Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?



Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi menyesalkan kecerobohan Malaysia pada SEA Games 2017 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Sabtu (19/8). Pasalnya, gambar bendera Indonesia terpampang dengan kondisi terbalik pada buku panduan pelaksanaan pesta olahraga negara-negara di Asia Tenggara itu.?

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Astaghfirullah, Bendera Indonesia Terbalik di SEA Games Malaysia

“Pembukaan #SEAgame2017 yg bagus tapi tercederai dg keteledoran fatal yg amat menyakitkan. Bendera kita....Merah Putih. Astaghfirullaah...,” ungkap Imam Nahrawi melalui akun Twitter pribadinya.

Pada twitt tersebut, menteri asal Madura, Jawa Timur itu juga menunjukkan gambar bendera Indonesia yang menjadi putih merah. Kesalah yang terletak di halaman 80 tersebut, hanya bendera Indonesia yang mengalaminya.?

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Khairy Jamaluddin, sebagaimana dilaporkan Okezone.com mengemukakan permintaan maaf atas kejadian memalukan pada pembukaan SEA Games itu.?

“Bapak Imam, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sesungguhnya tak ada niat jahat (terbaliknya bendera). Saya merasa kesal dengan kesalahan ini, mohon maaf,” tulis Khairy dalam akun Twitter miliknya, Sabtu (19/8). (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Sejarah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

Saling membantu sesama makhluk Allah sangat lazim dalam kehidupan di dunia ini. Pasalnya keberuntungan dan nasib orang berbeda-beda. Di sinilah letak pentingnya upaya manusia untuk saling menutupi dan saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

Imam Al-Ghazali sendiri menulis tatakrama perihal ini. Hujjatul Islam ini menyebut sejumlah rincian yang sangat ramah terhadap mereka yang memerlukan bantuan. Dalam Al-Adab fid Din Imam Al-Ghazali menyebut akhlak seorang yang bersedekah.

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramah Fakir Miskin menurut Imam Al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Seyogianya seorang yang ingin bersedekah mendonasikan hartanya sebelum diminta, diam-diam saat memberi, menutup-tutupi sedekahnya setelah memberi, ramah terhadap pengemis, jangan mengawali pembicaraan dengan jawaban penolakan, menolak permintaan dengan suara perlahan, mengusir godaan bakhil dari dalam hati, memberikan sesuatu sesuai permintaan atau menolaknya dengan cara yang baik. Apabila Iblis laknatullah berbisik, ‘Orang ini tidak berhak terima sedekah,’ maka jangan perhatikan nikmat yang anugerahkan pada si pengemis. Tetapi tegaskan di dalam hati bahwa orang tersebut layak menerima sedekah.”

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sejumlah rangkaian tatakrama bagi seorang yang berbagi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan ini sebenarnya dapat saja berbeda di zaman dan daerah tertentu. Hanya saja sejumlah tatakrama ini dibuat dengan tujuan agar mereka yang menerima bantuan tidak merasa terhina.

Demikian juga dengan pemberi. Semua etika ini diatur agar kedermawanan pemberi tidak kehilangan nilai di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Kyai, Aswaja, Makam Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Rembang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Ketika seseorang sudah berani maju berkompetisi menjadi pemimpin di negeri ini seyogianya ia tak menunjukkan kelemahannya dengan hanya menumpang tenar dan menjelekkan lawan. Mereka harus berani menunjukkan kehebatan diri.

Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan hal tersebut, Kamis (20/3), saat menerima kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi yang telah diumumkan sebagai calon presiden dari PDI-P.

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu menuturkan, selama dua jam berbicara bersama Jokowi, dirinya hanya berbicara seputar Indonesia dan tidak lebih dari pada itu. Pesan yang ia sampaikan juga berlaku untuk semua calon pemimpin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak ikut pemilu, tetapi warga NU yang menjadi peserta pemilu. Hakikatnya NU merupakan Organisasi kemasyarakatan yang netral. Namun demikian, tambah Gus Mus, banyak para peserta pemilu yang dianggap kurang percaya diri sehingga masih mengenakan atribut NU, guna menarik simpati masyarakat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ulama yang juga merupakan sastrawan Indonesia ini menghimbau, Nahdliyin menggunakan hak suaranya dengan baik. Pasalnya, menurut Gus Mus, hak suara yang kita dapat merupakan amanah, yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Ulama, Olahraga Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Staf Khusus kepresidenan Noer Fauzi menyebutkan, kejelasan status dan kepemilikan tanah masyarakat desa menjadi salah satu tantangan besar bagi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Marwan Jafar. Pasalnya, saat ini kepemilikan tanah di desa telah banyak beralih ke berbagai perusahaan dan masyarakat perkotaan.

"Bagaimana rakyat di pedesaan bisa maju kalau mereka tidak punya tanah. Kita tahu, bahwa satu perubahan penguasaan tanah di pedesaan telah banyak dikuasai oleh perusahaan luar dan orang kota," ungkapnya di Jakarta, Kamis (4/3).

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepemilikan Tanah di Desa Jadi PR Besar Kementerian Desa

Fauzi mengungkapkan, data statistik pertanian tahun 2003 hingga tahun 2013 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun lebih dari 5 juta petani di desa beralih profesi. Sebagian besar di antaranya bermigrasi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Inilah sebagian mereka pergi ke kota sehingga kota menjadi penuh. Mereka ke kota, ada yang menjadi TKW, bahkan ada yang menganggur di desa. Banyak juga di antara mereka yang menjadi migrasi sekuler. Mereka ke kota untuk bekerja dan dalam waktu tertentu mereka kembali ke desa," ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah mengemukan sebanyak 12,7 juta hektar hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat desa. Proses? bagaimana mendapatkan akses terhadap wilayah hutan tersebut, lanjut Fauzi, adalah sesuatu yang pasti akan menyejahterakan masyarakat desa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Begitu pula 9 juta hektar tanah negara yang akan didistribusikan ke desa. Ini bagaimana kita punya upaya memberdayakan orang yang tidak sanggup untuk memiliki tanah, dan mendapat kepastian tanah," ujarnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Aswaja, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Solo,Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Cara unik dilakukan oleh salah satu hotel di Kota Solo untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Pihak pengelola hotel membuat miniatur masjid yang terbuat dari jajanan khas Kota Solo, intip.

Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)
Lezatnya Masjid Berbahan Intip (Sumber Gambar : Nu Online)

Lezatnya Masjid Berbahan Intip

Selain menggunakan panganan berbahan baku nasi tersebut, masjid berdimensi 2×1,5x 1 meter tersebut juga dibuat dari beberapa makanan ringan tradisional lainnya seperti

rengginang dan keripik pisang.

Executive Chef hotel tersebut, Topan Noer menjelaskan, untuk membangun miniatur masjid tersebut, menghabiskan 15 kilogram intip, 3-5 kilogram kurma, 2-3 kilogram kismis serta dark coklat.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Miniatur masjid ini terinsipirasi bangunan masjid di Yordania yang terbuat dari bongkahan batu yang jika dilihat dari dekat pada dindingnya akan terlihat tekstur batu yang tidak beraturan,” terangnya, Jumat (27/6).

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Topan memaparkan alasan penggunaan makanan tradisional untuk membuat miniatur masjid tersebut, yakni untuk melestarikan kuliner Indonesia dan juga mengenalkan panganan khas Solo.

“Apalagi, mayoritas tamu yang menginap di sini berasal dari luar kota. Karena itu, kita juga sediakan contoh makanan yang kita gunakan untuk bisa dicicip,” ungkap Topan.

(Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Berita, Aswaja Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Yogyakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi, Sleman, DI Yogyakarta, kembali menerbitkan jurnal ilmiah dengan mengusung tema “Pesantren, Ushul Fiqh dan Politik Hukum: Maqashid Sebagai Metode Pendekatan”.

Kepada Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal, Muhammad Mustafid, selaku Pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara mengatakan empat hal yang melatarbelakangi munculnya tema tersebut dalam Jurnal Mlangi Edisi Ketiga ini, Rabu (08/01).

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Pertama, gerakan sosial yang pada akhirnya harus diukur dengan perubahan kebijakan. Karenanya, berbicara politik hukum nasional menjadi penting. Kedua, kekuatan asing saat ini, yang berkepentingan terhadap Indonesia memusatkan aktivitasnya pada rekonstruksi perundang-undangan sesuai dengan kepentingan mereka.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Hal ini sangat membahayakan kedaulatan nasional. Sistem hukum nasional saat ini mengalami kebuntuan dan kelumpuhan dalam menegakkan kedaulatan bangsa dan memenuhi hak-hak konstitusional warga Negara,” ujarnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketiga, kalangan pesantren, karenanya juga harus memberikan kehirauan yang tinggi pada hal tersebut. Bahkan pesantren harus menata ulang NKRI yang telah terongrong sedemikian rupa konstruksi hukumnya oleh kepentingan modal asing.

“Pesantren, sesuai mandat sejarahnya, harus menatanya melalui kontekstualisasi maqashid syari’ah,” tegas mantan aktivis PMII Universitas Gajah Mada tersebut.

Keempat, untuk kebutuhan tersebut dibutuhkan tajaddud dan tajdid (pembaharuan) dalam pemikiran ushul fiqh, yang saat ini tidak banyak digunakan sebagai kerangka kontekstual pencarian solusi permasalahan kebangsaan, kemasyarakatan, dan keislaman.

“Dengan ini, maka semua pemikiran fiqh akan dikembalikan pada mashalihul anam, atau meminjam istilah Jasser Auda, pada dilalatul maslahat,” tambahnya.

Jurnal setebal 223 halaman ini menyediakan beberapa tulisan yang berkaitan dengan tema yang telah diusung. Riset utama membicarakan tentang menata ulang NKRI berbasis maqashid syari’ah, peta pemikiran ulama ushul fiqh tentang maqashid syari’ah, dan ushul fiqh dalam kaitannya dengan kontekstualisasi atau reformulasi.

Sedangkan artikel utama tentang perkembangan dan pergeseran hukum nasional Indonesia, permasalahan paradigma dalam ilmu hukum, dan syari’at dan hak asasi manusia: hukum internasional dan hubungan internasional.

Kolom menyinggung tentang fungsi ilmu sosial, juga tiga struktur nalar dalam tradisi Islam. Sedangkan artikel lepas mengusung perempuan menggugat (Kajian atas QS al-Mujadilah [58]: 1-6), dan esai budaya dan sastra tentang para aastrawan jahiliah.

Muslim Legal Thought in Modern Indonesia: Sebuah Catatan Kritis; dan Wacana Ushul Fiqh dalam Literatur Pesantren mengisi rubrik review buku-kitab. Panorama global berisi tentang geo-politik huru-hara Arab.

Adapun apresiasi tokoh kali ini berjudul "Membaca Perjuangan Kiai Abdul Wahab Chasbullah", dan "Hunain Ibn Ishaq: Penerjemah Ensiklopedis dan Dokter Klinik". Mlangisiana berbicara mengenai membaca ulang kehidupan kaum santri: refleksi dari Mlangi. Dan Aswaja Bergerak tentang Risalah Aswaja: Sebuah Pendekatan normatif Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Rencananya jurnal tersebut akan dibedah di UIN Sunan Kalijaga pada 18 Januari 2014, dan setelah itu di Universitas Gajah Mada. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Hadits Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Probolinggo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa media sangat dibutuhkan oleh siapapun manusia yang hidup. Oleh karena itu bagaimana penyampai berita baik cetak maupun online serta radio mampu menulis informasi yang bukan konon katanya tapi jelas.

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Online Masih Teratas dalam Pencarian Berita dan Informasi

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin saat menghadiri buka bersama insan media dan radio komunitas yang digelar Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo di aula SMP Hati Billingual Boarding School (BBS) Kraksaan, Jum’at (16/6) sore.

“Hari ini siapapun yang mampu menyampaikan berita terhangat akan menjadi referensi pembenar bagi penerima berita. Sehingga berita media online dan radio menjadi pilihan untuk menerima sumber berita,” katanya.

Menurut Hasan, berita media online itu menjadi milik siapapun bagi yang memiliki media handphone. Sehingga media cetak akhirnya tidak dibaca bagi orang yang sibuk oleh aktvitasnya.

“Banyaknya aktivitas menjadi sulit membaca media cetak, Sehingga sulit menjadi pilihan untuk mendapatkan sebuah berita. Begitu keluar dari rumah naik kendaraan, setiap ingin berita sesuatu selain handphone saya putar radio. Ini sebuah potret zamannya bukan zaman saat saya masih kecil,” jelasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hasan menegaskan bahwa radio komunitas harus menyampaikan berita yang benar-benar akurat dan valid serta bukan berita hoax sebagai bagian dari perbuatan amar makruf nahi mungkar.

“Sampaikan satu berita asal benar dari pada banyak tapi tidak pasti. Profesi saudara profesional, otak dan hatinya berimplementasi dengan orang lain. Profesi ini mulia tatkala mampu memberikan manfaat kepada orang lain,” terangnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Probolinggo H. Tutug Edi Utomo menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan dan mempererat tali silaturahim diantara media dan radio komunitas sehingga bisa menjadi mitra dari Pemerintah Daerah.

“Tentunya kita bersama-sama mempunyai tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjadikan masyarakat Kabupaten Probolinggo menjadi lebih cerdas dan mampu mengedukasi masyarakat dalam menyampaikan informasi yang baik dan benar,” katanya.

Kegiatan yang mengambil tema “Indahnya Kebersamaan Media dan Komunitas Radio” ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, sejumlah kepala OPD, insan media dan pengelola radio komunitas di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock