Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU

Oleh? Hasanuddin Ali

Setahun terakhir saya bersama rekan-rekan di Alvara Research Center mengamati dan melakukan kajian tentang apa yang kami sebut sebagai Islam Kota. Pengamatan yang kami lakukan bermula dari kegelisahan terhadap perubahan wajah Islam yang beberapa tahun terakhir mulai mengeras, dan hampir bisa dikatakan kehilangan jati diri keindonesiannya.

Kami mulai membuka data-data sekunder terkait pola pergeseran demografi dan geografi penduduk Indonesia, dan kami menemukan data yang menarik bahwa sejak tahun 2011 penduduk Indonesia yang tinggal di kota lebih banyak dibanding yang tinggal di desa.

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU

Perbedaan antara kota dan desa bukan sekedar perbedaan geografis saja, lebih jauh dari itu adalah perbedaan karakter, pola pikir, mental, gaya hidup, dan sebagainya. Orang kota cenderug invidualis, sementara orang desa komunalis. Orang kota cenderung terbuka, sementara orang desa lebih memilih tertutup.?

Berbekal data Badan Pusat Statistik (BPS), kami mulai menghitung dan memprediksi tahun 2020 dengan asumsi 56.7% penduduk Indonesia berada di kota, jumlah umat Islam yang tinggal di kota hampir 137 juta jiwa, sementara yang tinggal di desa 104 juta jiwa. Tren ini akan terus berlanjut, penduduk yang tinggal di kota – termasuk umat Islam – akan semakin besar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kembali ke soal karakter masyarakat kota tadi, maka kita bisa lihat corak keberagaman muslim kota yang cocok dengan karakter tersebut laku keras dikalangan muslim kota. Sebagai contoh ritual-ritual yang bersifat individual lebih laku dibandingkan dengan ritual-ritual keagamaan yang “rame”, ritual-ritual yang “boros biaya” banyak dihindari. Masyarakat kota juga biasanya lebih suka sesuatu yang simbolik, karena itu simbol-simbol agama yang menunjukkan kesalehan banyak kita lihat di muslim kota.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Simbol-simbol agama itu berkorelasi dengan sifat konsumerisme dikalangan muslim kota, kesadaran terhadap produk halal meningkat meskipun juga sering kebablasan, gerai dan toko pakaian muslim dan hijab merebak bak cendawan di musim hujan. Acara-acara TV juga dibanjiri berbagai hal yang berbau “islami”.

Lalu apakah ritual keagamaan yang “rame” akan punah di perkotaan? Berkaca pada hasil survei Alvara Research Center tahun 2015, ritual-ritual keagamaan yang “rame” seperti tahlilan dan maulid masih banyak dilakukan muslim perkotaan, lebih dari 80% muslim kota masih melakan ritual tahlilan dan maulid, dan 67% masil melakukan ziarah ke makam ulama.

Ciri masyarakat kota yang berpikiran terbuka dan rasional menyebabkan komposisi persentase ritual yang individual dan “rame” akan sangat dinamis. Pertarungan ide dan gagasan seputar keabsahan masing-masing ibadah ini akan terus terjadi. Adanya internet dan media sosial menjadikan ruang diskursus seputar hal ini semakin kuat dan masif. Media sosial dan internet adalah panggung terbuka, siapa yang menguasai turut pula menguasai publik.?

Di sisi lain, kehadiran media sosial juga menjadikan muslim kota menjadi emosional, terlihat bagaimana mereka memberikan komentar di berbagai media sosial yang kebetulan tidak sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki. Untuk itu kita perlu secara konsisten menyuarakan Islam yang ramah dan santun, sebab wajah Islam Indonesia kedepan akan sangat ditentukan bagaimana orang kota memahami dan menghayati apa itu Islam.





CEO and Founder Alvara Research Center

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Buku Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.

Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.

Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.

Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS

Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”

Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.

Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun ? memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang? dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia? adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus? teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.

Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.

Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.

Data Buku

Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya

Penulis : DR H As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES Jakarta

Tahun : Cetakan I, September 2014

Tebal : xxvi + 438 hlm

ISBN : 978-602-7984-11-0

Harga : Rp. 80.000,-

Peresensi : A.Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo menggelar seminar peningkatan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi pengurus Muslimat NU dan Nahdliyin, Rabu (2/11).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus Muslimat NU mulai tingkat MWC hingga Ranting se-Kecamatan Wonomerto ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonomerto KH Mohammad Hasan Sidik, Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh MHZ dan segenap jajaran pengurus MWC hingga Ranting NU.

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Ketua MWCNU Kecamatan Wonomerto KH. Mohammad Hasan Sidik mengungkapkan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan perlu memaksimalkan kegiatan rutinan seperti yasinan dan sarwaan yang diisi dengan kajian-kajian untuk membendung aliran-aliran yang ingin merusak NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Harus ada sinkronisasi dan koordinasi kegiatan antara NU, Muslimat, Fatayat serta Badan Otonom NU agar program-program NU berjalan sesuai keinginan bersama. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sidik, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan tambahan pemahaman kepada para pengurus NU tentang Aswaja dan firqah-firqah dalam Islam.”Setidaknya kegiatan ini bisa membentengi para Nahdliyin agar tidak terpengaruh paham-paham baru di luar NU,” jelasnya.

Sementara Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolingo Teguh MHZ mengungkapkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi kegiatan ke-Aswaja-an sampai ke tingkat Ranting NU.

”Kami sudah mempunyai tim sosialisasi Aswaja di tingkat kecamatan yang bisa diajak kerja sama. Memang perlu adanya pemahaman Aswaja kepada Nahdliyin sebagai benteng agar bisa tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Keluarga Besar nadlatul Ulama (KBNU) Kabupaten Tasikmalaya bersatu padu menyatakan sikap menolak atas kebijakan Full Day School (FDS) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Belasan ribu KBNU Tasikmalaya melakukan aksi damai di depan Kantor Setda dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya Selasa (15/8).?

Peserta aksi itu terdiri dari seluruh banom NU mulai dari IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat, Pagar Nusa dan organ-organ lainnya yang ada di tubuh organisasi NU Kabupaten Tasikmalaya, serta para aktivis PMII.?

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)
Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

“NU mendesak Presiden agar mencabut dan membatalkan Permendikbun Nomor 23 Tahun 2017 karena peraturan itu akan mengikis dan mematikan eksistensi madrasah diniyah yang ada di Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Atam Rustam sebagaimana dilaporkan salah seorang peserta aksi, Ali Roswan Fauzi ketika dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dari Jakarta.?

Menurut Ali, Kiai Atam, pada aksi tersebut akan menuntut Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana penambahan jam belajar sekolah di Kabupaten Tasikmalaya. Karena kebijakan itu dinilai akan mematikan eksistensi madrasah diniyah.?

Di antara para peserta aksi tersebut adalah santri-santri dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning yang dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren, KH Busyrol Karim. Para santri bersarung, berpakaian putih-putih, ada yang berkopiah hitam dan putih. Mereka berjalan pelan sambil bernyanyi diiringi dengan iringan drum. Sebagian santri mengibar-kibarkan bendera NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ali kemudian mengirimkan video berdurasi 1.34 menit yang mendokumentasikan aksi para santri Haur Kuning itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hiji, dua, tilu,” kata salah seorang memberi komando kepada teman-temannya.?

“Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School. Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School…demi FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, red.).” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Lomba, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Noe Letto didaulat menjadi Duta Pagar Nusa. Selama ini, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau Noe Letto, dikenal sebagai musisi dan seniman yang peduli dengan gerakan keislaman, kebangsaan dan national security. Noe didaulat langsung sebagai Duta Pagar Nusa, oleh Ketum Pagar Nusa M Nabil Haroen di NU Center, Boyolali, Ahad (29/10).

Di hadapan ribuan pendekar Pagar Nusa, M Nabil Haroen menyematkan simbol Pagar Nusa kepada Noe Letto. Agenda ini berlangsung dalam rangkaian Pelantikan Pengurus Cabang Pagar Nusa Boyolal.

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pagar Nusa, Noe Letto Ajak Generasi Milenial Siapkan Fisik dan Spiritual

"Kami memberikan kehormatan kepada Noe Letto, sebagai Duta Pagar Nusa. Kami memberikan penghargaan sekaligus kesempatan sebagai Duta Pagar Nusa kepada orang-orang khusus, tidak sembarangan figur. Pimpinan Pagar Nusa melihat kiprah Noe Letto dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan sekaligus pengabdian pada persatuan negeri ini. Ini selaras dengan visi Pagar Nusa," kata Nabil Haroen.

Nabil mengajak setiap pendekar dan kader Pagar Nusa untuk menjaga diri dan siap dengan amanah untuk mengabdi pada kiai serta menjaga Indonesia. "Peran Pagar Nusa semakin berat, tantangan yang menghadang di depan akan semakin besar. Negeri ini menghadapi berbagai gelombang ancaman, baik dari internal maupun dari luar. Pagar Nusa harus cerdas membaca geopolitik, sekaligus mempersiapkan diri. Silaturahmi sangat penting, untuk menguatkan barisan," jelas Nabil.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mendapat penghargaan sebagai Duta Pagar Nusa, Noe Letto ingin agar Pagar Nusa tidak hanya menjadi simbol. "Pagar Nusa ini kekuatan besar, yang tidak mudah dibaca oleh pihak lawan. Ini kekuatan kita, bagaimana pola-pola kaderisasi internal Pagar Nusa menjadi keistimewaan. Gerakan para pendekar Pagar Nusa yang solid, terkontrol, terkomando dan bergerak dalam senyap, menjadi kekuatan utama," kata Noe Letto.

Ia juga mengajak anak muda generasi milenial negeri ini untuk peduli pada bangsa Indonesia. "Lapisan baru anak muda, generasi milenial kita, harus peduli pada bangsa. Apalagi di era big data, era cyber war sekarang ini, isu national security sebagai kepedulian pada bangsa menjadi penting," jelas Noe.

Dalam kesempatan ini, Noe Letto mengajak generasi milenial bergabung dalam Pagar Nusa, untuk mengasah kekuatan mental, fisik dan spiritual. "Kepedulian pada bangsa menjadi sangat penting, apalagi di era sekarang ini. Pertahanan mental, fisik dan spiritual menjadi prasyarat penting untuk berkontribusi di era sekarang. Menjadi bagian dari Pagar Nusa, merupakan keistemewaan bagi generasi muda sekarang," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Pagar Nusa KH Athoillah Habib (Gus Atho) menegaskan bahwa pada masa depan Pagar Nusa harus siap dengan medan kompetisi baru. "Kita harus mampu berkontribusi di era cyber sekarang ini. Namun, pertahanan fisik dan spiritual masih sangat penting. Untuk itu, pencak silat masih sangat relevan. Kita bisa melihat, bagaimana negara China, Jepang dan beberapa negara lain, tetap menjaga warisan bela dirinya, di tengah perkembangan teknologi. Bahkan, keahlian bela diri dan kecerdasan mental-spiritual menjadi krusial untuk kehidupan masa sekarang," jelas Gus Atho.

Dalam beberapa tahun ini, Pagar Nusa telah melatih sekitar tiga juta pendekar dan kader yang tersebar di penjuru Indonesia dan beberapa negara, semisal Malaysia, Hongkong dan Taiwan. Para pelatih Pagar Nusa juga diundang ke beberapa negara Eropa dan Asia untuk menjalani program residensi bela diri dan pertemuan antarperguruan bela diri lintas Negara. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) mengadakan Workshop Training of Trainer (ToT) Aswaja. Acara ini akan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu-Ahad (8-9/2), di Auditorium Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang milik KH Hasyim Muzadi.

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Hadir dalam forum ini tidak kurang dari 40 orang peserta yang terdiri dari para kiai, gus dan asatidz dari daerah Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Karena kegiatan ini difokuskan pada kajian Aswaja berbasis pada Al-Qur’an dan Hadits dan Kitab Kuning, maka semua yang hadir merupakan Kiai, Gus, Ustadz atau para santri Senior.

“Tiada lain harapan kami atas terselenggaranya kegiatan semacam ini adalah semoga menjadi sebuah usaha untuk mempertahankan dan membela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia dan khususnya kota malang,” kata Gus Ishroqun Naja, Ketua PCNU Kota Malang dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara yang bertemakan “Revitalisasi nilai-nilai Aswaja ditengah Tantangan Islam Transnasional” ini hadir sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama yang berkompeten dalam kajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Seperti KH Muchit Muzadi (Jember), KH Marzuqi Mustamar (Malang), Muhammad Idrus Ramli (Jember) dan juga Wakil Walikota Malang Sutiadji, yang sebelumnya merupakan salah seorang Pengurus NU Kota Malang.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kader-kader dakwah NU yang baru. Dimana hal tersebut dimaksudkan untuk membentengi masyarakat dari gerakan-gerakan transnasional. Oleh karenanya fokus kajiannya adalah mempelajari dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits tentang prinsip-prinsip yang selama ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama yang sering dipermasalahkan oleh gerakan lain. Seperti amaliah, i’tiqad dan konsep berbangsa dan bernegara yang selama ini dipegang oleh NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami berharap agar 40 orang kiai, gus atau ustadz yang hadir dalam forum ini nantinya mau menjadi ujung tombak dakwah Nahdlatul Ulama setelah kembali ke tempatnya masing-masing. Termasuk kepada para mahasiswa PTUN untuk di kota malang,” kata Gus Ish.

“Karena kita tahu, bahwa sebagian besar dari mereka sebenarnya anak-anak kita. Abnaa’una. Tapi pemikirannya masih labil dan pengetahuannya masih kurang. Adalah tugas kita untuk melindungi mereka,” tambahnya.

Memang, selepas kegiatan ini para alumni yang rata-rata orang pesantren diharapkan mampu menjadi melaksanakan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Setelah sesi pembukaan selesai, kemudian dilanjutkan diskusi panel bersama KH Marzuki Mustamar dan KH Muhammad Idrus Ramli selama 45 menit. Diskusi membahas masalah aqidah, amaliah dan pandangan Islam tentang tradisi masyarakat. Diadakan selama 2 (dua) hari, KH Marzuqi Mustamar dan Idrus Ramli menjadi nara sumber utama pada hari pertama.

Pada hari kedua, diskusi diisi oleh KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember bersama Kiai Badruddin, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembahasan Tashawuf. Kegiatan berakhir dengan menghasilkan tindak lanjut (follow UP) pembentukan? Aswaja Centre Kota Malang. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Berbagai upaya dilakukan oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait lima pasti umrah. Selain memberikan pemahaman kepada masyarakat, langkah ini ditempuh dalam rangka meminimalisir potensi terjadinya penipuan yang belakangan banyak dilakukan oleh travel nakal.

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Penipuan, Kemenag Sosialisasikan 5 Pasti Umrah

Salah satu yang dilakukan adalah dengan sosialisasi di arena pameran. “Ditjen PHU melalui Subdit Pembinaan Umrah ikut serta dalam pameran ‘Makasar Tour and Holiday’, untuk mengedukasi masyarakat tentang program lima pasti umrah,” terang Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis usai meninjau stand pameran di Makassar, Jumat (4/3).

Makasar Tour and Holiday digelar di salah satu tempat perbelanjaan di kota Ujungpandang. Dibuka hari ini, pameran dijadwalkan akan berlangsung sampai Ahad (6/3) mendatang. Pameran ini diselenggarakan oleh pihak swasta dan diikuti oleh travel wisata dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sejak dibuka siang tadi hingga malam ini, pengunjung stan kita cukup ramai. Masyarakat sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang umrah. Mereka tidak mau tertipu,” kata Muhajirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Muhajirin,  pengunjung pameran  rata-rata awalnya hanya menanyakan soal biaya umrah. Ada sebagian dari mereka yang bahkan belum peduli dengan keberadaan travel umrah, apakah berizin atau tidak, tapi yang terpenting adalah biayanya murah. “Masyarakat seperti ini menjadi sasaran sosialisasi kita. Sebab, selama ini yang tertipu umumnya adalah program umrah dengan biaya relatif murah dan dijanjikan bisa segera berangkat,” tutur mantan Kakanwil Gorontalo ini.

Dalam rangka  mengedukasi masyarakat agar lebih hati-hati, Kementerian Agama terus mensosialisasikan lima pasti umrah. Masyarakat yang akan berumrah, harus memastikan apakah biro travelnya memiliki izin resmi atau tidak. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan maskapai penerbangan yang akan digunakan, akomodasi selama di Tanah Suci, serta  seluruh jadwal dan agenda perjalanan umrahnya, hari demi hari seperti apa. Tidak kalah penting juga adalah memastikan visa nya sudah ada ataukah belum.

“Semoga dengan pameran ini, sosislisasi tentang umrah akan semakin sampai kepada masyarakat,” harap Muhajirin. (Kemenag.go.id/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Mojokerto, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengadakan berupaya meningkatkan kapasitas para pengurus dan kadernya di bidang telaah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Purwanto mengatakan, pihaknya telah mengelar pelatihan analisis anggaran sebagai bekal bagi kader Ansor untuk ikut berjuang mengawal transparansi anggaran dan belanja pemerintah Kabupaten Mojokerto. "Bagaimana mewujudkan APBD benar-benar untuk rakyat, tidak hanya jargon saja," kata Purwanto, sebagaimana siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (1/3).

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Bertempat di kantor MWCNU Kecamatan Pacet, sebanyak 20 orang pengurus Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor, serta pengurus harian GP Ansor Kabupaten Mojokerto digembleng selama tiga hari sejak tanggal 26 hingga 28 Februari kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam hal ini, GP Ansor Kabupaten Mojokerto menggandeng Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), sebuah LSM yang selama ini fokus di bidang pengawalan anggaran, untuk memberikan bekal kepada para pengurus GP Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pelatihan analisis anggaran ini, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H Syihabul Irfan Arif berharap Ansor lebih menguatkan peran-peran eksternalnya dalam mengawal kebijakan publik, terutama dalam hal penganggaran APBD Kabupaten Mojokerto. Karena berawal dari penganggaran yang transparan dan akuntabel, APBD bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

"Dengan belajar hal ini, Ansor harus bisa memberikan pembelajaran yang lebih luas kepada masyarakat, agar bisa memiliki akses yang sama dalam merumuskan kebijakan anggaran bagi kemaslahatan umat," katanya.

Selain diisi oleh pemateri dari Fitra, acara penelitian analisis anggaran ini juga dihadiri oleh koordinator kaderisasi PW GP Ansor Jatim. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Lomba, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad

Di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat terdapat sebuah tempat bernama "The Hollywood Walk of Fame", yakni trotoar sepanjang 15 blok di Hollywood Boulevard dan 3 blok di Vine Street. Di trotoar ini tertulis nama-nama orang terkenal di bidang seni dan hiburan, seperti Jackie Chan, Celine Dion dan Walt Disney. Muhammad Ali pada awalnya menolak namanya tertulis di sini demi menghormati Nabi Muhammad SAW.

The Hollywood Walk of Fame menampilkan lebih dari 2.600 ubin keramik bergambar bintang dan bertuliskan nama-nama artis dan karakter fiksi sebagai bentuk penghargaan dari Kamar Dagang Hollywood atas sumbangsih mereka bagi industri hiburan. 

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Petinju Muhammad Ali Hormati Nabi Muhammad

Petinju Muhammad Ali baru menyetujui namanya tertulis di sana setelah terjadi pembicaraan alot mengenai di mana namanya akan dituliskan. Masalahnya, ia menolak jika namanya ditulis di atas lantai atau trotoar sebagaimana yang berlaku pada artis-artis lain karena nama Muhammad adalah nama Nabi Besar Muhammad SAW. 

Ia mengatakan, “I bear the name of our honorable Prophet Muhammad Peace be upon him, and it is impossible that I allow people to trample on his name (Saya mengemban nama Baginda Nabi Muhammad SAW, dan tidaklah mungkin saya membolehklan orang-orang menginjak-injak nama beliau).”

Muhammad Ali baru menyetujui namanya ditulis di situ setelah ada titik temu bahwa namanya akan ditulis di dinding dan bukan di lantai atau trotoar. Gagasan tersebut juga disetujui oleh Kamar Dagang Hollywood, dan pada tanggal 11 Januari 2002 nama Muhammad Ali secara resmi tertulis di The Hollywood Walk of Fame . 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan tertulisnya nama Muhammad Ali di tempat itu, maka hingga tahun 2017 petinju Muhammad Ali merupakan satu-satunya dari 2.600 orang terkernal di dunia seni dan hiburan yang namanya terukir di dinding dan bukan di lantai atau trotoar Hollywood. Hal ini memunculkan celetukan bahwa nama Muhammad Ali tidak tercantum di The Hollywood Walk of Fame (walk = tempat berjalan) tetapi di The Hollywood Wall of Fame (wall = dinding). Tempat yang disebut terakhir ini tidak dikenal. . 

Begitulah cara Muhammad Ali menghormati Nabi Muhammad SAW. Di Amerika Serikat sebetulnya sudah biasa nama-nama orang berjasa diabadikan di trotoar jalan, dan di sana bukan merupakan penghinaan ketika nama-nama itu diinjak orang-orang yang berjalan di atasnya. Tetapi adalah hak Muhammad Ali sebagai seorang Muslim ketika ia berpikir lain menyangkut Nabi Muhammad SAW. Bagaimamapun ini harus diapresiasi sebagai keberhasilan dakwahnya di Amerika tanpa kekerasan. Ia wafat dalam usia 74 tahun pada tanggal 3 Juni 2016. 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Nusantara, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Ikatan Sarjana NU Yogya Dilantik

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2013-2018 dilantik di gedung Wanitatama pada Ahad malam (30/06).

Ketua panitia penyelenggara, Yazid Affandi dalam sambutannya melaporkan, bahwa pihaknya mengundang 250 orang yang terdiri dari seluruh pengurus NU dari berbagai tingkatan, banom NU DIY, lembaga NU DIY, Gubernur DIY serta pimpinan dan sekjend PP ISNU.

Ikatan Sarjana NU Yogya Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikatan Sarjana NU Yogya Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikatan Sarjana NU Yogya Dilantik

Dia juga menuturkan bahwa PW ISNU yang akan dilantik berjumlah lebih dari 70 orang beserta berbagai biro di dalamnya. Pihaknya juga berharap agar ISNU menjadi wadah yang tepat untuk berbakti bagi Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan kali ini surat keputusan dan struktur personalia PW ISNU DIY dibacakan oleh Kholiq Syairozi selaku Sekjend PP ISNU. Kemudian para pengurus dilantik lansung oleh ketua PP ISNU, Ali Masykur Musa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelantikan dimulai dengan berbagai hiburan hadroh. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat Al-Qur’an dan shalawat Nabi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars serta himne ISNU.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, prosesi pelatikan, pemberian ucapan selamat oleh tamu undangan kepada pengurus yang baru dilantik, dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai kalangan, dan ditutup dengan doa.? ? ?

Redaktur? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor : Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Pertandingan, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Kiai Anwar Amin Rintis NU di Wilayah Pegunungan Pekalongan

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ratusan warga ikut menghadiri peringatan haul salah satu tokoh penyebar Islam dan perintis NU di daerah Kabupaten Pekalongan wilayah selatan, KH Anwar Amin. Acara peringatan haul ke-12 tersebut diselenggarakan di kompleks pemakaman Desa Kranji, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jumat (8/7) sore.

Kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, salah satu cucu Kiai Anwar, Firmansyah, menerangkan sekilas perjuangan dakwah kakeknya. “Dulu, simbah diperintahkan oleh gurunya, Mbah Gendon Kesesi, untuk berdakwah ke daerah selatan,” terang Firman, yang juga pengurus GP Ansor Jateng itu.

Kiai Anwar Amin Rintis NU di Wilayah Pegunungan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Anwar Amin Rintis NU di Wilayah Pegunungan Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Anwar Amin Rintis NU di Wilayah Pegunungan Pekalongan

Untuk melaksanakan perintah dari gurunya, Kiai Anwar kemudian mulai berdakwah di daerah sekitar wilayah selatan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Banjarnegara, yang memang terletak berdekatan. Di daerah itu pula, Kiai Anwar juga merintis berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Di daerah Kalibening, kemudian mendirikan masjid pertama. Selain itu, juga melakukan dakwah keliling ke kampung-kampung,” lanjut dia.

Perlahan, dakwah Kiai Anwar membuahkan hasil. Banyak penduduk setempat yang ikut mengaji kepadanya, dan semakin banyak orang yang mengenal akan agama Islam ala Ahlussunah wal jamaah.

Tahun 2004, Kiai Anwar wafat dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Desa Kranji. Kiai Anwar meninggalkan beberapa putra-putri yang tetap meneruskan perjuangan dakwah dan sosial masyarakat. Di antara putranya, yakni Bupati Kabupaten Pekalongan Asip Qolbihi, Wasekjen PBNU periode 2010-2015 Adnan Anwar, dan Anis Illahi. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi, Usamah bin Muhammad mengadakan pertemuan, Selasa (14/11) di rumah Dinas Kedubes Arab Saudi Jakarta.

Komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mengembangkan Islam moderat ditindaklanjuti oleh Usamah dengan menggandeng Nahdlatul Ulama (NU).

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

(Baca: Saudi: Kami Akan Kembali ke Islam Moderat, Menjauh dari Wahabi)

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat dapat dimulai dengan menghormati dan memberikan jaminan Kebebasan bermadzhab kepada seluruh umat Islam dunia yang melaksanakan haji dan umrah di tanah haram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepada Kiai Said, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat. 

"Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerja sama mengembangkan Islam moderat," kata Usamah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Said mengatakan kepada Dubes Arab Saudi bahwa dirinya tidak mempersoalkan Pemerintah Arab Saudi.

“Yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Arab Saudi yang mensyirik-syirikkan, mengkafir-kafirkan, membidah-bidahkan Muslim Indonesia," tegas Kiai Said.

(Baca: Kejutan Saudi Arabia)



Salah seorang Ketua PBNU H Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, kira-kira tujuh tahun lalu Kiai Said memulai bersikap tegas dan kukuh menentang dan melawan keras Wahabi di Indonesia. 

“Selama itu pula PBNU menutup komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” jelas Sulton.

Hal itu, sambungnya, bermula dari peristiwa tokoh utama Wahabi berkata dan bersikap sombong dan congkak terhadap beberapa kiai saat acara resmi. Kiai Said tentu sangat geram namun masih bisa menahan diri.

“Kini ada indikator situasi di Arab Saudi membaik. Mereka bertekad mengembangkan Islam moderat. PBNU pun kembali membuka komunikasi dengan Kedubes Arab Saudi,” terang Sulton. 

Islam moderat sudah lama dikembangkan oleh NU ke seluruh dunia untuk membangun perdamaian. Dalam hal ini, Kerajaan Arab Saudi mengakui reputasi NU sehingga perlu menggandengnya untuk mewujudkan misi tersebut secara global. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Lomba, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Terapkan Model Pesantren, Jihad Pagi Kaji Karya Imam Ghazali

Pringsewu,? Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk menambah keragaman materi Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang rutin dilaksanakan di Gedung NU, kedepannya akan dimasukkan materi baru dari kitab-kitab kuning karangan para ulama besar.

Menurut inisiator Jihad Pagi, H Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Pringsewu, ngaji kitab pertama diawali dengan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Muqadimah materi baru ini mulai dilaksanakan pada Ahad (03/04) dengan mendatangkan pemateri? Mustasyar PCNU,? KH Anwar Zuhdi.

Terapkan Model Pesantren, Jihad Pagi Kaji Karya Imam Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Terapkan Model Pesantren, Jihad Pagi Kaji Karya Imam Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Terapkan Model Pesantren, Jihad Pagi Kaji Karya Imam Ghazali

Menurut H Sujadi yang juga Bupati Pringsewu ini, ngaji kitab Bidayatul Hidayah ini mengadopsi model ngaji di pondok pesantren. "Para jamaah membawa kitab masing masing, sementara pengisi materi memaknai kata perkata dari kalimat yang ada dan setelah itu dimurodi atau dijelaskan," katanya.

Model ngaji seperti ini menurutnya merupakan model yang masih terus dipertahankan di pesantren-pesantren karena sangat efektif untuk menfokuskan pembahasan materi. "Kalau ceramah lepas tanpa ada kitab panduannya, bisa jadi pembahasan akan meluas dan tidak fokus ke materi awal," kata alumnus Pesantren Kalibeber Wonosobo ini.

Sementara salah satu jamaah yang rutin mengikuti Jihad Pagi, H Hambali menyambut positif langkah baru di Jihad Pagi tersebut. H Hambali yang juga Ketua MUI Kabupaten Pringsewu ini mengatakan bahwa disamping dapat dengan fokus mengkaji materi, dengan ngaji kitab model tersebut akan mengenang masa-masa ia menjadi santri di Tegalrejo Magelang.

Ia berharap ngaji Kitab Bidayatul Hidayah ini akan dapat berjalan istiqomah sampai akhir. "Mudah mudahan bisa sampai khatam kitabnya dan nanti dilanjutkan dengan kitab-kitab kuning lainnya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Zunus)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Pengurus Masjid NU se-Kota Cirebon Solidkan Peran

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang NU Kota Cirebon menggelar pertemuan pengurus tamir masjid NU, Rabu (13/2), di Masjid Hijau, Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Salah satu tujuan pokoknya adalah penguatan fungsi sosial melalui masjid.

Kegiatan yang dimotori Lembaga Tamir Masjid NU (LTMNU) ini diikuti sedikitnya 200 peserta yang terdiri dari para imam, khatib, dan pengurus tamir masjid dari lima kecamatan se-Kota Cirebon. Secara resmi acara dibuka Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi.

Pengurus Masjid NU se-Kota Cirebon Solidkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Masjid NU se-Kota Cirebon Solidkan Peran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Masjid NU se-Kota Cirebon Solidkan Peran

Dalam sambutannya, Kiai Masdar mendorong peran masjid agar tak menjadi tempat shalat semata. Memakmurkan masjid, katanya, harus selaras dengan usaha memakmurkan bumi.

Kiai Masdar juga mengajak warga NU untuk memperkuat organisasi di tingkat masjid. Hal ini dinilai penting untuk mempermudah upaya pemberdayaan umat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani dan Wakil Ketua PP LTMNU, Mansyur Syaerozi turut mengisi materi acara ini. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) LTMNU pada 2012 lalu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ratusan warga nahdliyyin kampung setempat menghadiri pembacaan Maulid Simtudduror di masjid Jami’ Haqqil Huda Kampung Gedung Harta Kecamatan Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (30/7). Setelah itu mereka melanjutkannya dengan pembentukan Isharinu (Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama).

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Selagai Lingga Edi Hermawan di sela-sela kegiatan tersebut. Ia menyambut positif pembentukan Isharinu di wilayah Kecamatan Selagai Lingga.

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Selagai Lingga Lampung Tengah Bentuk Isharinu

“Semoga dengan hadirnya Isharinu di wilayah kami semakin meningkatkan ghiroh (semangat) sekaligus meneguhkan semangat khususnya generasi muda NU untuk melestarikan dan merawat tradisi, amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyyah dalam hal ini khusus hadrah dan shalawat,” kata alumni Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM NU) Kota Metro Lampung ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus MWCNU Selagi Lingga Kiai Nur Jamali mengatakan, kehadiran Isharinu di Selagai Lingga semoga dapat menjadi wadah positif yang mampu menaungi grup-grup shalawat yang tersebar di kampung-kampung, dan bisa mengadakan agenda rutin pada momen yang lain.

Akhirnya melalui proses demokratis terpilih Pengurus Isharinu Kecamatan Selagai Lingga dengan Agusmanto sebagai ketua dan Nita Nur Jannah sebagai Sekretaris.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Beberapa tokoh NU turut hadir dalam pembentukan Isharinu Kecamatan Selagai Lingga adalah Pengasuh Pesantren Darussalam Kiai Muhammad Fauzan Annur, Mustasyar MWCNU Selagai Lingga Kiai Hasbullah, pengurus MWCNU Selagai Lingga Kiai Nur Jamali, Sekretaris MWCNU Selagai Lingga Tamziy, Muslimat NU Selagai Lingga Musfiroh, Fatayat NU Selagai Lingga Eva Rifatul Aini, sembilan grup hadrah, dan tokoh masyarakat setempat. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit!

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu hal yang membuat saya kukuh mengimani bahwa al-Quran itu bukan buatan manusia tapi merupakan pesan ilahi adalah kandungan ayatnya yang menembus batas kemanusiaan kita dan melintasi zaman. Lima belas abad lampau bahkan hingga kini masih banyak di antara kita yang tidak fair dan tidak adil bersikap hanya karena kita membenci suatu kelompok atau individu tertentu. Namun pesan al-Quran begitu dahsyat menembus stereotyping akan pihak lain: boleh tidak suka terhadap perbuatan mereka tapi tetap harus berlaku adil kepada mereka.

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit! (Sumber Gambar : Nu Online)
Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit! (Sumber Gambar : Nu Online)

Benci tapi Tetap Berlaku Adil: Pesan Langit!

Surat al-Maidah turun pada tahun kedelapan Hijriah setelah perjanjian Hudaibiyah yang berlangsung pada tahun keenam Hijriah. Dalam peristiwa Hudaibiyah, rombongan Rasul yang hendak pergi ke Baitullah dihalangi memasuki kota Mekkah. Singkat cerita, ada rasa dendam dan kebencian di kalangan sebagian pihak atas peristiwa itu: dulu mereka halangi kita, sekarang kita pun bisa menghalangi mereka, maka turunlah petikan surat al-Maidah:2

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka)"

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan kandungan petikan ayat ini:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidil Haram yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka. Lalu kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan permusuhan. Tetapi kalian harus tetap memutuskan apa yang di­perintahkan oleh Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam per­kara yang hak terhadap siapa pun."

Luar biasa bukan pesan ilahi ini? Bahkan kita harus berlaku adil terhadap mereka yang pernah menghalangi kita memasuki Baitullah. Tafsir al-Misbah menyebutkan riwayat lain dikisahkan bahwa larangan ini turun berkenaan dengan rencana merampas unta yang dibawa rombongan Yamamah di bawah pimpinan Syuraih bun Dhubaiah al-Hutham yang menuju Baitullah dengan alasan unta-unta itu dulu milik umat Islam yang dirampas mereka. Ayat di atas turun melarang umat Islam berbuat kezaliman yang sama.

Kata "Syana-an" dalam ayat di atas itu maknanya al-baghd al-syadid, yaitu kebencian yang telah mencapai puncaknya. Musuh yang sudah kita benci sampai ke ubun-ubun lantaran menghalangi pelaksanaan agama, masih harus kita perlakukan secara adil. Kita dilarang berbuat zalim kepada mereka. Ini pesan keadilan dari langit!

Ketentuan membolehkan kaum Musyrikin memasuki Baitullah itu kemudian dihapus pada tahun kesembilan Hijriah saat turun Surat al-Taubah ayat 28: "Jangan mereka (orang Musyrik) mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini". Namun demikian pesan ilahi untuk berbuat adil tetap abadi.

Ibn Katsir mengutip pernyatan sebagian ulama salaf:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?.

"Selama ka­mu memperlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap diri­mu dengan sikap berdasarkan taat kepada Allah dan selalu berlaku adil dalam menanganinya, niscaya langit dan bumi ini masih akan tetap tegak."

Pesan keadilan di atas begitu pentingnya sehingga ditegaskan kembali dalam surat yang sama yakni al-Maidah ayat 8:

"Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa"

Kebencian itu tidak menjadi alasan pembenar untuk bisa menzalimi pihak lain. Kita tidak boleh keluar dari aturan main dan tidak boleh membalas kezaliman di luar batas-batas keadilan dan hukum. Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menegaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Kekufuran orang kafir itu tidak menghalangi kita berbuat adil dalam berinteraksi dengan mereka. Dalam ayat perintah untuk berbuat adil dan taqwa ada petunjuk untuk membuat batasan dalam pertempuran, misalnya mereka membunuh para wanita kita dan anak-anak kita, maka kita tidak dibenarkan melakukan pembunuhan yang serupa".

Bahkan dalam pertempuran pun ada seperangkat etika dan aturan yang harus ditaati tentara Muslim. Kebencian tidak dibalas dengan kebencian. Kezaliman tidak dihapus dengan kezaliman lainnya. Dalam keadilan, bukan saja ada kasih sayang, tapi juga ada ketakwaan.

Majallat al-Ahkam al-Adillah, yang merupakan kitab undang-undang hukum perdata Islam pertama yang dikodifikasi pada tahun 1293 H/ 1876 M oleh pemerintah Turki Usmani, memuat ketentuan nomor 921 yang berdasarkan prinsip ayat di atas:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ; ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Tidak dibolehkan bagi orang yang dizhalimi untuk menzhalimi orang lain karena itu termasuk salah satu bentuk kezaliman. MIsalnya, jika Zaid merusak harta Amru, lalu Amru membalas merusak harta Zaid, maka keduanya dihukum untuk membayar ganti rugi. Begitupula jika ada yang ditipu dimana dagangannya dibayar dengan uang palsu, maka dia tidak boleh menggunakan uang palsu untuk transaksi dengan pihak lain."

Keadilan itu salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Meski kita dirugikan, dizhalimi dan dianiaya sehingga membuat kita sangat benci kepada orang tersebut --baik orang Islam maupun non-Muslim-- kita tidak boleh membalas kezaliman dengan kezaliman kepada orang tersebut ataupun kepada pihak ketiga. Kita tetap harus berbuat adil dan mengikuti proses hukum yang berlaku.

Kita boleh saja membenci perbuatan mereka, tapi kita jangan menzalimi pribadi mereka, keluarga mereka, harta dan kedudukan mereka. Ini pesan langit yang melintasi zaman, yang hanya bisa diterapkan oleh mereka yang diajarkan untuk menebar rahmat pada semesta. Saya, anda dan kita kah itu?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, Lomba, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 November 2017

Doa Hendak Berkumur saat Wudhu

Berkumur merupakan salah satu sunah wudhu. Pembasuhan dan pembersihan mulut bagian dari kesucian sebelum melaksanakan sembahyang. Doa berkumur dimaksudkan agar kesucian lahir menambah berkah seperti keluarnya kata-kata yang baik bagi dirinya dan bagi orang lain.

? ? ? ? ? ? ?

Doa Hendak Berkumur saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Hendak Berkumur saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Hendak Berkumur saat Wudhu

Allâhumma a‘innî ‘alâ tilâwati kitâbika wa katsrati dzikrika

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Hai Tuhanku, tolong lah aku untuk membaca Al-Quran, dan memperbanyak dzikir nama-Mu,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor dan Fatayat NU Sumberejo menggelar beberapa perlombaan. Kegiatan untuk menyemarakkan pelantikan itu diselenggarakan di kompleks Lembaga Pendidikan Maarif NU MINU Walisongo Desa Sumuragung Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro, Ahad (18/9).

"Lomba ini diadakan dalam rangka pelantikan bersama PAC Ansor dan Fatayat pada 25 September," kata Sekretaris Panitia Ahsanul Amilin kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Dilantik, Dua Banom NU Sumberejo Gelar Lomba

Beberapa perlombaan yang diadakan diantaranya lomba paduan suara, dai atau daiah, baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dijelaskan, perlombaan dai atau daiah diikuti peserta se-Kabupaten Bojonegoro dengan dewan juri diambil dari profesional dan panitia, termasuk dewan juri lomba baca puisi dan kreasi hijab syari ala Aswaja. "Tetapi untuk lomba kreasi hijab syari ala aswaja, peserta membludak dari perkiraan. Yang diperkirakan hanya 50an peserta tapi bertambah sampai 90 peserta," jelasnya.

Sementara itu untuk lomba paduan suara atau mars Fatayat, hymne fatayat dan lagu wajib nasional terbaru Subhanul Wathonkarya KH Wahab Chasbulloh. Lomba tersebut melibatkan ratusan peserta karena diikuti semua Ranting Fatayat NU se-Kecamatam Sumberejo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Para peserta berdandan busana resmi Fatayat hijau-hijau. Masing-masing ranting berkelompok atau beregu, satu regu terdiri dari 10 sampai15 orang," ungkap Amilin sapaan akrabnya.

Ditambahkan, dari hasil tersebut untuk lomba dai juara satu diraih Hanum Faizah Rahma dari santri siaga pondok pesantren at tanwir, berikutnya Allayya Ayu Nikmatul F menjadi juara kedua dari Talun Sumberejo dan Lilik Nur Indah Sari dari Tulungagung Sumberejo sebagai juara ketiga. Sedangkan pemenang lomba puisi juara satu diraih Lilik Nur Indahsari dari Tulungrejo, juara kedua Benang Sari siswi SMK Semenpinggir Kapas dan juara ketiganya diraih Reza Ali Widiawati dari Kayulemah.

Sementara itu untuk pemenang lomba kreasi hijab, juara satu dimenangkan Ranting Pekuwon I, juara duanya Ranting Margoagung dan juara ketiganya dimenangkan santri siaga Pondok pesantren At Tanwir Talun. Untuk lomba kreasi hijab diikuti berkelompok terdiri dari tiga orang. "Hadiah lomba diserahkan saat pelantikan di balai kecamatan sumberejo," imbuhnya.

Saat pelantikan nanti akan dirangkai dengan dialog kepemudaan bertema Bangkit bersama Ansor dan fatayat NU Sumberrejo. Rencanaya akan dihadiri narasumber ketua DPRD Mitroatin, Wakil Ketua DPRD Sunjani dan mantan Ketua Ansor Khisbullah. (M. Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Pondok Pesantren, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 22 Oktober 2017

Kalangan Siswa Hingga Usia Lanjut di Jombang Banjiri Aksi Donor Darah

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Aksi sosial donor darah dalam rangka memperingati Hari Santri yang diselenggarakan panitia Hari Santri di Jombang disambut positif oleh warga. Sejumlah kalangan yang beragam mengikuti kegiatan tersebut. Mereka di antaranya berasal dari kalangan siswa atau remaja hingga orang tua yang sudah berusia lanjut.

Bertempat di hadapan Masjid Baitul Mukminin, alun-alun Jombang secara bergantian warga di kota santri ini berdatangan dan mengisi daftar registrasi donor darah yang sudah disediakan panitia sebelum melakukan donor darah.

Kalangan Siswa Hingga Usia Lanjut di Jombang Banjiri Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Siswa Hingga Usia Lanjut di Jombang Banjiri Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Siswa Hingga Usia Lanjut di Jombang Banjiri Aksi Donor Darah

Setelah itu, tim Palang Merah Indonesia (PMI) Jombang melakukan pencekan darah peserta. Ketika dipastikan darah normal dan mencapai ketentuan, masing-masing mereka dipersilakan duduk berjajar di tempat yang disediakan untuk dilakukan pendonoran oleh tim PMI yang lain.

Koordinator pelaksana donor darah Maghfuri Ridhwan mengatakan, kegiatan berlangsung sesuai rencana. Jumlah pendaftar terbilang cukup banyak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar, total pendaftar 70 orang, jumlah pendonor yang layak donor sebanyak 51 orang, di antaranya Golongan darah A : 6, B : 14, O : 28 & AB : 3," jelasnya, Kamis (20/10).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia berharap kegiatan ini benar-benar memberikan nilai manfaat terhadap masyarakat khususnya yang membutuhkan darah melalui PMI. "Mudah-mudahan semuanya manfaat," harapnya.

Di sela-sela kegiatan aksi sosial itu, beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat ikut berpartisipasi. Tampak hadir juga beberapa badan otonom NU, seperti Fatayat NU, GP Ansor, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock