Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah melantik kepengurusan Pengurus Cabang Istlimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko periode 2016-2018. Pelantikan berlangsung di gedung serbaguna KBRI di ibu kota Maroko, Rabat pada Rabu 30 November.?

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Pelantikan dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri beberapa ulama Maroko, Nahdliyyin, juga ? Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Maurutinia H.E.D Syarief Syamsyuri beserta jajarannya.?

Pelantikan ini dimulai dengan serah terima jabatan dari ketua PCINU Periode 2014-2016 Kusnadi kepada Ketua PCINU periode 2016-2018 Abdullah Aniq Nawawi. Lalu Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung Masykuri Abdillah.?

Seperti periode sebelumnya, dalam periode ini pun Pengurus PCINU Maroko tidak hanya diisi warga negara Indonesia. Beberapa ulama terkenal Maroko seperti Dr. Ahmad Roisuni, Dr. Yusuf Kallam, Dr. Nadia Syarqoui, dan Syekh Rodi Genun juga berada dalam jajaran kepengurusan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masykuri Abdillah meminta kepada Nahdliyyin di Maroko untuk terus menjaga paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan menegaskan pentingnya belajar setinggi-tingginya. Tak cukup hanya bermodal S1 saja.

Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania mengingatkan kepada organisasi PCINU Maroko untuk terus menjaga hubungan baik dengan KBRI ? Rabat yang sudah terjalin sejak lama.?

Pelantikan ini juga diisi dengan penyerahan buku antologi cerpen “Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren”, yang merupakan 20 cerpen terbaik pilihan PCINU Maroko. Buku ini diserahkan Ketua PCINU Maroko Aniq Nawawi kepada KBRI Rabat sebagai cenderamata sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan KBRI Rabat selama ini. Acara yang berlangsung sekitar 120 menit ini kemudian ditutup oleh doa dari ulama Maroko Dr. Yusuf Kallam. (Sirojudin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Medan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bangsa ini harus cepat keluar dan mengembalikan citranya yang negatif. Cap yang kini disandang Indonesia sebagai negara koruptor, menyukai kekerasan, negara terorisme, dan label negatif lainnya harus dipandang dengan cara prihatin.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) A Jabidi Ritonga, pada seminar kebangsaan bertajuk “Ancaman Ideologi dan Ormas Radikal terhadap NKRI” yang digelar Pengurus Koordinator Cabang PKC PMII Sumut di Hotel Semarak Medan, Rabu (29/2) sore.

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Dia juga menyatakan prihatin melihat banyaknya Ormas dan OKP yang mengatasnamakan agama dan rakyat sering melakukan tindakan kekerasan. Ormas dan OKP tersebut bukan hanya melanggar hukum, tapi juga telah merugikan banyak orang dan menjadikan masa depan negara ini suram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Semakin kelihatan lemahnya negara saat ini. Preman sekarang sudah berani demonstrasi bila rekannya ditangkap. Melihat situasi ini, PB PMII merekomendasikan, bubarkan ormas dan OKP yang selalu membuat kekerasan dan keresahan bagi masyarakat. Aparat jangan takut dan takluk pada preman. Mari selamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ajaknya.

Kapolda Sumut diwakili Direktur Bimas Polda Sumut Kombes Pol Heri Subiansauri menyatkan, aparat tidak pernah takut dengan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum. “Negara tidak boleh lemah dan kalah dengan preman. Yang melanggar hukum kita sikat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sedangkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumut, H Abdul Rahim menegaskan, Islam melarang tindak kekerasan dan pengrusakan. “Jadilah tauladan yang baik, santun dalam ucapan dan perbuatan, karena itu yang diajarkan Islam kepada umatnya,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) Bukit Tambunan mengatakan, masyarakat Sumatera Utara sudah maju dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Kritikan-kritikan yang disampaikan masyarakat Sumatera Utara dilakukan dengan santun dan beretika. Namun, apabila ada Ormas atau siapa saja yang melanggar aturan main, akan kita tertibkan,” kata Bukit.

Sebelumnya, Pjs Ketua PMII Sumut Kurnia Hidayat menyatakan, PMII akan berada di garda terdepan untuk mempertahankan NKRI. "PMII akan berada di garis depan untuk membantu pemerintah dalam mengawal NKRI," kata Kurnia Hidayat.

Sekretaris Umum PKC PMII Hasan Basri dalam pengantar seminar menyoroti, negara sering terlambat dan terkesan membiarkan terjadinya tindakan kekerasan. Contoh terbaru kasus Bima, Lampung dan lainnya. Negara seakan kehilangan powernya. “Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang lagi,” harapnya.

Redaktur? ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pengurus Lakpesdam NU Aceh terus mendorong kerja-kerja kemanusiaan yang melibat sejumlah komunitas beragama di Aceh. Akhir pekan ini, mereka menggelar senam sehat dan donor darah di SD Negeri 20 Gampong Mulia Banda Aceh, Banda Aceh, Ahad (13/3) pagi.

Ketua Lakpesdam NU Aceh Marini mengatakan, acara ini terselenggara berkat kerja sama pihak Lakpesdam NU Aceh, Yayasan Hakka Aceh, Bank Mandiri KK Peunayong, PMI, dan Ahlul Bait Gampong Mulia.

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah

"Melalui program sehat dalam keberagaman ini kita berharap masyarakat sekitar ikut termotivasi untuk menjaga kesehatan salah satunya dengan senam dan donor darah," ujar Marini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua panitia acara Syukriadi menambahkan, para peserta senam berasal dari sekitar Gampong Mulia, Laksana, Peunayong, Lampulo, seputaran Kuta Alam, dan bahkan Situi.

"Kami selaku tuan rumah merasa puas karena masyarakat sangat antusias untuk hadir dan mengikuti semua kegiatan. Semoga nanti kami bisa mengumpulkan darah lebih dari 100 kantong," tambah Syukriadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara kegiatan senam Tai Chi ini dipandu oleh Wulung, salah satu praktisi Tai Chi di Banda Aceh. Ia merupakan salah seorang pengurus yayasan Hakka Aceh.

"Senam Tai Chi 24 sangat populer di Cina karena sangat membantu untuk memperlancar aliran  darah kita. Semoga kita bisa latihan sama-sama di Banda Aceh setiap hari Rabu dan Sabtu di sasana barongsai Golden Dragon Aceh di belakang Gereja Methodis Gampong Mulia,” tambah Wulung didampingi Ketua Yayasan Hakka Aceh Aky. (Ismi Amran/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Upaya KPK Berantas DI/TII

Sejarah mencatat, ada sejumlah kelompok yang tidak menyetujui berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca resmi dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Gerakan subversif mereka lakukan, makar dan kudeta terhadap pemerintahan RI yang didukung mayoritas rakyat Indonesia menjadi tujuan.

Kelompok-kelompok tersebut adalah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) prakarsa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu digerakkan oleh Dipo Nusantara Aidit, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan oleh Letkol Achmad Husein, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dimotori oleh Lektol Venjte Sumual, Kolonel D.J. Somba, dan Mayor Eddy Gagola.

Sekilas dilihat, upaya bughot (memberontak) sebagian besar dimotori oleh tentara yang sudah merasa tidak sejalan dengan visi pemerintahan yang ada dengan kecenderungan politik kekuasaaan yang tinggi. Di beberapa literatur sejarah menyebutkan, proklamasi kemerdekaan RI dibarengi gerakan hijrah pasukan, baik dari tentara nasional, Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI.

Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya KPK Berantas DI/TII

Gerakan pembersihan dalam bentuk hijrah tersebut menyisakan beberapa tentara. Sisa-sisa laskar tentara tersebut selanjutnya diorganisir secara perorangan, misal di Jawa Barat oleh Kartosoewirjo untuk melakukan perlawanan terakhir.

Dijelaskan oleh Abdul Mun’im DZ dalam Runtuhnya Gerakan Subversif di Indonesia (2014), sejumlah tentara yang tertinggal di Jawa Barat tersebut diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). 

Setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indonesia yang dianggap kafir dan komunis. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kondisi keamanan nasional seketika kacau apalagi PKI merespon DI/TII yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara komunis dengan menggelorakan perlawanan dengan mengadakan pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948. Jika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam, PKI berupaya menegakkan Negara Soviet Indonesia.

Penghianatan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI ini mendorong NU sebagai satu-satunya organisasi yang loyal terhadap NKRI untuk segera mengangkat Soekarno sebagai waliyyul amri yang sah sehingga diharapkan bisa menyingkirkan semua yang memberontak dan memusuhi negara.

Sikap NU dan pesantren yan tegas terhadap aksi pemberontakan menyebabkan mereka dimusuhi oleh DI/TII. Beberapa perangkat dakwah NU menjadi sasaran teror. Pesantren, masjid, madrasah NU dibakar, bahkan beberapa kiai diculik dan harta benda dirampas dengan tidak berperikemanusiaan. Bahkan salah satu kiai NU, KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan.

Pembentukan KPK

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terhadap gerakan-gerakan subversif ini, para kiai tidak tinggal diam begitu saja. Mereka tidak mau bangsa dan negara yang telah dibangun atas dasar konsensus (kesepakatan) kebangsaan menjadi hancur hanya karena kepentingan kelompok tertentu yang a historis. Aksi gerombolan DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam tetapi malah menimbulkan malah petaka bagi Muslim itu sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang menjadi korban kekejaman DI/TII.

Gerakan DI/TII yang sudah melampui batas kemanusiaan dan konsensus bersama negara berdasarkan Pancasila membutuhkan pemikiran, bantuan, dan partisipasi aktif dari para kiai. Dalam memoarnya (2008), KH Idham Chalid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan membentuk badan yang diberi nama Kiai-kiai Pembantu Keamanan (KPK).

Kiai di dalam badan disebut KPK ini utamanya untuk merespon anggapan DI/TII yang menganggap bahwa negara ini adalah Republik Indonesia Kafir (RIK). Namun, sejumlah laskar yang memang lahir dari rahim NU seperti Hizbullah dan Sabilillah turut membantu mengantisipasi pemberontakan DI/TII maupun yang dilakukan oleh PKI kala itu.

KPK terdiri dari sejumlah kiai dari beberapa provinsi yang di daerahnya ada gerombolan DI/TII. KH Idham Chalid menunjuk KH Muslich sebagai Ketua KPK. Umumnya, setiap provinsi hanya menunjuk satu orang kiai dalam mengkoordinir gerakan KPK. Kecuali provinsi yang sudah pada kondisi gawat seperti Jawa Barat. Di tanah Priangan ini, diangkat dua orang kiai.

Anggota KPK di Jawa Barat adalah KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid. Untuk Jawa Tengah dipimpin oleh KH Malik, kiai terkemuka asal Demak. Di Jawa Timur ada KH Raden As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Adapun di Kalimantan KPK dimotori oleh KH Ahmad Sanusi, Lampung digerakkan oleh KH Zahri, Sumatera Selatan dipimpin oleh ulama terkemuka di Sumsel dan Rais Syuriyah NU Bengkulu KH Jusuf Umar, Sumatera Tengah KH Kahar Ma’ruf, Sumatera Utara dan Aceh Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (pernah menjadi Ketua PWNU Aceh dan Anggota MPRS, dan di Sulawesi KH Abdullah Joesoef.

Dari badan yang dibentuk oleh KH Idham Chalis tersebut, semua kiai sepakat bahwa DI/TII adalah kelompok pemberontak yang mengganggu keamanan bangsa dan negara secara nasional sehingga perlu dilawan. Apalagi mereka sudah terbukti memakan korban manusia yang tidak sedikit.

Para kiai di dalam KPK menyatakan, penilaian dan anggapan DI/TII yang menyebut Indonesia sebagai Republik Indonesia Kafir (RIK) tidaklah benar. Karena berdasarkan konsensus bersama, seluruh warga negara bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Sebab itu sebagai negara kesatuan, tidak sepatutnya seorang atau kelompok menginginkan bentuk negara lain yang tidak sesuai dengan kemajemukan bangsa Indonesia. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

Blora, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk suksesnya perjuangan diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga dekat dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan tersebut, maka perjuangan akan memiliki akar yang kuat dan memliki basis yang riil.

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

”Untuk menyempurnakan perjuangan, langkah pertama NU-kan dulu keluarga dekat kita,” ungkap Sholihin Hasan saat menyampaikan materi Aswaja pada acara LKD Fatayat NU Ancab Kunduran, Blora, Jawa Tengah, Selasa (28/3).

Untuk meng-NU-kan keluarga, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain aktif di Fatayat, maka seorang kader juga harus menggerakkan suaminya untuk aktif di Ansor, LP Ma’arif, atau NU. Kemudian putra-putrinya sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Jika punya anak atau keponakan berusia remaja agar didorong untuk aktif di IPNU-IPPNU atau PMII.

Sholihin Hasan yang juga Wakil Ketua LP Ma’arif NU Blora itu menambahkan, jika masih punya orang tua, maka kader Fatayat harus bisa memfasilitasi orang tuanya untuk bisa aktif di NU atau Muslimat. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Tetangga kanan kiri juga harus terus dilakukan pemahaman akan arti pentingnya aktif di NU,” ungkap dosen Aswaja dan Kepesantrenan STAI Almuhammad Cepu.

Selain itu, untuk memperluas akses dakwah kader Fatayat juga diajak berda’wah di dunia maya. Dakwah di internet perlu dilakukan agar konten di dunia maya tidak dominasi oleh kalangan radikal dan orang penyebar hoax.?

“Jika seluruh kader Fatayat aktif berdakwah lewat internet, maka nilaia-nilai Islam moderet akan mendominasi dunia maya,” tambah mahahsiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LKD yang dilaksanakan di MI Alhuda Kunduran itu, diikuti 125 peserta. Mereka merupakan perwakilan pengurus ranting yang ada di Kecamatan Kunduran. Acara tersebut dibuka oleh Ketua MWC NU Kunduran, K. Drs Mohadi Said. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Batang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Ngadirejo Kec. Reban Kab. Batang, Jawa Tengah, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Kiai Lurah Ki Sopo Nyono dari Gringsing, Batang.  Tak seperti pengajian pada umumnya, Ki Sopo Nyono memadukan seni wayang dan musik sebagai media untuk berdakwah.

“Selain untuk memeringati Maulid Nabi, kami juga ingin nguri-nguri kabudayan jawi,” ungkap Ketua Panitia, Ahmad Musyifa’.

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Maulid Nabi dikemas berbagai kegiatan menarik, dimulai dengan pembacaan Maulid al Barzanji selama 12 malam penuh oleh warga masyarakat, dilanjutkan dengan mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak dan pengajian umum Ki Sopo Nyono.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Antusias masyarakat Ngadirejo terhadap wayang dan peringatan maulid nabi dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang memadati acara tersebut. Meski hujan terus mengguyur sejak beberapa hari yang lalu, namun semangat panitia tidak surut, sehingga acara dapat berjalan dengan lancar.

“Seluruh panitia sudah bekerja dengan maksimal, meski cuaca sangat tidak mendukung. Ini bukti kecintaan kader-kader NU pada peringatan Maulid Nabi.” imbuh Musyifa’.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara yang digelar di Mushola Nurul Huda itu pun menjadi kegiatan ketiga yang digelar oleh PRNU Desa Ngadirejo. Sebelumnya, acara serupa juga diadakan di Mushola al Ikhlas dan Mushola at Taqwa. Rencananya, minggu depan acara peringatan Maulid Nabi juga akan digelar di Masjid al Mustaqim Desa Ngadirejo.

“Pengurus Ranting NU Desa Ngadirejo merasa bangga, karena tahun ini kami bisa mengadakan peringatan Maulid Nabi sebanyak empat kali. Ini sangat luar biasa,” tutur Abdul Munir, Ketua PR NU Desa Ngadirejo.

Menurutnya, acara tersebut tidak akan sukses tanpa keterlibatan aktif dari pemuda-pemuda NU Desa Ngadirejo. “Insya Allah tahun depan akan lebih meriah.” Tambah Ketua PR NU Ngadirejo.

Dalam ceramahnya, Ki Sopo Nyono mengingatkan kepada masyarakat desa Ngadirejo untuk senantiasa mencintai Rosulullah dan mengambil hikmah dari peristiwa kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw.

Masyarakat desa Ngadirejo pun nampak puas dengan suguhan ceramah ala Ki Sopo Nyono yang lincah dalam memainkan wayang kulit dan diselingi dengan musik gamelan. Acara yang digelar pada hari ini pun melibatkan puluhan Banser dari Pengurus Ranting GP Ansor Desa Ngadirejo. (Asop/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Saya sedang belajar Iqro’ melalui guru privat namun masih dalam proses, sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sementara ini saya membaca Al-Qur’an sehari-hari untuk shalat, atau surat-surat pendek dari huruf latin. Yang ingin saya tanyakan, apakah sah saya membaca atau menghafal Al-Qur’an untuk shalat dari tulisan bahasa latin?

Apakah kalau saya membaca surat-surat pendek atau potongan ayat hikmah dalam bahasa latin saya tetap mendapatkan pahala? Mohon maaf sebelumnya, karena saya sedang dalam proses belajar. Tapi karena sudah mulai tua dan sibuk, saya tidak secepat anak saya yang sama-sama belajar membaca Al-Qur’an.

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpahalakah Membaca Al-Qur’an dengan Huruf Latin?

Jawaban:

Ibu Anggie yang saya hormati, belajar adalah kewajiban bagi setiap orang Islam. Kita patut bersyukur karena masih diberi kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk belajar, apalagi belajar membaca Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an terkait dengan ibadah sholat. Bacaan dalam sholat berisi ayat-ayat AlQur’an dan beberapa bacaan do’a dalam sholat harus disesuaikan dengan cara baca yang benar dalam aturan membaca Al-Qur’an seperti memperjelas Tasydid/Syiddah dalam bacaan Tasyahhud Akhir. Al-Qur’an ditulis dengan bahasa arab dan tidak ada transliterasi yang tepat dalam bahasa lain. Pemindahan tulisan dari bahasa Arab ke bahasa lain bisa menghilangkan kekhasan Al-Qur’an dan berpengaruh pada cara baca dan arti yang dikandung dalam tiap kata. Ini pada gilirannya akan merubah makna dan perubahan makna bisa berakibat fatal.

Ibu Anggie yang baik, ulama’ mengharamkan membaca al-Qur’an dengan tulisan latin karena dapat merubah cara baca dan arti dari Al-Qur’an. Imam Qulyubi memperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab tapi melarang membacanya. Penjelasan tentang hal ini disebutkan dalam kitab Hasyiyah Al-Jamal ’Ala Syarhil Minhaj juz I hal. 76 sebagai berikut :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya : Imam Qulyubi berpendapat boleh menulis Al-Qur’an dengan selain bahasa arab namun tidak boleh membacanya, dan Al-Qur’an yang ditulis dengan selain bahasa arab tersebut dihukumi seperti mushaf(Al-Qur’an dalam bahasa Arab) dalam hal membawanya dan menyentuhnya.

?

Namun demikian, ibu Anggie harus terus belajar hingga bisa membaca Al-Qur’an dengan tulisan Arab lengkap dengan tajwid-nya. Sholat ibu tetap sah karena masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an ibu dengan tulisan latin tetap berpahala asal dengan niat yang baik. Semoga Ibu Anggie selalu diberi kemudahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Al-Qur’an dan semoga amal Ibu Anggie dan kita semua diterima oleh Allah SWT. Aaamiin…

? Wallaahu Alamu bishshawab

?

Maftuhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Nusantara, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebagai organisasi ekstra kampus (Omek), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus berupaya menjadi wadah pembelajaran di luar kampus. Sehingga sebelum mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dimasa khidmah 2015-2016, PMII Bojonegoro mengadakan diskusi di sekretariatnya, jalan Pondok Pinang 02 Bojonegoro, Ahad (24/1)

Dalam diskusi tersebut, selain diikuti puluhan kader dari mahasiswa kampus di Kota Ledre, juga menghadirkan narasumber, diantaranya ketua Majlis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Bojonegoro, Ahmad Sunjani Zaid dan juga ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib), Hasan Bisri.

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Pertajam Intelektual dan Gerakan Jalanan

Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengaku, pengurus cabang periode 2015-2016 benar-benar serius dalam mengemban amanah satu tahun kedepan. Sehingga sebelum melaksanakan Rakercab nanti, sudah ada bekal matang yang akan dibahas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Diskusi ini untuk mempertajam arah gerakan PMII satu tahun ke depan, baik dalam konteks kaderisasi, analisa wacana dan distribusi kader," jelasnya.

Sehingga Pra Rakercab ini sangat penting untuk menjaring gagasan dari berbagai aspek, baik dari kader, alumni dan juga perguruan tinggi. "Setahun kedepan, berorientasi pada penajaman intelektual dan gerakan jalanan PMII di Bojonegoro," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selain itu PMII, harapanya, bisa bersinergis dengan pihak kampus dalam menanamkan jiwa nasionalisme dan religiusme mahasiswa. "Namun tanpa meninggalkan semangat untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah," harapnya.

Sementara itu, ketua Mabincab, Ahmad Sunjadi Zaid meminta, kepada pengurus cabang PMII Bojonegoro agar sinergitas program internal PMII kedepan, harus produktif dan berkualitas. "PMII harus mampu menjawab problematika yang ada. Harus mampu mencetak ilmuan atau cendekiawan yang hebat, petarung jalanan, analisator wacana dan anggaran, jurnalis serta optimalisasi gerakan kembali ke kampus," terangnya yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Bojonegoro.

Sedangkan ketua Aspertib, Hasan Bisri berpesan kepada PMII perlunya sinergitas organ PMII dengan pihak kampus. "Sebenarnya PMII adalah aset kampus dan negera Indonesia. Jadi harus berjalan selaras dan harmonis, yakni mampu menjadi promotor kampus dalam berbagai kegiatan mahasiswa," tandasnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari kader PMII. Ketua Komisariat IKIP PGRI Bojonegoro, Nuzulul Furqon mengapresiasi betul langkah pengurus baru dengan mengadakan diskusi, untuk mempersiapkan bekal sebelum melaksanakan Rakercab nanti. Sehingga nanti mampu menjadi pijakan pengurus setahun kedepan.

"Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategi untuk memperbaiki organisasi," pungkasnya.[M. Yazid/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Sukoharjo. Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekitar tujuh ribu jamaah tumplek blek di Balai Desa Mulur Kecamatan Bendosari Sukoharjo, hadiri pengajian bertajuk “Jamaah bertanya Kiai menjawab” yang digagas Pengurus Wakil Cabang (MWC NU) Bendosari bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Sukoharjo, Rabu malam.

Kiai Muhammad Adib Zein dan Kiai Ahmad Baidlowi selaku narasumber mengupas sekitar thaharah. Sedikitnya ada tujuh jamaah bertanya secara langsung dan sembilan bertanya melalui SMS. Walau membicarakan tema thaharah, tapi jamaah ada yang bertanya tentang berbagai hal diantaranya soal, hukum makan bekicot, hukum makan daging anjing, yang di duga kelompok lain menghalalkan daging anjing, tata cara menyembelih hewan, dan kedudukan perempuan datang bulan yang mengikuti pengajian di masjid, dan lain sebagainya.

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, acara pengajian Jamaah Bertanya Kiai Menjawab identik dan menjadi “tandingan” pengajian kelompok lain di Solo Raya yang juga memakai metode sama, cuma bedanya yang ditanyakan selalu seputar hukum ziarah kubur, tahlilan bid’ah, dan kalau ada pertanyaan lain sang ustadz selalu berupaya mengarahkan dan menyinggung tata cara amaliah NU yang dianggap keluar dari tuntunan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Ketua PCNU Sukoharjo Muhammad Nagib Sutarno, model pengajian ala NU mengupas kitab kuning, lalu santri (jamaah) bertanya, harus digalakkan lagi di kalangan NU secara massif agar jamaah mengetahui secara mendalam berbagai persoalan baik ubudiyah maupun lainnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain, jamaah terjaga dari pemahaman dari luar yang “menyerang” amaliyah NU. “Pengajian ini rutin dilakukan oleh NU Sukoharjo, untuk membangun soliditas jamaah,” kata Sutarno.

Sementara itu Ketua MWC NU Bendosari Agus Purwanggono menjelaskan, suksesnya pengajian ini tak lepas dari partisipasi semua pihak. Tampak hadir diantaranya Kepala Desa Mulur, Muspika Kecamatan Bendosari, pengurus GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, Jatman dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Menjelang penutupan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-9 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Bali yang mengagendakan 10 butir yang harus disepakati, ? tampaknya akan mengalami kebuntuan ketika berbicara tentang cadangan pangan atau tepatnya besaran subsidi dan masa keberlakuan yang disepakati.

Dalam kasus ini, hebat sekali sikap pembelaan India dalam pembelaan kepentingan rakyat miskinnya sekaligus mengatasnamakan negara berkembang.?

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Puji Sikap India Bela Petaninya

Dalam kesempatan itu, draft awal yang ditawarkan oleh negara-negara maju adalah angka 10 persen dengan acuan harga 2008.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada sisi lain, India menancapkan sikapnya dengan nilai subsidi 15 persen dan masa berlaku tidak terbatas. Sikap India ini ditegaskan oleh Anand Sharma di KTM-9 tersebut dengan menegaskan bahwa cadangan pangan tidak bisa dinegosiasikan karena menyangkut kepentingan negara dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tawaran kompromi Amerika Serikat yang menawarkan dengan angka 15 persen dan masa berlaku empat tahun, ditolak mentah-mentah oleh India yang berprinsip bahwa urusan itu tidak untuk dinegosiasikan. Keteguhan ini menunjukkan betapa konsisten dan kuatnya pemihakan Pemimpin India terhadap rakyatnya. Ini mengingatkan sikap Kamal Nath yg membuat Doha Round ini jalan buntu beberapa tahun lalu karena pernyataannya: “Im not risking for the livelihood of millions of farmers,” saya tidak mau ambil resiko dengan kesejahteraan jutaan petani.

Sebagai ormas keagamaan yang paling besar anggota petaninya di Indonesia, PBNU sungguh menghargai sikap pembelaan India yang sangat gigih.?

“Itulah harus seorang pemimpin dalam menjamin kemaslahatan jamaahnya,” kata ketua PBNU Prof Dr Maksum Mahfudh kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Jum’at.?

PBNU sungguh menyayangkan sikap utusan tuan rumah, Pemerintah RI yang dalam hal ini dipimpin oleh Menteri Perdagangan, yang justru melawan sikap India karena harus melakukan negosiasi, melunakkan sikap India yang gigih melakukan perlindungan petani dan kedaulatan pangan bangsanya.

Sikap RI ini sungguh pantas dipertanyakan nasionalismenya karena jelas sekali kontra produktif terhadap amanat kedaulatan UU 18/2012 tentang Pangan, ? dan amanat perlindungan petani UU 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

“Dengan kasus KTM ke-9 ini, bisakah kita menyebut Pemerintah RI ini ternyata anti kedaulatan pangan dan anti perlindungan petani? Naudzu billah.”(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

Makassar, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan menggelar lailatul ijtima di gedung NU Sulsel jalan Perintis Kemerdekaan Km 9 nomor 29, Kamis (6/11). Pada kesempatan ini mereka menyosialisasikan hasil Munas-Konbes NU 2014 awal Nomvember kemarin yang meliputi tiga sidang komisi.

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sulsel Sosialisasikan hasil Munas dan Konbes NU 2014

Tampak hadir Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta Sanusi Baco, A Rahman Idrus, Ruslan, Iskandar Idy, Arfin Hamid, Rektor UIM Andi Majdah M Zain, dan para sepuh NU Sulsel Naharuddin Tinulu, Ridwan AR, KH Abdurrahman, beserta segenap pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom.

“Menurut NU model Khilafah adalah produk sejarah, bukan perintah agama. Sehingga NU memandang, Islam mengakui eksistensi Negara bangsa dan tidak mengharuskan penganutnya untuk mendirikan negara agama, termasuk sistem Khilafah,” kata Katib Syuriyah NU Sulsesl Ruslan yang mengikuti sidang komisi Bahtsul Masail.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah pemaparan hasil Munas dan Konbes NU, Anre Gurutta Sanusi Baco menyampaikan taushiyahnya perihal kebersihan. Menurutnya manusia akan mendapat siksa langsung akibat pelanggaran hukum Allah di ala mini.

“Misalnya agama menganjurkan menjaga kebersihan, lantas kita mengotori. Hukumannya adalah kita akan terkena penyakit diakibatkan manusia tidak menjaga kebersihan. Yang kedua siksaan akhirat akibat pelanggaran hukum syariah yang termaktub dalam Al-Quran dan As-Sunah,” kata Gurutta Sanusi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga prihatin dengan adanya dua kubu di DPR antara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Ia mengibaratkan perpecahan di parlemen seperti ungkapan "Kelompok salah yang terorganisir akan mengalahkan kelompok benar tetapi tidak terorgansir". (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Ibadah dengan Harta Haram

Keluar-masuk pakai aturan. Di sinilah pentingnya aturan. Tanpa kepatuhan terhadap aturan, seseorang dapat menggetok jidatnya sendiri. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menunjuk sumber kesalahan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Akan halnya dengan harta. Orang wajib menggunakan hartanya untuk kepentingan yang baik. Yang tentunya memberikan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi dirinya. Harta harus digunakan untuk menafkahi orang yang menjadi tanggungannya, kepentingan sosial, atau ibadah haji.

Ibadah dengan Harta Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah dengan Harta Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah dengan Harta Haram

Singkatnya, harta mesti dipakai untuk kepentingan yang baik. Untuk dinilai sebagai ibadah, tentu saja seseorang harus menyertakan kegiatan pengeluaran harta itu dengan niat tulus. Begitulah aturannya. Artinya ia sudah berada di jalan Allah.

Keluarnya harta di jalan Allah ini belum cukup. Seseorang juga harus mempertimbangkan jalan masuknya harta ke dalam kantongnya. Jalan masuk ini sama penting seperti jalan keluar. Ia harus memastikan kebersihan sumber perolehan hartanya. Karena, Syekh Ahmad bin Ruslan dalam kitab Zubad-nya yang terkenal berkata,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

وطاعة ممن حراما يأكل * مثل البناء فوق موج يجعل

“Ibadah dari orang yang memakan harta haram, seperti mereka yang membuat bangunan di atas ombak.”

Menerangkan syair di atas, Syekh Muhammad bin Ahmad Romli dalam kitab Ghayatul Bayan fi Syarhi Zubad Ibni Ruslan mengatakan,

إن فعل الطاعة من صلاة وصوم وحج وغير ذلك ممن يأكل أو يشرب أو يلبس حراما عالما به مثل واضع بناء فوق موج بحر عجاج بأن يجعله أساسا له ومعلوم أنه لايثبت عليه فقد روى من حديث ابن عمر رضى الله عنهما من لم يبال من أين اكتسب المال لم يبال الله من أين أدخله النار

“Perbuatan ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, dan ibadah lainnya dari orang yang memakan, minum, dan mengenakan pakaian haram–padahal ia mengerti keharaman sumbernya–seperti peletak bangunan di atas ombak ganas. Artinya ia meletakkan fondasinya. Terang saja, bangunan itu takkan tetap di atasnya. Sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar Ra, Rasulullah bersabda, ‘Siapa yang tidak peduli kehalalan sumber perolehan hartanya, maka Allah juga tidak peduli dari pintu mana saja Ia akan menjebloskan orang itu ke neraka.’”

Karena itu, sesorang perlu memerhatikan pintu masuk hartanya seperti pintu keluar. Seseorang tidak bisa cuci tangan. Karena, pintu keluar yang benar tidak bisa menghapus kesalahan pintu masuk. Wallahu A’lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, PonPes, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Salah satu tokoh Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) yang paling dikenal yakni Nyai Hj. Mahmudah Mawardi. Dalam kurun waktu kepemimpinannya selama delapan periode lamanya (1950-1979, Muslimat NU tampil sebagai sebuah organisasi wanita yang cukup progresif. Muslimat berperan aktif di dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Peran Muslimat selanjutnya yaitu pada tahun 1967 ketika Mahmudah Mawardi ikut mendirikan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) sebagai wadah untuk mempersatukan gerak langkah organisasi-organisasi wanita Islam dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Mahmudah Mawardi Bawa Muslimat NU Jadi Organisasi Progresif

Lahir pada tanggal 12 Februari 1912, Mahmudah kecil dibesarkan di lingkup pesantren yang diasuh oleh ayahnya, Kiai Masjhud. Kiai Masjhud merupakan salah satu tokoh yang dianggap menjadi salah satu perintis berdirinya NU di Kota Solo.

Mahmudah merupakan anak pertama dari lima saudari. Mereka adalah Mahmudah, Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah dan Mahmulah. Kelima putri ini dilahirkan dari rahim istri pertama Kiai Masjhud. Setelah istri pertamanya wafat, Kiai Masjhud kemudian memperistri Syuaibah, yang kemudian melahirkan salah satu tokoh pendiri IPNU dan PMII, H. Mustahal Ahmad.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejak kecil Mahmudah belajar kepada orang tuanya di Pondok Pesantren yang kelak dikenal sebagai Pesantren Al-Masjhudiyah. Kemudian ia belajar selama 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyah Solo, hingga tamat pada tahun 1923. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyyah Sunniyah selama 3 tahun. Sunniyah merupakan sebuah nama langgar dan madrasah di daerah Keprabon Timur Solo. Letaknya sekitar 300 m ke arah utara dari rumah Mahmudah.

Seiring waktu berjalan, Mahmudah terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti kursus-kursus keguruan. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Jamsaren Solo, di bawah asuhan KH Mohammad Idris. Kesemuanya ini menjadikan dirinya sebagai pribadi yang terpelajar nan alim.

Berdasarkan penuturan salah seorang keponakannya, Nashirul Umam, Mahmudah juga berhasil menjadi salah seorang penghafal Alquran atau hafidhah.



Kiprah Mahmudah


Mahmudah mengawali kiprah perjuangannya dengan menjadi guru di tempat belajarnya dahulu, Sunniyah, sejak tahun 1930. Bersama kaum perempuan muslim di Solo, ia kemudian mendirikan organisasi Nahdlatoel Moeslimat (NDM) di Kauman Surakarta pada bulan April 1931. Organisasi ini bergerak pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Dalam proses pendirian, Mahmudah menjadi ketua pendiri organisasi, hingga akhirnya membuka cabang di mana-mana.

Selama kurun waktu 1933-1945, Mahmudah menjadi kepala sekolah Madrasah Muallimat NDM. Pada kisaran tahun itu pula, Mahmudah menikah dengan salah seorang tokoh pergerakan PSII Solo, A. Mawardi. Nama inilah yang tersemat di belakang namanya hingga akhir hayat.

Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri yang kelak juga menjadi tokoh besar. Di antaranya Chalid Mawardi (Ketua PP GP Ansor 1980-1985, mantan Dubes RI di Syiria dan Lebanon), Farida Purnomo (Ketua PP IPPNU 1963-1966) dan Lathifah Hasyim (Dewan Penasihat PP Muslimat NU 2011-2016).

Sebagai tokoh pergerakan, kehidupan Mawardi banyak menginspirasi Mahmudah untuk ikut aktif dalam dunia pergerakan. Mahmudah kemudian ikut aktif dalam organisasi kewanitaan. Hinggga pada tahun 1943, Mawardi meninggal. Sejak saat itu perjalanan panjang berkarir, berjuang dan membesarkan anak-anak, mesti dijalani sendiri oleh Mahmudah.

Tidak hanya itu, ketika pada tahun 1954 ayahnya wafat, ia diberi amanah untuk menggantikan sang ayah sebagai pengasuh pesantren yang kala itu terdapat 150 santri putri. Berbagai jalan kehidupan ini, semakin membentuk karakternya sebagai seorang wanita yang tangguh.

Pada masa ini, ia juga menjadi salah satu kunci terbentuknya IPPNU yang ketika awal berdiri berpusat di Solo. Hampir sebagian besar tokoh pendiri IPPNU, seperti Umroh Machfudzoh, Basyiroh Soimuri, Machmudah Nahrowi, Farida Mawardi dan lain-lain merupakan santriwati yang ikut mengaji di Pesantren Masjhudiyah.



Memimpin Muslimat


Bakatnya sebagai seorang pemimpin sudah terlihat sejak ia ikut membidani berdirinya NDM. Di Muslimat NU, karirnya juga terus melesat hingga pada tahun 1946 ia mengemban dua amanah sekaligus, sebagai ketua pertama Pimpinan Cabang Muslimat NU Surakarta dan ketua organisasi Federasi Wanita Islam Indonesia di Solo. Sebagai catatan, Muslimat NU baru diresmikan pada tanggal 29 Maret 1946 dalam Muktamar NU ke-XVI di Purwokerto.

Selang empat tahun kemudian, 1950, ketika diselenggarakan Muktamar NU ke-XVIII di Jakarta, Mahmudah terpilih sebagai ketua umum Muslimat NU. Sejak saat itu, ia memimpin hingga delapan periode lamanya (1950-1979).

Selain berjuang di Muslimat, Mahmudah juga banyak dipercaya untuk mengemban amanah di banyak hal. Di ranah politik, ia bahkan dijuluki sebagai ‘politisi wanita besi brilian dari NU’. karir politiknya diawali sejak 1946 ketika menjadi anggota DPRD Kota Besar Surakarta dari golongan wanita. Pada saat yang sama ia juga duduk sebagai anggota BP KNPI mewakili Masyumi (waktu NU masih bergabung dengan Masyumi). Tahun 1952 duduk sebagai anggota Liga Muslimin Indonesia dari NU.

Berlanjut pada masa pemerintahan RIS, ia duduk sebagai anggota DPR RIS di Jogjakarta (1959), kemudian sebagai Anggota DPR RI (1956-1971), Anggota DPR/MPR RI mewakili NU dan PPP (1971-1977), dan Anggota MPR RI dari PPP (1977-1982).

Pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965 dan 1970 ia dipercayai sebagai salah satu delegasi Indonesia.



Akhir Hayat


Begitu banyak jasa yang telah ia ukir, termasuk saat ia ikut aktif membantu perjuangan bangsa indonesia melalui Barisan Hizbullah di Surakarta (12 Oktober 1945 – 19 September 1947). Tugasnya kala itu, berada di garis belakang untuk membuka dapur umum, mengumpulkan obat-obatan, lauk-pauk dan menjadi kurir. Atas jasanya itu, ia mendapat tanda penghargaan Bintang Gerilya.

Menjelang wafatnya, ketika sakit, banyak tokoh NU yang menjenguknya, KH Ali Maksum dan Gus Dur termasuk diantaranya. Nyai Hj. Mahmudah Mawardi akhirnya wafat pada Rabu Wage, 26 Rabiul awal 1408 H/ 18 November 1987 pukul 14.00 di Keprabon Wetan Solo, usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Pulo Laweyan Solo. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

1. Wawancara kepada Nashirul Ulum (cucu KH Masjhud/putra H. Mustahal Ahmad) di Solo, 22 Juni 2014.

2. Sejarah Muslimat NU. PP Muslimat NU. Jakarta. 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, PonPes, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Nahdltul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggelar rapat evaluasi program dengan semua pengurus di masing-masing divisi, Senin (21/3). Rapat tersebut untuk menilai efektivitas pengurus dalam menjalankan mandat organisasi selama satu periode, juga sebagai upaya meningkatkan sejumlah program yang masih belum terlaksana.

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Lakukan Evaluasi Program Organisasi

Kegiatan yang berlangsung di aula PCNU Jombang itu berlangsung khidmat. Setiap pengurus yang hadir menyampaikan beberapa capaian kegiatan yang sudah dijalankan, juga kendala atau hambatan saat hendak melaksanakan program. Sehingga sebagian kecil program tersebut masih bersifat rencana bahkan belum bisa terealisasi.

Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar mengatakan bahwa dalam tempo dekat ini, pihaknya akan melangsungkan Muskercab (musyawarah kerja cabang) PCNU Jombang yang terakhir, mengingat masa kepengurusan PCNU ditampuk kepemimpinannya akan berahir pada pertengahan 2017 mendatang.

"Makanya untuk kesempatan ini kita akan melihat perkembangan program-program yang sudah dilakukan atau yang masih belum dilaksanakan, sebelum melaksanakan muskercab nanti," katanya saat memberikan arahannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Kiai Isrofil, rapat evaluasi program tersebut lebih efisien dilakukan setiap bulan sekali. Hal itu akan lebih mempermudah melakukan koordinasi antarpengurus di masing-masing lembaga. "Harusnya setiap bulan sekali untuk mengetahui perkembangan program," ujarnya.

Hadir dalam rapat tersebut kurang lebih 15 pengurus dari perwakilan berbagai lembaga. Di antaranya LKNU (Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama), LDNU (Lembaga Dawah Nahdlatul Ulama), LWPNU, Aswaja Center, Lakspesdam NU, LTMNU (Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama), Lesbumi dan LFNU (Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama). (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Makam, Doa, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kementerian Agama melalui Balitbang dan Diklat berupaya menggulirkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Umat Beragama (PUB). Hal ini muncul dalam diskusi Pra Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life), Selasa (4/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.

Diskusi bertema "Definisi Agama di Indonesia: Rekognisi, Proteksi, dan Kepastian Hukum" ini menghadirkan beberapa narasumber antara lain Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud, mantan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Guru Besar Boston University Robert W. Hefner, dan Redaktur Majalah GATRA yang juga Wakil Ketua LBM PBNU Asrori S. Karni.

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu

Semua narasumber sepakat bahwa sebelum mengajukan RUU PUB ke DPR, sangat penting merancang apa itu definisi agama. Definisi agama ini harus diarahkan pada perlindungan umat beragama di Indonesia sehingga mereka memiliki kepastian hukum.

Hal inilah yang dikritisi oleh Asrori S. Karni bahwa selama ini, ? sesuai tema diskusi, ada ketidakpastian hukum dalam ? relasi agama dan negara. UU PNPS 1/1965 tentang Penodaan Agama, yang eksplisit menyebut nama 6 agama terbesar, tidak menyebut istilah agama diakui negara atau agama resmi.

Hal itu dipertegas putusan MK tahun 2010 saat menguji materi PNPS tersebut. "Negara tidak memiliki otoritas mengakui atau tidak mengakui agama yang dipeluk warga negara," kata Asrori mengutip putusan MK.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebutan enam agama terbanyak dipeluk masyarakat dalam PNPS 1965 itu, kata MK, adalah sebutan faktual-sosiologis. Bukan pengakuan legal. Namun tahun 2006, lahir UU Adminduk, satu-satunya UU yg menyebut konsep agama yang diakui negara. Mestinya UU Adminduk tunduk pada putusan MK sebagai penafsir konstitusi paling otoritatif, berkekuatan final dan mengikat.

"Ini contoh ketakpastian hukum tadi," katanya. Akibat pemilahan konsep agama diakui dan belum diakui itulah, banyak pemeluk agama non-enam besar yang tidak mendapat sejumlah layanan negara yang berkaitan dengan agama.

Seperti akta nikah, akta lahir, identitas agama di KTP dan KK, pendidikan agama, rekomendasi rumah ibadah, dan lain-lain. Sejak itu, kepastian hukum tentang definisi agama dirasa perlu.

“Kasus diskriminasi agama akibat kaburnya definisi agama banyak bermunculan, sehingga definisi agama dipandang perlu,” ujar Asrori.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Definisi ini menurutnya, harus definisi siap saji untuk sebuah UU, bukan definisi akademik yang bersifat makro. Dia juga mendorong RUU PUB ini harus terus dimatangkan dan dikawal secara serius karena selama ini wacana pembuatan UU PUB atau sejenisnya hanya muncul ketika terjadi insiden dan tragedi umat beragama.?

Asrori mencatat, sudah banyak ? beberapa model definisi agama yang memadai diserap dalam RUU. Baik versi paparan Abdurrahman Mas’ud (2011 dan 2016), Atho Mudzhar (2011), dan Tim Wantimpres (2011). Menurutnya, dari semua definisi tersebut, yang terpenting untuk diperhatikan adalah semuanya melepaskan dari asumsi adanya agama yang diakui dan tidak diakui.

“Karena asumsi itu yang membuat agama diluar 6 besar merasa belum mendapat perlindungan memadai dan hak-hak pelayanannya pun belum terpenuhi dengan baik,” jelasnya.

Setelah diskusi Pra Simposium ini, pembukaan Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan bertajuk "Managing Diversity, Fostering Harmony" ini akan digelar Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific dan dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Emha Ainun Najib atau Cak Nun dan Sujiwo Tejo akan meramaikan acara peringatan hari lahir (Harlah) NU di halaman kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat pada 31 Januari dan 1 Februari 2013 nanti.

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun-Sujiwo Tejo Meriahkan Harlah NU di Jakarta

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU ini membidik “Atlas Wali Songo” satu karya besar sejarawan NU Agus Sunyoto yang diterbitkan LTN bersama penerbit Iman. Buku ini memaparkan perjalanan dan metode dakwah Wali Songo yang sedianya telah dan akan diteruskan oleh NU.

Cak Nun dengan rombongan Kiai Kanjeng-nya juga sudah positif akan meramaikan acara pada 31 Januari atau Kamis malamnya. Bahkan seperti biasanya, Cak Nun sudah memesan panitia untuk disiapkan sound system khusus dengan standar Kiai Kanjeng.

Menurut Ketua LTN PBNU Sulton Fathoni, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya akan membawakan tema "Fikih Dakwah Wali Songo". Selain Agus Sunyoto, Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan sejumlah pengurus NU juga akan hadir. Panitia juga mengundang sejumlah menteri, pejabat pemerintahan, pihak sponsor dan awak media untuk menyemarakkan harlah NU.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada Jumat malam, 1 Februari malam Sujiwo Tejo akan mementaskan wayang dengan lakon "Sunan Kalijaga", salah satu tokoh Wali Songo yang paling populer dan menggunakan wayang sebagai metode dakwah.

Di tengah-tengah pentas wayang itu, juga ada bedah buku Atlas Wali Songo. KH Said Aqil Siroj, Agus Sunyoto dan narasumber lain memaparkan banyak hal mengenai Wali Songo, sementara Sujiwo Tejo si dalang edan itu juga akan aktif mengikuti bedah buku sembari ndalang. Bedah buku dan pementasan wayang akan bersahut-sahutan di halaman gedung PBNU yang akan disulap menjadi ruang pertunjukan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa, Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Jakarta,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... kabar duka bagi warga NU karena salah seorang panutannya, KH Abdul Basith wafat di Dubai, Uni Emirat Arab pada Rabu (15/3) sekitar pukul 11.30 waktu setempat.

Ia adalah Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug, dan Ketua Majelis Silaturahim Pondok Pesantren dan Majelis Talim Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Ajengan Basith Wafat di Dubai

Menurut Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Sukabumi Daden Sukendar, Ajengan Basith sedang menjalankan ibadah umrah bersama Bupati Kabupaten Sukabumi H. Marwan Hamami dan 18 orang lain. Sebelum ke Arab Saudi, rombongan berziarah ke Yordania. Kemudian transit di Dubai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketika di Dubai tersebut, lanjut dia, yang mendapat informasi dari salah seorang rombongan, Ajengan Basith meninggal karena serangan jantung. Ia sempat dilarikan ke sebuah rumah sakit, tapi jiwanya tidak tertolong. (Abdullah Alawi)

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Baca juga:? Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Humor Islam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Menganiaya Anjing?

Sebagian umat Islam mungkin beranggapan bahwa anjing adalah hewan yang paling menjijikan setelah babi. Saking jijiknya, tak jarang ditemukan di beberapa perkampungan, anjing dijadikan objek kekesalan dan kemarahan. Setiap ada anjing yang lewat, entah apa salahnya, tubuhnya selalu dihujani dengan batu-batu. Anjing malang itu pun lari sambil terkaing-kaing.

Sikap antianjing ini sekilas memang memiliki dukungan dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Menganiaya Anjing?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing kecuali anjing pemburu, anjing penjaga gembala dan penjaga ternak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan hadits ini dipahami bahwa diperbolehkan membunuh anjing yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Bila dia bisa digunakan sebagai penjaga gembala, rumah, dan ternak, kita tidak diperbolehkan membunuhnya.

Akan tetapi, sebenarnya para ulama berbeda pendapat mengenai makna dan maksud hadits di atas. Ada yang memahami larangan Nabi dalam hadits tersebut dikhususkan untuk anjing yang membahayakan saja, karena konteks kemunculan hadis ini di saat banyaknya anjing yang mengganggu dan membahayakan manusia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ada pula yang berpendapat bahwa hadits membunuh anjing sudah di-nasakh (dihapus) oleh hadits lain yang menunjukkan larangan membunuhnya. Maka dari itu, Imam al-Harmain (Abu Ma’ali al-Juwaini) menuturkan dalam karyanya Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.

Anjing yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak pula membahayakan, tidak boleh dibunuh. Kami telah menjelaskan permasalahan ini dalam pembahasan “Perburuan Pada Waktu Manasik” ketika menyinggung hewan-hewan fasik (berbahaya). Memang ada riwayat sahih yang menyatakan Nabi SAW memerintah membunuh anjing dan kemudian pada satu riwayat dikatakan Nabi SAW melarangnya. Penjelasan rinci masalah ini sudah kami jelaskan. Sesungguhnya perintah Nabi untuk membunuh anjing hitam itu sudah di-nasakh (dihapus).

Pada hakikatnya, manusia tidak hanya dituntut menghormati sesama manusia. Binatang dan tumbuhan pun perlu dijaga, dirawat, dan dilindungi kehidupannya. Demikian pula dengan anjing walaupun ia termasuk hewan yang diharamkan secara syariat. Tetapi bukan berarti ia boleh disakiti ataupun dibunuh dengan seenaknya.

Ia boleh dibunuh bila membahayakan dan merusak kenyaman manusia, misalnya anjing gila. Sedangkan anjing yang tidak berbahaya sekalipun tidak ada gunanya, tidak dibolehkan bagi kita untuk menyakiti dan membunuhnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

13 Wilayah dan 37 Cabang Hadiri Rakornas LPBINU

Bogor, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) yang berlangsung di Hotel Parama, Bogor, Jawa Barat dihadiri 13 wilayah dan 37 cabang.

13 Wilayah dan 37 Cabang  Hadiri Rakornas LPBINU (Sumber Gambar : Nu Online)
13 Wilayah dan 37 Cabang Hadiri Rakornas LPBINU (Sumber Gambar : Nu Online)

13 Wilayah dan 37 Cabang Hadiri Rakornas LPBINU

Ketua LPBI NU, Avianto Muhtadi mengatakan, Rakornas ini akan menjadi ajang silaturrahim bagi seluruh pengurus wilayah dan cabang LPBINU di Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini akan dimaksimalkan secara baik untuk melakukan koordinasi dan membahas isu-isu strategis.

Dalam Rakornas yang berlangsung selama tiga hari, 21-23 Mei 2015, mempunyai target penguatan kelembagaan LPBINU di wilayah dan cabang sehingga memudahkan untuk melakukan diseminasi wacana dan kegiatan seputar pengurangan risiko bencana, lingkungan hidup dan perubahan iklim.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam sesi pertama Rakornas ini, ? peserta mendapatkan pengarahan dari PBNU yang diwakili Dr H Bina Suhendra, Bendahara Umum PBNU. Kemudian dilanjutkan materi Mengembangkan Karakter Diri Menuju Perubahan yang disampaikan, Wasekjen PBNU, Dr dr Syahrizal Syarif, MPH. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock