Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

PMII Padang Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kabupaten Limapuluhkota

Padang,? Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Padang, Sumatera Barat menyalurkan bantuan untuk korban banjir di di Nagari Koto Baru Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Meski lokasi masih diguyur hujan, tampak para relawan tak patah semangat menyerahkan bantuan, Sabtu (11/3).?

Bantuan berupa perlengkapan belajar seperti tas, sarung, baju, buku dan alat tulis lainnya itu diserahkan langsung kepada anak-anak usia sekolah. Mereka tampak tersenyum bahagia dan sangat bersyukur akan bantuan ini. Adapun bantuan ini diperoleh dari aksi galang dana oleh segenap kader PMII Kota Padang di Jalan Rasuna Said Kota Padang.

PMII Padang Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kabupaten Limapuluhkota (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Padang Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kabupaten Limapuluhkota (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Padang Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir di Kabupaten Limapuluhkota

Kegiatan ini langsung disaksikan oleh beberapa orang tua dari anak-anak yang menerima perlengkapan belajar itu. Salah seorang dari orang tua murid bernama Ujang menyampaikan terima kasih kepada para kader PMII.



Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



"Terima kasih banyak nak, Babuku juo anak ambo sikola. Hati-hati salamaik baliak ka padang handaknyo," ucapnya dalam bahasa Padang.

Ketua PMII Kota Padang Hasbullah Alqomar mengatakan, tak banyak yang bisa pihaknya berikan. Namun dia berharap upaya yang dilakukannya ini dapat sedikit meringankan beban korban banjir. Ia memahami, merasakan dan menyadari sepenuhnya musibah yang menimpa ini merupakan ujian dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Senyum yang terpancar dari para generasi harapan ini sudah lebih dari cukup untuk apapun yang telah kami lakukan. Terimakasih yang tak terhingga untuk para donatur, semoga dibalasi dengan yang berlipat ganda. Amiin," kata Alqomar.

Koordinator Lapangan Fadli Jamal menyampaikan, bantuan ini sengaja langsung sampaikan kepada mereka. Karena dia ingin membaur dan mendengar langsung curahan hati korban banjir ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits, Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus IPNU-IPPNU Kota Tegal mengadakan latihan bagi calon fasilitator pertama di Gedung NU Kota Tegal jalan Wisanggeni, Tegal, Ahad (4/10). Peserta pelatihan dipersiapkan agar memiliki bekal yang cukup dalam pelbagai kegiatan kaderisasi di lingkungan pelajar NU.

Pembina IPNU Kota Tegal Imam Tantowi berharap peserta pelatihan dapat berbagi materi yang didapat pada pelatihan ini kepada para kader yang ada di Kota Tegal ini.

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tegal Siapkan Calon Fasilitator Kaderisasi

Ketua IPNU Kota Tegal Zahrudin menegaskan bahwa dalam pelatihan ini bukan hanya kuantitas yang dikembangkan tetapi kualitas kader yang lebih dikedepankan. Ia yakin pelatihan ini akan mencetak kader fasilitator yang andal dan inovatif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua panitia pelatihan Nur Izzatul Millah menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk melatih para calon fasilitator dalam rangka menyukseskan program kaderisasi. Rencana ke depan IPNU dan IPPNU Tegal akan mengadakan kaderisas keliling.

Pengurus IPNU-IPPNU yang sudah menjadi fasilitator akan diterjunkan ke semua pimpinan ranting. Mereka akan membimbing setiap pekan selama dua bulan berturut–turut guna peningkatan kualitas kader di setiap ranting.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelatihan berlangsung selama dua hari ini mendapat bimbingan dari fasilitator IPNU-IPPNU Jawa Tengah. “Dari hasil roadshow pengaderan, masing-masing perwakilan akan diikutsertakan di Makesta Raya di tiap kecamatan, pada Desember mendatang,” pungkas Nur Izzatul Millah.

Hadir dalam kesempatan ini para pembina IPNU lainnya seperti Sofyan Efendi, Hasan Mustota, Aziz Putra, dan Rizki. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ratusan pelajar NU di Desa Kumbo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengadakan karnaval peringatan HUT RI ke-71.

Namun berbeda halnya dengan karnaval di tempat lain, para kader muda NU ini membentangkan banner dan poster ajakan untuk melakukan gerakan 5 jari agar santri dan pelajar Indonesia lebih baik.

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 5 Jari untuk Pelajar Lebih Baik

Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Rembang Aan Ainun Najib mengatakan, upaya ini dilandasi atas keresahan para pelajar NU melihat kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

"Baru saja kita dihebohkan dengan pengeroyokan guru yang dilakukan orang tua dan siswa. Ini menjadi keprihatinan bagi kami pelajar NU yang peduli terhadap masa depan dunia pendidikan di Indonesia," terangnya saat mengikuti karnaval, Senin (22/8) pagi.

Gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia ini berisikan lima point ajakan agar santri dan pelajar Indonesia dapat santun dalam bertindak. Kelima point yang disampaikan adalah, ajakan menolak radikalisme, menolak kekerasan pada guru, menolak narkotika, menolak aliran sesat, dan terakhir ajakan menjaga ekosistem alam.

"Menurut kami, kelima point penting yang kami sampaikan ini akan mewakili betapa santun dan berbudinya para pelajar Indonesia apabila mau melakukannya," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pihaknya juga berupaya menghimpun kekuatan dalam sosialisasi gerakan 5 jari santri dan pelajar Indonesia lebih baik dalam media sosial. Dengan hashtag #gerakan5jari yang nantinya bakal diisi oleh para pengguna media sosial yang peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia dengan berfoto sambil menunjukkan telapak tangan dengan diberi keterangan kata-kata santun dan motivasi bagi pelajar Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saya harap dengan langkah kecil ini akan lebih memotivasi para generasi muda khususnya santri dan pelajar untuk santun dalam belajar, hormat kepada guru, selalu menjaga ekosistem alam, dan tentunya menerapkan rasa cinta terhadap tanah air," tutup Aan. (AA Najib/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Formalisasi agama dengan alasan untuk menciptakan masyarakat yang Islami ternyata memiliki potensi yang besar untuk disalahgunakan sebagai alat untuk memberangus para oposan. Menurut NU, sebenarnya yang penting mengambil substansi ajaran Islamnya, bukan simbol-simbolnya saja.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menanggapi maraknya pembuatan perda syariat di sejumlah daerah yang ditakutkan sebagai awal untuk mengganti dasar negara kita menjadi negara Islam. Menurut Kang Said, dalam sejarah formalisasi Islam, hal tersebut telah terbukti. Para oposan selalu dianggap kafir, zindiq, padahal bukan masalah kafirnya, tapi masalah kritisnya.

“Karena negaranya negara Islam, maka yang menentang Islam berarti kafir, lha begitu….Korbannya banyak, Hallaj dibunuh karena dibelakangnya ada orang-orang yang teraniaya, orang kulit hitam yang didholimi. Salah seorang pujangga, Sholeh bin Abdul Kuddus, juga jadi korban.  Abdullah bin Mukoffak juga dibunuh dengan alasan kafir karena menentang negara.Islam,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu. 

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)
Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Hal yang sama juga berlaku di Saudi Arabia saat ini. Kalau ada yang mengkritik pemerintah dianggap kafir, zindik karena menentang pemerintah Islam. “Padahal bukan masalah agama, tetapi masalah perilaku penguasa yang tidak benar. Senjata yang paling efektif itu agama. Allahu Akbar…. Islam, padahal mereka dibayar kan,” tuturnya.

 

Perda Anti Maksiat

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, Kang Said yang juga lulusan Universitas Ummum Qura Makkah tersebut berharap agar beberapa perda yang dinamakan perda syariat tersebut diganti saja dengan perda anti maksiat.

“Aturan yang melarang tentang perjudian, narkotika, miras dan lainnya, ini gak usah bilang syariat Islam, ini perda anti maksiat. Menggunakan kata syariat Islam ini menyebabkan ekskusif, kemudian resistensi dan selanjutnya bisa menimbulkan retaknya bangsa ini,” imbuhnya.

Berbagai istilah seperti Tim Pembela Islam untuk membela salah satu tokoh di pengadilan juga bisa menimbulkan masalah. “Membela Syaikh Abu Bakar Baasyir sebut saja sebaga tim pembela Abu Bakar Baasyir, gak usah disebut tim pembela Islam. Nanti akan timbul tim pembela Kristen, Tim pembela Buddha, tim pembela Hindu. Ini hak mereka untuk membela, tapi jangan sebut agama, ini bukan negara agama. Kalau ada orang China, Kristen perilakunya baik, ya kita bela,” tegasnya. (mkf)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Tangerang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H, Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) melaksanakan program NUcare dengan pengobatan gratis di Kampung Encle Kabupaten Tangerang Banten pada Sabtu (7/6).

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Ketua LAZISNU KH Masyhuri Malik mengatakan, kegiatan yang dikerjasamakan dengan BPZIS Mandiri ini berupaya untuk membangkitkan semangat berbagi dan bersedekah kepada golongan yang berhak mendapatkan (mustahiq). “Kegiatan pengobatan gratis merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan lazisnu dalam menyambut bulan suci di tahun sekarang dengan tema “Bangkit Sedekah,” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Senin (9/7).

Kiai Masyhuri menjelaskan, Bangkit Sedekah adalah membangkitkan budaya bersedekah di kalangan umat Islam Indonesia, terutama warga NU untuk kemandirian umat. Bersedekah adalah budaya baik warisan para pendahulu, baik para kiai dan para ulama. “Dengan Bangkit Sedekah, LAZISNU akan menjadi motor penggerak bagi kebangkitan dan energi segar untuk menuju cita-cita kemakmuran masyarakat Indonesia,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Masyhuri melanjutkan, kemandirian dengan Bangkit Sedekah itu kita mulai dari LAZISNU. Lembaga zakat NU tersebut selalu memberikan semangat kepada para kadernya untuk bersama-sama dan bahu-membahu dalam menyiarkan kebangkitan kemandirian umat dengan Bangkit Sedekah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LAZISNU, tambah kiai Masyhuri, sadar instrumen kemandirian umat itu harus dimulai dari lembaga zakat. Karena lembaga zakat secara posisi menjadi garda terdepan dalam memberikan tarbiyah kepada para penerima hak (mustahiq). “Maka semua program distribusi LAZISNU (Nusmart , Nucare, Nupreneur, Nuskil) selalu bermuara dalam memberikan stimulan kepada mustahiq supaya mereka menjadi mandiri,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bulan Ramadhan merupakan bulan Sedekah penuh rahmah. Bulan berkah ini akan dijadikan momentum untuk Program Bangkit sedekah lazisnu sekaligus upaya pencapaian target LAZISNU di tahun 2014. “Program Bangkit Sedekah, Lazisnu mengajak ke semua masyarakat untuk bersedekah di LAZISNU sesuai dengan program Ramadhan 1435 H,” ajaknya.  

Kiai Masyhuri menyebutkan, program "berbagi berkah puasa", yaitu paket buka puasa untuk komunitas marginal Jabodetabek, anak jalanan, pemulung, pesisir. Sedekah untuk kegiatan tersebut adalah Rp 50.000,-/paket.

Sementara program "berbagi sahur tanda syukur" untuk kampung padat penduduk, pesisir dengan sedekah Rp 50.000,-/paket. Serta "bingkisan lebaran", untuk dhuafa, marbot, penjaga stasiun, supir bajaj dengan sedekah @300.000,-/paket. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) yang paling dikenal yakni Nyai Hj. Mahmudah Mawardi. Dalam kurun waktu kepemimpinannya selama delapan periode lamanya (1950-1979, Muslimat NU tampil sebagai sebuah organisasi wanita yang cukup progresif. Muslimat berperan aktif di dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Mahmudah Mawardi ikut mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Lahir pada tanggal 12 Februari 1912, Mahmudah kecil dibesarkan di lingkup pesantren yang diasuh oleh ayahnya, Kiai Masjhud. Kiai Masjhud merupakan salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.

Mahmudah merupakan anak pertama dari lima saudari. Mereka adalah Mahmudah, Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah dan Mahmulah. Kelima putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama Kiai Masjhud. Setelah istri pertamanya wafat, Kiai Masjhud kemudian memperistri Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, H. Mustahal Ahmad.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejak kecil Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian ia belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan madrasah di daerah Keprabon Timur Solo. Letaknya sekitar 300 m ke arah utara dari rumah Mahmudah.

Seiring waktu berjalan, Mahmudah terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus keguruan. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Jamsaren Solo, di bawah asuhan KH Mohammad Idris. Kesemuanya ini menjadikan dirinya sebagai pribadi yang terpelajar nan alim.

Berdasarkan penuturan salah seorang keponakannya, Nashirul Umam, Mahmudah juga berhasil menjadi salah seorang penghafal Alquran atau hafidhah.



Kiprah Mahmudah


Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930. Bersama kaum perempuan muslim di Solo, ia kemudian mendirikan organisasi Nahdlatoel Moeslimat (NDM) di Kauman Surakarta pada bulan April 1931. Organisasi ini bergerak pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Dalam proses pendirian, Mahmudah menjadi ketua pendiri organisasi, hingga akhirnya membuka cabang di mana-mana.

Selama kurun waktu 1933-1945, Mahmudah menjadi kepala sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.

Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).

Sebagai tokoh pergerakan, kehidupan Mawardi banyak menginspirasi Mahmudah untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Mahmudah kemudian ikut aktif dalam organisasi kewanitaan. Hinggga pada tahun 1943, Mawardi meninggal. Sejak saat itu perjalanan panjang berkarir, berjuang dan membesarkan anak-anak, mesti dijalani sendiri oleh Mahmudah.

Tidak hanya itu, ketika pada tahun 1954 ayahnya wafat, ia diberi amanah untuk menggantikan sang ayah sebagai pengasuh pesantren yang kala itu terdapat 150 santri putri. Berbagai jalan kehidupan ini, semakin membentuk karakternya sebagai seorang wanita yang tangguh.

Pada masa ini, ia juga menjadi salah satu kunci terbentuknya IPPNU yang ketika awal berdiri berpusat di Solo. Hampir sebagian besar tokoh pendiri IPPNU, seperti Umroh Machfudzoh, Basyiroh Soimuri, Machmudah Nahrowi, Farida Mawardi dan lain-lain merupakan santriwati yang ikut mengaji di Pesantren Masjhudiyah.



Memimpin Muslimat


Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM. Di Muslimat NU, karirnya juga terus melesat hingga pada tahun 1946 ia mengemban dua amanah sekaligus, sebagai ketua pertama Pimpinan Cabang Muslimat NU Surakarta dan ketua organisasi Federasi Wanita Islam Indonesia di Solo. Sebagai catatan, Muslimat NU baru diresmikan pada tanggal 29 Maret 1946 dalam Muktamar NU ke-XVI di Purwokerto.

Selang empat tahun kemudian, 1950, ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU. Sejak saat itu, ia memimpin hingga delapan periode lamanya (1950-1979).

Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga banyak dipercaya untuk mengemban amanah di banyak hal. Di ranah politik, ia bahkan dijuluki sebagai ‘politisi wanita besi brilian dari NU’. karir politiknya diawali sejak 1946 ketika menjadi anggota DPRD Kota Besar Surakarta dari golongan wanita. Pada saat yang sama ia juga duduk sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi (waktu NU masih bergabung dengan Masyumi). Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959), kemudian sebagai Anggota DPR RI (1956-1971), Anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977), dan Anggota MPR RI dari PPP (1977-1982).

Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 ia dipercayai sebagai salah satu delegasi Indonesia.



Akhir Hayat


Begitu banyak jasa yang telah ia ukir, termasuk saat ia ikut aktif membantu perjuangan bangsa indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945 – 19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, ia mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.

Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH Ali Maksum dan Gus Dur termasuk diantaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada Rabu Wage, 26 Rabiul awal 1408 H/ 18 November 1987 pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo, usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

1. Wawancara kepada Nashirul Ulum (cucu KH Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 22 Juni 2014.

2. Sejarah Muslimat NU. PP Muslimat NU. Jakarta. 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, PonPes, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

25 tahun Terpisah, Arafah Pertemukan Dua Keluarga Indonesia

Makkah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Di Padang Arafah, dua bersaudara Ani and Marya dari Indonesia  bertemu kembali setelah terpisah selama 25 tahun setelah perselisihan keluarga antara Ani dan ibunya terkait dengan pembagian harta waris setelah kematian ayahnya.

Konflik antara mereka membuatnya dijauhkan dari keluarga selama bertahun-tahun setelah menerima bagian harta waris. Dia dan suaminya meninggalkan kampung tempat keluarganya tinggal. Suasana penyatuan kembali sangat mengharukan dengan tangis dan air mata, menggambarkan kerasnya waktu dan penderitaan akibat perpisahan.

25 tahun Terpisah, Arafah Pertemukan Dua Keluarga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
25 tahun Terpisah, Arafah Pertemukan Dua Keluarga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

25 tahun Terpisah, Arafah Pertemukan Dua Keluarga Indonesia

Ani mengatakan kepada Saudi Gazette bahwa dia merasa rindu terhadap keluarga dan ingin mengetahui kondisi mereka, tetapi suaminya keras kepala, yang memaksanya memilih antara tetap bersama dia dan anak-anaknya atau bercerai jika dia berhubungan dengan keluarganya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah bertahun-tahun berpisah, Ani bekerja di beberapa negara Arab dan Teluk karena kondisi ekonomi sebagai pembantu rumah tangga, sampai akhirnya dia mendapat majikan keluarga asal Teluk yang memberinya kesempatan menunaikan ibadah haji bersama majikannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia bermaksud mencari keluarganya setelah kembali ke Indonesia dan menegaskan, tidak akan meninggalkannya, khususnya setelah mengetahui suaminya berhubungan dengan wanita lain selama ia bekerja di luar negeri. (mukafi niam)

Foto: Saudi Gazette

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock