Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Boyolali, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal -

Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor se-Solo Raya beserta Pimpinan Wilayah Jawa Tengah mengadakan kegiatan Napak Tilas “15 Syuhada” di Jagir, Dragan, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (24/3). Agenda ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam menyambut Harlah GP Ansor ke-83.

Kegiatan napak tilas ini semula diselenggarakan oleh PC GP Ansor-Banser Boyolali, namun pada penyelenggaraan kali ini, diikuti para peserta dari PC GP Ansor-Banser se-Solo Raya.

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Banser Solo Raya Napak Tilasi “Syuhada 15”

Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoiruddin Ahmad mengatakan acara Napak Tilas ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para tokoh NU dan Ansor di daerah tersebut, yang gugur dalam memperjuangkan Islam.

“Napak tilas serta haul di monumen Syuhada 15, semoga juga menambah semangat kita, walaupun sampai mempertaruhkan nyawa, seperti yang dialami para pemimpin Islam di Jagir Musuk ini,” kata dia.

Rute kegiatan Napak Tilas berakhir di kompleks Pemakaman Jagir, Desa Dragan, Kecamatan Musuk. Di tempat tersebut, dimakamkan beberapa tokoh NU, Ansor, Banser, dan pejuang Islam lainnya, yang gugur karena dibunuh oleh PKI pada tahun 1965.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain diadakan Napak Tilas, panitia juga menggelar acara peringatan haul yang diisi dengan pengajian dzikir dan shalawat, Sabtu (25/3) malam. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Hikmah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

Saling membantu sesama makhluk Allah sangat lazim dalam kehidupan di dunia ini. Pasalnya keberuntungan dan nasib orang berbeda-beda. Di sinilah letak pentingnya upaya manusia untuk saling menutupi dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Imam Al-Ghazali sendiri menulis tatakrama perihal ini. Hujjatul Islam ini menyebut sejumlah rincian yang sangat ramah terhadap mereka yang memerlukan bantuan. Dalam Al-Adab fid Din Imam Al-Ghazali menyebut akhlak seorang yang bersedekah.

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Seyogianya seorang yang ingin bersedekah mendonasikan hartanya sebelum diminta, diam-diam saat memberi, menutup-tutupi sedekahnya setelah memberi, ramah terhadap pengemis, jangan mengawali pembicaraan dengan jawaban penolakan, menolak permintaan dengan suara perlahan, mengusir godaan bakhil dari dalam hati, memberikan sesuatu sesuai permintaan atau menolaknya dengan cara yang baik. Apabila Iblis laknatullah berbisik, ‘Orang ini tidak berhak terima sedekah,’ maka jangan perhatikan nikmat yang anugerahkan pada si pengemis. Tetapi tegaskan di dalam hati bahwa orang tersebut layak menerima sedekah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejumlah rangkaian tatakrama bagi seorang yang berbagi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan ini sebenarnya dapat saja berbeda di zaman dan daerah tertentu. Hanya saja sejumlah tatakrama ini dibuat dengan tujuan agar mereka yang menerima bantuan tidak merasa terhina.

Demikian juga dengan pemberi. Semua etika ini diatur agar kedermawanan pemberi tidak kehilangan nilai di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pascasarjana Program Magister (PPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mulai aktif perkuliahaan perdana hari ini, Jumat (9/10). Sebanyak 90 mahasiswa baru S2 ini akan mengikuti berbagai mata kuliah terkait dengan metodologi Islam Nusantara, baik secara sosiologis, antropologis, etnografis, dan lain-lain.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Mulai Kuliah Perdana Hari Ini

Demikian disampaikan Asisten Direktur PPM STAINU Jakarta, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA saat dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jumat (9/10) di Jakarta.

“Untuk semester perdana ini diasuh atau diampu oleh berbagai dosen dan praktisi yang mumpuni di bidangnya,” ujar Ulin, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulin menegaskan kepada mahasiswa baru, bahwa keseriusan dalam mengikuti perkuliahaan sangat penting untuk keseuksesan mahasiswa itu sendiri. Dia juga mengatakan, para mahsiswa juga diharap bisa memahami konsep Islam Nusantara dengan di PPM STAINU Jakarta.

“Hal ini saya sampaikan karena banyak informasi-informasi atau tulisan-tulisan tentang Islam Nusantara yang berkembang di media,” paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Namun demikian, kata Ulin, penting juga bagi mahasiswa untuk memahami konsep Islam Nusantara dari berbagai pandangan sehingga mampu mengidentifikasi distingsi atau perbedaan pendapat yang ada.

Proses perkuliahaan PPM STAINU Jakarta dilaksanakan dua hari, yakni setiap hari Jumat dan Sabtu. Hari Jumat dimulai dari pukul 14.00 WIB dan Sabtu dimulai sejak pukul 09.00 pagi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa akan datang kembali ke Tasikmalaya, Ahad (30/4). Khofifah direncanakan menghadiri dua kegiatan yakni di Pondok Pesantren Cipasung Singaparna dan Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Lakukan Penyerahan Bibit Cabe ke Pesantren Cipasung

Menurut Ketua PC Muslimat NU Kota Tasikmalaya, Hj Ai Muhammad, Khofifah akan melakukan penyerahan bibit cabe ke Pondok Pesantren Cipasung. Selanjutnya menghadiri Harlah NU ke-94 tingkat Kota Tasikmalaya di Masjid Agung.

"Kalau di Cipasung pagi hari, siangnya di Masjid Agung," kata Ai, Sabtu (29/4).

Ai pun mengungkapkan bahwa Khofifah juga sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU sehingga kehadirannya ke Kota Tasikmalaya atas undangan PC Muslimat NU Kota Tasikmalaya. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bukti bahwa Islam sangat menghormati dan melindungi non Muslim banyak terekam dalam al Quran. Banyak kisah-kisah non Muslim yang justru ada dalam al Quran dan tidak tersebut di kitab suci mereka. Demikian penjelasan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Refleksi Awal Tahun PBNU, Selasa, 4 Desember 2011.



Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

"Ketika terjadi Perang antara Romawi (Katolik) melawan Persia (Majusi) Rasulullah berharap Romawi menang, namun nyatanya Romawi kalah dan turunlah surat ar Rum yang menghibur. Dan ini diabadikan dalam al Quran," kata pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Dalam surat ar Rum disebutkan bahwa tidak lama lagi Romawi akan segera menang dan di saat itulah kaum Mumin harus ikut bergembira menyambut kemenangan Romawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said bercerita, suatu saat Rasulullah menerima hadiah dari Gubernur Mesir, yakni Mariah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Mariah adalah seorang wanita yang beragama Ortodok Koptik. Rasulullah berkata kepada Khalifah Umar, "Nanti Mesir akan berjaya melalui tanganmu (kekuasaanmu), saya titipkan keluarga Mariah kepadamu."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said menjelaskan bahwa Rasulullah menitipkan keluarga Mariah adalah untuk menjaga agama Mariah sebelumnya yakni Ortodok Koptik. "Dan akhirnya terbukti, ketika Perang Salib, tidak satupun orang Ortodok Koptik yang diserang. Dan hingga saat ini Ortodok Koptik tetap eksis di Alexandria," jelas Kang Said.

Kisah pembantaian Nasrani Najran diabadikan oleh al Quran dalam surah al Buruj. Saat itu Raja Dzu Nuwas dengan kejam membantai Nasrani Najran dan kemudian dimasukkan dalam lubang dan dibakar hidup-hidup. "Kisah ini terekam jelas dalam al Quran yang justru tidak disebutkan oleh Injil," jelas Kang Said.

"Jadi jangan dikira bahwa dalam kisah itu adalah cerita orang Islam, itu adalah kisah Nasrani Najran," tegas pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Korban yang terbunuh akibat kekejaman Dzu Nuwas ini hanya memiliki satu kesalahan, yakni beriman kepada Allah.

Cerita lain tentang pembelaan Islam terhadap non Muslim juga terjadi pada saat Khalifah Umar menerima kunci dan berkunjung ke gereja di Palestina. Saat itu masuk waktu ashar dan Khalifah Umar ingin bergegas melaksanakan salat. Kemudian Sofrinus, yang menyerahkan kunci, memersilakan Umar untuk salat di dalam gereja, namun Umar menolaknya.

Lalu Kang Said menjelaskan alasan penolakan Umar, "Khalifah Umar menolak bukan karena salat di dalam gereja. Namun beliau takut jika suatu saat nanti gereja tersebut akan direbut kaum Muslimin dengan alasan beliau pernah salat di sana."

Kisah-kisah perlindungan Islam terhadap non Muslim ini, menurut Kang Said, harus bisa dijadikan contoh teladan bagi kaum Muslimin agar tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap non Muslim. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Alun-alun depan Masjid Agung Garut, Jawa Barat bakal dipadati oleh puluhan ribu nahdliyin pada Sabtu (17/11). Pasalnya, di alun-alun tersebut akan diselenggarakan pelantikan Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Garut dan apel akbar Barisan Ansor Serba Guna (Banser) sebanyak lima ribu pasukan.

Pada acara yang akan dimulai pukul 08.00 pagi-13.00 siang akan dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Kholil Qoumas, PWNU Jabar, Ketua PW Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, Pengurus Cabang NU Kabupaten Garut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Kodim Garut, serta tamu undangan lainnya.

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Habib Luthfy bin Yahya Siap Baiat 5000 Banser Garut

Kegiatan akbar ini rencananya ditutup dengan taushiyah oleh Rais Aam Jam’iyah Ahlu Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyah (Jatman) Habib Luthfy Al-Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Kabupaten Garut Muhammad Salim melalui sambungan telepon mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa eksistensi kader NU, khususnya Ansor dan Banser diperhitungkan di Kabupaten Garut.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan asupan informasi bagi warga Garut yang sedang berkembang di Kabupaten Garut terkait isu pembubaran pengajian oleh Banser.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita buktikan siapa yang membubarkan pengajian, dan siapa yang suka mengisi dan mengamankan pengajian,” jelasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Habib, RMI NU, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Agama Mata Pedang

Oleh Ren Muhammad



Fenomena takfir (pangafiran) mewabah lagi di Jakarta. Sekelompok orang yang mengaku Muslim, sayangnya terlibat dalam pewabahan ini. Semua atribut keislaman, lebih tepatnya kearaban, melekat di tubuh mereka. Sedari tasbih, jubah, sorban, hingga pola ucap yang melulu terarabisasi. Namun bila menilik jalan pikiran mereka, kita seolah menyaksikan perulangan sejarah Islam generasi pertama (1 H/7 M).

Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama Mata Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama Mata Pedang

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahuanhu adalah pemantik pertikaian umat Muslim generasi perdana. Latarnya, kekecewaan atas keputusan politik Ali. Bukan perbedaan keyakinan atau aqidah yang berseberangan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Muawiyah yang bersaudara dengan Utsman, meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib (pengganti Utsman) agar memberantas komplotan pembunuh itu. Keputusan Ali jauh dari tuntutan itu. Ia hanya mengizinkan hukum qishash (balas) pada si pembunuh saja. Urusan persaudaraan darah ini, kemudian merebak jadi perkara besar politik.

Muawiyah bangkit memberontak Ali sebagai pemimpin sah umat yang ditunjuk oleh dewan Ahlul Halli wa l-Aqdi (terdiri dari para Sahabat terpandang). Perang pun pecah. Sebagai pemimpin besar Islam kala itu, juga jenderal perang Rasulullah, Ali dan pasukannya nyaris menumpas Muawiyah bin Abu Sufyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kekalahan Muawiyah urung terjadi setelah Amr bin Ash, komandannya, mengusulkan agar ia mengangkat mushaf (lembaran) al-Quran yang ditancapkan pada mata tombak. Ali mafhum. Mereka sepakat berdamai (tahkim-arbitrase). Efek dominonya adalah, kawanan kecil dari pasukan Ali yang kemudian malah membelot. Sejarahwan Islam menemukan catatan untuk mereka yang kemudian bernama Khawarij. Kata jamak dari kharij, yang artinya keluar dari barisan.

Target kelompok kecil ini hanya dua. Membunuh Muawiyah dan Ali. Berdasar keyakinan bahwa mereka pelaku dosa besar. Padahal latarnya jelas. Lagi-lagi, kekecewaan politik belaka. Mereka lupa, Nabi Muhammad Saw pernah dan teramat sering mengalami penindasan politik dari masyarakat Quraisy--kaumnya sendiri. Terutama ketika ia harus dengan lapang dada menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Berisi pelarangan memasuki tanah kelahirannya, Makkah, selama sepuluh tahun.

Pelajaran lain yang juga tak kalah penting adalah, saat Nabi Muhammad terusir dari Makkah dan kemudian mengamini tawaran sekelompok Yahudi yang meminta bantuannya membenahi Yatsrib (sekarang Madinah). Perjanjian itu kemudian dibalas dengan keislaman mereka secara sukarela, setelah Muhammad Saw berhasil memenuhi janjinya. Ia mengubah Madinah menjadi Munawarah. Kota yang berkilauan cahaya kebaikan. Jadi kotanya yang ia cintai, sebagaimana Makkah al-Mukarramah.

Berislam dalam Waktu



Jika kita belajar dari teori sejarah Ibn Khaldun (bapak ilmu sejarah dunia) tentang hukum siklus sejarah, maka demikian pula yang terjadi dalam riwayat panjang Islam masa ke masa. Muawiyah yang tampil sebagai pemenang lantaran gagal terbunuh oleh Khawarij, kemudian mendirikan dinasti baru bernama Umayyah. Dinasti yang bertahan hampir seabad ini, kelak dihancurkan Abu l-Abbas as-Saffah, keturunan Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman Nabi Muhammad Saw dari jalur ayah.

Lembaran tulisan ini tidak dimaksudkan mengurai rantai sejarah Islam hingga hari ini. Tapi mari becermin pada apa yang terjadi di dunia kita sekarang. Suriah, Libya, Lebanon, Mesir, Sudan, Ethiopia, Afghanistan, Irak, Filipina, dan Indonesia, semua dilatari atas klaim benar-salah. Khususnya, upaya pembangkangan pada pemerintah (uli l-amri).

Terlepas dari pendomplengan isu adicita antara demokrasi Amerika dan komunis Rusia-China, para pelaku kekerasan berwacana Islam, kerap muncul dari barisan sakit hati politik. Jika dirunut rantai darah dan keguruannya, mereka akan terpaut dengan Ibn Muljam (pembunuh Khalifah Ali), Ibn Qayyim al-Jauziyah, Abdullah bin Abdul Wahab, Ibn Taymiyyah.

Golongan yang dinamai Esposito sebagai peminum ramuan mematikan (lethal coctail) ini, mengabaikan sepenuhnya misi besar kenabian Muhammad Saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan membawa rahmat bagi semesta alam. Kerana itulah mereka meyakini penuh bahwa kebenaran berpihak pada kubunya. Bukan pada kubu lain yang notabene juga Muslim.

Kebuntuan memahami Islam secara baik dan kaffah, jadi faktor lain pembentuk mereka. Bahkan ada satu sempalan lagi dari kaum Khawarij yang yakin betul bahwa persoalan besar manusia hari ini akan terjawab dengan mendirikan khilafah Islam. Romantisme buta ini jelas berbahaya. Mereka benarbenar menutup mata pada fakta dinasti kekhilafahan--non Khulafa ar-Rasyidun--yang sebagian besarnya berangkat dari pertumpahan darah.

Dalam kancah perpolitikan dunia modern pun, tak kurang banyaknya pemimpin negara-bangsa yang juga Muslim. Tapi kenyataannya, jauh panggang dari api. Muslim atau bukan, tak menjamin kualitas kepemimpinan. Tanpa tasbih, sorban, jubah, Sukarno berhasil meramu perjuangan bangsa kita merebut kemerdekaannya. Mandela yang bukan Muslim, berjaya di Afrika. Gandhi yang Hindu, jadi kecintaan India. Chavez yang Katolik, dipuja di Venezuela.

Agama dan ajarannya, memang bisa dijadikan sandaran pengelolaan kehidupan. Tapi bukan berarti para pemeluknya harus kehilangan kewarasan berpikir, dan kejernihan hati. Kehancuran sebuah bangsa di masa lalu, cenderung terjadi ikhwal kasus keributan agama yang ditunggangi pegiat politik yang berambisi kuasa. Nyaris semua agama dunia era kita, punya riwayat kelam seperti ini.

Semua ayat suci yang sudah diturunkan tuhan ke muka bumi, tak cukup hanya dijadikan korpus belaka. Ia memang berjarak dengan penganutnya secara ruang. Namun tidak secara waktu. Dalam Islam misalnya, ada ayat yang berbunyi, "Wa l-ashri. Inna l-insana lafi khusrin: Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian." (QS. al-Asr [103]: 1-2)

Jadi, kerugian terbesar manusia bukan terletak pada di ruang mana ia hidup. Melainkan seberapa cakap ia memeriksa rambatan waktu yang ia lalui dalam hidupnya. Bukan waktu lalu atau yang akan datang. Melainkan waktu kini. Di sini. Sekarang. Manusia wajib memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadi apa pun kita, waktulah yang kelak menentukan seberapa berkualitas hidup kita.

Keniscayaan ini yang menyita habis kehidupan para penganjur kebaikan pada setiap zaman. Mereka sadar dan paham betul, waktu pasti kan melindasnya. Maka tak ada pilihan lain kecuali hidup bersama waktu yang berawal tapi tak berakhir. Jalan terbaik mewujudkan itu adalah, menjadi agen kebaikan bagi manusia dan makhluk tuhan lainnya. Hanya dengan begitulah, nama mereka harum sepanjang masa. Hidup mereka pun abadi dalam sejarah manusia. []

Penulis adalah pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain terus membidani kelahiran buku-buku, juga bertugas sebagai Pemimpin Redaksi Majalah ARKA.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Kyai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Keberagamaan umat Islam di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami yang cukup signifikan. Tahun 1990-an ke bawah, tidak banyak masyarakat muslimah Indonesia yang mengenakan jilbab dan hijab. Apalagi cadar. Tapi, saat ini muslimah Indonesia yang berjilbab, berhijab, dan bahkan bercadar semakin marak.

Selain itu, istilah syar’i dan hijrah juga semakin mengemuka ke tengah-tengah masyarakat belakangan ini, terutama di kalangan artis dan publik figur. Contoh kecil, kerudung dianggap syar’i manakala memiliki ukuran yang lebar hingga menutupi seluruh badannya. Sedangkan, kerudung kecil dianggapnya kurang –bahkan tidak- syar’i. Itu baru segi pakaian. Masih ada hal-hal lainnya yang dilabeli dengan istilah syar’i.

Begitupun dengan hijrah. Terma ini semakin ngehits dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan para publik figur yang berkecimpung di dunia pertelevisian pun cukup vokal dalam mengkampanyekan istilah hijrah ini. Diantara indikator yang disematkan untuk hijrah adalah –misalnya- berkerudung syar’i atau bercadar, berjenggot lebat, bercelana ngatung, dan berjidat hitam. 

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Simbol Belum Tentu Cerminkan Kualitas Beragama

Lalu, Bagaimana pola keberagamaan umat Islam saat ini? Apakah hijrah berarti sebagaimana yang digambarkan di atas? Bagaimana melihat fenomena syar’i yang berkembang seperti sekarang ini? Bahkan ada beberapa institusi perguruan tinggi yang dilaporkan melarang dosen ataupun mahasiswanya untuk mengenakan cadar atau niqab. Bagaimana melihat fenomena seperti itu.

Jurnalis Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, A. Muchlishon Rochmat, mewawancarai Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Umam, terkait dengan hal-hal tersebut di atas. Ia juga diamanati untuk menjadi Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Berikut wawancaranya:

Keberagamaan umat Islam di Indonesia saat ini seperti apa, Pak Umam?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Secara umum ada perubahan pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Perubahan itu belum tentu substantif, tetapi perubahan itu kelihatan dari sisi luarnya dan kemasannya. Sekarang, simbol-simbol Islam itu semakin jelas. Simbol-simbol tersebut belum tentu mencerminkan kualitas kesalehan masyarakatnya. Dulu jilbab jarang dipakai orang, tetapi sekarang banyak sekali yang memakai jilbab. 

Apa yang menyebabkan seperti itu? Maksudnya maraknya simbol-simbol keislaman tersebut?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Televisi, media cetak, dan maraknya media-media sosial telah membantu untuk memperlihatkan perubahan-perubahan tersebut. Dan itu mau tidak mau juga ikut mempengaruhi perilaku umat Islam Indonesia. Ada yang sekedar ikut tren karena jilbab menjadi tren. Meskipun ada seseorang yang berubah karena kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah bagian dari ajaran Islam.

Jadi, grafik keberagamaan kita semakin naik?

Kita belum memiliki data yang valid untuk menggambarkan sebarapa jauh dan meningkatnya perubahan itu. Tetapi secara umum kita bisa melihat dari jumlah pengajian, masjid dan mushola yang terus bertambah, semakin maraknya lembaga-lembaga amil zakat karena dipicu oleh kesadaran berzakat yang semakin meningkat. Itu menunjukkan ada tren keberagamaan itu meningkat lebih baik. 

Tapi di sisi lain, ada tren-tren baru perlu mendapatkan perhatian. Ada orang yang hanya berhenti kepada simbol-simbol agama semata. Misalnya kalau mau dianggap islami maka kenakanlah jilbab model ini atau berpakaian tertentu. Padalah agama tidak hanya itu. Yang lebih substantif adalah dari segi isi keberagamaan itu. Simbol itu penting juga, tetapi jangan berhenti pada simbol karena simbol itu mudah dihilangkan dan dilepaskan.

Memang ada perubahan dalam keberagamaan ini, tetapi masih belum terlalu yakin bahwa perubahan itu sudah mengubah juga substansi para pemeluknya itu. Yang saya lihat masih sebatas pada simbol luarnya. Kita lihat kejadian-kejadian sosial yang tidak sesuai dengan ajaran agama seperti korupsi. Di satu sisi, itu menerangkan bahwa tampilannya sudah menunjukkan seolah-olah dia pengamal agama yang baik tetapi di sisi lain ternyata tidak demikian.

Belakangan ini, marak istilah syar’i di kalangan umat Islam misalnya ada istilah hijab syar’i. Bagaimana Anda melihat itu?

Kalau niatnya baik itu patut diapresiasi tetapi saya khawatir ini hanya tren sesaat. Jangan lupa bawa dibalik tren syar’i itu juga ada kepentingan ekonomi yang besar. Misalnya industri garmen semakin menguat dengan adanya tren syar’i ini. 

Kalau niatnya adalah supaya orang sadar akan ajaran agama, saya kira itu bagus. Tetapi jangan sampai berhenti di situ dan jangan terjebak kepada jargon-jargon sesaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah menata perilaku sehingga sesuai dengan ajaran syariat Islam. Tidak berhenti di pakaian saja. 

Ada yang ‘memanfaatkan’ tren syar’i ini secara ekonomi?

Kritikan saya seperti ini, di balik jargon syar’i itu jelas ada kepentingan ekonomi. Apapun yang terkait dengan syar’i itu dikampanyekan dengan market. Di bisnis garmen, makanan, penerbangan itu kan ada pemain-pemain lama. Kemudian ada pemain baru yang ingin mendapatkan ‘kue’ ekonomi itu. Sehingga kalau misalnya mereka bersaing di sektor lama mereka tidak akan berhasil. Sehingga hal-hal yang sifatnya syar’i ini menjadi jargon marketing yang luar biasa. 

Orang terdorong untuk melakukan sesuatu karena itu adalah bagian dari implementasi agama. Pada tataran pelakunya mungkin mereka sadar ingin berubah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang memanfaatkan itu tadi. 

Bukankah itu bagus untuk mendorong ekonomi baru?

Sebetulnya ini positif untuk mengembangkan ekonomi. Salah satu yang mendorong ekonomi adalah bagaimana orang membelanjakan uangnya itu. Di satu sisi seperti itu. Tetapi jangan kemudian menganggap bahwa Indonesia lebih islami dengan adanya tren seperti itu. Karena indikator yang lain di luar tampilan fisik itu belum terpenuhi.

Lalu, apa saja indikator yang menunjukkan bahwa itu islami?

Misalnya kejujuran, tidak korupsi, adil terhadap semua orang, dan lainnya. Sampai saat ini, saya masih belum sepenuhnya yakin bahwa jargon syar’i itu adalah indikasi masyarakat Indonesia secara umum itu menjadi lebih islami.

Selain Syar’i, istilah hijrah juga ngehits saat ini. Hijrah diidentikkan misalnya dengan bercadar, bercelana cingkrang, berkening hitam, dan berjenggot lebat. Apakah hijrah memang seperti itu?

Hijrah tidak hanya sekedar itu. Itu hanya bagian luar dan tidak substantif. Kalau mau hijrah ya harus total. Tidak hanya tampilan luarnya saja, tetapi juga harus disertai dengan perubahan perilaku, sikap, dan cara berpikir ke arah yang lebih baik.

Ini kan korban dari kampanye dari televisi dan media sosial. Jangan menyimplifikasi agama misalnya kalau sudah mengubah cara berpakaian maka kemudian menjadi lebih islami. 

Mungkin betul bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melarang seseorang yang berpakaian terlalu panjang dan melebihi mata kaki. Tetapi konteksnya kan berbeda. Saat itu, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu ada kesombongan maka kemudian Nabi melarang itu.

Sekarang di balik, orang yang mengenakan pakaian panjang melebihi mata kaki itu apakah mereka ada kesombongan. Jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya; orang yang berpakaian cingkrang itu ada dirinya merasa lebih baik dari pada orang lain. Kalau begitu, berarti dia yang sombong. Karena mereka merasa lebih islami, mengikuti hadis Nabi, dan merasa lebih dekat dengat Tuhan. Berarti kan ada kesombongan itu.

Begitupun yang berkening hitam. Jangan sampai mereka yang berjidat hitam merasa lebih lama sujudnya dari orang lainnya. Menghitamkan kening itu mudah. Saya memiliki banyak kiai yang ahli sujud, tetapi keningnya tidak hitam. Justru wajahnya bersih-bersih. 

Berarti titik tekan dari hadis Nabi Muhammad tersebut pada ada tidaknya kesombongan dalam berpakaian?

Konteks larangan hadis tersebut adalah agar orang tidak sombong. Sekarang itu harus dikaji lagi. Saat ini yang sombong siapa? apakah orang yang bercelana melebihi mata kaki itu? Ataukah orang yang bercelana cingkrang?

 

Kalau kebiasaan atau ‘urf itu menunjukkan bahwa berpakaian melebihi mata kaki itu baik dan tidak ada kesombongan sama sekali, lalu kenapa harus dirubah dan dikampanyekan untuk bercelana cingkrang.

Makanya, agama itu jangan disimplifikasikan dengan penampakan pakaian saja. Mari kita ukur; apakah mereka berbuat baik dengan tetanga, apakah mereka peduli dengan orang miskin. 

Ada institusi pendidikan yang melarang mahasiswinya memakai cadar. Bagaimana itu?

Ajaran agama itu muncul berdasarkan tantangan lokasi dan waktu tertentu. Cadar itu muncul di negara padang pasir untuk melindungi dari pasir. Cadar itu kan bukan pakaian islami yang absolut. Pakaiaan itu adalah budaya. Yang menjadi kewajiban bagi muslim dan muslimah adalah menutup aurat. Dan batasan-batasan aurat sendiri itu kan juga menjadi perdebatan ulama hingga melahirkan pendapat yang berbeda. 

Kalau kita merujuk pendapat yang menyatakan bahwa aurat yang harus ditutupi adalah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan, maka tidak ada keharusan untuk mengenakan cadar.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyesuaikan pakaian dengan budaya setempat. Bukankah ada kaidah fikih yang menyebutkan bahwa al-‘adah muhakkamah (adat itu bisa dijadikan hukum). Selagi kebiasaan sebuah masyarakat tidak bertentangan dengan agama dan agama tidak mengatur, maka itu tidak ada masalah.

Terkait dengan larangan bercadar di kampus, pak?

Ketika institusi negara melarang orang bercadar itu mungkin ada alasan untuk mengenali dan mengetahui seseorang itu. Karena orang tidak bisa mengenali orang yang bercadar dengan pasti. Sementara di sebuah institusi itu perlu kepastian bahwa seseorang yang dimaksudkan adalah benar-benar si A dengan identitas yang disebutkan itu.

Bagaimana menguji seseorang kalau hanya lewat cadar. Kalau semuanya tertutup, tidak ada alat untuk memastikan bahwa dia memang nama yang tertulis itu. 

 

Dalam konteks ini, wajar kalau sebuah institusi meminta kepada mereka yang bercadar itu untuk melepasnya. At least dalam waktu-waktu yang dibutuhkan untuk mengkorfirmasi identitas seseorang tadi. Hal itu berbeda kalau mereka di luar institusi, silahkan saja mereka mengenakan cadar.  

Sebuah pernyataan dari Prof Azyumardy Azra bahwa Islam Indonesia yang dikenal ramah, moderat, adaptif terhadap budaya setempat itu is too big to fail. Apakah sepakat dengan statement itu atau bagaimana?

Saat ini, Islam Nusantara is too big to fail iya benar. Karena mayoritas masyarakat muslim Indonesia masih mengamalkan Islam yang ramah, moderat, dan adaptif terhadap tradisi setempat.

Tetapi kalau tren konservatifme Islam tidak diantisipasi oleh semua pihak dan dibiarkan menguat -misalnya pola keberagamaan ala Saudi dibiarkan bebas, dikampanyekan, diajarkan sehingga membid’ah-bid’ahkan yang lainnya- maka model Islam Indonesia seperti saat ini akan berubah lima puluh seratus tahun ke depan.

Maka saya baik secara pribadi maupu secara institusi merasa perlu untuk mengingatkan masyarakat Indonesia secara umum, NU, Muhammadiyah, untuk bekerjasama dan melakukan upaya-upaya yang lebih konstruktif dalam mengimbangi dakwah Islam model kaku seperti itu. Model yang mungkin cocok di Arab, tetapi menurut saya itu tidak pas diterapkan di Indonesia.

Kalau dakwah-dakwah model salafi wahabi itu dibiarkan, maka dalam jangka panjang itu akan mengubah keberagamaan Indonesia. Sekarang kan sudah kita temukan fakta-fakta di lapangan bahwa orang seperti ini semakin banyak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Makam, Halaqoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Koordinator Komisi Bahtsul Masail Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) KH Mujib Qulyubi mendukung terhadap inisiasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) tentang Rancangan Undang-Undang? Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren.

Demikian disampaikan Kiai Mujib pada acara Focus Group Discussion (FGD) RUU (LPKP) di lantai lima, gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (24/10).

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Bahtsul Masail Dukung Inisiasi RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

Sebagai upaya dukungan terhadapa rencana RUU LPKP itu, Kiai Mujib pun menyatakan akan membawanya ke Musyawaroh Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul ulama (Munas-Konbes NU) di Lombok, Nusa Tenggara Barat bulan depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, ia berharap agar pertemuan tentang pembahsana RUU LPKP inibukan pertemuan terakhir supaya segera menjadi RUU yang matang dan dapat diputuskan.

Menurutnya, di antara alasan pentingnya RUU LPKP masuk ke dalam pembahasan, karena Hari Santri yang sudah ditetapkan presiden dan dijalankan selama tiga tahun terakhir ini hanya menjadi uforia semata. Sementara penghargaan yang akan datang untuk pesantren dan santri belum jelas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, pesantren, katanya, tidak bisa dipisahkan dari NU. NU adalah pesantren besar, pesantren adalah NU kecil.

“Jadi, NU dan pesantren adalah satu kesatuan. Tidak ada NU kalau tidak ada pesantren dan tidak langgeng pesantren kalau tidak ada NU,” jelasnya.

Hadir pada FGD ini Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H Robikin Emhas, Ketua PBNU H Umar Syah, anggota DPR FPKB Taufiq Abdullah, Pimpinan Komisi VIII DPR FPKB Malik Haramain, Ketua LP Ma’arif H Z Arifin Junaidi, perwakilan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian, Amalan, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Oleh Abdullah Aniq Nawawi

Akhir-akhir ini Indonesia kembali memanas karena politik di Jakarta. Di saat bersamaan kaum santri sibuk menyiapkan peringatan Hari Santri. Ini lebih tinggi dari sekadar politik praktis semacam Pilkada sebab peringatan tersebut adalah mengingat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945, sebuah resolusi untuk mengusir penjajah. Maka? memperingatinya, setali tiga uang dengan bersyukur atas anugerah terbesar untuk bangsa Indonesia. Kita menyebutnya kemerdekaan.

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Di sini kita tidak akan membahas kemerdekaan dan peranan santri di dalamnya. Adalah hal yang dharuriy (wajib) bagi seorang santri untuk menjunjung tinggi nasionalisme dan cinta tanah air. Tengok saja jargon hubbul wathan minal iman yang terkenal itu. Itu bukanlah hadits atau ayat suci. Tetapi santri meyakininya sepenuh hati. Lebih dari itu santri merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain itu bukanlah sesuatu yang nadzariy (sebatas teori) belaka. Itu adalah sesuatu yang tajribiy (telah dilaksanakan), dan sekali lagi Resolusi Jihad adalah contoh terbaiknya.

Apa yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad tentu lebih penting untuk diketengahkan di sini. Karena fikrah (pemikiran) apa sebenarnya yang membuat kita meyakini bahwa mencintai negara adalah bagian dari iman, dan berjihad membelayanya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi semuanya)? Bukankah tak ada hadits atau ayat suci yang secara eksplisit menerangkan itu? Tentu saja ada banyak jawaban. Mulai dari teori sederhana ushul fiqh yang menyebutkan al-wasilah laha hukmul ghayah. Yakni sebuah perantara sama hukumnya dengan hal yang dituju. Karena jika hifdz wa iqamat ad-din (menjaga dan mendirikan agama) adalah wajib, maka menjaga negara dengan tujuan itu tentu saja wajib.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tentu masih ada jawaban lainnya dari pertanyaan di atas. Tetapi hal yang paling menarik dari kasus ini adalah sikap NU (baca: santri) yang meyakini bahwa agama dan negara harus berjalan bergandengan. Sikap ini adalah semacam usaha mencari jalan tengah (tawassuthiyyah) di antara dua kutub yang terlalu berjauhan; yang satu adalah kutub kiri yang beranggapan bahwa nasionalisme adalah segalanya. Karena itu tak perlu mencampurkan agama di dalamanya. Dan kutub yang lainnya adalah kutub kanan yang menganggap bahwa agama adalah segalanya. Karena itu negara harus tunduk pada agama.

Di antara dua kutub ini NU mencoba hadir untuk memberikan jalan tengah. Bahwa agama dan negara tidak ada yang saling mengungguli dan keduanya harus berjalan beriringan. Sikap ini lahir dari prinsip penting yang dipegang NU. Prinsip itu disebut tawassuthiyyah (sikap mencari jalan tengah). Inilah yang membuat jargon hubbul wathan minal iman bukan hanya sekedar teori bagi Santri. Dan inilah yang –salah satunya- melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad yang terkenal itu. Inilah yang membuat kita bisa merasakan kemerdekaan sampai saat ini. Dan sesungguhnya perayaan 22 Oktober adalah perayaan atas prinsip tawassuth yang kita yakini selama ini.

Jika kita mundur ke belakang, sejak? pertama kali sejarah bermula, selalu ada dua kelompok ekstrem yang menghiasi roda perjalanannya. Dua kelompok ekstrem ini –ekstrem kanan dan ekstrem kiri- telah mewarnai berbagai macam ideologi yang ada, mulai dari politik, sampai keagamaan. Kitab suci setidaknya menulis bahwa ada dua kelompok yang terlalu kanan seperti malaikat, juga yang terlalu kiri seperti iblis yang pada akhirnya, kedua kelompok ini tidak dipilih Tuhan untuk menjadi khalifah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tuhan memilih manusia yang memang memiliki dua karakter di atas. Tuhan pada akhirnya lebih menyukai penengah dan penyambung dua kutub daripada mereka yang terlalu berlebihan. Ketika Nabi bersabda halaka al-mutanaththi’un (celakalah mereka yang terlalu berlebihan), sesungguhnya nabi sedang menekankan kepada kita bahwa sikap tawassuthiyyah sangatlah penting. Atau ketika beliau berkata kepada sayyidina Ali: “halaka fika itsnani, muhibbun ghalin wa mubghidhun ‘alin (celakalah mereka yang? mencintai atau membencimu secara berlebihan), ini sesungguhnya adalah penegasan bahwa mencari jalan tengah harus terus diupayakan.

Itu artinya memperingati 22 Oktober harus kita maknai sebagai memperingati anjuran ini. Perayaan Hari Santri lebih dari sekadar seremonial belaka, melainkan momentum di mana kita harus terus meyakinkan diri kita bahwa kita adalah pelaku utama dari sikap yang dianjurkan Islam, yaitu sikap yang membuat 22 Oktober layak dirayakan. Sekali lagi, itu adalah sikap tawassuth.

Tetapi sebagaimana tenaga ada habisnya, semangat itu pun terkadang ada redupnya. Dan sebagaimana makhluk tak pernah sempurna, selalu ada yang harus dibenahi bersama. Karena itu sangat perlu untuk terus mengingat, memperbarui, dan membenahi semangat ber-tawassuth kita. Itulah mengapa peringatan Hari Santri memiliki urgensi tersendiri untuk terus menjaga semangat ini tetap ada dan terwariskan dengan baik kepada generasi berikutnya. Karena tugas utama dari setiap generasi adalah mempersiapkan generasi setelahnya.



Abdullah Aniq Nawawi, PCINU Maroko



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pondok Pesantren, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

Probolinggo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri melakukan jalan santai bersama seribu perempuan Kota Probolinggo, Senin (27/7). Kegiatan dalam rangka pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Probolinggo itu dimulai dari Pesantren  Raudlatul Muta’allimin di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih.

Jalan santai dilepas Menteri M. Hanif Dhakiri didampingi istrinya Hj. Marifah Hanif Dhakiri sekitar pukul 06.00 WIB. Rencana awal, menempuh rute sekitar 2 kilometer dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin menuju GOR Mastrip dan finish kembali di pesantren yang sama, berubah haluan. Mereka memilih rute dengan start dari Ponpes Raudlatul Muta’allimin ke utara menuju Pasar Sapi Jrebeng Kidul dan belok kanan menuju Jalan Ir. Sutami dan belok kanan di Pasar Wonoasih serta finish di tempat asal.

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Menaker Sosialisasikan Penempatan Tenaga Kerja

“Bapak Menteri menginginkan rute jalan santai bisa bertatap langsung dengan masyarakat sekaligus bisa blusukan,” ujar Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara itu, Menteri Hanif Dhakiri bersama istrinya yang didampingi Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana dan Sekretaris PP Fatayat NU Anggi Maharani terlihat antusias mengikuti jalan santai. Usai jalan santai, Menteri Hanif melakukan dialog dan sosialiasi penempatan tenaga kerja dalam negeri atau luar negeri kepada peserta jalan santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hanif menegaskan, pihaknya menyetop dan melarang pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Sebab, perlindungan dan gaji jadi TKI di Timur Tengah, sangat minim.

“Berbeda di Asia Pasifik, perlindungan dan gajinya cukup baik,” ujarnya didampingi Dirjen Binapentasker Hery Sudarmanto, Direktur PTKDN Wisnu Pramono, Direktur PTKLN Guntur Wicaksono dan Direktur PTKS Erna Novianti.

Meski begitu kata Hanif, tak semua TKI yang di Timur Tengah dilarang. Larangan ini khusus pembantu rumah tangga. Sedangkan, bila bekerja di mal atau rumah sakit, masih boleh. Katanya, ke depan pihaknya akan terus memperbaiki pelayanan TKI. “TKI harus dipersiapkan keterampilan dan skill-nya. Sehingga, performa kerjanya lebih baik,” ujarnya.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam negeri, Hanif mengaku pihaknya mempunyai program Three in One. Yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Masyarakat yang belum bekerja bisa dilatih, setelah itu diberi sertifikat dan ditempatkan. Salah satu upayanya adalah melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Di samping itu, Menteri juga menghapus persyaratan minimal harus berijasah SMA bila hendak masuk BLK. Menurutnya, siapa pun yang ingin belajar bisa langsung ke BLK. Tak peduli yang lulus SD atau SMA. Semua harus diberi kesempatan. Langkah ini agar masyarakat yang tak punya ijazah, punya kesempatan untuk belajar. Sehingga, punya kompetensi.

“Sementara kami juga mendorong para pelaku IKM (Industri Kecil dan Menengah) untuk menempatkan syarat lowongan bukan pada ijazah. Tapi, berdasar kompetensi yang dimiliki. Misalnya, pabrik garmen. Yang dicari, ya orang yang bisa menjahit, tidak berdasar lulusan SMA,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Makam, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) mengadakan Workshop Training of Trainer (ToT) Aswaja. Acara ini akan dilaksanakan selama dua hari, Sabtu-Ahad (8-9/2), di Auditorium Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang milik KH Hasyim Muzadi.

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, NU Kota Malang Cetak Kader Dakwah

Hadir dalam forum ini tidak kurang dari 40 orang peserta yang terdiri dari para kiai, gus dan asatidz dari daerah Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Karena kegiatan ini difokuskan pada kajian Aswaja berbasis pada Al-Qur’an dan Hadits dan Kitab Kuning, maka semua yang hadir merupakan Kiai, Gus, Ustadz atau para santri Senior.

“Tiada lain harapan kami atas terselenggaranya kegiatan semacam ini adalah semoga menjadi sebuah usaha untuk mempertahankan dan membela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia dan khususnya kota malang,” kata Gus Ishroqun Naja, Ketua PCNU Kota Malang dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam acara yang bertemakan “Revitalisasi nilai-nilai Aswaja ditengah Tantangan Islam Transnasional” ini hadir sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama yang berkompeten dalam kajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Seperti KH Muchit Muzadi (Jember), KH Marzuqi Mustamar (Malang), Muhammad Idrus Ramli (Jember) dan juga Wakil Walikota Malang Sutiadji, yang sebelumnya merupakan salah seorang Pengurus NU Kota Malang.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kader-kader dakwah NU yang baru. Dimana hal tersebut dimaksudkan untuk membentengi masyarakat dari gerakan-gerakan transnasional. Oleh karenanya fokus kajiannya adalah mempelajari dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits tentang prinsip-prinsip yang selama ini dipegang oleh Nahdlatul Ulama yang sering dipermasalahkan oleh gerakan lain. Seperti amaliah, i’tiqad dan konsep berbangsa dan bernegara yang selama ini dipegang oleh NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami berharap agar 40 orang kiai, gus atau ustadz yang hadir dalam forum ini nantinya mau menjadi ujung tombak dakwah Nahdlatul Ulama setelah kembali ke tempatnya masing-masing. Termasuk kepada para mahasiswa PTUN untuk di kota malang,” kata Gus Ish.

“Karena kita tahu, bahwa sebagian besar dari mereka sebenarnya anak-anak kita. Abnaa’una. Tapi pemikirannya masih labil dan pengetahuannya masih kurang. Adalah tugas kita untuk melindungi mereka,” tambahnya.

Memang, selepas kegiatan ini para alumni yang rata-rata orang pesantren diharapkan mampu menjadi melaksanakan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Setelah sesi pembukaan selesai, kemudian dilanjutkan diskusi panel bersama KH Marzuki Mustamar dan KH Muhammad Idrus Ramli selama 45 menit. Diskusi membahas masalah aqidah, amaliah dan pandangan Islam tentang tradisi masyarakat. Diadakan selama 2 (dua) hari, KH Marzuqi Mustamar dan Idrus Ramli menjadi nara sumber utama pada hari pertama.

Pada hari kedua, diskusi diisi oleh KH Abdullah Syamsul Arifin dari Jember bersama Kiai Badruddin, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembahasan Tashawuf. Kegiatan berakhir dengan menghasilkan tindak lanjut (follow UP) pembentukan? Aswaja Centre Kota Malang. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Kalangan pesantren tidak henti-hentinya mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Pada era penjajahan Belanda selama ratusan tahun, para kiai beserta santrinya mampu mempertahankan martabat pribumi melalui perlawanan simbolik maupun substantif.

Bahkan segala cara dilakukan oleh Belanda untuk dapat menundukkan para kiai pesantren. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu.

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Pondok pesantren dengan komitmen cinta tanah airnya yang membuncah membuat Belanda tak berkutik. Begitu pun ketika bangsa Indonesia mulai dijajah oleh Jepang (Nippon) pada tahun 1942. Rakyat pribumi tak sedikit yang harus mengikuti peraturan Jepang karena konsekuensi pedih akan didapat jika melawan.

Namun tidak demikian dengan kalangan pesantren. Tidak ada sedikit pun rasa gentar dari para kiai dan santri ketika harus menghadapi fitnah dan propaganda Jepang untuk menundukkan pesantren. Termasuk yang menjadi target utama Jepang, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Mereka menuduh Kiai Hasyim sebagai dalang pemberontakan rakyat kepada Jepang di desa Cukir, sekitar Jombang, Jawa Timur. Padahal Kiai Hasyim tidak tahu menahu.

Bukan hanya Kiai Hasyim, tragedi pada tahun 1943 tersebut sejumlah kiai yang mengkomandoi Jam’iyah Nahdlatul Ulama juga ditangkap yaitu KH Mahfudz Shiddiq. Hal ini memantik perlawanan ribuan santri kepada Jepang untuk membebaskan Sang Kiai. Sedangkan KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Wahid Hasyim berupaya keras melakukan diplomasi dengan tujuan yang sama.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meskipun Kiai Hasyim pada akhirnya bebas, namun tahun pertama dalam masa pendudukan tentara Nippon, Maret 1942-Maret 1943 ditandai oleh tumbuhnya kebencian rakyat kepada tingkah serdadu-serdadu Nippon dan rasa muak terhadap propaganda Nippon. KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengungkap sejumlah penyebab kebencian dan rasa muak rakyat Indonesia kepada Jepang sebagai berikut:

Pertama, terbukanya kebohongan propaganda Tokyo bahwa Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, mendirikan ketenteramana yang teguh atas dasar mempertahankan Asia Raya, tak lain dan tak bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan sekaligus sebagai daerah garis belakang (home front) sumber tenaga manusia dan bahan mentah serta gudang logistik bagi tentara Nippon di medan perang Pasifik dan Asia Tenggara.

Ketiga, kebencian rakyat adalah spontanitas akibat keserakahan Nippon merampas bahan makanan dan harta benda rakyat. Suatu slogan berbunyi: “padi untuk saya, untuk kami, dan untuk kita sekalian” membuka kedok keserakahan mereka.?

Nippon harus mendapat makan tiga kali. Pertama kali sebagai saya (Nippon), kedua sebagai kami (Nippon ikut mendapat bagian kedua), ketiga sebagai kita (Nippon ikut mendapat bagian yang ketiga). Sedangkan untuk engkau dan kamu (rakyat Indonesia) tidak dipikirkan.

Keempat, kerja paksa berupa romusha. Kendati dirayu dengan sebutan “prajurit ekonomi” pada hakikatnya adalah kuli paksa. Hal ini tak ubahnya pekerjaan rodi di zaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels pada 1762-1818, yang memaksa rakyat di Jawa membuat jalan raya sepanjang Anyer-Banyuwangi dengan pengawasan tangan besi, bahkan romusha lebih kejam lagi dibanding rodi.

Daendels hanya mengerahkan rakyat untuk proyek di Tanah Jawa. Tapi romusha adalah kuli-kuli paksa yang diperintahkan dengan tangan besi untuk mengerjakan proyek-proyek peperangan bukan hanya di Jawa dan di Indonesia, tetapi juga di Burma (Myanmar), Indochina, Malaya, Kepulauan Pasifik, dan tempat-tempat lain yang dirahasiakan.?

Tragedi ini memisahkan mereka dengan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tidak diketahui nasibnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia yang menjadi romusha juga banyak yang menetap di Thailand dan Burma serta menjadi warga negara tetap di sana.

Kelima, tenaga kerja perempuan yang dijanjikan Nippon untuk tugas palang merah, kenyataanya banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu serdau-serdadu Nippon di medan perang.

Terakhir keenam yaitu perkosaan lebih dahsyat lagi adalah dari segi akidah, keyakinan Islam. Karena saat itu rakyat Indonesia tanpa kecuali diwajibkan setiap pagi menghadap ke arah istana Kaisar Jepang di Tokyo untuk melakukan upacara saikeirei, menyembah kaisar Jepang yang disebut Tenno Heika. Menurut kepercayaan Jepang, Tenno Heika adalah keturunan dari Dewa Matahari, Amaterasu O. Mikami yang mahakuasa.

Saikeirei dilakukan dengan cara membungkukan badan 90 derajat, persis seperti rukuk di dalam sholat. Sedangkan membungkuk dengan tujuan menyembah tersebut di dalam Islam hukumnya kufur dan haram sehingga wajib ditentang. Hal ini juga terjadi ketika Kiai Hasyim Asy’ari meringkuk di penjara Jepang selama lima bulan. Setiap pagi seluruh tahanan harus melakukan saikeirei, namun Kiai Hasyim dengan tegas menolak. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Nahdltul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggelar rapat evaluasi program dengan semua pengurus di masing-masing divisi, Senin (21/3). Rapat tersebut untuk menilai efektivitas pengurus dalam menjalankan mandat organisasi selama satu periode, juga sebagai upaya meningkatkan sejumlah program yang masih belum terlaksana.

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi

Kegiatan yang berlangsung di aula PCNU Jombang itu berlangsung khidmat. Setiap pengurus yang hadir menyampaikan beberapa capaian kegiatan yang sudah dijalankan, juga kendala atau hambatan saat hendak melaksanakan program. Sehingga sebagian kecil program tersebut masih bersifat rencana bahkan belum bisa terealisasi.

Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar mengatakan bahwa dalam tempo dekat ini, pihaknya akan melangsungkan Muskercab (musyawarah kerja cabang) PCNU Jombang yang terakhir, mengingat masa kepengurusan PCNU ditampuk kepemimpinannya akan berahir pada pertengahan 2017 mendatang.

"Makanya untuk kesempatan ini kita akan melihat perkembangan program-program yang sudah dilakukan atau yang masih belum dilaksanakan, sebelum melaksanakan muskercab nanti," katanya saat memberikan arahannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Kiai Isrofil, rapat evaluasi program tersebut lebih efisien dilakukan setiap bulan sekali. Hal itu akan lebih mempermudah melakukan koordinasi antarpengurus di masing-masing lembaga. "Harusnya setiap bulan sekali untuk mengetahui perkembangan program," ujarnya.

Hadir dalam rapat tersebut kurang lebih 15 pengurus dari perwakilan berbagai lembaga. Di antaranya LKNU (Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama), LDNU (Lembaga Dawah Nahdlatul Ulama), LWPNU, Aswaja Center, Lakspesdam NU, LTMNU (Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama), Lesbumi dan LFNU (Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama). (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Doa, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Bupati Probolinggo Open House Bersama Ribuan Nahdliyin

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, Selasa (27/6) malam menggelar open house bersama ribuan nahdliyin di Rumah Dinas Bupati Probolinggo.

Bupati Probolinggo Open House Bersama Ribuan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo Open House Bersama Ribuan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo Open House Bersama Ribuan Nahdliyin

Open house yang digelar ba’da Maghrib ini dihadiri oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah, Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili dan Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i.

Kegiatan ini diikuti ribuan Nahdliyin mulai dari tingkat cabang hingga ranting baik lembaga maupun badan otonom (banom) NU di Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan.

?

Kesempatan open house lebaran yang hanya setahun sekali ini dimanfaatkan masyarakat umum dari kalangan nahdliyin untuk bertatap muka langsung dan bersalaman dengan pemimpinnya. Nampak wajah-wajah ceria dan bahagia dari warga masyarakat yang hadir di rumah dinas malam itu. Demikian pula, Bupati Probolinggo yang selalu tersenyum sembari menyapa ramah masyarakat yang bersalaman dengannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak hanya sekadar bersalaman dan bertegur sapa, kesempatan bertemu langsung dengan Bupati Probolinggo dan keluarga ini juga dimanfaatkan oleh sebagian nahdliyin yang hadir untuk berselfie, bahkan foto bersama keluarga Bupati Probolinggo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk warga masyarakat yang menghadiri open house, disediakan beraneka ragam kuliner khas lebaran yang menggugah selera. Ada opor ayam, gado-gado, rujak, rawon, lontong capgomek, soto koya dan mie combor.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo saya menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan bathin. Mohon dimaafkan apabila pelayanan yang kami berikan selama ini masih belum maksimal. Tetapi yang jelas kami akan terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” kata Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo itu.

Sementara Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis mengaku sangat bangga memiliki seorang pemimpin yang mau dekat dengan masyarakat, terutama kalangan nahdliyin. Hal ini menunjukkan apa yang diprogramkan sudah sesuai dengan keinginan warga NU.

“Selama ini, pemuda-pemuda Ansor telah mampu mengembangkan potensinya masing-masing berkat kepedulian dari Pemkab Probolinggo. Semoga dengan momentum ini, warga NU bisa semakin dekat dengan pemimpinnya,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Pesantren Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengakui, pendidikan yang berbasis agama Islam akan memberikan pondasi yang kuat bagi kelangsungan hidup anak-anak menuju kehidupan yang lebih baik dan sukses.

“Tanpa pondasi agama, kehidupan manusia tidak terarah,” ujar Idza ketika memberikan sambutan pada halal bihalal keluarga besar Kementerian Agama, di Pendopo Brebes, sabtu (9/8) lalu.

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Untuk itu, Idza bertekad akan memperhatikan sepenuh hati keberadaan lembaga pendidikan agama maupun pengelolanya, seperti guru dan sarana prasarana pendidikan sesuai aturan yang berlaku. “Pemkab tidak menutup mata dengan sumbangsih guru agama maupun ulama dalam turut mencerdaskan anak-anak bangsa di Kabupaten Brebes,” terang Bupati.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Panitia Abdul Rosid menjelaskan, halal bihalal diikuti 283 orang yang terdiri dari kepala dan guru Raudlatul Athfal 81 orang, kepala dan Guru MI 116 orang dan guru Pendidikan Agama Islam sebanyak 86 orang. “Mereka menjadi sumber ilmu dalam pembelajaran agama di sekolah dan menjadi ulama di masyarakat,” terang Rosid.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Sukaryono dari Tegal menyampaikan tausiyah dengan gaya yang kocak. Ustadz yang pandai memainkan mulutnya dengan bunyi nada berbagai alat musik itu menjadikan hadirin segar dan kerap terbahak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia menjelaskan pentingnya menjaga silaturahmi diantara sesama karena bisa dilapangkan rejeki dan dipanjangkan umurnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes H Moh Aqso menjelaskan tentang keterlambatan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah. Keadaan tersebut tidak hanya menjadi masalah bagi Kabupaten Brebes saja, tetapi di seluruh Indonesia. Justru Kabupaten Brebes beruntung karena bisa merealisasikan dana tersebut pada triwulan 1.

Menurutnya, tertundanya bantuan itu karena erat kaitannya dengan kebijakan di Kementerian Keuangan yang menerapkan regulasi baru soal BOS. "Ini karena ada kebijakan Kemenkeu terkait BOS yang dulunya menggunakan akun 57 atau akun bantuan sosial. Sementara sekarang akun BOS itu adalah akun 52 atau untuk belanja barang," kata Aqso.

Dua akun itu, lanjutnya, memiliki perbedaan mendasar yaitu terkait mekanisme penyaluran dana. Akun 57 merupakan akun bansos yang tidak membolehkan penyaluran dana akun secara rutin. "Esensi bansos juga untuk bantuan sewaktu-waktu bukan untuk hal yang rutin," kata dia.

BOS, kata Aqso, disalurkan secara rutin ke sekolah, termasuk madrasah yang ada di bawah naungan Kemenag.

Dia mengatakan BOS lewat akun 52 membuat penyalurannya membutuhkan proses yang relatif lama. "Prosesnya penyalurannya tidak sederhana, tidak hanya terkait pembukuan, pencatatan tapi juga sumber daya manusianya, karena yang menindaklanjuti BOS itu harus PNS. Tidak semua madrasah punya PNS cukup," kata dia.

Menteri Agama, kata Aqso, tengah mengusahakan dan optimis dana BOS tetap dapat dicairkan secepatnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengajian kitab kuning dengan fasilitas radio streaming yang disiarkan setiap hari oleh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal mendapat respon yang cukup positif dari para pendengar. Minat warga mendengarkan pengajian melalui radio berbasis internet ini semakin meningkat.

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Minat Warga Dengarkan Pengajian Radio Streaming Meningkat

"Pendengar radio ini yang istiqomah perhari sudah mencapai rata-rata sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Jumlah ini memang masih lebih rendah jika dibanding bulan Ramadhan. Namun semenjak awal Syawal kemarin, jumlah pendengar terus meningkat,” kata Direktur Radio Streaming Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Mustiko Dwipoyono di Jakarta, Senin (12/11) sore.

“Para pendengar adalah warga pesantren dan masyarakat umum yang ingin mengikuti kajian kitab kuning. Melalui radio streaming mereka tidak harus langsung datang ke pesantren," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, untuk program pasca Ramadhan saat ini radio streaming masih menggunakan rekaman (typing) yang antara lain diisi oleh KH Jamaluddin Muhammad dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, KH Musthofa Bisri dari Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Rembang, dan rekaman pengajian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pesantren Ciganjur.

Ke depannya akan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal akan menyiarkan pengajian-pengajian kitab kuning dan pengajian umum secara live dari beberapa pesantren di berbagai daerah. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Karena semakin mendapat respon yang cukup positif dari pendengar, maka rencananya pada awal tahun 2013 radio streaming ini akan dikembangkan menjadi siaran secara langsung dengan narasumber antara lain, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Sahal Mahfudz dengan tema kekinian yang melibatkan santrinya di masing-masing pesantren," katanya.

Pengajian online sementara ini dilaksanakan dalam dua sesi setiap harinya. Sesi pertama dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB dan sesi kedua pukul 19.30 sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Menariknya, radio streaming ini dipancarluaskan oleh radio-radio lokal di Jawa Timur di antaranya Radio Madu FM di Tulungagung dan Jember, Aswaja FM di Ponorogo serta Radio Nur FM di Rembang Jawa Tengah dan beberapa radio komunitas NU.

"Bagi yang belum mengetahui dan ingin mendengarkan radio streaming ini bisa mengakses langsung di radio.nu.or.id atau klik di pojok kanan atas situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal www.nu.or.id," pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nurdin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Makam, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Kewirausahaan dan Kemandirian Bagian dari Kehidupan Santri

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengembangan dakwah untuk saat ini selain mempunyai ilmu yang cukup, juga harus ditopang oleh keadaan finansial yang memadai. Kewirausahaan dan kemandirian inilah yang justru diajarkan sejak dini dalam pendidikan di pesantren.

“Pesantren ilmu agama sudah pasti gudangnya, selain mendalami ilmu santri harus mampu melatih sejak dini untuk berwirausaha dan mandiri,” kata Musytasar PCNU Demak KH Dachirin Said pada pelatihan kewirausahaan pemuda di pesantren Al-Islah, Sempal, Wadak, Bintoro Demak, Sabtu-Senin (22-24/11).

Kewirausahaan dan Kemandirian Bagian dari Kehidupan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewirausahaan dan Kemandirian Bagian dari Kehidupan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kewirausahaan dan Kemandirian Bagian dari Kehidupan Santri

Dachirin yang kini diamanahkan sebagai Bupati Demak ini berharap, pelatihan tidak hanya menjadi formalitas kegiatan. Ia lebih jauh meminta peserta pelatihan menindaklanjuti pelatihan dengan praktik sesuai ilmu yang didapat saat pelatihan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Setelah ini ada reaksi tindak lanjut yang konkret, keseriusan, kesungguhan dalam mengembangkan usaha dengan kemandirian” harap Dachirin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Dirjen Kementrian Kelautan dan Perikanan RI Ir Tri Haryanto saat membuka acara, menawarkan beberapa program yang bisa diakses pesantren seperti budi daya ikan air tawar seperti lele.

“Kami punya program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kelompok. Kami yakin komunitas pesantren sangat luar biasa, karena semua bentuk masyarakat ada dalam pesantren” ungkap Tri.

Pelatihan kewirausahaan ini diselenggarakan Kabag Kesra Setda Demak yang difasilitasi Kementrian Kelautan dan Perikanan. Pelatihan ini diikuti santri pesantren percontohan di kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Ketika Suami-Istri Bergurau

Suami jangan sekali-kali main tangan kepada istri. Begitupun sebaliknya. Main tangan artinya mendaratkan pukulan atau tamparan di bagian manapun juga. Terlebih lagi kalau sudah main kayu atau senjata tajam dengan aneka rupanya. Ini dapat membahayakan keduanya sekaligus orang banyak.

Alasan main tangan tentu bisa beraneka rupa. Makna harfiahnya, alasan itu bisa dikumpulkan sebanyak-banyaknya kalau mau memikirkan semalam suntuk. Kalau tidak mau serius, ambil saja alasan apapun yang melintas di kepala. Ini kerjaan paling ringan.

Ketika Suami-Istri Bergurau (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Suami-Istri Bergurau (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Suami-Istri Bergurau

Perilaku baku hantam atau main tempeleng ini bisa dijadikan contoh buruk oleh anak-anak mereka. Atau sebaliknya, anak-anak memiliki nilai kemanusiaannya sendiri. Rasa iba timbul. Akibatnya, harga diri orang tua jatuh merosot tanpa bisa dihargai barang sepeser pun di mata anak mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sedangkan suami itu sejatinya harus memperlakukan istri dengan baik. Demikian pula istri. Keduanya harus saling bersikap lembut. Kalau bisa bicara dengan santun dan menyenangkan, kenapa harus memilih bentak-bentak atau teriak seolah pasangannya mengalami gangguan pendengaran?

Perihal sikap dan perilaku keseharian suami-istri ini memiliki sangkut-paut dengan urusan keimanan. Tidak main-main; keimanan. Jangan sampai Tuhan menilai rendah mutu keimanan hanya karena seseorang membanting pintu keras-keras akibat jengkel terhadap pasangannya. Rendahnya mutu keimanan itu sama murahnya dengan ongkos bis kota di Jakarta dengan jaminan keselamatan ala kadarnya. Ala kadarnya bisa diartikan, tanpa jaminan keselamatan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rasulullah SAW mengimbau suami-istri untuk pandai menghibur dan membahagiakan pasangan. Gurauan dan humor-humor ringan sangat dibutuhkan. Jangan sampai komunikasi berjalan adem tanpa letupan tawa bahagia. Rumah seperti ini bisa dikira tetangga sebagai rumah kosong atau sekurang-kurangnya seperti museum. Dingin.

Dalam kitab al-Azkar, Imam Nawawi menyebutkan hadis di bawah ini.

وروينا فى كتاب الترمذى وسنن النسائ عن عائشة رضي الله عنها قالت، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا وألطفهم لأهله

Dalam kitab hadis Turmudzi dan Nasa’i, Siti A‘isyah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Orang beriman yang imannya paling sempurna ialah mereka yang paling baik berakhlak dan paling lembut (murah senyum) kepada keluarganya.”

(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Makam, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Mentradisikan Teknologi

Judul Buku: Teknologi Sebagai Tradisi; Refleksi Pengalaman 4 Tahun Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengantar: KH Hasyim Muzadi

Penulis: Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jakarta

Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentradisikan Teknologi

Cetakan: I, Agustus 2007

Tebal: 56 Halaman

Peresensi: Ach Syaiful A’la*


Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nahdlatul Ulama—biasa disingkat NU—artinya adalah ”Kebangkitan Ulama”. Sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) yang didirikan para ulama, 31 Januari 1926 M/16 Rajab H di Surabaya.

Latar belakang berdirinya, berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran kaum modernitas Islam atas situasi politik dunia Islam. Berawal dari pemikiran Syeikh Muhammad Abduh di Mesir, dan gerakan Wahabi yang dipelopori Abdul Wahab di Arab Saudi, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gerakan ini ingin memacu perkembangan Islam menghadapi perubahan zaman, dengan tetap berdasarkan Al-Quran dan Hadits (konservatif) yang tidak menghendaki ajaran bermazhab. Sementara, kalangan pesantren dan ulama salaf Indonesia, yang tetap berpegang pada ajaran bermadzhab dalam menjalankan syariat Islam, membentuk sebuah komite yang dipimpin KH Wahab Chasbullah atas restu KH Hasyim Asyari.

Komite kemudian mengalih perhatian ke kongres Islam yang diprakarsai Ibnu Suud, penguasa Hijaz baru di Arab. Gagasan Ibnu Suud akan menghapus tradisi keagamaan dan ajaran bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, Maulid Nabi, dibicarakan dalam dua kongres umat Islam berturut-turut. Di Yogyakarta tahun 1925 dan di Bandung tahun 1926. Walaupun kongres Bandung sebenarnya hanya mengesahkan kesepakatan sebelumnya, karena nama, KH Abdul Wahab Chasbullah (delegasi pesantren) dicoret di konferensi khilafah umat Islam se-dunia, dengan alasan bukan organisasi. Peristiwa itu menyadarkan ulama pengasuh pesantren, betapa pentingnya sebuah organisasi. Akhirnya, para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan Ibnu Suud. Bahkan santer terdengar berita, rencana akan menggusur makam Nabi Muhammad Saw. Maka melalui proses panjang lahirlah “NU”.

Perkembangan NU ternyata semakin pesat. Mungkin di luar dugaan para pendirinya. Kebesaran ini tak lepas dari adanya kreatifitas para aktor sebagai pengendali dan uswah bagi umatnya. Dan sistem manajemen kepengurusan NU secara struktural sangat jelas, mulai tugas, fungsi, wewenang, kebijakan dari tingkat pusat hingga ranting.

NU, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah, sangat menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi dan budaya. Salah satu karakter budaya adalah berubahan yang terus menerus, hal ini diciptakan oleh manusia. Maka, budaya bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Menghadapi hal semacam itu, NU mengacu pada salah satu kaidah fiqh “al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidil al-ashlah” (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).

Di tengah arus informasi dan komunikasi yang tak lagi terbendung, ternyata internet menjadi sebuah sarana alternatif yang harus digalakkkan. Maka apresiasi terhadap teknologi terasa perlu dilakukan karena pengetahuan warga “Nahdliyin” masih terbatas tentang teknologi. Dengan harapkan akan memunculkan masyarakat terpelajar dan melek informasi. Masyarakat tidak hanya tahu informasi keagamaan dari para mubalig, tetapi juga bisa banyak mengakses informasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial serta gerak lajunya kebudayaan.

Membuka mata dengan informasi nantinya akan menjadi manusia yang kritis dan mandiri. Orang yang kritis dan mandiri bisa mengambil keputusan atau sikap atas dasar keyakinan dan pertimbangan menurut rasionalnya sendiri. Juga menambah wawasan para kiai, pengasuh pesantren, dan santri agar pemikiran mereka relevan bagi perkembangan zaman, shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh karena itu, dirasa perlu “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal” lahir untuk masyarakat NU.

Kenapa harus ada “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal”? Padahal sudah banyak media NU lainnya yang menfokuskan berbagai kajian tentang NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah, Aswaja. Di antaranya: Bintang Sembilan (Sumatera Barat), Aula dan Duta Masyarakat (Jawa Timur), Khittah (Sulawisi Selatan), Forum Warga (Jawa Tengah) dan beberapa media lainnya tingkat cabang.

Setelah membuka website “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal” pembaca akan menemukan jawabannya. Melalui proses panjang, yang pada tanggal 11 Juli 2003 secara resmi “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal” diluncurkan di hall Hotel Borobudur, Jakarta. Bahkan tahun 2004-2005 website “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal” mendapat penghargaan situs terbaik kategori “Sosial & Kemasyarakatan”. Ini menandakan bahwa NU tidak hanya berjuang dalam bentuk tindakan nyata di masyarakat. Tapi juga NU memberikan pencerahan-pencerahan dalam dunia maya.

Terlepas adanya beberapa kelemahan website itu, adalah hal yang tetap patut disyukuri. Karena dengan adanya media seperti ini, berarti NU telah memperkenalkan ajarannya, yaitu, Islam Indonesia yang moderat, rahmatan lil alamin. Karena kini, NU telah go international dikenal kurang lebih 21 negara belahan dunia.

Buku ini, tidak bermaksud dijadikan sebagai rujukan (reference) bacaan yang mempunyai dasar pemikiran, rumusan masalah, metode, dan lain-lain. Tapi hanya sebatas memperkenalkan kepada warga “Nahdliyin” khususnya, pembaca pada umumnya tentang adanya website “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal”.

Website ini menyediakan berbagai “menu”? all about NU: sejarah berdirinya, tokoh, forum diskusi, beberapa istilah organisasi, dan lain-lain. Menariknya lagi, di website “Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal” tersedia dalam tiga bahasa. Pembaca bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sesuai dengan selera. Selanjutnya, selamat berkunjung di website: http://www.nu.or.id.



*Kader muda Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Aktif di Lesehan Komunitas Baca Surabaya (Kombas).
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Internasional, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock