Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Jepara, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal - KH Ahmad Nadhif Mujib (Gus Nadlif) menyatakan keprihatinan atas konten Aswaja yang beredar di internet saat ini. Menurutnya, banyak kelompok garis keras yang mengatasnamakan Aswaja di internet.

Demikian disampaikan Gus Nadlif saat memberikan pengarahan kepada ratusan Banser yang mengikuti Apel Siaga Banser Jepara di Pesantren Hadziqiyah Desa Gemiring Lor Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Sabtu (13/5) siang.

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada Aswaja “Palsu” di Halaman Depan Google

Menurut instruktur nasional PP GP Ansor ini, jika mengklik kata “Aswaja” di internet, maka yang ditemukan 80 persen yang muncul adalah Aswaja palsu.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Aswaja ‘palsu’ berada di halaman pertama, sedangkan Aswaja ‘asli’ di halaman belakang,” tegas Gus Nadlif.

Kenapa demikian? Kiai muda asal Pati Jawa Tengah itu menjelaskan, lantaran aswaja “palsu” yang berada di internet dibantu dengan mesin, menggunakan situs berbayar dan ada biaya yang cukup memadai.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Sedangkan aswaja ‘asli’ milik nahdliyyin situsnya tidak berbayar hanya menggunakan blogspot. Misalnya mengetik NU Jepara hanya di urutan 1344,” kata Gus Nadlif.

Secara jamaah NU adalah mayoritas. Tetapi di internet Aswaja NU termasuk golongan minoritas. Sekarang ini sudah zaman pencitraan. Jika hanya mengandalkan ikhlas, NU akan habis.

Maka, sudah saatnya NU turut pada zaman pencitraan itu. Di buku sejarah banyak yang menyatakan pemuda Surabaya adalah orang yang merobek bendera biru milik Belanda dan menjadi bendera Indonesia.

“Padahal ia adalah kang Syafi’i seorang Banser. Tidak mungkin ada yang berani naik ke tiang bendera, sedangkan di belakangnya ratusan bedil kecuali Banser,” pujinya.

Ia menyampaikan, pihaknya masih memutar otak agar Aswaja yang “asli” tidak terus-menerus di halaman belakang google.

Tampak sebagai komandan upacara pada apel akbar yang diikuti oleh ratusan Banser se-Kabupaten Jepara adalah Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq (Mbah Yatun).

Dalam amanat apelnya Mbah Yatun menyampaikan lima poin. Di antara poin yang disampaikannya ialah penolakan keras aliran dalam bentuk apapun yang hendak memecah belah bangsa.

Apel semakin gayeng saat diisi dengan yel-yel dan demo senam lantas oleh GP Ansor Jepara. Demo senam lantas tersebut merupakan salah kontingen yang menetapkan GP Ansor Jepara sebagai juara umum Kemah Bakti GP Ansor Jawa Tengah di Batang beberapa waktu lalu. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Khutbah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Purworejo, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Departemen Seni dan Budaya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Purworejo, Jawa Tengah, ikut ambil bagian dalam Festival Musik Akustik yang digelar dalam rangka memperingati HUT WR Supratman di Desa Somongari Kecamatan Kaligesing dan monumen WR Soepratman di Kota Purworejo, .

Selain menampilkan lagu wajib, IPNU Band yang digawangi oleh Fikri Amrillah juga menyanyikan lagu karyanya sendiri berjudul "Purworejoku.

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Band Tampil di HUT WR Supratman

Ketika lagu Purworejoku dinyanyikan, sorak-sorai penonton memecah suasana menjadi ramai. Tak terkecuali, Mantan Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, ikut standing uplaus atas lagu itu. Bahkan, di akhir acara menyempatkan menyambangi personil IPNU Band. "Saya minta liriknya ya, lagu tadi benar-benar bagus." katanya dilanjutkan kesiapan IPNU Band menyerakhannya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Sofyan Rizali Zain, keikutsertaan IPNU Band dalam event ini bertujuan mengenalkan lebih jauh dengan masyarakat. Selain itu, adalah memicu mental kader di berbagai pentas.

"Kita ingin kader memiliki mental bernyanyi yang mumpuni. Lagu yang dibuat rekan-rekan juga konstruktif, edukatif dan tidak cengeng seperti kebanyakan lagu band dewasa ini," ungkapnya. Meski tak dapat juara, imbuhnya, para personil tetap semangat untuk bermusik sebagai media ekspresi jiwa dan menyampaikan pesan positif kepada khalayak luas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Di tempat terpisah, Kasi Kerjasama dan Promosi Diskoperindagpar Purworejo Dyah Woro S mengatakan, event ini digelar untuk memeringati HUT WR Soepratman. Event pertama berupa lomba musik akustik akan diadakan pada 16 Maret di Somongari dan event kedua berupa resepsi peringatan HUT WR Soepratman di kawasan Monumen WR Soepratman pada 19 Maret.

"Untuk lomba musik akustik kami adakan di Somongari, di jalan masuk menuju rumah tempat lahir WR Soepratman. Hal ini kami lakukan sekalian untuk memromosikan obyek tersebut kepada masyarakat. Kami harapkan ini bisa menjadi semacam brand untuk memerkenalkan obyek bersejarah tersebut," jelas Woro.

Kepala Bidang Pariwisata Diskopperindagpar Purworejo, Lilos Anggorowati menambahkan, untuk event pada 19 Maret akan berfokus pada resepsi peringatan HUT Wr Soeprartman. Dalam kesempatan tersebut, selain penyerahan hadiah, para pimpinan daerah misalnya Bupati akan membacakan puisi mengenai WR Soepratman.

"Meski masih sederhana, namun kami harap event ini bisa kembali mengingatkan masyarakat akan jasa WR Soepratman yang juga putra daerah Purworejo," katanya. (Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Jadwal Kajian, Quote Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Banda Aceh, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Wakil Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengunjungi Pengurus Wilayah Nahdhlatul Ulama (PWNU) Aceh di Kantor PWNU Aceh kawasan Lueng Bata-Banda Aceh, Ahad (6/5).



Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Menteri Agama Kunjungi PWNU Aceh

Nasaruddin hadir ke Aceh dalam rangka memenuhi undangan seminar Harlah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Aceh, di Banda Aceh, Sabtu(5/5).

“Secara psikologis, silaturahim itu dahsyat. Memperpanjang umur kata Rasululah Saw. Apa yang kita lakukan ini, manifestasi dari silaturahim,” ujar Nasaruddin.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

“Saya juga mengajak kepada teman-teman pengurus NU, saya titipkan Pak Kanwil kita. Dalam artian begini, tegur kalau dia salah. Kemudian dibantu apa yang bisa dibantu,” lanjutnya disambut tepuk tangan.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Aceh Tgk. H. Faisal Ali menyampaikan beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Aceh. “Dalam waktu dekat juga PWNU Aceh akan mengadakan Diklat Hisab dan Rukyat se-Sumatera yang akan dilaksanakan di Banda Aceh,” kata Lem Faisal, begitu Tgk. H Faisal Ali biasa disapa.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Puluhan pengurus NU Aceh hadir pada acara silaturahim itu. Di antaranya, Kakamenag Aceh H Ibnu Sa’dan, Wakil Ketua PWNU, Sekretaris PWNU Aceh, Ustad Asnawi M. Amin, para anak muda NU Aceh. Rais Syuriah PWNU Aceh Tgk. H. Ibrahim Hasyim menutup acara dengan doa.

Kontributor: Muhadzdzier M Salda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Pringsewu, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Perjuangan Nabi Muhammad dalam mendakwahkan Islam bukan untuk mendirikan negara Islam (darul-islam) namun Rasulullah memiliki konsep mulia yaitu mendirikan negara yang menjunjung tinggi keselamatan dan kemaslahatan bagi seluruh warganya (darussalam). Hal ini disampaikan Ustadz Ahmad Rifai saat menjadi pemateri pada program Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi).

"Islam menyebar keseluruh dunia untuk menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, budaya, dan tempat tinggal. Oleh sebab itu ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau tidak membentuk darul-islam atau Negara Islam namun mendirikan darussalam atau Negara Kedamaian," terangnya, Ahad(17/01/16) di Pringsewu, Lampung.

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Teror Bersifat Merusak, Jihad Bersifat Memperbaiki

Rifai menambahkan bahwa Islam bukanlah agama pemberontak, agama teroris, atau agama pembuat masalah. "Islam datang dengan kedamaian. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan teror dan sebagainya, hal tersebut hanyalah kebetulan saja karena oknum tersebut tidak bisa mengartikan makna Jihad," tegas Ketua LP Maarif Kabupaten Pringsewu ini.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, teror bersifat merusak sedangkan jihad bersifat memperbaiki. Oleh karena itu jika ada yang mengatasnamakan jihad namun merusak dan merugikan orang lain maka itu dikategorikan sebagai teror. "Kewajiban kita untuk memperbaiki dan membangun negara bukan malah merusaknya," tegasnya.

Rifai mengingatkan bahwa kemerdekaan tanah air Indonesia tidak diperoleh dengan gratis. "Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan negara kita sebagaimana resolusi jihad yang dikumandangkan oleh para ulama pejuang pendahulu kita," ingatnya.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rifai juga menjelaskan bahwa Islam terlahir bukan hanya mengurusi masalah shalat, zakat dan permasalahan seputar ibadah saja. Namun Islam juga membahas dan membawa misi penting lainnya yaitu muamalah yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup bersama orang lain di dunia.

Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan kemaslahatan tersebut setiap muslim haruslah memiliki 3 prinsip dalam beragama. Prinsip-prinsip tersebut adalah ruhuddin (semangat beragama), ruhuddinul adabi wal hadoroh (semangat membangun agama yang beradab dan budaya), serta ruhul wathaniyyah (spirit kecintaan kepada tanah air). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Jombang, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Ansor mendukung aparat kepolisian menindak tegas pelaku pesta seks kaum gay yang berhasil digerebeg di salah satu tempat kebugaran di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Ahad (21/5) malam. Banser meminta kepada berbagai pihak tidak menggunakan HAM untuk melindungi pelaku.

Hal ini disampaikan Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaini di sela acara Halaqah Internasional Ansor di GOR Hasbullah Said PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Senin (22/5). 

"Mereka (pelaku pesta gay) telah tercerabut dari akar budaya Indonesia. Sungguh ini kejadian yang tidak bermoral di tengah bangsa yang sedang membangun peradaban," ujar Alfa Isnaini.

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kutuk Keras Pesta Seks Kaum Gay

Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini juga mengimbau ke berbagai pihak agar tidak mengatasnamakan HAM untuk melindungi para pelaku. "Karena hal tersebut bukan budaya kita," sambungnya.

Alfa mengapresiasi penggrebekan yang dilakukan polisi. Namun demikian pihaknya meyakini bahwa perkembangan gay di Indonesia seperti fenomena gunung es. Artinya, yang tidak tampak di permukaan lebih besar dari yang tampak.

Seperti diketahui bersama, jajaran kepolisian Jakarta Utara melakukan penggeregkan pesta gay di salah satu ruko tempat kebugaran. Sebanyak 144 pria yang tengah melakukan pesta seks kemudian digelandang oleh petugas. Sebagain besar para peserta pesta gay telanjang bulat saat ditangkap. Tak sehelai benang pun menempel di tubuh para pria yang sebagian berbadan tegap dan berambut cepak itu. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Sunnah Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada

Jakarta, Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal 

PBNU menegaskan, selain politik uang, sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) agar dihindari pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan berlangsung di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten pada 2018 ini. 

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Jaga Persatuan, Hindari Sentimen SARA di Pilkada

"Ini (sentimen SARA) soal serius yang semua pihak harus menyadari," kata Ketua PBNU H Robikin Emhas saat ditemui Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal di lantai tiga, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (10/1).

Menurut Robikin, penggunaan sentimen SARA jelas-jelas dilarang oleh regulasi dan diancam pidana. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Bahkan, katanya, kalau politik uang berdampak pada potensi timbulnya korupsi, tapi kalau penggunaan sentimen SARA berdampak pada perpecahan di masyarakat. 

"Yang Kalau ini tidak dilakukan penegakkan hukum juga bisa merobek-robek tatanan sosial yang pada akhirnya mengancam kesatuan dan persatuan," jelas alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang ini. 

Robikin mengatakan, siapa saja boleh bercita-cita menang dengan berkompetisi di Pilkada, tetapi harus jujur dan adil. "Kalau mau fair tentu kemudian patuh hukum dan kemudian mengedepankan nilai-nilai demokrasi substansial," katanya. 

Pria yang juga menjabat Majelis Komite Nasional Komite Independen Pemantau Pemilu (KKIP) ini menilai, penegakkan hukum pada kasus SARA belum optimal, bahkan masih jauh dari harapan. 

"Kita semuanya harus belajar dari Pilkada DKI di mana digunakannya mimbar-mimbar Keagamaan," katanya mengingatkan. 

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Menurut Robikin, penggunaan sentimen keagamaan yang tidak sesuai dengan koridor hukum yang ada, pada gilirannya bukan saja mendistorsi kualitas demokrasi itu sendiri, tetapi lebih jauh dari itu adalah bisa mendistorsi maksud dan tujuan dari agama itu dihadirkan. 

"Jangan (sampai) ada orang yang mempolitisasi agama hanya untuk kepentingan politik praktis lima tahunan. 

Daya rusaknya sangat tinggi dibanding dengan kemungkinan manfaat yang bisa diperoleh," jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal Anti Hoax Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Pondok Pesantren Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock