Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Pamekasan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan betul-betul menampakkan taringnya. Karena sangat kecewa terhadap kinerja KPU Pamekasan, mereka meluruk kantor penyelenggara pemilu yang terletak di Jalan Brawijaya itu.

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU (Sumber Gambar : Nu Online)
Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU (Sumber Gambar : Nu Online)

Golput 284.511, PMII Pamekasan Demo KPU

Di bawah terik matahari, massa yang dikomandani Ketua Umum PMII Ahmad Sidik itu memadati jalan dari Arek Lancor menuju Kantor KPU Pamekasan di Jalan Brawijaya Nomor 34, pukul 09.30, Kamis (5/9).

Mereka menjadi perhatian tersendiri para pengendara dan masyarakat sepanjang jalan perkotaan. Massa PMII menggunakan aksesoris tak ubahnya perampok, yaitu bertopeng plastik hitam. Plastik yang biasa dijadikan wadah makanan ringan itu, diberi lubang tiga. Letaknya di kedua mata dan hidung untuk nafas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikawal ketat oleh aparat kepolisian dari Polres Pamekasan, Didik--panggilan akrab Ahmad Sidik, menegaskan betapa aksesoris yang dikenakannya itu sebagai sindiran terhadap kinerja KPU Pamekasan. 

"Kinerja KPU Pamekasan sangat luar biasa, sangat mengecewakan. Ia terbilang berjasa mempersempit partisipasi pemilih. Buktinya, angka golput Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan mencapai 284.511 orang," tegas Adiet, Ketua III PC PMII Pamekasan yang turut menjadi korlap aksi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ditambahkan Didik, DPT Kabupaten Pamekasan sebanyak 636.342. Yang milih hanya 391.831 orang.

"Dan anehnya, di samping yang golput mencapai ratusan ribu orang, suara yang tidak sah juga mencengangkan. Yaitu mencapai 6.497 orang," ungkapnya.

Fakta tersebut, terangnya, tiada lain karena sosialisasi yang dilakukan KPU Pamekasan sangat tidak digubris oleh masyarakat. KPU ini digaji pakai orang rakyat, katanya, tapi manfaatnya nihil.

Di bawah sengatan matahari, aktivis pergerakan berjibaku dengan aparat kepolisian yang membuat pagar betis di depan Kantor KPU. Didik beserta sahabat-sahabat menghendaki semua komisioner KPU Pamekasan keluar menemui mereka.

Sayangnya, yang keluar hanya komisioner Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, Didin Sudarman.

"Sebentar, Pak. Saya ingin bertanya: apakah semua komisioner KPU berkenan menemui kami. Kami hanya mau minta pertanggungjawaban pihak KPU atas tercerainya demokrasi di Pamekasan," tanya Didik.

Didin merespon pertanyaan Didik. Pihaknya menegaskan, kedua komisioner KPU lainnya sedang berdinas. Agus Kasiyanto dikatakan sedang ke Surabaya untuk mengurus PAW anggota dewan yang kembali nyaleg dan lompat partai. Sedangkan Nuzzulul Qurnain mengawal pengiriman surat suara hasil pencoblosan ke KPU Jawa Timur.

Penjelasan Didin ini justru memantik rasa gerah para aktivis gerakan. Apalagi, Didin kembali masuk ke dalam halaman Kantor KPU sembari menelpon komisioner lainnya.

Aksi dorong mendorong dengan pihak kepolisian tampak ricuh. Untungnya, ketegangan dengan aparat kepolisian tersebut disikapi dengan sigap oleh Kapolres AKBP Nanang Chadarusman.

"Kita ini sama-sama bertugas. Tolong hormati etika," kata AKBP Nanang Chadarusman. 

Atas upaya mediasi yang dilakukan AKBP Nanang Chadarusman, terjadilah komunikasi aktif antara pimpinan PMII dengan Didin.

"Kami tegaskan kembali, Pemilukada Jawa Timur di Pamekasan terbilang gagal. Saya sendiri waktu pencoblosan mendengar pertanyaan dari pemilih. Ia mempertanyakan mana foto kepala desanya. Dikira pilgub ini pemilihan kepala desa," ungkap Didik. 

Didin menimpali, sosialisasi telah dilakukannya sampai turun ke desa-desa, sampai ke sekolah-sekolah yang muridnya memiliki hak pilih. "Hingga di pengajian-pengajian, kami sudah melakukan sosialisasi," terangnya.

Penjelasan Didin ini dibantah oleh Didik. Menurutnya, itu tidak dilakukan secara merata. Pihaknya mendesak agar kinerja KPU Pamekasan dibenahi ke depannya.

Sebagai pelampiasan kecewa atas kinerja KPU Pamekasan, aktivis PMII membakar ban bekas. Baliho yang dipancangkan di hadapan Kantor KPU pun mereka bakar.

"Baliho-baliho ini hanya tersebar di kota-kota. Sangat tidak memberikan banyak manfaat," kecam massa aksi. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Tokoh Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal



Rais ‘Am Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya memerintahkan kepada Pengurus Cabang (Idaroh Syubiyah) membuka posko layanan kedatangan peserta muktamar di Pekalongan 23 - 27 Desember 2017 yang menggunakan jalur darat . Perintah itu berlaku bagi pengurus yang berada di jalur Pantura, mulai Cirebon hingga Lasem. 

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Perintahkan Buka Posko Layanan Peserta Muktamar JATMAN di Jalur Pantura

Pembukaan posko layanan dirasa cukup penting, pasalnya mayoritas peserta muktamar JATMAN adalah berasal dari pulau Jawa yang akan hadir menggunakan jalur darat. Sehingga untuk membantu kemudahan dan kelancaran  peserta, kiranya dirasa perlu Pengurus Cabang Jatman yang ada di jalur Pantura membuka posko bekerja sama dengan Kodim, Polres, Rumah Sakit dan Banser.

Ketua 1 Panitia Muktamar JATMAN KH. Mirza Hasbullah mengaku telah menindaklanjuti perintah Rais ‘Am dengan berkoordinasi kepada Pengurus Cabang Jatman yang berada di Jalur Pantura untuk membuka posko layanan bekerjasama dengan berbagai pihak mulai tanggal 22 - 24 Desember mendatang.

"Posko layanan sifatnya hanya membantu kepada peserta muktamar yang mengalami masalah di perjalanan, sehingga berbagai kesulitan yang dialami peserta muktamar seperti ban bocor, mobil mogok hingga jika terjadi laka lantas dengan cepat bisa dibantu oleh petugas posko," ucap Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, Hingga saat ini telah tercatat ada 7.500 calon peserta yang akan menghadiri Muktamar ke-12 di Pekalongan. Dari ribuan peserta yang hadir, mayoritas berasal dari pulau Jawa yang menggunakan jalur darat. Maka, pihaknya memandang perlu membuat posko layanan informasi seputar bengkel mobil, rumah sakit hingga Polres dan Kodim setempat untuk mempermudah dan memperlancar perjalanan peserta.

"Nantinya pola kerja pengurus cabang melakukan kerja sama dengan pihak terkait dan santri santri pondok pesantren untuk berjaga di posko secara bergiliran," ujar Kiai Mirza.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hingga berita ini ditulis, berbagai persiapan terus dilakukan oleh panitia pusat maupun daerah. Beberapa seksi dalam kepanitiaan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama pada kesiapan tim regristasi peserta yang akan dibagi di dua tempat mengingat banyaknya peserta dan penempatan akomodasi penginapan peserta di rumah rumah penduduk yang selesai dipersiapkan.

KH Mirza yang juga Koordinator Khidmah Husnul Khotimah Muktamar mengaku telah merampungkan pendataan penginapan peserta yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Wonopringgo, Kedungwuni, Buaran, Warungasem, Bojong, Tirto, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat. 

Pemondokan peserta menurut Mirza tidak saja menyediakan penginapan, akan tetapi juga konsumsi, kendaraan plus bensin dan sopir. Dari pantauan di lapangan ada beberapa pemodokan  yang menyediakan penginapan, konsumsi dan mobil ditanggung secara gandeng renteng oleh masyarakat setempat, sehingga dapat tercipta suasana kebersamaan dalam semangat menyukseskan hajatan nasional berupa Muktamar Thariqah untuk yang ketiga kalinya di Pekalongan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Sunnah, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Merauke,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Merauke, Papua di Rumah Kediaman memfasilitasi pembentukan Ikatan Muslim Marind (suku bangsa asli Merauke) di kediaman Maliha Arsyad Basik-Basik di Gudang Arang, Kelurahan Kamahe Doga.

Kegiatan yang berlangsung akhir Ramadhan atau 4 Juli lalu tersebut, secara aklamasi terpilih Burhanuddin Zein sebagai ketua dan Jumat Dambujai sebagai sekretaris.

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Merauke Fasilitasi Pembentukan Ikatan Muslim Marind

Burhanuddin Zein adalah pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Idonesia (PMII) di Kabupaten Merauke. Saat ini tercatat sebagai Ketua Majelis Pembina PMII dan Sekretaris Dewan Penasehat PC GP Ansor Kabupaten Merauke.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Marind untuk lebih meningkatkan dan mempersiapkan SDM Muslim Marind untuk mampu mengambil peran terdepan dalam pembangunan di tanah Marind, Merauke dan Papua Selatan. (Syahmuhar M Zein/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Surabaya, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Terus molornya penyelesaian kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, sangat mengecewakan warga Kota Petis itu. Apalagi proses verifikasi tanah yang semakin rumit dan semakin banyak saja persyaratan yang diminta oleh pihak PT Minarak, perusahaan yang diminta Lapindo membayar ganti rugi. Warga semakin kecewa. “Penanganan lumpur selama ini sangat-sangat-sangat kurang maksimal,” kata Drs H Abdi Manaf, Ketua PCNU Sidoarjo di Surabaya, Sabtu.

Ia mencontohkan, kalau dulu, Lapindo belum mengakui tanah yang berstatus petok D dan letter C, lalu minta disetujui Bupati. Ketika Bupati dan pemerintah pusat sudah mengakui, bahkan bupati bersedia menjadi jaminan, ternyata Minarak menambah syarat lagi, yaitu riwayat tanah. “Ini jelas semakin mempersulit warga,” lanjut Gus Manaf. “Tampaknya memang ada kesan Lapindo sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran ganti rugi pada warga,” lanjutnya.

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Yang membuat hati alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak enak, ternyata selama ini pihak Lapindo masih belum merasa bersalah atas musibah itu, sekalipun sudah ribuan orang hidup di pengungsian dan kehilangan harta benda. Kesimpulan itu diterima Gus Manaf ketika bertemu langsung dengan Andi Darussalam dari PT Minarak. Kalaupun Lapindo selama ini mau mengeluarkan uang, hal itu semata-mata hanya karena tanggung jawab sosial.

Penyelesaian lumpur Lapindo yang diinginkan warga, menurut Gus Manaf, sebenarnya tidak muluk-muluk. Pemerintah memberikan jaminan ganti rugi kepada warga, lalu seluruh aset Lapindo dijadikan jaminan kepada pemerintah. Selesai. “Kalau pemerintah bilang tidak punya uang, buyar saja negara ini, masak negara kok tidak punya uang untuk memberikan ganti rugi warganya,”? terang putra Bawean itu.

Tapi sayang, pemerintah tampaknya tidak punya keberanian untuk melangkah ke sana. Sedangkan pihak Lapindo hanya mengobral janji-janji terus, nyaris tak ada pembuktian. Pemerintah juga tidak berani mengambil langkah lebih tegas lagi pada perusahaan milik keluarga Bakrie itu.

Gus Manaf tidak bisa membayangkan sampai kapan proses verifikasi tanah warga akan selesai. Sebab, dari 16 ribu warga yang akan diverifikasi, hanya terselesaikan 10 sampai 15 orang setiap harinya. Itupun belum termasuk yang harus dikembalikan berkasnya, karena dinilai belum lengkap. “Terus kapan selesainya?” tanyanya tak habis mengerti.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain, ia menilai peranan empat orang anggota DPD asal Jawa Timur dalam soal Lumpur Lapindo masih sangat kurang. Sebab mereka baru datang ke lokasi lumpur setelah musibah itu berlangsung lebih dari satu tahun. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. “Katanya sih untuk menyerap aspirasi,” tutur Gus Manaf.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Penanganan lumpur selama ini, kata Gus Manaf, ibarat lingkaran setan. Pemerintah tidak berani menjadi jaminan, sedangkan Lapindo yang menyatakan sanggup membayar ganti rugi, ternyata hanya mengobral janji. “Kalau begini terus, kan kasihan orang-orang itu,” tegasnya. (sbh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, News, Sholawat Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan penjajah Belanda, rakyat Aceh masih saja melakukan perlawanan terus-menerus. Aceh merupakan yang terakhir ditaklukan penjajah Belanda.

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Aceh Gila” Paling Ditakuti Penjajah Belanda

Menurut Prof Dr Misri Al-Muchsin ada empat strategi perlawan rakyat aceh kepada Belanda. Ketika kesultanan, pasukannya dan masyarakat masih kuat, Aceh melawan Belanda dengan frontal atau perang terbuka.

Namun, ketika kerajaan telah dikuasai Belanda, rakyat Aceh tidak menyerah begitu saja. tapi lari ke pedalaman kemudian menyerang. Ini disebut perlawan semifrontal,” katanya kepada tim Ekspedisi Islam Nusantara yang tengah menjelajah negeri Serambi Mekkah tersebut Senin (2/5).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Yang ketiga, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry ini disebut dengan gerilya. “Caranya begini, rakyat Aceh membentuk grup atau kelompok-kelompok kecil, kemudian menyerang kam-kam Belanda,” lanjutnya.  

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah strategi perang yang paling ditakuti Belanda yang dikenal “aceh gila”.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Aceh gila, kata dia, adalah ketika rakyat Aceh sudah benar-benar tersecerai-berai, tak bisa berkoordinasi dengan yang lain dan sudah tak mamiliki komando perjuangan.

Aceh gila adalah perlawanan yang dilakukan sendiri-sendiri dimana saja bertemu dengan orang Belanda, saat itu pula menyerang. Itu adalah perlawanan terakhir orang Aceh. “Biasanya dilakukan malam jumat dengan berpakaian serba putih.”

Warna putih, menurut dia, sebagai simbol jihad fi sabilillah. Pelakunya siap mati sehingga ketika ia meninggal tak perlu repot menggunakan kain kafan.

Menurut dia, perilaku orang Aceh yang berjuang melawan penjajah Belanda dipengaruhi “Hikayat Perang Sabil” karangan Tengku Cik Panti Kulu pada abad 18. “Itu kemudian sering dinyanyikan seorang ibu kepada anaknya dalam ayunan. Populer itu,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Oleh Muhammad Afiq Zahara



Saya perkirakan lebih dari 30 persen santri adalah petani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai mata pencariannya. Mereka tinggal di desa-desa, tidak jarang merangkap sebagai guru ngaji atau profesi lainnya. Kehidupan mereka berada di bawah garis cukup. Hanya saja, pendidikan agama yang mereka peroleh menguatkan rasa kepasrahan mereka melebihi manusia pada umumnya.

Pertanian di Indonesia dalam skala besar sedang menghadapi krisis kualitas dan kuantitas. Generasi muda kita tidak berminat untuk terjun di bidang pertanian. Lebih suka berpindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Belum lagi label “tiang tanos” (orang tani) yang dalam kultur kita sering dipandang sebagai orang bawah atau kelas terbelakang. Ditambah gaya hidup hedonistik yang dimunculkan sinetron-sinetron kita di televisi. Membuat minat generasi muda kita semakin terkikis

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri-Petani dan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri-Petani dan Ketahanan Pangan

Sekarang ini, hampir tidak ada anak gadis yang bekerja di sawah. Alasannya macam-macam, dari mulai kurang gaul, takut hitam, jijik lumpur, sampai takut make up-nya luntur. Memang, di era globalisasi ini kecantikan telah direduksi maknanya sedemikian rupa oleh pabrik kosmetik dan iklan-iklannya. Pabrik-pabrik itu memonopoli pengertian tentang cantik. Akibatnya, cantik adalah apa yang digambarkan oleh iklan dan pabrik-pabrik kosmetik itu. Tidak ada lagi pemahaman tentang inner beauty, jika pun ada, ya, sekadar basa-basi.

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat generasi muda kita dalam bidang pertanian. Para pemuda takut dianggap kurang cool (keren), begitupun sebaliknya. Padahal, nenek moyang kita, laki-laki dan perempuan, pemuda dan gadis, menggarap sawah dengan penuh kerendah-hatian dan ketelatenan. Sekarang, jika generasi tua sudah tidak ada, siapa yang akan menggarap sawah-sawah itu?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kecenderungan merantau generasi muda ke kota menjadi problem lain yang perlu diatasi. Berkembang atau tidaknya sebuah desa bergantung pada tenaga produktifnya. Jika tenaga produktifnya tidak ada (bekerja di kota), hasil panen akan menurun. Lambat laun, kebutuhan pangan di pedesaan akan disuplai dari luar.Desa yang tadinya produsen berubah menjadi konsumen pangan.

Selain itu, kecilnya keuntungan pertanian pangan dan harga sawah yang tinggi menjadi penghalang generasi muda kita untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik dari bertani. Di samping tidak jarang para pemilik sawah merubah fungsi lahannya menjadi tempat produksi batu bata karena dinilai lebih prospektif.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah berubahnya lahan pertanian pangan menjadi perumahan dan perkebunan seperti kelapa sawit, kakao dan lain sebagainya. Tergantung permintaan pasar dan pertimbangan ekonominya. Hal ini menyebabkan angka produksi pangan nasional menurun.Impor beras dari luar negeri seakan-akan tidak dapat dihindarkan lagi. Parahnya, konversi itu tidak dibarengi dengan pembukaan lahan persawahan baru, sehingga ketahanan pangan kita terancam.

Akibatnya, dari kurun 2010-2013 impor beras nasional kita meningkat secara signifikan (Yunita T. Winarto [ed], Krisis Pangan dan “Sesat Pikir”: Kenapa Masih Berlanjut?, Pustaka Obor, 2016, hlm 174). Apabila kecenderungan impor yang disebabkan oleh stagnasi produksi pertanian terus berlanjut dan tidak ada perbaikan, kita akan memasuki situasi yang sangat aneh untuk sebuah negara agraris, ketergantungan pangan pada negara lain. 

Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di pesantren tradisional, tidak sedikit santri yang menggarap ladang milik pesantren atau kiai. Baik santri putra maupun santri putri berperan aktif dalam proses cocok tanam hingga panen. Karena kehidupan mereka terbangun dari kultur pesantren, mereka belum terpengaruh gaya hidup hedonistik yang berkembang di luar. Mereka menghabiskan waktunya dengan belajar, menghafal, kerja bakti dan mengaji.

Banyak dari mereka ketika pulang ke daerahnya masing-masing menyandarkan hidupnya dari pertanian, menggarap sawah milik orangtua atau mertuanya.Perasaan gengsi tidak terlalu berpengaruh dalam diri mereka, meski tetap saja ada yang terpengaruh oleh hal itu. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka dengan teguh menggenggam nilai-nilai kesantriannya.

Persoalannya malah terletak pada kecakapan mereka dalam bertani. Mereka tidak mendapatkan pendidikan atau pengajaran tentang cara bercocok tanam yang baik. Cara bertani mereka masih sangat tradisional dan seadanya, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih di pesantren. Karena itu, dalam hal melestarikan pertanian, mereka cukup memberikan pengaruh. Namun, dalam hal peningkatan produksi pangan, peran mereka masih teramat kecil.

Memandang hal tersebut, saya berpendapat, sudah saatnya pesantren mengembangkan pertanian dengan serius. Metode cocok tanam yang baik, pengenalan lahan pertanian, pencegahan hama yang efektif, dan bagiamana cara meningkatkan hasil panen harus diajarkan secara sistematik dan tepat.Pesantren harus membuka kelas-kelas pertanian modern yang rapih tanpa mengganggu proses ajar-mengajar santri.

Dilihat dari fenomena sosial yang berkembang, khususnya hilangnya minat anak muda untuk bergelut di bidang pertanian, dengan karakter kulturnya yang khas, santri bisa berperan aktif meningkatkan produksi pangan nasional. Tidak sekadar bertani ala kadarnya. Pesantren harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan santri-petani yang mumpuni dan cakap.

Memang, sudah ada beberapa pesantren yang mengambil langkah ini, bahkan menjadikan pertanian sebagai ciri khasnya, seperti Pesantren Pertanian Darul Fallah di Bogor. Namun, pesantren dalam arti luas masih sangat jauh menuju ke arah itu. Pertanian harus dilebur dengan pesantren, terlepas apapun tipologi pesantrennya. Pemanfaatan lahan persawahan milik pesantren atau kiai harus diarahkan sebagai sarana belajar yang terskema dengan rapih, tidak sekadar penjalanan tugas santri kepada kiai dan pesantrennya.

Meskipun pertanian di pesantren umum (bukan pesantren takhasshus) sekadar kegiatan ekstra, tetapi kegiatan ekstra itulah yang kemudian banyak dijadikan mata pencarian oleh santrinya. Karena itu, diperlukan penyikapan yang lebih serius, dengan pendidikan pertanian yang matang sebagai bekal santri. Tidak hanya untuk mengarungi kehidupan pribadinya, tapi juga berperan serta dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Bukankah hal ini juga termasuk jihâd fî sabîlillah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, Internasional, Cerita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Sukoharjo. Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Sekitar tujuh ribu jamaah tumplek blek di Balai Desa Mulur Kecamatan Bendosari Sukoharjo, hadiri pengajian bertajuk “Jamaah bertanya Kiai menjawab” yang digagas Pengurus Wakil Cabang (MWC NU) Bendosari bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Sukoharjo, Rabu malam.

Kiai Muhammad Adib Zein dan Kiai Ahmad Baidlowi selaku narasumber mengupas sekitar thaharah. Sedikitnya ada tujuh jamaah bertanya secara langsung dan sembilan bertanya melalui SMS. Walau membicarakan tema thaharah, tapi jamaah ada yang bertanya tentang berbagai hal diantaranya soal, hukum makan bekicot, hukum makan daging anjing, yang di duga kelompok lain menghalalkan daging anjing, tata cara menyembelih hewan, dan kedudukan perempuan datang bulan yang mengikuti pengajian di masjid, dan lain sebagainya.

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Pantauan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, acara pengajian Jamaah Bertanya Kiai Menjawab identik dan menjadi “tandingan” pengajian kelompok lain di Solo Raya yang juga memakai metode sama, cuma bedanya yang ditanyakan selalu seputar hukum ziarah kubur, tahlilan bid’ah, dan kalau ada pertanyaan lain sang ustadz selalu berupaya mengarahkan dan menyinggung tata cara amaliah NU yang dianggap keluar dari tuntunan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Ketua PCNU Sukoharjo Muhammad Nagib Sutarno, model pengajian ala NU mengupas kitab kuning, lalu santri (jamaah) bertanya, harus digalakkan lagi di kalangan NU secara massif agar jamaah mengetahui secara mendalam berbagai persoalan baik ubudiyah maupun lainnya. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di sisi lain, jamaah terjaga dari pemahaman dari luar yang “menyerang” amaliyah NU. “Pengajian ini rutin dilakukan oleh NU Sukoharjo, untuk membangun soliditas jamaah,” kata Sutarno.

Sementara itu Ketua MWC NU Bendosari Agus Purwanggono menjelaskan, suksesnya pengajian ini tak lepas dari partisipasi semua pihak. Tampak hadir diantaranya Kepala Desa Mulur, Muspika Kecamatan Bendosari, pengurus GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, Jatman dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh    

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Kajian Islam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock