Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman?

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

KH Mustain Syafii, salah seorang ulama asal Jombang menjelaskan alasan perintah untuk menjalan ibadah puasa Ramadhan hanya untuk orang beriman saja.

Menurut Kiai Mustain, dipilihnya kata beriman dalam ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berpuasa dikarenakan orang beriman yakin dengan apa yang dilakukannya dan kebanyakan orang beriman itu berhasil.

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Puasa Ramadhan Hanya Milik Orang-orang Beriman?

"Orang beriman itu seperti petani yang menanam kacang dengan cara meletakkan bijinya di dalam tanah. Petani hanya berusaha dan yakin apa yang dia lakukan, selanjutnya Allah yang menumbuhkan," jelas salah satu pengasuh rubrik tafsir di Majalah Risalah NU ini, Jumat (26/5).

Kiai yang mempunyai konsen dalam kajian ilmu tafsir ini mengingatkan kepada jamaah untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan Bulan Suci Ramadhan yang datang sekali dalam setahun.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, Kiai Mustain juga mengatakan bila orang beriman bisa menggapai derajat takwa tetapi orang yang berilmu belum tentu bisa menggapai takwa.

Banyak golongan manusia yang berilmu tetapi tidak bisa membuat dia semakin dekat kepada pencipta dan menyadari kedudukannya sebagai manusia. Ilmu yang dimilikinya hanya digunakan melayani hawa nafsu syahwat dan nafsu duniawi lainnya.

"Ayat yang memerintahkan puasa itu diawali kata "beriman" dan diakhiri kata takwa, ini bukan asal pilih kata saja," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

Blora, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk suksesnya perjuangan diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga dekat dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan tersebut, maka perjuangan akan memiliki akar yang kuat dan memliki basis yang riil.

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

”Untuk menyempurnakan perjuangan, langkah pertama NU-kan dulu keluarga dekat kita,” ungkap Sholihin Hasan saat menyampaikan materi Aswaja pada acara LKD Fatayat NU Ancab Kunduran, Blora, Jawa Tengah, Selasa (28/3).

Untuk meng-NU-kan keluarga, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain aktif di Fatayat, maka seorang kader juga harus menggerakkan suaminya untuk aktif di Ansor, LP Ma’arif, atau NU. Kemudian putra-putrinya sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Jika punya anak atau keponakan berusia remaja agar didorong untuk aktif di IPNU-IPPNU atau PMII.

Sholihin Hasan yang juga Wakil Ketua LP Ma’arif NU Blora itu menambahkan, jika masih punya orang tua, maka kader Fatayat harus bisa memfasilitasi orang tuanya untuk bisa aktif di NU atau Muslimat. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Tetangga kanan kiri juga harus terus dilakukan pemahaman akan arti pentingnya aktif di NU,” ungkap dosen Aswaja dan Kepesantrenan STAI Almuhammad Cepu.

Selain itu, untuk memperluas akses dakwah kader Fatayat juga diajak berda’wah di dunia maya. Dakwah di internet perlu dilakukan agar konten di dunia maya tidak dominasi oleh kalangan radikal dan orang penyebar hoax.?

“Jika seluruh kader Fatayat aktif berdakwah lewat internet, maka nilaia-nilai Islam moderet akan mendominasi dunia maya,” tambah mahahsiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LKD yang dilaksanakan di MI Alhuda Kunduran itu, diikuti 125 peserta. Mereka merupakan perwakilan pengurus ranting yang ada di Kecamatan Kunduran. Acara tersebut dibuka oleh Ketua MWC NU Kunduran, K. Drs Mohadi Said. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap pelajar putri NU berperan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Menurut Menpora, saat ini indikasi ingin memecah-belah negara ini makin sering terjadi. ?

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

"Selamatkan Indonesia dengan menyelamatkan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga NU di bumi Nusantara. Saat ini NU mendapatkan godaan yang semakin berat," katanya saat pidato di Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat (23/12) di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Untuk hal itu, menurutnya, IPPNU saat ini perlu memperkuat kaderisasi dari bawah.?

Sebagai kader IPPNU jangan malu menunjukkan identitas sebagai kader NU. Tebarkan paham-paham Aswaja melalui media sosial.?

"Kita buktikan bahwa Aswaja telah menyelamatkan dan memberikan perdamaian dunia," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat ada acara-acara kepemudaan di daerah, lanjutnya, kader IPPNU harus bepartisipasi. Bahkan, kalau ia hadir ke daerah, maka kader IPPNU di daerah itu wajib hadir, mau diundang atau tidak.

"Dampingi dan kawal saya atau Menteri yang lain berkunjung ke daerah," pesannya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader IPPNU konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth) meski tidak mudah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan.

Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus wilayah se-Indonesia. Turut hadir Staf Ahli Mendikbud Hari Budiman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU MargaretAliyatul Maimunah. (Ahmad Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pelajar yang terhimpun dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) harus berkerja keras dalam memperjuangkan nasib generasi bangsa mendatang, menjauhkan diri dari narkoba dan pergaulan bebas. Narkoba dan pergaulan bebas menghancurkan masa depan pelajar, merusak tatanan kehidupan yang sudah dituntun oleh nilai-nilai agama, serta runtuhnya nilai-nilai adat.

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU harus Jadi Motor Perangi Penyalahgunaan Narkoba

Pembina IPNU Kota Padang Armaidi Tanjung  mengungkapkan hal itu pada pembukaan Seminar Pendidikan Rahmatan lil Alamin dan Konferensi Cabang (konfercab) IPNU Kota Padang, Sabtu (21/12/2013) di aula PWNU Sumbar jalan Ciliwung No. 10 Padang. Seminar dihadiri 45 orang yang berasal dari utusan komisariat dan OSIS IPNU se Kota Padang. Hadir Pengurus PW IPNU Sumbar  Fauzi Remon, Ketua IPNU Padang Pebriyaldi dan Ketua Umum PMII Kota Padang Yosef Firman Susilo.

Konfercab berhasil memilih Neri Yusmardi sebagai Ketua IPNU Kota Padang dua tahun mendatang. Neri Yusmardi  meraih 15 suara dan pesaingnya Mariyono 9 suara. Selanjutnya tim formatur yang terdiri dari Pebriyaldi, Neri Yusmardi, Khalik, Syamsuardi dan Mariyono akan menyusun kepengurusan lengkap IPNU Kota Padang periode 2013-2015.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Armaidi, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar setiap tahun terus meningkat. Ini kondisi yang amat memprihatinkan dan ancaman masa depan bagi pelajar. IPNU harus menjadi motor untuk memerangi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Kota Padang.

“Selain itu, pergaulan bebas di kalangan pelajar juga memprihatinkan dan mencengangkan kita semua. Saya dapat informasi pengakuan seorang Kepala KUA di Kota Padang yang menikahkan pasangan calon pengantin, menemukan rata-rata 20-an orang  sudah melakukan hubungan suami isteri sebelum dinikahkan. Istilah kerennya, kawin  “kecelakaan”,” kata Armaidi yang juga Wakil Sekretaris PWNU Sumbar ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan Armaidi, pergaulan bebas di kalangan pelajar ini merupakan fenomena yang menjadi pemandangan biasa di tengah masyarakat. Seorang pelajar putri yang berboncengan di atas motor tidak merasa risih merangkul pelajar putra. Terkadang lebih mesra ketimbang sepasang suami isteri berkendaraan. Ironisnya, si perempuan juga menggunakan jilbab sebagai simbol seorang muslimah.

“Perkembangan perangkat teknologi yang semakin memudahkan dan memberikan manfaat pada kehidupan manusia, namun  juga mendatangkan bencana. Perangkat teknologi ibarat pisau, jika digunakan dengan benar seperti untuk mengiris bahan masakan di dapur. Sebaliknya, pisau juga dapat digunakan untuk membunuh orang lain oleh seorang anak yang tengah panik,” kata Armaidi.  

Penggunaan facebook melalui internet  misalnya, dapat meningkatkan silaturrahmi pertemanan. Namun mulai muncul kasus kejahatan bermula dari pertemanan di facebook. Ini akibat facebook  disalahgunakan. Jika berlebihan, main facebook dan internet hingga larut malam bahkan sampai subuh dinihari, juga  merusak. Betapa makin banyak anak-anak muda yang hingga larut malam hanya berada di depan internet. Sehingga tidak lagi mendatangkan manfaat, malah mengganggu kesehatan dan kegiatan yang bermanfaat lain. 

“Kader IPNU harus menempatkan perangkat teknologi yang proposional dalam menunjang kehidupan yang lebih baik untuk masa depan,” kata Armaidi menambahkan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertanyakan dasar pemberhalaan praktik ziarah kubur di makam para wali. Dengan menyebut makam wali sebagai berhala, Ditjen Pendis Kemenag dalam buku guru SKI Kelas VII MTs Kurikulum 2013 sudah seharusnya mempertanggungjawabkan pijakan argumentasinya.

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir meminta Kemenag mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan permohonan maaf secara terbuka atas keteledorannya.

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

“Di mana letak pemberhalaan ziarah kubur?” Kiai Saifuddin menuntut penjelasan Kemenag, Rabu (17/9) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang-orang yang berziarah ke makam orang tuanya, para guru dan kiai, orang-orang saleh, para wali hingga makam Rasulullah Saw, hakikatnya mengikuti perintah Rasulullah sendiri. Kiai Saifuddin menyitir hadits Nabi Muhammad Saw, ‘Ala fazuruha. Liannaha tudzakkirukumul mauta’ (Ingat, berziarahlah. Karena, ziarah kubur itu akan mengingatkanmu pada kematian).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jadi kalau Nabi yang menyuruh orang ziarah untuk mengingat kematian, kok malah disamakan dengan penyembahan berhala? Musyrik? Apanya yang musyrik? Yang musyrik itu orang yang mempertahankan sesuatu selain Allah,” kata Rais Syuriyah PBNU yang aktif mengajar kitab kuning di puluhan masjid di Jakarta kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Kiai Saifuddin menantang pihak Kemenag untuk musyawarah perihal argumentasi pernyataan itu. “Saya pengen banget lihat tampang orang Kemenag yang sok-sok begitu, yang ngomongnya ngaco. Kalau mereka bisa meruntuhkan argumentasi kesunahan ziarah kubur, saya akan membayar mereka.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maraknya kegiatan beberapa partai yang menggelar Musabaqah Kitab Kuning patut disyukuri oleh segenap kalangan khususnya warga Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut menurut Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung Ustadz Munawir, dapat menjadi ajang tepat untuk menjaga tradisi keilmuan NU.

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Musabaqah Kitab Kuning Penting untuk Jaga Tradisi Keilmuan NU

"Ngaji kitab kuning memang tradisi yang sangat erat kaitannya dengan pesantren. Perlu kita bersyukur karena sudah ada Partai yang mau ikut menjaga tradisi NU ini, bukan sebaliknya, NU yang menjaga tradisi partai," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Jumat (18/3).

Munawir mengingatkan pula kepada partai politik khususnya para politisi yang menggelar kegiatan tersebut untuk tidak hanya berorientasi mendapatkan simpati warga NU. "Sebaiknya kegiatan ini diagendakan secara rutin jangan hanya ketika memiliki kepentingan, baru dilaksanakan," ujarnya.

Dengan adanya kegiatan baik kajian maupun lomba yang berhubungan dengan kitab-kitab kuning ini, tuturnya, maka masyarakat khususnya umat Islam akan lebih menyadari pentingnya pemahaman dan pengkajian kitab kuning sebagai sumber referensi keilmuan maupun hukum Islam.?

"Al-Quran dan Hadits merupakan sumber utama yang tentu harus ditafsirkan secara kontekstual melalui kitab-kitab karya ulama. Penafsiran tersebut juga harus dari para Ulama yang ahli. Bukan dari orang yang mengaku ulama dengan keilmuan yang minim berdasarkan nalar mereka sehingga penafsirannya pun kaku dan terkesan serampangan," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Gus Nawir -panggilan akrabnya- juga merasa prihatin atas fenomena banyak kitab kuning karya para ulama besar sekarang ini yang dihilangkan atau diganti beberapa bagian kalimatnya untuk kepentingan beberapa kelompok.?

"Sekarang ini kita harus berhati-hati khususnya ketika mendapatkan atau pun mengunduh kitab dari internet yang sumbernya tidak jelas. Banyak yang sudah dimanipulasi oleh orang tidak bertanggungjawab," ingatnya.

Oleh karenanya, kegiatan lomba atau musabaqah seperti yang sedang ramai dilaksanakan oleh beberapa partai ini akan dapat menjadi tempat juga untuk menjaga orisinalitas dari kitab-kitab karangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mari kita jaga aset berharga berupa kitab kuning karya para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ikhtiar menjaga ilmu dan amaliyah kita sehingga umat Islam benar-benar mendapatkan sumber hukum yang tepat dari para ulama yang alim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Minat Kuliah di ITS Berkat Shalawatan di Festival Banjari ITS

Suirabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Festival Hadrah Al Banjari (Fesban) 2017 oleh yang diadakan UKM Cinta Rebana ITS pada Sabtu (18/11) menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa peserta untuk melanjutkan Pendidikan di ITS. Salah satunya adalah Rafli Diva Nandra.

Siswa SMK 2 Surabaya ini mengaku bersemangat mengikuti lomba. Pasalnya, ia begitu berhasrat untuk kuliah di ITS sekaligus ingin mengikuti UKM Cinta Rebana ITS.

"Yang penting saya berusaha secara maksimal, soal menang atau kalah itu bonus," ungkap Rafli

Minat Kuliah di ITS Berkat Shalawatan di Festival Banjari ITS (Sumber Gambar : Nu Online)
Minat Kuliah di ITS Berkat Shalawatan di Festival Banjari ITS (Sumber Gambar : Nu Online)

Minat Kuliah di ITS Berkat Shalawatan di Festival Banjari ITS

Meski demikian, siswa kelas X tersebut tidak menampik bahwa lawan-lawannya dari sekolah lain juga manampilkan penampilan yang spektakuler.

"Ini akan menjadi pertarungan yang sangat ketat, tapi saya tetap optimis bisa lolos ke final," ungkapnya yakin.

Selain itu, cerita menarik datang dari teman satu tim Rafli yang juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di ITS yaitu Muhammad Syahrul Mubarok. Rafli ingin bekerja terlebih dahulu untuk membiayai pendidikannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya ingin kerja dulu, mungkin di tahun berikutnya saya baru akan mendaftar ke ITS," ujar Syahrul

Bukti lain juga diungkapkan oleh Ketua UKM Cinta Rebana ITS, Ahmad Fahmi Rofiqi. Ia mengungkapkan, banyak anggota UKM Cinta Rebana ITS yang juga merupakan alumni Fesban pada tahun-tahun sebelumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Setelah kita petakan anggota baru yang masuk, ketika ditanya mereka adalah peserta festival banjari pada tahun sebelumnya," tutur Fahmi.

Fahmi menjelaskan hal itu merupakan salah satu bukti bahwa tercapainya tujuan festival banjari ini, yaitu memperkenalkan ITS kepada peserta yang notabene merupakan siswa SMA sederajat se-Jawa Timur.

"Dalam festival banjari kita selalu memberikan suasana kampus yang syahdu, agar menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta terhadap kampus ITS," pungkas mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS ini. (Van/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

PCNU Sumenep Keluarkan Maklumat Agraria dan Pariwisata

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep mengeluarkan Maklumat Hari Santri Nasional 2017. Maklumat tersebut dibacakan Pj Rais Syuriah PCNU Sumenep KH Taufiqurrahman FM saat Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di GOR A Yani Sumenep, Ahad, (22/10).

Dalam maklmuatnya kepada pemerintah, PCNU Sumenep mendesak pemerintah membuat regulasi seperti membuat Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang bisa melindungi lahan-lahan pertanian dan perkebunan produktif, kawasan konservasi, dan daerah-daerah tujuan wisata.

PCNU Sumenep Keluarkan Maklumat Agraria dan Pariwisata (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumenep Keluarkan Maklumat Agraria dan Pariwisata (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumenep Keluarkan Maklumat Agraria dan Pariwisata

Selain itu, PCNU Sumenep mendesak pemerintah untuk mengembangkan pariwisata berbasis warga dan pengembangannya tetap mempertahankan kearifan dan budaya lokal. Pariwisata harus sebesar-besarnya menguntungkan warga dan tidak merusak kearifan dan budaya lokal.

Wakil Ketua PCNU Sumenep, A Dardiri Zubairi mengatakan, maklumat tersebut sebagai respons atas kegelisahan warga yang tanahnya mulai banyak dijual. Sumenep sudan menghadapi darurat agraria. Saat ini, di kabupaten ujung timur Pulau Madura ini marak alih fungsi lahan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Apa yang disuarakan NU tepat, pas bersamaan dengan lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober dulu. Jika dulu bangsa ini menghadapi kolonialisme, saat ini sebenarnya tak ada bedanya cuma wajahnya berubah. SDA kita, termasuk tanah dan air, sudah dikuasai swasta termasuk asing," tutur Koordinator FNKSDA Sumenep, kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Peringatan HSN yang dikemas dengan upacara dan istighosah kubro itu mengambil tema? Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara Menjaga Pancasila dan NKRI.? Dalam kegiatan yang diikuti ribuan orang tersebut, tampak hadir Bupati Sumenep A Busyro Karim, sejumlah pengasuh pesantren, dan pengurus NU. (M Kamil Akhyari/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Khaerul Anam Hs mengatakan, tugas organisasi yang sekarang dipimpinnya adalah menyiapkan kayu pilihan, sementara NU bertugas membentuknya.

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPNU: Tugas Kami Menyiapkan Kayu

“Tinggal mau dijadikan apa kayu-kayu itu, itu tugas NU. NU mau menjadikannya apa, terserah,” katanya pada sambutan peringatan Hari Lahir (harlah) ke-60 IPNU di aula Perpustakaan Nasional, Jakarta (24/2).

Kayu-kayu itu, ketua umum kelahiran Sulawesi Selatan itu mengibaratkan, bisa dijadikan kursi, lemari atau yang lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pernyataan Khaerul Anam diamini oleh salah seorang mantan Ketua Umum IPNU KH Asnawi Latif yang disampaikan kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal selepas acara. “Betul itu apa yang dikatakan ketua umum tadi, IPNU kayu, bahan bakar,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut dia, dengan pengibaratan itu, IPNU berarti adalah organisasi pengkaderan untuk mempersiapkan kepemimpinan NU. Supaya pemimpin NU itu ke depan tidak karbitan, “Tahu-tahu sudah ada menclok aja di PBNU, tanpa ada kaderisasi di IPNU,” katanya.

Ia menambahkan, bukan tidak boleh orang masuk NU, tapi jangan langsung jadi pemimpin di Pengurus Besar. Sebab, kata dia, hal itu bisa mematikan kaderisasi. “Itu preseden buruk. Apa gunanya kaderisasi? Akhirnya kader-kader terbaik lari kemana-mana,” tegasnya.

Harlah bertema “60 Tahun Berkhidmah untuk Indonesia” tersebut mendaulat Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj untuk menyampaikan pidato. Selain itu, PP IPNU juga memberikan plakat penghargaan atas jasa mantan-mantan Ketua Umum IPNU. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Oleh : Ahmad Ali Adhim



Pengasuh Pesantren Sunan Drajat Lamongan yang keturunan Kanjeng Sunan Drajat (Raden Qosim) ke-14 ini selalu mempunyai ciri khas tersendiri dalam mensyiarkan agama Islam. Beliau adalah Prof. Dr. KH Abdul Ghofur. Beberapa kali putra H. Marthokan ini mendapat gelar doktor honoris causa dari universitas dalam dan luar negeri karena pengabdian nya yang luar biasa untuk masyarakat, seperti penganugerahan Doktor HC di bidang Ekonomi Kerakyatan dari American Institute of Management Hawaii, Amerika. Tanpa melalu proses belajar di kampus beliau berhasil meneliti “Khasiat Buah Mengkudu dan Pelestarian Tanaman” akhirnya Beliau juga mendapat gelar professor. 

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Pesantren Kiai Abdul Ghofur

Pesantren peninggalan Wali Songo yang nyaris terkubur oleh sejarah itu, kini di bawah asuhan Kiai Abdul Ghofur memiliki kurang lebih 12.000 santri. Rasanya hal itu sebanding dengan proses belajar Kiai Abdul Ghofur, jika kita runtut kembali melihat riwayat pendidikan yang pernah beliau tempuh. Pada masa mudanya beliau Menghabiskan waktu belajarnya di Pondok Pesantren Denanyar – Jombang, Pondok Pesantren Kramat dan Sidogiri di Pasuruan, Kemudian melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Sarang, Rembang dalam asuhan KH Zubair, lanjut ke Pondok Pesantren Lirboyo, Pesantren Tretek, Pesantren Roudhotul Qur’an Kediri. Sempat menimba ilmu juga di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pengalaman beliau sebagai kiai yang setiap hari menjadi tempat keluh kesah berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, membuat beliau menarik kesimpulan bahwa pendidikan di pesantren merupakan ruang belajar yang terbaik. Selain tidak terpengaruh pergaulan bebas, seks bebas, dan narkoba, pesantren juga menjadikan seseorang selain mendapat ijazah resmi dari negara juga menjadikan seseorang bisa mengaji (baik Al-Qur’an maupun kitab kuning), berceramah agama dan berkhutbah, memimpin doa, kemampuan-kemampuan keahlian keagamaan lainnya yang berguna saat terjun di masyarakat nanti. Pendidikan di pesantren yang tidak bisa terlepas dari budaya ngantri, jauh dari orang tua, makan yang dibatasi, jam tidur yang singkat, dan padatnya kegiatan yang harus diikuti akan membentuk pribadi yang sabar, sederhana, rendah hati, peduli, ikhlas, rajin, disiplin, hemat, bersahaja, santun, dan beradab.

Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, di sini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlak dan keagamaan. Setelah proses pembelajaran di bangku sekolah selesai diharapkan para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya. Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-Qur’an yang artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-citanya tentu saja mengarah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang didawuhkan oleh pengasuh pesantren. Jika mengacu pada buku yang diterbitkan Dirjen Bimbaga Islam Depag RI, 1984/1985, hal. 6-7, di situ sangat jelas bahwa misi awal Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Dalam Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren menuju suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan beberapa tujuan institusional pendidikan pesantren yang salah satunya secara khusus bertujuan untuk mendidik santri dan anggota masyarakat agar menjadi Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan, sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rupanya untuk mencapai tujuan mulia itu, KH Abdul Ghofur memilih jalur Thoriqoh Pendidikan. Bagaimanakah konsep Thoriqoh Pendidikan yang ditawarkan oleh beliau? Dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thoriqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.”

Imam Ghazali dalam karyanya Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunah pada malam hari, berpuasa sunah, serta menghindari kata-kata yang tidak beguna.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Annemarie Schimmel (Seorang ahli dalam bidang mistisisme Islam) dalam karyanya Mystical Dimensions of Islam (USA: The University of North Carolina Press, pada tahun 1975, halaman 98, ia mengartikan thoriqoh dengan istilah: “The tariqa, the “path” on which the mystics walk, has been defined as “the path which comes out of the sharia, for the main road is called shar‘i, the path, tariq.” This derivation shows that the Sufi’s considered the path of mystical education a branch of that high -way that consists of the God-given law, on which every Muslim is supposed to walk. No path can exist without a main road from which it branches out ; no mystical experience can be realized if the binding injunctions of the shar’ia are not followed faithfully first. The path , tariqa, however, is narrower and more difficult to walk and leads the adept—called salik, “wayfarer”—in his suluk, “wandering,” through different stations (maqam) until he perhaps reaches, more or less slowly, his goal, the perfect tauhid, the existential confession that God is One.”

Definisi tersebut memberi gambaran bahwa thoriqoh adalah jalan khusus bagi salik (penempuh jalan ruhani) untuk mencapai kesempurnaan tauhid, yaitu ma’rifatullah. Jalan yang diambil oleh para sufi berasal dari jalan utama, syariat. Dijelaskan oleh Carl W. Ernst seorang spesialis dalam studi Islam, dengan fokus di Asia Barat dan Selatan dalam bukunya Ajaran dan Amaliah Tasawuf yang diterjemahkan oleh Arif Anwar pada tahun 2003 hal 153. Adapun thoriqoh dalam bentuk institusi baru muncul pada abad 11. Awalnya merupakan gerakan bersifat privat yang dilakukan oleh orang-orang yang sepaham pada awal-awal masa Islam, akhirnya tumbuh menjadi suatu kekuatan sosial utama yang menembus sebagaian besar masyarakat Muslim.

Dalam Al-Qur’an sendiri, misalnya jika ditinjau dalam surat Al-Jin Ayat 16, kita akan menemukan penjelasan seperti ini “Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh, pasti mereka akan mendapatkan air yang menyegarkan. Sedangkan dalam bidang tasawuf seringkali dikenal istilah thoriqoh, yang berarti jalan untuk mencapai keridhoan Allah SWT. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi mengatakan “jalan menuju Allah itu sebanyak hitungan nafas makhluk”, aneka ragam dan bermacam-macam.

Untuk memahami seperti apakah thoriqoh pendidikan yang dimaksud oleh Kiai Abdul Ghofur, kita bisa mengingat kembali bahwa Ibnu Abdil Barr pernah meriwayatkan satu hadits yang artinya seperti ini ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi Rasulullah pernah bersabda ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. Kedua Hadits itu sudah sangat jelas bahwa menuntu ilmu (proses dalam pendidikan) adalah suatu jalan yang harus kita tempuh.

Kiai Abdul Ghofur dalam ceramahnya pernah menyampaikan “Aku wakafkan hidupku untuk pendidikan, dan thoriqohku adalah pendidikan.” Dapat kita fahami bersama, beliau sangat peduli terhadap pendidikan, karena bagi beliau “pendidikan” akan menjadikan manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3. Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Mengusung misi yang sangat mulia seperti itu kenapa perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren tidak begitu serius? Kiai Abdul Ghhofur sangat prihatin kenapa pesantren dijadikan pilihan kedua bahkan terakhir oleh banyak para orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya?

Padahal tujuan pendidikan pesantren (Islam) sudah sangat jelas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Seperti itulah ajaran-ajaran yang diberikan dalam pesantren. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.

Konteks yang lebih menarik dari pengertian tujuan pendidikan adalah bagaimana kita melawan kebodohan dan kemalasan yang ada dalam diri kita. Sebagaimana dawuh Kiai Abdul Ghofur “Sekarang sudah bukan masanya berjihad dengan peperangan, akan tetapi yang lebih tepat adalah berjihad melawan kemalasan dan kebodohan, yaitu dengan cara memperbanyak beribadah, serius dalam belajar.”

Begitu agung dan bijaksana nasihat yang telah beliau berikan kepada kita, seakan-akan beliau mengajak kita semua untuk membuat “negara pondok pesantren“. Dimana semua pendidikan di negara ini berbasis pondok pesantren. Serta semua pemimpin dan pejabatnya sebisa mungkin harus lulusan pondok. Karena bagi beliau, dengan memiliki pemimpin lulusan pondok pesantren, maka Insya Allah negara kita akan menjadi negara yang sejahtera, religius, dan bebas korupsi. Seperti itulah Konsep Thoriqoh Pendidikan yang dikembangkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH Abdul Ghofur, kurang dan lebihnya hanya Allah SWT dan Kiai Abdul Ghofur yang tahu.





Penulis, mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penghimpunan zakat dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau plat merah dinilai tidak kuat, karena tidak menunjukan kekuatan umat. PNS itu hanya sebagian kecil dari umat Islam, sehingga kalau hanya mengandalkan zakat dari abdi negara, maka perkembangan zakat di Brebes sulit untuk berkembang.?

“Kalau bisa, kita keluar dari plat merah agar seluruh umat bisa secara sukarela membayarkan zakatnya ke Baznas,” ujar Ketua Baznas Kabupaten Brebes KH Chunan Zein ? saat Sosialisasi Baznas dengan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di ruang rapat Bupati, Kamis (10/3).

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat

Potensi umat, kata Kiai Zein, jauh lebih besar bila diberdayakan dengan penuh kesungguhan. Tentunya, perlu mendapat bantuan dari seluruh pihak untuk mewujudkan masyarakat yang sadar zakat melalui Baznas. “Kami bertekad mewujudkan Baznas Kabupaten Brebes sebagai lembaga yang amanah, professional dan transparan,” ujarnya.

Tidak dipungkiri, lanjutnya, selama ini kesadaran yang tinggi baru dari kalangan PNS. Itu pun masih berkisar 9 persen. Dari 12.359 PNS di Kabupaten Brebes bila rata-rata penghasilan Rp 3 juta perbulan kali 2,5 persen, maka akan terkumpul zakat Rp 11,1 Miliar per tahunnya. “Namun baru terkumpul Rp 1,1 miliar per tahunnya,” kata Kiai Zein.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sosialisasi disampaikan terkait dibentuknya kepengurusan baru periode 2015-2020. Dalam program unggulannya, antara lain akan mengadakan pendataan dan pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ), pemetaan dan pengembangan kuantitas dan kualitas mustahik, potensi zakat produktif, pemenuhan sarana prasarana, membangun kepercayaan muzaki, membangun sinergitas kerja dengan unsur terkait, dan meningkatkan akuntabilitas laporan keuangan dengan audit internal dan eksternal.

Senada disampaikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang disampaikan Kabag Kesra H Ahmad Imron yang menyatakan bahwa masyarakat masih memandang zakat itu masih urusan pribadi masing-masing umat. Sehingga yang menyalurkan zakat lewat Baznas masih belum signifikan dari jumlah umat Islam di Kabupaten Brebes.?

Bupati juga mengingatkan untuk tidak terkecoh dengan lembaga yang mengumpulkan zakat karena ditengarai pertanggungjawabannya tidak maksimal. “Kita sudah memiliki badan resmi yang mengelola Zakat, Infaq dan Shadaqah yakni Baznas Kabupaten Brebes. Sehingga masyarakat muslim sudah seharusnya menyalurkan ke badan resmi pemerintah,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mutasyar PCNU Kabupaten Brebes KH Syekh Soleh Basalamah dalam paparannya menjelaskan, tentang pentingnya berzakat atau bersedekah. Berdasarkan Firman Allah SWT dan Hadits Nabi, shadaqah bisa menjadi solusi ampuh untuk mengatasi berbagai permasalahan.?

Untuk kehidupan di akherat, kata Syekh Soleh, shadaqah antara lain bisa menjadi pemadam siksa kubur, penghalang dari api neraka, penghapus dosa dan naungan di hari kiamat.?

Sedangkan untuk kehidupan di dunia antara lain dengan zakat dan shodaqoh bisa menambah rezeki, mencegah kejelekan, penyebat mendapatkan pertolongan, menolak kesusahan dan kesulitan, dan melumpukan setan.

Namun perlu diketahui, bahwa peranan zakat dan shadaqah akan terhalang manakala seorang hamba melakukan hal-hal meninggalkan sholat lima waktu, durhaka kepada kedua orang tua, bersumpah palsu, mengonsumsi sesuatu yang tidak halal, menggunjing (ghibah) dan memutuskan silaturahmi. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

Puasa merupakan ibadah yang cukup efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk itu, puasa sangat dianjurkan sebanyak mungkin sesuai kemampuan masing-masing orang. Namun, demikian perlu memerhatikan hari-hari tertentu yang dilarang agama untuk menjalankan ibadah puasa seperti hari tasyriq, hari Idul Fithri, maupun Idul Adha.

Lalu bagaimana puasa di bulan Sya’ban. Sya’ban merupakan salah satu bulan terhormat di sisi Allah SWT. Akan baik sekali mendekatkan diri melalui puasa di bulan ini. Bagaimana dengan puasa setelah pertengahan Sya’ban berlalu? Di sini ulama berbeda pandangan.

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Setelah Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid, menyebutkan sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Adapun mengenai puasa di paruh kedua bulan Sya’ban, para ulama berbeda pendapat. Sekelompok menyatakan, makruh. Sementara sebagian lainnya, boleh. Mereka yang menyatakan ‘makruh’ mendasarkan pernyataannya pada hadits Rasulullah SAW, “Tidak ada puasa setelah pertengahan Sya’ban hingga masuk Ramadhan.”

Sementara ulama yang membolehkan berdasar pada hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah RA dan Ibnu Umar RA. Menurut Salamah, “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali puasa Sya’ban dan Ramadhan.” Ibnu Umar RA menyatakan, Rasulullah SAW menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan. Hadits ini ditakhrij oleh A-Thohawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Melihat dua pandangan ini, baiknya kita saling menghormati pendapat dan amalan puasa satu sama lain. Dengan saling menghormati, upaya mendekatkan diri kepada Allah bisa diwujudkan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Internasional, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

NU Magetan Gelar Kompetisi Sepakbola Api Antarpesantren

Magetan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam rangka menyemarakkan harin lahir (harlah) ke-93 Nahdlatul Ulama, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Magetan, Jawa Timur menyuguhkan rangkaian kegiatan untuk masyarakat selama April hingga Mei, di antaranya acara kompetisi olahraga dan sejumlah kegiatan sosial dan keagamaan.

NU Magetan Gelar Kompetisi Sepakbola Api Antarpesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Magetan Gelar Kompetisi Sepakbola Api Antarpesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Magetan Gelar Kompetisi Sepakbola Api Antarpesantren

Acara perdana dari rangkaian tersbeut adalah diselenggarakannya Kompetisi Sepakbola Api antarpondok pesantren se-Kabupaten Magetan melalui kepanitiaan Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) dan Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), mulai 4-9 April 2016.

Ketua PC IPNU Magetan, Thoha Rizal al Aziz menuturkan, kompetisi ini diikuti 16 klub perwakilan dari beberapa pondok pesantren dan jamaah shalawat di Kabupaten Magetan. Mereka bersaing memperebutkan piala bergilir dan uang pembinaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu Sabtu (9/4), tambah Thoha, kompetisi memasuki partai puncak, mempertemukan PAC IPNU Karas versus Minuha FC dari Pondok Pesantren Miftahu Nurul Huda Panekan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Selain itu, partai 3 dan 4 mempertemukan Gennusa FC (PC IPNU Mgt) Vs Manjing FC (Mafia Sholawat Karas)," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Sabtu (9/4).

Ia berharap pertandingan sepak bola api ini dapat mempertahankan dan menghidupkan kembali tradisi sepak bola api yang identik dengan acara kaum sarungan atau santri.

Angka 93 pada Harlah ke-93 NU merujuk pada hitungan kalender hijriah kelahiran organisasi sosial keagamaan yang lahir pada 16 Rajab 1344 ini. Selain diperingati menurut hitungan kalender masehi, harlah NU juga disemarakkan menurut hitungan kalender hijriah sebagaimana amanat Muktamar Ke-32 NU di Makassar. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Grobogan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Anggota Muslimat NU Tawangharjo mengadakan tahlil dan mudarasah al-qur’an secara estafet. Acara di bawah naungan Muslimat digelar saban selapan (35 hari), tiap Jum’at legi yang kini dimaksudkan untuk mendiang suami Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Acara yang diikuti para hafidzah se-kecamatan Tawangharjo dan para mustamiin digelar di pesantren Al-Anwar, Selo Tawangharjo Grobogan, Jawa Tengah, Jum’at (17/1). Tahlil dan doa dipimpin pengasuh pesantren Al-Anwar, nyai Lu’luul Ifadah.

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Tawangharjo Gelar Tahlilan Suami Khofifah

Menurut Ketua PAC Muslimat NU Tawangharjo, Nyai Rif’ah, kirim tahlil ini  merupakan bentuk bela sungkawa kader sebagai anggota Muslimat NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Suami dari ketua umum kami telah dipanggil Allah. Kita nggak mungkin bertakziyah ke sana. Kita cukup kirim tahlil sebagai media belasungkawa kita,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menuturkan, sesama orang Islam harus saling mendoakan. Selain kepada yang kita kenal, namun kepada orang yang tidak kenal pun kita dianjurkan saling mendoakan.

“Selain doa, menebarkan salam juga dianjurkan kepada siapa pun,” imbuhnya. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Meme Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar seminar tentang "Standarisasi Kurikulum Pondok Pesantren". Seminar hasil penelitian ini digelar di hotel Lor Inn Sentul Bogor, Senin (25/8).

Acara yang rencana dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa, 25-26 Agustus 2014 ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Prof Dr Machasin MA. Hadir dalam acara tersebut para peneliti di lingkungan Balitbang dan para pimpinan pesantren dari wilayah Jabodetabek.

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Penda Gelar Seminar Hasil Penelitian Pesantren

Dalam laporannya, Kepala Puslitbang Penda Prof Abdurrahman Masud PhD mengatakan seminar tersebut merupakan hasil riset para peneliti yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. "Hasil riset teman-teman peneliti menyebut bahwa sekarang terjadi cultural decline (kemunduran budaya)," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Abdurrahman menambahkan, penelitian tersebut memotret pandangan kiai yang meliputi tiga aspek: input, proses, dan output pendidikan pesantren. Oleh karenanya, untuk membedah ringkasan hasil survei tentang pandangan kiai terhadap peningkatan mutu kajian kitab kuning di pesantren ini Puslitbang mengundang tiga narasumber yang ahli di bidang pesantren.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mereka adalah Prof Iik Arifin Mansournoor (Guru Besar Brunei University), Dr A Moqsith Ghazali (Dosen UIN Jakarta), Mundzir Suparta (Kemenag), dan Dr Saiful Umam (lulusan Hawaii University)," ujar doktor jebolan University of California Los Angeles (UCLA) AS ini.

Pria kelahiran Kudus ini berharap, para pimpinan pesantren dan peserta untuk aktif dalam kegiatan seminar. "Saya harap para hadirin untuk aktif dalam diskusi kali ini. Lebih bagus lagi disiapkan pertanyaan dan atau pernyataan yang memperkaya dan inspiring," harapnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ratusan warga nahdliyyin kampung setempat menghadiri pembacaan Maulid Simtudduror di masjid Jami’ Haqqil Huda Kampung Gedung Harta Kecamatan Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (30/7). Setelah itu mereka melanjutkannya dengan pembentukan Isharinu (Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama).

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Selagai Lingga Edi Hermawan di sela-sela kegiatan tersebut. Ia menyambut positif pembentukan Isharinu di wilayah Kecamatan Selagai Lingga.

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu

“Semoga dengan hadirnya Isharinu di wilayah kami semakin meningkatkan ghiroh (semangat) sekaligus meneguhkan semangat khususnya generasi muda NU untuk melestarikan dan merawat tradisi, amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyyah dalam hal ini khusus hadrah dan shalawat,” kata alumni Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM NU) Kota Metro Lampung ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus MWCNU Selagi Lingga Kiai Nur Jamali mengatakan, kehadiran Isharinu di Selagai Lingga semoga dapat menjadi wadah positif yang mampu menaungi grup-grup shalawat yang tersebar di kampung-kampung, dan bisa mengadakan agenda rutin pada momen yang lain.

Akhirnya melalui proses demokratis terpilih Pengurus Isharinu Kecamatan Selagai Lingga dengan Agusmanto sebagai ketua dan Nita Nur Jannah sebagai Sekretaris.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa tokoh NU turut hadir dalam pembentukan Isharinu Kecamatan Selagai Lingga adalah Pengasuh Pesantren Darussalam Kiai Muhammad Fauzan Annur, Mustasyar MWCNU Selagai Lingga Kiai Hasbullah, pengurus MWCNU Selagai Lingga Kiai Nur Jamali, Sekretaris MWCNU Selagai Lingga Tamziy, Muslimat NU Selagai Lingga Musfiroh, Fatayat NU Selagai Lingga Eva Rifatul Aini, sembilan grup hadrah, dan tokoh masyarakat setempat. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seiring dikesampingkannya pendidikan non-formal dalam hal ini sebagai benteng generasi muda oleh sebagian orang tua, membuat Rais MWCNU Kaliori KH Mustain angkat bicara. Ia menyatakan, masyarakat jangan memprioritaskan sekolah formal saja, tetapi setidaknya mengmibangi pendidikan karakter dengan pendidikan keagamaan Islam seperti di pondok pesantren dan madrasah diniyah.?

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Kiai Mustain menganjurkan, sebagaimana ulama terdahulu agar senantiasa memperhatikan hal yang berkaitan dengan ilmu dan akhlak. Sebagaimana orang terdahulu, lanjut Kiai Mustain, contoh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Malik, dan Imam Ibnu Hambal mereka semua merupakan orang terpandang dihadapan manusia dan Allah SWT.?

"Tidak cukup dengan bersantai-santai bisa menjadi orang yang berilmu. Para ulama banyak mengarang kitab, untuk memacu para santri dalam hal ilmu. Maka di pesantren ada kitab yang namanya Talimul Mutaalim,” jelasnya.

Sebagaimana sabda Nabi, kata Kiai Mustain, barang siapa yang ingin dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin akhirat maka juga harus dengan berilmu. Ia menambahkan, kita terlambat dalam mencari ilmu. Jangan orang yang iri ketika melihat kesuksesan orang, baru kita ingin belajar. Orang ini masuk dalam kategori orang yang terlambat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, banyak orang tua yang mengedepankan sekolah formal, dibandingkan dengan pendidikan pesantren dan madrasah diniyah. Demi pelajaran di sekolah umum, orang tua rela mencari seorang guru yang ahli dibidangnya. Bukan hanya itu saja, kata Kiai Mustain, orang tua pun rela antar jemput. Hal ini bertolak belakang jika orang tua berbicara dengan ngaji dan madrasah diniyah, banyak orang tua yang acuh dalam hal ini.

Dia menandaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling profesional dalam hal mendidik. Sebabnya, semua guru yang mengajar dipastikan sudah lebih dahulu melakukan apa yang diajarkan. Meski tidak bisa dipungkiri, sekola umum dinilai penting sebagai perimbangan. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 16 November 2017

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

Bantul, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Kapolda DIY Brigjen H Ahmad Dhofiri menyampaikan, perlu koordinasi berkelanjutan dalam upaya menangkal paham radikalisme. Hal tersebut disampaikannya saat mengisi “Halaqah PCNU Bantul dan Polda DIY”, di Gedung PCNU Bantul, Sabtu (20/5).

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

Kapolda menambahkan, Yogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, kota gudeg, kota wisata adalah miniatur Indonesia. Karenanya banyak wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi dan tinggal untuk belajar.

“Namun, di Yogjakarta masih ada kelompok yang memaksakan ideologi, separatisme; juga ada. Perlu kita sadari dan waspadai bahwa radikalisme itu gerakannya cepat dengan keras yang tumbuh di mana-mana,” kata Kapolda.

Ia menyebutkan adanya TKW yang awal keberangkatan berdandan dengan rambut masih biasa. Setahun bekerja di luar negeri, rambutnya sudah pirang kemudian berubah menggugunakan cadar.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Terus mau melakukan bom bunuh diri di Istana Merdeka. Alhamdulillah aparat mencium niat jahat tersebut dan langsung mengamankan pelaku,” paparnya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar masyarakat merawat dan menjaga empat pilar yang membuat kokoh berdiri bangsa ini yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.?

Kapolda mengharapkan masyarakat dan semua elemen bangsa untuk mewaspadai aksi gerakan seperti itu, karena mengancam keutuhan NKRI.?

“Kalau ada yang menggangu keutuhan Indonesia, hanya satu kata: lawan!” pekiknya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia mengutip lagu Ya lal wathon “Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu.?

Turut hadir pada kegiatan tersebut rektor UNU Yogjakarta Purwo, anggota DPD RI HA Hafith Asrom, Rois Syuriah PCNU Bantul KH Kholiq Syifa, Kodim Bantul, Direktur NU Care Bantul Rustam Nawawi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

Palestina Sambut Gembira Pengakuan Kemerdekaan oleh Swedia

Ramallah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Keputusan Swedia untuk mengakui Palestina sebagai negara adalah tindakan "berani," kata juru runding senior Palestina Saeb Erakat pada Jumat.

Palestina Sambut Gembira Pengakuan Kemerdekaan oleh Swedia (Sumber Gambar : Nu Online)
Palestina Sambut Gembira Pengakuan Kemerdekaan oleh Swedia (Sumber Gambar : Nu Online)

Palestina Sambut Gembira Pengakuan Kemerdekaan oleh Swedia

Erakat juga mendesak negara-negara anggota Uni Eropa lain untuk mengikuti langkah Swedia.

"Kami menyambut baik pengumuman yang disampaikan oleh perdana menteri Swedia," kata Saeb Erakat di ibu kota administratif Tepi Barat, Ramallah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami berharap semua negara anggota Uni Eropa juga akan mengambil keputusan yang berani ini...karena tidak ada alasan untuk tidak mengakui negara Palestina," kata Erakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu Nabil Abu Rudeina, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan "telah tiba waktunya bagi seluruh dunia untuk mengakui Palestina sebagai negara."

Menteri Luar Negeri Riyad al-Malki menyambut baik keputusan Swedia yang dia sebut sebagai komitmen terhadap kemerdekaan, kemandirian dan hak asasi manusia yang "bersejarah".

Sebelumnya, Perdana Menteri Swedia Stefan Loefven dalam acara pelantikan jabatan di hadapan parlemen mengatakan bahwa "solusi dua negara memerlukan pengakuan mutual dan niat baik untuk hidup berdampingan secara damai."

Pengakuan terhadap Palestina harus dilakukan dengan menghormati "tuntutan wajar dari warga Palestina dan Israel terkait hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan hidup secara aman," kata Loefven kepada AFP.

Di dalam Eropa Bersatu, beberapa negara, seperti, Hungaria, Polandia dan Slovakia, mengakui Palestina, tapi mereka melakukannya sebelum bergabung dengan kelompok 28 anggota itu.

Jika pemerintah kiri-tengah itu mewujudkan rencananya, Swedia akan menjadi negara pertama mengakui Palestina saat menjadi anggota Eropa Bersatu.

Partai Sosial Demokrat dan Hijau berjumlah kecil di parlemen dan pemerintah kiri-tengah mendatang itu cenderung menjadi salah satu yang terlemah di Swedia dalam beberapa dasawarsa.

Mantan pemerintah kanan-tengah tidak mengakui Palestina, karena pemerintah Palestina tidak menguasai wilayah mereka.

Palestina menginginkan negara merdeka di Tepi Barat dan Gaza, dengan ibukota di Yerusalem Timur.

Sementara batas Gaza jelas, wilayah tepat dari yang akan menjadi Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur hanya akan ditentukan melalui perundingan dengan Israel pada penyelesaian dua-negara, yang saat ini ditangguhkan, demikian Reuters. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock