Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penyanyi rock Mell Shandy mengaku mendapatkan pengalaman lain sejak bergabung dalam grup musik Ki Ageng Ganjur dari Yogyakarta yang dipimpin Ngatawi Al-Zastrouw. Grup musik ini menuntunnya menjadi religius tanpa kehilangan karakter aslinya sebagai penyanyi rock.



Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock (Sumber Gambar : Nu Online)
Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock (Sumber Gambar : Nu Online)

Mell Shandy: Berislam Sambil Ngerock

”Sejak bergabung dengan Ki Ageng Ganjur tahun 2000 saya merasa mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa, yang menuntun saya berpenampilan seperti ini (berbusana muslimah, red),” kata Mell Shandy dalam konferensi pers Tour Show Musik Religi ke Timur Tengah bersama Ki Ageng Ganjur di ruang pertemuan PBNU, Sabtu (17/10).

Bersama Ki Ageng Ganjur, katanya, dia banyak belajar ilmu agama Islam namun tetap bisa menunjukkan karakter pribadinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Karakter saya tidak hilang. Meskipun berpenampilan seperti ini (berbusana muslimah, red) Saya tetap bisa ngerock. Di sini ada gamelan Jawa tapi musiknya bisa dikolaborasikan dengan rock, luar biasa. Saya menikmati banget,” katanya.

Ia mengaku terkejut sekaligus senang mendapatkan tawaran mengikuti Tour Show Musik Religi ke Timur Tengah. ”Meski tidak digaji layak, tapi saya ambil pengalaman dan ilmunya,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mell Shandy akan menyanyikan beberapa nyair sufi dan shalawat dengan iringan musik rock murni yang dipadu dengan gamelan Jawa dan dua jenis gamelan Arab yakni Bayati dan Syikah. Salah satu yang akan dinyanyikannya adalan syair ”Ya Badratim” dalam hentakan musik rock.

Penyanyi lain yang akan ikut dalam tour ke Timur Tengah adalah Andi Riff yang juga berkarakter rock. Andi akan menyanyikan lagu-lagunya sendiri yang telah populer di Indonesia, terutama yang bernuansa religi.

”Bagi saya, konser ke Timur Tengah ini adalah pengalaman baru, ilmu baru juga. Kebetulan waktu saya cocok maka saya ikut dengan rombongan ini. Saya musisi yang suka bekerjasama dengan siapapun dan jenis musik apapun,” katanya.

Salah satu kostum yang akan dikenakan Andi adalah pakaian gamis ala Timur Tengah. ”Coba dibayangkan sendiri gamisnya rocker itu seperti apa,” katanya bergurau. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi

Bandung, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung menggelar pelatihan kewirausahaan dengan pendekatan teknologi di Madrasah Attaufiq Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Ahad (10/11).

Menurut Ketua Panitia pelatihan, Ujang Miftahudin pelatihan itu diikuti seratus pemuda Ansor dari kecamatan-kecamatan se-Kota Bandung. “Kita siapkan mereka untuk pembentukan BMT (Baitul Mal Waa Tanwil),” katanya keppada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal melalui pers rilis yang dikirim Selasa (12/11).

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Pemuda Ansor Kota Bandung Dilatih Wirausaha Teknologi

Dari pelatihan itu, kata dia, mereka didorong untuk membentuk kajian kewirausahaan teknologi di kalangan muda mudi yang bersifat integratif dan berkelanjutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kurang dari 2% generasi muda yang mempunyai jiwa interpreneurship. Dengan semangat 10 November ini mari kita siapkan untuk mengisi kekosongan posisi pahlawan, kita harus merdeka dari sisi ekonomi,” jelasnya.

Karena itu, Ujang menambahkan, pada pelatihan itu para pemuda diberi pemahaman dan pembekalan bagaimana cara membangun dan mengembangkan ekonomi dengan pendekatan teknologi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua PC GP Ansor Kota Bandung, Abdul Rozak mengatakan, perkembangan teknologi di Indonesia akhir-akhir ini begitu cepat dan tak bisa ditolak. “Pemuda Indonesia harus segera mengikutinya dan mengembangkannya untuk kepentingan ekonomi.”

Rozak menambahkan, pendidikan wirausaha yang bertepatan dengan Hari Pahlawan bertujuan menyelesaikan basic need (kebutuhan dasar) masyarakat, khususnya pemuda, dengan berwirausaha.

Fasilitator pada kegiatan tersebut adalah Wakil Ketua Bidang Banom Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bandung Nur Hidayat dan Hendri Irawan. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Internasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang didampingi oleh ketua PP Pagar Nusa M. Nabil Haroen dan Ketua PP Fatayat Anggia Ermarini melantik kepengurusan cabang istimewa NU Malaysia, Pagar Nusa dan Fatayat periode 2017-2020, Ahad (24/9) di Dewan Sulaiman Kuala Lumpur. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan KBRI untuk Malaysia dan warga NU yang ada di Malaysia.

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik Kepengurusan PCINU Malaysia

Ketua Pertubuhan Malaysia Ustadz Ahmad dalam sambutannya mengatakan, NU Malaysia berserta Banomnya merupakan organisasi yang telah sah di Malaysia karena telah didaftarkan secara resmi di Malaysia serta diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai organisasi pertubuhan NU Malaysia. 

 

Dalam kesempatan itu, Ketum PBNU memberikan ceramah sekaligus memberi arahan kepada pengurus NU dan Nadliyin untuk memahami sejarah NU serta mampu memberikan pemahaman maupun meningkatkan praktik amaliyah ibadah yang menjadi tradisi kuat di tubuh NU. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Said juga menegaskan bahwa NU berkomitmen mempertahankan negara Indonesia sebagai darussalam (negara damai) bukan negara darul Islam. 

“Sebaiknya nanti tetap kembali ke Indonesia untuk membangun daerahnya masing-masing dan berbakti untuk bangsa,” pesan Kiai Said.  

Kepengurusan PCINU Malaysia yang digawangi oleh Ustadz Ihyaul Lazib, Ketua PCI Fatayat Rizki Makiyyah, dan Ketua PCI Pagar Nusa Malaysia Mohammad Zakki berserta jajaran kepengurusannya berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah serta tentunya menjadikan NU bermanfaat bagi masyarakat Indonesia di Malaysia. (Wahyu Hidayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Bekasi, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Maulid adalah isim zaman dan isim makan dari walada. Walada, kata kerja lampau, berari telah lahir. Sedangkan Maulid bermakna hari dilahirkan atau tempat kelahiran. Dalam tradisi Islam Nusantara, maulid memiliki tiga makna.

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Pertama, bulan. Bulan yang dimaksud adalah bulan dalam almanak Hijriyah, yakni Robi’ul Awal. Muslim Nusantara tidak menggunakan Robi’ul Awal, melainkan dengan sebutan Maulid, disebabkan karena bulan tersebut merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 Maulid. Penyebutan Maulid pun rasanya lebih muda ketimbangan Robi’ul Awal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Orang Jawa, orang Sunda, orang Banjarmasin, orang Jakarta, dan lain-lain menyebut bulan Robbi’ul Awal dengan Maulid atau Mulud.

Sementara orang Madura menyebut dengan Molod dan Molot. Orang Aceh menyebut dengan Moloed. Bulan ini sangat dihormati, bahkan disebut bulan suci. Bulan maulid dianggap suci, karena orang suci dilahirkan. Ramadlan dikenal dengan bulan suci, karena pada waktu itulah kitab suci diturunkan. Ada lagu yang masyhur tentang bulan Maulid karya Nasida Ria, “Bulan maulid bulan yang suci”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Makna kedua dari Maulid adalah hari pringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dalam kalender Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awal. Pada tanggal 12 Maulid itu, umat Islam Nusantara, terutama pemegang Madzhab Aswaja, berkumpul di tempat yang disepakati, di masjid atau surau, di pesantren atau tempat-tempat bersejarah seperti keraton, hingga alun-alun kota.

Di Yogyakarta, Keraton mengadakan Grebeg Maulid pada tanggal 12 Maulid. Di Keraton Kasepuhan, ada tradisi Malam Panjang Jimat, di tanggal hari kelahiran Nabi SAW. Di desa-desa Nusantara, tanggal 12 Maulid dirayakan dengan membaca sejarah Nabi SAW yang terdapat di kitab al-Barzanji, dan lain-lain.? Pada hari tersebut juga, perayaan identik dengan acara makan-makan bersama atau bancakan seusai acara inti. Di Yogyakarta, ada Gunungan yang terbuat dari aneka macam makanan, bahkan di Padang Pariaman, ketika Maulid ada makanan khas, yakni Lemang.

Ketiga, Maulid bermakna pengajian umum yang dikhususkan untuk mempringati kelahiran Nabi Muhammad. Penyelenggraan pengajian ini tidak terikat tanggal 12 Maulid. Ia bisa dilakukan ditanggal 1, 9, 23 Maulid dan seterusnya. Pengajian ini dikenal dengan sebutan Maulidan atau Muludan.

Di daerah-daerah yang tradisi Islamnya kental, pengajian Maulid dilakukan di luar bulan Maulid. Bahkan, di Pada Pariaman-Sumatara Barat, Maulid Nabi dilakukan selama tiga bulan, dengan makanan khasnya Malemang, yaitu Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Pengajian yang diselenggarakan di masjid, surau, berisi ceramah keagamaan, sholawat Nabi, dan lain-lain.

Tidak seperti beberapa tahun lampau, hari ini peringatan Maulid Nabi diadakan secara terbuka, makin semarak, di tempat-tempat modern, di kampus, sekolah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya, juga televisi-televisi. Penyelenggara Maulidan mulai dilakukan oleh pemuda, komunitas pekerja, ibu-ibu, organisasi masyarakat, hingga institusi negara.

Hari ini, tampaknya orang melupakan pertanyaan, ”Apa hukum Maulid?”, “Mana dalil Maulid Nabi?”

Mereka sudah berasyik-masuk dengan acara Maulid yang penuh kegembiraan, penuh ekspresi, dari mualai merayakan dengan seni sastra, suara, musik, hingga makanan-makanan yang khas, yang tidak ada kecuali pada perayaan Maulid Nabi.

Memang masih ada saja orang yang usil dengan agenda Maulid Nabi, tapi di Indonesia jumlah kelompok yang mengharamkan acara tersebut amat kecil. Tapi juga seringkali suka cari perhatian dengan melakukan aksi-aksi over acting, teriak-teriak di radio, menyebarkan fitnah lewat lembaran-lembaran kecil, bahkan mendatangi rumah-rumah. Sampai di sini saya teringat dengan almaghfurlah Ki Fuad Hasyim Buntet, ketika menjelaskan perbedaan antara Maulid dan Haul.

“Kenapa bukan maulidan yang diperingati?” tanya Ki Fuad kepada jamaah Haul Mbah Ali Maksum Krapyak, beberapa tahun lampau. Lalu ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan fasih dan lancar.

“Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi Muhammad sebagai Rasul Tuhan. Peringatan maulid hanya layak kita rayakan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan kabar gembira juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan mengembangkan peradaban dunia, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai sang rasul. Sedangkan kita, manusia biasa, tidak. Peringatan ulang tahun Muhammad diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya yang juga diwariskan kepada para pengikutnya.”

“Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat kita?” Kang Fuad bertanya lagi. Lalu ia menjawab sendiri dengan singkat tapi gamblang, “Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah atau harlah sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan kebiasaan (‘adah) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’ perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan penting dilontarkan lagi sesaat kemudian, “Bagaimana sikap kita kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara haulan ataupun maulidan?” kata mereka bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi Muhammad. Semua bid’ah itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu hanya dijelaskan saja oleh Kang Fuad, “Kita tidak usah menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti itu. Selagi tidak mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

Maulid Nabi bertujuan untuk mengagungkan, mengingat perjuangan serta meneladani Nabi Muhammad. Tradisi Maulid ini juga merupakan salah satu bentuk dakwah Islam Nusantara. Di dalam acara Maulid Nabi juga disyiarkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Melihat begitu semarak dan semangat perayaan Maulid yang juga dilakukan dengan tulus, sepertinya, Maulid Nabi tak akan pernah berhenti. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bukti bahwa Islam sangat menghormati dan melindungi non Muslim banyak terekam dalam al Quran. Banyak kisah-kisah non Muslim yang justru ada dalam al Quran dan tidak tersebut di kitab suci mereka. Demikian penjelasan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Refleksi Awal Tahun PBNU, Selasa, 4 Desember 2011.



Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Islam Membela Non Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Islam Membela Non Muslim

"Ketika terjadi Perang antara Romawi (Katolik) melawan Persia (Majusi) Rasulullah berharap Romawi menang, namun nyatanya Romawi kalah dan turunlah surat ar Rum yang menghibur. Dan ini diabadikan dalam al Quran," kata pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Dalam surat ar Rum disebutkan bahwa tidak lama lagi Romawi akan segera menang dan di saat itulah kaum Mumin harus ikut bergembira menyambut kemenangan Romawi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said bercerita, suatu saat Rasulullah menerima hadiah dari Gubernur Mesir, yakni Mariah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Mariah adalah seorang wanita yang beragama Ortodok Koptik. Rasulullah berkata kepada Khalifah Umar, "Nanti Mesir akan berjaya melalui tanganmu (kekuasaanmu), saya titipkan keluarga Mariah kepadamu."

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kang Said menjelaskan bahwa Rasulullah menitipkan keluarga Mariah adalah untuk menjaga agama Mariah sebelumnya yakni Ortodok Koptik. "Dan akhirnya terbukti, ketika Perang Salib, tidak satupun orang Ortodok Koptik yang diserang. Dan hingga saat ini Ortodok Koptik tetap eksis di Alexandria," jelas Kang Said.

Kisah pembantaian Nasrani Najran diabadikan oleh al Quran dalam surah al Buruj. Saat itu Raja Dzu Nuwas dengan kejam membantai Nasrani Najran dan kemudian dimasukkan dalam lubang dan dibakar hidup-hidup. "Kisah ini terekam jelas dalam al Quran yang justru tidak disebutkan oleh Injil," jelas Kang Said.

"Jadi jangan dikira bahwa dalam kisah itu adalah cerita orang Islam, itu adalah kisah Nasrani Najran," tegas pria yang akrab disapa Kang Said ini.

Korban yang terbunuh akibat kekejaman Dzu Nuwas ini hanya memiliki satu kesalahan, yakni beriman kepada Allah.

Cerita lain tentang pembelaan Islam terhadap non Muslim juga terjadi pada saat Khalifah Umar menerima kunci dan berkunjung ke gereja di Palestina. Saat itu masuk waktu ashar dan Khalifah Umar ingin bergegas melaksanakan salat. Kemudian Sofrinus, yang menyerahkan kunci, memersilakan Umar untuk salat di dalam gereja, namun Umar menolaknya.

Lalu Kang Said menjelaskan alasan penolakan Umar, "Khalifah Umar menolak bukan karena salat di dalam gereja. Namun beliau takut jika suatu saat nanti gereja tersebut akan direbut kaum Muslimin dengan alasan beliau pernah salat di sana."

Kisah-kisah perlindungan Islam terhadap non Muslim ini, menurut Kang Said, harus bisa dijadikan contoh teladan bagi kaum Muslimin agar tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap non Muslim. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Hukum Pelawak atau Komedian dalam Islam

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Kepada Dewan Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal yang terhormat. Saya mau tanya, bagaimana hukum seorang pelawak atau komedian dalam perspektif Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah? Mohon penjelasannya. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih. (Rahmawati Abdillah Putri-Brebes)

Jawaban

Hukum Pelawak atau Komedian dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Pelawak atau Komedian dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Pelawak atau Komedian dalam Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT merahmati kita selalu. Lawak atau gurau adalah salah satu cara mengisi waktu pertemuan secara menyenangkan. Lawak, kelakar, canda, dan humor dapat menyegarkan mata yang kantuk, menghibur hati yang duka, dan menyejukkan jiwa yang lelah. Singkat kata, gurau merupakan salah satu bagian dalam komunikasi yang diharapkan dapat menyenangkan orang lain.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mausu’atul Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah menyebutkan bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk hadir sebagai sahabat yang baik di antara mereka. Kepeduliaan terhadap sahabat secara lahir dan batin ini ditekankan sekali dalam Islam. Jangan sampai kehadiran kita menyusahkan orang lain baik lahir maupun batin.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Perihal sikap lembut terhadap rekan dan sahabat, Allah memang memerintahkan kita untuk bersikap baik kepada teman sejawat. Teman sejawat adalah teman seperjalanan, rekan kerja, dan orang yang disatukan dengan kita dalam sebuah pertemuan. Salah satu bentuk sikap baik adalah tidak menyulitkan, bahkan membantu mereka bila perlu. Rabi‘ah bin Abu Abdirrahman mengatakan, ‘Muru’ah dalam perjalanan adalah mendermakan bekal, menghindari perselisihan, memperbanyak bergurau pada masalah yang tidak mengundang murka Allah’,” (Lihat Kementerian Wakaf dan Masalah Keislaman Kuwait, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah).

Perihal gurau, lawak, kelakar ulama memang berbeda pendapat. Sebagian ulama menghindari gurauan dan kelakar karena gurauan menurut mereka dapat mengurangi wibawa seseorang. Sementara sebagian ulama lainnya memandang bahwa kelakar justru melengkapi wibawa seseorang.

? ?: ? ? - ? ? ? - ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? . ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebagaimana pernyataan Az-Zubaidi, para ulama berbeda pendapat perihal gurau dan kelakar. Sejumlah ulama menganggap Rasulullah SAW jauh dari gurauan dan kelakar melihat kedudukan dan martabatnya yang mulia. Ketika para sahabat RA menanyakan, ‘Apakah Engkau bergurau dengan kami ya Rasul?’, Beliau menjawab, ‘Aku tidak berkata selain kebenaran.’ Dengan kata lain, sebagian sahabat bertanya, apakah gurauan itu khusus untuk Rasulullah SAW yang mana mereka tidak boleh mengikutinya? Rasul menerangkan, kebolehan bergurau itu bukan sebuah kekhususan baginya. Gurauan tidak menafikan kesempurnaan. Bahkan gurauan itu konsekuensi dan pelengkap kesempurnaan bila gurauan berjalan sesuai undang-undang.” (Lihat Kementerian Wakaf dan Masalah Keislaman Kuwait, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah).

Imam An-Nawawi secara jelas menyebutkan bahwa lawak, humor, dan kelakar itu bergantung pada porsinya. Sejauh tidak terperosok pada hal yang dilarang seperti merendahkan bahkan menyakiti orang lain, kelakar dan gurauan tidak masalah. Ketika dan kelakar mengarah pada pengecilan terhadap martabat orang lain, dilakukan secara berlebihan, atau melalaikannya dari kewajiban, humor dan lawak dilarang agama.

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Para ulama berkata, ‘Kelakar terlarang adalah kelakar yang berlebihan dan dilakukan terus-menerus karena menyebabkan senda gurau dan keras hati’ serta dapat melalaikan zikir dan menyita perhatian yang semestinya diarahkan untuk memikirkan perihal penting dalam agama. Kecuali itu, kelakar sering kali menyakiti perasaan orang lain, memicu kebencian, dan menurunkan wibawa orang lain. Sementara kelakar yang jauh dari sifat-sifat itu dibolehkan seperti kelakar yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau melakukannya sesekali untuk kemaslahatan dan menghibur hati lawan bicara. Untuk ini tidak ada larangan sama sekali. Bahkan kelakar seperti ini sunah yang dianjurkan bila dilakukan sesuai sifat-sifat gurauan Rasulullah SAW. Pegang lah pendapat ulama yang kami rujuk, dan hadits berikut hukumnya yang kami teliti karena hampir semuanya dibutuhkan. Semoga Allah memberi taufiqnya,”(Lihat Muhyiddin Abu Zakaria An-Nawawi, Al-Adzkar, Darul Hadits, Kairo, halaman 305-306).

Penjelasan dalam kitab Al-Adzkar ini di atas sangat menarik untuk dijadikan catatan bagi mereka yang ingin bergurau dengan orang lain. Rambu-rambu ini patut diperhatikan agar gurauan tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang termasuk menyinggung masalah SARA atau menghina fisik.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Sambut "Hari Perempuan Internasional" Kader PMII Berlatih Tari

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kader perempuan PMII Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga mulai melenturkan diri dengan latihan tari di area parkir bagian barat kampus, Jum’at (21/2). Mereka tengah bersiap menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Sabtu (8/3).

Selain perempuan yang tergabung dalam Kapash (Komunitas Perempuan Syariah dan Hukum), kader laki-laki PMII juga mengikuti latihan tari. Latihan tari ini dipandu Pesang dari Sanggar SangArt.

Sambut Hari Perempuan Internasional Kader PMII Berlatih Tari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Perempuan Internasional Kader PMII Berlatih Tari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut "Hari Perempuan Internasional" Kader PMII Berlatih Tari

“Latihan tari ini sebenarnya sudah digelar mulai beberapa hari lalu, tapi tempatnya bukan di sini. Latihan ini merupakan persiapan untuk pementasan acara yang akan kami adakan dalam memperingati Hari perempuan Internasional di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga,” terang Ketua Kapash Naya Rukunuddin di sela-sela latihan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara yang mengangkat tema “Woman To Be Creative” itu nantinya tidak hanya mementaskan penampilan dari kader-kader Kapash saja. Rayon-rayon yang ada di UIN Sunan Kalijaga juga diundang untuk meramaikan acara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penampilan anak-anak TK se-DIY nantinya, sambung Naya, juga akan menjadi serangkaian acara yang akan di gelar Sabtu (8/3) mendatang.

“Kami berharap nanti saat pementasan berlangsug kader-kader Kapash sudah siap tampil luar dalam. Maka dari itu latihan ini kami gelar setiap malam. Kami menginginkan mereka memberikan penampilan terbaik saat pementasan yang berlangsung sehari semalam nanti,” tutur kader Kapash, Eka Oktaviani. (Abdul Rahman Wahid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Internasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seorang manula berusia 80 tahun, imam di Saudi telah menjalankan ibadah haji sebanyak 60 kali, yang bisa mencatatkan namanya dalam daftar the Guinness World Record book.

“Tidak ada perbandingan antara haji saat ini dengan masa lalu ketika sarana dan prasarana masih kurang,” kata Sheikh Jabran Yahya Solaiman Al-Malki, kepada Saudi Gazette, Ahad, 13 October.

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Manula Saudi Miliki Rekor Haji 60 Kali

Bagi Malki, yang merupakan seorang imam di masjid Hiraz di Al-Dair, di propinsi Jazan, Barat Daya Saudi, layanan haji telah berubah banyak sejak ia pertama kali berhaji bersama ayahnya pada 1954.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia mengatakan, perjalanan dari Jazan ke Makkah memerlukan waktu dua minggu.

Al-Malki menambahkan waktu itu, tidak ada jalan beraspal, mobilnya tua dan penuh asap, tidak tersedia cukup air, makanan atau toiler di area tempat suci.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jumlah jamaah haji sekitar 250.000,” katanya.

“Kami biasa tinggal di tenda…kami harus berjalan kaki yang jauh antara Mina, Arafat dan Muzdalifah.”

Ingatan pengalaman zaman susah tersebut tak akan dilupakannya. Dia sangat memuji pelayanan haji saat ini.

"Haji sekarang seperti piknik, terima kasih pada layanan baik yang disediakan pada para tamu Allah oleh pemerintah Saudi Arabia..,” katanya.

Al-Malki mengatakan, dia menjalankan ibadah haji untuk dirinya sendiri, menghajikan orang tua, saudara dan beberapa anaknya yang mati muda.

"Pada usia 80 tahun dengan 60 kali haji, imam tersebut dapat dicatatkan di rekor dunia,” kata koran tersebut. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

PCINU Tunisia Silaturrahmi dengan Dubes RI

Tunis, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Menjelang seminar internasional September mendatang, Pengurus tanfidziyah (dewan pelaksana harian) PCINU Tunisia bersilaturrahmi dengan Dubes RI untuk Tunis, Ikrar Nusa Bhakti, di Wisma Dubes di Du Lac, Tunis, Rabu (10/5/2017) siang.?

PCINU Tunisia Silaturrahmi dengan Dubes RI (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Tunisia Silaturrahmi dengan Dubes RI (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Tunisia Silaturrahmi dengan Dubes RI

PCINU Tunisia tiba di Wisma Dubes pukul 12:30 siang, waktu setempat. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Dubes. Silaturrahmi berlangsung cair, setelah makan siang terlebih dahulu.?

Dalam kesempatan itu, A. Muntaha Afandie, ketua tanfidziyah, mengucapkan terima kasih kepada Dubes RI karena telah menerima dengan penuh kehangatan dan kekerabatan.

“Kami mengucapkan terima kasih di tengah kesibukan Bapak, bisa menerima kami. Kami (Pengurus tanfidziyah, red) hadir lengkap. Pertama ingin bersilaturrahmi dan mengucapkan selamat datang,” tutur Muntaha.

Dalam kesempatan itu, Muntaha juga meminta kesediaan Ikran sebagai pembicara dalam seminar Internasional PCINU Tunisia yang bekerja sama dengan Mominoun Without Borders, September mendatang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Selain silaturrahmi, kedatangan kami juga meminta kesediaan Bapak menjadi pembicara seminar internasional September mendatang,” lanjut mahasiswa pascasarjana di Departement d’Arabe, Universite de la Manouba.

Selain membicarakan masalah seminar Islam dan demokrasi dari sudut pandang Islam Nusantara dan Tunisia, pertemuan juga membicarakan program-program terbaik PCINU Tunisia baik yang sudah, sedang, maupun akan dilaksanakan yang bisa disinergikan dengan KBRI.

Dubes RI terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan program-program kader NU yang sedang study di Tunisia. Ia juga mengapresiasi usaha-usaha mereka mempromosikan kebudayaan Indonesia di negeri Ibn Khaldun ini.

“Semoga kita bisa saling berkolaborasi dan bekerjasama,” kata pengamat politik dari LIPI. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pesantren, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Untuk yang kedua kalinya penghargaan Santripreneur Award digelar Rumah Enterprener Indonesia (REI). Di tahun yang kedua ini REI menggandeng Kemenkop dan UKM RI, serta memilih lokasi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melaksanakan berbagai rangkaian acara Santripreneur Award.

“Alhamdulillah, di tahun 2016 ini REI, tidak hanya menyelenggarakan Santripreneur Award saja untuk yang kedua kalinya, namun berbagai acara atau event santripreneur. Di antara rangkaian acara ada Santripreneur Expo, Training Santripreneur, serta Santripreneur Award 2016,”jawaban singkat dari Direktur Utama REI M. Choirul Anam melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahad (11/9). Acara yang berlangsung di akhir bulan September 2016 ini akan dilaksanakan di Jogja Expo Center (JEC) dengan tema “Semarak Santripreneur Indonesia”.

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Santripreneur 2016 Menembus Pasar Global

Menurutnya, santripreneur merupakan generasi baru yang lahir dari tingginya semangat berwirausaha di kalangan santri. Santri yang dimaksud disini merupakan santri yang mukim atau alumnipondok pesantren maupun warga negara Indonesia? yang mempunyai hubungan keislamandengan pondok pesantren atau kiai.

KH Ahmad Sugeng Utomo selaku Pembina REI mengatakan, sekarang ini santri harus bangkit dalam bidang ekonomi. Santri tidak melulu berkecimpung di ilmu agama saja untuk mengembangkan agama Allah. Penguasaan di ranah ekonomi juga perlu untuk ditaklukkan guna menjadi santri yang alim dalam agama, bermoral dalam perilaku, mapan dalam mentalitas, cakap dalam berbisnis, dan berdedikasi dalam karya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santri yang notabene adalah sebagai pemerkokoh dan penerus bangsa, lanjut dia, diharapkan bisa mengikuti santripreneur untuk mendapatkan pengetahuan lebih tentang dunia kewirausahaan, terlebih untuk santri yang sudah memiliki usaha bisa mengikuti acara santripreneur award dengan mendaftar di website resminya yaitu www.santripreneur.co.id.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Santripreneur sebagai wadah berkumpulnya santri-santri yang berwirausaha diharapkan lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan mengikuti Training Santripreneur yang merupakan salah satu rangkaian acaraSantripreneur Award.

Training yang bertemakan “Pelatihan Wirausaha Pemula” pihak REI mendatangkan narasumber dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia dan beberapa pengusaha dari Yogyakarta maupun Nasional.

“Harapan kami acara Santripreneur Expo dan Training untuk santripreneur bisa mendatangkan manfaat bagi peserta khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya”, tambah KH Ahmad Sugeng Utomo.

Rangkaian acara “Semarak Santripreneur 2016”akan berlangsung selama 3 hari yaitu pada tanggal 27-29 September 2016. Untuk hari pertama akan ada Training Santripreneur, beberapa Talkshow (“Santri Belajar Sehat” dan “Polisi Bersama Santri”), dan kompetisi Stand Up Comedy“Santri untuk Negeri” untuk hiburan para pengunjung.

Hari kedua juga ada Talkshow yang salah satunya bertemakan “Satu Jam Bersama Menteri Ketanagakerjaan; Bincang UU Ketanagakerjaan” dan malamnya ada Santripreneur Fashion Show. Berlanjut di hari ke-tiga,akan ada Talkshow Inspiratif “Pengusaha Santri Mendunia: Menguak Dunia Bisnis Ekspor & Impor”dan malamnya yaitu acara puncak “Awarding” untuk santripreneur yang lolos seleksi.

Berdasarkan informasi dari panitia, untuk pendaftaran santripreneur expo dibuka mulai 1-20 September 2016 dengan persyaratan yang sudah tertera di web resminya santripreneur. Sedangkan peserta untuk acara Training Santripreneur bisa diikuti oleh santri, mahasiswa, pengusaha pemula, serta umum. Berbeda lagi untuk peserta Santripreneur Award, peserta harus memiliki usaha dan mendaftarkan usahanya di website resmi santripreneur dengan kategori usaha Industri, Perdagangan & Jasa, kategori Boga, dan kategori Kreatif.

Pendaftaran santripreneur award untuk tahun 2016 ini, akan berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 16 September 2016. Peserta yang lolos seleksi berkas akan ditindaklanjuti berupa verifikasi lapangan, dan penjurian akhir oleh dewan juri. Setelah proses tersebut peserta yang lolos akan mengikuti penyerahan hadiah dan pemberian tropy pada malam puncak penghargaan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, H Anis Malik Thoha berkesempatan hadir dalam Halal Bihalal yang diselenggarakan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, awal pekan kemarin.

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Dalam kesempatan tersebut Anis menjelaskan mengenai tradisi halal bihalal di Indonesia, lantaran ada sebagian pihak yang mengkritisi tradisi yang telah mengakar tersebut sebagai bid’ah.

Menurutnya tidak semua hal dihukumi sesat. Demikian halnya tradisi halal bihalal atau saling maaf-memaafkan. Tradisi tersebut memang hanya ditemukan di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tradisi halal bihalal menurut Katib Syuriyah NU Cabang Istimewa Malaysia sudah ada sejak zaman pangeran Mangku Negara I sekitar abad ke-18. Pangeran Samber Nyowo memperkenalkan tradisi baru tersebut dengan bersalam-salaman setelah shalat Id yang dilaksanakan di Keraton bersama seluruh abdi dalem.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh ulama tradisi tersebut kemudian dihidupkan sebagai halal bihalal. Sebagai momentum saling memaafkan. Halal bihalal sebagai tradisi nasional masih dilestarikan hingga sekarang. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Cerita, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pendidikan Sosial Keagamaan

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terencana dan terarah. Sedangkan sosial, secara ensiklopedis berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau secara abstraksis berarti masalah-masalah kemasyarakatan yang menyangkut pelbagai fenomena hidup dan kehidupan orang banyak, baik dilihat dari sisi mikro individual maupun makro kolektif. Dengan demikian, sosial keagamaan berarti masalah-masalah sosial yang mempunyai implikasi dengan ajaran Islam atau sekurang-kuraangnya mempunyai nilai Islamiah.

Pendidikan sosial keagamaan seperti pada lazimnya mempunyai tujuan, media dan metoda serta sistem evaluasi. Media dalam hal ini bisa berupa kurikulum atau bentuk-bentuk kegiatan nyata. Yang terakhir inilah yang akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Sosial Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Sosial Keagamaan

***

Ajaran Islam atau lebih khusus syariat Islam, mempunyai titik singgung yang sangat kompleks dengan masalah-masalah sosial. Karena, syariat Islam itu sendiri justru mengatur hubungan antara manusia (individual mau pun kelompok) dengan Allah SWT, antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hubungan pertama terumuskan dalam bentuk ibadah (baik individual maupun sosial). Interaksi kedua terumuskan dalam bentuk muamalah dan muasyarah. Prinsip muamalah dalam Islam, tidak menitikberatkan pada penguasaan mutlak bagi kelompok atas pemilikan alam, sehingga menjadikan penguasaan individual, sebagaimana paham sosialisme (al-isytirakiyah al-mutlaqah). Ia juga tidak menitikberatkan penguasaan bagi individu secara mutlak yang cenderung pada sikap monopoli tanpa memiliki konsen (kepedulian) terhadap yang lain, sebagaimana dalam kapitalisme (al-rasumaliah al-mutlaqah).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi Islam menghargai hak penguasaan individual yang diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing dan tanggung jawab kelompok. Pembuktian prinsip ini bisa dilihat pada pelbagai hal, antara lain berlakunya hukum waris, zakat, nafkah, larangan judi, larangan menimbun barang kebutuhan pokok sehari-hari dan lain-lain.

Sedangkan prinsip mu’asyarah dalam Islam dapat dilihat dalam pelbagai dimensi kepentingan dan struktur sosial. Dalam kepentingan kemaslahatan umum, kaum Muslimin dituntut oleh ajaran Islam sendiri agar bekerja sama dengan penuh tasamuh (toleransi) dengan pihak-pihak di luar Islam. Sedangkan antara kaum Muslimin sendiri, Islam telah mengatur hubungan interaksinya dalam kerangka ukhuwah Islamiah bagi segala bentuk sikap dan pelilaku pergaulan sehari-hari.

Dari sisi struktur sosial yang menyangkut setratifikasi sosial bisa dilihat, bagaimana ajaran Islam mengatur interaksinya, misalnya hubungan lingkar balik antara ulama, umara (pemerintah), aghniya (orang kaya) dan kelompok fuqara’ (orang fakir). Pendek kata, dalam Islam terdapat aturan terinci mengenai muasyarah antara pelbagai kelompok sosial dengan pelbagai status masing-masing.

***

Disiplin sosial secara sosiologis dapat diartikan sebagai suatu proses atau keadaan ketaatan umum atau dapat juga disebut sebagai "ketertiban umum". Ketertiban itu sendiri merupakan aturan muasyarah antar masyarakat baik yang ditentukan oleh perundang-undangan mau pun yang tidak tertulis, hasil bentukan dari suatu kultur atau budaya. Dapat juga, ia merupakan nilai-nilai yang berlaku, baik yang berorientasi pada budaya mau pun agama.

Bagi Islam, bentuk disiplin sosial adalah kesadaran menghayati dan melakukan hak dan kewajiban bagi para pemeluknya, baik dalam sikap, perilaku, perkataan perbuatan mau pun pemikiran. Dalam hal ini, di dalam Islam dikenal ada huquq Allah (hak-hak Allah) dan huquq al-Adami (hak-hak manusia). Sedangkan hak-hak manusia pada hakikatnya adalah kewajiban-kewajiban atas yang lain. Bila hak dan kewajiban masing-masing bisa dipenuhi, maka tentu akan timbul sikap-sikap sebagai berikut:

Solidaritas sosial (al-takaaful al-ijtimai), toleransi (al-tasamuh), mutualitas/kerjasama (al-ta’awun), tengah-tengah (al-itidal), dan stabilitas (al-tsabat).

Sikap-sikap itu merupakan disiplin sosial yang sangat erat hubungannya dengan ajaran Islam yang mempunyai cakupan luas, seluas aspek kehidupan yang berarti, bahwa Islam sebenarnya mampu menjadi sumber referensi nilai bagi bentuk-bentak kehidupan sosial. Lebih dari itu, mengaktualisasikan sikap-sikap itu dengan motivasi ajaran dan perintah agama, berarti melakukan ibadah. Disiplin sosial dapat juga identik dengan ibadah dalam Islam (dengan amal).

Dari uraian pada ketiga kerangka di atas, dapatlah diambil kesimpulan, bahwa masalah-masalah sosial ke agamaan Islam meliputi semua aspek kehidupan sosial sementara itu ajaran Islam telah meletakkan landasan yang kuat dan fleksibel bagi sikap dan perilaku dalam disiplin sosial.

Pendidikan ke arah itu sebenarnya implisit masuk dalam pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam seutuhuya yang menyangkut iman (aspek aqidah), Islam (aspek syariah), dan ihsan (aspek akhlaq, etika dan tasawuf) akan berarti melibatkan semua aspek rohani dan jasmani bagi kehidupan manusia sebagai makhluk individual mau pun makhluk sosial.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Gus Mus: Mbah Bisri Tegas pada Keluarga, Lentur pada Masyarakat

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri menyatakan, salah seorang pendiri NU KH Bisri Syansuri atau Mbah Bisri adalah sosok kiai yang bersikap tegas terhadap diri dan keluarga, tetapi lentur dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Gus Mus: Mbah Bisri Tegas pada Keluarga, Lentur pada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Mbah Bisri Tegas pada Keluarga, Lentur pada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Mbah Bisri Tegas pada Keluarga, Lentur pada Masyarakat

"Mbah Bisri itu tegas, tapi punya kelenturan dalam menyikapi masalah masyarakat," katanya di hadapan para alumni pesantren Denanyar, asatidz, dzuriyah, dan masyarakat yang memenuhi aula PWNU Jawa Timur, Ahad (1/2).

"Saya ndak pernah seserius ini menjadi pembedah buku. Buku ini saya baca halaman perhalaman. Ini adalah biografi pendiri NU. Saya harap tim penulis lebih serius lagi dalam menggali data karena akan dibaca tidak hanya alumni, tapi juga dunia internasional,” tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aisyah Hamid, cucu Mbah Bisri menambahkan bahwa Mbah Bisri memang sosok moderat. “Buktinya penerimaan beliau terhadap Keluarga Berencan,” katanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sikap moderat yang Mbah Bisri semakin terlihat setelah beliau menjadi Rais Aam menggantikan Mbah Wahab, ujarnya.

Bedah buku itu dibuka Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH. Mutawakkil, dan ditutup doa oleh Rais Syuriyah PWNU KH Miftahul Akhyar.

Dalam pengantarnya, moderator Halim Iskandar mengaharpkan bahwa Mbah Bisri juga akan ditetapkan sebagai pahlawan nasional. "Mbah Wahab sudah, nah sekarang gilirannya Mbah Bisri," katanya. (Yusuf Suharto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Nahdlatul Ulama (NU) melalui organisasi tanggap bencana Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) membuka empat posko kemanusiaan di Aceh untuk membantu korban gempa.?

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Korban Gempa, NU Buka Empat Posko di Aceh

Keempat posko kemanusiaan tersebut terdiri dari posko kemanusiaan di Kabupaten Pidie Jaya di Merdeu, di Kabupaten Bireuen dan di Kota Banda Aceh.

1. Posko utama PWNU NAD: Jl. Ir. Moh. Tahier No. 09 Bayu Lamcot, Komplek Dayah Thalibul Huda, Darul Imaroh, Aceh Besar. CP: Indra Kariadi; 085260167216?

2. Dayah Ummul Ayman: Tgk H. Nuruzzahri Yahya, Jl. Gampong Putoh, Samalanga, Bireuen. CP; Muhrizal: 085260656657 ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

3. Dayah Mudi Mesra; Tgk H. Syeikh Hasanoel Bahsry HG, Samalanga, Bireuen. CP; Muhrizal: 085260656657?

4. Kantor PCNU Pidie Jaya: Jl. Banda Aceh-Medan Simpang 3, Kec. Merdu, Kab. Pidie Jaya. CP: Tgk Marzuki Ali: 081269148657.

Ketua PPLPBI NU, M. Ali Yusuf mengatakan hari ini posko kemanusiaan sedang dipersiapkan, untuk merespon pemberian bantuan ke lokasi bencana.?

"NU melalui Pengurus Wilayah NU di Aceh sudah memberikan bantuan awal kepada masyarakat terdampak berupa makanan, LPBI NU mengerahkan Tim reaksi cepat untuk melakukan assesment lanjutan terkait dampak gempa dan kebutuhan masyarakat terdampak," kata Ali Yusuf.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu, LPBINU segera mengerahkan timterapi patah tulang (sangkal putung) untuk membantu masyarakat terdampak gempa. NU selanjutnya akan terus melaksanakan kegiatan kemanusiaan di lokasi terdampak gempa di Pidie Jaya dan Bireuen sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan regulasi pemerintah. (Red: Fathoni) ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur,? Jumat (2/5) pagi, mendadak dihebohkan oleh kedatangan puluhan polisi, pramugari, sinden, guru, pilot, dokter, suster. Ada pula puluhan atlet, mulai dari jago silat hingga pemain sepakbola.

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Anak-anak MINU Walisongo Perankan Aneka Profesi

“Saya kaget, kok di MINU banyak polisi, perawat, polwan. Mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng pula,” kata Sri Wahyuni, salah satu walisiswa taman kanak-kanak yang pagi itu mengantarkan putranya bersekolah.

Ternyata yang berpakaian aneka macam profesi tersebut adalah siswa-siswi MINU Walisongo yang merepresentasikan masa depan mereka. Dalam rangka hari pendidikan nasional (Hardiknas) 2014 seluruh siswa-siswi MINU Walisongo memang disarankan mengenakan busana cita-cita mereka ketika kelak dewasa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Maka tidak heran suasana pagi di lembaga yang satu atap dengan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo tersebut riuh oleh suara anak-anak yang akan berpawai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya senang sekali memakai busana tentara ini, jadi gagah seperti ayah,” kelakar Rafli siswa kelas 1 Unggulan (kelas Bonang).

Semua berebut mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan madrasah yang berlokasi di Desa Sumuragung tersebut. Banyak juga pengguna jalan serta bapak-ibu walisiswa menyempatkan diri untuk sekedar bersalaman atau foto bersama para bocah mungil itu.

Selain upacara bendera dan “narsisme” busana, peringatan Hardiknas di MINU Walisongo juga diisi dengan lomba merangkai puisi kepada dewan guru. Kegiatan dilanjutkan dengan pawai ta’aruf. Hal ini diadakan guna mengingatkan masyarakat akan pentingnya peran serta pendidikan bagi generasi mendatang.

“Kami masih banyak menemui anak usia sekolah namun sudah bekerja. Semoga orang-orang yang memperkerjakannya dengan menyaksikan pawai pendidikan kami ini tergugah, bahwa masa depan anak-anak itu jauh lebih penting daripada laba yang mereka dapat,” pinta Mariyanto, kepala madrasah di bawah naulang LP Ma’arif NU Bojonegoro ini yang juga anggota PPK Sumberrejo tersebut. (Satria Amilina/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Sejarah, Humor Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat perhelatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Gedung Olah Raga (GOR) Gajayana Malang Jawa Timur, Sabtu? pekan lalu? (26/3), ada dua rekor yang ditorehkan. Pertama adalah pergantian hijab dari berwarna hijau menjadi putih oleh 50 ribu lebih peserta. Kedua, pemukulan rebana oleh seluruh peserta dan diikuti Presiden RI.





Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Ribuan massa Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang mencapai hampir 70 ribu jamaah sungguh membuat bangga siapa saja yang hadir di GOR Gajayana Kota Malang. Mereka adalah utusan Muslimat NU dari seluruh kawasan di Tanah Air, yang tentu saja didominasi dari Jawa Timur.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal





Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gubernur Jatim Pimpin Rapat

Sejak pagi, para rombongan telah memadati kawasan kota dingin ini. Ratusan bus dan mini bus merangsek memadati kota dari berbagai penjuru. "Untungnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral tersebut berjalan baik yang dilakuan panitia antara Pemerintah Kota Malang dan Jawa Timur," kata Helmi M Noor, Kamis (31/3) malam.





Pemilik Cita Entertainment dan menjadi pengatur jalannya prosesi Harlah ini mengemukakan bahwa, angka 70 ribu jamaah terlampaui berdasarkan laporan dari koordinator setiap kabupaten. Tidak tertampungnya jamaah di dalam hingga meluber di sekitar GOR adalah bukti bahwa kehadiran mereka sebagai kebanggaan.





Ditemui di kantornya, kawasan Pagesangan Surabaya, Helmi menjelaskan sejumlah tahapan yang dilakukan sehingga kegiatan berjalan sesuai harapan. "Peringatan Harlah Muslimat NU benar-benar melalui koordinasi yang sangat rapi dan terperinci," kata dia.





Seluruh kekuatan seakan dikerahkan untuk menyukseskan perhelatan akbar tersebut. "Bahkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo juga berkenan memimpin rapat secara langsung agar acara berjalan sesuai harapan," katanya. Karena itu, seluruh kepala dinas bahu membahu turut memberikan yang terbaik demi nama baik Jawa Timur.





Hal tersebut sangat terasa ketika pelaksanaan harlah. Dinas Perhubungan memberikan panduan di sejumlah titik strategis sebagai panduan agar rombongan dari berbagai kota tidak sampai tersesat. "Sejumlah petunjuk arah tersedia di banyak sudut kota saat akan memasuki Kota Malang," kata alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.





Demikian pula pihak kepolisian turun dengan kekuatan penuh, mengurai jalan sehingga tidak terjadi penumpukan. "Tidak sedikit kendaraan peserta yang dikawal menuju lokasi acara sehingga tidak menimbulkan jalan menjadi macet," katanya.





Fasilitas pendukung juga demikian membantu. "Dinas pertamanan menyediakan 100 kran di setiap sudut sehingga peserta bisa melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di dalam GOR," ungkapnya. Air yang tersedia juga termasuk istimewa karena didatangkan langsung oleh kepala dinas setempat. Demikian pula soal kebersihan, kepala dinas setempat turun langsung memimpin pasukan, lanjutnya.





Sejumlah billboard di jalur utama setiap kabupaten dan kota juga semakin memeriahkan gaung harlah. "Dan semuanya dipersembahkan untuk Muslimat NU, tanpa diminta," ungkapnya. Apa yang didermakan para pegiat dan pemilik usaha periklanan out door tersebut sebagai panggilan demi suksesnya acara. "Inilah kehebatan Muslimat NU," terang Helmi.





Tutorial Peserta

Bisa dibayangkan bagaimana ribet dan sulitnya mengatur puluhan ribu ibu-ibu muslimat yang notabene usianya juga lanjut untuk bisa satu komando. Apalagi mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia yang tidak mungkin dikumpulkan untuk dikondisikan dan megetahui teknis acara. "Ini pekerjaan yang sangat menantang," sergah bapak 3 anak ini.





Meski demikian sejumlah upaya tetap dilakukan agar jangan sampai berkumpulnya ribuan jamaah perempuan NU tersebut justru menjadi masalah. "Kalau mereka satu komando dan rapi, pasti akan terlihat istimewa," kenangnya.





Akhirnya ditemukanlah sejumlah cara di antaranya mengirimkan tutorial dalam bentuk video kepada koordinator peserta di seluruh Indonesia. "Rekaman itu sekaligus panduan bahwa pada kegiatan harlah nanti para peserta harus mengikuti langkah dan gerakan yang ada," kata alumnus Universitas Darul Ulum Jombang ini.





Saat para peserta sudah memadati GOR, dilakukan gladi resik untuk memantapkan panduan yang telah ada. "Dan untuk menyeragamkan bacaan shalawat dan ketukan pada 50 ribu rebana, kami menyediakan leader atau pemandu," ungkap dia.





Dengan demikian, puluhan ribu peserta hanya mengikuti saja bacaan dan ketukan rebana sehingga tercipta keserasian nada. Jumlah pemimpin shalawat tersebut adalah 200 orang dari unsur paduan suara Muslimat NU Jombang, 200 santri dari Pesantren Bahrul Maghfirah Malang, serta 50 personel grup shalawat dari el-Kiswah Surabaya.





Dan kalau menyaksikan tampilan rekaman yang sudah diunggah di youtube, maka akan terlihat bahwa 50 ribu peserta Harlah Muslimat NU demikian terpandu dan melantunkan shalawat serta menabuh rebana yang telah dibawa dengan tertib. "Suasananya benar-benar syahdu. GOR yang demikian luas berselimutkan shalawat," bangga Helmi.





Mendadak Presiden Hadir

Hal yang juga tidak diduga panitia termasuk Ketua Umum PP Muslimat NU sendiri, Hj Khofifah Indar Parawansa adalah kedatangan Presiden RI. "Sebenarnya 15 hari sebelum kegiatan Harlah sudah ada kepastian bahwa Presiden RI akan hadir," katanya. Karena itu sejumlah acara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kedatangan presiden.





Namun 3 hari jelang pelaksanaan Harlah, ada kabar bahwa presiden berhalangan hadir. "Oleh karena itu, semua persiapan acara yang melibatkan sebelum, saat dan usai presiden hadir akhirnya dipangkas dari agenda," kenang Helmi. Perubahan jadwal tersebut juga membawa berkah karena "kerumitan" akan terurai.





Oleh karena itu, seluruh persiapan dan rangkaian acara akhirnya dipastikan tanpa kehadiran orang nomor satu di negeri ini. "Bagi panitia, hal tersebut sebagai sesuatu yang melegakan lantaran tidak terlalu ribet dengan aturan yang mengikat," kata mantan wartawan Majalah AULA PWNU Jatim tersebut.





Namun dengan tanpa disangka sekitar jam 4 sore di hari Jumat (25/3) ada telepon dari protokoler Pemerintah Provinsi Jatim bahwa Presiden RI akan datang pada puncak Harlah Muslimat NU tersebut. "Sebentar lagi pihak protokoler Istana akan menghubungi untuk membicarakan kehadiran presiden," katanya menirukan telpon dari Pemprov Jatim.





Padahal sore itu sedang dilakukan gladi resik panitia dan petugas inti untuk kelancaran acara besok siang. Kepastian akan hadirnya Presiden RI membuat Ibu Khofifah dan panitia serta petugas menitiskan air mata. "Subhanallah, ini kejadian luar biasa dan tidak diduga," kata Helmi menirukan ungkapan Khofifah. Kala itu Helmi melihat hampir seluruh panitia dari unsur Muslimat NU dan diikuti petugas lain menangis. Air mata tumpah lantaran haru atas kejadian serba mendadak tersebut.





Benar juga, pihak protokoler istana akhirnya meminta jadwal acara secara rinci kepada panitia. Usai diemail, ada sedikit revisi yang diberikan istana terkait mata rangkai acara yang harus dilaksanakan besok siang karena melibatkan presiden. "Sekitar jam 10 malam, rangkaian acara disepakati," tegas Helmi.





Dan malam itu juga, pasukan khusus dari Jakarta terbang ke Malang dengan pesawat Hercules untuk koordinasi. "Kalau mengandalkan pesawat keesokan harinya pasti tidak akan nutut," katanya.





Dengan tindakan tegas dan langkah taktis tersebut, pihak istana bisa melakukan penyisiran lokasi dari jam 6 pagi. "Seluruh kawasan dilakukan sterilisasi untuk memastikan keamanan bagi presiden dan rombongan," katanya. Saat itu juga akhirnya dilakukan pembagian tugas. Helmi dan "pasukan" fokus ke acara, sedangkan hal yang menyangkut keamanan GOR dan sekitarnya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan.





GOR Layaknya Padang Arofah

Dengan lancarnya arus kendaraan menuju GOR karena dibantu pihak kepolisian dan dinas perhubungan, sejak pagi satu demi satu jamaah Muslimat NU memasuki lokasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) ala Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) pun diberlakukan. "Warga Muslimat yang akan masuk GOR harus melewati pintu deteksi yang membuat sedikit krodit," kata dia.





Maklum, jauh-jauh sebelum acara telah disampaikan bahwa selama di dalam GOR, peserta tidak bisa keluar lagi hingga usai acara. Keperluan shalat, bekal makanan dan sejenisnya harus telah lengkap. "Kami mengingatkan kepada peserta bahwa jadikan GOR Gajayana layaknya Padang Arofah," kata Helmi.





Nah, yang jadi "masalah" adalah ketika mereka melewati pintu deteksi sebagai SOP Paspampres. "Beberapa kali alarm bahaya berbunyi lantaran peserta membawa sejumlah peralatan layaknya bepergian jauh," seloroh Helmi. Makanan dan minuman di dalam rantang, sendok, bahkan tidak sedikit yang membawa pisau atau silet menjadi pengiring suasana sehingga terjadi antrean panjang di pintu masuk. Apalagi kala itu hanya tersedia dua pintu utama yang dibuka. "Kalau di media muncul liputan bahwa peserta berdesakan, ada benarnya meskipun tidak semuanya tepat," bela dia. Karena itu adalah konsekuensi bagi kehadiran presiden.





Namun pada prinsipnya, acara berjalan sesuai harapan. Tidak ada rombongan yang mengeluh lantaran jauh sebelum acara telah dilakukan sosialisasi terkait persiapan tersebut. Apalagi para perempuan NU yang terhimpun dalam Muslimat kerap melaksanakan ziarah wali yang mengharuskan menyiapkan keperluan pribadi dan ibadah secara mandiri. "Kemah sejenak di GOR Gajayana bagi ibu Muslimat NU sudah terbiasa," tegas Helmi.





Pecahnya rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI menjadi puncak kesuksesan acara tersebut. Ada 50 ribu lebih jamaah yang telah menyiapkan kerudung putih untuk digantikan dari awalnya hijau. "Dalam hitungan 1 hingga 9, GOR Gajayana yang awalnya bernuansa hijau, akhirnya berubah menjadi putih," katanya.





Demikian pula, rekor selanjutnya adalah pelantunan shalawat dengan menggunakan rebana, pecah hari itu. Di tribun utama ada Presiden RI, Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, Ketua MPR, Menteri Agama RI, Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat yang juga Menteri Sosial secara bersama menabuh rebana mengiringi jamaah yang berjumlah 50 ribu lebih. "Sungguh, suasana saat itu sangat khidmat dan tidak sedikit peserta yang menangis sembari menengadah sembari melantunkan shalawat," jelas Helmi.





Ribuan jamaah berbaju hijau dengan kerudung putih dengan bacaan Shalawat Badar yang dilantunkan menjadi selimut bagi stadion yang biasanya digunakan acara konser musik dan pertandingan bola. "Peristiwa ini membawa pesan bahwa dengan hijab, Indonesia akan menjadi kiblat mode dunia di masa mendatang," ungkapnya. Bahwa kegiatan dengan mengundang jamaah berjumlah ribuan tidak identik dengan acara hura-hura, tapi sarat makna.





Demikian pula pelantunan shalawat yang diiringi alat musik tradisional khas Indonesia membawa filosofi bahwa Islam dan tradisi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. "Inilah Islam Indonesia, inilah Islam Nusantara, dan inilah Islam rahmatan lilalamin," kata dia.





Seluruh rangkaian acara yang dihadiri Presiden RI tersebut berlangsung sekitar 85 menit. "Lebih cepat dari yang disepakati protokol istana yakni 90 menit," terang Helmi. Sehingga seluruh rangkaian acara diteliti dengan cermat. "Jalannya acara setiap detik dan menitnya kita hitung dengan cermat agar jangan sampai mengganggu jadwal presiden," katanya.





Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti acara di GOR Gajayana, Helmi telah menyediakan rangkumannya dalam 9 serial yang dipubilikasikan lewat youtube. "Ada tayangan singkat prosesi hijab terbanyak dan menabuh rebana bersama Presiden Jokowi yang sudah tayang," terangnya. Kemudian akan menyusul tayangan laskar antinarkoba, pidato Presiden Jokowi, pidato Khofifah, Jokowi menyapa jamaah di GOR, taushiyah KH Hasyim Muzadi, juga Khofifah saat menyanyi. Selamat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur mengajak seluruh santrinya untuk mengikuti upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan RI ke-71. Upacara yang digelar di lapangan gedung Universitas Hasyim Asyari Rabu (17/8) diikuti ribuan santri putra-putri dan seluruh jajaran pengajar.

?

Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz saat menjadi inspektur upacara mengatakan, kalangan pesantren mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. "Para ulama pesantren dan pejuang terdahulu telah berhasil secara gemilang menggulung kolonialisme mengusir penjajah. Kini giliran kita untuk meneruskan kerja sejarah bangsa ini. Santri harus terus membuat dan mewarnai sejarah bangsa ini," ujarnya.

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemerdekaan Diperjuangkan Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

Kemerdekaan, lanjut kiai yang akrab disapa Gus Kikin, diperjuangkan bukan hanya untuk menggulung kolonialisme. Namun, untuk meraih kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain kunci pentingkemerdekaan, keterdidikan juga menjadi kunci penting untuk meraih kemajuan bangsa. "Dengan keterdidikan, kita bisa meraih kemajuan dan membuat bangsa kita lebih dari sekadar sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakannya, peringatan 71 tahun kemerdekaan ini adalah pengingat dan penanda bagi kita semua untuk bekerja semakin keras dalam mengisi kemerdekaan salah satunya adalah menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. "Tugas kita semua yang ada di pesantren sebagai pendidik, menyiapakan generasi emas. Maka didiklah dengan hati dan sepenuh hati, dengan keluhuran budi pekerti dan keteladanan serta keluasan pengetahuan agar bisa menginspirasi dan menjadi teladan bagi generasi yang akan datang," pintanya berpesan.

Kepada santri yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara ini, Gus Kikin, menambahkan, sebagai generasi bangsa, santri harus bisa mewujudkan cita cita para pendiri bangsa. "Kalian adalah pemilik masa depan. Belajarlah dengan keras, tuntas dan sepenuh hati. Jangan menunggu, tapi tempalah kepribadianmu dan kembangkan prestasimu. Jalin persahabatan dengan teman-temanmu, serta hormatilah orang tua dan gurumu. Jadikan mereka suluh hidupmu, " tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asyari ini meminta para santri nantinya bisa berkiprah di masayarakat dengan berbekal profesi masing masing. "Kami berharap kalian akan menjadi generasi penerus yang dapat membawa kejayaan bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang. Santri harus selalu membauat sejarah. Kalian bisa berkiprah sesuai profesi masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pesantren Tebuireng," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur

Sampang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peringatan wafat (haul) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dihelat Pengurus Cabang Lakpesdam NU Kabuapten Sampang dengan membedah buku “Sunan Gus Dur; Akrobat Politik ala Nabi Khidir.” Kegiatan tersebut berlangsung di aula PCNU Ahad (29/12).

Bedah buku acara diawali dengan sambutan ketua Lakpesdam NU, Faishol Romdhoni. Ia mengungkapkan, digelarnya bedah buku tentang Gus Dur bertujuan untuk menghidupkan iklim intelektualitas kaum Nahdliyin di Sampang.

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Sampang Bedah Sunan Gus Dur

“Ke depan kami (Lakpesdam NU) akan membuat dokumentasi tokoh NU lokal seperti KH. Hasib Siradj, KH. Sabrawi dan tokoh kiai yang lain,” ungkapnya.

Bupati Kabupaten Sampang, KA. Fannan Hasib menyambut positif kegiatan bedah buku tersebut. “Kami berharap melalui bedah buku ini, kader NU bisa memahami pemikiran Gus Dur yang tentunya akan membantu kemajuan Sampang,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bedah buku yang dipandu Yulis Juwaidi, penulis buku, Mas’ud Adnan bercerita banyak tentang pemikiran Gus Dur yang dianggap kontroversial kalangan umum.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Gus Dur adalah orang yang menganut faham Thomas Kelly, yaitu bangsa perlu seorang pahlawan yang memiliki keberanian individualitas. Apa yang dia yakini benar dia sampaikan. Dia bukan tipikal pemimpin yang mementingkan pencitraan,” jelasnya.

Penulis buku “Gus Dur Hanya Takut Dengan Orang Madura” tersebut sangat mengapresiasi ide Lakpesdam NU Sampang yang menggelar peringatan wafat Gus Dur dengan cara yang berbeda, yaitu mengulas ide dan pemikiran Gus Dur.

Dalam acara tersebut, juga dilakukan penyerahan buku tersebut dan jaket Lakpesdam NU Sampang secara simbolis kepada bupati oleh ketua Lakpesdam NU Faishol Romdhoni.

Hadir pada kesempatan tersebut Rais Syuriyah PCNU Sampang KH Syafiuddin Abd. Wahid, Sekkab Kabupaten Sampang, Puthut Budi Santoso, serta  250 peserta yang diundang terdiri dari Muspikab Sampang, pengurus PCNU, MWC, lajnah dan Banom serta organisasi pemuda dan mahasiswa. (Rato Ebhu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Hikmah, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setiap pekan sejumlah pelajar NU meninggalkan kampusnya di Surabaya untuk menuju Jombang. Mereka di akhir pekan mengajar baca-tulis warga di sekitar utara Brantas, Jombang. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat itu untuk mengentaskan buta huruf yang diidap banyak warga setempat.

Ketua IPNU Ngusikan Jombang Hendra Setiawan salah satu dari relawan itu. Sudah 3 bulan lebih Hendra yang tengah kuliah jurusan PLS Unesa Surabaya ini, menjalani aktivitas tersebut.. Hal itu dilakukan untuk mengajar ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok buta aksara di dusun Munggut desa Ngusikan, Jombang.

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

"Kalau ngajar ibu-ibu setiap Selasa malam dan Jumat malam. Tetapi saya senang meski harus tiap minggu pulang dua hari," ujar Hendra.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain Hendra, kader IPNU yang berstatus mahasiswa seperti Miftahul Ulum, Yusuf, dan Roziq juga tercatat sebagai tutor bagi 60 warga Cupak, Ngusikan, yang ikut pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

"Ada 6 kelompok di Cupak. 3 kelompok di dusun Munggut dan 3 kelompok di dusun Cupak. Setiap kelompok 10 orang. Mereka rata-rata berusia antara 40 hingga 60 tahun," imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia bersama kader-kader NU bertekad untuk membantu pemberantasan buta aksara. Untuk program KF, pembelajaran yang diajarkan mencakup pengenalan huruf, membaca, menulis hingga berhitung. Proses belajar dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini KF sudah rampung. Kini menginjak Keaksaraan Usaha Mandiri, membuat kerajinan sandal dan tikar dari pandan dan membuat kue," ujar Dahril Kamal (Gus Ariel) yang pernah menjadi Katib Syuriyah MWCNU Ngusikan.

Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), kata Gus Ariel, memanfaatkan potensi alam daerah yang berada di tengah hutan Ngusikan. Karena, desa Cupak berada di tengah hutan yang ditempuh dengan jalan terjal dan berliku, sekitar 11 km dari kecamatan Ngusikan. Banyak pepohonan pandan di samping jati.

"Untuk bahan kerajinan, warga tidak beli. Mereka kini menunggu peran pemerintah untuk ikut memasarkan hasil kerajinan warga peserta KUM," imbuhnya.

Sementara salah satu peserta KF Genah (67) ini rela menempuh jarak 6 km dari rumahnya bersama belasan perempuan untuk belajar bersama. Nenek asal dusun Munggut yang telah memiliki 7 cucu ini menumpak kendaraan terbuka. Genah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 sekolah dasar (dulu SR), masih bersemangat meski terlihat malu-malu.

"Dulu hanya sampai kelas 1, karena gurunya meninggal dunia, dan sekolahnya bubar," ujarnya dengan bahasa Jawa saat menjawab pertanyaan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab yang menjadi guru tamu dadakan. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock