Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi

Indramayu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Komunitas Pemuda Desa Sendang, Kecamatan Karangampel, Indramayu melakukan kegiatan santunan kepada para orang tua kurang mampu di wilayah RT 07. Santunan dilakukan Sabtu (13/1).

Untuk keperluan santunan para pemuda menggalang dana dari uang mereka sendiri. Mereka pun mendatangi langsung ke rumah warga dengan membawa amplop yang berisikan uang.

"Saya bersama teman-teman akan terus melakukan kegiatan ini. Agar masyarakat mempunyai kesadaran untuk saling membantu warga yang kurang mampu," kata Sarifudin, salah satu pemuda yang bergerak pada santunan itu.

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santuni Dhuafa, Pemuda Sendang Rogoh Kocek Pribadi

Ia juga mengatakan pentingnya nilai sosial dengan langkah-langkah yang positif, supaya masyarakat dapat tergerak untuk melakukannya.

"Langkah ini juga dapat mengaktifkan sinyal-sinyal positif kepada mereka di kemudian hari. Tetapi semua itu butuh proses. Dan perlu dilakukan terus menerus, hingga keadaan itu menjadi terwujud," kata dia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan kegiatan serupa perlu terus di lakukan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Sedikit demi sedikit masyarakat juga akan tergerak ikut melakukannya. Baru kita akan sama sama merasakan nilai sosialitas itu sendiri," tandasnya.

Pelaksanaan santunan ini mendapat respons positif dari aparat desa setempat. Juru tulis Desa Sendang Sahidin menyatakan dukungannya kepada pemuda yang melaksanakan kegiatan itu. 

"Kegiatan ini sangat positif. Saya sangat bangga kepada mereka atas kegiatan santunan itu. Kedepannya harus terus diadakan, sebagai contoh baik untuk masyarakat," tuturnya.

Casri, salah satu penerima santunan terlihat senang menerima santunan tersebut. Ia pun mendoakan kepada generasi muda yang tergabung dalam pelaksanaan santunan tersebut.

"Saya ucapkan banyak terima kasih atas santunan ini. Dan semoga generasi muda menjadi orang-orang yang beradab," ungkapnya.

Sebelumnya Komunitas Pemuda Desa Sendang juga memberikan santunan kepada anak yatim pada malam tahun baru 2018. (Taryono/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis

Pasuruan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sabtu (2/6) petang kemarin, mengunjungi kelurga korban tembak yang dilakukan Marinir di Desa Alastlogo Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Di depan ribuan warga yang menyambutnya, Gur Dur tampak menangis saat membaca doa tahlil untuk para korban meninggal.

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Doakan Korban Pasuruan, Gus Dur Menangis

Gus Dur kembali lagi mengatakan insiden penembakan yang dilakukan oknum Marinir terhadap warga Desa Alastlogo adalah kasus besar. "Ini kasus besar yang harus kita menangkan,"katanya.

Atas insiden penembakan warga yang dilakukan Marinir, mantan ketua PBNU itu menegaskan akan menuntut PT Radjawali Nusantara Indonesia dan TNI AL lewat pengadilan Negeri Kabupaten Pasuruan.

Menurut Gus Dur tindakan  TNI AL menguasai tanah warga tidak sah, karena cara-cara pembelaiannya dilakukan denga cara kolusi. Begitu pula keberadaan PT RNI yang mengolah lahan tersebut sebagai usaha budidaya tanaman tebu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tindakan Marinir menmbaki warga. katanya, adalah tindakan yang salah dan melanggar hukum dan HAM. "Peluru yang dibeli dari uang rakyat kok digunakan untuk menemabaki rakyat,"katanya.

Dalam upaya penunutan hukum tersebut, Gur Dur mengaku telah menunjuk Prof Dr Machfudz MD sebagai ketua tim.

Ketua DPW PKB Jawa Timur Imam Nachrowi yang mendampingi Gus Dur menyebut pihaknya telah menyiapkan 23 pengacara yang dalam waktu dekat akan segera turun ke lapangan untuk melakukan pendampingan terhadap warga.(ant/sam)



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peneiti Senior The Wahid Institute, Ahmad Suaedy menyampaikan, bahwa paham dan gerakan radikalisme bisa ditanggulangi dengan memperbanyak pesan dan informasi berbasis tradisi. Memperkuat tradisi sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan atas bangsa dan negaranya.

Hal demikian disampaikan oleh Suaedy sebagai narasumber dalam Workshop Metode dan Best Practice mengenai Countering Violent Extrimism (CVE), Rabu (9/9) di Hotel Golden Palace, Mataram, NTB.

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggulangi Radikalisme, Informasi Berbasis Tradisi Harus Diperkuat

“Tradisi harus diperkuat, bukan hanya mengemukakan dan menyebarkan informasi-informasi berbau kekerasan,” terang Suaedy.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, tradisi dapat memperkuat karena di dalamnya terdapat interaksi berbasis pluralitas atau keberagaman yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau sudah bersatu, intoleransi yang menjadi salah satu faktor utama munculnya radikalisme dapat dicegah,” katanya.

Dalam sesi pertama workshop bertopik ‘Intoleransi, Ekstremisme yang Menggunakan Kekerasan dan Terorisme di Indonesia’ ini mengahadirkan Pakar Psikologi Perdamaian UI, Dr Ichsan Malik, Aktivis Perdamaian yang juga mantan anggota Jama’ah Islamiyah, Ali Fauzi, Kepala Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Solahudin Hartman, dan dari Portal Indonesia NGO, Ira Novita. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman

Tanggamus,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tokoh adat Lampung dari Pekon (Kampung) Gunung Tiga, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Buya Sayuti Ibrahim dan tokoh adat Sunda, Suhadi AR berkenan berbagi tumpeng keberagaman yang diberikan Kasat Binmas Polres Tanggamus, AKP Djoko Sarianto pada Festival Bhinneka Tunggal Ika, Jumat (20/11).

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Adat Lampung dan Sunda Berbagi Tumpeng Keberagaman

"Ini simbol bahwa kita Indonesia, beragam tapi bukan persoalan," ujar Ajengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Teater Jabal Lampung WD Fatchurrochman Syam, di Tanggamus, Sabtu (21/11).

Bekerjasama dengan Gusdurian Lampung, Teater Jabal memperingati Hari Toleransi Internasional. Kegiatan antara lain memutar film dan mendiskusikan film "Bulan Sabit di Kampung Naga" karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan, didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Persatuan Guru Nahdlatul Uama (Pergunu) dan Hipsi Lampung, IPNU, Yayasan Nurul Falah dan LP Maarif NU Tanggamus, serta Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, dan Alumni BPUN Waykanan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mari kita kawal keberagaman yang indah ini bersama-sama," kata Fatchurrochman lagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain tokoh adat, tokoh agama KH Junaedi AR, Bc. Hk, Pengasuh YPIPP Nurul Falah Kabupaten Tanggamus, dan Romo Yosef Wiyoto, tokoh agama Katholik dari Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu juga berkenan saling menyuapi nasi tumpeng keberagaman.

"Bhinneka Tunggal Ika membuat kita nyaman. Membuat suasana aman dan nyaman ialah tugas kita," ujar AKP Djoko. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung memperingati hari lahir (harlah) ke 82 tahun pemuda Nahldatul Ulama (NU) atau Ansor dengan menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) V di Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif.

Ketua PAC Ansor Pakuan Ratu, Bakti Gozali di Blambangan Umpu, Ahad (16/4) menjelaskan, tema kegiatan berlangsung 22-24 April 2016 tersebut ialah "Semangat Persatuan Menuju Kader Ansor yang Kuat, Aktif, Interaktif, dan Senantiasa Komitmen Menjaga Keutuhan NU, Amaliyah NU dan Setia pada NKRI".?

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Bersatu Aktif untuk NU dan Indonesia

"Insyaallah ada 86 calon kader Ansor dari Kecamatan Pakuan Ratu, Negeri Agung, Negara Batin dan Gunung Labuhan mengikuti PKD," ujar Bakti didampingi Kasatkoryon Eko Sugiyanto.

Ia melanjutkan, intruksi Pimpinan Cabang Ansor Way Kanan dipimpin Gatot Arifianto meminta kegiatan dilakukan untuk memperingati harlah ke-82 organisasi pemuda NU yang berdiri 24 April 1943 supaya tidak melulu seremonial.

Berbuat, merawat, mengembangkan organisasi lebih bermakna, maslahat dan jelas. Itulah hakikat berorganisasi dan pembuktian mencintai Ansor. Organisasi harus berjalan, menatap ke depan. Organisasi tidak memerlukan perkataan semata, namun juga perbuatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Gerakan Pemuda Ansor merespon semangat pemuda berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Way Kanan yang ingin bergabung dengan Ansor. Semangat tersebut kami sambut baik dengan menggelar PKD," kata Bakti lagi.

Penyelenggaran PKD V tersebut merupakan gagasan PAC Ansor Pakuan Ratu yang selaras dengan PC Ansor Way Kanan. Merupakan gerbang awal pemuda daerah itu untuk menjadi kader Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Selain itu guna membekali calon-calon generasi muda NU lebih kuat secara aqidah keislaman dan paham terhadap ke-Nahdlatul Ulamaan serta membekali kader dengan kreativitas dan kewirausahaan," demikian Bakti Gozali. Disisi Saidi Fatah. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Warta, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Oleh : Ahmad Ali Adhim



Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdian nya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalu proses belajar di kampus beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” akhirnya Beliau juga mendapat gelar professor. 

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.





Penulis, mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan mengunjungi warga pengungsi terdampak gempa bumi di Pidie Aceh, hari ini, Rabu (14/12). Selain silaturahmi dan berdialog dengan warga, kunjungan Kang Said ini diadakan dalam rangka penyerahan bantuan NU senilai total Rp. 505.000.000,-.

Kang Said hadir bersama Wakil Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zainy.

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini Ketum PBNU Serahkan Bantuan Senilai Rp. 505 Juta Pascagempa Aceh

Perolehan dana senilai itu adalah sumbangan warga NU dan masyarakat umum melalui NU Care Lazisnu. Rinciannya adalah Rp. 205.000.000,- berupa paket barang, obat-obatan, dan layanan kesehatan; serta bantuan perbaikan sarana masjid, sekolah, dan pondok pesantren yang terdampak bencana senilai dan Rp. 300.000.000,-.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bantuan ini berasal dari 398 donatur termasuk dari NU Care Lazisnu Taiwan senilai Rp. 34.091.000,-.

Ketua NU Care Lazisnu Syamsul Huda menyampaikan apresiasi atas kepercayaan masyarakat yang menyalurkan bantuan melalui NU Care Lazisnu.

"NU Care Lazisnu berterima kasih kepada Kiai Said yang telah memotivasi seluruh pengurus NU untuk memberikan bantuan. Selain itu kepada masyarakat Indonesia di Taiwan, kami mengucapkan banyak terima kasih," kata Syamsul, Rabu (14/12) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua LKNU Hisyam Said Budairi mengatakan, NU dalam konteks penanggulangan bencana berperan untuk membantu meringankan warga terdampak. Dalam hal ini NU perlu menggerakkan semua potensi yang ada dalam tubuh organisasi.

"LKNU sebagai bagian dari NU, dengan senang hati membantu PBNU dalam membantu masyarakat terdampak bencana. Ini merupakan bentuk hidmat LKNU kepada NU, dan khidmat NU untuk masyarakat," tutur Hisyam.

Senada dengan itu, Ketua LPBINU M Ali Yusuf menuturkan LPBINU bangga dan senang dapat terlibat dalam penanggulangan bencana gempa Aceh.

"Kerja sama LPBINU, LKNU, dan NU Care Lazisnu bukan pertama kali. Tentu ini sangat baik karena selama ini ada sebagian pihak yang beranggapan bahwa bantuan kemanusiaan bukan bagian ibadah mendasar yang diperjuangkan NU," ujar Ali. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama telah mengalami penyempurnaan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1967. Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Muchlis M Hanafi mengatakan, Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama mengalami penyempurnaan pertama kali pada tahun 1989.

Sedangkan penyempurnaan terakhir dilakukan pada tahun 2002 dan sampai sekarang masih dipergunakan. “Penyempurnaan terjemah Al-Qur’an merupakan sebuah kebutuhan, untuk merespon perkembangan masyarakat, terutama terkait dengan pemahaman masyarakat,” ujar Muchlis M Hanafi pada Seminar Hasil Penelitian Penggunaan Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama di Masyarakat, Jakarta, Selasa (8/8) sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Alasan perlunya penyempurnaan terjemah Al-Qur’an, lanjut Muchlis, yaitu untuk merespon perkembangan dinamika di masyarakat dan berkembangnya Bahasa. “Jadi kita perlu menyesuaikan dari perkembangan tersebut. Maka dari itu, kita mengundang Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ikut serta mencermati terjemahan Al-Qur’an dari sisi tata bahasa,” katanya.

“Sejak tahun anggaran 2016, LPMQ telah memulai kegiatan penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama,” sambungnya.

Muchlis M Hanafi memperkirakan penyempurnaan terjemah ini akan selesai pada tahun 2019. Sebab, proses saat ini belum sampai setengah jalan. Di samping itu, masih ada satu mekanisme lagi yang ? tidak hanya selesai di tingkat tim penyempurna karena harus dilakukan ? uji publik. ? Proses itu akan dilakukan pada Forum Musyawarah Ulama Al-Qur’an yang mengundang ulama dan pakar Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Dummi yang sudah disusun oleh tim akan diserahkan kepada para ulama pakar Al-Qur’an dan bila selesai baru disebarkan ke masyarakat. Hal ini perlu hati-hati dalam penerjemah Al-Qur’an,” ucap Muchlis M Hanafi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Seminar ini dibuka Kepala Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Abd Rahman Mas’ud. Seminar ini dihadiri 75 peserta yang berasal dari berbagai unsur baik peneliti LPMQ, unsur masyarakat, perguruan tinggi, serta dari unit-unit Eselon 1 di Kementerian Agama.

Sebagai narasumber pada acara tersebut yaitu ? Prof Muljani A Nurhadi, M.Ed, M.S dan Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr.H. Muchlis M. Hanafi dan H. Abdul Aziz Sidqi,M.Ag (LPMQ), ? serta H. Jamaluddin M Marki,Lc, M.Si dari Bimas Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Karanganyar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar menggelar syukuran harlah ke-62 IPNU dan ke-61 IPPNU. Syukuran sederhana dengan doa bersama dan dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng simbolis di kantor PCNU Karanganyar Jl. Gatot Subroto Karanganyar, Ahad (28/2).

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Ketua IPNU Karanganyar Muhammad Ilham Subkhan mengungkapkan peringatan harlah merupakan upaya untuk mengingat perjuangan dan mendoakan para pendiri IPNU-IPPNU.

?

"Kami selenggarakan acara harlah ini dengan sederhana, yang terpenting esensinya tercapai, yaitu mendoakan para pendiri IPNU dan semangat juangnya," ungkap Ilham.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga berharap semoga harlah ini sebagai momentum kebangkitan pelajar NU di Karanganyar sehingga keberadaanya semakin diperhitungkan.

Selanjutnya Ketua PCNU Karanganyar H Khuzaini Hasan dalam tausiyahnya meminta kepada pelajar NU untuk terus belajar, tapi belajar dengan guru yang jelas sanadnya.

"Putra-putriku yang ada di jajaran pengurus harus terus belajar, tapi belajar kepada guru yang jelas gurunya," jelas Khuzaini.

"Kalau belajar tanpa guru atau guru yang tidak jelas, itu bisa berbahaya dan kita bisa tersesat," tambahnya.

Selain itu, ia berpesan kepada pengurus IPNU-IPPNU untuk berani menyuarakan paham Aswaja an-Nahdiyyah di daerah Karanganyar, karena sebagian dari masyarakat Karanganyar belum mengenal NU. (Ahmad Rosyidi/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Tangerang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor dan Baznas Tangerang menggelar acara Santunan Mualaf yang diselenggarakan di Sekretariat GP Ansor Kabupaten Tangerang pada Ahad (11/6). Kegiatan ini mengambil tema Berbagi di Bulan Suci, Menggapai Ridho Ilahi.

Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan Ramadhan. "Ini bentuk pangabdian kita terhadap masyarakat sekaligus bukti kepedulian kita terhadap kaum mualaf," ucapnya.

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Menurutnya, para mualaf dan mualafah tersebut datang dari berbagai daerah di Kabupaten Tangerang.?

"Data mualaf tersebut kami peroleh dari jejaring Banser dan Muslimat yang ada di masing-masing wilayah. Ada 102 mualaf yang kami santuni," tambahnya.

Ketua Baznas Kabupaten Tangerang KH Afif Afifi menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menyalurkan zakat, infaq, sedekah yang terhimpun di Basnas kepada masyarakat yang memang memiliki hak atas ZIS tersebut.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Santunan mualaf ini adalah bagian upaya penyaluran dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah dari masyarakat yang diserahkan kepada Baznas," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga berharap ke depan semakin tumbuh kesadaran masyarakat untuk mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada Baznas.

"jika kesadaran masyarakat untuk membayar zakat ini tinggi maka Baznas sebagai lembaga akan mendapatkan akumulasi dana yang besar sehingga ikhtiar kita untuk selalu ingin membantu sesama juga akan semakin besar dan maksimal."

Sementara ketua panitia Anwari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang digagas oleh keluarga besar NU, Basnas dan juga oleh Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA).?

"Ini upaya kita membangun kebersamaan antarlembaga melalui program-program nyata bagi masyarakat."

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pembagian seribu ? takjil, buka puasa bersama kader-kader Ansor Banser dan FPLA se-Kabupaten Tangerang.

Anwari juga mengatakan kegiatan membagi-bagikan takjil ini dilakukan untuk mempermudah warga dan para pengendara kendaraan motor yang hendak berbuka puasa.

"Kami menyiapkan seribu takjil untuk buka puasa warga yang melintas di depan Sekretariat Ansor." Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Sejarah, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Musibah tanah longsor serta banjir bandang yang melanda wilayah Pacitan, Jawa Timur, mengundang simpati sejumlah kalangan. Di bawah koordinasi PC Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang, belasan juta rupiah dana bisa terhimpun. Demikian pula bantuan berupa barang yang sangat dibutuhkan para korban.

"Total uang tunai yang kami terima hingga siang ini sebanyak Rp.15.124.200," kata Akhmad Zainuddin, Senin, Ketua PC LAZISNU Jombang, Senin (4/12). Ia mengatakan, dana diperoleh dari sejumlah orang maupun lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi.

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan

Dalam aksi social ini, LAZISNU dibantu Unit Pengelola Zakat Infak Sedekah (UPZIS) dan Jaringan Pengelola Zakat Infak Sedekah (JPZIS) di sejumlah kecamatan dan desa. "Setelah terhimpun, kemudian dijadikan satu di posko PC LAZISNU Jombang," kata Gok Din, sapaan akrabnya.

Sejumlah barang yang juga telah siap dikirim ke lokasi bencana berupa beras, pembalut, pakaian layak, dan mukena. "Juga ada yang menyumbang mi siap saji, serta susu kemasan," ungkapnya.  

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Insya Allah Kamis (7/12, red) bantuan kami antar ke lokasi bencana di Pacitan," katanya.

Sembari menunggu waktu pengiriman barang, posko bencana untuk Pacitan masih terbuka kepada siapa saja yang akan memberikan sumbangan. "Ini demi meringankan beban keluarga dan saudara kita di sana," ungkap Gok Din. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU?

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan cukup berat di tengah maraknya cara berpikir dan perilaku ekstrem dari sejumlah kelompok agama. Nahdliyin perlu penguatan nilai-nilai ke-NU-an di samping menjaga diri dari reaksi ekstrem serupa.

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seberapa Jauh Generasi Muda Memahami Prinsip Sosial NU?

Pandangan ini mencuat dalam forum Sekolah Aswaja yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Pusat, Kamis (19/3) petang, di aula kantor PBNU, Jakarta. Diskusi bertema “Bincang Islam Ramah: Darurat Vulgarisme Beragama” ini menghadirkan narasumber Kepala Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Wawan Junaidi dan aktivis muda NU Safi’ Alielha.

Safi’ menyoroti betapa gerakan Islam garis keras kini kian agresif dalam menyebarkan propagandanya, tak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Mereka bertindak mengatasnamakan bagian dari kelompok Islam tertentu, termasuk sebagai Sunni seperti yang dilakukan ISIS.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kondisi tersebut, katanya, tentu menjadi tantangan bagi NU sebagai sesama Sunni yang dalam praktiknya sangat kontras dengan apa yang dilakukan ISIS. “Menurut saya, NU itu lebih dari sekadar Sunni. Ia mempunyai kearifan tersendiri, seperti memegang nilai tasamuh (toleransi) dan tawasuth (moderasi),” tambah Pemimpin Redaksi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ini.

Melalui nilai-nilai ini para ulama Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia mampu mempengaruhi keberagamaan masyarakat tanpa menimbulkan gejolak berarti. Hal tersebut disebabkan pendekatan dakwah yang dilakukan bersifat toleran, menghormati lokalitas, dan menghargai proses.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang menjadi persoalan sekarang, lanjutnya, seberapa jauh generasi muda NU memahami prinsip-prinsip sosial itu. “Saya yakin kita yang ada di sini masih belum begitu paham pandangan tawasuth menurut Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Imam Maturidzi, Imam Syafi’i, Hanafi, dan lain-lain,” ujarnya di hadapan para aktivis PMII Jakarta Pusat.

Safi’ juga menyayangkan ada sebagian tokoh NU yang menilai ormas tertentu yang gemar melakukan kekerasan adalah bagian dari NU meskipun dengan atribusi “NU galak”. “NU kok galak, tidak ada ceritanya NU galak, apalagi terhadap sesama saudara sendiri,” paparnya.

Sementara Wawan menggarisbawahi bahwa perilaku merusak atau vandalisme dalam beragama  berakar dari cara berpikir yang sempit dan kolot. Mereka menganggap diri mereka paling benar sedangkan yang lain pasti salah.

Ia menekankan, dalam bingkai NKRI ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa) dalam rumusan ulama NU harus lebih diutamakan ketimbang ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Islam).

Mantan aktivis PMII ini juga mengingatkan agar NU, terutama Banser atau Pagar Nusa, tak terpancing ikut bertindak kekerasan, termasuk kepada kelompok yang berseberangan secara pemikiran.

Sekolah Aswaja PC PMII Jakarta Pusat berlangsung selama dua hari. Ketua PC PMII Jakpus Daud Azhari mengatakan, malam ini hingga besok, Jumat (20/3), kegiatan ini digelar di kantor Ikatan Alumni PMII (IKA-PMII), Tebet, Jakarta. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam memperkuat kader Nahdlatul Ulama, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU IPPNU) Kecamatan Gebang menggelar Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) Raya yang diikuti oleh seluruh pelajar santri se-Kecamatan Gebang. Pembukaan kaderisasi ini digelar di Aula Desa Gebang Kulon, Cirebon, Sabtu (26/11).

Tampak hadir pengurus MWCNU, Muspika, GP Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, dan Irmas Kecamatan Gebang, Kuwu Gebang Kulon, dan Wakil DPRD Kabupaten Cirebon Hj Yuningsih yang memberi motivasi kepada para peserta makesta raya.

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Setelah pembukaan, peserta Makesta Raya menuju tempat penginapan di lingkungan Lembaga Pendidikan Yayasan An-Nahdliyyah Indonesia dan dimeriahkan oleh grup drumben SDIT Ar-Rahmah Gebang Kulon Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Pelaksana Ahmad Yusuf mengatakan pihaknya sangat merasa bangga karena? peserta yang mengikuti makesta raya sangat antusias. Terbukti peserta sampai melebihi target. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kegiatan ini sehingga bisa terlaksana secara maksimal. Ia berharap alumni makesta tahun ini siap untuk berkhidmah di NU secara istiqamah.

Ketua IPNU Gebang Hadi Riyanto mengajak semua kader NU khususnya di wilayah kecamatan Gebang harus melakukan pengkaderan mulai dari makesta sampai Latihan Kader Utama (LAKUT) supaya benar-benar menjadi kader yang loyal.

Ketua IPPNU Kecamatan Gebang Siti Maghfiroh mengatakan, kader IPNU-IPPNU harus mampu untuk merekrut kader-kader di sekolah dan pesantren. Ia berharap kepada peserta makesta raya untuk mengikuti dan menyimak materi secara seksama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori melalui sekretarisnya Abdul Bari menjelaskan, kader IPNU-IPPNU pada masa sekarang ini harus siap menghadapi tantangan di zaman globalisasi seperti ini karena pelajar zaman sekarang sudah banyak yang terjebak pada pergaulan bebas, dan sudah berani mengonsumsi barang-barang yang dilarang oleh agama.

Ia menganjurkan IPNU dan IPPNU untuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah dalam menyosialisasikan bahaya obat-obatan terlarang seperti narkoba dan lainnya.

“Harapan kami alumni makesta tidak berhenti dalam mengikuti pengkaderan. Makesta adalah pengkaderan tingkat awal teruslah mengikuti pengkaderan di tingkat selanjutnya sampai Lakut,” jelasnya. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Berita, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Karamahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ahamduillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jum’at berjama’ah. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. semoga ketaqwaan itu bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surga.

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahawat (hal-hal yang menyenangkan manusia).”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. yang menganugerahkan keamanan dan? keselamatan atas bangsa Indonesia ini, tepatnya setelah melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada 15 Februari yang lalu. Sebagai bangsa yang hidup berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keamanan dan? keharmonisan ini haruslah disykuri bersama-sama dengan cara terus menjaga dan meningkatkan rasa kepekaan sosial antar sesama, karena inilah saha satu hal penting yang terbukti mampu melahirkan kebersamaan dan keamanan di tengah perbedaan. Inilah sukses kita semua, sukses bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam

Para hadirin jamaah jumah rahimakumullah,



Sukses besar bangsa ini dalam melaksanakan hajatan demokrasi menunjukkan kepada dunia bahwa jalinan kemanusiaan, ukhuwah insaniyah atau humanisme dalam jiwa bangsa Indonesia adalah sesuatu yang nyata bukan sekadar wacana. Sesuatu yang telah terjadi dalam realitas kehidupan sosial (al-madhahir al-ijtimaiyyah), bukan sekedar teori di dalam tumpukan buku. Hal ini membuktikn bahwa ajaran tentang kemanusiaan dalam diri umat Islam di Indonesia telah lebih dulu hadir sebelum kata humanisme itu sendiri. Sehingga Indonesia dengan umat Islamnya yang bersuku-suku dan berbeda-beda bahasa, patut menjadi contoh bagi negra-negara lain yang sedang mencari jati dirinya.

Di sisi lain, kenyataan ini menunjukkan kepada kita akan kebesaran muslim Indonesia yang memiliki kemampuan merubah segala konsep dan pemikiran yang datang dari luar untuk disesuaikan dengan realitas keindonesiaan yang ada di sekitar. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan ijtihad para ulama dan cendekiawan muslim yang selalu berusaha meramu berbagai pemikrian dan ideologi yang menyerbu bangsa ini. Para ulama dan cendekiawan muslim itu adalah penjaga (the guardian) yang menginginkan bangsanya tetap berkarakter. Dengan pengetahuan keislaman yang membumi, para ulama itu memeras segala yang datang dari Dunia Barat untuk diambil sari kebaikannya dan membuang remah-remah keliberalan yang tak sesuai nilainya dengan karakter ketimuran. Demikian pula dalam menghadapai pemikiran yang datang dari Dunia Arab, para ulama Indonesia? hanya memilah konsep-konsep yang dapat menyempurnakan keislaman di Indonesia dan menghalau unsur-unsur fundamentalis yang tidak sesuai dengan nilai keislaman di Indonesia.

Jamaah jumah yang dirahmati Allah,

Demikianlah sungguh besar karunia Allah terhadap bangsa Indonesia ini. Begitu besarnya karunia itu sehingga seringkali menutupi mata batin kita untuk bersyukur kepada-Nya. Bahkan besarnya karunia itu menjadi sumber kesombongan diri dengan menyatakan sebagai pihak yang paling memiliki andil paling banyak dalam keamanan dan ketertiban. Tentunya kita sebagai umat muslim yang sadar diri hendaknya menghindar dari sifat-sifat buruk yang demikian. Karena sifat-sifat buruk itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan merugikan sesama umat muslim lainnya.

Sebagai sebuah sistem pemilihan pemimpin, pilkada yang telah lalu akan menghasilkan para pemimpin masa depan. Sebentar lagi akan diikhbarkan kepada kita semua, siapakah yang berhak menjadi pemimpin dan siapa pula yang terbukti mendapat amanah lebih banyak dari masyarakatnya. Pastilah akan banyak kekecewaan, karena tidak mungkin yang terpilih mengantongi 100 persen suara pemilih. Olah karena itu, bagi para pemilih yang kecewa, harus yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana tersendiri. Rencana Agung untuk kemajuan bangsa. Rencana terbaik untuk bangsa yang mayoritas penduduknya adalah hamba-hambanya yang taat dan beriman semuanya. Selaku kelompok yang tersisih tidak seharusnya putus asa. Sebagaimana Usaha Nabi Musa melawan Firaun yang mencapai kesuksesannya setelah empat puluh tahun berusaha dan berdoa.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak putus asa setelah gagal memasuki kota Makkah pada tahun 6 Hijriyah setelah di tahan dan diusir kembali bersama 1500 umat Islam Madinah. Sebuah kejadian yang dramatis menimpa Rasulullah yang telah merindukan kampung halamannya, dan segenap umat muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Walaupun hal itu telah diinformasikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpinya. Ternyata semua rencana tidak dikabulkan Allah SWT, karena Allah SWT telah memeiliki rencana lain yang jauh lebih dahsyat, tentang Fathu Makkah.? Begitulah kegagalan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 27.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

Hadirin Jamaah jumah yang dimuliakan Allah

Seringkali Allah SWT menunda keberhasilan dari hamba-Nya, karena telah menyiapkan rencana lain yang lebih agung nilainya. Meskipun seringkali penundaan itu sangat menyakitkan. Sebagaimana yang dirasakan sahabat Umar dalam mengomentari kegagalan Umat Islam memasuki kota Makkah yang diungkapkan kepada Rasulullah SAW? "Ya Rasullah bukankah Engkau telah memberi kabar bahwa kita akan memasuki kota Makkah?" Demikian kekecewaan itu adalah manusiawi. Kemudian Rasulullah SAW menjawab "apakah aku mengatakanmu pada tahun ini?" Umar berkata "tidak". Lalu Rasulullah SAW berwasiat "sungguh engkau akan memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf di sana, maka eratkan tanganmu (kekuatan keyakinanmu) wahai saudaraku, untuk membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu, perbaiki prasangkamu pada Allah dan para kekasih-Nya terutama pada gurumu, hindarilah perasaan bohong dan ragu-ragu dengan nabimu agar tidak menjadi cacat di mata hatimu dan tidak menjadi sebab kebutaan mata hatimu dan juga tidak memadamkan cahaya rahasia bathinmu.

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terhadap Sayyidina Umar ra. Sebenarnya adalah satu fragmen yang menggambarkan betapa manusia seringkali berharap kepada Allah SWT dan seringkali harapan itu tidak mendatkan balasannya, sehingga kecewa dan merasa putus asa. Sebagaimana lumrahnya sebuah doa yang lama sekali tidak terkabulkan. Inilah yang dibicarakan dalam Al-Baqarah 216:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Demikianlah khotbah singkat ini semoga dapat memberi inspirasi untuk diri khatib khususnya, dan semua jamaah pada umumnya.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Ulil Hadrawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Quote, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Emha Ainun Najib atau Cak Nun dan Sujiwo Tejo akan meramaikan acara peringatan hari lahir (Harlah) NU di halaman kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat pada 31 Januari dan 1 Februari 2013 nanti.

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU ini membidik “Atlas Wali Songo” satu karya besar sejarawan NU Agus Sunyoto yang diterbitkan LTN bersama penerbit Iman. Buku ini memaparkan perjalanan dan metode dakwah Wali Songo yang sedianya telah dan akan diteruskan oleh NU.

Cak Nun dengan rombongan Kiai Kanjeng-nya juga sudah positif akan meramaikan acara pada 31 Januari atau Kamis malamnya. Bahkan seperti biasanya, Cak Nun sudah memesan panitia untuk disiapkan sound system khusus dengan standar Kiai Kanjeng.

Menurut Ketua LTN PBNU Sulton Fathoni, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya akan membawakan tema "Fikih Dakwah Wali Songo". Selain Agus Sunyoto, Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan sejumlah pengurus NU juga akan hadir. Panitia juga mengundang sejumlah menteri, pejabat pemerintahan, pihak sponsor dan awak media untuk menyemarakkan harlah NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Jumat malam, 1 Februari malam Sujiwo Tejo akan mementaskan wayang dengan lakon "Sunan Kalijaga", salah satu tokoh Wali Songo yang paling populer dan menggunakan wayang sebagai metode dakwah.

Di tengah-tengah pentas wayang itu, juga ada bedah buku Atlas Wali Songo. KH Said Aqil Siroj, Agus Sunyoto dan narasumber lain memaparkan banyak hal mengenai Wali Songo, sementara Sujiwo Tejo si dalang edan itu juga akan aktif mengikuti bedah buku sembari ndalang. Bedah buku dan pementasan wayang akan bersahut-sahutan di halaman gedung PBNU yang akan disulap menjadi ruang pertunjukan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Dalam struktur organisasi jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) pernah dikenal adanya Majelis Konsol (baca: konsul). Berbeda dari model kepengurusan Pengurus Wilayah (PW) pada struktural NU saat ini yang diadakan pada sebuah provinsi, Majelis Konsul diadakan pada daerah yang dipandang perlu oleh Pengurus Besar NU untuk didirikan.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (1985) mencatat Majelis Konsul mulai diadakan sejak Muktamar NU ke-12 di Malang tahun 1937: “Pada Muktamar Malang ini juga dibentuk 9 konsul. Kesembilan konsulat itu: Banyumas, Menes, Kudus, Cirebon, Malang, Magelang, Madura, Surabaya dan Pasuruan.”

Dalam AD/PRT (Anggaran Dasar dan? Peraturan Rumah Tangga) NU saat itu disebutkan, fungsi Majelis Konsul salah satunya untuk mempermudah komunikasi antara PB dengan cabang-cabang, baik intruksi dari PBNU ke cabang maupun suara-suara dari cabang yang hendak disampaikan ke PB.

Konsul ini juga bertanggung jawab terhadap perkembangan cabang-cabang yang dibawahinya.

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Konsul, Penghubung Pengurus Besar dan Cabang NU

Sebagai gambaran mengenai Majelis Konsul ini, pada sekitar tahun 1939 menjelang pelaksanaan Muktamar NU? ke-14 di Magelang, terdapat kepengurusan Majelis Konsul NU Daerah Jawa Tengah bagian Selatan yang berkedudukan di Sokaraja, disingkat menjadi Konsul NU Daerah Banyumas.

Konsul NU Banyumas ini mengoordinasi “tjabang-tjabang” antara lain: 1. Banyumas (berkedudukan di Sokaraja), 2. Purwokerto, 3. Purbalingga (Kecamatan Kartanegara), 4. Cilacap (Kawedanan Kroya), 5. Banjarnegara (Kawedanan Mandiraja), 6. Temanggung (Parakan), 7. Purworejo, 8. Kebumen, 9. Wonosobo, 10. Yogyakarta, dan 11. Karanganyar (Kawedanan Pejagoan).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Majelis Konsul ini diisi oleh beberapa pengurus dan dipimpin oleh seorang konsul yang didamping sekretaris dan bendahara konsul. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Konsul ini juga dibantu oleh Komisaris Daerah yang berada di lingkup sebuah karesidenan.

Format struktur kedudukan Majelis Konsul ini sempat berubah di zaman pendudukan Jepang, ketika pemimpin saat itu, Saiko Shikikan? (panglima tertinggi), menetapkan Undang-Undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan? Syu? dan? Tokubetsu Syi.

Bentuk Pemerintahan? Syu? (setingkat Karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 Syu. Pergantian tata pemerintahan ini, juga membuat PBNU mengubah struktur Majelis Konsul, dari semula membawahi di atas tingkat karesidenan, menjadi setingkat karesidenan (Syu). (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait:

- Choirul, Anam. 1985. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Jatayu. Solo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

- Aboebakar, Atjeh. 2015. Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim. Pustaka Tebuireng. Jombang.

- Saifuddin, Zuhri. 2013. Berangkat dari Pesantren. LKiS. Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Quote, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya kelompok Islam Ahlussunnah wal Jamaah mengidentifikasi kembali sarana dakwah yang dimilikinya. Langkah kecil yang diminta segera dijalankan adalah pemasangan plang (papan nama) organisasi NU.

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU

"Masjid dan Musholla itu anak ranting NU, harus ada plang NU," tegas Kang Said, demikian KH Said Aqil Siroj disapa dalam kesehariannya di Jakarta, Jumat (18/5).

Pemasangan plang NU, lanjut Kang Said, tidak hanya bermakna identifikasi aset kelompok Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Langkah ini juga untuk menghindari adanya penguasaan dan penyalahgunaan Masjid serta Mushala oleh kelompok Islam berfaham radikal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Wahabi itu lebih takut kepada plang NU daripada ke orang-orang NU," tambah Kang Said dengan nada canda, yang langsung ditimpali dengan menegaskan penyematan plang NU di Masjid dan Mushala penting untuk dilakukan.

Kang Said yakin jika kepengurusan NU di daerah, mulai dari tingkat wilayah, cabang, hingga ranting mampu membiayai pembuatan dan pemasangan plang identifikasi di Masjid dan Mushala yang menjadi asetnya. "Kalau tidak punya anggaran, asalkan kita sungguh-sungguh, apa yang kita laksanakan bisa dipertanggungjawabkan, Insya Allah masih banyak kelompok yang bersedia membantu kita," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menanggapi permintaan identifikasi masjid dan musholla, Ketua Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU KH Abdul Manan, mengatakan jika langkah tersebut sudah menjadi prioritas untuk segera dilaksanakan.

"Rapimnas LTM NU di Palangkaraya beberapa hari lalu memang mengamanatkan identifikasi Masjid dan Musholla. Itu sudah menjadi prioritas kami, dan kepengurusan di daerah akan segera melaksanakannya," ujar Kiai Manan.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Khotbah Nikah yang Berbelok

Abul Aswad Ad-Duali–peletak dasar ilmu nahwu (gramatika Arab)–suatu hari berkata kepada anaknya, “Nak, saudara sepupumu ingin menikah. Ia menginginkanmu baca khotbah nikah. Untuk mesti Kauhapal itu khotbah nikah.”

Selama dua hari-dua malam suntuk anak itu mempelajari khotbah nikah.

Khotbah Nikah yang Berbelok (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotbah Nikah yang Berbelok (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotbah Nikah yang Berbelok

“Sudah siap?” kata Abul Aswad kepada anaknya di hari ketiga.

“Sudah dong pak, aku sudah mengapalnya.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Coba baca, aku mau dengar,” kata bapaknya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Baik, simak dan perhatian dengan seksama Pak.”

Lalu anaknya mulai membaca khotbah. “Alhamdulillâhi nahmaduhû, wa nast’înuhû, wa natawakkalu alaih. Wa nasyhadu an lâ ilâha illallâh, wa anna muhammadar rasûlullâh. Hayya alas shalâh, hayya alal falâh….

“Stop, jangan iqamah dulu. Aku belum bersuci,” kata Abul Aswad dengan jengkel. (Alhafiz K)

*) Dikutip dari Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang Dungu dan Lalai) karya Ibnul Jauzi. Judul oleh pengutip.Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Halaqoh, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

HIPSI Sebarkan Virus Kewirausahaan di Bangkalan

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) semakin dirasakan kehadirannya di tengah komunitas pesantren. Sejumlah kegiatan diselenggarakan dalam bentuk massal, diantaranya senam yang melibatkan puluhan ribu santri.

HIPSI Sebarkan Virus Kewirausahaan di Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Sebarkan Virus Kewirausahaan di Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Sebarkan Virus Kewirausahaan di Bangkalan

Setelah kegiatan senam sepuluh ribu santri di Pasuruan, Jombang dan Jember, kini tiba giliran Bangkalan Madura.Seperti kegiatan serupa di kota sebelumnya, kegiatan ini nantinya akan diikuti para santri dan pelajar dari sejumlah pesantren ternama di Bangkalan.?

“Kegiatan akan diawali dengan road show seminar kewirausahaan di lima pesantren legendaris di Bangkalan,” kata Mohammad Ghozali kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal (8/6).?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selama kegiatan yang akan berlangsung dari tanggal 12 hingga 15 Juni, para santri akan diberikan gambaran tentang tantangan dunia usaha yang kini semakin sengit. Demikian juga, para santri akan diberikan pelatihan dan sejumlah kesempatan yang dapat ditindaklanjuti pada saat mereka berada di pesantren dan ketika pulang kelak.

“Prinsipnya lewat HIPSI ini kita ingin menampung serta memberikan sejumlah kiat dan berbagai pengalaman kepada calon pengusaha dari pesantren ini,” katanya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Peluang ini semakin terbuka lebar lantaran para kiai pengasuh dan sejumlah ustadz juga berkenan untuk memberikan kemudahan atas kegiatan ini.

“Kiprah para kiai pengasuh dan sejumlah ustadz di beberapa pesantren yang berkenan untuk menjadi tuan rumah pada kegiatan ini menjadi suplemen penguat bagi cita-cita kami yang ingin melahirkan sejuta pengusaha,” tandasnya.

Oleh karena itu, Ghozali sangat berterimakasih kepada sejumlah pihak yang dengan sangat terbuka memberikan kemudahan atas akan diselenggarakannya kegiatan ini.

“Puncaknya adalah diselenggarakannya senam yang diikuti sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren pada hari Ahad (16/6) di Alun-alun kota Bangkalan,” katanya.?

Senam menjadi kegiatan penutup yang membawa pesan akan pentingnya semangat kewirausahaan yang diimbangi dengan kesehatan fisik dan kejiwaan.?

“Dengan perpaduan antara sehat jasmani dan rohani serta tercukupinya kebutuhan para santri, kita yakin kiprah mereka akan sangat dihargai di komunitasnya,” terangnya.

Ghozali sangat berharap pada waktu yang tidak akan lama, akan terhimpun para saudagar santri sebagaimana menjadi embrio dari berdirinya Nahdlatul Ulama atau NU.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock