Pekalongan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mengaku tidak bangga menjadi Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN). Pasalnya, menyandang posisi itu sangat berat; tidak saja memimpin organisasi kumpulan tarekat yang mutabar saja, tetapi juga menjaga agar tarekat-tarekat di bawah naungan JATMAN tetap istiqomah dan lurus snadnya hingga Rasulullah.
| Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN (Sumber Gambar : Nu Online) |
Habib Luthfi: Saya Tidak Bangga Jadi Rais ‘Aam JATMAN
Bagi dirinya, menjadi pemimpin tidak saja bertaggung jawab pada organisasi setiap lima tahun sekali, tetapi lebih dari itu, bertanggung jawab dunia akhirat.Hal tersebut diungkapkan Habib Luthfi di hadapan Muktamirin usai dinyatakan terpilih oleh anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) pada sidang komisi Majelis Ifta yang diumumkan pada Sidang Pleno penetapan hasil hasil sidang komisi yang dipimpin DR Masyhudi.
"Saya sungguh tidak bangga menjadi Rais ‘Aam, tugas berat mengemban amanat di JATMAN tidak saja menjaga tarekat di bawah naungan JATMAN agar tetap lurus, tetapi juga mempertanggungjawabkan di dunia dan akhirat," ujar Habib Luthfi.
Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal
Keputusan lain terkait dengan sidang Majelis Ahwa ialah menetapkan Wakil Rais ‘Aam dijabat KH Ali Masadi asal Mojokerto, Jawa Timur, Katib ‘Aam KH Zaini Mawardi Demak. Selanjutnya Mudir ‘Aam dijabat KH Wahfiudin Sakam asal DKI Jakarta dan Wakil Mudir ‘Aam Habib Umar Mutohar.Sidang Pleno yang berlangsung Rabu malam (17/1) di Pendopo lama Kota Pekalongan juga menetapkan Ketua Umum Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN) Hamdani Muin, dosen UIN Walisongo Semarang untuk kedua kalinya.
Keputusan menunjuk Hamdani Muin, setelah pada Sidang Komisi Matan sepakat mengusulkan dua nama yakni Habib Husen bin Luthfi bin Yahya dan Hamdani Muin. Akan tetapi, setelah dua nama ini disodorkan ke Habib Luthfi selaku Rais ‘Aam terpilih, Habib Luthfi memilih Hamdani Muin dengan alasan anaknya belum saatnya menjadi orang pertama di Matan. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id

EmoticonEmoticon