Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ini Pesan Rais Aam PBNU dalam Tabligh Akbar NU Taiwan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ribuan jamaah NU Taiwan menyelenggarakan istighotsah dan tabligh akbar di pusat Kota Taiwan,  Taipei Main Station, Ahad (15/10). Hadir dalam acara Rais Aam PBNU KH Maruf Amin dan Katib Syuriyah PBNU Asrorun Niam Sholeh.

Katib Syuriyah PBNU KH Asrorun Niam Sholeh menegaskan pentingnya implementasi semangat persaudaraan yang dikembangan oleh NU, ukhuwwah nahdliyyah, ukhuwwah islamiyyah,  ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyah.

Ini Pesan Rais Aam PBNU dalam Tabligh Akbar NU Taiwan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Rais Aam PBNU dalam Tabligh Akbar NU Taiwan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Rais Aam PBNU dalam Tabligh Akbar NU Taiwan

"Ribuan orang berkumpul di sini, bisa jadi sebelumnya tidak saling kenal. Tapi ikatan ke-NUan bisa menyatukan kita. Ini harus dipupuk. Kehadiran Mr Yasin, sebagai orang asli Taiwan, ketua komunitas Muslim Taiwan yang minoritas, tiada lain sebagai wujud ukhuwwah Islamiyyah. Kita bekerja dengan perusahaan Taiwan secara sinergis dengan NU Taiwan, ini tiada lain karena ajaran ukhuwwah basyariyah. Karenanya, perbesar titik persamaan untuk membangun persaudaraan. Jangan konfrontasi dan terus ribut dengan mencari-cari dan membesarkan perbedaan yang tidak perlu," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga menyinggung soal Hari Santri 22 Oktober 2017 yang perlu dipahami serta diresapi spiritnya dan diperingati dengan berbagai kegiatan.

"Penetapan Hari Santri oleh pemerintah sejak 2015 merupakan wujud pengakuan formal negara akan kontribusi nyata santri dalam perjuangan merealisasikan dan mempertahankan NKRI dari penjajahan melalui Resolusi Jihad. Untuk itu, malam 22 Oktober nanti seluruh WNI di Taiwan ini saya minta untuk memperingati Hari Santri, salah satunya dengan pembacaan shalawat nariyah," tegasnya.

Kiai Maruf Amin menekankan soal pentingnya beristiqamah dalam beragama di manapun berada. Kiai Maruf menyampaikan, pada hari Kiamat nanti orang-orang akan dibangkitkan dan digiring secara berkelompok. Kelompok orang beriman dan kelompok orang kafir. Di sinilah pentingnya berjamaah dalam beragama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Salah satu manhaj NU yang harus dipedomani adalah tawassut dan tawazun. Prinsip agama yang dipegang NU adalah moderat. Tidak kaku dan bersifat tekstualis, serba haram dan kafir atau sebaliknya,  tidak liberal dan menafsirkan agama hanya dengan akal, yang kemudian melahirkan ajaran yang permisif dan serba boleh  sehingga membongkar norma agama. NU punya manhaj yang jelas. Jadi kalau NU tidak mungkin jadi teroris. Demikian sebaliknya, NU tidak mungkin jadi liberal. Kalau orang liberal ngaku NU, itu ngaku-ngaku tapi tidak ikut manhaj NU," tegasnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Kepala Dagang dan Ekonomi Indonesia Siswadi, Sinchung Halal for Taiwan, dan juga Ketua Taiwan Muslim Association Mr Yasin.

Acara ini disponsori oleh Sinchung Halal for Taiwan, lembaga sertifikasi halal yang menjadi mitra MUI dalam sertifikasi halal di Taiwan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rabu (22/8) kemarin Gerakan Pemuda Ansor, Banser, dan CBP mendatangi markas MTA di Kabupaten Demak. Namun sampai lokasi ternyata pimpinan dan anggota MTA sudah tidak ada di tempat.

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)
Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur

Dilaporkan, Demak sebagai kota wali dan kota santri yang notabene berhaluan Aswaja mulai dimasuki golongan atau kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Solo Jawa Tengah yakni Majjlis Tafsir Alqur’an (MTA).

Desa Dondong kecamatan Demak Kota merupakan markas MTA di Kabupaten Demak. Setelah mendapatkan laporan dari para tokoh dan warga sekitar tentang kegiatan MTA di Desa Dondong yang dianggap meresahkan warga sekitar, pengurus NU setempat langsung menginstruksikan Ansor dan Banser untuk segera bertindak tegas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Segera setelah mendapatkan instruksi, GP Ansor, Banser, CBP dari kantor PCNU langsung menuju lokasi dengan membawa 300 an anggotanya dengan aksi damai. Namun karena pimpinan dan anggota MTA sudah tidak ada di tempat, akhirnya hanya terjadi dialog dengan aparat keamanan.

Ketua PC Ansor Demak H.Abdurrahman Kasdi selesai berdialog yang didampingi Kapolres Demak, Dandim, Kapolsek, Koramil Demak Kota, Ketua MWC NU Demak Kota ketua PC IPNU serta lurah Dondong ditengah tengah ratusan Banser, CBP dan warga sekitar yang bertempat di halaman masjid Mubarokah Desa Dondong menyampaikan bahwasannya NU, Ansor dan Banser menuntut agar MTA didesa tersebut dihentikan kegiatannya untuk selamanya dikarenakan kegiatan mereka dianggap meresahkan masyarakat sekitar yang sudah mapan dalam beribadah,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami datang kesini atas laporan warga sini (Desa Dondong) , atas nama Nahdlatul Ulama kami minta kepada kepolisian agar kegiatan MTA disini dihentikan selamanya,” tuntut Abdurrahman.

Sementara itu kepala Satkorcab Banser Musta’in meminta kepada Kapolres Demak yang diwakili kasatintel Ruswiyanto agar pimpinan MTA Supardi dan anggotanya untuk bisa dipertemukan dengan Ansor dan Banser yang difasilitasi oleh Kapolres dengan melibatkan Kesbangpolinmas kabupaten Demak untuk bias mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dianggap meresahkan warga sekitar yang merasa terganggu dengan kegiatan mereka,paling lama 3 hari, 

“Kami meminta pada bapak Kapolres Demak Supardi dan anggotanya harus dipertemukan dengan kami untuk bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya yaitu menghentikan segala bentuk kegiatannya dikabupaten Demak, kami beri waktu 3 hari,” tegas Mustain.

Ditempat yang sama Kapolres Demak melalui kasatintel Ruswiyanto berjanji ditengah tengah anggota banser dan warga sekitar untuk bisa memanggil dan berdialog antara MTA, NU, Ansor dan Banser,

“Karena sekarang pimpinan MTA pak Supardi tidak ada ditempat kami berjanji maksimal tiga hari untuk bisa mempertemukan Supardi dan anggotanya untuk diajak dialog dengan NU dan Ansor,” jelas Ruswiyanto

Sedangkan Sukarman yang juga tetangga dekat Supardi mengutarakan kalau kegiatan yang diselenggarakan MTA sangat mengganggu lingkungan dikarenakan keseharian selalu menyalakan radio yang dilangsungkan ke soundystem  dengan sengaja didengarkan kepada tetangga disamping itu sangat mengusik kegiatan beribadah warga yang sudah mapan, berdasarkan keterangannya pula pengikut didesanya hanya 4 kepala keluarga yang banyak adalah pendatang dari luar daerah dondong,

“Pengikut MTA dikampung ini hanya empat keluarga saja, justru kegiatan pengajian didatangi oleh banyak orang dari luar daerah namun kegiatannya sangat mengganggu lingkungan” kata Sukarman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bukti bahwa Islam sangat menghormati dan melindungi non Muslim banyak terekam dalam al Quran. Banyak kisah-kisah non Muslim yang justru ada dalam al Quran dan tidak tersebut di kitab suci mereka. Demikian penjelasan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Refleksi Awal Tahun PBNU, Selasa, 4 Desember 2011.



Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

"Ketika terjadi Perang antara Romawi (Katolik) melawan Persia (Majusi) Rasulullah berharap Romawi menang, namun nyatanya Romawi kalah dan turunlah surat ar Rum yang menghibur. Dan ini diabadikan dalam al Quran," kata pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Dalam surat ar Rum disebutkan bahwa tidak lama lagi Romawi akan segera menang dan di saat itulah kaum Mumin harus ikut bergembira menyambut kemenangan Romawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said bercerita, suatu saat Rasulullah menerima hadiah dari Gubernur Mesir, yakni Mariah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Mariah adalah seorang wanita yang beragama Ortodok Koptik. Rasulullah berkata kepada Khalifah Umar, "Nanti Mesir akan berjaya melalui tanganmu (kekuasaanmu), saya titipkan keluarga Mariah kepadamu."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said menjelaskan bahwa Rasulullah menitipkan keluarga Mariah adalah untuk menjaga agama Mariah sebelumnya yakni Ortodok Koptik. "Dan akhirnya terbukti, ketika Perang Salib, tidak satupun orang Ortodok Koptik yang diserang. Dan hingga saat ini Ortodok Koptik tetap eksis di Alexandria," jelas Kang Said.

Kisah pembantaian Nasrani Najran diabadikan oleh al Quran dalam surah al Buruj. Saat itu Raja Dzu Nuwas dengan kejam membantai Nasrani Najran dan kemudian dimasukkan dalam lubang dan dibakar hidup-hidup. "Kisah ini terekam jelas dalam al Quran yang justru tidak disebutkan oleh Injil," jelas Kang Said.

"Jadi jangan dikira bahwa dalam kisah itu adalah cerita orang Islam, itu adalah kisah Nasrani Najran," tegas pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Korban yang terbunuh akibat kekejaman Dzu Nuwas ini hanya memiliki satu kesalahan, yakni beriman kepada Allah.

Cerita lain tentang pembelaan Islam terhadap non Muslim juga terjadi pada saat Khalifah Umar menerima kunci dan berkunjung ke gereja di Palestina. Saat itu masuk waktu ashar dan Khalifah Umar ingin bergegas melaksanakan salat. Kemudian Sofrinus, yang menyerahkan kunci, memersilakan Umar untuk salat di dalam gereja, namun Umar menolaknya.

Lalu Kang Said menjelaskan alasan penolakan Umar, "Khalifah Umar menolak bukan karena salat di dalam gereja. Namun beliau takut jika suatu saat nanti gereja tersebut akan direbut kaum Muslimin dengan alasan beliau pernah salat di sana."

Kisah-kisah perlindungan Islam terhadap non Muslim ini, menurut Kang Said, harus bisa dijadikan contoh teladan bagi kaum Muslimin agar tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap non Muslim. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan penjajah Belanda, rakyat Aceh masih saja melakukan perlawanan terus-menerus. Aceh merupakan yang terakhir ditaklukan penjajah Belanda.

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Menurut Prof Dr Misri Al-Muchsin ada empat strategi perlawan rakyat aceh kepada Belanda. Ketika kesultanan, pasukannya dan masyarakat masih kuat, Aceh melawan Belanda dengan frontal atau perang terbuka.

Namun, ketika kerajaan telah dikuasai Belanda, rakyat Aceh tidak menyerah begitu saja. tapi lari ke pedalaman kemudian menyerang. Ini disebut perlawan semifrontal,” katanya kepada tim Ekspedisi Islam Nusantara yang tengah menjelajah negeri Serambi Mekkah tersebut Senin (2/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang ketiga, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry ini disebut dengan gerilya. “Caranya begini, rakyat Aceh membentuk grup atau kelompok-kelompok kecil, kemudian menyerang kam-kam Belanda,” lanjutnya.  

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah strategi perang yang paling ditakuti Belanda yang dikenal “aceh gila”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aceh gila, kata dia, adalah ketika rakyat Aceh sudah benar-benar tersecerai-berai, tak bisa berkoordinasi dengan yang lain dan sudah tak mamiliki komando perjuangan.

Aceh gila adalah perlawanan yang dilakukan sendiri-sendiri dimana saja bertemu dengan orang Belanda, saat itu pula menyerang. Itu adalah perlawanan terakhir orang Aceh. “Biasanya dilakukan malam jumat dengan berpakaian serba putih.”

Warna putih, menurut dia, sebagai simbol jihad fi sabilillah. Pelakunya siap mati sehingga ketika ia meninggal tak perlu repot menggunakan kain kafan.

Menurut dia, perilaku orang Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda dipengaruhi “Hikayat Perang Sabil” karangan Tengku Cik Panti Kulu pada abad 18. “Itu kemudian sering dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya dalam ayunan. Populer itu,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pelajar yang terhimpun dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) harus berkerja keras dalam memperjuangkan nasib generasi bangsa mendatang, menjauhkan diri dari narkoba dan pergaulan bebas. Narkoba dan pergaulan bebas menghancurkan masa depan pelajar, merusak tatanan kehidupan yang sudah dituntun oleh nilai-nilai agama, serta runtuhnya nilai-nilai adat.

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Pembina IPNU Kota Padang Armaidi Tanjung  mengungkapkan hal itu pada pembukaan Seminar Pendidikan Rahmatan lil Alamin dan Konferensi Cabang (konfercab) IPNU Kota Padang, Sabtu (21/12/2013) di aula PWNU Sumbar jalan Ciliwung No. 10 Padang. Seminar dihadiri 45 orang yang berasal dari utusan komisariat dan OSIS IPNU se Kota Padang. Hadir Pengurus PW IPNU Sumbar  Fauzi Remon, Ketua IPNU Padang Pebriyaldi dan Ketua Umum PMII Kota Padang Yosef Firman Susilo.

Konfercab berhasil memilih Neri Yusmardi sebagai Ketua IPNU Kota Padang dua tahun mendatang. Neri Yusmardi  meraih 15 suara dan pesaingnya Mariyono 9 suara. Selanjutnya tim formatur yang terdiri dari Pebriyaldi, Neri Yusmardi, Khalik, Syamsuardi dan Mariyono akan menyusun kepengurusan lengkap IPNU Kota Padang periode 2013-2015.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Armaidi, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar setiap tahun terus meningkat. Ini kondisi yang amat memprihatinkan dan ancaman masa depan bagi pelajar. IPNU harus menjadi motor untuk memerangi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Kota Padang.

“Selain itu, pergaulan bebas di kalangan pelajar juga memprihatinkan dan mencengangkan kita semua. Saya dapat informasi pengakuan seorang Kepala KUA di Kota Padang yang menikahkan pasangan calon pengantin, menemukan rata-rata 20-an orang  sudah melakukan hubungan suami isteri sebelum dinikahkan. Istilah kerennya, kawin  “kecelakaan”,” kata Armaidi yang juga Wakil Sekretaris PWNU Sumbar ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan Armaidi, pergaulan bebas di kalangan pelajar ini merupakan fenomena yang menjadi pemandangan biasa di tengah masyarakat. Seorang pelajar putri yang berboncengan di atas motor tidak merasa risih merangkul pelajar putra. Terkadang lebih mesra ketimbang sepasang suami isteri berkendaraan. Ironisnya, si perempuan juga menggunakan jilbab sebagai simbol seorang muslimah.

“Perkembangan perangkat teknologi yang semakin memudahkan dan memberikan manfaat pada kehidupan manusia, namun  juga mendatangkan bencana. Perangkat teknologi ibarat pisau, jika digunakan dengan benar seperti untuk mengiris bahan masakan di dapur. Sebaliknya, pisau juga dapat digunakan untuk membunuh orang lain oleh seorang anak yang tengah panik,” kata Armaidi.  

Penggunaan facebook melalui internet  misalnya, dapat meningkatkan silaturrahmi pertemanan. Namun mulai muncul kasus kejahatan bermula dari pertemanan di facebook. Ini akibat facebook  disalahgunakan. Jika berlebihan, main facebook dan internet hingga larut malam bahkan sampai subuh dinihari, juga  merusak. Betapa makin banyak anak-anak muda yang hingga larut malam hanya berada di depan internet. Sehingga tidak lagi mendatangkan manfaat, malah mengganggu kesehatan dan kegiatan yang bermanfaat lain. 

“Kader IPNU harus menempatkan perangkat teknologi yang proposional dalam menunjang kehidupan yang lebih baik untuk masa depan,” kata Armaidi menambahkan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang saya hormati, beberapa waktu lalu ada seorang teman lama datang ke rumah. Ia menanyakan kepada saya hukumnya mengucapkan “Selamat siang” sebagai pembuka pembicaraan. Karena ia pernah ditegur oleh temannya bahwa ucapan “Selamat siang” itu tidak boleh.

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan hukum Islam menyikapi hal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suryadi/Jakarta)

Jawaban

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam pada dasarnya menganjurkan umat Islam untuk mengucapkan salam sebagai pembuka perbincangan. Karena ucapan salam itu mengandung doa.

Lalu bagaimana hukumnya mengucapkan “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat sore”, atau “selamat pagi” sebagai bentuk kalimat untuk menyapa orang lain? Sejauh ini tidak ada larangan agama Islam untuk bentuk sapaan semacam itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat hadits juga pernah menyapa salah seorang sahabatnya dengan bentuk sapaan seperti ini. Tentunya Rasulullah SAW menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. Hal ini diangkat oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kumpulan fatwanya yang kami kutip sebagai berikut.

? ? ? .? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bab mengucap ‘Selamat Pagi dan Sore’. Imam At-Thabarani dengan sanad hasan meriwayatkan hadits dari Ibnu Amr bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada seorang sahabatnya, ‘Apa kabarmu pada ini pagi sahabat?’ ‘Alhamdulillah baik, masih bisa menemuimu ya Rasul,’ jawab sahabatnya. ‘Syukurlah, itu yang kuharapkan darimu,’ sambut Rasulullah SAW,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 82).

Keterangan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi  di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW juga menggunakan bentuk sapaan lain di luar ucapan salam. Dengan demikian penggunaan sapaan “selamat pagi”, “selamat siang”, “good morning”, “good night”, "shabahan nur" dan selanjutnya tidak masalah.

Simpulan kami, Islam tidak membatasi dan menentukan kalimat sapaan. Dan sangat terbuka kemungkinan ada bentuk sapaan lain di luar “selamat pagi” dan “selamat siang” seiring dengan perkembangan bahasa, perbedaan geografis, dan penggunaan di komunitas tertentu. Hanya saja, kami menyarankan agar kita menggunakan kata sapaan yang santun sesuai dengan norma yang berlaku.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Kegiatan turba (turun ke bawah) yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, Ahad (3/12) terasa dari biasanya. Pasalnya dalam turba ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Lumbang yang digelar di aula MI NU Al-Hidayah Desa Lumbang Kecamatan Lumbang ini juga dilakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan ini diikuti oleh semua pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo. Terdiri atas 10 orang dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, 11 orang Ketua PAC Muslimat NU, 11 orang Ketua Ranting Muslimat NU di Kecamatan Lumbang beserta 100 orang Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba, Wujud Kekompakan dan Kebersamaan Pengurus Muslimat NU Probolinggo

Ketua Muslimat NU Probolinggo Hj Nurhayati mengatakan, turba ini merupakan agenda kegiatan rutin pertemuan Muslimat NU Kabupaten Probolinggo sekaligus silaturahmi Muslimat NU terhadap anggota dari tingkat PAC sampai Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Lumbang.

“Kebetulan kali ini kami juga melaksanakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai wujud kebersamaan dan menghormati serta merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Nurhayati, agenda utama dalam turba ini adalah silaturahmi. Serta pembinaan terhadap anggota agar lebih semangat dan terus berjuang untuk kepentingan umat sebagai media syiar Islam melalui kegiatan Muslimatan NU .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Fokus dari turba ini adalah kebersamaan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, pemantapan pembinaan anggota serta memberikan sports dan motivasi dukungan agar anggota majelis taklim lebih semangat tulus dan ikhlas menggerakkan roda organisasi Muslimat NU sebagai amal makruf nahi mungkar. Agar bisa diterima amal keberadaan Muslimat NU di semua bidang pembangunan yang ada di lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Nurhayati menyampaikan dalam organisasi tidak ada kata berhenti, cuti, mengundurkan diri. Dalam berorganisasi berjuang membangun organisasi tidak harus kader Muslimat NU harus pintar, karena banyak pengurus pintar tapi tidak mau. Oleh karena itu membangun organisasi Muslimat NU itu mereka kader yang mau membangun dan peduli.

“Kunci persaudaraan dari Muslimat NU yang utama ta’aruf dan silaturahmi. Yang kedua ta’awun tolong menolong dan kepedulian. Yang ketiga tasamuh, persamaan derajat dan umat Islam NU  itu sama,” tegasnya.

Lebih lanjut Nurhayati menambahkan bahwa pengurus Muslimat NU harus mengaktifkan amal  infaq dan sedekah digerakkan untuk beramal lebih banyak, sadar dan peduli untuk meningkatkan amal maruf nahi mungkar. “Terpenting lagi, mengajak aktif rutin amal sedekah lewat majelis taklim Muslimat NU,” pungkasnya.

Ketua Muslimat NU Kecamatan Lumbang Sanipah Suparman menyampaikan bahwa turba ini bisa menjadi wadah dalam memberikan semangat anggota agar kegiatan yang ada di tiap ranting lebih dioptimalkan, lebih peduli dan merasa menjadikan nilai persaudaraan berjuang untuk kepentingan umat Islam.

“Lebih meningkatkan amal ibadah, amal jariyah, peduli lingkungan sekitar bagi mereka yang tidak mampu dan kemiskinan perbaikan akhlak. Yang utama sebagai modal majunya pembangunan,” katanya.

Ketua MWCNU Lumbang Ustadz Saiful Arif  menyampaikan hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta teladan yang harus dilakukan oleh umat Islam seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam kesempatan ini Hj Latifah dari Muslimat NU Kabupaten Probolinggo juga menyampaikan taushiyah Maulid Nabi Muhammad SAW dengan topik keteladanan Nabi Muhammad SAW.

“Rasulullah mempunyai 3 pegangan meliputi salam, senyum dan sapa. Teladan beliau menghadiri undangan tidak boleh memilih kaya dan miskin. Pemantapan ibadah, amal kebaikan, keikhlasan, harus tulus disampaikan permohonan terhadap Allah SWT. Ta’aruff kita kebaikan yang harus kita contoh, yang tidak baik kita abaikan agar menjadikan bekal iman kita lebih baik sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Quote, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Saatnya Berantas Buta Al-Quran

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang KH Abdul Kholiq Hasan menandaskan bahwa saat ini sudah saatnya umat disadarkan akan pentingnya memahami al-Quran. Selanjutnya, diharapkan sejumlah pesan dari kitab suci tersebut dapat diejawantah dalam keseharian.

Saatnya Berantas Buta Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Berantas Buta Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Berantas Buta Al-Quran

Ia menyampaikan hal itu saat mengisi kajian di Masjid Ar-Ridho Mojoagung Jombang, Jawa Timur (29/8). Kajian yang diikuti jamaah rutin tersebut diawali dengan penyampaian sejumlah kisah keteladanan para orang tua yang memiliki kepedulian kepada pendidikan anak, khususnya terhadap al-Quran.

"Dari sejumlah kisah yang di ketengahkan dalam kitab-kitab klasik membenarkan akan hal ini," kata Gus Kholiq, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena? itu kepada para jamaah, Gus Kholiq mengajak untuk terus memupuk rasa senang dan bangga kepada anak-anak yang memiliki kemampuan membaca al-Quran dengan baik. Demikian juga mereka yang berkenan menghafal kitab suci umat Islam ini dipandang sebagai sebuah prestasi yang layak dipertahankan. "Yang juga sangat penting adalah mengamalkan apa yang menjadi perintah dalam al-Quran," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, pimpinan di Institut Agama Islam Bani Faffah Tambakberas Jombang ini mengajak para jamaah untuk memiliki perhatian kepada anak-anak agar diberikan kesempatan belajar al-Quran sejak dini. "Ini penting sebagai bagian dari melaksanakan perintah agama," terangnya.

Katib Syuriah PCNU Jombang ini mengistilahkan pengenalan dan pendalaman kitab suci umat Islam ini dengan upaya pemberantasan buta huruf al-Quran. "Kalau selama ini kita mengenal pemberantasan buta huruf serta buta aksara, maka umat Islam juga harus mendengungkan pemberantasan terhadap buta huruf al-Quran," tandasnya.

Apalagi di Jombang sendiri yang dikenal dengan kota santri ternyata masih banyak para pelajar yang belum mengenal dengan baik al-Quran. "Orang tua hanya fokus kepada pemberantasan buta huruf dan membekali anak-anaknya dengan pengetahuan umum," sergahnya. Padahal, sebagai kota santri yang juga menyediakan banyak pesantren dan lembaga pendidikan agama, sudah seharusnya hal ini menjadi kepedulian para orang tua, lanjutnya.

Terhadap keengganan sebagian orang tua tersebut, Gus Kholiq ikut prihatin. "Ini menandakan bahwa para orang tua belum memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap pesan agama," katanya. Hal ini juga menjadi catatan tersendiri bagi para ulama, kiai serta tokoh agama untuk bersama-sama menggelorakan semangat pemberantasan buta huruf al-Quran.

"Karena kalau diperhatikan dengan seksama, al-Quran tidak semata memberikan wawasan keagamaan juga sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," ungkapnya. Sejumlah ulama kenamaan pada jaman kejayaan Islam ternyata mampu menggali pesan keagamaan dan pengetahuan yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Gus Kholiq membayangkan, pada saatnya umat Islam dari berbagai disiplin ilmu dapat duduk bersama untuk menggali secara menyeluruh kandungan al-Quran. "Ini tentu saja akan menambah keyakinan umat Islam dan rasa bangga atas agama yang dianut," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

Pontianak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puncaknya keilmuan ulama NU, setidaknya ada dalam dua keahlian. Pertama adalah keahlian membaca kitab kuning. Kedua, keahlian dalam memahami Al-Quran. 

Hal  itu dipaparkan Rais Majelis Ilmy Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad pada taushiyah pembukaan Musyawarah Nasional IV JQHNU di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/7).

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama NU Pakar dalam Kitab Kuning dan Memahami Quran

“Kalau kita lihat sejarah, bagaimana hubungan ulama-ulama Indonesia dengan ulama di tanah Hijaz, maka bisa kita ketahui bahwa ulama-ulama Nahdlatul Ulama adalah pelanjut ilmu yang diwariskan oleh ulama Hijaz,” jelas Rektor Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ahsin menambahkan, kita lihat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari merupakan pelanjut seorang ulama Syekh Umar Hamdan, Alwi Al-Maliki Abbas, dan orang-orang sejawatnya itu.  

“Ulama-ulama NU telah melakukan perjuangan yang mencengangkan, membanggakan! Banyaknya kitab-kitab hadits, kitab-kitab fiqih itu disalurkan oleh mereka,” tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tapi, ada satu lagi kelompok di lingkungan ulama NU, yaitu ulama-ulama hufadz dan qurra Al-Quranul Karim. 

“Mereka berjuang berpuluh-puluh tahun menimba ilmu di negeri Makkkah, Madinah, Mesir. Kemudian pulang ke Indonesia. Mereka menyabarkan Al-Quranul Karim kepada masyarakatnya,” tambahnya.

Maka, sambung Ahsin, kita tahu, di Indonesia ini banyak markas-markas atau pusat-pusat ke-Quranan. Mulai dari madura, Sumatera Utara, Bone, Bugis, Sulawesi Selatan, Banten. Kemudian juga di Yogyakarta, di Surabaya, dan lain sebagainya.

“Mereka itulah pahlawan-pahlawan yang menyebarkan Al-Quran,” pungkasnya.   

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kepada para pelajarnya, guru MI Miftahul Huda di desa Lengkong kecamatan Balen, Bojonegoro menanamkan sikap hormat kepada orang tua dan guru. Sebelum memasuki pekarangan sekolah, pelajar Miftahul Huda diharuskan berjabat tangan dengan segenap guru di muka gerbang sekolah.

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

"Sudah tiga tahun terakhir, siswa diajarkan berjabat tangan sebelum masuk sekolah," kata Wakil Kepala Miftahul Huda Lengkong, Syaroni.

Penerapan jabat tangan ini, kata Sya’roni yang mengajar Bahasa Indonesia, dimaksudkan untuk membiasakan mereka menjadi pribadi yang disiplin. "Hormat kepada orang tua yang dimulai berjabat tangan bapak-ibu guru," kata Sya’roni kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah masuk ke dalam kelas, para siswa juga diajak membaca Al-Quran dan sholat Dhuha berjamaah. Untuk memulai pelajaran pertama, mereka diharuskan membaca doa.

“Sopan-santun anak-anak kepada orang tua dan guru ini dirasakan makin terkikis,” tegas Sya’roni yang mewajibkan pengenaan kopiah hitam bagi siswanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumlah siswa MI Miftahul Huda Lengkong mencapai 167 siswa. Sementara untuk TK, berjumlah 43 anak. Rangkaian keagamaan setiap pagi itu mengajarkan mereka untuk terbiasa mendoakan orang tua. Sehingga, anak-anak diharapkan berbakti kepada orang tuanya sejak kecil.

"Kegiatan keagamaan ini membentuk karakter, serta ciri khas sekolah madrasah," Sya’roni menambahkan, Senin (9/6). (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Anti Hoax, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa media sangat dibutuhkan oleh siapapun manusia yang hidup. Oleh karena itu bagaimana penyampai berita baik cetak maupun online serta radio mampu menulis informasi yang bukan konon katanya tapi jelas.

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin saat menghadiri buka bersama insan media dan radio komunitas yang digelar Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo di aula SMP Hati Billingual Boarding School (BBS) Kraksaan, Jum’at (16/6) sore.

“Hari ini siapapun yang mampu menyampaikan berita terhangat akan menjadi referensi pembenar bagi penerima berita. Sehingga berita media online dan radio menjadi pilihan untuk menerima sumber berita,” katanya.

Menurut Hasan, berita media online itu menjadi milik siapapun bagi yang memiliki media handphone. Sehingga media cetak akhirnya tidak dibaca bagi orang yang sibuk oleh aktvitasnya.

“Banyaknya aktivitas menjadi sulit membaca media cetak, Sehingga sulit menjadi pilihan untuk mendapatkan sebuah berita. Begitu keluar dari rumah naik kendaraan, setiap ingin berita sesuatu selain handphone saya putar radio. Ini sebuah potret zamannya bukan zaman saat saya masih kecil,” jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hasan menegaskan bahwa radio komunitas harus menyampaikan berita yang benar-benar akurat dan valid serta bukan berita hoax sebagai bagian dari perbuatan amar makruf nahi mungkar.

“Sampaikan satu berita asal benar dari pada banyak tapi tidak pasti. Profesi saudara profesional, otak dan hatinya berimplementasi dengan orang lain. Profesi ini mulia tatkala mampu memberikan manfaat kepada orang lain,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo H. Tutug Edi Utomo menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan dan mempererat tali silaturahim diantara media dan radio komunitas sehingga bisa menjadi mitra dari Pemerintah Daerah.

“Tentunya kita bersama-sama mempunyai tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjadikan masyarakat Kabupaten Probolinggo menjadi lebih cerdas dan mampu mengedukasi masyarakat dalam menyampaikan informasi yang baik dan benar,” katanya.

Kegiatan yang mengambil tema “Indahnya Kebersamaan Media dan Komunitas Radio” ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, sejumlah kepala OPD, insan media dan pengelola radio komunitas di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Oleh Rosidi



Miris, menyimak berita ada seorang ibu yang sudah tua di Kota Tangerang, harus berurusan dengan masalah hukum karena digugat oleh anak kandungnya sendiri. Selain gugatan materiil yang cukup besar, yakni Rp 1 miliar, Fatimah, sang ibu, juga dituntut pergi dari lahan yang menjadi tempat tinggalnya.

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Tak kalah miris, tersiarnya kabar pembunuhan terhadap satu keluarga Medan Deli. Korban terdiri atas Riyanto (40), Sri Ariyani (35), Sumarni (60), dan dua anaknya, Naya (13) dan Gilang (8). Hanya si bungsu, Kinara (4) yang selamat dalam tragedi itu. Hanya saja, Kirana kondisinya kritis.

Itu hanya dua contoh kasus yang mengiris hati dan perasaan. Banyak lagi kasus-kasus yang tidak beradab, terjadi. Pertanyaannya, bagaimana ada anak yang tega menggugat ibu kandungnya, yang telah mengasuh dan membesarkannya? Bagaimana pula seseorang bisa demikian liar, hingga tega membunuh tanpa perikemanusiaan?

Banyak faktor yang menjadikan seseorang kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga bisa melakukan tindak atau perilaku tidak terpuji. Lalu, bagaimana lembaga pendidikan mesti mengambil sikap dan berperan agar tindak (perilaku) tidak terpuji seperti itu bisa diminimalisasi, syukur tidak terulang lagi? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk itu, internalisasi (penanaman) nilai-nilai karakter harus dilakukan sedini mungkin. Dan lembaga pendidikan melalui para pendidiknya, juga mesti tidak kenal lelah menginternalisasikan nilai-nilai karakter (akhlak) setiap waktu, melalui beragam materi pembelajaran yang ada.

Salah satu materi yang tidak bisa dilupakan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak, adalah materi sastra, juga seni budaya. Sastrawan Ahmad Tohari, dalam salah satu kesempatan menyampaikan orasi budaya di Kabupaten Kudus, mengatakan, internalisasi pendidikan karakter terhadap anak, tidak bisa dipisahkan dari pengajaran sastra di sekolah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun fakta yang terjadi, menurutnya, hingga berganti-ganti kurikulum, sistem pendidikan nasional di tanah air, belum lagi memberi porsi yang cukup bagi pengajaran sastra. Dengan kata lain, pengajaran sastra masih dipandang sebelah mata.

Ironis. Pengajaran sastra mestinya diberi porsi yang cukup. Sebab, pengajaran sastra akan berdampak positif pada anak. Dengan membaca sastra, anak-anak tidak sekadar menjadi cerdas, melainkan juga lebih peka terhadap situasi sosial yang berkembang. (Ahmad Tohari, 2015).

Demikian pentingnya pengajaran sastra, sampai Ki Hajar Dewantara saat berbicara dalam Kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag pada 1916, mengemukakan, bahwa pendidikan kesenian (termasuk di dalamnya sastra-budaya-pen) merupakan pendidikan estetis. (Darsiti Soeratman, 1986)

Pendidikan estetis ini untuk melengkapi pendidikan etis (moral), yang bermaksud menghaluskan hidup kebatinan anak. Sehingga anak bisa mengembangkan berbagai jenis perasaan, baik itu perasaan religius, sosial, individual, dan lain sebagainya.

Perlu Porsi Cukup

Belum adanya porsi yang cukup terhadap pengajaran sastra-seni-budaya di sekolah (lembaga pendidikan) dalam kurikulum di pendidikan nasional, kiranya perlu mendapatkan perhatian serius. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perlu melihat secara langsung realitas pengajaran sastra di sekolah-sekolah.

Pengajaran sastra sebagai upaya internalisasi nilai-nilai karakter ini penting, karena hakikat pendidikan itu tidak sekadar agar anak cerdas secara kognitif an-sich, tetapi sebagaimana dikemukakan Ki Hajar Dewantara, adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.

Di luar itu, pendidikan anak dalam keluarga juga perlu mendapatkan perhatian. Orang tua, tidak bisa mengalihkan pendidikan anaknya secara penuh di sekolah, tanpa mendapatkan perhatian yang cukup.

Artinya, kendati sudah menempuh (mendapatkan) pendidikan di sekolah, anak tetap harus mendapatkan pengawasan dan teladan yang baik dari orang tuanya. Pendidikan berbasis keteladanan ini juga tidak boleh terlupa.

Menilik dari sini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Pertama; pemahaman orang tua terhadap pembelajaran di tengah keluarga.

Tak bisa dimungkiri, banyak orang tua beranggapan, bahwa dengan menyekolahkan anaknya, tanggung jawabnya mendidik anak sudah lepas. Padahal, pendidikan di sekolah hanyalah bagian kecil dari pendidikan dalam rangka menyiapkan kader bangsa yang cerdas, bertanggungjawab, dan berkarakter.

Kedua; maksimalisasi pengajaran sastra. Sekolah-sekolah mestinya memaksimalkan pembelajaran sastra, paling tidak bisa diwadahi melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra ini menjadi penting, karena ? banyak memuat nilai-nilai yang bisa memperteguh karakter anak.

Ketiga, komunikasi yang efektif antara guru di sekolah dan orang tua. Komunikasi ini untuk memantau perkembangan anak, sehingga proses pendidikan dan pengawasan tidak terputus, melainkan ada sinergitas antara di sekolah dan di tengah keluarga.

Terkait komunikasi antara pendidik dan orang tua dalam rangka memantau perkembangan anak, ini bisa belajar kepada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komunikasi antara pendidik PAUD dan orang tua peserta didik sangat baik, sehingga perkembangan anak terpantau dari dua sisi.

Di luar tiga hal di atas, perlu juga pengawasan terhadap anak dari tsunami informasi, baik melalui televisi maupun media lain, termasuk media sosial. Jaga anak dari program yang tidak mendidik. Jangan sampai, program-program televisi dan media lain memutilasi pendidikan yang didapat oleh anak, baik di sekolah maupun di keluarga.?

?

Penulis adalah pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kebendaharaan dan Kesekretetariatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan rapat koordinasi penerapan manajemen satu pintu. Acara berlangsung di Lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat Jumat (27/5) sore dihadiri perwakilan pengurus pusat badan otonom (banom) dan lembaga NU.

Wakil Bendahara PBNU Umar Syah HS mengatakan kebendaharaan dan kesekretariatan adalah dua elemen penting untuk NU dan struktur yang berada di bawahnya. Kedua elemen ini menjadi motor penggerak organisasi.

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terapkan Manajemen Satu Pintu bagi Banom dan Lembaga

Agar organisasi berfungsi secara optimal, lanjut Umar, diperlukan ketentuan atau tatanan yang jelas yang tidak? hanya dipahami oleh elemen kebendaharaan dan kesekjenan, tetapi juga oleh semua pihak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aturan itu juga harus dipahami semua pihak dan baru berjalan ketika dituangkan dalam Standar Operasional (SOP) dan Peraturan Organisasi (OP) yang perlu disosialisasikan. Target sosialisasi ini adalah pemahaman dan semangat serta kemauan banom untuk menjalankannya. Bila diterapkan oleh semua pihak, maka roda organisasi akan berjalan dengan baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejauh ini, SOP sudah diberlakukan dan bisa menjadi Peraturan PBNU setelah dilakukan pembahasan dan diputuskan dalam konferensi besar PBNU.

Manajemen satu pintu bagi banom NU melalui kesekretariatan dan kebendaharaan. Dalam hal administrasi dalam kaitan antara internal dan eksternal banom, seluruh surat menyurat harus melalui Kesekjenanan.

Demikian juga dalam keuangan atau penggalian dana harus melalui bendahara. Uang masuk harus melalui bendahara, uang keluar juga melalui bendahara sehingga terkontrol dengan baik.

Manajemen satu pintu hendaknya tidak disalahartikan, karena kebijakan tersebut bukan berarti seluruh banom dikuasai oleh Kesekjenan dan Kebendaharaan. Pemberlakukan manajemen satu pintu bermakna bahwa secara manajemen semua harus masuk di dalam sistem.

Senada dengan hal di atas, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ir Suwadi D. Pranoto mengungkapkan salah satu agenda penting dalam rapat koordinasi ini adalah sosialiasi kaderisasi masing-masing lembaga agar tidak ada materi yang overlap atau belum ada, supaya dari sisi pembiayaan dan waktu tidak tumpang tindih. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 21 November 2017

Aliansi PMII Sidoarjo Minta Pemkab Setempat Keluarkan Perda HIV/AIDS

Sidoarjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi PMII IAI Al-Khoziny dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo melakukan aksi unjuk rasa terkait tingginya angka Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Sidoarjo, Rabu (2/12). Di depan gedung DPRD setempat, mereka meminta Pemkab Sidoarjo membuat peraturan daerah (perda) untuk menekan laju kenaikan angka ODHA. Sementara ODHA di Sidoarjo berjumlah 1.485 jiwa.

"Pemerintah Kabupaten Sidoarjo harus melakukan upaya nyata untuk segera membuat perda penanggulangan HIV/AIDS sehingga ODHA mendapat pengamanan yang semestinya. Kasus HIV/AIDS ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," kata Ketua Komisariat PMII IAI Al-Khoziny Buduran Haris Aliq.

Aliansi PMII Sidoarjo Minta Pemkab Setempat Keluarkan Perda HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi PMII Sidoarjo Minta Pemkab Setempat Keluarkan Perda HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi PMII Sidoarjo Minta Pemkab Setempat Keluarkan Perda HIV/AIDS

Haris menyatakan, hukum sebagai sarana pengawasan sosial diharapkan dapat memberikan perlindungan hak bagi pengidap HIV/AIDS dengan nilai non diskriminasi, toleransi dan empati. Pemerintah harus menindaklanjuti permasalahan ini karena setiap warga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Setiap individu, keluarga, dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami dari aliansi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia IAI Al Khoziny dan Unusida sangat prihatin terhadap apa yang terjadi khususnya di Sidoarjo ini. Kondisi ini dipangaruhi oleh kejadian-kejadian di kalangan remaja bereksperimen dengan narkoba dan kasus seksual yang terjadi pada kalangan pelajar," jelas Haris.

Pemerintah Sidoarjo harus bertanggung jawab agar hak hidup sehat penduduknya terpenuhi termasuk bagi masyarakat yang kurang mampu. Sebab itu kami meminta dewan perwakilan rakyat Sidoarjo segera membuat peraturan daerah penanggulangan HIV/AIDS dari sektor pendidikan, layanan kesehatan bagi orang kurang mampu, dan melindungi warga Sidoarjo yang mengidap HIV/AIDS, imbuh Haris.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum tiba di gedung dewan, mereka melakukan aksi jalan kaki dari kawasan Buduran menuju gedung DPRD Sidoarjo. Tiba di gedung perwakilan rakyat Sidoarjo mereka kemudian menggelar aksi teaterikal dan berorasi dengan lantang menyuarakan keprihatinannya atas kasus itu. Namun, aksi damai mereka tidak mendapat sambutan anggota dewan.

"Kami kecewa, tidak ada satupun dewan yang mau menemui kita. Hanya protokol dewan yang menemui kami. Namun aksi itu tidak berhenti di sana. Jika sampai tanggal 1 Januari masih tidak ada konfirmasi terkait peraturan daerah penanggulangan HIV/AIDS di Sidoarjo, kami akan datang lebih banyak lagi menagih kembali sampai perda HIV/AIDS benar-benar ada," cetus Haris. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Bekali Santri Kemampuan Membaca Perubahan Zaman

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam sebuah hadis panjang berisi percakapan antara Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril, dijelaskan beberapa hal tentang agama Islam, di antaranya rukun Islam, rukun iman, dan ihsan.

Bekali Santri Kemampuan Membaca Perubahan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Santri Kemampuan Membaca Perubahan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Santri Kemampuan Membaca Perubahan Zaman

Tiga aspek tersebut selama ini diyakini sebagian besar kaum muslimin sebagai tiga pilar utama Islam. Padahal, dalam hadis yang sama disinggung pula soal tanda-tanda akhir zaman.?

Untuk memberikan bekal kemampuan membaca realitas sosial dan tanda perubahan zaman yang ada di masyarakat, Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Cabang Windan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah menggelar Kelas Analisis Sosial (Ansos), bertempat di aula pondok pada 26-28 Januari 2016 lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren, KH M Dian Nafi’ mengemukakan alasan dilaksanakannya kelas ini.?

“Membaca tanda-tanda perubahan zaman merupakan pilar keempat Islam yang seharusnya dimiliki setiap muslim. Sebab, tanpa itu, umat Islam dapat terjebak pada kejumudan,” terang Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelatihan Ansos yang terselenggara berkat kerja sama Yayasan Bina Desa dan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Cabang Windan tersebut menghadirkan Fajar Sudarwo dari Institute for Research and Empowerment (IRE Yogyakarta) sebagai narasumber utama.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Salah satu materi penting yang disampaikan oleh pembicara adalah ihwal kesadaran. Menurut Fajar Sudarwo, kesadaran terbagi menjadi tiga jenis, antara lain kesadaran magis, naif, dan kritis.?

“Ketika seseorang sudah memiliki kesadaran kritis, ia akan berusaha untuk melakukan perubahan pada aspek sistem. Pada tingkatan ini, orang tersebut dapat membawa perubahan besar bagi masyarakat melalui advokasi ataupun cara-cara yang transformatif,” jelas pria yang akrab disapa Kang Jarwo ini.?

Koordinator pelaksana kelas Ansos, Ahmad Asrof Fitri mengutarakan bahwa pelatihan semacam ini perlu digelar di berbagai pesantren.?

“Terutama di pesantren mahasiswa karena setelah lulus mereka akan terjun di tengah masyarakat dan melakukan pendampingan,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 07 November 2017

Taiwan-Fatayat NU Gelar Pertujukan Budaya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama bekerja sama dengan Taipei Economic and Trade Office menyelenggarakan pertunjukan bertajuk "Dinamic Youth, Friendly Taiwan".

Taiwan-Fatayat NU Gelar Pertujukan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Taiwan-Fatayat NU Gelar Pertujukan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Taiwan-Fatayat NU Gelar Pertujukan Budaya

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jalan Gedung Kesenian Nomor 1, Senin (5/9) itu menyuguhkan pertunjukan budaya dari Taiwan dan Indonesia. Tampak hadir pada acara yang banyak diisi pengenalan kebudayaan Taiwan itu, Ketua PP Fatayat NU, Anggia Ermarini dan Representative Taipei Economic and Trade Office in Indonesia, Liang-Jen Chang.

Anggia Ermarini dalam sambutannya berterima kasih kepada pihak Taipei Economic and Trade Office yang berkenan bekerja sama dalam kegiatan kali ini. "Dari acara ini kita bisa saling belajar tentang budaya masing-masing negara," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada ajang kali ini PP Fatayat NU menampilkan para santri pesantren yang unjuk gigi menari tarian khas Aceh, Tari Saman. Selain itu, datang pula perwakilan dari santri Pesantrean An-Nahdhoh, dan mahasiswa UNU Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dari kegiatan ini pula kita bisa mempromosikan skill para pemuda pesantren, apalagi Indonesia merupakan pemeluk Islam tertinggi di Dunia," ucapnya.

Diakui Anggi, kerja sama dengan kedutaan besar memang baru perdana dilaksanakan. Meski demikian, selama ini Fatayat NU sudah banyak mengikuti forum-forum internasional.

"Selama ini, kami sudah pernah mengikuti kegiatan diskusi salah satunya di Amerika, tepatnya April lalu," imbuhnya.

Harapannya, kerja sama antara PP Fatayat NU dan Kedutaan Besar Taiwan berlanjut dengan agenda-agenda lain. "Intinya kegiatan ini acara awal yang targetnya ke mana-mana," tandasnya.

Acara yang usai tepat pukul 21.00 itu lebih banyak menyajikan tampilan-tampilan khas Taiwan. Di antaranya budaya petik teh tradisional ala Kampung Hakka, budaya nikah tradisional, serta kebudayaan tari Chen Tiao. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Warta, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

“Dicap bid’ah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah,” ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agama—melainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak,” urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. “Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai,” imbaunya.

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. “Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka,” harapnya. (rif)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, AlaSantri, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Madrasah Ibtida’iyah (MI) Ihyauddiniyah di Desa Duren Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (25/12) malam. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa didampingi para orang tuanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diisi dengan Safari Maulid Riyadlah 40 hari Al Waly. Acara ini dihadiri penceramah Pengasuh Pesantren Zainul Hasan KH Hasan Ahsan Malik selaku Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Kraksaan.

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid, Ratusan Siswa MI Ihyauddiniyah Dikenalkan Tradisi NU Sejak Dini

“Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dalam rangka agar para siswa MI Ihyauddiniyah maupun masyarakat mampu meneladani perjuangan dan sikap yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga nantinya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kepala MI Ihyauddiniyah Siti Nur Tamami.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ini juga diisi dengan sejumlah lomba yang diikuti oleh seluruh siswa PAUD, RA, MI dan MTs Ihyauddiniyah. Di antaranya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU dan mewarnai kaligrafi NU oleh siswa PAUD.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, lomba menghafal Asmaul Husna dengan artinya, menghafal tokoh NU, mewarnai kaligrafi NU, dan lomba cerdas tangkas oleh siswa RA. Kemudian lomba kaligrafi NU, menghafal istighotsah, Asmaul Husna, lari cepat pasang bendera NU, sepeda lambat, kelompen lima orang tiap kelompok, cepat tepat tulis di papan untuk siswa MI.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lalu, menghafal tahlil, Surat Yasin, juz amma, cerita tokoh NU, diba’iyah, lomba lari karung, sepak bola api, bulu tangkis, dan mengambil koin untuk siswa MTs. “Semua lomba ini diadakan dalam rangka untuk memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Sementara Pengasuh Yayasan Ihyauddiniyah K A Nor Hasan Asy mengharapkan agar dengan kegiatan ini siswa mampu mengetahui sejarah perjuangan Rasulullah SAW sekaligus mampu mengenal para tokoh-tokoh NU.

“Dengan demikian siswa mampu mengambil uswatun hasanah dari tokoh NU yang dikenalnya. Di samping juga meneladani perjuangan Rasulullah SAW,” katanya. (Syamsul Akbar/Alahfiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Ahlussunnah, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 12 Oktober 2017

PCINU Sudan Gelar Kongkow Bareng Lesbumi

Khartoum, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Halaman sekretariat PCINU Sudan dipadati oleh anggota PCINU dalam acara kongkow bareng Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Sudan. Kegiatan ini diprakarsai oleh Lesbumi Sudan sendiri pada Ahad (20/9) pukul 21.00 waktu setempat.

PCINU Sudan Gelar Kongkow Bareng Lesbumi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Gelar Kongkow Bareng Lesbumi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Gelar Kongkow Bareng Lesbumi

Dengan bertemakan ‘Keangkuhan Beragama dan Tantangan Persatuan’ Ketua PCINU Sudan Ahmad Lukman Fahmi mengungkapkan, dalam menyatukan umat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

“Untuk mencapai satu-kesatuan visi, harus ada persamaan pemahaman dan juga keterbukaan,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, pihak KBRI Khartoum Sudan, Asroruddin Salam yang hadir dalam acara tersebut mengatakan untuk menghilangkan sikap angkuh diperlukan dua hal pokok, yaitu: Agama sebagai rahmat dan persatuan bangsa bagian dari agama. 

“Indonesia tidak lahir dari keegoisan beragama, tidak juga lahir dari pemberian penjajah, tetapi bangsa ini lahir karena pendiri-pendiri bangsa berhasil mengawinkan nilai-nilai agama dan nasionalisme dalam sebuah perjuangan kemerdekaan,” ujar Asroruddin. (Yerri Syaf/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 September 2017

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah?

Jumhur atau mayoritas ulama bersepakat bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya umat Islam dalam menunaikan sembahyang. Artinya, mengabaikan urusan ini berpotensi merusak keabsahan shalat secara keseluruhan. Sebagaimana pula mengabaikan menutup aurat masuknya waktu shalat, atau kesucian dari hadats kecil dan besar.

Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah istilah “menghadap kiblat” di sini dimaknai menghadap persis ke bangunan fisik Ka’bah (‘ainul ka’bah) atau sekadar arahnya (jihatul ka’bah)?

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Haruskah Shalat Menghadap Persis ke Ka’bah?

Menghadap persis ke bangunan fisik Ka’bah tentu mudah bagi orang-orang yang berada di Masjidil Haram dan sekitarnya. Tapi tidak demikian bagi orang-orang yang berada di luar Arab Saudi. Butuh pengetahuan khusus atau peralatan tertentu untuk bisa pada kesimpulan telah benar-benar persis menghadap bangunan Ka’bah.

Kecuali Imam Sayfi’i, mayoritas madzhab fiqih berpandangan bahwa umat Islam cukup menghadap arah kiblat (jihah)—tidak harus persis ke bangunan Ka’bah. Namun, ulama dari kalangan madzhab Syafi’i, Abdurrahman Ba’alawi, dalam Bughyah al-Mustarsyidin berpendapat boleh sekadar menghadap arah Ka’bah (jihatul ka’bah) bila seseorang tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis Ka’bah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Cukup menghadap arah (Ka’bah ke barat saja, misalnya) adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan bentuk fisik Ka’bah (a’inul Ka’bah). Orang yang mampu mengetahui Ka’bah bila diandaikan bisa dihasilkan dengan berijtihad, maka ia tidak cukup menghadap arah saja secara pasti (tanpa khilafiyah). Tidak ada yang mendorong ulama yang membolehkan menghadap ke arah Ka’bah melainkan mereka memandang bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihad itu sulit dilakukan. (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M)], h. 39-40)

Kesimpulan ini juga pernah dilontarkan dalam keputusan Muktamar ke-9 Nahdlatul Ulama di Banyuwangi pada tahun 1934. Dengan demikian, ada toleransi bagi mereka yang memiliki keterbatasan pengetahuan untuk sampai pada arah persis ke bangunan Ka’bah. Ia cukup menentukan posisi menghadap arah kiblat yang diyakini sambil berniat menghadap kiblat (mustaqbilal qiblati) ketika memulai shalat.

Dalam konteks zaman sekarang, perkembangan teknologi sangat membantu untuk menentukan arah kiblat, bahkan pada titik koordinat keberadaan Ka’bah yang akurat. Berbagai fasilitas seperti GPS, kompas, theodolit, dan sejumlah aplikasi di android seyogianya dimanfaatkan untuk usaha pencarian posisi kiblat yang tepat. Dengan berbagai kemudahan ini, keterbatasan pengetahuan untuk mengetahui posisi Ka’bah bisa diminimalisasi. Wallahu a’lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, AlaSantri, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock