Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Rabat, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal?

Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah melantik kepengurusan Pengurus Cabang Istlimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko periode 2016-2018. Pelantikan berlangsung di gedung serbaguna KBRI di ibu kota Maroko, Rabat pada Rabu 30 November.?

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Pelantikan dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri beberapa ulama Maroko, Nahdliyyin, juga ? Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Maurutinia H.E.D Syarief Syamsyuri beserta jajarannya.?

Pelantikan ini dimulai dengan serah terima jabatan dari ketua PCINU Periode 2014-2016 Kusnadi kepada Ketua PCINU periode 2016-2018 Abdullah Aniq Nawawi. Lalu Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung Masykuri Abdillah.?

Seperti periode sebelumnya, dalam periode ini pun Pengurus PCINU Maroko tidak hanya diisi warga negara Indonesia. Beberapa ulama terkenal Maroko seperti Dr. Ahmad Roisuni, Dr. Yusuf Kallam, Dr. Nadia Syarqoui, dan Syekh Rodi Genun juga berada dalam jajaran kepengurusan.?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Masykuri Abdillah meminta kepada Nahdliyyin di Maroko untuk terus menjaga paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan menegaskan pentingnya belajar setinggi-tingginya. Tak cukup hanya bermodal S1 saja.

Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania mengingatkan kepada organisasi PCINU Maroko untuk terus menjaga hubungan baik dengan KBRI ? Rabat yang sudah terjalin sejak lama.?

Pelantikan ini juga diisi dengan penyerahan buku antologi cerpen “Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren”, yang merupakan 20 cerpen terbaik pilihan PCINU Maroko. Buku ini diserahkan Ketua PCINU Maroko Aniq Nawawi kepada KBRI Rabat sebagai cenderamata sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan KBRI Rabat selama ini. Acara yang berlangsung sekitar 120 menit ini kemudian ditutup oleh doa dari ulama Maroko Dr. Yusuf Kallam. (Sirojudin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa, Berita Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Medan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Bangsa ini harus cepat keluar dan mengembalikan citranya yang negatif. Cap yang kini disandang Indonesia sebagai negara koruptor, menyukai kekerasan, negara terorisme, dan label negatif lainnya harus dipandang dengan cara prihatin.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) A Jabidi Ritonga, pada seminar kebangsaan bertajuk “Ancaman Ideologi dan Ormas Radikal terhadap NKRI” yang digelar Pengurus Koordinator Cabang PKC PMII Sumut di Hotel Semarak Medan, Rabu (29/2) sore.

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Aparat Jangan Takluk pada Preman

Dia juga menyatakan prihatin melihat banyaknya Ormas dan OKP yang mengatasnamakan agama dan rakyat sering melakukan tindakan kekerasan. Ormas dan OKP tersebut bukan hanya melanggar hukum, tapi juga telah merugikan banyak orang dan menjadikan masa depan negara ini suram.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Semakin kelihatan lemahnya negara saat ini. Preman sekarang sudah berani demonstrasi bila rekannya ditangkap. Melihat situasi ini, PB PMII merekomendasikan, bubarkan ormas dan OKP yang selalu membuat kekerasan dan keresahan bagi masyarakat. Aparat jangan takut dan takluk pada preman. Mari selamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ajaknya.

Kapolda Sumut diwakili Direktur Bimas Polda Sumut Kombes Pol Heri Subiansauri menyatkan, aparat tidak pernah takut dengan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum. “Negara tidak boleh lemah dan kalah dengan preman. Yang melanggar hukum kita sikat,” tandasnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sedangkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumut, H Abdul Rahim menegaskan, Islam melarang tindak kekerasan dan pengrusakan. “Jadilah tauladan yang baik, santun dalam ucapan dan perbuatan, karena itu yang diajarkan Islam kepada umatnya,” ucapnya.

Sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Polinmas) Bukit Tambunan mengatakan, masyarakat Sumatera Utara sudah maju dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Kritikan-kritikan yang disampaikan masyarakat Sumatera Utara dilakukan dengan santun dan beretika. Namun, apabila ada Ormas atau siapa saja yang melanggar aturan main, akan kita tertibkan,” kata Bukit.

Sebelumnya, Pjs Ketua PMII Sumut Kurnia Hidayat menyatakan, PMII akan berada di garda terdepan untuk mempertahankan NKRI. "PMII akan berada di garis depan untuk membantu pemerintah dalam mengawal NKRI," kata Kurnia Hidayat.

Sekretaris Umum PKC PMII Hasan Basri dalam pengantar seminar menyoroti, negara sering terlambat dan terkesan membiarkan terjadinya tindakan kekerasan. Contoh terbaru kasus Bima, Lampung dan lainnya. Negara seakan kehilangan powernya. “Hal-hal seperti ini tidak boleh terulang lagi,” harapnya.

Redaktur? ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Santri, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - Pengurus Lakpesdam NU Aceh terus mendorong kerja-kerja kemanusiaan yang melibat sejumlah komunitas beragama di Aceh. Akhir pekan ini, mereka menggelar senam sehat dan donor darah di SD Negeri 20 Gampong Mulia Banda Aceh, Banda Aceh, Ahad (13/3) pagi.

Ketua Lakpesdam NU Aceh Marini mengatakan, acara ini terselenggara berkat kerja sama pihak Lakpesdam NU Aceh, Yayasan Hakka Aceh, Bank Mandiri KK Peunayong, PMI, dan Ahlul Bait Gampong Mulia.

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Aceh Adakan Senam Tai Chi dan Donor Darah

"Melalui program sehat dalam keberagaman ini kita berharap masyarakat sekitar ikut termotivasi untuk menjaga kesehatan salah satunya dengan senam dan donor darah," ujar Marini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Ketua panitia acara Syukriadi menambahkan, para peserta senam berasal dari sekitar Gampong Mulia, Laksana, Peunayong, Lampulo, seputaran Kuta Alam, dan bahkan Situi.

"Kami selaku tuan rumah merasa puas karena masyarakat sangat antusias untuk hadir dan mengikuti semua kegiatan. Semoga nanti kami bisa mengumpulkan darah lebih dari 100 kantong," tambah Syukriadi.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sementara kegiatan senam Tai Chi ini dipandu oleh Wulung, salah satu praktisi Tai Chi di Banda Aceh. Ia merupakan salah seorang pengurus yayasan Hakka Aceh.

"Senam Tai Chi 24 sangat populer di Cina karena sangat membantu untuk memperlancar aliran  darah kita. Semoga kita bisa latihan sama-sama di Banda Aceh setiap hari Rabu dan Sabtu di sasana barongsai Golden Dragon Aceh di belakang Gereja Methodis Gampong Mulia,” tambah Wulung didampingi Ketua Yayasan Hakka Aceh Aky. (Ismi Amran/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Upaya KPK Berantas DI/TII

Sejarah mencatat, ada sejumlah kelompok yang tidak menyetujui berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca resmi dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Gerakan subversif mereka lakukan, makar dan kudeta terhadap pemerintahan RI yang didukung mayoritas rakyat Indonesia menjadi tujuan.

Kelompok-kelompok tersebut adalah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) prakarsa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu digerakkan oleh Dipo Nusantara Aidit, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan oleh Letkol Achmad Husein, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dimotori oleh Lektol Venjte Sumual, Kolonel D.J. Somba, dan Mayor Eddy Gagola.

Sekilas dilihat, upaya bughot (memberontak) sebagian besar dimotori oleh tentara yang sudah merasa tidak sejalan dengan visi pemerintahan yang ada dengan kecenderungan politik kekuasaaan yang tinggi. Di beberapa literatur sejarah menyebutkan, proklamasi kemerdekaan RI dibarengi gerakan hijrah pasukan, baik dari tentara nasional, Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI.

Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya KPK Berantas DI/TII

Gerakan pembersihan dalam bentuk hijrah tersebut menyisakan beberapa tentara. Sisa-sisa laskar tentara tersebut selanjutnya diorganisir secara perorangan, misal di Jawa Barat oleh Kartosoewirjo untuk melakukan perlawanan terakhir.

Dijelaskan oleh Abdul Mun’im DZ dalam Runtuhnya Gerakan Subversif di Indonesia (2014), sejumlah tentara yang tertinggal di Jawa Barat tersebut diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). 

Setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indonesia yang dianggap kafir dan komunis. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kondisi keamanan nasional seketika kacau apalagi PKI merespon DI/TII yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara komunis dengan menggelorakan perlawanan dengan mengadakan pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948. Jika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam, PKI berupaya menegakkan Negara Soviet Indonesia.

Penghianatan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI ini mendorong NU sebagai satu-satunya organisasi yang loyal terhadap NKRI untuk segera mengangkat Soekarno sebagai waliyyul amri yang sah sehingga diharapkan bisa menyingkirkan semua yang memberontak dan memusuhi negara.

Sikap NU dan pesantren yan tegas terhadap aksi pemberontakan menyebabkan mereka dimusuhi oleh DI/TII. Beberapa perangkat dakwah NU menjadi sasaran teror. Pesantren, masjid, madrasah NU dibakar, bahkan beberapa kiai diculik dan harta benda dirampas dengan tidak berperikemanusiaan. Bahkan salah satu kiai NU, KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan.

Pembentukan KPK

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Terhadap gerakan-gerakan subversif ini, para kiai tidak tinggal diam begitu saja. Mereka tidak mau bangsa dan negara yang telah dibangun atas dasar konsensus (kesepakatan) kebangsaan menjadi hancur hanya karena kepentingan kelompok tertentu yang a historis. Aksi gerombolan DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam tetapi malah menimbulkan malah petaka bagi Muslim itu sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang menjadi korban kekejaman DI/TII.

Gerakan DI/TII yang sudah melampui batas kemanusiaan dan konsensus bersama negara berdasarkan Pancasila membutuhkan pemikiran, bantuan, dan partisipasi aktif dari para kiai. Dalam memoarnya (2008), KH Idham Chalid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan membentuk badan yang diberi nama Kiai-kiai Pembantu Keamanan (KPK).

Kiai di dalam badan disebut KPK ini utamanya untuk merespon anggapan DI/TII yang menganggap bahwa negara ini adalah Republik Indonesia Kafir (RIK). Namun, sejumlah laskar yang memang lahir dari rahim NU seperti Hizbullah dan Sabilillah turut membantu mengantisipasi pemberontakan DI/TII maupun yang dilakukan oleh PKI kala itu.

KPK terdiri dari sejumlah kiai dari beberapa provinsi yang di daerahnya ada gerombolan DI/TII. KH Idham Chalid menunjuk KH Muslich sebagai Ketua KPK. Umumnya, setiap provinsi hanya menunjuk satu orang kiai dalam mengkoordinir gerakan KPK. Kecuali provinsi yang sudah pada kondisi gawat seperti Jawa Barat. Di tanah Priangan ini, diangkat dua orang kiai.

Anggota KPK di Jawa Barat adalah KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid. Untuk Jawa Tengah dipimpin oleh KH Malik, kiai terkemuka asal Demak. Di Jawa Timur ada KH Raden As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Adapun di Kalimantan KPK dimotori oleh KH Ahmad Sanusi, Lampung digerakkan oleh KH Zahri, Sumatera Selatan dipimpin oleh ulama terkemuka di Sumsel dan Rais Syuriyah NU Bengkulu KH Jusuf Umar, Sumatera Tengah KH Kahar Ma’ruf, Sumatera Utara dan Aceh Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (pernah menjadi Ketua PWNU Aceh dan Anggota MPRS, dan di Sulawesi KH Abdullah Joesoef.

Dari badan yang dibentuk oleh KH Idham Chalis tersebut, semua kiai sepakat bahwa DI/TII adalah kelompok pemberontak yang mengganggu keamanan bangsa dan negara secara nasional sehingga perlu dilawan. Apalagi mereka sudah terbukti memakan korban manusia yang tidak sedikit.

Para kiai di dalam KPK menyatakan, penilaian dan anggapan DI/TII yang menyebut Indonesia sebagai Republik Indonesia Kafir (RIK) tidaklah benar. Karena berdasarkan konsensus bersama, seluruh warga negara bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Sebab itu sebagai negara kesatuan, tidak sepatutnya seorang atau kelompok menginginkan bentuk negara lain yang tidak sesuai dengan kemajemukan bangsa Indonesia. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

Blora, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Untuk suksesnya perjuangan diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga dekat dan lingkungan sekitar. Dengan dukungan tersebut, maka perjuangan akan memiliki akar yang kuat dan memliki basis yang riil.

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempurnakan Perjuangan, Fatayat Diminta NU-kan Keluarga Dulu

”Untuk menyempurnakan perjuangan, langkah pertama NU-kan dulu keluarga dekat kita,” ungkap Sholihin Hasan saat menyampaikan materi Aswaja pada acara LKD Fatayat NU Ancab Kunduran, Blora, Jawa Tengah, Selasa (28/3).

Untuk meng-NU-kan keluarga, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Selain aktif di Fatayat, maka seorang kader juga harus menggerakkan suaminya untuk aktif di Ansor, LP Ma’arif, atau NU. Kemudian putra-putrinya sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Jika punya anak atau keponakan berusia remaja agar didorong untuk aktif di IPNU-IPPNU atau PMII.

Sholihin Hasan yang juga Wakil Ketua LP Ma’arif NU Blora itu menambahkan, jika masih punya orang tua, maka kader Fatayat harus bisa memfasilitasi orang tuanya untuk bisa aktif di NU atau Muslimat. ?

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

”Tetangga kanan kiri juga harus terus dilakukan pemahaman akan arti pentingnya aktif di NU,” ungkap dosen Aswaja dan Kepesantrenan STAI Almuhammad Cepu.

Selain itu, untuk memperluas akses dakwah kader Fatayat juga diajak berda’wah di dunia maya. Dakwah di internet perlu dilakukan agar konten di dunia maya tidak dominasi oleh kalangan radikal dan orang penyebar hoax.?

“Jika seluruh kader Fatayat aktif berdakwah lewat internet, maka nilaia-nilai Islam moderet akan mendominasi dunia maya,” tambah mahahsiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

LKD yang dilaksanakan di MI Alhuda Kunduran itu, diikuti 125 peserta. Mereka merupakan perwakilan pengurus ranting yang ada di Kecamatan Kunduran. Acara tersebut dibuka oleh Ketua MWC NU Kunduran, K. Drs Mohadi Said. (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Batang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Ngadirejo Kec. Reban Kab. Batang, Jawa Tengah, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Kiai Lurah Ki Sopo Nyono dari Gringsing, Batang.  Tak seperti pengajian pada umumnya, Ki Sopo Nyono memadukan seni wayang dan musik sebagai media untuk berdakwah.

“Selain untuk memeringati Maulid Nabi, kami juga ingin nguri-nguri kabudayan jawi,” ungkap Ketua Panitia, Ahmad Musyifa’.

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Maulid Nabi dikemas berbagai kegiatan menarik, dimulai dengan pembacaan Maulid al Barzanji selama 12 malam penuh oleh warga masyarakat, dilanjutkan dengan mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak dan pengajian umum Ki Sopo Nyono.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Antusias masyarakat Ngadirejo terhadap wayang dan peringatan maulid nabi dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang memadati acara tersebut. Meski hujan terus mengguyur sejak beberapa hari yang lalu, namun semangat panitia tidak surut, sehingga acara dapat berjalan dengan lancar.

“Seluruh panitia sudah bekerja dengan maksimal, meski cuaca sangat tidak mendukung. Ini bukti kecintaan kader-kader NU pada peringatan Maulid Nabi.” imbuh Musyifa’.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Acara yang digelar di Mushola Nurul Huda itu pun menjadi kegiatan ketiga yang digelar oleh PRNU Desa Ngadirejo. Sebelumnya, acara serupa juga diadakan di Mushola al Ikhlas dan Mushola at Taqwa. Rencananya, minggu depan acara peringatan Maulid Nabi juga akan digelar di Masjid al Mustaqim Desa Ngadirejo.

“Pengurus Ranting NU Desa Ngadirejo merasa bangga, karena tahun ini kami bisa mengadakan peringatan Maulid Nabi sebanyak empat kali. Ini sangat luar biasa,” tutur Abdul Munir, Ketua PR NU Desa Ngadirejo.

Menurutnya, acara tersebut tidak akan sukses tanpa keterlibatan aktif dari pemuda-pemuda NU Desa Ngadirejo. “Insya Allah tahun depan akan lebih meriah.” Tambah Ketua PR NU Ngadirejo.

Dalam ceramahnya, Ki Sopo Nyono mengingatkan kepada masyarakat desa Ngadirejo untuk senantiasa mencintai Rosulullah dan mengambil hikmah dari peristiwa kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw.

Masyarakat desa Ngadirejo pun nampak puas dengan suguhan ceramah ala Ki Sopo Nyono yang lincah dalam memainkan wayang kulit dan diselingi dengan musik gamelan. Acara yang digelar pada hari ini pun melibatkan puluhan Banser dari Pengurus Ranting GP Ansor Desa Ngadirejo. (Asop/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock