Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Rais ‘Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya memerintahkan kepada Pengurus Cabang (Idaroh Syubiyah) membuka posko layanan kedatangan peserta muktamar di Pekalongan 23 - 27 Desember 2017 yang menggunakan jalur darat . Perintah itu berlaku bagi pengurus yang berada di jalur Pantura, mulai Cirebon hingga Lasem. 

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pembukaan posko layanan dirasa cukup penting, pasalnya mayoritas peserta muktamar JATMAN adalah berasal dari pulau Jawa yang akan hadir menggunakan jalur darat. Sehingga untuk membantu kemudahan dan kelancaran  peserta, kiranya dirasa perlu Pengurus Cabang Jatman yang ada di jalur Pantura membuka posko bekerja sama dengan Kodim, Polres, Rumah Sakit dan Banser.

Ketua 1 Panitia Muktamar JATMAN KH. Mirza Hasbullah mengaku telah menindaklanjuti perintah Rais ‘Am dengan berkoordinasi kepada Pengurus Cabang Jatman yang berada di Jalur Pantura untuk membuka posko layanan bekerjasama dengan berbagai pihak mulai tanggal 22 - 24 Desember mendatang.

"Posko layanan sifatnya hanya membantu kepada peserta muktamar yang mengalami masalah di perjalanan, sehingga berbagai kesulitan yang dialami peserta muktamar seperti ban bocor, mobil mogok hingga jika terjadi laka lantas dengan cepat bisa dibantu oleh petugas posko," ucap Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, Hingga saat ini telah tercatat ada 7.500 calon peserta yang akan menghadiri Muktamar ke-12 di Pekalongan. Dari ribuan peserta yang hadir, mayoritas berasal dari pulau Jawa yang menggunakan jalur darat. Maka, pihaknya memandang perlu membuat posko layanan informasi seputar bengkel mobil, rumah sakit hingga Polres dan Kodim setempat untuk mempermudah dan memperlancar perjalanan peserta.

"Nantinya pola kerja pengurus cabang melakukan kerja sama dengan pihak terkait dan santri santri pondok pesantren untuk berjaga di posko secara bergiliran," ujar Kiai Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hingga berita ini ditulis, berbagai persiapan terus dilakukan oleh panitia pusat maupun daerah. Beberapa seksi dalam kepanitiaan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama pada kesiapan tim regristasi peserta yang akan dibagi di dua tempat mengingat banyaknya peserta dan penempatan akomodasi penginapan peserta di rumah rumah penduduk yang selesai dipersiapkan.

KH Mirza yang juga Koordinator Khidmah Husnul Khotimah Muktamar mengaku telah merampungkan pendataan penginapan peserta yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Wonopringgo, Kedungwuni, Buaran, Warungasem, Bojong, Tirto, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat. 

Pemondokan peserta menurut Mirza tidak saja menyediakan penginapan, akan tetapi juga konsumsi, kendaraan plus bensin dan sopir. Dari pantauan di lapangan ada beberapa pemodokan  yang menyediakan penginapan, konsumsi dan mobil ditanggung secara gandeng renteng oleh masyarakat setempat, sehingga dapat tercipta suasana kebersamaan dalam semangat menyukseskan hajatan nasional berupa Muktamar Thariqah untuk yang ketiga kalinya di Pekalongan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Adrian, anak umur 5 tahun pengidap Hepatitis B dan kanker hati, meninggal dunia Selasa (5/1). Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang turut menggalang dana untuk pengobatannya pun melakukan takziah ke kediaman keluarga Adrian di Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Pandeglang, Banten, Rabu (6/1).

Direktur Program dan Operasional Pengurus Pusat LAZISNU Nur Rohman bersama rombongan datang ke rumah duka sebagai bentuk ungkapan belasungkawa. Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda yang berhalangan hadir mengucapkan duka melalui sambungan telepon.

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Takziah ke Rumah Adrian, Bocah Penderita Kangker Hati

Mereka disambut hangat ayah Adrian, Susanto, didampingi relawan dan mahasiswa Banten. Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU atas bantuan dan tali persaudaraan yang dijalin sebagai sama-sama keluarga besar NU. Dalam kesempatan itu LAZISNU menyerahkan dana santunan sebesar 5 juta rupiah hasil sumbangan dari masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rombongan dari LAZISNU menempuh perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju rumah duka. Medan yang sulit membuat waktu tempuh lebih lama dari yang diperkirakan. “Jalannya kayak kobangan kerbau di sawah,” kata Nur Rohman.

Ia mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah sudi membantu Adrian melalui rekening LAZISNU. Rohman berharap, bantuan menjadi amal ibadah yang membawa berkah bagi para dermawan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelum meninggal dunia, Adrian sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia divonis dokter mengidap Hepatitis B dan kanker hati sehingga harus melakukan transplantasi hati dan karenanya membutuhkan biaya 1,2 miliar. Orang tuanya yang berpenghasilan 30 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani tak sanggup menanggung biaya itu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Sunnah, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan, sejumlah santri yang berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Kelurahan Triwung Lor Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo bermain olahraga sepakbola api. Rutininas selama bulan suci Ramadhan ini dilakukan usai shalat Tarawih.

Namun sebelum melakukan olahraga sepakbola api ini, para santri terlebih dahulu diberi wejangan dan ilmu kebal oleh kiai pengasuh supaya tubuh tidak merasakan sakit sedikitpun saat bermain sepakbola api.

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Tarawih, Santri Nurul Islam Main Sepakbola Api

Olahraga sepak bola ini memang sangat berbeda dengan sepakbola pada umumnya. Selain bola terbuat dari kelapa yang kering direndam dalam minyak tanah, seluruh pemainnya tidak boleh mengenakan sepatu alias bertelanjang kaki saat menendang bola.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Uniknya, meskipun menendang bola api dengan kaki telanjang, para pemain ini tidak merasakan panas atau sakit sedikit pun saat menggiring dan menendang bola api. Bahkan yang mereka rasakan hanya seperti menggiring bola pada umumnya.

Para santri mengaku usai diberi ilmu kebal oleh kiai, mereka tidak merasakan sakit sedikitpun saat menendang bola api, yang mereka rasakan hanya capek berlarian mengejar bola untuk disarangkan ke gawang lawan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Ustadz Mukhlas mengatakan kegiatan semacam ini sudah rutin dilakukan di kalangan pesantren. Selain menguji ilmu kebal juga merupakan hiburan tersendiri dikalangan santri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kegiatan ini rutin dilakukan setiap malam selama bulan suci Ramadhan. Semua ini kami lakukan untuk menguji ilmu kebal yang diamalkan oleh para santri,” katanya, Ahad (19/6).

Setelah puas bermain dan melihat sepakbola api, para santri selanjutnya membersihkan diri dan melakukan tadarus Al Qur’an. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tokoh, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Ansor mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku pesta seks kaum gay yang berhasil digerebeg di salah satu tempat kebugaran di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ahad (21/5) malam. Banser meminta kepada berbagai pihak tidak menggunakan HAM untuk melindungi pelaku.

Hal ini disampaikan Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaini di sela acara Halaqah Internasional Ansor di GOR Hasbullah Said PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Senin (22/5). 

"Mereka (pelaku pesta gay) telah tercerabut dari akar budaya Indonesia. Sungguh ini kejadian yang tidak bermoral di tengah bangsa yang sedang membangun peradaban," ujar Alfa Isnaini.

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini juga mengimbau ke berbagai pihak agar tidak mengatasnamakan HAM untuk melindungi para pelaku. "Karena hal tersebut bukan budaya kita," sambungnya.

Alfa mengapresiasi penggrebekan yang dilakukan polisi. Namun demikian pihaknya meyakini bahwa perkembangan gay di Indonesia seperti fenomena gunung es. Artinya, yang tidak tampak di permukaan lebih besar dari yang tampak.

Seperti diketahui bersama, jajaran kepolisian Jakarta Utara melakukan penggeregkan pesta gay di salah satu ruko tempat kebugaran. Sebanyak 144 pria yang tengah melakukan pesta seks kemudian digelandang oleh petugas. Sebagain besar para peserta pesta gay telanjang bulat saat ditangkap. Tak sehelai benang pun menempel di tubuh para pria yang sebagian berbadan tegap dan berambut cepak itu. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling

Klaten, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meski baru dibentuk, berbagai ide sudah disiapkan para pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Demikian dipaparkan Ketua LTNNU Klaten, Minardi, usai rapat pertemuan beberapa lajnah dan lembaga NU di Kantor PCNU Klaten, Ahad (27/3) malam.

“Beberapa program jangka dekat yang sudah kami rencanakan, yakni pembuatan buku khutbah jumat, buletin jumat, dan buku amaliyah NU,” terang Minardi.

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Klaten Siapkan Pendirian Radio dan Perpusling

Menurut Minardi, program-program tersebut akan disinergikan dengan program yang ada di LDNU Klaten.

“Kami akan terus berkoordinasi secara intensif dengan LDNU Klaten soal itu, khususnya tentang kebutuhan pembuatan buku khutbah jumat dan buletin jumat yang sangat mendesak,” papar Minardi.

Pembuatan buku dan buletin ini, lanjut dia, juga sebagai wujud respon terhadap keluhan takmir masjid NU. mereka kesulitan mendapatkan buku khutbah NU. Selama ini buku-buku khutbah masih didominasi dari non-NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan Minardi, selain itu pihaknya juga telah membuat rencana untuk jangka panjang, yakni pembuatan radio NU dan perpustakaan keliling (perpusling). “Untuk jangka panjang, kami memimpikan NU Klaten memiliki radio dan perpustakaan keliling,” ungkap dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertanyakan dasar pemberhalaan praktik ziarah kubur di makam para wali. Dengan menyebut makam wali sebagai berhala, Ditjen Pendis Kemenag dalam buku guru SKI Kelas VII MTs Kurikulum 2013 sudah seharusnya mempertanggungjawabkan pijakan argumentasinya.

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir meminta Kemenag mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan permohonan maaf secara terbuka atas keteledorannya.

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

“Di mana letak pemberhalaan ziarah kubur?” Kiai Saifuddin menuntut penjelasan Kemenag, Rabu (17/9) pagi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang-orang yang berziarah ke makam orang tuanya, para guru dan kiai, orang-orang saleh, para wali hingga makam Rasulullah Saw, hakikatnya mengikuti perintah Rasulullah sendiri. Kiai Saifuddin menyitir hadits Nabi Muhammad Saw, ‘Ala fazuruha. Liannaha tudzakkirukumul mauta’ (Ingat, berziarahlah. Karena, ziarah kubur itu akan mengingatkanmu pada kematian).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Jadi kalau Nabi yang menyuruh orang ziarah untuk mengingat kematian, kok malah disamakan dengan penyembahan berhala? Musyrik? Apanya yang musyrik? Yang musyrik itu orang yang mempertahankan sesuatu selain Allah,” kata Rais Syuriyah PBNU yang aktif mengajar kitab kuning di puluhan masjid di Jakarta kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Kiai Saifuddin menantang pihak Kemenag untuk musyawarah perihal argumentasi pernyataan itu. “Saya pengen banget lihat tampang orang Kemenag yang sok-sok begitu, yang ngomongnya ngaco. Kalau mereka bisa meruntuhkan argumentasi kesunahan ziarah kubur, saya akan membayar mereka.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Meme Islam, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Penulis buku Mahakarya Ulama Nusantara,? Ahmad Ginanjar Sya’ban membuka kajian rutin Islam Nusantara, Sabtu (19/8) dengan mengatakan bahwa Islam datang bukan untuk merusak tradisi.

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Datang ke Nusantara Bukan untuk Merusak Tradisi

“Islam datang bukan untuk merusak tradisi bangsa lain,” katanya dalam diskusi yang bertema Manhaj Islamisasi di Nusantara Era Walisongo di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Penyempurnaan itulah yang dilakukan oleh Walisongo dalam menebarkan Islam secara damai. Ginanjar mengutip hadis, Innamaa bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.?

Menurutnya, Islam datang itu untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah sangat baik, tradisi yang luhur. Hal-hal buruk saja yang bersifat prinsip yang perlu diubah. Sementara hal yang bersifat furuiyah ataupun tahsiniyah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Para wali terpilih itu tidak menghancurkan ekosistem, budaya, tradisi, bahkan agama. Direktur Islam Nusantara Center itu mengutip ayat Al-Quran, “Laa ikroha fiddin, tidak ada paksaan dalam agama,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu mengutip hadis, “Laa yu’minu ahadukum hatta yukrima jarohu, belum sempurna iman seseorang kalau belum bisa memuliakan tetangganya.”

Saking menghormatinya kepada para penganut agama lain dan tradisi yang sudah ada, Sunan Kudus memfatwakan untuk tidak menyembelih sapi sebagai kurban karena sapi sangat dihormati oleh umat Hindu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Min babi ikromi jar, tidak menyembelih sapi,” ujarnya.

Wali bernama asli Ja’far Shodiq itu juga membangun masjid yang arsitekturnya senada dengan model bangunan pura pada masa itu. Hal ini pun terdapat di beberapa masjid lainnya, seperti Masjid Agung Demak.

Toleransi sebagai landasan dakwah Walisongo itu menyebabkan cepatnya persebaran Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Walisongo dapat menaklukkan hatinya masyarakat, bukan sekadar wilayah atau kerajaannya.

“Kesuksesan cepatnya Islamisasi masa Walisongo itu karena yang ditaklukkan oleh Walisongo itu bukan wilayah atau kerajaan, tapi hati para penduduknya,” katanya.

Manhaj islamisasi Walisongo itu senada dengan apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Turki Utsmani. Penakluk Konstantinopel itu melarang pasukannya untuk merusak tempat ibadah dan menjarah harta masyarakat Bosnia yang juga ditaklukkannya saat itu.

“Pasukan orang-orang Muslim Turki dilarang merusak, menjarah harta orang-orang Bosnia, mengusik rumah-rumah mereka, memasuki tempat ibadah mereka, gereja-gereja harus tetap dalam keadaan semula,” ujarnya mengutip surat keterangan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada masyarakat Bosnia.

Lebih lanjut, pria asal Majalengka itu mengatakan, bahwa orang-orang Bosnia dibebsakan melaksanakan praktik agama mereka, “Orang-orang Bosnia dibebaskan untuk tetap menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai yang mereka anut,” katanya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Sebagai komitmen menumbuhkan kewirausahaan bagi kader, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Provinsi Lampung kembali menyalurkan satu set alat bekam (hijamah) bagi Pimpinan Anak Cabang Negeri Agung.

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

"Kami mengapresiasi pelaksanaan komitmen pimpinan cabang menyalurkan bantuan kemandirian bagi kader," ujar Ketua Ansor Negeri Agung Ahmad Nursalim di Blambangan Umpu, Rabu (15/3).

Peraturan Dasar (PD) Peraturan Rumah Tangga (PRT) Gerakan Pemuda Ansor berdasarkan Kongres GP Ansor XV di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, 2015 menegaskan bagaimana cara organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) ini mendapatkan pendapatan dengan cara mandiri. Usaha halal dan sah, yaitu usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syara dan atau hukum negara diperbolehkan dilakukan Pemuda Ansor.

PC GP Ansor Way Kanan memiliki program Halal (Hijamah/Bekam Sambil Beramal). Upaya itu diwujudkan dengan melatih kader hingga menyalurkan peralatan bekam bagi PAC Rebangtangkas, Pakuan Ratu, Negara Batin dan Negeri Agung.

Tidak hanya itu, rangkaian proses untuk mengelola input yang berasal dari supplier sehingga menghasilkan output agar customer puas atau biasa dikenal dengan istilah SIPOC juga diberikan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Alat tersebut nantinya akan kami serahkan bagi kader di Kampung Kalipapan. Pimpinan cabang meminta kami fokus di satu kampung," ujar Nursalim menjelaskan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penyerahan secara simbolis dilakukan Bendahara Ansor Way Kanan, Abdullah Candra Kurniawan kepada Sekretaris Ansor Negeri Agung, Jumadi. (Malikaisa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Sunnah, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Meskipun sudah banyak korban berjatuhan gara-gara narkoba, namun jumlah itu kian menunjukkan peningkatan. Memberikan pemahaman sejak dini terhadap mudharat bahan berbahaya ini sangat penting.

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

Indikasi mereka yang terjerat bahan berbahaya itu diantaranya suka uring-uringan, tidak jujur dan cenderung anti sosial. 

Hal Ini salah satu pesan dari Dr. Bambang Eko Sunariyanto, Direktur RSJ Lawang yang mewakili Menteri Kesehatan di depan para peserta Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional atau Perwimanas (26/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Saat ini pengguna narkoba di Indonesia sekitar 4 juta,” katanya. “Populasi pengguna narkoba yang cukup besar ini sedang mengepung anak-anak dan remaja Indonesia,” lanjutnya. 

Karena itu sudah saatnya memperhatikan dan mengawasi perilaku para generasi muda ini. “Jangan sampai salah satu dari pengguna itu adalah teman atau saudara adik-adik," pesan Bambang.

Pada kesempatan tersebut Bambang menghimbau kader pramuka Maarif NU agar mampu menjaga diri, keluarga dan orang-terdekat untuk terhindar dari narkotika dan obat-obatan terlarang. 

"Kenali perubahan-perubahan fisik maupun perilaku,” katanya. Hal yang kasat mata dapat dilihat adalah gejala suka meminta uang tanpa keperluan yang jelas atau mengada-ada, tidak suka makan, senang tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari. 

“Itu juga tanda-tanda awal seseorang yang mengalami ketergantungan narkoba,” tandasnya. 

Data yang dipaparkan Bambang, dari total pengguna narkoba di Indonesia sebagian besar adalah anak-anak usia remaja. Anak-anak usia SMA mencapai angka 48%, sementara usia Perguruan Tinggi (PT) berkisar di angka 28%. 

"Angka ini menunjukkan bahwa sasaran peredaran narkoba adalah kalangan remaja,” sergahnya. “Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya kelangsungan berbangsa dan bernegara bila keadaan ini tidak segera kita atasi bersama," terangnya.

Lebih lanjut Bambang menyatakan mayoritas kecanduan narkoba akibat dari pergaulan dan iseng mencoba-coba. "Dalam hal ini remaja sangat rentan karena ia berada pada fase pancaroba. Fase dimana seorang remaja dengan mudah terbawa oleh arus lingkungannya," ungkap Bambang yang juga berpraktek sebagai psikiater ini.

Dalam kesempatan tersebut Bambang juga memberikan tips agar terhindar dari pengaruh narkoba. "Jangan sekali-kali mencoba narkoba,” harapnya. “Katakan tidak kalau ditawari meskipun gratis. Dan kalau merasa tidak kuat, jangan bergaul dengan pengguna narkoba," pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Mojokerto, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengadakan berupaya meningkatkan kapasitas para pengurus dan kadernya di bidang telaah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Purwanto mengatakan, pihaknya telah mengelar pelatihan analisis anggaran sebagai bekal bagi kader Ansor untuk ikut berjuang mengawal transparansi anggaran dan belanja pemerintah Kabupaten Mojokerto. "Bagaimana mewujudkan APBD benar-benar untuk rakyat, tidak hanya jargon saja," kata Purwanto, sebagaimana siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (1/3).

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Awasi APBD, Ansor Mojokerto Dorong Kader Melek Anggaran

Bertempat di kantor MWCNU Kecamatan Pacet, sebanyak 20 orang pengurus Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LKPPM), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor, serta pengurus harian GP Ansor Kabupaten Mojokerto digembleng selama tiga hari sejak tanggal 26 hingga 28 Februari kemarin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam hal ini, GP Ansor Kabupaten Mojokerto menggandeng Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), sebuah LSM yang selama ini fokus di bidang pengawalan anggaran, untuk memberikan bekal kepada para pengurus GP Ansor.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pelatihan analisis anggaran ini, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H Syihabul Irfan Arif berharap Ansor lebih menguatkan peran-peran eksternalnya dalam mengawal kebijakan publik, terutama dalam hal penganggaran APBD Kabupaten Mojokerto. Karena berawal dari penganggaran yang transparan dan akuntabel, APBD bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

"Dengan belajar hal ini, Ansor harus bisa memberikan pembelajaran yang lebih luas kepada masyarakat, agar bisa memiliki akses yang sama dalam merumuskan kebijakan anggaran bagi kemaslahatan umat," katanya.

Selain diisi oleh pemateri dari Fitra, acara penelitian analisis anggaran ini juga dihadiri oleh koordinator kaderisasi PW GP Ansor Jatim. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Lomba, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 November 2017

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah mengingatkan pentingnya pendidikan agama Islam untuk generasi penerus. Karena itu PWNU mengimbau warga untuk tidak ragu menyekolahkan anak di pesantren.

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Hal tersebut disampaikannya dalam dalam acara wisuda pesantren Barokatul Hasan Desa Jangkang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Rabu (13/6).

Dikatakannya, bekal iman dan ilmu akan mengangkat derajat seorang manusia. Dengan belajar di pondok pesantren, anak akan mendapatkan pelajaran dan ilmu agama Islam lebih banyak jika di bandingkan dengan lembaga pendidikan umum. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau di lembaga pendidikan umum pendidikan agama Islam hanya sebagai tambahan nilai dan pelajaran. Tapi, jika di pondok pesantren ilmu pendidikan agama Islam sebagai bekal hidup,” tutur Kiai Mutawakkil Alallah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Tantri Hasan Aminuddin dalam kesempatan itu mengingatkan, agar warga membekali generasi penerus dengan iman dan ilmu. Pasalnya, hanya dengan bekal dua elemen tersebut akan memulyakan putra-putri kita. Pernyataan tersebut disampaikan oleh

Dalam sambutan singkatnya, Hj. Tantri menjelaskan hal-hal yang menjadi kewajiban bagi orang tua. Diantaranya, memberikan nama yang baik, memberikan bekal ilmu yang cukup dan menikahkan bila sudah cukup umur. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat desa Jangkang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo pada umumnya hendaknya membekali ilmu yang cukup terhadap putra-putrinya. 

“Warisan harta dan ladang tidak akan mengangkat derajat putra-putri kita. Tapi, hanya bekal iman dan ilmulah yang akan mengangkat derajat,” ujar Hj. Tantri.

Lebih lanjut, Hj. Tantri menjelaskan arti pendidikan guna menjawab tantangan zaman. Yang terpenting bagi para orang tua dalam menyekolahkan putra-putrinya adalah mendo’akan semoga ilmu yang di dapat tersebut nantinya menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah.

Selain acara wisuda, pada kesempatan tersebut juga dilangsungkan acara pengobatan massal yang digelar halaman pesantren setempat. Warga sambut antusias acara pengobatan masal tersebut. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang datang berbondong-bondong membanjiri halaman pesantren tempat berlangsungnya kegiatan pengobatan gratis guna mendapatkan pelayanan pengobatan.

Pengasuh Pondok Pesantren Barokatul Hasan, Misnaji berharap para santrinya agar terus melanjutkan mencari ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Terlebih kepada para orang tua santri, Misnaji yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Probolinggo ini juga menekankan agar terus memotifasi putra-putrinya untuk mencukupkan ilmunya dan tidak terburu menikahkan putra-putrinya. “Jangan terburu mendaftarkan putra-putrinya ke KUA. Cukupkanlah ilmunya, minimal hingga jenjang SMA/MA,” harap Misnaji.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Fragmen, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 04 Oktober 2017

Agama dalam Politik Kekuasaan

Oleh Teuku Saifullah



Ahli sejarah mengatakan, penemuan manusia paling tertua setelah penemuan api adalah agama. Dari mana datang agama itu masih menjadi kesanksian. Yang menganut teisme akan mengatakan agama muncul berdasarkan wahyu dari Tuhan yang disampaikan melalui utusannya. Pasangan manusia pertama adalah Adam dan Hawa yang diyakini oleh agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) berasal dari surga yang diturunkan ke bumi karena melakukan dosa besar. Adam adalah pembawa wahyu pertama kepada keturunannya, setelah ia wafat muncul utusan-utusan lain dari anak cucunya.

Agama dalam Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dalam Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dalam Politik Kekuasaan

Mereka yang ateis akan mengatakan agama muncul sebagai penenang hati manusia dan menjadi alat kontrol sosial. Penenang hati karena manusia melihat setelah ia hidup akan menemui mati. Mati menjadi tanda tanya besar karena tidak ada pengetahuan untuk mengetahui apa yang terjadi setelahnya. Mereka menemukan bahwa kadangkala dalam kehidupan terdapat hal-hal janggal seperti muncul bayang-bayang aneh menakutkan yang mereka sebut dengan hantu. Konsep hantu menjadi konsep awal tentang adanya roh. Roh dipahami sebagai wujud setelah mati yang keluar dari jasad. Roh adalah kehidupan kedua, dan mempunyai kuasa untuk mendatangkan marabahaya dan kebahagian kepada manusia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, mereka mengubur mayat dengan sebaik mungkin, ditempatkan dalam peti dan diucapkan kalimat-kalimat tertentu (mantra) agar roh tersebut bisa hidup damai dalam kehidupan keduanya. Orang-orang yang sakit seperti ayan (epilepsi), diyakini berasal dari gangguan roh jahat, sehingga perlu dibuatkan sesuatu untuk menenangkan roh. Muncullah konsep dukun, yaitu seorang yang ahli membaca kalimat-kalimat untuk roh, dan didengarkan oleh roh kata-katanya. Dari konsep demikian secara perlahan menjadi agama, dan agama itu? menjadi bermacam-macam tergantung kondisi sosial setempat; muncul animisme, paganisme, pantheisme, sampai konsep yang paling komplit yaitu monoteisme.

Dan tidak dapat dielakkan bahwa sejak awal agama saling berperang, mendominasi untuk memperebutkan manusia. Persaingan antar agama itu terjadi melalui konsep keyakinan dan aturan-aturan yang ada dalam agama. Bukan soal apakah konsep keyakinan itu adalah hasil karya manusia dari generasi ke generasi sebagaimana dalam paham ateis, atau memang berasal dari Tuhan dalam teisme. Peperangan antar agama ini adalah hukum alam, sebagaimana persaingan antara kebaikan dan kejahatan. Sebabnya adalah karena manusia memiliki akal yang ia gunakan sebagai alat penilai.

Sebagian manusia menilai agama tertentu adalah jalan yang benar, karenanya ia ingin agar orang-orang terdekat dengan nya mengikuti jalan yang ia tempuh. Mulailah ia menyampaikan pesan, ajaran agama, serta propaganda untuk mempengaruhi. Sesekali mengetengahkan alasan-alasan yang logis tentang kebenaran agamanya dan dilain waktu mengungkap kelemahan-kelemahan agama lain. Di lain pihak, penganut agama lain juga mempunyai pandangan yang sama untuk menyebarkan kebenaran agama yang ia yakini. Maka terjadilah perebutan manusia oleh agama-agama, yang satu ingin mendominasi yang lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Melalui akal manusia, agama memainkan perannya mengatur manusia, menjadikan manusia sebagai objek untuk dikontrol. Agama membuat aturan-aturan yang wajib dipatuhi dan aturan-aturan yang dilarang untuk dilakukan. Agama juga menunjukkan kepada manusia bahwa suatu perbuatan adalah kejahatan, dan yang lain adalah kebaikan. Setiap kejahatan akan diganjar dengan dosa, setiap kebaikan diganjar dengan pahala. Dosa membawa kepada neraka, yaitu tempat yang oleh agama dijadikan kediaman manusia pembangkang yang dipenuhi oleh siksa-siksa yang tiada tara. Kebaikan membawa kepada surga, yaitu tempat yang penuh dengan kenikmatan.

Dalam agama tertentu konsep surga dan neraka menjadi kabur oleh konsep reinkarnasi. Reinkarnasi adalah keyakinan bahwa roh dari manusia yang telah mati akan hidup kembali ke dunia dengan wujud baru, dimana wujud itu tergantung prilaku manusia sebelum ia mati. Jika ia selalu melakukan kejahatan bisa jadi akan berinkarnasi menjadi babi, kambing, tumbuhan atau segala sesuatu yang tidak terhormat. Sebaliknya, manusia baik akan berinkarnasi menjadi manusia baik, atau menjadi dewa. Konsep demikian bisa ditemukan dalam agama budha, hindu, dan animisme.

Dengan kata lain, agama memegang ubun-ubun manusia dengan konsep akhirat, kehidupan setelah mati. Pun, cukup logis untuk setiap manusia beragama. Manusia melihat alam yang luar biasa megahnya, yang rahasianya sulit diungkap. Ia menundukkan alam untuk memenuhi kebutuhannya, dibuatnya rumah dari pepohonan, dibuatnya kursi untuk tempat duduk, dll. Dari itu sangat logis manusia manapun akan bertanya pada dirinya bukankah seharusnya ia pun diciptakan. Dengan perangkap kodrat alam tersebut, manusia mengelompokkan diri nya kedalam agama-agama, seakan merupakan suatu keharusan.

Karenanya, sangat mudah bagi agama untuk ikut campur dalam lalu lintas kemanusiaan, ia membuat kewajiban manusia akan tunduk, ia membuat larangan manusia akan patuh. Sebab itu agama adalah kontrol sosial horizontal sekaligus vertikal, yang didalamnya terdapat kesakralan illahiah. Selain sanksi akhirat, ajaran agama juga tak jarang mengandung sanksi dunia, yaitu dengan menetapkan sejumlah perbuatan yang jika dilakukan, dilanggar akan berakibat pada hukuman tertentu pada manusia yang disebut dengan hukum agama. Agama menjadi tatanan hukum.

Tatanan hukum agama sebagaimana tatanan hukum modern ada untuk menjamin hak-hak pemeluk agama yang mengandung demensi ilahiyah. Mereka tunduk pada aturan itu karena mereka menganggap aturan itu suci, berasal dari sesuatu yang sangat mulia, yaitu tuhan, dewa, atau totem. Dalam agama hindu India misalnya, masyarakat hindu terpecah kedalam strata-strata sosial yang pembagiannya berdasarkan legalitas agama; Brahmana, Kesatrian, Wisnu, dan Sudra. Meskipun kadangkala ada orang-orang yang merasa tatanan itu tidak adil tetapi tidak ada yang menyangkal tatanan itu bersifat suci yang legalitasnya berasal dari dewa.

Dalam agama Islam, yang bisa dijadikan contoh bagaimana agama mengatur kehidupan, terdapat larangan larangan yang dikenakan sanksi seperti membunuh, mencuri, merampok, memperkosa, dan berzina. Orang yang membunuh dengan sengaja akan di qishas (dibunuh) atau diwajibkan membayar diyat sebagai ganti dari pembunuhan, mencuri akan dipotong tangan, berzina akan dicambuk 100 kali, atau dirajam sampai mati bagi yang berzina dalam posisi sudah menikah. Selain itu, Islam juga membuat sebuah aturan acara bagaimana hukum itu dilaksanakan, seperti tentang jumlah saksi yang harus dipenuhi dan yang berwenang menjadi hakim.

Akan tetapi aturan agama adalah aturan yang hanya efektif bagi pemeluknya dan menjadi tidak berguna untuk yang lain. Sehingga ide-ide untuk menjadikan hukum agama sebagai hukum positif dalam sebuah negara akan menjadi sulit tercapai ketika terdapat banyak agama maupun aliran keyakinan (heterogen/majemuk). Pun, jika sebuah negara dengan pemeluk agama yang homogen, akan ditemui juga orang-orang yang tidak sepakat, akan tetapi hal itu tidak menjadi soal karena begitu hukum agama diundangkan menjadi hukum positif, maka hukum itu mengikat kepada semua orang.

Menjadikan hukum agama sebagai hukum positif nasional karena alasan suatu agama adalah mayoritas, atau alasan sumbangsih agama tertentu begitu besar terhadap suatu negara tidak akan menghentikan masalah yang akan muncul di kemudian hari. Hukum agama adalah hukum yang bersifat ilahiyah. Esensi hukum tersebut hanya dipahami sepenuhnya oleh pemeluknya. Ketaatan pemeluk agama pada hukum tersebut adalah bagian dari ketaatan pada tuhan (ibadat) yang balasannya adalah surga.

Dalam posisi demikian, pemeluk agama lain tidak menemukan alasan untuk mematuhi aturan agama lain, karena kepatuhan pada aturan lain berarti mereka telah mengkhianati aturan agama yang mereka anut. Setiap agama membuat pemeluk nya menjadi fanatik dengan anggapan aturan agama itulah yang paling sempurna dan paling absah.

Dengan demikian menjadi mudah dipahami kenapa tujuh kata pada sila pertama pancasila? yang merepresentasikan superioritas umat Islam “Ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban menjalankan hukum Islam bagi pemeluknya” mendapatkan penolakan dari orang-orang di luar Islam dan tokoh-tokoh nasionalis yang berpikiran liberal. Mereka menilai jika tujuh kata tersebut tetap dipertahankan, maka secara terang-terangan ajaran Islam telah diutamakan dan agama lain dianggap sebagai agama kelas dua.

Dalam paham mereka, kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan bersama, walaupun tidak bisa memungkiri sumbangsih umat Islam lebih besar dari yang lainnya. Islam adalah agama mayoritas penduduk, tetapi mayoritas bukan berarti superior. Suatu ancaman masa depan bagi keutuhan Indonesia jika Islam tetap memaksakan kehendaknya pada sila pertama adalah pecahkongsi. Orang-orang Indonesia timur yang dibeberapa tempat dikuasai oleh agama selain Islam menunjukkan tanda-tanda keberatan untuk bergabung dengan Indonesia yang baru berdiri. Suatu kesadaran mulia tokoh-tokoh Islam ketika itu yaitu dengan mengikhlaskan tujuh kata pada sila pertama, sebagai pertanda bahwa Indonesia adalah sebuah negara baru dengan agama yang majemuk dan semuanya dalam tingkatan yang setara.? ? ? ?

Jalan yang paling bijak mengakomodir agama dalam kekuasaan politik adalah dengan menjadikan agama-agama sebagai sumber moral dan sumber hukum. Agama-agama mana adalah agama yang dianut oleh penduduk setempat tanpa mengedepankan satu diantara yang lain. Dalam tatanan hukum di Indonesia, agama merupakan salah satu sumber hukum, yang artinya aturan agama bisa menjadi hukum ketika terjadi resultan politik di legeslatif, eksekutif maupun yudikatif. Akan tetapi aturan agama bisa juga dikesampingkan ketika elite politik tidak menghendakinya. Aturan agama mana yang diambil adalah aturan agama yang dihajatkan oleh pemerintah setelah melalui berbagai pertimbangan.

Kelemahan dalam sistem demikian yaitu pada tataran praktis suatu agama mempunyai potensi untuk mendominasi atau mewarnai pemerintahan ketika percaturan politik dominan dikuasai oleh suatu agama. Karenanya faktor mayoritas kadangkala tidak bisa dihindari sebagai alasan penguasaan politik. Munculnya, partai politik bersendikan agama di Indonesia, seperti Masyumi, Partai Nadlatul Ulama (pada 1952, red), Partai Keadilan sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah salah satu alasannya melalui partai-partai ini aspirasi politik yang bersendikan agama diharapkan dapat mendominasi politik kekuasaan.

Jika dilihat dalam percaturan politik kekuasaan, agama merupakan salah satu kekuatan politik yang berkehendak untuk memegang tali kekuasaan. Karena kekuasaan merupakan alat bagi agama untuk menerapkan aturannya pada umatnya dan kepada manusia-manusia lain yang diharapkan nantinya ikut menjadi pemeluk agama tersebut. Bisa dilihat, misalnya; Ajaran Kristen pernah menguasai kekaisaran Roma dalam waktu yang lama; Islam pernah menjadi sumber aturan dalam kekhalifahan (kekaisaran) Umayyah, Abbasiah dan Utoman serta kekuasaan-kekuasaan kecil lainnya; Hindu pernah menguasai nusantara melalui kerajaan Majapahit, Budha menguasai sumatra dengan kerajaan Sriwijaya.

Hal–hal tersebut diatas tidak bisa dihindari karena agama adalah aturan hidup yang menyeluruh (way of life) yang keabsahannya bersifat ilahiyah (Ketuhanan). Karenanya untuk mencapai fungsinya itu, kekuasaan adalah alat yang paling efektif. Tanpa kekuasaan peran agama sebagai aturan hidup yang menyeluruh tidak bisa tercapai. Yang artinya selama hal tersebut belum tercapai, pemeluk agama tidak bisa menjalankan aturan agamanya secara sempurna (kaffah).

Bisa dilihat misalnya dalam suatu negara demokrasi seperti Indonesia, masih ada kelompok-kelompok yang mengusung cita-cita untuk menjadikan agama sebagai landasan negara, seperti yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia yang menuntut kekhalifahan Islam ditegakkan, dalam Kristen juga ada kelompok-kelompok ortodok yang memimpikan kerajaan Tuhan. Belum lagi kelompok-kelompok keras yang berusaha menggulingkan pemerintah dengan cara pemberontakan, seperti Darul Islam dan teroris agamis untuk kemudian diganti dengan pemerintahan yang didasarkan pada agama.

Kita menilai kelompok-kelompok semacam ini tidak pernah mempertimbangkan konflik antaragama yang akan ditimbulkan oleh ego-agama. Konflik yang ujungnya akan membawa kepada perpecahan dan permusuhan antarmasyarakat yang berbeda keyakinan. Bahwa Kerajaan Kristen Roma pernah menindas mereka yang tidak sepaham adalah fakta yang diketahui oleh orang-orang barat yang puncaknya terjadi revolusi Prancis. Kekhalifah Islam yang terkenal pada masa Ummayyah, Abbasiah, dan Otaman juga di sana-sini terdapat gesekan semacam itu yang membuat pemeluk-pemeluk agama lain menjadi masyarakat kelas dua. Konflik semacam ini tidak bisa dihindari, karena begitu agama berkuasa, ego-agama menguat dan segala sesuatu dipandang dari sudut pandang agama.

Penulis adalah peneliti di Farabi Institute Jawa Tengah. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 27 Agustus 2017

Pengibaran Bendera Palestina di PBB, Sebuah Simbol dan Harapan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Melekat pada tali tiang bendera yang dibasahi air hujan, sehelai kain yang tak segera diketahui bentuk identitas atau karakter nasional apa yang dilambangkannya, dikerek di Perserikatan Bangsa Bangsa, diiringi tepuk tangan, sorak sorai dan merujuk simbolisme serta harapan.

Pengibaran Bendera Palestina di PBB, Sebuah Simbol dan Harapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengibaran Bendera Palestina di PBB, Sebuah Simbol dan Harapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengibaran Bendera Palestina di PBB, Sebuah Simbol dan Harapan

Akhirnya angin bertiup, dan bendera hitam, hijau, merah dan putih Palestina itu berkibar bebas untuk pertama kalinya di PBB setelah Majelis Umum menerima satu resolusi 10 September lalu untuk mengakui wilayah yang diduduki Israel sebagai sebuah negara.

Para diplomat dan staf berbaris berjajar di lapangan rumput tersiram air hujan di Rose Garden, PBB, di East River, guna menyaksikan pengibaran bendera itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menjadi orang pertama yang menyebutkan harapan, kendati dia berhati-hati sekali mengenai harapan apa yang disimbolkan dari sebuah bendera yang berkibar.

Sepertinya asa itu bukan merujuk harapan terwujudnya sebuah negara dalam waktu yang segera, melainkan suatu hari nanti.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini hari membanggakan bagi bangsa Palestina di seluruh dunia. Ini hari penuh harapan. Ini adalah pengingat bahwa simbol itu penting," kata dia.

"Semoga pengibaran bendera ini memberi harapan bagi bangsa Palestina dan komunitas internasional bahwa kenegaraan Palestinian dalam jangkauan."

Bendera ini juga pengingat bahwa simbol tidak sembarangan bagi negara.

"Bendera itu gampang," kata seorang pejabat Eropa yang mengikuti upacara pengibaran bendera Palestina itu.?

"Ada banyak suara nyaring yang menentangnya dari Israel dan Amerika, tetapi setidaknya itu bukan peta. Bayangkanlah menggambar batas-batas negara."

Presiden Palestina Mahmoud Abbas memproklamasikan pengibaran bendera itu sebagai perlambang.

"Hari dikibarkannya bendera ini di seluruh Negara Palestina akan segera terwujud. Di Yerusalem, ibu kota Negara Palestina kami," kata dia.

Tentunya tak semua orang yang hadir pada upacara di PBB itu bersetuju dengan kalimatnya.

Beberapa menit sebelum upacara, Abbas berbicara panjang lebar di Majelis Umum PBB mengenai kegagalan selama lebih dari dua dekade perjanjian dan negosiasi damai dalam ? mengantarkan Negara Palestina yang sudah banyak dijanjikan orang.

Abbas terlihat putus asa dan sedih saat dia menyatakan Perjanjian Perdamaian Oslo adalah kegagalan, lalu mengancam mundur dari perjanjian itu dengan membiarkan Israel memikul sendiri tanggung jawab dan ongkos dari pendudukan penuhnya di tanah Palestina.

Di luar Rose Garden, Ghadeer Tarazi, perempuan warga Jerusalem, New York, kelahiran Palestina dan besar di Ramallah sebelum bekerja di PBB, bertepuk tangan begitu bendera Palestina dinaikkan.

"Saya senang sekali. Ini hari yang agung untuk bangsa Palestina dan Palestina. Ini pengakuan atas hak bangsa Palestina untuk memiliki negara. Ini adalah pengakuan bahwa seluruh dunia mengakuinya. Tapi saya berharap ini bukan semata simbol. Saya berharap ini berubah menjadi keadilan bagi bangsa Palestina," kata dia.

Tarazi tak yakin itu akan terwujud. Perempuan ini menyimak pidato Abbas dan tidak terlalu optimistis.

"Saya kira perubahan seharusnya terjadi. Kita mesti menyadari hal itu mengingat (Perjanjian) Oslo tidak mewujudkan apa-apa dalam menolong rakyat Palestina. Kita tak bisa cukup hanya di sini," kata dia.

Dan memang ada kecurigaan luas di kalangan rakyat Palestina bahwa itu hanya akan berlaku sebatas ini karena dengan cara begitu Israel dan sebagian besar dunia terpuaskan.

Seorang pejabat Palestina yang menolak menyebutkan namanya menyatakan bahwa Abbas yang akrab dipanggil Abu Mazen, menyuarakan apa yang lama diyakini bangsa Palestina: bahwa Israel tidak mematuhi Perjanjian Oslo dengan menghalang-halangi pendirian sebuah negara berdaulat dan bahwa negosiasi dengan pemerintahan Binyamin Netanyahu hanya akan mengekalkan pendudukan, bukan mengakhirinya.

Singkatnya, UU Otoritas Palestina tidak dibuat unuk rakyat Palestina, melainkan demi memenuhi kepentingan Israel.

"Netanyahu sejak lama menyatakan (Perjanjian) Oslo telah mati. Abu Mazen hanya menegaskan kembali. Dia berkata, kalian mungkin mengakui kami sebagai sebuah negara di PBB tetapi kami berada di bawah pendudukan dan kalian tak boleh melupakan itu," kata sang diplomat.

"Saat ini Israel punya jalan bebas. ? Tak ada konsekuensi dari pendudukan. Komunitas internasional membayar ongkos pendudukan. Segalanya harus berubah. Sungguh ini pengakuan kalah."

Jadi, akankah pidato Abbas itu mengubah segalanya? "Saya meragukannya. Abu Mazen kehilangan kredibilitas di kalangan rakyat Palestina," kata dia .

Upacara selesai, bendera diturunkan untuk dipasang dan dikibarkan kembali di ujung deretan bendera-bendera nasional di depan markas besar PBB.

Bendera Palestina ini akan terus berkibar di samping bendera Vatikan, anggota PBB non negara lainnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tegal, AlaNu, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 24 Juli 2017

Cerpen: Kecil itu Besar

“Uang satu juta rupiah



tidak akan menjadi satu juta

jika kurang seratus rupiah”

Cerpen: Kecil itu Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerpen: Kecil itu Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerpen: Kecil itu Besar

“Mengapa anda gelisah?” kata Sartono ketika melihat Sarkadi mondar-mandir di depan teras kontrakannya.

“Ane lupa kalau sekarang ada kuliah, No,” jawab Sarkadi.

“Lantas apa hubungannya kuliah dengan mondar-mandir, Di?” tanyanya kembali.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Begini, No. Ane lupa naruh kunci motor ane. Kayaknya tadi malem jatuh disini. Lah kalau sudah gitu kan ane nggak bisa kuliah,No.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalau memang anda tahu kalau tadi malem jatuh, mengapa anda tidak mengambilnya tadi malam, di?”?

“Ane kira itu tidak mungkin hilang, No. Makanya ane biarin.”

“Wah, anda terlalu meremehkan suatu hal yang kecil, Di.”

Pagi bukanlah sebuah pagi jika tidak ada percekcokan antara Sarkamon dan kawan-kawan. Entah mengapa, selalu saja ada masalah setiap pagi. Mungkin ini menandakan bahwa pagi adalah awal dari sebuah masalah yang kan terpecahkan pada malam harinya. Mungkin.



Pada pagi itu, tidak didapati sepasang mata dari Sarkamon. Dia sibuk ngutek laptopnya yang masih error. Software antivirus yang ada di dalamnya ter-uninstall. Itu terjadi gara-gara Sartono meminjamnya untuk men-download sebuah game. Kalau manusia biasa, pasti kebanyakan nggrundel ketika sesuatu yang dimilikinya dirusakkan oleh temannya. Tapi sarkamon tidak. Dia tidak ingin masalah yang sepele seperti itu dijadikan sebagai cara untuk merusak pertemanan.?

“Ane harus bagaimana ini, No?” tanya Sarkadi melanjutkan pembicaraan.

“Anda cari sampai ketemu, Di! Saya tidak bisa meminjamkan motor saya kepada anda. Saya akan mengikuti seminar di luar kampus hari ini,” kata Sartono.

“Khalash, No! Nggak ketemu tapi..”

?

“Bukan tidak ditemukan, Di. Anda saja yang kurang giat mencari,” berkata Sartono dengan nada yang sedikit menasihati.

“Haduh.. kaifa hadza?”



Sebenarnya, kunci motor Sarkadi sudah diambil oleh Sarkamon tadi malam. Tapi dia enggan memberikannya. Dia ingin memberi sebuah pelajaran kepada Sarkadi agar tidak menyepelkan sesuatu yang kecil. Karena sesuatu yang besar tidak akan terjadi tanpa adanya sesuatu yang kecil.?

Ada sebuah kisah tentang betapa pentingnya seorang manusia untuk tidak menyepelekan sesuatu yang kecil. Pada suatu hari, ada sekelompok nelayan yang ingin berlayar untuk mencari ikan di lautan. Salah seorang nelayan ingin mencari jaring untuk ditebarnya dalam lautan. Pada ketika itu, dia mendapati seekor rayap yang berada di dalam perahu. Nelayan itu tidak menghiraukan keberadaannya. Dia beranggapan bahwa tidak akan mungkin seekor rayap yang kecil dapat menimbulkan masalah yang besar.



Di hari pertama dan kedua, perahu itu berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Namun di hari ketiga, sebuah insiden terjadi. Seekor rayap telah menjadi berekor-ekor. Mereka melubangi bagian perahu yang dapat membuat tenggelam. Akhirnya, perahu yang besar seperti itu dapat tenggelam karena kecerobohan salah satu nelayan yang tidak menghiraukan seekor rayap. Untung saja, ada beberapa perahu yang dekat dari perahu mereka. Mereka tertolong dengan selamat dan penyesaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari zaman Nabi Adam Alaihis Salaam sampai zaman pro-kontra Koh Basuki yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta, banyak sekali terlihat manusia meremehkan hal-hal yang kecil. Dalam dunia pendidikan, banyak sekali siswa maupun mahasiswa yang menganggap sebuah tugas adalah hal yang remeh. Mereka jarang sekali mengerjakan sebuah tugas ketika tugas itu masih sedikit.

Namun ketika sebuah tugas itu menjadi bermacam tugas, mereka malah enggan mengerjakannya dan beranggapan bahwa tugasnya terlalu banyak. Sebenarnya ini bukan masalah banyak atau sedikitnya sesuatu, akan tetapi ini adalah masaah bagaimana kita menganggap besarnya sesuatu yang kecil, atau banyaknya sesuatu yang sedikit.

Jika kita mengerjakan sesuatu yang sedikit dengan cara yang berulang-ulang atau berkeanjutan, itu akan menjadi sesuatu yang banyak. Begitu juga mengenai besar dan keci. Seperti halnya cerita tentang keberadaan seekor rayap tadi. Pada awalnya, rayap itu memang hanya satu jumlahnya, karena tidak menganggap itu adalah sesuatu yang penting, seekor rayap itu menjadi berekor-ekor yang menimbulkan masalah yang besar.

Keberadaan sesuatu yang sedikit atau yang kecil biasanya sering dianggap sesuatu hak yang remeh. Satu hal yang harus dipikirkan kembali oleh manusia adalah keberadaannya tidak akan menjadi sebesar itu jika tanpa keberadaan kecilnya yang lalu.?

Dalam hakikat kehidupan manusia, dia diciptakan melalui segumpal daging dahulu. Tidak langsung menjadi sebesar itu. Dalam hal menabung juga begitu. Uang yang kita tabung tidak akan menjadi sebanyak itu jika kita tidak mengumpulkan dari yang sedikit.

Betapa pentingnya sesuatu yang sedikit atau yang kecil, uang satu juta rupiah tidak akan menjadi satu jika kurang seratus rupiah. Maka dari itu, harus kia sadari bahwa sesuatu yang kecil bukanlah hal yang remeh. Itu harus kita perhatikan lebih intensif dalam keberadaannya.

(Achmad Itsbatunnadzri)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 03 April 2017

Bersumber dari Pendangkalan

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?

Bersumber dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersumber dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersumber dari Pendangkalan

Dengan masih adanya pendangkalan pemahaman seperti itu, penulis jadi tidak begitu heran kalau terjadi kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Walau mengutuk, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskriminatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin diusir dari rumahnya (idzâ ukhrijû min diyârihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun. Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunni tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci al-Quran, “Taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan (athî‘u allâha wa’athî’u arrasûl wa ulîl-amri minkum)” (QS. Al-Nisa [4]:59). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan- mengikuti perintah tersebut.

Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis menganggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

***

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tindak kekerasan -walaupun atas nama agama- dinyatakan oleh siapapun dan dimanapun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangkatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang disampaikan oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penulis dan Rabi yang menyatakan “berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) mengutus Wakil Rois ‘Am, KH. M.A. Sahal Mahfudz untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH. M.A. Sahal Mahfudz meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah menjadi “tidak bersalah”.

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah Swt. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia —bahkan menurut statistik sebagai organisasi Islam terbesar di dunia— menolak terorisme dan penggunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai “tindak kejahatan/ kriminal” yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (al-kutub al-mu’tabarah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setiap sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (al-umûru bi maqâshidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Muhammad Sa’id al-Ashmawy. Menurutnya, “hukum Barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (jarimah), menurut Muhammad Sa’id al-Ashmawy, sama dengan hukum pidana Barat, karena sama berfungsi dan bertujuan mencegah (deterrence) dan menghukum (punishment).

***

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut, jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu —sesuai dengan ajaran kitab suci al-Qur’ân dan ajaran Nabi Muhammad Saw— adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslimin untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslimin tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin mengkoreksi langkah- langkah yang salah, atau melakukan “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (reinterpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah “agama kedamaian” bukannya “agama kekerasan”. Proses sejarah berkembangnya Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan kedamaian itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan -atas nama Islam- yang tidak diharapkan.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Duta Masyarakat, 8 Februari 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 08 Februari 2017

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Beberapa hari terakhir santer pemberitaan terkait rencana aksi sebagian kecil umat Islam yang mengklaim diri sebagai alumni aksi 212. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin adalah salah satu pihak yang menilai bahwa aksi-aksi tersebut justru berpotensi menciptakan kegaduhan.

Jumat yang bertepatan dengan aksi 299, Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini alih-alih memberikan atensi terkait aksi, justru memilih mengikuti Panen Raya Jagung Musim Kemarau 2017 di Desa Kendali Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan.

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan

Menempuh medan yang tak selalu mulus, cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini membiarkan tangan halusnya tergores tajamnya daun dan batang jagung.

Kiai Maruf mengapresiasi langkah Pemkab Lamongan, Asosiasi Tani Nelayan Andalan, juga Asosiasi Petani Jagung Indonesia bersama-sama para petani di Lamongan yang mampu meningkatkan hasil jagung mereka hingga 300 persen bila dibandingkan masa panen sebelumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Inisiatif demikian, tambahnya, lebih mulia ketimbang aksi-aksi yang justru berpotensi memicu kegaduhan. (Red Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Jadwal Kajian, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Desember 2016

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kementerian Agama dan Bank Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat kesepahaman dalam pengembangan ekonomi pesantren dan penggunaan layanan keuangan digital (LKD). Penguatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial antara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo di Jakarta, Kamis (26/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Selain Menag, penandatangan NK dengan Gubernur BI juga dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, serta Raden Harry Hikmat Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial yang mewakili Menteri Sosial.

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Menag menyambut gembira Penandatangan NK ini, terlebih sebelumnya telah terjalin nota kesepahaman antara Kemenag dengan Bank Indonesia tentang Pengembangan Kemandirian Ekonomi Lembaga Pondok Pesantren dan Peningkatan Layanan Non Tunai untuk Transaksi Keuangan di Lingkungan Kementerian Agama yang ditandangani pada 5 November 2014 di Gedung Perwakilan Bank Indonesia wilayah IV Surabaya.?

Menurut Menag, NK yang kemudian dikenal dengan nama “Deklarasi Surabaya” itu ? memiliki dua substansi. Pertama, mendorong pondok pesantren sebagai penggerak sekaligus berperan sebagai instrumen sektor riil penguatan ekonomi berbasis masyarakat. Kedua, peningkatan transaksi keuangan non tunai baik yang menyangkut penyerapan anggaran berbasis APBN maupun transaksi keuangan di sejumlah mitra layanan di bawah binaan Kementerian Agama.?

Deklarasi Surabaya akan berakhir pada penghujung 2016 ini. Karenanya, Menag menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial yang merupakan perluasan dari Deklarasi Surabaya dengan menggandeng kementerian-kementerian terkait di dalamnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menag mengaku, setelah penandatanganan Deklarasi Surabaya, terdapat capaian-capaian yang cukup menggembirakan, di antaranya: peningkatan kapabilitas santri sebagai penggerak ekonomi berbasis masyarakat dan digitalisasi layanan keuangan. Selain itu, pondok pesantren kini secara bertahap juga telah melebarkan kiprahnya, tidak hanya melahirkan ahli agama Islam, tapi juga penggerak ekonomi berbasis masyarakat.

“Penggunaan Layanan Keuangan Digital (LKD) pada beberapa pondok pesantren telah memberikan ruang transaksi yang semakin mudah, dekat, dan tidak berbelit-belit,” papar Menag. ? Putera mantan Menag alm. KH Saifuddin Zuhri ini menyatakan bahwa penggunaan LKD merupakan solusi keuangan non tunai yang praktis terutama pada koperasi-koperasi yang ada di dalam pondok pesantren.?

Ke depan, Menag berharap pondok pesantren sebagai pusat kajian keilmuan fiqih muamalah dan ekonomi syariah mendapatkan ruang aplikatif yang lebih luas sehingga ? dapat menyelesaikan problem-problem transaksi ekonomi yang berkembang dewasa ini. Pesantren juga dapat menjadi model pengembangan keuangan syariah di tingkat mikro.?

Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman ini, Menag optimis bahwa tata kelola Kementerian Agama berbasis APBN terutama pada akun bantuan sosial dapat meningkat akuntabilitasnya, karena penyalurannya menggunakan transaksi secara non tunai. Red Mukafi Niam

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Januari 2015

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk menyemarakkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tengah menyiapkan Festival Pelajar NU (FPNU) se-Kecamatan Mojowarno.

Festival dikemas dengan penampilan beberapa lomba, di antaranya lomba pidato, shalawat dan cerdas cermat antar siswa atau pelajar yang akan dihelat di Aula Kantor Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat. Saat ini kurang lebih dari 10 sekolah yang sudah mendaftar mengikuti masing-masing lomba tersebut.

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar

Yanuar Setyawan, Ketua PAC IPNU Mojowarno mengatakan, kegiatan ini untuk mewadahi dan mengembangkan bakat-bakat pengurus ranting dan pengurus PAC, juga mengenalkan IPNU-IPPNU kepada para pelajar di Mojowarno.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita ingin bakat kader NU mulai ranting sampai PACNU bisa terwadahi, sekaligus kita juga ingin menyosialisasikan keberadaan IPNU-IPNNU kepada para pelajar di sini,” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal saat dihubungi, Ahad pagi (13/12).

Yanuar, sapaan akrabnya menambahkan, tidak sedikit siswa di lembaga sekolah tingkat SMP/MTs dan MA/SMA Mojowarno mengenal tentang keberadaan IPNU-IPPNU setempat. “Festival ini juga sebagai media memperkenalkan kepada mereka untuk ikut bergabung di IPNU-IPPNU. Mereka adalah regenerasi kami,” tambahnya.

FPNU akan digelar pada 27 Desember 2015 mendatang. Namun, formulir agenda sudah disebarluaskan jauh hari sebelumnya karena untuk memaksimalkan kouta peserta. “Kita memang sengaja menyosialisasikan terkait festival ini mulai kemarin-kemarin, kami ingin semua lembaga sekolahan tingkat SMP/MTs dan MA/MAN supaya mendelegasikan semuanya,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di samping itu pihak penyelenggara juga membatasi usia setiap peserta, dimulai dari usia 12-16 tahun. Dan untuk hadiah dari masing-masing lomba mendapatkan piagam penghargaan, piala dan uang pembinaan. Setiap lomba diambil 1 hingga 3 penampil terbaik.

Disinggung kriteria penilaian yang paling berpengaruh dari salah satu lomba, ia mengungkapkan setiap peserta harus bisa beretika, baik dari pakaian dan sikap di depan juri. “Adab/etika dalam berpidato dan bershalawat harus sopan, juga perform yang bagus,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Fragmen, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 07 Juli 2014

Lapis Baru Pemikiran NU

Di dalam Nahdlatul Ulama (NU) kini muncul lapis baru pemikiran Islam. Lapis ini merupakan generasi ketiga setelah liberalisme Islam dan post-tradisionalisme Islam.

Menariknya, lapis ini mendasarkan diri pada pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) muda, yang menyeimbangkan tradisi-modernitas dalam kerangka rasionalitas Islam.



Lapis Baru Pemikiran NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lapis Baru Pemikiran NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lapis Baru Pemikiran NU

Seperti diketahui, sejak akhir dekade 1990 terjadi “bom intelektualisme” NU. Bom yang diramalkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) ini mengacu pada apa yang oleh Greg Barton sebut sebagai neo-modernisme Islam. Yakni corak pemikiran Islam yang menggerakkan modernisasi berbasis tradisi Islam. Dalam perkembangannya, neo-modernisme ini kemudian mengeras menjadi liberalisme Islam yang diusung oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Inilah lapis pertama pemikiran NU.

Sebagai lapis pemikiran, liberalisme Islam lahir dari dua konteks: internal dan eksternal. Konteks internal menunjukkan keberhasilan “pembaharuan Islam” yang dilakukan Gus Dur sejak dekade 1980, sehingga melahirkan para santri pesantren yang “melek modernitas”. Keranjingan anak muda NU dalam melahap pemikiran Barat membuahkan lompatan pemikiran yang oleh Cak Nur disebut “bom intelektual” itu. Karena “pembaruan Islam” Gus Dur mengarah pada pesantren, maka kritik liberalisme NU pun tertembak pada tradisionalisme (Islam) pesantren.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu konteks eksternal mendedahkan bangkitnya fundamentalisme Islam yang merebak pasca Reformasi 1998. Liberalisme Islam hadir sebagai penyeimbang atas “sayap kanan” ini dan menghadirkan benturan antar-umat Islam, tidak hanya pada ranah pemikiran tetapi juga aksi kekerasan. Pada titik ini musuh bersama liberalisme Islam menjadi dua: tradisionalisme Islam dan fundamentalisme Islam. Hal ini terkait dengan cita liberalisme itu sendiri, yakni kebebasan individu dari otoritas agama. Di kalangan tradisional, otoritas itu terdapat pada kitab kuning, kiai dan NU. Sedang di kalangan fundamentalis, otoritas Islam terletak pada dalil sub-ordinasi nash atas akal, serta cita “negara syariat” (hakimiyat).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka, selain mendapat tentangan dari fundamentalisme, Islam liberal mendapat tentangan dari jamaahnya sendiri, yakni NU. Pada titik ekstrim, tentangan ini melahirkan fatwa haram atas liberalisme Islam oleh Muktamar ke-31 NU di Solo (2004). Pada ranah diskursif, liberalisme Islam melahirkan anti-tesisnya, berupa post-tradisionalisme Islam (postra). Inilah lapis kedua pemikiran NU.

Secara definitif, post-tradisionalisme Islam adalah upaya anak muda NU untuk membela tradisi dari liberalisasi. Istilah post sendiri dimaknai melampaui, tetapi sekaligus berpijak. Pola pemikiran ini dirujukkan pada rasionalisasi tradisi ala Abid al-Jabiri dan Gus Dur. Menurut al-Jabiri, tradisi adalah napas kehidupan yang berhembus dari masa lalu dan menapasi kekinian. Maka, upaya rasionalisasi tradisi harus dalam rangka kontekstualisasi, bukan peminggiran tradisi atas nama modernitas. Oleh karenanya, Gus Dur bukanlah neo-modernis melainkan muslim tradisionalis yang membela tradisi dari gempuran modernisasi.

Sayangnya, karena sifat dasar postra adalah counter ideology atas liberalisme Islam; bangunan metodologinya tidak tergarap. Inilah kelemahan lapis pemikiran ini yang menyudutkannya dalam kutub ideologis vis a vis ideologi “liyan”. Kecenderungan ideologis ini membuahkan romantisme tradisi, di mana tradisi NU “dilap-lap” dan dibenturkan dengan Barat. Penolakan lapis ini atas teori-teori Barat dan juga khasanah pemikiran modernis menunjukkan sikap konservatif yang terlepas dari spirit rasionalisasi tradisi dari postra itu sendiri.

Kesatuan Islam

Benturan antar-ideologi ini terjadi sejak awal dekade 2000 dan telah menyisakan involusi pemikiran NU. Mengapa? Karena sifatnya ideologis, perang pemikiran (ghazw al-fikr) di atas tidak mewariskan “bangunan metodologis”. Involusi pemikiran NU terjadi di mana masing kubu tidak mengalami perkembangan (evolusi) di dalam pemikirannya. Artinya, kubu liberal tetap dengan asumsi, paradigma dan penentuan project yang mengerucut pada dua hal: anti-fundamentalisme dan perayaan pluralisme agama. Hal serupa pada postra yang “melap-lap tradisi” dan berkutat dengan tradisionalisme NU tanpa dialog dengan modernitas.

Menariknya, di tengah situasi involutif ini, muncul genre baru yang merupakan lapis ketiga pemikiran NU. Lapis ini merupakan generasi “pelaku” postra, ketika lapis kedua menjadi “proklamator” postra. Ibarat kelahiran, jika lapis kedua hanya memberikan nama dan menetapkan urgensi kelahiran “bayi postra”. Maka lapis ketiga ini adalah “bayi postra” yang telah lahir.

Sebagaimana postra, lapis baru ini merupakan gelombang anak muda NU yang menguasai turast dan bangga atasnya. Hanya berbeda dengan lapis kedua yang ideologis, lapis baru ini bersifat rasional-ilmiah. Artinya, ia ingin membangun “bangunan ilmiah NU”, seperti merumuskan fiqh siyasah NU, konsep negara menurut NU, kesinambungan kebudayaan NU dengan Islam Nusantara, modernitas NU, dsb. Tulisan H. As’ad Said Ali (Waketum PBNU), NU dan Kebangsaan (8/02) yang mendasarkan pemikiran kenegaraan NU dari prinsip kesatuan Islam dan politik misalnya, selaras dengan lapis ini. Tulisan ini merekomendasikan “bangunan ilmiah” kenegaraan NU perspektif “Islam politik”. Karena NU merupakan gerakan Islam, ia harus merumuskan “negara Islam” nya sendiri, yang berbeda dengan negara sekular dan “negara khilafah”.

Dalam kaitan ini, lapis baru mendasarkan epistemologinya pada kesatuan pemikiran Islam Gus Dur muda. Sebuah kesatuan Islam yang merujuk pada “hubungan struktural” antara universalisme Islam, kosmopolitanisme Islam dan pribumisasi Islam. Inilah kesatuan Islam yang Gus Dur gagas di era 1970-1980. Universalisme Islam adalah pemuliaan Islam atas kemanusiaan yang melahirkan perlindungan atas Hak Asasi Manusia (HAM). Dengan cantik, perlindungan ini ditetapkan sebagai tujuan utama syariat (maqashid al-syari’ah).

Penegakan universalisme Islam ini membutuhkan Islam kosmopolitan. Yakni pertemuan Islam dengan modernitas. Mengapa? Karena perlindungan HAM di era modern hanya bisa dilakukan melalui pranata modern, seperti demokrasi, persamaan hukum dan keadilan sosial. Namun “yang universal” dan kosmopolitan ini tetap diakarkan pada kultur Islam Indonesia yang dibentuk oleh pribumisasi Islam. Jadi kesatuan Islam ini akhirnya membentuk “kesatuan segitiga”: tradisi Islam, peradaban modern dan kebudayaan Indonesia.

Berpijak pada kesatuan Islam ini, lapis baru pemikiran NU tidak akan terjebak pada liberalisme sebab ia mengarahkan modernisasi Islam demi penegakan universalisme Islam. Ia juga tidak terjebak pada ideologisasi tradisi, sebab pembangunan “bangunan ilmiah” NU dilakukan dengan “alat pengetahuan” Barat.

Pada titik inilah lapis baru merupakan sintesa yang “mengangkat ke atas” (Aufhebung) anti-tesis postra atas tesis liberalisme Islam. Inilah dialektika pemikiran NU yang merupakan proses pencarian, kritik, dan penyempurnaan anak muda NU demi pembangunan NU sebagai bagian dari peradaban Islam. ? (Syaful Arif,? Koordinator NU Studies, Jakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 28 Mei 2014

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu

Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kalam hikmahnya mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Jangan Engkau khawatirkan ketidakjelasan jalan menuju Allah, akan tetapi yang perlu Engkau khawatirkan adalah dominasi hawa nafsu yang menggerogoti jiwamu."

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu (Sumber Gambar : Nu Online)
Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu (Sumber Gambar : Nu Online)

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu

Jalan untuk menuju kepada Allah sudah terang dan jelas, karena Allah SWT telah menerangkan itu semua baik melalui diturunkan kitab, diutuskan Rasul serta ditampakkan dalil-dalil.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka karena itu tidak ada yang perlu dirisaukan tentang ketidakjelasan tanda itu, namun yang perlu dirisaukan adalah dominasi hawa nafsu yang menggerogoti jiwa sehingga seseorang terhijab dari kedekatannya dengan Allah SWT.

Setiap manusia tidak pernah lepas dari 4 kondisi dan semua itu telah dituntun jalan melalui para Rasul-nya bagaimana kita mendekatkan diri dengan Allah dalam setiap kondisi tersebut. Keempat kondisi tersebut adalah adakalanya dalam ketaatan atau maksiat, dan adakalanya dalam nikmat atau tertimpa bala.

Dalam kondisi taat dan ibadah, seorang manusia sejatinya menyadari bahwa itu semua merupakan anugerah Allah. Kita harus meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya tanpa seizin Allah. Tidak selayaknya seseorang berbangga dengan ketaatannya hingga ia lupa bahwa itu semua merupakan anugerah Allah SWT.

Dalam kondisi maksiat, jalan yang harus ditempuh oleh seorang hamba adalah beristighfar dan taubat untuk kembali kepada Allah.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak selayaknya kondisi maksiat membuat seseorang putus asa karena rahmat Allah sangatlah luas, namun tidak juga berarti ia boleh terus-terusan dalam maksiat atau menunda-nunda taubat dengan berpangku kepada rahmat Allah karena kematian bisa saja datang tiba-tiba.

?

Putus asa dari rahmat Allah dan menunda-nunda taubat menunjukkan seseorang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Dari sisi yang lain seorang hamba Allah adakalanya dalam nikmat dan adakalanya ditimpakan bala. Dalam kondisi nikmat yang dituntut adalah bersyukur sedangkan saat tertimpa bala yang dituntut adalah bersabar.

Semua tuntunan untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam berbagai kondisi sudah terang dan jelas, tinggal lagi apakah kita menempuh jalan itu atau tidak. Maka yang perlu dikhawatirkan sebenarnya adalah pengaruh hawa nafsu yang membuat kita terhijab dan lalai dari menempuh jalan tersebut.

Syaikh Ahmad bin Hadhrawaih Al-Balkhi berkata: "Jalan sudah jelas, Kebenaran telah nampak, Sang Penyeru (Nabi) telah menyampaikan, maka tidak ada yang merasa heran setelah hal tersebut ada kecuali orang-orang yang dibutakan mata hatinya."

T. Rajudin, Santri Mudi Mesra Samalanga Aceh.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sunnah, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock