Jumat, 03 November 2017

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Seperti diberitakan sejumlah media, di Jawa Timur ada tradisi minta hujan dengan cara saling cambuk yang dikenal dengan istilah tiban. Kesenian tradisional meminta hujan ini berlaku di daerah Kediri, Blitar, Tulungagung, serta Trenggalek.

Tradisi yang masih bertahan ini memantik keprihatinan Wakil Ketua Pengurus Wilayah ? Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur H Farmadi Hasyim. "Masyarakat khususnya kaum muslimin hendaknya mengembalikan segala tradisi pada ketentuan agama," katanya, Senin (2/11).

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’

Penceramah di sejumlah radio dan televisi di Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam pandangan fikih, meminta hujan dikenal dengan cara sholat istisqa. "Dan alhamdulillah, di sejumlah kawasan bisa menyelenggarakan sholat ini dan tidak lama kemudian hujan turun," kata ustadz H Farmadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di beberapa kitab kuning telah diceritakan bahwa tradisi meminta hujan ini pernah dilakukan para nabi. "Bahkan pada zaman Nabi Musa juga pernah terjadi paceklik lantaran hujan tidak segera turun. Saat itu seluruh anggota masyarakat dikumpulkan untuk berdoa dan memohon agar segera diturunkan hujan," kata H Farmadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada zaman Harun Ar-Rasyid.

Ustadz H Farmadi juga mengingatkan bahwa Islam sangat menghargai kesehatan dan keselamatan manusia. "Dan tradisi tiban dengan menyiksa dan melukai tubuh para pelakunya adalah tindakan yang disayangkan," terangnya.

Dengan tetap bertahannya tradisi tiban ini, ia menyarankan agar terus dilakukan pendekatan dan pendampingan kepada masyarakat. "Ini tugas semua kalangan khususnya para kiai dan ulama serta fungsionaris NU di berbagai tingkatan," sergahnya.

Kemarau berkepanjangan selama ini hendaknya disikapi dengan pendekatan agama. "Kita harus memperbanyak istighfar seperti yang dipesankan dalam surat Nuh ayat 10 hingga 12," katanya. Dalam ayat tersebut, lanjutnya, kaum muslimin diharuskan untuk istighfar, sehingga Allah akan menurunkan hujan dari langit dan juga menumbuhkan pepohonan.

Di samping itu, kesalahan berupa pembakaran lahan, polusi udara, penebangan hutan dan segala perilaku merusak alam juga segera diakhiri. "Insya Allah bila semua dilakukan, kemarau akan segera berakhir dan negeri ini juga mendapatkan pertolongan Allah," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Daerah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Kemarau Panjang, LDNU Jatim Imbau Nahdliyin Shalat Istisqa’ di Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock