Senin, 05 Februari 2018

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan penjajah Belanda, rakyat Aceh masih saja melakukan perlawanan terus-menerus. Aceh merupakan yang terakhir ditaklukan penjajah Belanda.

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Menurut Prof Dr Misri Al-Muchsin ada empat strategi perlawan rakyat aceh kepada Belanda. Ketika kesultanan, pasukannya dan masyarakat masih kuat, Aceh melawan Belanda dengan frontal atau perang terbuka.

Namun, ketika kerajaan telah dikuasai Belanda, rakyat Aceh tidak menyerah begitu saja. tapi lari ke pedalaman kemudian menyerang. Ini disebut perlawan semifrontal,” katanya kepada tim Ekspedisi Islam Nusantara yang tengah menjelajah negeri Serambi Mekkah tersebut Senin (2/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang ketiga, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry ini disebut dengan gerilya. “Caranya begini, rakyat Aceh membentuk grup atau kelompok-kelompok kecil, kemudian menyerang kam-kam Belanda,” lanjutnya.  

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah strategi perang yang paling ditakuti Belanda yang dikenal “aceh gila”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aceh gila, kata dia, adalah ketika rakyat Aceh sudah benar-benar tersecerai-berai, tak bisa berkoordinasi dengan yang lain dan sudah tak mamiliki komando perjuangan.

Aceh gila adalah perlawanan yang dilakukan sendiri-sendiri dimana saja bertemu dengan orang Belanda, saat itu pula menyerang. Itu adalah perlawanan terakhir orang Aceh. “Biasanya dilakukan malam jumat dengan berpakaian serba putih.”

Warna putih, menurut dia, sebagai simbol jihad fi sabilillah. Pelakunya siap mati sehingga ketika ia meninggal tak perlu repot menggunakan kain kafan.

Menurut dia, perilaku orang Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda dipengaruhi “Hikayat Perang Sabil” karangan Tengku Cik Panti Kulu pada abad 18. “Itu kemudian sering dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya dalam ayunan. Populer itu,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. “Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda di Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock