Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Idul Adha 1438 H tahun 2017 ini, Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) berkurban 16 ekor sapi dan 2 ekor kambing. Jumlah sapi dan kambing tersebut terkumpul atas kontribusi sejumlah pihak.

Ketua II PP Muslimat NU yang juga Ketua Panitia Kurban Idul Adha Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menerangkan, kegiatan kurban yang diselenggarakan Muslimat NU dilaksanakan dua tahap.

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing

“Pertama dilakukan pada Sabtu (2/9/2017) di Pondok Cabe, Tengerang Selatan. Di sini kita memotong 3 ekor sapi dan 2 kambing,” jelas Nurhayati kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Senin (4/9) di Jakarta.

Untuk tahap kedua, lanjut istri Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj ini, Muslimat NU melakukan pemotongan di Kantor PP Muslimat NU Pengadegan, Jakarta Selatan pada Ahad (3/9/2017).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Di kantor Muslimat kita memotong 13 ekor sapi,” terangnya.

Mekanisme pembagian daging hewan kurban, PP Muslimat NU terlebih dahulu membagikan ribuan kupon kepada warga yang membutuhkan di sekitar kantor Muslimat.

Nurhayati menerangkan, sapi dan kambing tersebut berasal dari keluarga Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, keluarga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, keluarga Anna Muawanah, keluarga Bapak Tasrif, ibu-ibu Muslimat NU, dan keluarga besar Kementerian Sosial.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Ini bagian dari komitmen Muslimat NU dari tahun ke tahun untuk menyediakan daging kurban bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Nurhayati.

Ia berharap, semoga hewan kurban di tahun depan makin bertambah banyak sehingga akan lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Kegiatan pemotongan hewan dan pembagian daging kurban ini dihadiri oleh seluruh Pengurus Muslimat NU di tingkat pimpinan pusat dengan melibatkan sejumlah pemotong hewan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Pesantren, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Rabu (18/9).

Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.

Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.

“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.

Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.

Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.

Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sholawat, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Dengan menenteng empat karung plastik berukuran besar, Roshid (25) warga Sumobito Jombang, berjalan mondar mandir di depan puluhan ribu jamaah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan, Jombang, Jawa Timur, yang sedang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Ekonomi pada Pengajian Tarekat Menjanjikan

Bersama 10 tetangganya, lelaki lajang ini menjajakan makanan ringan berupa krupuk, kacang goreng, melinjo, dan jipang, Sabtu (31/1) itu. "Setiap ada kegiatan seperti ini saya selalu datang, bersama adik dan beberpa tetangga. Mereka juga sama berjualan seperti saya," ujarnya kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Dalam setiap acara pengajian tarekat semacam ini, Roshid mengaku bisa menjual hingga 20 bal jipang dan juga krupuk. Dan uang yang dikantongi bisa mencapai hingga Rp 500 ribu, " itu termasuk modal, sebesar Rp 300 ribu, keuntungan ini cukup membantu ekonomi keluarga," tambahnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lulusan Madrasah Ibtidiyah ini bercerita, ia menjadi pedagang asongan sejak kelas 6 madrasah ibtidaiyah. Kalau tidak ada kegiatan dirinya bersama beberapa tetangga berdagang di pasar dan kereta api. "Terkadang di sini (Rejoso Peterongan), kalau Senin sering ke Cukir, Diwek," bebernya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya Roshid, para pedagang dari luar Jombang juga memiliki minat yang sama. Seperti yang ada yang mengomando, mereka berdatangan tiap ada pengajian tarekat yang banyak digelar di pesantren-pesantren. "Saya hanya berjualan tas untuk ibu ibu, " ujar Susiadi (55), pedagang tas asal tanggulangin Sidoarjo.

Dengan harga antara Rp 15 ribu hingga 25 ribu, Susiadi mengatakan bisa menjual antara 20 bahkan lebih tas yang dibawanya. "Biasanya bisa Rp 400 ribu, kalau musim panen bisa lebih hingga Rp 500 ribu pendapatan," imbuhnya.

Dari pantauan di lokasi, puluhan pedagang tampak menjajakan dagangannya, mulai makanan ringan, tas, kipas bambu, hingga tikar plastik yang banyak diminati jamaah tarekat sebagai alas untuk mengikuti wirid dan doa. Mereka bersila di sepanjang jalan menuju kawasan masjid pesantren Darul Ulum Peterongan.

Puluhan pedagang makanan dadakan, atau pedagang kaki lima tidak kalah banyak. Puluhan pedagang makan siap saji ini terlihat memenuhi jalan, sehingga jalur menuju lokasi digelarnya kegiatan tarekat pimpinan KH Dhimyati Romly nyaris macet, dan harus ditempuh dengan merayap. "Putaran ekonomi di jamaah tarekat potensinya sangat besar, kalau dihitung bisa ratusan juga setiap ada kegiatan," ujar Agus Mahfudzin, salah satu Dosen Unipdu.

Hal ini lanjut dosen muda ini menambahkan, ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan luar Jatim dengan menggunakan kendaraan serta kebutuhan makanan? yang dibutuhkan. "Besarnya putaran eknomi bisa dilihat mulai dari sewan kendaraan oleh rombongan, belum makanan yang dibutuhkan saat mengikuti kegiatan serta peralatan seperti tikar sebagai alas dan lainnya," pungkas Agus yang juga sekretaris PC ISNU Jombang ini.

Seperti diketahui, jumlah jamaah atau pengikut Thariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang mencapai ratusan ribu. Mereka datang dari berbagai daerah. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sejarah, Nasional, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur

Demak, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Rabu (22/8) kemarin Gerakan Pemuda Ansor, Banser, dan CBP mendatangi markas MTA di Kabupaten Demak. Namun sampai lokasi ternyata pimpinan dan anggota MTA sudah tidak ada di tempat.

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)
Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur (Sumber Gambar : Nu Online)

Didatangi Banser, Pimpinan dan Anggota MTA Kabur

Dilaporkan, Demak sebagai kota wali dan kota santri yang notabene berhaluan Aswaja mulai dimasuki golongan atau kelompok Islam garis keras yang bermarkas di Solo Jawa Tengah yakni Majjlis Tafsir Alqur’an (MTA).

Desa Dondong kecamatan Demak Kota merupakan markas MTA di Kabupaten Demak. Setelah mendapatkan laporan dari para tokoh dan warga sekitar tentang kegiatan MTA di Desa Dondong yang dianggap meresahkan warga sekitar, pengurus NU setempat langsung menginstruksikan Ansor dan Banser untuk segera bertindak tegas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Segera setelah mendapatkan instruksi, GP Ansor, Banser, CBP dari kantor PCNU langsung menuju lokasi dengan membawa 300 an anggotanya dengan aksi damai. Namun karena pimpinan dan anggota MTA sudah tidak ada di tempat, akhirnya hanya terjadi dialog dengan aparat keamanan.

Ketua PC Ansor Demak H.Abdurrahman Kasdi selesai berdialog yang didampingi Kapolres Demak, Dandim, Kapolsek, Koramil Demak Kota, Ketua MWC NU Demak Kota ketua PC IPNU serta lurah Dondong ditengah tengah ratusan Banser, CBP dan warga sekitar yang bertempat di halaman masjid Mubarokah Desa Dondong menyampaikan bahwasannya NU, Ansor dan Banser menuntut agar MTA didesa tersebut dihentikan kegiatannya untuk selamanya dikarenakan kegiatan mereka dianggap meresahkan masyarakat sekitar yang sudah mapan dalam beribadah,

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Kami datang kesini atas laporan warga sini (Desa Dondong) , atas nama Nahdlatul Ulama kami minta kepada kepolisian agar kegiatan MTA disini dihentikan selamanya,” tuntut Abdurrahman.

Sementara itu kepala Satkorcab Banser Musta’in meminta kepada Kapolres Demak yang diwakili kasatintel Ruswiyanto agar pimpinan MTA Supardi dan anggotanya untuk bisa dipertemukan dengan Ansor dan Banser yang difasilitasi oleh Kapolres dengan melibatkan Kesbangpolinmas kabupaten Demak untuk bias mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dianggap meresahkan warga sekitar yang merasa terganggu dengan kegiatan mereka,paling lama 3 hari, 

“Kami meminta pada bapak Kapolres Demak Supardi dan anggotanya harus dipertemukan dengan kami untuk bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya yaitu menghentikan segala bentuk kegiatannya dikabupaten Demak, kami beri waktu 3 hari,” tegas Mustain.

Ditempat yang sama Kapolres Demak melalui kasatintel Ruswiyanto berjanji ditengah tengah anggota banser dan warga sekitar untuk bisa memanggil dan berdialog antara MTA, NU, Ansor dan Banser,

“Karena sekarang pimpinan MTA pak Supardi tidak ada ditempat kami berjanji maksimal tiga hari untuk bisa mempertemukan Supardi dan anggotanya untuk diajak dialog dengan NU dan Ansor,” jelas Ruswiyanto

Sedangkan Sukarman yang juga tetangga dekat Supardi mengutarakan kalau kegiatan yang diselenggarakan MTA sangat mengganggu lingkungan dikarenakan keseharian selalu menyalakan radio yang dilangsungkan ke soundystem  dengan sengaja didengarkan kepada tetangga disamping itu sangat mengusik kegiatan beribadah warga yang sudah mapan, berdasarkan keterangannya pula pengikut didesanya hanya 4 kepala keluarga yang banyak adalah pendatang dari luar daerah dondong,

“Pengikut MTA dikampung ini hanya empat keluarga saja, justru kegiatan pengajian didatangi oleh banyak orang dari luar daerah namun kegiatannya sangat mengganggu lingkungan” kata Sukarman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail NU yang kami hormati. Dalam kesempatan ini kami ingin bertanya tentang perempuan yang sedang haid. Sebagaimana yang kami ketahui bahwa seluruh amalan haji atau manasik haji boleh dikerjakan oleh perempuan haid kecuali thawaf.

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Perempuan Haid Dilarang Thawaf?

Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah kenapa perempuan haid boleh melakukan semua manasik atau amalan haji kecuali thawaf? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu alaikum wr. wb. (Walid/Jakarta)

Jawaban

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Assalamu alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam sebauah riwayat dikatakan bahwa Sayyidah Aisyah RA telah sampai di Mekkah, namun beliau mengalami datang bulan sehingga tidak melakukan thawaf dan sai.

Kemudian Sayyidah Aisyah RA mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasul pun memberikan respon dengan menyatakan, “Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja jangan thawaf di Baitulah sebelum suci.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi SAW, ia berkata, ‘Saya telah sampai di Mekkah, sedangkan saya dalam keadaan haid sehingga saya tidak melaksanakan thawaf di Baitullah, tidak juga mengerjakan sai antara bukit Shafa dan Marwa. Lantas, saya pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau pun merespon dengan menyatakan, ‘Lakukan apa yang dilakukan orang yang berhaji, hanya saja jangan melaksanakan thawaf di Baitullah sebelum suci’. Ini adalah hadits yang disepakati kesahihannya.”

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa perempuan yang sedang mengalami haid diperbolehkan atau sah untuk melaksanakan amalan-amalan haji kecuali thawaf di Baitullah. Dari sini kemudian muncul pertanyan kenapa perempuan haid tidak boleh thawaf, sebagaimana yang ditanyakan di atas.

Setelah kita menelisik lebih lanjut, ternyata para ulama berbeda pendapat tentang alasan perempuan yang sedang haid dilarang untuk melakukan thawaf. Setidaknya ada dua pandangan sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Subulus Salam.

Pendapat pertama menyatakan bahwa alasannya adalah karena salah satu syarat sahnya thawaf adalah suci. Sedang perempuan yang sedang haid jelas tidak suci karena haid termasuk hadats besar.

Pendapat kedua menyatakan bahwa perempuan yang haid tidak boleh thawaf karena ia dilarang masuk masjid. Padahal thawaf mengelilingi Ka‘bah atau Baitullah yang dikelilingi oleh Masjidil Haram.

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Artinya, “Illat atau alasan tidak diperbolehakannya perempuan yang haid untuk melaksanakan thawaf diperselisihkan oleh para ulama. Ada pendapat yang menyatakan karena suci adalah salah satu syarat thawaf. Dalam pendapat lain dikatakan (qila), karena perempuan yang sedang haid dilarang masuk masjid.”

Penjelasan singkat ini hemat kami sudah dapat menjawab mengenai pertanyaan di atas. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwmith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Kiai Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah

Puluhan tahun silam, orang Indonesia membutuhkan waktu beberapa bulan untuk melaksanakan ibadah haji. Selain itu, jumlah jemaah haji juga masih sedikit, jadi kesempatan untuk berkenalan dan merekam aneka kenangan dengan orang se-tanah air begitu leluasa.?

Setelah mereka pulang ke kampung halaman masing-masing banyak terjalin silaturrahim secara berkelanjutan.?

Kiai Ahmad Dalhar, Watucongol, Muntilan, Magelang suatu saat melakukan rangkaian ibadah haji. Ia bertemu dengan seorang lelaki yang sebelumnya belum pernah bertemu sama sekali. Di antara percakapan keduanya sebagai berikut:?

Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Jamuan Surga dari Kekasih Allah

“Nama anda siapa?” tanya Mbah Dalhar?

“Nur Muhammad”?

“Asli mana?”?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Magelang”?

“Lho, lha saya ini juga asli Magelang. Anda mana?”?

“Salaman”?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Salamannya mana?”?

“Ngadiwongso”?

Ngadiwongso adalah salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan kata lain, Kiai Dalhar dan Kiai Nur Muhammad satu kabupaten, tapi beda kecamatan.?

Setelah berbicara panjang lebar, Kiai Nur Muhammad berpesan kepada Mbah Dalhar “Besok, kalau pulang, bila ada waktu silahkan mampir, pinarak ke rumah saya ya!”?

Waktu bergulir hingga cukup lama, Mbah Dalhar tidak segera berkunjung. Begitu pula sebaliknya, Kiai Nur Muhammad juga belum pernah mendatangi rumah Mbah Dalhar sejak kali pertama bertemu saat musim haji kala itu.?

Suatu saat, Mbah Dalhar mendapat undangan sebuah acara pada satu tempat, pada era di mana belum banyak masyarakat yang mempunyai kendaraan mewah seperti sekarang ini. Waktu itu Mbah Dalhar diantar oleh H Bukhari, hartawan asal Desa Tirto, Grabag, Magelang.?

Selepas pulang dari acara, mobil yang ditumpangi Mbah Dalhar tiba-tiba mogok di tengah jalan. Antara Mbah Dalhar dan H Bukhari tidak tahu di desa mana tepatnya mereka berhenti sekarang ini. Keduanya hanya paham kalau mobil mereka sedang mogok di wilayah Kecamatan Salaman. Keduanya mencoba bertanya kepada warga sekitar.?

"Maaf, Tuan, kalau boleh tahu, numpang nanya nih. Ini desa apa ya?"?

"Oh, ini desa Ngadiwongso, Ndoro," begitu jawab penduduk setempat.?

"Lho, kebetulan sekali. Kalau begitu kita mampir saja ke rumah KH Nur Muhammad. Dia itu kawan baik saat aku haji dulu, katanya ia bertempat tinggal di desa Ngadiwongso," kata Mbah Dalhar kepada H Bukhari sembari mengingat, menerawang beragam kenangan indah bersamanya.?

Mbah Dalhar kembali mencoba bertanya kembali pada warga yang barusan ditanya itu, "Apakah Tuan tahu alamat KH Nur Muhammad?"?

"Oh, iya, di sebelah sana, Ndoro," jawabnya sembari memberikan arah yang jelas, alamat tidak terlampau jauh dari lokasi.?

Bersama H Bukhari, Mbah Dalhar menuju dan kemudian sampai di rumah tujuan, kediaman Kiai Nur Muhammad. Rumahnya persis di samping rumpun bambu nan asri. Dan di sana, layaknya tamu terhormat, keduanya dijamu istimewa. Saking istimewanya, jamuan makanan dan minuman yang disajikan oleh Kiai Nur Muhammad ini membuat H Bukhari tidak akan pernah lupa semasa hidupnya di dunia.?

Bagaimana tidak? Setelah menyantap menu sajian Kiai Nur Muhammad, H Bukhari mengaku tak pernah merasa lapar dan dahaga sama sekali. Selain itu, ia menjadi tak punya ketertarikan dengan ragam makanan apapun setelah menikmati hidangan Kiai Nur. Baginya, selama hidup, kelezatan makanan apapun tidak ada yang sebanding dengan milik Kiai Nur Muhammad.?

Sekitar sepuluh hari berselang, H Bukhari yang disebut masyarakat sekitar sebagai hartawan kaya raya mendapat undangan pada sebuah acara keluarganya di suatu daerah. Sampai saat itu pula, ia masih merasakan kenyang atas makanan sepuluh hari silam. Ia juga masih tak punya selera makan. Namun, ia kalah ketika tuan rumah sedikit menegurnya karena kurang melegakan hati penyedia makanan.?

"Iya ya, kalau anda itu memang orang kaya, pasti tidak berkenan makanan orang miskin seperti kami ini," kata tuan rumah, memelas.?

Merasa tidak enak hati, sekaligus iba, H Bukhari memaksa diri untuk menyantap sajian. Nahas, kenikmatan kenyang yang tidak kunjung hilang sejak sepuluh hari lalu itu lenyap, menghilang seketika. Ia kembali merasa lapar dan merasakan sebagaimana sebelum memakan pemberian Kiai Nur Muhammad.?

H Bukhari pun kaget dan bertanya-tanya, "ada apa ini sebenarnya?". Setelah ia telisik mendalam, ia kemudian mendapati jawabnya. Ternyata Kiai Nur Muhammad sudah wafat beberapa waktu lalu. Sedangkan jenazahnya dimakamkan di pemakaman yang di sampingnya ada rumpun bambu persis dengan ciri-ciri sekitar perumahan di mana ia mendapat jamuan makan bersama Kiai Dalhar.?

Ia menarik kesimpulan, bahwa ia sedang menerima jamuan dari orang yang sudah meninggal. Dan kisah ini menunjukkan tentang kebenaran sebuah ayat yang menyatakan, orang yang meninggal di jalan Allah itu tidaklah mati. Mereka hanya pernah merasakan mati sekali saja. Setelah itu mereka hidup kembali dan diberi rezeki oleh Allah Taala.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? 169

Jangan engkau menyangka orang yang meninggal di jalan Allah itu mati, melainkan mereka hidup dihadapan Allah dan diberi rizqi. (Q.S: Ali Imron: 169)?

Kisah ini disarikan dari mauidzah hasanah KH Thoifur Mawardi pada acara Haul Masyayikh dan Khotmil Qur’an Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah.

(Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Prof Maksum: NU Menentang Dua Penjajahan

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. 100 tahun yang lalu Indonesia dijajah dua penjajah sekaligus; penjajah tanah dan kekayaan alam, serta penjajah keagamaan. Yang pertama adalah Belanda dengan antek-anteknya. Sedangkan yang kedua adalah kelompok modernis yang mengkafirkan tradisi-tradisi yang ada.?

Demikisan disampaikan Ketua PBNU Prof Dr H Maksum Mahfudz dalam Apel Akbar Harlah ke-89 NU yang diselenggarakan PCNU Jepara, di alun-alun Jepara, Sabtu (16/6). Penjajahan pertama dilawan oleh NU secara fisik, antara lain melalui Resolusi Jihad.

Prof Maksum: NU Menentang Dua Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum: NU Menentang Dua Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum: NU Menentang Dua Penjajahan

Ia melanjutkan, menghadapi penjajahan keagamaan, sejumlah kyai NU yang dipunggawai KH Wahab Hasbullah mengusung misi diplomatik yakni "diplomasi kaum sarungan" dengan melawan setiap yang dianggap bid’ah, kufur dan lain sebagainya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pada 100 tahun kemudian, kata Prof Maksum, penjajahan keagamaan masih berlangsung. Muncullah dua aliran kanan dan kiri yang disebut sebagai Al-Ibahiyah. “Aliran kanan mengganggap semuanya tidak boleh. Aliran kiri semuanya boleh”.?

NU sebagai jamiyyah yang didirikan KH Hasyim Asyari mengusung prinsip tawasuth, jalan tengah, tidak memihak blok kanan dan kiri. “NU mengedepankan tawasuth. Pilihan tersebut bertujuan untuk mengawal kebersamaan demi keberlangsungan berbangsa dan bernegara,” paparnya.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Apel akbar tersebut diselenggarakan dalam rangka Harlah NU ke-89 didahului dengan kirab yang diikuti oleh banom NU yang terdiri dari IPNU-IPPNU, Fatayat, Muslimat, Banser, Ansor, Lakpesdam, santri dan marching band dari MTs Masalikil Huda Tahunan dan Mathalibul Huda Mlonggo. Kirab dari gedung NU menuju alun-alun.?

Di alun-alun yang mengikuti apel berjumlah puluhan ribu yang terdiri terdiri dari pelajar, santri, NU, Muslimat, Fatayat, IPNU-IPPNU, Ansor dan masih banyak lagi. Kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan rebana, musik bambu Empu Palman, silat Pagar Nusa, atraksi marching band dan barongsai.?

Ketua panitia, H Anis Arbaani menjelaskan kegiatan terselenggara agar warga NU semakin kompak. Sejumlah kegiatan yang juga dilaksanakan adalah Bhakti Sosial, Seminar Kebangsaan dan Tahtiman yang diikuti oleh 89 khafidz-khafidzah?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Lomba, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Aktor Hollywood Ben Affleck Tolak Pandangan Rasis pada Islam

Kairo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ben Affleck, bintang dan sutradara Hollywood, terlibat dalam perdebatan sengit dengan pembawa acara TV anti-Islam Bill Maher dan penulis Sam Harris, yang menyerang dengan citra negatif umat Islam dunia sebagai "tidak lengkap". 

"Tunggu - apakah Anda orang yang secara resmi memahami doktrin-doktrin Islam?" Affleck terganggu Harris yang menyerang Islam, seperti dilaporkan oleh Sydney Morning Herald, Senin, 6 Oktober. 

Aktor Hollywood Ben Affleck Tolak Pandangan Rasis pada Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktor Hollywood Ben Affleck Tolak Pandangan Rasis pada Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktor Hollywood Ben Affleck Tolak Pandangan Rasis pada Islam

Bintang ini adalah tamu dalam acara TV Real Time pada Jumat dengan Bill Maher untuk mempromosikan film barunya, Gone Girl ketika panel membahas urusan tersebut. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dia menjadi marah ketika tuan rumah Bill Maher dan penulis Sam Harris mulai berbicara tentang Islam radikal, yang merasa mereka membentuk stereotip tersebut terhadap semua umat Islam. 

"Kami telah menjual meme Islamophobia ini, di mana kritik agama digabungkan dengan fanatisme terhadap Muslim sebagai," kata Harris. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Ini intelektual konyol." 

Dia kemudian mengatakan kepada mereka bahwa pembicaraan mereka adalah "kotor dan rasis": "Ini seperti mengatakan, Oh, Anda Yahudi licik!" 

Harris terus berdebat bahwa Islam saat ini adalah "sumber dari ide buruk," dan Maher setuju, yang menyebabkan Affleck menentangnya, "Ini adalah sesuatu yang tolol," sebelum mengomel. 

"Bagaimana dengan lebih dari satu miliar orang yang tidak fanatik, yang tidak menghukum perempuan, yang hanya ingin pergi ke sekolah, memiliki beberapa sandwich, shalat lima kali sehari dan tidak melakukan salah satu dari hal-hal yang semua Muslim melakukan? Kau membuat stereotip. Kau mengambil hal-hal buruk beberapa dan Anda mengecat seluruh agama dengan kuas yang sama," kata Affleck. 

Kita membunuh lebih 

Perdebatan sengit berlangsung ketika Harris, yang telah dikritik berulang kali karena menyebarkan pandangan negatif tentang Islam, mengklaim bahwa jutaan Muslim fundamentalis. 

"Karena itu satu-satunya agama yang bertindak seperti mafia yang akan membunuh Anda jika Anda mengatakan hal yang salah, menggambar gambar yang salah atau menulis buku yang salah," tambah Maher. 

Affleck, yang tampak marah menambahkan: "Kami telah membunuh lebih banyak Muslim dari pada mereka membunuh kita, banyak sekali ... namun kita dibebaskan dari hal-hal ini karena mereka tidak benar-benar merefleksikan dari apa yang kita yakini ... saya secara khusus mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan apa yang Anda pikirkan. "

Diskusi tersebut menjadi analisis wartawan dan perbincangan di media sosial. 

Mehdi Hasan, direktur politik Huffington Post Inggris, memuji Affleck di Twitter, kemudian menulis: "Lima orang pada panel acara TV utama Amerika membahas apa itu Islam. Tapi tidak ada ruang untuk Muslim yang sebenarnya. "

Aziz Hamza, seorang novelis Arab, tweeted: "Menghormati Ben Affleck". (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kementerian Agama melalui Balitbang dan Diklat berupaya menggulirkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Umat Beragama (PUB). Hal ini muncul dalam diskusi Pra Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life), Selasa (4/10) di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.

Diskusi bertema "Definisi Agama di Indonesia: Rekognisi, Proteksi, dan Kepastian Hukum" ini menghadirkan beberapa narasumber antara lain Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud, mantan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Guru Besar Boston University Robert W. Hefner, dan Redaktur Majalah GATRA yang juga Wakil Ketua LBM PBNU Asrori S. Karni.

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

RUU PUB Digulirkan, Definisi Agama Dipandang Perlu

Semua narasumber sepakat bahwa sebelum mengajukan RUU PUB ke DPR, sangat penting merancang apa itu definisi agama. Definisi agama ini harus diarahkan pada perlindungan umat beragama di Indonesia sehingga mereka memiliki kepastian hukum.

Hal inilah yang dikritisi oleh Asrori S. Karni bahwa selama ini, ? sesuai tema diskusi, ada ketidakpastian hukum dalam ? relasi agama dan negara. UU PNPS 1/1965 tentang Penodaan Agama, yang eksplisit menyebut nama 6 agama terbesar, tidak menyebut istilah agama diakui negara atau agama resmi.

Hal itu dipertegas putusan MK tahun 2010 saat menguji materi PNPS tersebut. "Negara tidak memiliki otoritas mengakui atau tidak mengakui agama yang dipeluk warga negara," kata Asrori mengutip putusan MK.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebutan enam agama terbanyak dipeluk masyarakat dalam PNPS 1965 itu, kata MK, adalah sebutan faktual-sosiologis. Bukan pengakuan legal. Namun tahun 2006, lahir UU Adminduk, satu-satunya UU yg menyebut konsep agama yang diakui negara. Mestinya UU Adminduk tunduk pada putusan MK sebagai penafsir konstitusi paling otoritatif, berkekuatan final dan mengikat.

"Ini contoh ketakpastian hukum tadi," katanya. Akibat pemilahan konsep agama diakui dan belum diakui itulah, banyak pemeluk agama non-enam besar yang tidak mendapat sejumlah layanan negara yang berkaitan dengan agama.

Seperti akta nikah, akta lahir, identitas agama di KTP dan KK, pendidikan agama, rekomendasi rumah ibadah, dan lain-lain. Sejak itu, kepastian hukum tentang definisi agama dirasa perlu.

“Kasus diskriminasi agama akibat kaburnya definisi agama banyak bermunculan, sehingga definisi agama dipandang perlu,” ujar Asrori.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Definisi ini menurutnya, harus definisi siap saji untuk sebuah UU, bukan definisi akademik yang bersifat makro. Dia juga mendorong RUU PUB ini harus terus dimatangkan dan dikawal secara serius karena selama ini wacana pembuatan UU PUB atau sejenisnya hanya muncul ketika terjadi insiden dan tragedi umat beragama.?

Asrori mencatat, sudah banyak ? beberapa model definisi agama yang memadai diserap dalam RUU. Baik versi paparan Abdurrahman Mas’ud (2011 dan 2016), Atho Mudzhar (2011), dan Tim Wantimpres (2011). Menurutnya, dari semua definisi tersebut, yang terpenting untuk diperhatikan adalah semuanya melepaskan dari asumsi adanya agama yang diakui dan tidak diakui.

“Karena asumsi itu yang membuat agama diluar 6 besar merasa belum mendapat perlindungan memadai dan hak-hak pelayanannya pun belum terpenuhi dengan baik,” jelasnya.

Setelah diskusi Pra Simposium ini, pembukaan Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan bertajuk "Managing Diversity, Fostering Harmony" ini akan digelar Rabu (5/10) di Hotel Sari Pan Pacific dan dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pakar seperti Robert W. Hefner (Boston University, USA), Gamal Farouq Jibril (Al-Azhar University Cairo, Mesir), Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).?

Selain itu juga digelar diskusi yang akan diisi oleh Ahmad Najib Burhani (LIPI), Syafiq Hasyim (ICIP-PBNU), R. Alpha Amirrachman (CDCC-PP Muhammadiyah), Ahmad Suaedy (Abdurrahman Wahid Center UI), Muhammad Adlin Sila (CDRL-MORA), dan Alimatul Qibtiyah (PSW UIN Yogyakarta). (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kelompok militan diduga meningkatkan serangan mereka di Mesir dengan serangkaian aksi ledakan di ibukota Kairo.

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekerasan di Mesir Semakin Ganas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekerasan di Mesir Semakin Ganas

Enam orang tewas dan sekitar 100 lainnya luka dengan serangan terbesar di luar markas polisi di kota itu, seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Serangan ini seolah menandai tiga tahun penggulingan presiden yang saat itu berkuasa, Hosni Mubarak.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sepuluh korban lain dilaporkan tewas dalam bentrok antara aparat keamanan dengan kelompok pendukung Ikhwanul Muslimin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dalam ledakan di luar kantor polisi Kairo, empat orang tewas dan sedikitnya 76 lainnya cedera.

Beberapa jam kemudian muncul ledakan berikutnya di lokasi lain menewaskan dua orang dan juga melukai banyak lainnya.

Menurut media lokal sekelompok orang dalam aliran militan yang terilhami dari gerakan al-Qaeda, Ansar Beit al-Maqdis, mengatakan melakukan serangan ke markas polisi.

Kelompok ini sebelumnya mengklaim serangan bom dengan mobil pada sebuah bangunan pasukan keamanan di kota di utara Mesir, Mansoura pada Desember lalu yang menewaskan 16 jiwa dan melukai 100 lainnya.

Pemerintah menuding kelompok Ikhwanul Muslimin sebagai dalang serangan tersebut - yang dibantah keras kelompok ini - dan mencap Ikhwanul sebagai kelompok teroris.

Sekelompok orang yang marah berkumpul di luar lokasi pemboman di kantor polisi menuding Ikhwanul sebagai dalang dibalik serangan hari Jumat (24/01) itu. Sebagian menyerukan "Mati untuk Ikhwanul Muslimin".

Tetapi kelompok ini sendiri mengutuk serangan itu sebagai "pemboman pengecut".

Penyerang juga memakai bom mobil berkekuatan besar dalam serangannya di Kairo.

Pendukung Ikhwanul dan pasukan keamanan bentrok di Kairo dan beberapa kota lain pada Jumat yang sama, dan akibatnya 10 orang dilaporkan tewas.

Sejak Hosni Mubarak dipaksa turun Mesir terus dilanda pertentangan dan krisis politik.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan menahan 111 orang, mengatakan bahwa mereka adalah "elemen kelompok Ikhwanul" yang "mencoba mengobarkan kerusuhan".?

Aparat kerap bentrok dengan pendukung Ikhwanul Muslimin memprotes penurunan Morsi.

Aksi protes secara rutin digelar kelompok ini sejak presiden yang terpilih secara demokratis dari kubu Ikhwanul, Mohammed Morsi, diturunkan paksa Juli lalu. (mukafi niam)

Foto: AFP

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, PonPes Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Mojokerto, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengajak seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Mojokerto untuk melakukan penanaman 1000 pohon di titik PAC yang tersebar di Mojokerto, Jumat (23/6). Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan alam.?

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Bibit pohon tersebut merupakan hibah dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) berupa 1500 bibit pohon sengon, sirsak, dan jambu merah. Selain disebar di seluruh PAC, PC IPNU-IPPNU Mojokerto juga menggandeng Kampung Main Majapahit (Kamajo).?

Kamajo merupakan pusat penelitian implementasi permainan Majapahit dan pengembangan budidaya tanaman langka. Terdapat lahan seluas 2,1 hektar dengan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. PC.IPNU-IPPNU Mojokerto turut menyumbang bibit pohon dengan harapan nantinya Kamajo bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang memiliki beragam jenis pohon.?

"Kegiatan penanaman ini sangat tepat dilakukan di Kamajo, karena Kamajo mencoba untuk terus berupaya dalam mengembangkan budidaya aneka jenis tanaman langka," ujar Muhsinin selaku pengelola.?

"Bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk melakukan kegiatan yang memiliki dampak positif kepada masyarakat luas. Salah satunya yaitu dengan mengikuti gerakan menanam 1000 pohon. Ramadhan bukan lagi menjadi alasan untuk bermalas-malasan, karena dengan apa yang kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi orang banyak maka pahala akan dilipatgandakan oleh-Nya," ujar Sofiyuddin Ketua PC.IPNU Mojokerto. Oleh karena itu program ini dirasa sangat mendukung tumbuhnya lingkungan yang asri di kawasan Mojokerto. (Nuruddin/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Warta, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

LAZISNU Pringsewu Targetkan Pembentukan Pengurus di Tiap Kecamatan

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Setelah terbentuknya Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZISNU) tingkat Kabupaten Pringsewu, Kepengurusan segera bergerak cepat untuk membentuk kepengurusan LAZISNU tingkat Kecamatan yang ada di Kabupaten Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini.

LAZISNU Pringsewu Targetkan Pembentukan Pengurus di Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pringsewu Targetkan Pembentukan Pengurus di Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pringsewu Targetkan Pembentukan Pengurus di Tiap Kecamatan

Menurut Ketua LAZISNU Kabupaten Pringsewu Khairudin, Ada 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu yang ditargetkan memiliki Kepengurusan LAZISNU. Kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Pringsewu, Ambarawa, Pardasuka, Gadingrejo, Sukoharjo, Adiluwih, Banyumas, Pagelaran dan Pagelaran Utara.

Seperti yang terlihat pada Ahad (26/6) di Masjid Musyawarah Kecamatan Pringsewu. Kepengurusan LAZISNU Kabupaten Pringsewu melakukan Sosialisasi Lazisnu dan dialog seputar Fiqh zakat sekaligus Pembentukan Lazisnu Tingkat Kecamatan Pringsewu.

Hadir pada kegiatan tersebut Camat Pringsewu, Lurah Pringsewu Selatan, Pengurus PCNU dan MWC NU Pringsewu dan sejumlah Takmir Masjid dan Musholla di 6 Kelurahan di Kecamatan Pringsewu. Terpilih menjadi Ketua Lazisnu Kecamatan Pringsewu Oki Herawan Saputra dan Rosidi Yusuf sebagai Sekretarisnya.

Pada awal kepengurusannya, Oki Herawan menargetkan dua program yang harus dirampungkan. "Kami menargetkan pembentukan Unit Pengelola ZIS (UPZIS) di Masjid dan Musholla. Selanjutnya dari UPZIS yang sudah terbentuk akan kami data potensi zakat disetiap Pekon berdasarkan Laporan yang masuk," jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Oki menambahkan bahwa dengan program ini diharapkan potensi yang dimiliki ummat Islam dapat tergarap dengan baik. "Ini sebuah tantangan dan ladang amal bagi pengurus Lazisnu untuk mewujudkan kemaslahatan ummat dibidang zakat," ujarnya.

Setelah program ini terlihat hasilnya, Ia dan pengurus lainnya akan melakukan program-program lain diantaranya Pelatihan Pengelolaan Pengurus UPZIS disamping maksimalisasi pengelolaan ZIS secara berkesinambungan. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

Komitmen Jaga Lingkungan, LPBI NU Ajak Masyarakat Olah Sampah

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) menggelar sosialisasi yang memuat edukasi pengelolaan sampah di halaman Gedung PBNU, Selasa (23/02). Acara yang dikemas secara kreatif ini menarik perhatian publik hingga kalangan pelajar.

Berbagai kegiatan menarik digelar untuk umum dengan tujuan pemahaman dan edukasi pengelolaan sampah, meliputi kampanye pengelolaan sampah, coaching clinic composting, dan biopori, lomba foto on the spot, lomba menulis, sedekah sampah, coaching clinic, sistem bank sampah, workshop dan bazar daur ulang, pemutaran film, serta berbagai games dan door prize.

Komitmen Jaga Lingkungan, LPBI NU Ajak Masyarakat Olah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Jaga Lingkungan, LPBI NU Ajak Masyarakat Olah Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Jaga Lingkungan, LPBI NU Ajak Masyarakat Olah Sampah

Ketua LPBI NU M Ali Yusuf menjelaskan, gerakan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian NU terhadap sampah serta mengurangi risiko akan bahaya yang ditimbulkan, tepat dengan momentum semarak Hari Peduli Sampah Nasional.

"Sampah merupakan bagian dari life style. Setiap saat manusia selalu memproduksi sampah baik organik maupun anorganik. Jika terlalu lama sampah akan menumpuk dan menjadi permasalahan. Dibuang pada tempatnya saja menjadi masalah apalagi dibuang sembarangan," ujar Ali Yusuf.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, penanggulangan bencana, perubahan iklim, serta lingkungan tidak dapat dipisahkan. Semua saling berkaitan dan berpengaruh. "Terlihat ketika terjadi bencana maka lingkungan akan rusak. Begitu pula jika lingkungan rusak, iklim tidak stabil, hal itu menjadi suatu bencana yang harus diperhatikan," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Peran serta strategi LPBI NU dalam menanggulangi permasalahan sampah telah dimulai sejak tahun 2009 pada tujuh RW yang diberdayakan di Jakarta Barat. Pada prinsipnya, yang terpenting adalah masyarakat menyadari sampah merupakan masalah dan kita bersama memecahkannya.

"Yang terpenting adalah masyarakat paham betul bahwa sampah adalah masalah bersama. Serta perlu ditegaskan bahwa mengelola sampah bukan suatu pekerjaan yang hina. Dengan telaten kita bersama-sama mengelola sampah dimulai dari memisahkan sampah organik dengan sampah anorganik kemudian diolah untuk menjadi barang yang bernilai lebih," kata Ali.

Strategi ke depan yang dilakukan LPBI NU adalah menguatkan penerapan strategi pengelolaan sampah pada simpul-simpul masyarakat, meliputi pesantren dan masjid untuk kemudian membuka ruang kolaborasi dengan lembaga lain di NU baik RMI maupun LTM. Apabila simpul masyarakat kuat, maka akan bertahap ke masyarakat luas.

"Saya berharap gerakan Ubah Sampah Jadi Berkah menjadi sebuah gerakan masif di berbagai daerah. Apabila di daerah membutuhkan pendampingan, LPBI NU siap mengawal," pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal . Kehadiran? PBNU ke berbagai cabang yang berada di luar Pulau Jawa sangat dibutuhkan untuk mempercepat penguatan NU, baik di sisi pemahaman Islam Ahlussunah wal Jamaah maupun struktur organisasi. Selama ini, masih banyak pengurus cabang NU di daerah yang merasakan kurang mendapat sentuhan dari PBNU.

?

Hal itu diungkapkan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, H. Tarmidzi kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Ahad (2/8) malam, di sela-sela menunggu lanjutan sidang pleno pembahasan tata tertib Muktamar ke-33 NU, di alun-alun, Jombang, Jawa Timur.

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Luar Pulau Jawa Butuh Perhatian Lebih dari PBNU

Menurut Tarmidzi, dengan seringnya pengurus PBNU turun ke cabang-cabang NU, selain memperkuat organisasi NU di tingkat cabang, juga menumbuhkan semangat ber-NU di tingkat MWC hingga ranting.

?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Siapa pun yang terpilih memimpin PBNU lima tahun ke depan, harus lebih sering turun ke bawah (cabang). Jika sering PBNU turun ke bawah, turut memperkuat pemahaman Ahlussunnah Waljamaah," kata Tarmidzi yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bengkulu Tengah.

?

Untuk itu, kata Tarmidzi, para muktamirin harus jeli memilih pemimpin PBNU periode 2015-2020. Jangan mau? hanya dengan kepentingan sesaat dan iming-iming tertentu, memilih pemimpin PBNU ke depan.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Kita berharap pemimpin PBNU terpilih makin sering berkunjung ke cabang-cabang. Terutama cabang-cabang yang minus kondisinya," kata Tarmidzi, tamatan Pesantren Denanyar, Jombang tahun 1977 ini.

?

Tarmidzi yang sudah tujuh tahun (dua periode) mengemban amanah sebagai Ketua PCNU di Bengkulu Tengah, belum pernah dikunjungi PBNU, kecuali hanya sampai di tingkat wilayah (provinsi). Tarmidzi mengakui, saat ini PCNU yang dipimpinnya terus berbenahi diri. Dari 10 kecamatan, sudah memiliki 9 MWC.

"Cabang yang dikunjungi PBNU pastilah senang dan dapat mendorong semangat ber-NU, baik di kalangan pengurus sendiri maupun warga nahdiyin," kata Tarmidzi yang? 22? tahun sebagai Kepala KUA di Propinsi Bengkulu ini. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan

Pasar, mal, atau pusat perbelanjaan lainnya menjadi salah satu lokasi paling ramai dalam keseharian manusia. Pasar menjadi sentra pergerakan ekonomi karena di tempat inilah para pedagang dan pembeli berjumpa lalu melakukan transaksi. Pedagang-pembeli saling menawar, antarpedagang saling bersaing harga dan berlomba menjajakan dagangan mereka.

Pasar dengan segenap keriuhan dan kesibukannya itu pernah disebut dalam sebuah riwayat sebagai tempat yang paling buruk. Tapi? bukan tempat yang haram, atau harus dihindari. Pernyataan tersebut bermakna bahwa pasar sebagai tempat persaingan dan aktivitas duniawi sangat potensial menjatuhkan seseorang untuk lalai dari Tuhannya, omong kosong, berlaku mubazir, dan berbuat curang demi kekayaan. Namun, justru di sinilah mengapa doa atau dzikir di pasar menjadi amat istimewa. Berikut adalah doa atau dzikir yang dibaca saat memasuki pasar:

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa ketika Masuk Pasar atau Pusat Perbelanjaan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Lâilâha illâLlâhu wahdahu lâ syarîkalahu, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa hayyun lâ yamûtu biyadihi-l-khair wahuwa ‘alâ kulli syai-in qadîr

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah. Maha Tunggal. Tiada sekutu bagi-Nya. Dialah pemilik kekuasaan dan segala pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan bacaan tersebut maka Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan dan menghapus untuknya satu juta keburukan serta meninggikan untuknya satu juta derajat. Hadits ini termaktub dalam riwayat at-Tirmidzi, dari Sayyidina Umat ibn Khattab.

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah ketika memasuki pasar membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a‘ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a‘ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan



Dengan nama Allah, ya Allah, aku memohon kebaikan dari pasar ini dan kebaikan dari apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung dari keburukan pasar ini dan keburukan apa yang ada di dalamnya. Ya Allah, aku berlindung dari sumpah palsu dan transaksi yang merugikan. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, RMI NU, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Puasa dan Budaya Berbagi

Oleh Nanang Qosim



Bagi kebanyakan orang, termasuk di lingkungan para pelajar di sekolah, hitungan menambah, mengurangi, mengalikan, dan menjumlahkan jauh lebih mudah daripada hitung membagi. Akan tetapi yang cukup menarik di sini adalah bahwa ternyata kesulitan membagi itu juga tergambar dalam sikap kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari.

Memang dalam kehidupan ini yang paling sulit dilakukan adalah berbagi. Lihatlah kenyataan dewasa ini, banyak sekali orang yang suka menghitung-hitung kepemilikan dan pendapatannya dan bahkan pendapatan orang lain dengan mengeluarkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Akan tetapi sangat sulit yang dilakukan adalah membagi sebagian dari apa yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkannya. 

Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Berbagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Berbagi

Kesulitan menegakkan budaya berbagi itu akan diperparah oleh tidak adanya upaya para orang-orang tua menginternalisasikan sikap berbagi itu pada anak-anak mereka. Allah Swt., menyindir kecenderungan menghitung-hitung kekayaan itu sebagai tradisi abadi manusia. Sebagaimana firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. Al-Takâsur:1-2).

Memandang Mulia

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Islam memandang mulia kedudukan orang-orang yang memiliki kekayaan (aghniyâ’). Sebab mereka dapat memberi manfaat besar bagi lingkungan dan deerah di mana ia hidup. Bahkan dalam perspektif Islam, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi yang lain (khairunnâs ‘anfa’uhumlinnâs). Sebab, seperti disebut Nabi, orang kaya merupakan salah satu pilar atau sendi bangunan masyarakat yang sejahtera, disamping penguasa, ulama, dan do’a para fakir miskin (al-Hadîs).

Banyak contoh para pemimpin yang mendaratkan budaya berbagi itu. Khadijah, ummul mikminîn dan Usman ibnu Affân telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan mereka. Dari jajaran orang kaya penguasa terlihat Umar inbu Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khulafaurrasyidin yang kelima, dan Harun al-Rasyid pada dinasti Abbasiyah. Mereka telah mendaratkan budaya berbagi itu dalam kehidupan dan dalam pemberdayaan masyarakat mereka.

Islam memandang mulia orang yang memiliki budaya berbagi, dan memperingatkan bahwa budaya berbagi itu tidak hanya harus ditegakkan oleh orang yang berkecukupan melainkan oleh setiap orang. Bedanya hanya terdapat pada kuantitas dan kualitas yang dibaginya. Sebab dalam apa yang mereka miliki terdapat hak orang lain yang membutuhkan. 

Kelalaian seseorang untuk berbagi, apalagi secara sengaja tidak mau berbagi, akan menyebabkan dirinya teralienasi dari manusia dan Tuhan, yang kurang lebih dapat diillustrasikan sebagai berikut: “Anda akan menemuinya jauh dari Tuhan, dari Nabi, dan dari manusia. Akan anda temui dia selalu sombong dan memandang orang sebelah mata. Jika bicara selalu menghina dan melukai perasaan orang lain. Jika memberi ia pamrih dan mendikte. Dia selalu minta agar orang lain berlutut dan tunduk padanya. Rasa kepedulian tidak pernah bersemi dalam perilakunya”. Terang saja bahwa keengganan sebagian orang untuk berbagi akan memunculkan kecemburuan dan berbagai kerawanan sosial, yang pada akhirnya mengganggu ketenangan dan kenyamanan masyarakat, termasuk para pemilik harta.

Menumbuhkan Berbagi 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ramadhan adalah momentum untuk menumbuhkan kembali budaya berbagi di tengah masyarakat kita, karena di sini seorang Muslim diminta untuk dapat mendaratkan budaya berbagi secara mengesankan. Rasulullah Saw meminta orang yang berpuasa untuk membagi bukaannya pada jirannya, dan di bagian akhir Ramadhan seorang Muslim diminta untuk menyepurnakan ibadahnya dengan membayar zakat fitrah. Seorang Muslim yang memiliki budaya berbagi paling tidak ditandai oleh empat karakternya. 

Pertama, ia yakin sepenuhnya bahwa pemilik hakiki dari kekayaannya adalah Allah SWT, yang ia miliki adalah hak guna pakai. Dengan demikian ia tidak penah sombong karena kepemilikannya. Kedua, orang yang memiliki budaya berbagi selalu sadar bahwa fungsinya hanyalah fungsi distributif. Oleh karenanya ia selalu berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas kekayaannya secara legal, kemudian memiliki kepedulian dengan membagi hak-hak orang lain yang ada dalam hartanya.

Ketiga, humanistik, dia sadar bahwa dirinya adalah manusia biasa. Kalaupun ia berbeda dengan yang lain, bukan dalam hal kemanusiaan, melainkan kewajiban untuk menyantuni mereka.

Dengan demikian ia tidak akan menganggap enteng orang ia pernah atau sering memberi kepadanya. Keempat, amanah, memiliki kesadaran bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu dapat diambil-Nya. Untuk itu ia akan bertindak sebagai pemegang amanah yang baik, menggunakan kekayaannya hanya untuk sesuatu yang direstui pemiliknya, Allah Swt.

Begitulah, kita perlu menginternalisasikan budaya berbagi ini pada segenap anggota keluarga. Berilah sedikit harta agar mereka langsung memberikannya kepada yang membutuhkan. Beri pula pembekalan pada mereka bahwa pemberian pada yang lain bukan berdasar belas kasihan tetapi berbasis kewajiban; kita wajib membaginya dan kita tidak berhak memandang enteng terhadap orang yang kita pernah atau sering memberi kepadanya. 

Penulis adalah peneliti di Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Kota Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Kiai, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

“Dicap bid’ah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah,” ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agama—melainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak,” urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. “Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai,” imbaunya.

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. “Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka,” harapnya. (rif)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, AlaSantri, Budaya Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

Lakpesdam Jepara: UU Desa Titik Awal Pembangunan Desa

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Lembaga Kajian dan Pengembangan Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Jepara menyelenggarakan seminar dan workshop perihal UU Desa di Rumah Makan Maribu Jepara, Sabtu (10/9). Diskusi yang diikuti sedikitnya 100 orang ini dipandu dua fasilitator Deni Hendarko dari Bapermades Jepara dan Ari Sujito Sosiolog UGM Yogyakarta sekaligus Satgas Desa Kemendes RI.

Ketua Lakpesdam PCNU Jepara Ahmad Sahil menekankan bahwa sebelum adanya UU No.06 tahun 2014, desa identik dengan kekalahan dan ketidakberdayaan.

Lakpesdam Jepara: UU Desa Titik Awal Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Jepara: UU Desa Titik Awal Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Jepara: UU Desa Titik Awal Pembangunan Desa

Desa, kata Gus Sahil, menjadi subsistem terbawah yang terasing dari pemerintahan republik ini. “Manisnya kue pembangunan hanya sebatas slogan yang tampak tidak berubah dari waktu ke waktu di desa adalah wajah kemiskinan dan keterbelakangan,” tegasnya sebagaimana rilis yang dikirim ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Meskipun terdapat potensi sumber daya alam yang menjanjikan pada akhirnya kekayaan tersebut akan dimanfaatkan oleh para kapitalis dan segelintir elit desa.

“Seiring dengan adanya UU Desa inilah cerita pembangunan desa dalam arti yang sebenarnya dimulai. Hal ini merupakan titik awal pembangunan desa tetapi harus ada komitmen bersama untuk memastikan UU desa ini terimplementasi secara maksimal,” harapnya.

Deni Hendarko menyatakan pelaksanaan UU Desa selama dua tahun ini diakui masih terdapat sejumlah kelemahan dalam tahap implementasinya di lapangan. Misalnya keterlambatan pencairan dana yang baru cair pada pekan ketiga bulan Desember 2015 mengakibatkan terbengkalainya rencana-rencana pembangunan yang sudah ada.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Ari Sujito menjelaskan bahwa sesungguhnya semangat dari UU desa adalah mengembalikan desa beserta segala keistimewaannya setelah sekian lama dirusak dengan segala peraturan yang ada oleh rezim Orde Baru.

Semangat dari UU no.79 adalah menyeragamkan semua desa yang ada di Indonesia untuk memudahkan kontrol demi kepentingan kekuasaan negara. Penyeragaman ini telah merusak dan memusnahkan sistem pemerintahan dan sistem sosial yang bersumber dari kearifan lokal inilah zaman kegelapan desa yang diciptakan oleh rezim orde baru. Setelah lama dalam zaman kegelapan akhirnya zaman pencerahan menyingsing saat orde reformasi dengan terbitnya UU No.22 tahun 1999.

Semangat membangun desa berlanjut dengan UU No.32 tahun 2004, namun demikian UU ini hanya menyediakan banyak uang untuk pembangunan desa, namun prosesnya tetap top down. Hal ini semakin mengokohkan desa sebagai obyek pembangunan yang tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.

Pembangunan tidak berbasis kebutuhan masyarakat desa akan tetapi hanya berbasis pada kepentingan orang kota terutama elit politik tertentu. Akhirnya sistem menjadi macet karena banyaknya kepala desa yang tidak melaksanakan musrembangdes dan masyarakat semakin apatis.

Sampai akhirnya muncullah program PNPM sebagai upaya korektif untuk pembangunan yang bias kota. Sayangnya PNPM hanya berbasis project, berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat tetapi tidak mengubah sistem dan sumber pendanaannya juga hasil dari hutang bank dunia, semakin mempersulit posisi desa.

Sampai terbitnya UU desa tahun 2014 ini, Undang-undang ini sebetulnya adalah hasil dari perjuangan dari desa itu sendiri. Jika terdapat kelemahan dalam tataran desa dalam implementasinya harap dimaklumi bersama, tidak ada desa atau pun kepala desa yang bodoh yang ada adalah mereka belum diberi kewenangan dan kesempatan untuk belajar.

“Dorong desa untuk terus berinovasi dan membangun secara jujur jangan malah ditakut-takuti dengan rezim administratif. Jika ini sudah diwujudkan maka desa dengan sendirinya akan menjadi inklusif,” tandas Ari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal News, Syariah, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Aceh Samsul B Ibrahim mengecam pernyataan tak terpuji Perdana Menteri Australia Tony Abbot yang mengungkit bantuan kemanusiaan pascamusibah gempa dan tsunami pada 2004 silam. Samsul mendesak Tony Abbot meminta maaf secara langsung kepada seluruh masyarakat Aceh dengan mengunjungi Serambi Mekkah.

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Samsul? mengatakan, pihaknya menghargai Australia yang meminta pembatalan hukuman gantung terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran karena kasus Narkoba. Bahkan, sikap enam mantan PM Australia yakni Malcolm Fraser, Bob Hawke, Paul Keating, John Howard, Kevin Rudd, dan Julia Gillard yang menyerukan hal serupa, menurut Samsul merupakan sebuah langkah wajar yang dilakukan tokoh-tokoh Australia terhadap warganya.

“Namun mengungkit bantuan kemanusiaan seperti pernyataan Abbot adalah dosa besar sekaligus mencoreng wajah warga Australia yang mungkin ikhlas membantu Aceh. Dia harus datang ke Aceh untuk meminta maaf secara langsung,” katanya dalam siaran pers, Ahad (22/2).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Samsul menambahkan, hukuman mati terhadap pelaku kriminalitas tertentu bukanlah hal baru dalam konteks hukuman internasional. Praktik hukuman mati sudah diterapkan di berbagai negara baik itu Malaysia, Iran, China, Libya, Suriah, hingga Amerika Serikat.

“Dalam hal vonis hukuman mati yang diputuskan terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran di Indonesia, seharusnya Australia fokus mengumpulkan alat bukti tertentu yang mampu menghindari kesalahan vonis. Faktanya hingga vonis dijatuhkan, kesalahan pidana terkait peredaran Narkoba yang dialamatkan kepada Andrew Chan dan Myuran Sukumaran tak bisa terbantahkan,” tuturnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Karena itu, Tony Abbot sebagai Perdana Menteri Australia harus menghargai putusan hukum tersebut. Kedaulatan hukum Indonesia merupakan komponen yang tak bisa diintervensi oleh siapapun. Lagipula, putusan hukum itu semata-mata dilakukan untuk memberikan peringatan keras terhadap peredaran Narkoba di Indonesia.

“Ini bicara soal hukum dan kedaulatan negara. Sebagai Pemuda Nahdliyin, apa yang diungkit oleh Abbot sungguh perilaku sangat tercela,” kecamnya.

Ancaman Investasi

Di lain hal, Samsul menyebutkan masyarakat Aceh sebenarnya merupakan masyarakat yang cukup bijak dalam menyambut warga manapun. Buktinya, selama ini perusahaan asal Australia sudah beroperasi di Aceh. Beberapa perusahaan asal Australia itu melakukan investasi di sektor energi, pertambangan, hingga perkebunan.

“Sejauh yang kami terlusuri demikian informasinya. Misalnya seperti Triangle Energy (Global) Limited yang mendapatkan hak pengelolaan blok minyak dan gas di Wilayah Pase. Tidak hanya itu, sekitar Desember 2014 lalu, GeRAK bahkan pernah membuat laporan tentang penjualan izin usaha pertambangan kepada perusahaan asing asal Australia baik di Aceh Selatan, maupun di Tamiang. Nah, gimana kalau hal itu kita lempar ke muka Abbot,” tegas Samsul.

Dia berharap, tokoh-tokoh dan seluruh warga Australia tidak membiarkan perilaku tercela Tony Abbot ini merusak hubungan diplomatis kedua negara. Apalagi selama ini, hubungan kedua negara ini selalu memberikan kontribusi yang terukur bagi kedua negara baik di sektor ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan hal-hal lainnya.

“Kami meminta tokoh-tokoh serta warga Australia untuk menyadarkan Tony Abbot. Mereka harus mendesak Abbot meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh di Aceh, bukan di Canberra. Dia harus berani meminta maaf. Kalau tidak, ini akan menjadi catatan sejarah betapa warga Australia rela dipimpin oleh sosok yang tidak bermoral seperti Abbot,” tutup Samsul. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Bahtsul Masail, Syariah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock