Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

Cirebon, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon menggelar kajian fiqih seputar haid di Pesantren Raudlatut Tholibin Desa Kalibuntu, Pabebdilan, Kamis (30/6). Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan Ikatan Alumni Pesantren Lirboyo Kecamatan Pangenan yang diikuti puluhan anggota IPNU dan IPPNU setempat.

Menurut Ketua IPPNU Pabedilan Sri Mahmudah, kegiatan seminar ini membahas perempuan khususnya haid, nifas, dan seluruh permasalahannya. Kajian ini menghadirkan narasumber Ustadz Harun Purhadi, alumni Pesantren Lirboyo.

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pabedilan Ngaji Fiqih Seputar Haid

"Intinya menuju perempuan salehah. Minimalnya tahu dan mengerti seluk-beluk haid. Tentang haid ini menurutku sangat penting juga dikaji baik oleh perempuan maupun laki-laki. Karena perempuan dan laki-laki sudah seharusnya mengerti persoalan haid dan permasalahannya,” jelas Mudah.

Sedangkan Ketua IPNU Pabedilan Ahmad Fahrurrijal mengatakan, kegiatan ini penting karena banyak para kader yang membutuhkan pengetahuan seputar haid dan thaharah agar lebih mantap dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Untuk laki-laki, agar kelak setelah berumah tangga paham tentang haid dan dapat menuntun istrinya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Alhamdulillah acara kami disambut dengan baik oleh kader. Setelah seminar acara kami lanjut dengan tadarus Al-Qur’an sambil ngabuburit dan buka bersama. Malamnya setelah Tarawih, kami isi dengan rapat koordinasi dengan seluruh ranting dan komisariat yang ada di Kecamatan Pabedilan,” jelas Rijal kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon. Ketua IPNU Cirebon Ayub Al-Ansori dan Ketua IPPNU Cirebon Nur Aida Fajriyanti berharap ke depan seluruh anak cabang Pelajar NU selain gencar kaderisasi formal juga penting untuk memerhatikan keilmuan para pelajar baik dalam bentuk seminar, diskusi, maupun pelatihan. (Nurjannah Al-Kendali/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Medan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bangsa ini harus cepat keluar dan mengembalikan citranya yang negatif. Cap yang kini disandang Indonesia sebagai negara koruptor, menyukai kekerasan, negara terorisme, dan label negatif lainnya harus dipandang dengan cara prihatin.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) A Jabidi Ritonga, pada seminar kebangsaan bertajuk “Ancaman Ideologi dan Ormas Radikal terhadap NKRI” yang digelar Pengurus Koordinator Cabang PKC PMII Sumut di Hotel Semarak Medan, Rabu (29/2) sore.

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Dia juga menyatakan prihatin melihat banyaknya Ormas dan OKP yang mengatasnamakan agama dan rakyat sering melakukan tindakan kekerasan. Ormas dan OKP tersebut bukan hanya melanggar hukum, tapi juga telah merugikan banyak orang dan menjadikan masa depan negara ini suram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Semakin kelihatan lemahnya negara saat ini. Preman sekarang sudah berani demonstrasi bila rekannya ditangkap. Melihat situasi ini, PB PMII merekomendasikan, bubarkan ormas dan OKP yang selalu membuat kekerasan dan keresahan bagi masyarakat. Aparat jangan takut dan takluk pada preman. Mari selamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ajaknya.

Kapolda Sumut diwakili Direktur Bimas Polda Sumut Kombes Pol Heri Subiansauri menyatkan, aparat tidak pernah takut dengan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum. “Negara tidak boleh lemah dan kalah dengan preman. Yang melanggar hukum kita sikat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sedangkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumut, H Abdul Rahim menegaskan, Islam melarang tindak kekerasan dan pengrusakan. “Jadilah tauladan yang baik, santun dalam ucapan dan perbuatan, karena itu yang diajarkan Islam kepada umatnya,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) Bukit Tambunan mengatakan, masyarakat Sumatera Utara sudah maju dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Kritikan-kritikan yang disampaikan masyarakat Sumatera Utara dilakukan dengan santun dan beretika. Namun, apabila ada Ormas atau siapa saja yang melanggar aturan main, akan kita tertibkan,” kata Bukit.

Sebelumnya, Pjs Ketua PMII Sumut Kurnia Hidayat menyatakan, PMII akan berada di garda terdepan untuk mempertahankan NKRI. "PMII akan berada di garis depan untuk membantu pemerintah dalam mengawal NKRI," kata Kurnia Hidayat.

Sekretaris Umum PKC PMII Hasan Basri dalam pengantar seminar menyoroti, negara sering terlambat dan terkesan membiarkan terjadinya tindakan kekerasan. Contoh terbaru kasus Bima, Lampung dan lainnya. Negara seakan kehilangan powernya. “Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang lagi,” harapnya.

Redaktur? ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Oleh KH MA Sahal Mahfudh . Al-Quran yang telah diwahyukan dan diturunkan Allah Swt kepada RasulNya yang terakhir, ayat demi ayat selama 23 tahun, mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan kitab-kitab samawiyah lain sebelumnya. Ciri-ciri itu antara lain al-Mujiz, artinya mempunyai kekuatan melemahkan. Dari segi nilai sastra dan gramatikanya yang tinggi, sastrawan mana pun tidak mampu menandinginya, meski pada waktu itu banyak yang mencoba membuat al-Quran buatan. Ciri lain ialah, membaca al-Quran saja tanpa memahami arti dan maknanya, dihitung sebagai ibadah.

Al-Quran yang merupakan sumber utama dan pertama bagi ajaran Islam, pada dasarnya mengajak semua manusia agar mau menghambakan dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT dengan aqidah dan syariatNya, serta berakhlak mulia baik bagi Allah mau pun dalam pergaulan hidup dengan sesama manusia dan makhluk lain. Sebagai dasar orientasi hidup manusia, al-Quran mengacu ke arah tumbuhnya inspirasi yang terefleksikan dalam sifat, sikap dan perilaku yang inheren pada eksistensi dan proses hidup manusia sebagai titah. yang akrom.

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontekstualisasi Al-Quran dalam Era Tinggal Landas

Pada masa pembangunan, kontekstualisasi al-Quran menjadi penting. Pembangunan manusia yang selalu menjanjikan kesejahteraan, bahkan menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup manusia, dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, politik dan utamanya aspek agama. Potensi, profesi dan berbagai wawasan keagamaan dan sosial tertata dalam suatu sistem dan mekanisme yang terarah.

Kualitas manusia yang menyangkut berbagai aspek, dikelola dengan dukungan sumber daya manusia sendiri dan kekuatan dari luar dirinya. Dalam hal ini al-Quran sebagai sumber motivasi, diletakkan sebagai penyeimbang aqidah, syariah dan akhlaq karimah.

***

Manusia (bani Adam) oleh Allah SWT dalam al-Quran disebut mempunyai karamah (kemuliaan) dan kehormatan di atas semua makhluk lainnya. Nilai lebih ini bermakna sebagai titik pembeda dan makhluk lain, tentu saja dengan konsekuensi yang berat, bahkan teramat berat. Karena, pada diri manusia terdapat nafsu yang tidak selamanya bisa diajak kompromi untuk melestarikan karamah tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nafsu inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada kediriannya dan sering membuat manusia kehilangan nilai karamahnya. Salah satu aspek dari kekaramahan itu adalah kemampuan fisik dan rasio. Kemampuan inilah yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus memacu ke arah pencapaian kualitasnya, manakala dibarengi kemauan berikhtiyar.

Namun di sisi lain—meskipun memiliki nilai karamah—manusia oleh al-Quran disebut abdu. Abdu yang berarti hamba, menuntut tanggung jawab yang melekat pada diri manusia. Dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, manusia mukallaf diberi berbagai taklif (tanggung jawab) yang harus dilaksanakan menurut ketentuan dan kemampuan berikhtiyar.

Sejauh mana manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu ia mempertahankan nilai karamahnya. Sejauh mana manusia menghambakan dirinya terhadap Allah SWT, sejauh itu pula manusia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abdu. Ini berarti, manusia di dalam hidup dan kehidupannya selalu harus beribadah kepada Allah, karena Allah tidak menciptakan jin dan mausia kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meskipun manusia berstatus sebagai hamba, namun ia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, satu di atas yang lain, dalam hubungannya secara vertikal dengan Allah mau pun hubungan horisontal antar sesama manusia dan alam lingkungan. Khalifah sebagai pengganti, diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan posisinya. Namun wewenang itu pada dasarnya adalah tugas yang harus diemban.

Tugas itu dalam al-Qur an disebut imaratul ardli, di samping ibadatullah. Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia melakukan imarah (pengelolaan dan pemeliharaan) di atasnya. Karena manusia di dalam melaksanakan wewenang dan tugas imarah-nya sering berbuat sewenang-wenang, bahkan merusak lingkungan dan tidak mengindahkan manusia lain yang berada pada posisi di bawahnya, maka Allah selanjutnya memerintahkan manusia agar mohon ampunan Allah dengan bertaubat.

Imaratul ardli yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekadar membangun tanpa tujuan, apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan tugasnya yang pertama, yaitu ibadatullah. Lebih dari itu adalah sarana untuk mencapai saadatud darain (kebahagiaan dunia dan akhirat) sebagai tujuan hidup manusia.

Dari sinilah dapat dipahami, masyarakat dalam konsepsi al-Quran adalah masyarakat ibadah dan imarah, di mana satu dengan yang lain saling berkait erat. Hal ini telah diisyaratkan Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah dengan membangun secara berurutan, dua bangunan monumental yang hingga sekarang masih dilestarikan bahkan dikembangkan. Dua bangunan itu adalah masjid Quba dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan antara masjid dan pasar, yang secara simbolik merupakan wujud konsepsi manusia seutuhnya.

***

Dalam hal perubahan masyarakat sebagai proses pembangunan, al-Quran mengisyaratkan, Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah keadaannya. Mengubah di sini berarti berupaya dan ikhtiyar yang menuntut berbagai kemampuan yang disebut kualitas. Ini berarti, membangun manusia butuh kualitas. Garis lingkar balik seperti ini terjadi, karena manusia sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Pada dasarnya keberhasilan proses pembangunan itu banyak ditentukan oleh sumber daya manusia.

Allah SWT dalam al-Quran memerintahkan kepada manusia agar mempu berpacu dalam berbagai kebajikan (istibaqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap dan perilaku kompetisi yang sehat untuk mencapai al-khairat, yang berarti memerlukan dinamika tinggi dan lumintu, serta wawasan kreatif dan inovatif yang luas, di samping daya analisis untuk mengantisipasi proses transformasi menuju masa depan.

Pembangunan kualitas manusia dipahami sebagai dinamika, bukan hanya sebagai metode yang menitiktekankan pada program-program. Wujud dinamika ini adalah gerakan-gerakan yang selalu menuntut etos kerja tinggi dari semua lapisan masyarakat. Etos kerja ini dalam al-Quran disebut sebagai ibtigha al-fadlillah (secara optimal berupaya mencari anugerah Allah) atau secara umum disebut sebagai amal shalih. Kehidupan Rasulullah dalam kesehariannya menunjukkan adanya etos kerja yang tinggi. Beliau selalu mempunyai kesibukan, sampai-sampai membantu isterinya menjahit dan memperbaiki sandal. Bahkan beliau dalam sebunh hadits mengatakan, seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya mau dicukupi orang lain dan menganggur.

Kualitas manusia pada dasarnya, ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum, potensi yang telah dibekalkan Allah kepada setiap manusia mukallaf adalah potensi rasio dan fisik. Yang pertama berkembang menjadi potensi ilmu pengetahuan dan teknolgi, profesi dan kemampuan rasionalitas lainnnya. Dan yang kedua berkembang menjadi keterampilan, etos kerja dan ketahanan tubuh dengan kesehatan yang prima.

Dalam al-Quran potensi tersebut diformulasikan secara singkat dalam kalimat qawiyyun atau makinun, yang berarti punya quwwah (potensi) atau makanah (ketangguhan). Sebuah firman Allah menyebutkan, "Sebaik-baik orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi dan berkemampuan menerima amanat serta dipercaya". Ayat ini dapat dipahami, bahwa setiap upaya apapun untuk mencapai prestasi menuntut adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas. Rasulullah dalam hal ini mengatakan, "Orang mukmin berpotensi lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang yang lemah".

***

Pembangunan bukan saja membawa perubahan secara fisik, namun juga perubahan transendental. Hal ini antara lain terlihat dari perubahan nilai religius menjadi nilai ekonomis. Artinya, langkah dan gerak manusia yang semula diperhitungkan secara religius, bergeser menjadi diperhitungkan untung ruginya secara materiil belaka. Hampir dapat dipastikan, nilai ekonomis akan makin berkembang pesat pada era tinggal landas. Era di mana kapitalisasi makin merambah berbagai aspek kehidupan dan industrialisasi mulai menjangkau semua aspek komoditas, etos kerja makin meningkat, peran ketrampilan dan modal makin dominan. Perhitungan untung rugi secara materiil makin kuat posisinya. Akibatnya, nilai religius terbentur dan terlempar.

Era tinggal landas memang selalu menjanjikan kehidupan yang menggiurkan dan kesejahteraan yang spektakuler. Namun justru di situlah nilai-nilai iman dan tawakal terancam. Di situ pula unsur ghurur al-dunya makin mendapat banyak peluang untak menggiring nafsu manusia pada puncak keangkaramurkaannya.

Tawakal dan iman terancam oleh posisi ikhtiyar yang makin dominan. Dalam hal ini al-Quran memandang kehidupan dunia ini sebagai materi yang menipu manusia (mata al-ghurur). Makin maju kehidupan dunianya, manusia makin melalaikan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Maka al-Quran memberi petunju akan keseimbangan yang sering diformulasikan dalam kalimat al-wasath dan al-adlu.

Keadilan sebagai konsepsi al-Quran dipahami sebagai keseimbangan dalam kehidupan manusia. Menakuti manusia dengan siksaan Allah, diimbangi dengan sikap optimis terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kewajiban diimbangi dengan hak. Keberanian fisik diim

bangi keberanian mental. Potensi rasio diimbangi potensi fisik. Meskipun al-Quran menunjukkan, seluruh isi bumi ini diciptakan untak manusia, dengan pengertian manusia diberi kebebasan mengolah dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup, namun al-Quran juga memberikan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui agar terjadi keseimbangan, tidak israf (berlebihan) dan tabdzir (mubazir). Sampai pada soal makan dan minum, al-Quran melarang israf dan tabdzir. Tidak boleh melampaui batas kualitas, batas kuantitas, batas maksimal dan minimal, agar terjadi keseimbangan dalam tubuh manusia.

Era tinggal landas harus dilandasi semangat keseimbangan antara etos kerja dan tawakal. Etos kerja dan gerakan-gerakan pembangunan dipahami sebagai ikhtiyar yang pada dasarnya hanya merupakan sarana, karena yang menentukan keberhasilannya adalah Allah dengan qudrah dan iradah-Nya. Tawakal tanpa ikhtiyar akan menimbulkan sikap fatalistik yang berakibat pada munculnya sikap thama (dependen) yang tidak dibenarkan. Sebaliknya, ikhtiyar tanpa tawakal bisa menghilangkan nilai imani. Bila manusia hanya berpegang pada ikhtiyar lalu gagal, ia akan kehilangan keseimbangan, stress dan tidak mustahil putus asa (yasu). Sikap ini dilarang keras oleh al-Quran.

Dalam menghadapi era tinggal landas, perlu potensi pengendalian diri dalam arus transformasi. Hanya dengan pengendalian diri ini, manusia akan dapat eksis pada kediriannya, karamah dan akram. Akram di sisi Allah dalam al-Quran disebut, adalah orang yang paling bertaqwa sesuai dengan statusnya sebagai hamba.

Ini bisa dicapai dengan mengembangkan potensi ruhaniah, iman, aqidah Islamiyah, ketaqwaan yang diformulasikan dalam ajaran syariah Islamiyah dan akhlaq karimah. Potensi ini justru menjadi sarana mengatasi kesulitan dan memberikan jalan keluar serta mendapatkan rizqi tak terduga sesuai dengan jaminan Allah yang dituangkan dalam al-Quran. Ini berarti bahwa era tinggal landas harus diimbangi dengan peningkatan wawasan keagamaan dan kualitas keberagamnan Islam, yang pada gilirannya akan menumbuhkan keseimbangan antara ibadatullah dan imaaratul ardli, antara masjid dan pasar.

?

*) Tulisan ini pernah disampaikan KH MA Sahal Mahfudh pada seminar menjelang MTQ Nasional di Yogyakarta pada 2 Februari 1991. Bisa ditemukan dalam buku "Nuansa Fiqih Sosial", 2004 (Yogyakarta: LKiS) dengan judul yang sudah diubah, "Kontekstualisasi Al-Quran".

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian Strategis Kebangsaan (LKSB) yang dikomandoi oleh Abdul Ghopur menilai bahwa saat ini nasionalisme di dada para pemuda kian hari makin jauh dari prinsip-prinsip yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers).

Seba itu, pihaknya mengajak seluruh elemen pemuda bangsa untuk kembali ke khittah 1928 sebagaimana para pemuda saat itu bersama-sama meneguhkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perbedaan yang ada.

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Ajak Pemuda Kembali ke Khittah 1928

Hal itu mengemuka saat LKSB menggelar diskusi bertajuk Kembali ke Khittah 1928: Meneguhkan Komitmen Bhinneka Tunggal Ika serta Mewujudkan Negara Amanat dan Cita-cita Proklamasi 45 Demi Keutuhan Bangsa. Diskusi yang diikuti oleh sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda lintas agama dan etnis ini digelar, Rabu (2/11) di Gedung PBNU Jakarta.

Ghopur menilai, etos kerja keras yang tidak budayakan, mental korup, budaya instan, dan pragmatisme yang ada dalam diri para pemuda zaman sekarang membuat mereka terlena di saat bangsa ini membutuhkan penguatan identitas. Atas dasar ini, akhirnya mereka mudah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang cenderung memecah belah bangsa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Persoalan yang terjadi selanjutnya adalah lemahnya sinyal ketahanan dan kedaulatan bangsa,” ujar Ghopur, Direktur Eksekutif LKSB ini.

Para pemuda dan organisasi mahasiswa yang hadir dalam forum diskusi tersebut sepakat dan berkomitmen untuk terus menjaga persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa di tengah kemajemukan seperti yang dicita-citakan para founding fathers dan para pemuda lintas etnis dan agama dalam Sumpah Pemuda 1928.

Untuk itu, sebelum dimulai diskusi, mereka menandatangani Deklarasi Kembali ke Khittah 1926 yang digoreskan dalam sebuah spanduk. LKSB berharap, hal ini menjadi landasan gerak para pemuda untuk menciptakan kehidupan bangsa yang lebih baik tanpa diskriminasi, dikotomisasi, dan intoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kehadiran Presiden Joko Widodo di Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8) malam, menyedot perhatian banyak pihak. Puluhan ribu warga dari berbagai daerah memadati alun-alun Jombang, menyaksikan orang nomor satu ini membuka secara resmi perhelatan akbar NU.

Satu hal yang unik dari Jokowi malam itu adalah penampilannya yang lain dari biasanya. Jika pada tiap kunjungan di forum formal ia mengenakan kemeja putih, jas, lengkap dengan celana hitam, pada Muktamar NU kali ini ia memakai jas, peci hitam, dan sarung merah tua bermotif kotak-kotak.

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Jokowi Kenakan Sarung di Muktamar NU

“Sarung ini dibelikan istri saya,” katanya di hadapan muktamirin yang sontak disambut tawa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mantan walikota Solo ini lalu bercerita, sarung tersebut ia kenakan saat berada di hotel beberapa saat sebelum prosesi acara pembukaan muktamar berlangsung, lantas meluncur ke alun-alun menggunakan mobil.

Mantan Presiden Megawati yang juga hadir menyapanya begitu Jokowi turun dari mobil, “Sarungnya bagus.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Apanya, Bu?” Gerrr kembali berderai. Hadirin seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Warnanya,” jawab Megawati sebagaimana ditirukan Jokowi.

Tapi yang membuat terkesan Jokowi bukan pertanyaan ketua umum PDI-P itu. Ia mengaku justru kaget tatkala memasuki arena Muktamar dan menyaksikan pengurus NU ternyata banyak yang tak mengenakan sarung seperti dirinya.

“Begitu turun mobil ternyata banyak yang pakai jas (tak pakai sarung, red). Untung saya ditemani Gus Mus.” Mata Jokowi melirik Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri di depannya.

Penampilan Jokowi ini juga tak luput dari komentar Ketua PBNU H Saifullah Yusuf. Ia bersyukur Presiden bersedia mengenakan pakaian khas pesantren tersebut. Tapi anehnya, wakil gubernur Jatim ini justru tidak bersarung alias memakai celana.

“Pak presiden pakai sarung karena ingin menghormati NU, saya pakai celana karena ingin menghormati presiden.” Gerrrr... (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, H Anis Malik Thoha berkesempatan hadir dalam Halal Bihalal yang diselenggarakan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, awal pekan kemarin.

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Dalam kesempatan tersebut Anis menjelaskan mengenai tradisi halal bihalal di Indonesia, lantaran ada sebagian pihak yang mengkritisi tradisi yang telah mengakar tersebut sebagai bid’ah.

Menurutnya tidak semua hal dihukumi sesat. Demikian halnya tradisi halal bihalal atau saling maaf-memaafkan. Tradisi tersebut memang hanya ditemukan di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tradisi halal bihalal menurut Katib Syuriyah NU Cabang Istimewa Malaysia sudah ada sejak zaman pangeran Mangku Negara I sekitar abad ke-18. Pangeran Samber Nyowo memperkenalkan tradisi baru tersebut dengan bersalam-salaman setelah shalat Id yang dilaksanakan di Keraton bersama seluruh abdi dalem.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oleh ulama tradisi tersebut kemudian dihidupkan sebagai halal bihalal. Sebagai momentum saling memaafkan. Halal bihalal sebagai tradisi nasional masih dilestarikan hingga sekarang. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Cerita, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Padang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Umat Islam yang terkena musibah banjir diharapkan tetap menjaga kebersamaan. Jangan sampai merusak rasa persatuan dan ukhuwah yang sudah terbina sebelumnya. Bencana yang menimpa hendaknya dapat dijadikan evaluasi diri sehingga mampu meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang Yulter Ardi mengatakan hal itu ketika menyerahkan 70 paket bantuan kepada korban banjir di Kelurahan Mato Aia Kecamatan Padang Selatan, Sabtu (25/6) di halaman musalla Hasanah.

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Padang Serahkan Paket pada Korban Banjir

Menurut Yulter, bencana banjir yang terjadi pada Senin (22/6/2016) lalu hendaknya dapat lebih meningkatkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Bencana tidak selalu harus kita ratapi. Tapi bagaimana kita mengambil hikmah. Kita jadikan momen mengevaluasi diri. Mungkin selama ini banyak kemungkaran yang sudah dilakukan dan lalai dari perintah Allah Swt," kata Yulter Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Yulter, paket yang diserahkan kepada 70 kepala keluarga, berisikan gula, minyak goreng, beras, selimut, mie? dan sirup. "Walaupun tidak banyak, kita berharap dapat meringankan beban masyarakat yang terkena banjir.? Karena keterbatasan, memang tidak semua warga yang terkena banjir yang dapat diberikan paket bantuan. Untuk itu, kepada warga yang tidak mendapatkan, kita harapkan bersabar. Mudah-mudahan ada rezeki dari yang lain," harap Yulter. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Saat ini ada empat rusunawa (rumah susun mahasiswa) yang telah terbangun di kabupaten Jombang Jawa Timur. Diantaranya di kampus Universitas Hasyim Asy’ari (dulunya Ikaha) yang telah dibangun pada 2007 (21M2/98 unit, 1TB,4 lantai). Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tahun 2012 (1TB,2 lantai). Pesantren Al-Hikmah, Tambakberas tahun 2013 (1TB, 3 lantai) dan pesantren Al-Urwatul Wutsqo tahun 2013 (1TB, 3 lantai). 

Demikian disampaikan oleh Hj Mundjidah Wahab saat mendampingi Menteri Perumahan Rakyat RI, H Djan Faridz dalam kunjungan kerjanya di Pesantren Tebuireng, sekaligus menutup rapat kerja dan koordinasi wilayah Pimpinan Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama Jawa Timur (29/12) siang.

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kembangkan Rusunawa Pesantren

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jombang saya menyampaikan ucapan terima kasih atas program yang digulirkan oleh Kemenpera di kabupaten Jombang, baik program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bedah rumah/MCK maupun rusunawa,” tutur Hj Mundjidah Wahab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Disampaikan oleh Menpera RI, H Djan Faridz bahwa tujuan pembangunan rusunawa adalah untuk turut mendukung program pengurangan kemiskinan melalui implementasi Mmaster Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) serta menyediakan prasarana pondokan yang layak huni untuk mendukung kegiatan pendidikan dan keagamaan di pesantren. Disamping mewujudkan lingkungan hunian secara terpadu menuju lingkungan hunian yang layak dan berkelanjutan.

“Seperti kita tahu bahwa kondisi umum hunian santri yang ada banyak yang tidak layak huni. Kondisinya sesak, kotor, fasilitas istirahat yang tidak sehat, seadanya, MCK terbatas dan sangat memprihatinkan”, tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan oleh Djan Faridz bahwa untuk tahun anggaran 2013 realisasinya sudah selesai. Dan Pada awal Januari 2014 akan segera dilakukan lelang untuk program rusunawa tidak hanya pesantren, tapi juga rusunawa untuk PNS, polisi dan perguruan tinggi, dan untuk jumlah rusunawa pesantren di Jatim paling tinggi realisasinya, yakni 124 TB.

Untuk pengajuan usulan bantuan pembangunan rusunawa pesantren kepada Kemenpera RI, usulan dalam bentuk proposal, selanjutnya akan dilakukan verifikasi administrasi dan teknis. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan usulan yang lolos verifikasi diusulkan ke Menteri Perumahan Rakyat melalui deputi bidang perumahan rakyat melalui deputi Bidang Perumahan Formal untuk ditetapkan. Selanjutnya penetapan penerima bantuan pembangunan rusunawa ponpes melalui SK Deputi bidang perumahan formal atas persetujuan Menpera.

Sedangkan kriterianya pesantren dalam bentuk yayasan yang izin operasionalnya telah dikeluarkan oleh Kemenag (diprioritaskan untuk pesantren yang pendanaannya kurang). Jumlah santri yang tidak tertampung pada asrama eksisting dalam jumlah yang banyak. Kondisi asrama eksisting tidak layak huni (kurang ventilasi dan pencahayaan, sanitasi tidak sehat, tingkat keselamatan bangunan rendah). Tanah yang disediakan untuk pembangunan rusunawa dengan luasan yang cukup dan dalam kondisi clean and clear.

KH Sholahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini jumlah pesantren yang terdata sebanyak 28 ribu. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling tua. Yang menjadi permasalahan dalam perumahan adalah lahan. “Harga lahan saat ini sangat ini melambung dan tidak terjangkau,” tuturnya.

Di akhir acara kunjungan kerja tersebut, rombongan Menpera RI dan staf, bersama Hj Mundjidah Wahab, KH. Nur Muhammad Iskandar, didampingi istri Gus Sholah melakukan ziarah ke makam Gus Dur. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Santri, RMI NU Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Tepuk Pundak untuk Jamaah

Salah satu hal yang lazim dilakukan dalam shalat sehubungan dengan proses jamaah adalah menjadikan seseorang sebagai imam dengan cara menepuk pundaknya di tengah-tengah shalat. Secara fiqih hal ini dibolehkan (mubah), bahkan disunnahkan jika tepukan itu memberi tanda bahwa yang bersangkutan telah didaulat menjdi imam. Sebagaimana diterangkan dalam Fathul Mu’in

 

(? ?) ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?.

 

Tepuk Pundak untuk Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tepuk Pundak untuk Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tepuk Pundak untuk Jamaah

“Niat menjadi imam atau berjama’ah bagi imam adalah sunah, di luar shalat jum’ah, karena untuk mendapatkan keutamaan berjama’ah. Seandainya ia niat berjama’ah di tengah mengerjakan shalat maka ia mendapatkan keutamaan itu. Adapun dalam shalat jum’ah wajib baginya niat berjama’ah saat takbiratul ihram”.      

Dalil di atas menunjukkan kesunnahan niat sebagai imam walaupun niatnya baru ada di tengah shalat. Karena bagaimanapun juga shalat Jama’ah jauh lebih utama dari pada shalat sendirian.

Akan tetapi jika sekiranya tepukan di pundak itu terlalu keras hingga mengagetkan imam dan membatalkan shalatnya, maka hukumnya menjadi haram. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Mauhibah Dzil Fadl

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

 

(?) ? ? ? (?) ? ? ? (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

 

“Haram bagi siapa pun bersuara keras jika mengganggu jama’ah yang lain, baik di dalam shalat maupun di luar shalat karena membahayakan, seperti (memperingatkan) orang yang sesat, orang yang membaca atau orang yang tidur. Tidak boleh mengganggu walaupun terhadap orang yang fasik karena kefasikan itu tidak ada yang tahu kecuali dirinya. Pendapat yang mengharamkan tersebut itu jelas, namun bertentangan dengan pendapat dalam kitab al-Majmu’ dan sesamanya. Tidak diharamkannya jika kesemuanya tidak terlalu mengganggu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

(Pengertian tidak haram jika gangguannya ringan), yakni yang dimaksud oleh mushannif (pengarang) adalah haram jika sangat mengganggu. Dalam ungkapan kitab al-I’ab bahwa keterangan dalam kitab al-Majmu’ (yang tidak mengharamkan) adalah jika tidak terlalu mengganggu kepada orang lain sehingga dapat ditoleransi, berbeda jika suara keras tersebut sampai membatalkan bacaan (shalat) secara keseluruhan, maka hukumnya haram”. (ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Madinah, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sebanyak 9 kiai dari Jawa Tengah dan jawa Timur yang dipimpin Rois Syuriyah pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Masruri Mughni dan KH Habib Ahmad bin Toha Al Munawar (Toha Putra Group), Ahad (6/5) kemarin menemui sejumlah ulama terkemuka di Madinah dan Makkah.

Demikian dikutip dari Harian Umum Suara Merdeka. Di Madinah para kiai menemui Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, Habib Muhammad bin Zein, Habib Muhsin Alatas, dan Habib Salim Al-Kaf.

Sedang di Makkah ulama yang ditemui antara lain Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani, Habib Ahmad bin Muhammad AlMaliki, Habib Salim bin Segaf AlJufri (Duta Besar RI untuk Arab Saudi), Habib Muhammad bin Ismail Al-Yamani dan Habib Rosyad Al-Baidi Jeddah. Habib Umar bin Abdurrahman Al-Jaelani adalah salah satu keturunan Syeh Abdul AQadir AlJaelani, sahibul manakib yang sangat popular di Indonesia.

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Kiai Temui Ulama Madinah

Selain bersilaturahim dengan para ulama, mereka berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW dan menunaikan ibadah di Masjid Nabawi.

Selanjutnya menjalankan ibadah Umrah mengambil miqat dari Bir Ali. Dijadwalkan setelah menemui para ulama di Madinah dan Makkah, Rabu mendatang rombongan bertolak ke Hadramaut Yaman mengikuti serangkaian kegiatan di negara bekas jajahan Inggris itu. Agenda kegiatan di Yaman, para kiai akan mengikuti haul Habib Ali bin Muhammad AlHabsyi, penyusun Kitab Maulid Simtud Dhuror, bertemu dengan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, pimpinan pesantren Daarul Mustofa, Tarim.

Ulama lain yang akan ditemui yaitu Habib Salim Satri, berziarah ke makam aulia antara lain Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyusun Ratib AlHaddad yang sangat terkenal di Indonesia.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sembilan kiai dalam rombongan tersebut yaitu KH Masruri Mughni, KH Habib Ahmad bin Toha AlMunawar, Dr Habib Abdurrahman bin Smith MA Kauman Semarang, KH Kharis Shodaqoh (pengasuh pondok Al-Itqon Bugen Kota Semarang), KH Sholeh bin Muhammad Bassalamah (pengasuh pesantren Daarussalam Jatibarang Brebes), KH Humam Suyuthi (pengasuh pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati), Prof Dr H Ahmad Rofiq MA (Sekretaris Umum MUI Jateng), KH Ikhya Ulumiddin (pengasuh pesantren Nurul Haromain, Pujon, Malang), Habib Shaleh bin Muhammad AlJufri (pengasuh pesantren Daarul Mustofa Solo).

"Kami mencoba membangun jaringan dengan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah terkemuka yang ada di Makkah-Madinah dan Yaman dalam rangka pengembangan pondok pesantren di Jawa Tengah dan menjalin hubungan silaturahim," kata Kiai Masruri.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Olahraga, RMI NU, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



KH Abdul Hayyie Nai’m lahir di Cipete, Jakarta Selatan pada tahun 1940. Ia adalah putra ulama Betawi, KH Muhammad Na’im yang berasal dari Cipete, dan Hj Mardhiyah yang asal Mampang.?

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Hayyie Na’im, Santri Pengelana di Jazirah Arab

Selepas menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ia meneruskan ke Raudlatul Muta’alimin Mampang. Saat berusia 14 tahun, ia dikirim untuk menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur atas anjuran Kiai Razzaq, pengasuh Raudlatul Muta’alimin Mampang.

Di Tebuireng, Abdul Hayyie muda menjadi santri istimewa dan merupakan santri kesayangan Kiai Idris, gurunya. Dianggap sebagai anak, Abdul Hayyie muda pun dilarang terlalu sering pulang ke Jakarta.

Pada tahun 1960, Abdul Hayyie diizinkan pulang dari Tebuireng. Ayahnya beralasan akan memberangkatkan Kiai Abdul Hayyie menunaikan ibadah haji. Kiai Muhammad Na’im sangat menginginkan anaknya belajar di Makkah.?

Di Makkah, Abdul Hayyie belajar di Pesantren Darul Ulum, asuhan Syekh Yasin Al-Padangi, ulama besar Makkah kelahiran Minangkabau. Ia satu kelas dengan Kholil Bisri putra KH Bisri Musthofa Rembang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tahun 1965, bersama Hambali Maksum dan Mahfudzh Ridwan, ia hijrah ke Baghdad, Irak berbekal tiket yang dibeli dengan uang terakhir yang mereka miliki. Mereka mendaftar di Fakultas Sastra Baghdad University. Di Baghdad pula, Abdul Hayyie bertemu dan kemudian bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

KH Abdul Hayyie meraih gelar Lc pada tahun 1970. Tetapi ia tidak segera pulang ke Indonesia. Ia lebih dulu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Yordania, Turki, dan Beirut sebelum akhirnya pulang ke Indonesia tiga tahun kemudian.

Di Cipete, ia segera terjun dalam aktivitas dakwah dan taklimnya. Ia mengasuh pengajian dan Madrasah An-Nur, peninggalan ayahnya, dan berbagai madrasah dan majelis taklim lain di Jakarta Selatan dan Depok.

Kiai Abdul Hayyie mengaku miris menyaksikan kekejian dan kesadisan yang dilakukan oleh sesama manusia. Menurutnya, Jakarta sekarang ini ibarat hutan belantara yang dihuni binatang buas.

Ia sangat mengkhawatirkan perkembangan masyarakat mendatang. Kepeduliannya terhadap remaja itu menggerakkan hatinya mendampingi Habib Hasan bin Ja’far Assegaf mengasuh Majelis Taklim Nurul Mustafa, yang sebagian besar jamaahnya adalah para remaja. Diolah dari berbagai sumber. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nasional, Santri, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google?

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Di era informasi tanpa batas seperti ini, kita perlu waspada, mawas diri, dan berhati hati terhadap berbagai macam informasi yang muncul di berbagai media baik cetak maupun elektronik, khususnya media elektronik yaitu internet. Pasalnya internet mengandung berbagai sisi baik positif maupun negatif.

Di satu sisi internet sangat bermanfaat bagi kita untuk pemenuhan kebutuhan akan informasi namun di sisi lain, dunia internet dapat membawa dan menjerumuskan kita kepada hal hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Belajar Agama Tidak Lewat Google?

Demikian disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Pringsewu Muhammad Faizin saat diskusi tentang kewaspadaan terhadap perkembangan konten-konten internet khususnya media sosial saat ini yang cenderung sangat masif bertaburan, Jumat (4/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Jika diibaratkan internet itu seperti hutan belantara. Jika kita hendak masuk dan menyusuri isinya kita harus menyiapkan diri dengan pengalaman dan bekal yang cukup supaya tidak tersesat di dalamnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menambahkan bahwa diinternet banyak sekali informasi yang menyesatkan, tidak bertanggung jawab, provokatif, tendensius yang disebarkan oleh orang atau kelompok tertentu dengan motif dan kepentingan diri dan kelompoknya.

"Tentunya ini akan sangat berbahaya bila kita dengan mentah-mentah menerima dan meyakininya. Kita mestinya harus lebih selektif dengan meneliti sumber berita atau darimana dan dari siapa informasi tersebut berasal," ingatnya.

Apalagi jika keterkaitannya dengan pemahaman-pemahaman agama Islam yang berkembang sekarang ini. Melalui situs pencari data di internet seperti google, yahoo, dan sejenisnya, banyak sekali kita menemukan beragam informasi, dalil, dasar yang disebarkan oleh kelompok tertentu dengan motif untuk memprovokasi, menyerang, dan menyalahkan yang lainnya.

"Tentunya, dengan penafsiran dan logika kita sendiri tanpa mencari guru sebagai sumber perbandingan dan penjelasan. Kita akan dapat terjerumus kepada pemahaman yang tidak benar tentang Islam. Bagi yang sudah memiliki dasar kuat dengan modal ilmu yang sudah dipelajari sejak kecil, pemahaman dan aliran yang muncul di tengah masyarakat sekarang ini mungkin tidak begitu berpengaruh," katanya.

Namun mereka yang tidak memiliki modal pengetahuan agama serta baru saja terketuk hatinya untuk belajar dan mendalami Islam, menurutnya, rentan sekali terpengaruh. Sebab itu ia mengimbau setiap orang untuk waspada dan mawas diri serta selalu bertanya kepada para alim ulama tentang pengetahuan Islam dan berbagai macam aliran yang muncul di zaman sekarang ini.

"Janganlah sampai kita belajar dan meyakini dasar-dasar Islam hanya dari proses pencarian lewat google atau internet saja tanpa mengkaji terlebih dahulu dengan para alim ulama yang sudah jelas silsilah keilmuannya," pungkasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang

Karawang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sejumlah elemen masyarakat di Karawang, Jawa Barat, yang terdiri Gerakan Pemuda Ansor, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI),? dan Kemenag setempat, menggelar deklarasi bersama penolakan ideologi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Kabupaten Karawang, Jumat (8/8) pagi, di Mapolres Karawang.

Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karawang dan diikuti dengan penandatanganan deklarasi oleh perwakilan ormas.

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Karawang Ade Permana SH menuturkan, ISIS adalah produk luar negeri, warga Indonesia terutama Karawang tak perlu terpengaruh oleh organisasi tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Paham radikalisme ini berbahaya bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Kita tidak perlu ikut-ikutan bergabung dengan ISIS. Kita punya ideologi sendiri yaitu Pancasila, sudah tidak bisa ditawar lagi," tegasnya usai deklarasi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam menjalankan nilai-nilai keislaman, lanjutnya, Islam rahmatan lil alamin, yang membawa rahmat bagi seluruh alam harus tetap diutamakan. Dia meminta kepada seluruh PAC dan Ranting GP Ansor di seluruh Kabupaten Karawang, untuk mensosialisasikan bahaya ISIS kepada masyarakat. Menurut Ade, jika ditemukan ISIS di tengah masyarakat, mereka pun mesti segera dibina dengan cara yang baik.

"Cegah keburukan dengan cara yang baik jangan dengan cara yang buruk. Islam mengedepankan cara-cara yang santun dan damai dalam menyebarkan ajarannya. Ini yang harus kita pertahankan," ucapnya.

ISIS Sudah Ada di Bekasi

Selain ormas dan organisasi kepemudaan ini, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dandim 0604 Kabupaten Karawang, Wakil Bupati Karawang dan Ketua DPRD Kabupaten Karawang.

"Kami sengaja mengundang bapak-bapak semua, untuk menyamakan persepsi tentang ISIS. Karena ideologi ISIS ini bisa mengancam kesatuan bangsa," kata Kapolres Karawang AKBP Dady Hartadi.

Saat ini, lanjut Dady, ISIS sudah sampai Bekasi. Jika melihat teritorial, maka jarak Bekasi dengan Karawang sudah dekat. Oleh karena itu, dia meminta dukungan dari semua pihak, untuk bersama-sama mencegah ideologi ini masuk ke Karawang. Berbagai upaya akan dilakukannya untuk mencegah ISIS masuk ke Karawang, bahkan dia tak segan-segan bertindak represif jika ada ISIS di Karawang, karena negara sudah melarang keberadaannya.

"Kita akan lakukan langkah preventif, bahkan refresif. Langkah pertama, kita akan lakukan pendeteksian dini, jangan sampai ideologi ini masuk di Karawang. Oleh karena itu, kami perlu dukungan semua pihak,” tuturnya.

“Kalau ada yang mencurigakan, segera laporkan. Penolakan ini jangan hanya dilakukan secara seremonial saja, tapi harus ada langkah nyata sesuai dengan tugasnya masing-masing," paparnya, sambil menegaskan bahwa dalam waktu dekat ini dia memerintahkan seluruh Polsek untuk mengadakan deklarasi penolakan ISIS di wilayahnya masing-masing. (Ahmad Syahid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 November 2017

Hukum Geser usai Shalat Fardlu untuk Shalat Sunah

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Pak Ustadz yang terhormat, saya ingin menanyakan hukum mengenai perpindahan atau geser dari tempat semula yang dijadikan untuk shalat fardlu ke tempat lain ketika hendak menjalankan shalat sunnah. Praktik seperti ini sudah lazim di mana-mana.

Hukum Geser usai Shalat Fardlu untuk Shalat Sunah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Geser usai Shalat Fardlu untuk Shalat Sunah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Geser usai Shalat Fardlu untuk Shalat Sunah

Ketika seseorang telah selesai menjalankan shalat fardlu, dan ingin menjalankan shalat sunah, maka ia biasanya bergeser ke tempat lain. Bagaimana hukum pergeseran atau perpindahan tersebut? Mohon penjelasannya, karena saya juga melakukan hal yang seperti tetapi belum tahu dasar hukumnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih banyak. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Musa/Bekasi Utara)

Jawaban

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana yang kita pahami bersama, shalat sunah merupakan pelengkap dari shalat fardlu.

Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya—yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui jalur Zaid bin Tsabit—menganjurkan untuk menjalankan shalat sunah di rumah. Tentunya tidak semua shalat sunah dianjurkan untuk dilaksanakan di dalam rumah seperti shalat Id dan shalat sunah gerhana.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Atas dasar ini para ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa jika shalat itu termasuk dari shalat yang setelahnya dianjurkan untuk menjalankan shalat nafilah atau shalat sunah, maka orang yang ingin mengerjakan shalat sunah tersebut dianjurkan melaksanakannya di rumah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut para ulama dari kalangan kami (Madzhab Syafi’i) bahwa jika shalat itu merupakan yang termasuk disunahkan untuk melakukan shalat sunah setelah shalat tersebut, sebaiknya seseorang untuk kembali rumahnya untuk menjalankan shalat sunah (nafilah). Sebab, menjanlakan shalat sunah tersebut lebih utama dilaksanakan di rumah karena terdapat sabda Nabi saw yang menyatakan: ‘Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian, karena yang paling utama shalatnya seseorang adalah di rumah kecuali shalat maktubah’. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit ra,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz III, halaman 472).

Sampai titik ini tidak ada persoalan berarti. Namun persoalan akan muncul jika orang yang sehabis shalat fardlu di masjid dan tidak ingin pulang ke rumah dulu tetapi ingin melaksanakan shalat sunah di masjid saja, misalnya. Apa yang sebaiknya ia lakukan, apakah ia shalat sunah di tempat yang telah digunakan untuk shalat fardlu?

Dalam kasus yang seperti ini menurut ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i—sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syaraf An-Nawawi—ia disunahkan untuk bergeser atau pindah sedikit dari tempat semula ke tempat lain. Pertanyannya adalah kenapa ia disunahkan bergeser dari tempat semula? Jawaban yang tersedia menyatakan bahwa hal tersebut untuk memperbanyak tempat sujud. Demikian menurut Al-Baghawi dan ulama yang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut para ulama dari kalangan kami, apabila orang yang shalat tidak segera kembali ke rumah, dan masih tetap ingin melaksanakan shalat nafilah di dalam masjid, maka disunahkan baginya untuk bergeser sedikit dari tempatnya semula demi memperbanyak tempat sujudnya. Demikian ini illat atau alasan di balik anjuran berpindah atau bergerser sebagaimana dikemukakan Al-Baghawi dan selainnya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz III, halaman 472).

Logika yang dibangun Al-Baghawi dan ulama lain menarik untuk dicermati. Memperbanyak tempat sujud sama artinya memperbanyak tempat ibadah. Karena tempat sujud kelak akan akan menjadi saksi bagi orang yang bersujud di tempat tersebut sebagaimana firman Allah swt: “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,” (QS Az-Zalzalah [99]: 4). Artinya, bumi akan mengabarkan apa yang diperbuat kepadanya. Demikian yang kami pahami dari pernyataan Asy-Syaukani berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? { ? ? ? } ? ? ? ? ?

Artinya, “Illat di balik (anjuran untuk bergeser sedikit, pent) adalah memperbanyak tempat ibadah sebagaimana dikemukakan Al-Bukhari dan Al-Baghawi. Sebab tempat sujud kelak akan menjadi saksi baginya sebagaimana firman Allah: ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,’ (QS Az-Zalzalah [99]: 4). Maksudnya adalah bumi akan mengabarkan apa yang diperbuat di atasnya,” (Lihat Muhammad Asy-Syaukani, Nailul Awthar, Idarah At-Thiba’ah Al-Muniriyyah, juz III, halaman 241).

Selanjutnya bagaimana jika orang tersebut setelah shalat fardlu enggan bergeser sedikit untuk menjalankan shalat sunah? Apa yang sebaiknya ia lakukan jika ingin menjalankan shalat sunah? Solusi yang ditawarkan dalam konteks ini adalah sebaiknya ia memisah di antara shalat fardlu dan shalat sunah dengan berbicara kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Namun jika ia enggan berpindah atau bergeser ke tempat lain, maka sebaiknya ia memisah antara shalat fardlu dan nafilah dengan cara berbicara dengan orang lain,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz III, h 472).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lajnah Falakiyah PBNU Gelar Penyerasian Hisab 1436-1437 H

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Lajnah Falakiyah PBNU menggelar penyerasian berbagai metode hisab yang ada di lingkungan NU untuk penyusunan almanak NU tahun 1436-1437 Hijriyah. Kegiatan diselenggarakan di Gresik, Jawa Timur selama empat hari, Kamis-Ahad (9-12/5).

Dalam manual acara yang diterima Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Lajnah Falakiyah PBNU akan dibuka pada Kamis (9/5) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Sementara para peserta penyerasian dari Jakarta dan daerah lain dijadwalkan sudah tiba di Gresik pada Kamis Pagi.

Lajnah Falakiyah PBNU Gelar Penyerasian Hisab 1436-1437 H (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah PBNU Gelar Penyerasian Hisab 1436-1437 H (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah PBNU Gelar Penyerasian Hisab 1436-1437 H

Pembukaan akan dihadiri oleh Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar, Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum, Bupati Gresik H Sambari Halim, dan Dirjen Biman IslamKemenag RI H Abdul Jamil.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat H. Ahmad Izzuddin dan ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri akan mengikuti seluruh proses hisab penyerasian yang akan berlangsung di Hotel Sapta Nawa dan Putri Mijil Pendopo Alun-alun kabupaten Gresik.

Kegiatan penyerasian hisab ini juga berbarengan dengan dua peristiwa penting terkait bidang falak atau astronomi, yakni gerhana matahari pada Jum’at pagi dan Rukyat Awal Rajab 1434 pada Jum’at Sore. Para peserta hisab penyerasian akan mengikuti observasi gerhana dan rukyat awal bulan, masing-masing di Pelabuhan Gresik dan Balai Rukyat NU Bukit Condrodipo.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terkait penyerasian metode hisab NU ini, dalam buku Pedoman Rukyat dan Hisab Nahdlatul Ulama yang diterbitkan pada 2006 disebutkan bahwa “Perbedaan hasil perhitungan, terutama pada stadium yang sulit ditoleransi secara ilmu pasti, merupakan permasalahan yang dihasilkan oleh perkembangan ilmu hisab itu sendiri.” Karena itu diperlukan adanya langkah penyerasian berbagai metode hisab yang ada.

Dalam buku pedoman dijelaskan, data awal atau rujukan utama yang digunakan dalam penyerasihan hisab ini asdalah kitab Al Khulashatul Wafiyah yang mempunyai tingkat akurasi data cukup tinggi.

Sementara rumus yang dipakai sebagai alat untuk memecahkan masalah atau mengatasi perbedaan hasil perhitungan adalah rumus-rumus spherical trigonometri (segitiga Bola) dengan penyelesaian matematis.

Khusus untuk menghitung irtifa’ul hilal (ketinggian hilal) hisab penyerasian ini mempertimbangkan posisi tempat (lintang tempat), deklinasi bulan dan sudut waktu bulan, kemudian dikoreksi dengan pembiasan sinar (refraksi), jari-jari bulan, parallaks dan kerendahan ufuk.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 19 November 2017

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kegiatan Gowes yang dilanjut tanam pohon sebagai rangkaian peringatan satu abad dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang berlangsung sukses.

"Alhamdulillah seribu lebih peserta ikut berpartisipasi pada kegiatan ini," kata panitia devisi Gowes, Muslimin Abdilla, Ahad (22/5).

Dari antusias peserta tersebut, menginspirasi agar di pesantren ini juga dibudayakan bersepeda. "Bisa dilaksanakan setiap bulan, seminggu sekali atau sesuai kesepakatan," katanya.

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Ingin Budayakan Bersepeda

Bahkan sangat memungkinkan kalau di PPBU juga dibentuk komunitas bersepeda di setiap unit pendidikan. "Yang ada dan berjalan efektif sementara adalah komunitas di MAN Tambakberas," kata Cak Muslimin, sapan akrabnya.

Menurut alumnus Muallimin-Muallimat PPBU ini, banyak manfaat dari bersepeda. "Disamping murah, juga menyehatkan," ungkapnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam kegiatan ini, pihak panitia menyediakan 4 sepeda gunung, kulkas, televisi dan barang elektronik serta kebutuhan rumah tangga. Bahkan tahun depan akan ditambah hadiah umrah oleh Wakil Bupati Jombang.

Sebelum pengundian hadiah, dilakukan penanaman pohon di sekitar kampus Unwaha. Para peserta gowes juga mendapatkan bibit tanaman untuk dibawa pulang. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Zunus)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 18 November 2017

IPNU-IPPNU Pringsewu Gelar Diklatama

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dewan Komando Cabang Corp Brigade Pembangunan (DKC CBP) IPNU dan Dewan Komando Cabang  Korp Pelajar Putri (DKC KPP) IPPNU Kabupaten Pringsewu Lampung mengadakan Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) di gedung NU Pringsewu, 15 -17 Februari 2013.

CBP-KPP merupakan Lembaga Semi Otonom IPNU-IPPNU, Keberadaan CBP dan KPP selain bertujuan sebagai wadah mengasah diri, memantapkan motivasi dan mengembangkan serta meningkatkan kreatifitas dan pergaulan.

IPNU-IPPNU Pringsewu Gelar Diklatama (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Pringsewu Gelar Diklatama (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Pringsewu Gelar Diklatama

CBP-KPP juga berfungsi sebagai gerbang kaderisasi atau perekrutan kader-kader yang memiliki potensi dibidangnya untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia. CBP-KPP  juga merupakan jembatan antara IPNU-IPPNU dengan masyarakat dan pemerintah serta menjadi pelopor penggerak program-program IPNU-IPPNU dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, bangsa, dan Negara.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tugas CBP-KPP adalah melaksanakan kebijakan IPNU-IPPNU, berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasarakatan, pengembangan sumber daya alam dan lingkungan, serta berpartisipasi dalam terlaksananya pendampingan, penguatan masyarakat demi tercapainya kesejahteraan.

CBP-KPP mempunyai tanggung jawab memantapkan dan memelihara keutuhan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di semua tingkatan, dan turut serta memelihara keutuhan bangsa serta memelihara lingkungan agar terhindar dari kerusakan dan pengrusakan serta menjalankan peran sosial kemanusiaan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

CBP-KPP memiliki visi untuk mengoptimalkan potensi dan meningkatkan kualitas kader IPNU-IPPNU yang berakhlakul karimah. Dan misi CBP-KPP adalah berpartisipasi aktif ikut membangun negara Republik Indonesia dengan mengibarkan panji-panji IPNU-IPPNU di setiap pengabdiannya dalam bidang kedisiplinan dan sosial kemanusiaan.

Keanggotaan CBP-KPP meliputi pelajar, santri, mahasiswa yang sesuai dengan PD/PRT IPNU-IPPNU dan ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan tentang perekrutan anggota CBP-KPP.

Diklatama ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari beberapa sekolah yang ada di kabupaten pringsewu, diantaranya MAN Pringsewu, MA Nurul Huda, MA Ma’arif, SMA Al-Munir, MA SMK Yasmida, SMA N 1 Banyumas. Dengan sasaran kegiatannya meliputi bidang Kepanduan, kepalang merahan, Pengabdian alam dan masyarakat.

Materi CBP-KPP meliputi antara lain Peraturan Baris Berbaris (PBB), Orientasi Alam Bebas, Pengelolaan Lingkungan, Sosiologi pedesaan/perkotaan, Komunikasi Masa, Pembangunan daerah, Ke-Pecinta Alam-an, Search and Rescue (SAR), Manajemen Penanggulangan bencana, dan Keprotokolan.

Acara tersebut di buka oleh Bapak Marzuki yang mewakili Bupati Pringsewu, dan dihadiri juga oleh Danramil Pringsewu, Ketua PCNU Kab. Pringsewu KH. Mahfudz Aly, Bpk. H. Taufik Qurrahim, S.Pd.I, Dewan Komando Wilayah CBP Prov. Lampung, DKC Kota Metro, DKC Kab. Tanggamus.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Dur Dilecehkan Lagi, Warga NU Jabar Geram

Subang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah pelecehan terhadap almarhum KH Abdurrahman Wahid oleh Sutan Batoeghana, Anggota DPR RI Fraksi Demokrat dianggap selesai, warga NU di Jawa Barat kembali dibuat geram dengan kasus pelecehan serupa.



Gus Dur Dilecehkan Lagi, Warga NU Jabar Geram (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dilecehkan Lagi, Warga NU Jabar Geram (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dilecehkan Lagi, Warga NU Jabar Geram

Kali ini pelecehan malah dilakukan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama setempat. Seperti Batoegana, pelecehan terhadap Presiden RI ke-4 tersebut muncul di soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah pada hari Rabu, tanggal 5 Desember 2012 yang tertuang dalam pilihan ganda nomor 33 oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kanwil Kementrian Agama Jawa Barat.

Dalam soal tersebut terdapat pertanyaan yang menjerumuskan siswa, terkait sebab jatuhnya Gus Dur yang mengarah ke pilihan jawaban A, yakni kasus Bruneigate dan Buloggate.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Keluarga Besar NU di Kabupaten Subang Jawa Barat yang meliputi elemen Gerakan Pemuda Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Subang Jawa Barat geram serta mengecam Kanwil Jawa Barat. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata mengatakan, pihaknya merasa dilecehkan dengan diterbitkannya soal UAS tersebut dan membuatnya sangat geram. Pasalnya, belum lama isu tersebut dilontarkan oleh salah seorang politisi Partai Demokrat, kejadian serupa muncul lagi.

“Kami merasa dilecehkan dengan kejadian ini. Betapa tidak, setelah kemarin dilakukan oleh sutan batugana, dan sekarang dilakukan oleh kanwil jabar yang notabene kanwil jabar harus menyeksi terlebih dahulu. Ini ada motif apa?” katanya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di Subang, Senin (10/12).

Ketua Ikatan Pelajar NU Kabupaten Subang, Ahmad mengaku miris dengan kejadian ini. “Saya sangat prihatin. Ini merupakan distorsi dan pembelokan sejarah. Apalagi ini dikonsumsi langsung oleh pelajar,” katanya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ade Mahmudin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama menyelenggarakan Tasyakuran Harlah Fatayat NU Ke-67 di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta, Jumat (28/4) sore. Acara tersebut bertemakan Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan.?

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini menuturkan, ada berbagai rentetan kegiatan yang sudah dilakukan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Lahir organisasi perempuan NU tersebut.?

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Anggia menjelaskan, Fatayat sudah menyelenggarakan acara Ayo Bershalawat dan membentuk Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) NU pada 21 April lalu di Bandung. “Itu adalah bagian dari rangkaian Harlah kita,” ucapnya.

Adapun hari ini, lanjut Anggia, Fatayat menyelenggarakan berbagai macam agenda seperti pasar murah, lomba tumbeng Fatayat NU se-Jabodetabek, seminar, lomba mewarnai dan paduan suara untuk anak-anak sekolah tingkatan TK dan SD, dan lomba antar pengurus bidang PP Fatayat untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathon.?

“Dengan mengadakan lomba-lomba, kita kenalkan anak-anak sejak usia dini dengan lambang-lambang NU dan Fatayat. Kita kenalkan agar mereka mencintai NU dan Fatayat,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia menceritakan, dari berbagai kegiatan itu yang paling seru adalah lomba antar pengurus bidang untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathan. Menurutnya, lomba ini bertujuan untuk memastikan agar mereka bisa menyanyikan mars Fatayat dan syubbanul wathon.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ada yang sampai menangis karena ada yang belum hafal,” jelasnya.

Anggia mengungkapkan, salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Fatayat NU adalah kegiatan menjual barang bekas yang masih bagus dengan harga yang murah. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk membangun kemandirian organisasi.

“Sahabat-sahabat yang memiliki barang-barang bekas yang masih layak dijual murah. Dan lumayan laris manis,” katanya.

Ia menyatakan, puncak dari Harlah Fatayat NU akan diselenggarakan berbarengan dengan Rakernas Fatayat pada 4 Mei di Palangkaraya.?

Di usianya yang ke-67 ini, Anggia berharap Fatayat NU bisa menjadi yang diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun di tingkat global.?

Saat ini, Fatayat NU memiliki 34 pengurus wilayah, 480 pengurus cabang, 2 ribu pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Kajian Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiroah ia tidak cuma ahli dalam Qiroah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiroah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Quran. Dari fan Ilmu Al-Quran Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Mutaakhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiroatil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam? pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

M. Hubab Nafi’ Nu’man, Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock