Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan di Jalan R Abd Aziz Pamekasan, Jawa Timur, kedatangan banyak wartawan cetak, televisi, dan online, Rabu (2/2). Mereka sedang meliput rilis pernyataan sikap PCNU Pamekasan terkait perkembangan yang saat ini terjadi di internal NU.

Terdapat tujuh pernyataan sikap tertulis PCNU Pamekasan yang dibacakan langsung oleh Wakil Rais PCNU Pamekasan KH Wahdi Musyaffa. Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh Rois Syuriah KH Abd Mannan Fadholi, Katib K Abd Bari, Ketua Tanfidziyah KH Taufiq Hasyim, dan Sekretaris Abd Rahman Abbas.

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan Keluarkan Tujuh Pernyataan Sikap

"Pertama, KH Maruf Amin adalah Rais Aam PBNU juga sebagai Ketua Umum MUI yang harus dijaga, dihormati, ditaati juga ditadzimi oleh puluhan juta umat NU baik di seluruh pesantren maupun di tataran masyarakat bawah (grass root) dalam jamiyah NU," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, dalam sidang kasus penistaan terhadap agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahja Purnama (Ahok), KH Maruf Amin dihadirkan ke persidangan untuk memberikan keterangan ahli (vide: Pasal 184 (1) jo pasal 186 KUHP) bukan sebagai pelapor.

"Ketiga, keterangan yang diberikan oleh KH Maruf Amin, berdasarkan pengamatan kami PCNU Pamekasan sudah selaras dengan kompetensi maupun kapasitasnya sebagai ahli agama Islam, baik sebagai fuqaha, Rais Aam PBNU maupun sebagai Ketua Umum MUI," paparnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keempat, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan menyesalkan sikap, perilaku maupun kata-kata dari terdakwa Ahok maupun tim pengacaranya dengan dalih menolak keterangan KH Maruf Amin sebagai ahli justru memelintir/memutarbalikkan fakta, dan seolah-olah menempatkan KH Maruf Amin sebagai terdakwa.

"Bahkan, beberapa pernyataan maupun tuduhan serta kata-kata kasar yang ditujukan kepada KH Maruf Amin lebih merupakan sikap sikap yang menyerang terhadap pribadi KH Maruf Amin daripada mematahkan argumen yang terkait dengan keahlian beliau," tegasnya.

Kelima, PCNU Pamekasan tidak akan tinggal diam, dan dengan ini menyatakan siap mendampingi serta membela KH Maruf Amin sebagai pimpinan tertinggi PBNU secara lahir maupun batin dalam koridor hukum dan menyerukan kepada seluruh Banom PCNU Pamekasan, kepada seluruh MWCNU serta PRNU se-Pamekasan dengan satu komando sambil lalu memperbanyak istighatsah dan permohonan kepada Allah serta pembacaan Hizbun Nashor.

"Keenam, PCNU Pamekasan meminta agar PBNU mengambil langkah tegas sesuai hukum yang berlaku untuk mewaspadai setiap manuver-manuver yang dilakukan oleh pihak Ahok yang cenderung merugikan kepada NU baik secara personal maupun kelembagaan, sekaligus memohon agar PBNU memproses secara hukum sekalipun Ahok telah menyatakan permohonan maaf," tegasnya.

Terakhir, tambah Kiai Wahdi, PCNU Pamekasan memohon kepada PBNU untuk segera memberikan instruksi PWNU dan PCNU se-Indonesia tentang sikap yang akan dilakukan oleh PWNU dan PCNU terkait pernyataan ahok dan tim pengacaranya terhadap perlakuan kepada KH Maruf Amin selaku Rais Aam PBNU sekaligus sebagai Ketua Umum MUI. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Cerita, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Buku tentang sejarah NU Sumenep yang berjudul Dinamika NU Sumenep Dalam Lintasan Masa dibedah di aula Yayasan Al-Arief Jate, pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Ahad (17/4).?

Buku yang ditulis Ach Taufiqil Aziz itu membahas tentang proses masuknya NU ke Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur serta perkembangan NU dalam setiap masa di daerah ujung timur pulau garam tersebut.

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Alumni Yayasan Al-Arief (Ikayasrif) itu, penulis buku memaparkan pentingnya memahami perkembangan NU lokal.?

"Ini juga supaya kita mengetahui lebih detail ternyata peran kiai kampung sebenarnya sangat besar dalam mengembangkan NU di Sumenep," ujar Ach Taufiqil Aziz, penulis buku saat menjelaskan di depan puluhan hadirin.

Ia menambahkan, dalam buku yang ditulisnya itu, dirinya juga ingin membukukan perjalanan NU di daerahnya. "Karena buku ini, buku pertama yang mengupas sejarah NU Sumenep," tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Kiai Sutarman, Pengasuh Pesantren Al-Arief mengatakan, buku tersebut akan sangat berguna bagi warga NU. "Kita harus tahu NU dengan baik, termasuk sejarahnya. Biar tidak hanya ikut-ikutan," katanya saat memberikan sambutan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Romza, Ketua Ikayasrif mengaku ingin meleburkan tradisi literasi di daerahnya. "Bedah buku salah satu upaya kami menggerakkan tradisi itu (bedah buku, red)," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nahdlatul Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Poligami dan Berburu Kebaikan

Ubaid dan Umar merupakan alumni pondok pesantren. Semenjak di pondok keduanya selalu berburu dan bersaing dalam hal kebaikan, terutama di shalat lima waktu. Tapi pada kenyataannya Ubaid selalu kalah dari Umar.

Suatu ketika Ubaid bertanya sama temannya itu. "Kang, kenapa sampean kok datang ke masjid selalu lebih cepat dari saya?”

Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Poligami dan Berburu Kebaikan

"Soalnya istri saya dua. Istri yang pertama membangunkan saya dan istri yang kedua menyiapkan perlengkapan shalat saya," jawab Umar santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selang beberapa bulan, Ubaid pun berpoligami. Harapannya bisa seperti Umar. Benar, setelah poligami Ubaid hampir selalu terlihat lebih awal dari Umar berada di masjid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kok sampean sekarang bisa mendahului saya datangnya, Kang? Resepnya apa?” Tanya Umar.

"Saya takut pulang ke rumah istri pertama yang marah-marah, jadi saya tiap hari tidur di masjid,” jawab Ubaid. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Budaya, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa semester tiga, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengadakan kunjungan ke kantor Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Selasa (10/11). Sekitar 40 mahasiswa ini disambut hangat oleh beberapa staff redaksi.

Dalam kunjungan singkat ini, para mahasiswa ini ingin mengenal lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama.

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Teologi Jakarta Kunjungi Redaksi NU Online

Ketua rombongan, Eva Ena mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh para kiai pesantren dan yang terpenting organisasi ini sangat terbuka dengan umat beragama lain. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Tidak seperti beberapa ormas Islam yang terkesan arogan dan menyerang umat beragama lain,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Eva menanyakan tentang perbedaan rakaat shalat tarawih yang pernah ia alami ketika ada tugas lapangan di sebuah desa. Di lokasi tersebut, kepala desanya adalah orang Katolik sehingga ia juga merasa kebingungan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Apakah di dalam Islam ritual ibadah tidak diatur?” tanyanya.

Rizky Wijayanti, kru Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal menjelaskan bahwa tidak ada tafsir tunggal dalam pelaksanaan ibadah sehingga muncul beberapa perbedaan, salah satunya dalam pelaksanaan shalat tarawih. Karena itu, diantara umat Islam sendiri perlu saling menghormati perbedaan ritual ibadah yang dilakukan.

Rizki yang juga pengurus Muslimat NU ini mengatakan terkait dengan bilangan shalat tarawih antara 23 atau 11 rakaat, itu hanya bilangan saja dan Nabi Muhammad pernah melakukan dan dan tidak mengharamkan salah satunya. “Jadi kita tinggal pilih saja, mau yang mana?” imbuhnya. 

Selanjutnya Rizki menambahkan Nahdlatul Ulama mengenal prinsip tawasuth, maksudnya adalah tidak ekstrim kiri juga ektrim kanan sehingga dalam hidup bermasyarakat NU selalu menempatkan diri pada prinsip hidup menjunjung tinggi sikap moderat. 

“Menghindari segala bentuk pendekatan ekstrem,” katanya.

Di akhir kunjungan Alamsyah MJ dosen mata kuliah Islamologi STT Jakarta mengatakan bahwa kegiatan kali ini merupakan bagian dari pembelajaran di luar kelas. Mereka bisa secara langsung belajar dan bertanya terkait dengan subyek yang dihadapi. 

“Mereka senang sekali berkunjung ke kantor PBNU, ini terlihat dari antusiasnya mendengarkan beberapa paparan,” pungkasnya. 

Sebelumya rombongan ini mampir di ruang Pojok Gus Dur lantai dasar PBNU. (Faridurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Quote, News Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gila NU

Gus Dur memberikan penjelasan kepada Kang Maman Imanulhaq tetang klasifikasi gila. Kata Gus Dur, gila itu banyak macamnya. Ada gila karena kerjaan, gila karena urusan organisasi dan lain-lain.

Gusdur pun menceritakan kisahnya. Dulu Dr. Fahmi Djafar Saifuddin (putra KH Saifuddin Zuhri) datang ke rumah Gus Dur pada pukul 02.30 WIB.

"Mas...Mas...barusan di Jakarta Utara, di Tanjung Priok ada pertengkaran antarpengurus NU. Ayo kita ke sana Mas!”

Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gila NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gila NU

Gus Dur menjawab, “Mas Fahmi, kalau dari jam 6 pagi-6 sore ngurusi NU, itu namanya senang dan cinta dengan NU.”

“Kalau jam 6 sore-12 malam masih ngurusi NU maka disebut orang gila NU. Tapi sudah jam 12 malam masih tetap ngurusi NU berarti NU gila,” kata Gus Dur, bercanda. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Amalan, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, IMNU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah Madrasah di Kabupaten Demak mengembangkan konsep madrasah berbasis tahfidz Al-Qur’an. Otak kanan bisa dimaksimalkan dengan memberi nilai tambah pada jam luar kelas. Hafalan bisa diberikan dengan senang layaknya bermain-main tanpa menambah beban studi akademik.

Matahari belum naik sepenggalah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Demak, Desa Karang Tengah, Kecamatan Karang Tengah Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masih setengah jam lagi sebelum bel masuk kelas berbunyi pada pukul 07.00 WIB.

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Siswa Madrasah Menghafal Al-Quran di Tanah Wali

Membawa Al-Qur’an, siswa-siswi madrasah itu berkumpul di pelataran masjid yang terletak di bagian depan kompleks madrasah, sebelah lapangan olahraga. Secara serentak dan padu, mereka melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an secara bersamaan, dipandu seorang guru pembimbing. Ayat-ayat yang sama terdengar dibaca berulang-ulang.

Saat kami mengunjungi madrasah itu, Ramadhan lalu, tak kurang 200 siswa bersama-sama dibimbing menghafalkan surat an-Nazi’at ayat 22, 23, dan 24. Metodenya cukup unik. Guru pembimbing, yaitu Ustadzah Maulida Khasanah yang juga hafal Al-Qur’an, berdiri di depan menghadap siswa. Dia terlebih dahulu melafalkan surah an-Nazi’at ayat 22: “Tsumma adbara yas’aa”. Lalu semua siswa menirukan bacaanya secara serentak.

Setelah itu, melalui mikrofon, pembimbing meminta para siswa menghadap ke kanan dan mengulang ayatnya. Lalu mengulangi lagi ayat itu dengan cara menghadap ke kiri, menghadap ke atas, bawah dan kembali menghadap ke depan dengan mata terpejam. Setelah lima kali repetisi, satu ayat bisa dihafal dengan baik oleh para siswa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah itu dilanjutkan dengan ayat berikutnya dengan metode yang sama hingga tiga ayat. Tiga ayat yang telah dihafal kemudian dibaca berkelanjutan dengan metode yang sama, yaitu dengan menghadap kanan, kiri, atas, bawah dan kembali menghadap ke depan dan mengucapkan kembali rangkaian ketiga ayat itu dengan mata terpejam. “Tsumma adbara yas’aa (QS. an-Nazi’at ayat 22), fahasyara fanaadaa (23), faqaala ana rabukum al-a’laa (24). Cara ini terbukti efektif, selama 30 menit sebelum masuk kelas, para siswa berhasil menghafal 3 ayat baru.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hal ini rutin dilakukan setiap hari dan para siswa akan ditagih untuk menyetorkan kumpulan hafalan itu secara periodik. Metodenya ternyata sangat sederhana dan tidak mengganggu jam pelajaran di kelas. Siswa diminta menjaga hafalannya di rumah atau di waktu-waktu senggang saat di madrasah.

Kepala MTs Negeri 2 Demak, Karsono, mengatakan, program tahfidz merupakan pilihan wajib di madrasahnya. Semua anak didik, tanpa kecuali, dibebani target menghafal 1 juz, yaitu juz 30, dengan deadline setoran akhir sampai lulus madrasah karena di MTsN ini tahfidz al-Qur’an dijadikan program dasar yang menjadi nilai plus, di samping prestasi akademik. “Kami ingin prestasi akademik anak didik kami dilandasi dengan jiwa Qur’ani,” kata Karsono.

Untuk itu semua siswa diminta menyiapkan waktu 30 menit sebelum jam belajar untuk meningkatkan hafalan setiap hari. Untuk menjaganya, dipersilahkan mengatur sendiri waktunya. Khusus bagi yang mengikuti peminatan tahfidz lengkap, disediakan program kedua yang khusus bagi para pelajar tahfidz yang kini berjumlah 25 siswa. Mereka dibimbing khusus dengan target hafal 30 juz hingga lulus.

Di Kabupaten Demak, sejumlah madrasah tengah mengembangkan pendidikan berbasis tahfidz. Seperti halnya di MTsN 2 tersebut, materi hafalan Al-Qur’an diberikan di luar kelas agar tidak mengganggu jam pembelajaran dan tidak mengurangi prestasi akademik siswa. Sejak Januari lalu, sebanyak 12 madrasah di Demak telah menjalankan program ini dengan master metodologi yang sama.

Tahfidzisasi madrasah di Demak diinisiasi oleh Kantor Kementerian Agama setempat sejak Januari 2017 lalu. Dalam waktu yang relatif singkat hasilnya sudah kelihatan. Sebanyak 12 madrasah pada jenjang MI, Mts, dan MA yang menjadi pilot project, tahun ini berhasil meluluskan siswa-siswinya dengan membekali mereka dengan hafalan Al-Quran juz 30. ? Sebuah hadiah menarik bagi orang tua siswa tentunya.

Menurut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak, Muhammad Thobiq, hafalan juz 30 dianggap penting karena jus 30 merupakan bekal penting untuk berbagai peribadatan sehari-hari, terutama shalat. Selain itu, program ini akan membuat teknik mengaji para siswa menjadi bagus sehingga menunjang ibadahnya.

Tiga sekolahan yang leading menerapkan program ini adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Demak, MTsN 2 Demak, dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Mlaten, Kecamatan Mijen, Demak. Di MAN Demak, siswa-siswi telah fasih menghafal juz 30 menjelang ujian akhir lalu. Yang lebih menakjubkan adalah di MIN Mlaten, anak-anak kecil fasih membacakan satu surat lengkap apabila disebutkan nama suratnya.

Untuk anak-anak usia sekolah dasar, hafalan Al-Quran rupanya lebih mudah diberikan dan lebih awet daripada anak usia di atasnya. Menurut Kepala MIN Mlaten, Badrid Duja, anak-anak terlihat happy saat diminta menirukan sebuat ayat dengan cara menghadap kiri, kanan, atas, bawah dan dengan terpejam. Hal itu dilakukan setiap pagi selama setengah jam sebelum pelajaran dimulai.

Dalam waktu enam bulan terakhir, siswa kelas 2 telah mengoleksi hafalan 6 surat panjang di juz 30 dari surat an-Naba’ hingga al-Infithar. “Mereka menghafal dengan santai tanpa membebani pelajaran.” katanya. Di MIN Mlaten, program tahfidz belum diterapkan di kelas 1. Pada kelas 1 siswa masih difokuskan pada cara membaca dan tahsin (memperbaiki) tajwidnya. Baru pada kelas 2 hingga kelas 4 beban hafalan diberikan.?

Badrid Duja menyebut, ia ingin tahun 2020 mendatang, sebanyak seperempat dari 480 siswanya telah mencapai hafalan 5 juz. Hal ini telah dikonsultasikan kepada orangtua siswa dan mendapat dukungan penuh. Di desa agraris ini, para orang tua siswa kebanyakan adalah para petani yang agamis. Untuk itu mereka tidak dipungut biaya ekstra.?

Siswa hanya perlu menabung Rp1000 per hari untuk membeli al-Quran tahfidz versi empat warna. Dukungan orang tua siswa di MIN Mlaten direpresentasikan oleh Komite Madrasah yang menyumbang bangunan dua lantai di bagian depan madrasah dan mobil minibus untuk sarana antar-jemput siswa.?

Kepala Kantor Kementerian Agama Demak, M. Thobiq, mengaku gembira dengan perkembangan ini. Ia merupakan pemilik ide dan penggerak pertama mobilisasi madrasah berbasis tahfidz. Pada awalnya ia ingin agar madrasah memiliki diferensiasi dengan sekolah umum karena di daerah “hijau” seperti Demak, anak-anak sekolah umum pun berbaju panjang, berhijab, dan pandai membaca Al-Qur’an.?

Dengan fakta itu, ia ingin ada nilai lebih bagi siswa-siswi madrasah dan kemudian dicanangkanlah program tahfidz sebagai basis madrasah-madrasah di Demak. Namun dalam perkembangannya, ia mendapat laporan, program tahfidz ini ternyata memberikan pengaruh positif pada perilaku dan sopan santun siswa. (Muhtadin AR/Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Sampang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sampang menggelar Pelatihan Kemimpinan Dasar (PKD) selama dua gari, Sabtu-Ahad, 2-3 Desember 2017 di Graha Wali Songo Kantor PCNU Sampang.

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Radikalisme, Ansor Sampang Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Acara bertema Mencetak Kader Militan Berkarakter Ahlus Sunnah wal jamaah An Nahdliyyah itu dihadiri sedikitnya 85 orang delegasi dari setiap Pengurus Anak Cabang (PAC) yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Sampang.

Ketua PC Ansor Sampang, KHR.Khoiron Zainin menyatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengoptimalkan peran GP Ansor Sampang khususnya PAC dalam membumikan paham Aswaja an-Nahdliyah di kalangan masyarakat awam. 

Selain itu, lanjut dia, hal tersebut juga diharapkan dapat menggugah semangat peserta agar tetap istiqamah membentengi agama, ulama, dan NKRI.

“Saya harapkan di Sampang lahir kader yang memiliki karakter Nahdliyah yang agamis dan nasionalis juga militan,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tak hanya itu, Lora Khoiron sapaan akrabnya, yang juga Ketua Umum Majelis Pemuda Bersholawat “At-Taufiq” itu mengingatkan kepada para peserta untuk dapat menangkal aliran radikal yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Zainal Alim, salah satu peserta delegasi dari PAC Jrengik merespons baik acara tersebut karena dianggap mampu merevitalisasi semangat juang pemuda yang selama ini  mulai memudar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Acara ini luar biasa dan sangat menggugah," ungkapnya penuh semangat. (Ainur Ridho/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat

Brebes, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penghimpunan zakat dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau plat merah dinilai tidak kuat, karena tidak menunjukan kekuatan umat. PNS itu hanya sebagian kecil dari umat Islam, sehingga kalau hanya mengandalkan zakat dari abdi negara, maka perkembangan zakat di Brebes sulit untuk berkembang.?

“Kalau bisa, kita keluar dari plat merah agar seluruh umat bisa secara sukarela membayarkan zakatnya ke Baznas,” ujar Ketua Baznas Kabupaten Brebes KH Chunan Zein ? saat Sosialisasi Baznas dengan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di ruang rapat Bupati, Kamis (10/3).

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Umat untuk Kumpulkan Zakat

Potensi umat, kata Kiai Zein, jauh lebih besar bila diberdayakan dengan penuh kesungguhan. Tentunya, perlu mendapat bantuan dari seluruh pihak untuk mewujudkan masyarakat yang sadar zakat melalui Baznas. “Kami bertekad mewujudkan Baznas Kabupaten Brebes sebagai lembaga yang amanah, professional dan transparan,” ujarnya.

Tidak dipungkiri, lanjutnya, selama ini kesadaran yang tinggi baru dari kalangan PNS. Itu pun masih berkisar 9 persen. Dari 12.359 PNS di Kabupaten Brebes bila rata-rata penghasilan Rp 3 juta perbulan kali 2,5 persen, maka akan terkumpul zakat Rp 11,1 Miliar per tahunnya. “Namun baru terkumpul Rp 1,1 miliar per tahunnya,” kata Kiai Zein.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sosialisasi disampaikan terkait dibentuknya kepengurusan baru periode 2015-2020. Dalam program unggulannya, antara lain akan mengadakan pendataan dan pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ), pemetaan dan pengembangan kuantitas dan kualitas mustahik, potensi zakat produktif, pemenuhan sarana prasarana, membangun kepercayaan muzaki, membangun sinergitas kerja dengan unsur terkait, dan meningkatkan akuntabilitas laporan keuangan dengan audit internal dan eksternal.

Senada disampaikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang disampaikan Kabag Kesra H Ahmad Imron yang menyatakan bahwa masyarakat masih memandang zakat itu masih urusan pribadi masing-masing umat. Sehingga yang menyalurkan zakat lewat Baznas masih belum signifikan dari jumlah umat Islam di Kabupaten Brebes.?

Bupati juga mengingatkan untuk tidak terkecoh dengan lembaga yang mengumpulkan zakat karena ditengarai pertanggungjawabannya tidak maksimal. “Kita sudah memiliki badan resmi yang mengelola Zakat, Infaq dan Shadaqah yakni Baznas Kabupaten Brebes. Sehingga masyarakat muslim sudah seharusnya menyalurkan ke badan resmi pemerintah,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mutasyar PCNU Kabupaten Brebes KH Syekh Soleh Basalamah dalam paparannya menjelaskan, tentang pentingnya berzakat atau bersedekah. Berdasarkan Firman Allah SWT dan Hadits Nabi, shadaqah bisa menjadi solusi ampuh untuk mengatasi berbagai permasalahan.?

Untuk kehidupan di akherat, kata Syekh Soleh, shadaqah antara lain bisa menjadi pemadam siksa kubur, penghalang dari api neraka, penghapus dosa dan naungan di hari kiamat.?

Sedangkan untuk kehidupan di dunia antara lain dengan zakat dan shodaqoh bisa menambah rezeki, mencegah kejelekan, penyebat mendapatkan pertolongan, menolak kesusahan dan kesulitan, dan melumpukan setan.

Namun perlu diketahui, bahwa peranan zakat dan shadaqah akan terhalang manakala seorang hamba melakukan hal-hal meninggalkan sholat lima waktu, durhaka kepada kedua orang tua, bersumpah palsu, mengonsumsi sesuatu yang tidak halal, menggunjing (ghibah) dan memutuskan silaturahmi. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa media sangat dibutuhkan oleh siapapun manusia yang hidup. Oleh karena itu bagaimana penyampai berita baik cetak maupun online serta radio mampu menulis informasi yang bukan konon katanya tapi jelas.

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin saat menghadiri buka bersama insan media dan radio komunitas yang digelar Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo di aula SMP Hati Billingual Boarding School (BBS) Kraksaan, Jum’at (16/6) sore.

“Hari ini siapapun yang mampu menyampaikan berita terhangat akan menjadi referensi pembenar bagi penerima berita. Sehingga berita media online dan radio menjadi pilihan untuk menerima sumber berita,” katanya.

Menurut Hasan, berita media online itu menjadi milik siapapun bagi yang memiliki media handphone. Sehingga media cetak akhirnya tidak dibaca bagi orang yang sibuk oleh aktvitasnya.

“Banyaknya aktivitas menjadi sulit membaca media cetak, Sehingga sulit menjadi pilihan untuk mendapatkan sebuah berita. Begitu keluar dari rumah naik kendaraan, setiap ingin berita sesuatu selain handphone saya putar radio. Ini sebuah potret zamannya bukan zaman saat saya masih kecil,” jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hasan menegaskan bahwa radio komunitas harus menyampaikan berita yang benar-benar akurat dan valid serta bukan berita hoax sebagai bagian dari perbuatan amar makruf nahi mungkar.

“Sampaikan satu berita asal benar dari pada banyak tapi tidak pasti. Profesi saudara profesional, otak dan hatinya berimplementasi dengan orang lain. Profesi ini mulia tatkala mampu memberikan manfaat kepada orang lain,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo H. Tutug Edi Utomo menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan dan mempererat tali silaturahim diantara media dan radio komunitas sehingga bisa menjadi mitra dari Pemerintah Daerah.

“Tentunya kita bersama-sama mempunyai tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjadikan masyarakat Kabupaten Probolinggo menjadi lebih cerdas dan mampu mengedukasi masyarakat dalam menyampaikan informasi yang baik dan benar,” katanya.

Kegiatan yang mengambil tema “Indahnya Kebersamaan Media dan Komunitas Radio” ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, sejumlah kepala OPD, insan media dan pengelola radio komunitas di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung

Malang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat mudik seperti ini, salah satu yang kita nanti adalah ingin merasakan lezatnya masakan ibu di rumah. Sebagian besar di antara kita mengatakan, masakan ibu adalah masakan terlezat dan membuat kangen untuk terus pulang ke rumah.

Bahkan banyak yang berpendapat masakan ibunya paling lezat dibanding masakan siapapun termasuk masakan koki terkenal di hotel berbintang atau rumah makan yang pernah kita singgahi. Pertanyaannya mengapa anak berpendapat seperti itu?

Menurut ilmu neurologi, di dalam otak manusia ada tempat untuk memori kelezatan makanan (lobus parietalis dan nuclues acumban), rasa lezat yang dirasakan sejak kecil dari makanan yg disajikan ibu akan tersimpan di otak bagian ini sehingga terbentuk memori kelezatan makan permanen di otak kita.

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Kerinduan Menyantap Masakan Lezat Ibu di Kampung

Walaupun kita sudah dewasa, memori itu masih ada dan ketika kita pulang ke rumah seperti saat mudik ini kemudian menyantap makanan masakan ibu, maka memori akan terstimulus lagi dengan cepat. Hal ini terjadi saat kita mulai mengunyah makan tersebut, itulah yang menerangkan kelezatan masakan ibu kita.?

Kedua, suasana hati yang tenang. Saat paling penting ketika bertemu ibu, bapak, saudara dan handai taulan tentunya pikiran kita senang dan tenang. Ketenangan itulah yg memberi kenikmatan saat makan masakan ibu tercinta. Apalagi makan sambil mengenang masa kecil di rumah akan berlipat ganda rasa nikmat masakan ibu di rumah.

Walaupun makanan lezat tapi bila hati tidak tenang rasanya hambar bahkan tidak bisa merasakan. Sebagai contoh ? makan di bandara saat pesawat sudah siap berangkat rasanya tidak nikmat walapun sebenarnya makanan itu lezat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketiga, ibu memasak dengan "resep kasih sayang". Bagi seorang ibu, memasakan untuk anak tercinta ? bukan hanya menggunakan ramuan tangan, tetapi resep masakan dengan "ramuan hati atau kasih sayang". Dan ini sulit dijabarkan secara ilmiah tetapi memang ada telepati kasih sayang ibu ke anaknya saat memasak dan menyajikan makanan untuk kita. Istilahnya ibu memasak dengan ? hati menggunakan resep kasih sayang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sudah berbakti?

Begitu besar kasih sayang ibu ke kita (bahkan lewat masakan yang lezat). Pertanyaannya adalah, sudahkah kita tunaikan kewajiban kita kepada orang tua? ?

Mumpung masih dalam momen mudik, kita masih bisa ketemu dan mengunjungi mereka berdua. Pastikan kita sudah menunaikan kewajiban kita karena belum tentu ada kesempatan di tahun depan mengingat semakin tuanya usia mereka, maka berikan yang terbaik untuk mereka. Semoga Allah senantiasa menyayangi dan memuliakan ibu dan bapak kita.

Ditulis oleh Badrul Munir, dokter spesialis saraf di RS Saiful Anwar Malang, pemuja masakan ibu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Ulama, Pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 

Siswa akhir SMA Nahdatul Ulama Sumenep menggelar perpisahan di Gedung Pendidikan dan Kebudayaan Ki Hajar Dewantara Kolor Sumenep, Sabtu (19/5) pagi.

Sebanyak 46 siswa kelas XII, yang terdiri dari 29 siswa putra dan 17 siswa putri menangis haru saat menyanyikan lagu perpisahan. Sebagai ucapan terima kasih kepada semua guru yang telah membina dan membimbing hingga lulus, para siswa memberibunga kepada para guru sebagai simbol ucapan terima kasih.

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan SMA NU, Alumni Dihimbau Berpegang Teguh Paham Aswaja

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 undangan yang terdiri dari wali murid, Pengelola dan guru SMA NU, perwakilan dari UPT Pendidikan Sumenep, tampak juga hadir mantan Bupati Sumenep sekaligus Wakil Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH Moh. Ramdlan Siraj.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kepala Sekolah dalam sambutannya menghimbau agar siswa Nahdiyyin tetap berpegang teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal jamaah. Pendidikan keaswajaan sangat penting ditanamkan sejak dini kepada para peserta didik agar watak Aswaja yang mencerminkan pluralitas dan menjunjung tinggi syariat beragama mampu diserap dengan baik, sehingga akan terbentuk karakter manusia yang benar-benar tawaddu dan tasammuh.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sebagai warga dan siswa Nahdiyyin harus mencerminkan sifat dan watak ke-Aswaja-an kita. Momentum perpisahan ini sebagai refleksi dan ajang evaluasi kita agar para peserta didik tidak bertindak preman dan foya-foya dalam mengekspresikan kegembiraan menyambut pelulusan tanggal 26 Mei mendatang,” ungkap Gofur.

Ia juga tidak mengijinkan siswanya corat-coret baju dan mengadakan konvoi. Hal itu, menurutnya, pekerjaan yang tidak mencerminkan watak Nahdiyin. “Ekspresikan rasa kegembiraan itu dengan memperbanyak syukur kepada Allah,” katanya. 

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Hendriyanto, M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Syariah, Pendidikan, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. PMII Sepuluh Nopember ITS Surabaya kembali mengadakan kaderisasi awal MAPABA. Sedikitnya 40 peserta siap menjadi kader Aswaja di kampus ITS Surabaya, Sabtu (7/3).

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh November Lahirkan Kader Pejuang Aswaja di ITS

Menurut panitia pelaksana Imam Syafiie Musthofa, Mapaba ini sengaja ditempatkan di pesantren dengan tujuan tabarruk. "Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar, dan kami mendapat dukungan pengasuh pondok untuk berjuang mengaswajakan kampus ITS," ujar kader PMII ITS ini, Ahad (8/3).

Kegitan yang berlangsung pada 6-8 Maret 2015 ini dibuka oleh Ketua PMII Surabaya Ahmad Zairuddin. "Kalian harus bangga bisa masuk di ITS. Kalian harus bangga bisa menjadi anggota PMII, organisasi terbesar di Nusantara," ujar Zairuddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pengurus PMII berharap anggota baru terlibat aktif dalam kegiatan PMII yang dilaksanakan Komisariat Sepuluh Nopember maupun Cabang Surabaya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Hadits, Budaya, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. LAZIS NU Wilayah Yogyakarta bekerjasama dengan PCNU dan MWCNU Kotagede melaksanakan santunan kepada anak yatim dan lansia serta masyarakat setempat yang membutuhkan bantuan di dua tempat sekaligus pada Ahad pagi (12/07). 

Acara dilaksanakan pada pukul 8 pagi di pesantren Nurul Ummah Kotagede dengan memberikan paket sembako dan sejumlah uang dan dilanjutkan santunan berikutnya di pondok pesantren Ulul Albab Balerejo. Hadir pada rangkaian acara ini Imam Priyono, selaku wakil walikota Yogyakarta sekaligus pembina Ansor Wilayah Provinsi DIY. Hadir pula Ketua PCNU kota Yogyakarta H A Yubaidi yang memimpin acara dengan diawali dzikir dan sholawat bersama.

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Yogyakarta Beri Santunan Yatim dan Lansia

Yubaidi juga menyampaikan harapannya agar LAZIS NU kota Yogyakarta dapat menjadi lembaga yang memiliki integritas tinggi dalam pergerakannya di bidang zakat, infak, dan sedekah.

 

KH Munir Syafa’at selaku rais syuriyah PCNU kota Yogyakarta juga menuturkan bahwa LAZIS NU Kota Yogyakarta sangat dibutuhkan masyarakat untuk menyalurkan zakatnya maupun infak atau sedekah untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. (Failashuf/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Ubudiyah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seiring dikesampingkannya pendidikan non-formal dalam hal ini sebagai benteng generasi muda oleh sebagian orang tua, membuat Rais MWCNU Kaliori KH Mustain angkat bicara. Ia menyatakan, masyarakat jangan memprioritaskan sekolah formal saja, tetapi setidaknya mengmibangi pendidikan karakter dengan pendidikan keagamaan Islam seperti di pondok pesantren dan madrasah diniyah.?

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Hanya Mementingkan Sekolah Formal

Kiai Mustain menganjurkan, sebagaimana ulama terdahulu agar senantiasa memperhatikan hal yang berkaitan dengan ilmu dan akhlak. Sebagaimana orang terdahulu, lanjut Kiai Mustain, contoh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Malik, dan Imam Ibnu Hambal mereka semua merupakan orang terpandang dihadapan manusia dan Allah SWT.?

"Tidak cukup dengan bersantai-santai bisa menjadi orang yang berilmu. Para ulama banyak mengarang kitab, untuk memacu para santri dalam hal ilmu. Maka di pesantren ada kitab yang namanya Talimul Mutaalim,” jelasnya.

Sebagaimana sabda Nabi, kata Kiai Mustain, barang siapa yang ingin dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin akhirat maka juga harus dengan berilmu. Ia menambahkan, kita terlambat dalam mencari ilmu. Jangan orang yang iri ketika melihat kesuksesan orang, baru kita ingin belajar. Orang ini masuk dalam kategori orang yang terlambat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, banyak orang tua yang mengedepankan sekolah formal, dibandingkan dengan pendidikan pesantren dan madrasah diniyah. Demi pelajaran di sekolah umum, orang tua rela mencari seorang guru yang ahli dibidangnya. Bukan hanya itu saja, kata Kiai Mustain, orang tua pun rela antar jemput. Hal ini bertolak belakang jika orang tua berbicara dengan ngaji dan madrasah diniyah, banyak orang tua yang acuh dalam hal ini.

Dia menandaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling profesional dalam hal mendidik. Sebabnya, semua guru yang mengajar dipastikan sudah lebih dahulu melakukan apa yang diajarkan. Meski tidak bisa dipungkiri, sekola umum dinilai penting sebagai perimbangan. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya, Meme Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

Jangan Remehkan Peran Guru Ngaji

Jember, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Peranan guru ngaji dalam membina anak bangsa, jangan pernah disepelekan. Sebab, kenyataannya sejak lama guru ngaji menjadi simbol sekaligus sumber pembinaan moral generasi muda, lebih-lebih di pedesaan.?

Jangan Remehkan Peran Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Remehkan Peran Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Remehkan Peran Guru Ngaji

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris PCNU Jember Moch. Eksan saat bertemu dengan puluhan anggota dan pengurus Forum Silaturrahim Guru Ngaji di Mushalla Al-Falah, Desa Sumberwaru, Kecamatan Sukowono, Jember, Jawa Timur, Sabtu (8/4) malam.?

Menurut Eksan, guru ngaji mempunyai kontribusi yang besar dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an sekaligus membina akhlak masyarakat. "Kita dan pemerintah wajib mengapresiasi guru ngaji," ujarnya.

Yang menarik, tambah Eksan, guru ngaji melaksanakan tugasnya tanpa pamrih, tidak mengharapkan balasan materi selain pahala dari Allah SWT. Kalaupun pemerintah akhirnya memberikan insentif pada guru ngaji, itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan jasa-jasa mereka yang telah bertahun-tahun terlibat dalam pembinaan moral sekaligus mengajari ngaji masyarakat.?

"Ingat, mereka tidak hanya mengajar ngaji tapi juga mengajari shalat, baca barzanji dan sebagainya. Tujuan mereka selain santri bisa mengaji, juga bisa tahu tatakrama dan kenal tuhannya dan sebagainya," tukasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alumnus IPNU Jember itu manambahkan, memberantas buta baca-tulis Al-Qur’an sama penting bahkan lebih penting dari memberantas buta aksara sebagaimana yang selama ini menjadi program pemerintah.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebab, pemberantasan buta baca-tulis Al-Qur’an juga terkait dengan pembinaan iman, yang merupakan pondasi dari hidup dan kehidupan manusia. "Peran itu sudah diambil oleh guru ngaji. Maka suah selayaknya pemeritah dan kita semua memberikan apresiasi pada mereka," urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 November 2017

Tri Rismaharini Hadiri Pelantikan IPNU-IPPNU Kota Surabaya

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini mengahdiri pelantikan pengurus baru Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kota Surabaya, Ahad, (18/1). Acara pelantikan sekaligus seminar ini digelar di Gedung Self Access Center (SAC) UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tri Rismaharini Hadiri Pelantikan IPNU-IPPNU Kota Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tri Rismaharini Hadiri Pelantikan IPNU-IPPNU Kota Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tri Rismaharini Hadiri Pelantikan IPNU-IPPNU Kota Surabaya

Pelantikan dan seminar bertajuk ‘Meneguhkan Eksistensi Dan Peran Pelajar Indonesia di Era Pasar Bebas dan Penjajahan Ekonomi Baru’ ini, Risma, sapaan akrabnya memberikan motivasi kepada pengurus IPNU-IPPNU Kota Surabaya dan peserta yang hadir untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas dengan sikap kemandirian dan meningkatkan kualitas diri sebagai pelajar.?

“Kita tidak boleh bergantung pada orang lain, buatlah orang lain bergantung pada kita,” ungkap walikota terbaik dunia ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Risma juga membagikan pengalaman bagaimana memimpin Kota Surabaya yang dulu tidak dikenal dunia menjadi Surabaya yang sekarang diakui oleh dunia internasional. Menurutnya, semua dilalui dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, terus mengembangkan diri dan belajar kepada siapa pun, kapan pun dan dimana pun.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kalian bisa lihat sendiri seperti apa Surabaya sekarang ini,” ucap Risma disambut riuh tepuk tangan seluruh peserta yang hadir.

Hadir juga staf Kemenpora RI Bidang Pengarusutamaan Pemuda Dra. Adiati Noerdin, M.M dan Ketua Lembaga Kajian Pesantren dan Demokrasi Tebuireng, Gus Roy Murtadho. Keduanya mengupas tentang peran pelajar dalam menghadapi pasar bebas dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam seminar.

Acara ini dihadiri juga oleh pengurus IPNU-IPPNU dari tingkat komisariat, ranting dan anak cabang serta perwakilan organisasi pemuda lintas agama dan pelajar SMA/SMK/MA se-Kota Surabaya. (M. Sholeh Anas/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 01 November 2017

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin

Judul: Dzikir Agung Para Wali Allah

Penyunting: Muhammad Nurul Ibad

Editor: Abdillah Halim

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Kiai Penggagas Dzikrul Ghofilin

Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan: I, 2012

Tebal: vi+ 233 hlm.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan*

Awal kemunculan “Dzikrul Ghofilin” bermula sejak tahun 1960, yang digagas oleh tiga kiai yakni, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), dan Kiai Achmad Shiddiq. Tiga kiai tersebut sudah dikenal oleh banyak kalangan khususnya dikalangan warga NU. Kiai Hamid Pasuruan dikenal sebagai kiai yang memiliki kemampuan spiritual tinggi. Selain dikenal mempunyai kemampuan spritualitas yang tinggi, Mbah Hamid juga dikenal oleh masyarakat sebagai seorang waliyullah, kekasih Allah yang sampai saat ini pesareannya setiap hari dipenuhi oleh para peziarah.

Kiai Hamim Jazuli atau yang panggilan akrabnya (Gus Miek), adalah sosok kiai yang nyentrik dan kontroversial. Namun meskipun dikenal sebagai sosok kiai yang nyeleneh, nyentrik, dan kontroversial ia mendapat pengakuan dari beberapa kiai khos seperti, Kiai Abdul Madjid, Kiai Mubasyir Mundzir, Kiai Abdullah Umar Kediri, Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamid Kajoran. Gus Miek mempunyai keistimewaan yang tinggi, dan kemampuan supranatural. Kemampuan supranatural Gus Miek itu dalam istilah orang pesantren disebut “khariqul adat”, kejadian-kejadian aneh yang sulit dijangkau oleh akal manusia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai Achmad Shiddiq adalah kiai yang dikenal sebagai perumus Pancasila, dan peletak dasar khittah NU 1926 yang diputuskan di Situbondo. Gagasan dan ide-ide segarnya tentang pembaharuan NU banyak bermunculan darinya, juga kekonsistenannya mengabdi pada NU dan bangsa Indonesia tidak pernah diragukan. Di tahun 1972 Kiai Achmad Shiddiq menjadi pengikut pemula Gus Miek, dan berdakwah bersamanya melalui Dzikrul Ghofilin. Jadi munculnya berdirinya Dzikrul Ghofilin itu tidak terlepas dari tiga kiai, yakni Kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), dan Kiai Achmad Shiddiq. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika muncul istilah “tritunggal”, sebuah istilah yang masyhur dikalangan pengikut Gus Miek.

Adapun penggagas utamanya sekaligus penulis teks Dzikrul Ghofilin adalah Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek). Beliau banyak mencurahkan perhatian dan tenaga sepenuhnya demi memperjuangkan Dizikrul Ghofilin. Di Surabaya, Gus Miek memulai kegiatan Dzikrul Ghofilin yang hanya diikuti oleh beberapa orang hingga menjadi belasan orang jama’ah. Tempat kegiatannnya berpindah-pindah dari jama’ah yang satu ke jamaa’ah yang lainnya. Sebelum acara Dzikrul Ghofilin dimulai, Gus Miek mengajak jama’ahnya terlebih dahulu berkumpul di makam Sunan Ampel, dengan membaca al-Fatihah 500 kali, baru kemudian berangkat ke rumah yang menerima giliran acara Dzikrul Ghofilin.

Buku “Dzikir Agung Para Wali Allah” yang ditulis oleh Muhammad Nurul Ibad ini, di dalamnya menguraikan sejarah Dzikrul Ghofilin dan pengikut ajaran Gus Miek. Adapun yang menjelaskan sejarah Dzikrul Ghofilin yakni Kiai Ahmad Shiddiq dan Kiai Maftuh Basthul Birri, pengikut dan hafizh al-Qur’an yang aktif mengikuti kegiatan Jantiko Mantab sejak periode pertama. Kiai Maftuh Basthul Birri menilai bahwa amalan dalam Dzikrul Ghofilin seperti al-Fatihah, shalawat, tahlil, dan lain sebagainya adalah amalan yang biasa dilakukan oleh umat Islam sejak dulu. Dan amalan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran akidah ahlussunnah waljama’ah yang dalil dan rujukannya sangat jelas dalam al-Qur’an dan hadits.

Inti ajaran Dzikrul Ghofilin adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan cara berdzikir. Menurut Gus Miek, fadhilah utama Dzikrul Ghofilin adalah murni tujuan akhirat, murni kebahagiaan di akhirat, dan biasanya orang yang benar-benar menata akhiratnya urusan duniawinya juga akan ikut tertata. Dengan demikian, cara termudah menurut Gus Miek adalah dengan mencintai para kekasih Allah dan orang-orang yang shaleh. Jika kita mencintai auliya’ kekasih Allah, dan sholihin orang-orang shaleh, maka besok kita akan dikumpulkan bersama mereka (hal.65).

Dengan membaca buku ini pembaca akan diajak mengetahui lebih jauh apa itu Dzikrul Ghofilin, siapa penggas utamanya, dan apa isi ajaran didalamnya? Penulis buku ini memberikan penjelasan ringkas, dengan bahasa yang komunikatif, sistematis, dan mudah dimengerti. Di dalam buku ini juga dilengkapi beberapa teks bacaan yang dipakai pada acara Dzikrul Ghofilin. 

Meneladani dan mengikuti jejak spiritual Gus Miek sangatlah penting, lebih-lebih menghidupkan kegiatan Dzikrul Ghofilin yang akhir-akhir ini mulai jarang masyarakat melakukannya. Saat ini umat Islam lebih tertarik kepada hal-hal yang sifatnya duniawi saja, tidak memprioritaskan untuk kepentingan akhirat. Padahal tujuan awal didirikannya Dzikrul Ghofilin yang digagas oleh Gus Miek bukanlah untuk kepentingan dunia, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun meskipun sampai saat ini yang melakukan dan melaksanakan Dzikrul Ghofilin mulai jarang, setiap malam Ahad kliwon di pesantren Luhur Al-Husna Surabaya asuhan Prof Dr KH Ali Maschan Moesa masih istiqamah melaksanakan, dan melanjutkan jejak spritual Gus Miek (Dzikrul Ghofilin), yang diikuti oleh masyarakat dan para santri. Wallahu a’lam

* Peresensi Adalah, Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Budaya, Amalan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

“Dicap bid’ah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah,” ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agama—melainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak,” urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. “Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai,” imbaunya.

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. “Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka,” harapnya. (rif)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, AlaSantri, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Sepeninggal Rasulullah SAW, Malaikat Jibril akan tetap turun ke bumi. Tidak untuk menurunkan wahyu lagi, tetapi guna mengambil sepuluh mutira yang paling berharga dalam kehidupan manusia.

? الحمد لله أحمده وسبحاÙ? Ù‡ وتعالى على Ù? عمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. واشهد اÙ? سÙ? دÙ? ا محمدا عبده Ùˆ رسوله الÙ? بÙ? المختار. اللهم صل على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخÙ? ار وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . . Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah swt dengan menghindar berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Memang tidak selayaknya kita membicarakan keburukan demi keburukan yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi keburukan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jikalau kita mulai melangkah menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Tindak korupsi yang tidak kunjung surut, pasar narkoba yang semakin meluas, kriminalitas yang kian tinggi, norma dan nilai moral yang telah bergeser. Begitu merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran. Nampaknya hadits Rasulullah saw ketika berdialog dengan Malaikat Jibril dapat dijadikan pegangan sebagai indikasi juga sebagai solusi.

Ketika Rasulullah saw dalam keadaan sakit yang menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah saw bertanya kepada Jibril “Jibril, apakah kamu nanti masih akan sering turun ke bumi ketika aku sudah meninggal? Jibril menjawab “masih Rasul, saya akan turun sepuluh kali lagi ke bumi, saya turun untuk mngambil sepuluh mutiara dari bumi ini sepeninggalmu”. Rasulullah saw pun penasaran, lalu bertanya kembali “mutiara macam apa yang igin kau ambil itu? jibril menjawab “لأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ)mutiara pertama yang akan saya ambil dari muka bumi ini adalah barokah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Para kyai biasa memaknai barokah dengan ziyadatul khair. Yang secara bahasa dapat diartikan ‘tambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pedagangnya makin banyak bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, tidak malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk korupsi.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara kedua yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah rasa dari hati manusia ? وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ) jika demikian, maka yang tersisa hanyalah rasa benci. Lihatlah sekarang di sekitar kita apakah masih ada cinta dalam hati penguasa yang membuat rakyat dan para petani hidup makin sengsara. Bagaimana ada cinta jikalau mereka tega mengimpor bahan baku dan menghancurkan harga local? Apakah itu cinta? Saya kira kita sudah bisa menilia dan menjawabnya.

Mutiara yang ketika yang akan diambil Jibril dari bumi ini adalah rasa sayang diantara keluarga (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ jikalau harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, tetapi sering kali kita temukan anak dan orang tua saling membunuh, bahkan seorang ibu tega menjual bayinya. Atau bahkan seorang anak menjual bapaknya. Bahkan dalam dunia politik yang semakin menghangat karena musim pilkada berapa saudara yang telah berubah menjadi musuh? Sepertinya rasa sayang antar keluarga semakin menipis. Namun demikian semoga Allah tetap melindungi kita semua.

Mutaiar keempat yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini keadilan di hati pemimpin وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ) rasa-rasanya mengenai hal ini kita bersama telah pandai menilai. Apakah kekuasaan di sekitar kita masih mengandung keadilan? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum? Na’udzubillah min dzalik.

Mutiara kelima yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini adalah وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ) rasa malu dari perempuan. Rasa malu itu kini telah dirubah menjadi rasa bangga. Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi gadis gratifikasi seksual, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang. Semoga kita semua terhindar dari yang demikian ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mutiara keenam yang akan diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ) kesabaran dari para fakir. Perlu diakui bahwa factor yang mengondisikan negara miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini tidak sabar dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kekacauan fisik. Inilah yang tergambar dalam prosesi premanisme di berbagai kota.

Mutiara ketujuh yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ) wirai dan zuhud dari para ulama. Wira’i adalah menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram, sedangkan zuhud itu tidak mementingkan harta-dunia, keduanya merupakan karakter para ulama. Akan tetapi jika wira’i dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai keulamannyapun mulai berkurang. Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya hanya dianggap sebagai tontonan.

Mutiara ke delapan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ) kedermawanan bagi orang kaya. Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi dan social di suatu masyarakat adalah kesabaran fakir dan kedermawanan orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jikalau semua itu lenyap, maka harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara ke Sembilan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ) mengangkat al-Qur’an, tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an itu sendiri sebagai tuntunan dalam kehidupan. Memang, kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lanutnan ayat-ayat al-Qur’an. melalui mp3, DVD, online bahkan juga tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah pula. Akan tetapi semangat qur’an itu sendiri sekarang makin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan al-qur’an. Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak mengambil mutiara ini.

Dan terakhir, mutiara yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah iman. العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ) mungkin ini adalah mutiara paling berharga diantara sembilan mutiara lainnya. Atau bisa saja ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling belakang. Iman itu ada di hati semoga Allah menetapkannya dalam hati kita masing-masing.

Jama’ah yang Dimuliakan Allah

Khotbah kali ini sebenarnya berdasarkan pada hadits yang bunyinya:

رُوِىَ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ جِبْرِÙ? ْلَ عَلَÙ? ْهِ السَّلاَمُ Ù? َزَلَ عَلَى الÙ? َّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ Ù? اَجِبْرِÙ? ْلُ هَلْ تَÙ? ْزِلُ مِÙ? Ù’ بَعْدِى ؟؟ فَقاَلَ Ù? َعَمْ Ù? اَرَسُوْلَ اللهِ Ø£ÙŽÙ? ْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ قاَلَ Ù? اَ جِبْرَÙ? ْلُ وَماَتَرْفَعُ مِÙ? ْهاَ ØŸ قاَلَ Ø› (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ (وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ (وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ?

Dari hadits inilah khotib kemudian berusaha mengefaluasai realita zaman sekarang yang ternyata dalam bahasa hadits itu Jibril sudah mulai bertindak turun kebumi satu-persatu mengambil mutiara itu. Semoga masih banyak mutiara yang tersisa. Semoga Allah swt memberikan kekuatan pada kaum muslimin untuk menjaga kesepuluh mutiara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

?

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا اَمَّا بَعْدُ

فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock