Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penyanyi rock Mell Shandy mengaku mendapatkan pengalaman lain sejak bergabung dalam grup musik Ki Ageng Ganjur dari Yogyakarta yang dipimpin Ngatawi Al-Zastrouw. Grup musik ini menuntunnya menjadi religius tanpa kehilangan karakter aslinya sebagai penyanyi rock.



Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock (Sumber Gambar : Nu Online)
Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock (Sumber Gambar : Nu Online)

Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock

”Sejak bergabung dengan Ki Ageng Ganjur tahun 2000 saya merasa mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa, yang menuntun saya berpenampilan seperti ini (berbusana muslimah, red),” kata Mell Shandy dalam konferensi pers Tour Show Musik Religi ke Timur Tengah bersama Ki Ageng Ganjur di ruang pertemuan PBNU, Sabtu (17/10).

Bersama Ki Ageng Ganjur, katanya, dia banyak belajar ilmu agama Islam namun tetap bisa menunjukkan karakter pribadinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Karakter saya tidak hilang. Meskipun berpenampilan seperti ini (berbusana muslimah, red) Saya tetap bisa ngerock. Di sini ada gamelan Jawa tapi musiknya bisa dikolaborasikan dengan rock, luar biasa. Saya menikmati banget,” katanya.

Ia mengaku terkejut sekaligus senang mendapatkan tawaran mengikuti Tour Show Musik Religi ke Timur Tengah. ”Meski tidak digaji layak, tapi saya ambil pengalaman dan ilmunya,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mell Shandy akan menyanyikan beberapa nyair sufi dan shalawat dengan iringan musik rock murni yang dipadu dengan gamelan Jawa dan dua jenis gamelan Arab yakni Bayati dan Syikah. Salah satu yang akan dinyanyikannya adalan syair ”Ya Badratim” dalam hentakan musik rock.

Penyanyi lain yang akan ikut dalam tour ke Timur Tengah adalah Andi Riff yang juga berkarakter rock. Andi akan menyanyikan lagu-lagunya sendiri yang telah populer di Indonesia, terutama yang bernuansa religi.

”Bagi saya, konser ke Timur Tengah ini adalah pengalaman baru, ilmu baru juga. Kebetulan waktu saya cocok maka saya ikut dengan rombongan ini. Saya musisi yang suka bekerjasama dengan siapapun dan jenis musik apapun,” katanya.

Salah satu kostum yang akan dikenakan Andi adalah pakaian gamis ala Timur Tengah. ”Coba dibayangkan sendiri gamisnya rocker itu seperti apa,” katanya bergurau. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

Gorontalo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa mengimbau setiap muslimat memberi keberkahan bagi lingkungannya, dan jangan sampai justru membuat masalah.

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

"Ada individu-individu yang kalau dia hadir menjadi trouble maker, mencari kesalahan orang, sehingga peran muslimat tidak membawa kebaikan bagi lingkungannya," ujarnya saat melantik Pengurus Wilayah Muslimat NU Provinsi Gorontalo Periode 2016-2021 di Asrama Haji Kota Gorontalo, Kamis.

Khofifah, yang juga Menteri Sosial RI, mengemukakan bahwa muslimat dalam melakukan kebaikan tidak perlu menunggu orang lain, namun memulai dari diri sendiri.

Dia mengungkapkan, masih banyak pekerjaan rumah yang menjadi tantangan Muslimat NU ke masa depan, misalnya memperkuat peran sosial kemasyarakatan dan membangun pola positif.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Muslimat menjadi bagian kecil dari proses berinteraksi dalam kehidupan bernegara. Tapi, yang kecil ini jangan dianggap tidak ada. Adanya yang besar karena yang kecil-kecil ini ada," ujarnya.

Khofifah menyatakan, saat ini Muslimat NU memiliki 9.800 Taman Kanak-Kanak, 6.400 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 146 panti asuhan yang tersebar di berbagai daerah.

"Ini tidak diketahui banyak orang, sehingga mereka kaget bahwa muslimat besar. Itulah kenapa jangan sampai setelah dilantik seperti ini, besok tidak ada lagi," demikian Khofifah. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah melantik kepengurusan Pengurus Cabang Istlimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko periode 2016-2018. Pelantikan berlangsung di gedung serbaguna KBRI di ibu kota Maroko, Rabat pada Rabu 30 November.?

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Pelantikan dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri beberapa ulama Maroko, Nahdliyyin, juga ? Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Maurutinia H.E.D Syarief Syamsyuri beserta jajarannya.?

Pelantikan ini dimulai dengan serah terima jabatan dari ketua PCINU Periode 2014-2016 Kusnadi kepada Ketua PCINU periode 2016-2018 Abdullah Aniq Nawawi. Lalu Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung Masykuri Abdillah.?

Seperti periode sebelumnya, dalam periode ini pun Pengurus PCINU Maroko tidak hanya diisi warga negara Indonesia. Beberapa ulama terkenal Maroko seperti Dr. Ahmad Roisuni, Dr. Yusuf Kallam, Dr. Nadia Syarqoui, dan Syekh Rodi Genun juga berada dalam jajaran kepengurusan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masykuri Abdillah meminta kepada Nahdliyyin di Maroko untuk terus menjaga paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan menegaskan pentingnya belajar setinggi-tingginya. Tak cukup hanya bermodal S1 saja.

Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania mengingatkan kepada organisasi PCINU Maroko untuk terus menjaga hubungan baik dengan KBRI ? Rabat yang sudah terjalin sejak lama.?

Pelantikan ini juga diisi dengan penyerahan buku antologi cerpen “Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren”, yang merupakan 20 cerpen terbaik pilihan PCINU Maroko. Buku ini diserahkan Ketua PCINU Maroko Aniq Nawawi kepada KBRI Rabat sebagai cenderamata sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan KBRI Rabat selama ini. Acara yang berlangsung sekitar 120 menit ini kemudian ditutup oleh doa dari ulama Maroko Dr. Yusuf Kallam. (Sirojudin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

Blora, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk suksesnya perjuangan diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga dekat dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan tersebut, maka perjuangan akan memiliki akar yang kuat dan memliki basis yang riil.

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

”Untuk menyempurnakan perjuangan, langkah pertama NU-kan dulu keluarga dekat kita,” ungkap Sholihin Hasan saat menyampaikan materi Aswaja pada acara LKD Fatayat NU Ancab Kunduran, Blora, Jawa Tengah, Selasa (28/3).

Untuk meng-NU-kan keluarga, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain aktif di Fatayat, maka seorang kader juga harus menggerakkan suaminya untuk aktif di Ansor, LP Ma’arif, atau NU. Kemudian putra-putrinya sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Jika punya anak atau keponakan berusia remaja agar didorong untuk aktif di IPNU-IPPNU atau PMII.

Sholihin Hasan yang juga Wakil Ketua LP Ma’arif NU Blora itu menambahkan, jika masih punya orang tua, maka kader Fatayat harus bisa memfasilitasi orang tuanya untuk bisa aktif di NU atau Muslimat. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Tetangga kanan kiri juga harus terus dilakukan pemahaman akan arti pentingnya aktif di NU,” ungkap dosen Aswaja dan Kepesantrenan STAI Almuhammad Cepu.

Selain itu, untuk memperluas akses dakwah kader Fatayat juga diajak berda’wah di dunia maya. Dakwah di internet perlu dilakukan agar konten di dunia maya tidak dominasi oleh kalangan radikal dan orang penyebar hoax.?

“Jika seluruh kader Fatayat aktif berdakwah lewat internet, maka nilaia-nilai Islam moderet akan mendominasi dunia maya,” tambah mahahsiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LKD yang dilaksanakan di MI Alhuda Kunduran itu, diikuti 125 peserta. Mereka merupakan perwakilan pengurus ranting yang ada di Kecamatan Kunduran. Acara tersebut dibuka oleh Ketua MWC NU Kunduran, K. Drs Mohadi Said. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Nganjuk,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Usaha Yayasan Mataair Nganjuk, Jawa Timur membantu generasi muda Nahdliyin masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak sia-sia. Data terakhir sampai 14 juli 2016, sebanyak 40 dari 90 peserta pesantren kilat (sanlat) 2016 lolos PTN ternama.

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Ketua Yayasan Mataair Nganjuk Syamsul Hakim bersyukur atas capaian sanlat yang digelar bekerja sama dengan PCNU Nganjuk tersebut. "Kami memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena? siswa-siswi kami lolos di PTN Bidikmisi yang diinginkan. Peserta lolos di kampus UTM Madura, beberapa Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Gajah Mada,” jelasnya Rabu (13/7). ?

Menurut peserta sanlat tersebut, tidak akan dilepas begitu saja setelah duduk di bangku mahasiswa. Namun mereka akan selalu didampingi oleh Yayasan Mataair Nganjuk. Mereka diwajibkan untuk membawa misi Nahdalatul Ulama (NU) dalam mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunal wal-Jamaah di kampus masing-masing.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mereka, tambah dia, direkomendasikan untuk bergiat dan turut membesarkaan organisasi ekstra kampus yaitu PMII, KMNU, Matan (organisasi yang mengembangkan thoriqoh mutabar di), PKPT IPNU-IPPNU.“ Terserah pilih yang mana,” tuturnya.

Sementara Manajer Sanlat BPUN Nganjuk Atourrohman Syahroni mengatakan, siswa-siswi sanlat Nganjuk yang belum lolos PTN jalur SBMPTN masih didorong untuk menempuh jalur mandiri bidikmisi maupun reguler. “Kami tetap mendampingi untuk pendaftaran anak-anak mengikuti jalur mandiri,” katanya.

Dalam hal kualitas, kata dia, santri sanlat ternyata tidak bisa diremehkan. “Contohnya saja Ilham Malik, remaja lulusan SMA 2 Nganjuk? ini berhasil diterima di UGM pada Fakultas Kedokteran. Putri Indah Lestari remaja lulusan SMA 2 Nganjuk Lolos Pendidikan Bahasa Inggris? UB Malang. M Tamami MAN Nglawak lolos Sosislogi di Unej dan beberapa di UTM, UM dan UPN Jatim,” pungkasnya. (Anwar Muhammad/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kiai, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) berharap pelajar putri NU berperan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI. Menurut Menpora, saat ini indikasi ingin memecah-belah negara ini makin sering terjadi. ?

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Selamatkan Indonesia dan Aswaja

"Selamatkan Indonesia dengan menyelamatkan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga NU di bumi Nusantara. Saat ini NU mendapatkan godaan yang semakin berat," katanya saat pidato di Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat (23/12) di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Untuk hal itu, menurutnya, IPPNU saat ini perlu memperkuat kaderisasi dari bawah.?

Sebagai kader IPPNU jangan malu menunjukkan identitas sebagai kader NU. Tebarkan paham-paham Aswaja melalui media sosial.?

"Kita buktikan bahwa Aswaja telah menyelamatkan dan memberikan perdamaian dunia," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat ada acara-acara kepemudaan di daerah, lanjutnya, kader IPPNU harus bepartisipasi. Bahkan, kalau ia hadir ke daerah, maka kader IPPNU di daerah itu wajib hadir, mau diundang atau tidak.

"Dampingi dan kawal saya atau Menteri yang lain berkunjung ke daerah," pesannya.

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader IPPNU konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth) meski tidak mudah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan.

Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus wilayah se-Indonesia. Turut hadir Staf Ahli Mendikbud Hari Budiman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU MargaretAliyatul Maimunah. (Ahmad Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Padang Pariaman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua yayasan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan H Idarussalam memberikan gelar “Tuanku Imam Nahdliyin” untuk Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di pesantren Nurul Yaqin, Pakandangan, Padang Pariaman, Ahad (18/1). Pemberian gelar kehormatan ini merupakan kali pertama dilakukan pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi Kini Bergelar “Tuanku Imam Nahdliyin”

Pemberian gelar ini berlangsung saat tabligh akbar maulud Nabi Muhammad SAW. Kiai Hasyim sendiri hadir sebagai penyampai taushiyah pada tabligh akbar tersebut.

Menurut H Idarussalam, pemberian gelar merupakan kesepakatan pimpinan dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin. "Kami menilai kehadiran Kiai Hasyim ke pesantren Ringan-Ringan patut diberikan penghargaan. Walaupun banyak tokoh yang sudah pernah hadir di pesantren ini, namun kehadiran Kiai Hasyim mampu mengangkat harkat pesantren Nurul Yaqin," kata H Idarussalam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang lebih penting lagi, kata H Idarussalam, Kiai Hasyim merupakan tokoh kiai kaliber nasional yang memahami kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Ringan-Ringan. Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama, bukan sekadar ulama. Paham keagamaannya Aswaja seperti yang diajarkan di pesantren Nurul Yaqin ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Gelar Tuanku Imam Nahdliyin disematkan karena Kiai Hasyim memang imamnya orang NU yang disebutkan warga nahdliyin. Sebagai pesantren yang melahirkan ulama dengan gelar “Tuanku” dan diakui oleh Pemkab Padang Pariaman, kita patut memberikan gelar tersebut," kata H Idarussalam.

Pesantren Nurul Yaqin selama ini terbuka terhadap kultur masing-masing santri dalam memberikan sebuah gelar. Sehingga gelar dari tamatan pesantren Nurul Yaqin pun beragam. Ada yang berbau Padang Pariaman seperti Tuanku Sidi, Bagindo, Sutan. Ada pula yang berbau Arab, Indonesia, dan juga ada yang menyesuaikan dengan daerah masing-masing di luar Padang Pariaman.

"Kita serahkan kepada masing-masing keluarga santri siapa gelar “Tuanku” yang diberikan kepada anaknya," tambah H Idarussalam. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu

Mataram, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Diantara yang menjadi materi bahasan dalam agenda Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2017 di Lombok adalah Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP). Materi bahasan ini masuk ke dalam Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah (Perundang-undangan).

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad mengatakan, isu KUHP adalah isu yang sangat besar. Ia mengaku mengawal isu ini sejak tahun 2005 namun isu tersebut selalu kandas ditengah jalan.

“Salah satu persoalannya karena isu yang ada di dalam KUHP itu banyak sekali,” katanya usai acara Pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 di Mataram, Kamis (23/11).

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahas RUU KUHP, Ketua Lakpesdam: NU Harus Fokus Isu Tertentu

Rumadi menyarankan, jika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ingin mengangkat isu KUHP maka harus fokus pada satu isu tertentu. 

“Misalnya dia (PBNU) mau masuk ke buku satu atau mau masuk ke delik-delik tertentu. Misalnya masuk ke delik agama,” jelas

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut dia, jika isu KUHP dibicarakan semua maka itu akan susah dan akan banyak yang kandas di tengah jalan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Harus fokus ke isu keislaman. Itu isu yang harus dibicarakan di Munas NU,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Pelajar NU Jombang Deklarasi Pemuda Antimiras dan Seks Bebas

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah sukses menyelenggarakan Lomba Mars IPNU-IPPNU dan Mars Syubbanul Wathon karangan Pendiri NU, KH A Wahab Chasbullah serta Duta Rekan-rekanita Jombang dalam rangka Harlah ke-61 IPNU dan ke-60 IPPNU bulan yang lalu. Kini pada Kamis, (26/3) PC IPNU Kabupaten Jombang melalui badan Student Crisis Center Jombang sukses menggelar Sarasehan Pemuda Antimiras dan Seks Bebas.?

Pelajar NU Jombang Deklarasi Pemuda Antimiras dan Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Deklarasi Pemuda Antimiras dan Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Deklarasi Pemuda Antimiras dan Seks Bebas

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula SMK ? Khoiriyah Hasyim Seblak Diwek Jombang tersebut menghadirkan narasumber dari Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr H Asrorun Ni’am Sholeh dan Anggota DPRD Jatim Komisi B, Dra Hj Aisyah Lilia Agustina, MSi.?

Dengan tema ‘Tata Niaga Minuman ber-Alkohol dan masa depan generasi muda Indonesia’, sebanyak 200 peserta antusias mengikuti acara hingga selesai, diantaranya perwakilan dari PW IPNU-IPPNU Jawa Timur, PC IPNU-IPPNU se-Jawa Timur serta PAC/PR/PK/PKPT IPNU-IPPNU se-Kabupaten Jombang turut serta memadati tempat yang disediakan oleh panitia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami berharap dan menghimbau kepada seluruh pelajar NU untuk turut serta mengawasi peredaran minuman beralkohol dan kondom diberbagai tempat, misalnya di minimarket atau apotik yang berada di sekitar kita,” tegas Dra Hj Aisyah yang juga merupakan Pembina PW IPPNU Jawa Timur.

Selain pemaparan tentang Peraturan Menteri Perdagangan tentang minuman beralkohol dan bahaya seks bebas, peserta juga diajak untuk bersama-sama menjadi stakeholder aktif dalam memberantas miras dan praktik seks bebas, diawali dengan Deklarasi Pelajar Nahdlatul Ulama Antimiras dan seks bebas dilanjutkan penandatanganan secara massal di atas kain putih sebagai simbolisnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kabupaten Jombang Abdul Rosyid menegaskan, pelajar NU harus tangguh dalam menghadapi tuntutan dan permasalahan generasi muda yang semakin kompleks.

“Salah satunya dengan mengawasi peredaran miras dan kondom yang dijual secara bebas di toko-toko apotik atau minimarket lalu melaporkan pelanggaran tersebut kepada pihak yang berwenang sesuai peraturan menteri perdagangan tentang minuman beralkohol sebagaimana yang dipaparkan oleh narasumber,” terangnya. (Aulia Rohmah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Terkait disanderanya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf, Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud mengatakan, peran organisasi masyarakat bisa turut menjebatani. Ia beralasan adanya kemungkinan itu mengingat Abu Sayyaf lari ke Filipina, tidak lain karena mempunyai jaringan di negara tersebut.?

Saat ini tenggat waktu yang diberikan para penyandera sudah habis. Marsudi berpendapat agar pemerintah mencoba membandingkan dengan penyanderaan terhadap kapal Sinar Kudus tahun 2011 lalu.

“Setahu saya dulu pemerintah melibatkan pihak-pihak yang dianggap bisa turut untuk mendekati para penyandera dan melobinya. Pendekatan yang soft aproach (pendekatan yang lembut) itu bisa disisir melalui NGO yang ada kaitan atau relasi antara organisasi di Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf. Itu harus dilakukan oleh pemerintah,” terang Marsudi kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal,? Senin, (11/4) malam.

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Ditanya apakah pemerintah Indonesia perlu memberikan uang tebusan kepada para penyandera, Marsudi mengatakan hal itu bisa terjawab setelah adanya komunikasi antara pemerintah dengan kelompok? Abu Sayyaf. Ia menegaskan langkah apa saja bisa ditempuh untuk keselamatan rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Marsudi mengatakan PBNU sejak era Gus Dur mempunyai hubungan khusus dengan organisasi di Filipina Selatan. Marsudi berkeyakinan, sampai saat ini masih ada peluang untuk mengatasi persoalan tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta mengadakan istighotsah, Ahad (13/8). Setelah istighotsah puluhan nahdliyin ini mengikuti upacara peletakan batu pertama pembangunan kantor PWNU DKI Jakarta di Jalan Utan Kayu Raya Nomor 112 Jakarta.

Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Mahfudz Asirun mengatakan, pilihan hari Ahad adalah sesuai dengan penciptaan gunung oleh Allah SWT dengan harapan nantinya agar PWNU Jakarta akan kokoh seperti gunung.

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Turut hadir dalam acara itu Ketua PBNU H Eman Suryaman, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah yang Sekda DKI Jakarta, pengurus harian syuriyah dan tanfidziyah, serta perwakilan dari banom dan lembaga di lingkungan PWNU DKI Jakarta.

Saefullah menyampaikan agar pembangunan nanti dapat lebih bermanfaat khususnya bagi warga NU di Jakarta, maupun secara umum bagi masyarakat Jakarta.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia berpesan kepada hadirin agar membantu dengan doa, terutama agar cita-citanya selanjutnya yaitu akan menggunakan tanah di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan untuk pengembangan ekonomi dan pendidikan bagi Nahdlatul Ulama.

"Kita berharap apapun yang kita perbuat kali ini, semoga bisa bermanfaat untuk umat sekaligus dalam rangka ikut perintah PBNU dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi dan pendidikan warga NU," ujar Saefullah.

Hadir dalam acara ini KHMahfudz Asirun, KH Ibrahim Karim, KH Ibnu Abidin, KH Shodiqin Maqsudi, KH Syaroni Hadi, KH Lukmanul Hakim, para kiai dan pengurus NU lainnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Pendidikan Sosial Keagamaan

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terencana dan terarah. Sedangkan sosial, secara ensiklopedis berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau secara abstraksis berarti masalah-masalah kemasyarakatan yang menyangkut pelbagai fenomena hidup dan kehidupan orang banyak, baik dilihat dari sisi mikro individual maupun makro kolektif. Dengan demikian, sosial keagamaan berarti masalah-masalah sosial yang mempunyai implikasi dengan ajaran Islam atau sekurang-kuraangnya mempunyai nilai Islamiah.

Pendidikan sosial keagamaan seperti pada lazimnya mempunyai tujuan, media dan metoda serta sistem evaluasi. Media dalam hal ini bisa berupa kurikulum atau bentuk-bentuk kegiatan nyata. Yang terakhir inilah yang akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Sosial Keagamaan

***

Ajaran Islam atau lebih khusus syariat Islam, mempunyai titik singgung yang sangat kompleks dengan masalah-masalah sosial. Karena, syariat Islam itu sendiri justru mengatur hubungan antara manusia (individual mau pun kelompok) dengan Allah SWT, antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hubungan pertama terumuskan dalam bentuk ibadah (baik individual maupun sosial). Interaksi kedua terumuskan dalam bentuk muamalah dan muasyarah. Prinsip muamalah dalam Islam, tidak menitikberatkan pada penguasaan mutlak bagi kelompok atas pemilikan alam, sehingga menjadikan penguasaan individual, sebagaimana paham sosialisme (al-isytirakiyah al-mutlaqah). Ia juga tidak menitikberatkan penguasaan bagi individu secara mutlak yang cenderung pada sikap monopoli tanpa memiliki konsen (kepedulian) terhadap yang lain, sebagaimana dalam kapitalisme (al-rasumaliah al-mutlaqah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi Islam menghargai hak penguasaan individual yang diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dan tanggung jawab kelompok. Pembuktian prinsip ini bisa dilihat pada pelbagai hal, antara lain berlakunya hukum waris, zakat, nafkah, larangan judi, larangan menimbun barang kebutuhan pokok sehari-hari dan lain-lain.

Sedangkan prinsip mu’asyarah dalam Islam dapat dilihat dalam pelbagai dimensi kepentingan dan struktur sosial. Dalam kepentingan kemaslahatan umum, kaum Muslimin dituntut oleh ajaran Islam sendiri agar bekerja sama dengan penuh tasamuh (toleransi) dengan pihak-pihak di luar Islam. Sedangkan antara kaum Muslimin sendiri, Islam telah mengatur hubungan interaksinya dalam kerangka ukhuwah Islamiah bagi segala bentuk sikap dan pelilaku pergaulan sehari-hari.

Dari sisi struktur sosial yang menyangkut setratifikasi sosial bisa dilihat, bagaimana ajaran Islam mengatur interaksinya, misalnya hubungan lingkar balik antara ulama, umara (pemerintah), aghniya (orang kaya) dan kelompok fuqara’ (orang fakir). Pendek kata, dalam Islam terdapat aturan terinci mengenai muasyarah antara pelbagai kelompok sosial dengan pelbagai status masing-masing.

***

Disiplin sosial secara sosiologis dapat diartikan sebagai suatu proses atau keadaan ketaatan umum atau dapat juga disebut sebagai "ketertiban umum". Ketertiban itu sendiri merupakan aturan muasyarah antar masyarakat baik yang ditentukan oleh perundang-undangan mau pun yang tidak tertulis, hasil bentukan dari suatu kultur atau budaya. Dapat juga, ia merupakan nilai-nilai yang berlaku, baik yang berorientasi pada budaya mau pun agama.

Bagi Islam, bentuk disiplin sosial adalah kesadaran menghayati dan melakukan hak dan kewajiban bagi para pemeluknya, baik dalam sikap, perilaku, perkataan perbuatan mau pun pemikiran. Dalam hal ini, di dalam Islam dikenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-Adami (hak-hak manusia). Sedangkan hak-hak manusia pada hakikatnya adalah kewajiban-kewajiban atas yang lain. Bila hak dan kewajiban masing-masing bisa dipenuhi, maka tentu akan timbul sikap-sikap sebagai berikut:

Solidaritas sosial (al-takaaful al-ijtimai), toleransi (al-tasamuh), mutualitas/kerjasama (al-ta’awun), tengah-tengah (al-itidal), dan stabilitas (al-tsabat).

Sikap-sikap itu merupakan disiplin sosial yang sangat erat hubungannya dengan ajaran Islam yang mempunyai cakupan luas, seluas aspek kehidupan yang berarti, bahwa Islam sebenarnya mampu menjadi sumber referensi nilai bagi bentuk-bentak kehidupan sosial. Lebih dari itu, mengaktualisasikan sikap-sikap itu dengan motivasi ajaran dan perintah agama, berarti melakukan ibadah. Disiplin sosial dapat juga identik dengan ibadah dalam Islam (dengan amal).

Dari uraian pada ketiga kerangka di atas, dapatlah diambil kesimpulan, bahwa masalah-masalah sosial ke agamaan Islam meliputi semua aspek kehidupan sosial sementara itu ajaran Islam telah meletakkan landasan yang kuat dan fleksibel bagi sikap dan perilaku dalam disiplin sosial.

Pendidikan ke arah itu sebenarnya implisit masuk dalam pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam seutuhuya yang menyangkut iman (aspek aqidah), Islam (aspek syariah), dan ihsan (aspek akhlaq, etika dan tasawuf) akan berarti melibatkan semua aspek rohani dan jasmani bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individual mau pun makhluk sosial.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Solo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Cara unik dilakukan oleh salah satu hotel di Kota Solo untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pihak pengelola hotel membuat miniatur masjid yang terbuat dari jajanan khas Kota Solo, intip.

Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)
Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Selain menggunakan panganan berbahan baku nasi tersebut, masjid berdimensi 2×1,5x 1 meter tersebut juga dibuat dari beberapa makanan ringan tradisional lainnya seperti

rengginang dan keripik pisang.

Executive Chef hotel tersebut, Topan Noer menjelaskan, untuk membangun miniatur masjid tersebut, menghabiskan 15 kilogram intip, 3-5 kilogram kurma, 2-3 kilogram kismis serta dark coklat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Miniatur masjid ini terinsipirasi bangunan masjid di Yordania yang terbuat dari bongkahan batu yang jika dilihat dari dekat pada dindingnya akan terlihat tekstur batu yang tidak beraturan,” terangnya, Jumat (27/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Topan memaparkan alasan penggunaan makanan tradisional untuk membuat miniatur masjid tersebut, yakni untuk melestarikan kuliner Indonesia dan juga mengenalkan panganan khas Solo.

“Apalagi, mayoritas tamu yang menginap di sini berasal dari luar kota. Karena itu, kita juga sediakan contoh makanan yang kita gunakan untuk bisa dicicip,” ungkap Topan.

(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam memperkuat kader Nahdlatul Ulama, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU IPPNU) Kecamatan Gebang menggelar Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) Raya yang diikuti oleh seluruh pelajar santri se-Kecamatan Gebang. Pembukaan kaderisasi ini digelar di Aula Desa Gebang Kulon, Cirebon, Sabtu (26/11).

Tampak hadir pengurus MWCNU, Muspika, GP Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, dan Irmas Kecamatan Gebang, Kuwu Gebang Kulon, dan Wakil DPRD Kabupaten Cirebon Hj Yuningsih yang memberi motivasi kepada para peserta makesta raya.

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gebang Rekrut Puluhan Pelajar

Setelah pembukaan, peserta Makesta Raya menuju tempat penginapan di lingkungan Lembaga Pendidikan Yayasan An-Nahdliyyah Indonesia dan dimeriahkan oleh grup drumben SDIT Ar-Rahmah Gebang Kulon Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Pelaksana Ahmad Yusuf mengatakan pihaknya sangat merasa bangga karena? peserta yang mengikuti makesta raya sangat antusias. Terbukti peserta sampai melebihi target. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kegiatan ini sehingga bisa terlaksana secara maksimal. Ia berharap alumni makesta tahun ini siap untuk berkhidmah di NU secara istiqamah.

Ketua IPNU Gebang Hadi Riyanto mengajak semua kader NU khususnya di wilayah kecamatan Gebang harus melakukan pengkaderan mulai dari makesta sampai Latihan Kader Utama (LAKUT) supaya benar-benar menjadi kader yang loyal.

Ketua IPPNU Kecamatan Gebang Siti Maghfiroh mengatakan, kader IPNU-IPPNU harus mampu untuk merekrut kader-kader di sekolah dan pesantren. Ia berharap kepada peserta makesta raya untuk mengikuti dan menyimak materi secara seksama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori melalui sekretarisnya Abdul Bari menjelaskan, kader IPNU-IPPNU pada masa sekarang ini harus siap menghadapi tantangan di zaman globalisasi seperti ini karena pelajar zaman sekarang sudah banyak yang terjebak pada pergaulan bebas, dan sudah berani mengonsumsi barang-barang yang dilarang oleh agama.

Ia menganjurkan IPNU dan IPPNU untuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah dalam menyosialisasikan bahaya obat-obatan terlarang seperti narkoba dan lainnya.

“Harapan kami alumni makesta tidak berhenti dalam mengikuti pengkaderan. Makesta adalah pengkaderan tingkat awal teruslah mengikuti pengkaderan di tingkat selanjutnya sampai Lakut,” jelasnya. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Khutbah, Berita, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Dengan Gawai, Muslimat NU Gaet Pasangan Usia Subur untuk Akseptor KB

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Meski berusia tidak lagi muda, para ibu Muslimat NU menggunakan fasilitas gawai untuk menggaet pasangan usia subur (PUS) untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Setahun ini mereka berhasil mengajak ribuan PUS di Kabupaten Brebes untuk memasang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

“Progresnya bagus banget. Para motivator Muslimat NU dalam perkembangannya tidak hanya sosialisasi tetapi juga menjadi pengantar, penjemput bahkan hingga menunggui sampai selesainya pemasangan alat kontrasepsi,” tutur Ketua Pelaksana Program Pilihanku PP Muslimat NU Hj Kusnia Nasser di sela Refresh Training Motivator KB Muslimat NU di Grand Dian Hotel Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Selasa (9/5).

Dengan Gawai, Muslimat NU Gaet Pasangan Usia Subur untuk Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Dengan Gawai, Muslimat NU Gaet Pasangan Usia Subur untuk Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Dengan Gawai, Muslimat NU Gaet Pasangan Usia Subur untuk Akseptor KB

Refresh ini, kata Nia, dimaksudkan untuk menggali pengalaman motivator, kendali dan kendali, serta berbagai pengalaman bagus sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan langkah berikutnya.

Ia mengaku bangga dengan capaian yang telah dilakukan oleh para motivator Muslimat NU Brebes. Tidak harus dengan dana yang besar, ternyata ajakan dari para motivator mampu mengubah perilaku PUS. Yang tidak peduli jadi peduli, yang acuh jadi semangat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Muslimat bisa menjadi penangkal hoax tentang KB,” pujinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebanyak 60 motivator Muslimat NU dalam praktiknya tidak sekadar memberi saran, mengajak atau memotivasi PUS, tetapi juga aksi turun ke lapangan dengan semangat membara.

Kusnia yang juga Ketua II Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Pusat mengatakan, program ini akan berakhir pada Oktober 2017. Untuk itu Pemkab Brebes dipersilakan untuk memanfaatkan keberadaan motivator KB Muslimat NU untuk menyukseskan program KB.

Sebab, menurut BKKBN Pusat, lanjutnya, Indonesia membutuhkan 85.000 Penyuluh Lapangan KB. Sedangkan PLKB yang dimiliki pemerintah berkisar antara 15-20 ribu orang penyuluh, sehingga kekurangan 65 ribu PLKB.

“Kehadiran Motivator di tengah masyarakat perlu dirawat dan dijaga keberlanjutan kerjanya,” tandasnya.

Selain di Brebes para motivator KB Muslimat NU yang dibekali tablet ini, juga tersebar di Cilacap, Klaten, Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Kepala DP3KB Khambali mengaku bangga dengan adanya motivator Muslimat NU karena bisa membantu PLKB dalam menyukseskan program KB. Terbukti, Muslimat NU selalu menjadi juara 1 dalam perolehan akseptor KB tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Ketua Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menambahkan, 60 motivator direkrut dari anggota Muslimat NU yang tersebar di 17 Kecamatan Brebes. Tugas pokok utama mereka hanya menyosialisasikan dan mengajak akseptor untuk ber-KB.

Mereka dibekali tablet yang sudah diisi aplikasi tertentu sehingga motivator bisa menggunakannya secara intensif. Selain itu, metode ceramah di pengajian, perkumpulan PKK, dan dasawisma menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh ibu-ibu Muslimat untuk mengampanyekan program KB. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Pesantren, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Komunikasi antara PBNU dengan seluruh berbagai lapisan masyarakat terus dilakukan, termasuk dengan para anggota DPR dan DPR yang memiliki latar belakang warga NU. Hadir sekitar 50 orang dari berbagai partai politik di Gd. PBNU pada Senin malam (26/9).

Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja menjelaskan bahwa komunikasi tersebut penting agar semua fihak dapat memberikan kontribusi dalam membangun NU, termasuk dari sektor politik. “Aspirasi atau perjuangan melalui kekuatan politik tetap dianggap penting, atau diperlukannya sayap politik dalam rangka memperjuangkan NU dan masyarakat,” tandasnya dalam pengantar pertemuan.

Dijelaskan oleh Bagdja bahwa PBNU juga ingin mendengarkan banyak masukan dari para anggota dewan seperti pelaksanaan MoU dengan GAM, kebijakan pemerintah yang akan menaikkan BBM dan lainnya. “Agar NU tidak tertinggal atau bisa memberikan kontribusi dalam pembikinan UU sehingga nilai-nilai keagamaan atau perspektif fikihnya dapat dituangkan dalam pembikinan UU,” paparnya.

Tegaskan tak Tak Ikut Politik Praktis

Sementara itu KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa PBNU setelah muktamar ke 31 NU di Boyolali menegaskan untuk tidak lagi ikut politik praktis kepartaian dan lebih berkonsentrasi untuk mengurusi politik keumatan. Ketika semua bermuara pada politik keislaman, semua menjadi bagian dari perjuangan NU.

“Misalnya soal rancangan UU kesehatan, UU pendidikan yang ada pengaruh ke ummat, komunikasi tak boleh putus. Ini yang menyangkut masalah keislaman. Kita dengan ada UU yang mau memperbolehkan aborsi, ada UU yang anti pornografi. Sangat tidak benar jika NU tidak turut berperan,” tegasnya.

Selanjutnya Hasyim mengharap ada koordinasi yang lebih baik termasuk perwakilan dari sector permasalahan, yaitu komisi DPR. Dengan demikian di PBNU ada informasi dini dari masalah yang digali. “Siapa tahu kalau ada yang bertentangan dengan syariat atau ada hal perlu diajukan, atau ada peluang pendidikan yang bisa diambil,” tegasnya.

Ditegaskannya NU harus kondusif untuk mengakses ke jurusan manapun. Bukan berarti NU tak memiliki pendirian, tetapi NU harus bisa bicara dengan fihak manapun untuk perjuangan ummat. “Jadi masalah positioning sekarang sedang ditata begitu rupa sehingga statemen-statemen yang keluar dari NU harus bersikap substansial,” imbuhnya.

Dalam acara yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, hadir para politisi senior seperti Slamet Effendy Yusuf (Golkar), Endin AJ Soefihara (PPP), Ali Masykur Musa (PKB), Hasib Wahab (PDIP), KH Sofyan Yahya (DPD) dan lainnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Adakan Silaturrahmi dengan Anggota DPR asal NU

Selasa, 12 Desember 2017

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kendati bukan pilihan utama, namun madrasah masih menjadi pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Madrasah Tsanawiyah Asy Syafi’iyyah Jatibarang, misalnya, masih jadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Demikian disampaikan Kepala MTs Asy Syafi’iyyah Jatibarang H Akhmad Rosyidi saat berbincang dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di ruang kerjanya, Kamis (26/1).

Terbukti, lanjut Rosyidi, di madrasah tersebut mampu menggaet 764 siswa dan siswi pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Bahkan sempat mencapai rekor jumlah 1004 murid tahun 2004. “Kami juga mewajibkan seluruh keluarga besar madrasah maupun yayasan wajib memasukan anak-anaknya ke madrasah ini,” tuturnya.?

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Madrasah yang terletak di Jalan Raya Timur no 10 Jatibarang, Brebes memiliki 44 guru dan 16 TU. Sebanyak 33 guru sudah bersertifikasi dan 16 guru juga sudah impassing. Dari perjuangan keras para pejuang pendidikan, telah membuktikan prestasi akademik dengan meraih NEM tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Brebes atas nama Syaiful Alami pada ujian nasional 2015/2016 lalu.

Madrasah yang berdiri sejak Juni 1974 tersebut, pada awalnya menempati MI Asy Asyafi’iyyah di Jatibarang Kidul selama tiga tahun. Kemudian pindah lagi ke MI Asy Syafiiyah 2 di Jatibarang Lor. Lima tahun kemudian, baru mampu membeli tanah berikut bangunan kelasnya. “Alhamdulillah, sekarang memiliki tanah seluas 20.000 meter persegi,” ungkapnya.

Sekolah dibawah naungan Yayasan Asy Syafi’iyyah Jatibarang memiliki 23 rombongan belajar (rombel) dengan rincian Kelas 7 sebanyak 6 rombel, kelas 8 sebanyak 9 rombel dan kelas 9 sebanyak 8 rombel.?

Madrasah ini juga memiliki keunggulan berupa muatan lokal Baca Tulis Quran (BTQ), life skill tambal ban, membuat telur asin, memasak dan wira usaha lainnya. “Sebelum memulai pelajaran, para siswa membaca Asmaul Husna, dan setiap Jumat ngaji baca Al-Quran bareng,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menyinggung persiapan Ujian Nasional, Rosyidi menjelaskan, kalau madrasahnya belum bisa mengikuti UNBK karena siswa belum bisa menyesuaikan akibat dihapusnya mata pelajaran TIK. “Anak-anak banyak yang mahir pegang ponsel, tapi untuk mengoperasikan laptop maupun komputer,” ucapnya beralasan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekabupaten Brebes, kata Rosyidi baru empat MTs yang ditunjuk untuk UNBK. “Tapi kami menyanggupi baru tahun 2019,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia

Ciputat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. KH Akhmad Sodiq menjelaskan bahwa tujuan diajarkannya tarekat adalah untuk melembutkan dan melenturkan perasaan seseorang.

“Tarekat digunakan untuk melembutkan perasaan. Semua sifat buruk akan dilenturkan dengan tarekat,” kata Kiai Sodiq saat menjadi pembicara pada acara Safari Ramadlan Menepis Radikalisme dengan Spiritualisme di Masjid Fathullah, Kampus UIN Ciputat, Rabu (8/6). ?

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa Bertarekat? Ini Lima Cara Mengubah Sifat Buruk Manusia

Kiai Sodiq menerangkan, ada lima cara yang bisa mengubah sifat buruk menjadi baik. “Sifat buruk bisa diubah dengan cepat adalah dengan dzikir, ibadah, wuquful qolbi, tawajjuh, dan mujahadah riyadhoh (pembiasaan),” jelas dosen UIN Jakarta tersebut.

Menurutnya, di sekolah hanya menggunakan mujahadah riyadhoh atau pembiasaan sebagai metode untuk mengubah sifat jelek seseorang agar menjadi baik, tetapi kalau di tarekat semuanya diajarkan dan digunakan. Kelima cara tersebut terangkum ke dalam satu wadah, yaitu ibadah.

Ia mengumpamakan sifat jelek itu seperti es batu, sedangkan ibadah itu ibarat matahari.?

“Semakin kuat sinarnya, maka semakin cepat dan mudah es batu tersebut hancur,” tegasnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut, Kiai Sodiq menjelaskan bahwa tidak sedikit mursyid atau ahli tarekat yang menolak anak muda untuk bergabung ke dalam kelompok tarekat yang mereka pimpin, hal tersebut dikarenakan mereka sangat menjaga tarekat.

“Kalau ada mursyid yang tidak mau mengijazahkan tarekat, jangan su’udzan. Mungkin dia sangat berhati-hati,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Mahasiswa Ahlu At-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An- Nahdliyah (Matan) Cabang Ciputat Ahmad Atmo Prawiro menjelaskan, keberadaan Matan bisa menjadi organisasi alternatif di tengah-tengah mahasiswa yang berpikiran pragmatis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Matan Cabang Ciputat dilantik pada 11 April 2016 di Masjid Fathullah. Mereka secara rutin mengelar pengajian dan diskusi tarekat melalui Café Sufi. (Muchlishon Rochmat/Zunus) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Berita, Pahlawan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya kelompok Islam Ahlussunnah wal Jamaah mengidentifikasi kembali sarana dakwah yang dimilikinya. Langkah kecil yang diminta segera dijalankan adalah pemasangan plang (papan nama) organisasi NU.

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Masjid dan Musholla Harus Pasang Plang NU

"Masjid dan Musholla itu anak ranting NU, harus ada plang NU," tegas Kang Said, demikian KH Said Aqil Siroj disapa dalam kesehariannya di Jakarta, Jumat (18/5).

Pemasangan plang NU, lanjut Kang Said, tidak hanya bermakna identifikasi aset kelompok Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Langkah ini juga untuk menghindari adanya penguasaan dan penyalahgunaan Masjid serta Mushala oleh kelompok Islam berfaham radikal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Wahabi itu lebih takut kepada plang NU daripada ke orang-orang NU," tambah Kang Said dengan nada canda, yang langsung ditimpali dengan menegaskan penyematan plang NU di Masjid dan Mushala penting untuk dilakukan.

Kang Said yakin jika kepengurusan NU di daerah, mulai dari tingkat wilayah, cabang, hingga ranting mampu membiayai pembuatan dan pemasangan plang identifikasi di Masjid dan Mushala yang menjadi asetnya. "Kalau tidak punya anggaran, asalkan kita sungguh-sungguh, apa yang kita laksanakan bisa dipertanggungjawabkan, Insya Allah masih banyak kelompok yang bersedia membantu kita," tegasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menanggapi permintaan identifikasi masjid dan musholla, Ketua Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU KH Abdul Manan, mengatakan jika langkah tersebut sudah menjadi prioritas untuk segera dilaksanakan.

"Rapimnas LTM NU di Palangkaraya beberapa hari lalu memang mengamanatkan identifikasi Masjid dan Musholla. Itu sudah menjadi prioritas kami, dan kepengurusan di daerah akan segera melaksanakannya," ujar Kiai Manan.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Saat fatwa haram hormat bendera merah putih banyak dikeluarkan sejumlah orang, upacara memperingati kemerdekaan Indonesia justru semarak diselenggarakan di pesantren-pesantren. Tidak terkecuali Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang, Jawa Timur.

Pesantren yang sering akrab dengan sebutan Pesantren Mergosono asuhan KH M. Taqiyudin Alawy ini terletak di gang kecil Kelurahan Mergosono. Karena tak memiliki lapangan, upacara bendera pun digelar di atas atap, tepatnya di lantai empat gedung asrama pesantren. Dengan mengenakan sarung dan kopiah, sekitar 30-an santri melangsungkan upacara dengan khidmah.

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahan Sempit, Atap Pesantren Ini Pun Jadi Lapangan Upacara

Selain bendera Sang Merah Putih, dikibarkan pula bendera Nahdlatul Ulama secara bersamaan. Kalau di tempat lain sesi mengenanang pahlawan diisi lagu Mengheningkan Cipta, di upacara Pesantren Mergosono ini sesi tersebut diisi dengan membacakan Surat al-Fatihah kepada para pahlawan pendahulu.

Para santri juga secara serentak membaca Ikrar Santri untuk NU dan NKRI. Ikrar tersebut berisi dua syahadat, ikrar setia terhadap NU, dan ikrar bela negara. Ikrar tersebut disusun dengan mengkombinasikan antara Panca Setia santri ala KH. Marzuki Mustamar dan Ikrar bela ala Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Inspektur upacara juga menyampaikan amanat kepada peserta upacara. Setelah itu menyanyikan dua lagu nasional, yakni Padamu Negeri dan 17 Agustus. Dan acara ditutup dengan doa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berikut Bunyi teks “Ikrar Santri Untuk NU dan NKRI” Pesantren Mergosono:

? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kami santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang;

1. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah

2. Kami bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah

3. Kami berikrar bahwa NU selalu di hati

4. Kami berikrar bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman

5. Kami berikrar bahwa membela tanah air adalah wajib

6. Kami berikrar bahwa NKRI harga mati itu bukan basa-basi

(Indirijal Lutofa/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Kyai, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock