhaluan keras. Selain menjadi cermin tentang kelemahan pengurus masjid, persoalan ini menuntut penanganan secepat mungkin.

“Tidak ada jalan lain kecuali memakmurkan masjid,” ujarnya saat ditemui di Kantor PP LTMNU, Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan memperbanyak aktivitas ibadah di dalam masjid, jamaah tak hanya menuai maslahat dalam hal ibadah dan hubungan sosialnya, tapi juga menghambat proses masuknya paham kekerasan ke dalam masjid.

“Apalagi masjid jamaahnya yang jelas. Jadi perlu diperdayakan dalam hal-hal positif,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LTMNU juga menyarankan, Pengurus Cabang NU di setiap daerah untuk senantiasa memperhatikan kegiatan masjidnya. Mereka didorong untuk menggerakkan lembaga dan lajnah yang dimilikinya serentak memakmurkan masjid.

“Kan ada LDNU (Lembaga Dakwah NU) untuk mengisi dakwah, JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz) dalam hal mengaji, tarekat, dan lainnya,” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah warga NU, khususnya di kota Depok, mengeluh atas aksi pembubaran kegiatan ibadah yang dialami di masjid. Secara paksa, beberapa orang tak sepaham membubarkan aktivitas majelis taklim yang dianggap bidah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Fragmen, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 September 2017

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

Subang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerja sama dengan Pesantren Al-Hidayah menggelar Workshop menghapal dan memahami kata ayat Al-Quran dengan metode My Q-Map, kegiatan tersebut digelar di aula Pesantren Al-Hidayah Desa Kihiyang, Kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat, Jumat (28/7)

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

"Melalui kegiatan ini diharapkan akan memudahkan para santri dan para ustadz dalam menghapal Al-Quran, karena My Q-Map dinilai sebagai metode yang mudah dan menyenangkan dalam menghapal Al-Quran," papar Ustadz Ali Imran, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah.

Ditambahkannya, metode My Q-Map merupakan metode menghafal al-Quran yang diciptakan oleh Hj Dini Widyawati, metode tersebut menggunakan media gambar yang mewakili makna dalam ayat Al-Quran, hal ini sesuai dengan prinsip kerja otak dalam menangkap sesuatu yang mudah yaitu gambar.

"Keunggulan metode My Q-Map; santri mampu menghafal ayat secara acak dan membaca dari akhir ayat sampai ke awal ayat," tambah Sekretaris MWCNU Binong itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Hj Umayah selaku Kepala Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan masyarakat yang pertama kalinya dilaksanakan di Subang, karena sebelumnya pembinaan masyarakat hanya sekitar kampus saja.?

"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menjalin silaturahim antara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon dengan pesantren-pesantren yang ada di kabupaten subang," imbuhnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada para santri agar tetap semangat dalam ? mempelajari Al-Quran sehingga diharapkan kelak mereka dapat menjadi generasi Qurani. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 29 Juni 2017

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Jember, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama H. Ali Masykur Musa mengatakan, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tak boleh membiarkan kesalahan berlarut-larut pada suatu keadaan. Sebab, kesalahan yang berlarut-larut secara perlahan akan berdampak destruktif bagi masa depan bangsa.?

Ia mengatakan hal itu saat menjadi pemateri pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang digelar oleh PMII Komisariat Universitas Jember di Balai Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, Rabu (1/2).

Menurut Ali Masykur, sebagai bagian dari eleman bangsa, PMII harus terus berjuag untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang elegan. “Harus dipahami bahwa perjuangan membela bangsa dan agama belum berakhir tak akan pernah selesai, lebih-lebih saat ini persoalan? bangsa semakin rumit,” ucapnya.

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Universitas Jember, Davin Akhmad N. menegaskan bahwa PKD tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas peserta agar mampu menjadi kader mujahid yang siap membela bangsa dan negara guna mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

Kader PMII, katanya, mempunyai tanggung jawab moral untuk mendampingi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. “Satu lagi, kader PMII juga punya tugas yang melekat, yaitu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah,” jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PKD berskala regional Jawa Timur yang diikuti oleh 54 peserta tersebut bertema “Mencetak Kader Berintelektual yang Mampu Mengikuti Irama Gelombang Dengan Landasan Aswaja”. Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tapi peserta juga dilatih menjalankan varian advokasi dengan simulasi unjuk rasa. “Agar peserta tahu bagaimana caranya menyampaikan pendapat yang efektif, benar dan beretika,” lanjut Davin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Sholawat, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Mei 2017

Pengurus NU Harus Sauyunan

Sukabumi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penggerak Nahdlatul Ulama harus memiliki soliditas yang kuat. Saling bekerjasama dan sauyunan di antara para pengurus. Dalam bahasa Sunda, sauyunan berarti merapatkan barisan, seniat dan semisi, sevisi, dalam bercita-cita.?



Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Harus Sauyunan

Menurut Mustasyar NU Kabupaten Sukabumi, Ajengan KH Mahbub, sauyunan bisa dicontoh dari penggerak NU Sukabumi di tahun 1950-an, yaitu Ajengan Masthuro, pemimpin Al-Masthuriyah, Ajengan Djunaidi pengasuh pesantren Cigunung, KH Abdullah Sanusi, pemimpin pesantren Al-Falah dan H Siroj.?

“Ajengan Masthuro menonjol dalam intelektual, Ajengan Abdullah ahli mengarang kitab, Ajengan Cigunung terkenal dengan ketawadhuan dan wara’ serta ajengan Siroj terkenal dengan ilmu kanuragannya,” ujar putera Ajengan Abdullah Sanusi, ketika ditemu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu.?

Para ajengan itu, terus menjaga silaturahim dan selalu bertukar pikirang tentang pesantren, umat, dan NU. Jika tidak demikian, sambung pengasuh pesantren Al-Falah Sukamantri ini, NU akan susah bergerak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Daden Sukendar, kiprah keempat penggerak NU itu mesti ditauladani penggerak NU sekarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk tujuan itu, Keluarga Besar NU Sukabumi akan mengkaji karya-karya kiai NU di Sukabumi untuk kalangan anak muda NU. “Kegiatan tersebut merupakan upaya mempertemukan antara anak muda NU dengan orang tuanya,” ujar Daden, santri lulusan Al-Masthuriyah.

Kegiatan tersebut diharapkan akan memupuk kebersamaan dan sauyunan anak muda NU Sukabumi yang aktif di PMII, IPNU, IPPNU, Fatayat dan GP Ansor. Sehingga soliditas yang kuat bisa terjalin. ?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Khutbah, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 29 April 2017

PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam tindakan kekerasan yang terjadi terhadap umat Muslim Rohingya yang menimbulkan korban jiwa di sejumlah titik di negara bagian Rakhine, Myanmar. Penegasan tersebut disampaikan melalui pernyataan sikap resmi PBNU.

"PBNU mengecam segala tindakan kekerasan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa segala bentuk kekerasan sama sekali tidak dibenarkan," demikian Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin, Selasa (22/11).

PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Kekerasan atas Muslim Rohingya

Ia menyampaikan, tidak ada satupun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan. Umat Islam pada umumnya ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa saudara-saudara seiman yang berada di Myanmar.

"PBNU mengajak kepada seluruh kepala negara dan pemimpin negara di dunia untuk proaktif melawan segala bentuk kekerasan. Represi adalah musuh bersama dan harus dilawan sekuat tenaga guna menciptakan upaya perdamaian dan harmoni," tegasnya.

Rais Aam PBNU meminta seluruh umat manusia terus menggalang solidaritas kemanusiaan untuk menciptakan perdamaian bagi segala bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada kesempatan sama mendesak kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera mengambil langkah-langkah atas peristiwa tersebut, dan mendesak ASEAN untuk meminta kepada pemerintah Myanmar mengakui status kewarganegaraan Muslim Rohingya.

"Pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan diplomasi bagi terwujudnya penghormatan atas hak asasi manusia di Myanmar," tandasnya. (Tan Malika/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 17 April 2017

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Margoyoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah mahasiswa baru jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dibekali penguatan pemahaman tentang kaprodian dan prospek lulusan oleh ketua jurusan di auditorium kampus Staimafa, Senin (5/10).

Bekali Mahasiswa  Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Faiz Aminudin selaku ketua jurusan PMI menjelaskan bahwa mahasiswa baru perlu dibekali dengan penguatan, pemantapan, dan keyakinan dalam memilih kaprodian agar mahasiswa tidak salah dalam memilih jurusan. Dan meyakinkannya bahwa jurusan yang  telah dipilih sudah sesuai dengan niat pertama, terangnya.

Selain itu, menurutnya jurusan PMI terbilang sangat unik dan berbeda dengan jurusan lainnya. Karena semua mata kuliah jurusan PMI sudah disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat. dan lebih banyak dalam melakukan praktek di lapangan sehingga dengan dibekali praktek di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu melakukan pendamping dan pemberdayaan di masyarakat agar masyarakat bisa berdaya dan sejahtera.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia menambahkan bahwa ouput lulusan jurusan PMI adalah sebagai fasilitator, pengabdian di masyarakat, pekerja sosial serta bisa masuk dalam ranah dinas sosial untuk melakukan pendampingan dan program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti BUMdes, PNPM dan dana kesejahteraan sosial lainnya, tandasnya.

Lumatun Nadzifah, selaku ketua panitia pelaksanaan  menjelaskan bahwa kegiatan yang dikemas dalam forum saresehan dan  silaturrahim mahasiswa ini bertujuan untuk memantapkan dan meyakinkan mahasiswa dalam memilih jurusan dan untuk mengetahui output lulusan  mahasiswa, tambahnya. (Siswanto El Mafa/Mukafi  Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, AlaSantri, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 07 April 2017

Pilih Pemimpin yang Memberi Manfaat Secara Umum

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebuah negara bisa damai, bersatu dan kehidupan bisa terwujud dengan baik ditengah-tengah masyarakat menjadi baldatun thoyyibatun warabbun ghofur haruslah ada yang memimpin. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung KH. Munawir saat menyampaikan materi didepan jamaah pengajian akhir pekan lalu.

Oleh karenanya, ia mengatakan bahwa memilih pemimpin hukumnya wajib dan sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an serta hadits dan juga sudah dijabarkan oleh para ulama. Lalu bagaimana memilih pemimpin menurut Islam?

Pilih Pemimpin yang Memberi Manfaat Secara Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Pemimpin yang Memberi Manfaat Secara Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Pemimpin yang Memberi Manfaat Secara Umum

Kiai muda yang juga Katib Syuriyah PCNU Pringsewu ini menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang dicontohkan oleh Nabi. "Sifat Nabilah yang menjadi kriteria seorang pemimpin yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah," jelasnya sebagaimana MUI telah menegaskan kriteria tersebut.

Lalu bagaimana jika dalam pemilihan pemimpin seperti pilkada atau yang sejenisnya terdapat calon yang memiliki keseimbangan dalam kriteria tersebut? Ia mengatakan bahwa sesuai kaidah Islam, para pemilih harus memilih calon pemimpin yang dapat memberikan kemanfaatan lebih bagi kepentingan umum.

"Hindari memilih pemimpin yang hanya bisa memberikan manfaat pada diri sendiri. Pilih calon yang dapat memberikan manfaat umum, jelas asal usulnya, masa lalunya dan sudah tahu sejauh mana komitmen dalam memimpin," tegasnya dalam kajian fiqh shiyasah tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apalagi menurutnya jika terjadi perbedaan kualitas dari segi agama, pengalaman dan yang lainnya antara calon yang ikut berkompetisi, maka ummat Islam wajib memilih yang lebih. "Jangan semaunya sendiri tanpa pertimbangan matang karena keputusan memilih akan berpengaruh pada kemaslahatan masyarakat," tandasnya.

Sementara terkait praktek suap atau risywah yang sering menghantui pilkada, Ia juga mengingatkan ummat Islam untuk menghindari praktek yang sering disuarakan dimasyarakat dengan "Terima uangnya jangan pilih orangnya". Karena hal ini menurutnya sama saja sudah melakukan suap yaitu menerima pemberian yang pemberinya mengharapkan balasan dari yang menerima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 Maret 2017

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan

Magetan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Magetan menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab), Sabtu (15/3). Konfercab dilaksanakan di gedung Pusat Pengkajian Islam (PPI) Jln. Jaksa Agung Suprapto Magetan.

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nur Wakhid Tepilih sebagai Ketua GP Ansor Magetan

Konfercab dihadiri Ketua GP Ansor Jatim Rudi Tri Wahid serta pengurus GP Ansor Kabupaten Magetan, pengurus anak cabang, ranting dan anak ranting se-Kabupaten Magetan yang berjumlah sekitar 100 orang.

Dalam sambutannya Rudi mengutarakan bahwa konfercab merupakan giat rutin yang dilaksanakan setiap organisasi dan harus menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi GP Ansor Magetan dan masyarakat umumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Konfercab tersebut ada 3 kandidat yang muncul pada pemilihan ketua. Setelah dilakukan pemilihan, Nur Wakhid resmi memimpin GP Ansor Magetan periode 2014-2018. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Kajian Sunnah, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock