Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - KH Ahmad Nadhif Mujib (Gus Nadlif) menyatakan keprihatinan atas konten Aswaja yang beredar di internet saat ini. Menurutnya, banyak kelompok garis keras yang mengatasnamakan Aswaja di internet.

Demikian disampaikan Gus Nadlif saat memberikan pengarahan kepada ratusan Banser yang mengikuti Apel Siaga Banser Jepara di Pesantren Hadziqiyah Desa Gemiring Lor Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Sabtu (13/5) siang.

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Menurut instruktur nasional PP GP Ansor ini, jika mengklik kata “Aswaja” di internet, maka yang ditemukan 80 persen yang muncul adalah Aswaja palsu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Aswaja ‘palsu’ berada di halaman pertama, sedangkan Aswaja ‘asli’ di halaman belakang,” tegas Gus Nadlif.

Kenapa demikian? Kiai muda asal Pati Jawa Tengah itu menjelaskan, lantaran aswaja “palsu” yang berada di internet dibantu dengan mesin, menggunakan situs berbayar dan ada biaya yang cukup memadai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sedangkan aswaja ‘asli’ milik nahdliyyin situsnya tidak berbayar hanya menggunakan blogspot. Misalnya mengetik NU Jepara hanya di urutan 1344,” kata Gus Nadlif.

Secara jamaah NU adalah mayoritas. Tetapi di internet Aswaja NU termasuk golongan minoritas. Sekarang ini sudah zaman pencitraan. Jika hanya mengandalkan ikhlas, NU akan habis.

Maka, sudah saatnya NU turut pada zaman pencitraan itu. Di buku sejarah banyak yang menyatakan pemuda Surabaya adalah orang yang merobek bendera biru milik Belanda dan menjadi bendera Indonesia.

“Padahal ia adalah kang Syafi’i seorang Banser. Tidak mungkin ada yang berani naik ke tiang bendera, sedangkan di belakangnya ratusan bedil kecuali Banser,” pujinya.

Ia menyampaikan, pihaknya masih memutar otak agar Aswaja yang “asli” tidak terus-menerus di halaman belakang google.

Tampak sebagai komandan upacara pada apel akbar yang diikuti oleh ratusan Banser se-Kabupaten Jepara adalah Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq (Mbah Yatun).

Dalam amanat apelnya Mbah Yatun menyampaikan lima poin. Di antara poin yang disampaikannya ialah penolakan keras aliran dalam bentuk apapun yang hendak memecah belah bangsa.

Apel semakin gayeng saat diisi dengan yel-yel dan demo senam lantas oleh GP Ansor Jepara. Demo senam lantas tersebut merupakan salah kontingen yang menetapkan GP Ansor Jepara sebagai juara umum Kemah Bakti GP Ansor Jawa Tengah di Batang beberapa waktu lalu. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Departemen Seni dan Budaya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Purworejo, Jawa Tengah, ikut ambil bagian dalam Festival Musik Akustik yang digelar dalam rangka memperingati HUT WR Supratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing dan monumen WR Soepratman di Kota Purworejo, .

Selain menampilkan lagu wajib, IPNU Band yang digawangi oleh Fikri Amrillah juga menyanyikan lagu karyanya sendiri berjudul "Purworejoku.

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Ketika lagu Purworejoku dinyanyikan, sorak-sorai penonton memecah suasana menjadi ramai. Tak terkecuali, Mantan Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, ikut standing uplaus atas lagu itu. Bahkan, di akhir acara menyempatkan menyambangi personil IPNU Band. "Saya minta liriknya ya, lagu tadi benar-benar bagus." katanya dilanjutkan kesiapan IPNU Band menyerakhannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sofyan Rizali Zain, keikutsertaan IPNU Band dalam event ini bertujuan mengenalkan lebih jauh dengan masyarakat. Selain itu, adalah memicu mental kader di berbagai pentas.

"Kita ingin kader memiliki mental bernyanyi yang mumpuni. Lagu yang dibuat rekan-rekan juga konstruktif, edukatif dan tidak cengeng seperti kebanyakan lagu band dewasa ini," ungkapnya. Meski tak dapat juara, imbuhnya, para personil tetap semangat untuk bermusik sebagai media ekspresi jiwa dan menyampaikan pesan positif kepada khalayak luas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tempat terpisah, Kasi Kerjasama dan Promosi Diskoperindagpar Purworejo Dyah Woro S mengatakan, event ini digelar untuk memeringati HUT WR Soepratman. Event pertama berupa lomba musik akustik akan diadakan pada 16 Maret di Somongari dan event kedua berupa resepsi peringatan HUT WR Soepratman di kawasan Monumen WR Soepratman pada 19 Maret.

"Untuk lomba musik akustik kami adakan di Somongari, di jalan masuk menuju rumah tempat lahir WR Soepratman. Hal ini kami lakukan sekalian untuk memromosikan obyek tersebut kepada masyarakat. Kami harapkan ini bisa menjadi semacam brand untuk memerkenalkan obyek bersejarah tersebut," jelas Woro.

Kepala Bidang Pariwisata Diskopperindagpar Purworejo, Lilos Anggorowati menambahkan, untuk event pada 19 Maret akan berfokus pada resepsi peringatan HUT Wr Soeprartman. Dalam kesempatan tersebut, selain penyerahan hadiah, para pimpinan daerah misalnya Bupati akan membacakan puisi mengenai WR Soepratman.

"Meski masih sederhana, namun kami harap event ini bisa kembali mengingatkan masyarakat akan jasa WR Soepratman yang juga putra daerah Purworejo," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Jadwal Kajian, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam bukan untuk mendirikan negara Islam (darul-islam) namun Rasulullah memiliki konsep mulia yaitu mendirikan negara yang menjunjung tinggi keselamatan dan kemaslahatan bagi seluruh warganya (darussalam). Hal ini disampaikan Ustadz Ahmad Rifai saat menjadi pemateri pada program Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi).

"Islam menyebar keseluruh dunia untuk menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, budaya, dan tempat tinggal. Oleh sebab itu ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau tidak membentuk darul-islam atau Negara Islam namun mendirikan darussalam atau Negara Kedamaian," terangnya, Ahad(17/01/16) di Pringsewu, Lampung.

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Rifai menambahkan bahwa Islam bukanlah agama pemberontak, agama teroris, atau agama pembuat masalah. "Islam datang dengan kedamaian. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan teror dan sebagainya, hal tersebut hanyalah kebetulan saja karena oknum tersebut tidak bisa mengartikan makna Jihad," tegas Ketua LP Maarif Kabupaten Pringsewu ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, teror bersifat merusak sedangkan jihad bersifat memperbaiki. Oleh karena itu jika ada yang mengatasnamakan jihad namun merusak dan merugikan orang lain maka itu dikategorikan sebagai teror. "Kewajiban kita untuk memperbaiki dan membangun negara bukan malah merusaknya," tegasnya.

Rifai mengingatkan bahwa kemerdekaan tanah air Indonesia tidak diperoleh dengan gratis. "Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan negara kita sebagaimana resolusi jihad yang dikumandangkan oleh para ulama pejuang pendahulu kita," ingatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rifai juga menjelaskan bahwa Islam terlahir bukan hanya mengurusi masalah shalat, zakat dan permasalahan seputar ibadah saja. Namun Islam juga membahas dan membawa misi penting lainnya yaitu muamalah yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup bersama orang lain di dunia.

Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan kemaslahatan tersebut setiap muslim haruslah memiliki 3 prinsip dalam beragama. Prinsip-prinsip tersebut adalah ruhuddin (semangat beragama), ruhuddinul adabi wal hadoroh (semangat membangun agama yang beradab dan budaya), serta ruhul wathaniyyah (spirit kecintaan kepada tanah air). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Ansor mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku pesta seks kaum gay yang berhasil digerebeg di salah satu tempat kebugaran di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ahad (21/5) malam. Banser meminta kepada berbagai pihak tidak menggunakan HAM untuk melindungi pelaku.

Hal ini disampaikan Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaini di sela acara Halaqah Internasional Ansor di GOR Hasbullah Said PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Senin (22/5). 

"Mereka (pelaku pesta gay) telah tercerabut dari akar budaya Indonesia. Sungguh ini kejadian yang tidak bermoral di tengah bangsa yang sedang membangun peradaban," ujar Alfa Isnaini.

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini juga mengimbau ke berbagai pihak agar tidak mengatasnamakan HAM untuk melindungi para pelaku. "Karena hal tersebut bukan budaya kita," sambungnya.

Alfa mengapresiasi penggrebekan yang dilakukan polisi. Namun demikian pihaknya meyakini bahwa perkembangan gay di Indonesia seperti fenomena gunung es. Artinya, yang tidak tampak di permukaan lebih besar dari yang tampak.

Seperti diketahui bersama, jajaran kepolisian Jakarta Utara melakukan penggeregkan pesta gay di salah satu ruko tempat kebugaran. Sebanyak 144 pria yang tengah melakukan pesta seks kemudian digelandang oleh petugas. Sebagain besar para peserta pesta gay telanjang bulat saat ditangkap. Tak sehelai benang pun menempel di tubuh para pria yang sebagian berbadan tegap dan berambut cepak itu. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 

PBNU menegaskan, selain politik uang, sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) agar dihindari pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten pada 2018 ini. 

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada

"Ini (sentimen SARA) soal serius yang semua pihak harus menyadari," kata Ketua PBNU H Robikin Emhas saat ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di lantai tiga, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (10/1).

Menurut Robikin, penggunaan sentimen SARA jelas-jelas dilarang oleh regulasi dan diancam pidana. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bahkan, katanya, kalau politik uang berdampak pada potensi timbulnya korupsi, tapi kalau penggunaan sentimen SARA berdampak pada perpecahan di masyarakat. 

"Yang Kalau ini tidak dilakukan penegakkan hukum juga bisa merobek-robek tatanan sosial yang pada akhirnya mengancam kesatuan dan persatuan," jelas alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang ini. 

Robikin mengatakan, siapa saja boleh bercita-cita menang dengan berkompetisi di Pilkada, tetapi harus jujur dan adil. "Kalau mau fair tentu kemudian patuh hukum dan kemudian mengedepankan nilai-nilai demokrasi substansial," katanya. 

Pria yang juga menjabat Majelis Komite Nasional Komite Independen Pemantau Pemilu (KKIP) ini menilai, penegakkan hukum pada kasus SARA belum optimal, bahkan masih jauh dari harapan. 

"Kita semuanya harus belajar dari Pilkada DKI di mana digunakannya mimbar-mimbar Keagamaan," katanya mengingatkan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Robikin, penggunaan sentimen keagamaan yang tidak sesuai dengan koridor hukum yang ada, pada gilirannya bukan saja mendistorsi kualitas demokrasi itu sendiri, tetapi lebih jauh dari itu adalah bisa mendistorsi maksud dan tujuan dari agama itu dihadirkan. 

"Jangan (sampai) ada orang yang mempolitisasi agama hanya untuk kepentingan politik praktis lima tahunan. 

Daya rusaknya sangat tinggi dibanding dengan kemungkinan manfaat yang bisa diperoleh," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama tahun 2017 dihelat di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 23-25 November. Serangkaian acara telah digelar di berbagai kota untuk mengawali forum yang mengusung tema tema “Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga” ini.

Acara pra-munas dilaksanakan sedikitnya di empat kota sejak Oktober lalu dalam bentuk forum diskusi, antara lain di Kota Manado, Sulawesi Utara, dengan subtema “NU dan Kebinekaan”; Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (“Kesenjangan Sosial dan Penguatan Ekonomi Warga”); Kota Bandar Lampung, Lampung (“Penguatan Organisasi menuju Satu Abad NU dan Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga”);? Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dengan mengaji sejumlah isu pokok yang bakal digodok di forum bahtsul masail Munas.

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017

(Baca juga: Apa Perbedaan Munas dan Konbes NU?)

Pada pelaksanaan Munas, musyawirin (sebutan untuk peserta forum ini) akan dibagi ke dalam tiga komisi, yakni (1) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan aktual), (2) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan tematik), dan (3) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Qonuniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan berkaitan dengan perundang-undangan).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berikut rincian pembahasan yang bakal dikaji pada masing-masing komisi tersebut:

A. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? 1. Frekuensi Publik

? ? ? ? 2. Investasi Dana Haji

? ? ? ? 3. Izin Usaha Bepotensi Mafsadah

? ? ? ? 4. Melontar Jumrah Aiyamut Tasyriq Qablal Fajri

? ? ? ? 5. Status Anak dan Hak Anak Lahir di Luar Perkawinan.

B. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyah

? ? ? ? 1. Fiqih Disabilitas

? ? ? ? 2. Konsep Taqrir Jama’i

? ? ? ? 3. Konsep Ilhaqul Masail Binazhairiha

? ? ? ? 4. Ujaran Kebencian (Hate Speech)

? ? ? ? 5. Konsep Amil Dalam Negara Modern Menurut Pandangan Fiqih

? ? ? ? 6. Konsep Distribusi Lahan/Aset.

C. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Qonuniyyah

? ? ? ? 1. Ruu Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

? ? ? ? 2. RUU Anti Terorisme

? ? ? ? 3. Tata Regulasi Penggunaan Frekuensi

? ? ? ? 4. RUU Komunikasi Publik

? ? ? ? 5. RUU KUHP

? ? ? ? 6. RUU Etika Berbangsa dan Bernegara

? ? ? ? 7. Regulasi Tentang Penguasaan Lahan.

Munas-Konbes NU 2017 rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, Kamis (23/11) siang, di Islamic Center NTB, Kota Mataram. Panitia pusat dan panitia lokal sejak beberapa hari lalu tampak sibuk merampungkan sejumlah persiapan untuk menyambut ribuan orang yang bakal datang dari berbagai daerah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 



Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya berupaya melestarikan syair karya para ajengan (kiai).

Menurut Ketua Lesbumi Tasikmalaya Imam Mudoffar di daerahnya tersebar berbagai syair berbahasa Sunda yang merupakan sarana dakwah yang dilakukan para ajengan.

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan

Namun, ia menyesalkan, syair-syair itu saat ini mulai tersisihkan dan tidak lagi dikenal anak muda. Lama kelamaan, warisan berharga itu dikhawatirkan akan punah.

“Misalnya syair Gusti Urang Sadayana yang menjadi syair utama di bulan Rabiul Awal dengan isi menceritakan kelahiran dan keturunan Nabi yang dulu sering dinyanyikan dengan ramenya oleh semua kalangan, sekarang hanya orang tua saja di majelis taklim,” jelasnya ketika ditemui di gedung PCNU Tasikmalaya, Senin (11/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itulah, lanjutnya, Lesbumi Kabupaten Tasikmalaya berupaya untuk mengumpulkan dan membukukan syair-syair itu.

“Setelah terbukukan, kami akan rekaman dan akan dibagikan ke pesantren sekolah dan madrasah-madrasah diniyah,”  tambahnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut ia menambahkan, saat ini Lesbumi mempunyai program majelis sastra, pembuatan antologi puisi anak muda NU. Program itu telah disampaikan dalam rapat kerja PCNU Kabupaten Tasikmalaya pada Ahad (10/11). (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Tokoh, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kepada para pelajarnya, guru MI Miftahul Huda di desa Lengkong kecamatan Balen, Bojonegoro menanamkan sikap hormat kepada orang tua dan guru. Sebelum memasuki pekarangan sekolah, pelajar Miftahul Huda diharuskan berjabat tangan dengan segenap guru di muka gerbang sekolah.

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

"Sudah tiga tahun terakhir, siswa diajarkan berjabat tangan sebelum masuk sekolah," kata Wakil Kepala Miftahul Huda Lengkong, Syaroni.

Penerapan jabat tangan ini, kata Sya’roni yang mengajar Bahasa Indonesia, dimaksudkan untuk membiasakan mereka menjadi pribadi yang disiplin. "Hormat kepada orang tua yang dimulai berjabat tangan bapak-ibu guru," kata Sya’roni kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah masuk ke dalam kelas, para siswa juga diajak membaca Al-Quran dan sholat Dhuha berjamaah. Untuk memulai pelajaran pertama, mereka diharuskan membaca doa.

“Sopan-santun anak-anak kepada orang tua dan guru ini dirasakan makin terkikis,” tegas Sya’roni yang mewajibkan pengenaan kopiah hitam bagi siswanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumlah siswa MI Miftahul Huda Lengkong mencapai 167 siswa. Sementara untuk TK, berjumlah 43 anak. Rangkaian keagamaan setiap pagi itu mengajarkan mereka untuk terbiasa mendoakan orang tua. Sehingga, anak-anak diharapkan berbakti kepada orang tuanya sejak kecil.

"Kegiatan keagamaan ini membentuk karakter, serta ciri khas sekolah madrasah," Sya’roni menambahkan, Senin (9/6). (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Anti Hoax, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Mojokerto, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengadakan berupaya meningkatkan kapasitas para pengurus dan kadernya di bidang telaah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Purwanto mengatakan, pihaknya telah mengelar pelatihan analisis anggaran sebagai bekal bagi kader Ansor untuk ikut berjuang mengawal transparansi anggaran dan belanja pemerintah Kabupaten Mojokerto. "Bagaimana mewujudkan APBD benar-benar untuk rakyat, tidak hanya jargon saja," kata Purwanto, sebagaimana siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (1/3).

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Bertempat di kantor MWCNU Kecamatan Pacet, sebanyak 20 orang pengurus Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor, serta pengurus harian GP Ansor Kabupaten Mojokerto digembleng selama tiga hari sejak tanggal 26 hingga 28 Februari kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam hal ini, GP Ansor Kabupaten Mojokerto menggandeng Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), sebuah LSM yang selama ini fokus di bidang pengawalan anggaran, untuk memberikan bekal kepada para pengurus GP Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pelatihan analisis anggaran ini, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H Syihabul Irfan Arif berharap Ansor lebih menguatkan peran-peran eksternalnya dalam mengawal kebijakan publik, terutama dalam hal penganggaran APBD Kabupaten Mojokerto. Karena berawal dari penganggaran yang transparan dan akuntabel, APBD bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

"Dengan belajar hal ini, Ansor harus bisa memberikan pembelajaran yang lebih luas kepada masyarakat, agar bisa memiliki akses yang sama dalam merumuskan kebijakan anggaran bagi kemaslahatan umat," katanya.

Selain diisi oleh pemateri dari Fitra, acara penelitian analisis anggaran ini juga dihadiri oleh koordinator kaderisasi PW GP Ansor Jatim. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Lomba, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Aktivis muda NU Alissa Wahid berharap agar PBNU memformulasikan strategi gerakan sosial-keagamaan dan kebangsaan. "Formulasi gerakan ini penting agar NU dapat lebih kuat menjalankan peran sebagai tulang punggung Indonesia," tegasnya. 

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Berharap PBNU Formulasikan Gerakan

"Dengan tantangan ideologis yang deras bagi Indonesia, juga dengan proses globalisasi yang membawa banyak pengaruh dunia, NU-lah yang paling berkepentingan dan berpotensi untuk menjaga Indonesia," jelas Alissa yang juga wakil ketua LKK NU DIY melalui surat elektronik Rabu malam (12/9).

NU, kata Alissa, memerlukan kerja yang terarah dan komprehensif. "Munas ulama dan Konbes ini menjadi saat yang paling tepat untuk merumuskan arah dan strategi NU tersebut. Jangan disia-siakan hanya sebagai rutinitas organiasi."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih jauh da menjelaskan bahwa NU memiliki tiga dimensi yang harus segera dirumuskan secara nyata dan praktis. "Dimensi internal NU, dimensi praktik bernegara, dan dimensi NU & politik." 

"Dimensi internal NU terkait dengan isu aktual seperti terasanya jarak yang makin melebar antara struktural NU dengan jamaah. Saya banyak bertemu dengan Nahdliyin yang merasa tidak terlayani kebutuhan kehidupannya oleh NU setempat sebagai organisasi, justru terlayani oleh organisasi lain seperti oranisasi musholla setempat," jelas putri sulung almarhum KH Abdurrahman Wahid itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alissa juga mengusulkan agar peran Syuriyah harus lebih kuat dalam memberi arah dan pertimbangan, sehingga dapat menjadi panduan bagi PBNU dan pengurus2 daerah, untuk meminimalisir perbenturan pendapat dan kebijakan. 

"Syuriyah misalnya sangat strategis untuk menguatkan kembali prinsip Aswaja NU sebagai ruh kehidupan Nahdliyin maupun organisasi. Kalau NU bisa mempersoalkan kembalinya negara Indonesia kepada ruh dasar bangsa, NU juga harus melakukannya pada dirinya sendiri. Tanpa prinsip dasar ini, NU dan jamaahnya akan terombang-ambing," jelasnya.

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Sikap Pagar Nusa NU Terkait Pilkada Jakarta, Ahok dan Demo 4 November

Pertama-tama perlu dinyatakan dan ditegaskan kembali bahwa kita sebagai warga Indonesia sudah membangun tatanan bernegara dan berbangsa dengan sabar dalam waktu yang sangat lama. Sebagai salah satu hasilnya, kita bisa menyaksikan bahwa Indonesia kini menjadi satu-satunya harapan dunia sebagai teladan pergaulan kemanusiaan yang beradab. Harapan ini menjadi masuk akal dengan melihat kekacauan global yang terjadi di belahan bumi lain, terutama krisis kemanusiaan berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah.

Akan tetapi, tetap tidak ada jaminan bahwa capaian bangsa Indonesia ini akan terus lestari. Pimpinann Pusat Pencak Silat Nanhdlatul Ulama Pagar Nusa menengarai adanya upaya-upaya yang secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, hendak menggiring bangsa ini menuju krisis kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah. Setiap peristiwa yang melibatkan partisipasi massif dari warga, seperti Pilkada dan Pilpres, selalu mengandung patahan dan retakan yang rawan untuk disulut menjadi konflik horisontal.

PP PSNU Pagar Nusa menyimak dan memerhatikan dengan seksama perkembangan yang berlangsung di seputar Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta. Salah satu hal yang mengemuka dan sangat menyita perhatian publik dalam proses tersebut adalah kemunculan isu penistaan agama. Dalam hal ini, sebagai salah satu calon Kepala Daerah, yakni Basuki Tjahaja Purnama, melontarkan kalimat dengan mengutip surat Al Maidah yang dinilai oleh sebagian pihak sebagai penistaan agama. Dengan sendirinya hal tersebut menimbulkan kegaduhan politik yang berkepanjangan.

Sikap Pagar Nusa NU Terkait Pilkada Jakarta, Ahok dan Demo 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap Pagar Nusa NU Terkait Pilkada Jakarta, Ahok dan Demo 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikap Pagar Nusa NU Terkait Pilkada Jakarta, Ahok dan Demo 4 November

Perkembangan terbaru dari kejadian tersebut adalah ajakan sekelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI. Gerakan tersebut mengajak umat Islam di Indonesia, tidak hanya yang ada di Jakarta, untuk ikut serta dalam aksi turun ke jalan pada Jumat, 4 November 2016.

Memperhatikan perkembangan yang terjadi di Jakarta dan daerah lain serta menindaklanjuti amanah dan perintah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), PP PSNU Pagar Nusa berkewajiban untuk menyampaikan hal-hal berikut secara terbuka. Berikut pernyataan yang ditandatangani M. Heru Taufiq (Ketua) dan M. Nabil Haroen (Sekretaris Umum):

1. Basuki Tjahaja Purnama telah memohon maaf dan PP PSNU Pagar Nusa dapat menerima permintaan maaf tersebut. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada Basuki Tjahaja Purnama agar berhenti dari kebiasaan ceroboh dalam mengeluarkan pernyataan di hadapan publik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

2. PP PSNU Pagar Nusa meminta kepada pihak yang berwenang untuk memproses tuntutan hukum atas Basuki Tjahaja Purnama dengan seadil-adilnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

3. PP PSNU Pagar Nusa memerintahkan pada seluruh warga Pagar Nusa, tanpa kecuali, untuk tidak ikut serta dalam ajakan aksi 4 November 2016. PP PSNU Pagar Nusa juga melarang disertakannya atribut, lambang, dan simbol yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama dalam aksi tersebut.

4. PP PSNU Pagar Nusa mengimbau kepada segenap masyarakat untuk mengedepankan akal sehat dalam menyikapi dan mengikuti selurus proses Pilkada DKI 2017.

5. PP PSNU Pagar Nusa mengutuk keras pihak-pihak yang dengan sengaja membawa aksi ini untuk tujuan-tujuan anarkis. PP PSNU Pagar Nusa meminta pihak-pihak tersebut untuk berhenti melakukan agitasi gaya Timur-Tengah yang bisa menimbulkan kekerasan dan perang antar saudara. Kekerasan tersebut bagaimanapun tidak bisa dibenarkan oleh dalil apapun dalam Islam.

6. Terakhir, PP PSNU Pagar Nusa menyerukan kepada segenap masyarakat Jakarta, pada khususnya, dan warga Indonesia, pada umumnya, untuk belajar berdemokrasi secara sehat dengan selalu berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.

Demikianlah, pernyataan ini disampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Taala meridlai setiap upaya kita dalam mencintai dan membangun Indonesia.

M? Nabil Haroen

Sekjen PP PSNU Pagar Nusa

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Tim balai media Tentara Nasional Indonesia (TNI) Berita Mitra Warga menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Rabu (27/1) sore. Kepada Kang Said, tim media yang bergerak di bawah naungan Pusat Penerangan (Puspen) TNI dan Mabes TNI ini menegaskan bahwa media TNI mengangkat tayangan-tayangan nasionalis-religius.

“Untuk konten-konten nasionalis, kita menggalang kelompok nasionalis. Kita mau menggalang kelompok pesantren dalam soal religious,” kata Direktur Balai Media TNI R Arvin I Miracelova yang datang bersama empat awak medianya di Jakarta, Rabu (27/1) sore.

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU

Kang Said mengapresiasi tim media binaan Puspen TNI ini. Kang Said menerangkan bahwa NU sudah sejak dini memproduksi konten-konten nasionalis-religius. Kang Said menyebut sejumlah media NU yang hingga kini terus istiqamah seperti Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Aswaja TV, NU TV, TV9 Surabaya, Risalah, Aula, Bangkit, Duta Masyarakat, dan media-media online lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau masalah konten, kita tidak kekurangan. Semua media yang saya sebutkan tadi luar biasa produktivitasnya,” ujar Kang Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said mengajak tim media TNI untuk ikut memantau kelompok-kelompok pengajian yang sembunyi. Pada prinsipnya, dakwah tidak boleh sembbunyi-sembunyi.

“Kalau ada kelompok sembunyi, kita mesti curiga. Kenapa harus eksklusif? Kita NU, Muhammadiyah dan ormas lain terbuka sejak awal. Kalau tertutup, mereka mau apa?” kata Kang Said.

Berita Mitra Warga ini diresmikan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto di Balai Media TNI, 8 Agustus 2015. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat perhelatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Gedung Olah Raga (GOR) Gajayana Malang Jawa Timur, Sabtu? pekan lalu? (26/3), ada dua rekor yang ditorehkan. Pertama adalah pergantian hijab dari berwarna hijau menjadi putih oleh 50 ribu lebih peserta. Kedua, pemukulan rebana oleh seluruh peserta dan diikuti Presiden RI.





Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Ribuan massa Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang mencapai hampir 70 ribu jamaah sungguh membuat bangga siapa saja yang hadir di GOR Gajayana Kota Malang. Mereka adalah utusan Muslimat NU dari seluruh kawasan di Tanah Air, yang tentu saja didominasi dari Jawa Timur.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal





Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gubernur Jatim Pimpin Rapat

Sejak pagi, para rombongan telah memadati kawasan kota dingin ini. Ratusan bus dan mini bus merangsek memadati kota dari berbagai penjuru. "Untungnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral tersebut berjalan baik yang dilakuan panitia antara Pemerintah Kota Malang dan Jawa Timur," kata Helmi M Noor, Kamis (31/3) malam.





Pemilik Cita Entertainment dan menjadi pengatur jalannya prosesi Harlah ini mengemukakan bahwa, angka 70 ribu jamaah terlampaui berdasarkan laporan dari koordinator setiap kabupaten. Tidak tertampungnya jamaah di dalam hingga meluber di sekitar GOR adalah bukti bahwa kehadiran mereka sebagai kebanggaan.





Ditemui di kantornya, kawasan Pagesangan Surabaya, Helmi menjelaskan sejumlah tahapan yang dilakukan sehingga kegiatan berjalan sesuai harapan. "Peringatan Harlah Muslimat NU benar-benar melalui koordinasi yang sangat rapi dan terperinci," kata dia.





Seluruh kekuatan seakan dikerahkan untuk menyukseskan perhelatan akbar tersebut. "Bahkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo juga berkenan memimpin rapat secara langsung agar acara berjalan sesuai harapan," katanya. Karena itu, seluruh kepala dinas bahu membahu turut memberikan yang terbaik demi nama baik Jawa Timur.





Hal tersebut sangat terasa ketika pelaksanaan harlah. Dinas Perhubungan memberikan panduan di sejumlah titik strategis sebagai panduan agar rombongan dari berbagai kota tidak sampai tersesat. "Sejumlah petunjuk arah tersedia di banyak sudut kota saat akan memasuki Kota Malang," kata alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.





Demikian pula pihak kepolisian turun dengan kekuatan penuh, mengurai jalan sehingga tidak terjadi penumpukan. "Tidak sedikit kendaraan peserta yang dikawal menuju lokasi acara sehingga tidak menimbulkan jalan menjadi macet," katanya.





Fasilitas pendukung juga demikian membantu. "Dinas pertamanan menyediakan 100 kran di setiap sudut sehingga peserta bisa melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di dalam GOR," ungkapnya. Air yang tersedia juga termasuk istimewa karena didatangkan langsung oleh kepala dinas setempat. Demikian pula soal kebersihan, kepala dinas setempat turun langsung memimpin pasukan, lanjutnya.





Sejumlah billboard di jalur utama setiap kabupaten dan kota juga semakin memeriahkan gaung harlah. "Dan semuanya dipersembahkan untuk Muslimat NU, tanpa diminta," ungkapnya. Apa yang didermakan para pegiat dan pemilik usaha periklanan out door tersebut sebagai panggilan demi suksesnya acara. "Inilah kehebatan Muslimat NU," terang Helmi.





Tutorial Peserta

Bisa dibayangkan bagaimana ribet dan sulitnya mengatur puluhan ribu ibu-ibu muslimat yang notabene usianya juga lanjut untuk bisa satu komando. Apalagi mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia yang tidak mungkin dikumpulkan untuk dikondisikan dan megetahui teknis acara. "Ini pekerjaan yang sangat menantang," sergah bapak 3 anak ini.





Meski demikian sejumlah upaya tetap dilakukan agar jangan sampai berkumpulnya ribuan jamaah perempuan NU tersebut justru menjadi masalah. "Kalau mereka satu komando dan rapi, pasti akan terlihat istimewa," kenangnya.





Akhirnya ditemukanlah sejumlah cara di antaranya mengirimkan tutorial dalam bentuk video kepada koordinator peserta di seluruh Indonesia. "Rekaman itu sekaligus panduan bahwa pada kegiatan harlah nanti para peserta harus mengikuti langkah dan gerakan yang ada," kata alumnus Universitas Darul Ulum Jombang ini.





Saat para peserta sudah memadati GOR, dilakukan gladi resik untuk memantapkan panduan yang telah ada. "Dan untuk menyeragamkan bacaan shalawat dan ketukan pada 50 ribu rebana, kami menyediakan leader atau pemandu," ungkap dia.





Dengan demikian, puluhan ribu peserta hanya mengikuti saja bacaan dan ketukan rebana sehingga tercipta keserasian nada. Jumlah pemimpin shalawat tersebut adalah 200 orang dari unsur paduan suara Muslimat NU Jombang, 200 santri dari Pesantren Bahrul Maghfirah Malang, serta 50 personel grup shalawat dari el-Kiswah Surabaya.





Dan kalau menyaksikan tampilan rekaman yang sudah diunggah di youtube, maka akan terlihat bahwa 50 ribu peserta Harlah Muslimat NU demikian terpandu dan melantunkan shalawat serta menabuh rebana yang telah dibawa dengan tertib. "Suasananya benar-benar syahdu. GOR yang demikian luas berselimutkan shalawat," bangga Helmi.





Mendadak Presiden Hadir

Hal yang juga tidak diduga panitia termasuk Ketua Umum PP Muslimat NU sendiri, Hj Khofifah Indar Parawansa adalah kedatangan Presiden RI. "Sebenarnya 15 hari sebelum kegiatan Harlah sudah ada kepastian bahwa Presiden RI akan hadir," katanya. Karena itu sejumlah acara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kedatangan presiden.





Namun 3 hari jelang pelaksanaan Harlah, ada kabar bahwa presiden berhalangan hadir. "Oleh karena itu, semua persiapan acara yang melibatkan sebelum, saat dan usai presiden hadir akhirnya dipangkas dari agenda," kenang Helmi. Perubahan jadwal tersebut juga membawa berkah karena "kerumitan" akan terurai.





Oleh karena itu, seluruh persiapan dan rangkaian acara akhirnya dipastikan tanpa kehadiran orang nomor satu di negeri ini. "Bagi panitia, hal tersebut sebagai sesuatu yang melegakan lantaran tidak terlalu ribet dengan aturan yang mengikat," kata mantan wartawan Majalah AULA PWNU Jatim tersebut.





Namun dengan tanpa disangka sekitar jam 4 sore di hari Jumat (25/3) ada telepon dari protokoler Pemerintah Provinsi Jatim bahwa Presiden RI akan datang pada puncak Harlah Muslimat NU tersebut. "Sebentar lagi pihak protokoler Istana akan menghubungi untuk membicarakan kehadiran presiden," katanya menirukan telpon dari Pemprov Jatim.





Padahal sore itu sedang dilakukan gladi resik panitia dan petugas inti untuk kelancaran acara besok siang. Kepastian akan hadirnya Presiden RI membuat Ibu Khofifah dan panitia serta petugas menitiskan air mata. "Subhanallah, ini kejadian luar biasa dan tidak diduga," kata Helmi menirukan ungkapan Khofifah. Kala itu Helmi melihat hampir seluruh panitia dari unsur Muslimat NU dan diikuti petugas lain menangis. Air mata tumpah lantaran haru atas kejadian serba mendadak tersebut.





Benar juga, pihak protokoler istana akhirnya meminta jadwal acara secara rinci kepada panitia. Usai diemail, ada sedikit revisi yang diberikan istana terkait mata rangkai acara yang harus dilaksanakan besok siang karena melibatkan presiden. "Sekitar jam 10 malam, rangkaian acara disepakati," tegas Helmi.





Dan malam itu juga, pasukan khusus dari Jakarta terbang ke Malang dengan pesawat Hercules untuk koordinasi. "Kalau mengandalkan pesawat keesokan harinya pasti tidak akan nutut," katanya.





Dengan tindakan tegas dan langkah taktis tersebut, pihak istana bisa melakukan penyisiran lokasi dari jam 6 pagi. "Seluruh kawasan dilakukan sterilisasi untuk memastikan keamanan bagi presiden dan rombongan," katanya. Saat itu juga akhirnya dilakukan pembagian tugas. Helmi dan "pasukan" fokus ke acara, sedangkan hal yang menyangkut keamanan GOR dan sekitarnya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan.





GOR Layaknya Padang Arofah

Dengan lancarnya arus kendaraan menuju GOR karena dibantu pihak kepolisian dan dinas perhubungan, sejak pagi satu demi satu jamaah Muslimat NU memasuki lokasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) ala Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) pun diberlakukan. "Warga Muslimat yang akan masuk GOR harus melewati pintu deteksi yang membuat sedikit krodit," kata dia.





Maklum, jauh-jauh sebelum acara telah disampaikan bahwa selama di dalam GOR, peserta tidak bisa keluar lagi hingga usai acara. Keperluan shalat, bekal makanan dan sejenisnya harus telah lengkap. "Kami mengingatkan kepada peserta bahwa jadikan GOR Gajayana layaknya Padang Arofah," kata Helmi.





Nah, yang jadi "masalah" adalah ketika mereka melewati pintu deteksi sebagai SOP Paspampres. "Beberapa kali alarm bahaya berbunyi lantaran peserta membawa sejumlah peralatan layaknya bepergian jauh," seloroh Helmi. Makanan dan minuman di dalam rantang, sendok, bahkan tidak sedikit yang membawa pisau atau silet menjadi pengiring suasana sehingga terjadi antrean panjang di pintu masuk. Apalagi kala itu hanya tersedia dua pintu utama yang dibuka. "Kalau di media muncul liputan bahwa peserta berdesakan, ada benarnya meskipun tidak semuanya tepat," bela dia. Karena itu adalah konsekuensi bagi kehadiran presiden.





Namun pada prinsipnya, acara berjalan sesuai harapan. Tidak ada rombongan yang mengeluh lantaran jauh sebelum acara telah dilakukan sosialisasi terkait persiapan tersebut. Apalagi para perempuan NU yang terhimpun dalam Muslimat kerap melaksanakan ziarah wali yang mengharuskan menyiapkan keperluan pribadi dan ibadah secara mandiri. "Kemah sejenak di GOR Gajayana bagi ibu Muslimat NU sudah terbiasa," tegas Helmi.





Pecahnya rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI menjadi puncak kesuksesan acara tersebut. Ada 50 ribu lebih jamaah yang telah menyiapkan kerudung putih untuk digantikan dari awalnya hijau. "Dalam hitungan 1 hingga 9, GOR Gajayana yang awalnya bernuansa hijau, akhirnya berubah menjadi putih," katanya.





Demikian pula, rekor selanjutnya adalah pelantunan shalawat dengan menggunakan rebana, pecah hari itu. Di tribun utama ada Presiden RI, Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, Ketua MPR, Menteri Agama RI, Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat yang juga Menteri Sosial secara bersama menabuh rebana mengiringi jamaah yang berjumlah 50 ribu lebih. "Sungguh, suasana saat itu sangat khidmat dan tidak sedikit peserta yang menangis sembari menengadah sembari melantunkan shalawat," jelas Helmi.





Ribuan jamaah berbaju hijau dengan kerudung putih dengan bacaan Shalawat Badar yang dilantunkan menjadi selimut bagi stadion yang biasanya digunakan acara konser musik dan pertandingan bola. "Peristiwa ini membawa pesan bahwa dengan hijab, Indonesia akan menjadi kiblat mode dunia di masa mendatang," ungkapnya. Bahwa kegiatan dengan mengundang jamaah berjumlah ribuan tidak identik dengan acara hura-hura, tapi sarat makna.





Demikian pula pelantunan shalawat yang diiringi alat musik tradisional khas Indonesia membawa filosofi bahwa Islam dan tradisi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. "Inilah Islam Indonesia, inilah Islam Nusantara, dan inilah Islam rahmatan lilalamin," kata dia.





Seluruh rangkaian acara yang dihadiri Presiden RI tersebut berlangsung sekitar 85 menit. "Lebih cepat dari yang disepakati protokol istana yakni 90 menit," terang Helmi. Sehingga seluruh rangkaian acara diteliti dengan cermat. "Jalannya acara setiap detik dan menitnya kita hitung dengan cermat agar jangan sampai mengganggu jadwal presiden," katanya.





Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti acara di GOR Gajayana, Helmi telah menyediakan rangkumannya dalam 9 serial yang dipubilikasikan lewat youtube. "Ada tayangan singkat prosesi hijab terbanyak dan menabuh rebana bersama Presiden Jokowi yang sudah tayang," terangnya. Kemudian akan menyusul tayangan laskar antinarkoba, pidato Presiden Jokowi, pidato Khofifah, Jokowi menyapa jamaah di GOR, taushiyah KH Hasyim Muzadi, juga Khofifah saat menyanyi. Selamat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dewan Pembina Pimpinan Pusat Pagar Nusa KH Fuad Anwar meminta agar mengurus organisasi pencak silat di NU itu dengan pengibaratan nasi tumpeng. Ia menyampaikan hal itu pada istighasah rutin Selasa Kliwon di masjid An-Nahdlah, lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (21/1).

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Menurut dia, nasi tumpeng itu pada bagian bawah terdapat beragam lauk-pauk, mulai daging ayam, kacang-kacangan, telor, lalapan, sambal, sampai urab. “Di tubuh Pagar Nusa itu pun seperti itu, di bagian bawah terdapat beragam anggota beraneka ragam,” katanya di hadapan puluhan pengurus.

Tapi, semakin ke atas dari nasi tumpeng itu semakin mengerucut. “Pada pucuk tumpeng itulah posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus memahami dan mengayomi keberagaman di bagian bawah organisasi,” jelasnya. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pola semacam itu, kata mantan Ketua Umum PP Pagar Nusa periode sebelumnya tersebut, organisasi silat yang didirkan 28 tahun lalu itu bisa beragam dalam satu kesatuan. Fuad sangat menekankan sekali tentang kemenyatuan ini .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemenyetuan itu, tegas dia, harus diorganisir dengan baik. Ia kemudian memperkuat pernyataannya dengan mengutip sebuah peribahasa Arab. “Islam tidak akan sempurna kalau tidak diorganisir. Pengorganisiran tidak akan berjalan kalau pengurusnya tidak mengurus,” tegasnya.

Kepengurusan pun, tambah dia, tidak akan bermanfaat kalau tidak bersatu dalam ketaaatan terhadap aturan organisasi.

Selain sebagai rutinan Selasa Kliwonan, potong tumpeng itu merupakan tasyakuran PP Pagar Nusa selepas sukses dua bedah buku di gedung PBNU, Selasa sore (21/1). Potong tumpeng dilakukan Sekretaris Jenderal PP Pagar Nusa M. Nabil Harun. Potongan tumpeng itu ia berikan kepada Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman dan KH Fuad Anwar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Jadwal Kajian, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Grobogan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Anggota Muslimat NU Tawangharjo mengadakan tahlil dan mudarasah al-qur’an secara estafet. Acara di bawah naungan Muslimat digelar saban selapan (35 hari), tiap Jum’at legi yang kini dimaksudkan untuk mendiang suami Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Acara yang diikuti para hafidzah se-kecamatan Tawangharjo dan para mustamiin digelar di pesantren Al-Anwar, Selo Tawangharjo Grobogan, Jawa Tengah, Jum’at (17/1). Tahlil dan doa dipimpin pengasuh pesantren Al-Anwar, nyai Lu’luul Ifadah.

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Menurut Ketua PAC Muslimat NU Tawangharjo, Nyai Rif’ah, kirim tahlil ini  merupakan bentuk bela sungkawa kader sebagai anggota Muslimat NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Suami dari ketua umum kami telah dipanggil Allah. Kita nggak mungkin bertakziyah ke sana. Kita cukup kirim tahlil sebagai media belasungkawa kita,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menuturkan, sesama orang Islam harus saling mendoakan. Selain kepada yang kita kenal, namun kepada orang yang tidak kenal pun kita dianjurkan saling mendoakan.

“Selain doa, menebarkan salam juga dianjurkan kepada siapa pun,” imbuhnya. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Meme Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Puasa dan Budaya Berbagi

Oleh Nanang Qosim



Bagi kebanyakan orang, termasuk di lingkungan para pelajar di sekolah, hitungan menambah, mengurangi, mengalikan, dan menjumlahkan jauh lebih mudah daripada hitung membagi. Akan tetapi yang cukup menarik di sini adalah bahwa ternyata kesulitan membagi itu juga tergambar dalam sikap kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari.

Memang dalam kehidupan ini yang paling sulit dilakukan adalah berbagi. Lihatlah kenyataan dewasa ini, banyak sekali orang yang suka menghitung-hitung kepemilikan dan pendapatannya dan bahkan pendapatan orang lain dengan mengeluarkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Akan tetapi sangat sulit yang dilakukan adalah membagi sebagian dari apa yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkannya. 

Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Berbagi

Kesulitan menegakkan budaya berbagi itu akan diperparah oleh tidak adanya upaya para orang-orang tua menginternalisasikan sikap berbagi itu pada anak-anak mereka. Allah Swt., menyindir kecenderungan menghitung-hitung kekayaan itu sebagai tradisi abadi manusia. Sebagaimana firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. Al-Takâsur:1-2).

Memandang Mulia

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Islam memandang mulia kedudukan orang-orang yang memiliki kekayaan (aghniyâ’). Sebab mereka dapat memberi manfaat besar bagi lingkungan dan deerah di mana ia hidup. Bahkan dalam perspektif Islam, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi yang lain (khairunnâs ‘anfa’uhumlinnâs). Sebab, seperti disebut Nabi, orang kaya merupakan salah satu pilar atau sendi bangunan masyarakat yang sejahtera, disamping penguasa, ulama, dan do’a para fakir miskin (al-Hadîs).

Banyak contoh para pemimpin yang mendaratkan budaya berbagi itu. Khadijah, ummul mikminîn dan Usman ibnu Affân telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan mereka. Dari jajaran orang kaya penguasa terlihat Umar inbu Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khulafaurrasyidin yang kelima, dan Harun al-Rasyid pada dinasti Abbasiyah. Mereka telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan dan dalam pemberdayaan masyarakat mereka.

Islam memandang mulia orang yang memiliki budaya berbagi, dan memperingatkan bahwa budaya berbagi itu tidak hanya harus ditegakkan oleh orang yang berkecukupan melainkan oleh setiap orang. Bedanya hanya terdapat pada kuantitas dan kualitas yang dibaginya. Sebab dalam apa yang mereka miliki terdapat hak orang lain yang membutuhkan. 

Kelalaian seseorang untuk berbagi, apalagi secara sengaja tidak mau berbagi, akan menyebabkan dirinya teralienasi dari manusia dan Tuhan, yang kurang lebih dapat diillustrasikan sebagai berikut: “Anda akan menemuinya jauh dari Tuhan, dari Nabi, dan dari manusia. Akan anda temui dia selalu sombong dan memandang orang sebelah mata. Jika bicara selalu menghina dan melukai perasaan orang lain. Jika memberi ia pamrih dan mendikte. Dia selalu minta agar orang lain berlutut dan tunduk padanya. Rasa kepedulian tidak pernah bersemi dalam perilakunya”. Terang saja bahwa keengganan sebagian orang untuk berbagi akan memunculkan kecemburuan dan berbagai kerawanan sosial, yang pada akhirnya mengganggu ketenangan dan kenyamanan masyarakat, termasuk para pemilik harta.

Menumbuhkan Berbagi 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ramadhan adalah momentum untuk menumbuhkan kembali budaya berbagi di tengah masyarakat kita, karena di sini seorang Muslim diminta untuk dapat mendaratkan budaya berbagi secara mengesankan. Rasulullah Saw meminta orang yang berpuasa untuk membagi bukaannya pada jirannya, dan di bagian akhir Ramadhan seorang Muslim diminta untuk menyepurnakan ibadahnya dengan membayar zakat fitrah. Seorang Muslim yang memiliki budaya berbagi paling tidak ditandai oleh empat karakternya. 

Pertama, ia yakin sepenuhnya bahwa pemilik hakiki dari kekayaannya adalah Allah SWT, yang ia miliki adalah hak guna pakai. Dengan demikian ia tidak penah sombong karena kepemilikannya. Kedua, orang yang memiliki budaya berbagi selalu sadar bahwa fungsinya hanyalah fungsi distributif. Oleh karenanya ia selalu berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas kekayaannya secara legal, kemudian memiliki kepedulian dengan membagi hak-hak orang lain yang ada dalam hartanya.

Ketiga, humanistik, dia sadar bahwa dirinya adalah manusia biasa. Kalaupun ia berbeda dengan yang lain, bukan dalam hal kemanusiaan, melainkan kewajiban untuk menyantuni mereka.

Dengan demikian ia tidak akan menganggap enteng orang ia pernah atau sering memberi kepadanya. Keempat, amanah, memiliki kesadaran bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu dapat diambil-Nya. Untuk itu ia akan bertindak sebagai pemegang amanah yang baik, menggunakan kekayaannya hanya untuk sesuatu yang direstui pemiliknya, Allah Swt.

Begitulah, kita perlu menginternalisasikan budaya berbagi ini pada segenap anggota keluarga. Berilah sedikit harta agar mereka langsung memberikannya kepada yang membutuhkan. Beri pula pembekalan pada mereka bahwa pemberian pada yang lain bukan berdasar belas kasihan tetapi berbasis kewajiban; kita wajib membaginya dan kita tidak berhak memandang enteng terhadap orang yang kita pernah atau sering memberi kepadanya. 

Penulis adalah peneliti di Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Kota Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Kiai, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Peristiwa di akhir Oktober hingga paruh awal November 1945, merupakan babak penting dalam sejarah pergolakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Bentrokan yang melibatkan massa dalam jumlah besar terjadi di Surabaya pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945.

Bentrokan terjadi antara pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan lain dengan pasukan Inggris dan pasukan sewaannya. Letusan terjadi karena upaya Belanda melalui pasukan Inggris, hendak mengambil alih kekuasaan Nusantara setelah pendudukan Jepang runtuh.

Saat Jakarta, Bandung, dan? Semarang sudah takluk, Surabaya menjadi kota yang penuh dinamika pergolakan. Bentrokan terus terjadi karena masyarakat Surabaya dan sekitarnya mempertahankan kota dari penyerbuan dengan kekuatan 6000 pasukan Inggris yang terus mencoba masuk ke Surabaya. Bentrokan massa bersenjata akhirnya memuncak pada tanggal 10 November 1945. Sedikitnya 2000 pasukan terlatih Inggris tewas berikut Brigjend AWS. Mallaby, Komandan Pasukan Inggris. Banyaknya korban di pihak Inggris sebagai pasukan terlatih, membuat Inggris kehilangan muka di kalangan militer internasional.

Hari dimana pertempuran sengit tersebut terjadi kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional RI. Peristiwa 10 November 1945, “tidak bisa dipisahkan dengan keputusan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang dikeluarkan NU,” kata Maulidah Zahro, Wakil Bendahara PP IPPNU, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad di Mata Pelajar Putri NU

Resolusi Jihad fi Sabilillah, sebuah putusan berisi sikap NU dalam mempertahankan NKRI yang baru dua bulan diproklamasikan dari penjajahan bangsa asing. Putusan Resolusi Jihad dirancang oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah 21 Oktober dan dibacakan oleh KH. Hasyim Asyari, Rois Akbar NU pada 22 Oktober 1945, hampir tiga minggu sebelum peristiwa Surabaya.

Isi putusan Resolusi Jihad antara lain berbunyi, “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Peristiwa bersejarah dalam bangsa ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah kejadian yang berdiri sendiri dan tiba-tiba. Ada beberapa rangkaian pergolakan sejarah yang mengantarkan Indonesia sampai pada peristiwa 10 November 1945 tersebut.

“Ada semangat yang mendukung bagaimana 10 November itu bisa hadir,” kata Maulidah.

Semangat pergerakan dan kepahlawanan melatarbelakangi peristiwa tersebut. Pembacaan terhadap peristiwa 10 November menggantung ketika mengesampingkan entitas PBNU yang pada saat itu berkantor di jalan Bubutan, Surabaya, dan semangat Resolusi Jihadnya.

Nama Bung Tomo sebagai propagandis yang sanggup mendidihkan semangat rakyat Jawa Timur dimana orasi agitatifnya diteruskan melalui radio-radio, memang melekat dengan peristiwa 10 November. Tetapi fakta sejarah bahwa KH. Hasyim Asyari kerap memenuhi permintaan nasihat Bung Tomo, tidak pernah hadir dalam sejarah umum.

Siapa berani menyingkirkan nama KH. Abdul Wahab Chasbullah yang merancang putusan Resolusi Jihad fi Sabilillah dari peristiwa 10 November? Putusan ini memiliki tenaga untuk mengalirkan santri-santri dan kiai dari daerah sekitar Surabaya ke dalam kota Surabaya. Karena, putusan tersebut menyatakan bahwa pertempuran demi mempertahankan wilayah negara bernilai sebagai perang suci.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Agak berat memisahkan Hari Pahlawan dengan NU, karena “NU memiliki andil besar dalam peristiwa yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Pahlawan,” tambah Maulidah.

Belum lagi keterlibatan laskar Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Masykur dan laskar Hizbullah dengan KH. Zainul Arifin sebagai komandan tertinggi? Kedua kiai tersebut tidak lain adalah para pemimpin NU.

Hubungan Resolusi Jihad fi Sabilillah dan Peristiwa 10 November, tertanam kuat di dalam benak warga NU meski segelintir pihak mencoba untuk mengubur fakta tersebut.

“Kesadaran sejarah 10 November memang tidak ada di dalam materi kaderisasi IPPNU. Fakta-fakta ini sudah menjadi pengetahuan umum yang saya terima dari materi ke-NUan dalam kaderisasi. Itu pun hanya sedikit disinggung, dimasukkan.”

Maulidah, yang juga pengurus Rumah Pelajar IPPNU di Ciputat mengharapkan bahwa kaderisasi IPPNU ke depan akan menegaskan isu seputar Resolusi Jihad fi Sabilillah dalam konteks peristiwa 10 November yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

“Dengan penekanan seperti itu, pemuda-pemudi NU akan sadar bahwa NU memiliki andil besar terhadap pertahanan dan kelestarian Indonesia,” kata Maulidah, Senin (5/11) sore seusai rapat dengan Pemda Palembang untuk mempersiapkan kongres XVI IPPNU di Palembang 30 November-4 Desember 2012. (Alhafiz Kurniawan/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 16 November 2017

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

Bantul, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Kapolda DIY Brigjen H Ahmad Dhofiri menyampaikan, perlu koordinasi berkelanjutan dalam upaya menangkal paham radikalisme. Hal tersebut disampaikannya saat mengisi “Halaqah PCNU Bantul dan Polda DIY”, di Gedung PCNU Bantul, Sabtu (20/5).

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

Kapolda menambahkan, Yogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, kota gudeg, kota wisata adalah miniatur Indonesia. Karenanya banyak wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi dan tinggal untuk belajar.

“Namun, di Yogjakarta masih ada kelompok yang memaksakan ideologi, separatisme; juga ada. Perlu kita sadari dan waspadai bahwa radikalisme itu gerakannya cepat dengan keras yang tumbuh di mana-mana,” kata Kapolda.

Ia menyebutkan adanya TKW yang awal keberangkatan berdandan dengan rambut masih biasa. Setahun bekerja di luar negeri, rambutnya sudah pirang kemudian berubah menggugunakan cadar.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Terus mau melakukan bom bunuh diri di Istana Merdeka. Alhamdulillah aparat mencium niat jahat tersebut dan langsung mengamankan pelaku,” paparnya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar masyarakat merawat dan menjaga empat pilar yang membuat kokoh berdiri bangsa ini yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.?

Kapolda mengharapkan masyarakat dan semua elemen bangsa untuk mewaspadai aksi gerakan seperti itu, karena mengancam keutuhan NKRI.?

“Kalau ada yang menggangu keutuhan Indonesia, hanya satu kata: lawan!” pekiknya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengutip lagu Ya lal wathon “Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu.?

Turut hadir pada kegiatan tersebut rektor UNU Yogjakarta Purwo, anggota DPD RI HA Hafith Asrom, Rois Syuriah PCNU Bantul KH Kholiq Syifa, Kodim Bantul, Direktur NU Care Bantul Rustam Nawawi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock