Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan betul-betul menampakkan taringnya. Karena sangat kecewa terhadap kinerja KPU Pamekasan, mereka meluruk kantor penyelenggara pemilu yang terletak di Jalan Brawijaya itu.

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU (Sumber Gambar : Nu Online)
Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU (Sumber Gambar : Nu Online)

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Di bawah terik matahari, massa yang dikomandani Ketua Umum PMII Ahmad Sidik itu memadati jalan dari Arek Lancor menuju Kantor KPU Pamekasan di Jalan Brawijaya Nomor 34, pukul 09.30, Kamis (5/9).

Mereka menjadi perhatian tersendiri para pengendara dan masyarakat sepanjang jalan perkotaan. Massa PMII menggunakan aksesoris tak ubahnya perampok, yaitu bertopeng plastik hitam. Plastik yang biasa dijadikan wadah makanan ringan itu, diberi lubang tiga. Letaknya di kedua mata dan hidung untuk nafas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikawal ketat oleh aparat kepolisian dari Polres Pamekasan, Didik--panggilan akrab Ahmad Sidik, menegaskan betapa aksesoris yang dikenakannya itu sebagai sindiran terhadap kinerja KPU Pamekasan. 

"Kinerja KPU Pamekasan sangat luar biasa, sangat mengecewakan. Ia terbilang berjasa mempersempit partisipasi pemilih. Buktinya, angka golput Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan mencapai 284.511 orang," tegas Adiet, Ketua III PC PMII Pamekasan yang turut menjadi korlap aksi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan Didik, DPT Kabupaten Pamekasan sebanyak 636.342. Yang milih hanya 391.831 orang.

"Dan anehnya, di samping yang golput mencapai ratusan ribu orang, suara yang tidak sah juga mencengangkan. Yaitu mencapai 6.497 orang," ungkapnya.

Fakta tersebut, terangnya, tiada lain karena sosialisasi yang dilakukan KPU Pamekasan sangat tidak digubris oleh masyarakat. KPU ini digaji pakai orang rakyat, katanya, tapi manfaatnya nihil.

Di bawah sengatan matahari, aktivis pergerakan berjibaku dengan aparat kepolisian yang membuat pagar betis di depan Kantor KPU. Didik beserta sahabat-sahabat menghendaki semua komisioner KPU Pamekasan keluar menemui mereka.

Sayangnya, yang keluar hanya komisioner Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, Didin Sudarman.

"Sebentar, Pak. Saya ingin bertanya: apakah semua komisioner KPU berkenan menemui kami. Kami hanya mau minta pertanggungjawaban pihak KPU atas tercerainya demokrasi di Pamekasan," tanya Didik.

Didin merespon pertanyaan Didik. Pihaknya menegaskan, kedua komisioner KPU lainnya sedang berdinas. Agus Kasiyanto dikatakan sedang ke Surabaya untuk mengurus PAW anggota dewan yang kembali nyaleg dan lompat partai. Sedangkan Nuzzulul Qurnain mengawal pengiriman surat suara hasil pencoblosan ke KPU Jawa Timur.

Penjelasan Didin ini justru memantik rasa gerah para aktivis gerakan. Apalagi, Didin kembali masuk ke dalam halaman Kantor KPU sembari menelpon komisioner lainnya.

Aksi dorong mendorong dengan pihak kepolisian tampak ricuh. Untungnya, ketegangan dengan aparat kepolisian tersebut disikapi dengan sigap oleh Kapolres AKBP Nanang Chadarusman.

"Kita ini sama-sama bertugas. Tolong hormati etika," kata AKBP Nanang Chadarusman. 

Atas upaya mediasi yang dilakukan AKBP Nanang Chadarusman, terjadilah komunikasi aktif antara pimpinan PMII dengan Didin.

"Kami tegaskan kembali, Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan terbilang gagal. Saya sendiri waktu pencoblosan mendengar pertanyaan dari pemilih. Ia mempertanyakan mana foto kepala desanya. Dikira pilgub ini pemilihan kepala desa," ungkap Didik. 

Didin menimpali, sosialisasi telah dilakukannya sampai turun ke desa-desa, sampai ke sekolah-sekolah yang muridnya memiliki hak pilih. "Hingga di pengajian-pengajian, kami sudah melakukan sosialisasi," terangnya.

Penjelasan Didin ini dibantah oleh Didik. Menurutnya, itu tidak dilakukan secara merata. Pihaknya mendesak agar kinerja KPU Pamekasan dibenahi ke depannya.

Sebagai pelampiasan kecewa atas kinerja KPU Pamekasan, aktivis PMII membakar ban bekas. Baliho yang dipancangkan di hadapan Kantor KPU pun mereka bakar.

"Baliho-baliho ini hanya tersebar di kota-kota. Sangat tidak memberikan banyak manfaat," kecam massa aksi. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Rais ‘Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya memerintahkan kepada Pengurus Cabang (Idaroh Syubiyah) membuka posko layanan kedatangan peserta muktamar di Pekalongan 23 - 27 Desember 2017 yang menggunakan jalur darat . Perintah itu berlaku bagi pengurus yang berada di jalur Pantura, mulai Cirebon hingga Lasem. 

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pembukaan posko layanan dirasa cukup penting, pasalnya mayoritas peserta muktamar JATMAN adalah berasal dari pulau Jawa yang akan hadir menggunakan jalur darat. Sehingga untuk membantu kemudahan dan kelancaran  peserta, kiranya dirasa perlu Pengurus Cabang Jatman yang ada di jalur Pantura membuka posko bekerja sama dengan Kodim, Polres, Rumah Sakit dan Banser.

Ketua 1 Panitia Muktamar JATMAN KH. Mirza Hasbullah mengaku telah menindaklanjuti perintah Rais ‘Am dengan berkoordinasi kepada Pengurus Cabang Jatman yang berada di Jalur Pantura untuk membuka posko layanan bekerjasama dengan berbagai pihak mulai tanggal 22 - 24 Desember mendatang.

"Posko layanan sifatnya hanya membantu kepada peserta muktamar yang mengalami masalah di perjalanan, sehingga berbagai kesulitan yang dialami peserta muktamar seperti ban bocor, mobil mogok hingga jika terjadi laka lantas dengan cepat bisa dibantu oleh petugas posko," ucap Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, Hingga saat ini telah tercatat ada 7.500 calon peserta yang akan menghadiri Muktamar ke-12 di Pekalongan. Dari ribuan peserta yang hadir, mayoritas berasal dari pulau Jawa yang menggunakan jalur darat. Maka, pihaknya memandang perlu membuat posko layanan informasi seputar bengkel mobil, rumah sakit hingga Polres dan Kodim setempat untuk mempermudah dan memperlancar perjalanan peserta.

"Nantinya pola kerja pengurus cabang melakukan kerja sama dengan pihak terkait dan santri santri pondok pesantren untuk berjaga di posko secara bergiliran," ujar Kiai Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hingga berita ini ditulis, berbagai persiapan terus dilakukan oleh panitia pusat maupun daerah. Beberapa seksi dalam kepanitiaan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama pada kesiapan tim regristasi peserta yang akan dibagi di dua tempat mengingat banyaknya peserta dan penempatan akomodasi penginapan peserta di rumah rumah penduduk yang selesai dipersiapkan.

KH Mirza yang juga Koordinator Khidmah Husnul Khotimah Muktamar mengaku telah merampungkan pendataan penginapan peserta yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Wonopringgo, Kedungwuni, Buaran, Warungasem, Bojong, Tirto, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat. 

Pemondokan peserta menurut Mirza tidak saja menyediakan penginapan, akan tetapi juga konsumsi, kendaraan plus bensin dan sopir. Dari pantauan di lapangan ada beberapa pemodokan  yang menyediakan penginapan, konsumsi dan mobil ditanggung secara gandeng renteng oleh masyarakat setempat, sehingga dapat tercipta suasana kebersamaan dalam semangat menyukseskan hajatan nasional berupa Muktamar Thariqah untuk yang ketiga kalinya di Pekalongan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Merauke,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Merauke, Papua di Rumah Kediaman memfasilitasi pembentukan Ikatan Muslim Marind (suku bangsa asli Merauke) di kediaman Maliha Arsyad Basik-Basik di Gudang Arang, Kelurahan Kamahe Doga.

Kegiatan yang berlangsung akhir Ramadhan atau 4 Juli lalu tersebut, secara aklamasi terpilih Burhanuddin Zein sebagai ketua dan Jumat Dambujai sebagai sekretaris.

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Burhanuddin Zein adalah pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Idonesia (PMII) di Kabupaten Merauke. Saat ini tercatat sebagai Ketua Majelis Pembina PMII dan Sekretaris Dewan Penasehat PC GP Ansor Kabupaten Merauke.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Marind untuk lebih meningkatkan dan mempersiapkan SDM Muslim Marind untuk mampu mengambil peran terdepan dalam pembangunan di tanah Marind, Merauke dan Papua Selatan. (Syahmuhar M Zein/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Terus molornya penyelesaian kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, sangat mengecewakan warga Kota Petis itu. Apalagi proses verifikasi tanah yang semakin rumit dan semakin banyak saja persyaratan yang diminta oleh pihak PT Minarak, perusahaan yang diminta Lapindo membayar ganti rugi. Warga semakin kecewa. “Penanganan lumpur selama ini sangat-sangat-sangat kurang maksimal,” kata Drs H Abdi Manaf, Ketua PCNU Sidoarjo di Surabaya, Sabtu.

Ia mencontohkan, kalau dulu, Lapindo belum mengakui tanah yang berstatus petok D dan letter C, lalu minta disetujui Bupati. Ketika Bupati dan pemerintah pusat sudah mengakui, bahkan bupati bersedia menjadi jaminan, ternyata Minarak menambah syarat lagi, yaitu riwayat tanah. “Ini jelas semakin mempersulit warga,” lanjut Gus Manaf. “Tampaknya memang ada kesan Lapindo sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran ganti rugi pada warga,” lanjutnya.

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Yang membuat hati alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak enak, ternyata selama ini pihak Lapindo masih belum merasa bersalah atas musibah itu, sekalipun sudah ribuan orang hidup di pengungsian dan kehilangan harta benda. Kesimpulan itu diterima Gus Manaf ketika bertemu langsung dengan Andi Darussalam dari PT Minarak. Kalaupun Lapindo selama ini mau mengeluarkan uang, hal itu semata-mata hanya karena tanggung jawab sosial.

Penyelesaian lumpur Lapindo yang diinginkan warga, menurut Gus Manaf, sebenarnya tidak muluk-muluk. Pemerintah memberikan jaminan ganti rugi kepada warga, lalu seluruh aset Lapindo dijadikan jaminan kepada pemerintah. Selesai. “Kalau pemerintah bilang tidak punya uang, buyar saja negara ini, masak negara kok tidak punya uang untuk memberikan ganti rugi warganya,”? terang putra Bawean itu.

Tapi sayang, pemerintah tampaknya tidak punya keberanian untuk melangkah ke sana. Sedangkan pihak Lapindo hanya mengobral janji-janji terus, nyaris tak ada pembuktian. Pemerintah juga tidak berani mengambil langkah lebih tegas lagi pada perusahaan milik keluarga Bakrie itu.

Gus Manaf tidak bisa membayangkan sampai kapan proses verifikasi tanah warga akan selesai. Sebab, dari 16 ribu warga yang akan diverifikasi, hanya terselesaikan 10 sampai 15 orang setiap harinya. Itupun belum termasuk yang harus dikembalikan berkasnya, karena dinilai belum lengkap. “Terus kapan selesainya?” tanyanya tak habis mengerti.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain, ia menilai peranan empat orang anggota DPD asal Jawa Timur dalam soal Lumpur Lapindo masih sangat kurang. Sebab mereka baru datang ke lokasi lumpur setelah musibah itu berlangsung lebih dari satu tahun. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. “Katanya sih untuk menyerap aspirasi,” tutur Gus Manaf.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penanganan lumpur selama ini, kata Gus Manaf, ibarat lingkaran setan. Pemerintah tidak berani menjadi jaminan, sedangkan Lapindo yang menyatakan sanggup membayar ganti rugi, ternyata hanya mengobral janji. “Kalau begini terus, kan kasihan orang-orang itu,” tegasnya. (sbh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, News, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan penjajah Belanda, rakyat Aceh masih saja melakukan perlawanan terus-menerus. Aceh merupakan yang terakhir ditaklukan penjajah Belanda.

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Menurut Prof Dr Misri Al-Muchsin ada empat strategi perlawan rakyat aceh kepada Belanda. Ketika kesultanan, pasukannya dan masyarakat masih kuat, Aceh melawan Belanda dengan frontal atau perang terbuka.

Namun, ketika kerajaan telah dikuasai Belanda, rakyat Aceh tidak menyerah begitu saja. tapi lari ke pedalaman kemudian menyerang. Ini disebut perlawan semifrontal,” katanya kepada tim Ekspedisi Islam Nusantara yang tengah menjelajah negeri Serambi Mekkah tersebut Senin (2/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang ketiga, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry ini disebut dengan gerilya. “Caranya begini, rakyat Aceh membentuk grup atau kelompok-kelompok kecil, kemudian menyerang kam-kam Belanda,” lanjutnya.  

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah strategi perang yang paling ditakuti Belanda yang dikenal “aceh gila”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aceh gila, kata dia, adalah ketika rakyat Aceh sudah benar-benar tersecerai-berai, tak bisa berkoordinasi dengan yang lain dan sudah tak mamiliki komando perjuangan.

Aceh gila adalah perlawanan yang dilakukan sendiri-sendiri dimana saja bertemu dengan orang Belanda, saat itu pula menyerang. Itu adalah perlawanan terakhir orang Aceh. “Biasanya dilakukan malam jumat dengan berpakaian serba putih.”

Warna putih, menurut dia, sebagai simbol jihad fi sabilillah. Pelakunya siap mati sehingga ketika ia meninggal tak perlu repot menggunakan kain kafan.

Menurut dia, perilaku orang Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda dipengaruhi “Hikayat Perang Sabil” karangan Tengku Cik Panti Kulu pada abad 18. “Itu kemudian sering dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya dalam ayunan. Populer itu,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Saya perkirakan lebih dari 30 persen santri adalah petani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai mata pencariannya. Mereka tinggal di desa-desa, tidak jarang merangkap sebagai guru ngaji atau profesi lainnya. Kehidupan mereka berada di bawah garis cukup. Hanya saja, pendidikan agama yang mereka peroleh menguatkan rasa kepasrahan mereka melebihi manusia pada umumnya.

Pertanian di Indonesia dalam skala besar sedang menghadapi krisis kualitas dan kuantitas. Generasi muda kita tidak berminat untuk terjun di bidang pertanian. Lebih suka berpindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Belum lagi label “tiang tanos” (orang tani) yang dalam kultur kita sering dipandang sebagai orang bawah atau kelas terbelakang. Ditambah gaya hidup hedonistik yang dimunculkan sinetron-sinetron kita di televisi. Membuat minat generasi muda kita semakin terkikis

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Sekarang ini, hampir tidak ada anak gadis yang bekerja di sawah. Alasannya macam-macam, dari mulai kurang gaul, takut hitam, jijik lumpur, sampai takut make up-nya luntur. Memang, di era globalisasi ini kecantikan telah direduksi maknanya sedemikian rupa oleh pabrik kosmetik dan iklan-iklannya. Pabrik-pabrik itu memonopoli pengertian tentang cantik. Akibatnya, cantik adalah apa yang digambarkan oleh iklan dan pabrik-pabrik kosmetik itu. Tidak ada lagi pemahaman tentang inner beauty, jika pun ada, ya, sekadar basa-basi.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat generasi muda kita dalam bidang pertanian. Para pemuda takut dianggap kurang cool (keren), begitupun sebaliknya. Padahal, nenek moyang kita, laki-laki dan perempuan, pemuda dan gadis, menggarap sawah dengan penuh kerendah-hatian dan ketelatenan. Sekarang, jika generasi tua sudah tidak ada, siapa yang akan menggarap sawah-sawah itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kecenderungan merantau generasi muda ke kota menjadi problem lain yang perlu diatasi. Berkembang atau tidaknya sebuah desa bergantung pada tenaga produktifnya. Jika tenaga produktifnya tidak ada (bekerja di kota), hasil panen akan menurun. Lambat laun, kebutuhan pangan di pedesaan akan disuplai dari luar.Desa yang tadinya produsen berubah menjadi konsumen pangan.

Selain itu, kecilnya keuntungan pertanian pangan dan harga sawah yang tinggi menjadi penghalang generasi muda kita untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik dari bertani. Di samping tidak jarang para pemilik sawah merubah fungsi lahannya menjadi tempat produksi batu bata karena dinilai lebih prospektif.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah berubahnya lahan pertanian pangan menjadi perumahan dan perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan lain sebagainya. Tergantung permintaan pasar dan pertimbangan ekonominya. Hal ini menyebabkan angka produksi pangan nasional menurun.Impor beras dari luar negeri seakan-akan tidak dapat dihindarkan lagi. Parahnya, konversi itu tidak dibarengi dengan pembukaan lahan persawahan baru, sehingga ketahanan pangan kita terancam.

Akibatnya, dari kurun 2010-2013 impor beras nasional kita meningkat secara signifikan (Yunita T. Winarto [ed], Krisis Pangan dan “Sesat Pikir”: Kenapa Masih Berlanjut?, Pustaka Obor, 2016, hlm 174). Apabila kecenderungan impor yang disebabkan oleh stagnasi produksi pertanian terus berlanjut dan tidak ada perbaikan, kita akan memasuki situasi yang sangat aneh untuk sebuah negara agraris, ketergantungan pangan pada negara lain. 

Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di pesantren tradisional, tidak sedikit santri yang menggarap ladang milik pesantren atau kiai. Baik santri putra maupun santri putri berperan aktif dalam proses cocok tanam hingga panen. Karena kehidupan mereka terbangun dari kultur pesantren, mereka belum terpengaruh gaya hidup hedonistik yang berkembang di luar. Mereka menghabiskan waktunya dengan belajar, menghafal, kerja bakti dan mengaji.

Banyak dari mereka ketika pulang ke daerahnya masing-masing menyandarkan hidupnya dari pertanian, menggarap sawah milik orangtua atau mertuanya.Perasaan gengsi tidak terlalu berpengaruh dalam diri mereka, meski tetap saja ada yang terpengaruh oleh hal itu. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka dengan teguh menggenggam nilai-nilai kesantriannya.

Persoalannya malah terletak pada kecakapan mereka dalam bertani. Mereka tidak mendapatkan pendidikan atau pengajaran tentang cara bercocok tanam yang baik. Cara bertani mereka masih sangat tradisional dan seadanya, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih di pesantren. Karena itu, dalam hal melestarikan pertanian, mereka cukup memberikan pengaruh. Namun, dalam hal peningkatan produksi pangan, peran mereka masih teramat kecil.

Memandang hal tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pesantren mengembangkan pertanian dengan serius. Metode cocok tanam yang baik, pengenalan lahan pertanian, pencegahan hama yang efektif, dan bagiamana cara meningkatkan hasil panen harus diajarkan secara sistematik dan tepat.Pesantren harus membuka kelas-kelas pertanian modern yang rapih tanpa mengganggu proses ajar-mengajar santri.

Dilihat dari fenomena sosial yang berkembang, khususnya hilangnya minat anak muda untuk bergelut di bidang pertanian, dengan karakter kulturnya yang khas, santri bisa berperan aktif meningkatkan produksi pangan nasional. Tidak sekadar bertani ala kadarnya. Pesantren harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan santri-petani yang mumpuni dan cakap.

Memang, sudah ada beberapa pesantren yang mengambil langkah ini, bahkan menjadikan pertanian sebagai ciri khasnya, seperti Pesantren Pertanian Darul Fallah di Bogor. Namun, pesantren dalam arti luas masih sangat jauh menuju ke arah itu. Pertanian harus dilebur dengan pesantren, terlepas apapun tipologi pesantrennya. Pemanfaatan lahan persawahan milik pesantren atau kiai harus diarahkan sebagai sarana belajar yang terskema dengan rapih, tidak sekadar penjalanan tugas santri kepada kiai dan pesantrennya.

Meskipun pertanian di pesantren umum (bukan pesantren takhasshus) sekadar kegiatan ekstra, tetapi kegiatan ekstra itulah yang kemudian banyak dijadikan mata pencarian oleh santrinya. Karena itu, diperlukan penyikapan yang lebih serius, dengan pendidikan pertanian yang matang sebagai bekal santri. Tidak hanya untuk mengarungi kehidupan pribadinya, tapi juga berperan serta dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Bukankah hal ini juga termasuk jihâd fî sabîlillah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Internasional, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Sukoharjo. Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekitar tujuh ribu jamaah tumplek blek di Balai Desa Mulur Kecamatan Bendosari Sukoharjo, hadiri pengajian bertajuk “Jamaah bertanya Kiai menjawab” yang digagas Pengurus Wakil Cabang (MWC NU) Bendosari bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Sukoharjo, Rabu malam.

Kiai Muhammad Adib Zein dan Kiai Ahmad Baidlowi selaku narasumber mengupas sekitar thaharah. Sedikitnya ada tujuh jamaah bertanya secara langsung dan sembilan bertanya melalui SMS. Walau membicarakan tema thaharah, tapi jamaah ada yang bertanya tentang berbagai hal diantaranya soal, hukum makan bekicot, hukum makan daging anjing, yang di duga kelompok lain menghalalkan daging anjing, tata cara menyembelih hewan, dan kedudukan perempuan datang bulan yang mengikuti pengajian di masjid, dan lain sebagainya.

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, acara pengajian Jamaah Bertanya Kiai Menjawab identik dan menjadi “tandingan” pengajian kelompok lain di Solo Raya yang juga memakai metode sama, cuma bedanya yang ditanyakan selalu seputar hukum ziarah kubur, tahlilan bid’ah, dan kalau ada pertanyaan lain sang ustadz selalu berupaya mengarahkan dan menyinggung tata cara amaliah NU yang dianggap keluar dari tuntunan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Ketua PCNU Sukoharjo Muhammad Nagib Sutarno, model pengajian ala NU mengupas kitab kuning, lalu santri (jamaah) bertanya, harus digalakkan lagi di kalangan NU secara massif agar jamaah mengetahui secara mendalam berbagai persoalan baik ubudiyah maupun lainnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain, jamaah terjaga dari pemahaman dari luar yang “menyerang” amaliyah NU. “Pengajian ini rutin dilakukan oleh NU Sukoharjo, untuk membangun soliditas jamaah,” kata Sutarno.

Sementara itu Ketua MWC NU Bendosari Agus Purwanggono menjelaskan, suksesnya pengajian ini tak lepas dari partisipasi semua pihak. Tampak hadir diantaranya Kepala Desa Mulur, Muspika Kecamatan Bendosari, pengurus GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, Jatman dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mengawali kegiatan masuk pelajaran semester genap Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo Bojonegoro mengadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama PAUD dan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo.

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Anak-anak diajak membaca riwayat Nabi dari kitab Barjanzi dan Dzibai Selasa (6/1) kemarin di Masjid Jami’ Walisongo Sumuragung Sumberrejo.

Sebagai bentuk ta’dzim kepada Nabi Muhammad SAW dan juga untuk memupuk karakter ahlussunnah wal jamaah, MINU Walisongo genap tujuh tahun ini melaksanakan peringatan hari besar umat Islam ini dengan membaca beragam riwayat Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menanamkan cinta kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Degredasi moral anak-anak sekarang lebih banyak terjadi karena kekurangan rasa hormat dan prilaku ketauladanan yang diberikan oleh stake holder lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang non formal. Maka lembaga yang berada dibawah naungan LP Ma’arif NU kecamatan Sumberrejo ini menggelorakan dan memberikan tauladan cara mencintai nabi Muhammad saw.

“Dengan membaca riwayat Nabi Muhammad dari masa balita sampai akhir riwayatnya beliau harapan kami anak-anak memiliki idola yang tiada tergantikan sepanjang hidupnya,” tutur Ahmad Taufik yang memandu acara pagi Mauludan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keiatan ini diikuti lebih dari 300 anak didik dan ditutup dengan pembagian sedekah bersama berupa nasi kuning dan ketan putih yang dibawa oleh anak didik dari rumah masing-masing. (Satria Amelina/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah menilai penggunaan jilbab oleh anggota polwan di Indonesia sudah semestinya diberikan keleluasaan. Karena, anggota polwan sebagai warga negara memiliki hak untuk mengenakan jilbab.

Demikian dikatakan Farida Farichah menanggapi pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman di Mabes Polri, Selasa (19/11) yang mengizinkan anggotanya untuk mengenakan jilbab saat bertugas.

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPPNU Dukung Polwan Kenakan Jilbab

“Meskipun belum ada aturan mengenai itu, kelonggaran yang diberikan Kapolri Sutarman patut diapresiasi,” kata Farida, Selasa (19/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kebijakan dari Kapolri perihal jilbab dinilai tepat. Karena, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim dan juga negara yang sangat demokratis. Dari kelonggaran itu, polwan yang ingin mengenakan jilbab bisa leluasa tanpa terganggu dengan masalah kedisiplinan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apalagi mengenakan jilbab, lanjut Farida, juga tidak menghalangi atau mengurangi kinerja polwan. Malah mungkin, kredibiltas atau integritas anggota polwan dengan mengenakan jilbab akan lebih meningkat.

Keleluasaan seperti itu, menurut Farida, menjadi langkah positif untuk mendorong dan memberikan kesempatan yang sama bagi muslimah di Indonesia untuk ikut terjun di dunia kepolisian.

Terlebih lagi tidak adanya peraturan kedisiplinan yang melarang anggota polwan mengenakan jilbab, pungkas Farida. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Formalisasi agama dengan alasan untuk menciptakan masyarakat yang Islami ternyata memiliki potensi yang besar untuk disalahgunakan sebagai alat untuk memberangus para oposan. Menurut NU, sebenarnya yang penting mengambil substansi ajaran Islamnya, bukan simbol-simbolnya saja.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menanggapi maraknya pembuatan perda syariat di sejumlah daerah yang ditakutkan sebagai awal untuk mengganti dasar negara kita menjadi negara Islam. Menurut Kang Said, dalam sejarah formalisasi Islam, hal tersebut telah terbukti. Para oposan selalu dianggap kafir, zindiq, padahal bukan masalah kafirnya, tapi masalah kritisnya.

“Karena negaranya negara Islam, maka yang menentang Islam berarti kafir, lha begitu….Korbannya banyak, Hallaj dibunuh karena dibelakangnya ada orang-orang yang teraniaya, orang kulit hitam yang didholimi. Salah seorang pujangga, Sholeh bin Abdul Kuddus, juga jadi korban.  Abdullah bin Mukoffak juga dibunuh dengan alasan kafir karena menentang negara.Islam,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu. 

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)
Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Hal yang sama juga berlaku di Saudi Arabia saat ini. Kalau ada yang mengkritik pemerintah dianggap kafir, zindik karena menentang pemerintah Islam. “Padahal bukan masalah agama, tetapi masalah perilaku penguasa yang tidak benar. Senjata yang paling efektif itu agama. Allahu Akbar…. Islam, padahal mereka dibayar kan,” tuturnya.

 

Perda Anti Maksiat

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, Kang Said yang juga lulusan Universitas Ummum Qura Makkah tersebut berharap agar beberapa perda yang dinamakan perda syariat tersebut diganti saja dengan perda anti maksiat.

“Aturan yang melarang tentang perjudian, narkotika, miras dan lainnya, ini gak usah bilang syariat Islam, ini perda anti maksiat. Menggunakan kata syariat Islam ini menyebabkan ekskusif, kemudian resistensi dan selanjutnya bisa menimbulkan retaknya bangsa ini,” imbuhnya.

Berbagai istilah seperti Tim Pembela Islam untuk membela salah satu tokoh di pengadilan juga bisa menimbulkan masalah. “Membela Syaikh Abu Bakar Baasyir sebut saja sebaga tim pembela Abu Bakar Baasyir, gak usah disebut tim pembela Islam. Nanti akan timbul tim pembela Kristen, Tim pembela Buddha, tim pembela Hindu. Ini hak mereka untuk membela, tapi jangan sebut agama, ini bukan negara agama. Kalau ada orang China, Kristen perilakunya baik, ya kita bela,” tegasnya. (mkf)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Buku Fragmen NU Wonosobo Diluncurkan

Wonosobo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santri PPs AP Fatanugraha Wonsobo, meluncurkan buku Fragmen NU Wonosobo, Ahad (22/10) pagi di ruang Audio Visual gedung ARPUSDA Wonosobo, Jawa Tengah.

Koordinator pelaksana, Fatiya Sekar Kinanthi sangat mengapresiasi kepada penulis buku Fragmen NU Wonosobo yang telah menulis mengenai Nahdlatul Ulama Wonosobo sehingga generasi muda bisa mengetahui dan paham akan Nahdlatul Ulama masa lalu khususnya di Wonosobo. Ia berpesan, sebagai santri kita harus percaya diri.

Buku Fragmen NU Wonosobo Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Fragmen NU Wonosobo Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Fragmen NU Wonosobo Diluncurkan

“Jayalah negeriku Indonesia, ngaji itu keren!” tukas Fatiya. 

Penulis Fragmen NU Wonosobo, Ahmad Muzan memaparkan buku tersebut berisi masuk dan penyebaran Islam di Wonosobo. Pada bab satu membahas tentang Sayyid Ibrahim bin Ali Ba’abud pendiri Nahdlatul Ulama Wonosobo. 

“Selain itu juga ada Syekh Umar Sutradana, dan Sayyid Abdullah Quthbuddin tokoh pembawa Tarekat Naqsabandiyah pertama kali di tanah Jawa,” tutur Muzan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buku tersebut dicetak secara terbatas teruntuk para donatur yang ingin memberikan infak dan sedekah untuk pengembangan pembangunan PPS AP Fatanugraha Wonosobo. 

Di tempat yang sama, juga dilakukan kegiatan menonton bersama film dokumenter Nadlatul Ulama Wonosobo produksi santri PPs Fatanugraha.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kegiatan tersebut sebagai bagian peringatan Hari Santri, setelah pada Sabtu malam, mereka berpartisipasi dalam Pembacaan 1 Milyar Sholawat Nariyah. Peserta juga melakukan  ziarah ke makam pendiri NU di makam keluarga Sayyid Ibrahim Bin Ali ba’abud Longkrang Wonosobo. (Mukhamad Khusni M/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Pendidikan, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Sumedang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tengah menyiapkan tiga bus bagi warga NU setempat untuk turut menghadiri Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015.

Rombongan terdiri dari para anggota dan pengurus lembaga, lajnah, dan badan otonom, dan pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat. Rencananya, bus akan berangkat pada 30 Juli 2015 dengan rute perjalanan yang didahului dengan ziarah ke makam-makam para wali.

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Sembari menuju ke lokasi Muktamar NU di Jombang, rombongan peziarah akan berdoa, antara lain, di makam Sunan Gunung Jati, Raden Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Giri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menjelang perhelatan akbar tersebut, PCNU Sumedang juga mengadakan konsolidasi dengan semua pengurus dan Nahdliyyin tentang calon ketua dan calon rais aam PBNU yang akan dilipih nanti waktu Muktamar.

Untuk menyikapi itu semua, Sadulloh selaku ketua PCNU Sumedang mengatakan bahwa sampai saat ini PCNU Sumedang belum menentukan pilihannya, baik untuk ketua umum dan rais aam PBNU.? Walaupun demikian PCNU Sumedang akan tetap mendukung siapapun yang terpilih nanti.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Mudah-mudahan waktu muktamar nanti akan tetap kondusif,” ujar Sa’dulloh. Dalam pemilihan rais aam, PCNU Sumedang mendukung penerapan sistem pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi atau mekanisme pemilihan tak langsung. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Akankah kau minta aku kembali bergerak

Sementara kakiku masih mencari pijakan kokoh pada jejakmu.

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik (Sumber Gambar : Nu Online)

Puisi Nadirsyah Hosen: Bisik

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Belum selesai sedu-sedanku, namun kau begitu cepat berkilatan dan aku pun terengah-engah mengejarmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi?

Pesonamu meruntuhkan tembok tebal yang ku bangun di jiwaku, dan bisikanmu menembus semuanya.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Bagaimana kalau kau kembali memelukku saja? Agar kutumpahkan air mata ini pada bahumu yang penuh berkah.

Apa bisikmu kali ini, oh Sayyidi? Aku mencintaimu. Sungguh. Oh Muhammadku. Bawa aku bersama langkahmu.

Kuala Lumpur, akhir Juli 2017

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bersama BNN, CBP–KKP Tegal Tolak Narkoba

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal . Bersama Badan Narkotika Nasiona, Dewan Kerja Corp Brigade Pembanguna (CBP) dan Korp Kepanduan Putri (KKP) Kabupaten Tegal, menggelar sosialisasi Tolak Narkoba (Narkotika dan obat-obatan terlarang) belum lama ini di lapangan Desa Jatilaba Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal. 

Bersama BNN, CBP–KKP Tegal Tolak Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama BNN, CBP–KKP Tegal Tolak Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama BNN, CBP–KKP Tegal Tolak Narkoba

Kegiatan itu juga dikemas dalam bentuk kemah bakti yang diselenggarakan selama 3 hari, yang diikuti oleh 333 peserta dari seluruh PAC dan komisariat IPNU-IPPNU se Kabupaten Tegal.  

Bupati Tegal HM Hery Soelistyawan berkenan membuka acara itu. Turut hadri juga Camat Margasari, Kapolsek Margasari, Kepala Desa Jatilaba, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, Pengurus MWC NU Margasari dan jajaran Muspika Kecamatan Margasari. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Puncak penyuluhan anti narkoba dan deklarasi pelajar NU anti narkoba oleh Direktur Advokasi Badan Narkotika Nasional Brigadir Polisi Victor Pudjiadi. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan tersebut, Victor mengharap para pelajar NU terhindar jauh dari narkoba. “Jangan sampai ada setitik barang haram itu pun menempel pada kalian, apalagi mencicipinya. Saya bangga dengan kalian yang menjadi pemuda dan pelajar yang bisa memberi contoh bagi masa depan,” akunya.

Viktor juga memberikan pemahaman terhadap bahaya narkoba, beberapa akibat dari bahaya yang ditimbulkan yang menjadikan moral bangsa runtuh. “Saya taruh pundak masa depan di pemuda-pemuda atau pelajar-pelajar seperti kalian semua,“ katanya disambut tepukan tangan peserta. 

Sementara ditemui diruang kerjanya ketua Dewan Kerja Cabang CBP Kabupaten Tegal Aris Munandar menjelaskan, dalam era sekarang ini kian dirasakan degradasi moral dan watak serta sikap kebangsaan serta nilai-nilai keagamaan. 

Pengaruh kebudayaan buruk yang ada di masyarakat serta paham yang tidak dibenarkan oleh UUD 1945 dan Pancasila telah memudarkan pandangan, sikap kebangsaan serta tekad bersama mempertahankan NKRI. Ini merupakan hal yang memprihatinkan. 

Aris lebih lanjut mengatakan, perjuangan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui tahap pembangunan nasional untuk mewujudkan keadilan, kemaslahatan, kesejahteraan dan kecerdasaan bangsa adalah kewajiban setiap warga negara baik secara perorangan maupun bersama. 

Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) merupakan lembaga semi otonom dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang berdiri pada waktu bangsa Indonesia mengalami gejolak Gerakan G 30 S PKI untuk mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia dari kejahatan komunisme. 

Tapi perkembangan Indonesia yang semakin maju semakin mengkhawatirkan karena sekarang banyak para pemuda yang salah dalam mempertahanan kemerdekaan seperti penyalahgunaan narkoba dan tindakan asusila. 

“Untuk menghindari hal–hal tersebut seperti yang dituangkan dalam misi CBP-KKP yaitu, berpartisipasi ikut aktif membangun NKRI dengan tetap mengibarkan faham Ahlussunah wal Jama’ah (panji-panji NU) di setiap pengabdiannya dalam bidang kedisiplinannya dan sosial kemanusiannya,” kata Aris, Senin (15/4).

Pada kegiatan itu juga disajikan perlombaan diantaranya lomba cipta dan baca puisi, lomba pidato, lomba Mars IPNU IPPNU, lomba PBB, pentas seni, P3K, kebersihan dan keindahan tenda, tarik tambang dan pidato. 

Dari hasil perlombaan itu Komisariat IPNU IPPNU SMK NU 01 SLAWI Berhasil Meraih Juara Umum. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Kementerian Agama resmi meluncurkan Aplikasi Al-Qur’an Digital Kementerian Agama.

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Peluncuran dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan diselenggarakannya Seminar Internasional Al-Qur’an di Jakarta, Selasa (30/8), sebut keterangan tertulis Kemenag.

Peluncuran aplikasi Al-Qur’an ini ditandai dengan penekanan tombol Enter aplikasi oleh Menag disaksikan oleh Kabalitabangdiklat Abdurrahman Masud dan Dirjen BImas Islam Machasin.

Dikatakan Menag, aplikasi Al-Qur’an ini diharapkan dapat memberikan kemudahan umat Islam dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam bentuk bacaan maupun pemahaman.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya berharap langkah awal peluncuran aplikasi ini dapat terus dikembangkan dari segi teknis dan kontennya, sehingga membantu masyarakat luas untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an," ucap Menag.

Menag mengatakan, upaya memelihara kesahihan Al-Qur’an tidak hanya dilakukan dalam bentuk teks/tulisan mushaf, tetapi juga dari segi maknanya. Di era digital yang penuh keterbukaan, ujar Menag, informasi apa pun dengan mudah diterima oleh masyarakat, tak terkecuali pemahaman keagamaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, informasi itu tidak selalu bermuatan positif, tetapi juga bisa berupa propaganda kebencian dan kekerasan yang tersebar melalui media sosial, kenyataan ini sulit dibendung.

Oleh karena itu, ujar Menag, pemerintah terus berupaya mengimbangi derasnya arus pemahaman keagamaan yang ekstrem dengan menyediakan berbagai literatur berisi pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an yang moderat, toleran dan menghargai keragaman, melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

"Atas kenyataan dimaksud, dengan penuh rasa bahagia, hari ini, bersamaan dengan seminar internasional Al-Qur’an dalam rangka memperingati 1.450 tahun turunnya Al-Qur’an, Kementerian Agama mempersembahkan kepada masyarakat aplikasi Al-Qur’an digital yang dilengkapi dengan terjemah dan tafsirnya," ujar Menag.

Aplikasi Al-Qur’an Kemenag ini selanjutnya dapat didownload di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag.

Sementara itu, Pjs. Ketua Lajnah Pentashian Mushaf Al-Quran Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, Muchlis Hanafi menjelaskan, pengguna ponsel smartphone dapat mengunduhnya aplikasi Al-Qur’an di Google Play Store (smartphone berbasis Android) dan secepatnya nanti juga bisa di AppStore dan Windows Phone Store.

Dikatakan Muchlis, aplikasi generasi pertama ini menyajikan teks Al-Qur’an lengkap 30 juz, aplikasi ini juga dilengkapi dengan terjemahan. Selain itu, juga di lengkapi dengan tafsir dalam dua varian: Tahlili (30 juz) ataupun tafsir ringkas.

Fitur lainya yang tersedia di aplikasi ini, yaitu suara murattal Al-Quran dari Syekh Mahmud Khalil al-Hushary. Dan Tulisan Al-Quran yang digunakan dalam aplikasi ini, terang Muchlis, bersumber dari Mushaf Attin yang mengikuti Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia.

"Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia adalah Mushaf Al-Qur’an yang dibakukan cara penulisan teks, harakat, tanda baca, dan tanda waqafnya sesuai dengan hasil yang dicapai Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Qur’an yang berlangsung sebanyak 9 kali dari tahun 1974 s.d. 1983, dan dijadikan pedoman bagi mushaf Al-Quran yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Agama," jelas Muchlis.

Ada pun terjemahan Al-Qur’an yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari Al Qur’an dan Terjemahnya yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Sedangkan Tafsir Tahlili yang terdapat dalam aplikasi ini bersumber dari Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan Kementerian Agama.

Sementara itu, untuk fitur Tafsir Ringkas Al Qur’an Al-Karim adalah sebuah buku hasil kajian tafsir yang disusun oleh tim yang dibentuk Kementerian Agama bekerjasama dengan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Saat ini, tafsir ini baru hadir satu jilid yang terdiri juz 1 - 15. Adapun jilid kedua yang berisi juz 16-30.

"Aplikasi ini akan terus dikembangkan dan ditambahkan nanti juga ada tafsir tematik, tafsir ilmi dan lain sebagainya. Juga akan ada fitur Asbabun Nuzul yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari buku Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Quran yang diterbitkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama pada tahun 2015," ucap Muchlis yang berharap demi pengembangan aplikasi ini, saran dan masukan dari masyarakat melalui email lpmajkt@kemenag.go.id. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ratusan mahasiswa dan pemuda di Bojonegoro, Jawa Timur, menggelar aksi solidaritas untuk Palestina. Mereka mengutuk aksi brutal Israel yang membombardir Jalur Gaza dan mengakibatkan ratusan warga sipil Palestina meninggal dunia.

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Muda Lintas Organisasi Turun Jalan Kecam Israel

Mereka yang aksi turun jalan di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dan Orang Indonesia (OI).

Aksi tersebut difokuskan di bunderan Sumbang dan alun-alun Bojonegoro, Ahad (13/07) sore. Para aktivis itu memulai aksi solidaritas pukul 15.00 WIB di bundaran Adipura, Bojonegoro, dengan membagi-bagikan bunga dan selebaran kepada pengguna jalan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita mengecam yang dilakukan Israel," teriak koordinator aksi, Muhammad Muhajirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aksi berlanjut di alun-alun Bojonegoro untuk menggelar shalat ghaib dan doa bersama serta penandatanganan dukungan ke Palestina. Dengan membawa Poster "Save Palestine" dan "Pray fot Gaza", ratusan pemuda ini berteriak dan mengutuk tindakan Israel.

"Kita juga membagikan bunga dan wacana sebagai simbol kepedulian. Serta penandatanganan pengecaman serangan Israel ke Palestina," terangnya.

Sementara itu puluhan petugas kepolisian terlihat mengatur jalur lintas sekitar lokasi agar tidak macet. Selain aksi, mereka juga menggelar aksi tandatangan di atas kain putih, sebagai dukungan ke warga sipil Palestina. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 16 November 2017

PBNU: Bangsa Indonesia Perlu Belajar pada Etos Jihad Kaum Santri

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Membaca sejarah nasional tidak mungkin mengabaikan kaum santri yang telah teruji dalam mengawal negeri ini. Di tengah berbagai masalah yang mendera bangsa Indonesia saat ini, perlu kiranya seluruh elemen bangsa merenungi kiprah dan etos jihad kaum santri.?

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sabtu (22/10) saat memberikan pidato pada apel akbar dan upacara Hari Santri di silang Monas, Jakarta.?

PBNU: Bangsa Indonesia Perlu Belajar pada Etos Jihad Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Bangsa Indonesia Perlu Belajar pada Etos Jihad Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Bangsa Indonesia Perlu Belajar pada Etos Jihad Kaum Santri

Menurut Guru Besar Ilmu Tasawuf ini, etos jihad kaum santri berdiri di atas tiga pilar, yaitu Nahdlatul Wathan (pilar kebangsaan), Tashwîrul Afkâr (pilar ke-cendekia-an), dan Nahdlatut Tujjâr (pilar kemandirian).?

“Pilar kebangsaan perlu terus dipupuk dan dikembangkan di tengah tarikan faham fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Pilar ke-cendekia-an harus ditegakkan karena kecendekiaan adalah pilar peradaban dan syarat sebuah bangsa meraih harkat dan martabatnya di hadapan bangsa lain,” papar Kiai Said.

Kecendekiaan tidak hanya diukur dari pendidikan formal tetapi mental dan nalar intelektual yang terbuka terhadap pemikiran dan inovasi baru, dengan berpedoman pada kaidah; al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah (Melestarikan tradisi lama yang baik dan menciptakan tradisi baru yang lebih baik).?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Khazanah intelektual Islam yang diakrabi pesantren, imbuh Kiai asal Cirebon ini, merupakan modal intelektual tak ternilai yang menempatkan santri sebagai pewaris sah kebangkitan Islam masa depan. Inklusivisme kaum santri perlu dipupuk di tengah ketertinggalan umat Islam dalam penemuan-penemuan ilmiah dan inovasi sains dan teknologi.?

“Jihad santri adalah memerangi kebodohan dan mengintegrasikan penguasaan ilmu duniawi dan ukhrawi,” jelasnya.

Pilar kemandirian adalah prasyarat mutlak maju-mundurnya sebuah bangsa. Tidak ada bangsa yang maju dengan tergantung kepada bangsa lain. Bangsa kita belum mandiri dalam memenuhi hajat hidup pokok warganya.?

Sebagian besar kebutuhan pangan dan energi diperoleh dari impor, padahal Indonesia negara agraris yang dikaruniai berbagai sumber daya alam di laut, hutan, dan di bawah permukaan bumi. Harus diingat, ketergantungan adalah antitesis kemerdekaan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hari ini adalah saat terbaik bagi kita untuk dapat memaknai Hari Santri sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman yang berkembang. Tantangan yang kita hadapi hari ini meskipun berbeda, akan tetapi semangat dan integritas berbangsa dan bernegara tidak boleh terputus.?

“Apalagi di tengah arus budaya popular dan juga silang sengkarut ideologi trans-nasional yang sudah sedemikian masif ini, penguatan nasionalisme dan patriotisme rakyat Indonesia sangat-sangat dibutuhkan,” tegas Kiai Said yang masuk 50 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bila kita berkunjung ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 154, Jakarta, tiap Rabu pada minggu keempat saban bulan, ratusan warga akan terlihat sedang duduk bersila di Masjid An-Nahdlah begitu sembahyang jamaah isya’ usai.

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Mereka yang sibuk merapalkan doa-doa, shalawat, dan ayat-ayat al-Qur’an itu datang dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian merupakan jamaah dari majelis taklim tertentu, ada yang dari pesantren, serta banyak pula warga umum yang memang senang mengikuti majelis dzikir dan pengajian.

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) memang memfasiltiasi kegiatan bertajuk “Istighotsah dan Pengajian Bulanan” ini sebagai forum silaturahim, penguatan rohani, juga sarana menimba ilmu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selepas istighotsah, jamaah akan menyimak sekaligus bisa berdiskusi dengan para mubaligh yang dihadirkan. Beberapa ulama luar negeri pernah duduk lesehan bersama Nahdliyin dalam forum ini, di antaranya Syaikh Muhammad Utsman asal Palestina dan Syekh Khalil ad-Dabbagh dari Lebanon.

Menurut salah satu pengurus Pengurus Pusat LDNU, Bukhori Muslim, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak sepuluh tahun silam. “Sudah ada sejak era Gus Dur. Persisnya saat kepemimpinan Kiai Nuril Huda (mantan Ketua PP LDNU),” ungkapnya usai acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan, Rabu (25/3) malam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tiap istighotsah, lanjut Bukhori, masjid PBNU selalu penuh jamaah hingga meluber ke halaman. “Banyak kiai dan habaib datang turut menyemarakkan kegiatan bulanan itu,” ujarnya.

Selain segenap pengurus LDNU, hadir pula dalam acara Rabu tadi malam pengasuh Pondok Pesantren al-Mishbah Jakarta, KH Misbahul Munir. Dalam ceramahnya, Kiai Misbah menjelaskan tentang keutamaan berdoa dan dzikir bersama.

“Dalam kitab al-Tibyan, diceritakan ada sekelompok orang berdoa kemudian ada yang mengamini, itu sangat dianjurkan. Yustahabbu khudhuru majlisi khatmil Quran,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Kiai Misbah, Rasulullah SAW justru mengimbau orang-orang yang haid untuk turut serta dalam majlis itu, untuk mengharapkan berkah doa dari kaum muslimin. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 September 2017

Kalau Paham Al-Qur’an, Radikalisme Bisa Dihindari

Jember, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kampus Nusantara Mengaji yang digelar Universitas Jember (Unej) di masjid Al-Hikmah, Jumat (10/3) malam. Selain dihadiri ratusan mahasiswa, Rektor Unej H. Muhammad Hasan, Rais Syuriyah PCNU Jember KH Muhyiddin Abdusshomad juga berkenan hadir.

Acara tersebut adalah bagian dari khataman serentak perguruan tinggi yang dicanangkan Meristek Dikti RI Muhammad Nasir. Unej merupakan satu dari 40 perguruan tinggi ternama yang berpartisipasi dalam khataman serentak yang “dikendalikan”? sang menteri melalui teleconference dari? Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo.

Tidak ada sambutan atau pidato apa pun dalam acara tersebut kecuali khataman Al-Qur’an, shalat Isya berjama’ah yang dilanjutkan dengan menyaksikan “siaran langsung” pidato Menteri Muhammad Nasir dan beberapa acara yang mengiringinya.

Kalau Paham Al-Qur’an, Radikalisme Bisa Dihindari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Paham Al-Qur’an, Radikalisme Bisa Dihindari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Paham Al-Qur’an, Radikalisme Bisa Dihindari

Dalam kesempatan tersebut, sang menteri juga menyapa sejumlah rektor perguruan tinggi peserta khataman serentak tersebut, termasuk dengan Muhamad Hasan, Rektor Unej. Saat disapa? Menteri Muhammad Nasir, Muhammad Hasan mengabarkan kehadiran KH Muhyiddin. “Kami di Unej khataman ini bersama Rais Syuriyah PCNU Jember,” tuturnya.

KH Muhyiddn Abdusshomad menilai bahwa acara tersebut sangat positif dalam rangka membumikan Al-Quran di kampus. Pembumian Al-Quran diharapkan minimal dapat menjadi penyeimbang bagi cara berpikir dan berwawasan mahasiswa, termasuk? dalam menghadapi isu-isu radikalisme yang berbungkus agama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya kira ini sangat bagus untuk menanamkan kecintaan mahasiswa terhadap Al-Qur’an. Kalau kita cinta dan paham seluk-beluk isi Al-Qur’an, radikalisme bisa dihindari,” ucapnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, salah satu pantia, Alfian Futuhul Hadi menegaskan bahwa acara tersebut murni ide dari Menteri Muhammad Nasir, dan tidak terkait dengan kelompok mana pun. “Melalui jaringan perguruan tinggi, pak menteri rupanya ingin menggerakkan kesadaran pentingnya mengaji,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 September 2017

Densus 99 Ansor Ungkap Identitas Pembuat Video Ancaman ISIS

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur langsung bergerak cepat menyusul beredarnya video ancaman dari kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syiria atau ISIS).

Dalam rekaman yang diunggah di Youtube, 24 Desember 2014,  seorang pria berkumis berbahasa Indonesia yang belakangan diketahui bernama lengkap Salim Mubarok Attamimi mengancam Panglima TNI, Polri, dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama.

Densus 99 Ansor Ungkap Identitas Pembuat Video Ancaman ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Densus 99 Ansor Ungkap Identitas Pembuat Video Ancaman ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Densus 99 Ansor Ungkap Identitas Pembuat Video Ancaman ISIS

Sehari setelah video itu beredar, PW GP Ansor Jatim menggelar rapat terbatas bertempat di Graha Ansor Jatim, Jalan Letjen Sudirman MGM 22 Gayungsari Surabaya. Rapat bersepakat membentuk tim investigasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tim yang diketuai dr Umar Usman Syukron diberi nama Densus 99 dan langsung turun ke lapangan, yakni Malang dan Pasuruan. Hasilnya, diketahui bahwa pria tersebut bernama Salim Mubarok. Sesuai yang tertera di paspornya, ia lahir di Pasuruan, 25 Agustus 1972.

Beredernya video itu memang sempat membuat banyak kalangan menghubungi Ansor Jatim. "Ini cukup beralasan karena basis utama Ansor-Banser ada di Jatim," kata H Rudi Triwachid, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jatim, Jumat malam, (26/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rudi membeberkan, rumah Salim Mubarok berada di RT 5 RW 6, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggung, Kota Pasuruan. Rumah itu warisan dari kedua orangtua Salim. Namun, Salim memilih pindah ke Malang bersama istri dan anaknya dengan menyewa sebuah rumah di daerah Kendung Kandang, Malang.

Salim berasal dari keturunan Arab Yaman Bani At-Tamimi. Itulah sebabnya, dia dikenal dengan nama lengkap "Salim Mubarok Attamimi".

Pada Mei 2014, Salim bersama istri dan lima anaknya, tiga anak kandung, dua anak angkat, berangkat ke Suriah. Sebelum memboyong istri dan lima anaknya itu, Salim sebenarnya telah bergabung dengan ISIS di Suriah, dan sempat beberapa kali kembali ke Pasuruan dan Malang.

Sebelum ke Suriah dan bergabung bersama ISIS, Salim pernah berada di Yaman bergabung bersama AQAP, sebuah organisasi sayap Al Qaidah di Yaman. Saat berada di Yaman itu, Salim diketahui beberapa kali masuk di daerah perbatasan antara Turki dan Suriah.

Video yang diunggah oleh akun al-faqir ibn faqir itu berjudul Ancaman Wahabi terhadap Polisi, TNI, dan Densus 88, Banser. Dalam video itu, Salim Mubarok memakai kupluk dan bersarung tangan itu, berbicara bahasa Indonesia, sembari sesekali mengutip ayat Al-Quran.

Pada awal tayangan, Salim Mubarok langsung menyebut Panglima TNI Moeldoko, Kepolisian, dan Banser dengan sebutan _laknatullah alaih_. Salim mengatakan menunggu kedatangan TNI, Polri, dan Banser. "Apabila kalian tidak datang kepada kami, kami akan datang kepada kalian," ancam Salim dalam video itu.

Tidak cukup di situ, Salim juga menebar ancaman akan membantai TNI, Polri, dan Banser satu persatu. "Penegakan syariat Allah harus dimulai dengan memerangi kalian dan membantai satu per satu kalian, TNI, Polri, Densus dan Banser, yang mana hari ini menyombongkan diri untuk menentang agama Allah, menentang penegakan syariat Allah dan mengatakan NKRI harga mati. Ketahuilah bagi kami syariat Allah harga mati," ancam Salim.

Rudi menyatakan Ansor tidak mau terpancing atas ancaman tersebut  dengan melakukan tindakan reaktif. Ansor Jatim, kata Rudi, sudah melakukan deteksi cukup lama dari jejaring kelompok Islam garis keras.

"Yang terpenting Ansor Jatim mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia untuk satu barisan dan tidak lengah dengan tetap menjaga lingkungan masing-masing. Mari kita kampanyekan bersama say no to terorism and radicalism," pesan Rudi. (Syaifullah/Mahbib)

Foto: Paspor Salim Mubarok

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock