Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

Saling membantu sesama makhluk Allah sangat lazim dalam kehidupan di dunia ini. Pasalnya keberuntungan dan nasib orang berbeda-beda. Di sinilah letak pentingnya upaya manusia untuk saling menutupi dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Imam Al-Ghazali sendiri menulis tatakrama perihal ini. Hujjatul Islam ini menyebut sejumlah rincian yang sangat ramah terhadap mereka yang memerlukan bantuan. Dalam Al-Adab fid Din Imam Al-Ghazali menyebut akhlak seorang yang bersedekah.

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Seyogianya seorang yang ingin bersedekah mendonasikan hartanya sebelum diminta, diam-diam saat memberi, menutup-tutupi sedekahnya setelah memberi, ramah terhadap pengemis, jangan mengawali pembicaraan dengan jawaban penolakan, menolak permintaan dengan suara perlahan, mengusir godaan bakhil dari dalam hati, memberikan sesuatu sesuai permintaan atau menolaknya dengan cara yang baik. Apabila Iblis laknatullah berbisik, ‘Orang ini tidak berhak terima sedekah,’ maka jangan perhatikan nikmat yang anugerahkan pada si pengemis. Tetapi tegaskan di dalam hati bahwa orang tersebut layak menerima sedekah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejumlah rangkaian tatakrama bagi seorang yang berbagi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan ini sebenarnya dapat saja berbeda di zaman dan daerah tertentu. Hanya saja sejumlah tatakrama ini dibuat dengan tujuan agar mereka yang menerima bantuan tidak merasa terhina.

Demikian juga dengan pemberi. Semua etika ini diatur agar kedermawanan pemberi tidak kehilangan nilai di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Targetkan Cabang Terbaik, PC GP Ansor Paluta Gelar PKD

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk mengejar target terbaik tingkat cabang, PC GP Ansor Padang Lawas Utara, Sumatera Utara menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor. Kegiatan yang berlangsung Jumat-Ahad (7-9/2) bertujuan mengintensifkan pengaderan dan kapasitas kepemimpinan kader.

“GP Ansor Padang Lawas Utara (Paluta) siap menjadi barometer di Sumut,” kata Ketua PC GP Ansor Paluta H Amran Saleh Siregar.

Targetkan Cabang Terbaik, PC GP Ansor Paluta Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Targetkan Cabang Terbaik, PC GP Ansor Paluta Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Targetkan Cabang Terbaik, PC GP Ansor Paluta Gelar PKD

Sementara Ketua panitia PKD Yusuf Muda Dalam Hasibuan mengatakan, pengaderan ini ialah angkatan ketiga yang menjadi penggerak dan motor organisasi sehingga pembentukkan Ansor hingga ranting ditargetkan selesai pada akhir 2014.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PKD menghadirkan koordinator instruktur dari Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, H Ahmad Nadhif Abdul Mujid dan Hasan Basri Sagala. Keduanya dibantu asisten instruktur Budi Suherman dan Zeni yang merupakan alumni PKL PW GP Ansor Sumut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelatihan yang digelar di pesantren Thoyibah Islamiyah Hutaraja kecamatan Portibi kabupaten Paluta, ? Sumut kali ini meluluskan 62 pesertanya. Demikian dikatakan Hasan Basri Sagala kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal per telepon, Ahad (9/2) siang.

“GP Ansor Paluta saatnya melakukan konsolidasi, reorganisasi, dan revitalisasi dalam menghadapi tantangan yang lebih kompleks baik internal maupun eksternal,” tandas Gus Nadhif. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Alhamdulillah, Izin Pendidikan Kedokteran Unusa Sudah Turun

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Rochmad Romdoni mengungkapkan rasa syukur karena izin program studi S1 Pendidikan Kedokteran untuk Unusa sudah turun.

“Prodi Pendidikan kedokteran melengkapi Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, selain dua prodi yang sudah turun izinnya, S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat dan D4 Analis Kesehatan,” katanya, Selasa (22/7).

Alhamdulillah, Izin Pendidikan Kedokteran Unusa Sudah Turun (Sumber Gambar : Nu Online)
Alhamdulillah, Izin Pendidikan Kedokteran Unusa Sudah Turun (Sumber Gambar : Nu Online)

Alhamdulillah, Izin Pendidikan Kedokteran Unusa Sudah Turun

?

Menurutnya, setelah dilakukan analisis dan visitasi oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Dikti terhadap FK Unusa, Fakultas Kedokteran UNUSA sudah layak menerima mahasiswa karena persyaratan sudah terpenuhi. Kemudian dilanjutkan dengan turunya ijin operasional dari Ditjen Dikti bertepatan bulan Ramadhan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Unusa sangat berterimakasih dengan KKI , Ditjen Dikti Kemendikbud karena mempercayai Unusa membuka pendidikan kedokteran, meski diberi kuota mahasiswa Kedokteran sebanyak 50 mahasiswa, untuk melayani puluhan ribu pesantren-nya, hal ini merupakan langkah maju buat perkembangan pesantren” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya sangat mendukung langkah KKI dan Dikti itu untuk membatasi kuota kedokteran setiap Universtas karena profesionalitas seorang dokter itu penting,” jelasnya. Menurutnya, profesionalisme tersebut menyangkut nyawa seseorang.

Tahun ajaran 2014-2015 Unusa menerima kuota mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan pertama sebanyak 50 mahasiswa baru,” katanya. Fasilitas dua rumah sakit yang dimiliki UNUSA RSI Jemursari dan RSI A Yani, dosen berpengalan, kampus dan kelas modern serta dukungan IT yang memadahi diharapkan mendukung proses belajar mengajar FK.

Tahun ini bagi mahasiswa yang melanjutkan pendidikan dokter di UNUSA sengaja dibatasi kuotanya agar dijamin kualitas lulusannya. Yang terpenting pendidikan dokter UNUSA sangat jelas arahnya karena akan mendukung program kesehatan yang berada di pondok pesantren wilayah Jawa Timur khususnya dan Indonesia umumnya seperti POSKESTREN (Pos Kesehatan Pesantren) sehingga kualitas kesehatan para santri menjadi lebih baik lagi.

Hingga kini, Unusa memiliki 15 prodi pada lima fakultas yakni S1 Keperawatan, S1 Gizi, D3 Keperawatan, D3 Kebidanan dan Ners (Fakultas Ilmu Kesehatan); S1 Pendidikan dokter (terbaru), S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat dan D4 Analis Kesehatan (Fakultas Kedokteran); S1 Sistem Informasi dan S1 Teknik Elektro (Fakultas Teknik); S1 Manajemen dan S1 Akuntansi (Fakultas Ekonomi); dan S1 PGSD, S1 PG PAUD, S1 Pendidikan Bahasa Inggris (FKIP).

“Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, FKIP (Keguruan), dan Teknik akan melakukan perkuliahan di Kampus A Jalan SMEA, Wonokromo, sedangkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Kedokteran akan melakukan perkuliahan di Kampus B di belakang RSI Jemursari,” katanya. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Agama Mata Pedang

Oleh Ren Muhammad



Fenomena takfir (pangafiran) mewabah lagi di Jakarta. Sekelompok orang yang mengaku Muslim, sayangnya terlibat dalam pewabahan ini. Semua atribut keislaman, lebih tepatnya kearaban, melekat di tubuh mereka. Sedari tasbih, jubah, sorban, hingga pola ucap yang melulu terarabisasi. Namun bila menilik jalan pikiran mereka, kita seolah menyaksikan perulangan sejarah Islam generasi pertama (1 H/7 M).

Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama Mata Pedang

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahuanhu adalah pemantik pertikaian umat Muslim generasi perdana. Latarnya, kekecewaan atas keputusan politik Ali. Bukan perbedaan keyakinan atau aqidah yang berseberangan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Muawiyah yang bersaudara dengan Utsman, meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib (pengganti Utsman) agar memberantas komplotan pembunuh itu. Keputusan Ali jauh dari tuntutan itu. Ia hanya mengizinkan hukum qishash (balas) pada si pembunuh saja. Urusan persaudaraan darah ini, kemudian merebak jadi perkara besar politik.

Muawiyah bangkit memberontak Ali sebagai pemimpin sah umat yang ditunjuk oleh dewan Ahlul Halli wa l-Aqdi (terdiri dari para Sahabat terpandang). Perang pun pecah. Sebagai pemimpin besar Islam kala itu, juga jenderal perang Rasulullah, Ali dan pasukannya nyaris menumpas Muawiyah bin Abu Sufyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kekalahan Muawiyah urung terjadi setelah Amr bin Ash, komandannya, mengusulkan agar ia mengangkat mushaf (lembaran) al-Quran yang ditancapkan pada mata tombak. Ali mafhum. Mereka sepakat berdamai (tahkim-arbitrase). Efek dominonya adalah, kawanan kecil dari pasukan Ali yang kemudian malah membelot. Sejarahwan Islam menemukan catatan untuk mereka yang kemudian bernama Khawarij. Kata jamak dari kharij, yang artinya keluar dari barisan.

Target kelompok kecil ini hanya dua. Membunuh Muawiyah dan Ali. Berdasar keyakinan bahwa mereka pelaku dosa besar. Padahal latarnya jelas. Lagi-lagi, kekecewaan politik belaka. Mereka lupa, Nabi Muhammad Saw pernah dan teramat sering mengalami penindasan politik dari masyarakat Quraisy--kaumnya sendiri. Terutama ketika ia harus dengan lapang dada menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Berisi pelarangan memasuki tanah kelahirannya, Makkah, selama sepuluh tahun.

Pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah, saat Nabi Muhammad terusir dari Makkah dan kemudian mengamini tawaran sekelompok Yahudi yang meminta bantuannya membenahi Yatsrib (sekarang Madinah). Perjanjian itu kemudian dibalas dengan keislaman mereka secara sukarela, setelah Muhammad Saw berhasil memenuhi janjinya. Ia mengubah Madinah menjadi Munawarah. Kota yang berkilauan cahaya kebaikan. Jadi kotanya yang ia cintai, sebagaimana Makkah al-Mukarramah.

Berislam dalam Waktu



Jika kita belajar dari teori sejarah Ibn Khaldun (bapak ilmu sejarah dunia) tentang hukum siklus sejarah, maka demikian pula yang terjadi dalam riwayat panjang Islam masa ke masa. Muawiyah yang tampil sebagai pemenang lantaran gagal terbunuh oleh Khawarij, kemudian mendirikan dinasti baru bernama Umayyah. Dinasti yang bertahan hampir seabad ini, kelak dihancurkan Abu l-Abbas as-Saffah, keturunan Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman Nabi Muhammad Saw dari jalur ayah.

Lembaran tulisan ini tidak dimaksudkan mengurai rantai sejarah Islam hingga hari ini. Tapi mari becermin pada apa yang terjadi di dunia kita sekarang. Suriah, Libya, Lebanon, Mesir, Sudan, Ethiopia, Afghanistan, Irak, Filipina, dan Indonesia, semua dilatari atas klaim benar-salah. Khususnya, upaya pembangkangan pada pemerintah (uli l-amri).

Terlepas dari pendomplengan isu adicita antara demokrasi Amerika dan komunis Rusia-China, para pelaku kekerasan berwacana Islam, kerap muncul dari barisan sakit hati politik. Jika dirunut rantai darah dan keguruannya, mereka akan terpaut dengan Ibn Muljam (pembunuh Khalifah Ali), Ibn Qayyim al-Jauziyah, Abdullah bin Abdul Wahab, Ibn Taymiyyah.

Golongan yang dinamai Esposito sebagai peminum ramuan mematikan (lethal coctail) ini, mengabaikan sepenuhnya misi besar kenabian Muhammad Saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kerana itulah mereka meyakini penuh bahwa kebenaran berpihak pada kubunya. Bukan pada kubu lain yang notabene juga Muslim.

Kebuntuan memahami Islam secara baik dan kaffah, jadi faktor lain pembentuk mereka. Bahkan ada satu sempalan lagi dari kaum Khawarij yang yakin betul bahwa persoalan besar manusia hari ini akan terjawab dengan mendirikan khilafah Islam. Romantisme buta ini jelas berbahaya. Mereka benarbenar menutup mata pada fakta dinasti kekhilafahan--non Khulafa ar-Rasyidun--yang sebagian besarnya berangkat dari pertumpahan darah.

Dalam kancah perpolitikan dunia modern pun, tak kurang banyaknya pemimpin negara-bangsa yang juga Muslim. Tapi kenyataannya, jauh panggang dari api. Muslim atau bukan, tak menjamin kualitas kepemimpinan. Tanpa tasbih, sorban, jubah, Sukarno berhasil meramu perjuangan bangsa kita merebut kemerdekaannya. Mandela yang bukan Muslim, berjaya di Afrika. Gandhi yang Hindu, jadi kecintaan India. Chavez yang Katolik, dipuja di Venezuela.

Agama dan ajarannya, memang bisa dijadikan sandaran pengelolaan kehidupan. Tapi bukan berarti para pemeluknya harus kehilangan kewarasan berpikir, dan kejernihan hati. Kehancuran sebuah bangsa di masa lalu, cenderung terjadi ikhwal kasus keributan agama yang ditunggangi pegiat politik yang berambisi kuasa. Nyaris semua agama dunia era kita, punya riwayat kelam seperti ini.

Semua ayat suci yang sudah diturunkan tuhan ke muka bumi, tak cukup hanya dijadikan korpus belaka. Ia memang berjarak dengan penganutnya secara ruang. Namun tidak secara waktu. Dalam Islam misalnya, ada ayat yang berbunyi, "Wa l-ashri. Inna l-insana lafi khusrin: Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." (QS. al-Asr [103]: 1-2)

Jadi, kerugian terbesar manusia bukan terletak pada di ruang mana ia hidup. Melainkan seberapa cakap ia memeriksa rambatan waktu yang ia lalui dalam hidupnya. Bukan waktu lalu atau yang akan datang. Melainkan waktu kini. Di sini. Sekarang. Manusia wajib memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadi apa pun kita, waktulah yang kelak menentukan seberapa berkualitas hidup kita.

Keniscayaan ini yang menyita habis kehidupan para penganjur kebaikan pada setiap zaman. Mereka sadar dan paham betul, waktu pasti kan melindasnya. Maka tak ada pilihan lain kecuali hidup bersama waktu yang berawal tapi tak berakhir. Jalan terbaik mewujudkan itu adalah, menjadi agen kebaikan bagi manusia dan makhluk tuhan lainnya. Hanya dengan begitulah, nama mereka harum sepanjang masa. Hidup mereka pun abadi dalam sejarah manusia. []

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik

Tulang Bawang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ?

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Tulang Bawang, Lampung menyambut baik harakah Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor yang menginisiasi komunikasi lintas agama di Pesantren Daarul Islah, Kampung Purwajaya, Kecamatan Banjarmargo, Selasa (22/8).

KWI menyampaikan itu melalui pengurus harian, Purwo Warsito. Menurut dia, forum dialog digelar Ansor Tulang Bawang bagus untuk mencegah konflik.

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik

"Semua agama punya tujuan agar penganutnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Supaya rukun harus ada dialog, komunikasi semacam ini," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua MUI setempat, Yantori, turut mengapresiasi positif kegiatan tersebut. Menurut dia, dialog tersebut akan memperkuat toleransi kerukunan, saling menghargai, serta tidak ikut campur dengan urusan agama orang lain.

"Indonesia ini multikultur, kadang komunikasi antarummat beragama sulit dilakukan, karena ada oknum atau kelompok yang memutlakkan sesuatu, padahal yang mutlak itu hanya milik Tuhan," ujar Purnomo Sidi dari Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) menambahkan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Perwakilan dari Parisada Hindu Ketut Swarte melanjutkan, manusia setara dan sama. Sehingga tidak perlu bermusuhan.

"Saling menghargai bukan hanya dengan manusia, tapi juga dengan lingkungan," kata dia lagi.

Ketua GP Ansor Tulang Bawang, Hariyanto mengatakan, kegiatan organisasinya dilakukan untuk mencegah konflik dan mempererat persatuan warga di daerah tersebut pada khususnya dan Indonesia umumnya.

Acara bertema “Peningkatan Rasa Saling Merasa Memiliki Negara Ini, Tidak Merasa Paling Benar dan Menjaga Persatuan Antarumat Beragama” itu dihadiri Kepala Kesbangpol Agus waluyo, dan sejumlah ormas keagamaan kemasyarakatan dan kepemudaan? setempat serta dari unsur Polri-TNI.

Kegiatan dimoderatori Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Azis, pembicara utama Sekretaris Kementerian Agama, Kabupaten Tulang Bawang, Sanusi.

"Terima kasih untuk semua pihak yang membantu terlaksananya kegiatan ini," pungkas Hariyanto. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

4 Hari Lewat WhatsApp, NU Ngawi Kumpulkan Rp150 Juta

Ngawi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mandiri. Seperti yang dilakukan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Melalui grup WhatsApp, Panitia Pembangunan Masjid dan Kantor NU Ngawi, membuka sumbangan untuk proyek pembangunan gedung kepada para anggota grup.

4 Hari Lewat WhatsApp, NU Ngawi Kumpulkan Rp150 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
4 Hari Lewat WhatsApp, NU Ngawi Kumpulkan Rp150 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

4 Hari Lewat WhatsApp, NU Ngawi Kumpulkan Rp150 Juta

Setelah empat hari, panitia sukses mengumpulkan dana Rp150 juta. Dana ini lantas dipergunakan untuk pengurukan lahan pembangunan. Dari kebutuhan 1000 dam tanah uruk, Selasa (8/3) lalu, sudah terkumpul hampir 700 dam tanah uruk. Kalau berupa uang, harga tanah uruk per dam Rp250 ribu. Sehingga total dana yang terkumpul sudah melampaui angka Rp150 juta.

Sebelumnya, PCNU Ngawi mengagendakan pembangunan masjid dan kantor NU di atas lahan seluas 3120 meter persegi di Ring Road Barat Ngawi. Total kebutuhan dana sekitar 17 miliar untuk pembebasan lahan di samping lokasi pembangunan, pembangunan masjid, pembangunan Kantor NU tiga lantai, dan pembangunan Aula Aswaja.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Tanfidziyah PCNU Ngawi KH Ulin Nuha Rozi menyatakan bahwa gerakan infak dan sedekah untuk NU ini adalah perjuangan kemandirian warga NU dalam upaya membela aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

"Dengan ridla Allah, spirit Kanjeng Nabi dan para pendiri NU, insyaallah warga NU Ngawi selalu solid dan kompak. Pembangunan masjid dan Kantor NU Ngawi ini menjadi agenda bersama para pengurus, kader NU yang ada di pesantren, kontraktor, pengusaha, petani, politisi dan birokrasi untuk menyukseskannya,” tambah pengasuh Pondok Pesantren Temulus Mantingan, Ngawi. (Red: Mahbib)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

PC IPNU & IPPNU Kab. Lamongan Gelar Rapat Kerja II

Lamongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Guna menyusun program 1 tahun ke depan maka PC. IPNU & IPPNU Lamongan menggelar Rapat Kerja II, acara yang digelar di Villa Al Muniroh Pacet Mojokerto (1-2/11/2007).

Kegiatan ini diikuti oleh 24 Pimpinan Anak Cabang IPNU & IPPNU se- Kab. Lamongan. Menurut Ketua PC. IPNU Lamongan, Ediyanto, acara ini digelar untuk mengevalusi kinerja PC. IPNU& IPPNU Lamongan periode 2006-2008 dalam kurun waktu 1 tahun serta untuk menyusun agenda dan program kerja tahun kedua.

Senin, 25 Desember 2017

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Federasi Niaga, Koperasi, Bank, dan Asuransi (FNKBA) Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama akan mengadakan diskusi industri kreatif bertema “Prospek Industri Kreatif: Meretas Kendala, Memperluas Pertumbuhan” di gedung PBNU, Jakarta, siang ini Rabu (1/10).

Menurut Sekretaris FNKBA Sarbumusi? Ayi Fahmi, diskusi yang direncanakan berkala tersebut akan mengupas lanskap ketenagakerjaan di sektor industri kreatif dan positioning buruh di tengah besarnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri kreatif.

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Siang ini FNKBA Sarbumusi Mulai Diskusi Berkala Industri Kreatif

Ayi menambahkan, diskusi tersebut juga akan membahas solusi alternatif yang mungkin/bisa dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi buruh guna memberikan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja di sektor industri kreatif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Ayi, FNKBA Sarbumusi merupakan upaya dari organisasi buruh di bawah naungan NU tersebut dalam menyejahterakan kaum buruh. NKBA pertama dibentuk dibawah kepemimpinan pada bulan Agustus 2014 di Hotel Bidakara, Jakarta. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Kyai, Pahlawan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Tiga tahun berturut-turut, sejak 2015 ribuan santri mengikuti turnamen sepak bola pada ajang Liga Santri Nusantara yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bahkan tahun ini, santri yang mengikuti turnamen itu diperkirakan 22 ribu santri dari 1048 pesantren di seluruh Indonesia. 

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku percaya sepenuhnya kepada para kiai akan bisa mengatur para santri kapan mereka harus mengaji dan sepak bola. Para kiai telah berpengalaman mengatur ribuan santri. Dan titah kiai akan selalu dipatuhi para santri.   

“Saya yakin, saya yakin, kiai akan mengatur itu, kiai bisa mengatur itu, kapan waktunya ngaji, shalat, kapan waktunya tahajud, istighotsah, kapan waktunya sepak bola,” katanya selepas menonton Grand Final Liga Santri Nusantara tahun lalu dari awal hingga usai di stdion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta antara kesebelasan Walisongon dan Nur Iman. 

Liga Santri Nusantara, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, tidak lain untuk menggali bakat para santri. Ia meyakini jutaan santri di Indonesia adalah sumber bakat terpendam dalam berbagai hal, termasuk olahraga. Namun sampai saat ini masih sebatas potensi, belum menjadi prestasi.  

“Santri-santri kita ini punya potensi, tapi belum dimenej dan dikembangkan. Sehingga potensi belum menjadi prestasi,” ungkap pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan adanya Liga Santri Nusantara, ia berharap akan bermunculan sepak bola di Timnas Indonesia yang berprestasi dari kalangan pesantren. Hal itu akan mengangkat nama pemainnya, pesantrennya sendiri dan NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menyebutkan, dalam sepak bola memiliki sisi positif yang bisa dikembangkan, yang selama ini menjadi sikap para santri. 

“Di dalam sepak bola ada sifat yang positif, yaitu tidak boleh memiliki sikap egois. Ada kerja sama, dengan memberikan bola kepada temannya, terbangun jaringan yang sangat solid, membangun teamworking yang sehat untuk kemenangan bersama,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengajian kitab kuning dengan fasilitas radio streaming yang disiarkan setiap hari oleh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal mendapat respon yang cukup positif dari para pendengar. Minat warga mendengarkan pengajian melalui radio berbasis internet ini semakin meningkat.

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

"Pendengar radio ini yang istiqomah perhari sudah mencapai rata-rata sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Jumlah ini memang masih lebih rendah jika dibanding bulan Ramadhan. Namun semenjak awal Syawal kemarin, jumlah pendengar terus meningkat,” kata Direktur Radio Streaming Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Mustiko Dwipoyono di Jakarta, Senin (12/11) sore.

“Para pendengar adalah warga pesantren dan masyarakat umum yang ingin mengikuti kajian kitab kuning. Melalui radio streaming mereka tidak harus langsung datang ke pesantren," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, untuk program pasca Ramadhan saat ini radio streaming masih menggunakan rekaman (typing) yang antara lain diisi oleh KH Jamaluddin Muhammad dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, KH Musthofa Bisri dari Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang, dan rekaman pengajian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pesantren Ciganjur.

Ke depannya akan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal akan menyiarkan pengajian-pengajian kitab kuning dan pengajian umum secara live dari beberapa pesantren di berbagai daerah. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Karena semakin mendapat respon yang cukup positif dari pendengar, maka rencananya pada awal tahun 2013 radio streaming ini akan dikembangkan menjadi siaran secara langsung dengan narasumber antara lain, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Sahal Mahfudz dengan tema kekinian yang melibatkan santrinya di masing-masing pesantren," katanya.

Pengajian online sementara ini dilaksanakan dalam dua sesi setiap harinya. Sesi pertama dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB dan sesi kedua pukul 19.30 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Menariknya, radio streaming ini dipancarluaskan oleh radio-radio lokal di Jawa Timur di antaranya Radio Madu FM di Tulungagung dan Jember, Aswaja FM di Ponorogo serta Radio Nur FM di Rembang Jawa Tengah dan beberapa radio komunitas NU.

"Bagi yang belum mengetahui dan ingin mendengarkan radio streaming ini bisa mengakses langsung di radio.nu.or.id atau klik di pojok kanan atas situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal www.nu.or.id," pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nurdin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Makam, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Peringatan Imam al-Ghazali untuk Pengguna Medsos

Internet tentu belum berkembang pada masa generasi salafus shâlih. Namun, kebaikan dan keburukan manusia bisa dikatakan selalu mirip di segala zaman. Di era banjir medis sosial seperti sekarang, misalnya, fenomena fitnah, gosip, kabar bohong, saling hujat, debat kusir, dan sejenisnya hadir--sebuah fenomena yang juga kita temui pada zaman pra-masehi

sekalipun.

Yang berubah barangkali adalah lingkungan sosial dan cara yang digunakan. Bila dulu fenomena-fenomena negatif tersebut lebih banyak dilakukan melalui mulut secara langsung, kini keburukan-keburukan itu difasilitasi oleh kecanggihan tekonologi modern, yang salah satunya adalah media sosial. Dalam media sosial, sumber keburukan itu muncul dari tangan atau jari-jari yang mengunggah tulisan, sebagian berbentuk gambar dan video.

Peringatan Imam al-Ghazali untuk Pengguna Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Imam al-Ghazali untuk Pengguna Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Imam al-Ghazali untuk Pengguna Medsos

Media sosial menjadi ruang yang sangat bebas untuk mengekspresikan sesuatu dalam bentuk teks. Orang menjadi gemar sekali berkomentar tentang apa saja. Menjadi persoalan ketika ternyata ekspresi ini bersifat publik dan menimbulkan mudarat bagi orang lain. Dari sinilah sisi negatif media sosial muncul, di samping segi positifnya yang tak mungkin diingkari.

Karena tidak ada perbedaan perilaku secara substansial di setiap zaman, patut pula kita mengutip nasihat para ulama terdahulu (salafus shâlih) untuk menjadi bahan refleksi dan pengetatan atas diri agar tidak terjerumus pada perbuatan tercela terkait dengan gejala bermedia sosial ini. Di antaranya nasihat dari kitab "Bidâyatul Hidâyah" karya Imam al-Ghazali yang bertutur:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Maka hendaklah engkau menjaga kedua tanganmu dari memukul sesamaMuslim, mendapatkan sesuatu yang diharamkan, menyakiti sesama makhlukAllah, mengkhianati amanah atau titipan orang lain, atau menulis sesuatu yang tidak boleh diucapkan. Kerana qalam (pena; media sosial, red) adalah salah satu dari dua lidahmu maka hendaklah engkau jaga qalam-mu dari menulis sesuatu yang diharamkan mengekspresikannya.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Imam al-Ghazali berpesan demikian saat membahas adab menjaga tangan. Menurutnya, lidah ada dua macam: lidah yang berada dalam mulut dan lidah berupa? qalam (pena). Dalam konteks sekarang, qalam sebagai piranti yang memproduksi tulisan bisa kita samakan dengan media sosial. Media sosial memiliki fungsi yang mirip dengan mulut: sarana mengekspresikan pikiran ke publik. Efek dan risiko yang ditimbulkannya pun tak beda jauh: menyakiti atau membahagiakan, merugikan atau menguntungkan. Peringatan pokok dari statemen al-Ghazali ? itu adalah hindari perilaku yang diharamkan dalam berkata-kata.

Sebelumnya, di kitab yang sama, Imam al-Ghazali mewanti-wanti agar tiap orang memelihara lidahnya. Imam al-Ghazali mendaftar delapan perilaku buruk yang ditimbulkan oleh lidah, antara lain berbohong, mengumpat orang lain, gemar mendebat, memuji diri sendiri (narsis), melaknat, mendoakan celaka orang lain, dan mengolok-olok orang lain. Melihat fungsinya yang serupa lidah, peringatan tersebut seyogianya berlaku pula untuk media sosial. Wallahu alam.? (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

PMII harus Kembali ke Masjid

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi berharap agar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali ke masjid sebagai basis gerakannya. Masjid sebagai pusat kegiatan keummatan akan memberikan nilai spiritualitas yang tak akan diperoleh dari tempat lainnya.

“Mari kita kembali ke masjid,  bolehlah demo, tapi basisnya harus spiritualitas, visinya harus kerakyatan, tapi harus diikatkan dengan hablumminallah. Jangan tidak pernah ke masjid,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu.

Beralihnya pusat kegiatan PMII dari masjid dikatakannya bisa menghilangkan visi dan ideologi yang dimiliki oleh organisasi yang banyak melahirkan para pemimpin dari NU ini. “Berangkat demo dari jalan, kembali ke jalanan, akhirnya menjadi orang jalanan, ini lama-lama bisa kehilangan visi dan ideologinya, lama-lama bisa menjadi pendemo bayaran,” tandasnya

PMII harus Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII harus Kembali ke Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII harus Kembali ke Masjid

Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pesantren ini (P3M) ini menjelaskan bahwa pada masa rasulullah, masjid merupakan pusat peradaban yang mana segala kegiatan dilakukan disana, bukan sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah mahdhoh.

 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita bisa diskusi di masjid, tentang Islam yang paling sosialitik pun, tapi dalam perspeksif agama, mendiskusikan Das Kapitas, Adam Smith, dha papa asal didialogkan dengan pesan-pesan etika dan keagamaan, ini baru seru, baru ada karakter,” tambahnya.

Pesan kembali ke masjid tersebut juga disampaikan kepada para kader GP Ansor. Saat selesai menjalankan aktifitas dunianya, masjid merupakan tempat kembali untuk menyelesaikan berbagai urusan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau semua urusan diselesaikan di situ, insyaallah lebih berkah. Dan kalau kita memutuskan segala sesuatu di masjid, spiritnya kan lain, nga mungkin memutuskan sesuatu di masjid dengan jotos-jotosan, sesuatu yang sekarang lazim,” imbuynya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Saat fatwa haram hormat bendera merah putih banyak dikeluarkan sejumlah orang, upacara memperingati kemerdekaan Indonesia justru semarak diselenggarakan di pesantren-pesantren. Tidak terkecuali Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang, Jawa Timur.

Pesantren yang sering akrab dengan sebutan Pesantren Mergosono asuhan KH M. Taqiyudin Alawy ini terletak di gang kecil Kelurahan Mergosono. Karena tak memiliki lapangan, upacara bendera pun digelar di atas atap, tepatnya di lantai empat gedung asrama pesantren. Dengan mengenakan sarung dan kopiah, sekitar 30-an santri melangsungkan upacara dengan khidmah.

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Selain bendera Sang Merah Putih, dikibarkan pula bendera Nahdlatul Ulama secara bersamaan. Kalau di tempat lain sesi mengenanang pahlawan diisi lagu Mengheningkan Cipta, di upacara Pesantren Mergosono ini sesi tersebut diisi dengan membacakan Surat al-Fatihah kepada para pahlawan pendahulu.

Para santri juga secara serentak membaca Ikrar Santri untuk NU dan NKRI. Ikrar tersebut berisi dua syahadat, ikrar setia terhadap NU, dan ikrar bela negara. Ikrar tersebut disusun dengan mengkombinasikan antara Panca Setia santri ala KH. Marzuki Mustamar dan Ikrar bela ala Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Inspektur upacara juga menyampaikan amanat kepada peserta upacara. Setelah itu menyanyikan dua lagu nasional, yakni Padamu Negeri dan 17 Agustus. Dan acara ditutup dengan doa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berikut Bunyi teks “Ikrar Santri Untuk NU dan NKRI” Pesantren Mergosono:

? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kami santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang;

1. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

2. Kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah

3. Kami berikrar bahwa NU selalu di hati

4. Kami berikrar bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman

5. Kami berikrar bahwa membela tanah air adalah wajib

6. Kami berikrar bahwa NKRI harga mati itu bukan basa-basi

(Indirijal Lutofa/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kyai, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berbarengan dengan kegiatan Perkemahan Maarif Cabang III Kabupaten Pringsewu, Pimpinan Satuan Komunitas (Pinsako) Pramuka Maarif NU Provinsi Lampung dilantik oleh Kepala Kwartir Daerah (Kakwarda) Lampung Idrus Effendi.

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Aktif, Lampung Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Perwimanas 2019

Pelantikan tersebut dilaksanakan di halaman Kantor PCNU Pringsewu dan dihadiri oleh Ketua Sako Pramuka Ma’arif Pusat Arifin Junaidi.

Dalam sambutannya, Kakwarda mengharapkan agar Sako Ma’arif NU Lampung dapat ambil bagian dan aktif dalam kegiatan kepramukaan yang diselenggarakan di Provinsi Lampung.

"Pinsako Ma’arif NU adalah Sako ketiga yang dilantik setelah Sako Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang dibina oleh Jaringan SIT serta Sako Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SPN) yang dibina oleh LDII," jelasnya, Jumat (20/10).

Sementara itu Ketua Sako Ma’arif Pusat H. Arifin Junaidi menilai Sako Pramuka Ma’arif Lampung merupakan pramuka yang aktif dan konsisten dalam berkiprah membina para generasi muda melalui kepramukaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keaktifan inilah yang menjadikan Lampung ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) III yang akan dilaksanakan pada 2019.

Perwimanas II berlangsung September kemarin di Magelang dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Sebanyak 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan perkemahan tingkat nasional itu. Peserta tersebut terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Maarif NU dari seluruh Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sako Ma’arif NU Lampung saat ini diketuai? Dr. M. Afif Ansori dan didampingi oleh para pengurus Pramuka yang berasal dari kader-kader NU di Provinsi Lampung.

Hadir juga dalam pelantikan tersebut Ketua PWNU Lampung KH. Sholeh Bajuri, Bupati Pringsewu KH. Sujadi dan Pengurus Kwarcab Pringsewu. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Kyai, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Grobogan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Anggota Muslimat NU Tawangharjo mengadakan tahlil dan mudarasah al-qur’an secara estafet. Acara di bawah naungan Muslimat digelar saban selapan (35 hari), tiap Jum’at legi yang kini dimaksudkan untuk mendiang suami Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Acara yang diikuti para hafidzah se-kecamatan Tawangharjo dan para mustamiin digelar di pesantren Al-Anwar, Selo Tawangharjo Grobogan, Jawa Tengah, Jum’at (17/1). Tahlil dan doa dipimpin pengasuh pesantren Al-Anwar, nyai Lu’luul Ifadah.

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Menurut Ketua PAC Muslimat NU Tawangharjo, Nyai Rif’ah, kirim tahlil ini  merupakan bentuk bela sungkawa kader sebagai anggota Muslimat NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Suami dari ketua umum kami telah dipanggil Allah. Kita nggak mungkin bertakziyah ke sana. Kita cukup kirim tahlil sebagai media belasungkawa kita,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menuturkan, sesama orang Islam harus saling mendoakan. Selain kepada yang kita kenal, namun kepada orang yang tidak kenal pun kita dianjurkan saling mendoakan.

“Selain doa, menebarkan salam juga dianjurkan kepada siapa pun,” imbuhnya. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Meme Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak

Salah satu seniman yang ikut memeriahkan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-91 NU adalah Cak Lontong, Selasa (31/1) di Gedung PBNU Jakarta. Dia berhasil mengocok perut hadirin yang memadati tempat acara dengan sejumlah banyolan mutakhirnya.

“Setidaknya, saya dapat memetik dua poin utama dalam ceramah Kiai Ma’ruf. Pertama, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” celetuk Cak Lontong dibarengi ger-geran hadirin.?

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyolan Cak Lontong di Harlah NU, Bikin Ngakak

“Kedua, Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh...” celetuknya. Hadirin tambah ngakak.?

Cak Lontong juga mengapresiasi NU masih tetap mempunyai semangat yang sama dalam memperingati berdirinya organisasi.

“Kenapa saya menilai masih mempunyai semangat yang sama? Terbukti malam ini Harlah NU diperingati dengan cara berdiri,” ujarnya. Hadirin ngakak. Malam itu memang warga NU yang hadir mayoritas berdiri mengelilingi panggung hingga meluber ke dalam dan ke luar Gedung PBNU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia juga mengaku mempunyai ikatan emosional dengan NU. Bahkan Cak Lontong mengatakan dirinya NU sejak kecil.

“Saya NU sejak kecil. Jadi kalau anak lain Nakal, saya NUakal,” tukasnya disambut tawa hadirin yang makin terkocok perutnya oleh pria kelahiran Surabaya ini. Dialek Jawa Timuran memang sering menambahi huruf vokal “U” di tengah kata untuk menunjukkan penegasan.

Komedian yang mengisi berbagai sejumlah program comedian? show di beberapa televisi nasional ini juga bersyukur menjadi warga NU.?

“Kenapa saya merasa berterima kasih kepada PBNU? Karena Ormas yang ada Pengurus Besarnya hanya NU, yang lain biasanya hanya Pengurus Pusat. Ini Pengurus Besar, jadi saya yang besar ini merasa diurusi oleh NU,” Geerrrr, tawa hadirin memecah malam. Badan Cak Lontong memang tinggi dan besar.

Cak Lontong juga salut kepada NU yang merupakan Ormas Islam terbesar bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau dibandingkan dengan UN, United Nations, PBB saja, lebih hebat NU menurut saya. Kenapa? Karena kalau UN, itu hanya mengurusi perdamaian dunia, tapi NU mengurusi umatnya agar selamat dunia dan akhirat,” tukas Cak Lontong. Tawa gerrr hadirin tambah memecah kesunyian malam.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Ulama Harus Bisa Kendalikan Masyarakat

Kendal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ulama dituntut tidak hanya paham agama tetapi juga harus bisa mengendalikan masyarakat. Untuk itu ulama harus juga memahami masalah ekonomi, budaya maupun politik.

Demikian dikatakan Ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat memberikan pengarahan pada acara pelantikan PCNU Kendal di Pendopo kabupaten Kendal, Ahad (2/9) kemarin.

Dicontohkan, di Timur Tengah, ulama sukses memahami agama tapi gagal mengendalikan masyarakat. Akibatnya ketika terjadi krisis di Syuriah, Mesir maupun Irak, mereka tidak bisa berbuat banyak. Ini berbeda dengan di NU, yang ulamanya relatif masih mampu mengendalikan masyarakat sehingga NU sering menjadi rujukan berbagai pihak dalam menangani berbagai krisis.

Ulama Harus Bisa Kendalikan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Harus Bisa Kendalikan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Harus Bisa Kendalikan Masyarakat

“Ulama mempunyai tanggung jawab berat tidak hanya dalam persoalan pemahaman agama namun  juga dalam mengendalikan masyarakat. Dalam masalah agama ulama dituntut mampu memahami agama dengan benar sekaligus memberikan pemahaman yang benar tentang agama kepada masyarakat,” kata Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siroj.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tengah masyarakat, ulama juga dituntut bisa mewarnai berbagai lini kehidupan. Disini ulama juga harus paham berbagai persoalan di luar bidang agama.

“Ulama juga perlu tahu bursa saham, perbankan dan seterusnya, tidak hanya diberi bagian bicara pada acara yang kelima , yakni pembacaan do’a,” celetuk Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditegaskan pula ulama juga dituntut tidak sekedar bisa bicara. Sebab menurutnya saat ini jamanya ketika bicara tidak mudah dipercaya ketika belum ada bukti dan hasil penelitian yang meyakinkan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Fahroji 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masjid Teja Suar Batal Dijual

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah mendapatkan kritikan pedas dari banyak kalangan termasuk Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), rencana penjualan masjid Masjid Teja Suar yang terletak di Jalan Tuparev Kota Cirebon akhirnya dibatalkan.

Masjid Teja Suar Batal Dijual (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Teja Suar Batal Dijual (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Teja Suar Batal Dijual

Meski demikian, IPNU Kabupaten Cirebon tetap berniat melanjutkan aksi penggalangan koin peduli. Setelah menggelar aksi dengan memperoleh uang koin sebesar 765 ribu rupiah, Selasa (26/11) lalu, mereka kembali menggelar aksi yang sama di perempatan Plered Kabupaten Cirebon, Kamis (28/11) hari ini.

Koordinator aksi, Mohammad Ayub menjelaskan, aksi ini harus tetap berlanjut sebelum terdapat berita yang lebih terang. Ia mengkhawatirkan bahwa kasus penjualan masjid ini akan tenggelam jika tidak dilakukan aksi secara berkesinambungan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Minimal kami memberikan sanksi moral atau memberikan aba-aba kepada setiap pihak yang berkeinginan memperjual-belikan tempat beribadah,” ungkap Ayub.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Wahyono, Ketua PC. IPNU Kabupaten Cirebon mengatakan bahwa perkembangan isu ini bisa melahirkan beberapa kemungkinan, sehingga ia bertekad untuk terus melakukan aksi galang koin peduli Masjid Teja Suar.

“Sehari yang lalu kami mendengar kabar Masjid Teja Suar telah resmi dijual, sedangkan hari ini berubah lagi, katanya ada pembatalan. Karena itu kami tetap teguh untuk melanjutkan aksi simpatik ini, agar tidak terkecoh oleh kabar-kabar yang hadir dan belum tentu kejelasannya,” jelas Wahyono.

Aksi penggalangan koin peduli Masjid Teja Suar ini dilakukan dengan mendatangi para pengguna jalan untuk turut berpartisipasi dengan memberikan uang kecilnya ke dalam dus yang telah disediakan. Untuk aksi lanjutan ini direncanakan akan digelar pada pukul 14.00 wib, sore nanti.

Batal Dijual

Isu penjualan masjid yang berdiri di atas lahan seluas 3000 m ini mendapatkan perkembangan baru. Beberapa media lokal di Cirebon maupun nasional mengabarkan bahwa pihak penjual akan berusaha membatalkan transaksi yang memang telah dilakukan.

Hal itu diungkapkan Ketua Muhamadiyah Kota Cirebon, Kosasih Natawijaya. Ia mengaku, mendapat informasi itu langsung dari Cicih, yang merupakan istri dari pemilik Masjid Teja Suar, H Saelan.

"Saya dengar langsung dari Ibu Cicih, beliau meminta doa akan berusaha mengembalikan masjid Teja Suar ke posisinya semula,’’ ujar Kosasih, Rabu (27/11).

Ketika ditanyakan mengenai nilai jual maupun proses pembayaran masjid Teja Suar, Kosasih mengaku tidak tahu. Dia menyatakan tidak tahu apakah pembeli baru sebatas memberikan uang muka, atau membayar separuh harga atau malah membayar lunas.

"Yang pasti pihak keluarga saat ini sedang berjuang untuk mengembalikan masjid ke posisinya semula dan akan mewakafkannya," kata Kosasih menegaskan.

Sebelumnya, Masjid Teja Suar yang didirikan pada tahun 1976 dan diresmikan oleh Buya Hamka tersebut oleh pewakafnya berniat dijual untuk dialih-fungsikan sebagai showroom, kontan kasus ini menuai banyak protes, termasuk dari Ketua PWNU Jawa Barat, H Eman Suryaman serta Ketua MUI Kabupaten Cirebon, KH Ja’far Aqil Siroj.

“Haram hukumnya dan tidak dibenarkan. Apalagi sudah dibangun masjid, tentu secara otomatis dijadikan sebagai wakaf. Kalau sudah wakaf ya tidak boleh dijual,” tegas Kiai Ja’far. (Sobih Adnan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010

Damaskus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sidang konfercab (konfrensi cabang) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Suriah-Lebanon pada tanggal 4 Oktober 2008 menghasilkan kepengurusan baru di bawah pimpinan Muhammmad Zainul Haq, Lc. (29th) sebagai rais syuriyah dan  Ahmad Fajar Inhadl (25th) sebagai ketua tanfidzyiah.

Muhammmad Zainul Haq, Lc (29) adalah lulusan Syaikh Ahmad Kaftaro College dan mahasiswa tingkat akhir Universitas Damaskus Fakultas Syariah sedangkan Ahmad Fajar Inhadl (25th) mahasiswa tingkat akhir Syaikh Ahmad Kaftaro College.

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010 (Sumber Gambar : Nu Online)
Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010 (Sumber Gambar : Nu Online)

Duet Zainul-Fajar Pimpin PCINU Suriah-Lebanon 2008-2010

Kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di Suriah Nurul Maksumi melaporkan sidang konfercab juga menetapkan poin-poin rekomendasi eksternal yang akan ditujukan kepada PBNU. Diantara poin-poin tersebut antara lain supaya PBNU melalui jaringan ICIS-nya untuk semakin mengoptimalkan usaha-usaha untuk mewujudkan perdamaian dunia, mengupayakan pelurusan terhadap berbagai pemikiran yang menyimpang dari kaidah-kaidah asasi keislaman, dan memberi himbauan kepada para kiai dan tokoh-tokoh keislaman untuk lebih memperhatikan pembinaan masyarakat dan pesantren daripada berkecimpung  dalam kancah politik praktis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara ini dibuka resmi oleh Duta Besar RI untuk negara Suriah H. Muhammad Muzammil Basyuni pada pukul 15.50 waktu setempat. Dalam pidato sambutannya ia berpesan hendaknya PCI NU Suriah-Lebanon dapat menjadi tamu yang baik di Suriah dan Lebanon dengan mengedepankan Tawassuth, Tasamuh dan Tawazun.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Mustasyar PCI NU Suriah-Lebanon, H. Abdurahman Na’im menegasakan tentang sumbangsih jamiyah NU yang tak terhingga bagi bangsa Indonesia dari semenjak negara ini belum berdiri hingga sekarang.

Pemekaran Ditolak

Usulan pemekaran NU Suriah-Libanon akhirnya ditolak setelah melalui perdebatan sengit sehingga keberadaannya tetap PCI NU Suriah-Lebanon dengan alasan mempertimbangkan aspek ukhuwah di antara warga nahdliyyin, dan minimnya jumlah nahdliyyin di Lebanon. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kyai, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 08 November 2017

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara

Oleh Inggar Saputra

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Meski Islam hadir pertama kali di Arab Saudi, tapi berkat perjuangan para pedagang dan ulama, agama ini mampu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Islam di Indonesia mampu menciptakan akulturasi dengan menyerap spirit perjuangan masyarakat lokal. Penyatuan Islam dan kearifan lokal ini yang sering disebut Islam Nusantara.

Konteks Indonesia, salah satu penyebar Islam yang penting adalah ulama khususnya Wali Sanga di Tanah Jawa. Mereka (Wali Sanga) merupakan sembilan ulama yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan, moderatisme, penuh nilai toleransi dan kedamaian. Wali Sanga adalah pejuang Islam, pendidik dan ulama yang membawa nilai Islam yang mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Dengan prinsip mempertahankan budaya atau tradisi yang lama dan baik, serta memasukkan nilai Islam yang awalnya dianggap asing, masyarakat membuka tangannya sehingga dakwah Wali Sanga berjalan sukses dan masyarakat ramai-ramai memeluk Islam.

Salah satu Wali Sanga yang cukup dikenal masyarakat Indonesia adalah Sunan Kalijaga, seorang anak pejabat yang menyebarkan Islam dengan model kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan nilai lokal. Melalui kearifan lokal berbentuk pembangunan masjid Agung Demak, kesenian wayang bernuansa Islami dan tembang/lagu Ilir-ilir, dakwah Sunan Kalijaga mampu mendapatkan hati dan tempat terbaik di kalangan pengikutnya. Ini membuktikan bahwa proses Islam Nusantara yang menggabungkan kebudayaan lokal dan Islam sudah berlangsung sejak dulu sebagaimana sukses dipraktekan Sunan Kalijaga.

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Model Dakwah Kebudayaan Sunan Kalijaga dalam Syiar Islam Nusantara





Memahami Islam Nusantara

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Islam sebagai sebuah agama mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia diberikan akal pikiran dan wahyu yang berfungsi membimbing manusia dalam perjalanan hidupnya (Azyumardi Azra: 1998) Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui perantara Nabi Muhammad Saw. Tujuan dakwah Islam bersifat universal, bukan monopoli suku, daerah atau bangsa tertentu sehingga kehadiran Islam menembus sekat geografis antar negara.?

Meski begitu Islam tidak lahir dari ruang kosong, melainkan selalu mampu berdialog dengan kearifan lokal termasuk budaya dan peradaban manusia Indonesia. Perpaduan budaya ini berjalan saling menegasikan, mempengaruhi dan menyempurnakan sehingga terbentuk pemahaman Islam Nusantara. Hasil interaksi Islam dan budaya lokal pada akhirnya akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu Islam mewarnai mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, kemungkinan kedua adalah Islam yang justru diwarnai budaya lokal (Simuh: 2003)

Dalam perjalanannya di Indonesia, ajaran Islam sudah terbukti mampu mewarnai, mempengaruhi dan mengubah budaya lokal dengan penuh kedamaian dan toleransi. Para ulama sejak dulu mengajarkan Islam sebagai agama yang anti kekerasan. Penyebaran Islam ditempuh dengan dialog penuh kebaikan, dakwah penuh keberkahan, pernikahan ulama atau pedagang dengan penduduk setempat dan akulturasi kebudayaan lokal dengan ajaran Islam. Secara perlahan Islam mengikis kepercayaan yang bersifat mistis dan tahayul digantikan gagasan rasional dan penuh kesucian. Dengan berbagai kelebihan itu, Islam di Nusantara dapat berkembang pesat dan diterima masyarakat secara luas.

Islam di Nusantara jelas bukan sebuah agama yang baru, sebab perkembangan Islam sudah dibawa pedagang dan ulama sejak masa kerajaan Hindu-Buddha masih dominan mempengaruhi pemikiran masyarakat di Indonesia. Islam Nusantara bersifat akomodatif dan inklusif dalam mengintegrasikan nilai universal Islam dan peradaban lokal Indonesia yang hidup dan tidak bertentangan dengan Islam. Ini penting ? dalam melahirkan kembali karakter positif manusia Indonesia seperti toleran, moderat, damai, ramah tamah, gotong royong dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Islam menyerap spirit kearifan lokal yang baik dan meminggirkan secara halus kepercayaan atau keyakinan yang bertentangan dengan syariat Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejatinya setiap muslim yang secara sadar mendeklarasikan syahadat akan terhindar dari sifat adigang adigung adiguna. SIfat negative harus dihilangkan dan digantikan semangat menghargai perbedaan keyakinan, tidak diskriminatif, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika serta menjauhikan sifat ekslusif dan superior di antara manusia lainnya ? (Ishom Yusqi, 2015). Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara nash syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal (Afifuddin Muhajir, 2015).

Untuk lebih memperjelas makna Islam Nusantara maka dapat digambarkan dalam dua kata, Islam dan Nusantara. Islam adalah ajaran samawi (langit). Nusantara adalah tradisi ardhi (bumi). Maka secara sederhana Islam Nusantara dapat diartikan sebagai ajaran langit yang membumi. Islam Nusantara bukan soal menilai buruk dan salah pada yang lain. Tapi lebih tentang di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. ? Menjadi Nusantara adalah hal yang paling manusiawi bagi manusia Nusantara. Dilahirkan sebagai anak Nusantara, berakar kebudayaan negeri sendiri, berkebangsaan bangsa sendiri, dan menjadi diri sendiri. Bukan menjadi orang lain dengan justru kehilangan jati diri. Sebab, kehilangan terbesar adalah kehilangan diri sendiri (Candra Malik: 2015).

Dalam kacamata yang bersifat akademis Islam Nusantara mengacu kepada Islam di gugusan kepulauan atau benua maritim (Nusantara) yang mencakup Muslim Malaysia, Thailand Selatan (Patani), Singapura, Filipina Selatan (Moro), dan juga Champa (Kampuchea). Dengan cakupan seperti itu, Islam Nusantara sama sebangun dengan Islam Asia Tenggara (Southeast Asian Islam). Secara akademik, istilah terakhir ini sering digunakan secara bergantian dengan Islam Melayu-Indonesia (Malay-Indonesian Islam). Islam Nusantara bersifat inklusif, akomodatif, toleran dan dapat hidup berdampingan secara damai baik secara internal sesama kaum Muslimin maupun dengan umat-umat lain. (Azra: 2015)

Gagasan Islam Nusantara memang muncul selama dua tahun terakhir dan mulai populer di kalangan masyarakat setelah menjadi tema Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33 di Makassar. Ketika pertama kali didengungkan sebagai pemikiran progresif dan berjiwa ke-Indonesiaan pro kontra langsung berdatangangan sehingga memunculkan polemik panas dan berkepanjangan sesama umat Islam. Tidak sedikit kalangan memberikan label negatif kepada ide Islam Nusantara tanpa mau mendialogkan secara terbuka dan kritis-konstruktif dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut. Padahal Islam Nusantara sebagai inspirasi peradaban duniaberangkat dari empat pilar agung khas nahdiyin yaitu moderat, seimbang, toleran dan selalu berpihak kepada kebenaran. Gagasan Islam Nusantara juga terhitung progresif dan ilmiah sehingga harus terus disebarkan dan diupayakan dialog secara mendalam sehingga terwujud dalam kehidupan nyata.

Penulis berpandangan gagasan ini berangkat dari dua aspek keilmuan yang cukup penting yaitu aspek sejarah dan aspek kebudayaan. Sejarah panjang Islam di Indonesia menempatkan ulama sebagai titik sentral dalam teladan membagikan pengetahuan Islam kepada masyarakat. Konteks ini, ulama dianggap sebagai tempat bertanya dan referensi utama masyarakat dalam persoalan kehidupan sehari-hari dan spritualitas-keagamaan. Dengan kedudukan strategis itu, peran ulama dinanti dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ulama adalah tokoh penting dalam menanamkan aqidah, tempat bertanya masalah dunia dan akhirat serta rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Mengingat pentingnya peran itu, para ulama adalah pelaku sejarah dalam usaha menyebarkan Islam di Indonesia. Ulama adalah manusia yang dimuliakan masyarakat karena pengetahuan beragama yang kuat dan mendalam sehingga seringkali kekuasaan ulama sangat besar meliputi kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat. Konteks ini, ulama dalam artian kiai dan wali khususnya Wali Sanga di Jawa memiliki kemampuan untuk menstruktur tindakan orang lain dalam bidang ke-Islaman sesuai dengan keyakinan agamanya. Kemampuan itu meliputi pengetahuan ke-islaman, mengamalkan ajaran Islam dengan tertib dan konsisten menjalankan ajaran Islam sehingga merasakan dekat dengan Allah (Busthami: 2007)

Aspek budaya, sulit sekali melupakan bagaimana ulama berusaha menempatkan dakwah Islam dalam konteks kearifan lokal sehingga penerimaan masyarakat dapat berjalan baik. Para ulama memahami dan mengakui Islam berasal dari Arab sehingga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab. Tetapi untuk dapat diterima masyarakat Indonesia, Islam harus mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan kebudayaan setempat (budaya suku atau kelompok masyarakat di Indonesia). Apalagi diketahui pengaruh animisme dan penyebaran agama Hindu dan Buddha masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga kreatifitas dalam berdakwah diperlukan agar tidak tercipta pergolakan dan penolakan keras masyarakat setempat terhadap keagungan ajaran Islam.

Sejarah mempertontonkan bagaimana kreatifitas ulama berkembang dalam hal kebudayaan melalui sarana lokal seperti lagu, budayam wayang dan lainnya. Para ulama menganut prinsip mempertahankan tradisi atau kebudayaan yang lama dan baik, dan secara perlahan mengenalkan budaya baru yang lebih baik dan sesuai syariat Islam. Dalam hal ini, kita melihat bagaimana Islam dikenalkan dengan tanpa adanya paksaan. Kebudayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat tetap kedudukan yang tepat bersanding dengan ajaran Islam yang agung dan inspiratif.?

Wali Sanga dan Islamisasi Jawa

Proses Islamisasi di tanah Jawa tidak terlepas dari jasa para ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Munculnya Wali Sanga mengakhiri dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka (Wali Sanga) adalah simbol penyebaran Islam di tanah Jawa dan berperan penting dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa (Solikin, Syaiful dan Wakidi: 2013) Wali Sanga berjumlah sembilan yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Para ulama ini memiliki hubungan dekat baik hubungan darah maupun hubungan guru dengan muridnya. Maulana Malik Ibrahim merupakan wali sanga tertua, memiliki anak Sunan Ampel dan keponakan Sunan Giri. Sunan Ampel dan istrinya melahirkan Sunan Drajad dan Sunan Bonang. ? Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga (murid dari Sunan Bonang). Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Sunan Kudus menjadi murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.?

Para ulama hebat ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan dan umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak awal abad 15 hingga pertengahan abad 16,. Mereka bermukim di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah simbol intelektual agamis yang berperan strategis dalam membentuk peradaban Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan yang menyatukan Islam dan kearifan lokal, dakwah Wali Sanga mampu memikat hati masyarakat sehingga banyak kalangan baik raja dan rakyat jelata masuk Islam dengan kesadaran sepenuh hati dan tidak dipengaruhi paksaan pihak manapun.?

Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi yang mirip panitia ad hoc (kabinet) dalam urusan mengislamkan masyarakat Jawa. Setiap wali bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau Nayaka (menteri) yang sering berkumpul bersama dalam sebuah rapat dalam membahas tugas dakwah Islam yang sedang diperjuangkannya. Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi berperan penting dalam pembangunan Masjid Demak yang dilaksanakan secara gotong royong (Widji Saksono: 1996)

Dalam kegiatan dakwahnya Wali Sanga menggunakan pendekatan bijaksana dan disesuaikan dengan pemahaman (pengetahuan masyarakat setempat terhadap Islam itu sendiri. Sunan Kalijaga misalnya membuat gamelan Sekaten yang kemudian dilanjutkan acara Sekaten (Syahadatain) di Masjid Agung. Dalam kesempatan lain, Sunan Kudus membuat lembu dengan hiasan unik dan menarik sehingga mengundang minat masyarakat luas untuk lebih mengenal Islam secara mendalam. Para Wali Sanga juga menggunakan kreasi lain seperti beduk atau kentongan sebagai tanda dimulainya waktu sholat lima waktu. Mengingat adzan yang diteriakkan melalui menara masjid terkadang kurang efektif dan komunikatif (Mastuki: 2014)

Model Dakwah Sunan Kalijaga?

Sunan Kalijaga (nama kecil, Raden Said) merupakan salah satu Wali Sanga yang terkenal dan dilahirkan tahun 1455 Masehi. Sunan Kalijaga memiliki darah keturunan ningrat mengingat ayahnya Arya Wilatika adalah Adipati Tuban keturunan dari Ranggalawe. Ada beragam versi mengenai nama Sunan Kalijaga, dimana masyarakat Cirebon berpendapat nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon mengingat dirinya pernah bertempat tinggal di Cirebon. Sebagian kalangan mengaitkan dengan tugas menjaga Kali yang diberikan gurunya (Sunan Bonang) sebagai ujian kesetiaan dan keseriusannya dalam belajar agama Islam. Tapi ada pula yang menilai nama itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan (Darmawan: 2011)

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga menyerap semangat kultural masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Untuk mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Kalijaga memilih jalur kebudayaan dan kesenian sebagai media dan sarana dakwah sehingga cepat menyerap dan diterima secara hangat oleh masyarakat pada zamannya. Sunan Kalijaga menjadi teladan terbaik dalam penyesuaian Islam dengan budaya lokal, berdasarkan prinsip mempertahankan yang lama dan baik, serta mengambil yang baru dengan lebih baik (Anif Arifani: 2010) sehingga ajaran Islam masuk ke dalam struktur berpikir masyarakat secara halus dan secara perlahan menghilangkan tradisi masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam. Dakwah Sunan Kalijaga banyak sekali mendapatkan pengikut dari kalangan masyarakat menengah ke bawah (rakyat jelata).?

Sunan Kalijaga berpendapat jika diserang prinsip yang selama ini dipegang secara teguh (keyakinan Hindu-Buddha) masyarakat akan menjauh. Sehingga diperlukan dakwah secara bertahap sebab jika Islam sudah berhasil dipahami masyarakat, maka kebiasaan lama yang bertentangan dengan syariat akan hilang. Maka dapat disebut ajaran Sunan Kalijaga cenderung sinkretis dalam mengajak orang lain mengenal Islam. Beliau menciptakan berbagai media dakwah yang kreatif dan efektif. Ini menyebabkan dakwah di kalangan rakyat semakin meluas dan tak sedikit pula para petinggi kerajaan yang tertarik dengan dakwahnya. Beberapa diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak (Afifudin Muhajir: 2015). Secara umum banyak sekali sarana dakwah kreatif dari Sunan Kalijaga, tapi beberapa diantaranya yang fenomenal ada tiga yaitu masjid Demak, wayang dan lagu.

Pecahan Kayu Masjid Agung Demak

Diceritakan bagaimana para wali bergotong royong dalam membangun Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga mendapatkan tugas membuat satu dari empat tiang masjid. Dalam menjalankan tugas itu, beliau menggantikan balok kayu besar dengan pecahan kayu yang biasa disebut tatal. ? Sunan Kalijaga menyusun dan melekatkan bagian potongan kayu dengan lem dammar, kemenyan dan blendok. Tidak disangka sampai sekarang, tiang darurat itu masih bertahan kokoh (Sudarsono: 2010)?

Adanya soko tatal diartikan sebagai lambang spritualitas, persatuan dan kerukunan mengingat dalam membangun Masjid Agung Demak sempat terjadi perpecahan dalam masyarakat Islam. Dalam kondisi itu, Sunan Kalijaga mendapatkan petunjuk untuk menyusun tatal yang ada menjadi tiang yang kuat dan kokoh. ? Pemahaman filosofis tatal adalah jika umat Islam bersatu maka akan menjadi kuat dan jangan pernah sekalipun sesuatu yang sifatnya sisa seperti tatal. Dalam pengertian ini, Sunan Kalijaga mengajarkan makna Islam Nusantara dalam aspek bergotong royong, persatuan dan saling tolong menolong sebagai kunci sukses dunia dan akhirat. Aspek ini sesuai dengan jiwa kebangsaan yang menjadi variabel turunan dalam memaknai konsep Islam Nusantara.

Sampai sekarang Masjid Agung Demak banyak dikunjungi muslim seluruh Indoensia dan menjadi pusat agama terpenting di tanah Jawa. Islamisasi di Jawa termasuk daerah pedalaman banyak berawal dari syiar masjid bersejarah ini. Masjid Agung Demak bukan saja berkembang sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belum menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran besar Islam. (Siami Fitri: 2007)

Wayang dan Azimat Kalimasada

Wayang adalah sebuah kosakata asli bahasa Jawa yang berarti “bayang” atau “bayang-bayang” berasal dari akar kata ‘yang’ dan mendapat awalan ‘wa’ menjadi kata wayang (Darori Amin: 2000). Masyarakat Jawa sebelum kedatangan agama Hindu-Buddha sudah terbiasa melakukan pertunjukkan wayang untuk memanggil roh nenek moyang. Pada masa Hindu-Buddha, wayang semakin berkembang dengan munculnya wayang kulit dan cerita dewa-dewa dalam mitologi kedua agama tersebut. Ketika Islam masuk ke Indonesia, wayang mulai mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islami.

Sunan Kalijaga menyaksikan bagaimana masyarakat sangat menyukai wayang sehingga melihat ada peluang berdakwah dengan kesenian wayang. Pemikiran itu mendorongnya untuk mempopulerkan wayang yang sesuai syariat Islam. Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan Dewa Ruci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada (Imron Amar: 1992)?

Ada dua alasan mendasar mengapa Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk menyebarkan agama Islam. Pertama, wayang adalah ciri khas seni yang halus dan mudah diterima masyarakat secara luas. Secara normatif, Sunan Kalijaga sudah menjalankan Islam Nusantara dengan konsep moderatisme dengan mengajak seseorang masuk Islam tanpa kekerasan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyatakat sekitarnya. Kedua, pemakaian seni wayang menunjukkan kehebatan Sunan Kalijaga dalam menghidupkan tradisi atau budaya setempat yang berkorelasi dengan nilai Islam. Tercipta usaha mendialogkan dan mengkompromikan ajaran Islam dengan kebiasaan yang berkembang dan disenangi masyarakat setempat.

Dalam mengajak penonton wayang, Sunan Kalijaga mengganti biaya masuk yang umumnya membayar uang dengan membaca kalimat syahadat. Secara kreatif para tokoh wayang yang identik dengan kepahlawanan Hindu diganti nama rukun Islam yang lima. Yudhistira digambarkan sebagai dua kalimat syahadat sebab tokoh ini diberikan pusaka (azimat) Kalimasada yang mampu melindungi dirinya dalam menghadapi serangan lawannya. (Purwadi: 2003). Bima yang kekar, tegak dan kokoh digambarkan sebagai shalat. Shalat adalah tiang agama, maka seorang muslim yang tidak menjalankan shalat akan meruntuhkan tiang agama. Arjuna yang senang bertapa digambarkan sebagai puasa sebagai proses menahan lapar, haus dan nafsu syahwat duniawi lainnya. Nakula dan Sadewa dipandang sebagai symbol zakat dan haji (Ahmad Chadjim: 2003)?

Lagu Ilir-Ilir

Lagu Ilir-Ilir merupakan salah satu tembang yang diciptakan SUnan Kalijaga dan cukup populer hingga sekarang. Pada masa dahulu, lagu ini sering dinyanyikan anak desa terutama pada malam purnama. Tanpa disadari, terdapat makna filosofis mendekat kepada Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dalam tembang ini. Muncul sikap optimistik agar seorang muslim memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal hari kiamat nanti. Para ahli tafsir menilainya sebagai sarana penyiaran agama Islam secara damai, tanpa paksaan dan kekerasan. Toleransi di dalam menyiarkan agama Islam sangat jelas sehingga terjadi asimilasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal setempat. (Hariwijaya: 2006).?

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar

Cah angon –cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodot iro

Dodotiro-dodotira, kumitir bedah ing pinggir

Dondomano jrumantana, kango sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane , mumpung padhang

rembulane

Suraka surak horeeeee.

Adapun makna yang terkandung dalam lagu lir-ilir tersebut, dalam catatan Hasyim Umar, adalah sebagai berikut:

Lir-ilir, lir ilir tandure wisa sumilir (Makin subur dan tersiramlah agama Islam yang disiarkan wali dan muballigh). Tak ijo royo-royo, tak sengguh kemanten Anyar (Hijau adalah warna lambang dari agama Islam yang dikira pengantin baru sehingga menarik perhatian masyarakat). Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi (Cah angon/penggembala adalah penguasa yang diharapkan mampu menggembalakan rakyat agar masuk Islam, sementara buah belimbing mempunyai segi atau kulit yang mencuat berjumlah lima yaitu lambang rukun Islam) Lunyu-lunyu penekno, kanggo masuh dodotiro (Walaupun licin, sukar, tetapi usahakanlah agar dapat (agama Islam) agar mampu mensucikan dodot. Dodot adalah sejenis pakaian yang dipakai orang-orang atasan (trahing ngaluhur/? jaman dulu) Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir (Pakaian dan agamamu sudah robek karena dicampuri kepercayaan animisme dan upacara suci yang bertentangan dengan ajaran Islam) Dandomono jrumantana, kanggo sebo mengko sore (Agama yang rusak itu harus diperbaiki dengan agama Islam untuk menghadap Tuhan nanti sore) Mumpung jembar kalangane, mumung padhang rembulane (Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan bertobat kepada Tuhan) Suraka surak horeeee (Bergembiralah kalian moga-moga mendapat anugerah dari Tuhan).?

Melalui lagu ini, Sunan Kalijaga mengakak setiap muslim termasuk pemimpin kerajaan saat itu untuk memeluk Islam meskipun dalam menumbuhkan dan menyuburkannya terdapat banyak sekali kesulitan dan tantangan. Tapi jika tidak putus asa, maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Mengapa Sunan kalijaga memberikan dakwah kepada pemimpin atau raja? Sebab mereka adalah teladan yang ditiru dan dicontoh masyarakat. Perkataan dan tindakan pemimpin akan menjaci acuan bagi rakyatnya sehingga jika pemimpinnya masuk Islam, maka rakyat akan mudah mengikutinya.?

Penulis adalah Finalis Kompetisi Penulisan Esai,? International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock