Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Departemen Seni dan Budaya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Purworejo, Jawa Tengah, ikut ambil bagian dalam Festival Musik Akustik yang digelar dalam rangka memperingati HUT WR Supratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing dan monumen WR Soepratman di Kota Purworejo, .

Selain menampilkan lagu wajib, IPNU Band yang digawangi oleh Fikri Amrillah juga menyanyikan lagu karyanya sendiri berjudul "Purworejoku.

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Ketika lagu Purworejoku dinyanyikan, sorak-sorai penonton memecah suasana menjadi ramai. Tak terkecuali, Mantan Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, ikut standing uplaus atas lagu itu. Bahkan, di akhir acara menyempatkan menyambangi personil IPNU Band. "Saya minta liriknya ya, lagu tadi benar-benar bagus." katanya dilanjutkan kesiapan IPNU Band menyerakhannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sofyan Rizali Zain, keikutsertaan IPNU Band dalam event ini bertujuan mengenalkan lebih jauh dengan masyarakat. Selain itu, adalah memicu mental kader di berbagai pentas.

"Kita ingin kader memiliki mental bernyanyi yang mumpuni. Lagu yang dibuat rekan-rekan juga konstruktif, edukatif dan tidak cengeng seperti kebanyakan lagu band dewasa ini," ungkapnya. Meski tak dapat juara, imbuhnya, para personil tetap semangat untuk bermusik sebagai media ekspresi jiwa dan menyampaikan pesan positif kepada khalayak luas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tempat terpisah, Kasi Kerjasama dan Promosi Diskoperindagpar Purworejo Dyah Woro S mengatakan, event ini digelar untuk memeringati HUT WR Soepratman. Event pertama berupa lomba musik akustik akan diadakan pada 16 Maret di Somongari dan event kedua berupa resepsi peringatan HUT WR Soepratman di kawasan Monumen WR Soepratman pada 19 Maret.

"Untuk lomba musik akustik kami adakan di Somongari, di jalan masuk menuju rumah tempat lahir WR Soepratman. Hal ini kami lakukan sekalian untuk memromosikan obyek tersebut kepada masyarakat. Kami harapkan ini bisa menjadi semacam brand untuk memerkenalkan obyek bersejarah tersebut," jelas Woro.

Kepala Bidang Pariwisata Diskopperindagpar Purworejo, Lilos Anggorowati menambahkan, untuk event pada 19 Maret akan berfokus pada resepsi peringatan HUT Wr Soeprartman. Dalam kesempatan tersebut, selain penyerahan hadiah, para pimpinan daerah misalnya Bupati akan membacakan puisi mengenai WR Soepratman.

"Meski masih sederhana, namun kami harap event ini bisa kembali mengingatkan masyarakat akan jasa WR Soepratman yang juga putra daerah Purworejo," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Jadwal Kajian, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Dur Tolak Jadi Capres, Pilih Besarkan PKB

Lebak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kini menolak dicalonkan kembali menjadi Presiden pada pemilihan umum (pemilu) presiden tahun 2009 mendatang, karena merasa disakiti dengan dilengserkan saat menjabat presiden sebelumnya.

Gus Dur menjawab ribuan dukungan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) DPW Provinsi Banten, di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (15/11), menyatakan keengganan dicalonkan sebagai presiden kembali walaupun dukungan untuk itu cukup kuat.

Kamis, 25 Januari 2018

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Baru kali ini Luthfi membawaku keluar dari kamar asramanya, menikmati angin pagi di dataran tinggi Sukorejo. Selama tiga tahun ini aku selalu tersimpan rapi dalam lemarinya, di dekat foto mimi

Setelah semua kegiatan pesantren selesai, ia baru akan masuk kamar, memanjatkan doa sebelum tidur, menjamah butiran-butiran tubuhku dengan asma Allah. Terkadang ia menitihkan air mata kala kerinduan itu tak bisa dibendung lagi, kerinduan pada seorang pahlawan dalam hidupnya, yang membesarkannya seorang diri.

Di Bawah Langit Baitur-Rahman (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Bawah Langit Baitur-Rahman (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Semua pekerjaan pagi ini telah Luthfi selesaikan. Sebagai santri khodim, ia selalu bangun paling awal dan beristirahat paling akhir. Selalu ada kekaguman di matanya tiap kali melihat daun-daun yang hijau tumbuh dengan riang, air yang mengalir tiap waktu, dan udara yang berhembus menerobos tiap pori-pori kulitnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Luthfi, kau lihat Rafi? Sejak sahur tadi saya tidak melihatnya, dia juga tidak ikut mengaji lagi pagi ini, kemana anak itu?” 

Suara Kiai Taufiq memecah renunganku, aku masih di genggaman Luthfi, sayangnya Kiai Taufiq tidak melihatku, jika ia melihatku pasti ia akan mengenali Luthfi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Enggih, Kiai, nanti saya cari.”

“Kamu yang rajin, jangan tinggal ngaji, jangan lelah nuntut ilmu,” Kiai Taufiq tersenyum sembari menepuk pundak Luthfi, pesan yang selalu sama, “Jangan lelah nuntut ilmu!”

Luthfi pun bergegas mencari sahabatnya, Rafi, yang memang agak susah bangun pagi untuk mengikuti pengajian selepas shalat Shubuh, tapi tampaknya Luthfi sudah tahu di mana tempat persembunyiannya.

“Astaghfirullah, Rafi, kebiasaan buruk toh ya diubah, Kiai Taufiq cari kamu lagi,” Luthfi menyingkirkan ember-ember yang bertumpuk di tempat persembunyian Rafi, memang, ia kerap bersembunyi di bawah tempat tidurnya yang selalu ditutupi deretan ember-ember agar santri yang lain tidak mengetahui keberadaannya.

“Jangan bangunkan saya dulu, Luth,” suaranya masih lemas bahkan matanya masih tertutup rapat.

“Cepat bangun, bukannya kau bilang hari ini kau akan ke kota?”

“Hah? Kota? Ya, kota, aku harus mengambil kiriman ayah,“ seketika Rafi terbangun.

Daerah Pondok Pesantren Baitur-Rahman memang cukup terpencil, istilah bank masih disebut dengan kota, karena bank hanya ada di kota. Mungkin hari ini untuk pertama kalinya aku akan melihat hiruk pikuk Sukorejo lagi, seperti tiga tahun lalu ketika pertama kali Luthfi menginjakkan kakinya di sini. Kemudian bertemu dengan Kiai Taufiq dan akhirnya dibawanya ke Pondok Pesantren Baitur-Rahman, milik kakaknya, Kiai Rahman. Namun sejak saat itu aku hanya bisa membisu, melihat dari sedikit celah di kantong baju Luthfi, ingin aku teriak “Tolong lihat aku!” Tetap saja tidak bisa, aku tetap hanya menjadi saksi mati di antara mereka.

“Raf, apa tidak sebaiknya kita izin dulu pada Kiai taufiq?” Luthfi berjalan dengan cepat sambil membujuk Rafi.

“Sudahlah, Luthfi, hanya sebentar, dua jam, aku janji,” jawab Rafi.

Sebenarnya satu kalipun Luthfi tidak pernah melakukan pelanggaran, “Cukup kali ini saja Raf, sudah.”

Rafi dan Luthfi kemudian berjalan meninggalkan komplek pesantren dengan gelisah dan tergesa-gesa. Di separuh langkah mereka bertemu dengan salah satu santri yang merasa curiga. 

“Rafi, Luthfi, tunggu!,”

Tampak wajah Luthfi yang ketakutan, sebaliknya Rafi yang merasa tenang-tenang saja. 

“Kami akan membeli kitab,” Rafi menjawab.

“Benarkah? Ya sudah, pergilah,” santri itu percaya, pasti karena melihat Rafi bersama Luthfi, Luthfi santri khodim, dia sering membelikan kitab untuk keperluan pesantren, aku baru melihat wajah Luthfi setegang itu, dia bukan orang yang pandai berbohong.

***

“Raf, mesin apa toh ini, bisa ngeluarin uang?” wajah polos Luthfi yang penasaran dengan apa yang dilihatnya.

“Ini namanya ATM Luth, ayahku mengirimkan uang dari Jakarta. Nah, saya bisa ngambil lewat mesin ini, tapi saya harus punya kartu ini, kartu ATM,” Rafi menyodorkan kartu ATM-nya ke hadapan mata Luthfi.

“Canggih ya zaman sekarang Raf, uang bisa berjalan dari Jakarta ke Sukorejo lewat mesin macam ini,” Luthfi masih kebingungan, Rafi hanya tertawa.

“Saya anak tunggal, Luth, tiap hari orangtua saya hanya sibuk bekerja, bekerja dan bekerja, sampai akhirnya saya dipesantrenkan. Sebenarnya saya tidak mau jadi santri yang bandel, Luth, tapi semua orang terlanjur men-cap saya seperti itu, jadi saya memilih apa yang orang-orang tuduhkan.” 

Bukan hanya Luthfi yang terlihat iba, bahkan akupun merasa iba padannya, Luthfi masih menggenggamku erat.

“Seharusnya kamu bersyukur, Raf, karena kamu masih punya orangtua, saya yatim piatu, mimi meninggal di Cirebon saat usia saya baru 10 tahun.  Kalau mama,  kuburannya pun saya tak pernah melihat. Saya hanya tahu namanya, sama seperti namaku, Luthfi Zidni.”

Luthfi, mungkin hanya akulah saksi tentang dirimu sejak lahir, suatu saat nanti, kau pasti akan tahu siapa ayahmu.

Rafi pun iba, ia mendaratkan tangannya ke bahu Luthfi, kemudian menunjuk beberapa spanduk calon presiden yang terpapar di jalanan. 

“Lihat Luth, banyak orang sedang memperebutkan tahta, saya tidak mengerti, banyak orang yang menjadikan kedudukan adalah hal yang sangat penting.”

“Menurut saya, dalam hidup seseorang pastilah ada yang mereka kejar dan dijadikan kebiasaan.”

“Contohnya?”

“Ya, orang-orang yang mengejar harta, kedudukan, cinta, atau agama. Contohnya orang-orang yang setiap hari bekerja, sampai melupakan segalanya, karena yang mereka cari adalah harta.”

“Bagaimana dengan agama?”

“Kamu pernah lihat orang yang setiap hari hanya menghabiskan waktunya dengan berpuasa, shalat dan mengaji, sementara dia juga melupakan hal lain yang juga menjadi kewajibannya. Dalam hidup semua harus seimbang, Raf, Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan, walaupun dari segi ibadah.”

“Kalau kamu, apa yang ingin kau kejar, Luth?”

“Saya? Kamu lihat Kiai Taufiq, Raf? Beliau itu seorang yang taat beribadah, menjadi pemimpin pesantren. Beliau juga berladang dan memiliki istri yang shalihah seperti Nyai Fatimah.”

“Dan putri yang cantik seperti Ning Annisa kan?” Rafi menggoda, Luthfi tersenyum.

“Ya sudah sekarang antar aku beli kitab Taklim-Muta’alim,  Luth.”

“Kitab?”

“Kau ingat apa yang kujawab saat ada santri yang bertanya kita hendak kemana? Aku tak mau berbohong, Luth.” 

Tawa mereka pun pecah di antara panasnya Sukorejo di bulan Ramadan.

***

Kulihat, Kiai Taufiq sudah menunggu di pintu masuk pesantren, tubuhnya yang ditegakkan berhasil membuat Luthfi dan Rafi menjadi ketakutan, tiap butir tubuhku digenggamnya, bermandi keringat.

“Dari mana kalian berdua?”

Aku tahu Luthfi semakin gusar saat mendengar pertanyaan Kiai Taufiq.

“Ka... kami dari kota, Kiai,” Rafi menjawab dengan gemetar.

“Sekarang kalian shalat Ashar, setelah itu isi semua bak mandi santri dan bersihkan surau, semuanya harus sudah selesai sebelum waktu berbuka puasa!”

“Enggih Kiai,” Mereka berdua menjawab.

Aku tahu, ini kali pertamanya Luthfi di ta’zir selama menjadi santri di Baitur-Rahman.

***

Semua bak mandi telah diisi penuh oleh Luthfi dan Rafi. Kasihan mereka berdua, terlihat sangat lelah. Andai aku bisa membantu. 

Kiai Taufiq yang sejak  Ashar di dalam surau, masih memperhatikan mereka berdua. Aku tahu bagaimana cara membantu Luthfi, mudah-mudahan ini cara yang tepat. Aku menjatuhkan diri ke tanah, nyaris terinjak santri lain. Beruntung Luthfi segera mengambilku, ia membersihkanku dengan usapannya yang halus. Ternyata usahaku tidak sia-sia, Kiai Taufiq melihatku.

“Luthfi! kemarilah,” Kiai Taufiq memanggil Luthfi ke surau, aku masih sigap di tangannya.

Mereka berdua pun duduk, Kiai Taufiq membuka pembicaraanya.

“Tiga tahun lalu saat pertama kali kita bertemu di terminal Sukorejo, saya tidak menanyakan nama orangtuamu, karena kau bilang kau yatim piatu, siapa nama ibumu, Nak?”

“Sulastri, Kiai,” Luthfi tidak mengerti kenapa Kiai Taufiq tiba-tiba menanyakan hal tersebut.

“Pada tahun 1986, pesantren ini terletak di Getas, di kaki Gunung Rogo Jembangan. Dulu nama pesantren ini adalah Annur, almarhum abah yang mendirikannya. Kemudian dilanjutkan Kiai Rahman, kakakku. Kau pernah bertanya tentang lukisan di rumah Kiai Rahman, itu adalah  Nyai Aisyah,  istrinya, dan Luthfi Zidni, adalah putranya. Luthfi menikah dengan seorang santriwati khodimah, sejak kecil ia tinggal bersama kami, karena ia yatim piatu, namanya Sulastri.”

Aku bahagia, kebenaran akan terungkap, aku tahu Kiai Taufiq adalah orang yang peka. 

“Maksud Kiai bagaimana?” Luthfi masih belum mengerti.

“Sejak awal aku melihatmu, hatiku tergerak, terlebih saatku mendengar namamu. Delapan belas tahun yang lalu pesantren kami di Getas mengalami persengketaan tanah, padahal di mata hukum tanah itu sah milik keluarga abah. Hingga suatu malam terjadi kerusuhan, orang-orang membakar pesantren Annur. Saat itu Luthfi dan Nyai Aisyah sedang berada di dalam surau, mereka terjebak api, sementara aku dan Kiai Rahman dihakimi oleh benyak orang. Kiai Rahman menyuruh Sulastri untuk menyelamatkan diri dan anaknya, yang kala itu masih bayi merah, bahkan belum sempat diberi nama. Kiai Rahman memberinya sebuah tasbih yang beliau buat sendiri. Butirannya terbuat dari kayu yang terdapat di hutan Gunung Rogo Jembangan. Butir kesebelas diukir nama Rahman Zidni dan butir ke-77 diukir nama Luthfi Zidni. Saya masih paham betul tasbih itu. Setelah kerusuhan itu usai, Kiai Rahman mendirikan pesantren di Sukorejo, dengan nama Baitur-Rahman, dan sejak itu pula kami tidak pernah bertemu lagi dengan Sulastri, dan anaknya,”

Seketika Kiai Taufiq melihatku, memang akulah yang ia maksud. Butiran ke-11 dari tubuhku terukir nama Rahman Zidni, dan butiran ke 77 terukir nama Luthfi Zidni. Kiai Taufiq memeluk Luthfi erat sekali. Ia langsung membawa Luthfi ke hadapan Kiai Rahman yang tak pernah keluar dari kamarnya karena lumpuh. Bukan hanya mereka yang bahagia, bahkan kerinduanku terhadap Kiai Rahman yang dulu dengan sepenuh hati mengukir namanya di  tubuku, akan selalu membekas.

Ning Annisa melihat kami begitu haru, ia menatap dari balik pintu, aku percaya, sepahit apapun, Takdir Tuhan adalah yang terbaik dan akan menjadi indah.

LUSY SYARIFAH, adalah siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat. Ia aktif menulis di MadingSekolah.Net | Portal Pelajar Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Keluarga Besar nadlatul Ulama (KBNU) Kabupaten Tasikmalaya bersatu padu menyatakan sikap menolak atas kebijakan Full Day School (FDS) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Belasan ribu KBNU Tasikmalaya melakukan aksi damai di depan Kantor Setda dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya Selasa (15/8).?

Peserta aksi itu terdiri dari seluruh banom NU mulai dari IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat, Pagar Nusa dan organ-organ lainnya yang ada di tubuh organisasi NU Kabupaten Tasikmalaya, serta para aktivis PMII.?

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)
Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School… (Sumber Gambar : Nu Online)

Eta Bubarkanlah… Eta Bubarkan Full Day School…

“NU mendesak Presiden agar mencabut dan membatalkan Permendikbun Nomor 23 Tahun 2017 karena peraturan itu akan mengikis dan mematikan eksistensi madrasah diniyah yang ada di Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Atam Rustam sebagaimana dilaporkan salah seorang peserta aksi, Ali Roswan Fauzi ketika dihubungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dari Jakarta.?

Menurut Ali, Kiai Atam, pada aksi tersebut akan menuntut Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana penambahan jam belajar sekolah di Kabupaten Tasikmalaya. Karena kebijakan itu dinilai akan mematikan eksistensi madrasah diniyah.?

Di antara para peserta aksi tersebut adalah santri-santri dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning yang dipimpin langsung pengasuh pondok pesantren, KH Busyrol Karim. Para santri bersarung, berpakaian putih-putih, ada yang berkopiah hitam dan putih. Mereka berjalan pelan sambil bernyanyi diiringi dengan iringan drum. Sebagian santri mengibar-kibarkan bendera NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ali kemudian mengirimkan video berdurasi 1.34 menit yang mendokumentasikan aksi para santri Haur Kuning itu.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hiji, dua, tilu,” kata salah seorang memberi komando kepada teman-temannya.?

“Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School. Eta bubarkanlah, eta bubarkanlah, eta bubarkan Fullday School…demi FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah, red.).” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Sekitar 32000 warga Tegal melakukan aksi menolak Aksi tolak full day school (FDS). Merek adalah pengurus dan anggota banom dan lembaga NU seperti Muslimat, Fatayat, GP Ansor, PMII, IPNU, IPPNU, LP Maarif, RMI, FKDT Kabupaten Tegal.

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Ancam Madin, 32 Ribu Warga Tegal Tolak FDS

Pada aksi tersebut, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, H Akhmad Wasyari mengungkapkan, Madrasah Diniyah (Madin) adalah kawah candradimuka dalam pembentukan karakter bangsa.?

"Jika ruang gerak madrasah dipersempit karena pemberlakukan lima hari sekolah (FDS), maka negara tidak berpihak kepada pembentukan karakter bangsa," tegas H Wasyari saat menyampaikan pernyataan sikapnya pada Aksi Tolak Full Day School di depan Taman Rakyat Slawi, Jumat (25/8)

Ia juga mendesak agar pemerintah pusat segera membatalkan kebijakan tersebut. Dia mengungkapkan, warga Kabupaten Tegal juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Untuk itu, dia meminta agar Mendikbud mendengarkan aspirasinya dan ditindaklanjuti.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sela aksi, H Wasyari yang juga menjabat Sekretaris Dinas Dikbud itu menyampaikan surat pernyataan sikap PCNU Kabupaten Tegal kepada Bupati Enthus Susmono dalam bentuk besar dan eksklusif yang isinya menolak kebijakan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang pemberlakuan lima hari sekolah.

Senada Rais Syuriah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman juga meminta agar FDS segera dibatalkan. Sebab, kebijakan tersebut dapat mengancam eksistensi di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) yang dilaksanakan setiap sore.

Padahal, menurut KH Chambali, madrasah Diniyah merupakan pendidikan dasar agama yang penting untuk membekali generasi muda dengan Akhlakul Karimah.

"Tanpa lestari dan eksisnya madrasah, maka fondasi generasi muda tidak bisa terlaksana. Mari pertahankan MDA. Permendikbud (Nomor 23 Tahun 2017) harus dihapus," tegasnya. (Hasan/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Formalisasi agama dengan alasan untuk menciptakan masyarakat yang Islami ternyata memiliki potensi yang besar untuk disalahgunakan sebagai alat untuk memberangus para oposan. Menurut NU, sebenarnya yang penting mengambil substansi ajaran Islamnya, bukan simbol-simbolnya saja.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj menanggapi maraknya pembuatan perda syariat di sejumlah daerah yang ditakutkan sebagai awal untuk mengganti dasar negara kita menjadi negara Islam. Menurut Kang Said, dalam sejarah formalisasi Islam, hal tersebut telah terbukti. Para oposan selalu dianggap kafir, zindiq, padahal bukan masalah kafirnya, tapi masalah kritisnya.

“Karena negaranya negara Islam, maka yang menentang Islam berarti kafir, lha begitu….Korbannya banyak, Hallaj dibunuh karena dibelakangnya ada orang-orang yang teraniaya, orang kulit hitam yang didholimi. Salah seorang pujangga, Sholeh bin Abdul Kuddus, juga jadi korban.  Abdullah bin Mukoffak juga dibunuh dengan alasan kafir karena menentang negara.Islam,” tuturnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal beberapa waktu lalu. 

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)
Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan (Sumber Gambar : Nu Online)

Formalisasi Agama Bisa Jadi Alat Berangus Oposan

Hal yang sama juga berlaku di Saudi Arabia saat ini. Kalau ada yang mengkritik pemerintah dianggap kafir, zindik karena menentang pemerintah Islam. “Padahal bukan masalah agama, tetapi masalah perilaku penguasa yang tidak benar. Senjata yang paling efektif itu agama. Allahu Akbar…. Islam, padahal mereka dibayar kan,” tuturnya.

 

Perda Anti Maksiat

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, Kang Said yang juga lulusan Universitas Ummum Qura Makkah tersebut berharap agar beberapa perda yang dinamakan perda syariat tersebut diganti saja dengan perda anti maksiat.

“Aturan yang melarang tentang perjudian, narkotika, miras dan lainnya, ini gak usah bilang syariat Islam, ini perda anti maksiat. Menggunakan kata syariat Islam ini menyebabkan ekskusif, kemudian resistensi dan selanjutnya bisa menimbulkan retaknya bangsa ini,” imbuhnya.

Berbagai istilah seperti Tim Pembela Islam untuk membela salah satu tokoh di pengadilan juga bisa menimbulkan masalah. “Membela Syaikh Abu Bakar Baasyir sebut saja sebaga tim pembela Abu Bakar Baasyir, gak usah disebut tim pembela Islam. Nanti akan timbul tim pembela Kristen, Tim pembela Buddha, tim pembela Hindu. Ini hak mereka untuk membela, tapi jangan sebut agama, ini bukan negara agama. Kalau ada orang China, Kristen perilakunya baik, ya kita bela,” tegasnya. (mkf)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

? Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Umat Islam khusunya dan kaum beragama di Indonesia umumya diimbau untuk bersatu-padu bahu-membahu membangun peradaban dan tatanan masyarakat yang lebih baik dan maju. Peradaban yang baik tidak akan pernah dicapai oleh masyarakat yang terpecah-belah.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini di acara maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Majlis Darul Hasyimi Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Mustasyar PBNU Habib Luthfi bin Yahya (6/8). Dalam sambutannya, pria kelahiran Cirebon tersebut menjelaskan bahwa perbedaan itu hal yang lumrah. Perbedaan tidak boleh dipertajam. Justru sebaliknya, perbedaan bisa dijadikan modal untuk mencari persamaan satu dengan lainnya.

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

“Sudah saatnya kita tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengurusi hal yang tidak terlalu urgen. Bukan saatnya lagi membahas hal yang remeh-temeh. Kita harus mulai lebih memikirkan hal yang dapat membangun umat seperti pembangunan sektor ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan,” jelas Helmy.

Mengenai konflik bernuansa agama belakangan ini, Helmy menjelaskan bahwa yang paling penting untuk didahulukan adalah sikap waspada dan hati-hati dalam memandang sebuah peristiwa. “Kita tidak boleh gegabah menyimpulkan sebuah peristiwa. Harus jelas ditelusuri kronologinya agar kita tidak salah menyimpulkan,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain dihadiri langsung oleh Habib Luthfi bin Yahya, majlis maulid tersebut juga dihadiri oleh Habaib lainnya di sekitar Jakarta beserta ratusan jamaah. Habib Luthfi berpesan agar bangsa Indonesia bersetia kepada Pancasila. ?

“Pancasila merupakan manifestasi dari penafsiran terhadap ajaran agama dan bagaimana manifestasi tersebut bisa terimplementasikan guna menuju kemanusiaan yg adil dan beradab,” tandas Habib Luthfi. (Fariz Alniezar)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Dakwah Tak Hanya di Masjid, Tapi di Lapangan Voli

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah mengadakan lomba bola voli dan tenis meja. Kegiatan yang berlangsung di lapangan voli Desa Sisalam tersebut diikuti 22 peserta perwakilan dari Pimpinan Ranting.

Ketua Panitia Wachyudi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-71. “Ini semata–mata guna memeriahkan dan mengingat bahwa negara kita sudah 71 tahun merdeka dan generasi muda wajib berjuang dalam mengisi kemerdekaan termasuk di bidang olahraga,“ terang Yudi pada lomba yang digelar 28 Agustus tersebut.

Dakwah Tak Hanya di Masjid, Tapi di Lapangan Voli (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Tak Hanya di Masjid, Tapi di Lapangan Voli (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Tak Hanya di Masjid, Tapi di Lapangan Voli

Sementara Ketua PAC GP Ansor Wanasari Bayu Rohmawan menambahkan, sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama untuk menaungi pemuda, GP Ansor punya peranan untuk manyalurkan bakat dan minat anggotanya dalam bidang olahraga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dakwah Ahlussunah wal-Jama’ah An-nahdliyah tidak hanya melalui forum keagamaan saja seperti di masjid dan majelis ta’lim, namun juga melalui forum kesenian dan olahraga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Mudah–mudahan pemuda yang mengikuti lomba bola voli dan tenis meja? selanjutnya bisa menjadi pengurus GP Ansor di desa atau Ranting yang sedang vakum,“ tutup Bayu pada lommba yang berlangsung seharian tersebut.

Pemenang lomba bola voli yaitu Sisalam sebagai juara 1, juara 2 tim dari Keboledan, dan juara 3 Klampok dan Sigedeg Tanjungsari. Sementara untuk tenis meja juara 1 diraih Medi Utama (Sawojajar), juara 2 Sukirman (Sidamulya) serta juara 3 diraih Tasroi (Sisalam) dan Mashuri (Glonggong Dukuh).

Turut menghadiri acara tersebut, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Brebes Ahmad Munsip, Sekretaris MWCNU Wanasari Takmuri, Kepala Desa Sisalam Darwinto. (Bayu/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?


Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
"Pendidikan semakin mahal, buku berganti-ganti. Belum iuran ini dan itu, susah !" ungkap seorang ibu rumah tangga di Kramat Raya, kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Senin (1/8) ketika mengantar anaknya sekolah.

Mira, nama ibu itu juga mengeluhkan masih adanya kewajiban anak-anak mereka yang mesti membeli buku pelajaran dari sekolahnya yang umumnya harus pula sekaligus dibayarkan pada awal tahun ajaran baru ini.

Untuk pelajar SD, misalnya, paling tidak harus disediakan buku matematika (seharga Rp 25.000), bahasa Indonesia (Rp 15.000), IPA (Rp 15.000), IPS (Rp 15.000). Belum lagi buku-buku yang lain. Paling tidak, untuk keperluan buku-buku pelajaran anak SD diperlukan biaya antara Rp 125.000 hingga Rp 170.000.

"Padahal dulu buku-buku sekolah relatif murah dan bisa dipakai secara turun-temurun, tapi sekarang tiap semester bukunya beda-beda, mahal lagi," papar Mira yang memiliki 3 putera dan 1 puteri yang masih duduk di SD dan SMP ini.

Keluhan ini, parahnya ditengah rencana pemerintah menerapkan kebijakan  Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang semestinya diikuti dengan penghentian berbagai pungutan bagi siswa yang memberatkan para orangtua itu.

Menanggapi kondisi ini pegiat di dunia buku, G Aris Buntaran menilai hampir tak ada Presiden yang memberi perhatian khusus terhadap dunia perbukuan, selain Soekarno. Presiden Soekarno dalam sebuah rapat akbar memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Priyono, ketika itu, untuk menerbitkan buku murah, kenangnya.

Setelah itu, tak ada lagi rezim yang memberi perhatian untuk menerbitkan buku murah. Padahal, kata Aris, India saja memiliki political will untuk menerbitkan buku murah. Dengan kebijakan itu, rakyat bisa membaca buku tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam.

Bila negara mau serius, buat saja kertas khusus yang ringan dan murah khusus digunakan untuk mencetak buku murah, paparnya. Untuk kalangan masyarakat yang mampu, bisa membeli buku yang sama namun dengan kualitas kertas yang lebih baik. Hal itu, sudah berlangsung di India.

Hal senada juga dikemukakan Kabid Hukum Humas dan Kerjasama Antarlembaga Ikapi Cabang DKI Jakarta, HR Harry. Menurutnya, sebenarnya harga buku bisa lebih murah. Asalkan, imbuh dia, beberapa komponen bahan pembuat buku seperti kertas dan tinta disubsidi pemerintah.

Pemerintahkan memiliki beberapa perusahaan kertas. Buat saja kertas khusus yang disubsidi untuk menerbitkan buku murah, paparnya. Ia pun berharap agar royalti penulis yang hanya 10 persen dari oplah buku ditingkatkan, dan pajak buku 10 persen dihapus saja. Pemerintah bisa mengalokasikan dana kompensasi BBM untuk buku murah. tandasnya.

Sementara itu menurut sumber Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang enggan disebutkan namanya mengatakan, mahalnya harga buku sekolah karena masuknya mavia percetakan ke lingkungan Diknas dengan proyek-proyek perbukuan yang disusun berdasarkan kurikulum Diknas. "Mavia ini bekerjasama dengan orang dalam, dan ini sudah berlangsung lama," tandasnya tanpa mau menyebutkan siapa mavia itu.(cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?

Minggu, 17 Desember 2017

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... kabar duka bagi warga NU karena salah seorang panutannya, KH Abdul Basith wafat di Dubai, Uni Emirat Arab pada Rabu (15/3) sekitar pukul 11.30 waktu setempat.

Ia adalah Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug, dan Ketua Majelis Silaturahim Pondok Pesantren dan Majelis Talim Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Menurut Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi Daden Sukendar, Ajengan Basith sedang menjalankan ibadah umrah bersama Bupati Kabupaten Sukabumi H. Marwan Hamami dan 18 orang lain. Sebelum ke Arab Saudi, rombongan berziarah ke Yordania. Kemudian transit di Dubai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketika di Dubai tersebut, lanjut dia, yang mendapat informasi dari salah seorang rombongan, Ajengan Basith meninggal karena serangan jantung. Ia sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit, tapi jiwanya tidak tertolong. (Abdullah Alawi)

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Baca juga:? Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asyari, KH AsyAd Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asyari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asyari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asyari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. "Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asyari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim.

Tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak tahun 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan. Kini usia Ponpes Al-Hamdaniyah telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih. KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah, yakni silsilah ke-27.

“Dulu asalnya daerah ini rawa dan oleh beliau (KH Hamdani) berdoa minta kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawah bisa menjadi tanah,” ungkap Gus Hasyim Fahrur Rozi.

Pondok ini masih memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan bangunan para santrinya. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sudah memprihatinkan. Namun, Pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukura ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahrat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh Ponpes.

Namun sayang, keunikan pondok ini yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al Hamdaniyah ini dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH. Hamdani membangun Pondok, dia mendatangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan perahu besar/kapal. Namun ditengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi Allah Maha Besar, kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area Pondok.?

Di Pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, diantaranya adalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lain.?

Adapun urutan kepengurusan Pondok adalah sebagai berikut:

Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani) ?

Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin. ? ? ? ? ? ?

Periode ? V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.

Periode ? VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i . ?

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

Di suatu daerah terdapat seorang yang dalam waktu cukup lama dikenal sebagai ahli ibadah (‘abid). Suatu hari sekelompok orang datang kepadanya seraya memberi tahu bahwa di sekitar tempat itu ada segolongan orang yang menyembah pohon, bukannya menyembah Allah. Mendengar informasi demikian, Sang ‘abid marah. Kemudian dia mengambil kapaknya dan pergi menuju pohon dimaksud untuk menebangnya.

Tetapi Iblis yang menampakkan dirinya sebagai seorang Syekh menghadang langkah si ahli ibadah.

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Ahli Ibadah Kalah Tanding Melawan Iblis

"Ke mana kamu akan pergi,” tanya Iblis.

"Aku akan menebang pohon yang disembah itu,” kata si ahli ibadah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Apa kepentinganmu dengan pohon itu? Kamu telah meninggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu sendiri, lalu kamu meluangkan waktu untuk selain itu,” selidik Iblis.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini adalah bagian dari ibadahku juga,” jawab si ‘abid.

"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu untuk menebangnya."

Lalu Iblis menyerang sang ahli ibadah. Tanpa kesulitan sang ‘abid berhasil mengalahkan Iblis, membantingnya ke tanah dan akhirnya dapat menduduki dadanya.

"Lepaskanlah aku, agar aku dapat berbicara kepadamu,” pinta Iblis.

Sang ‘abid pun berdiri. Lalu Iblis berkata:

"Wahai si ‘abid, sesungguhnya Allah telah melepaskan urusan ini darimu dan tidak mewajibkannya atasmu. Kamu tidak akan menanggung dosa orang lain. Allah pun mempunyai para nabi di segala penjuru bumi. Seandainya Allah menghendaki, niscaya dia akan mengutus mereka kepada para penyembah pohon ini dan memerintahkan mereka untuk menebangnya."

"Aku tetap harus menebangnya,” tutur ahli ibadah bersikukuh.

Iblis pun kembali menyerang si ‘abid. Namun kembali dengan mudah si ‘abid dapat mengatasi perlawanan Iblis, dibantingnya ke tanah lalu diduduki dadanya. Akhirnya Iblis tidak berdaya dan berkata kepada sang ‘abid:

"Apakah kamu mau menerima penyelesaian antara aku dan kamu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu.

"Apa itu?” Tanya sang ahli ibadah.

"Lepaskanlah aku suapaya aku dapat mengatakannya.”

Sang ‘abid pun melepaskannya. Lalu iblis berkata:

"Kamu adalah seorang laki-laki miskin. Kamu tidak memiliki apa-apa. Kamu hanyalah beban yang memberatkan manusia. Barangkali kamu akan berbuat baik kepada kawan-kawanmu, membantu tetangga-tetanggamu, dan tidak lagi membutuhkan orang lain.

"Benar,” si ‘abid mengiyakan.

"Pulang dan tinggalkanlah urusan ini. Setiap malam aku akan meletakkan dua dinar di bawah kepalamu. Saat pagi hari kamu bisa mengambilnya lalu membelanjakannya untuk dirimu dan keluargamu, serta menyedekahkan untuk teman-temanmu. Hal itu akan lebih bermanfaat bagimu dan bagi kaum muslimin ketimbang menebang pohon yang disembah ini. Apabila kamu menebangnya, hal itu tidak akan membahayakan mereka dan tidak pula memberi manfaat atas teman-teman muslim kamu,” ujar Iblis menjelaskan.

Sang ‘abid merenungkan apa yang diucapkan Iblis, lalu berkata, "Syekh ini benar. Aku memang bukanlah seorang nabi sehingga aku tidak wajib menebang pohon ini. Lagi pula Allah pun tidak memerintahkan aku untuk menebangnya sehingga aku tidak akan berdosa apabila membiarkannya. Dan apa yang disampaikannya memang lebih banyak manfaatnya.”

Setelah itu, Iblis bersumpah dan berjanji kepada sang ‘abid akan memenuhi komitmennya itu. Sang ‘abid pun pulang ke tempat ibadahnya. Pada pagi harinya dia melihat dua dinar di bawah kepalanya. Dia pun mengambilnya. Begitu pula pada keesokan harinya. Tetapi pada pagi hari ketiga dan pagi hari setelahnya dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Merasa kecewa atas kejadian itu, ahli ibadah menjadi marah dan mengambil kapaknya. Iblis kembali menghadangnya dalam bentuk seorang Syekh.

"Mau ke mana kamu?”

"Aku akan menumbangkan pohon itu.”

"Demi Allah, kamu tidak akan mampu melakukannya. Dan kamu tidak akan mendapatkan jalan menuju pohon itu.”

Sang ‘abid menyergap Iblis sebagaimana ia melakukannya pada kejadian pertama.

"Tidak mungkin,” kata iblis.

Lalu Iblis membekuk sang ‘abid dan membantingnya. Dalam sekejap dia menjadi seperti burung kecil di antara dua kaki Iblis. Iblis duduk di atas dadanya dan berkata, "Berhentilah dari urusan ini. Apabila tidak, aku akan membunuhmu.”

Kini sang ‘abid tidak memiliki kekuatan untuk melawan Iblis.

"Wahai Syekh, kamu sekarang telah mengalahkanku. Lepaskanlah aku dan beritahukanlah kepadaku mengapa dulu aku bisa mengalahkanmu, tapi sekarang kamu yang mengalahkanku,” tanya ahli ibadah.

"Karena pada kali pertama kamu marah, kamu melakukan itu karena demi Allah, dan niatmu adalah akhirat sehingga Allah menundukkanku untukmu. Tetapi kali ini kamu marah demi dirimu sendiri dan demi dinar-dinar yang aku hentikan untukmu,” pungkas Iblis.

Demikian kurang lebihnya (bukan terjemahaan harfiah) salah satu cerita israiliyat yang dilansir oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumid Din jilid empat ketika sang Hujjatul Islam itu memaparkan tentang "Keutamaan Ikhlas" dengan analogi cerita. Bila kini banyak orang berusaha mengambil pelajaran dan iktibar melalui jalan membaca cerita-cerita fiksi yang dikarang para sastrawan, maka dengan tujuan yang sama kisah israiliyat juga tidak dapat dianggap remeh apalagi yang disajikan oleh tokoh sekaliber Imam Al-Ghazali yang kami yakini lebih hebat daripada para sastrawan-penyair masa kini . (M. Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal RMI NU, Tegal, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah

Palembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali menilai, banyak lembaga pendidikan saat ini mengalami kekosongan dakwah. Ia berharap, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) menjadi solusi bagi persoalan ini.

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah

“Kekosongan dakwah di kampus dan di sekolah-sekolah harus diisi,” ujarnya dalam taushiyah pembukaan Kongres XVII IPNU dan Kongres XVI IPPNU di Asrama Haji Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (1/12).

As’ad menjelaskan, sesuai prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) karakter pendidikan yang dibangun mesti bertumpu pada nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus) dan tawassuth (moderat).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Aswaja adalah perwujudan dari Islam rahmatan lil ‘alamin. Islam yang lembut, bukan Islam yang bengis. Islam yang bermanfaat bagi semua,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut dia, hal ini relevan di tengah himpitan dua kutub ideologi yang terus merongrong jati diri republik ini, yaitu sekularisme dan ekstremisme beragama. NU dipandang sanggup menjadi solusi bagi keutuhan NKRI.

As’ad berpendapat, IPNU dan IPPNU termasuk organisasi yang khas karena memiliki basis pelajar tak hanya di madrasah dan pesantren, tapi juga di sekolah umum. Badan otonom NU ini perlu memperhatikan cara-cara berdakwah yang sesuai dengan selera anak muda saat ini.

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Ahmad Syauqi menyatakan, basis pelajar menjadikan IPNU sebagai tahapan terpenting proses kaderisasi NU. IPNU bukan semata organisasi massa, melain juga organisasi yang fokus berjuang di dunia pendidikan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan tentang pentingnya kembali pada basis pelajar dan santri sebagaimana ditegaskan dalam Kongres ke-13 di Surabaya. Garis perjuangan IPPNU antara lain adalah mengatasi berbagai persoalan pelajar, seperti kekerasan dan narkoba.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dewan Pembina Pimpinan Pusat Pagar Nusa KH Fuad Anwar meminta agar mengurus organisasi pencak silat di NU itu dengan pengibaratan nasi tumpeng. Ia menyampaikan hal itu pada istighasah rutin Selasa Kliwon di masjid An-Nahdlah, lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Selasa malam (21/1).

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi seperti Tumpeng, Begini Cara Mengurusnya

Menurut dia, nasi tumpeng itu pada bagian bawah terdapat beragam lauk-pauk, mulai daging ayam, kacang-kacangan, telor, lalapan, sambal, sampai urab. “Di tubuh Pagar Nusa itu pun seperti itu, di bagian bawah terdapat beragam anggota beraneka ragam,” katanya di hadapan puluhan pengurus.

Tapi, semakin ke atas dari nasi tumpeng itu semakin mengerucut. “Pada pucuk tumpeng itulah posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus memahami dan mengayomi keberagaman di bagian bawah organisasi,” jelasnya. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan pola semacam itu, kata mantan Ketua Umum PP Pagar Nusa periode sebelumnya tersebut, organisasi silat yang didirkan 28 tahun lalu itu bisa beragam dalam satu kesatuan. Fuad sangat menekankan sekali tentang kemenyatuan ini .

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kemenyetuan itu, tegas dia, harus diorganisir dengan baik. Ia kemudian memperkuat pernyataannya dengan mengutip sebuah peribahasa Arab. “Islam tidak akan sempurna kalau tidak diorganisir. Pengorganisiran tidak akan berjalan kalau pengurusnya tidak mengurus,” tegasnya.

Kepengurusan pun, tambah dia, tidak akan bermanfaat kalau tidak bersatu dalam ketaaatan terhadap aturan organisasi.

Selain sebagai rutinan Selasa Kliwonan, potong tumpeng itu merupakan tasyakuran PP Pagar Nusa selepas sukses dua bedah buku di gedung PBNU, Selasa sore (21/1). Potong tumpeng dilakukan Sekretaris Jenderal PP Pagar Nusa M. Nabil Harun. Potongan tumpeng itu ia berikan kepada Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman dan KH Fuad Anwar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Jadwal Kajian, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

LKSB Jelaskan Problem Mendasar Bangsa Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menerangkan, prinsip-prinsip kebangsaan, kenegaraan serta kewarganegaraan semakin hari semakin jauh dari generasi muda.

LKSB Jelaskan Problem Mendasar Bangsa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Jelaskan Problem Mendasar Bangsa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Jelaskan Problem Mendasar Bangsa Indonesia

“Bahkan jauh lebih menjauh setelah dikobarkannya reformasi Mei 1998,” jelasnya dalam acara peringatakan Harlah ke-5 LKSB yang dibarengi peluncuran buku Indonesia Rumah Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Menurutnya, ada banyak jawaban, tetapi yang terpenting adalah karena; pertama, problem Indonesia sesungguhnya adalah keberlangsungan manajemen negara pasca kolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya. 

Di dalam ketiadaan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumah tangga kebangsaan,” kata Ghopur.

Menurutnya, jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman. 

“Di sini persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif,” terangnya.

Kedua, sambung Ghopur, kita belum siap menerima keragaman. Padahal, keragaman bangsa bisa menjadi kekayaan jika negara mampu menjalankan fungsinya sebagai, apa yang disebut Mohammad Hatta, “panitia kesejahteraan rakyat.”

“Padahal, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD ’45 (Proklamasi 17 Agustus 1945) adalah fakta sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat diingkari dan wajib kita jaga dan rawat, setia sekaligus menolak segala bentuk dan paham apa pun yang berseberangan bahkan bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara,” urai Ghopur. (Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Oleh Wasid Mansyur

Salah satu ritual dalam bulan Ramadan yang diyakini sangat penting bagi umat Islam adalah tadarus Al-Qur’an. Tidak salah bila kemudian, di berbagai masjid dan musholla ditemukan mereka meramaikannya dengan membaca Al-Qur’an setelah sholat Tarawih, bahkan ada sebagian yang mengadakannya diwaktu yang berbeda.?

Respon positif atas tradisi tadarus Al-Qur’an menandakan bahwa umat Islam di Indonesia masih memiliki kesadaran religius yang cukup tinggi, khususnya dalam membaca Al-Qur’an. Tapi, lebih dari itu perlu perenungan kembali, sejauh mana efek ritual ini dalam kehidupan sosial dan kebangsaan kita sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi perlu dipahami dan diamalkan kandungannya.?

Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)
Membumikan Makna Ber-Tadarus (Sumber Gambar : Nu Online)

Membumikan Makna Ber-Tadarus

Secara kebahasaan, kata Tadarus berarti saling belajar dari kata dasar Darasa (belajar). Secara praktik, tadarus Al-Qur’an dimaknai dengan ritual membaca Al-Qur’an yang dilakukan minimal dua orang, yakni satu di antara keduanya membaca dan yang lain menyimak. Maka, tidak bisa dikatakan tadarus bila hanya dilakukan sendirian, tanpa kehadiran yang lain.

Dari ini, ada dua makna penting dari tradisi tadarus untuk direnungkan agar kemudian bermakna dalam konteks sosial dan berbangsa. Pertama, dilihat dari si-pembaca. Pembaca Al-Qur’an dalam ritual tadarus harus jeli dan teliti agar bacaannya tidak salah, sekaligus memiliki kerendahan hati kepada orang lain (penyimak) bila kemudian ada proses pembenaran terhadap bacaan yang kurat tepat.

Jeli dan teliti serta didukung oleh kerendahan hati menjadi sangat penting dalam kehidupan yang lebih luas. Tapi, memang problem terkini dalam kehidupan beragama, khususnya, masih didominasi oleh sikap individu yang jeli dan teliti terhadap keyakinannya sendiri, tapi bersifat angkuh dan sombang dalam melihat keyakinan orang lain yang berbeda. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dilihat dari si-penyimak. Sebagaimana mafhum, ia bertugas mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karenanya, si-penyimak tidak boleh santai, bahkan harus siap siaga mengawal bacaan agar tetap sesuai dengan pakem-pakem yang ditentukan dalam membaca Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari sini, maka kesadaran pembaca dan penyimak itu penting, bahkan menentukan kualitas bacaan Al-Qur’an itu lebih bermakna. Secara sosiologis fenomena ini mengajarkan bahwa saling belajar antar sesama adalah keniscayaan hidup dalam sebuah bangsa, yakni belajar tentang bagaimana pentingnya menghormati dan menghargai posisinya masing-masing. ? ?

Tradisi tadarus mengajarkan tentang pentingnya harmoni dalam semua lini kehidupan sebab sangat mustahil bangsa ini akan besar, bila masih ada sebagian orang baik individu maupun kelompok lebih suka menebarkan teror kepada orang lain, sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tidak memastikan tepat bila hubungan si-pembaca dan si-penyimak tidak ada sikap saling mengingatkan, terlebih bila tidak harmoni antar keduanya.

Tadarus sebagai kritik

Konkretnya dalam ranah sosial, bisa dipahami bahwa upaya penggagalan secara paksa oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam (baca; FPI) baru-baru ini terhadap Ibu Shinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid yang mengadakan buka bersama lintas agama di Semarang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil memaknai kemuliaan ritual bertadarus, lebih-lebih menangkap dan mempraktikkan momentum kemuliaan bulan Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Ketidak-berhasilan menangkap dan mempraktikkan nilai-nilai hakiki dari Islam, khususnya dari ritual tadarus dan puasa Ramadhan, mendorong FPI terus terjebak pada formalitas beragama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik tidak cukup hanya mengikuti perintah Allah secara formal, tapi perlu adanya kesanggupan dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, yakni mempraktikkan keluhuran budi pekerti (akhlak al-karimah).

Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam bukunya Ayyuha al-Walad (wahai seorang anak), bahwa keluhuran budi pekerti bisa dibuktikan dengan tidak mendorong orang lain secara paksa mengikuti anda.Tapi, lebih dari itu anda harus terdorong mengikuti kemauan mereka sepanjang tidak bertentangan dengan shari’at. Jadi, apa yang dilakukan oleh FPI sangat jauh dari prinsip luhur akhlak al-karimah sebab cenderung memaksa dan menebarkan teror kepada orang lain. ?

Padahal apa yang dilakukan Ibu Shinta dengan bersahur dan berbuka bersama secara terbuka dengan masyarakat lintas agama bertujuan untuk mendidik publik akan pentingnya pertemuan antar iman. Dari sini diharapkan terajut secara terus menerus kerukunan antar beragama sebagaimana menjadi cita-cita mediang suaminya Gus Dur, termasuk dalam rangka merawat nilai ideologi Pancasila dan konstitusi berbangsa.

Akhirnya, semua pihak harus menangkap dan mempraktikkan makna tradisi bertadarus dalam konteks sosial dan berbangsa. Dari sini, diharapkan tercipta tatanan sosial penuh damai, tanpa teror. Dan aparat pemerintah harus hadir, tidak boleh absen dalam menjaga negara ini dari tindakan individu atau kelompok yang sengaja bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi berbangsa. Semoga.

Wasid Mansyur

Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Pegiat Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Aswaja, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 September 2017

Doa saat Terjerat Utang

Seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW terkait utang yang dideritanya. “Kenapa tidak amalkan Sayyidul Istighfar?” kata Rasulullah. Rasulullah menganjurkan sahabatnya untuk membaca tasbih berikut antara terbit fajar dan shalat Shubuh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa saat Terjerat Utang (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa saat Terjerat Utang (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa saat Terjerat Utang

Subhânallâhi wa bi hamdih, subhânallâhil ‘azhîm, astaghfirullâh 100 kali.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “’Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Mahasuci Allah yang Maha Agung. Aku memohon ampun kepada Allah,’ 100 kali,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban, 1424 H, halaman 63). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Berita, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 27 Agustus 2017

Obama Desak Israel Akhiri Pendudukan di Palestina

New York, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan Israel akan mendapat keuntungan jika menyadari bahwa mereka tidak bisa secara permanen menduduki tanah Palestina. Pada saat yang sama, Palestina akan beruntung jika mengakui keabsahan Israel dan menolak hasutan, kata Obama ketika menyampaikan pidato di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Selasa (20/9).?

Obama Desak Israel Akhiri Pendudukan di Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Obama Desak Israel Akhiri Pendudukan di Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Obama Desak Israel Akhiri Pendudukan di Palestina

Upaya Obama untuk mewujudkan perjanjian perdamaian Israel-Palestina mengalami kegagalan selama hampir delapan tahun masa kepemimpinannya di Gedung Putih. Upaya terakhir yang dilancarkan Menteri Luar Negeri John Kerry juga rontok pada 2014.?

Para pejabat AS menyampaikan kemungkinan bahwa Obama akan mengungkapkan garis besar parameter kesepakatan setelah pemilihan presiden pada 8 November dan sebelum ia meninggalkan jabatannya sebagai presiden pada Januari.?

Ketika berpidato pada sidang Majelis Umum tahunan PBB untuk terakhir kalinya sebagai presiden, Obama juga mengatakan Rusia sedang berupaya memulihkan "kejayaan yang hilang" melalui pengerahan kekuatan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia memperingatkan Rusia bahwa jika negara itu "terus mencampuri urusan tetangga-tetangganya...kebesaran (negara itu) akan hilang dan perbatasan-perbatasan miliknya menjadi kurang aman."

Rusia pada 2014 mencaplok semenanjung Krimea milik Ukraina setelah unjuk rasa selama berbulan bulan di Kiev, membuat Presiden Ukraina yang pro-Moskow, Viktor Yanukovich, terdepak dari jabatannya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menyangkut persengketaan internasional seputar Laut China Selatan, Obama mengatakan, "Penyelesaian yang damai bagi sengketa itu seperti yang dianjurkan oleh hukum akan memberikan stabilitas lebih luas dibandingkan dengan militerisasi di batuan dan karang."

China menyatakan hampir seluruh Laut China Selatan sebagai wilayah miliknya. Melalui wilayah perairan itu, kapal-kapal berlalu lalang membawa komoditas dengan nilai transaksi sebesar lima triliun dolar AS (Rp65,7 biliun) setiap tahunnya.?

Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim di wilayah Laut China Selatan. Wilayah perairan itu juga diyakini kaya akan sumber daya energi dan pasokan ikan. Pada Juli, pengadilan arbitrase di Den Haag mengatakan bahwa klaim China di perairan tersebut tidak sah. Kasus itu dibawa ke pengadilan Den Haag oleh Filipina. Beijing menolak untuk mengakui putusan tersebut, demikian Reuters. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Jadwal Kajian, Pahlawan, Lomba Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 Maret 2017

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina

Amman, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kantor berita resmi Yordania, Petra, melaporkan bahwa Indonesia dan Yordania menawarkan solusi kunci bagi konflik panjang antara Israel dan Palestina.

Komitmen tersebut muncul seiring dengan kunjungan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Rabu kemarin di Amman, Yordania. Ia diterima langsung oleh Raja Yordania Abdullah II dan menteri luar negeri setempat, Ayman Safadi.

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina

Dalam perbincangan antardua menlu, kedua negara mencermati pentingnya upaya terbaru untuk menghidupkan kembali perundingan damai berdasarkan solusi mereka yang mengarah pada penciptaan sebuah negara Palestina merdeka di perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya.

Kedua negara tersebut sepakat tentang pentingnya menjadikan Yerusalem sebagai pusat bagi dunia Arab dan Islam.

Mereka juga menyuarakan penolakan mereka terhadap semua tindakan sepihak Israel yang berusaha mengubah status quo dan situasi bersejarah di Yerusalem.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam hal ini, Ayman Safadi mengatakan, Yordania akan terus mengambil tindakan untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem dan menekankan pada peran bersejarah Yordania dalam hal ini.

Kedua pihak juga menyerukan upaya intensif untuk memerangi terorisme dan radikalisme. Mereka menegaskan, terorisme bukan bagian dari agama atau peradaban apa pun. Indonesia dan Yordania menyadari akan perlunya usaha terus-menerus menghadapi ancaman global ini.

Yordania dan Indonesia akan menandatangani beberapa kesepakatan pada awal 2018 untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Mahkamah Agung Yordania, Direktur Kantor Kerajaan Yordania, Duta Besar RI di Amman, dan delegasi yang mendampingi Marsudi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 08 Februari 2017

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Beberapa hari terakhir santer pemberitaan terkait rencana aksi sebagian kecil umat Islam yang mengklaim diri sebagai alumni aksi 212. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin adalah salah satu pihak yang menilai bahwa aksi-aksi tersebut justru berpotensi menciptakan kegaduhan.

Jumat yang bertepatan dengan aksi 299, Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini alih-alih memberikan atensi terkait aksi, justru memilih mengikuti Panen Raya Jagung Musim Kemarau 2017 di Desa Kendali Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan.

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jakarta Demo 299, Kiai Maruf Amin Hadiri Panen Raya Jagung dì Lamongan

Menempuh medan yang tak selalu mulus, cicit Syekh Nawawi Al-Bantani ini membiarkan tangan halusnya tergores tajamnya daun dan batang jagung.

Kiai Maruf mengapresiasi langkah Pemkab Lamongan, Asosiasi Tani Nelayan Andalan, juga Asosiasi Petani Jagung Indonesia bersama-sama para petani di Lamongan yang mampu meningkatkan hasil jagung mereka hingga 300 persen bila dibandingkan masa panen sebelumnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Inisiatif demikian, tambahnya, lebih mulia ketimbang aksi-aksi yang justru berpotensi memicu kegaduhan. (Red Alhafiz K)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Jadwal Kajian, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock