Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Nganjuk,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Usaha Yayasan Mataair Nganjuk, Jawa Timur membantu generasi muda Nahdliyin masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak sia-sia. Data terakhir sampai 14 juli 2016, sebanyak 40 dari 90 peserta pesantren kilat (sanlat) 2016 lolos PTN ternama.

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Peserta Sanlat Mataair Nganjuk Diterima di PTN

Ketua Yayasan Mataair Nganjuk Syamsul Hakim bersyukur atas capaian sanlat yang digelar bekerja sama dengan PCNU Nganjuk tersebut. "Kami memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena? siswa-siswi kami lolos di PTN Bidikmisi yang diinginkan. Peserta lolos di kampus UTM Madura, beberapa Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Gajah Mada,” jelasnya Rabu (13/7). ?

Menurut peserta sanlat tersebut, tidak akan dilepas begitu saja setelah duduk di bangku mahasiswa. Namun mereka akan selalu didampingi oleh Yayasan Mataair Nganjuk. Mereka diwajibkan untuk membawa misi Nahdalatul Ulama (NU) dalam mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunal wal-Jamaah di kampus masing-masing.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mereka, tambah dia, direkomendasikan untuk bergiat dan turut membesarkaan organisasi ekstra kampus yaitu PMII, KMNU, Matan (organisasi yang mengembangkan thoriqoh mutabar di), PKPT IPNU-IPPNU.“ Terserah pilih yang mana,” tuturnya.

Sementara Manajer Sanlat BPUN Nganjuk Atourrohman Syahroni mengatakan, siswa-siswi sanlat Nganjuk yang belum lolos PTN jalur SBMPTN masih didorong untuk menempuh jalur mandiri bidikmisi maupun reguler. “Kami tetap mendampingi untuk pendaftaran anak-anak mengikuti jalur mandiri,” katanya.

Dalam hal kualitas, kata dia, santri sanlat ternyata tidak bisa diremehkan. “Contohnya saja Ilham Malik, remaja lulusan SMA 2 Nganjuk? ini berhasil diterima di UGM pada Fakultas Kedokteran. Putri Indah Lestari remaja lulusan SMA 2 Nganjuk Lolos Pendidikan Bahasa Inggris? UB Malang. M Tamami MAN Nglawak lolos Sosislogi di Unej dan beberapa di UTM, UM dan UPN Jatim,” pungkasnya. (Anwar Muhammad/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Kiai, Ulama Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail NU yang kami hormati. Dalam kesempatan ini kami ingin bertanya tentang perempuan yang sedang haid. Sebagaimana yang kami ketahui bahwa seluruh amalan haji atau manasik haji boleh dikerjakan oleh perempuan haid kecuali thawaf.

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf?

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah kenapa perempuan haid boleh melakukan semua manasik atau amalan haji kecuali thawaf? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu alaikum wr. wb. (Walid/Jakarta)

Jawaban

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Assalamu alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam sebauah riwayat dikatakan bahwa Sayyidah Aisyah RA telah sampai di Mekkah, namun beliau mengalami datang bulan sehingga tidak melakukan thawaf dan sai.

Kemudian Sayyidah Aisyah RA mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasul pun memberikan respon dengan menyatakan, “Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja jangan thawaf di Baitulah sebelum suci.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi SAW, ia berkata, ‘Saya telah sampai di Mekkah, sedangkan saya dalam keadaan haid sehingga saya tidak melaksanakan thawaf di Baitullah, tidak juga mengerjakan sai antara bukit Shafa dan Marwa. Lantas, saya pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau pun merespon dengan menyatakan, ‘Lakukan apa yang dilakukan orang yang berhaji, hanya saja jangan melaksanakan thawaf di Baitullah sebelum suci’. Ini adalah hadits yang disepakati kesahihannya.”

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa perempuan yang sedang mengalami haid diperbolehkan atau sah untuk melaksanakan amalan-amalan haji kecuali thawaf di Baitullah. Dari sini kemudian muncul pertanyan kenapa perempuan haid tidak boleh thawaf, sebagaimana yang ditanyakan di atas.

Setelah kita menelisik lebih lanjut, ternyata para ulama berbeda pendapat tentang alasan perempuan yang sedang haid dilarang untuk melakukan thawaf. Setidaknya ada dua pandangan sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Subulus Salam.

Pendapat pertama menyatakan bahwa alasannya adalah karena salah satu syarat sahnya thawaf adalah suci. Sedang perempuan yang sedang haid jelas tidak suci karena haid termasuk hadats besar.

Pendapat kedua menyatakan bahwa perempuan yang haid tidak boleh thawaf karena ia dilarang masuk masjid. Padahal thawaf mengelilingi Ka‘bah atau Baitullah yang dikelilingi oleh Masjidil Haram.

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Artinya, “Illat atau alasan tidak diperbolehakannya perempuan yang haid untuk melaksanakan thawaf diperselisihkan oleh para ulama. Ada pendapat yang menyatakan karena suci adalah salah satu syarat thawaf. Dalam pendapat lain dikatakan (qila), karena perempuan yang sedang haid dilarang masuk masjid.”

Penjelasan singkat ini hemat kami sudah dapat menjawab mengenai pertanyaan di atas. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwmith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Rahasia Bismillah

Biasanya, segala macam laku rutinitas dikerjakan tanpa pikirpanjang. Misalkan mandi, makan, minum, bersepatu, memakai baju membuka laptop, ketik sms dan lainsebagainya. Rutinitas itu seolah menutupi subtansi pekerjaan itu sendiri.

Hampir-hampir orang tidak sadar untuk apa ia minum, padahal dia tidak terlalu haus. Bahkan bisa jadi seseorang minum begitu saja tanpa berpikir bagaimana jikalau tenggorokan ini mengalami kemacetan, tidak mau menelan air. Begitu pula dengan bersepatu, asalkan kaki masuk kemudian jalan. Jarang sekali orang berpikir bagaimana nasib kaki jika di dalam sepatu ada kalajengking? Begitulah segalanya terjadi berulang kali dalam kehidupan ini seperti layaknya mesin pabrikan.

Belum lagi jika rutinitas itu adalah berbelanja yang telah menjadi kelatahan, sehingga begitu seringnya seseorang tidak pernah berpikir panjang untuk apa ia membeli A atau B. Asalkan ia suka, barang itu harus dibelinya. Walaupun ia telah memiliki.

Rahasia Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Bismillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Bismillah

Demikian itu seharusnya tidaklah boleh terjadi berlarut-larut. Bagi seorang muslim yang sadar dan beriman kepada Allah swt, hendaknya hati selalu ingat kepada-Nya dalam berbagai tindak-laku keseharian. Karena hidup ini hanya bergantung kepada-Nya. Bukankah jika Dia berkehendak, bisa saja udara di dunia ini dikosongkan untuk beberapa menit saja. Bayangkan apa yang terjadi dengan nasib manusia?

Untuk itulah Rasulullah saw menghimabu umatnya untuk memulai segala sesuatu dengan bacaan bismillah. Karena sesungguhynya hal itu dapat menyadarkan manusia dari tindakan rutinitasnya dan kembali berpikir dengan penuh kesadaran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setiap perkara baik yang tidak didahului dengan bismillahirrahmanirrahim, perkara itu terpotong (percuma atau tidak dianggap ibadah)

Dari keterangan Rasulullah saw di atas, maka secara otomatis bacaan bismillah dapat menggeser posisi tindakan rutinitas menjadi sebuah laku ibadah yang penuh makna. Sebagaimana kita menjalankan berbagai syariatnya.

Bahkan tidak hanya itu saja, jiakalau kita mau mendalami beberapa hadits lain bisa jadi laku rutinitas yang telah bergeser menjadi laku ibadah karena didahului dengan bismillah berubah menjadi sumber kebajikan dan kebijakan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tidaklah seorang yang membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali Allah akan utus kepadanya seorang (malaikat pencatat) menuliskan 400 kebaikan untuknya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jikalau sudah demikian, maka apa yang keluar dari seorang yang membaca bismillah tidak lain hanyalah berbagai kebaikan yang sekaligus menganulir berbagai tindak keburukan. Bahkan dalam salah satu haditsnya dengan tegas Rasulullah saw berkata

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Tidaklah seorang hamba membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali ia akan mematri setan-setan seperti halnya tenol yang terpatri oleh soldir.

Itulah beberapa alasan pentingnya mengucap bismillah. Sebagaimana Rasulullah saw menggambarkan posisi bismillah dalam rentetan keistimewaan yang lain, Rasulullah saw berkata "Allah menghiasi langit dengn bintang-gemintang, menghiasi malaikat dengan jibril, menghiasi surge dengan bidadari, menghiasi para nabi dengan Muhammad saw, menghiasi hari dengan Jumat, menghiasi malam dengan laylatul qadar, menghiasi bulan dengan Ramadhan, menghiasi masjid dengan kabah, menghisi mushaf dengan al-Quran, dan menghiasi al-quran dengan bismillah".

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, News, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Begini Suasana Lebaran di Italia

Roma, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Bertugas di negara yang mayoritas penduduknya Katolik menjadikan pengalaman berbeda. Lebaran di sini tentu saja tidak seramai di Indonesia. jumlah Muslim Indonesia di Italia masih bisa dihitung dengan jari. Setiap ada momen kumpul-kumpul seperti buka bersama, festival budaya, hari-hari libur nasional, dan lebaran menjadi obat kangen terhadap kampung halaman Indonesia.?

Semua diaspora yang terdiri dari pekerja, mahasiswa, dan native Italia yang menikah dengan orang Indonesia akan berdatangan ke tempat-tempat acara. Biasanya wisma KBRI di Via Campania, 55, 00187 Roma menjadi tempat acara bagi yang tinggal di Roma dan sekitarnya termasuk Vatikan.?

Begini Suasana Lebaran di Italia (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Suasana Lebaran di Italia (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Suasana Lebaran di Italia

Bagi masyarakat Indonesia di Milan, biasanya menyewa gedung pertemuan di Circolo Sempre Avanti, Via Bertola da Novate, 11, Novate Milanese, seperti acara buka bersama pertengahan Ramadhan lalu.?

Keharmonisan antarpemeluk agama di sini sangat terjaga. Masyarakat Indonesia di Italia sudah seperti saudara, mereka baik dan saling menghargai. Ketika ada suatu acara, maka semua akan bahu membahu membantu demi kesuksesan acara tersebut. Ada yang membawa makanan yang dibuatnya. Maka tidak heran menu makanan sayur asem lengkap dengan melinjonya pun ada di sini.?

“Melinjo beli di Indonesia langsung 3 kilogram, dititipkan kepada orang yang pulang ke Indonesia,” cerita Irwanda, Staff lokal KBRI di Roma.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Persiapan lebaran bagi orang-orang Indonesia di Italia tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia umumnya. Baju baru, ketupat, opor ayam, juga ada di sini. Open house di KBRI pun sudah disiapkan dengan hidangan pembuka bakso. Di rumah-rumah sudah disiapkan pula seperti somay buatan sendiri. Tentang kuliner, jangan khwtir. Orang indonesia sudah jagonya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masalahnya adalah di Italia tidak ada libur Idul fitri, sehingga di saat yang berbahagia ini, masyarakat Indonesia yang bekerja pun tetap harus masuk.

“Termasuk juga para diplomat, tidak boleh ada yang pulang ke Indonesia kecuali ada izin dari Kementrian Luar Negeri di Indonesia atau panggilan resmi dari instansi pemerintah,” kata Kolonel Bambang Dharmawan. Ia diplomat dari TNI Angkatan Laut. Selain untuk KBRI Italia yang meliputi Cyprus, Malta, San Marino, ia juga bertugas untuk KBRI Yunani. Tugas untuk tiga tahun, dan tidak boleh pulang jika tidak ada undangan atau panggilan tugas dari panglima.

Para diplomat biasanya memang bertugas selama tiga tahun di tempat penugasan. Mereka dibolehkan membawa anggota keluarga. Anak-anak yang dibawa biasanya mudah sekali beradaptasi dengan bahasa Italia. Hanya 3,5 bulan sudah lancar bahasa Italia. Anak-anak itu bergaul dengan teman-teman Italia di sekolah.

Kalau ada yang berbeda dari persiapan lebaran di Italia dengan di Indonesia, adalah bahwa di Italia kurang ramai saja. Di sini tidak ada misalnya bunyi petasan jangwhe yang meluncur ke atas seperti kebanyakan di Indonesia.?

Pada hari Jumat (23/6), digelar acara buka puasa bersama di kota suci Vatikan. Duta Besar Republik Indonesia untuk tahta suci Vatikan, Agus Sriyono mengatakan senang sekali melihat kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam mengisi akhir-akhir bulan Ramadhan. Keputusan Idul Fitri di Vatikan menunggu kepastian dan pengumuman resmi dari masjid Islamic Centre Roma setelah sidang penglihatan hilal.

Seperti di Indonesia, sebagai bentuk taat pada pemerintah, Idul Fitri menunggu juga keputusan Kementrian Agama, setelah dilakukan sidang isbat.?

Semoga puasa Ramadhan sebulan penuh yang kita lakukan mendapat ridla dari Allah SWT. Sehingga pasca berpuasa, ibadah yaang kita lakukan menjadi bertambah dan istikamah. Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir batin. Selamat lebaran. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1438 H, diucapkan dari Roma-Italia. (H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Kiai, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Poligami dan Berburu Kebaikan

Ubaid dan Umar merupakan alumni pondok pesantren. Semenjak di pondok keduanya selalu berburu dan bersaing dalam hal kebaikan, terutama di shalat lima waktu. Tapi pada kenyataannya Ubaid selalu kalah dari Umar.

Suatu ketika Ubaid bertanya sama temannya itu. "Kang, kenapa sampean kok datang ke masjid selalu lebih cepat dari saya?”

Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Poligami dan Berburu Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Poligami dan Berburu Kebaikan

"Soalnya istri saya dua. Istri yang pertama membangunkan saya dan istri yang kedua menyiapkan perlengkapan shalat saya," jawab Umar santai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selang beberapa bulan, Ubaid pun berpoligami. Harapannya bisa seperti Umar. Benar, setelah poligami Ubaid hampir selalu terlihat lebih awal dari Umar berada di masjid.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kok sampean sekarang bisa mendahului saya datangnya, Kang? Resepnya apa?” Tanya Umar.

"Saya takut pulang ke rumah istri pertama yang marah-marah, jadi saya tiap hari tidur di masjid,” jawab Ubaid. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Tokoh, Budaya, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PCNU dan GP Ansor Sukoharjo Serahkan Bantuan Peduli Banjir

Sukoharjo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Nahdlotul Ulama (PCNU) dan PC GP Ansor Sukoharjo, Rabu (12/2) menyerahkan bantuan berupa sembako dan sejumlah uang bagi korban banjir di daerah Pantura. Bantuan itu merupakan hasil penggalangan dari pengurus wakil cabang NU dan anak cabang GP Ansor di Sukoharjo.

“Bantuan ini akan disalurkan kepada korban bencana banjir di Pantura dan sekitarnya. Kami berharap bantuan ini meringankan beban bagi korban bencana banjir,” kata Komandan Sarkorcab Banser Sukoharjo  Dwi Nugroho Kustanto.

PCNU dan GP Ansor Sukoharjo Serahkan Bantuan Peduli Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU dan GP Ansor Sukoharjo Serahkan Bantuan Peduli Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU dan GP Ansor Sukoharjo Serahkan Bantuan Peduli Banjir

Sementara Wakil Ketua PC GP Ansor Sukoharjo Ahmad Syafari menuturkan, kegiatan penggalangan dana ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Waktu bencana Gunung Merapi kami juga melakukan hal yang sama. Alhamdulillah kami langsung mengatarkan bantuan ke lokasi pada waktu itu,” terang Syafari.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penggalangan dana ini, sambung Syafari, langsung dipandu PCNU Sukoharjo. GP Ansor hanya sebagai panitia pelaksanaanya.

“Kami berharap khusus bagi anggota Ansor ke depan bisa lebih mementingkan orang lain daripada urusan sendiri. Karena, umat tidak kalah penting daripada urusan sendiri,” jelasnya. (Mashri/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

Way Kanan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Sebagai komitmen menumbuhkan kewirausahaan bagi kader, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Provinsi Lampung kembali menyalurkan satu set alat bekam (hijamah) bagi Pimpinan Anak Cabang Negeri Agung.

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Salurkan Sarana Kewirausahaan Bagi Kader

"Kami mengapresiasi pelaksanaan komitmen pimpinan cabang menyalurkan bantuan kemandirian bagi kader," ujar Ketua Ansor Negeri Agung Ahmad Nursalim di Blambangan Umpu, Rabu (15/3).

Peraturan Dasar (PD) Peraturan Rumah Tangga (PRT) Gerakan Pemuda Ansor berdasarkan Kongres GP Ansor XV di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, 2015 menegaskan bagaimana cara organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) ini mendapatkan pendapatan dengan cara mandiri. Usaha halal dan sah, yaitu usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syara dan atau hukum negara diperbolehkan dilakukan Pemuda Ansor.

PC GP Ansor Way Kanan memiliki program Halal (Hijamah/Bekam Sambil Beramal). Upaya itu diwujudkan dengan melatih kader hingga menyalurkan peralatan bekam bagi PAC Rebangtangkas, Pakuan Ratu, Negara Batin dan Negeri Agung.

Tidak hanya itu, rangkaian proses untuk mengelola input yang berasal dari supplier sehingga menghasilkan output agar customer puas atau biasa dikenal dengan istilah SIPOC juga diberikan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Alat tersebut nantinya akan kami serahkan bagi kader di Kampung Kalipapan. Pimpinan cabang meminta kami fokus di satu kampung," ujar Nursalim menjelaskan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penyerahan secara simbolis dilakukan Bendahara Ansor Way Kanan, Abdullah Candra Kurniawan kepada Sekretaris Ansor Negeri Agung, Jumadi. (Malikaisa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Sunnah, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Tangerang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor dan Baznas Tangerang menggelar acara Santunan Mualaf yang diselenggarakan di Sekretariat GP Ansor Kabupaten Tangerang pada Ahad (11/6). Kegiatan ini mengambil tema Berbagi di Bulan Suci, Menggapai Ridho Ilahi.

Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan Ramadhan. "Ini bentuk pangabdian kita terhadap masyarakat sekaligus bukti kepedulian kita terhadap kaum mualaf," ucapnya.

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Menurutnya, para mualaf dan mualafah tersebut datang dari berbagai daerah di Kabupaten Tangerang.?

"Data mualaf tersebut kami peroleh dari jejaring Banser dan Muslimat yang ada di masing-masing wilayah. Ada 102 mualaf yang kami santuni," tambahnya.

Ketua Baznas Kabupaten Tangerang KH Afif Afifi menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menyalurkan zakat, infaq, sedekah yang terhimpun di Basnas kepada masyarakat yang memang memiliki hak atas ZIS tersebut.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Santunan mualaf ini adalah bagian upaya penyaluran dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah dari masyarakat yang diserahkan kepada Baznas," tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ia juga berharap ke depan semakin tumbuh kesadaran masyarakat untuk mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada Baznas.

"jika kesadaran masyarakat untuk membayar zakat ini tinggi maka Baznas sebagai lembaga akan mendapatkan akumulasi dana yang besar sehingga ikhtiar kita untuk selalu ingin membantu sesama juga akan semakin besar dan maksimal."

Sementara ketua panitia Anwari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang digagas oleh keluarga besar NU, Basnas dan juga oleh Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA).?

"Ini upaya kita membangun kebersamaan antarlembaga melalui program-program nyata bagi masyarakat."

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pembagian seribu ? takjil, buka puasa bersama kader-kader Ansor Banser dan FPLA se-Kabupaten Tangerang.

Anwari juga mengatakan kegiatan membagi-bagikan takjil ini dilakukan untuk mempermudah warga dan para pengendara kendaraan motor yang hendak berbuka puasa.

"Kami menyiapkan seribu takjil untuk buka puasa warga yang melintas di depan Sekretariat Ansor." Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal IMNU, Sejarah, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Panitia memastikan pelaksanaan Konferensi PWNU DKI Jakarta tidak berkaitan dengan Pilgub DKI Jakarta yang mulai ramai dibicarakan publik. Konferensi ini diarahkan lebih kepada pembaruan program dan penyegaran kepengurusan PWNU DKI Jakarta.

Demikian dikatakan Ketua Panitia Konferensi PWNU DKI Jakarta Mastur Anwar kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Kamis (17/3).

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Berpotensi, Konferensi PWNU DKI Jamin Tidak Libatkan Soal Pilgub

“Tidak bisa disalahkan kalau orang memberikan analisa seperti itu. NU besar dan ada potensi ke sana. Tapi sebagai pihak yang punya tanggung jawab, tidak akan pembicaraan Pilgub DKI,” tambah Mastur.

Konferwil PWNU DKI Jakarta akan berlangsung 25-27 Maret 2016. Pembukaan konferensi bertempat di Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Sebanyak 300 orang diperkirakan akan hadir.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Adapun pelaksanaan sidang-sidang diagendakan bertempat di Gedung Museum Listrik dan Energi Baru, TMII. Konferensi ini akan dihadari oleh enam PCNU di mana masing-masing cabang mengirimkan tujuh perwakilannya.

Konferensi ini diadakan dengan beberapa agenda di antaranya laporan pertanggungjawaban PWNU DKI Jakarta periode 2011-2016, memilih kepengurusan baru, dan juga akan membahas program kerja lima tahun mendatang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Mastur menuturkan, salah satu program kerja yang akan ditekankan adalah penguatan konsolidasi organisasi, keagamaan, dan kemasyarakatan. Hal ini merupakan prioritas NU di Jakarta karena terkait dengan upaya menjaga nilai-nilai ahlusunah wal jama’ah.

Penguatan organisasi juga akan memperkuat NU di masyarakat DKI Jakarta. Mastur kurang sependapat bila ada anggapan bahwa PWNU DKI Jakarta kurang aktif. Ia meyakini tidak ada stagnasi internal di PWNU DKI Jakarta.

Ditanya bagaimana PWNU DKI Jakarta menghadapi tantangan-tantangan yang berkembang terutama dari kelompok-kelompok yang berbeda dengan NU, Mastur menjawab apa pun yang ada di Jakarta rata-rata orang NU tidak terpengaruh dengan organisasi lain. Jadi warga tidak melibatkan diri ke ormas lain karena mereka kuat menjaga ke-NU-annya. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Tegal Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Patut diapresiasi, sebagai wujud rasa kemanusiaan, untuk meringankan bencana banjir di Kecamatan Balen. Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWC NU) Balen membantu para korban banjir di wilayahnya.

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Balen Bojonegoro Bantu Korban Banjir

Ketua MWC NU Balen Mulazim menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas musibah tersebut. Ia juga meminta tetap sabar meskipun seluruh tanaman padi dan palawija warga musnah, serta terancam puso akibat bencana banjir Bengawan Solo.

"Meski demikian tetap saja semangat dalam beribadah, mengembangkn organisasi NU dan bekerja keras. Pasalnya semua musibah datangnya dari Allah, manusia hanya berusaha segala ketentuan dari-Nya. Semoga bantuan ? ini bisa sedikit meringankan beban korban banjir, terutama warga Nahdliyin," terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bantuan yang diberikan diantaranya 15 dus mie instan untuk tiga desa diantaranya Desa Pilanggede, Kedungdowoo dan Sarirejo. Barang tersebut diserahkan langsung di depan rumah ketua Ranting NU Pilanggede, Bashiron oleh ketua MWC NU Balen, Mulazim. Setelah diterima, bantuan itu langsung disalurkan kepada warga korban banjir saat itu juga.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Saat di Desa Sarirejo diberikan ketua Ranting NU Sultonil Adzim. Di Desa Kedungdowo diberikan koordinator Muzamil yang juga pengurus Ansor dan pengurus Fatayat Darwati.

Sementara itu, ketua LPBI NU Balen, M. Yasin mengungkap, ia menyamput dengan senang hati kepedulian MWC NU Balen.?

"Sebenarnya ingin semua warga menerima bantuan ini, namun karena jumlahnya tidak mencukupi maka minta maaf. mudah-mudahan masih akan ada lagi bantuan-bantuan yang sekiranya bisa mencukupi untuk semua korban," harapnya.

Selain itu bantuan 50 paket dari SER NU Jawa Timur melalui LPBI NU Cabang Bojonegoro diserahkan kepada korban banjir di Desa Pilanggede Kecamatan Balen. Serta dari Fatayat NU dan Muslimat NU Balen menyerahkan 1000 nasi bungkus kepada warga Pilanggede dan Sarirejo. Penyerahan bantuan langsung dilakukan ketua Fatayat NU Balen Halimatus Sadiyah.

Ketua LPBI NU Cabang Bojonegoro, Rakhmad Maulana mengapresiasi MWC Balen yang telah melakukan aksi solidaritas untuk membantu korban banjir. Pasalnya belum tentu di kecamatan lain yang terdampak banjir maupun tidak, mau membantu korban banjir terutama kepada warga Nahdiyin yang menjadi korban.

"MWC NU Balen agar dicontoh MWC lainnya, semoga kerukunan dan keakraban sesama pengurus ditingkatan atas sampai ke bawah dapat bersinergi," pungkasnya.(yazid/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Nusantara, Warta Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

Bojonegoro, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kepada para pelajarnya, guru MI Miftahul Huda di desa Lengkong kecamatan Balen, Bojonegoro menanamkan sikap hormat kepada orang tua dan guru. Sebelum memasuki pekarangan sekolah, pelajar Miftahul Huda diharuskan berjabat tangan dengan segenap guru di muka gerbang sekolah.

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Miftahul Huda Lengkong Diajari Hormat Kepada Orang Tua

"Sudah tiga tahun terakhir, siswa diajarkan berjabat tangan sebelum masuk sekolah," kata Wakil Kepala Miftahul Huda Lengkong, Syaroni.

Penerapan jabat tangan ini, kata Sya’roni yang mengajar Bahasa Indonesia, dimaksudkan untuk membiasakan mereka menjadi pribadi yang disiplin. "Hormat kepada orang tua yang dimulai berjabat tangan bapak-ibu guru," kata Sya’roni kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Setelah masuk ke dalam kelas, para siswa juga diajak membaca Al-Quran dan sholat Dhuha berjamaah. Untuk memulai pelajaran pertama, mereka diharuskan membaca doa.

“Sopan-santun anak-anak kepada orang tua dan guru ini dirasakan makin terkikis,” tegas Sya’roni yang mewajibkan pengenaan kopiah hitam bagi siswanya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumlah siswa MI Miftahul Huda Lengkong mencapai 167 siswa. Sementara untuk TK, berjumlah 43 anak. Rangkaian keagamaan setiap pagi itu mengajarkan mereka untuk terbiasa mendoakan orang tua. Sehingga, anak-anak diharapkan berbakti kepada orang tuanya sejak kecil.

"Kegiatan keagamaan ini membentuk karakter, serta ciri khas sekolah madrasah," Sya’roni menambahkan, Senin (9/6). (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Anti Hoax, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Merajut Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Merajut Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Merajut Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Merajut Indonesia

Warga Indonesia di seluruh dunia, yang saya cintai. Alhamdulillah kita telah bersama-sama menjadi saksi sejarah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Pilpres kali ini, menjadi momentum yang sangat penting, untuk menentukan masa depan bangsa dan negara kita. Juga, menentukan strategi pembangunan manusia Indonesia ke depan.?

Kita sudah saksikan bersama tentang kedewasaan politik dan kualitas demokrasi bangsa Indonesia. Tanggal 11 Ramadhan dan 9 Juli 2014 menjadi sejarah penting, bahwa warga Indonesia mampu berpolitik secara sehat, santun, cerdas dan elegan. Politik tidak hanya milik kelompok elite, namun juga milik seluruh warga. Akan tetapi, perlu mencermati sikap-sikap berpolitik dengan memegang kaidah, norma dan fatsoen politik agar tidak menjadi arogan, merasa menang sendiri dan saling melempar kesalahan. 9 Juli 2014, kedewasaan politik bangsa Indonesia betul-betul sedang diuji.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sudah saatnya warga Indonesia bersatu kembali. Tidak elok jika ada perbedaan sikap politik yang menjurus pada pertikaian horizontal. Yang harus diutamakan adalah kepentingan warga Indonesia agar bersatu, damai dan berpikiran jernih kembali. Tuntasnya kampanye politik dan pemilihan langsung, perlu disusul dengan menumbuhkan sikap santun, tenang dan menguatkan persaudaraan antar sesama, persaudaraan dalam kebangsaan, ukhuwah wathaniyyah. Sekali lagi, ini yang perlu digarisbawahi, persaudaraan antar sesama, persaudaraan dalam dimensi kebangsaan, ukhuwah wathaniyyah.

Kepada para pemimpin bangsa Indonesia, sesungguhnya Presiden merupakan simbol dari amanah rakyat dan takdir Allah. Dalam al-Qur’an, sudah sangat jelas, bahwa Allah memberi amanah tiap manusia, sebagai khalifahnya (khalifah fil-ardh): wa idz qaala rabbuka lil malaaikati inni jaa’ilun fil ardhi khaliifah, [Q.S, al-Baqarah:30]. Agar, manusia mampu mengelola sebaik-baiknya kebutuhan dan kepentingannya, dengan tujuan kebaikan bersama (mashlahah ‘ammah). Untuk itu, kepemimpinan menjadi modal penting dalam melaksanakan amanah Allah, untuk mengelola kekayaan di bumi untuk tujuan beribadah, membantu sesama dan bermanfaat bagi kemanusiaan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari hasil Pemilu 9 Juli, tentu ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan:?

1. Kepada masing-masing kandidat Capres-Cawapres untuk berpikir tenang dan jernih. Mohon kepada keduanya untuk tidak tergesa-gesa mengumumkan kemenangan. Kedua kandidat memiliki tim riset-survey dengan hasil quick count hasilnya berbeda-beda. Kita menghormati sumbangsih survey dalam kehidupan demokrasi, namun demikian yang dianut sesuai undang-undang adalah perhitungan di KPU. Sebelum tergesa mengumumkan kemenangan, mari bersama-sama mengawal perhitungan resmi. Meminta kepada seluruh warga Indonesia, untuk mengawal penghitungan suara, baik di tingkat TPS, Desa, Kecamatan, Kabupaten, hingga ke level nasional. Tentu dengan proporsi, mekanisme dan bentuk pengawalan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.?

2. KPU diminta bersikap jujur. Agar menjalankan proses penghitungan suara dengan berdasar amanah, tugas dan kejujuran. Jujur untuk mengumumkan siapa yang menang, siapa yang kalah dengan data dan validasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

3. Meminta kepada seluruh warga Indonesia untuk berpikir tenang, dengan niatan menjaga integrasi bangsa, dengan strategi mewujudkan politik kebangsaan dan kerakyatan. Sudah saatnya kita rukun kembali, menjaga toleransi dan perdamaian. Prinsipnya sesama warga Indonesia perlu merekatkan kembali rasa bersaudara, setanah air, dan sebangsa.?

4. Memohon kepada seluruh media, baik televisi, website, radio dan media cetak untuk ikut aktif menjaga suasana, agar tidak larut dalam potensi konflik pasca Pilpres 9 Juli.

5. Merefleksikan Pilpres di tengah Ramadhan. Proses politik 9 ? Juli 2014, bukan untuk mencipta jurang permusuhan, fitnah dan memutus silaturahmi. Saya yakin, kedua pasangan capres-cawapres menginginkan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Pilpres harus dianggap sebagai berkah Ramadhan, agar Allah Subhanahu wata’ala memilih pemimpin yang amanah, jujur, tegas dan mampu menyejahterakan warga Indonesia. Semoga negeri ini, menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Demikianlah, rakyat Indonesia sudah menentukan pilihan dan memberikan mandat kepada sang pemimpinnya. Mari kita berdoa agar mendapat pemimpin yang mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik serta meningkatkan kesejahteraan warganya. Mari kita dengan santun menunggu dan mengawal hasil pengumuman KPU, pada 22 Juli 2014. Selebihnya, ini yang utama, mari kukuhkan fitrah kemanusiaan kita semua sebagai insan sebangsa yang bersaudara. Lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh?

DR KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sedikitnya 50 pelajar mengikuti Pelatihan Kader Muda (Lakmud) yang difasilitasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumatera Barat, Kamis (3/9). Kegiatan yang diawali dengan pelantikan pelajar NU Sumbar ini, diadakan untuk menghidupkan kembali gerakan pelajar NU di Sumbar.

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Lakmud, IPPNU Sumbar Siapkan Kader Penggerak

“Kita ingin membentuk karakter pelajar yang bertakwa dan berjiwa kepemimpinan,” kata Ketua PW IPPNU Sumbar Leni Herfina kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal per telepon, Kamis (3/9) malam.

Kaderisasi yang diselenggarakan di Kantor PWNU Sumatera Barat ini, diikuti utusan dua cabang dari lima cabang IPPNU di Sumbar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kita ingin mengadakan kaderisasi rutin per tiga bulan untuk lebih banyak mencetak kader,” kata Leni yang tengah bergerak menghidupkan IPPNU di Sumbar.

Menurutnya, kendala di lapangan lebih dikarenakan orientasi pelajar pada prestasi akademik. Pelajar di Sumbar umumnya kurang perhatian pada gerakan-gerakan pelajar.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Leni bersama rekanita lainnya kini tengah bergerak untuk menghidupkan cabang-cabang IPPNU di 15 kabupaten dan kota yang ada di Sumbar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Ulama, Nasional, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Misbahul Wathan

Misbahul Wathan, yang berarti Pelita Tanah Air, merupakan madrasah yang didirikan mantan ketua PBNU (1950-1954) dan Menteri Agama sejak Kabinet Hatta, KH. Masjkur, tahun 1923 di Singosari, Malang, Jawa Timur.

Mula-mula, sekolah ini hanya menerima beberapa siswa laki-laki.  Saat itu belajar bersama antara laki-laki dan perempuan bukan pemandangan lazim. Bau sekitar tahuna 1933an, siswa perempuan dibolehkan belajar bersama dengan laki-laki, dengan pemisah selembar papan, yang dikenal dengan nama satir. 

Misbahul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Misbahul Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Misbahul Wathan

Di masa-masa awal, sekolah ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya datang dari panguasa, yaitu asisten wedana dan camat setempat. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hampir tiap hari pemuda Masjkur dipanggil datang ke kantor untuk ditanya pelajaran apa saja yang diberikan kepada murid-murid. Keadaan ini menyebabkan tidak banyak masyarakat yang mau mengirimkan anak-anaknya belajar di Misbahul Wathan. 

Kendala ini kemudian sempat disampaikan kepada gurunya, KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kiai Hasyim Asy’ari lantas menyarankannya menemui Kiai Wahab Hasbullah di Surabaya.

Dari pertemuan dengan menantu Kiai Haji Musa itu, Masjkur disarankan mengganti madrasahnya degan nama Nahdlatul Wathan, sekaligus menjadi cabang Nahdlatul Wathan Surabaya. Perubahan itu diikuti dengan model pengajaran yang biasa dikembangkan Nahdlatul Wathan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan penuh takdim, nasihat itu diikuti Kiai Masjkur. 

Selama di Surabaya, ia juga sempat diajak KH Wahab Hasbullah ke pertemuan intelektual keagamaan Tashwirul Afkar yang dikembangkan Kiai-Kiai muda seperti Mas Alwi, Mas Mansur, dan Kiai Ridwan. Di kemudian hari, tiga orang yang disebut ini menempuh jalan masing-masing.

KH. Wahab Hasbullah selanjutnya datang ke Singosari dan membawa KH. Masjkur ke kantor kewedanan sembari memberitahu jika madrasah milik KH. Masjkur adalah cabang dari Nahdlatul Wathan, Malang.

Sejak itu pihak penguasa setempat tidak lagi memanggil KH. Masjkur ke kewedanan. Madrasah ini kemudian berkembang lumayan pesat. Pasca kemerdekaan, dengan berbagai jenjang pendidikan, madrasah ini berganti dengan Nahdlatul Ulama. (Alamsyah M Djafar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, News, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Salah satu ulama pejuang perdamaian Afganistan, Fazal Ghani Kakar berpendapat bahwa tidak bermadzhab dalam beragama bukanlah pilihan yang tepat. Karena pada kenyataannya, siapa pun, termasuk yang mengaku anti-madzhab, tak bisa lepas dari bermadzhab.

Ketua Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) ini menambahan, sikap anti-madzhab sejatinya menyebabkan para penganutnya mengikuti banyak “madzhab” lantaran sumber rujukan menjadi tak terpusat.

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Afganistan: Anti-Madzhab Sebabkan Perpecahan Umat

Hal ini berbeda bila umat Islam mengembalikan pendapat fiqihnya kepada ulama pemegang otoritas terbaik, yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Persatuan umat Islam justru relatif terbangun dengan mengacu pada empat madzhab itu.

“Said Hawa mengatakan, barangsiapa yang tidak menganut madzhab, sesunggunya ia memecah belah umat menuju banyak madzhab,” ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal selepas acara penutupan forum  International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta, Selasa pekan lalu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu ia pun menyebut kelompok anti-madzhab seperti Wahabi adalah ahli bid’ah karena sesunguhnya mereka bertaqlid kepada banyak ‘madzhab’, seperti kepada para pemuka kelompok atau orang lain yang tidak lebih otoritatif ketimbang empat imam madzhab.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Di Afganistan, Wahabi ada tapi sedikit. Mereka umumnya para pelajar asal Afganistan yang pulang ke tanah air setelah belajar 3-4 tahun di Arab Saudi,” ujarnya.

Fazal Ghani Kakar menjelaskan, mayoritas Muslim Afganistan berhaluan Sunni yang menganut madzhab Hanafi di bidang fiqih. Sebagian mereka juga bergabung di beragam tarekat, seperti Naqsabandi, Chistiyah, Qadiriyah, dan lainnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Ahlussunnah, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Oleh Agus Muhammad

Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia.  Secara hirtoris, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial , budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subeki atau Mbah Subki yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (Gunung Agung, 1984), mantan Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman – yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.

Menurut Wahjoetomo dalam Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Gema Insani Press, 1997) seperti dikutip Asyuri (2004), masyarakat pesantren mengadakan aksi terhadap Belanda dengan tiga macam. Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangakauan kolonial. Maka tidak aneh bila pesantren mayoritas berada di desa-desa yang bebas dari polusi dan kontaminasi oleh budaya hedonisme, kepalsuan, dan keserakahan

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji atau menelaah kitab kuning, para kyai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Bahkan saat itu para kyai melarang santrinya untuk memakai pakaian yang berbau Barat atau penjajah seperti santri dilarang memakai celana panjang, dasi, sepatu dan sebagainya.

Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perspektif sejarah, pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad, untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Seperti kita kenal nama Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura dan sebagainya. Beberapa pemberontakan yang dipelopori oleh kaum santri antara lain adalah pemberontakan kaum Padri di Sumatara Barat (1821-1828) yang  dipelopori kaum santri di bawah pimpinan tuanku Imam Bonjol;  pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1828-1830); Pemberontakan Banten yang merupakan respon umat Islam di daerah itu untuk melepaskan diri dari penindasan dalam wujud pemberlakuan tanam paksa pada tahun 1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888 yang dikenal dengan pemberontakan petani; dan pemberontakan di Aceh ( 1873-1903) yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro yang membuat Belanda kesulitan masuk ke Aceh.

Peristiwa 10 November

Pada awalnya kalangan pesantren melalui kiai dan para santrinya berjuang sendiri-sendiri dalam melawan penjajah. Perjuangan kalangan pesantren mulai terkoordinir melalui peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tidak semua negara di dunia mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Belanda dan sekutunya termasuk yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia.  Belum genap satu bulan sejak diproklamirkan, terdengar berita bahwa Indonesia sudah mulai diserang kembali oleh Belanda dan Sekutunya. Pada 10 Oktober 1945 Belanda dan Sekutunya telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Bandung setelah melalui pertempuran sengit.

Menghadapi kenyataan ini, kalangan kiai pesantren segera merencanakan pertemuan diantara para pimpinan pesantren. Sebagaimana diceritakan K.H. Saifuddin Zuhri dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Al-Ma’arif, Bandung 1981), KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura atau utusan cabang NU untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2. Namun pada 21 Oktober para kiai baru dapat berkumpul semua. Setelah semua kiai berkumpul, segera diadakan rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah. Pada 23 Oktober Mbah Hasyim atas nama HB. (Pengurus Besar) organisasi NU mendeklarasikan sebuah seruan Jihad fi Sabilillah yang belakangan terkenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim - tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio disertai dengan teriakan Allahu Akbar sehingga berhasil membangkitkan semangat juang kalangan santri untuk melawan penjajah.

Para kiai dan santrinya kemudian banyak yang bergabung ke pasukan nonreguler Sabilillah dan Hizbullah yang terbentuk sebagai respon langsung atas Resolusi Jihad tersebut. Kelompok ini kemudian banyak berperan penting dalam peristiwa 10 Nopember. Komandan tertinggi Sabilillah sendiri adalah K.H. Masykur dan Komandan Tertinggi Hizbullah adalah Zainul Arifin. Diperkuat juga oleh Barisan Mujahidin yang dipimpinan langsung oleh Kiai Wahab Hasbullah

Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando. Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada detik-detik ini pesantren-pesantren juga didatangi oleh para pejuang dari berbagai kalangan untuk minta kesakten kepada para kiai. Tanpa itu para pejuang merasa tidak akan mampu menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan senjata-senjata berat mereka.

Seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, Jakarta, 2005), seruan jihad itu berhasil menggugah dan membangkitkan semangat juang kaum santri. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah  mengalir ke Surabaya. Perang yang menewaskan Jenderal Mallaby itu dikenang sebagai salah satu momentum dari perjuangan kaum santri melawan penjajah.

Refleksi Keindonesiaan

Peran besar kalangan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan tentu patut menjadi refleksi bagi kita semua. Refleksi ini penting karena di tengah gegap gempita perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, kiprah pesantren bagi kemerdekaan Indonesia makin hari makin dilupakan orang, bahkan oleh kalangan pesantren sendiri. Ini tentu menyedihkan karena perjuangan kalangan pesantren terhadap eksistensi Negara Republik Indonesia tidak hanya berhenti setelah proklamasi, tetapi terus dilanjutkan di masa-masa kemudian.

Dalam pemberontakan DI/TII misalnya, kalangan pesantren tidak memberikan dukungan meskipun yang pemberontakan itu dilakukan oleh orang Islam dan ditujukan untuk mendirikan negara Islam. Pondok Pesantren Cipasung misalnya, yang didirikan tahun 1931 oleh KH Ruhiat, beberapa kali bentrok dengan kelompok DI/TII karena menolak mendukung dan bergabung dengan pemberontak tersebut. Padahal DI/TII lahir di wilayah yang sama dengan Pesantren Cipasung. Sebagai organisasi yang memayungi kalangan pesantren, NU juga dengan gigih menolak pemberontakan DI/TII, PRRI dan Permesta, karena NKRI sudah dianggap final.

Kesetiaan kalangan pesantren terhadap visi kebangsaan Indonesia mulai mendapat tantangan serius ketika muncul kalangan Islam garis keras yang mencoba menawarkan Islam sebagai solusi bagi penyelesaian berbagai krisis di Indonesia. Sebagian pesantren sudah mulai tergoda oleh gerakan yang antara membawa gagasan formalisasi syariat Islam. Ini menjadi persoalan karena kalangan pesantren sangat kental dengan ciri moderat, menghargai keberagaman, memandang wahyu dan akal sebagai acuan kebenaran yang saling membutuhkan serta menghagai nilai-nilai tradisi dan budaya lokal. Sementara Islam garis keras cenderung menolak prinsip-prinsip ini.

Pasca reformasi, eksistensi keindonesiaan memang menghadapi banyak tantangan serius. Dengan modal sejarah yang gemilang dalam memperjuangkan kemerdekaan, pesantren mestinya bisa berbuat banyak untuk turut membantu penyelesaian berbagai masalah kebangsaan. Sayangnya, para pemimpin pesantren yang belakangan marak terlibat dalam politik praktis tidak banyak yang memiliki visi kebangsaan seperti para pendahulu mereka. Kita berharap, pesantren melalui para kiai, santri dan alumninya di masa-masa mendatang dapat memainkan lagi peran kebangsaan seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka.

Agus Muhammad, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, News, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Puasa dan Budaya Berbagi

Oleh Nanang Qosim



Bagi kebanyakan orang, termasuk di lingkungan para pelajar di sekolah, hitungan menambah, mengurangi, mengalikan, dan menjumlahkan jauh lebih mudah daripada hitung membagi. Akan tetapi yang cukup menarik di sini adalah bahwa ternyata kesulitan membagi itu juga tergambar dalam sikap kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari.

Memang dalam kehidupan ini yang paling sulit dilakukan adalah berbagi. Lihatlah kenyataan dewasa ini, banyak sekali orang yang suka menghitung-hitung kepemilikan dan pendapatannya dan bahkan pendapatan orang lain dengan mengeluarkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Akan tetapi sangat sulit yang dilakukan adalah membagi sebagian dari apa yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkannya. 

Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Berbagi

Kesulitan menegakkan budaya berbagi itu akan diperparah oleh tidak adanya upaya para orang-orang tua menginternalisasikan sikap berbagi itu pada anak-anak mereka. Allah Swt., menyindir kecenderungan menghitung-hitung kekayaan itu sebagai tradisi abadi manusia. Sebagaimana firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. Al-Takâsur:1-2).

Memandang Mulia

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Islam memandang mulia kedudukan orang-orang yang memiliki kekayaan (aghniyâ’). Sebab mereka dapat memberi manfaat besar bagi lingkungan dan deerah di mana ia hidup. Bahkan dalam perspektif Islam, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi yang lain (khairunnâs ‘anfa’uhumlinnâs). Sebab, seperti disebut Nabi, orang kaya merupakan salah satu pilar atau sendi bangunan masyarakat yang sejahtera, disamping penguasa, ulama, dan do’a para fakir miskin (al-Hadîs).

Banyak contoh para pemimpin yang mendaratkan budaya berbagi itu. Khadijah, ummul mikminîn dan Usman ibnu Affân telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan mereka. Dari jajaran orang kaya penguasa terlihat Umar inbu Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khulafaurrasyidin yang kelima, dan Harun al-Rasyid pada dinasti Abbasiyah. Mereka telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan dan dalam pemberdayaan masyarakat mereka.

Islam memandang mulia orang yang memiliki budaya berbagi, dan memperingatkan bahwa budaya berbagi itu tidak hanya harus ditegakkan oleh orang yang berkecukupan melainkan oleh setiap orang. Bedanya hanya terdapat pada kuantitas dan kualitas yang dibaginya. Sebab dalam apa yang mereka miliki terdapat hak orang lain yang membutuhkan. 

Kelalaian seseorang untuk berbagi, apalagi secara sengaja tidak mau berbagi, akan menyebabkan dirinya teralienasi dari manusia dan Tuhan, yang kurang lebih dapat diillustrasikan sebagai berikut: “Anda akan menemuinya jauh dari Tuhan, dari Nabi, dan dari manusia. Akan anda temui dia selalu sombong dan memandang orang sebelah mata. Jika bicara selalu menghina dan melukai perasaan orang lain. Jika memberi ia pamrih dan mendikte. Dia selalu minta agar orang lain berlutut dan tunduk padanya. Rasa kepedulian tidak pernah bersemi dalam perilakunya”. Terang saja bahwa keengganan sebagian orang untuk berbagi akan memunculkan kecemburuan dan berbagai kerawanan sosial, yang pada akhirnya mengganggu ketenangan dan kenyamanan masyarakat, termasuk para pemilik harta.

Menumbuhkan Berbagi 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ramadhan adalah momentum untuk menumbuhkan kembali budaya berbagi di tengah masyarakat kita, karena di sini seorang Muslim diminta untuk dapat mendaratkan budaya berbagi secara mengesankan. Rasulullah Saw meminta orang yang berpuasa untuk membagi bukaannya pada jirannya, dan di bagian akhir Ramadhan seorang Muslim diminta untuk menyepurnakan ibadahnya dengan membayar zakat fitrah. Seorang Muslim yang memiliki budaya berbagi paling tidak ditandai oleh empat karakternya. 

Pertama, ia yakin sepenuhnya bahwa pemilik hakiki dari kekayaannya adalah Allah SWT, yang ia miliki adalah hak guna pakai. Dengan demikian ia tidak penah sombong karena kepemilikannya. Kedua, orang yang memiliki budaya berbagi selalu sadar bahwa fungsinya hanyalah fungsi distributif. Oleh karenanya ia selalu berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas kekayaannya secara legal, kemudian memiliki kepedulian dengan membagi hak-hak orang lain yang ada dalam hartanya.

Ketiga, humanistik, dia sadar bahwa dirinya adalah manusia biasa. Kalaupun ia berbeda dengan yang lain, bukan dalam hal kemanusiaan, melainkan kewajiban untuk menyantuni mereka.

Dengan demikian ia tidak akan menganggap enteng orang ia pernah atau sering memberi kepadanya. Keempat, amanah, memiliki kesadaran bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu dapat diambil-Nya. Untuk itu ia akan bertindak sebagai pemegang amanah yang baik, menggunakan kekayaannya hanya untuk sesuatu yang direstui pemiliknya, Allah Swt.

Begitulah, kita perlu menginternalisasikan budaya berbagi ini pada segenap anggota keluarga. Berilah sedikit harta agar mereka langsung memberikannya kepada yang membutuhkan. Beri pula pembekalan pada mereka bahwa pemberian pada yang lain bukan berdasar belas kasihan tetapi berbasis kewajiban; kita wajib membaginya dan kita tidak berhak memandang enteng terhadap orang yang kita pernah atau sering memberi kepadanya. 

Penulis adalah peneliti di Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Kota Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Kiai, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 14 November 2017

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Nadlatul Ulama (LTMNU) mengimbau, upaya paling baik menangkal ektremisme adalah dengan memperkuat kegiatan dari dalam. Memakmurkan masjid merupakan cara efektif merealisasikan usaha ini.

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU: Tangkal Ekstremisme, Makmurkan Masjid!

Sekretaris PP LTMNU Ibnu Hazen mengakui, masjid-masjid NU yang tersebar di beberapa tempat mulai diganggu oleh kelompok-kelompok berhaluan keras. Selain menjadi cermin tentang kelemahan pengurus masjid, persoalan ini menuntut penanganan secepat mungkin.

“Tidak ada jalan lain kecuali memakmurkan masjid,” ujarnya saat ditemui di Kantor PP LTMNU, Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dengan memperbanyak aktivitas ibadah di dalam masjid, jamaah tak hanya menuai maslahat dalam hal ibadah dan hubungan sosialnya, tapi juga menghambat proses masuknya paham kekerasan ke dalam masjid.

“Apalagi masjid jamaahnya yang jelas. Jadi perlu diperdayakan dalam hal-hal positif,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LTMNU juga menyarankan, Pengurus Cabang NU di setiap daerah untuk senantiasa memperhatikan kegiatan masjidnya. Mereka didorong untuk menggerakkan lembaga dan lajnah yang dimilikinya serentak memakmurkan masjid.

“Kan ada LDNU (Lembaga Dakwah NU) untuk mengisi dakwah, JQH (Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz) dalam hal mengaji, tarekat, dan lainnya,” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah warga NU, khususnya di kota Depok, mengeluh atas aksi pembubaran kegiatan ibadah yang dialami di masjid. Secara paksa, beberapa orang tak sepaham membubarkan aktivitas majelis taklim yang dianggap bidah.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Fragmen, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Sumenep, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut memeriahkan acara silaturrahim alumni Pesantren Annuqayah di aula Syarqawi, Guluk-Guluk, Sumenep Madura, Sabtu (31/10). Mereka merupakan perwakilan dari Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Yogyakarta.

Rinciannya, 3 dari perwakilan pengurus IAA Yogyakarta tersebut ialah Zian Faradis (ketua), Moh. Affan dan Faza Binal Alim; 2 orang penasehat IAA Yogyakarta Ruslani dan Haris.

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Dalam kesempatan itu, mereka menghadirkan keteladanan pengasuh Pesantren Annuqayah alm KH A Warits Ilyas. Dua buku tersebut berjudul ‘Inspirator dan Guru Umat’ sebanyak 60 buah dengan harga Rp 25 ribu, sedangkan buku lainnya bertajuk ‘Oase Keteladanan KH Warits’ sebanyak 4 buku seharga Rp 35 ribu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Penghasilannya buat IAA Press yang baru diprakarsai oleh IAA Yogyakarta," ujar Moh Affan.

Mengacu pada keteladanan Kiai Warits, lanjut Affan, pesantren secara umum dan Pesantren Annuqayah khususnya, harus menjadi lembaga Islam yang mampu memberikan solusi terdepan bagi kehidupan modern saat ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Tentunya dengan menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak terjebak pada pendikotomian ilmu: ilmu agama dan umum, seperti yang sudah ditulis Prof Dr Abd Ala (salah satu Kiai Annuqayah) dalam buku  Pembaharuan Pesantren," harap Affan.

Affan juga menerangkan, bahwa  alumni Annuqayaah banyak menjadi tokoh, pemikir, penyair, penulis, dosen, politisi, kiai, pengusaha, wartawan, dan sebagainya. “Mari berdayakan  sumberdaya manusia yang ada. Dan semoga Annuqayah menjadi lembaga yang terus merakyat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 09 November 2017

“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia”

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi berpendapat, seseorang boleh saja meyakini kebenaran akan agamanya sendiri, namun tidak selayaknya ia gemar menghakimi agama orang lain.

Menurutnya, penghakiman atau penilaian terhadap sebuah agama atau keyakinan hanya bisa dilakukan di akhirat, bukan di dunia. Karena itu dalam Al-Qur’an ada istilah “yaumiddîn” yang bagi Kiai Masdar lebih pas diterjemahkan dengan arti “hari agama”, bukan “hari pembalasan”.

“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Menghakimi Agama Hanya Ada di Akhirat, Bukan di Dunia”

“Karena pada waktu itulah agama-agama akan diadili oleh Allah,” tuturnya dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa” di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) malam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai alumni Pesantren Krapyak ini mengatakan, hal tersebut juga selaras dengan kandungan makna kalimat basmalah yang dalam dunia pesantren di Jawa arrahman diberi arti kang moho welas asih ing donyo lan akherat (yang maha welas asih di dunia dan akhirat) dan arrahîm diartikan kang moho welas asih ing akherat beloko (yang maha welas asih di akhirat saja).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terjemahan itu, kata Kiai Masdar, menunjukkan kecerdasan pesantren dalam memberi makna arrahman dan arrahim yang kerap diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “yang maha pengasih lagi maha pemurah”. Terjemahan yang terakhir ini, menurutnya, membuat perbedaan makna antarkedua asmaul husna itu semakin kabur. Terjemahan ala pesantren membawa konsekuensi bahwa dalam kehidupan di dunia semua orang memiliki kesetaraan dalam menerima rahmat dari Allah, meski diakhirat kelak rahmat sejati orang mukminlah yang akan mendapatkannya.

“Pandangan pesantren tentang kehidupan beragama itu sudah sangat jelas. Keanekaragaman adalah sebuah keniscayaan. Tidak suka menghakimi orang lain,” ujarnya yang dalam kesempatan itu juga mengutip Surat al-Maidah ayat 48 bahwa Allah bisa saja menghendaki umat yang seragam, tapi hal itu tidak dilakukan sebagai ujian bagi manusia.

Indonesia, lanjut Kiai Masdar, memiliki keistimewaan dibanding negara-negara lainnya. Umat Islamnya paling banyak namun keanekaragamannya juga paling banyak. “Hampir seluruh agama besar di Indonesia hidup, belum lagi keyakinan-keyakinan lokal yang jumlahnya bisa ratusan,” katanya.

Dengan kemajemukan yang demikian itu, ia berpendapat bahwa penting bagi umat Islam di Indonesia untuk menjaga diri dari sikap gemar menghakimi keyakinan dan keagamaan lain. Kemudian fokus pada kualitas dan kapasitas diri sendiri.

Malam itu hadir juga Rais Syuriyah PBNU KH Zakky Mubarak, Katib Syuriyah H Nurul Yakin Ishaq, dan hadirin dari berbagai komunitas dan organisasi. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kiai, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock