Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

PP LP Maarif NU Kukuhkan Pemimpin Baru

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Pusat LP Maarif NU mengkukuhkan ketua umum baru PP LP Maarif NU untuk masa khidmat 2012-2015, di Kantor PBNU lantai lima Jakarta Pusat, Rabu (16/1) siang. Pengukuhan dan pelantikan ini dihadiri oleh Marsudi Syuhud, Sekretaris Umum PBNU.

PP LP Maarif NU Kukuhkan Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LP Maarif NU Kukuhkan Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LP Maarif NU Kukuhkan Pemimpin Baru

Pelantikan ditandai dengan serah terima jabatan oleh Mansyur Ramly, Ketua Umum PP LP Maarif NU masa khidmat 2009-2012 kepada KHZ. Arifin Junaidi, Ketua Umum baru. Sedikitnya 25 pengurus harian LP Maarif NU turut menyaksikan pelantikan ketua umum baru.

Upacara pelantikan ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran dan selawat Nabi Muhammad SAW. Seremoni dilanjutkan dengan pembacaan berita acara oleh Zamzami, Sekretaris baru LP Maarif NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara isi berita acara menyebutkan, penyerahan kepengurusan oleh Mansyur Ramly, Mamat Burhanuddin, dan Khoiron, jajaran pengurus lama sebagai pihak pertama kepada KHZ. Arifin Junaidi dan Zamzami, pengurus baru sebagai pihak kedua.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Usai pembacaan berita acara, pihak pertama dan pihak kedua menandatangani surat serah terima jabatan. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Marsudi Syuhud, Sekretaris Umum PBNU.

Untuk melengkapi acara, panitia memberikan kesempatan bagi Mansyur Ramly, KHZ. Arifin Junaidi, dan Marsudi Syuhud untuk menyampaikan kata sambutan. Upacara pelantikan dan pengukuhan kepengurusan baru LP Maarif NU diteruskan dengan pembacaan SK PBNU untuk LP Maarif NU. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Sri Mulyati.

“Kami mohon bantuan pengurus harian dalam mengemban amanah kepengurusan ini. Dalam berkhidmat untuk NU pun, saya mengaharapkan bapak Mansyur Ramly yang kini sebagai penasehat Maarif NU untuk membimbing kami,” kata Arifin dalam sambutannya.

Upacara diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum baru LP Maarif NU untuk masa khidmat 2012-2015.

Redaktur: Sudarto Murtaufiq

Penulis: Alhafiz Kurniawan


Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Alissa Wahid Isi Kelas Pemikiran Gus Dur di Bandung

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Puteri sulung Presiden ke-4 RI, Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa Wahid) menjelaskan ihwal Sembilan nilai Gus Dur yang selama ini menjadi landasan perjuangannya.

“Kesembilan nilai itu adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, kearifan lokal/tradisi,” ujar Alissa saat menjadi narasumber pada Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) yang diselenggarakan oleh Gusdurian Bandung di Aula Dakwah Kantor PWNU Jawa Barat, Jalan Galunggung, Kota Bandung, Ahad (15/1).

Alissa Wahid Isi Kelas Pemikiran Gus Dur di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Isi Kelas Pemikiran Gus Dur di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Isi Kelas Pemikiran Gus Dur di Bandung

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga berharap kepada segenap generasi muda jangan hanya bangga pada sosok Gus Dur semata, melainkan meneladani nilai-nilai dan perjuangannya.

“Bagaimana generasi muda kemudian mampu menanamkan nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur, tapi kemudian janganlah bangga dengan sosok Gusdur melainkan kepada nilai-nilai yang diperjuangkannya, karena Gus Dur telah meneladankan kepada kita sehingga bisa diteruskan,” jelasnya.

Lebih jauh dirinya menjelaskan bahwa di Indonesia tidak bisa hanya membicarakan Islam saja atau Indonesia saja, melainkan harus seimbang dan harus disatukan bahwa Islam kita adalah Islam Indonesia.

“Konsep Islam Indonesia tentu bertujuan agar terwujud Islam yang Rahmatan lil Alamin. Dan mestinya kita harus sadar betul bahwa Nahdlatul Ulama (NU) ini adalah tulang punggung Islam di Indonesia,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kendati sebagai duta besar Islam di kancah dunia, Gus Dur dimata anaknya tersebut juga tidak melupakan bahwa Gus Dur berasal dari masyarakat desa dan tak ada bedanya dengan masyarakat pedesaan pada umumnya.

“Maka itu, Gus Dur ketika menghadiri pengajian-pengajian yang diselenggarakan di pelosok dan pedesaan, beliau sangat fasih dengan bahasa yang merakyat dan khas dengan gaya humorisnya sehingga beliau mudah diterima oleh masyarakat,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Adrian, anak umur 5 tahun pengidap Hepatitis B dan kanker hati, meninggal dunia Selasa (5/1). Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang turut menggalang dana untuk pengobatannya pun melakukan takziah ke kediaman keluarga Adrian di Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Pandeglang, Banten, Rabu (6/1).

Direktur Program dan Operasional Pengurus Pusat LAZISNU Nur Rohman bersama rombongan datang ke rumah duka sebagai bentuk ungkapan belasungkawa. Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda yang berhalangan hadir mengucapkan duka melalui sambungan telepon.

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Mereka disambut hangat ayah Adrian, Susanto, didampingi relawan dan mahasiswa Banten. Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU atas bantuan dan tali persaudaraan yang dijalin sebagai sama-sama keluarga besar NU. Dalam kesempatan itu LAZISNU menyerahkan dana santunan sebesar 5 juta rupiah hasil sumbangan dari masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rombongan dari LAZISNU menempuh perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju rumah duka. Medan yang sulit membuat waktu tempuh lebih lama dari yang diperkirakan. “Jalannya kayak kobangan kerbau di sawah,” kata Nur Rohman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah sudi membantu Adrian melalui rekening LAZISNU. Rohman berharap, bantuan menjadi amal ibadah yang membawa berkah bagi para dermawan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum meninggal dunia, Adrian sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia divonis dokter mengidap Hepatitis B dan kanker hati sehingga harus melakukan transplantasi hati dan karenanya membutuhkan biaya 1,2 miliar. Orang tuanya yang berpenghasilan 30 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani tak sanggup menanggung biaya itu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Sunnah, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Magelang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Hari kedua, Selasa (19/8), peserta Perkemahan Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional (Perwimanas) II mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas II Bergembira Ikuti Outbond di Alam Bebas

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai daerah dan terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pada outbond ini, para peserta diharuskan melewati berbagai tantangan yang sudah disiapkan oleh panitia.

Ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di tempat Outbond, Merisya Endora, yang memandu para peserta menjelaskan berbagai tantangan yang harus dilalui para peserta.

“Jadi kegiatan outbond pagi ini ada lima pos ya. Tantangan yang harus dilewati para peserta Pertama ada merayap jembatan dengan satu tali. Lalu merayap jembatan dua tali, setelah itu harus menaksir tinggi pohon dan menaksir lebar sungai,” jelas Merisya yang merupakan anggota Dewan Kerja Cabang Pramuka Temanggung.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tujuan yang bisa diambil dari outbond pagi ini, kata Merisya, para peserta dilatih untuk belajar kekompakan dan melatih mental setiap peserta.

“Mental mereka dilatih untuk bisa melewati setiap tantangan yang kita siapkan, selain itu biar antar peserta yang berasal dari berbagai daerah akrab dengan satu dan lainnya,” tambah Merisya.

Sementara itu, Rohmatul Fauzi peserta outbond dari SMK Ma’arif 2 Temon Yogyakarta megungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan outbond di alam bebas.

"Senang karena bisa menambah wawasan dan pengalaman. Selain itu bisa mendapat pelajaran banyak. Harapan saya, mudahan-mudahan generasi muda lulusan Ma’arif  dan lainnya bisa meneruskan cita-cita pendiri bangsa ini,” tegas Rohmatul Fauzi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal senada juga diungkapkan oleh Eka Melia Putri, Nur Hasanah dan Rani Suwardi peserta dari MA Muslimat NU Kalimantan.

“Banyak sekali pelajaran yang bisa kami dapatkan, seperti kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan dengan peserta dari daerah lain,” ujar Eka Melia Putri.

“Kami juga bisa belajar kebudayaan dari daerah lain. Jarang kami melihatnya langsung,” ungkap Rani Suwardi.

“Kami berharap bisa mengajarkan pelajaran yang kami dapatkan dari sini kepada teman-temann pramuka di sekolah kami di Kalimandan,” tegas Nur Hasanah.

Pada acara Perwimanas II kali ini, selain outbond para peserta diharuskan mengikuti berbagai kegiatan seperti giat wisata, giat bakti, dan giat wawasan. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

Temanggung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Jaringan GUSDURian Kabupaten Temanggung menyumbang belasan water torrent (tampungan air) jumbo untuk warga korban bencana kekeringan di Kabupaten Temanggung. Organisasi lintas agama ini juga menyumbang pompa air untuk masjid yang mengalami kerusakan pompa air untuk kebutuhan berwudlu.

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaringan Gusdurian Sumbang Water Torrent

Koordinator Jaringan GUSDURian Temanggung, Abaz Zahrotien, mengatakan bantuan water torrent dikirimkan ke Desa Tlogopucang dan Desa Wadas Kecamatan Kandangan dan Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran. Bantuan ini diberikan untuk wadah penampung dropping air dari pemerintah yang langsung disalurkan ke jerigen yang dibawa warga.?

"Kalau menggunakan jerigen langsung banyak air yang terbuang. Jadi kami berikan torrent dengan maksud untuk menampung air agar tertampung dengan baik," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan, bantuan tersebut diperoleh dari dana sumbangan para dermawan dari berbagai agama seperti Islam, Katolik, Budha, Hindu, Kristen dan Konghuchu. Dari dana yang terkumpul sebagian dibelikan water torrent dan sebagian lainnya dibelikan pompa air serta air bersih untuk digunakan warga.?

"Ini program tahunan kami dan semakin tahun ternyata donaturnya semakin besar. Kami berharap apa yang kami lakukan dapat mengurangi beban masyarakat," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Paroki Gereja Katholik Santo Petrus dan Paulus Temanggung, Petrus Santoso, menjelaskan, setelah mendapatkan peta potensi kekeringan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, pihaknya langsung mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di wilayah penghasil tembakau ini. Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan akan melakukan aksi sosial secara kolektif membantu korban bencana kekeringan.?

"Dalam hal ini kami tidak lagi memandang saya Katolik, anda Islam dan sebagainya, tetapi ini melihat sisi kemanusiaannya," imbuhnya.

Kepala Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Tohirin, menambahkan, pihaknya merasa sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan komunitas lintas agama ini. Menurutnya, apa yang dilakukan organisasi ini merupakan langkah strategis untuk membantu warganya yang selama musim kemarau mengalami krisis air.?

"Disini ada 9 dusun dengan jumlah jiwa lebih dari 7.000 orang. 90 persen diantaranya mengalami krisis air dan untuk mendapatkan air paling dekat harus menempuh jarak 13 kilometer sampai 20 kilometer," terangnya.

Pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk memberikan solusi permanen atas bencana ini. Menurutnya, pemerintah harus membuat lebih banyak sumur bor dan atau saluran air dari mata air yang tersedia.?

"Kita bisa mengambil air dari mata air di Sumowono (Kabupaten Semarang) untuk mengatasi kekeringan secara permanen," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Pesantren, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Warga bisa menikmati pemandangan pusat Kota Bandung dari ketinggian sekitar 87 meter melalui Menara Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat memasuki libur Lebaran 2016.

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Keindahan Bandung dari Menara Masjid Raya Saat Lebaran

Penjaga tiket Menara Masjid Raya Bandung Yayat Ruhiyat, Jumat, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan selama libur Lebaran ini yakni mencapai 1.000 orang per harinya.

"Kalau libur hari biasa paling banyak itu 400 orang, tapi satu hari setelah Lebaran kemarin jumlah pengunjungnya naik drastis yakni bisa 1.000 orang," kata Yayat sambil melayani pembelian tiket.

Untuk bisa naik ke Menara Masjid Raya Bandung, pengunjung harus antre dan kapasitas lift untuk menuju menara bisa menampung hingga 10 orang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Satu lift menampung sampai 10 orang, dari lantai dasar sampai ke puncak menara dibutuhkan waktu sekitar satu menitan," kata Yayat.

Selama libur Lebaran ini, harga tiket untuk menikmati pemandangan Kota Bandung dari Menara Masjid Raya Bandung adalah Rp5.000 per orang.

"Cuma selama libur Lebaran saja harga tiketnya menjadi Rp5.000. Tapi kalau hari bisa harga tiket untuk dewasa itu Rp4.000 dan anak kecil Rp3.000 ribu," kata dia.

Salah seorang warga yakni Asep Arif mengatakan ia sengaja naik menara tersebut karena ketika di atas menara dirinya bisa melihat pemandangan Kota Bandung secara keseluruhan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini saya datang sama sembilan anggota keluarga lainnya. Ada anak dan istri saya, mertua, orang tua saya sama adik saya. Sebenarnya sudah beberapa kali saya ke tempat menara ini dan kalau sudah sampai k puncaknya. Subhanallah lah pokoknya. Pemandangan Bandung dari atas indah pisan pokoknya," kata Asep. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang kembali akan melaksanakan pengabdian atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Thailand. Sebanyak lima mahasiswa UNHASY akan berbagi ilmu dengan para santri yang ada di negara gajah putih tersebut.

Sebagaimana KKN Internasional gelombang pertama, pada gelombang kedua ini tim seleksi UNHASY juga melakukan serangkaian test untuk menentukan mahasiswa yang akan diterjunkan langsung ke dunia pendidikan di Thailand.?

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

“Kami ingin menerjunkan mahasiswa UNHASY yang terbaik, sehingga bisa mengabdikan diri dan memberikan kontribusinya di Thailand. Karena membawa nama baik UNHASY juga,” ungkap Kepala ? Biro Administrasi Akademis Kemahasiswaaan UNHASY, Muhammad, Rabu (13/4).

Tim penguji terdiri dari Ahmad Faruq (Kepala LPPM UNHASY), Elisa Nurul Laili (Kepala Lembaga Bahasa UNHASY) dan Rusli Ilham Fadli (Dosen PBSI UNHASY). Selain itu, dua mahasiswa yang pernah mengikuti KKN Internasional Thailand gelombang pertama, Nuriyah Laili (Fakultas Tarbiyah) dan Hurun ‘Aiin KA (Fakultas Dakwah) juga turut menjadi tim penyeleksi.

Ada 11 mahasiswa yang mengikuti seleksi pada Selasa (12/4) kemarin. Seleksi wawancara meliputi motivasi diri, pengetahuan agama, kemampuan berbahasa Inggris, dan kemampuan mengajar (peer teaching).

Dari 11 mahasiswa yang lulus mengikuti seleksi KKN Internasional di Thailand adalah Alif Zakiyatul Fikriyah (Fak. Ilmu Pendidikan), Ani L. Arias Sholehah (Fak. Tarbiyah), Fina Fastaqima (Fak. Ilmu Pendidikan), Ririn Cahyani dan Siti Fatimatuz Zahro (Fak. Tarbiyah)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kelima mahasiswa ini akan menjalani KKN Internasional selama 5 bulan. Program KKN tersebut merupakan hasil kerjasama UNHASY dengan Abroad Alumni Association of Sourthern Border Provinces, yaitu sebuah persatuan alumni luar negeri di Thailand Selatan yang fokus kegiatannya dalam hal pendidikan dan dakwah. (Machtumah Malayati/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, RMI NU, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Karawang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berangkat dari rasa tanggung jawab organisasi untuk menciptakan kader  yang memiliki kapasitas intelektualitas serta menjadi kader penggerak, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) dan PW Ikatan Pelajar Putri Nahldatul Ulama (PW IPPNU) Jawa Barat melaksanakan Pendidikan Pengkaderan Latihan Intsruktur (Latin) dan Latihan Pelatih (Latpel). 

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PW IPNU IPPNU Jabar Cetak Muharik Organisasi

Kedua kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Arrohmah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, 22-25 Desember 2017. 

Ketua Pelaksana Sahrul mengatakan kegiatan diikuti 150 peserta dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

“Kader yang hadir juga merupakan kader-kader terpilih dan terbaik yang diutus dan diseleksi dari masing-masing cabang, sehingga kegiatan tersebut dijadikan momentum silaturahim gagasan dan konsolidasi gerakan IPNU IPPNU se-Jawa Barat,” kata Sahrul, Jumat (22/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengatakan banyak pembahasan yang menarik untuk merumuskan strategi gerakan ke depan.

“(Adanya) tugas dan tantangan, IPNU IPPNU dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan dan tren tanpa kehilangan jati diri sebagai IPNU dan IPPNU,” lanjut Sahrul.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziad Ahmad mengatakan kegiatan ini sebagai wujud peneguhan dan keseriusan dalam menjalankan proses kaderisasi formal IPNU/IPPNU.

“Latihan Intruktur (Latin) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri (IPNU/IPPNU) sebagaimana kita pahami adalah fase pengkaderan instruktur untuk membangun dan memperkuat basis pengetahuan,” kata Ziad seraya menyebut tema kegiatan adalah Reaktualisasi Sistem Kaderisasi, sebagai Landasan untuk Mencetak Muharik Organisasi.

Menurut dia, alumni Latin diharapkan menjadi kader penggerak dengan indikator selalu siap mewakafkan dirinya untuk diterjunkan ke daerah-daerah.

“Serta memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengawal organisasi, mampu mengembangkan kualitas kepemimpinan, merancang strategi gerakan jangka pendek dan jangka panjang, memilik kematangan dalam pengetahuan, sikap dan organisasi,” harap Ziad. (Dudi Rahman/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal

Sukoharjo. Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukoharjo diimbau pasang strategi antisipasi gerakan Islam radikal di Sukoharjo dan Solo Raya. 

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal

Pernyataan itu disampaikan Katib PC NU Sukoharjo Abdullah Faishol dalam diskusi di Sekretariat PCNU Sukoharjo Jl Jend Sudirman, Ngaglik, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad malam (21/7).

“Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki kantong-kantong gerakan Islam radikal. Untuk mengantisipasinya, PCNU Sukoharjo harus bangun strategi,” papar dosen IAIN Solo tersebut. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, penyebaran gerakan Islam radikal di wilayah Sukoharjo meliputi, Kecamatan Grogol, Gatak, Baki, Polokarto, Weru, Bulu, dan Mojolaban.

Institusi yang diduga kuat sebagai basis diantaranya pondok Ibnu Taimiyah, Darul Salafy, Darul Hijrah, Al-Ukhuwah, Ulul Albab, Al-Madinah, Izkarima, Darusahadah, lembaga pendidikan Mutiara Insan, Al-Manar dan lain-lain. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah Faishol, gerakan Islam radikal di wilayah Solo Raya  sangat beragam, ada yang mengusung gerakan Islam transnasional dan ada juga gerakan organisasi Islam di tingkat lokal. “Walaupun beranega ragam, tetapi kesamaanya adalah meraka anti terhadap tradisi NU,” kata Faishol.   

Sekretaris PCNU Sukoharjo Lasimin mengatakan, di akhir tahun 2013 ini, setidaknya ada 200 orang narapidana terorisme yang memasuki masa bebas tahanan. Persoalannya adalah, bagaimana kondisi masyarakat, apakah masih menerima mantan napi teroris ini atau mereka sudah tobat dan tidak melakukan kekerasan lagi atau justru sebaliknya mengulangi lagi.   

Dari diskusi tersebut, salah satu peserta diskusi yang juga ketua Lazis, Sugeng Widodo, mengusulkan adanya pelatihan kader yang sisitematis yang dilakukan oleh PCNU Sukoharjo. “PCNU Sukoharjo seharusnya menyelenggarakan pengkaderan,” pintanya.

Selain pelatihan pengkaderan, penguatan ekonomi umat dan pengajian rutin ala NU bersama Habib Syekh  menjadi pilihan alternatif yang perlu menjadi perhatian NU Sukoharjo. 

Tampak hadir diantaranya, KH Ahmad Baidlowi, Syuriyah. H M.Nagib Sutarno, Tanfidziyah. Lasimin Sekretaris, jajaran pengurus MWC NU se Sukoharjo. 

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh           

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan

Sedih. Mungkin itu yang dirasakan para perempuan taat yang tak bisa menjalani ibadah puasa Ramadhan secara penuh. Kodratnya sebagai perepuan dewasa yang pasti mengalami haid atau menstruasi tiap bulan menghalanaginya untuk menjalankan sejumlah ibadah tertentu.

Puasa, bahkan, secara otomatis batal ketika darah itu keluar meski si perempuan sudah menahan lapar seharian hingga menjelang maghrib tiba. Dan atas batalnya ini ia diharuskan mengganti (qadla’) di luar Ramadhan. Menjalani puasa dengan berbagai kesulitannya ini saja sesungguhnya termasuk ibadah tersendiri bagi perempuan. Butuh kesabaran dan keikhlasan melewatinya, yang belum tentu bisa dilakukan oleh setiap laki-laki.

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan-amalan Ibadah bagi Perempuan Haid di Bulan Ramadhan

(Baca: Puasa, Perempuan, Menstruasi)?

Dalam kitab Taqrib dijelaskan, ada delapan jenis ibadah yang dilarang bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, yakni shalat, puasa, membaca Al-Quran, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid, thawaf, jima, dan bersenang-senang di sekitar organ kemaluan. Ulama berbeda pendapat dengan delapan larangan yang dianut mayoritas ulama Syafi’iyah ini. Misalnya, madzhab Maliki secara mutlak membolehkan membaca Al-Qur’an, dan madzhab Hanbali membolehkan i’tikaf di masjid.

Bulan Ramadhan menjadi momen melipatgandakan kebaikan. Perempuan yang sedang haid atau nifas memang mendapat batasan untuk menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Namun, ia bisa melakukan ibadah-ibadah lain yang jumlahnya lebih banyak. Ibadah-ibadah tersebut di antaranya:



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pertama, mencari ilmu.

Mencari ilmu menjadi pilihan bagus ibadah bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, baik dilakukan secara otodidak dengan membaca buku atau kitab, ataupun melalui bimbingan guru dengan mendatangi majelis-majelis ilmu. Mencari ilmu dalam Islam bersifat wajib (faridlah). Manfaatnya yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang lain membuat kegiatan tersebut masuk kategori ibadah, bahkan setara dengan jihad.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu kerana Allah adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (HR Ad-Dailami)





Kedua, berdzikir.?

Dzikir adalah perbuatan yang dianjurkan untuk siapa saja dan kapan saja. Dzikir adalah indikasi hidupnya hati. Rasulullah dalam hadits riwayat Imam Bukhari bersabda: “Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati”.

Jenis dzikir sangat banyak, bisa berupa ucapa tasbih, tahmid, takbir, hauqalah, dan lain sebagainya. Aktif dalam majelis istighotsah, tahlilan, atau forum dzikir lainnya karena itu termasuk bernilai ibadah.

Dalam konteks Ramadhan, umat Islam dianugerahi kesempatan Lailatul Qadar yang disebut Al-Qur’an setara dengan serbu bulan. Meski banyak ulama yang meyakini momen itu jatuh pada sepuluh terakhir Ramadhan, sejatinya jadwal pastinya hanya Allah yang tahu. Perempuan haid/nifas, sebagaimana umat Islam pada umumnya, sangat dianjurkan menfaatkan hari demi hari, detik demi detik, sepanjang bulan suci ini untuk beribadah, termasuk berdzikir.

"Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab:

? ? ? ? ? ? ?

?

"Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku).” (HR Ibnu Majah)

Ketiga, berdoa.?

Doa juga menjadi pilihan ibadah yang mudah dan sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang haid atau nifas. dalam sebuah hadits doa disebut sebagai mukhkhul ‘ibâdah (otak dari ibadah). Doa bisa dilafalkan dengan bahasa apa saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, termasuk oleh perempuan yang sedang haid atau nifas.

Lebih dari sekadar meminta, doa yang berakar kata dari da‘â-yad‘û-du‘â ? juga berarti berseru atau memanggil. Doa mengandung ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah. Berdoa bisa juga disebut bermunajat.

Keempat, melakukan kegiatan sosial.?

Di samping ibadah-ibadah yang bersifat ritual, umat Islam juga diperintahkan untuk memperbanyak kegiatan positif yang bersifat sosial. Kegiatan sosial tersebut bisa berupa pergaulan secara baik, donor darah, menanam pohon, memberi makan kaum fakir, memudahkan urusan orang lain, mengajar, menyediakan buka puasa bagi anak-anak jalanan, dan lain sebagainya.?

Di bulan suci Ramadhan ibadah bernuansa sosial itu tercermin, misalnya, dalam perintah untuk menyuguhkan buka puasa walaupun hanya sebiji kurma. Artinya, aktivitas perempuan haid yang menghidangkan sajian berbuka untuk keluarga terhitung ibadah.?

Puasa sendiri adalah bentuk latihan seorang hamba untuk merasakan saudara-saudaranya yang sehari-hari didera rasa lapar dan haus karena tak mampu. Dengan demikian, kegiatan sosial sesungguhnya merupakan ibadah yang memang menjadi jati diri makna puasa itu sendiri.

Selain ketiga contoh di atas masih banyak bentuk-bentuk ibadah lain yang bisa dilakukan perempuan yang tengah menstruasi atau nifas. Aktivitas-aktivitas itu tak hanya yang berelasi khusus dengan Allah tapi juga bisa sekaligus dengan sesama manusia.?

Bagaimana dengan membaca Al-Qur’an? Seperti disebutkan di atas, ulama berbeda pendapat soal ini. Dalam Madzhab Syafi’i ulama sepakat bahwa perempuan haid/nifas tidak diperkenankan menyentuh atau membawa mushaf. Sebagian lain bahkan membolehkan membaca Al-Qur’an (tanpa menyentuhnya) dengan niat dzikir, doa, atau mempelajarinya.?

Mengenai hal ini Ianatuth Thalibin menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdoa, atau ngalap berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun (selama tidak berniat membaca al-Quran) maka (membaca Al-Quan bagi perempuan haid) tidak diharamkan. Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah Al-Quran kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Quran. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari Al-Quran semisal surat al-ikhlas.?

Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Nasional, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengeluhkan masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam kepengurusan NU.

Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU. "Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Maruf Amin kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di rumahnya, Ahad (9/12).

Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU sendiri pun kini dipertanyakan.

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar.

NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai Maruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun 1926.

Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih.

Menurut Kiai Maruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan.

"Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong, agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat bahaya," tegas kiai Maruf. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Internasional, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

IPNU-IPPNU Kudus Bekali Peserta BPUN Keahlian Menulis

Kudus, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Kudus, bekerja sama dengan Yayasan Mata Air, tak hanya membekali para pesertanya dengan materi pelajaran formal.

Lebih dari itu, mereka pun dibina dengan pelbagai motivasi dan doktrin ke-NU-an, salah satunya motivasi menulis yang disampaikan oleh kontributor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal  wilayah Kudus, Qomarul Adib, pada Selasa malam (02/06).

IPNU-IPPNU Kudus Bekali Peserta BPUN Keahlian Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Bekali Peserta BPUN Keahlian Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Bekali Peserta BPUN Keahlian Menulis

"Menulis dapat menjelma sebagai modal kemandirian serta meringankan beban terutama finansial ketika kita belajar di Perguruan Tinggi," terang wartawan yang sering disapa Qomar itu kepada puluhan calon mahasiswa peserta BPUN.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Qomar juga menjelaskan ihwal dunia kepenulisan yang sejak lampau telah sedemikian digeluti oleh para sepuh NU, baik lokal Kudus maupun nasional. Semisal KHR. Asnawi yang menulis kitab fiqih bab shalat, Fashalatan, hingga mengarang sastra selawat berupa syair Asnawiyyah, yang kini menjadi selawat khas Kudus.

Dengan menyebut beberapa tokoh ulama NU yang aktif menulis, Qomar mendorong agar para peserta semakin tergugah untuk bersemangat menulis. Ia pun mengisahkan adanya imbal balik dari menulis, terutama bagi mahasiswa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mahasiswa yang mau menulis akan memperoleh pengakuan intelektual yang tinggi, sekalipun ia berpenampilan biasa-biasa saja," tegasnya.

Selain menceritakan para ulama yang menulis, ia juga mengisahkan perjalanan pribadinya sedari menempuh masa sekolah hingga memilih menjadi penulis seperti sekarang ini.

Lia Fadhliyah, salah satu peserta mengaku semakin bersemangat untuk belajar menulis. "Saya dulu sempat ikut di keredaksian majalah madrasah, jadi editor. Sekarang masih ingin belajar menulis, tapi belum tahu baiknya saya konsentrasi di bentuk tulisan yang mana, berita, artikel ilmiah, ataukah sastera," ujar Lia, alumni MA NU Banat Kudus.

Agenda yang berlangsung sejak tanggal 7 Mei di Pondok Pesantren Zainal Husain Kudus itu direncanakan akan berakhir pada 8 Juni 2015 nanti. Sebelum penutupan, para peserta sepakat akan berziarah bersama ke makam dua wali, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Pendidikan Sosial Keagamaan

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terencana dan terarah. Sedangkan sosial, secara ensiklopedis berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau secara abstraksis berarti masalah-masalah kemasyarakatan yang menyangkut pelbagai fenomena hidup dan kehidupan orang banyak, baik dilihat dari sisi mikro individual maupun makro kolektif. Dengan demikian, sosial keagamaan berarti masalah-masalah sosial yang mempunyai implikasi dengan ajaran Islam atau sekurang-kuraangnya mempunyai nilai Islamiah.

Pendidikan sosial keagamaan seperti pada lazimnya mempunyai tujuan, media dan metoda serta sistem evaluasi. Media dalam hal ini bisa berupa kurikulum atau bentuk-bentuk kegiatan nyata. Yang terakhir inilah yang akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Sosial Keagamaan

***

Ajaran Islam atau lebih khusus syariat Islam, mempunyai titik singgung yang sangat kompleks dengan masalah-masalah sosial. Karena, syariat Islam itu sendiri justru mengatur hubungan antara manusia (individual mau pun kelompok) dengan Allah SWT, antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hubungan pertama terumuskan dalam bentuk ibadah (baik individual maupun sosial). Interaksi kedua terumuskan dalam bentuk muamalah dan muasyarah. Prinsip muamalah dalam Islam, tidak menitikberatkan pada penguasaan mutlak bagi kelompok atas pemilikan alam, sehingga menjadikan penguasaan individual, sebagaimana paham sosialisme (al-isytirakiyah al-mutlaqah). Ia juga tidak menitikberatkan penguasaan bagi individu secara mutlak yang cenderung pada sikap monopoli tanpa memiliki konsen (kepedulian) terhadap yang lain, sebagaimana dalam kapitalisme (al-rasumaliah al-mutlaqah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi Islam menghargai hak penguasaan individual yang diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dan tanggung jawab kelompok. Pembuktian prinsip ini bisa dilihat pada pelbagai hal, antara lain berlakunya hukum waris, zakat, nafkah, larangan judi, larangan menimbun barang kebutuhan pokok sehari-hari dan lain-lain.

Sedangkan prinsip mu’asyarah dalam Islam dapat dilihat dalam pelbagai dimensi kepentingan dan struktur sosial. Dalam kepentingan kemaslahatan umum, kaum Muslimin dituntut oleh ajaran Islam sendiri agar bekerja sama dengan penuh tasamuh (toleransi) dengan pihak-pihak di luar Islam. Sedangkan antara kaum Muslimin sendiri, Islam telah mengatur hubungan interaksinya dalam kerangka ukhuwah Islamiah bagi segala bentuk sikap dan pelilaku pergaulan sehari-hari.

Dari sisi struktur sosial yang menyangkut setratifikasi sosial bisa dilihat, bagaimana ajaran Islam mengatur interaksinya, misalnya hubungan lingkar balik antara ulama, umara (pemerintah), aghniya (orang kaya) dan kelompok fuqara’ (orang fakir). Pendek kata, dalam Islam terdapat aturan terinci mengenai muasyarah antara pelbagai kelompok sosial dengan pelbagai status masing-masing.

***

Disiplin sosial secara sosiologis dapat diartikan sebagai suatu proses atau keadaan ketaatan umum atau dapat juga disebut sebagai "ketertiban umum". Ketertiban itu sendiri merupakan aturan muasyarah antar masyarakat baik yang ditentukan oleh perundang-undangan mau pun yang tidak tertulis, hasil bentukan dari suatu kultur atau budaya. Dapat juga, ia merupakan nilai-nilai yang berlaku, baik yang berorientasi pada budaya mau pun agama.

Bagi Islam, bentuk disiplin sosial adalah kesadaran menghayati dan melakukan hak dan kewajiban bagi para pemeluknya, baik dalam sikap, perilaku, perkataan perbuatan mau pun pemikiran. Dalam hal ini, di dalam Islam dikenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-Adami (hak-hak manusia). Sedangkan hak-hak manusia pada hakikatnya adalah kewajiban-kewajiban atas yang lain. Bila hak dan kewajiban masing-masing bisa dipenuhi, maka tentu akan timbul sikap-sikap sebagai berikut:

Solidaritas sosial (al-takaaful al-ijtimai), toleransi (al-tasamuh), mutualitas/kerjasama (al-ta’awun), tengah-tengah (al-itidal), dan stabilitas (al-tsabat).

Sikap-sikap itu merupakan disiplin sosial yang sangat erat hubungannya dengan ajaran Islam yang mempunyai cakupan luas, seluas aspek kehidupan yang berarti, bahwa Islam sebenarnya mampu menjadi sumber referensi nilai bagi bentuk-bentak kehidupan sosial. Lebih dari itu, mengaktualisasikan sikap-sikap itu dengan motivasi ajaran dan perintah agama, berarti melakukan ibadah. Disiplin sosial dapat juga identik dengan ibadah dalam Islam (dengan amal).

Dari uraian pada ketiga kerangka di atas, dapatlah diambil kesimpulan, bahwa masalah-masalah sosial ke agamaan Islam meliputi semua aspek kehidupan sosial sementara itu ajaran Islam telah meletakkan landasan yang kuat dan fleksibel bagi sikap dan perilaku dalam disiplin sosial.

Pendidikan ke arah itu sebenarnya implisit masuk dalam pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam seutuhuya yang menyangkut iman (aspek aqidah), Islam (aspek syariah), dan ihsan (aspek akhlaq, etika dan tasawuf) akan berarti melibatkan semua aspek rohani dan jasmani bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individual mau pun makhluk sosial.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Ansor Gayam Gelar Dialog Penataan Perekonomian Umat

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, mengadakan dialog bertema "Membangun dan Mengembangkan Perekonomian Ansor sebagai Embrio Kemandirian Umat".

Saat ini Ansor Gayam sendiri memiliki aset pengelolaan lahan pertanian seluas 1 hektar, sehingga diperlukan pula rumusan untuk menciptakan sistem dan manajemen yang baik.

Ansor Gayam Gelar Dialog Penataan Perekonomian Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gayam Gelar Dialog Penataan Perekonomian Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gayam Gelar Dialog Penataan Perekonomian Umat

"Selain lahan pertanian, Ansor Gayam juga memiliki Kelompok Serba Usaha (KSU) yang bergerak di bidang wirausaha organisasi dan kegiatan ekonomi lainya," papar Ketua PAC GP Ansor Gayam Imam Hambali.

Forum yang berlangsung Jumat (3/2) di Mushola Ali Mukti Desa Brabowan Kecamatan Gayam itu mendatangkan praktisi yang juga direktur BMT NU Ngasem, Wahyudi. "Kami mengundang beliau untuk memberikan gambaran bagaimana menata dan mengelola perekonomian organisasi seperti halnya Ansor," jelas Imam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Wahyudi menyampaikan bahwa menata perekonomian harus menjadi prioritas khususnya bagi MWCNU dan seluruh badan otonomnya. Sebab, akan menjadi sesuatu yang berat apabila perjuangan di NU tidak terlaksana hanya dikarenakan minimnya pendanaan.

"Kasihan Banomnya juga jika harus meminta sumbangan dengan proposal setiap kali mengadakan kegiatan. Ini tidak boleh dibiarkan secara terus menerus," jelasnya.

Pria yang pernah menjadi dosen ini menawarkan konsep perekonomian agar program- program di NU dan Banomnya berjalan maksimal. Salah satunya adalah dengan membuat lembaga perekonomian yang tidak bergantung pada struktur NU namun memberikan kontribusi secara optimal.

"Seperti BMT yang saya kelola ini pengurusnya harus fokus pada peningkatan perekonomian, sehingga setiap akhir tahun hasil laba akan dialokasikan sesuai kesepakatan kepada MWCNU setempat," tambahnya.

Ia menyarankan untuk membedakan antara mana yang fokus pada program NU, fokus pengkaderan di level badan otonom, dengan orang yang fokus diperekonomian.

"Sebab, dari pengamatan yang saya lakukan, inilah formula yang tepat, karena jika lembaga perekonomian terikat langsung dengan struktural maka akan rawan dengan dimasukinya kepentingan pribadi yang tak jarang justru menjadi penghambat lajunya lembaga perekonomian," tegasnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sebanyak 172 orang mengikuti Ziarah Religi di tiga negara bersama KH Achmad Chalwani, Wakil Syuriyah PWNU Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, 20 hingga 25 Oktober 2017. Ketiga negara itu antara lain Singapura, Malaysia dan Thailand.

Di tiga negara tersebut, rombongan berziarah ke makam habaib, wali dan ulama di tiga negara tersebut baik ulama asli dari sana maupun yang berasal dari Indonesia serta sejumlah tempat wisata. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nusantara Pesantren An-Nawawi.

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

172 Nahdliyyin Ziarah Makam Ulama Nusantara di Tiga Negara

Kepala Pondok Pesantren An-Nawawi Arifuat Marzuki menjelaskan, peserta yang mengikuti ziarah religi tiga negara ini tidak hanya berasal dari wilayah Purworejo, tetapi tidak sedikit peserta yang berasal dari luar kota. Bahkan ada juga yang berasal dari luar Jawa, yakni Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kiai dan tokoh masyarakat yang tercatat mengikuti kegiatan tersebut antara lain KR Maulana Alwi Ketua Yayasan An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Nasrul Arif Pengasuh Pesantren  API ASRI Tegalrejo Magelang, KH Maemun Asnawi Pengasuh Pesantren Salamkanci Magelang, KH Ismail Ali Pengasuh Pesantren Nurul Ali Secang Magelang, KH Miftahudin Kasno Ketua JATMAN Sumsel KH Misbahul Munir dari Pangandaran, KH Sumarno Abdul Azis dari Magetan, dan beberapa Kiai dan tokoh masyarakat lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Melalui kegiatan ziarah makam auliya di tiga negara ini diharapkan peserta mendapat berkah serta mengambil pelajaran dari auliyaillah khususnya yang berasal dari Indonesia yang dimakamkan di sana. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian kegiatan tahunan Pondok Pesantren An-Nawawi selain umroh dan ziarah makam habaib, wali dan pejuang," terang Arifuat kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut dikatakannya, selain berziarah ke sejumlah makam ulama di tiga negara tersebut, jamaah juga berkesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di tiga negara. "Seluruh rangkaian perjalanan ziarah tiga negara ini digelar selama enam hari empat malam." tambahnya.

Menurutnya, salah satu ulama yang akan diziarahi adalah Syekh Siraj Rengit Johor, Malaysia. Ia lahir di Desa Buntit Gebang Purworejo. Ia juga murid KH Zarkasyi, pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.

Perjalanan dimulai dari kompleks Pesantren An-Nawawi Berjan menuju Singapura. Beberapa agenda yang akan dilakukan selama satu hari di Singapura adalah berziarah ke makam Habib Nuh, mengunjungi Merlion Park, China Town serta Universal Studio.

Pada hari kedua perjalanan dilanjutkan ke Malaysia dengan menziarahi beberapa ulama besar seperti, Syekh Siraj, Sultan Arifin, Syekh Ibrahim, Syekh Yusuf Shiddieq, Syekh Nur Kholidi, dan Syarifah Rodiyah. "Untuk di Malaysia, tempat wisata yang akan dikunjungi antara lain, KLCC, Genting Highlands, Dataran Merdeka serta Istana Merdeka," imbuhnya.

Ia menambahkan, setelah selesai di Malaysia perjalanan dilanjutkan ke Thailand pada hari ke empat. Di negara Gajah Putih itu, rombongan berkesempatan untuk mengunjungi kemegahan kompleks Masjid Hatyai. Di Thailand, peserta juga dapat menikmati Pasar Terapung serta menikmati tur Shongkhla. "Perjalanan dilanjutkan dengan berziarah ke pondok pesantren dan makam ulama asal Indonesia, yakni Syekh Abdurrahman Al-Falimbani," tambahnya.

Sebelum kembali ke tanah air, peserta juga berkesempatan untuk menjajal jembatan Pulau Pinang sepanjang 11 kilometer serta berziarah di makam auliya yang berada di Pulau Pinang.

"Pada hari keenam, rombongan direncanakan sudah terbang kembali ke Purworejo. Kami meminta doa dari seluruh masyarakat Purworejo khususnya dan sekitarnya semoga diberi kelancaran dan keamanan selama kegiatan ini," pintanya. (Ahmad Naufa-Lukman Khakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, AlaNu, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengatakan, rugi besar bila pendidikan di Indonesia tidak mengambil kelebihan yang ada di pesantren. Pesantren dengan kiainya yang dengan tulus dan gigih mengelola pendidikan terbukti menghasilkan alumni yang luar biasa.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pembukaan Simposium dan Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (28/3).

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren

“Gus Dur, Nurkholis Majid, dan Pak Nasir (Menristek Dikti M Nasir, yang juga hadir pada kesempatan tersebut) adalah contoh-contoh alumni pesantren,” kata Kang Said.

Menurutnya, pesantren memiliki empat kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan yang lain. Pertama adalah ta’lim atau transfer of knowledge (pengetahuan). Kedua adalah tadris, karena para kiai pesantren mengamalkan dan mempraktikkan ilmunya. Ketiga adalah ta’dib, yaitu membentuk peradaban. Keempat, tarbiyah atau pengajaran.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ini persoalan yang ringan diucapkan, tapi sangat sulit dilaksanakan. Pendidikan yang baik adalah yang bervisi dan bermisi membentuk masyarakat cerdas, pandai, mempunyai skill (keahlian), arif dan bijaksana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai dalam pengajaran ilmu nahwu dapat menyinkronkan dengan terminologi bahasa Jawa secara benar. Kiai memberi contoh secara langsung kepada para santri bagaimana saat menerima tamu, saat senang, saat sedih, dan menghadapi bermacam persoalan.

Kang Said merasa heran, pendidikan umum tidak mengambil sisi baik yang ada di pesantren. Padahal banyak sisi positif dari pesantren, juga tak sedikit pesantren yang maju.

Karena itu, kepada peserta simposium yang terdiri atas para mahasiswa utusan BEM perguruan tinggi NU seluruh Indonesia, Kang Said berpesan bahwa sebagai mahasiswa yang ingin mempertahankan ajaran Aswaja, ia tidak boleh melupakan akar, nilai ahlaq mulia, dan nilai moral, mental, spiritual, hasil dari pendidikan pesantren. (Kendi? Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal . Konferensi? Cabang (Konfercab) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, digelar di Pondok Pesantren Al Fajar Babakan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, 25-27 Desember 2013. Konfecab kali ini merupakan yang ke-19 bagi IPNU dan ke-18 bagi IPPNU.

Forum tertinggi IPNU-IPPNU tingkat kabupaten ini diikuti 1.928 pelajar dari 241 pimpinan ranting dan pimpinan komisariat. Hadir pula dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Tegal terpilih Dra Umi Azizah, Rais Syuriah PCNU Kabupatan Tegal, KH Chambali Utsman, Anggota DPR RI Bahrudin Nasori dan Zainut Tauhid, dan perwakilan sejumlah badan otomon NU Kabupaten Tegal.

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab IPNU-IPPNU Tegal Dihadiri Ribuan Pelajar

Konfercab sendiri dibuka oleh Staf ahli Bupati Tegal bidang pemerintahan Drs Eko Jati Suntoro, Kamis (25/12). Dalam sambutanya, dia berharap IPNU-IPPNU sebagai generasi muda bisa memberikan teladan bagi yang lain. Pasalnya, IPNU dan IPPNU adalah garda depan penerus bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua PCNU Kabupaten Tegal KH Ahmad Wasy’ari saat memberi pengarahan menuturkan, sebagai pintu masuk awal pengaderan NU, IPNU-IPPNU harus mampu memanfaatkan proses kaderisasi dengan baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini saya yakin IPNU-IPPNU merupakan kader yang bersih dari proses hiruk pikuk pilitik, karena IPNU-IPPNU merupakan kader pelajar NU. Dalam forum ini saya juga titip pesan jagalah IPNU dengan baik? dan wibawa pelajar agar tercipta tatanan organisasi yang lebih baik pula,“ pesanya ?

Dalam forum yang sama Ketua PC IPNU Kabupaten Tegal Abdul Mughni berpesan agar konfercab tidak hanya fokus pada pemilihan ketua baru,? tetapi juga sidang penentuan rekomendasi organisasi dan program kerja.

“Setelah tahu program maka perlu mencari pemimpin yang pantas dan? sanggup menanggung beban program itu, jadi tidak asal-asalan. Siapapun yang jadi ketua atau pemimpin itu adalah pemimpin kita semua. Untuk itu semua harus berlapang dada,” katanya.

Mughni juga menyinggung hiruk pikuk tahun politik 2014. Diharapkan kader bisa bersikap netral dan tetap fokus pada bidang garapnya, yakni kaderisasi.

Pernyataan Muhgni juga diamini oleh Ketua PC IPPNU Tegal Lutfatun Nikhla. Dia berharap generasi IPNU-IPPNU ke depan sanggup mengemban amanat organisasi dengan maksimal.

Lutfah mengklaim selama dua tahun kepengurusannya, sudah banyak program yang diselesiakan dan berhasil. Ia mengatakan, hal ini tak lepas dari banyaknya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, terutama PCNU Kabupaten Tegal, para pembina? dan dukungan semua pengurus cabang dan anak cabang.

“Dalam kesempatan ini sekaigus saya berpamitan dan agar generasi penerus saya mudah-mudahan lebih baik,“ pintanya. (Abdul Muiz/Mahbib)

?

FOTO : Wakil Bupati Dra Umi Azizah didampingi staf ahli bupati menyematkan tanda peserta pada saat pembukaan Konfercab

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Masjid Teja Suar Batal Dijual

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah mendapatkan kritikan pedas dari banyak kalangan termasuk Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), rencana penjualan masjid Masjid Teja Suar yang terletak di Jalan Tuparev Kota Cirebon akhirnya dibatalkan.

Masjid Teja Suar Batal Dijual (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Teja Suar Batal Dijual (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Teja Suar Batal Dijual

Meski demikian, IPNU Kabupaten Cirebon tetap berniat melanjutkan aksi penggalangan koin peduli. Setelah menggelar aksi dengan memperoleh uang koin sebesar 765 ribu rupiah, Selasa (26/11) lalu, mereka kembali menggelar aksi yang sama di perempatan Plered Kabupaten Cirebon, Kamis (28/11) hari ini.

Koordinator aksi, Mohammad Ayub menjelaskan, aksi ini harus tetap berlanjut sebelum terdapat berita yang lebih terang. Ia mengkhawatirkan bahwa kasus penjualan masjid ini akan tenggelam jika tidak dilakukan aksi secara berkesinambungan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Minimal kami memberikan sanksi moral atau memberikan aba-aba kepada setiap pihak yang berkeinginan memperjual-belikan tempat beribadah,” ungkap Ayub.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Wahyono, Ketua PC. IPNU Kabupaten Cirebon mengatakan bahwa perkembangan isu ini bisa melahirkan beberapa kemungkinan, sehingga ia bertekad untuk terus melakukan aksi galang koin peduli Masjid Teja Suar.

“Sehari yang lalu kami mendengar kabar Masjid Teja Suar telah resmi dijual, sedangkan hari ini berubah lagi, katanya ada pembatalan. Karena itu kami tetap teguh untuk melanjutkan aksi simpatik ini, agar tidak terkecoh oleh kabar-kabar yang hadir dan belum tentu kejelasannya,” jelas Wahyono.

Aksi penggalangan koin peduli Masjid Teja Suar ini dilakukan dengan mendatangi para pengguna jalan untuk turut berpartisipasi dengan memberikan uang kecilnya ke dalam dus yang telah disediakan. Untuk aksi lanjutan ini direncanakan akan digelar pada pukul 14.00 wib, sore nanti.

Batal Dijual

Isu penjualan masjid yang berdiri di atas lahan seluas 3000 m ini mendapatkan perkembangan baru. Beberapa media lokal di Cirebon maupun nasional mengabarkan bahwa pihak penjual akan berusaha membatalkan transaksi yang memang telah dilakukan.

Hal itu diungkapkan Ketua Muhamadiyah Kota Cirebon, Kosasih Natawijaya. Ia mengaku, mendapat informasi itu langsung dari Cicih, yang merupakan istri dari pemilik Masjid Teja Suar, H Saelan.

"Saya dengar langsung dari Ibu Cicih, beliau meminta doa akan berusaha mengembalikan masjid Teja Suar ke posisinya semula,’’ ujar Kosasih, Rabu (27/11).

Ketika ditanyakan mengenai nilai jual maupun proses pembayaran masjid Teja Suar, Kosasih mengaku tidak tahu. Dia menyatakan tidak tahu apakah pembeli baru sebatas memberikan uang muka, atau membayar separuh harga atau malah membayar lunas.

"Yang pasti pihak keluarga saat ini sedang berjuang untuk mengembalikan masjid ke posisinya semula dan akan mewakafkannya," kata Kosasih menegaskan.

Sebelumnya, Masjid Teja Suar yang didirikan pada tahun 1976 dan diresmikan oleh Buya Hamka tersebut oleh pewakafnya berniat dijual untuk dialih-fungsikan sebagai showroom, kontan kasus ini menuai banyak protes, termasuk dari Ketua PWNU Jawa Barat, H Eman Suryaman serta Ketua MUI Kabupaten Cirebon, KH Ja’far Aqil Siroj.

“Haram hukumnya dan tidak dibenarkan. Apalagi sudah dibangun masjid, tentu secara otomatis dijadikan sebagai wakaf. Kalau sudah wakaf ya tidak boleh dijual,” tegas Kiai Ja’far. (Sobih Adnan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 12 November 2017

NU Desak Indonesia Tegas Tolak Klaim "Tari Tor-tor" oleh Malaysia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Pemerintah RI bersikap tegas kepada Malaysia, terkait klaim tari Tor-tor dan Gordang Sambilan. Penolakan dan teguran secara resmi diminta disampaikan sesegera mungkin.

NU Desak Indonesia Tegas Tolak Klaim Tari Tor-tor oleh Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Desak Indonesia Tegas Tolak Klaim Tari Tor-tor oleh Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Desak Indonesia Tegas Tolak Klaim "Tari Tor-tor" oleh Malaysia

"Pemerintah harus tegas menolak. Ini sudah ke sekian kalinya, tentunya tidak bisa didiamkan begitu saja," tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (18/6).

Mengenai keberadaan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan yang mungkin juga ada di Malaysia, hingga akhirnya berujung klaim kepemilikan,  Kiai Said menduga dibawa oleh pendatang asal Indonesia yang menetap dan menjadi warga negara Malaysia. Namun sikap klaim tetap tidak dibenarkan, terlebih kesenian tersebut sudah lama dikenal berasal dari Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya juga heran kenapa Malaysia terus bersikap seperti itu," tandas Kiai Said.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga mengatakan, sikap tegas juga harus ditunjukkan di internal Pemerintah RI. Langkah perlindungan terhadap kesenian daerah, serta  segala macam karya dan produk anak negeri harus ditingkatkan, bahkan jika diperlukan melalui registrasi hak patent.

"Hak patent untuk ke depan, agar sikap-sikap klaim tidak dilakukan lagi oleh Malaysia atau negara lain. Untuk saat ini di internal juga harus dibenahi, jangan sampai karya anak negeri dimiliki dan dibanggakan oleh negara lain," jelas Kang Said,  demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya.

Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya, yaitu tari Tor-tor dan Gordang Sambilan, seiring akan diregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005.

"Pertunjukan periodik harus diadakan. Artinya, tarian harus disajikan sementara irama gendang harus dimainkan di depan publik," kata Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim, sebagaimana dikutip laman Bernama.

Menurut Rais, mempromosikan kebudayaan dan seni Mandailing sangat penting, sebab bisa mengungkap asal-usulnya. Selain itu bisa mempererat persatuan dan kesatuan dengan masyarakat lainnya.

Aksi klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia adalah yang ke sekian  kalinya, setelah sebelumnya tari Pendet asal Bali dalam video iklan Enigmatic Malaysia di Discovery Channel.

Aksi ini memancing reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu sempat marah atas klaim itu. Namun, Malaysia berkilah iklan pariwisata itu yang membuat bukan negaranya, melainkan pihak Discovery Channel.

Selain tari Pendet, Malaysia juga pernah mengklaim tari Reog asal Ponorogo, Jawa Timur dan sejumlah kebudayaan Indonesia lainnya.

Redaktur    : Emha Nabil Haroen

Kontributor: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock