Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2018

Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Rais Syuriyah PBNU KH. Ahmad Ishomuddin mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama melakukan jihad melawan stanting. Ajakan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Dialog Nasional Lintas Agama Cegah Stanting di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (14/11).

(Baca juga: Ketika Tokoh NU dan Muhammadiyah Bicara Stanting)

Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram (Sumber Gambar : Nu Online)
Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram (Sumber Gambar : Nu Online)

Stanting Meningkat, Masa Depan Bangsa Suram

(Baca juga: Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Para suami sayangi isteri sendiri dengan penuh tanggung jawab memberikan nafkah halal yang cukup dan makanan tambahan bergizi saat ia hamil. Orangtua segera wajib mencegah anaknya dari stanting karena jika telah terjadi tidak ada obatnya," kata pria yang akrab disapa Gus Ishom ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Stanting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi stanting baru terlihat setelah anak berusia dua tahun.

Lebih lanjut Gus Ishom menjelaskan bahwa menurut hasil penelitian, anak yang terkena stanting tidak memiliki masa depan yang baik karena biasanya dalam segala sisi, terutama kecerdasannya, berkualitas rendah. 

"Apabila angka stanting meningkat maka jelas berpengaruh negatif terhadap masa depan bangsa," ujarnya.

Ia mengajak para tokoh lintas agama bekerjasama dalam hal-hal yang disepakati seperti pentingnya mencegah stanting, dan saling menghormati dalam hal-hal yang terpaksa berbeda.

 

Selanjutnya khusus kepada pemerintah, Gus Ishom menilai perlu adanya kampanye nasional yang berfokus pada pemahaman, perubahan perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas.

"Pemerintah harus lebih serius mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi. Tindakan pemerintah atas rakyat harus mengacu kepada kemaslahatan rakyat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia menemukan beberapa faktor terhadap pelayanan Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur (KBRI KL) dalam hal pengesahan buku nikah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pada Seminar Hasil Penelitian Pencatatan Perkawinan WNI di Luar Negeri, di Hotel Aryaduta, Jakarta, awal November Agus Mulyono yang meneliti kasus tersebut mengatakan terdapat beberapa faktor pendukung terhadap pelayanan pengesahan buku nikah.

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)
Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur (Sumber Gambar : Nu Online)

Layanan Pengesahan Buku Nikah di Kuala Lumpur

(Baca: Ini Penyebab Kawin Sirri WNI di Belanda)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pertama, kata Agus, KBRI KL selalu menyesuaikan untuk melakukan terobosan terkait pelayanan yang  diperlukan bagi Warga Negara Indonesia (WNI). Peraturan di Malaysia, katanya, sering berubah, sehingga beberapa kali KBRI pun melakukan terobosan dalam pelayanan pengesahan buku nikah.

Kedua, ketepatan waktu petugas KBRI KL dalam memberikan pelayanan. Ketiga, ketertiban para WNI yang sedang mengajukan permohonan di KBRI. Keempat, Pemerintah Malaysia tertib administrasi.

Selian faktor pendukung, juga terdapat beberapa faktor penghambat.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pertama, dokumen TKI ada yang palsu. Menurutnya, KBRI KL cukup ketat dalam mengeluarkan permohonan pengesahan buku nikah.

Kedua, TKI memilih nikah sirri. Menurutnya, terdapat beberapa TKI yang telah menikah di Indonesia mengaku enggan untuk mengurus pengesahan buku nikah dengan beralasan tidak paham dalam mengurusi pengesahan tersebut.

Ketiga, para pekerja asing yang bekerja di negara Malaysia menggunakan Pas Lawatan Kerja Sementara (PLKS) yang dikeluarkan oleh jebatan Imigrasi Malaysia tidak diperkenankan untuk kawin di Malaysia dan Keempat, peraturan Imigrasi Malaysia sering berubah.

Penelitian tersebut dilakukan Agus bersama Lastriyah, pada 24 April sampai 3 Mei 2017.

Pada seminar tersebut disampaikan pula bahwa selain penelitian di Kuala Lumpur, juga dilakukan di Johor Bahru (Malaysia), Hong Kong, Belanda, dan Arab Saudi. (Husni Sahal/Kendi Setiawan) 

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung menggelar pelatihan kewirausahaan dengan pendekatan teknologi di Madrasah Attaufiq Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Ahad (10/11).

Menurut Ketua Panitia pelatihan, Ujang Miftahudin pelatihan itu diikuti seratus pemuda Ansor dari kecamatan-kecamatan se-Kota Bandung. “Kita siapkan mereka untuk pembentukan BMT (Baitul Mal Waa Tanwil),” katanya keppada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal melalui pers rilis yang dikirim Selasa (12/11).

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi

Dari pelatihan itu, kata dia, mereka didorong untuk membentuk kajian kewirausahaan teknologi di kalangan muda mudi yang bersifat integratif dan berkelanjutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kurang dari 2% generasi muda yang mempunyai jiwa interpreneurship. Dengan semangat 10 November ini mari kita siapkan untuk mengisi kekosongan posisi pahlawan, kita harus merdeka dari sisi ekonomi,” jelasnya.

Karena itu, Ujang menambahkan, pada pelatihan itu para pemuda diberi pemahaman dan pembekalan bagaimana cara membangun dan mengembangkan ekonomi dengan pendekatan teknologi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PC GP Ansor Kota Bandung, Abdul Rozak mengatakan, perkembangan teknologi di Indonesia akhir-akhir ini begitu cepat dan tak bisa ditolak. “Pemuda Indonesia harus segera mengikutinya dan mengembangkannya untuk kepentingan ekonomi.”

Rozak menambahkan, pendidikan wirausaha yang bertepatan dengan Hari Pahlawan bertujuan menyelesaikan basic need (kebutuhan dasar) masyarakat, khususnya pemuda, dengan berwirausaha.

Fasilitator pada kegiatan tersebut adalah Wakil Ketua Bidang Banom Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bandung Nur Hidayat dan Hendri Irawan. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

NU Lumajang Distribusikan Bantuan Bahan Bangunan

Lumajang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka mewujudkan rasa solidaritas, jajaran pengurus NU Lumajang menurunkan bantuan kepada para korban letusan gunung Kelud khususnya di kabupaten Malang, Kamis (20/2). Bantuan yang didatangkan berupa bahan bangunan senilai Rp. 26.037.300, 40 dus mie instan, dan 11 dus air mineral.

NU Lumajang Distribusikan Bantuan Bahan Bangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Lumajang Distribusikan Bantuan Bahan Bangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Lumajang Distribusikan Bantuan Bahan Bangunan

Bantuan itu langsung didistribusikan ke masjid Baitussalam dusun Banu desa Banturejo, madrasah diniyah Sirojul Ulum, madrasah diniyah Salamullah desa Ngantru kecamatan Ngantang, TPQ Tarbiatul Aulad, beberapa madrasah diniyah, sejumlah rumah warga di sekitar dusun Sambirejo desa Pandansari, warga kecamatan Kasembon, dan sejumlah pengurus MWCNU setempat.

Dalam kesempatan itu, Ketua PC LPBI NU Lumajang Achmad Salakhuddin menyampaikan, tim NU Lumajang Peduli Kelud menggalang bantuan itu selama beberapa hari dari warga Lumajang, seluruh pengurus NU, dan madrasah serta sekolah di bawah naungan Maarif NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Penggalangan bantuan tahap pertama telah terkumpul kurang lebih 26 juta dan langsung didistribusikan kepada korban di daerah kecamatan Ngantang dan Kasembon,” terang Salakhuddin yang juga koordinator NU Lumajang Peduli Kelud.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditanya soal membawa bantuan berupa bahan bangunan? Salakhuddin menjelaskan, timnya telah berkoordinasi dengan PC LPBI NU Malang yang telah melakukan penelitian atas kebutuhan warga terdampak seperti keterangan pers rilis PC LPBI NU Lumajang, Ahad (23/2).

NU Lumajang juga akan menyalurkan bantuan tahap kedua setelah hari penggalangan dana terakhir pada Ahad, (23/2). Karena, tim NU Lumajang Peduli Kelud masih menunggu warga Lumajang dan keluarga besar NU yang belum menyalurkan bantuannya seperti Lazisnu, Fatayat NU dan beberapa sekolah yang rencananya menyetorkan bantuannya paling akhir Ahad ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) NU akan dikukuhkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (23/9). Kegiatan yang berlangsung selepas Jumatan tersebut rencananya akan dibuka dengan pidato Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri.

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Pengukuhan bertema “Reposisi gerakaan Konfederasi Sarbumusi NU dalam politik perburuhan nasional dan internasional” tersebut akan mendaulat tokoh senior Sarbumusi untuk menyampaikan testimoni tentang organisasi tersebut di masa lalu, yaitu Nursyam Latif dari Surabaya dan OK Zainal Rosyidin dari Medan.

Menurut Ketua Panitia Pengukuhan Eka Fitri Rohmawati, pengukuhuan tersebut dilanjutkan dengan dialog denngan narasumber Dirjend PHI dan Jamsos Kemenaker RI, Council Industrian all Indonesia Saiful DP, dan ILO Jakarta Soeharjono. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemudian, lanjut dia, keeseokan harinya, akan dilanjutkan dengan Rapat Kerja DPP K-Sarbumusi untuk menyusun agenda-agenda ke depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rapat Kerja tersebut, tambahnya, sebagaimana tema pengukuhan adalah menyusun upaya-upaya membangkitkan kejayaan Sarbumusi yang pernah diraih di tingkat nasional dan tingkat internasional. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Olahraga, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam memperingati hari bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu Hari Santri, PBNU menginstruksikan kepada seluruh warga NU dan pengurus NU di berbagai tingkatan untuk menggelar 1 miliar shalawat nariyah dan upacara bendera.

Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadwal Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dan Upacara Bendera Hari Santri

Untuk pembacaan shalawat nariyah (info pembagian jumlah bacaan silakan klik www.harisantri.id) dilakukan pada Sabtu, 21 Oktober 2017/1 Shafar 1439 H. Adapun waktunya dilaksanakan pada pukul 19.30-22.30 WIB/WITA/WIT.

“Sedangkan upacara bendera dilaksanakan pada 22 Oktober 2017 pada pukul 09.00 WIB/WITA/WIT serentak di sekolah, madrasah, dan pondok pesantren di seluruh Indonesia,” jelas Kiai Said yang juga menjelaskan bahwa tema Hari Santri 2017 yaitu Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI.

Instruksi tersebut tertuang dalam surat resmi Nomor 1551?C.I.34/10/2017 tentang Instruksi Hari Santri 2017. Pembacaan shalawat nariyah sejumlah 1 miliar juga dilaksanakan pada peringatan hari santri 2016 lalu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menjelaskan, kegiatan pembacaan 1 miliar shalawat nariyah ini dalam rangka pertama, mengharap berkah dan sekaligus memohon pertolongan kepada Allah agar bangsa Indonesia selamat dari ancaman apapun. 

“Ini penting dilakukan agar kita tetap senantiasa hidup damai dan semoga negara ini menjadi apa yang disebut sebagai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur,” tutur pria kelahiran Cirebon ini.

Kedua, imbuhnya, dalam momentum pembacaan 1 miliar shalawat Nariyah ini, PBNU ingin mengenang dan sekaligus mendoakan para pahlawan yang gugur dan tulus membela kedaulatan tanah air. 

“Jasa mereka, utamanya para ulama, selain harus kita kenang, yang tidak kalah penting adalah harus kita teladani,” tegas Helmy. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Berlin, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman menyampaikan penolakan atas Rencana Kunjungan Kerja Anggota DPR RI ke Jerman. Karena banyak perbedaan signifikan antara Indonesia dan Jerman, diyakini kunjungan DPR RI tidak bermanfaat bagi kepentingan Indonesia.

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jerman Tolak Kunjungan Kerja DPR RI

Pernyataan sikap disampaikan PCINU Jerman bersama PPI Berlin, dan Watch Indonesia di Berlin, tertanggal 16 November 2012.

Rencana kunjungan kerja DPR RI itu akan dilakukan oleh Panita Khusus Rancangan Undang-Undang Keinsinyuran. Mereka diperkirakan akan bertolak ke Jerman pada minggu-minggu ini, dari 17 sampai 23 November 2012. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami PCI NU Jerman, PPI Berlin dan Watch Indonesia menyatakan penolakan rencana kunjungan kerja tersebut,” demikian dalam rilis pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PCINU Jerman Suratno dalam rilis pers tersebut menyarankan agar DPR RI lebih fokus pada masalah-masalah di tanah air, terutama yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi DPR RI yang sedang mendapat sorotan dan kritikan tajam dari berbagai pihak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hendaknya mereka menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hal yang akan mereka studibandingkan dengan mengandalkan informasi-informasi serta kerjasama dengan lembaga-lembaga lokal,” katanya.

Menurutnya, ada perbedaan yang cukup kontras antara Indonesia dan Jerman dalam hal sistem dan tata kelola pemerintahan-kenegaraan , tata hukum, struktur sosial dan budaya. “Karenanya kami menilai kunjungan mereka seperti ini tidak bermanfaat bagi kepentingan kita di Indonesia.”.

PCINU Jerman juga menuntut adanya transparansi atas kunjungan kerja, berupa tujuan kunjungan kerja, biaya perjalanan, akomodasi selama kunjungan kerja, jadwal kunjungan kerja selama di luar negeri, materi-materi yang di bicarakan, dan partner kerja di tempat tujuan. Hal tersebut seharusnya dipublikasikan secara resmi yang bisa diakses oleh masyarakat secara luas dari jauh-jauh hari, minimal 1 bulan sebelum keberangkatan.

“Kami menuntut adanya publikasi hasil konkret dari kunjungan-kunjungan kerja keluar negeri yang selama ini dilakukan oleh DPR RI, terutama dalam konteks kunjungan ke Jerman pada April 2012 lalu, dimana hasil kunjungan kerja Komisi I DPR RI tersebut sampai saat ini belum dipublikasikan secara resmi,” demikian PCINU Jerman.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Quote, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Saya perkirakan lebih dari 30 persen santri adalah petani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai mata pencariannya. Mereka tinggal di desa-desa, tidak jarang merangkap sebagai guru ngaji atau profesi lainnya. Kehidupan mereka berada di bawah garis cukup. Hanya saja, pendidikan agama yang mereka peroleh menguatkan rasa kepasrahan mereka melebihi manusia pada umumnya.

Pertanian di Indonesia dalam skala besar sedang menghadapi krisis kualitas dan kuantitas. Generasi muda kita tidak berminat untuk terjun di bidang pertanian. Lebih suka berpindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Belum lagi label “tiang tanos” (orang tani) yang dalam kultur kita sering dipandang sebagai orang bawah atau kelas terbelakang. Ditambah gaya hidup hedonistik yang dimunculkan sinetron-sinetron kita di televisi. Membuat minat generasi muda kita semakin terkikis

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Sekarang ini, hampir tidak ada anak gadis yang bekerja di sawah. Alasannya macam-macam, dari mulai kurang gaul, takut hitam, jijik lumpur, sampai takut make up-nya luntur. Memang, di era globalisasi ini kecantikan telah direduksi maknanya sedemikian rupa oleh pabrik kosmetik dan iklan-iklannya. Pabrik-pabrik itu memonopoli pengertian tentang cantik. Akibatnya, cantik adalah apa yang digambarkan oleh iklan dan pabrik-pabrik kosmetik itu. Tidak ada lagi pemahaman tentang inner beauty, jika pun ada, ya, sekadar basa-basi.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat generasi muda kita dalam bidang pertanian. Para pemuda takut dianggap kurang cool (keren), begitupun sebaliknya. Padahal, nenek moyang kita, laki-laki dan perempuan, pemuda dan gadis, menggarap sawah dengan penuh kerendah-hatian dan ketelatenan. Sekarang, jika generasi tua sudah tidak ada, siapa yang akan menggarap sawah-sawah itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kecenderungan merantau generasi muda ke kota menjadi problem lain yang perlu diatasi. Berkembang atau tidaknya sebuah desa bergantung pada tenaga produktifnya. Jika tenaga produktifnya tidak ada (bekerja di kota), hasil panen akan menurun. Lambat laun, kebutuhan pangan di pedesaan akan disuplai dari luar.Desa yang tadinya produsen berubah menjadi konsumen pangan.

Selain itu, kecilnya keuntungan pertanian pangan dan harga sawah yang tinggi menjadi penghalang generasi muda kita untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik dari bertani. Di samping tidak jarang para pemilik sawah merubah fungsi lahannya menjadi tempat produksi batu bata karena dinilai lebih prospektif.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah berubahnya lahan pertanian pangan menjadi perumahan dan perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan lain sebagainya. Tergantung permintaan pasar dan pertimbangan ekonominya. Hal ini menyebabkan angka produksi pangan nasional menurun.Impor beras dari luar negeri seakan-akan tidak dapat dihindarkan lagi. Parahnya, konversi itu tidak dibarengi dengan pembukaan lahan persawahan baru, sehingga ketahanan pangan kita terancam.

Akibatnya, dari kurun 2010-2013 impor beras nasional kita meningkat secara signifikan (Yunita T. Winarto [ed], Krisis Pangan dan “Sesat Pikir”: Kenapa Masih Berlanjut?, Pustaka Obor, 2016, hlm 174). Apabila kecenderungan impor yang disebabkan oleh stagnasi produksi pertanian terus berlanjut dan tidak ada perbaikan, kita akan memasuki situasi yang sangat aneh untuk sebuah negara agraris, ketergantungan pangan pada negara lain. 

Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di pesantren tradisional, tidak sedikit santri yang menggarap ladang milik pesantren atau kiai. Baik santri putra maupun santri putri berperan aktif dalam proses cocok tanam hingga panen. Karena kehidupan mereka terbangun dari kultur pesantren, mereka belum terpengaruh gaya hidup hedonistik yang berkembang di luar. Mereka menghabiskan waktunya dengan belajar, menghafal, kerja bakti dan mengaji.

Banyak dari mereka ketika pulang ke daerahnya masing-masing menyandarkan hidupnya dari pertanian, menggarap sawah milik orangtua atau mertuanya.Perasaan gengsi tidak terlalu berpengaruh dalam diri mereka, meski tetap saja ada yang terpengaruh oleh hal itu. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka dengan teguh menggenggam nilai-nilai kesantriannya.

Persoalannya malah terletak pada kecakapan mereka dalam bertani. Mereka tidak mendapatkan pendidikan atau pengajaran tentang cara bercocok tanam yang baik. Cara bertani mereka masih sangat tradisional dan seadanya, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih di pesantren. Karena itu, dalam hal melestarikan pertanian, mereka cukup memberikan pengaruh. Namun, dalam hal peningkatan produksi pangan, peran mereka masih teramat kecil.

Memandang hal tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pesantren mengembangkan pertanian dengan serius. Metode cocok tanam yang baik, pengenalan lahan pertanian, pencegahan hama yang efektif, dan bagiamana cara meningkatkan hasil panen harus diajarkan secara sistematik dan tepat.Pesantren harus membuka kelas-kelas pertanian modern yang rapih tanpa mengganggu proses ajar-mengajar santri.

Dilihat dari fenomena sosial yang berkembang, khususnya hilangnya minat anak muda untuk bergelut di bidang pertanian, dengan karakter kulturnya yang khas, santri bisa berperan aktif meningkatkan produksi pangan nasional. Tidak sekadar bertani ala kadarnya. Pesantren harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan santri-petani yang mumpuni dan cakap.

Memang, sudah ada beberapa pesantren yang mengambil langkah ini, bahkan menjadikan pertanian sebagai ciri khasnya, seperti Pesantren Pertanian Darul Fallah di Bogor. Namun, pesantren dalam arti luas masih sangat jauh menuju ke arah itu. Pertanian harus dilebur dengan pesantren, terlepas apapun tipologi pesantrennya. Pemanfaatan lahan persawahan milik pesantren atau kiai harus diarahkan sebagai sarana belajar yang terskema dengan rapih, tidak sekadar penjalanan tugas santri kepada kiai dan pesantrennya.

Meskipun pertanian di pesantren umum (bukan pesantren takhasshus) sekadar kegiatan ekstra, tetapi kegiatan ekstra itulah yang kemudian banyak dijadikan mata pencarian oleh santrinya. Karena itu, diperlukan penyikapan yang lebih serius, dengan pendidikan pertanian yang matang sebagai bekal santri. Tidak hanya untuk mengarungi kehidupan pribadinya, tapi juga berperan serta dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Bukankah hal ini juga termasuk jihâd fî sabîlillah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Internasional, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Keberagamaan umat Islam di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami yang cukup signifikan. Tahun 1990-an ke bawah, tidak banyak masyarakat muslimah Indonesia yang mengenakan jilbab dan hijab. Apalagi cadar. Tapi, saat ini muslimah Indonesia yang berjilbab, berhijab, dan bahkan bercadar semakin marak.

Selain itu, istilah syar’i dan hijrah juga semakin mengemuka ke tengah-tengah masyarakat belakangan ini, terutama di kalangan artis dan publik figur. Contoh kecil, kerudung dianggap syar’i manakala memiliki ukuran yang lebar hingga menutupi seluruh badannya. Sedangkan, kerudung kecil dianggapnya kurang –bahkan tidak- syar’i. Itu baru segi pakaian. Masih ada hal-hal lainnya yang dilabeli dengan istilah syar’i.

Begitupun dengan hijrah. Terma ini semakin ngehits dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan para publik figur yang berkecimpung di dunia pertelevisian pun cukup vokal dalam mengkampanyekan istilah hijrah ini. Diantara indikator yang disematkan untuk hijrah adalah –misalnya- berkerudung syar’i atau bercadar, berjenggot lebat, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. 

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Lalu, Bagaimana pola keberagamaan umat Islam saat ini? Apakah hijrah berarti sebagaimana yang digambarkan di atas? Bagaimana melihat fenomena syar’i yang berkembang seperti sekarang ini? Bahkan ada beberapa institusi perguruan tinggi yang dilaporkan melarang dosen ataupun mahasiswanya untuk mengenakan cadar atau niqab. Bagaimana melihat fenomena seperti itu.

Jurnalis Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, A. Muchlishon Rochmat, mewawancarai Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Umam, terkait dengan hal-hal tersebut di atas. Ia juga diamanati untuk menjadi Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Berikut wawancaranya:

Keberagamaan umat Islam di Indonesia saat ini seperti apa, Pak Umam?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Secara umum ada perubahan pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Perubahan itu belum tentu substantif, tetapi perubahan itu kelihatan dari sisi luarnya dan kemasannya. Sekarang, simbol-simbol Islam itu semakin jelas. Simbol-simbol tersebut belum tentu mencerminkan kualitas kesalehan masyarakatnya. Dulu jilbab jarang dipakai orang, tetapi sekarang banyak sekali yang memakai jilbab. 

Apa yang menyebabkan seperti itu? Maksudnya maraknya simbol-simbol keislaman tersebut?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Televisi, media cetak, dan maraknya media-media sosial telah membantu untuk memperlihatkan perubahan-perubahan tersebut. Dan itu mau tidak mau juga ikut mempengaruhi perilaku umat Islam Indonesia. Ada yang sekedar ikut tren karena jilbab menjadi tren. Meskipun ada seseorang yang berubah karena kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari ajaran Islam.

Jadi, grafik keberagamaan kita semakin naik?

Kita belum memiliki data yang valid untuk menggambarkan sebarapa jauh dan meningkatnya perubahan itu. Tetapi secara umum kita bisa melihat dari jumlah pengajian, masjid dan mushola yang terus bertambah, semakin maraknya lembaga-lembaga amil zakat karena dipicu oleh kesadaran berzakat yang semakin meningkat. Itu menunjukkan ada tren keberagamaan itu meningkat lebih baik. 

Tapi di sisi lain, ada tren-tren baru perlu mendapatkan perhatian. Ada orang yang hanya berhenti kepada simbol-simbol agama semata. Misalnya kalau mau dianggap islami maka kenakanlah jilbab model ini atau berpakaian tertentu. Padalah agama tidak hanya itu. Yang lebih substantif adalah dari segi isi keberagamaan itu. Simbol itu penting juga, tetapi jangan berhenti pada simbol karena simbol itu mudah dihilangkan dan dilepaskan.

Memang ada perubahan dalam keberagamaan ini, tetapi masih belum terlalu yakin bahwa perubahan itu sudah mengubah juga substansi para pemeluknya itu. Yang saya lihat masih sebatas pada simbol luarnya. Kita lihat kejadian-kejadian sosial yang tidak sesuai dengan ajaran agama seperti korupsi. Di satu sisi, itu menerangkan bahwa tampilannya sudah menunjukkan seolah-olah dia pengamal agama yang baik tetapi di sisi lain ternyata tidak demikian.

Belakangan ini, marak istilah syar’i di kalangan umat Islam misalnya ada istilah hijab syar’i. Bagaimana Anda melihat itu?

Kalau niatnya baik itu patut diapresiasi tetapi saya khawatir ini hanya tren sesaat. Jangan lupa bawa dibalik tren syar’i itu juga ada kepentingan ekonomi yang besar. Misalnya industri garmen semakin menguat dengan adanya tren syar’i ini. 

Kalau niatnya adalah supaya orang sadar akan ajaran agama, saya kira itu bagus. Tetapi jangan sampai berhenti di situ dan jangan terjebak kepada jargon-jargon sesaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah menata perilaku sehingga sesuai dengan ajaran syariat Islam. Tidak berhenti di pakaian saja. 

Ada yang ‘memanfaatkan’ tren syar’i ini secara ekonomi?

Kritikan saya seperti ini, di balik jargon syar’i itu jelas ada kepentingan ekonomi. Apapun yang terkait dengan syar’i itu dikampanyekan dengan market. Di bisnis garmen, makanan, penerbangan itu kan ada pemain-pemain lama. Kemudian ada pemain baru yang ingin mendapatkan ‘kue’ ekonomi itu. Sehingga kalau misalnya mereka bersaing di sektor lama mereka tidak akan berhasil. Sehingga hal-hal yang sifatnya syar’i ini menjadi jargon marketing yang luar biasa. 

Orang terdorong untuk melakukan sesuatu karena itu adalah bagian dari implementasi agama. Pada tataran pelakunya mungkin mereka sadar ingin berubah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang memanfaatkan itu tadi. 

Bukankah itu bagus untuk mendorong ekonomi baru?

Sebetulnya ini positif untuk mengembangkan ekonomi. Salah satu yang mendorong ekonomi adalah bagaimana orang membelanjakan uangnya itu. Di satu sisi seperti itu. Tetapi jangan kemudian menganggap bahwa Indonesia lebih islami dengan adanya tren seperti itu. Karena indikator yang lain di luar tampilan fisik itu belum terpenuhi.

Lalu, apa saja indikator yang menunjukkan bahwa itu islami?

Misalnya kejujuran, tidak korupsi, adil terhadap semua orang, dan lainnya. Sampai saat ini, saya masih belum sepenuhnya yakin bahwa jargon syar’i itu adalah indikasi masyarakat Indonesia secara umum itu menjadi lebih islami.

Selain Syar’i, istilah hijrah juga ngehits saat ini. Hijrah diidentikkan misalnya dengan bercadar, bercelana cingkrang, berkening hitam, dan berjenggot lebat. Apakah hijrah memang seperti itu?

Hijrah tidak hanya sekedar itu. Itu hanya bagian luar dan tidak substantif. Kalau mau hijrah ya harus total. Tidak hanya tampilan luarnya saja, tetapi juga harus disertai dengan perubahan perilaku, sikap, dan cara berpikir ke arah yang lebih baik.

Ini kan korban dari kampanye dari televisi dan media sosial. Jangan menyimplifikasi agama misalnya kalau sudah mengubah cara berpakaian maka kemudian menjadi lebih islami. 

Mungkin betul bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melarang seseorang yang berpakaian terlalu panjang dan melebihi mata kaki. Tetapi konteksnya kan berbeda. Saat itu, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu ada kesombongan maka kemudian Nabi melarang itu.

Sekarang di balik, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu apakah mereka ada kesombongan. Jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya; orang yang berpakaian cingkrang itu ada dirinya merasa lebih baik dari pada orang lain. Kalau begitu, berarti dia yang sombong. Karena mereka merasa lebih islami, mengikuti hadis Nabi, dan merasa lebih dekat dengat Tuhan. Berarti kan ada kesombongan itu.

Begitupun yang berkening hitam. Jangan sampai mereka yang berjidat hitam merasa lebih lama sujudnya dari orang lainnya. Menghitamkan kening itu mudah. Saya memiliki banyak kiai yang ahli sujud, tetapi keningnya tidak hitam. Justru wajahnya bersih-bersih. 

Berarti titik tekan dari hadis Nabi Muhammad tersebut pada ada tidaknya kesombongan dalam berpakaian?

Konteks larangan hadis tersebut adalah agar orang tidak sombong. Sekarang itu harus dikaji lagi. Saat ini yang sombong siapa? apakah orang yang bercelana melebihi mata kaki itu? Ataukah orang yang bercelana cingkrang?

 

Kalau kebiasaan atau ‘urf itu menunjukkan bahwa berpakaian melebihi mata kaki itu baik dan tidak ada kesombongan sama sekali, lalu kenapa harus dirubah dan dikampanyekan untuk bercelana cingkrang.

Makanya, agama itu jangan disimplifikasikan dengan penampakan pakaian saja. Mari kita ukur; apakah mereka berbuat baik dengan tetanga, apakah mereka peduli dengan orang miskin. 

Ada institusi pendidikan yang melarang mahasiswinya memakai cadar. Bagaimana itu?

Ajaran agama itu muncul berdasarkan tantangan lokasi dan waktu tertentu. Cadar itu muncul di negara padang pasir untuk melindungi dari pasir. Cadar itu kan bukan pakaian islami yang absolut. Pakaiaan itu adalah budaya. Yang menjadi kewajiban bagi muslim dan muslimah adalah menutup aurat. Dan batasan-batasan aurat sendiri itu kan juga menjadi perdebatan ulama hingga melahirkan pendapat yang berbeda. 

Kalau kita merujuk pendapat yang menyatakan bahwa aurat yang harus ditutupi adalah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak ada keharusan untuk mengenakan cadar.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyesuaikan pakaian dengan budaya setempat. Bukankah ada kaidah fikih yang menyebutkan bahwa al-‘adah muhakkamah (adat itu bisa dijadikan hukum). Selagi kebiasaan sebuah masyarakat tidak bertentangan dengan agama dan agama tidak mengatur, maka itu tidak ada masalah.

Terkait dengan larangan bercadar di kampus, pak?

Ketika institusi negara melarang orang bercadar itu mungkin ada alasan untuk mengenali dan mengetahui seseorang itu. Karena orang tidak bisa mengenali orang yang bercadar dengan pasti. Sementara di sebuah institusi itu perlu kepastian bahwa seseorang yang dimaksudkan adalah benar-benar si A dengan identitas yang disebutkan itu.

Bagaimana menguji seseorang kalau hanya lewat cadar. Kalau semuanya tertutup, tidak ada alat untuk memastikan bahwa dia memang nama yang tertulis itu. 

 

Dalam konteks ini, wajar kalau sebuah institusi meminta kepada mereka yang bercadar itu untuk melepasnya. At least dalam waktu-waktu yang dibutuhkan untuk mengkorfirmasi identitas seseorang tadi. Hal itu berbeda kalau mereka di luar institusi, silahkan saja mereka mengenakan cadar.  

Sebuah pernyataan dari Prof Azyumardy Azra bahwa Islam Indonesia yang dikenal ramah, moderat, adaptif terhadap budaya setempat itu is too big to fail. Apakah sepakat dengan statement itu atau bagaimana?

Saat ini, Islam Nusantara is too big to fail iya benar. Karena mayoritas masyarakat muslim Indonesia masih mengamalkan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi setempat.

Tetapi kalau tren konservatifme Islam tidak diantisipasi oleh semua pihak dan dibiarkan menguat -misalnya pola keberagamaan ala Saudi dibiarkan bebas, dikampanyekan, diajarkan sehingga membid’ah-bid’ahkan yang lainnya- maka model Islam Indonesia seperti saat ini akan berubah lima puluh seratus tahun ke depan.

Maka saya baik secara pribadi maupu secara institusi merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia secara umum, NU, Muhammadiyah, untuk bekerjasama dan melakukan upaya-upaya yang lebih konstruktif dalam mengimbangi dakwah Islam model kaku seperti itu. Model yang mungkin cocok di Arab, tetapi menurut saya itu tidak pas diterapkan di Indonesia.

Kalau dakwah-dakwah model salafi wahabi itu dibiarkan, maka dalam jangka panjang itu akan mengubah keberagamaan Indonesia. Sekarang kan sudah kita temukan fakta-fakta di lapangan bahwa orang seperti ini semakin banyak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Makam, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Internasional, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Sambut "Hari Perempuan Internasional" Kader PMII Berlatih Tari

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kader perempuan PMII Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga mulai melenturkan diri dengan latihan tari di area parkir bagian barat kampus, Jum’at (21/2). Mereka tengah bersiap menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Sabtu (8/3).

Selain perempuan yang tergabung dalam Kapash (Komunitas Perempuan Syariah dan Hukum), kader laki-laki PMII juga mengikuti latihan tari. Latihan tari ini dipandu Pesang dari Sanggar SangArt.

Sambut Hari Perempuan Internasional Kader PMII Berlatih Tari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Perempuan Internasional Kader PMII Berlatih Tari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut "Hari Perempuan Internasional" Kader PMII Berlatih Tari

“Latihan tari ini sebenarnya sudah digelar mulai beberapa hari lalu, tapi tempatnya bukan di sini. Latihan ini merupakan persiapan untuk pementasan acara yang akan kami adakan dalam memperingati Hari perempuan Internasional di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga,” terang Ketua Kapash Naya Rukunuddin di sela-sela latihan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara yang mengangkat tema “Woman To Be Creative” itu nantinya tidak hanya mementaskan penampilan dari kader-kader Kapash saja. Rayon-rayon yang ada di UIN Sunan Kalijaga juga diundang untuk meramaikan acara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penampilan anak-anak TK se-DIY nantinya, sambung Naya, juga akan menjadi serangkaian acara yang akan di gelar Sabtu (8/3) mendatang.

“Kami berharap nanti saat pementasan berlangsug kader-kader Kapash sudah siap tampil luar dalam. Maka dari itu latihan ini kami gelar setiap malam. Kami menginginkan mereka memberikan penampilan terbaik saat pementasan yang berlangsung sehari semalam nanti,” tutur kader Kapash, Eka Oktaviani. (Abdul Rahman Wahid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengeluhkan masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam kepengurusan NU.

Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU. "Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Maruf Amin kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di rumahnya, Ahad (9/12).

Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU sendiri pun kini dipertanyakan.

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar.

NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai Maruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun 1926.

Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih.

Menurut Kiai Maruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan.

"Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong, agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat bahaya," tegas kiai Maruf. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Internasional, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Hasyim Muzadi: Indonesia Kehilangan Ulama Negarawan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan Indonesia kehilangan ulama negarawan atas wafatnya Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh.?

"Wafatnya KH Sahal Mahfudh merupakan kehilangan besar bagi NU, umat, dan bangsa Indonesia," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Jumat.

Hasyim Muzadi: Indonesia Kehilangan Ulama Negarawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Indonesia Kehilangan Ulama Negarawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Indonesia Kehilangan Ulama Negarawan

Hasyim yang selama 10 tahun memimpin NU bersama Kiai Sahal mengatakan sebagai pemimpin tertinggi NU, Kiai Sahal merupakan sosok kiai yang konsisten menjaga khittah NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Beliau selalu menyampaikan bahwa NU hendaknya berada di tingkat high politic bukan low politic (praktis), sekalipun di lapangan masih tumpang tindih karena secara fisik jamaah NU terlibat politik praktis sebagai hak kewarganegaraan mereka," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok itu menambahkan, Kiai Sahal adalah pakar ilmu usul fikih, sehingga menelorkan fikih sosial yang membawanya mendapatkan gelar doktor honoris causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

"Inilah yang menyebabkan pemikiran hukum Islam beliau kental, karena pemikiran beliau lebih beraliran manhaji daripada qouly," tutur Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini.

Sebagai negarawan, lanjut Hasyim, konsep Kiai Sahal tentang hubungan agama dan negara sangat jelas, yaitu beraliran inklusif substantif, sehingga menjamin terselenggaranya negara tanpa berhadap-hadapan dengan agama, dan menjamin agama tidak ditinggalkan oleh negara.

"Pemikiran beliau bersifat moderat, bukan ekstrem bukan pula liberal. Sebagai pemimpin beliau sangat mengayomi siapa saja dengan keluasan pikiran dan pemikiran, pemersatu, dan santun," katanya.

Sebagai pemimpin NU yang pernah berjuang bersama, Hasyim merasa sangat berduka atas kepergian Kiai Sahal. Ia pun langung datang ke Pati, Jawa Tengah untuk mengikuti pemakaman jenazah ulama kharismatik itu.

"Selamat jalan Mbah Sahal, dunia yang hiruk pikuk telah Mbah tinggalkan menuju Allah robbul izzati. Terima kasih atas bimbingan selama ini. Semoga husnul hotimah," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

Puasa merupakan ibadah yang cukup efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk itu, puasa sangat dianjurkan sebanyak mungkin sesuai kemampuan masing-masing orang. Namun, demikian perlu memerhatikan hari-hari tertentu yang dilarang agama untuk menjalankan ibadah puasa seperti hari tasyriq, hari Idul Fithri, maupun Idul Adha.

Lalu bagaimana puasa di bulan Sya’ban. Sya’ban merupakan salah satu bulan terhormat di sisi Allah SWT. Akan baik sekali mendekatkan diri melalui puasa di bulan ini. Bagaimana dengan puasa setelah pertengahan Sya’ban berlalu? Di sini ulama berbeda pandangan.

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Setelah Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid, menyebutkan sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Adapun mengenai puasa di paruh kedua bulan Sya’ban, para ulama berbeda pendapat. Sekelompok menyatakan, makruh. Sementara sebagian lainnya, boleh. Mereka yang menyatakan ‘makruh’ mendasarkan pernyataannya pada hadits Rasulullah SAW, “Tidak ada puasa setelah pertengahan Sya’ban hingga masuk Ramadhan.”

Sementara ulama yang membolehkan berdasar pada hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah RA dan Ibnu Umar RA. Menurut Salamah, “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali puasa Sya’ban dan Ramadhan.” Ibnu Umar RA menyatakan, Rasulullah SAW menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan. Hadits ini ditakhrij oleh A-Thohawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Melihat dua pandangan ini, baiknya kita saling menghormati pendapat dan amalan puasa satu sama lain. Dengan saling menghormati, upaya mendekatkan diri kepada Allah bisa diwujudkan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Internasional, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengajian kitab kuning dengan fasilitas radio streaming yang disiarkan setiap hari oleh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal mendapat respon yang cukup positif dari para pendengar. Minat warga mendengarkan pengajian melalui radio berbasis internet ini semakin meningkat.

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

"Pendengar radio ini yang istiqomah perhari sudah mencapai rata-rata sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Jumlah ini memang masih lebih rendah jika dibanding bulan Ramadhan. Namun semenjak awal Syawal kemarin, jumlah pendengar terus meningkat,” kata Direktur Radio Streaming Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Mustiko Dwipoyono di Jakarta, Senin (12/11) sore.

“Para pendengar adalah warga pesantren dan masyarakat umum yang ingin mengikuti kajian kitab kuning. Melalui radio streaming mereka tidak harus langsung datang ke pesantren," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, untuk program pasca Ramadhan saat ini radio streaming masih menggunakan rekaman (typing) yang antara lain diisi oleh KH Jamaluddin Muhammad dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, KH Musthofa Bisri dari Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang, dan rekaman pengajian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pesantren Ciganjur.

Ke depannya akan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal akan menyiarkan pengajian-pengajian kitab kuning dan pengajian umum secara live dari beberapa pesantren di berbagai daerah. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Karena semakin mendapat respon yang cukup positif dari pendengar, maka rencananya pada awal tahun 2013 radio streaming ini akan dikembangkan menjadi siaran secara langsung dengan narasumber antara lain, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Sahal Mahfudz dengan tema kekinian yang melibatkan santrinya di masing-masing pesantren," katanya.

Pengajian online sementara ini dilaksanakan dalam dua sesi setiap harinya. Sesi pertama dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB dan sesi kedua pukul 19.30 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Menariknya, radio streaming ini dipancarluaskan oleh radio-radio lokal di Jawa Timur di antaranya Radio Madu FM di Tulungagung dan Jember, Aswaja FM di Ponorogo serta Radio Nur FM di Rembang Jawa Tengah dan beberapa radio komunitas NU.

"Bagi yang belum mengetahui dan ingin mendengarkan radio streaming ini bisa mengakses langsung di radio.nu.or.id atau klik di pojok kanan atas situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal www.nu.or.id," pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nurdin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Makam, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ratusan mahasiswa dan pemuda di Bojonegoro, Jawa Timur, menggelar aksi solidaritas untuk Palestina. Mereka mengutuk aksi brutal Israel yang membombardir Jalur Gaza dan mengakibatkan ratusan warga sipil Palestina meninggal dunia.

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel

Mereka yang aksi turun jalan di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dan Orang Indonesia (OI).

Aksi tersebut difokuskan di bunderan Sumbang dan alun-alun Bojonegoro, Ahad (13/07) sore. Para aktivis itu memulai aksi solidaritas pukul 15.00 WIB di bundaran Adipura, Bojonegoro, dengan membagi-bagikan bunga dan selebaran kepada pengguna jalan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita mengecam yang dilakukan Israel," teriak koordinator aksi, Muhammad Muhajirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aksi berlanjut di alun-alun Bojonegoro untuk menggelar shalat ghaib dan doa bersama serta penandatanganan dukungan ke Palestina. Dengan membawa Poster "Save Palestine" dan "Pray fot Gaza", ratusan pemuda ini berteriak dan mengutuk tindakan Israel.

"Kita juga membagikan bunga dan wacana sebagai simbol kepedulian. Serta penandatanganan pengecaman serangan Israel ke Palestina," terangnya.

Sementara itu puluhan petugas kepolisian terlihat mengatur jalur lintas sekitar lokasi agar tidak macet. Selain aksi, mereka juga menggelar aksi tandatangan di atas kain putih, sebagai dukungan ke warga sipil Palestina. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seperti tahun lalu, PBNU melalui Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Ramadhan ini menggelar agenda “Mudik Bareng NU 1433 H”. Sedikitnya 99 masjid di sepajang Pulau Jawa disiapkan menjadi posko mudik. Kebijakan ini merangkap harapan, masjid sepatutnya turut membantu kehidupan masyarakat.

Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Rabu (31/7), mengatakan, langkah ini adalah  wujud pemberdayaan aset Nahdlatul Ulama agar memberi manfaat kepada umat. Seluruh Pengurus Cabang  dalam Rapimnas LTMNU telah sepakat akan membuka posko di lingkungan masjid untuk menyambut ribuan calon pemudik.

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Posko Mudik, Masjid NU Diharapkan Berfungsi Sosial

“Kita juga berharap, program ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen menyebutkan beberapa keunggulan posko mudik NU ini. Di masjid, selain melepas lelah dan mampir ke kamar mandi, para pemudik dapat menunaikan shalat dalam suasana yang lebih teduh dan nyaman. Fasilitas ini berbeda dengan posko-posko lain yang umumnya terbatas pada penyediaan kamar kecil dan tenda berukuran sempit.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, lanjutnya, keterlibatan 99 pengurus cabang secara tak langsung telah memperkuat LTMNU secara struktural. “Dengan kegiatan ini kita akhirnya telah melakukan konsolidasi dengan PC-PC (pengurus cabang), dari Merak sampai Banyuwangi,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nasional, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banda Aceh memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan santunan anak yatim yang dilaksanakan di Rumah Budaya.

Menurut Ketua PC PMII Kota Banda Aceh Akmaluddin, acara yang berlangsung , Ahad (12/2) tersebut diadakan untuk menunjukkan kepedulian PMII terhadap tradisi islami yang mesti dipertahankan dan dipelihara secara berkesinambungan.

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Peringati Maulid Nabi dan Santuni Yatim

Pada peringatan tersebut, kata dia, PMII dapat memetik teladan Rasulullah dengan menjadi generasi yang hebat, yaitu generasi pecinta Rasulullah SAW.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam kesempatan ini PMII Kota Banda Aceh dalam acara silaturahim baik kader, senior dan alumni juga menghadirkan anak yatim piatu dengan memberikan sedikit sumbangan dari PMII Kota Banda Aceh," ungkap Akmal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Kota Banda Aceh, Tgk.Asnawi M.Amin mengaharapkan kegiatan yang mulia ini harus selalu dilakukan. Hal itu? bukti jiwa pecinta Rasulullah SAW dalam menegakkan pergerakan bagi para kader PMII.

Acara bertema "Generasi Hebat, Generasi Cinta Rasulullah SAW" dihadiri KNPI Kota Banda Aceh, OKP se-Kota Banda Aceh, BEM Universitas se-Kota Banda Aceh dan juga Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriyah PCNU Kota Banda Aceh Tgk. H. Muhibban H.M.Hajat. (Fauzan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Tegal, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Saudi Akan Hadapi Ekstremis dengan Pendekatan Tangan Besi

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Raja Saudi Arabia mengingatkan bahwa negaranya akan menyerang dengan "tangan besi" terhadap orang-orang yang memangsa kerapuhan generasi muda untuk masuk ke ekstrimis agama, sehari setelah pengebom bunuh diri menghantam tiga kota dalam serangan yang tampaknya seperti kampanye yang terkoordinasi.

Saudi Akan Hadapi Ekstremis dengan Pendekatan Tangan Besi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Akan Hadapi Ekstremis dengan Pendekatan Tangan Besi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Akan Hadapi Ekstremis dengan Pendekatan Tangan Besi

Dalam sebuah pidato menandai Idul Fitri, Raja Salman mengatakan tantangan besar yang dihadapi Arab Saudi adalah menjaga harapan bagi para pemuda yang menghadapi risiko radikalisasi.

"Kami akan menyerang dengan tangan besi pada mereka yang menarget akal dan pikiran... generasi muda kami yang kami cintai," kata Salman (80).

Empat petugas keamanan tewas pada serangan hari Senin yang menarget Konsulat Amerika Serikat, para muslim Syiah dan pusat keamanan di masjid di Kota Suci Madinah. Semua serangan tampak sudah diatur waktunya sehingga bertepatan mendekati hari raya Idul Fitri.

Kepala bagian Hak Azasi Manusia PBB menyampaikan pada Selasa, mendeskripsikan bom di luar masjid Nabi Muhamad di Madinah sebagai "sebuah serangan terhadap Islam itu sendiri" dan banyak umat Muslim yang kaget situs tersuci kedua mereka menjadi sasaran.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Belum ada satu grup pun yang mengaku bertanggung jawab namun militan ISIS telah melancarkan aksi bom yang mirip di sekutu AS, negara-negara kerajaan Sunni tahun lalu, menyasar kaum minoritas Syiah dan pasukan keamanan Saudi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Zeid Raad al-Hussein, Komisaris Tinggi Hak Azasi Manusia PBB dan anggota keluarga kerajaan Jordan, menyampaikan pidatonya melalui juru bicara di Jenewa.

"Ini adalah salah satu dari situs tersuci Islam, serangan seperti itu yang terjadi pada saat Ramadhan, bisa dianggap sebagai serangan langsung terhadap Muslim di seluruh dunia," katanya. "Ini adalah serangan terhadap agama itu sendiri," katanya dilaporkan Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Berita, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Alkisah, ada seorang guru yang bernama Sayyid Ismail Fahmi Albadr, seorang dosen dan pengajar bantu di Pesantren Al-Asyariyyah Kalibeber dan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo (sekarang UNSIQ). Dia merupakan tenaga pengajar dari Universitas Al-Azhar Kairo yang selama dua tahun sekitar 1991-1992 menjadi tenaga pengajar bantu di kampus dan pesantren tersebut. ?

Sebagaimana dikisahkan kembali oleh Elis Suyono dan Samsul Munir Amin dalam buku biografinya KH Muntaha Alhafidz, Ustadz Fahmi (begitu ia kerap dipanggil) bercerita, suatu ketika dia diberi beras 10 kilogram dan gula satu kilogram oleh almaghfurlah KH Muntaha Alhafidz, pengasuh Pesantren Al-Asyariah dan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) waktu itu. Beras dan gula tersebut dibawa dan diberikan sendiri oleh Mbah Muntaha ke rumah Ustadz Fahmi yang letaknya tidak jauh dari kantor pondok.

Oleh istrinya, beras dan gula pemberian Mbah Muntaha itu digunakan sebagaimana kebutuhan biasanya. Beras itu dipakai untuk konsumsi keseharian keluarga Ustadz Fahmi yang jumlahnya lima orang beserta istri dan anak-anaknya. Begitu pula gula yang satu kilogram digunakan seperti biasanya untuk minim teh, susu, kopi dan kebutuhan lainnya. Tapi berbeda dengan biasanya, meski beras dan gula tersebut sudah dipakai dalam satu bulan, beras dan gula pemberian Mbah Mun itu belum habis juga.

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru Asal Kairo Dapat Berkah Mengajar di Pesantren

Geganjilan tersebut membuat Ustadz Fahmi pada suatu waktu bertanya kepada istrinya, "Apakah beras dan gula itu tak pernah digunakan sehingga selama satu bulan itu keluarganya tidak pernah membeli beras dan gula?” tanya Ustad Fahmi.

Namun di luar dugaan, istrinya menjawab, bahwa beras dan gula itu tetap digunakannya sebagaimana kebutuhan kesehariannya. Ustadz Fahmi tentu saja heran, soalnya biasanya keluarga yang semuanya berjumlah lima orang itu bisa menghabiskan beras sekitar 30 kg dan 3 kg gula untuk kebutuhan konsumsi selama satu bulan. Tatapi kelaziman tersebut tidak berlaku pada kasus satu bulan itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena merasa penasaran dengan keganjilan di atas, maka pada suatu kesempatan Ustadz Fahmi menanyakan langsung hal itu kepada Mbah Muntaha, mengapa beras dan gula pemberian beliau tidak habis-habis kendati tetap digunakan.

"Hadza min barokatil Quran," jawab Mbah Muntaha. (M Haromain)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Disarikan dari Elis Suyono dan Samsul Munir Amin, Biografi KH. Muntaha Alhafidz: Ulama Multidimensi, diterbitkan: UNSIQ Wonosobo dan Pesantren Al-Asyariah Kalibeber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, AlaNu, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock