Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, masa khidmah 2015-2017 telah resmi dikukuhkan. Pengurus baru siap bergerak cepat melaksanakan program-program organisasi.

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, IPNU-IPPNU Kriyan Agendakan Ngaji Kitab

"Setelah agenda Pelantikan, PR IPNU-IPPNU Kriyan siap mengadakan upgrading untuk pengurus sekaligus membuat progam organisasi. Namun kami sudah merencanakan untuk bulan September ini, tepatnya malam idul adha akan mengadakan takbir keliling se-Desa Kriyan," ujar Eko Supriyanto, Ketua PR IPNU Kriyan.

Hal senada juga disampaikan Nur Laili Nimah. Ia menyatakan siap melanjutkan progam-progam IPPNU yang sudah terlaksana di periode sebelumnya, seperti kegiatan rutin Yasinan tiap malam Jumat, acara dua mingguan dzikir Ratibul Hadad, serta forum pertemuan pengurus PR IPNU-IPPNU Kriyan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Dalam periode saya, akan kami tambahkan progam kegiatan, yaitu rutin kajian kitab baik untuk pengurus maupun anggota IPNU IPPNU Kriyan. Ini penting karena untuk bekal dalam kehidupan kita," tambahnya.

Fathurrohman, Ketua PR IPNU periode sebelumnya berharap, agar kepengurusan yang sudah dilantik ini bisa solid, sehingga dapat menjalankan progam yang sudah diagendakan bersama. Ia juga mengharapkan kegiatan yang sudah berjalan baik di periode sebelumnya untuk dilanjutkan dan diperbaiki untuk menjadi lebih baik.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pelantikan berlangsung meriah pada Jumat (4/9) di Gedung NU Ranting Kriyan dan dipandu langsung oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara. (Miqdad Syaroni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PBNU Maulana Muhammad Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengungkapkan, selagi para ulama,TNI-Polri berkumpul, meskipun berbeda politik, berbeda pendapat, tidak menjadi persoalan, yang pasti bangsa Indonesia satu kesatuan dalam bingkai kebhinnekaan dan NKRI. 

Hal itu diungkapkan Habib Luthfi saat menghadiri acara silaturahmi dan safari ramadhan 1438/2017 M Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo bersama keluarga Besar TNI dan komponen masyarakat di Mako Brigif /IV Dewaratna Slawi, Rabu (14/6)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Menjaga Negeri adalah Penerapan Rasa Syukur kepada Allah

Menurut Rais Aam Jamiyah Ahlut Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) ini nilai Indonesia sangatlah tinggi setelah agama, dengan bersatunya TNI-Polri dan ulama tetap cinta NKRI.

Aplikasi rasa syukur manusia kepada Allah SWT terhadap bangsa Indonesia adalah selalu menjaga negeri ini dengan baik melalui acara-acara  seperti ini. "Dan saya terima kasih kepada TNI-Polri dan Pemda yang telah menyelenggarakan acara ini," ujar ulama kharismatik asal Pekalongan ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, Habib Luthfi mengajak seluruh masyarakat Indonesia jangan mau di pecah belah seperti negara Suriah. Karena hancurnya Suriah karena tidak percaya dengan ulama, tentara serta pemerintahan.

"Saya mengajak semua yang hadir di sini, ayo kita galang persatuan seluruh anak bangsa tunjukan bahwa bangsa Indonesia mengerti dan berterima kasih kepada para pejuang yang telah memerdekakan negeri ini," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, hadir pula Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Kapolda Jateng Irjend Pol Condro Kirono, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Habib Thohir Al Kaf, Bupati Tegal Enthus Susmono, Sejumlah ulama dan pejabat dan ribuan anak yatim. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Pertandingan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan di Jalan R Abd Aziz Pamekasan, Jawa Timur, kedatangan banyak wartawan cetak, televisi, dan online, Rabu (2/2). Mereka sedang meliput rilis pernyataan sikap PCNU Pamekasan terkait perkembangan yang saat ini terjadi di internal NU.

Terdapat tujuh pernyataan sikap tertulis PCNU Pamekasan yang dibacakan langsung oleh Wakil Rais PCNU Pamekasan KH Wahdi Musyaffa. Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh Rois Syuriah KH Abd Mannan Fadholi, Katib K Abd Bari, Ketua Tanfidziyah KH Taufiq Hasyim, dan Sekretaris Abd Rahman Abbas.

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

"Pertama, KH Maruf Amin adalah Rais Aam PBNU juga sebagai Ketua Umum MUI yang harus dijaga, dihormati, ditaati juga ditadzimi oleh puluhan juta umat NU baik di seluruh pesantren maupun di tataran masyarakat bawah (grass root) dalam jamiyah NU," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dalam sidang kasus penistaan terhadap agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahja Purnama (Ahok), KH Maruf Amin dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan ahli (vide: Pasal 184 (1) jo pasal 186 KUHP) bukan sebagai pelapor.

"Ketiga, keterangan yang diberikan oleh KH Maruf Amin, berdasarkan pengamatan kami PCNU Pamekasan sudah selaras dengan kompetensi maupun kapasitasnya sebagai ahli agama Islam, baik sebagai fuqaha, Rais Aam PBNU maupun sebagai Ketua Umum MUI," paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keempat, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan menyesalkan sikap, perilaku maupun kata-kata dari terdakwa Ahok maupun tim pengacaranya dengan dalih menolak keterangan KH Maruf Amin sebagai ahli justru memelintir/memutarbalikkan fakta, dan seolah-olah menempatkan KH Maruf Amin sebagai terdakwa.

"Bahkan, beberapa pernyataan maupun tuduhan serta kata-kata kasar yang ditujukan kepada KH Maruf Amin lebih merupakan sikap sikap yang menyerang terhadap pribadi KH Maruf Amin daripada mematahkan argumen yang terkait dengan keahlian beliau," tegasnya.

Kelima, PCNU Pamekasan tidak akan tinggal diam, dan dengan ini menyatakan siap mendampingi serta membela KH Maruf Amin sebagai pimpinan tertinggi PBNU secara lahir maupun batin dalam koridor hukum dan menyerukan kepada seluruh Banom PCNU Pamekasan, kepada seluruh MWCNU serta PRNU se-Pamekasan dengan satu komando sambil lalu memperbanyak istighatsah dan permohonan kepada Allah serta pembacaan Hizbun Nashor.

"Keenam, PCNU Pamekasan meminta agar PBNU mengambil langkah tegas sesuai hukum yang berlaku untuk mewaspadai setiap manuver-manuver yang dilakukan oleh pihak Ahok yang cenderung merugikan kepada NU baik secara personal maupun kelembagaan, sekaligus memohon agar PBNU memproses secara hukum sekalipun Ahok telah menyatakan permohonan maaf," tegasnya.

Terakhir, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan memohon kepada PBNU untuk segera memberikan instruksi PWNU dan PCNU se-Indonesia tentang sikap yang akan dilakukan oleh PWNU dan PCNU terkait pernyataan ahok dan tim pengacaranya terhadap perlakuan kepada KH Maruf Amin selaku Rais Aam PBNU sekaligus sebagai Ketua Umum MUI. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Istimewa NU Maroko mengagendakan seminar internasional perihal tasawuf pada 20 Januari 2015. Sejumlah ulama dari pelbagai negara akan hadir dalam seminar internasional yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, ibu kota Maroko.

Rencana ini disepakati dalam kunjungan PCINU Maroko kepada Syeikh Dr Radhi Gennune, seorang dewan pakar tasawuf pengikut Tarekat Tijaniyah di kediamannya di Rabat, Senin (1/12). Hadir dalam pertemuan ini Ketua PCINU Maroko Kusnadi, Wakil Ketua PCINU Maroko Fakih Abdul Aziz, dan Nasrullah Afandi.

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Persiapkan Pertemuan Sufi Internasional

Dalam kesempatan itu turut hadir Kiai NU asal Banjarmasin yang sedang berkunjung ke Maroko, KH Ahmad Anshori pengikut tarekat Tijaniyah. Ia sejak 1999 hingga sekarang sudah 34 kali berziarah ke zahwiyah atau maqbaroh Syeikh Tijani di kota Fes, Maroko.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Buya Anshori mendukung langkah PCINU Maroko itu. "Hal ini penting untuk menanamkam nilai-nilai tasawuf yang merupakan salah satu ajaran NU, juga sekaligus menambah wawasan tasawuf para putra-putri NU yang sedang menempuh pendidikan di negeri para wali Maroko ini.”

Dari Indonesia juga dijadwalkan akan ada beberapa ulama lain yang menjadi pembicara. Sedangkan dari kalangan ulama Maroko, akan diundang sejumlah pemuka tarekat Tijaniyah termasuk Syeikh Zuber, cucu tertua Syekh Ahmad Tijani (pendiri tarekat Tijaniyah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Syeikh Dr Radhi Gennun sendiri dijadwalkan kembali berangkat ke Indonesia pada 5 Desember 2014. Ia akan menemui jamaah tarekat Tijaniyah di beberapa daerah Indonesia di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaNu, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo menggelar seminar peningkatan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi pengurus Muslimat NU dan Nahdliyin, Rabu (2/11).

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus Muslimat NU mulai tingkat MWC hingga Ranting se-Kecamatan Wonomerto ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Wonomerto KH Mohammad Hasan Sidik, Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh MHZ dan segenap jajaran pengurus MWC hingga Ranting NU.

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU dan Nahdliyin Perdalam Aswaja

Ketua MWCNU Kecamatan Wonomerto KH. Mohammad Hasan Sidik mengungkapkan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan perlu memaksimalkan kegiatan rutinan seperti yasinan dan sarwaan yang diisi dengan kajian-kajian untuk membendung aliran-aliran yang ingin merusak NU.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Harus ada sinkronisasi dan koordinasi kegiatan antara NU, Muslimat, Fatayat serta Badan Otonom NU agar program-program NU berjalan sesuai keinginan bersama. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sidik, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan tambahan pemahaman kepada para pengurus NU tentang Aswaja dan firqah-firqah dalam Islam.”Setidaknya kegiatan ini bisa membentengi para Nahdliyin agar tidak terpengaruh paham-paham baru di luar NU,” jelasnya.

Sementara Ketua PC Aswaja NU Center Kabupaten Probolingo Teguh MHZ mengungkapkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi kegiatan ke-Aswaja-an sampai ke tingkat Ranting NU.

”Kami sudah mempunyai tim sosialisasi Aswaja di tingkat kecamatan yang bisa diajak kerja sama. Memang perlu adanya pemahaman Aswaja kepada Nahdliyin sebagai benteng agar bisa tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Lomba, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Saya perkirakan lebih dari 30 persen santri adalah petani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai mata pencariannya. Mereka tinggal di desa-desa, tidak jarang merangkap sebagai guru ngaji atau profesi lainnya. Kehidupan mereka berada di bawah garis cukup. Hanya saja, pendidikan agama yang mereka peroleh menguatkan rasa kepasrahan mereka melebihi manusia pada umumnya.

Pertanian di Indonesia dalam skala besar sedang menghadapi krisis kualitas dan kuantitas. Generasi muda kita tidak berminat untuk terjun di bidang pertanian. Lebih suka berpindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Belum lagi label “tiang tanos” (orang tani) yang dalam kultur kita sering dipandang sebagai orang bawah atau kelas terbelakang. Ditambah gaya hidup hedonistik yang dimunculkan sinetron-sinetron kita di televisi. Membuat minat generasi muda kita semakin terkikis

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Sekarang ini, hampir tidak ada anak gadis yang bekerja di sawah. Alasannya macam-macam, dari mulai kurang gaul, takut hitam, jijik lumpur, sampai takut make up-nya luntur. Memang, di era globalisasi ini kecantikan telah direduksi maknanya sedemikian rupa oleh pabrik kosmetik dan iklan-iklannya. Pabrik-pabrik itu memonopoli pengertian tentang cantik. Akibatnya, cantik adalah apa yang digambarkan oleh iklan dan pabrik-pabrik kosmetik itu. Tidak ada lagi pemahaman tentang inner beauty, jika pun ada, ya, sekadar basa-basi.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat generasi muda kita dalam bidang pertanian. Para pemuda takut dianggap kurang cool (keren), begitupun sebaliknya. Padahal, nenek moyang kita, laki-laki dan perempuan, pemuda dan gadis, menggarap sawah dengan penuh kerendah-hatian dan ketelatenan. Sekarang, jika generasi tua sudah tidak ada, siapa yang akan menggarap sawah-sawah itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kecenderungan merantau generasi muda ke kota menjadi problem lain yang perlu diatasi. Berkembang atau tidaknya sebuah desa bergantung pada tenaga produktifnya. Jika tenaga produktifnya tidak ada (bekerja di kota), hasil panen akan menurun. Lambat laun, kebutuhan pangan di pedesaan akan disuplai dari luar.Desa yang tadinya produsen berubah menjadi konsumen pangan.

Selain itu, kecilnya keuntungan pertanian pangan dan harga sawah yang tinggi menjadi penghalang generasi muda kita untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik dari bertani. Di samping tidak jarang para pemilik sawah merubah fungsi lahannya menjadi tempat produksi batu bata karena dinilai lebih prospektif.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah berubahnya lahan pertanian pangan menjadi perumahan dan perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan lain sebagainya. Tergantung permintaan pasar dan pertimbangan ekonominya. Hal ini menyebabkan angka produksi pangan nasional menurun.Impor beras dari luar negeri seakan-akan tidak dapat dihindarkan lagi. Parahnya, konversi itu tidak dibarengi dengan pembukaan lahan persawahan baru, sehingga ketahanan pangan kita terancam.

Akibatnya, dari kurun 2010-2013 impor beras nasional kita meningkat secara signifikan (Yunita T. Winarto [ed], Krisis Pangan dan “Sesat Pikir”: Kenapa Masih Berlanjut?, Pustaka Obor, 2016, hlm 174). Apabila kecenderungan impor yang disebabkan oleh stagnasi produksi pertanian terus berlanjut dan tidak ada perbaikan, kita akan memasuki situasi yang sangat aneh untuk sebuah negara agraris, ketergantungan pangan pada negara lain. 

Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di pesantren tradisional, tidak sedikit santri yang menggarap ladang milik pesantren atau kiai. Baik santri putra maupun santri putri berperan aktif dalam proses cocok tanam hingga panen. Karena kehidupan mereka terbangun dari kultur pesantren, mereka belum terpengaruh gaya hidup hedonistik yang berkembang di luar. Mereka menghabiskan waktunya dengan belajar, menghafal, kerja bakti dan mengaji.

Banyak dari mereka ketika pulang ke daerahnya masing-masing menyandarkan hidupnya dari pertanian, menggarap sawah milik orangtua atau mertuanya.Perasaan gengsi tidak terlalu berpengaruh dalam diri mereka, meski tetap saja ada yang terpengaruh oleh hal itu. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka dengan teguh menggenggam nilai-nilai kesantriannya.

Persoalannya malah terletak pada kecakapan mereka dalam bertani. Mereka tidak mendapatkan pendidikan atau pengajaran tentang cara bercocok tanam yang baik. Cara bertani mereka masih sangat tradisional dan seadanya, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih di pesantren. Karena itu, dalam hal melestarikan pertanian, mereka cukup memberikan pengaruh. Namun, dalam hal peningkatan produksi pangan, peran mereka masih teramat kecil.

Memandang hal tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pesantren mengembangkan pertanian dengan serius. Metode cocok tanam yang baik, pengenalan lahan pertanian, pencegahan hama yang efektif, dan bagiamana cara meningkatkan hasil panen harus diajarkan secara sistematik dan tepat.Pesantren harus membuka kelas-kelas pertanian modern yang rapih tanpa mengganggu proses ajar-mengajar santri.

Dilihat dari fenomena sosial yang berkembang, khususnya hilangnya minat anak muda untuk bergelut di bidang pertanian, dengan karakter kulturnya yang khas, santri bisa berperan aktif meningkatkan produksi pangan nasional. Tidak sekadar bertani ala kadarnya. Pesantren harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan santri-petani yang mumpuni dan cakap.

Memang, sudah ada beberapa pesantren yang mengambil langkah ini, bahkan menjadikan pertanian sebagai ciri khasnya, seperti Pesantren Pertanian Darul Fallah di Bogor. Namun, pesantren dalam arti luas masih sangat jauh menuju ke arah itu. Pertanian harus dilebur dengan pesantren, terlepas apapun tipologi pesantrennya. Pemanfaatan lahan persawahan milik pesantren atau kiai harus diarahkan sebagai sarana belajar yang terskema dengan rapih, tidak sekadar penjalanan tugas santri kepada kiai dan pesantrennya.

Meskipun pertanian di pesantren umum (bukan pesantren takhasshus) sekadar kegiatan ekstra, tetapi kegiatan ekstra itulah yang kemudian banyak dijadikan mata pencarian oleh santrinya. Karena itu, diperlukan penyikapan yang lebih serius, dengan pendidikan pertanian yang matang sebagai bekal santri. Tidak hanya untuk mengarungi kehidupan pribadinya, tapi juga berperan serta dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Bukankah hal ini juga termasuk jihâd fî sabîlillah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Internasional, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI

Depok, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk memotivasi kalangan santri dan pelajar NU melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), Forum Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UI atau Forluni PMII UI sejak 2014 telah merancang program khusus Sanlat Supercamp "Road to UI" yang merupakan inovasi atas Pesantren Kilat (Sanlat) Sukses Masuk PTN yang dilaksanakan Forluni PMII UI sejak 2012. ?

Selain memberikan materi tes masuk UI dan PTN (perguruan tinggi negeri) lain, manajemen Sanlat juga membekali peserta dengan motivasi spiritual, pengembangan karakter dan wawasan kebangsaan. Program Sanlat Supercamp 2014 lalu berhasil meluluskan 9 siswa dari total 14 peserta Sanlat, 5 siswa diantaranya berhasil diterima di UI.

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Fasilitasi Santri Masuk Kampus UI

"Dari 9 peserta yang lulus, 5 peserta di antaranya adalah santri lulusan pesantren yaitu 2 orang dari Pesantren Al Hamidiyah Depok dan masing-masing 1 orang dari Pesantren Al Itqon Jakarta Barat, Pesantren SMK Arrahman Depok, dan Pesantren An Nawawi Magelang," papar Alfanny.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk Sanlat 2015, manajemen Sanlat akan mengadakan Try Out Seleksi sanlat dengan pola tes SIMAK UI pada Sabtu, 18 April 2015 di Pusat Studi Jepang Kampus UI Depok.? Bagi santri atau pelajar NU yang ingin mengikuti Sanlat, dapat mengetahui informasi tentang sanlat dan proses seleksinya di website www.sanlat.forluni.com.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Tidak ada alasan kalangan santri enggan berkuliah di UI, karena pemerintah sudah menyediakan banyak beasiswa khususnya beasiswa bidik misi.? Persaingan yang ketat untuk masuk UI juga bukan alasan, karena dengan disiplin belajar dan doa, banyak santri yang sudah kuliah di UI," urai Alfanny, Ketua Umum Forum Alumni PMII UI. (Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, H Anis Malik Thoha berkesempatan hadir dalam Halal Bihalal yang diselenggarakan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, awal pekan kemarin.

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Dalam kesempatan tersebut Anis menjelaskan mengenai tradisi halal bihalal di Indonesia, lantaran ada sebagian pihak yang mengkritisi tradisi yang telah mengakar tersebut sebagai bid’ah.

Menurutnya tidak semua hal dihukumi sesat. Demikian halnya tradisi halal bihalal atau saling maaf-memaafkan. Tradisi tersebut memang hanya ditemukan di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tradisi halal bihalal menurut Katib Syuriyah NU Cabang Istimewa Malaysia sudah ada sejak zaman pangeran Mangku Negara I sekitar abad ke-18. Pangeran Samber Nyowo memperkenalkan tradisi baru tersebut dengan bersalam-salaman setelah shalat Id yang dilaksanakan di Keraton bersama seluruh abdi dalem.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh ulama tradisi tersebut kemudian dihidupkan sebagai halal bihalal. Sebagai momentum saling memaafkan. Halal bihalal sebagai tradisi nasional masih dilestarikan hingga sekarang. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Cerita, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 



Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya berupaya melestarikan syair karya para ajengan (kiai).

Menurut Ketua Lesbumi Tasikmalaya Imam Mudoffar di daerahnya tersebar berbagai syair berbahasa Sunda yang merupakan sarana dakwah yang dilakukan para ajengan.

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Tasikmalaya Siap Rekam dan Bukukan Syair Ajengan

Namun, ia menyesalkan, syair-syair itu saat ini mulai tersisihkan dan tidak lagi dikenal anak muda. Lama kelamaan, warisan berharga itu dikhawatirkan akan punah.

“Misalnya syair Gusti Urang Sadayana yang menjadi syair utama di bulan Rabiul Awal dengan isi menceritakan kelahiran dan keturunan Nabi yang dulu sering dinyanyikan dengan ramenya oleh semua kalangan, sekarang hanya orang tua saja di majelis taklim,” jelasnya ketika ditemui di gedung PCNU Tasikmalaya, Senin (11/12).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itulah, lanjutnya, Lesbumi Kabupaten Tasikmalaya berupaya untuk mengumpulkan dan membukukan syair-syair itu.

“Setelah terbukukan, kami akan rekaman dan akan dibagikan ke pesantren sekolah dan madrasah-madrasah diniyah,”  tambahnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut ia menambahkan, saat ini Lesbumi mempunyai program majelis sastra, pembuatan antologi puisi anak muda NU. Program itu telah disampaikan dalam rapat kerja PCNU Kabupaten Tasikmalaya pada Ahad (10/11). (Husni Mubarok/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Tokoh, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Tegal, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Ulama se-Jawa Tengah sepakat menolak kebijakan 5 hari sekolah. Mereka menandatangani deklarasi pencabutan Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah dalam acara Halaqah Alim Ulama se-Jawa Tengah di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal, Senin (31/7).

Dalam naskah deklarasi yang ditandatangani pada 31 Juli 2017 itu, ada lima poin sikap ulama se-Jawa Tengah. Mereka menolak dengan keras kebijakan lima hari sekolah (LHS). Mereka menuntut Mendikbud Muhadjir Effendi untuk membatalkan dan mencabut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang LHS yang menimbulkan keresahan sosial.

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Se-Jawa Tengah Deklarasi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Mereka meminta Mendikbud untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Para kiai ini juga mendesak Mendikbud tidak memberlakukan kebijakan LHS. Mereka menyarankan Mendikbud lebih berkonsentrasi menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial, yaitu merumuskan kurikulum anti-radikalisme, anti-korupsi, profesionalitas guru, dan masalah lainnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir sebagai deklarator Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (Mbah Bed), Koordinator Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) Jawa Tengah Hudallah Ridwan, Bupati Kabupaten Tegal Enthus Susmono, Ketua PCNU dan Rais Syuriyah PCNU Tegal, dan ratusan alim ulama dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Mbah Bed menyampaikan bahwa dengan diberlakukannya Permendikbud LHS ada banyak madrasah diniyah (madin) di Jawa Tengah yang kekurangan murid, bahkan hampir gulung tikar. Pasalnya, dengan sekolah 8 jam sehari, anak-anak tidak bisa mengikuti pendidikan agama di madin.

"Jika madrasah diniyah sudah tidak memiliki murid, ini berarti akan banyak anak-anak yang tidak bisa membaca Al-Quran, tidak tahu tatacara bersuci, beribadah, dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Karena selama ini kita tahu dan merasakan bersama, bahwa masyarakat tahu tentang semua itu dari madrasah diniyah," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mbah Bed menjelaskan bahwa sikapnya dalam menolak kebijakan LHS semata-mata karena memperjuangkan nasib dan eksistensi madrasah diniyah. Jika madrasah diniyah gulung tikar maka masyarakat tidak akan tahu lagi ajaran-ajaran Islam yang sudah sekian lama diajarkan para ulama.

"Saya sendiri tahu tentang wudlu, shalat, membaca kitab, dan yang lainnya dari guru-guru saya di madin. Karena itu, demi guru-guruku di madin, saya dengan tegas menolak sekolah lima hari sekolah," jelasnya.

Bupati Tegal Enthus Susmono mengatakan bahwa sejak ada wacana kebijakan lima hari sekolah, ia menjadi bupati pertama yang dengan tegas menolaknya. "Saya bupati pertama yang menolak full day school. Saya tidak setuju dengan kebijakan itu, apapun risikonya siap," tegasnya.

Di Kabupaten Tegal sendiri, Enthus telah menginstruksikan kepala dinas pendidikan untuk tetap mengadakan sekolah selama 6 hari supaya tidak mematikan madrasah diniyah, taman pendidikan Al-Quran (TPQ), dan pondok pesantren.

"Saya sudah menyampaikan ke semuanya, saya menolak lima hari sekolah. Kepala dinas (pendidikan) itu berada di bawah bupati. Jadi, kalau bupatinya menolak, kepala dinas harus mengikuti," tukasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, PonPes, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

”Jangan takut untuk merintis pesantren yang sama sekali berbeda dengan pesantren yang sudah ada” – Gus Dur

Pesan Gus Dur itulah yang menguatkan Jadul Maula, pendiri dan pengasuh pesantren Kaliopak, sebuah pesantren yang menggunakan pendekatan seni dan budaya di daerah Yogyakarta. Ia sebelumnya mengalami kebimbangan untuk mewujudkan idenya tersebut. Persoalannya, ini bukan hanya sesuatu yang baru, tetapi harus merubah stigma masyarakat yang menganggap seni tradisi itu tidak islami.

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

Jadul yang kini juga salah satu wakil ketua Lesbumi NU, lembaga seniman dan budayawan di bawah Nahdlatul Ulama ini mengatakan, ulama dulu mengajarkan nilai agama, di samping melalui pengajaran juga melalui kesenian. Ia ingin melanjutkan tradisi tersebut yang terbukti mampu mendakwah Islam secara damai. Sayangnya, akar tradisi ini sudah ditinggalkan orang. Bahkan banyak tokoh agama menganggapnya seni sebagai perbuatan bid’ah atau sesat.?

“Ini ada ironi, paradoks bahwa dulu seni ini menjadi media dakwah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Untuk memberi penegasan atau akar atas keberadaan pesantren ini, ia mendasarkan diri pada Sunan Kalijaga dan para muridnya yang dulu pernah berdakwah di daerah ini yang terbukti dengan ditemukannya sejumlah situs. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita niat saja, kita anggap Sunan Kalijaga leluhur kita, kita ini murid-muridnya,” tuturnya.?

Kemudian, bersama dengan timnya, ia menelusuri jejak dakwah Sunan Kalijaga. Kulminasinya berupa peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang diselenggarakan pada 2011. Tujuannya ingin menggali lagi ajaran spiritualitas para ulama dulu yang membentuk masyarakat yang etis karena bangsa Indonesia terkenal ramah dan punya etika.?

Ia kemudian melakukan kajian naskah dan berbagai kitab klasik. Misalnya wayang lakon Dewa Ruci yang isinya merupakan ajaran tasawuf. Ternyata naskah ini terkait dengan Suluk Linglung yang mengisahkan pertemuan antara Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidir.?

Upaya mengembangkan pesantren berbasis seni dan budaya bagi beberapa kalangan masih dianggap aneh, padahal dulu wayang merupakan tradisi pesantren. Ia mencontohkan keterkaitan wayang dengan pengajian adalah sampai sekarang orang nonton wayang pakai sarung dan kopiah karena dianggap sebagai mengaji atau mendengarkan wejangan.?

Jadul yang juga salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS) ini menjelaskan, berjaraknya kelompok santri dengan seni tradisi memuncak pada era 50-60an. Saat itu persaingan politik sangat kuat. Seni tradisi diambil oleh PNI dan PKI dengan Lekra sebagai lembaga seni budayanya. Seni dipakai untuk persaingan politik dengan menjelek-jelekkan kelompok lain. Akhirnya tokoh agama Islam menciptakan seni yang lebih kearab-araban. Versi lain dari terpisahnya agama dan seni terjadi karena kebijakan Belanda mengacak-acak agama dan adat.

Akibat adanya fase keterputusan, akhirnya seni tradisi digarap oleh kelompok lain dan mengalami sekulerisasi yang hanya bermakna sebagai wahana hiburan.

“Mereka harus dirangkul kembali, kalau misalnya pesantren atau kiai sering nunggoni dalang main. Paling tidak dalang tahu, akan terjadi proses dialog,” jelasnya.?

Upaya ini cukup berhasil, terbukti beberapa dalang mulai menyesuaikan diri dengan pesantren. Bahkan ada dalang di Jogja minta agar NU bikin organisasi khusus para dalang. “Nah kalau bisa dirangkul, ada dialog pembenahan. Kalau dilepas, jadi sekuler dan sekedar hiburan. Saya tidak anti eksperimen, tetapi saya yakin wayang dalam tradisi klasik perlu dijaga sebagai dakwah,” tegasnya.?

Tidak seperti pesantren konvensional, Pesantren Kaliopak saat ini belum memiliki santri yang mukim secara permanen. Lokasi pesantren menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas dari berbagai disiplin ilmu di universitas-universitas yang ada di Yogyakarta serta komunitas pelaku seni tradisi. Kegiatan rutin yang diselenggarakan berupa mujahadah, latihan shalawatan Jawa, diskusi dua minggu sekali tentang musik. Pernah pula pesantren menyelenggarakan belajar aksara Jawa karena aksara ini pernah digunakan para Wali untuk mengajarkan Islam dalam konteks budaya Jawa. Ada pula kajian rutin Islam Nusantara.?

Ia juga mengadakan eksperimen supaya seni tradisi digabungkan dengan seni modern, misalnya shalawat Jawa dengan orkestra Bethoven yang ? sempat tampilkan dalam Muktamar ke-33 NU.

Pesantren sudah pernah menggelar pameran seni rupa tingkat nasional yang sempat dibuka oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka sedangkan yang satunya oleh adiknya sultan gusti Yudhaningrat.

Lalu, ada pula forum dialog antara kiai dan dalang. KH Musthofa Bisri atau Gus Mus pernah menjadi salah satu narasumber.

Ia sendiri sebenarnya tidak ingin menjadi pengasuh atau kiai pesantren. Tetapi beberapa kiai muda prograsif yang diminta menjadi pengasuh tak bersedia sehingga mau tidak mau, ia memposisikan diri sebagai pengasuh. “Tak ada rotan, akar pun jadi,” paparnya.

Ke depan, ia berharap memiliki kurikulum resmi sebagai panduan para santri untuk belajar. Cita-citanya yang belum kesampaian adalah mengembangkan program Etika Sosial Islam yang saat ini masih kekosongan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Kajian, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Menganiaya Anjing?

Sebagian umat Islam mungkin beranggapan bahwa anjing adalah hewan yang paling menjijikan setelah babi. Saking jijiknya, tak jarang ditemukan di beberapa perkampungan, anjing dijadikan objek kekesalan dan kemarahan. Setiap ada anjing yang lewat, entah apa salahnya, tubuhnya selalu dihujani dengan batu-batu. Anjing malang itu pun lari sambil terkaing-kaing.

Sikap antianjing ini sekilas memang memiliki dukungan dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Menganiaya Anjing?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing kecuali anjing pemburu, anjing penjaga gembala dan penjaga ternak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan hadits ini dipahami bahwa diperbolehkan membunuh anjing yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Bila dia bisa digunakan sebagai penjaga gembala, rumah, dan ternak, kita tidak diperbolehkan membunuhnya.

Akan tetapi, sebenarnya para ulama berbeda pendapat mengenai makna dan maksud hadits di atas. Ada yang memahami larangan Nabi dalam hadits tersebut dikhususkan untuk anjing yang membahayakan saja, karena konteks kemunculan hadis ini di saat banyaknya anjing yang mengganggu dan membahayakan manusia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ada pula yang berpendapat bahwa hadits membunuh anjing sudah di-nasakh (dihapus) oleh hadits lain yang menunjukkan larangan membunuhnya. Maka dari itu, Imam al-Harmain (Abu Ma’ali al-Juwaini) menuturkan dalam karyanya Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.

Anjing yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak pula membahayakan, tidak boleh dibunuh. Kami telah menjelaskan permasalahan ini dalam pembahasan “Perburuan Pada Waktu Manasik” ketika menyinggung hewan-hewan fasik (berbahaya). Memang ada riwayat sahih yang menyatakan Nabi SAW memerintah membunuh anjing dan kemudian pada satu riwayat dikatakan Nabi SAW melarangnya. Penjelasan rinci masalah ini sudah kami jelaskan. Sesungguhnya perintah Nabi untuk membunuh anjing hitam itu sudah di-nasakh (dihapus).

Pada hakikatnya, manusia tidak hanya dituntut menghormati sesama manusia. Binatang dan tumbuhan pun perlu dijaga, dirawat, dan dilindungi kehidupannya. Demikian pula dengan anjing walaupun ia termasuk hewan yang diharamkan secara syariat. Tetapi bukan berarti ia boleh disakiti ataupun dibunuh dengan seenaknya.

Ia boleh dibunuh bila membahayakan dan merusak kenyaman manusia, misalnya anjing gila. Sedangkan anjing yang tidak berbahaya sekalipun tidak ada gunanya, tidak dibolehkan bagi kita untuk menyakiti dan membunuhnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Baijuri mengajak segenap elemen jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk senantiasa meningkatkan koordinasi dan konsolidasi. Lebih khusus, konsolidasi tersebut menfokuskan kepada penguatan aqidah Alhlussunnah wal-Jamaah.

Hal tersebut disampaikannya saat Lailatul Ijtima sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PWNU Lampung Jl. Cut Mutia Bandarlampung, Ahad malam (18/12).

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Ajak Nahdliyin Konsolidasi Aqidah

Menurutnya, gerusan aqidah sekarang ini sangat kuat sekali dari berbagai macam aliran yang lebih menekankan kepada pemahaman agama Islam secara tekstual.?

"Waspadai aliran yang mengedepankan doktrin harfiyah. Aliran inilah yang menumbuhkan pemikiran radikal dan memunculkan terorisme yang sekarang marak terjadi," katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini lanjutnya, merupakan tantangan besar bagi para pengurus khususnya dan warga NU pada umumnya untuk bersama-sama membendung dan menyadarkan umat dari pemahaman ini.

Senada dengan Kiai Sholeh, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Maron Purworejo Jawa Tengah KH Abdul Hakim Hamid yang hadir pada kesempatan tersebut, juga menekankan pentingnya mempertahankan aqidah dan amaliyah Aswaja melalui Jamiyyah NU.

Salah satu yang sering mendapatkan gempuran adalah tradisi maulid Nabi Muhammad yang sering dilakukan warga NU. Aliran baru yang banyak bermunculan sekarang sering menyatakan bahwa kesunnahan amaliyah maulid Nabi tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadits.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini menurut Gus Hakim, begitu Ia biasa disapa, malah jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk bersholawat, menghormati dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Ia malah menyatakan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sunnah akan tetapi wajib. Bukan saja pada bulan maulid, tapi setiap saat.

Di sinilah, menurutnya, pentingnya kehadiran ulama dan Jamiyyah NU untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam akan pemahaman Islam yang maksudkan oleh Nabi dan Allah SWT. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2)

Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Surat-surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu.

Dalam surat-surat Kartini beliau sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat. Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kiai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kala Kartini Berguru pada Kiai (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kala Kartini Berguru pada Kiai (2)

Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kiai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. (Ajie Najmuddin/dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, AlaNu Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online?

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang kami hormati. Akhir-akhir ini bisnis angkutan online semakin marak dan tak terbendung lagi. Yang ingin kami tanyakan apakah bisnis angkutan online itu terkena kewajiban zakat? Atas penjelasanya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Andi/Jakarta)

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Zakat Jasa Bisnis Angkutan Online?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah bahwa salah satu harta yang wajib dizakati adalah adalah harta perniagaan atau yang dikenal dengan istilah ‘urudlut tijarah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?)

Artinya, “Adapun harta perniagaan (‘urudlut tijarah)—kata ‘urudh adalah jamak dari kata ‘ardl, dengan baca fathah pada huruf ‘ain dan sukun pada huruf ra’-nya, sedangkan maknanya adalah nama bagi setiap macam harta yang sebanding dengan emas dan perak—maka wajib dizakati,” (Lihat Muhammad Asy-Syarbini Al-Khathib, Al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’, Beirut, Darul Fikr, 1415 H, juz I, halaman 215).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan berarti. Penjelasan singkat ini setidaknya dapat membantu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Namun sebelum sampai pada jawaban yang diharapkan, maka terlebih dahulu diajukan pertanyaan sederhana yaitu apakah bisnis angkutan online termasuk kategori tijarah?

Dalam kitab Kifayatul Akhyar terdapat keterangan yang menyatakan bahwa seandainya seseorang menyewakan hartanya atau dirinya dengan maksud ketika memperoleh upah akan dijadikannya sebagai ‘ardlut tijarah, maka upah tersebut menjadi ‘ardlut tijarah (barang perniagaan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seandainya seseorang menyewakan harta atau dirinya dengan maksud ketika memperoleh upah akan dijadikannya barang dagangan, maka upah tersebut menjadi harta dagangan. Sebab akad sewa merupakan mu‘awadhah (pertukaran),” (Lihat Taqiyuddin Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Damaskus, Darul Khair, 1994 M, halaman 174).

Keterangan yang terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar tersebut tampak sangat jelas dan gamblang. Sebab itu, dengan berpijak atasnya dapat dikatakan bahwa bisnis angkutan online adalah termasuk tijarah yang mengandung arti tijarah.

Konsekuensi logis dari jawaban ini adalah ketentuan hukum wajib zakat bagi bisnis angkutan online sebagaimana ‘urudlut tijarah yang lainnya, sedangkan aturan zakatnya mengikuti ketentuan zakat ‘urudlut tijarah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Hikmah, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Sidoarjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Tim Kirab Resolusi Jihad NU di hari kedua tiba di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (14/10) malam. Tim diterima panitia lokal dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Kabupaten.

Begitu masuk ke halaman Pendopo, ribuan siswa dan mahasiswa, serta perwakilan banom dan lembaga di bawah PCNU Sidoarjo menyambut dengan wajah penuh suka cita. Lantunan solawat tak henti-hentinya mereka perdengarkan, hingga Tim akhirnya dibawa ke tempat atraksi pendekar Pagar Nusa Sidoarjo.

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tim pun terpukau saat anggota pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa meledakkan petasan dengan ledakan tinggi di atas tubuh mereka, namun para pendekar itu tidak cedera sedikit pun. Dalam waktu berdekatan, pendekar Pagar Nusa juga terbukti berhasil memutuskan rantai besi yang melilit tubuh mereka.

Selanjutnya, Tim segera masuk ke dalam pendopo untuk mengikuti upacara penyambutan. Ketua PBNU KH M. Salim Aljufri berkesempatan memberikan sambutan mewakili PBNU. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada jajaran Pemda Sidoarjo yang mendukung kegiatan kirab dengan mengizinkan Tim Kirab menyinggahi Sidoarjo, bahkan menjadikan Pendopo Kabupaten Sidoarjo sebagai tempat upacara penyanbutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selanjutnya, ia mengatakan terkait dengan pelaksanaan kirab yang merupakan salah satu agenda dalam dalam peringatan Hari Santri Nasional. Santri bukan sekadar orang-orang yang turut berada di Indonesia, tapi juga sebagai penentu Kemerdekaan RI.

Santri juga bukan sekadar pelajar, tetapi juga tulang punggung dan berada di ? garda terdepan dalam membentengi bangsa dari berbagai ? keruntuhan moral. Menurut Kiai Salim saat ini banyak terjadi kejahatan terorisme, penyalahgunaan narkoba, dan penyimpangan perilaku seksual. Semua keruntuhan moral itu harus dicegah dan dihadapi dengan iman. Dan santri harus berdiri paling depan dalam mengatasinya.

Kepada para peserta kirab, ia berpesan bahwa ajang kirab juga merupakan pendidikan politik. Peserta kirab dengan mengunjungi berbagai daerah, akan menemui masyarakat yang ternyata adalah warga NU. Artinya NU ikut menentukan jalannya bangsa ini.

Kiai Salim lalu mengingatkan bahwa peserta kirab yang merupakan generasi muda tak lain adalah pemimpin di masa mendatang, di mana tanggung jawab menjaga moral bangsa Indonesia berada di tangan mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Nahdlatul Ulama adalah pelopor dunia Islam. Saat ini kiblat dunia Islam adalah Indonesia, salah satunya karena kerukunan yang ditunjukkan warga Islam Indonesia. Jangan sampai dihancurkan apa yang sudah dijalin NU selama ini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf juga memberikan sambutan. Menurutnya NU dan NKRI tak bisa dipisahkan. Dibuktikan dengan di setiap acara NU selalu dinyanyikan dua lagu yakni Indonesia Raya dan Syubbanol Wathon. Lagu Syubbanol Wathon yang diciptakan Abdul Wahab Chasbullah, adalah lagu tentang cinta tanah air. Lagu itu diciptakan tahun 1934, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kepada peserta kirab, KH Abdi Manaf menitipkan pesan untuk PBNU. Bahwa NKRI adalah harga mati, sehingga apabila ada kelompok gerakan yang ingin merongrong NKRI, agar disampaikan kepada pemerintah bahwa melompok itu adalah bagian dari musuh NU.

“Tentu adalah hal yang tidak diinginkan bahwa akan ada Resolusi Jihad jilid 2. Tetapi bila itu terjadi NU harus siap bergerak,” cetusnya.

Dari pihak Pemkab Sidoarjo, sambutan diberikan oleh Wakil Bupati Nur Ahmad Saifuddin. Ia pun menyampaikan rasa bangga karena tim kirab berkenan singgah di Sidoarjo.

Sidoarjo, tutur Wabup, tidak asing lagi dengan NU karena mayoritas warganya juga NU. Pendopo Kabupaten juga tidak asing lagi dengan kegiatan ke-NU-an, seperti dengan dan tahlilan. Ke depan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) sangat mungkin berpentas di Pendopo Kabupaten.

Dalam peringatan Hari Santri 2016, Kabupaten Sidoarjo juga melakukan sejumlah kegiatan. Diantaranya Pameran Produk Santri dan Pameran Pesantren, Lomba baca kitab, pembacaan satu milyar shalawat Nariyah, pentas ketoprak santri dengan Lakon Resolusi Jihad. Juga pihak Pemda sedang berkoordinasi dengan pihak terkait berkenaan dengan pelepasan ribuan balon udara.

Kegiatan lainnya adalah Festival Munajat Seribu Santri, pembacaan puisi dan jalan sehat santri yang bekerjasama dengan LP Maarif NU. Diperkirakan akan melibatkan 18 ribu peserta.

Pemkab Sidoarjo dalam kegiatan tersebut bersinergi dengan NU melalui banom-banom yang ada di bawahnya. Kepada Tim Kirab Wabup berharap Kirab Resolusi Jihad dan peringatan Hari Santri Nasional akan menjadi ajang penguatan cinta tanah air. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Pendidikan, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Etika Kiai Menjadi Etika Umat melalui Para Santrinya

Solo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Transformasi nilai dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari kepada para muridnya menjadi satu faktor penting tertanamnya etika kebangsaan yang dipegang warga Nahdliyin hingga saat ini. Begitu pula dengan kiai lain seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri dan kiai-kiai lain.

“Etika yang mereka bangun kemudian diturunkan kepada murid-muridnya, hingga kemudian menjadi sebuah etika kelompok yang dilembagakan dalam wadah Nahdlatul Ulama,” papar Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH M Dian Nafi’ pada acara bertajuk “Membangun Indonesia” di Solo, Kamis (10/8).

Etika Kiai Menjadi Etika Umat melalui Para Santrinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Kiai Menjadi Etika Umat melalui Para Santrinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Kiai Menjadi Etika Umat melalui Para Santrinya

Proses transformasi tersebut, lanjut Kiai Dian, kemudian berlanjut pada tahapan membangun etika masyarakat. NU maupun banom-banomnya menurunkan nilai-nilai yang mereka pegang kepada masyarakat, melalui berbagai cara.

“Ada yang berbaur lewat ludruk, hadrah dan lain sebagainya,” kata Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan itu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari etika masyarakat, lambat-laun kemudian berkembang meluas menjadi etika kebangsaan hingga akhirnya menubuh menjadi etika kenegaraan.

Prinsip tasamuh, i’tidal yang menjadi prinsip warga NU, juga diikuti pada tataran peraturan kenegaraan yang diwujudkan dengan pengakhiran diskriminasi dan sebagainya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita butuh transformasi etika ini,” tegas Kiai Dian. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Santri Mambaul Futuh Tuban Tingkatkan Mutu Jurnalistik

Tuban, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dalam rangka meningkatkan kualitas majalah pondok pesantren, sejumlah santri Mambaul Futuh Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menggandeng wartawan yang tergabung dalam Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban untuk menggelar diklat jurnalistik di Aula pondok pesantren setempat.

Santri Mambaul Futuh Tuban Tingkatkan Mutu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Mambaul Futuh Tuban Tingkatkan Mutu Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Mambaul Futuh Tuban Tingkatkan Mutu Jurnalistik

Kegiatan yang berlangsung Selasa (2/9) ini diikuti sebanyak 30 santri. Mereka disuguhi beberapa materi di antaranya dasar-dasar jurnalistik, teknik reportase atau wawancara secara profesional, tehnik menulis berita dan sekaligus praktek menulis berita. Tidak hanya itu, di sela-sela materi berlangsung narasumber juga melakukan evaluasi pada majalah yang dimiliki dan diterbitkan oleh pesantren tersebut.

Pengasuh dan Pengajar Pesantren Mambaul Futuh Jenu, Tuban, Ustad M. Arifuddin saat dikonfirmasi mengatakan, sejatinya kegiatan diklat jurnalistik ini sebagai sarana belajar dalam rangka meningkatkan kualitas majalah di pesantren. Dengan digembelengnya seluruh jajaran kru majalah pesantren, diharapkan bisa membenahi majalah yang saat ini sedang digarap dan diterbitkan pesantren. Sehingga kedepan majalahnya tersebut bisa berkembang lebih bagus dan profesional.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kami? sudah lama punya majalah, namanya ‘Risma’, mudah-mudahan dengan melalui diklat ini ada pembenahan jajaran majalah yang kami punya. Sehingga majalah Risma ini semakin berkembang lebih baik," kata pria yang juga sebagai Ketua Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) Tuban ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakannya, diklat juranalistik terebut diharapkan bisa memberikan pemahaman ilmu jurnalis kepada para santri. Meski saat ini masih berstatus santri, namun hal itu dianggap waktu yang tepat untuk belajar jurnalistik. Karena seiring perkembangan zaman, media sangat dibutuhkan masyarakat luas.

"Tugas santri itu mengaji, tetapi juga boleh belajar tentang ilmu jurnalis. Hal itu dilakukan karena saat ini masyarakat butuh yang namanya media. Lebih baiknya lagi bila santri disini bisa mempraktekkan sebagai seorang jurnalis tambah lebih bagus. Kami juga yakin, jika santri disini ada yang jadi jurnalis, insaAllah akan menjadi seorang jurnalis yang baik, sebab sudah punya bekal ilmua agama," tambah pria jebolan pesantren Alfalah Ploso, Kediri ini.

Sementara itu, pihak RPS Tuban melalui sekretarisnya Dion Fajar menyampaikan, institusinya tersebut bakal siap berbagi ilmu jurnalistik pada siapapun termasuk santri pondok pesantren. Selain itu, RPS bakalan siap membina jika dimintai bantuan untuk membantu keberlangsungan penerbitan majalah itu. Akan tetapi bantua yang diberikan berupa tehnik penulisan, layout maupun menejemen keredaksian.

"InsyaAllah siap jika diminta bantuan, karena disini juga banyak wartawannya," ungkap Dion (Suwandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Pesantren, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

Sebagaimana tercatat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria pada masa pra-Islam yang terjebak dalam sebuah gua. Cerita dimulai ketika hujan turun dan mereka berteduh dalam gua di suatu gunung.

“Bleg!” Tiba-tiba saja sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung ketiga laki-laki tersebut. Mereka tak cukup tenaga untuk menggeser batu raksasa itu. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah berdoa.

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

“Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar,” kata salah seorang dari mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya.

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku. Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Doa tersebut terkabulkan. Allah subhanahu wa Taala membuka celah lubang gua tersebut. Namun, satu pun dari mereka bertiga belum ada yang bisa keluar dari celah tersebut.

Salah seorang dari mereka berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu. Lalu aku bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!”

Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua. Giliran seorang teman lagi yang berdiri lalu memanjatkan doa:

“Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, Berikanlah hakku! Namun aku tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata; Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain! Lalu aku berkata kepada orang tersebut, Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu! Orang tersebut menjawab, Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku! Kemudian aku katakan lagi kepadanya, Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka!

Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Hadits tersebut mengungkap pesan bahwa doa yang disertai tawasul melalui amal saleh memiliki faedah yang nyata. Memprioritaskan berbakti kepada kedua orang tua dibanding yang lain, keberanian untuk keluar dari godaan berat berbuat zina, dan kewajiban memenuhi hak buruh, sebagaimana dipaparkan dalam kisah tersebut adalah contoh dari sekian banyak kebajikan lain yang mampu menjadi “solusi” tatkala kita dalam situasi terdesak. Hanya saja, amal-amal baik apa pun tentu tak berarti apa-apa kecuali tujuan pokoknya hanya untuk mencari ridha Allah. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menyatakan secara resmi 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada Ahad, 29 Juni 2014. Penetapan tersebut disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin setelah menggelar sidang itsbat di Jakarta, Jumat (27/6).

Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Resmi Tetapkan 1 Ramadhan Ahad

Lukman menjelaskan, keputusan tersebut dikemukakan setelah pemerintah mendengarkan berbagai pandangan dari para pakar dan perwakilan ormas Islam pada sidang yang berlangsung secara tertutup. Kemenag telah menyebar tim rukyat di 63 lokasi dan tak satupun yang melaporkan telah berhasil melihat hilal karena hilal berada di bawah 1 derajat.

“Maka sidang itsbat menyepakati istikmal, melengkapi, menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Maka dengan demikian, disepakati 1 Ramadhan 1435 Hijriah jatuh pada hari Ahad tanggal 29 Juni tahun 2014,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lukman mengakui, keputusan tentang awal puasa oleh pemerintah ini tidak memaksa siapapun untuk mengikuti, tapi pihaknya merasa perlu untuk memberi pegangan hukum. “Namun demikian pemerintah punya tanggung jawab memberi arahan untuk memberikan pedoman kapan Ramadhan itu diawali,” tuturnya.

Dari sidang itsbat, Lukman juga mengemukakan salah satu pokok pikiran peserta sidang. Ke depan, katanya, harus lebih banyak pembahasan yang melibatkan tokoh-tokoh ormas Islam dan para pakar untuk menyamakan kriteria imkanur rukyat. Ia juga menekanan perlunya menyamakan persepsi soal definisi hilal.

Dalam kesempatan itu Kemenag juga mengimbau warga untuk menjaga kondisivitas bulan suci dengan saling menghormati. Ia menolak adanya sweeping atau aksi kekerasan selama Ramadhan. (Mahbib Khoiron)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock